TARGET 4 [FINAL]

TARGET DESTROYED

Target

|| hgks11’s storyline ©2013 ||

|| Lu Han, Hanna Park, Kris Wu ||

|| Action, Supernatural, Fantasy, Romance, Sad, Thriller(?) ||

 || PG 15-17 || Series ||

 

IntroPart 1Part 2Part 3 [Pre-Final] – Part 4 [FINAL]

 

Dictionary :

 Unishtozhavane na obekti—kemampuan yang dapat menhancurkan setiap benda yang dikehendaki oleh pemilik kemampuan ini. Tidak peduli terbuat dari apa benda tersebut, pemilik kemampuan ini dapat mengubahnya menjadi berkeping-keping.

 

***

Author’s POV

 

 

“Oh ya, ada lagi. Aku, Wu Yifan, ‘soulmate’ Hanna Park, dan.. sepupumu”

“Se..pupu?” Kris menggelengkan kepalanya ringan dengan sebuah senyum evil di wajahnya.

“Perlukah kita membawa sepupumu—ani, sepupu kita, Krystal. Untuk ikut mendengarkan cerita dongeng? Yeol, Tao, bawa ia kemari. Ah! Aku hampir lupa. Suho, Xiumin, kalian bawa Baekhyun kemari juga”

 

“Lepaskaan!!” suara Krystal terdengar begitu jelas di telinga Luhan. Krystal digeret oleh dua orang namja tinggi ke hadapan Luhan. Begitu pula dengan Baekhyun yang tak jauh berbeda keadaannya dengan Krystal.

“Kalian tak—“ “Satu jarimu mendarat di kulit mereka, akan kumusnahkan jantung mereka” Luhan menghentikan gerakkannya begitu mendengar ucapan Kris. Luhan berusaha menahan amarah yang bergejolak di dalam tubuhnya. ‘Fine, two can play this, Kris’ batin Luhan.

 

“Apa maumu Kris?”

“Mauku? Kau tanya mauku? Aku ingin membalas dendam ayahku. Aku akan membunuh satu persatu orang-orang tersayangmu, dan menjadi raja kerajaan vampir”

“Apa hubungannya ayahmu denganku hah?!” suara Luhan meninggi. ‘Ini semua omong kosong!

Salah satu ujung bibir Kris tertarik ke atas, membuat wajahnya terlihat mengerikan.

 

 

Flashback

500 tahun yang lalu, kerajaan vampir dipimpin oleh seseorang yang sangat bijaksana dan baik hati, yaitu Raja Lu Guangli. Beliau memiliki empat orang anak, tiga perempuan dan satu laki-laki. Anak pertamanya bernama Lu Ai, lalu Lu Yong, Lu Fang dan Lu Jia. Lu Ai, terkenal dengan sifatnya yang lembut dan sangat menyayangi keluarganya. Lu Yong, putra mahkota kerajaan vampir, karena ia merupakan seorang anak lelaki sendiri di antara kakak dan adik-adiknya. Lu Fang, putri yang sangat pintar dan cerdas, sesekali menjadi penasihat ayahnya, Raja Lu Guangli. Lu Jian, putri bungsu ini terkenal dengan sifatnya yang ceria dan baik hati. Ia sangat disukai oleh semua orang karena sosoknya yang lucu  dan menggemaskan.

Kerajaan vampir yang terdiri dari keluarga kerajaan, bangsawan, dan semua vampir, baik yang terlahir sebagai vampir ataupun yang diubah menjadi vampir, hidup dengan damai di masa kepemimpinan Raja Lu Guangli itu. Namun semuanya mulai terasa janggal ketika putri Lu Ai, menikah dengan seorang vampir bernama Wu Jiang. Lu Ai, sangat mencintai suaminya, Wu Jiang. Ia bahkan rela melakukan apa saja untuk suaminya itu. Di sisi lain, insting Lu Yong mengatakan ada yang salah dengan lelaki bernama Wu Jiang itu. Sejak pertama kali kakaknya memperkenalkan Wu Jiang, ada aura gelap yang keluar dari lelaki itu, membuat Lu Yong tak nyaman.

 

 

“Lu Ai Meimei” Lu Ai menolehkan kepalanya ke belakang, tersenyum pada adiknya itu.

“Ada apa Lu Yong-a?” Lu Yong melirik cemas ke arah Lu Ai. Kedua telapak tangan Lu Yong saling menggenggam erat.

Meimei, aku merasa ada yang salah dengan kau menikahi Jiang gege. Ada rasa tidak nyaman yang menyelip di hatiku” ujar Lu Yong sambil menatap lantai yang pijaknya, tak berani menatap langsung ke kedua mata kakaknya. Lu Ai tersenyum, lalu menepuk pundak Lu Yong.

“Mungkin instingmu salah kali ini, Lu Yong-a. Aku tahu siapa yang aku akan nikahi, Wu Jiang. Ia pria yang baik” ujar Lu Ai. Lu Yong hanya bisa menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan kakaknya. Bagaimanapun, ia ingin kakaknya bahagia. Jadi ia mengabaikan instingnya dan menyetujui pernikahan kakaknya dengan Wu Jiang.

Pernikahan Lu Ai dan Wu Jiang berjalan dengan lancar. Seluruh warga kerajaan vampir menyambut baik pernikahan tersebut, yang tanpa mereka sadari akan membawa perang persaudaraan.

 

 

Pada suatu malam, saat Lu Ai tengah mengandung anaknya, Wu Jiang terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi mengenai anaknya yang masih di dalam perut Lu Ai.

 

Bà, bà! Kapan aku bisa menjadi raja? Apakah aku tidak memiliki kesempatan untuk menjadi raja? Kenapa harus dia ?”

 

Kata-kata calon anaknya itu berputar di otak Wu Jiang. Ia tak tahu, mengapa ia tiba-tiba bermimpi seperti itu. Tapi instingnya mengatakan ia harus mencari cara agar anaknya kelak dapat menjadi raja, agar anaknya dapat bahagia. Ia bangkit dari kasurnya, mengambil secarik kertas dan tinta untuk menulis, menulis sebuah rencana pembunuhan. Rencana pembunuhan yang akan dilakukannya dua hari setelah malam di mana ia menyusun rencana pembunuhan Raja Guangli.

 

 

Dua malam berikutnya—tepat di saat Wu Jiang akan melaksanakan rencananya, Lu Yong terbangun dari tidurnya. Ia merasa gelisah dan tidak tenang.

‘Ada sesuatu yang salah’ batinnya, tapi ia tidak dapat mengetahui apa yang salah. Akhirnya dengan langkah tak yakin, ia turun dari tempat tidurnya dan beranjak keluar kamarnya. Langkahnya terhenti begitu ia sampai di dapur istana yang terletak tak jauh dari kamar utama—kamar Raja Lu Guangli. Lu Yong meneguk darah dari secangkir gelas yang berada di dalam lemari pendingin, mengikis rasa haus yang menggerogoti kerongkongannya.

 

“Arrrgghh—“ “Uhuk!” Lu Yong tersedak begitu mendengar suara teriakan dari kamar ayahnya. Ia segera menaruh gelas berisi darah di tangannya ke atas meja dan mendobrak pintu kamar Raja Guangli.

“Jiang gege?” Jiang menegang begitu namanya dipanggil. Di tangan kanannya terdapat sebuah pedang panjang dengan darah merah pekat berluluran. Terdapat percikan darah di sebagian pakaian yang dikenakannya. Di hadapannya, Raja Guangli bermandikan darahnya sendiri, jantungnya tertusuk.

