Bookworm

AUTHOR: Avyhehe / Avy

LENGTH: Oneshoot

GENRE: Romance/Friendship

RATED: PG-13

Character: Cho Haera (OC), Kim Kibum (SHINee)

others: Kim Jonghyun (SHINee), Ahn Jun Ah (OC), Park Jiyeon (T-ara), Luna f(x), Wooyoung 2PM

Disclaimer: Mine, and other who inspired me.

A/N: kangen bikin FF berbau cinta monyet, tapi ga sempet bikin T.T

saya nge-share FF lama aja, udah di post di wp sendiri, tapi disini belom.

Buat yg belom baca  🙂

DON’T BE A SILENT READER, PLEASE

Dia seorang Bookworm,

hobi sekali membaca dan sangat culun

Orang ini, benar-benar aneh…

Aku memperhatikan pemuda yang duduk di sebelahku. Dia mengenakan kacamata tebal ber-frame kuno yang agak melorot ke pangkal hidungnya. Rambutnya bermodel poni miring, dan matanya sipit seperti orang Korea kebanyakan. Baju beserta kerah seragamnya  terkancing rapi sampai ke atas, terlalu rapi malah. Aku melirik ke arah bawah, kulihat celananya dinaikkan sebatas pusarnya. Dan yang paling parah—yang membuatku ingin tertawa, dia memakai sabuk dengan gesper hologram bergambar Pokemon. Cowok ini benar-benar konyol, seperti artis lawak saja. Dan cowok super culun ini adalah teman sekelasku, duduk di bangku sebelahku pula! coba bayangkan betapa suramnya diriku, harus mendapat pemandangan cowok aneh sepertinya sepanjang hari.

Aku terus memperhatikannya sambil tersenyum-senyum aneh. Sepertinya dia tidak menyadari, karena sejak pelajaran dimulai dia sibuk membaca sebuah buku tebal yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Saking tebalnya, aku hanya dapat melihat matanya karena separuh wajahnya tertutupi buku itu.

Tiba-tiba saja dia menurunkan bukunya, lalu melirik ke arahku dengan tatapan heran.

“Kenapa kau memandangiku terus? Senyum-senyum pula. Kau naksir aku?” dia mengucapkan kata-kata yang tidak kuduga sambil memandangiku tanpa ekspresi.

“Mwo??” aku mendelik. “Yang benar saja! Tipeku adalah cowok-cowok macho, bukan yang culun sepertimu!” kataku dengan nada jahat. Aku jadi geli mendengar ke GR-annya.

Kukira dia akan sakit hati mendengar perkataanku, tapi nyatanya…

“Huh… aku juga macho,” katanya sambil membetulkan kerahnya dengan gaya yang sok cool. “lihat sendiri kan?” dia lalu menyibakkan poninya seperti iklan shampoo, membuatku ingin muntah melihatnya.

“Gayamu itu membuatku mual. Culun ya culun saja!” cibirku sambil memasang wajah mengejek.

“Seperti kau cantik saja, dasar rambut kawat,” ejeknya . ZLEBB! Ucapannya yang sangat telak itu mampu membuatku membatu. Dia tersenyum puas, kemudian kembali membaca bukunya dengan serius. Entah berapa buku yang ditelannya dalam sehari.

Kurang ajar… dia… dia mengataiku rambut kawat!! Iya sih, rambutku kaku seperti kawat. Aku memang malas merawat rambutku. Keramas saja hanya 2 kali dalam sebulan, membuat rambutku semakin kaku seperti sapu. Juga karena malas merawat itulah, aku memotong rambutku diatas pundak, supaya tidak repot merawatnya.

“Oh ya,” dia menaikkan wajahnya dari bukunya, “Coba kutebak… pasti kau belum keramas minggu ini,” ucapnya sambil menjepit hidungnya.

Orang ini benar-benar kurang ajar… aku ingin menimpuknya dengan kotak pensilku.

“YA! Kalian yang di belakang, jangan bicara sendiri!” Teriak Won Seonsaengnim dari depan kelas. “…Atau kalian akan merasakan lemparan mautku!” ucapnya sambil meraih kapur terdekat.

Menurut rumor, lemparan kapur Won Seonsaengnim mampu membuatmu pingsan di kursimu, atau paling tidak membuatmu terjungkal dari bangkumu, dan aku tidak ingin merasakannya.

“Grrr… awas kau, Kim Kibum!” lirikku sebal pada pemuda yang masih asyik membaca di sebelahku. Dia melirikku sekilas, lalu tertawa, lalu membaca buku lagi. Urrgghhh… aku jadi makin sebal!!

KRIIIINGG…!!!

“Akhir-akhir ini kau dekat dengan Kibum ya, Haera.  apa kau punya perasaan yang spesial padanya?” Tanya Jun Ah, teman dekatku, membuatku sangat kaget saat jam istirahat.

“MWO??! walaupun seluruh namja di bumi ini musnah dan hanya tersisa Kibum, aku takkan sudi menikah dengannya!” teriakku sebal. Kibum tidak ada di kelas, mungkin dia pergi ke kantin. Kalaupun dia ada, itu malah lebih bagus. Biar dia tahu betapa bencinya aku dengannya.

Jun Ah tertawa dan menggeret kursi ke mejaku. “Aku ‘kan tidak bilang akan menikahkanmu dengan Kibum. Atau jangan-jangan itu memang cita-citamu?” Goda Jun Ah sambil menaruh kotak bekalnya di mejaku dan membukanya. Dia memang senang sekali menggodaku.

“YAH!! Kau saja yang jadi istrinya Kibum! Kau akan mencuci baju dalamnya setiap hari!!” aku mengambil kroket dari kotak bekal Jun Ah dan menjejalkannya ke lubang hidungnya. Jun Ah meronta-ronta dan berusaha menepisnya.

“Ok, ok, aku hanya bercanda, jangan membunuhku, Haera!” Jun Ah memamerkan kedua telapak tangannya tanda menyerah. Kami berdua tertawa.

“OMO!” aku bangkit tiba-tiba dari kursiku.

“Wae?” Jun Ah memandangku heran.

“Aku lupa membeli buku cetak Kimia! padahal setelah ini pelajaran Lee Seongsaengnim, mampuslah aku…” kataku lemas.

“Hey, kau kan bisa meminjam dulu di perpustakaan,” kata Jun Ah. Oh ya, kenapa tidak terpikirkan olehku? ucapan Jun Ah itu membuatku lega.

“Ya sudah, aku mau pinjam buku dulu. Kau tidak ikut?” tanyaku.

