Undead [1/2]

undead 3

AUTHOR: Avyhehe

LEGTH: Twoshot

GENRE: Sci-fi / Romance / Supernatural

RATED: PG-13

Characters: Xi Luhan (EXO), Kim Jiyoung (OC), Kim Kibum (SHINee), Oh Sehun (EXO)

others: Choi Minho (SHINee), all EXO members

Disclaimer: Mine.

A/N: cuma ide maksa yg dipaksain jadi FF, ha… ha…  *ketawa garing*

DON’T BE A SILENT READER, PLEASE

Jiyoung terus berlari.

Di tengah kegelapan malam dia berlari terseok-seok. Jiyoung mencuri pandang ke belakangnya dan mendapati sosok itu terus mengejarnya.

Gadis itu ingin berteriak. Namun malam yang semakin larut membuat gang-gang gelap yang dilewatinya sepi bagaikan tak berpenghuni. Teras-teras rumah yang terekam kedua matanya terlihat gelap karena para pemiliknya sudah memadamkan lampu-lampu mereka.

“Kibum-ajusshi… please… angkat teleponku…” masih terus berlari, gadis itu memencet-mencet ponsel dan tanpa terasa tubuhnya menabrak sesuatu di hadapannya. Tubuhnya yang kecil nyaris terjatuh karena tabrakan itu.

Mata Jiyoung membulat seketika saat mengetahui ‘apa’ yang baru saja ditabraknya. Di hadapannya kini berdiri menjulang sebuah sosok yang mengejarnya sepanjang malam.

“Aaaaaa…!!!” Jiyoung berteriak keras. Gadis itu membalikkan tubuhnya ke arah kanan, mengambil ancang-ancang dan kembali berlari menjauhi sosok itu.

Lari… dia terus berlari… karena dengan itu, dia bisa tetap hidup…

Lari… dia harus terus berlari…

…meskipun hatinya terasa sakit.

 

Seoul, 21 April 2040

“Huhuhuhu…”

“Luhan… Xi Luhan…”

“…Andwaeeee…kenapa kau pergi secepat itu….”

Kibum menatap gerombolan remaja yang menangis di ruang tamu rumahnya. Mereka adalah teman sekelas Luhan yang datang melayat ke rumahnya.

Seorang gadis berjalan menghampiri Kibum yang masih diam terpaku si sudut ruang tamu. Wajah gadis itu tampak paling parah dari semua anak yang hadir, matanya berwarna kemerahan dan bengkak, hidungnya nyaris buntu karena terlalu lama menangis.

Agasshi,

Kibum menepuk pelan bahu gadis itu, membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapnya sedih. Gadis itu lalu memeluk Kibum erat-erat.

Agasshi, maafkan aku, aku tak bisa menolongnya…” sebutir air mata mengalir dari sudut mata Kibum,  dadanya terasa sangat sakit. Padahal dia adalah dokter bedah dan seorang ilmuwan paling berbakat di kotanya, tapi tak bisa menyelamatkan nyawa orang yang disayanginya.

Ani…hiks…  ini semua bukan salah ajusshi hiks… ini semua kehendak Tuhan…” gadis itu terisak di pelukan Kibum.

Atmosfer sedih yang menyelimuti ruang tamu kini bertambah pekat, saat seseorang membuka tutup peti persegi panjang yang diletakkan di tengah ruangan. Tampak seraut wajah damai yang memejamkan kedua matanya, dengan senyum bahagia yang tercetak di bibirnya. Tangannya bersedekap di depan dada, dan tubuhnya terbaring damai di peti berwarna putih itu, diam tak bergerak.

Bunga-bunga berwarna putih menghiasi sisi kiri dan kanannya, membuat tubuh yang terbujur kaku di dalam peti itu  tampak indah.

Tangis gadis itu pecah kembali dan Kibum mengeratkan pelukannya. Lelaki itu mengelus-ngelus kepala gadis yang dipeluknya sambil tersenyum sedih.

