[Chapter 2] The Second of Telepathy

Untitled-1-Recovered

 

[2nd] The Second of Telepathy

AUTHOR             : Ifaloyshee

MAIN CAST        :  Kim Sumin (OC), Oh Sehun,  Kim Jongin (Kai), Im JinAh (Nana), Choi Junhoong (Zelo), Kim Hyelim (Lime)

GENRE                 : Fantasy, Romance, Supranatural, Drama

DISC                      : The casts are not belong to me. The story-line, plot, ideas are comes from my mind. Dont copy  this story without my permission. And dont copy my idea, be creative pls.

RATING                               : PG. [ bakal sering naik seiring bertambahnya part] , Profanity, bloody and maybe..

Chapter 1 / Chapter 2

***

“Kau tidak boleh berhubungan dengan manusia, karena hal itu akan membahayakan mereka. Kau mengerti maksudku, dongsaeng? Jadi, putus dengan Kai. Aku tau ini sulit tapi tidak ada yang bisa tau kapan sisi jahatmu muncul, bahkan dirimu sendiri juga tidak tau.”

“Putus dengan Kai? Aku tidak akan mau. Dan.. berhenti dengan semua lelucon tidak masuk akal ini Kim Myungsoo.”

“ini untuk kepentinganmu! Kau turuti ucapanku, okay?”

“Never!”

***

Sumin mengatur nafasnya yang naik turun, jantungnya yang berpacu cepat dan berusaha mengontrol emosinya… menekan dalam-dalam amarahnya pada gadis blonde didepannya ini. Ia menunduk, menghindari tatapan Nana yang kini gadis itu sudah tersenyum puas. Nana merosot dari atas meja, membuat rok seragamnya yang sangat minim itu sedikit terbuka kemudian membuat ekspresi takut yang sungguh dibuat-buat, berlagak seperti Sumin baru saja menerkamnya. Sengaja mencari simpati dari semua siswa yang ada di kantin saat ini.

Tidak ada yang berbicara, suasana kantin langsung hening begitu saja dan hanya terdengar bisikan tentang  bagaimana menyeramkannya Kim Sumin. Dan mereka semua memandang kearah meja Sumin—Zelo dan Lime sedang melirik Nana dengan sinis—menelisik gerak-gerik Sumin si gadis aneh itu walaupun nyatanya Sumin diam saja, ia justru menunduk dan menyembunyikan wajahnya dibalik rambut panjangnya.

“aku sungguh tidak mengira… aku..aku hanya mau bertanya tentang hasil ujian bulanan-mu, aku tau kau membenciku, Sumin.. tapi kenapa kau begitu kasar?”

Lime hampir muntah mendengarnya, apalagi melihat wajah Nana yang kini sok bersedih. Kedua mata Nana tampak sayu—nyaris seperti tidak ada cela kepalsuan sedikitpun. Sayangnya, hanya Lime dan Zelo yang tidak mempan oleh akting queenka itu.

Zelo tertawa remeh, “skenario tidak bermutu yang baru kau hapal tadi pagi huh? Kenapa kau tidak tutup mulut dan angkat kaki saja dari sini daripada membuat kebohongan. Dosa juga kau yang menanggung sendiri, kan?”

“Yaaa! Zelo-ya! Berani sekali kau menuduh Nana seperti itu!” umpat Kang Jiyoung, yang kini berdiri untuk membela Nana.

“kenapa memang? Kau tidak suka?!”

“kau keterlaluan!”

“dia yan keterlaluan.” Zelo menunjuk ke arah Nana.

“yah STOP!” Lime ikut berdiri dan langsung menggandeng tangan Zelo juga Sumin—yang masih mencoba menenangkan diri. Mereka bertiga meninggalkan kantin tepat ketika bunyi bel tanda masuk terdengar.

***

At Class. 10AM

“Kau tau? Aku sungguh tidak habis pikir dengan Nana! Apasih maunya? Sudah cukup kan dia membuat semua murid sekolah ini membencimu, masih aja dia mencoba menarik simpati mereka dengan cara murahan seperti tadi. Kalau aku jadi kau, aku pasti langsung membunuhnya detik itu juga!”

Lime masih mengumpat tidak karuan, ia duduk disebelah Sumin dengan sebuah pena berwarna biru yang ia ketukkan diatas meja. Mulutnya tidak henti – hentinya mengungkapkan kekesalannya pada Nana, walaupun Sumin sedari tadi diam saja.

“Ya.. aku tau, biarkan saja..” Sumin menyelipkan beberapa helai rambutnya kebelakang telinga sambil terus menyalin rangkaian matriks dari buku Matematika tebal miliknya walaupun kelas begitu berisik, dan dia menjadi satu – satunya murid yang duduk manis dikursinya. Zelo sedang duduk diatas meja dengan Kim Himchan—rekan basketnya—sambil memutar-mutar bola ditangannya.

“Tapi.. yah! Suminnie, kau tidak bisa membiarkannya terus begitu. Kau harus memberikannya pelajaran sesekali agar ia bisa diam.”

“aku berpikir bahwa hal itu malah akan memperpanjang masalah..”

“tapi setidaknya kau jangan diam begini.”

“nanti juga dia akan lelah sendiri.”

“aku rasa tidak. Dia seperti tidak ada kapoknya untuk mengerjaimu, membuat semua orang disekolah membenci—“

Tak.

Pena biru yang dipegang oleh Lime sukses jatuh ke lantai, dan disaat itu juga Lime menghentikan semua ocehannya tentang betapa buruknya Im Jinah. Sedangkan Sumin langsung berhenti menulis dan mengerutkan alisnya. Kenapa tiba –tiba Lime memotong pembicaraannya sendiri?

