Day Dream

Daydream

 

Title: Daydream

Author: Park Chae Young (Finessa)

Main Casts: Oh Sehun–EXO || Jung Soo Jung–f(x)

Genre: Romance, Fantasy, Angst

Length: One Shot

Artwork: finessa©

Disclaimer:

thanks to Lusy eonni who published this fanfiction.

 Inspired by FT Island – “Severely” & Japanese Comic – “The Guardian Of Time”

No Silent Readers & No Copypaste.

Enjoy!♥

.

.

.

Part 1 – Sehun.

Pip. Pip. Pip. Pip.

Bunyi teratur itu membangunkan ‘tidur panjang’ pria berwajah pucat itu–Oh Sehun. Sehun menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, merasakan apakah otot-otot yang berkerja dalam tubuhnya masih berfungsi dengan baik. Sehun meringis pelan saat mendapati hampir seluruh bagian tubuhnya kaku dan sulit digerakkan.

Sorot mata pria itu beralih ke ruangan dimana ia berada. Satu sofa panjang di dekat jendela besar, meja kecil dengan vas bunga diatasnya, monitor kecil penunjuk detak jantung, dan sebuah bangku disamping tempat tidurnya yang tengah diduduki gadis kesayangan Sehun, Jung Soo Jung. Gadis itu terlelap dalam posisi duduknya. Sehun tersenyum tipis saat melihat wajah gadis itu, rambut terurai hingga ke wajah tirusnya–khas Soojung.

Sehun berusaha menyentuh wajah gadis yang tidak begitu jauh dari tempatnya berbaring, tetapi selang-selang infus menghalangi gerakan susah payah yang dilakukan pria itu lalu semuanya terjadi dengan cepat.

Tangan kanan Sehun berusaha menggapai pipi gadis itu, namun rasa sakit menyerang seluruh organ tubuhnya lebih dahulu sebelum ia berhasil menyentuhnya. Tangan kirinya otomatis memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa berputar hebat, semua selang-selang infus yang berada di tangan kiri Sehun sontak tertarik keras dan beberapa jarum infus itu mulai tertarik kasar dari pembuluh darahnya. Soojung masih belum terbangun dari tidur sementara Sehun masih berusaha menenangkan gejolak rasa sakit yang terjadi di kepalanya, putaran dan tekanan hebat terus merasuki kepala Sehun tanpa henti sampai akhirnya ia tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang ia rasakan.

“ARGGHHHH!” Sehun menjerit frustasi dan sukses membuat Soojung terjaga. Matanya mebelalak kalut saat menyadari bagaimana sebagian selang infus lepas dari tangan kiri kekasihnya itu dan yang membuatnya tambah ngeri adalah bagaimana Sehun terus menjerit kesakitan sambil menjambak-jambak rambutnya.

“Sehun-a! Apa yang terjadi? Kau… Kau baik-baik saja? Jangan banyak bergerak, tubuhmu belum terbiasa!” Soojung bangkit dari kursinya dan memegang tangan kanan Sehun, berusaha menenangkan Sehun, tubuh pria itu sudah dipenuhi keringat dingin dan bergetar kuat.

“Sehun-a, bertahanlah! Aku akan segera memanggil dokter!” Soojung meremas tangan Sehun kuat-kuat sebelum akhirnya berlari keluar dari kamar rawat itu dan dengan kalut mencari bala bantuan terdekat yang bisa ia temui.

Sementara di kamar itu, Sehun terus mengerang kesakitan berusaha menekan rasa sakit di kepalanya. Ia melepaskan selang oksigen yang terpasang di kedua hidungnya lalu menarik nafas dalam-dalam menggunakan kedua mulutnya. Ia pikir, keadaan akan menjadi lebih baik setelah ia bisa memasukkan oksigen lebih banyak ke dalam paru-parunya. Tetapi ia salah, nafasnya makin sesak dan kepalanya terasa makin ditekan. Kedua tangannya kini benar-benar menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi, sebelum akhirnya semua menjadi hitam.