27 hours ago…

“Luhan! Oper bolanya!” seru seorang pemuda berambut hitam legam seraya melambaikan tangannya dari kejauhan. Luhan, si pemilik nama itu, menyeringai lebar. Dia  menggiring bola pada pemuda yang melambai ke arahnya dengan kecepatan lari yang luar biasa.

Pemuda berambut hitam itu tersenyum, saat jarak dirinya dengan Luhan semakin menipis. Dia bersiap menerima operan bola tersebut, sampai tiba-tiba…

Akh…!

Luhan memegangi dada kirinya yang terasa nyeri. Pemuda bermuka bayi itu jatuh bersimpuh di tengah lapangan berumput dengan wajah sangat pucat.

Pemuda berambut hitam yang tadi melambai ke arahnya, yang semula wajahnya tampak bahagia, langsung berubah pucat pasi. Dia berlari menghampiri Luhan dengan wajah panik. Begitu juga dengan teman-teman satu timnya beserta tim lawan yang sekarang mengerumuni Luhan dan pemuda berambut hitam itu.

“Se…Sehun…”  rintih Luhan sambil mencoba menggapai tubuh pemuda berambut hitam di depannya dengan tenaga yang mulai melemah. Sehun berjongkok dan beringsut ke arahnya, memegangi dada kiri Luhan, lalu membelalak dan berteriak.

“Kalian! Panggil ambulan kemari, cepat—

Belum sempat Sehun selesai bicara, seorang gadis menyibak kerumunan itu dan berjalan menghampiri mereka berdua dengan ekspresi ketakutan. Tangan kanannya yang gemetar menggenggam sebuah ponsel yang tengah men-dial nomor 911. Gadis itu menggigiti bibir bawahnya.

“Kim Jiyoung…” ucap Sehun saat menatap gadis itu.

PLAKKK!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Sehun. Gadis yang berada dihadapannya kini menatap Sehun tajam dengan nafas memburu. Sehun hanya menunduk dalam-dalam, rasa penyesalan yang begitu besar menyusupi rongga dadanya. Semua ini memang salahnya.

Melihat keadaan Luhan yang kesakitan, gadis bernama Jiyoung itu mendaratkan pukulannya bertubi-tubi pada Sehun, yang hanya bisa pasrah menerima pukulan-pukulan gadis itu. Chanyeol dan Baekhyun, dua orang yang satu tim dengan Sehun dan Luhan, menghampiri Jiyoung dan menahan kedua tangannya yang dibutakan oleh emosi.

“Lepaskan!!”

Jiyoung mengerang dan mengentakkan kedua tangannya, membuat Chanyeol dan Baekhyun terpaksa melepaskannya. Jiyoung berlari menghampiri Luhan dan berjongkok di depan pemuda yang tengah kesakitan itu. Gadis itu mengusap pundak Luhan dengan wajah ingin menangis, “Kau tidak apa-apa chagi?” desisnya khawatir.

Luhan merasa paru-parunya sesak nafas dan pandangannya mulai berkunang-kunang. “Ji…jiyoung…” ucapnya terbata, dia tak dapat melihat dengan jelas wajah yeojachingu-nya yang perlahan-lahan mengabur.  Tubuh Luhan pun ambruk dan terkapar di tengah lapangan yang penuh rumput.

“XI LUHAN!!!…”

Kepala Sehun masih menunduk meski mereka sudah tiba di rumah sakit terbesar di kota Seoul. Pemuda itu berdiri di depan ruang ICU, ditemani rombongan tim sepak bola sekolah yang duduk berjajar di sebuah kursi panjang, persis di belakangnya .

Di depannya berdiri kini,  tampak seorang gadis yang berjalan mondar-mandir dengan raut muka sangat cemas. Bekas air mata tampak menggenang di pipi gadis itu.

“…Jiyoung… aku…” Sehun membuka suara, membuat gadis di depannya menghentikan acara mondar-mandirnya dan menatap Sehun tajam.