‘tampan sekali…’

Sumin semakin mengerut, ia langsung mendongak dan menoleh kearah Lime yang mematung bahkan tidak berkedip sama sekali, pandangannya lurus kedepan. Terkesima.

“Wae..” dan Sumin juga baru menyadari kalau kelas menjadi hening seketika. Ia melihat kedepan, pandangannya menangkap seorang pria dengan tinggi semampai yang berdiri diambang pintu kelas sambil mebolak – balikkan kertas ditangannya—wajah yang belum pernah dilihat Sumin disekolah ini sebelumnya. Dan, Demi Tuhan kalau pria itu memiliki pahatan wajah yang sangat sempurna. Rambut hitam cepak dengan poni yang menyamping, rahangnya tegas, matanya tajam dan bibirnya tipis kemerahan.

Tidak bisa dipungkiri kalau perhatian seluruh gadis dikelas ini kini memusat kearahnya, mereka terdiam dan sisanya berbisik – bisik menanyakan siapa pria itu.

Seketika itu juga Sumin langsung ingat, murid pindahan dari Macau yang menjadi hot news sekolah belakangan ini. Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa pria ini orangnya.

“Excuse me… aku ditempatkan dikelas ini. Bolehkah aku masuk?” pria itu membuat gesture untuk ijin masuk kedalam dengan ibu jarinya. Sumin menemukan name tag yang terpasang diseragam pria itu, bertuliskan “Oh Sehun”

Kelas masih hening. Tidak ada yang mau mejawab atau mereka terlalu sibuk memuji Oh Sehun ini didalam pikiran mereka?

Ctak!

“Aw..” Sumin mengelus kepalanya dan merintih  pelan, ia langsung menoleh kebelakang dan mendelik kearah Zelo. Jelas kalau Zelo yang melemparnya dengan penghapus tadi, siapa lagi memangnya? Dan memang dikelas ini, gadis yang saat ini terlihat normal hanyalah Sumin. Akan beda cerita jika Zelo melempar kearah Lime, bahkan gadis itu masih belum berkedip juga.

Zelo memandang Sumin sambil mengedikkan kepalanya kearah Oh Sehun, memberi tatapan bahwa dia yang seharusnya menyauti Sehun sementara seluruh siswa di kelas ini masih melongo bodoh. Sumin mengangkat bahunya cuek tapi Zelo menuntut lagi dengan tatapannya.

‘Suruh dia masuk..’

Sumin mengigit bibir bawahnya, kemudian menoleh kearah Sehun lagi. Ia baru saja akan membuka suara ketika BoA seonsaengnim muncul dari balik punggung Sehun dan merangkulnya masuk kedalam kelas.

Zelo langsung melompat dari atas meja dan duduk manis diatas kursinya, ia menyembunyikan bola basketnya didalam tas Himchan; Himchan mau protes tapi Zelo langsung mengeintruksinya untuk diam.

“Annyeong~”

“Annyeonghaseyo BoA seonsaengnim!”

Sumin langsung menoleh kearah Lime dan mencibir. “sudah sadar kembali, huh?”

Lime memukul bahu Sumin dengan pelan, kemudian terkekeh. “Yah, aku hanya sedikit terpesona pada ketampanannya..”

“sedikit? Kau bahkan tidak berkedip tadi.”

“oh, jinjja?!” Lime langsung menatap Sumin lekat – lekat. “apakah aku sampai begitu?”

“lebih bodoh lagi malah.”

“yah Kim Sumin!” gulungan buku tulis Matematika milik Lime sukses mendarat di pelipis Sumin, kemudian Lime tertawa. “kau juga pasti sama terpesona nya denganku..”

“Aish!” Sumin merintih pelan, ia mengambil alih buku tulis milik Lime dan memukulkannya tepat ke wajah gadis itu. “Aniyo. Aku satu –satunya yang normal disini. Aku tidak akan melongo bodoh hanya karena murid baru itu.” Sumin menjulurkan lidahnya membuat Lime sebal dan kembali menyakiti Sumin dengan sebuah jitakkan keras.

“Yah!! Lime-ya!!”

“ya! Ya! Kim Sumin! Begitukah sikap sopan yang patutnya kau tunjukkan pada murid baru dihadapanmu, hm? Berhenti bergurau dan perhatikan gurumu saat berbicara!” BoA seonsaengnim menunjuk-nunjuk kearah Sumin yang menjadi korban kesadisan Lime, gadis itu hanya tersenyum kecut kemudian mengangguk pelan.

“Mianhae..” ucap Sumin pelan. Lime menahan tawanya.

Sumin mengalihkan tatapannya kedepan, tidak peduli bahwa Lime terus menendangnya dibawah meja.. berusaha mencari masalah lagi. Dan tepat saat itu juga Sehun sedang menatap kearahnya dalam diam, kedua matanya yang tampak tajam sibuk memandanginya. Sumin langsung salah tingkah ketika pandangan mereka bertemu.

Sehun masih menatap Sumin dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, entah bingung atau terkesima atau heran atau…. entahlah. Yang pasti ketika Sumin mencoba membaca pikirannya, tidak ada bisa terbaca disana. Hanya kekosongan. Dan Sumin langsung berminat penuh pada pria bernama Oh Sehun ini, bahwa pria ini… pasti bukan seorang manusia biasa.

Karena Sumin bisa membaca semua pikiran manusia.

Ya, terkecuali manusia supernatural.

Dan sepertinya Sehun juga memiliki pendapat yang sama dengannya, karena ia masih terus menatap Sumin dengan penasaran seolah ingin mengenalnya lebih jauh. Tidak peduli bahwa beberapa gadis dikelas ini mulai tersenyum kearahnya dan melambaikan tangannya, atau malah lebih parahnya mendorong teman sebangkunya untuk menyingkir agar Sehun bisa duduk disebelah mereka.

