[Chapter 2] Love in Love

Title: [Chapter 2] Love in Love

Author: hyeri

Cast:

  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Lee Taemin as Kim Taemin (SHINee)
  • Choi Sin Ya (OC/You)

Genre: Romance, etc. (Spesifik: Genre yang cocok untuk remaja ._.)

Rating: T (PG15)

Length: Chapter 2/?

Disclaimer: Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

A/N: Tat-tarat-tara~~ *drum roll* Chapter 2-nya akhirnya selesai dan akhinya dipublish! Semoga suka dan dicintai ._. Akhirnya, deadline satu minggu untuk selesain ini, bisa dituruti juga lol Demi kegiatan MOS yang nantinya menyita waktu, diputuskan untuk mempublish Chap 2-nya sekarang, hoho. Untuk para readers yang telah menanti-nanti kabar si kembar TaeKai dengan si gadis cantik (?) Sin Ya, ini saya berikan Chap 2-nya. So, enjoy this fanfiction and sorry for any typo there. Once again, enjoy!

Prolog | Chapter 1 

***

‘Ada apa sebenarnya denganmu, Kai?’ –batin Sin Ya.

Matanya mungkin terfokus dengan pembahasan yang dilakukan Guru Shin. Namun jika dilihat lebih dalam lagi, matanya masih menyimpan rasa penasaran dan gelisah terhadap Kai.

‘Haruskah aku berbicara dengannya sepulang sekolah ini?’

Sin Ya mengetuk-ngetukkan pulpen hitam miliknya ke atas paha kanan kecilnya sambil mengigit bibir bawahnya.

Sikap Kai sebenarnya bukan hari ini saja terlihat aneh. Sin Ya sudah menyadarinya sejak lama, bahkan mungkin Taemin tidak menyadarinya. Sin Ya menganggap Kai aneh karena terkadang ia lembut, kasar, sensitif, pendiam dan kembali riang sejak beberapa tahun setelah Sin Ya menetap di rumahnya.

Walau sepertinya sikap Kai memang seperti itu, namun kali ini berbeda. Kai terlihat lebih aneh. Sin Ya sudah beberapa kali mengungkapkan rasa penasarannya kepada Taemin. Namun apa daya, Taemin hanya menjawab dengan santainya ‘itu hanya perasaanmu saja,’ atau ‘ia bahkan memang seperti itu sejak kami berdua masih di dalam kandungan’. Konyol.

Setelah sekitar 30 menit, akhirnya pelajaran bahasa Korea oleh Guru Shin berakhir dengan ditandai oleh bel otomatis sekolah. Dengan itu, Kai pun masuk ke dalam kelas dengan tak bersemangat. Well, ia memang bukan orang hiperaktif seperti Taemin.

Sin Ya diam-diam melirik Kai yang duduk di belakang dari ujung matanya. Karena jika ia menoleh, Kai pasti akan balik menatapnya sinis. Betapa kenyangnya Sin Ya dengan tatapan sinis dari namja dingin tersebut yang selalu ia dapatkan. Kai benar-benar tipe orang yang keras. Entah mengapa.

“Sstt! Sssstt! Ya!” Sin Ya menoleh dan mencari sumber suara itu datang. Ia menoleh ke arah kanan dan mendapati Taemin yang memanggilnya.

“Mworago? (Ada apa)?” ucap Sin Ya yang terdengar seperti bisikan.

“Aku lapar…” jawab Taemin dengan wajah tanpa dosanya.

Sin Ya menepuk jidatnya sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh, Taemin benar-benar membuatnya pusing.

“Jika kau lapar, makanlah!” jawab Sin Ya dengan sedikit menaikkan volume suaranya.

Taemin berdecak kecil. Wajahnya sungguh terlihat menggemaskan. Dengan rambut tipis blonde kuningnya yang menambah keimutan wajahnya, dan ketika ia tertawa, matanya membentuk bulan sabit dan terkesan bahwa matanya hilang entah kemana. Tapi selain terkenal dengan keimutannya, ia juga terkenal dengan kecantikannya. ‘Beauty boy’ memang pantas digelarkan kepada Taemin. Perawakan kurus dan kulit putih pucatnya membuat para gadis di sekolah merasa iri. Bahkan wajah Taemin terlihat begitu lugu dan manis. Kesan ini menambah daftar keirian gadis-gadis di sekolahnya.

“Apa sepulang sekolah nanti, kau mau kita bersama-sama pergi makan?” ajak Sin Ya.