“…aku… aku tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini…”

“Maksudmu?!!” Jiyoung berteriak keras, “Kau sudah tahu kan?? Luhan memiliki jantung yang lemah,  tapi kau membiarkannya bermain bola! sahabat macam apa kau ini!!” Jiyoung mengecilkan volume suaranya saat menyadari dirinya tengah berada di rumah sakit.

“Aku hanya tidak tega, Jiyoung… tadi pagi tim kami mengadakan latihan sepak bola yang sudah jadi rutinitas kami… tapi kami kekurangan orang karena Kris sedang sakit typus dan terkapar rumahnya. Luhan yang mendengar itu tampak bahagia, dia lalu menghampiri kami dari pinggir lapangan dan menawarkan dirinya untuk menggantikan Kris…”

Jiyoung tampak syok mendengarnya. Sehun melanjutkan ceritanya dengan tenggorokan tercekat. “Hari ini hari ulang tahun Luhan, kau tahu kan? … aku belum memberikan apa-apa padanya, tapi saat itu wajahnya kelihatan sangat bahagia. Setelah berunding sejenak, akhirnya aku dan teman-temanku pun menyetujui permintaannya untuk bergabung dengan kami…” Sehun mendesah,

”Aku hanya ingin memberinya sesuatu di hari ulang tahunnya… sesuatu yang berbeda…”

“Yang kau beri hanyalah KEMATIAN!!!” Jiyoung menekankan kata ‘kematian’ setelah mendengar cerita Sehun. Gadis itu mengeratkan kedua tangannya yang gemetar, membentuk kepalan.

“YA!! Kau jangan bicara seperti itu! Luhan tak akan mati!” Sehun terbakar emosinya mendengar ucapan Jiyoung yang terdengar putus asa. “Kau tahu kan, Luhan sudah sering mengalami hal seperti ini tapi dia tetap bertahan!”

Jiyoung, yang tadi mengatakan hal yang tak sepatutnya karena emosi, langsung menghampiri Sehun dan meminta maaf. “Kau benar… aku tak seharusnya berkata begitu… nae pabbo-chorom…!” rasa bersalah tampak terpancang di bola matanya. Sehun yang kasihan pun memeluk Jiyoung, membiarkan gadis itu menenangkan dirinya di pelukannya.

Tiba-tiba, dari ujung koridor, muncul dua orang lelaki yang memakai jas putih-putih dengan stetoskop yang terkalung di leher mereka. Kedua lelaki itu melangkah tergesa-gesa menuju ruang ICU.

“Ajusshi!!” seru Jiyoung pada salah seorang lelaki berjas putih tersebut. Lelaki dengan name-tag Kim Kibum itu menoleh sekilas kearahnya sambil tersenyum tipis. Kibum adalah dokter bedah senior yang selalu berjaga di rumah sakit itu. Sedangkan lelaki bertubuh tinggi yang berdiri di sebelahnya adalah Dr. Choi Minho, seorang ahli jantung yang kebetulan memang berteman dekat dengan Kibum.

“Ajusshi… tolong… selamatkan Luhan…” Jiyoung memohon pada kedua lelaki didepannya dengan segenap hatinya. Kibum mendesah pelan dan menatap gadis itu dengan tatapan tak pasti. “Aku  juga ingin menyelamatkannya, agasshi. Aku sangat menyayangi keponakanku. Tapi sekarang kita hanya bisa bergantung pada Tuhan…”

Jiyoung membelalakkan matanya sesaat, lalu berjalan mundur dan mengangguk lemah. Kibum tersenyum lagi ke arahnya, senyum yang dipaksakan. Dia lalu mengusap dahi Jiyoung, mencoba memberinya kekuatan.

Kedua dokter itu pun berlalu masuk ke dalam ruang ICU, memberikan sedikit harapan yang tak tentu pada Jiyoung, Sehun, dan teman-teman mereka yang lain.

