White Lily

white lily

Hai .__.)/ lagi-lagi bawa FF dengan main Cast nya KRIS! yeah dia bukan Bias sebenernya ;__; tapi ini FF hadiah ulang tahun sahabat ku tercintah ❤

Ghin, semoga kau suka yah. Maaf kalo Typo atau alur kecepetan. wahahahah ._.

Title : White Lily

Author : Sicafiramin

Cast : Kris EXO, Han Sang Mi(OC), Luhan EXO

Other Cast : Tao, Yixing

Length : Oneshot

Genre : Romance

Kris POV

            Umm… Hai Namaku Kris, yah orang-orang sering memanggilku begitu namun sebagian orang lagi memanggilku Wufan, padahal jelas-jelas nama lengkapku Wu Yi Fan. Oke, aku tidak mempermasalahkan itu. Ini adalah masalah Cinta pertama ku. Yeah di usiaku yang sudah dewasa ini, aku baru memahami apa itu makna dari cinta tulus yang sesungguhnya.
Namanya Han Sang Mi, aku tidak pernah tahu bagaimana bisa pria sepertiku benar-benar cinta mati pada gadis korea itu. Itupun karena pertemuan singkat dimana aku terpesona oleh kecantikannya yang sedang bermain di sungai. Yeah.. Klasik. Seperti di drama-drama korea kebanyakan haha. Sayangnya saat ini aku belum sempat menemuinya lagi.

Flashback

            Aku memiliki hobi dunia Fotografi sejak SMA, sekarang aku senang menjadi seorang  Photograper di Beijing China bersama sahabatku Xi Luhan. Saat itu aku dan Luhan sangat antusias dengan keindahan Bunga Lily Leirion yang ada di daerah pedesaan Korea, aku lupa nama tempatnya kalau tidak salah ada di daerah Daejeon.  Kalau tidak salah. Konon katanya bunya Lily itu hanya mekar pada musim panas tepatnya setiap tanggal 22 juni. Yupp hari itu aku terbang bersama Luhan ke Korea hanya demi memotret bunga Lily. Konyol tapi mengasyikan itu yang aku pikirkan.

Tanggal 20 Juni aku mendarat di Incheon airport bersama sahabatku, kami mulai melakukan perjalanan setelah taxi yang kami tumpangi berhenti di daerah terpencil. Sejauh mata memandang daerah itu benar-benar jauh dari Kota, hanya ada Hutan dan nampak rumah-rumah penduduk kecil. Pantas saja pantat ku sangat pegal duduk berjam-jam.

            Kami berdua mulai mencari-cari penginapan sebelum melakukan pencarian bunga Lily sambil sesekali memotret pemandangan di Desa Cheonsam. Hingga lensa ku terpaku pada sosok gadis di dekat sungai. Dia.. Cantik. Oke aku tidak menyesal datang ke Korea jauh-jauh hanya untuk memotret bunga, tapi juga gadis korea itu. Apa banyak gadis cantik seperti di Korea? Rambut panjang, kulit seputih susu dengan mata menyipit ketika tersenyum. Oh Shit! Aku jatuh cinta padanya. Dengan modal nekat aku melangkahkan kakiku ke balik semak-semak untuk menemuinya, maksudku mendekatinya-untuk memotretnya-

“Kris.. mau apa kesana?” tanya Luhan ketika melihat tubuh jangkung ku mengendap-ngendap.
“Itu.. disana..” aku menunjuk ke arah sungai tak jauh dari tempat kami berada.

Luhan hanya tersenyum melihat gadis itu, seperti objek buruan para pemburu.
“Dasar mesum” bisiknya, oke itu ejekan bukan bisikan.
“Apa kau bilang?” aku mulai kesal karena ia menganggu acaraku
“Mesum. Mau apa kau diam-diam memotret seorang kembang desa di sungai?”
“Aku hanya tertarik padanya”
“Ah alasan saja”

Aku tidak meneruskan percakapan dengan pria ini, menganggu.
“Nuguya?” teriak gadis itu. Mampus, aku ketauan. Aku menunduk ke balik semak, namun si Luhan hanya cengengesan tak membantu sama sekali.
“Kalian siapa?” tanya gadis itu lembut namun masih menatap intens ke arah kami berdua. Aku bisa mengerti bahasa Korea. Sedikit.

“Ha..Hai” aku mulai bangkit lalu menggaruk kepalaku, aku tidak pernah segrogi ini di hadapan seorang gadis. Yah.. gadis cantik.