“Buat apa? lebih baik aku makan bekalku daripada menemanimu ke perpustakaan. Nanti aku terlihat culun,” kata Jun Ah menyebalkan.

“Ah, kau memang tidak setia kawan!” aku mendengus dan berjalan keluar kelas. Bisa kudengar tawa Jun Ah membahana di dalam kelas, namun aku mengabaikannya dan terus berjalan melewati koridor sekolah hingga sampai di depan perpustakaan.

Sebenarnya perpustakaan kami sangat luas dan nyaman, dengan AC di beberapa sudut dan tempat duduk lesehan yang dilapisi karpet empuk untuk tempat membaca. Koleksi bukunya juga bervariasi, mulai dari Buku pelajaran, ensiklopedia, bahkan komik dan novel semuanya tersedia. Buku-buku itu ditempatkan dalam rak-rak buku yang terbuat dari kayu jati dan tertata rapi. Intinya… Perpustakaan ini benar-benar T-O-P! tapi sayangnya, kebanyakan siswa yang membaca di sini adalah siswa-siswa culun, jadi seluruh anak di sekolah ini seenaknya menganggap orang yang memasuki perpustakaan adalah golongan orang culun. Huh, hukum pengecapan seperti itu masih berlaku juga.

Aku melangkah memasuki perpustakaan. Miss. Gyurim, penjaga perpus yang ramah, tersenyum ke arahku. “Tumben kau datang ke sini?” tanyanya.

“Emm… aku ingin meminjam buku kimia kelas tiga. Dimana aku bisa mendapatkannya?” aku membalas senyum Miss. Gyurim.

“Oh, di rak pojokan sana,” katanya sambil menunjuk sebuah rak di sudut ruangan. “Tapi sebaiknya kau cepat-cepat. Sebentar lagi bel masuk. Kau tahu kan, betapa mengerikannya Lee seonsaengnim itu…”

Aku tertawa. Aku bergegas menuju ke rak yang ditunjuk tadi. Aku mencari-cari judul buku yang ingin kupinjam, dan sialnya buku itu terletak di rak paling atas! hmpff…. aku terlalu pendek untuk meraihnya.

Tak kehabisan akal, aku pun melompat-lompat dengan harapan berhasil meraih buku itu. Namun yang terjadi adalah… aku malah kehilangan keseimbangan dan menabrak rak buku dibelakangku.

BRUAK!!!

Rak itu pun bergoyang, lalu terjatuh… persis ke arahku!!! aku menutup mataku. Aku bisa merasakan satu-persatu buku berjatuhan dan menimpaku, rasanya sakit sekali. Aku masih terus memejamkan mataku. Rak itu pun pasti akan menimpaku juga. Oh Tuhan… inikah akhir hidupku? akankah aku mati tertimpa rak perpustakaan?

Satu detik… dua detik… aku terus memejamkan mataku dengan pasrah,  namun tidak ada yang terjadi. Ini benar-benar aneh! namun di tengah pandanganku yang gelap, sayup-sayup aku bisa mendengar sebuah suara,

“Bodoh!”

Aku membuka mataku, namun pandanganku masih kabur. Aku mengucek-ucek mataku.

“Dasar Bodoh!” sahut suara itu lagi.

Ketika akhirnya aku dapat melihat dengan jelas, aku mendapati Kibum hanya berjarak lima senti dihadapanku.

“KYAAAAA…!!! umpfffff”

Kibum langsung membekap mulutku dengan satu tangannya. “Diam! apa kau ingin membuat keributan lagi?!” bentaknya. Aku langsung terdiam. Dia terlihat serius.

Masih dibekap Kibum, Aku bisa melihat wajahnya yang berkeringat. Dan baru kusadari, punggungnya menahan rak buku yang akan menimpaku! OMO! apa itu artinya Kibum menyelamatkanku??

“YA! sampai kapan kau mau berdiri di situ?? kau mau aku tertiban rak ini??” Kibum menyembur wajahku dengan sebal. Aku yang sadar diri langsung minggir dan menjauhi rak tersebut. Perlahan Kibum memutar badannya hingga posisinya berhadapan dengan rak yang nyaris jatuh itu, lalu dia mendorong rak tersebut hingga kembali ke posisinya semula.

“Nah, Bodoh, sekarang bantu aku membereskan buku-buku ini!” Kibum mengelap keringatnya dan menunjuk tumpukan buku yang berserakan di lantai.

Masih agak shock, aku berjalan mendekatinya dan memunguti buku-buku tersebut.  Diapun ikut membungkuk dan membantuku. Tiba-tiba aku menemukan sebuah kacamata yang sangat aku kenal tergeletak di dekatku. Salah satu lensa kacamata itu retak, dan pecahan-pecahan kecil kaca bertebaran di sekitarnya.

“Kibum! apa ini milikmu?” tanyaku sambil mengacungkan kacamata itu. Kibum menyipitkan matanya. Kurasa dia tidak bisa melihat tanpa kacamatanya.

“Ah, ya, itu milikku! kemarikan!” Kibum merebut kacamata itu lalu memakainya seperti biasa. Aku membelalak dan menjitak kepalanya.

CTAKK!!

“YAH! kenapa kau menjitakku??!” Kibum meringis sambil mengusap kepalanya.

“Dasar bodoh!! kacamata itu sudah retak, tapi kau masih memakainya?? pecahan kacanya bisa masuk ke matamu!”

“Lalu aku harus bagaimana? aku tidak bisa hidup tanpa kacamataku!” katanya dengan wajah bodoh, membuatku ingin meninjunya.

Aku menarik lengan Kibum dan membawanya keluar perpustakaan. Aku baru menyadari banyak kepala yang melongok untuk melihat kami, mungkin karena keributan yang kami buat di rak belakang tadi.

Miss. Gyurim langsung menegurku, “Haera, kau tidak apa-apa? tadi aku mendengar suara rak runtuh!” tanyanya panik.

“Tidak apa-apa, tadi aku memang menjatuhkan sebuah rak, tapi semuanya sudah dibereskan,” aku memamerkan jempolku ke depan Miss. Gyurim dan kembali berjalan sambil menarik lengan Kibum.

“YAH!” Kibum menyentakkan tangannya setelah kami keluar dari perpustakaan, membuat peganganku terlepas. “Kenapa kau tiba-tiba menarikku begitu?? masih ada buku yang belum dibereskan, ayo kembali ke dalam!” dia marah-marah dan hendak kembali ke dalam perpustakaan. Namun aku menarik lengannya lagi. “Nanti saja!! kacamatamu lebih penting!”