“Kenapa.. ge?” lirih Lu Yong pelan. Jiang menolehkan kepalanya ke belakang, melihat adik iparnya yang tampak sangat kecewa. Jiang dapat melihat kemarahan, kesedihan, kekecewaan, di mata Lu Yong, membuatnya gemetar. Namun kata-kata calon anaknya berputar kembali di otak Wu Jiang, membuatnya mengesampingkan hati nuraninya, membiarkan dirinya dikuasai oleh arwah jahat.

 

“Kenapa? Karena aku ingin anakku menjadi raja” Lu Yong membelalakkan matanya tak percaya. Sedangkan Wu Jiang menyeringai ke arah Lu Yong.

“Ini merupakan langkah awal. Dan untuk benar-benar mewujudkan itu, aku juga harus membunuhmu, Lu Yong” sebelum sempat pedang di tangan kanan Jiang menggores kulit milik Lu Yong, putra mahkota itu menghindar dengan gesit. Ia menjadi putra mahkota bukan hanya karena alasan sepele belaka, jadi jangan pernah meremehkan seorang putra mahkota.

“Jiang geani, aku tak sudi memanggilmu gege lagi. Aku tak akan pernah memaafkanmu karena membunuh . Sebelum kau membunuhku, aku akan membunuhmu duluan, Wu Jiang”

“Tidak, kau salah Lu Yong. Aku, WU JIANG YANG AKAN MEMBUNUHMU!”

 

Crassh!

Pedang yang dipegang oleh Wu Jiang hancur dalam hitungan detik. Lu Yong tersenyum evil ke arah Jiang yang menggeretakkan giginya kesal.

“Kau tentu tahu bukan, kemampuan istimewaku? Unishtozhavane na obekti—“

“Penghancur benda” sambung Wu Jiang pelan.

“Tapi aku datang tidak dengan persiapan, Lu Yong. Kau belum tahu kemampuan yang aku miliki. Contritio Cordis, pemusnah jantung.” lanjut Wu Jiang sambil menyeringai ke arah Lu Yong. Wajah Lu Yong tidak menampakkan perubahan ekspresi apapun, seakan-akan kemampuan yang dimilikki oleh Wu Jiang bukanlah sesuatu yang besar.

“Cih. Kau tak takut, Lu Yong?”

“Untuk apa aku takut? Aku tahu aku yang akan menang, Wu Jiang” ujar Lu Yong tersenyum mengejek ke arah Jiang. Jiang menatap tajam ke arah Lu Yong, yang dalam beberapa detik sudah berada di hadapannya. Jiang mengulurkan tangannya, mencoba untuk menyentuh tubuh Lu Yong. Namun gerakan Lu Yong lebih gesit dari Jiang.

 

“ARRGHH!!” geraman keluar dari mulut Jiang begitu Lu Yong membantingnya keras ke lantai. Suara tulang retak terdengar dengan jelas. Bahkan tulang-tulang rusuk milik Jiang tampak menimbul ke permukaan kulit pria itu, menyebabkan darah mengalir keluar dari tubuhnya. Lu Yong mencengkram Jiang di lehernya, mengangkat tubuh pria itu ke atas. Lalu dibantingnya lagi tubuh Jiang ke dinding. Lu Yong langsung melayangkan beribu-ribu bogem mentah di tubuh Jiang tanpa memberi kesempatan pada Jiang untuk membalas setiap pukulan yang diterimanya.

“Untuk bà, meimei, dan kerajaan ini. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Wu Jiang” seru Lu Yong di sela-sela pukulannya. Jiang tersenyum lemah, sambil terbatuk darah di hadapan Lu Yong.

“Silahkan k-kau membu-nuh-kku L-lu Yong. T-tung-gu pembalasan a-anakku k-kelak” ujar Jiang sambil menyeringai pada Lu Yong, sebelum Lu Yong melayangkan tinju terakhirnya, membuat kepala Wu Jiang pecah berserakan di lantai kamar utama itu.

“Tidak akan kubiarkan, seorangpun merusak kerajaan yang dijaga susah payah oleh bà. Tak sekalipun kau, ataupun anakmu, Wu Jiang”

 

 

Berita kematian Raja Guangli menyebar dengan cepat di keesokan harinya. Keluarga kerajaan diselimuti kesedihan yang mendalam, terutama Lu Ai. Wanita itu tidak menyangka, suaminya, Wu Jiang membunuh ayahnya. Lu Ai mengelus perutnya yang membesar, pikirannya melayang pada malam sebelum Jiang pergi dari kamar mereka.

 

“Ai”

“Ehm, ada apa Jiang?”

“Jika anak kita berumur 8 tahun nanti, tolong berikan surat ini untuknya.” Lu Ai menatap suaminya itu bingung. Perasaan tidak nyaman dan khawatir menyerap di hatinya, sambil menerima sebuah gulungan kertas dari Jiang.

“Ada apa Jiang? Kenapa kau berbicara seperti itu?” Jiang menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum ke arah Lu Ai.

“Nanti.. Kau juga akan tahu, Ai. Tolong sampaikan ini pada Wu Yifan, dan jangan kau pernah membukanya.”

Wu Yifan?”

“Itu nama anak kita kelak, Ai”

 

 

Lu Ai menangis, menumpahkan semua yang ada di dalam hatinya. Wanita itu tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ia malu dan kecewa atas tindakan suaminya, namun tak dapat dipungkiri, rasa sayang dan cintanya pada Wu Jiang lebih besar. Akhirnya wanita yang tengah hamil itu memutuskan untuk pergi dari istana. Pergi ke tempat yang sangat jauh, hingga tak ada satupun orang yang dapat menemukannya dan anak yang berada di dalam kandungannya.

 

Flashback End

 

 

 

“Kau tahu apa yang tertulis di dalam gulungan kertas yang diberikan oleh ayahku? Ia berkata, “Balaskan dendamku, Wu Yifan. Kau tahu, aku melakukan ini semua untuk kebaikanmu. Namun apa daya, jika surat ini sampai padamu, maka aku sudah mati dan tidak dapat membunuh Lu Yong. Balaskan kematianku, lalu jadilah raja dari kerajaan vampir.” Itu adalah permintaan pertama dan terakhir dari ayahku, Wu Jiang, Lu Han”

“Tapi ia memang pantas untuk mati, Kris. Ia mencoba untuk membunuh ayahku, merebut tahta kerajaan, dan membunuh harabeoji

“Ya, ia memang pantas untuk mati karena membunuh raja kerajaan vampir. Namun di sisi lain ia tidak pantas untuk mati. Karena ia hanya ingin seorang ayah yang ingin membahagiakan anaknya. Dan ayahmu—Lu Yong, membunuh ayahku tanpa rasa kasihan. Karena ulahnya, aku lahir tanpa seorang ayah. Ibuku menderita seorang diri untuk membesarkanku.”

“Dan sekarang, untuk membalas semua perlakuan ayahmu itu… Aku akan membunuh salah satu teman terbaikmu ini. Byun Baekhyun, bukan?”

 

“Arrghh!!” Belum sempat Luhan bergerak dari tempatnya, Kris telah menaruh tangannya di dada kiri Baekhyun, tepat di jantungnya. Baekhyun meraung-raung, merasakan jantungnya yang teramat-amat sakit.

“Baekhyuuun!!” teriak Krystal histeris.

 

YOU BASTARD!!

 BUUKK!!

Sebuah bogem mentah melayang di wajah kiri Kris, membuatnya terpental jatuh ke lantai. Nafas Luhan terburu, matanya menyorotkan kemarahan.