Taemin terdiam dan tak menjawab ajakan Sin Ya. Yang dilakukan Taemin saat ini adalah manatap dalam Sin Ya. Walau Sin Ya mungkin ‘sering’ mendapatkan tatapan seperti itu dari Taemin setiap harinya, namun kali ini mata Taemin seolah tak berkedip dan hanya memperhatikan Sin Ya sambil mengulum senyumannya.

“Bisakah kau tersenyum?” ucap Taemin tiba-tiba—membuyarkan lamunan Sin Ya.

Sin Ya memiringkan kepalanya dan bertanya-tanya dalam hati ‘apa maksud anak ini’.

“Kau… menyuruhku untuk… apa?!” kata Sin Ya sekedar untuk membenarkan ucapan Taemin sebelumnya.

“Tersenyum-lah sekarang. Ah, apakah dirimu tuli sekarang?” jawab Taemin yang sontak melebarkan mata Sin Ya karena sindiran halus dari sahabatnya sekaligus sepupunya ini.

Sin Ya mengulur waktunya sebentar lalu berucap, “Baiklah, Taemin si jamur.”

Gadis manis itu menarik sedikit kedua ujung bibirnya ke atas dan memberikan tekanan dalam bibirnya membentuk layaknya bulan sabit. Matanya yang sedikit sipit, kini dengan jelas terlihat lebih kecil. Kedua pipi yang sering menjadi sasaran tepat cubitan Taemin ini pun membentuk lekukan tulang pipinya yang sempurna, sungguh menawan. Ia tersenyum.

Taemin lagi-lagi dibuat tidak berkedip untuk beberapa detik oleh Sin Ya. Well, gadis ini mungkin bisa saja membunuh Taemin karena sering membuat jantung pria cantik ini out of control.

Taemin menggelengkan kepalanya kecil dan berusaha memfokuskan pandangannya kembali. Gadis dengan paras cantik di hadapannya ini akhirnya kembali dengan ekspresi semula—tidak menunjukkan senyumannya.

“Aku kenyang. Terima kasih!” kata Taemin dengan cepat dan kini berbalik ke arah depan, mencoba memfokuskan dirinya ke hadapan buku Biology-nya sekarang, tapi namanya juga Taemin. Seseorang yang tidak pernah fokus dalam hal pelajaran.

Sin Ya memicingkan ujung matanya melirik Taemin.

“Apa maksudnya anak ini. Kenapa saudara kembar ini aneh sekali? Huh.”

***

Tanpa ragu lagi, Taemin langsung merangkul tubuh Sin Ya yang berada tak jauh darinya. “Akhirnya pulang juga! Rasa frustasiku dengan resmi menghi…lang!”

Rasa kantuk Kai benar-benar tidak bisa dihilangkan. Ia berjalan dengan sedikit oleng menyusuri setiap jalan kecil menuju kediaman rumahnya. Jika orang-orang melihatnya sekarang, mungkin ia bisa disangka mayat berjalan.

Sin Ya segera melepaskan rangkulan Taemin dan berlari kecil ke arah Kai yang tepat di depan mereka. Ia mencoba menyamakan langkahnya dengan Kai, sambil terus melirik namja di sebelahnya kini.

“Apa kau baik-baik saja?” ucap Sin Ya dengan hati-hati, sementara Kai mengusap pelan mata kanannya yang sedikit sembab karena mengantuk.

Kai lagi-lagi menunjukkan sikap dinginnya dan tidak menjawab pertanyaan Sin Ya. Kai hanya diam sambil terus berjalan.

Taemin pula ikut bergabung bersama Sin Ya dan Kai. Ia melihat Kai sangat mengantuk hari ini dan jika ia mengantuk, lebih baik untuk tidak mengajaknya mengobrol. Ia akan marah.

Sambil mengerucutkan bibirnya, Taemin dengan imutnya berkata, “Sin Ya, sebaiknya kau jangan mengajak bicara Kai. Ia mengantuk sekarang. Kau tidak tahu betapa kejamnya dia saat diganggu seperti saat-saat ini,”

Namun Sin Ya sepertinya tidak mendengarkan nasehat Taemin yang kini di sebelahnya juga. “Kai, kau tidak apa-apa? Kau terlihat aneh hari ini di sekolah. Apalagi saat kita di kantin dan saat Guru Shin─”

“BISAKAH KAU DIAM!? MENJAUHLAH!” gertak Kai dengan sangat keras, membuat Sin Ya dan Taemin tertegun sesaat.