“Hei, hei, apa kau gila?!” Kibum terlihat bingung.

“Sudah, kau diam saja!” kataku ketus, lalu berlari ke arah gerbang sekolah, “Aku akan bertanggung jawab!”

Aku terus berlari menjauhi sekolah dengan menarik tangan Kibum, sedangkan Kibum terus mengomel sepanjang perjalanan. Aku baru tahu dia adalah namja yang sangat cerewet! sepertinya aku harus membeli penutup telinga.

“Hei, kau ingin membawaku kemana? Hei!!” teriak Kibum.

“Sudahlah, jangan banyak bicara! aku tak bisa berkonsentrasi menyeberang!”

“Tolong…! ada penculikan… tolooong…” teriaknya lebay.

PLAK!! aku tidak tahan lagi. Aku langsung menampar pipi Kibum. “Diamlah atau kutampar lagi!” ancamku.

“Huh… perempuan kasar…” sayup-sayup aku bisa mendengar gerutuannya. Tidak masalah, yang penting dia tidak berisik lagi. Aku mencegat sebuah bus lalu menaikinya, dengan Kibum tentunya, lalu kami turun di depan sebuah mall.

Kibum berjengit, “Untuk apa kau membawaku ke sini?”

“Aku ingin me-make over mu,” aku tertawa.

Kibum meraba-raba wajahnya. “Apa aku seburuk itu?” gumamnya, membuat tawaku semakin keras.

“Sudahlah, mana mungkin aku mau me-make over mu. Aku tidak membawa uang banyak,” aku menggamit lengannya lagi dan berjalan memasuki mall. Sepertinya hanya kami berdua yang memakai seragam sekolah disini. Kami benar-benar terlihat seperti murid yang membolos.

Ah! itu dia! aku bergegas memasuki sebuah optik yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. Dua orang noona yang menjaga bagian kasir terus melihat ke arah kami. Mungkin mereka mengira kami sepasang kekasih. Huwekss… sepasang kekasih? yang benar saja!!

Aku melepaskan pegangan tanganku. “Nah, sekarang pilihlah kacamata yang paling kau suka,” kataku pada Kibum.

Kibum terlihat seperti orang bingung, “Kau ingin membelikanku kacamata?” tanyanya.

“Aku kan orang yang bertanggung jawab! sudah cepatlah!” kataku sambil mendorong punggungnya. Eh, sepertinya aku mendengar orang tertawa? aku menolehkan wajahku. Kulihat kedua noona tadi tertawa sambil melihat ke arah Kibum. Astaga! aku lupa!

“Hei kau! kesini sebentar!” aku menarik seragam Kibum.

“Ada apa?”

“Sini!” aku mengulurkan tanganku ke wajahnya. Sial… aku lupa menyuruhnya melepas kacamatanya. Jadi sepanjang perjalanan tadi, dia benar-benar tampak konyol dengan kacamata yang sudah hancur sebelah.

Kibum diam saja, membiarkanku melepas kacamatanya. Aku menarik benda itu, dan… seketika aku terkesiap. Kini aku berhadapan dengan Kibum yang tidak memakai kacamata. Aku bisa melihat lekuk wajahnya dengan jelas. Dia begitu… berbeda. Aku seakan terhipnotis oleh wajahnya.

“Ya! Haera!” Kibum melambaikan tangannya di wajahku, “Kenapa kau bengong begitu? cepatlah! dan bantu aku mencari kacamata!”

“Eh, oh,” aku langsung tersadar, dan baru kusadari wajahku memerah. Ah, tidak mungkin! masa Kibum seganteng itu? aku pasti bermimpi!

Aku menuju ke sebuah konter yang memajang kacamata model baru, sedangkan Kibum menghampiri sebuah rak besar yang memajang kacamata kakek-kakek. Dahinya mengkerut, mungkin dia bingung memilih kacamata sebanyak itu.

Beberapa saat kemudian, dia berteriak memanggilku.

“Haera! kemarilah!” panggilnya. Aku langsung menghampirinya.

“Coba lihat ini!” dia memamerkan kacamata tebal yang persis dengan miliknya dulu. “Akhirnya aku menemukannya! dia mirip sekali dengan mochi!”

“Hah? mochi? apa itu nama kacamatamu?” aku menaikkan alisku heran.

“Ya, dan aku sangat menyukai kacamata seperti ini, sangat pas untuk kupakai,” Kibum memasang kacamata itu di wajahnya. Namun aku melepasnya.

“Apa yang kau lakukan??!” kata Kibum heran.

“Jangan pakai kacamata kuno seperti itu, benar-benar ketinggalan jaman!” aku mengembalikan kacamata yang dipilihnya dan menggantinya dengan kacamata pilihanku–kacamata full-frame yang ramping dengan warna merah metalik.

“Apa itu? norak sekali! tidak mau!” Kibum menggeleng keras. Tapi aku tetap memaksa dan akhirnya Kibum pun memakainya.

dan… WOW! kuberitahu, dia beratus-ratus kali lebih tampan daripada memakai kacamata tua itu.

“Bagaimana?” tanyanya.

Aku mengacungkan jempolku. “Ayo, biar kubayar kacamata itu dan segera kembali ke sekolah!” aku menariknya menuju kasir dengan perasaan puas.

Ketika aku sampai di kasir, kedua noona itu diam tidak bergerak di tempat mereka. Mereka melihati Kibum dengan tampang tak percaya.

“Aigoo…. kau jadi tampan sekali!” kata seorang noona sambil menatap Kibum genit. Aku melotot ke arah noona itu.

“Sudah menentukan apa yang ingin dibeli?” tanya noona yang satunya. Nadanya seperti ingin memakan Kibum hidup-hidup. Aku ingin meninjunya!

“Sudah, tolong bungkus kacamata ini,” kata Kibum sambil melepas kacamata pilihanku dan menyodorkannya.

“Ah!” kedua noona itu berteriak bersamaan, “Kau terlihat keren tanpa kacamata. Bagaimana kalau kau memakai contact lens saja?” tawar mereka.

Contact lens?” Kibum sedikit berpikir, “Hmm… biar kucoba…”

“JANGAN!!” teriakku. Aku langsung melempar uangku ke meja kasir, mengambil kacamata merah itu dan menarik Kibum keluar optik–tanpa menunggu kembaliannya dulu. Aku terus menarik Kibum hingga sampai di depan pintu keluar.