“Hanya ini yang bisa kau lakukan, Lu Han? Bahkan aku tidak berdarah sama sekali”

“Wu.Yi.Fan.” Barang-barang di sekitar Luhan melayang di udara. Dalam sepersekian detik, barang-barang itu menghantam ke arah Kris. Namun Kris menghindar dari setiap hantaman benda tersebut, membuat Luhan semakin termakan oleh amarah. Sebuah pisau melayang tepat ke arah perut Kris tanpa vampir itu sadari.

“Arrgghh!” Jleb. Darah mengalir dari perut Kris. Kris mencabut pisau di perutnya, lalu melemparkannya ke arah Luhan. Pisau tersebut berhenti tepat 1cm sebelum menembus kulit Luhan.

 

 

Darah kini memenuhi seluruh ruangan gedung tersebut. Kai melempar Chen ke atas, membuat vampir berjubah hitam itu menghantam langit-langit gedung tersebut. Belum sempat tubuh Chen jatuh sampai ke lantai lagi, Kai melayangkan pukulannya bertubi-tubi ke perut Chen sampai ia memuntahkan darah. Kai menginjak kepala Chen, meremukkan hidung mancung milik Chen.

“Arrghhh! Si-al k-kau Ki-m J-jongin!!”

 BRAAKK!

 

Kini giliran Kai yang terbanting di lantai. Chen mengeluarkan sebilah pisau kecil dari saku jubahnya, lalu duduk di atas Kai. Pisau di tangan Chen perlahan-lahan menggores kulit di wajah Kai, mengupas sedikit demi sedikit kulit di wajah Kai yang sempurna itu hingga otot-otot wajah milik Kai terlihat. Darah mengalir deras dari wajah Kai, membuat seringai di wajah Chen semakin melebar.

“Akhirnya aku bisa mengupas kulit gelapmu itu, Kai” “Arrghh” Kai berusaha menahan geraman yang terselip keluar dari bibirnya. Chen tertawa keras, matanya berubah merah dan taringnya mulai memanjang.

“Bagaimana kalau kita melakukan Forced Blood Bond? Aku yakin darahku yang akan menang”

“Cih” “Yah! Beraninya kau Kim Jongin!” Chen mengelap ludah Kai yang berada tepat di wajahnya. Chen menatap tajam ke arah Kai. Jika tatapan bisa membunuh, maka Kai pasti sudah mati oleh tatapan Chen.

“Arrgghh” Kai merintih pelan seiring dengan kulit lehernya yang mulai mengelupas dan menampakkan daging.

“Bagaimana jika matamu itu kucongkel?” ujar Chen sambil tersenyum licik. Pisau kecil di tangan Chen terpental tiba-tiba sebelum benda itu dapat mencongkel mata kanan Kai. Chen menoleh ke arah Luhan yang menatap tajam ke arahnya.

 

“Lu Han”

BAAKK!!

Tubuh Luhan terpental ke dinding dengan sekali tinju di perutnya dari Chen. Luhan menggerakkan pisau kecil milik Chen, menusuk ke mata kanan vampir itu. Chen meraung kesakitan. Matanya mengeluarkan air mata dan darah, membuat luka itu terasa semakin perih.

 

Di sisi lain, Krystal yang berhasil lepas dari dua vampir berjubah hitam yang dipanggil Yeol dan Tao oleh Kris tadi. Yeol dan Tao tengah bertarung melawan D.O, sedangkan pria yang menangani Baekhyun tadi—Suho dan Xiumin—saling mendesis, berusaha menaklukkan Lay.

“Baek! Baekhyun! Bangun! Kumohon bangun!” jerit Krystal sambil mengguncang-guncangkan tubuh Baekhyun.

“K-krys-t-tal…” gumam Baekhyun pelan sambil berusaha membuka kembali kedua kelopak matanya.

“Baekhyun! Kumohon bertahanlah! Hiks”

U-ul-j-jim-aa..” tangan Baekhyun terangkat ke pipi Krystal, menghapus bulir-bulir air mata yang mengalir di sana. Baekhyun berusaha memberikan sebuah senyum pada Krystal, mengabaikan rasa sakit yang luar biasa ia rasakan di jantungnya.

“K-krys-t-tal.. Be-rba-hha-gi-al-lah b-ber-s-sam-a S-seh-hun-n—uhuk!”

“Baekhyun!” panik menyerbu Krystal begitu Baekhyun memuntahkan darah dari mulutnya. Tetes demi tetes air mata Krystal berjatuhan di wajah Baekhyun, membuat hati Baekhyun merasa sakit. Sakit karena melihat Krystal yang menangis karenanya.

S-sa-ra-ngh-hae.. K-krys-ta-al…” lirih Baekhyun pelan, sebelum jantungnya menghilang bersama dengan aliran darahnya.

“Baekhyun! Baekhyun! K-kau tak boleh mati! Baekhyun! Dengar aku! A-aku juga—“

“Krystal awas!!!”

 

JBAAMM!!

Tiba-tiba tubuh Sehun terpental ke dinding, karena serangan Tao.

“Sial. Siapa dia?!” umpat Tao karena bukan Krystal yang terkena serangannya, melainkan Sehun. Mata Krystal melebar begitu menyadari Sehun dan Hanna yang sudah berada di dekatnya. Wajah Hanna tampak begitu suram dan kacau.

 

 

Sebelumnya…

Sehun dan Hanna segera menaikki mobil milik Sehun begitu menyadari Krystal dan Baekhyun yang tak ada di toko es krim lagi. Kai segera berteleportasi ke gedung di mana Luhan berada, sedangkan Sehun dan Hanna harus menaikki mobil karena Kai tidak bisa membawa orang berteleportasi bersamanya. Sesampainya Sehun dan Hanna di gedung yang menjulang tinggi itu, Sehun melihat Tao yang bersiap menyerang Krystal. Sehun segera melangkahkan kakinya berdiri di depan Krystal, melindungi gadis itu dari serangan Tao.

 

 

Mata Hanna berkeliling cemas, mencari sosok Luhan.

“Luhan!” pekik Hanna begitu matanya menangkap sosok Luhan yang penuh dengan darah. Di dekat Luhan terdapat seorang lelaki mengenakan jubah hitam, mata kanannya berdarah dan ada sebuah pisau kecil bertumpu di matanya.

“Luhan! Luhan!” Hanna mempercepat langkahnya menghampiri Luhan. Luhan mendongakkan kepalanya ke arah Hanna yang kini sudah berada di hadapannya. Tangan Luhan terangkat, menangkup kedua pipi Hanna. Melihat wajah Hanna yang penuh dengan kecemasan, membuat Luhan tertawa kecil.

“Yah! Kenapa kau malah tertawa?!” hardik Hanna.

“Karena wajahmu. Kenapa tegang sekali? Aku tidak akan mati jika itu yang kau cemaskan” ujar Luhan lembut, lalu mencuri sebuah kecupan manis di bibir Hanna.

 

“Kau selalu mencari kesempatan dalam kesempitan” Luhan hanya tersenyum lemah melihat Hanna yang memutar kedua bola matanya. Luhan mengacak pelan rambut di puncak kepala Hanna, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya. Mata Luhan menangkap sosok Kris yang berusaha berdiri di belakang Hanna dengan sebuah pisau di tangan kanannya. Luhan segera mendorong Hanna ke kanannya begitu Kris melemparkan pisau tersebut.

 

JLEEB!

Kini giliran Luhan yang mendapatkan tusukan di perutnya. Hanna menjerit horror melihat darah yang keluar dari perut Luhan.

“Uhuk!” Luhan memuntahkan cairan merah kental dari mulutnya, membuatnya terlihat lebih mengerikan lagi. Dengan sisa tenanganya, Luhan menggerakkan pisau di perutnya, mengarah langsung ke liver milik Kris.