BoA seonsaengnim menepuk pundak Sehun, membuat Sehun kembali menapak ke tanah dan ia langsung terkesiap. BoA menatapnya bingung, “kau melamun ya?”

“a-aniyo..” Sehun mengibaskan tangannya.

BoA tersenyum menenangkan. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “tidak usah gugup, Oh Sehun-ssi. Kau bisa memulai perkenalanmu sekarang. Tenang saja, murid-muridku sangat ramah. Kau pasti bisa berbaur dengan mereka.” Sehun mengangguk menyanggupi apa yang diucapkan oleh calon guru barunya ini.

Sehun membetulkan blazer seragamnya kemudian berdeham. “uhm.. Annyeonghaseyo, Oh Sehun imnida.  Aku berasal dari Macau, bagian dari Hongkong. Tapi dulu aku pernah menetap di Korea dan memutuskan untuk kembali kesini setelah enam tahun aku aku menetap di Macau. Aku harap, kalian bisa menerimaku dengan baik. Kamsahamnida” Sehun mengakhiri greeting –nya dengan seulas senyuman yang langsung membuat seluruh gadis dikelas itu meleleh. Ia sedikit mencuri pandang kearah Sumin, tapi gadis itu sibuk berbicara dengan teman sebangkunya.

“kau bisa memilih kursimu, nak..”

Mendengar itu, Sehun kembali tersenyum kemudian mengangguk dan mencari kursi kosong yang bisa ia tempati. Tepat, dibelakang Sumin terdapat sebuah meja dan dua buah kursi kosong yang tergeletak disana. Sehun langsung melangkahkan kakinya dan duduk dibangku barunya.

Setelah memastikan Sehun nyaman dengan bangku barunya, BoA langsung memulai pelajaran dengan menghidupkan LCD dan memperlihatkan deretan matriks disana. “halaman 180, pekerjaan rumah kalian silakan kumpulkan didepan.”

Terdengar erangan sebal dari murid – murid yang sebelumnya sudah berharap penuh kalau seonsaengnim akan melupakan PR hari ini karena adanya murid baru, namun ternyata hal itu hanya berakhir di angan – angan saja.

Lime meletakkan buku tulis berwarna—selalu—birunya itu keatas buku tulis Sumin kemudian berbalik, memasang senyuman ramahnya. “Hai! Aku Kim Hyelim. Kau bisa memanggilku Lime!” Lime menyodorkan tangannya dan disambut hangat oleh Sehun.

Tidak bermaksud genit, tapi memang sifat Lime ramah dan mau berbaur dengan siapa saja tanpa sungkan.

“Oh Sehun. Panggil saja aku Sehun dan..ah, rambutmu keren.”

“err… Thanks. Ngomong – ngomong, kau dari Macau?”

Sehun mengangkat kedua alisnya. “begitulah.”

Lime mulai melakukan kebiasaannya, mengetukkan pena birunya dan terlihat berpikir. “ah! Bukankah mereka berkomunikasi dengan bahasa mandarin?”

“Yeah, tapi kebanyakan menggunakan kantonis dan.. portugal. Ada beberapa juga yang fasih berbahasa Inggris.”

“apakah kau menguasai semuanya?”

“uhm.. tidak juga.”

Lime hanya mengangguk.

“tapi aku menguasai kantonis dan inggris dengan baik, sedang tidak bermaksud menyombongkan diri, sih.”

“Whoah daebak..” seru Lime. Ia menyenggol Sumin, mengisyaratkannya untuk ikut berkenalan dengan Sehun tapi gadis itu tidak bereaksi. Ia sibuk—atau menyibukkan diri?—melihat kedepan, memperhatikan BoA seonsaengnim yang menjelaskan angka-angka yang berderet didepan, membuat Lime mual seketika saat ia melihat betapa rumitnya angka tersebut.

Sehun memperhatikan Sumin dari belakang, menerka – nerka apa yang gadis itu sedang pikirkan.

Kelas berlangsung dengan tenang, dengan sebagian besar gadis-gadis lajang maupun yang sudah memiliki kekasih mencuri pandang kearah Sehun dan menghela nafasnya berkali –kali setiap Sehun mengusap rambutnya atau sekedar berdeham. Lime akhinya terpaku pada bukunya karena ia ingat hasil ujian bulanannya kemarin bisa dibilang cukup—parah, dan ia tidak mau menjadi bahan omelan lagi oleh kedua orang tuanya. Tepat saat BoA saem selesai mengemasi barang – barangnya, bel berbunyi dengan nyaring membuat murid – murid berseru girang.

Murid – murid berhamburan keluar kelas untuk pergi ke kantin, dan seperempat dari mereka tetap berada dikelas untuk sekedar mengobrol atau bergurau satu sama lain.

Zelo langsung melompat dari kursinya dan duduk disebelah Sehun, melemparkan senyum ramahnya. “Macau, dude? Las vegas in Asia.. cool, yeah.”

Sehun hanya tertawa mendengarnya.

Whats up? I’m Zelo, penembak jitu dari tim basket Cheongam High school. Hope we can get along well!”

“Yeah, senang berkenalan denganmu Zelo-ssi. Aku suka caramu memainkan bola basket dibawah meja tanpa sepengetahuan BoA saem. Thats pretty cool.”

Zelo tertawa. “kau memperhatikan ternyata!”

“Zelo-ya, kau mau ikut ke kantin tidak?” Sumin memasukkan bukunya kedalam tas. Sehun dan Zelo mendongak, “Ya, aku akan menyusulmu nanti, ice princess!” jawab Zelo.

“ok.” Sumin berlalu bersama dengan Lime sementara Sehun masih memperhatikannya sampai sosok Sumin hilang dibalik pintu.

“I ce princess?”