“Ya! kau ini apa-apaan?” tanya Kibum sambil terengah-engah. Aku menumpu lututku sambil menarik nafas dalam-dalam, dadaku naik-turun.

Aku tidak menjawabnya. Setelah nafasku kembali normal, aku mengulurkan tanganku dan memasang kacamata merah yang baru kubeli itu ke wajah Kibum.

“Berjanjilah padaku, jangan pernah melepas kacamatamu,” kata-kataku terdengar aneh.

“Hah?” Kibum mengangkat sebelah alisnya, “Memangnya kenapa? tidak mau!”

“Turuti saja kata-kataku!” bentakku kasar. Kibum terlonjak, mungkin dia kaget karena tiba-tiba aku emosi seperti ini.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil memegang pundakku. Aku mengangguk.

“Kalau begitu, ayo! Lee seongsaengnim bisa membunuh kita!”

Sekarang giliran Kibum yang menggamit tanganku dan berlari ke halte bus terdekat. Aku bisa merasakan wajahku memanas. Jantungku berdebar keras. Aigoo… entah sejak kapan perasaan ini muncul? apa aku menyukai Kibum? Tuhan… apa ini karma yang kau berikan untukku?

Kami tidak berbicara sepatah katapun di dalam bus. Aku melirik Kibum yang duduk di dekat jendela. Pandangannya terpaku pada pemandangan di luar. Aku melihat wajahnya. Kacamata merah itu benar-benar sesuai dengannya.

Tiba-tiba aku ingin menangis. Aku sadar, apa yang kulakukan tadi hanya semata karena keegoisanku. Aku tidak ingin Kibum memakai contact lens. Aku ingin dia melepas kacamatanya hanya di depanku. Aku tidak ingin…  orang lain melihat wajahnya yang sebenarnya. Tanpa kusadari, air mata menggenang di pelupuk mataku. Aku benar-benar terlihat bodoh, menangis karena contact lens. Dan itu semua karena Kibum.

“Haera?” Kibum menoleh ke arahku, wajahnya langsung berubah kaget. “Ya! jangan menangis disini! nanti orang-orang mengira aku yang membuatmu menangis!” dia jadi kelabakan sendiri. Wajar saja, Kibum belum pernah melihatku menangis. Biasanya aku marah-marah.

Aku hanya tersenyum tipis.

“Haha… mana sudi aku menangis di tempat umum!” aku tertawa hambar dan mengelap mataku.

“Lalu kenapa menangis?” tanyanya heran.

“Aku menangis karena melihatmu. Coba lihat seragammu, hahaha…” aku mencoba berbohong.

“Apa yang salah denganku??” Kibum mulai emosi.

“Sabuk pokemonmu… hahaha… celanamu juga, apa tidak kurang naik?” aku tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk celananya. Kibum merengut.

“Sialan!”

“Hahahaha…”

Begitulah, hari ini kami bertengkar dan ribut di dalam bus. Walaupun sering bertengkar, tapi aku bahagia. Setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk bersama Kibum, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Seperti biasa, aku datang sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Jun Ah sudah datang, dia terlibat pembicaraan seru dengan beberapa siswi di bangku belakang. Huh, dasar bibir penggosip. Masih pagi-pagi sudah bercerita tentang aib orang.

“Hey, kau lihat Kibum pagi ini? dia terlihat keren!” ucapan salah satu temanku itu mampu membuat telingaku membentuk corong.

“Ya, aku melihatnya! kacamatanya juga baru. Benar-benar cocok dengannya,” sahut yang lain.

“Aku lihat dia meng-hipster celananya!” WUSSHHH…. perkataan itu mampu menarikku ke tengah perkumpulan biang gosip tersebut.

“APA??!” aku mendelik mendengar kata ‘hipster’. Seorang Kibum? meng-hipster celananya?

“Hehe… istrinya datang…beri jalan, teman-teman…” Jun Ah terkekeh.

“Apa benar, dia meng-hipster celananya??” tanyaku penasaran, introgasi lebih tepatnya.

“Kau belum melihatnya? kau sih, selalu datang terlambat!” Luna menjitak keningku. Jun Ah dan Jiyeon juga ikut-ikutan.

“Ah! coba lihat kesana!” Jiyeon menghentikan kegiatannya menjitakiku dan menunjuk ke arah dua namja yang memasuki kelas. Aku melihat Kibum dan Jonghyun berjalan bersama. Mereka menuju ke bangku Kibum. Kibum lalu duduk di bangkunya, sedangkan Jonghyun duduk di bangkuku. Kurang ajar sekali, menduduki bangku orang tanpa izin.

“Kyaaa… itu kan Jonghyunnie kelas 3-2!” teriak Jiyeon lebay. telingaku nyaris robek mendengarnya.

Sementara teman-temanku memandangi Jonghyun dengan tatapan kelaparan, aku malah lebih tertarik dengan orang di sebelahnya. Ya, Kim Kibum. Benar juga! celana Kibum agak melorot hari ini, sebatas pinggang. Huh, gaya sekali dia! memangnya dia pikir itu membuatnya keren? err… memang sih, dia lebih keren dari biasanya. Tapi tetap saja gayanya culun.

KRIIINGG…. !

Bel masuk berbunyi. Aku menghampiri bangkuku, kulihat Kibum dan Jonghyun masih berbincang-bincang sambil tertawa. Aku menjambak rambut Jonghyun, berusaha mengusirnya dari bangkuku.

“Aduh…!” rintih Jonghyun, “Kenapa kau menjambakku?!”

“Ini sudah bel masuk, cepat kembali ke kelasmu, aku ingin duduk!” omelku.

“Tidak mau. Aku mau disini. Kau duduk di lantai saja,” Jonghyun melirikku sekilas, lalu melanjutkan pembicaraannya lagi dengan Kibum.

JLEGERRR…. ubun-ubunku ingin meledak karenanya. Aku memandangi Jonghyun dengan tatapan ingin membunuh.

Kibum menyikut lengan Jonghyun, “Sebaiknya kau kembali kalau tak ingin dibunuh olehnya,” dia melirik ke arahku.

“Hah??” Jonghyun melongo, “Benar juga… dia kan cewek preman… kalau begitu sampai ketemu nanti!” Jonghyun melambai ke arah Kibum sambil tersenyum, kemudian melangkah keluar kelas sambil tebar pesona pada siswi di kelasku. HEH… apa katanya tadi? cewek preman?

Bruk! aku membanting diri di kursiku dengan perasaan kesal. Kibum terus memperhatikanku dan membuatku salah tingkah.