“AAARRGGGHHH! N-NE-EO-O L-LU-HA-HAN-N!!” raungan yang keluar dari mulut Kris terdengar sangat menyakitkan, membuat setiap makhluk hidup yang mendengar juga ikut merasakan sakit yang ia rasakan.

 

“Uhuk!” Hanna segera menghampiri Luhan begitu menyadari Luhan yang terbatuk lagi. Wajah pucat milik Luhan sangat kontras dengan warna corak darah yang memenuhi sebagian wajahnya.

“L-luh-han! Lu-hiks-han-hiks” Hanna mengguncang pelan badan Luhan. Dengan hati-hati, Hanna memindahkan kepala Luhan ke atas pangkuannya. Air mata milik Hanna jatuh ke pipi Luhan, membuat vampir yang berada di pangkuan Hanna itu perlahan-lahan membuka matanya.

“H-han-n-na.. A-ak-ku me-m-i-lik-ki s-sa-t-tu p-pe-er-mint-ta-an…”

“B-bo-leh-kk-ah ak-k-u.. Me-m-mi-nu-um d-dar-ra-hmu?” ujar Luhan terbata sambil menyingkirkan rambut coklat milik Hanna yang menutupi leher jenjang gadis itu. Hanna sempat terkejut oleh permintaan Luhan, namun hal itu hanya bertahan sebentar. Karena digantikan oleh sebuah senyum pengertian di  wajahnya.

“Tentu L-luh-han.. A-ak-ku milikmu.. hiks bu-buka-n milik Kri-is..” Luhan tersenyum lemah pada Hanna, menghapus air mata yang masih mengalir di pipi gadis yang disukainya itu.

G-gom-maw-wo Hhan-nna..” taring milik Luhan memanjang, matanya berubah merah cemerlang. Hanna menundukkan kepalanya, memanjang lehernya sehingga Luhan dapat lebih mudah menancapkan taringnya yang panjang di leher Hanna.

“Ahhh” Hanna menggeram kecil ketika taring Luhan menembus permukaan kulitnya, membuat darah mengalir ke rongga mulut milik Luhan. Awalnya Luhan menghisap darah Hanna perlahan, tak ingin mengambil lebih dari yang dibutuhkannya. Namun darah milik Hanna terlalu lezat bagi Luhan, sehingga ia tidak bisa menghentikan dirinya sendiri yang menginginkan lebih dan lebih. Darah milik Luhan haus akan darah milik Hanna. Pheromones milik Hanna bercampur dengan darahnya, membuat darah Hanna terasa lebih lezat lagi. Hisapan Luhan di leher Hanna kini semakin kuat. Vampir itu menghisap darah sebanyak mungkin yang bisa di tampung di mulutnya. Ia tidak membiarkan setetes pun darah Hanna keluar dari mulutnya, terbuang sia-sia.

 

“L-luh-an c-cuk-kup!” seru Hanna di sela-sela pusing yang menyerang kepalannya. Luhan terlalu banyak mengambil darah Hanna, sehingga gadis itu kekurangan darah. Luka di seluruh tubuh Luhan sudah mulai menutup, hanya tertinggal beberapa goresan yang tidak terlalu besar. Bekas tusukan di perutnya pun sudah menutup dengan sempurna.

“L-lu-h-han!” pekik Hanna, berusaha mendorong tubuh Luhan. Namun ia terlalu lemah. Luhan masih saja menghisap darah milik Hanna.

“Luh—“ Jleb. Sebuah pisau menancap di punggung Hanna, membuat gadis itu terbelalak. Luhan yang merasakan darah yang mengalir ke tangannyan yang melingkar di pinggang Hanna, tersadar dari rasa haus yang menguasainya.

“Hanna! Hanna!” ia menatap cemas Hanna yang terlihat sangat pucat dan lemah. Mata melebar ketika melihat sebilah pisau menancap di punggung Hanna.

 

“Wu Yifan..” desis Luhan begitu melihat Kris yang tergeletak di lantai, dengan sebuah seringai jahat di wajahnya. Seringaian di wajah Kris seakan-akan mengejek Luhan, mengolok-oloknya, dan menunjukkan bahwa ia dapat membunuh Hanna dengan sangat mudah. Luhan bangkit dari posisi setengah duduknya di pangkuan Hanna, lalu membaringkan Hanna di atas lantai dengan hati-hati, setelah mencabut pisau yang tertancap di punggung Hanna.

“Hanna, bertahanlah. Aku akan membuat makhluk mengerikan itu membayar semua perbuataanya padamu” bisik Luhan di telinga Hanna. Ia melangkahkan kakinya ke arah Kris, menatap benci vampir yang tergeletak di bawahnya itu. Luhan merobek kulit di pergelangan tangan kirinya, lalu berjongkok di hadapan Kris. Luhan menjambak rambut Kris ke atas, membuat kepala Kris terangkat dan wajahnya menghadap Luhan.

“Kau tahu apa yang paling ditakuti seluruh vampir? Forced Blood Bond.” sebuah seringai muncul di wajah Luhan seiring dengan ia memaksa Kris meminum darah miliknya yang bercucuran dari pergelangan tangan kirinya. Kris berusaha memuntahkan darah Luhan, namun Luhan terus menerus menekan tangannya ke mulut Kris agar darahnya masuk ke dalam kerongkongan Kris. Mau tak mau, darah milik Luhan mengalir ke dalam kerongkongan Kris, terus masuk hingga bertemu dengan sel darah miliknya, saling bertarung untuk menentukan darah siapa yang lebih kuat.

 

Luhan menghisap sedikit darah Kris, menyegel Forced Blood Bond yang dilakukannya pada Kris.

“Arrrgghh” Kris menggeram saat merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Kris menatap tajam ke arah Luhan yang kini tersenyum penuh kemenangan.

“Selamat datang di neraka, Wu Yifan” ujar Luhan, lalu membanting kepala Kris keras ke lantai, hingga suara tulang patah dapat terdengar. Luhan berbalik, menatap kekacauan yang ada di sekelilingnya. Lay kini tengah membantu Kai mengembalikan kulitnya yang terkelupas, setelah berhasil merobohkan Suho dan Xiumin. Sehun membantu D.O mengumpulkan tubuh vampir-vampir berjubah hitam—Suho, Xiumin, Yeol, Tao—ke dekat Chen yang masih meraung karena mata kanannya yang tertusuk pisau oleh Luhan. Luhan merogoh saku celananya, menekan angka-angka yang tampil di layar handphone miliknya.

 

“Bawakan agen kita yang tersisa kemari, suruh mereka membereskan kekacauan di sini” ujar Luhan pada orang di seberang telpon, lalu memutuskan sambungan telponnya. Dengan cepat, Luhan sudah berada di samping Sehun dan D.O.

“Apa yang akan kita lakukan dengan mereka?” tanya D.O. Luhan tak menghiraukan ucapan D.O, dan langsung mendekati kelima vampir berjubah hitam itu. Mata Sehun dan D.O melebar begitu melihat Luhan yang melakukan Forced Blood Bond dengan kelima vampir itu.

“Ini hukuman terberat, bukan?” lirih Luhan. D.O dan Sehun hanya menganggukkan kepala mereka dalam diam.

 

“Uhuk” seperti tersadar dari mimpi buruk, Luhan berlari ke arah Hanna yang terbatuk.

“Hanna!” seru Luhan panik. Tubuh Hanna terasa begitu dingin, lebih dingin dari lemari es, dan wajahnya putih pucat, sangat pucat.

“L-lu-h-han..” Hanna berusaha memberikan senyumannya pada Luhan. Hanna merasa ia tengah berada di tengah-tengah antara kematian dan kehidupan, karena ia telah kehilang begitu banyak darah.