Zelo menangkap ekspresi bingung di wajah Sehun. “Dia dingin seperti es, tapi tidak ada yang berani mengusiknya seolah – olah dia adalah princess.”

Sehun mengangguk mengerti, matanya menatap penuh antusias ke arah pintu kelas walaupun tidak ada siapapun disana, sedangkan pikirannya melayang entah kemana. Bibirnya  membentuk seulas seringaian.

“Oh man, aku rasa teman –temanku sudah cukup menunggu lama di kantin.” Suara Zelo membuyarkan lamunan Sehun. “kau bisa ikut klub basketku kapanpun kau mau, tinggal hubungi aku saja atau Himchan. Aku rasa tidak butuh banyak pertimbangan untuk menerimamu.” Ucap Zelo lalu meletakkan kartu anggota klub basket diatas meja sebelum melesat keluar kelas.

***

Sumin berdiri menyandar di tembok yang menghadap langsung ke arah lapangan basket, ia menyeruput bubble tea-nya dalam diam. Beberapa siswa yang melewatinya memandang Sumin dengan tatapan intimidasi—karena dia gadis aneh—dan beberapa diantaranya hanya terkesima dengan kecantikan wajahnya atau rambut hitam panjangnya yang begitu jatuh dan mengkilap.

Sedangkan gadis itu cuek saja, walaupun ia secara tidak sengaja membaca pikiran setiap orang yang beropini tentangnya. Ia sejak dulu tidak peduli dengan omongan orang tentang dirinya. Sumin baru akan bertindak jika ada yang membicarakan keburukan orang – orang yang disayanginya.

Atau.. kalau ada yang mengungkit tentang kematian Kai.

Sumin menghela nafasnya. Ia benci ketika memori itu datang lagi, seolah sudah terpatri didalam ingatannya kalau dirinya adalah seseorang yang membunuh Kai walaupun Sumin sulit mengakuinya. Tapi seolah-olah ada sebagian dari dirinya yang sangat membenci dirinya sendiri, sehingga memori itu terus teringat. Membuat dada Sumin terasa sesak.

Terkadang Sumin ingin kembali seperti dulu, ketika ia bisa bergaul dengan siapa saja disekolah ini. Dan ia ingin memperbaiki semuanya, membuat pandangan orang – orang yang negatif terhadapnya menjadi hilang.

Tapi hidup memang tidak adil. Karena walaupun Sumin sudah berusaha, ia tidak akan bisa. Kenapa?

Karena Nana sudah menghipnotis semua murid disekolah ini agar tidak mau bergaul dengan Sumin. Sebuah fakta yang Sumin benci setengah mati, bahwa Nana adalah seorang manusia supernatural juga. Tapi dia bukanlah demon, Nana hanya dapat membaca pikiran orang lain dan menghipnotis mereka. Tapi Nana tidak dapat menghipnotis manusia yang memiliki sixth sense atau supernatural.

Bagaimana dengan Zelo dan Lime?

Entah apa yang ada dalam diri mereka berdua, masih menjadi misteri bagi Sumin. Jelas sekali kalau kedua sahabatnya itu adalah manusia biasa. Tapi mereka tidak bisa dipengaruhi oleh hipnotis Nana sebesar apapun usaha Nana untuk membuat mereka bertekuk lutut padanya. Mungkin ini yang disebut ketulusan. Ya, Zelo dan Lime memiliki ketulusan yang entah seberapa besarnya pada Sumin sehingga Nana tidak mampu menghipnotis mereka.

“Kenapa kau hanya mencetak tiga puluh halaman saja?! Bukankah sudah aku katakan kalau seharusnya lima puluh lembar! Stupid little bitch!”

Sumin menolehkan kepalanya, menyaksikan seorang gadis rambut blonde bergelombang yang menyeret seorang gadis kecil ditangannya. Sumin mengenali keduanya, si blonde itu bernama Park Jiyeon dan gadis kecil itu, murid kelas satu.. Danee.

Danee terlihat pucat dihadapan Park Jiyeon. Tangannya saling bertaut satu sama lain dan wajahnya menunduk, jelas bahwa ia sedang ketakutan. Dan dengan kurang ajar nya Jiyeon menjambak rambut Danee sehingga wajah Danee mendongak keatas, rintihan kecil keluar dari bibirnya yang bergetar.

Pandangan Jiyeon terhadapnya tampak diliputi emosi membuat Danee hanya bisa membalas tatapan Jiyeon dengan berkaca – kaca. Sekalipun mereka berdua ada ditengah koridor, dimana setiap murid – murid bisa menyaksikannya tapi mereka sama sekali tidak terkejut. Pemandangan senioritas seperti ini bukanlah suatu hal yang tabu lagi, justru mereka lebih memilih menghindar karena Jiyeon bisa saja melibatkan orang lain yang bakal menjadi sasaran selanjutnya.

“k..kau  t..tidak memeriksanya unnie? A…ku tidak tau kalau…arh..l..lima puluh halaman..”

“mana sempat aku memeriksanya bodoh!”

“m..mianhae..”

“Jang seonsaengnim memarahiku habis-habisan! Ini gara-gara kau! Dan masalah kita masih terus berlanjut, arrasseo?!”

Sumin menghela nafasnya, tangannya mengepal melihat pemandangan memuakkan ini. Ia tidak bisa diam saja melihat gadis kelas satu itu terus disiksa sementara tidak ada satupun murid normal yang mau menegakkan kebenaran. Jadi Sumin langsung memfokuskan pandangannya terhadap tubuh Danee kemudian bola matanya yang berwarna cokelat almond berubah menjadi merah pekat, mengkilap bagaikan segumpal darah. Ia berbisik, pelan sekali…

“Danee… lawan dia, dorong tubuhnya dan buat sampai dia menangis kesakitan, ucapkan hal yang sepantasnya dia dapatkan.. lakukan sekarang Danee..”