“Maaf kami menganggu, perkenalkan namaku Xi Luhan dan temanku ini bernama Wu Yi Fan kau bisa memanggilnya Kris kalau kau mau. Tadi dia berniat ingin memotret mu secara diam-diam tapi sepertinya ketauan haha” tutur Luhan, ingin rasanya ku tendang pria ini hingga terlempar jauh ke sungai.
“Oh? Begitu? Kalian.. bukan orang korea?” tanyanya
“Bukan, kami dari Beijing. Sekali lagi maaf karena pertemuan kita seperti ini” aku mulai angkat bicara, berbicara bahasa Korea seadanya.
“Tidak apa-apa, oh iya namaku Han Sang Mi ada yang bisa ku bantu?” tanya nya.

 Han Sang Mi..Han Sang Mi.. Han Sang Mi..

‘tukk’

Luhan menginjak kakiku akibat lamunanku terlalu lama. Melafalkan namanya dalam hati membuat otakku sedikit tidak terkontrol sepertinya.
“Kami kemari mencari bunga Lily putih.. bunga Lily leirion yang hanya mekar tanggal 22 juni, apa kau tahu dimana letaknya? Yeah mungkin karena kau orang sini jadi.. mungkin..”
“Aku tahu, tapi letaknya sangat jauh apa mau kesana sore-sore begini?” Sang Mi memotong perkataanku cepat. Tuh kan tidak usah susah-susah mencari ternyata ada yang mau menunjukan.
“Mungkin besok pagi, kami mau mencari penginapan dulu” tambah Luhan, aku mengangguk setuju.
“Kalau begitu ayo aku antar, jalanan disini akan gelap saat malam. Takutnya kalian tersesat”
“kamsahamnida” ucapku

Kami berhenti di sebuah penginapan kecil yang letaknya lumayan jauh dari sungai tadi, aku benar-benar sudah sangat lelah.
“Kalau begitu aku pulang, besok pagi aku akan kemari mengantar kalian” kata Sang Mi
“Terimakasih banyak” ucap kami bersamaan, gadis itu hanya tersenyum kecil lalu berjalan pulang sendiri.
“Wahh dia itu baik sekali, semoga bukan gadis jadi-jadian” gumam Luhan
Aku tertawa kecil mendengar omongan Luhan barusan, gadis Jadi-jadian? Yang benar saja.

Pukul 7 pagi kami sudah siap-siap menunggu Sang Mi di depan penginapan, sesuai janji Sang Mi tadi malam. Namun setengah jam berlalu dan gadis itu belum datang juga. Aku jadi berfikiran yang aneh-aneh seperti ‘gadis jadi-jadian’ akan tetapi pikiran itu lenyap saat gadis yang ku tunggu-tunggu maksudku kami tunggu-tunggu berlari kearah kami. Ah Lucunya, rambut hitam panjangnya terurai tersapu angin pagi hari.

“Mungkin dia berdandan dulu jadinya lama” keluh Luhan
“Tak dandan pun gadis itu sudah cantik” bisikku tidak mau kalah
“Iya lah terserah kau saja”
“Maaf apa kalian menunggu lama?”

            “Iya”

“Tidak”

Aku menyenggol lengan Luhan, apa maksudnya berkata seperti itu? Sudah bagus gadis itu mau mengantar kita ke tempat yang kita cari.

Gadis itu berjalan memimpin di depan, menunjukan kemana arah selanjutnya. Luhan di sampingku hanya bergumam ria dengan headset yang terpasang di telinganya. Sementara aku hanya memandangi punggung sexy gadis itu, ya tuhan kalau begini aku rela buta arah asal gadis itu yang jadi penunjuk jalanku. Oke aku sudah gila.

“Sangmi-a” panggilku
“Hmm?” ia menoleh ke belakang lalu menatapku
“Apa masih jauh? Sebenarnya aku tidak mau merepotkanmu hingga sejauh ini” kataku, ia hanya menggeleng kemudian tersenyum kecil.
“Tidak masalah”
Aku tidak meneruskan pembicaraan kami, biarlah gadis ini menjadi mistery walau sebenarnya banyak sekali yang ingin aku tahu darinya. Aku sudah yakin kalau aku benar-benar menyukainya, lebih dari itu.. aku bahkan ingin memilikinya.

“Terlalu lama.. oke ini terlalu lama. Ya! Sang Mi, apa perjalanan kita masih jauh? Sudah tengah hari dan belum sampai juga?” keluh Luhan. Langkah Sang Mi berhenti lalu berbalik ke arahku dan Luhan.

“Anggap saja perjalanan ini adalah jalan menuju cinta sejati kalian, anggap saja seolah-olah kalian sedang mengejar cinta sejati kalian. Ayolah jangan mengeluh, kita pasti sampai sebelum gelap. Kalau kalian lelah kita istirahat sejenak” jelas Sang Mi
Aku bisa mendengar decak kesal dari seorang Xi Luhan, yah aku tahu ia sudah snagat lelah aku pun begitu, tapi mau bagaimana lagi? Kita sudah setengah jalan dan kalau di pikir-pikir omongan gadis itu ada benarnya juga. Cinta sejati.
“Berarti ayah ku mengejar cinta ibuku dengan cara mendaki gunung lewati lembah begitu? Kemudian ada sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman berpetualang? Hah yang benar saja” gerutu Luhan pelan.