“Hanna! Hanna! Bertahanlah! Kumohon!” rintih Luhan begitu Hanna memejamkan kedua matanya, “Luhan…. Wo ai ni” lirih Hanna, sebelum ia benar-benar tak sadarkan diri.

 

 

***

 

 

 

 

Suasana mencekam dan suram menyelimuti pembakaran mayat Baekhyun. Suara tangis terdengar jelas keluar dari bibir mungil milik Krystal. Gadis itu masih tidak bisa menerima kenyataan, Baekhyun mati. Luhan menatap sendu ke arah mayat Baekhyun yang kini sudah berubah menjadi abu. Sehun memeluk Krystal, berusaha menenangkan gadis yang terus menerus menangis itu. Kai menengadahkan kepalanya ke atas, mencegah bendungan air matanya tumpah. D.O menundukkan kepalanya dalam, wajahnya membengkak karena terlalu banyak menangis. Lay menggigit bibir bawahnya, menahan tangisnya sambil mengumpulkan abu milik Baekhyun. Lay memberikan sebuah guci dengan abu Baekhyun di dalamnya kepada Luhan, yang diterima dengan berat hati oleh Luhan.

“Terima kasih, Lay” Lay hanya menganggukkan kepalanya dalam diam, lalu beranjak ke sisi D.O lagi. Luhan melirik ke arah Krystal yang masih belum berhenti menangis. Perlahan, ia melangkahkan kakinya ke arah Krystal dengan guci berisi abu Baekhyun di dalam pelukkannya.

“Krys..” Krystal melepaskan dirinya dari pelukkan Sehun, menatap Luhan yang memanggilnya. Luhan tak dapat mendeskripsikan sekacau apa wajah Krystal. Matanya bengkak dan merah, air mata terus menerus mengalir di pipinya. Rambut Krystal acak-acakan, seperti sarang burung. Namun ia tetap terlihat cantik meskipun ia terlihat sangat kacau.

 

“Maukah kau.. Menjaga Baekhyun?” Krystal sedikit terkejut mendengar permintaan Luhan. Bukannya ia tak mau menjaga Baekhyun, namun ia tahu Baekhyun sudah seperti saudara bagi Luhan, sama seperti Lay, D.O, Kai dan Sehun.

“Kau yakin, Luhan?” Luhan menganggukkan kepalanya, menyodorkan guci berisi abu milik Baekhyun itu pada Krystal.

“Aku yakin, ia juga ingin kau yang menjaganya, Krystal.” ‘Karena ia mencintaimu, Krys’ tambah Luhan di dalam hatinya. Kini guci berisi abu Baekhyun itu berpindah ke dalam pelukkan Krystal, sebuah senyum lemah muncul di wajah Krystal dan Luhan.

“Terima kasih, Luhan” Luhan menganggukkan kepalanya, lalu beranjak meninggalkan tempat pembakaran tubuh Baekhyun itu. Meninggalkan Lay, D.O, Kai, Sehun dan Krystal yang masih bersedih karena kepergian Baekhyun.

 

 

Angin semilir menerpa wajahnya, memainkan rambut-rambut pendek di sekitar wajahnya seiring dengan langkahnya yang menyongsong tanah dengan rumput hijau itu. Luhan menghentikan langkahnya di tengah-tengah rumput hijau dengan berbagai bunga-bunga kecil yang tumbuh di sela-selanya. Luhan membaringkan tubuhnya di atas rumput, kedua tangannya bersila di bawah kepalanya.  Sebulir air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya. Akhirnya, setelah sekian lama air mata itu jatuh.

“Byun… Baek… Hyun…” lirih Luhan pelan, meresapi nama dari sahabatnya itu. Sakit, itu yang dirasakan Luhan. Kehilangan seorang sahabat yang sudah seperti saudara sendiri bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu waktu untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkannya.

Air mata Luhan semakin deras saat memori tentang Baekhyun berputar di otaknya. Ia sudah menghabiskan beratus-ratus tahun bersama Baekhyun dan yang lainnya. Mereka berbagi suka dan duka bersama-sama, tumbuh bersama-sama. Pertengkaran-pertengkaran kecil di masa lalu membuat Luhan tertawa hambar disela-sela tangisnya.

“Baekhyun.. Aku harap kau tenang di sana.. Terima kasih telah ada di dalam kehidupanku, terima kasih telah menjadi sahabat dan saudaraku. Aku ingin meminta maaf padamu.. K-karenaku kau terbunuh. Maafkan aku, Baek. Aku akan menjaga Krystal untukmu. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti Krystal, sekalipun itu Sehun. Untuk terakhir kalinya, terima kasih dan maaf, Byun Baekhyun..”

Luhan merasa beban di kedua pundaknya meringan. Air mata di kedua pipinya sudah mulai mengering seiring dengan angin semilir yang menerpa wajahnya. Luhan menolehkan kepalanya ke samping, berharap seseorang berada di sana, menggenggam tangannya. Namun harapannya pupus ketika yang ia lihat hanyalah hamparan rumput hijau.

 

Kreteeek

Luhan merasa hatinya retak kembali menyadari satu lagi kenyataan pahit yang dihadapinya.

“Hanna Park… Kau di mana? Aku membutuhkanmu…”

 

 

 

Flashback

Luhan berdiri cemas di depan ruang UGD. Ia tidak bisa tidak cemas di saat Hanna, tengah berjuang mempertahankan hidupnya di dalam ruangan serba putih itu. Para dokter—yang juga vampir—mengalami kesulitan karena Hanna yang tidak bisa meminum sembarang darah. Sedangkan keadaannya sekarang sangat lemah, hampir ke titik di mana ia koma. Meskipun Luhan sudah membantu dengan darahnya, namun itu belum cukup. Hanna membutuhkan lebih banyak darah lagi.

“Lu Han!” Luhan menghentikan langkahnya ketika Mr. dan Mrs. Park datang menghampirinya.

“Bagaimana keadaan Hanna, Luhan?!” tanya Mrs. Park panik. Ia tidak peduli bahwa yang ia ajak bicara adalah seorang putra mahkota. Yang terpenting baginya dan suaminya kini adalah keadaan putri tercinta mereka, Hanna.

Luhan menggelengkan kepalanya lemah, “Maaf Mr. Park.. Mrs. Park.. Mereka kekurangan darah..” ujar Luhan pelan. Mrs. Park menangis mendengar penuturan Luhan. Mr. Park memeluk Mrs. Park, berusaha menenangkan istrinya itu. Luhan menatap pilu ke arah orang tua Hanna. Jika saja, jika ia tidak terlalu rakus meminum darah Hanna. Mungkin Hanna tidak perlu berjuang sekeras ini untuk mempertahankan hidupnya.

 

Tiba-tiba pintu ruangan UGD itu terbuka, membuat Luhan, Mr. dan Mrs. Park menyerbu dokter yang keluar dari ruangan itu dengan pertanyaan.

“Bagaimana keadaan Hanna, dok?” tanya Mr. Park cemas.

“Anda orang tua dari nona Hanna Park?” Mr. dan Mrs. Park menganggukkan kepala mereka.

“Tolong ikut saya ke ruangan saya” Mr. dan Mrs. Park berjalan mengikuti langkah dokter yang menangani Hanna ke ruangannya. Luhan masuk ke dalam ruangan UGD itu ketika perawat yang menangani Hanna memperbolehkannya untuk masuk.

 

“Hanna..” gumam Luhan begitu ia duduk di samping ranjang Hanna. Ia menarik tangan Hanna ke dalam genggamannya, menjadikan tangan mereka sebagai penopang keningnya.