“BAIKLAH! Anggaplah aku tidak ada sekarang! Huh menyebalkan!” Gadis itu menjauh dari Kai sambil menggerutu kesal.

Taemin menelan ludahnya. “Jong in-ah, kau harus ingat dia itu perempu─”

“MENJAUHLAH!” Kai kembali berteriak dan sontak Taemin ikut menjauh dari Kai. Kai memang orangnya dingin dan pemarah. Melihatnya bersikap lembut sama halnya dengan melihat gerhana matahari total yang pada dasarnya harus menunggu lama dan hanya datang beberapa setahun sekali.

Taemin mendelik saat melihat kembarannya benar-benar bad mood hari ini. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan emosi kembarannya.

“Orang itu benar-benar seperti iblis!!” Taemin yang berdiri tepat di samping Sin Ya dapat mendengar jelas ucapan Sin Ya walau hanya dalam bentuk gumaman.

Taemin menoleh sambil sedikit merapikan rambutnya. “Sepertinya dia benar-benar PMS hari ini.”

***

Namja bernama Kai itu terus saja mengigit kecil daging Apel merah yang ia genggam sedari tadi sambil manatap ke arah televisi. Menguyahnya sampai hancur lalu mendapatkan sisa-sisa juicy dari apel itu sendiri. Tontonan pertandingan bola yang sedari tadi ia tonton akhirnya selesai dan berakhir dengan score 1:0 untuk Iran ketika melawan Tim Nasional Korea.

Kai pun bergegas mematikan televisinya dan menaiki tangga rumahnya sambil terus mengigit buah kecil favorite-nya ini.

“Kai, kau tidak makan malam?” Kai menghentikan langkahnya dan berbalik mendapati ibunya tengah tersenyum kepadanya.

Hal mudah yang membuat Kai tersenyum adalah ketika melihat wajah ibunya. Ibu yang selalu berada di sisinya, walaupun terkadang Kai terkesan cuek kepada ibunya. Semakin kesini, Kai merasa ingin terus bersama dengan ibunya dan menjaganya, semakin banyak keriput yang muncul di wajah ibunya menandakan semakin rapuh ibunya kelak. Dan hal itu membuat hati kecil Kai—yang jauh di sana—merasa kewajiban sebagai anak harus ia terapkan mulai sekarang.

“Tidak, aku hanya perlu mengemil apel ini sampai malam. Aku masih kenyang. Terima kasih, bu.” kata Kai dengan pelannya dan berbalik untuk melanjutkan langkahnya pergi ke dalam kamarnya.

Wanita berusia 40 tahun di tahun ini pun tersenyum mendengar jawaban anaknya, Kai. Ia mengangguk dan bergumam saat kembali ke ruang tengah, “Andai saja ia terus tersenyum seperti itu. Dunia ini akan lebih damai.”

***

Kai membuka pintu kamarnya hingga menghasilkan decitan suara dari pintu tersebut. Orang yang sedari tadi terbaring dengan nyaman di atas kasurnya itu akhirnya menyadari kedatangan seseorang.

“Oh, Kai!” sapa Taemin sambil melepaskan salah satu earphone-nya sementara Kai hanya berlalu dan langsung duduk di kasurnya sendiri.

Taemin bergerak dan duduk di ujung kasurnya sambil memperhatikan Kai yang sekarang tengah membaca komik Manga kesukaannya. Benar-benar kebiasannya untuk membaca sambil memakan apel.

“Kai─“

“Kau mau curhat apa, huh?” kata Kai memotong perkataan Taemin. Kai yang notebene adalah saudara kembar Taemin, tahu pasti perilaku namja cantik dengan rambut blonde ini ketika ingin berbagi cerita. Kai selalu menjadi orang pertama yang Taemin ajak bicara walaupun Kai bahkan tidak banyak respon terhadap cerita Taemin.

“Kau tahu… err, perasaan ini semakin lama semakin menjadi-jadi,” kata Taemin dengan suara kecil dan terdengar kaku.

Kai masih saja berkutat dengan komik Manga-nya sambil mengigit apelnya yang hampir habis itu. “Perasaan apa?”

Taemin terdiam sejenak dan mencoba menyalurkan semua curhatannya ke dalam kalimat yang tepat. “Gadis cantik yang setiap hari selalu bersama kita. Perasaan itu, err─”

Kai segera menutup komiknya dan terlihat ada perubahan mimik di wajahnya setelah Taemin memulai ceritanya.

