Two Sides [part 2]

two-sides-cover

 PREVIOUS: [prolog] [part 1]

AUTHOR: Avyhehe

LEGTH: Series

GENRE: Supranatural/Fantasy/Mistery

RATED: PG-13

Characters: Xi Luhan (EXO), Oh Sehun (EXO) Wu Yi Fan/Kris (EXO)

others: Tao (EXO), Amber f(x), Park/Micky Yoochun (DBSK),  Sulli f(x)

Disclaimer: Mine.

A/N: mian baru apdet, happy reading ^^

DON’T BE A SILENT READER, PLEASE

avy present

~Two Sides~

Luhan mendengar suara-suara berisik saat dia mengerjakan PR di apartemennya. Suara itu berasal dari luar, terdengar seperti deritan barang yang digeret dan kardus-kardus yang bergesekan. Pemuda itu mendengus kesal, meletakkan pensilnya, lalu membuka pintu apartemen dan melongok ke luar.

“Luhan!!” panggil Sulli dari luar apartemen sambil melambaikan tangan. Sulli yang tinggal bersebelahan dengan Luhan agaknya juga terganggu dengan suara berisik itu. Mata mereka berdua tertuju pada tumpukan kardus yang menjulang tinggi di depan pintu sebuah apartemen di sebelah apartemen Luhan. Apartemen itu memang sudah lama kosong sejak pemilik terakhirnya pindah ke Busan. Selain tumpukan kardus yang menjulang tinggi, di sebelahnya juga terdapat onggokan perabotan mewah yang kelihatan mahal.

Sulli menghampiri perabot-perabot itu dan menyentuhnya dengan wajah berseri-seri, karena gadis itu memang menyukai barang mahal.

“Choi Sulli! Jangan seenaknya mengutik barang orang!!” Luhan mengomeli Sulli, namun gadis itu tak menggubrisnya. Ia malah menekan tuts-tuts grand piano yang berdiri kokoh di depannya. “Omooo… piano ini indah sekaliii…” pujinya ke arah piano hitam mengkilap tersebut.

“Ingin mendengarku bermain?”

Sebuah kepala manusia berambut pirang mencuat dari tumpukan perabot, membuat Sulli kaget hingga gadis itu mundur dan tubuhnya sukses menabrak tubuh Luhan. “Aww…!” rintih Luhan saat tubuh besar Sulli menabraknya.

Hening.

Orang berkepala pirang itu melangkahkan kakinya keluar dari tumpukan perabot. Dia menyapa dua manusia di hadapannya. Luhan dan Sulli mengerjap-ngerjapkan mata mereka saat mengetahui pemilik kepala itu adalah Kris sunbae, senior mereka yang duduk di kelas tiga.

“Kris sunbae!! Apa yang kau lakukan disini?” Luhan berteriak kaget. Kris tersenyum lebar melihat ulah Luhan, membuat Sulli yang melihatnya langsung melting.

“Hari ini aku resmi pindahan kesini.” jelas Kris pada kedua hoobae-nya.

“WOW!!” mata Luhan membulat seketika saat mengetahui Kris akan menjadi tetangganya. Namun ia sedikit heran atas kepindahan sunbaenya itu, yang menurutnya begitu mendadak dan seperti sebuah kebetulan. Apalagi setahu dia Kris tinggal di sebuah mansion mewah yang jaraknya dekat dengan sekolahan. ‘Kenapa dia mau tinggal di apartemen biasa seperti ini ya?’ pikir Luhan.

Kris yang seolah mengerti pikiran yang tertera di jidat Luhan, tersenyum kembali pada hoobae-nya itu. Ia mulai berceloteh. “Abeoji yang menyuruhku tinggal disini, supaya aku bisa lebih mandiri. Lalu hyung-ku yang dari luar negeri sepertinya juga akan tinggal bersamaku, jadi kalau dia sudah sampai aku akan mengenalkannya pada kalian. Lalu…” Kris mengusap-usap dagunya seperti sedang berpikir, “…setahuku…, gedung apartemen ini sangat dekat dengan sekolahan. Bagaimana kalau setiap pagi aku berangkat bersama kalian? jalan kaki, tentu saja. Kalian tidak keberatan kan?” katanya panjang lebar dengan sekali tarikan nafas—dia pun mengakhiri perkataannya dengan puas.