            Aku tidak terlalu peduli dengan omongan Xi Luhan, yang aku pedulikan adalah ucapan gadis itu barusan. ‘seolah-olah sedang mengejar cinta sejati’ aku setuju.

Waktu menunjukan pukul 3 sore, kami sedang ber istirahat di bawah pohon besar sebelum memasuki hutan. Aku menyesal tidak membawa bekal banyak, kasian gadis itu harus berbagi makanan dengan kami.
“Apa letaknya ada puncak gunung?” tanyaku memecah keheningan. Gadis itu mengangguk pelan lalu menunjuk ke atas gunung.
“Iya, diatas sana ada danau. Bunga Lily tumbuh di dekat danau kalian bisa melihatnya sebentar lagi” jawabnya, aku dan Luhan mengangguk paham.
“Kalau boleh tahu, sudah lama kau tinggal di desa ini?” tanya Luhan
“Iya, aku lahir disini”
“Kau sering kemari?” tanyaku
“Tidak, hanya satu tahun sekali kok. Biasanya aku kemari bersama ibuku”
“Untuk apa tiap tahun kemari? Tidak lelah apa?” heran Luhan, sebenarnya aku ingin bertanya ‘apa ibumu kuat berjalan kemari?’ tapi sudahlah, aku takut di bilang terlalu banyak tanya.
“Tidak” jawabnya pelan “Bunga Lily itu… sudah seperti jantungku. Aku mungkin tidak akan hidup tanpanya”
“Maksudmu?” kami mulai menatap Sang Mi dengan tanda Tanya besar di wajah.
“Saat aku lahir, ibu bilang aku tidak bernafas. Hingga seorang kakek tua menyuruh ayah dan ibuku ke dalam hutan sana untuk menyembuhkanku.

            Yah bunga Lily terkenal sebagai obat untuk menyembuhkan. Aku akan kemari setiap tahun hanya untuk berterimakasih pada bunga itu” jelasnya

Hening-

Tak ada pembicaraan lagi hingga kami meneruskan perjalanan, cerita gadis itu seperti di dongeng dongeng saja. Seharusnya aku tidak usah banyak bertanya, ia jadi meceritakan kisahnya pada orang asing sepertiku.

“Sampai” teriak Sang Mi kegirangan, aku membelalakan mataku tak percaya saat langkah ku terhenti menatap keindahan danau di hadapanku. Ada puluhan bunga Lily berwarna putih yang masih kuncup menghiasi pinggiran danau kehijauan. Matahari tenggelam membuat suasana terlihat lebih menakjubkan dari yang aku bayangkan, di tambah ratusan cahaya-cahaya kecil dari kunang-kunang mengitari atas danau.
“Indah sekali” kagum Luhan
“Indah kan? Bunga Lily akan tumbuh besok. Jadi lebih baik kita beristirahat lagi disini” usul Sang Mi.
Aku tidak percaya, aku akan menyaksikan bunga Lily mekar di tempat sehebat ini. Andai ibuku ada disini, ingin sekali aku menunjukan tempat ini langsung kepada ibu.
“Kuharap ibuku tidak kemari” bisik Luhan
“Eh? Kenapa?” heranku
“Ibuku bisa encok berjalan kemari. Akan ku abadikan sebagai Photo”
Jawaban Luhan membuatku jengkel, kenapa aku memiliki sahabat seperti dirinya? Kalau saja dia bukan orang yang menolongku saat ospek masuk universitas. Mungkin aku tidak akan jengkel saat ini.
Kembali aku melihat gadis itu, duduk di pinggiran danau dengan lutut di tekut membuatnya terlihat seperti wendy di cerita peterpan yang pernah aku tonton. Dari keindahan di hadapanku ini, akan aku sederhanakan seperti bentuk perhitungan matematika. Hasilnya adalah Sang Mi yang paling indah. Ia menatap ku lalu tersenyum manis. Ya tuhan, bisakah aku terjun ke danau saat ini?