“Apa lihat-lihat?!” kataku ketus.

“Tidak apa-apa. Kau terlihat aneh saat marah, hahaha…” tawanya meledak. Aku memperhatikannya, dia tampan sekali saat tertawa. Beberapa saat kemudian aku tersadar dan langsung membuang muka.

Sepanjang pelajaran, aku tidak bicara sama sekali dengan Kibum. Aneh sekali, padahal biasanya kami selalu ribut karena hal-hal kecil. Aku meliriknya, dia sibuk dengan buku tebal yang dibacanya. Novel misteri Agatha Christie, dia pernah mengatakannya padaku. Aku pernah mencoba membacanya, tapi kepalaku langsung pusing karena bahasanya yang tidak sesuai dengan kemampuan otakku. Tapi Kibum menyukainya.

Aku merasa bosan. Aku ingin mengganggu Kibum, tapi terlalu canggung. Bagaimana bisa aku mengganggunya kalau aku selalu gugup tiap kali melihatnya?

pluk… sesuatu mendarat di rambutku. Aku mengambilnya, dan ternyata itu adalah bola kecil yang terbuat dari kertas.

pluk… bola kertas yang lain mendarat di rambutku. Selanjutnya bukan hanya bola kertas saja, potongan penghapus juga mendarat di kepalaku.

“YA!!” aku menoleh ke arah Kibum. Kulihat dia bersiap-siap melempar bola kertas yang selanjutnya.

“Ups…” dia langsung menyembunyikan tangannya.

“Apa yang kau lakukan? iseng sekali!!” aku marah, sedangkan Kibum malah tertawa.

“Habis rambutmu lucu sekali, barang apapun yang kulempar, pasti menyangkut di rambutmu, hahaha…”

“Jangan menghina rambutku! aku tahu rambutku memang kasar!” aku melempar pensil mekanikku ke arahnya. Sial! dia tidak pernah berhenti menggangguku. Aku memalingkan wajahku ke papan.

“Haera-ah,” panggilnya.

“Apa??” tolehku dongkol.

“Hari ini kau aneh sekali. Kenapa jadi diam begitu? rasanya sangat sepi,” kata Kibum. Deg… aku tidak tahu harus menjawab apa. Benar juga, rasanya sepi sekali. Aku tidak mau mengakuinya, tapi aku senang diganggu oleh Kibum.

“Waeyo?” tanya Kibum menyadarkanku.

“Itu karena kau selalu menghinaku! Aku sebal!” kataku ketus.

“Kenapa? kau tak suka?” tanya Kibum lagi.

“Ya, dan jangan pernah menggangguku lagi! aku tak suka diganggu orang culun sepertimu!” aku memalingkan wajahku. Kibum terdiam. Dia tidak mengatakan apa-apa.

Oh Tuhan… kenapa aku begitu jahat? aku tidak pernah benar-benar marah padanya. Apalagi aku mengatainya culun. Dia memang culun, sih. Tapi sepertinya dia terluka oleh perkataanku. Otokkhae??

Hari demi hari berganti. Minggu demi minggu berganti. Aku tidak pernah berbicara lagi dengan Kibum sejak saat itu, tapi kami masih duduk bersebelahan. Aku merasa sangat bersalah, tapi tak berani berhadapan dengannya. Kibum juga tidak pernah menyapaku. Setiap kali mata kami bertemu, dia selalu memalingkan mukanya. Aku merasa terabaikan.

Pulang sekolah siang itu, aku menghampiri bangku Jun Ah. Dia masih sibuk membereskan isi tasnya.

“Ada apa, Haera?” tanyanya.

Aku tidak menjawab. Aku malah menangis di atas mejanya.

“Haera? kau kenapa? Haera!!” Jun Ah langsung panik. Untungnya kelas kami sudah sepi, jadi aku bisa menangis tanpa malu. Aku terus menangis, air mataku tak bisa berhenti. Jun Ah akhirnya membiarkanku dan duduk di sebelahku, menungguku untuk mulai berbicara.

“Jun Ah…” isakku, “Aku rindu dengan Kibum…”

Aku memang sangat rindu padanya. Rindu bertengkar, rindu adu mulut, rindu kebaikannya, bahkan aku masih ingat kejadian semester awal dulu sebelum aku membelikannya kacamata. Dia mengajariku mengerjakan soal matematika karena aku yang terlalu bodoh dalam pelajaran exact. Terkadang kata-kata ejekan keluar dari mulutnya, seperti ‘bodoh’  atau ‘idiot‘ atau semacamnya, tapi dia tetap mengajariku di kelas hingga tanpa disadari langit sudah berubah gelap. Untung saja Shindong ajusshi, satpam sekolah, masih bersedia membukakan gerbang sekolah untuk kami.

Tangisku makin keras. Aku terus meracau tentang Kibum di depan Jun Ah, sedangkan Jun Ah berusaha menenangkanku. Jun Ah sudah tahu aku menyukai Kibum, seminggu setelah aku membelikan Kibum kacamata baru. Saat itu aku sudah tidak berbicara lagi dengan pemuda itu, dan aku merasa sangat kesepian.

Jun Ah menepuk-nepuk pundakku, “Sudahlah… bagaimana kalau kau nyatakan saja perasaanmu yang sebenarnya? sebentar lagi kelulusan, jangan sampai kau menyesalinya seumur hidup…” sarannya. Aku mendongak dan menatapnya.

“Maksudmu ‘menembak’-nya? apa aku punya keberanian untuk itu?” tanyaku ragu.

“Tidak usah menembak juga tidak apa-apa. Yang penting kau harus memperbaiki hubunganmu dengannya. Kalian tidak bisa selamanya seperti ini,” kata Jun Ah. Tak kusangka dia bisa mengatakan hal sebijak itu.

Aku mengusap air mataku. Benar juga, aku harus minta maaf pada Kibum. Besok aku akan minta maaf padanya.

“Kalau terlalu canggung, kau bisa mengiriminya surat,” tambah Jun Ah. “Aku akan membantumu,”

Aku tersenyum tipis. Benar-benar ide yang bagus. Mungkin itu akan berhasil.

Esoknya, aku dan Jun Ah pergi ke perpustakaan sekolah saat jam istirahat. Kibum memang sering menghabiskan waktunya disini. Ketika berjalan di dalam perpustakaan, aku melewati tempat dimana aku nyaris tertimpa rak dan Kibum menolongku. Wajahku memanas, namun Jun Ah menyuruhku untuk tidak menangis.