“SIAPKAN ALAT KEJUT JANTUNG!!” teriak Minho di dalam ruang ICU, menginstruksikan para perawat bermasker yang tengah mengerumuni tubuh Luhan—,yang terbaring di tempat tidur dengan selang oksigen menempel di hidungnya.

Setelah menyambar benda itu dari tangan salah satu perawat, Minho mengatur ukuran kejut alat itu, lalu menempelkannya pada dada Luhan yang sedang tak sadarkan diri.

Garis-garis yang terpampang pada layar Heart Detector naik-turun saat Minho mengejutkan tubuh Luhan dengan alat kejut jantung. Namun setelah beberapa kali menempelkan dan melepas alat itu dari dada si pasien, Minho menggeleng pasrah. Dahi dokter itu berkeringat. Dia melemparkan tatapan menyedihkan pada Luhan yang terbaring kaku di hadapannya.

Andwae!!!” pekik Kibum yang berdiri di sebelah Minho. Dokter bedah itu menatap Heart Detector yang berbunyi nyaring dan menampilkan garis lurus panjang yang tertera di layarnya. Seketika itu juga Minho melemparkan tatapan kau-harus-bersikap-profesional pada Kibum, membuat Kibum menghentikan teriakannya. Benar, dalam kondisi apapun, dan siapapun pasiennya, Kibum harus bersikap profesional. Meski dia merasakan tenggorokannya mengering dan dadanya terasa sakit…

PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIPPPPPPPPP….

Jiyoung bisa mendengar bunyi nyaring itu dari luar ruangan. Lututnya melemas seketika dan gadis itu jatuh bersimpuh di lantai. Matanya membulat dan wajahnya pucat pasi, tak tahu harus berbuat apa. Sehun dengan sigap menghampiri gadis itu dan membantunya berdiri, mengalungkan tangan Jiyoung di lehernya lalu memapahnya ke depan pintu ICU.

Selang beberapa saat, pintu berdaun dua itu pun menjeblak terbuka. Kibum keluar dari ruang ICU diikuti Minho, menghampiri Jiyoung yang sedang dipapah oleh Sehun, namun matanya tidak tega menatap gadis itu. Minho menepuk pundak Kibum dari  belakang, menawarkan diri untuk menjelaskan semuanya, tapi sepertinya gerombolan remaja dihadapan mereka sudah tahu.

Uisanim… Luhan… ” Jiyoung menatap  Dr.Kibum dan  Dr. Minho bergantian.  Minho menggeleng lemah.

Huwaaaaaaaaaaa…” air mata yang tak terbendung lagi pun mengalir deras dari pelupuk mata Jiyoung. Sehun mengeratkan rangkulannya dan berusaha tegar, namun akhirnya menyerah dan air mata pun ikut mengalir membasahi pipinya. Seluruh tim sepakbola yang juga teman sekelas mereka, yaitu Chanyeol, Baekhyun, Chen, Kyungsoo, Kai, Suho, Tao, Lay, Xiu Min,—minus Kris—yang semula duduk pun bangkit dan mengelilingi kedua dokter di hadapan mereka. Rasa duka yang mendalam tertera jelas di raut wajah-wajah itu.

“Besok…” Kibum melirik Luhan yang terbaring pucat di ruang ICU, “…besok… kita lakukan upacara pemakamannya…” dia lalu berjalan masuk memasuki ruangan itu, diikuti yang lainnya.

Di tengah derai air mata dan isak tangis yang memekakkan telinga, empat lelaki berjubah hitam menghampiri peti mati putih yang berisikan tubuh Luhan. Salah seorang dari mereka melirik ke arah Kibum.

Kibum-ssi, kita harus segera menguburkannya.” kata si lelaki berjubah hitam, memecah keheningan para pelayat di dalam ruangan. Kibum mengangguk pelan. Lelaki itu menghampiri peti berisi tubuh Luhan dan mengusap dahi Luhan sejenak, lalu menarik selimut putih tipis untuk menutupi wajah keponakannya yang sejak awal sudah membungkus tubuhnya.