Dua manusia di depannya bertatapan heran, mulut mereka terbuka lebar, tak tahu harus bereaksi seperti apa.

‘Kris sunbae? jalan kaki ke sekolah bersama kita? apa ini mimpi?’ begitulah kira-kira pertanyaan yang tertera di pikiran Luhan dan Sulli.

“Jadi, aku mohon bantuan kalian ya.” Kris pun membungkuk ke arah mereka dan berlalu masuk  ke apartemennya. Tak selang beberapa lama, empat orang ber-tuxedo putih tiba di depan apartemen Kris dan mulai mengangkuti barang milik tuan mereka ke dalam.

Luhan menyikut rusuk Sulli, membuat gadis yang masih memperhatikan acara pengangkutan itu menoleh padanya. “Wae??”

“Jam berapa sekarang?” tanya Luhan.

Sulli melirik jam tangan kecil di pergelangannya. “9 pagi, kenapa?”

“Astaga… aku belum mandi!” Luhan mendesis. “pasti aku kelihatan jelek…”

Gadis di sebelahnya mendengus. “Pantas saja baumu seperti acar!” setelah itu Sulli mendorong Luhan masuk ke apartemennya, kemudian menutup pintunya dari luar.

Sehun menyeduh teh panas di dapurnya. Sesekali ia meraba pundak sebelah kirinya, yang sudah tidak mulus lagi seperti dulu. Padahal kulitnya yang mulus adalah sesuatu yang selalu dibanggakan Sehun.

Pemuda itu dapat merasakan relief berbentuk lingkaran dengan bintang ditengahnya saat jemarinya menyapu kulit di bagian pundak kiri. Ia pun memejamkan matanya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah ilusi, namun ketika ia membuka matanya kembali dan meraba pundaknya lagi, bekas luka aneh itu masih terasa.

“Sampai kapan mau meraba-raba segel yang indah itu?” ucap sebuah suara yang familiar, membuatnya menoleh. Sehun mendapati Tao yang tengah duduk dan bersandar di bingkai jendela sambil menyeringai ke arahnya. Sehun membalas seringainya dengan rengutan. Tao tertawa.

“Itu baru permulaan, nantinya kau akan merasakan hal yang lebih menyedihkan lagi. Dan rengutanmu itu akan makin parah.” setelah selesai menggoda anaknya, Tao memandang keluar jendela yang didudukinya. Hembusan angin dari luar mengibarkan hem hitam miliknya yang tidak dikancingkan, menyingkap sehelai kaos hitam di baliknya.

Sehun menatap lelaki itu lekat-lekat. Gaya berpakaian Tao tidak pernah berubah sejak Sehun masih duduk di bangku kanak-kanak. Appanya itu selalu mengenakan pakaian casual dengan warna hitam atau abu-abu suram, atau perpaduan dari keduanya, sehingga secara tidak sengaja kebiasaan itu menular pada dirinya. Coba saja tengok semua pakaian di lemari Sehun, yang hampir seluruhnya berwarna hitam dan abu-abu kelam.

Tapi yang membuat Sehun heran, tidak hanya gaya berpakaian Tao saja yang tidak berubah. Wajah lelaki yang seharusnya berumur 40-an itu juga tetap sama, tidak bertambah tua ataupun keriput, dengan rahang yang tegas dan tatapan  mata hitamnya yang tajam, yang mampu membuat banyak perempuan bertekuk lutut saat melihatnya. Jangan-jangan ayahnya itu melakukan pengangkatan keriput secara rahasia dibelakangnya, pikir Sehun.

“Jangan menatapku terus!” Tao membuyarkan adegan Sehun yang menatapinya, “nanti kau menyukaiku, dan aku tak ingin anakku menjadi penyuka sesama jenis, apalagi appa nya sendiri!”