Kami menuju sebuah tempat di sudut lain perpustakaan, yang aku kenal sebagai tempat favorit Kibum ketika membaca. Aku bisa melihat tasnya tergeletak begitu saja di atas karpet, mungkin dia sedang mencari buku bacaan.

“Cepatlah, aku akan berjaga!” Jun Ah memberi sinyal kepadaku.

Aku langsung mengeluarkan sebuah surat dari sakuku. Surat berwarna merah muda. Aku bertekad, tidak hanya akan meminta maaf, tapi juga mengatakan seluruh isi hatiku pada Kibum.

Aku pun berjalan mendekati tas Kibum, berniat membukanya dan memasukkan surat itu. Namun belum sempat aku membuka risletingnya, terdengar suara langkah kaki dan sayup-sayup orang berbicara,  semakin lama semakin mendekat. Aku bisa merasakan lenganku ditarik seseorang. Jun Ah menarikku dan mengajakku bersembunyi di balik rak.

“Kenapa kau lama sekali! Kibum sudah datang!” bisiknya ke arahku.

Dua orang siswa muncul dari balik tikungan dan berjalan ke tempat kami. Kibum dan Jonghyun. Ya, mereka selalu bersama-sama sejak hari pertama SMA. Aku tak mengerti, kenapa kedua orang itu bisa menjadi teman dekat? Kibum yang culun dan Jonghyun yang playboy. Tapi buktinya mereka cocok-cocok saja.

“Lihat mereka berdua, seperti pasangan homo saja,” kata Jun Ah. Aku langsung membekapnya karena jarak Kibum dan Jonghyun sudah dekat dengan kami.

“Kibum, Ppali! bereskan tasmu dan kita makan di kantin,” perintah Jonghyun.

Kibum mendengus dan meraih tasnya.

“Ne, ne, dasar bawel… aku juga lapar, tahu!” sahut Kibum.

Aku dan Jun Ah masih terus menguping. Sampai akhirnya kulihat Jonghyun merengkuh pinggang Kibum dan mengajaknya duduk di karpet. Hah? apa yang akan dilakukannya?? tidaaaak…. aku tidak menyangka hubungan mereka sejauh ini!

“Ya! apa yang kaupikirkan?” Jun Ah mencubit pipiku, “Mereka hanya ingin membicarakan sesuatu, jangan berharap yang aneh-aneh!”

Aku merengut. Benar juga, sepertinya mereka cuma ingin membicarakan sesuatu. Aku menempelkan tanganku di telinga membentuk corong, supaya bisa mendengar lebih jelas.

“Hey, aku dengar ada anak kelas satu yang cantik seperti model. Aku benar-benar penasaran! semoga di kantin nanti kita bertemu dengannya,” kata Jonghyun dengan suara lirih.

“Ah, kau ini! pikiranmu hanya perempuan saja!” Kibum menampol kepala Jonghyun. Jonghyun terkekeh.

“Kau sendiri?” tanya Jonghyun.

“Maksudmu?”

“Kau tidak pernah menyukai perempuan manapun. Atau jangan-jangan kau gay?” goda Jonghyun.

“Enak saja! aku masih normal!”

“Kalau begitu, tipemu yang seperti apa?”

Deg! jantungku langsung berhenti. Sebentar lagi aku akan mengetahui tipe perempuan yang diidamkan oleh Kibum.

“Hmmm…” Kibum terlihat berpikir, “Kurasa yang rambutnya panjang dan lembut, tubuhnya tinggi, wajahnya cantik, juga berdada besar.  Tambahan;  sifatnya juga harus lembut, tak seperti preman…” jawabnya.

ZLEBBB… seribu belati serasa menancap di sekujur badanku. Tipe yang disebutkannya sangat berlawanan denganku! hanya dadaku yang memenuhi kriteria. Selebihnya seperti sifatnya, tingginya, bahkan RAMBUT-nya sangat berlawanan denganku.

Aku langsung merosot dan terduduk di lantai. Kibum dan Jonghyun sudah keluar dari perpustakaan.

“Haera, mereka sudah keluar. Hari ini kau tidak beruntung. Mungkin lain ka–HAERA??” Jun Ah panik melihatku terduduk di lantai dengan keadaan mengenaskan. Aku membenamkan wajahku pada lututku. Rasanya aku ingin menangis lagi… Ah, tidak boleh! dulu aku tidak cengeng seperti ini. Aku tak boleh menangis!

“Haera…” Jun Ah mengusap pundakku.

“Sudah berakhir…” kataku, “Sudah berakhir… aku tak akan pernah mengirimkan surat ini… aku akan melupakan Kibum…”

Jun Ah mendelik. “Apa katamu?! aku sudah bilang padamu, jangan pernah menyerah!”

“AKU BUKAN TIPE YANG DIIDAMKANNYA!” entah kenapa aku merasa sangat emosi, “BUAT APA AKU MENERUSKAN INI KALAU SUDAH TAHU AKHIRNYA?!!” teriakku. Banyak mata memandang ke arah kami, tapi aku tidak peduli. Hatiku sangat panas.

“Haera…” Jun Ah menatapku prihatin, “Haera… tunggu!!”

Aku berlari keluar dari perpustakaan sambil menahan tangis. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak ingin bertemu dengan Kibum lagi. Tidak akan pernah!

Hari kelulusan telah tiba. Kami, para murid kelas tiga, dengan sukacita melemparkan topi kelulusan kami ke udara. Lega sekali rasanya. Akhirnya perjuangan kami selama tiga tahun terbayar juga.

Aku menghampiri umma dan appa. Mereka berdua sudah memesan seorang kameramen  untuk mengabadikan kelulusanku. Aku berdiri dan diapit oleh mereka berdua, tersenyum, dan… jeprettt… foto kami pun diabadikan.

Nah, sekarang adalah saatnya untuk konvoi. Aku berlari menghampiri teman-temanku yang sudah gatal semprot-semprotan dengan cat kaleng. Setelah beberapa kegaduhan dan keributan yang kami buat, akhirnya kami semua menuju ke parkiran. Aku menghampiri Jun Ah yang sudah siap di atas motor skuternya. Aku belum dibolehkan membawa kendaraan sendiri, karena itu aku menumpang Jun Ah saja. Luna berboncengan dengan Jiyeon. Dan di sudut parkiran, aku bisa melihat Jonghyun berboncengan dengan… Kibum. Ya, Kibum. Orang yang selalu ingin kulupakan. Hubungan kami sudah semakin renggang. Sebulan yang lalu aku meminta Won seongsaengnim, wali kelas kami, untuk pindah tempat duduk. Lalu seperti inilah kami sekarang, benar-benar tidak saling mengenal.