Keempat lelaki berjubah hitam menutup peti itu, lalu mengambil posisi dan berdiri di setiap sudutnya. Setelah itu mereka mengangkat peti tersebut dengan hati-hati dan berjalan keluar rumah, menuju sebuah minibus mewah berwarna hitam milik Kibum yang sudah terparkir di jalan depan rumah.

Kibum melangkah lesu, dia berjalan mengiringi peti itu bersama Jiyoung dan Sehun yang mengikuti di belakangnya. Pelayat-pelayat yang lain juga ikut mengiringi, kemudian naik ke mobil mereka masing-masing menuju pemakaman terdekat.

Sore itu, saat peti mati Luhan diturunkan ke liang lahat, puluhan manusia berbaju hitam berkerumun melingkarinya. Isakan, raungan dan tangisan terdengar jelas dari kerumunan orang-orang itu. Langit yang mendung seolah menjadi saksi prosesi pemakaman seorang Xi Luhan, dan warnanya yang berwarna biru-kemerahan karena matahari mulai tenggelam semakin mendramatisir suasana.

Ditengah kesedihan yang mendalam dan doa yang dibacakan seorang pastur di depan pusara Luhan, Kibum berjalan keluar meninggalkan kerumunan itu dan bersandar di bawah pohon rindang yang berada tak jauh dari sana, masih di dalam komplek pemakaman. lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mencoba berpikir keras dengan processor otaknya yang memang diatas rata-rata.

Sebersit ide gila terlintas di benaknya.

Sepulang dari pemakaman Kibum tak langsung masuk ke rumahnya, melainkan berjalan menuju halaman belakang dan menghampiri sebuah pintu di sudut halaman. Pintu berwarna putih itu ternyata terhubung dengan jalan masuk ke ruang bawah tanah, yang merupakan Laboratorium rahasia milik Kibum.

Setibanya di dalam ruang Laboratorium luas yang didominasi warna putih, Kibum menghampiri deretan tabung seukuran tubuh manusia di salah satu sisi ruangan. Lelaki itu lalu memencet tombol yang menempel di salah satu tabung, membuat cairan berwarna hijau mengalir masuk lewat pipa yang tersambung di puncaknya, memenuhi tabung tersebut.

Kibum mengecek jam tangan yang melingkari pergelangan kirinya. Pukul 7 malam. Dia harus menunggu beberapa jam lagi untuk melancarkan aksinya.

Hari yang semakin malam membuat area pemakaman yang luas itu kian mencekam. Bunyi jangkrik dan suara binatang malam yang bersahutan hanyalah satu-satunya pemecah keheningan di pemakaman yang sunyi itu.

Di tengah suasana yang mencekam, sesosok manusia berjaket hitam terlihat memasuki area pemakaman dengan memanjat tembok pembatas yang tingginya sekitar dua meter. Sosok berjaket hitam itu menenteng sebuah sekop besar dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah kantung plastik besar berwarna hitam.

Sosok itu melangkah mendekati sebuah makam yang terlihat masih baru, tanpa rasa takut sedikitpun. Dengan sekop yang dibawanya, dia mulai menggali makam di hadapannya, sampai sekopnya menabrak permukaan peti yang terpendam di dalamnya. Di bukanya tutup peti itu, menampakkan sesosok jenazah utuh yang masih segar. Dia menarik jenazah itu keluar dari peti dengan tenaganya yang tersisa, lalu memasukkan jenazah itu ke dalam kantong plastik hitam yang dibawanya.

Sosok itu berjalan menuju gerbang pemakaman yang terbuat dari kuningan bercatkan hitam, berhiaskan ukiran-ukiran logam yang menyeramkan, sambil menggeret kantong berisikan jenazah dengan kedua tangannya. Dia lalu membuka gerbang yang hanya bisa dibuka dari arah dalam itu, dan menghampiri sebuah minibus hitam yang terparkir di luar pagar. Dengan cekatan, sosok itu memasukkan kantong berisi jenazah ke dalam bagasi mobil yang luas, dan mengunci pintunya rapat-rapat.