“Apelku habis. Aku akan mengambil apel lagi dan segera tidur. Jika kau ingin cerita, lebih baik di lain waktu saja. Aku mengantuk sekarang.”

Kai menggerakkan kakinya menyentuh lantai ruang kamarnya dan berdiri sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana yang ia gunakan. Tanpa basa-basi, ia langsung meninggalkan Taemin yang terbeku karena baru saja ia ingin bercerita namun sang pendengar tiba-tiba kehilangan mood untuk mendengarkannya bercerita. Apa daya Taemin hanya menjulurkan lidahnya kepada Kai dari belakang saat saudara kembarnya itu keluar pintu.

“Dasar!”

Kai dengan santainya berjalan ke dapur dan membuka lemari es yang hampir penuh dengan persediaan apel merah miliknya. Kai mengambil salah satu apel tersebut dan mencucinya dengan bersih.

“Hai, Kai!” Kai sontak kaget dan bergidik karena kaosnya terkena cipratan air saat Sin Ya tiba-tiba ada di belakangnya tengah membuka kulkas dan mengambil minuman yogurth.

Kai berdecak sambil menggelengkan kepalanya mencoba mengabaikan Sin Ya lagi dan lagi. Namja itu memutar kran air di depannya kembali ke posisi semula untuk mematikan airnya. Ia melihat ada cipratan air di bagian bawah kaosnya. Ia melirik gadis manis itu dan bergumam kesal.

Sin Ya yang selesai meminum yogurth-nya dalam hitungan detik itu pun dengan santai berbalik dan bersender di kulkas sambil mengamati kaos Kai yang sedikit basah tersebut.

“Omo! Apakah kau bermain air malam-malam seperti ini?!” kata Sin Ya yang sedikit kaget.

Kai mendelik tajam ke arah Sin Ya dan bergumam dengan pelan sehingga dipastikan hanya dirinyalah yang mendengar. “Dasar gadis tidak tahu rasa bersalah.”

Sin Ya mengernyitkan dahinya saat mendapati namja berkulit gelap di hadapannya seperti tengah melakukan lip-sync dari mulutnya karena ia tidak dapat mendengar perkataan Kai.

“Apa kau barusan membicarakan diriku?” ceplos Sin Ya dengan polosnya.

Kai memutar bola matanya dan meninggalkan gadis itu sendirian di dapur. Mengabaikannya dan berusaha untuk tidak berlama-lama dengannya. Mungkin auranya bisa menjadi gelap total jika saja berlama-lama dengan gadis tersebut.

Saat melewati ruang tengah, Sin Ya dengan cepat mengadu kepada Ga In—ibunya Kai. “Bibi! Lihatlah kaos Jong In! Ia bermain air malam-malam seperti ini!” kata gadis itu sambil menunjuk ke arah Kai yang tengah berada di tangga dan langkah namja tersebut  terhenti saat mendengar kegaduhan yang dibuat Sin Ya.

Ga In melirik anaknya dan menutupi mulutnya dengan tangan kanannya—menyembunyikan tawanya. Sin Ya pun terlihat senang telah berhasil membuat Kai terlihat kesal. Kepribadian Sin Ya memang mirip dengan Taemin yang selalu membuat kegaduhan di rumah dan menjadi mood maker di keluarga kecil ini.

Sin Ya berlari kecil melewati Kai saat di tangga sambil tertawa puas. Kai menatap kesal gadis berambut panjang yang mendahuluinya sambil mengigit keras apelnya. “Awas kau!”

***

Pagi yang cerah di kota Busan sangat cocok menjadi opening orang-orang Busan untuk melakukan pekerjaannya. Hari ini adalah Minggu, jadi semua siswa resmi libur sekolah hari ini. Tak luput juga Taemin yang sedari tadi masih saja menutupi wajahnya dengan bantal di atas kasur empuknya, yang tentu saja berarti ia masih tertidur. Sementara Taemin masih berada di mimpinya, Kai yang sejak tadi sudah terbangun, langsung menyusun rapi kasurnya dan selimut di ujung kasur kecilnya.

Kai menggerak-gerakkan tengkuknya yang sedikit sakit, mungkin ia salah tidur tadi malam dan membuat beberapa anggota tubuhnya terasa sakit di pagi hari ini. Matanya terlihat sayup dan kali ini ia benar-benar terlihat seperti namja dekil. Sepertinya ia harus bergegas membersihkan diri untuk berjaga-jaga siapa tahu akan ada lalat yang berdatangan dan hinggap di tubuhnya. Ok, ini berlebihan.