Tiiin…tiiin….

Jaejin, ketua konvoi kami sudah membunyikan klaksonnya. Itu berarti konvoi dimulai! Jun Ah langsung memacu motornya dan meliuk-liuk melewati kendaraan yang lain.

“Jun Ah, pelan-pelan! aku tak mau pulang tinggal nama!” teriakku sambil berpegangan erat-erat padanya.

“Sudahlah, kapan lagi bisa begini?” Jun Ah meringis dan malah mempercepat laju motornya. “Wooohoooooo….” teriaknya seperti orang gila. Aku hanya menutup mataku dan berdoa semoga aku masih berada di dunia dan bisa melihat hari esok.

“Sudah kau putuskan melanjutkan sekolah dimana?” tanya suara di seberang. Jiyeon.

“Ya, aku ingin memasuki jurusan seni,” jawabku. “Sepertinya Inha University adalah pilihan yang bagus…”

“Oh ya? benarkah? aku juga disana. Jurusan akting, karena aku ingin menjadi artis!” kata Jiyeon semangat. Aku mendengus. Jurusan yang sama seperti yang dipilih Jun Ah.

“Ya sudah, aku ingin menjalani masa percobaan dulu. Nanti aku terlambat. Dah,” ujarku pada Jiyeon dan memutus sambungan telepon. Aku menyambar tasku yang tergeletak di kursi ruang tamu dan bergegas pergi.

“Kau sudah sarapan?” teriak umma dari arah dapur.

“Sudah, aku pergi dulu!” balasku.

“Hati-hati!”

Aku sampai di depan Universitas Inha. Inilah kampus yang sejak dulu kuidam-idamkan, dan akhirnya bisa diterima di jurusan musik. Sudah lama aku mempelajari piano klasik dan berharap bisa mengembangkan kemampuanku di sini.

Aku memasuki ruang kelas. Pelajaran pertama adalah teori, dan mungkin itu akan sangat membosankan. Aku memilih duduk di meja paling belakang supaya bisa tidur. Hehe… seperti waktu di SMA saja. Tiba-tiba semua memori kembali berputar. Aku ingat masa-masa dimana aku dan Kibum sering berkelahi. Sial! sadarlah, Haera! Kibum hanya tinggal kenangan sekarang. Aku bahkan tidak tahu dia kuliah dimana, atau mungkin dia sudah bekerja. Aiissh…  kenapa aku terus memikirkannya?
Tapi aku tak bisa memungkiri, betapa aku sangat merindukannya. Sudah dua bulan ini aku tak melihatnya. Aku ingin sekali mendengar ejekannya, aku ingin sekali dilempari bola kertas olehnya, aku ingin… Ah! sudahlah! semua kenangan ini membuatku sedih.

Aku menoleh ke meja sebelahku. Kudapati seorang pemuda yang sangat tampan sedang duduk disana. Aku terus memperhatikannya, membayangkan kalau dia adalah Kim Kibum yang selama ini kukenal, namun itu tidak mungkin.

Pemuda itu mendongak. Dia mengangkat sebelah alisnya.

“Ada apa?” tanyanya. “Ada yang aneh?”

“Emm… tidak apa-apa,” kataku canggung. Omona! dia tampan sekali! aku berani bersumpah! Penampilan dan cara berpakaiannya sangat keren, seperti model. Kulitnya putih susu, rambutnya acak-acakan, dan matanya berwarna… biru? apa dia orang luar negeri? tapi bentuk matanya sipit.

Dia mengeluarkan sebuah buku tebal dari kolong mejanya. Buku ensiklopedia. Orang ini membacanya dengan sangat serius, mengingatkanku pada Kibum. Astaga… sadarlah!! kenapa isi kepalaku hanya Kibum, Kibum, dan Kibum??

“Hai, Key!” teriak seseorang dari luar pintu setelah dosen yang mengajari kami keluar. sekarang adalah jam istirahat. Orang itu menghampiri meja pemuda di sebelahku. Oh, ternyata namanya Key? unik sekali…

“Kau tidak lapar? ayo makan!” kata orang itu.

“Sebentar! tinggal sedikit lagi!” kata Key sambil membolak-balik buku bacaannya.

“Ah, kau ini! dasar kutu buku!” dia merebut buku yang dipegang Key dan mengibas-ngibaskannya di udara.

“Ya! Wooyoung! kembalikan!” teriak Key marah. Wooyoung langsung berlari keluar sambil tertawa, sedangkan Key mengejarnya. Mereka seperti anak kecil saja.

Karena merasa bosan, aku juga keluar dari kelas. Namun karena tidak tahu harus kemana, akhirnya aku melangkah ke kantin.

“Haera!!” aku melihat dua orang melambai kearahku dari meja kantin. Aku menghampiri mereka, Jun Ah dan Jiyeon. Mereka memang satu universitas denganku, tapi di jurusan yang berbeda. Temanku yang lain, Luna, melanjutkan studinya di inggris. Orangtuanya memang kaya.

“Kau lama sekali!” gerutu Jun Ah, “Sudah kupesankan ddukbokki untukmu!”

“Hehe… mianhae, dosenku tadi terlalu bersemangat,” jawabku.

“Huuu… makanya jangan pilih jurusan musik…” Jiyeon menoyor pundakku. Beberapa saat kemudian, makanan yang kami pesan datang dan kami makan dengan lahap sambil berbincang-bincang. Jun Ah menceritakan kisahnya yang dikejar anjing tadi pagi, membuatku dan Jiyeon tertawa. Apes sekali nasibnya.

“KYAAAAAAA….” tiba-tiba terdengar teriakan segerombolan yeoja. Aku dan teman-temanku yang penasaran melongokkan kepala untuk melihat apa yang terjadi. Aku melihat Key, teman sejurusanku, datang ke arah kantin bersama Wooyoung. Oh, mungkin itu yang membuat para yeoja histeris. Dimana ada namja yang tampan pasti selalu begitu.

“Ah, dia imut sekali,” kata Jun Ah sambil menunjuk Wooyoung.

“Aku lebih suka yang di sebelahnya,” Jiyeon ikut nimbrung dan menunjuk Key.

“Itu kan teman satu jurusanku,” timpalku sambil melanjutkan makan ddukbokki. Jun Ah dan Jiyeon memandangku bersamaan.

“BENARKAH??”