Sosok itu kembali masuk ke dalam pemakaman, menutup peti mati yang baru dibukanya, lalu menimbun tanah ke atasnya dengan sekopnya hingga peti itu kembali terkubur rapi. Merasa puas dengan hasil kerjanya, sosok itu melangkah pergi dengan menenteng sekop di pundaknya, memasuki minibus miliknya dan memutar kunci untuk nyalakan mesin.

Mobil itu menderu, melaju pergi ditelan kegelapan malam.

Biip… biip…

Bunyi aneh itu terus terdengar dari Laboratorium Kibum, yang ternyata berasal dari sebuah timer yang menempel pada tabung berukuran besar yang terisi oleh cairan berwarna hijau.

“2 jam lagi…” Kibum melirik jam di pergelangannya. Lelaki itu mendesah, seperti tidak sabar dengan sesuatu yang ditunggunya. Dia berjalan menuju sebuah meja lebar yang terletak tidak jauh dari tabung itu. Di atas meja, tampak tumpukan buku-buku yang menggunung dan beberapa di antaranya kelihatan rapuh dimakan usia. Kibum membolak-balik salah satu buku itu, mencorat-coret halamannya dengan pensilnya, kemudian beralih ke sebuah papan putih di sebelah meja dan menulisi papan yang nyaris penuh itu dengan permanent markernya.

Alisnya mengernyit saat melihat tumpukan rumus yang ditulisnya di atas di papan. Waktu terus berlalu.

30 menit…

1 jam…

2 jam…

Biiiiiiiippppp…. timer itu melengking nyaring, menandakan waktu 2 jam yang disetel oleh Kibum telah berakhir. Kibum berjalan dan mematikan timer itu. Lelaki itu lalu menatap tabung berisi cairan hijau di hadapannya, namun sekarang tak hanya cairan hijau yang mengisi tabung itu seperti saat pertama kali dia melihatnya.

Sebuah tubuh manusia mengambang di tengah-tengah tabung berisi cairan hijau itu. Selang oksigen tertancap di hidung manusia itu, menimbulkan gelembung-gelembung udara di sekitar wajahnya. Kibum menatap manusia itu dengan puas.

Sebentuk senyum tersungging di bibirnya.

“Yoboseyo,” Kibum memulai pembicaraannya sambil mendekatkan ponsel ke telinganya. “Apa ini dengan keluarga Kim?”

“Nde, ini dengan siapa ya?” ucap suara di seberang.

“Ah! Mrs. Kim!” Kibum tersenyum. “Aku Kibum, boleh aku bicara dengan anakmu?”

Suara di seberang terdengar kaget, “Dr. Kibum!” serunya. “Nde, aku akan memberikan telepon ini pada Jiyoung. Sepertinya akan susah, karena anak ini terus mengurung dirinya di dalam kamar sejak Luhan meninggal. Tapi kalau kau yang menelepon, mungkin dia akan mengangkatnya…” Suara Mrs. Kim terdengar sedih. Kibum mendengarkan curhatan Mrs. Kim dengan seksama, sampai suara wanita itu tak terdengar lagi.

“Yoboseyo?” sahut sebuah suara lagi, kali ini dengan penerima yang berbeda. “Untuk apa meneleponku malam-malam, ajusshi?”

Suara gadis di seberang itu terdengar serak, lemas, dan menyedihkan.

“Aigooo… kenapa suaramu begitu mengerikan?” Kibum mengernyit dan mendecak. “Jiyoung-ah, kalau kau berjanji tidak akan bersedih lagi, aku akan memberimu hadiah…”

“Aku tak ingin hadiah, ajusshi. Aku cuma ingin Luhan…” potong Jiyoung, masih dengan nada yang terdengar lemah di suaranya.