***

Putih. Itulah hal pertama yang Sehun lihat ketika ia pertama kali membuka mata. Kedua matanya mengerjap bingung memandang ruangan atau tepatnya tempat dimana ia berada sekarang. Sejauh mata memandang, ia hanya bisa melihat warna putih. Bahkan ia tidak yakin dimana ia berpijak, ia tidak dapat merasakan ubin lantai dibawah kakinya, ia berjongkok dan menyentuh permukaan ‘lantai’ tapi yang ia dapatkan hanyalah ruang kosong. Tak ada apapun dibawah kakinya.

‘Apakah aku melayang? Dimana aku?’ Sehun bergumam dalam hatinya sembari terus berjalan di tempat itu.

“Kau di ruang migrasi kematian, Sehun-ssi.”

Sehun menengok ke arah sumber suara dan ia mendapati sesosok wanita anggun berbalut dress putih berjalan ke arahnya. Mata wanita itu tersenyum ramah dan cahaya berpendar-pendar di atas kepalanya.

“Nuguya?” Sehun mengernyit bingung, memperhatikan sosok sempurna di depannya itu.

“Aku malaikat penjaga sekaligus pencabut nyawamu Oh Sehun-ssi.”

Mwo?” Jantung Sehun langsung berdetak kencang mendengar pernyataan wanita didepannya itu. “Aku sudah mati?”

“Tidak ada banyak waktu untuk menjelaskan Sehun-ssi. Aku sudah mencabut nyawamu satu jam yang lalu. Tiga ribu enam ratus detik sudah berlalu semenjak kau menghembuskan nafas terakhirmu di bumi. Sekarang aku harus mendatamu untuk masuk ke rumah baru-mu.” Sang malaikat menarik tangan Sehun ke salah satu sisi ruangan itu. Ia menempelkan jari-jarinya ke udara dan PLOP! Perlahan-lahan ruangan itu runtuh dan Sehun melihat ruangan baru yang lebih besar dipenuhi malaikat-malaikat yang jalan mondar-mandir didepannya, membawa gulungan-gulungan perkamen.

Sehun terus berjalan mengikuti ‘malaikatnya’ hingga akhirnya mereka sampai di sebuah meja dengan dua kursi kecil.

 “Sekarang duduk dan aku akan memberi kau informasi.”

Sehun menurutinya dan duduk berhadapan dengan wajah cantik yang bersinar-sinar itu.

“Oh Sehun. Umurmu Sembilan belas tahun saat meninggal. Meninggal karena kau mencabut selang infusmu dan masker oksigenmu. Kau dirawat di rumah sakit karena kau berusaha melindungi pacarmu yang hampir tertabrak bus, dan berakhir dengan dirimulah yang dirawat di rumah sakit. Koma selama tiga minggu karena gegar otak dan kerusakan paru-paru. Sampai situ aku benar?” Malaikat itu mendelik ke arah Sehun.

“Be… Benar.” Sehun tergagap saat malaikat itu menjabarkan kisah tragis tentang dirinya.

 “Kau meninggal pukul 16.00 KST setelah dokter tidak berhasil menolong nyawamu.” Malaikat itu melirik ke arah Sehun dan ia mendapati Sehun menatapnya dengan tatapan kosong.

“Jadi aku benar-benar sudah meninggal? Tak bisakah aku kembali ke dunia? Kenapa kau, Malaikat Pelindungku malah mencabut nyawaku disaat umurku masih 19 tahun dengan cara tragis dan tidak memberikanku kesempatan untuk hidup?!” Sehun mulai berteriak frustasi kepada sosok indah di depannya itu.

“Oh Sehun-ssi, tugasku hanya mencabut nyawa, tentang waktu dan rencana, itu semua kuasa Tuhan.”

Sehun  menatap malaikat didepannya itu nanar.

“Apakah aku membuat kesalahan begitu besar sehingga Tuhan menginginkan aku pergi dari dunia secepat itu?!! Ini tidak adil, kau tahu?” Sehun menahan gumpalan air mata di pelupuk matanya. Ia bahkan belum masuk kuliah, belum menikmati bagaimana rasanya mempunyai istri dan anak, ia tidak mengerti.