Isakkan kecil yang keluar dari mulut Danee langsung terhenti, kedua matanya yang tadi berkaca – kaca dan menyiratkan kesedihan kini kering lalu kosong. Dan beberapa detik setelahnya bola mata hitamnya mengkilat, bibirnya terkatup rapat dan giginya menggeretak penuh emosi.

Sebelum Jiyeon sempat menyadari perubahan itu, Danee menggapai tangan Jiyeon yang mencengkeram rambutnya lalu menghempaskannya. Jiyeon terkesiap namun Danee langsung mendorong tubuhnya sangat keras sampai membentur lantai.

Danee menginjak telapak tangan Jiyeon dan  menekannya dengan keras, membuat Jiyeon menjerit kesakitan. Tubuhnya menggelinjang hebat, berusaha bangkit namun Danee masih menahan tangan Jiyeon dengan injakannya. Jiyeon mati kutu.

“aku juga bisa menyiksamu Park Jiyeon! Kau pikir aku budakmu yang bisa kau suruh seenaknya dan kau ludahi setelah aku membantumu dengan tidak tidur semalaman demi tugasmu itu! Bahkan kau tidak mengucapkan terimakasih dan malah memaki ku. Betapa bodohnya! Huh? Apa yang bisa kau lakukan selain menggoda pria dan membawanya tidur bersamamu lalu membiarkan junior sepertiku yang menanggung semua PR-mu! Bitch face! Kau bahkan tidak sadar kalau silikon didadamu itu sungguh kentara dan betapa memuakkannya kelakuan busukmu.”

Jiyeon menganga tidak percaya.

Ia tidak menyangka danee berani memakinya seperti itu dan ketika Jiyeon ingin membuka suara untuk membalasnya dengan sumpah serapah, Danee menginjaknya lebih dalam lagi membuat Jiyeon bungkam dan hanya bisa menahan sakit ditangannya.

Sumin menyeringai puas.

“begitulah yang seharusnya kau lakukan..” lirih Sumin kemudian menyeruput bubble teanya lagi. Belum lama ia menikmati kepuasannya atas pengendalian pikiran jahatnya pada Danee, tiba – tiba seorang wanita berusia sekitar 40 tahun-an itu menghampiri Danee dan jiyeon.

Son Dam Bi seonsangnim, salah satu guru BK di Cheongnam high school.

Sumin memutar bola matanya. “tidak seru.” Gumamnya, seringaian musnah digantikan oleh decakkan sebal. Sumin memutar badannya kemudian berlalu untuk menuju ke kelasnya.

Tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengamatinya sedari tadi.

***

“Kim Sumin!”

“Kim Sumin!”

“Sumin-ssi!”

Dengan berpura-pura menulikan diri, Sumin tetap terfokus pada loker dihadapannya. Mengambil sebuah handuk dan sepasang baju olahraga berwarna abu – abu karena kelas PE sebentar lagi akan berlangsung setelah bel berbunyi. Ia tidak peduli pada entah siapa yang sedang menyerukan namanya.

Sehun tampak kesal. Ia mendengus sebal kemudian berjalan menghampiri Sumin yang masih sibuk dengan lokernya—menyibukkan diri lebih tepatnya. Sehun memasukkan kedua tangannya kedalam saku dan menatap Sumin dari rambut sampai ujung sepatu.

How beautiful this girl.

Correction, how fucking beautiful this girl.

Seragam berwarna putih dibalut blazer biru tua yang sungguh pas di tubuh kurus Sumin, dengan dasi yang dipasang rapi didepan. Kemudian rok berwarna merah tua yang terbilang cukup mini karena memperlihatkan seperempat kaki jenjangnya dengan kulit seputih susu. Rambutnya hitam dan panjang dibiarkan tergerai tanpa pita apapun, membuatnya terlihat natural. Senatural wajahnya dengan hanya bedak tipis dan lipgloss beraroma strawberry. Sehun meneguk ludahnya, ketika pandangannya terpasang pada pinggang Sumin yang ramping.

Sehun menyeringai, kemudian mendongak untuk memandang wajah Sumin yang masih belum melihatnya.

“Devil face.”

Mendengar itu, Sumin langsung menoleh kearah Sehun dengan tatapan sedingin es. Ekspresinya tidak kalah dinginnya dengan kedua matanya yang berwarna cokelat almond. “what?” tanyanya dengan nada datar.

“kau baru mau menoleh jika aku memanggilmu devil face?”

Sumin menaikkan sebelah alisnya. “aku tidak akan menoleh jika ada yang memanggilku. Kecuali Zelo dan Lime, dan guru disekolah ini.”

How rude.”

“lalu apa masalahmu?” Sumin mengambil sebuah botol dari dalam loker, membuka tutupnya kemudian meneguk air isotoniknya.

Entah untuk keberapa kalinya Sehun terhipnotis oleh gadis dihadapannya ini, matanya tidak lepas dari bibir Sumin yang basah karena air dan begitu Sumin mengelap bibirnya dengan punggung tangannya, Sehun menahan nafas.

“bisakah kau berhenti menatapku?”

Sehun menyeringai. “Aku hanya..” ia mendekat kemudian menunduk sedikit, membuat Sumin terkesiap karena jarak mereka berdua yang sangat dekat. Sehun mengelap ujung bibir Sumin dengan ibu jarinya. “Aku hanya mau mengatakan padamu kalau kau minum terlalu cepat…dan meninggalkan setitik air disini.”

Sumin merasa wajahnya memanas dan hampir mengeluarkan semburat pink dipipinya tapi ia sungguh berharap ia tidak tersipu hanya karena perlakuan Sehun barusan. Tidak. Siapa dia memangnya? Hanya murid baru yang berusaha merayunya. Dan mungkin besok juga sudah menyerah.