“Ok, besok siang aku akan membawa Luhan ke rumahmu.”

“What?!!”

kata-kata yang keluar dari mulut Kibum sanggup membuat Jiyoung memekik kaget.

“Hahaha… tak perlu kaget seperti itu! makan yang banyak ya Jiyoung-ah, dan besok siang tunggu aku di rumahmu!” setelah mengatakan hal itu Kibum memutus sambungan telepon, tidak memberi kesempatan Jiyoung untuk bertanya-tanya.

Kibum melirik ke arah sosok yang sejak tadi berdiri di sebelahnya, yang terus saja diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Sosok itu menatap Kibum lurus dengan tatapan yang kosong dan hampa. Wajahnya pucat, tubuhnya yang tidak mengenakan baju apapun terlihat basah kuyup. Cairan berwarna hijau muda menetes-netes dari tubuhnya.

Hey,” sapa Kibum, dia tersenyum dan menyapa sosok di sebelahnya. “Tidak rindu padaku?”

Sosok itu tetap diam tak bergeming, tak merespon apapun perkataan Kibum. Tapi matanya yang hitam legam tetap menatap kosong pada lelaki di hadapannya, menelusuri setiap jengkal tubuh Kibum dengan pandangannya.

“Lu–” Haupp!! belum sempat Kibum menyelesaikan kata-katanya, sosok itu menggigit lengan kanan Kibum seperti anak anjing. Kibum berteriak geli saat merasakan gigitannya. “Ya!! aku tahu kau lapar! nanti kuberi kau makan, tapi kau harus memakai baju dulu!” dia melepas gigitan sosok itu, memikirkan baju apa yang kira-kira cocok dengan sosok di hadapannya, lalu berjalan ke arah pintu Lab dan keluar dari ruangan ber-cat putih itu.

Sosok itu masih berdiri mematung menatap tubuh Kibum yang berjalan menjauh.

 

______________

To be Continued

______________

A/N:

wakwakwak… apa-apaan ini… *ketawa najis*

sebenernya mau dijadiin oneshot, tapi gara2 kepanjangan saya bagi jd 2 part, hehehe. Lagi-lagi saya nulis FF pake tokoh HunHan & key shinee  =A=     mianhae yah, soalnya saya author yg ga bisa move on klo menyangkut soal char, hahaha…

ayang kris kena tipes disini, mianhae yah yeobooo 😥 gk elit banget kena tipes, hahaha…

komen? komen dikit ngapdetnya tahun depan, jiahaha *ktawa setan*

 

106 responses to “Undead [1/2]

  1. wehhh. jadi ini inti dari judulnya.. ya ampun key cerdas, berani, jenius, dll.. 😀
    keren… pembawaan suasana juga tepat.. wlaupun luhan disini gk digambarkan sebelum meninggal tp tetep nangis loo :o…
    daebakk ~

  2. Wakakakak yekali kris kena tipus author author *geleng-gelengdisco*

    Elit dikitlah campak kek *ngakak setan* *kenapa malah jd lebih parah sih* #diserbubinibinikris

    Ini luhan ga jd vampir kan? Cuma jd mayat idup doang waaaaahahaha penasaran

  3. Wah! Seru! Jadi, Luhan dimodifikasi *?* sama Dokter Kibum biar hidup lagi, ya?
    Tapi kalo diliat dari judulnya dan awal ceritanya. Kayanya Luhan ini justru jadi something sejenis mutan yang makan manusia *?*
    Ah! pokonya aku harus lanjut dulu sekarang. ^^

  4. Wah! Seru! Jadi, Luhan dimodifikasi *?* sama Dokter Kibum biar hidup lagi, ya?
    Tapi kalo diliat dari judulnya dan awal ceritanya. Kayanya Luhan ini justru jadi something sejenis mutan yang makan manusia *?* Eh, apa zombie gitu.
    Ah! pokonya aku harus lanjut dulu sekarang. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s