“Sehun-ssi,… Terkadang Tuhan memanggil orang yang berbuat baik lebih cepat daripada orang yang berbuat jahat. Karena Tuhan merasa tugasmu berbuat baik di dunia sudah selesai. Sedangkan untuk orang jahat, Tuhan memberikan mereka waktu lebih lama di dunia untuk bertobat, Sehun-ssi.” Malaikat itu menjelaskan panjang lebar dan menepuk punggung Sehun ringan.

“Ayo ikut aku Sehun, sekarang kau harus masuk dalam antrian menuju rumah barumu.” Malaikat itu tersenyum simpul dan menunggu Sehun untuk berdiri mengikutinya.

“Sebelum itu, aku punya satu permintaan yang harus kau turuti. Dan kau sebagai malaikat pelindungku, kurasa kau bisa dan harus mau melakukan ini, untukku.” Sehun tersenyum dingin dan sosok malaikat itu mengernyit bingung ke arah Sehun, berharap manusia cilik di hadapannya itu tidak meminta sesuatu yang tidak bisa ia lakukan, seperti: mengembalikan nyawanya dan membiarkannya hidup kembali di dunia.

***

Part 2 – Soojung.

Rambut cokelat gadis itu melambai-lambai mengikuti arah angin. Udara pagi itu sangat dingin walaupun baru awal Desember. Tapi gadis itu tidak peduli. Yang ia pikirkan bukan tentang udara dingin yang menusuk-nusuk kulitnya atau bagaimana keadaan apartemennya setelah 3 hari tidak ia rapikan. Bukan. Ia sedang memandang nanar batu nisan yang tertanam kokoh di tanah. Jari-jarinya menelusuri setiap sudut batu itu dan ia tidak dapat membendung air mata yang berdesakan di kelopak matanya.

Gadis itu–Jung Soo Jung, tak bisa berhenti merutuki dirinya sendiri atas kepergian orang yang dicintainya. Andai saja Sehun tidak menyelamatkannya saat itu, andai saja ia bangun lebih cepat saat itu. Pemikiran ini terus berputar di dalam benaknya. Ini semua salah dirinya. Sehun terlalu baik untuk menjadi namjachingu nya.

‘Aku ini orang jahat. Secara tidak langsung aku membunuh orang yang aku cintai dan mencintaiku.’ Hatinya teriris-iris mendengar pernyataannya sendiri. Soojung merapatkan mantel panjangnya. Ia menghapus air matanya sebelum akhirnya beranjak dari depan batu nisan setelah berjam-jam lamanya berdiri disana, meratapi nasibnya.

Soojung mengabaikan tatapan bingung orang-orang yang memperhatikan kelopak matanya yang membengkak. Ia merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk hidup, bahkan untuk berjalan sekalipun ia rasanya seperti mau mati.

Soojung menekan tombol lift apartemennya dengan tatapan kosong. Ia tidak mengerti. Sekeras inikah kehidupan bagi dirinya? Untuk pertama kalinya seetelah kepergian Sehun, Soojung tersenyum, tersenyum kecut. Ya, sekeras inilah hidup, setelah kebahagiaan pasti ada kesedihan…

***

“Psstt…. Itu Jung Soo Jung. Si gadis menyedihkan. Katanya tidak punya orang tua dan saudara. Kasihan sekali. Hahahaha!”

Soojung menutup telinganya dan menelungkupkan kepalanya keatas meja. ‘Mereka sengaja mengeraskan bisikan mereka, aku selalu tau.’ Soojung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan air matanya.

“Bukan hanya orang tua, tapi juga sahabat! Hahaha! Lihatlah, dirinya yang menyendiri seperti mayat hidup saja!” DEG. Soojung merasa jantungnya  berhenti berdegup. Ini keterlaluan. Ia ingin membalasnya, tetapi ia tidak punya cukup keberanian bahkan untuk berdiri dari bangkunya dan menggebrak meja. Soojung tidak tahan lagi, akhirnya ia mengeluarkan gumpalan air dari kelopak matanya.

“Hahahahaha! Lihatlah baru kali ini aku lihat mayat hidup menangis!!!”

“ARGGHHHHHH!” Soojung mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, nafasnya tersenggal-senggal, dan tubuhnya berkeringat dingin. Ia menyadari ini kamarnya, bukan ruang kelasnya.