“jangan sentuh aku.”

Sehun hanya tertawa pelan, walaupun Sumin meliriknya dengan sinis.

“Ah, aku ingat kejadian tadi. Itu perbuatanmu. Dan, aku tidak suka caramu.”

Sumin mengerutkan alisnya, tidak mengerti arah pembicaraan Sehun. “apa?”

“Jangan berpura – pura polos, ice princess. Danee mendapat detensi besar dari Mrs. Son Dam Bi, dan itu semua karenamu. Padahal dia hanya anak kelas satu yang tidak tau apa – apa.”

Sumin mematung ditempatnya. Jadi Sehun tau bahwa tadi ia menelepati pikiran Danee? Tapi.. Oh, sungguh ini memalukan. Ia mati kutu. “kau tau?” tanya Sumin dengan tatapan intimidasinya.

Sehun mengedikkan bahunya.

“itu.. itu hanya karena aku tidak suka cara si Park Jiyeon itu, bukankah dia keterlaluan. Dia tidak seharusnya menyiksa gadis kecil seperti Danee yang baru saja masuk kesekolah ini. Jadi jangan salah sangka.”

“siapa yang salah sangka? Aku tau, tapi menurutku caramu itu salah. Atau kau memang memiliki sisi lain dikepribadianmu? Disamping kau dingin dan tak dapat diusik, kau juga… jahil?”

Skak-mat.

Sehun menyeringai, membuat Sumin meremas ujung blazer-nya. Mencari jawaban yang masuk akal untuk berbohong. Bahwa memang benar ucapan Sehun tadi, hanya saja Sumin tidak mau mengakui didepan murid baru ini kalau dirinya memang sedikit.. nakal.

“Oh?” Sehun mengangkat kedua alisnya. “gwenchana. Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa.”

“sebenarnya, makhluk apa kau?” tanya Sumin to-the-point. Pertanyaan yang sejak tadi pagi ingin ia utarakan pada Sehun, dari sejak pertama ia menatap Sehun dan menemukan kejanggalan disana. Dan kini, ia bisa melihat ada lingkaran berwarna hitam ditepi bola mata Sehun yang berwarna cokelat kemerahan.

“kau… manusia supernatural.” Sumin menjawab pertanyaannya sendiri. Ia tenggelam dalam mata Sehun yang tajam dan tampak memikat.

you got it.” Tepat saat Sehun menyelesaikan kalimatnya, bunyi bel terdengar. Sehun berlalu dari hadapan Sumin dan dengan sengaja mengambil botol minuman dari tangan Sumin. Sumin menyadarinya dan langsung berbalik untuk protes, tapi Sehun sudah meneguk seluruh minumannya dan melemparkan botol tersebut tepat kedalam tong sampah.

Sumin menghela nafasnya kemudian merengut.

“kau menyebalkan…Oh Sehun.”

***

“Oh Sehun! Sampai jumpa besok!” Sehun melambaikan tangannya kemudian tersenyum kearah kumpulan gadis yang berjalan menuju mobil mereka, pita dengan warna yang mencolok sangat kentara dirambut mereka walaupun dilihat dari jarak yang cukup jauh. Sehun hanya menggelengkan kepalanya begitu gadis – gadis itu masuk kedalam mobil.

Menjadi murid baru memang cukup menyusahkan bagi Sehun, walaupun semua siswa disekolah ini menerimanya dengan baik dan ia juga bisa beradaptasi dengan mudah tetapi respon murid disekolah ini bisa dikatakan… cukup berlebihan.

Sehun hanya bisa menghela nafasnya ketika tadi ia berjalan disepanjang koridor, setiap gadis yang ia lewati sebagian besar mengerling kearahnya. Tapi ia mengerti. Oh Sehun mengerti kalau sejak dulu ia selalu menjadi idola dimanapun ia berada, seperti yang Lay katakan di Macau.

“menyenangkan bukan?”

Sehun menolehkah wajahnya dan mendapati Zelo duduk di tepi koridor, tepat disebelah lapangan basket dengan peluh yang membasahi wajahnya dan sebuah botol minuman ditangannya. Sehun langsung menyimpulkan kalau pria itu baru saja selesai bermain basket.

Tanpa pikir panjang, Sehun duduk disebelah Zelo lalu menghela nafas. “mereka.. cukup berlebihan.” Ucapnya jujur. Zelo hanya bisa tertawa. “itu belum seberapa, besok kau masih berkemungkinan memperoleh respon yang lebih lagi.”

Dalam hati Sehun merutuk, ia cukup menyesal dilahirkan dengan wajah yang sangat tampan.

‘Aku yakin Sehun pasti sudah memiliki teman kencan.’

Sehun tertawa pelan mendengar pikiran Zelo. Zelo mengerling kearahnya, menatap Sehun dengan bingung. “Wae?”

“A-aniyo. Aku hanya merasa lucu saja pada mereka.” Jawab Sehun gugup.

“mereka?”

“Uh… yeah, gadis – gadis itu.”

“Apakah… salah satu dari mereka sudah mengajakmu pergi… atau meminta nomor teleponmu?”

Sehun mengangguk. “ya. Nana. Gadis dengan rambut blonde itu tadi menghampiriku di kantin, lalu kami berbicara kemudian.. entahlah, dia mengajakku pergi malam sabtu besok.” Sehun mencoba mengingat – ingat wajah Nana—karena terlalu banyak gadis yang mampir ke mejanya tadi—dan ia sedikit terkejut saat mengetahui kalau Nana juga memiliki sixth sense. Sayang, Sehun tidak bisa membaca pikirannya karena mereka sama – sama manusia supernatural jadi Sehun tidak tau apa motif Nana mengajaknya pergi berdua.