“Hanna, Park Hanna” lirih Luhan seraya memenuhi rongga dadanya dengan pheromones milik Hanna. Perasaan bersalah meresap ke dalam hatinya melihat Hanna yang tak berdaya. Sebuah simbol terukir di leher Hanna, di mana Luhan menggigitnya tadi. Simbol itu sama persis seperti yang terukir di leher Luhan, membuat sebuah senyum muncul di wajah putra mahkota kerajaan vampir itu. Sebuah simbol yang hanya akan muncul jika seorang vampir telah melakukan Blood Bond dengan soulmatenya.

“Aku menemukanmu, Hanna. Calon ratu kerajaan vampir kelak. Wanita yang akan menjadi pendamping hidupku dan ibu dari anak-anak kita kelak”

 

 

Kriieett..

Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Luhan. Ia menolehkan kepalanya ke arah pintu, matanya bertemu dengan mata Mr. dan Mrs. Park yang berdiri di ambang pintu. Vampir dengan usia yang tua itu berjalan mendekati Luhan, wajah mereka menampakkan kelelahan dan kesedihan yang tengah mereka rasakan.

“Luhan” Mr. Park menepuk pelan pundak Luhan, matanya mengisyaratkan maaf yang sangat besar, membuat rasa takut menyelip masuk ke dalam hati Luhan.

“Hanna.. Ia membutuhkan lebih banyak darah dan pengobatan yang lebih baik..” Luhan menegang mendengar ucapan Mr. Park. ‘Andwae.. Jangan bilang—

“Kami menemukan sebuah rumah sakit dengan persediaan Bombay Type Blood yang cukup banyak dan pengobatan yang lebih baik. Jadi.. Kami akan membawa Hanna ke sana”

“T-ta-pi Mr. Park—“

“Maafkan kami, Your Highness. Kami hanya ingin yang terbaik untuk putri tercinta kami. Kami mohon, Your Highness tidak mempersulit keadaan, kami mohon” ujar Mr. Park seraya ia dan Mrs. Park berlutut di depan Luhan. Suara tangis Mrs. Park yang tak dapat disembunyikannya itu menggelitik telinga Luhan, membuat rasa bersalah kembali menyebar di dalam hatinya. Helaan nafas terselip keluar dari bibir Luhan seiring dengan ia melihat wajah Hanna yang sangat pucat.

“Tak bisakah kalian memberitahuku kemana kalian akan membawa Hanna?”

Mr. Park menggelengkan kepalanya pelan, “Maaf, Your Highness. Tapi menurut kami ini adalah keputusan yang terbaik, Your Highness

‘Ya, mungkin, mungkin ini yang terbaik’ batin Luhan, meskipun ia tahu ia akan hancur perlahan-lahan karena rasa sepi dan kekosongan yang ditinggalkan Hanna di sudut hatinya.

Flashback END

 

 

***

 

 

Dua tahun sudah berlalu semenjak kejadian mengerikan itu. Namun, suasana pesta rutin yang selalu dilakukan oleh keluarga kerajaan tetap ramai seperti biasanya.  Luhan berusaha tersenyum pada setiap tamu yang datang ke pesta yang diadakan di kediamannya itu.

“Luhan!” Luhan menolehkan kepalanya begitu namanya dipanggil. Tak jauh darinya, Krystal tengah melambaikan tangannya ke arah Luhan, dengan Sehun yang setia berdiri di samping Krystal. Luhan juga dapat melihat Lay, D.O, dan Kai berdiri di dekat Krystal dan Sehun. Sebuah senyum muncul di wajah Luhan seiring dengan langkahnya yang memperkecila jarak di antara mereka.

“Lu Han heh” Luhan tersenyum miring mendengar sapaan Kai yang terdengar lebih seperti cemoohan.

“Halo juga, Kim Jongin” ujar Luhan sarkastik. Kai hanya tertawa pelan mendengar sapaan Luhan yang tak jauh berbeda darinya.

“Hey, Luhan. Bagaimana kabarmu?”

“Kau bisa lihat bukan? Aku baik-baik saja Krys” ujar Luhan berusaha memberikan senyumnya pada Krystal. Helaan nafas terdengar dari Krystal, membuat Luhan cepat-cepat mengganti topik pembicaraan.

“Bagaimana honeymoonmu dengan Sehun?” Luhan terkekeh kecil begitu melihat semburat merah yang muncul di pipi Krystal. Sehun mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Krystal, membuat Kai bersiul menggoda.

“Yah, Kim Jongin!” hardik Krystal, namun Kai tidak bergeming dan tetap memasang wajah yadong di wajahnya. Krystal menatap tajam ke arah Kai, lalu beralih lagi ke arah Luhan.

 

“Jangan berusaha mengalihkan topik pembicaraan, Luhan. Kau tahu, aku tidak mudah untuk dialihkan” helaan nafas kini terselip keluar dari bibir Luhan mendengar penuturan Krystal. Tanpa perlu Luhan menjawabpun, Krystal dapat mengetahui bagaimana keadaan sepupunya itu yang sebenarnya.

Dua tahun memang sudah berlalu. Namun Luhan seperti masih berada di waktu yang sama, dua tahun yang lalu. Luhan menjalani dua tahun ini seperti robot. Ia tersenyum saat diperlukan, tertawa saat keadaan mengharuskannya tertawa. Ia selalu memasang senyum dan tawa di depan orang lain. Di saat ia sendiri, semua senyum dan tawa palsu itu dilepaskannya, berganti dengan tatapan kosong dan wajah datarnya. Hanna telah mengambil semua tawa, senyum dan tangis dari lelaki itu. Membawanya pergi ke tempat yang jauh.

 

 

“Hanna?” gumam Krystal begitu ia melihat seorang gadis dengan gaun biru gelap menghampirinya. Krystal menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih baik siapa perempuan yang kin berdiri di hadapannya.

“Krystal!”

“Hanna!”

“Kyyaaa!” mereka berdua memekik senang sambil berpelukan. Kebahagiaan terpancar dengan jelas dari kedua wajah wanita cantik itu.

“Hanna! Kemana saja kau? Kau tak tahu seberapa aku merindukanmu?” Krystal menyerbu Hanna dengan berbagai pertanyaan begitu mereka melepas pelukan mereka. Hanna tertawa kecil, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

Aigoo, banyak sekali pertanyaanmu—ouch!” Hanna memekik pelan ketika Krystal memukul pelan lengannya.

“Wajah bukan? Kau selalu membuatku khawatir, Hanna” ujar Krystal mengerucutkan bibirnya.

Arasseo, arasseo. Maafkan aku, Krystal. Tapi sebelum kita membahas tentangku.. Selamat atas pernikahanmu dengan Sehun! Sayang sekali aku tak diundang ke acara pernikahan kalian” kini giliran Hanna yang mengerucutkan kedua bibirnya.

“Hey, salah siapa yang tidak memberiku kabar selama dua tahun ini?” Hanna hanya memutar kedua bola matanya pelan sambil tertawa mendengar gerutuan Krystal.

“Jadi benar-benar tak ada undangan untukku?” tanya Hanna lagi. Krystal mendorong pelan kening Hanna dengan jari telunjuknya, “Tentu saja ada, silly”. Kedua sahabat itu saling tertawa bersama, melepas rindu satu sama lain.

 

 

 

 

“Luhan, Luhan!” Luhan terbangun dari lamunannya ketika Lay menyenggol lengannya.

“Ya?”