Sehun berusaha menahan kesabaraannya sekuat tenaga. “Nde, appa… ” ia lalu membuka topik baru. “Ehm, kalau aku boleh bertanya, kemana saja kau selama 5 tahun ini?” sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang tertera di jidat Sehun, tapi dia memilih untuk menanyakan hal ini terlebih dulu. Tao memang menghilang dari hadapannya 5 tahun yang lalu, persis setelah mereka pindah ke flat ini. Tidak meninggalkan pesan, hanya meninggalkan jendela yang terbuka lebar dengan tirainya yang berkibar tertiup angin. Sehun masih ingat saat itu, dia masih seorang anak kecil yang naif berumur 12 tahun, yang setiap malam selalu menangisi kepergian appanya dari jendela. Namun saat ia menginjak usia 15 tahun dan merupakan tahun pertamanya di SMA, Sehun tidak pernah menangis lagi karena dia merasa bodoh menangisi orang yang sudah menelantarkannya.

Sejak saat itu Sehun tinggal sendirian di flatnya. Anehnya, ia selalu mendapat kiriman uang berjumlah besar setiap bulannya dari tukang pos yang mengantar paket, dan Sehun menggunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhannya. meskipun dia tidak tahu siapa pengirim uang itu.

“Aku yang mengirim uang itu.” ceteluk Tao, seolah mengerti pikiran anaknya.

“Diam kau, bapak tak bertanggung jawab!” Sehun mengepalkan tangannya marah, membuat Tao tertawa lagi. “Mianhae, Sehunnie… appa benar-benar khilaf. Saat itu aku sibuk sekali, dan aku mendapat perintah mendadak sehingga tak bisa pamit padamu.”

Sehun menggeram, “Tapi setelah 5 tahun, kau sama sekali tidak menampakkan wajahmu. Bagus sekali! kau benar-benar lupa pada anakmu!” gerutunya sambil bertepuk tangan.

Benar, selama selang waktu itu Tao tidak pernah mengunjunginya sehingga Sehun tumbuh menjadi remaja yang kesepian. Tanpa sosok appa dan eomma yang mengurusnya, Sehun tumbuh menjadi anak nakal yang sering terlibat perkelahian dan masalah di sekolah.

Makanya, dia sangat kaget saat mengetahui appanya pulang, apalagi masuk lewat jendela. Hal itu cukup membuatnya syok.

“Sudah selesai melamunnya, Oh Sehun?” Tao bangkit dan menghampiri Sehun di dapur. “Hari ini kita akan berlatih, mumpung ini hari minggu.” lelaki itu meraih tangan Sehun dan menggandengnya menuju pintu depan. Sehun yang tampak bingung hanya mengikuti appanya tanpa berontak.

“Latihan, katamu?” tanyanya bingung.

“Ya, latihan!” kata Tao sedikit membentak. “Nanti saja kujelaskan di jalan!”

‘Huh, lagi-lagi nanti saja.’ omel Sehun dalam hati ketika mereka sudah memasuki mobil hitam milik appanya yang terparkir di halaman depan. Tao menyalakan mobil Porsche Carrera GT berwarna hitam mengkilap tersebut dan membawanya melaju ke jalanan kota Seoul.

Sambil menatap gedung-gedung tinggi menjulang yang mereka lewati, Sehun bertanya-tanya dalam hati kemanakah tujuan mereka. Merasa tidak mendapatkan petunjuk, dia menoleh ke arah Tao yang masih serius menyetir di sebelahnya.

“Aboeji,” panggilnya sambil menatap Tao.

“Hm?” respon Tao tanpa menoleh, masih fokus pada jalanan di depan.

“Kemana kita?” tanya Sehun.

“Mencarikan tempat yang tinggi untukmu.”

“Mwo?? untuk apa?” Sehun membelalak lebar.

“Untuk bunuh diri!” Tao menjawab asal.

“Ya!! aku serius!”

Sehun mulai sebal dengan jawaban-jawaban appa-nya. Tao lalu meliriknya sekilas dengan tatapan yang tajam, menyuruhnya untuk diam. Sehun menghentikan pertanyaannya ketika mendapatkan tatapan itu, karena mata Tao benar-benar mengerikan.

“Kita sudah sampai,” Tao memasukkan mobilnya ke halaman sebuah kantor, yang menjulang sangat tinggi hingga Sehun tidak dapat melihat puncaknya yang tertutupi awan. Gedung mewah itu kira-kira berlantai 90, dan terlihat transparan karena nyaris seluruh bagian temboknya terbuat dari kaca.