Setelah berjam-jam tidur di dekat api unggun yang kami buat, kami terbangun tepat 15 menit sebelum bunga Lily mekar. Baiklah ini adalah saatnya, saatnya aku memotret secara langsung keindahan bunga Lily dan langsung memajangnya untuk acara tahunan kampus. Club Fotografi akan melontarkan ribuan pujian untuk usaha kami. Atau mungkin foto kami akan di muat sebagai sampul majalah atau bahkan di pasang di Museum of the world di Inggris.
Sementara Fantasy ku menjadi-jadi, aku menatap Sang Mi sedang menunduk lalu berdoa.
“Ya tuhan, terimakasih atas kehidupan yang telah engkau berikan kepadaku. Aku terlalu lemah untuk berterimakasih seperti ini, aku hanyalah gadis biasa yang hanya berterimakasih seperti ini. Hari dimana aku lahir bersamaan dengan mekarnya bunga indah ini seperti anugerah bagiku yang engkau berikan padaku. Terimakasih”
Aku tersenyum kecil, jadi.. tanggal 22 juni adalah hari ulang tahunnya? Sekali lagi, aku tidak menyesal jauh-jauh kemari menguras dompet, berjalan, menanjak jalanan terjal. Kini aku mempelajari indahnya bersyukur kepada tuhan. Dari gadis ini aku sadar, bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya. Aku berjalan mendekat kearah Sang Mi, lalu memegang pundak mungilnya hingga ia menatapku. Apakah aku harus menyatakan perasaanku padanya? TIDAK! Nyaliku tidak sebesar itu.
“Happy Birthday” bisikku pelan, ia tersenyum lalu mengangguk.
“Terimakasih Kris..”

Hening

Kami saling bertatapan, mata kami bertemu, senyum kami mengembang. Ia menatapku dengan mata cokelat pekatnya. Hembusan nafasnya bisa ku dengar dengan telingaku.


“Bunga nya mekar!!” teriak Luhan, ia sudah sangat antusias untuk memotret bunga Lily putih itu yang mulai bermekaran, dengan aromanya yang menenangkan hati. Namun, entah apa yang terjadi padaku. Kedua tangan yang memegang kamera SLR(hasil tabunganku) mulai memotret objek yang lebih indah. Aku tahu aku gila, gadis remaja di hadapanku benar-benar membuatku gila.
Matanya berbinar, senyumnya sangat manis, pipinya merona, rambutnya yang lurus seperti air saat tertiup angin dini hari. Tuhan, selain bunga Lily yang indah kau juga menciptakan lawan jenis seindah ini. Mungkin aku benar-benar harus berterimakasih pada bunga Lily itu. Tidak, seharusnya aku berterimakasih pada Huang Zhi Tao yang memberitahu tentang bunga Lily itu. Kalau tidak embel-embel pameran tahunan aku tidak akan nekat kemari dan bertemu Sang Mi.

Semua selesai, kegiatan memotret selesai itu berarti aku harus kembali ke Beijing sebelum kuliah di mulai. Itu artinya aku harus berpisah dengan Sang Mi.
“Terimakasih, kami tidak tahu harus berterimakasih dengan cara apa” kataku
“Tidak apa-apa, sering-seringlah kemari. Kita cari bunga-bunga yang lebih indah” ajak Sang Mi
“Tentu saja” semangat Luhan, ia masih melihat hasil-hasil jepretannya.
“Sampai Jumpa Han Sang Mi” dan kami pun berpisah di persimpangan jalan.

            Beijing. Kami kembali ke Beijing dengan setan kecil ini yang cengengesan karena insiden diriku terjatuh dari tanjakan saat perjalanan pulang. Baiklah tidak hanya Luhan tapi ibu-ibu dan seorang nenek juga tertawa. Memalukan.
Ku lihat Yixing menunjukan beberapa objek hasil Photo nya selama di Jepang. Cherry blossom, hasil yang biasa saja menurutku tak sebagus hasil photoku. Lalu Tao menunjukan bunga Lotus dari India, oke hasil fotonya sangat bagus aku akui itu. Lalu Luhan menunjukan keindahan bunga Lily yang ia potret kemarin bersamaku.
“Kalian nekat ke Korea untuk ini?” Tao membelalakan matanya tak percaya. Aku dan Luhan hanya mengangguk dengan tampang bodoh. “Ini kan sulit di dapat! Ini serius hasil kalian?”
“Terserah kalau tidak percaya” Luhan menarik kameranya secara paksa.
“Keren sekali, harus kita pamerkan di pameran seni minggu depan. Mau kan Kris?” usul Yixing
“Wah terimakasih banyak Yixing, kau pasang saja foto milik Luhan” kataku, ternyata perkataanku membuat tanda tanya besar di benak teman-temanku ini.
“Kenapa Kris? Kau tidak momotretnya?” tanya Luhan
“Memotretnya kok, hanya saja.. aku ingin menjadikan koleksi pribadi saja” jawabku
“Setidaknya tunjukan hasilnya pada kami” pinta Tao
“Tidak. Haha” aku berlari keluar kampus menuju apartement untuk segera memasang foto Sang Mi di kamar.

-end-

39 responses to “White Lily

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s