“Ya,” sahutku singkat. Mereka berdua langsung ramai sendiri dan mengintrogasiku. Dasar perempuan-perempuan genit.

“Ouch…” rintihku tiba-tiba sambil memegangi perutku.

“Ada apa?” tanya kedua temanku.

“Perutku sakit, sepertinya kebanyakan makan, tadi pagi aku makan dua piring,” aku meringis.

“Dasar…” kata Jun Ah, “Ya sudah, cepat ke kamar mandi sana!”

Aku mengangguk. Aku langsung berlari ke toilet yeoja dan membuang semua isi perutku. Haaah… lega sekali rasanya. Setelah merapikan baju sebentar, aku keluar dari toilet dan menuju ke kelas berikutnya.

BRUAKK!!

Tiba-tiba aku menabrak seseorang di tikungan. Kami berdua terjatuh.

Aku mengaduh dan berusaha berdiri. Tiba-tiba orang yang kutabrak tadi mengulurkan tangannya ke arahku. Aku mendongak dan langsung kaget, itu kan Key, teman satu jurusanku!

“Dasar rambut kawat… kau memang selalu ceroboh!” setelah menolongku dan mengomel sebentar, ia berbalik pergi.

Rambut kawat… rambut kawat… “TUNGGU!” secara reflek aku menarik lengannya dan menghentikan langkahnya.

“Ada apa?” tanyanya heran. Nada ini… suara ini… astaga! Kibum?? apa orang yang dihadapanku ini adalah Kibum? ‘Key’ adalah Kibum??

Aku langsung berhamburan memeluknya. Key terlihat kaget, namun dia balas memelukku. Aku sangat ingin menangis. Aku memukul-mukul dadanya dan memarahinya.

“Kenapa kau tak bilang kalau kau adalah Kibum!!” aku merasa kesal karena dibohongi, tapi aku juga sangat senang. Key, ah bukan, Kibum, akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu.

“Hah? jadi kau tidak sadar ini aku?? aigoo…kau juga tetap bodoh seperti dulu!” Kibum mengatakan hal itu dengan wajah tak percaya.

“Siapa juga yang akan mengenalimu dengan penampilan begini! Jun Ah dan Jiyeon saja tidak tahu!” kataku kesal. Air mataku mulai mengalir. Aku terisak di pelukannya.

“Kenapa kau menangis? sebegitu senangnya bertemu lagi denganku?” Kibum tertawa.

“Ya! aku memang sangat merindukanmu!” kali ini aku berkata jujur.

Kibum tersenyum dan mengeratkan pelukannya. “Fiuh…baguslah…” gumamnya.

“Eh? apa katamu tadi?” aku menaikkan alisku.

Kibum tampak salah tingkah. Dia melepaskan pelukannya dariku, kemudian mundur selangkah.

“Ehm… sebenarnya…” Kibum menggaruk tengkuknya, “Aku sudah menyukaimu sejak dulu. Aku senang kau merindukanku,” katanya malu-malu. Aku menganga. Benarkah itu? dia tidak mempermainkanku, kan?

Eh, tunggu! jangan-jangan dia cuma ingin mengisengiku… bukannya tipenya tidak sepertiku?

“Apa kau sungguh-sungguh? meski rambutku tidak panjang dan lembut, tubuhku tidak tinggi, dan sifatku seperti preman, kau serius menyukaiku??” tanyaku memastikan.

“Hah? rambut lembut? tubuh tinggi?” Kibum mendelik dan terlihat syok, “Maksudmu yang waktu itu? kau menguping ya!!”

Aku mengangguk. Tawa Kibum meledak.

“Kenapa malah tertawa? jawab aku!” bentakku sebal.

Kibum menghentikan tawanya dan menatapku, “Jika aku mengatakan tipeku adalah yeoja berambut kawat dan sifatnya seperti preman, semuanya pasti langsung tahu siapa yang kumaksud! kau ini memang benar-benar bodoh!” Kibum mencubit pipiku lalu tertawa lagi.

“Sialan!!” aku mengusap pipiku, lalu ikut tertawa. Kibum memelukku lagi dan aku membiarkannya.

Sekarang aku punya namjachingu. Dia sangat tampan dan gaul. Meskipun menyebalkan, aku sangat menyayanginya.

Hari itu juga, aku bertanya pada Kibum kenapa dia tidak mau memegang janjinya. Aku sudah menyuruhnya untuk tidak melepas kacamatanya, tapi buktinya  dia malah menggunakan contact lens. Warna biru pula! yucks… aku masih mengingat jawabannya saat itu dan aku tersenyum-senyum sendiri.

“Tentu saja! tidak ingin melanggar janji yang kau buat itu karena aku menyukaimu. Selama SMA aku tidak pernah melepasnya. Sejak kau menghinaku, aku memang marah padamu. Aku sebal kau menyebutku culun. Aku tak mau berbicara denganmu lagi. Setelah itu aku mulai belajar memakai tindik, mengubah gaya rambut dan cara berpakaianku, dan berlatih menjadi anak yang keren. Jonghyun yang mengajari itu semua. Tapi kau tidak mau peduli sampai hari kelulusan kita. Aku pikir kau memang tidak mau bicara denganku lagi. Aku benar-benar putus asa. Aku tak pernah memakai kacamata pemberianmu lagi dan berharap bisa melupakanmu, tapi aku tak bisa. Lalu aku sangat terkejut ketika mengetahui kita satu kampus, satu jurusan pula. Tapi aku sangat senang—YA…!!! kau merekam perkataanku?? dasar kurang kerjaan! Ya, HAERA!! cepat hapus!!” Key merebut ponselku dari tanganku dan menghapus rekamannya. Aku tertawa. Sebenarnya sayang sekali, pengakuannya ini tidak bisa kuabadikan. Tapi biarlah, yang penting aku bisa terus bersama dengannya.

______________

FIN

______________

Kangen mas konci T_____T *colek2 pantat key*

Ceritanya abal banget… endingnya juga aneh, mian ngepost FF gak mutu TAT

komen, please? I love you full :*

Advertisements

46 responses to “Bookworm

  1. Hihi si Apin yang barusan stalker daku langsung manggil-manggil nama kkk. Eh Apin Apin Apin wkwk asyik ah, panggil Apin aja biar kembaran sama Upin Ipin Apin si kucing.-.
    Kkk, iya, apalagi ada pakunya. Pasti tu orang mau sok-sok’an jd limbad tp gagal ya -_-
    Sip, gpp pin. Buat yang lain lg ya pin 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s