Bapak dan anak itu melangkah keluar dari dalam mobil, menuju ke pintu depan kantor yang juga terbuat dari kaca. Pintu bergeser membuka secara otomatis. Kedua lelaki itu pun melangkah masuk dengan Tao yang memimpin di depan, sedangkan Sehun mengekor di belakang. Mereka lalu memasuki sebuah lift dengan jalur transparant yang terletak di tengah-tengah ruangan. Sehun menatap dengan takjub arsitektur gedung itu. Namun sedetik kemudian ia menyodok pinggang appanya di tengah keramaian petugas kantor yang berlalu-lalang.

“Ya!! kenapa kau seenaknya masuk ke kantor orang?!” Sehun memarahi appanya.

Tao tertawa. “Tenang saja, aku memiliki freepass ke semua gedung di kota ini.” jawabnya meyakinkan.

dan jawabannya itu sukses membuat Sehun menganga.

Seorang Petugas Lift menyapa mereka berdua saat mereka melangkah memasuki lift transparant, “Ke lantai berapa, ajusshi?” tanya si petugas pada Tao yang berdiri di sebelahnya.

“Lantai 90,” kata Tao.

Petugas itu mengernyit, “Kau yakin? lantai itu adalah lantai teratas gedung ini. Tidak ada apa-apa di sana, hanya atap.”

“Ya, aku sangat yakin.”

Jawaban Tao membuat Petugas Lift dan Sehun yang berdiri di kiri-kanannya mendelik heran. Namun kemudian petugas itu mengangguk mengerti, dan memencet tombol paling atas dari deretan tombol di hadapannya.

“Sudah sampai, ajusshi.” kata si petugas saat lift berhenti di lantai paling atas.

“Khamsahamnida.” Tao meraih tangan Sehun dan menariknya keluar dari dalam lift. Petugas itu mengangguk lalu menurunkan kembali lift yang ditumpanginya. Tao pun berjalan menyusuri puncak gedung yang luas itu dengan Sehun yang masih terlihat kebingungan. Kini mereka berada di atap bangunan, dengan hembusan angin yang begitu kencang menerpa tubuh mereka. Sehun dapat melihat dengan jelas langit berwarna biru cerah dan awan yang berarak di atas mereka. Beberapa burung yang mampu terbang tinggi terlihat hinggap di sekelilingnya.

“Kau sudah datang?” ucap sebuah suara asing yang ditujukan pada Tao.

Sehun menoleh cepat ke asal suara itu, dan mendapati sesosok wanita yang sedang berdiri di sisi lain atap, mengenakan mantel hitam selutut dengan topi Fedora yang menutupi separuh wajahnya. Err—Sehun tak yakin dia adalah wanita, karena penampilannya terlihat seperti laki-laki. Setidaknya suara orang itu masih terdengar seperti wanita.

“Amber…” sapa Tao, dia pun bergegas menghampiri wanita itu,—diikuti Sehun, pastinya. Saat ketiga orang itu sudah berkumpul, tiba-tiba muncul lelaki lain yang keluar dari dalam lift dan berjalan mendekati mereka.

“Amber-ssi, Tao-ssi,” laki-laki itu membungkukkan tubuhnya setibanya dihadapan mereka, lalu dia melirik Sehun yang berdiri di hadapan Tao dengan dahi mengernyit, mencoba mengenalinya.

“Sehun. Oh Sehun. Dia adalah anakku.” Tao menepuk bahu Sehun, mengenalkannya pada lelaki itu.

“Oh, salam kenal Sehun-ssi. Namaku Park Yoochun, sungguh suatu kehormatan bisa menemuimu.” lelaki itu mengenalkan dirinya dan membungkukkan badannya lagi, kali ini ke arah Sehun. Sehun mengernyit dan menatapnya heran karena lelaki itu memanggilnya dengan panggilan formal, padahal dia bukan siapa-siapa, bahkan lebih muda darinya.

“Yak, sudah cukup basa-basinya.” Tao memotong pembicaraan mereka. “Sehun, ikut aku ke pinggir atap.” lelaki itu melambaikan tangannya ke arah Sehun.

Sehun mendecak, dan berjalan mengampiri appanya yang sudah berdiri di pinggiran atap. Setibanya di sebelah Tao, pemuda itu berjingkat karena dia bisa melihat seluruh isi kota yang terlihat mengecil di bawahnya, dengan mobil-mobil yang melintas di atas jalan raya yang terlihat seperti titik-titik kecil yang bergerak. Sehun memundurkan tubuhnya dan menjauh dari pagar pembatas atap di depannya yang hanya setinggi lututnya. Pemuda itu merasa, bahwa setiap saat ia bisa saja terjatuh ke bawah dari tempatnya berdiri kini.