“Mimpi itu…” Soojung menggumam lemah dan menyadari sesuatu. Bayang-bayang masa lalu mulai melingkupi hati dan benaknya. Masa lalu mengerikan yang terlintas di mimpinya.

Soojung kembali teringat dirinya 3 tahun lalu sebelum bertemu Sehun. Ia kehilangan orang tua dan kakak secara bersamaan dalam kecelakaan pesawat menyebabkan sifat pemurung dan menyendiri timbul dari dalam dirinya. Ia selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya, selalu disindir, diolok-olok, sampai akhirnya Sehun datang. Melindunginya, memberinya kekuatan, mengerti tentang keadaannya, mampu membuatnya tersenyum lebar, no one like him. Tiga tahun ini Sehunlah alasannya untuk hidup bersemangat dan pantang menyerah. Sehun jugalah alasannya tersenyum setiap hari dan tabah mendengar olok-olokkan teman-temannya.

Soojung terisak keras. Setelah Sehun pergi, semua akan kembali seperti sebelumnya, Soojung yang penyendiri, kesepian, dan bahan tertawaan. Soojung sadar akan hal itu. Sadar sepenuhnya. Bahkan mungkin Sehun diatas sana sudah berhenti mencintainya.

‘Sehun-a sekarang kau pasti membenciku kan? Kau pasti membenci wanita yang secara tidak langsung merengut nyawamu. Tapi jika kau mau tahu, aku selalu mencintai dan menyayangimu, walau kau membenciku sekalipun…” Soojung mendesah pelan, hidupnya benar-benar sudah tidak berarti lagi, bagai obor tanpa api.

***

Part 3 – Daydream.

Sehun memandangi sosok yang dipenuhi pendaran cahaya itu. Sudah 3 hari semenjak malaikat penjaganya itu memikirkan permintaannya.

“Oh Sehun-ssi, aku rasa aku tidak bi…”

“Kau harus mau, aku tidak mau tau.” Sehun menatap tajam malaikat wanita itu.

“Baiklah, begini. Aku memberikan penawaran kepadamu. Kau bisa meminjam waktu…”

Mwo? Bagaimana bisa?” Sehun menaikkan sebelah alisnya menuntut penjelasan lebih lanjut.

“Makanya jangan memotong kata-kataku! Aku memberi pinjaman waktu maksimal tiga puluh detik. Dan setiap detik waktu yang kau pinjam harus dibayar dengan kenangan manis di otakmu.”

“Membayar dengan kenangan manis? Bagaimana caranya?”

“Jika kau meminjam waktu tiga puluh detik lamanya, maka aku akan menghapus tiga puluh detik dari kenangan manis di otakmu. Kau dan orang yang bersangkutan tidak akan mengingat apapun tentang tiga puluh detik itu, mengerti?”

“Jadi seolah-olah tidak ada yang terjadi?” Tanya pria itu resah.

“Betul sekali Sehun-ssi. Dan sebaiknya kau jangan resah seperti itu atau arwahmu  tidak akan tenang…” Pendar-pendar cahaya diatas kepala sang malaikat makin bersinar terang saat ia tertawa. Sehun mendengus kesal menanggapi tawa sang malaikat.

“Apakah ada malaikat tidak anggun sepertimu? Jangan-jangan kau malaikat palsu?” Sehun tertawa datar.

“Jadi, kau sudah memutuskan berapa lama waktu yang akan kau pinjam?” Sang malaikat mengabaikan pertanyaan Sehun dan tersenyum lembut ke arahnya, menanti jawabannya dengan tenang, tidak gegabah.

“Aku… Aku meminjam 5 detik.” Sehun berkata pelan dan menatap malaikatnya dalam.

“Dan memori yang akan kau hilangkan?” Malaikat itu tersenyum lembut.

“Lima detik saat… saat aku memeluk Soojung untuk pertama kalinya. Karena pelukan itu berdurasi sepuluh detik.” Sehun menunduk malu. Semburat merah terpancar dari pipi putihnya. Malaikat penjaga itu tersenyum kecil melihat manusia yang dilindunginya selama ini. Tentu saja ia tahu, setiap detik dari hidup Sehun adalah keseharian sang malaikat, karena dialah yang menjaga Sehun.