“sudah kuduga.” Kata – kata yang meluncur dari mulut Zelo langsung membuat Sehun menoleh kearahnya. “Ada apa dengannya?”

“dia adalah queenka disekolah ini, semua mata akan memandang kearahnya dan bersedia menjadi penggemarnya dan tentu saja itu karena kemamp—maksudku, tentu saja… karena.. dia.. cantik.” Zelo merutuki dirinya sendiri dalam hati, dan mengatakan kalau Nana adalah gadis cantik, sedikit membuatnya mual. “entahlah. Tapi ia memang sungguh terkenal disekolah ini, walaupun aku tidak tau dimana sisi menariknya.”

“pasti menjadi sebuah kebanggaan sendiri bagimu bahwa Nana mengajakmu kencan, yeah.. setelah kau mengetahui fakta tentangnya dariku barusan. Kan?” lanjut Zelo. Ia menoleh kearah Sehun, mengantisipasi jawaban dari pria itu.

“Tapi aku tidak tertarik dengannya.”

Satu jawaban yang sukses membuat Zelo menganga, ia berkedip dua kali untuk memastikan bahwa Sehun sedang tidak bercanda saat ini. Bukan… bukan karena Zelo beranggapan bahwa Nana adalah gadis yang patut dibanggakan, tapi.. mengingat bagaimana reputasi gadis itu, dan betapa cantik wajahnya adalah suatu yang cukup mustahil bagi murid baru seperti Sehun—yang belum tahu apapun—untuk tidak tertarik pada Nana.

Tapi Zelo bersyukur dalam hati, ia memiliki feeling bahwa Sehun adalah pria baik – baik dan akan sangat disayangkan kalau dia bersama Nana.

Sehun menyembunyikan seringaiannya, mengetahui kalau Zelo terkejut dengannya dan juga mengetahui kalau Nana memiliki Hypnotic ability. Menyenangkan bukan bisa membaca isi pikiran orang lain?

“itu…”

“Kenapa? Aku baru satu hari disini, aku belum bisa menentukan apakah Nana itu menarik atau tidak.”

Zelo hanya mengangguk saja sambil melihat kearah lapangan basket yang sudah kosong karena jam sekolah sudah berakhir sejak tadi, hanya ada beberapa murid yang masih berkeliaran termasuk dirinya dan Sehun sekarang.

“tapi.. temanmu itu cukup menarik.”

“teman..ku?” Zelo mengerutkan alisnya, mencoba menerka – nerka. Siapa temannya? Ia tidak memiliki banyak teman wanita, sebagian besar temannya adalah rekan basket yang semuanya adalah pria. Apakah… oh Sehun homoseksual?

Sungguh, Sehun ingin sekali tertawa keras saat ini tapi ia menyembunyikannya dengan mengatupkan bibirnya rapat – rapat. Menarik sekali bisa membaca pikiran Zelo. “aku rasa dia sahabatmu.” Ucapnya, memperjelas.

“ah! Lime? Sumin?”

Sehun hanya menyeringai dan tetap diam padahal Zelo menunggu jawabannya dengan sangat antusias. “Nugu?!” tuntut Zelo dengan menggebu – gebu.

“Lupakan. Aku hanya.. penasaran dengannya, ia terlihat misterius. Tapi untuk perkenalan kita yang masih sangat singkat ini, aku belum berani mengatakan lebih jauh.”

Zelo mendesah kecewa. Tapi ia bisa mengerti. Dan… cukup jelas kalau gadis yang Sehun maksud adalah Sumin. Meskipun ia tau, Zelo memilih untuk tutup mulut saja. Dan dengan kebetulan Sumin muncul dipandangannya, gadis itu sedang berjalan kearah Ferrari merah yang terparkir disisi kanan lapangan basket lalu memeluk seorang pria yang baru saja keluar dari mobil itu.

“bukankah itu Kim Sumin?”

Zelo menyeringai dan mengerling kearah Sehun, jelas dimata Zelo kalau Sehun memang tertarik pada Sumin. “Ya. Itu dia.”

“dan.. siapa pria itu?” Sehun memicingkan matanya menatap pria yang masih memeluk pinggang Sumin dan mengacak rambut gadis itu. Rasanya Sehun pernah melihatnya, tapi… ia tidak yakin. Dan yang membuat Sehun terkejut, Sumin tersenyum didepan pria itu. Kim Sumin tersenyum. Sehun baru pertama kali melihatnya.

He’s her brother. Kim Myungsoo.”

“Kim… Myungsoo?” Sehun mengerutkan alisnya, ia pernah mendengar nama pria itu. Setidaknya, nama itu tidak terdengar asing. Dan dengan serius Sehun mencoba mengingat – ingat…

“Chanyeol! Chanyeol!”

“Chanyeol, siapa yang datang?”

Lay masih memanggil – manggil Chanyeol namun pria itu belum muncul juga, dan sekali lagi lay menyerukan namanya. Sungguh, Chanyeol membuatnya penasaran karena tadi saat mereka sedang ramai berbincang – bincang, tiba – tiba saja Chanyeol langsung melesat keluar apartemen begitu menerima sebuah pesan di ponselnya. Dan ia hanya berkata kalau didepan ada tamu yang harus dijemputnya.

Dan dengan mengejutkan, Chanyeol muncul lagi dihadapan mereka. Dengan wajah sumringah, Chanyeol menarik seorang pria dari luar pintu dan membawanya masuk kedalam. Seketika itu juga Lay, Baekhyun dan Kris berseru.

“Donghae hyung!”

Lee Donghae langsung duduk dihadapan mereka dan menyeringai. Tanpa dipersilahkan, pria itu sudah mengambil segelas wine dari atas meja dan meminumnya sekali teguk.

“hyung! Lama sekali tidak bertemu denganmu!” seru Baekhyun dengan senyum lebar.