“Maju!!” perintah Tao sambil menyodok pantat Sehun dengan kakinya, membuat tubuh Sehun menabrak pagar pembatas atap.

“Ya! Appa!! kau ingin membunuhku?!!” Sehun merentangkan tangannya untuk menjaga keseimbangan saat merasakan tubuhnya oleng ke depan. Jantungnya nyaris copot melihat pemandangan di bawahnya.

“Dasar banci! kau takut ketinggian, huh?!” ejek Tao, “Ini adalah bagian dari latihanmu, kalau berdiri di situ saja tidak bisa, itu artinya latihanmu sudah gagal bahkan sebelum dimulai!”

Perkataan Tao yang terdengar sombong itu membuat Sehun merengut, “kau selalu saja membual dengan perkataanmu yang terdengar hebat itu! Baiklah, kalau begitu berilah contoh padaku. Aku yakin kau juga akan ketakutan berdiri di sini!”

Tao menyeringai, ia melepas hem hitam yang dikenakannya dan melemparnya ke samping, menyisakan sehelai kaos hitam yang melekat di tubuhnya. Lelaki itu lantas memanjat pagar di hadapan Sehun tanpa perasaan ragu dan berdiri tegak di atasnya.

Terang saja Sehun membelalak saat melihat tingkah gila appanya. Ia lalu menggandoli lengan Tao dan menyuruhnya turun. “Dasar gila!! kau bisa jatuh! cepat turun!” perintahnya, masih menggandoli lengan Tao.

“Tidak apa-apa, aku menikmatinya!” Tao lalu merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya, tidak memperdulikan anaknya yang sangat panik, dan malah menikmati hembusan angin kencang yang menggoyang-goyangkan tubuhnya.

Lama, Tao memejamkan matanya sambil tersenyum.

Tiba-tiba kepulan asap hitam menyelubungi punggung lelaki itu, membuat Sehun membelalak lebar dan berjalan mundur saat melihatnya. Amber yang sedari tadi hanya diam saja melihat pertengkaran bapak dan anak itu,  melangkah mendekati Sehun kemudian menepuk bahu anak itu sambil tersenyum.

“Perhatikan baik-baik, Oh Sehun.” kata Amber, lalu menatap punggung Tao lekat-lekat.

Sehun yang belum memiliki gambaran atas apa yang dilihatnya, kembali memusatkan perhatiannya pada punggung appanya.

Gumpalan asap hitam yang semula tak berbentuk itu, lama-kelamaan memadat dan membentuk sesuatu di punggung Tao. Tak lama kemudian asap hitam itu pun menghilang dan digantikan oleh sepasang sayap kokoh berwarna hitam yang menempel di punggung lelaki itu. Sayap dengan lebar kira-kira 1,5m yang  berbentuk seperti sayap burung, dengan bulu-bulu halus yang menempel di permukaannya.

“HAHAHA…” Tao terlihat sangat senang saat sayap itu keluar dari punggungnya. “Tubuhku sudah gatal ingin mengeluarkan sayap ini!” dia lalu mengepak-ngepakkan sayap itu, mencondongkan tubuhnya dan melompat terjun dari pagar pembatas ke  arah jalan yang berada di bawahnya. Tubuhnya melesat dengan cepat. Namun sebelum dia mencapai dasar gedung dan membentur jalan di bawahnya, Tao mengubah haluannya dengan kepakan sayapnya, menukik ke arah atas, dan melesat menuju awan-awan putih yang menghiasi langit biru nun jauh di atas sana.

Sehun menatap Tao lama sekali dengan pandangan kaget. Wajah pemuda itu memucat dan dia tidak berbicara sepatah kata pun.

Dari atas mereka, di tengah-tengah kepungan awan, Tao menggerak-gerakkan tangannya seperti memberi sebuah isyarat. Amber mengangguk, lalu mendekatkan dirinya ke belakang tubuh Sehun.