“Hanna” ujar Lay sambil menunjuk seorang vampir perempuan yang tengah berpelukkan dengan Krystal. Mata Luhan terbelalak melihat gadis yang ditunjuk oleh Lay. Gadis itu mengenakan gaun biru gelap gemerlap yang menutupi tubuhnya hingga ke ujung jari kakinya. Bagian atas gaun tersebut sedikit rendah, menampakkan tulang selangka gadis itu dengan sempurna. Lehernya yang jenjang tertutup oleh rambut coklat bergelombang miliknya yang berkilauan. Wajahnya seperti sebuah boneka yang rapuh dan innocent, namun tatapan matanya begitu dingin hingga dapat membuatmu bergetar ketakutan.

“Han..na..” lirih Luhan masih terhipnotis dengan sosok yang kini sangat dekat dengannya. Luhan mencubit pipinya, ingin memastikan apakah sosok itu hanyalah khayalannya atau kenyataan.

“Ouch” Luhan merasakan sedikit sakit di pipinya, membuat sebuah senyum lebar muncul di wajahnya.

“Aku.. tidak bermimpi..” gumamnya. Dengan langkah mantap, Luhan mendekati Hanna yang hanya berjarak tak lebih dari satu meter di depannya.

 

 

“Hanna?” Hanna menolehkan kepalanya begitu mendengar namanya disebut. Wajah Luhan menerang melihat wajah Hanna yang kini berhadap-hadapan dengannya. Luhan tak dapat mendeskripsikan rasa senang yang melandanya sekarang. Seperti ada banyak kembang api yang di dalam hatinya, begitu terang dan indah.

“Ya? Siapa kau?” rahang Krystal terasa seperti ingin jatuh menyentuh tanah mendengar ucapan Hanna. ‘Bagaimana bisa?!’ pekiknya dalam hati. Sedangkan wajah Luhan kini berubah putih seperti hantu. Luhan merasa seperti ada sebilah pedang menusuk jantungnya. Hatinya hancur berkeping-keping mendengar ucapan Hanna.

“K-kau.. tak mengenalku?” tanya Luhan ragu.

“Apakah kita pernah mengenal?”

“Hanna, kau benar-benar tak dapat mengenali Lu Han?!” pekik Krystal menyenggol lengan sahabatnya itu.

“Lu han? Lu.. Ah, aku ingat! Maafkan kelancanganku, Your Highness. Aku tidak mengetahui jika aku tengah berbicara dengan putra mahkota kerajaan vampir” ujar Hanna sembari menundukkan kepalanya pada Luhan, memberi tanda hormat. Lay, Kai, D.O dan Sehun yang melihat itu tidak jauh berbeda ekspresinya dari Luhan dan Krystal.

‘Ada apa dengan Hanna?’ batin mereka.

 

“Hanna, ikut aku sekarang” ujar Krystal sambil menarik Hanna pergi menjauh dari Luhan. Krystal menarik gadis bergaun biru gelap itu ke sudut kediaman Luhan, di mana tak ada satupun orang berada di sana.

“Hanna, ada apa denganmu?! Kau tahu, kau bisa membohongi semua orang tapi kau tak bisa membohongiku, Hanna” seru Krystal kesal. Hanna menundukkan kepalanya, tak berani menatap ke arah sahabatnya itu.

“Jawab aku, Hanna. Kenapa kau melakukan ini?” tanya Krystal pelan. Kekecewaan tampak dengan jelas dari kedua bola matanya, membuat Hanna merasa bersalah ketika ia mendongakkan kepalanya dan melihat langsung ke dalam kedua bola mata Krystal.

 

“Aku.. memiliki alasan.. Krystal..” lirih Hanna.

“Apa, Hanna?”

“Aku ingin Luhan move on dariku, Krystal.”

“Kena—“

“Aku mendengar semuanya Krystal! Saat aku sedang dirawat di Paris, aku mendengar semua tentang Luhan! Ia hancur.. aku tahu seberapa kacaunya ia saat orangtuaku membawaku pergi ke Paris!” teriak Hanna histeris. Air mata mengalir deras di kedua pipinya, membuat Krystal juga ikut menitikkan air mata. Krystal menarik Hanna ke dalam pelukkannya, mengusap pelan punggung Hanna yang terbuka dengan irama yang menenangkan.

“Lalu kenapa Hanna? Aku tahu kau juga hancur seperti Luhan..” lirih Krystal. Hanna melepas pelukkannya dari Krystal. Tangan gadis itu terangkat, menyingkirkan rambut coklat miliknya yang menutupi leher jenjang miliknya. Jari-jarinya meraba pelan simbol yang terukir di lehernya.

“Aku tak tahu.. Krystal.. Aku hanya merasa tak pantas untuk kembali pa—“

“Hanna.” Hanna membeku di tempatnya begitu mendengar suara yang sangat familiar baginya. Suara itu sangat mengintimidasi, membuat rambut-rambut kecil di seluruh tubuh Hanna berdiri. Luhan berjalan mendekati Krystal dan Hanna dengan pandangan tak percaya.

 

“Krystal, bisakah kau—“ belum sempat Luhan menyelesaikan ucapannya, Krystal sudah menghilang dari tempat tersebut, meninggalkan Hanna dan Luhan berdua. “Terima kasih” lirih Luhan pelan. Kini ia mengalihkan perhatiannya pada Hanna yang menundukkan kepalanya.

“Arrghh” Hanna menggeram pelan ketika kulit di punggungnya menyentuh dinding yang dingin. Kedua tangan Luhan berada di samping kanan dan kiri Hanna, mengunci gadis itu. De javu datang menghampiri Hanna dan Luhan, beriring dengan memori mereka berdua.

“Kenapa Hanna? Kenapa kau melakukan ini?” tanya Luhan dengan suara seraknya di telinga Hanna. Air mata mengalir lagi dari kedua pelupuk Hanna, melihat Luhan yang tampak kacau di depannya.

“Ssshh.. Uljima..” Luhan mengecup pelan kedua pipi Hanna, menghapus air mata yang mengalir di sana.

Mianhae, mianhae Luhan. Mi-mi-an-h-hae” Hanna melingkarkan tangannya di pinggang Luhan, menyandarkan tubuhnya di tubuh Luhan. Kepalanya menyuruk ke leher Luhan, hidungnya menghisap semua pheromones yang dikeluarkan oleh Luhan. Betapa Hanna merindukan saat-saat seperti ini, merindukan pelukan Luhan, berada di dalam rengkuhan Luhan, merindukan pheromones milik Luhan yang sangat memabukkan, dan Luhan. Hanna merindukan Luhan.

 

Luhan melingkarkan tangannya di pinggang kecil Hanna, semakin memperkecil jarak di antara mereka—jika itu mungkin.

“Hanna, dengar” Luhan melepaskan pelukkannya, menangkup wajah Hanna dengan kedua telapak tangannya yang besar. Ia menatap dalam ke kedua bola mata almond milik Hanna.

“Jangan pernah lakukan ini lagi. Ini menyakitiku, Hanna. Jangan pernah berkata kau tak pantas untuk kembali padaku, karena tak ada wanita lain yang pantas berada di sampingku selain kau, Hanna. Hanya kau yang mengisi hatiku, sampai ke relung terdalam. Hanya kau, Hanna Park yang bisa membuatku gila dan melakukan hal-hal tak mungkin. Kumohon, jangan tinggalkan aku lagi, Hanna..” Hanna berusaha mencari kebohongan di kedua mata bulat milik Luhan, namun nihil. Yang ditemukannya hanyalah kesungguhan dan kejujuran, membuat hatinya bergetar.

Wo ai ni, Hanna Park. Saranghae, aku mencintaimu” bibir milik Luhan mendarat tepat di bibir Hanna. Luhan memejamkan matanya, perasaan rindu membuncah di dadanya. Ia merindukan gadis di depannya ini, merindukan setiap sentuhannya di tubuh Luhan, merindukan pheromones yang selalu bisa membuatnya gila, dan merindukan bibir yang terasa sangat pas dengan bibirnya. Seperti sebuah puzzle yang menemukan pasangannya.