“Hyung, kami sudah menunggumu sejak siang. Aku kira kau tidak jadi datang.” Ucap Lay.

“Ah, aku ada sedikit urusan. Salah satu teman dekatku sedang kesulitan mengatasi adiknya yang seorang demon. Kalian tau… bagaimana menyulitkannya untuk menerima kenyataan sebagai demon kan.”

“demon?!”

Sehun yang sedari tadi diam dan tersenyum seadanya, langsung pasang telinga. ia sudah agak mabuk dan kepalanya terasa pening sehingga tidak terlalu pay attention terhadap Donghae yang baru saja datang. Tapi hal ini… menarik sekali. Sehun mengerti tentang demon, dan ia langsung menegakkan badannya ketika Kris menanyakan lebih jauh tentang demon kepada Donghae.

“nugu, hyung?”

Donghae meletakkan gelas nya diatas meja kemudian berdeham. “Dia adik perempuan dari Kim Myungsoo.”

Sehun langsung menegakkan badannya, membuat Zelo langsung menoleh kearahnya dengan dahi berkerut. Sehun ingat… ia ingat dengan Kim Myungsoo. Sewaktu itu, satu minggu sebelum Baekhyun kembali ke Korea, Donghae berkunjung ke Macau untuk keperluan bisnisnya dan sekalian ia mampir ke apartemen Lay di Macau untuk bertemu dengannya dan yang lain.

Donghae juga seorang manusia supernatural dengan kemampuan telekinesis. Namun kini ia sudah kehilangan semua kekuatannya karena berpacaran dengan manusia.

Yang dimaksud adik perempuan dari Kim Myungsoo adalah Kim Sumin.

Sehun diam tidak percaya, ia mengerling kearah Sumin yang masih berbincang dengan kakaknya ditepi lapangan basket. Sehun menatap tubuh kurus dengan milky skin itu dan menggeleng pelan. “Demon… Sumin adalah demon..”

Zelo terkesiap. Ia langsung menoleh kearah Sehun dengan tatapan tidak percaya. Darimana Sehun bisa tau? “kau mengatakan apa Sehun-ah?”

 

TBC

New chapter is up! Sorry for late publish everyone. Ah, pas liat respon di chapter 1 ternyata banyak juga yang menyayangkan kalau Kai udah mati, padahal nama dia termasuk dalam 3 cast utama di ff ini. Jadi, aku mutusin untuk buat cerita flashback dia dan sumin, memang ini udah jadi rencana sejak awal sih.. tapi kayaknya flashbacknya bakal panjang dan akan dimulai dari part depan alias chapter 3. Walaupun kai udah tinggal nama aja disini tapi peran dia penting, karena latar belakang konflik ff ini disebabkan oleh dia. Jadiiii bersiap untuk ketemu Kai dipart selanjutnya! ^^

Oh dan untuk penjelasan tentang demon, apa sih kekuatannya? Apa aja yang bisa dilakuin demon? Bakal diulas dipart depan juga. Dan buat yang penasaran sama Donghae, kalian bisa cek ff Telepathy versi 1 di ffindo/ blog saya. Atau kalo ga baca juga gapapa karena ceritanya ga ada kaitannya dengan cerita ini (walaupun masih ada hubungannya sedikit)

Dan untuk keterlambatan posting ini murni kesalahan aku dan modem aku yang katanya anti lelet itu (iya sih anti lelet tapi cepet rusak) dan… ya. Modem aku rusak sejak seminggu yang lalu atau dua mingguan lah jadi harus cari wifi dulu kalo mau publish -_- (sekalian nunggu modem baru minggu depan), satu catatan pentng… aku ini males plus procrastinate nya udah tingkat dewa, jadi jangan ragu buat nagih part selanjutnya ke aku lewat twitter. Jebolin mention juga gapaapa, tagih aja sesuka kalian biar aku nya ga males hahaha.

Enough said~ ditunggu respon kaliaaan! 🙂

Advertisements

173 responses to “[Chapter 2] The Second of Telepathy

  1. gemes deh sama nana -_-
    sehun kayak pangeran berkuda putih ni critanya 😀
    berharap lay enggak cuma sebagai pemeran pembantu (?)
    lanjut chapter 3 😀

  2. wahaa… kekuatan supranatural..
    itu nana apa-apaan sih, mentang2 punya kekuatan supranatural jadi manfaatin kekuatannya buat jahat heuuh..
    FF nya bagus, menarik.. aku suka 좋아..

  3. Wah, thor! Aku kepo nh ama dedek Zelo. Dy supernatural juga ngg’ sm kayk Sumin? Tp kok kaykx dy ngg’ bisa bca pikirn orng dech?

    Penasaran lanjutn critax. 😉

  4. Annyeong^^
    Mianhae sblumnya aqu baru komen disini karena awalnya aqu baca ff ini di wp pribadi author, dan gg tau knpa pas aqu udah tulis komentar tapi pas mau di post malah ggada -_-
    Aqu udah coba berkali2 tpi hasilnya ttp..mungkinkah gara2 aqu buka lwat hp? tpi waktu nyoba di wp atau blog lain biasanya mau :/
    Jadi harapanku semoga disini komenanku bisa kpost deh,, gg enak tau jdi sider terus…apalagi telepathy yg pertama diproteck end’nya…padahal aku kepo bgt! Jadi Donghae n krystal udah jadi manusia?! owwsepertinya udah happy ending… aqu pengen tau banget ceritanya >_<
    Huhh apa lagi yg kedua ini ada Sehun! OMG Bias gue!!! Baek Sumin juga, itu ulzzang faforitqu! genre Fantasy da supranatural juga incaranqu!! Ditambah lagi cerita ff ini benar2 KEREN!!!
    Semangat terus ya author-nim^^
    Salam kenal~ #BOW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s