“Sekarang giliranmu!” wanita itu menendang pantat Sehun, dan sedetik kemudian tubuh Sehun yang seperti cagak listrik itu rubuh ke arah depan. Tubuh Sehun melesat jatuh dari pinggir atap gedung menuju hiruk-pikuk kota yang berada jauh di bawahnya. Sehun yang semula hanya menatap bengong ke arah Tao, langsung tersadar saat tubuhnya kini terjun bebas dari gedung berlantai 90.

“AAAAAAAAAAAAA….!!!”

Sehun berteriak keras saat tubuhnya melesat cepat ke arah bawah. Dia memejamkan kedua matanya sambil bergumam, “Aku akan mati… aku akan mati…’ secara berulang-ulang di dalam hati, hidungnya kembang-kempis. Tiba-tiba tampak sebuah bayangan hitam berkelebat di samping Sehun, dan muncullah Tao yang menjajari tubuhnya.

“Sampai kapan mau terus menutup mata!!”

Tao yang menukik ke arah bawah berteriak kepada Sehun yang jatuh bebas di sebelahnya. Sehun membuka kedua matanya dan mengomeli Tao ditengah perjalanannya menuju dasar gedung. Tao memutar matanya keatas. Bahkan dalam keadaan genting seperti ini pun Sehun masih sempat memarahinya.

“Jangan mengomel! kalau kau tidak bisa mengeluarkan sayap di punggungmu, kau akan mati!”

“Mwoya??” Sehun mendelik mendengar perkataan appanya, “Ya!! aku tidak memiliki sayap aneh sepertimu, kalaupun punya, aku tidak tahu cara mengeluarkannya!”

“Kalau kau tidak mencobanya, kau akan mati!” ancam Tao dengan wajah serius. Tapi sesaat kemudian lelaki itu menyeringai lebar. “Tapi kalau kau mati juga tidak apa-apa, setidaknya aku tidak perlu membiayai sekolahmu yang mahal itu… Hahaha…”

Sehun menatap Tao dengan tatapan ayah-macam-apa-itu. Namun saat dia menyadari jaraknya dengan permukaan jalan dibawahnya semakin menipis, dia memejamkan matanya dan mencoba berkonsentrasi.

“Hooo…” Tao tersenyum senang. “Sekarang cobalah membayangkan sebuah sayap berwarna hitam, dan tempelkan sayap itu di punggungmu!”

Sehun benci melakukannya, tapi dia mencoba menuruti perkataan Tao. Matanya masih terpejam, dengan alis dan dahi yang mengernyit. Dengan susah payah, dia membayangkan sebuah sayap yang tertancap di punggungnya.

Bekas luka di pundak kirinya berdenyut sesaat, lalu denyutan itu menghilang. Detik berikutnya Sehun merasakan sesuatu tumbuh di punggungnya. Asap kecil berwarna hitam menyelimuti punggung pemuda itu, membentuk sepasang sayap hitam berukuran kecil namun tampak kuat. Dia mencoba mengepak-ngepakkan sepasang benda kecil yang baru tumbuh tersebut.

wooossshh…

Tubuh Sehun membubung tinggi ke angkasa, persis 2 lantai sebelum tubuhnya mencapai dasar bangunan. Pemuda itu terus mengepakkan sayapnya secara konstan, dan terbang menyusul Tao yang mengambang diatasnya.

“Whoooaaa… terbangmu berantakan…” komentar Tao saat tubuh Sehun meliuk-liuk tak terkendali di sampingnya. Sehun menatap tajam kearah lelaki bermata sipit itu, membuat Tao terkekeh. “Hanya belum terbiasa!” Sehun mencoba membela diri.

“Persiapan kedua selesai,” Tao menerbangkan dirinya ke puncak gedung, dengan Sehun yang mengikutinya susah-payah di belakang. “Sering-seringlah berlatih dengan sayapmu itu, lama kelamaan sayapmu akan membesar.”

Seolah menyadari sesuatu, Sehun menarik kaki Tao yang terbang diatasnya, membuat kedua orang itu berhenti dan mengambang di udara.

“Wae??” Tao mengernyit. Sehun menatap sayap besar appanya lekat-lekat. Lalu dia menoleh ke belakang, berusaha menatap sayapnya sendiri.

“Kenapa sayapku kecil sekali!” gerutu Sehun saat menyadari ukuran sayapnya, yang mungkin hanya sepertiga sayap Tao.