“Sepuluh detik? Romantis sekali.” Malaikat itu tersenyum simpul sambil mengeluarkan sebuah jam perak dengan manik-manik silver yang mengkilap. Ia menyodorkan jam itu kepada Sehun.

“Hari ini aku akan mengantarmu ke tempat Soojung. Waktu lima detikmu akan dimulai saat kau menekan tombol disini. Dan ketika lima detikmu habis, kau akan otomatis memudar dari pandangan Soojung, dan setelah itu kau akan  melupakan first hug-mu dengan Soojung, arasseo?”

Arasseo.” Sehun tersenyum lebar dan menggenggam kuat-kuat jam perak itu. Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk melihat Soojung lagi dalam bentuk manusia bukan arwah. Ia sudah memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan dan apa yang akan ia lakukan. 5 detik paling berharga dalam kenangannya dan mungkin juga dalam kenangan Soojung.

***

Soojung duduk di atas sofa panjang di ruang tengah apartemennya. Sejak ia pulang kemarin, ia belum berniat membereskan apartemennya sedikitpun. Tangan kanannya memegang remote TV dan terus menggonta-ganti channel tv tanpa niat sedikitpun, ia hanya menatap kosong layar tv. Setiap kali ia menyadari bahwa sekarang ia sendiri, ia merasa lemah.

Dadanya terasa sesak dan ingin meluapkan segalanya dan semuanya selalu berujung pada air mata. Ia mencoba menjadi kuat, tapi tidak ada alasan baginya untuk menjadi lebih kuat. Toh, sekarang ia hidup sendiri.

“Soojungie…”

DEG. Soojung menengok ke arah belakang cepat, saat ia melihat sosok itu, ia tidak peduli itu nyata atau tidak, ia langsung berlari dan memeluk sosok yang dirindukannya, seorang pria dengan bahu kokoh yang siap menjadi sandarannya bila ia merasa lemah–Oh Sehun.

“Sehunie, aku…”

“Sssstt… Don’t cry. Saranghae.”

Soojung terisak keras, pelukan hangat itu sangat dirindukannya, perlahan kehangatan itu memudar dan memudar, hilang, lalu habis.

Soojung terduduk lemas diatas karpet lalu menampar pipinya keras-keras. Itu nyata. Ya, itu nyata. Ia tidak mempedulikan rasa sakit di pipinya, ia sibuk menata isi hatinya. Entah, itu hal magis atau apa, ia merasa Sehun nyata berada di hadapannya tadi, memanggil namanya, memeluknya, menghentikan tangisnya, dan berkata bahwa ia mencintainya. Ia tahu, bahwa arwah hanyalah bayangan dan tidak pernah bisa memberi rasa hangat, jika tadi memang arwah Sehun, kenapa ia merasa hangat, kenapa ia merasa tenang, kenapa ia merasa senang?

Kebahagiaan meluap-luap dalam dadanya. Tiba-tiba Soojung merasa semangat untuk hidup, karena ia tahu setidaknya masih ada orang yang mencintainya dan menyayanginya. Soojung berdiri dan menghapus air matanya lalu tersenyum tipis.

“Sehun-a aku tahu itu benar-benar kau. Entah hal magis apa yang terjadi barusan, tapi kehadiran kau disini, kata-katamu, dan pelukanmu, membuat aku menyadari setidaknya hidupku ini masih sedikit berarti. Kau tahu, Sehunie, tadi semuanya seperti mimpi, kau muncul dan menghilang seperti mustahil kau tadi berada disini…” Soojung berjalan menuju balkon kamarnya, matanya mengawasi langit malam yang luas, entah kenapa ia menjadi semangat untuk datang ke sekolah dan mencoba untuk mencari teman dan menjadi Soojung yang periang bukan pemurung.

“Sehun-a,… terima kasih sudah membuatku merasa lebih dihargai… Neomu Saranghae. From now until forever.” Soojung berbisik pelan kepada langit malam yang menjadi saksi bisu kekuatan magis cinta.

“This is all like daydream,

If i hold you in my arms,

You dissappeared like magic.

But i know something from your eyes,

That you’ll always love me  same like i’ll always love you.”

 

-end-

 

 

 

Advertisements

62 responses to “Day Dream

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s