Hanna ikut memejamkan matanya melihat Luhan yang memejamkan matanya. Tangan Hanna kini terangkat, melingkar di leher Luhan begitu tangan Luhan melingkar di pinggang kecilnya. Hanna membuka mulutnya begitu lidah Luhan menggoda bibirnya. Lenguhan terselip keluar dari bibir mungil Hanna ketika Luhan memainkan lidahnya dengan pro di dalam mulut Hanna. Jari-jari Luhan bermain di kulit punggung Hanna yang terbuka, membuat Hanna semakin terbuai dengan permainan Luhan. Kaki Hanna lemas, membuatnya hampir terperosot jatuh namun Luhan mengeratkan tangannya di pinggang Hanna, mencegah gadis itu jatuh. Nafas keduanya terburu ketika mereka melepaskan ciuman mereka. Wajah Hanna tampak merah seperti tomat dan bibirnya sedikit membengkak.

“Haruskah kita melanjutkannya?” bisik Luhan serak, seraya menggigit pelan daun telinga Hanna, membuat gadis itu melenguh.

“L-luh-han c-cu-ku-p” ujar Hanna berusaha menghentikan Luhan yang semakin gencar memainkan lidahnya di daun telinga Hanna.

“Luhan!” Hanna memekik pelan begitu ia merasakan taring panjang milik Luhan menembus permukaan kulit di lehernya. Hanna memejamkan kedua matanya, merasakan darahnya yang berpindah ke rongga mulut Luhan. Taring Hanna ikut memanjang, matanya berubah merah cemerlang beriring dengan semakin banyak darahnya yang dihisap oleh Luhan. Hanna berusaha meraih leher Luhan dengan tangannya, ingin menghisap darah Luhan. Namun Luhan menahan tangan Hanna yang mencoba mendekatkan lehernya dengan taring milik Hanna. Luhan menarik taringnya dari leher Hanna, lalu tersenyum evil ke arah Hanna.

“Kau menginginkan darahku, eoh?”

“Luhan.. kumohon.. aku ingin..” Luhan menggelengkan kepalanya pelan, senyum di wajahnya berubah menjadi seringai.

“Katakan kau juga mencintaiku, baru aku akan mengizinkanmu, Hanna Park”

“Aku mencintaimu Luhan! Wo ai ni! Saranghae! Je t’aime Luhan!” seru Hanna. Namun seringai di wajah Luhan belum juga hilang.

“Sekarang, meminta padaku. Mohon padaku, semelas yang kau bisa, Hanna Park” bisik Luhan di telinga Hanna.

“Lu-u-han.. kumohon.. a-aku menginginkan darahmu.. aku membutuhkanmu Luhan.. sekarang.” Hanna mengecup pelan bibir Luhan, tangannya melingkar di pinggang Luhan, membuat tubuh mereka saling menempel satu sama lain.

“Enghh” sebuah lenguhan terselip keluar dari bibir Luhan, ketika ia merasakan tubuh Hanna yang menempel erat dengan tubuhnya, hanya dipisahkan oleh baju yang mereka kenakan. Hanna yang melihat Luhan yang tengah lengah, segera menancapkan taringnya di leher Luhan, menghisap darah milik Luhan.

“Licik sekali kau.. Hanna” gumam Luhan di sela-sela lenguhan yang keluar dari bibirnya karena Hanna yang menyedot kuat darah dari lehernya. Hanna menarik taringnya dari leher Luhan, lalu melingkarkan tangannya di leher Luhan kembali.

“Aku belajar darimu, Lu Han” ujar Hanna dengan sebuah senyum penuh makna di wajahnya. Luhan menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyandarkan kening miliknya di atas kening milik Hanna.

“Hanna.. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku”

“Aku juga mencintaimu Luhan. Dan aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tidak akan pernah”

 

 

 

END

 

 

 

 

A/N: HA HA HA HA AKHIRNYA END! YA TUHAN ;AAAA; MAAFKAN AKU MAAFKAN AKU AKU MERASA GAGAL NTAH KENAPA ;____; MAAF ADEGAN TERAKHIR ASDFGHJKL KENAPA AKU NGERASA JADI PERVERT DI BAGIAN ENDING AAAAA ;____;

maafkan aku karena baekkie terbunuh di sini ;___; maafkan aku ;AAAA;

TERIMA KASIH TERIMA KASIH BUAT CHINGUDEUL SEMUA<33333 AKU GA AKAN BISA NYELESAIAN TARGET KALO BUKAN KARENA SEMANGAT DARI KALIAN SEMUA<3333

MAAFKAN AKU KARENA ENDING YANG TAK MEMUASKAN ;AAAA;  

MAAF JUGA BUAT TYPO ;AAAAA;

ADUH AKU GA BISA NGOMONG APA-APA LAGI, NTAH KENAPA SPEECHLESS TARGET SELESAI HUAAAA ;AAAA;

DAN TAU GA SIH BAP RILIS MV BARU COFFEE SHOP YA TUHAAANN!! AKU HISTERIS PAS LIATNYA!! MANA AKU LAGI DI MALL PULA GILA MALU CUUUYY TAPI BODO AMAT YONGGUK GANTENG MAKSIMAL BOOOYYY DAE JUGA ZELO JUGA YOUNGJAE JUGA HIMCHAN JUGA UP JUGA AAAAAA GUA BISA GILAAAA ;AAAA; TRUS HABEDEH BUAT DAEHYUN<3333 SARANGHAE DAEHYUUN!! TAPI GUA LEBIH CINTA LAGI SAMA YONGGUK<33333 MUEHEHEHE /PLAAK/OKE INI CURHATAN GA JELAS/

POKOKNYA MAKASIH BANGET KARENA UDAH MAU NUNGGUIN PART 4 DAN NYEMANGATIN AKU. AKU TERHARU BANGET ;AAAA;

MAKASIH MAKASIH MAKASIH BANYAK ;AAAA; SARANGHANDA CHINGUDEUL<3333 {}{}{} :**** /TEBAR FOTO WEDDING LUHANNA/KESELIP FOTO WEDDING AUTHOR SAMA YONGGUK/PLAAK/WKWK

195 responses to “TARGET 4 [FINAL]

  1. Wah..
    Disini chanyeol oppa jadi org jaat.. 😦
    Akhirnya happy ending..
    Tapi sad ending juga krn baekhyun nya meninggal..
    Huhuhu..
    Knp baekhyunnya mesti mati? Saya pikir akan sama krystal nantinya..
    Sampai nangis saya waktu part di pemakamam baekhyun itu..
    Huhuhu..

  2. loh??
    bukannya kai pernah berteleportasi dngan membawa luhan dan hanna pas tes darah waktu itu ya?
    kenapa d sni kai gag bsa berteleportasi smbil bawa hanna ama sehun???

    ahh lepas dri itu smua, sempet kaget pas tw hanna lupa ama luhan
    kirain bakalan sad ending atw luhan yg mulai dri awal mengenal hanna
    untungnya enggak hahaha 😀

    trus nasib para penjahatnya gmn?

    ni cerita keren sumfahh ^^

  3. sumpah thor aku deg”an gini mbacanya ><
    mana ini mbacanya waktu di sekolah.. ngk trpat banget.. saya ngk bisa teriak" gaje..
    sumpah ini ff keren banget.. ^^
    feelnya kerasa, bahasanyaa juga enak banget eh,,
    itu akhirnya baekhyun mati, dan ternyata baekhyun suka sama krystal gitu juga sebaliknya?? wah.. kenapa baekhyun harus meninggal.. /.\

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s