“Itu karena kau masih Amateur!” Tao  mencoba menjelaskan. Sehun mengangkat sebelah alisnya heran.

Amateur?”

“Ya. Amateur adalah iblis atau malaikat yang baru membangkitkan kekuatan mereka. Sayap mereka berukuran kecil, sepertimu.”

Sebentar—jadi kau ingin bilang, kita adalah salah satu dari iblis dan malaikat?”

“Aigooo…” Tao mendecak tidak percaya, “Kemanakah kemampuan otakmu itu? Menurutmu, makhluk apa lagi yang memiliki simbol kegelapan di pundaknya, dan sepasang sayap berwarna hitam?”

Sehun tidak bodoh, karena pemuda itu sering melihat acara televisi berbau fantasi yang menurutnya terlalu berimajinasi. Yang paling terkenal adalah mitos tentang malaikat dan iblis, sebagai dua kubu yang selalu berkontradiksi, hitam dan putih, saling menjatuhkan satu sama lain.

Tapi… dia tidak pernah membayangkan, bahwa dirinya, sekarang ini, adalah salah satu dari mereka.

“…kita… iblis…?” desis Sehun lagi. Tao mengangguk.

“Soal sayapmu itu… teruslah berlatih, karena ukuran sayap melambangkan kekuatan yang dimiliki pemiliknya. Semakin besar ukuran sayapnya, berarti kau semakin kuat.”

“Jadi maksudmu aku lemah?!” Sehun melotot ke arah Tao.

“Err— yah… bisa dibilang begitu. Kau kan baru membuka segelmu. Masih perlu banyak waktu untuk menempa kemampuanmu.” Tao menggaruk tengkuknya.

Sehun ber-‘cih’ ria. “Lalu, kalau pangkatku adalah Amateur—atau apapun itu—, kau sendiri apa?”

Expert.” jawab Tao singkat, membuat Sehun memerlukan waktu untuk menyerap jawabannya. Tao menarik lengan anaknya dan membawanya melesat ke atas. Sepertinya dia sudah lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan Sehun. Dan Sehun yang belum puas terpaksa menyimpan beribu pertanyaan di benaknya untuk sesi tanya-jawab berikutnya.

“Urghh…” Yoochun menggeram saat Sehun dan Tao mendarat di hadapan mereka. Mata lelaki yang semula berwarna hitam itu berubah menjadi merah menyala.

“Pergilah,” Amber berkata pada Yoochun dan menepuk bahu pria itu. “Tubuhmu sudah terlalu lapar,”

Yoochun mengangguk dengan wajah yang pucat dan mata yang menyala merah. Dia lalu menoleh ke arah Sehun dan Tao, membuat Sehun berjingkat melihat wajah seramnya.

“Tao-ssi, Sehun-ssi, aku pergi dulu.”

Setelah mengatakan kalimat singkat itu, Yoochun bergegas pergi menuju lift, dan sosoknya pun menghilang.

“Kenapa dia harus naik lift yang merepotkan itu? dia kan bisa terbang seperti kita,” gumam Sehun sambil menatap Tao dengan tatapan penuh tanya.

Kali ini giliran Amber yang membuka suara. Wanita itu menggeleng. “Yoochun bukan makhluk seperti kita, Oh Sehun. Dia tak punya sayap untuk terbang, karena sayap adalah fitur khusus untuk iblis dan malaikat saja.”

“Lalu?”

“Yoochun adalah Ex-Human, manusia yang memiliki kekuatan diatas manusia normal. Tapi yah, dia tetap manusia. Hanya manusia.”

Ex-Human? makhluk apalagi itu!” desis Sehun, yang mulai sebal karena begitu banyaknya makhluk aneh yang harus dia ketahui.

Amber mengangguk dan tersenyum, tapi entah kenapa senyumnya terlihat mengerikan. “Haha… aku tahu kau sangat sebal. Begini, Ex-Human adalah manusia yang melakukan kontrak dengan iblis. Manusia yang melakukan itu biasanya memiliki dendam dengan seseorang, tapi terlalu lemah untuk membalaskannya, atau seseorang yang haus kekuatan sehingga dia meminta pertolongan pada iblis. Setelah melakukan kontrak, mereka mendapatkan kekuatan diatas manusia normal lainnya, dan si iblis membantunya membalaskan dendam. Namun sebagai balasannya manusia itu harus melayani iblis yang mengikat kontrak dengan mereka, melayani sampai akhir hidupnya.

“Ada konsekuensi lainnya juga. Ketika tubuh mereka bertransformasi,  Ex-Human memiliki rasa lapar yang berbeda dari manusia yang normal. Rasa lapar itu akan muncul dalam beberapa hari, dan jika dia tidak bisa memenuhi hasratnya atas kelaparan itu, dia akan mati dan melebur menjadi butiran debu…”

“Oh, jadi Yoochun sedang kelaparan.” Sehun mengangguk mengerti, tapi kemudian dia mengernyitkan dahinya, merasa ada sesuatu yang terasa ganjil. “Umm…, Memangnya makanan jenis apa yang dibutuhkan oleh Ex-Human?” tanyanya pada akhirnya, dengan tatapan menyelidik.

“Daging manusia.” jawab Amber. Sehun pun membelalak.

“MWO??!”

Luhan mengecilkan keran di depannya, membuat guyuran air shower diatas tubuhnya yang semula deras berubah menjadi rintik-rintik air yang kemudian menghilang. Dia meraih handuk merah polos yang tercantol di gantungan, menggunakannya untuk mengeringkan tubuhnya, dan melilitkannya di bagian bawah tubuhnya ketika merasa tubuhnya telah kering. Pemuda itu lalu membuka pintu kamar mandi  dan melangkah keluar dengan rambut yang masih basah, menuju kamarnya.

Nyutt!!

Sebuah denyutan yang tiba-tiba muncul di kepala Luhan membuat tubuhnya oleng, namun Luhan sempat menyandarkan dirinya di tembok sebelum dia terjatuh.

Rasa sakit di kepalanya menyerang semakin hebat. Denyutan yang semula hanya muncul sekali, sekarang bertambah semakin banyak, bahkan Luhan dapat merasakan denyutan di kepalanya sama cepatnya dengan denyut jantungnya.

“Akh!” Luhan mengerang saat pecahan-pecahan kaca seolah ditancapkan ke kepalanya. Pandangannya berputar-putar. Luhan berjalan ke arah kamarnya sambil berpegangan pada tembok, menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh. Setelah sampai di dekat tempat tidur, pemuda itu membaringkan tubuhnya di atasnya dan memejamkan matanya, berusaha menetralisir rasa sakit itu.

Saat denyutan di kepalanya mulai menghilang, Luhan membuka kedua matanya perlahan dan menatap langit-langit kamarnya dengan keadaan tubuh terlentang. Perlahan, dia bangkit duduk dan beringsut ke pinggir kasurnya.

Namun beberapa saat kemudian denyut menyakitkan itu menyerang kembali.

“Aaaakhh…!!”

Luhan menyerah, dia membaringkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur, memejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha untuk tertidur.

______________

To be Continued

______________

A/N: Mian ngapdetnya molor, soalnya musim2 liburan kyk gini banyak sodara yg nginep dan bikin ricuh di rumah, hahaha 😛

Dibaca berapa kalipun kayaknya FF ini mencurigakan banget ya, habis ga ada tokoh utama ceweknya… makanya banyak yang ngira ini yaoi **pundung di pojokan**

Tp saya berterimakasih banyak buat yang sudi baca ff ini, meski banyak resikonya (?)

honey bunny sweety luhannie nampangnya jg baru sedikit di part ini, yg ke zoom malah Sehun –” mianhaeee yaa buat yg rekues bagian Luhan biar ditambah… part2 depan Luhan bakal sering nampang kok… dia kan main char nya…*ngumbar janji palsu*

Komen, please? 😀

Advertisements

64 responses to “Two Sides [part 2]

  1. Oooo, kq kris mendadak pindah ke apartemen yg sama kaya luhan?
    trus masih tetep penasran kenapa tao suruh sehun ngejauhin luhan..
    ada apa sih sebenerny hubungan antara kris-luhan-sehun???

  2. oh sehun itu iblis.. jangan2 kris malaikat ya?
    agak bingung baca chapter yang ini, mungkin gara2 lupa cerita chapter yang sebelum ny ._.

  3. Pingback: Two Sides [part 3] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s