***

“Apakah tidurmu nyenyak, Sin Ya?” kata pria berwajah sedikit seumuran dengan Ga In ini—ayah Kai dan Taemin.

Sin Ya masih saja meletakkan kepalanya di atas meja makan dan menjadikan pipi kananya sebagai topangan. Dan akhirnya menggeleng sebagai jawaban pertanyaan pamannya.

“Aku memimpikan orangtuaku.”

Semua aktifitas makan Ga In dan Tae Woo—ayah Taemin dan Kai—terhenti saat mendengar ucapan Sin Ya. Pantas saja ia terlihat lesu hari ini, bahkan ia tidak napsu makan.

Tae Woo meneguk air putih yang berada di sampingnya dan akhirnya membalas, “Mimpi seperti apa?” katanya sambil mengumpulkan butir-butir nasi di pinggir piringnya.

“Mereka memelukku erat dan tersenyum ….”

Kai tiba-tiba datang dan langsung menggeser kursi makannya lalu mengambil makanan yang sudah siap sedia di atas meja makan keluarganya.

“… bahkan mereka memberikanku kecupan sebelum tidur. Mereka selalu melakukan itu sebelum aku tidur ketika kecil,” lanjut Sin Ya.

Kai baru saja datang dan tak lama kemudian ia mengerti apa yang Sin Ya bicarakan. Ia seolah-olah mengabaikan perkataan Sin Ya dengan memasang wajah santai saat makan, padahal ia tengah memasang jelas-jelas telinganya untuk mendengar kelanjutan cerita Sin Ya.

Sin Ya membenarkan posisinya dan kali ini ia menopang dagunya dengan kedua tangan kecilnya. “… mereka begitu nyata sampai-sampai saat terbangun aku menyadari bahwa aku menangis.”

Kai memperlambat kunyahan makanannya, begitupula kedua orangtuanya. Memasuki pikiran mereka sendiri. Mereka sungguh mengetahui apa yang Sin Ya rasakan sekarang. Mereka tahu jika Sin Ya masih belum sepenuhnya merelakan kepergian orang tuanya.

Semuanya menjadi hening, hanya ada suara dentingan dari garpu dan sendok yang mengisi kepala mereka.

“Apakah aku melewatkan sesuatu? Hoamm,” Taemin datang sambil mengusap matanya yang terlihat masih belum sadar sepenuhnya. Ia pun duduk di samping Kai sambil meminum susu yang telah menjadi sahabat karibnya sejak kecil.

Kai berdecak kecil saat Taemin duduk di sampingnya. Sepertinya, saudara kembarnya ini tidak tepat menanyakan pertanyaan seperti dalam saat-saat seperti ini. Seandainya, Taemin bangun lebih awal dan mendengarkan cerita Sin Ya, mungkin ia tidak akan asal ceplas-ceplos. Tapi, tetap saja, bangun agak siang adalah kebiasaan buruknya.

“Kau tidak makan, Sin Ya?” sergah Ga In sambil menatap lembut Sin Ya yang masih saja menopang dagunya.

“Tidak. Sepertinya aku akan makan roti saja.” jawab Sin Ya. Sikapnya pagi ini sedikit berbeda dari kesehariannya. Ia tampak lesu dan tak bersemangat.

Sin Ya kemudian mengambil satu potong roti tawar beserta selai coklatnya. Ia mengolesinya dengan pelan dan lambat ke setiap sisi rotinya, matanya kini saja terlihat setengah mengantuk. Tahap terakhir, ia menutup roti tawar itu dari sudut ke sudut, hingga membentuk segitiga kecil lalu menggigitnya.

Sambil menguyah ia berkata, “Maaf, aku akan makan di kamar saja. Permisi.” Sin Ya pun bangkit dari tempat duduknya lalu beranjak ke kamarnya.

Semua anggota keluarga ‘baru’-nya menatap ke arah Sin Ya yang menjauh. Setelah Sin Ya benar-benar berada di lantai atas, Taemin kembali membuka mulutnya dengan bertanya non-sense lagi dan lagi, hingga berakhir dengan mendapatkan tatapan tajam dari orangtuanya dan Kai.

“Mwo? Aku hanya bertanya! Huh.”

***

Sin Ya akhirnya membuka pintu kamarnya dan berjalan dengan tertatih-tatih ke dapur. Menuruni setiap anak tangga dengan pelan sambil menggembungkan pipinya, sesekali terdengar ia tengah menghembuskan napasnya berat. Pikirannya kini benar-benar kacau dan dia bukanlah Sin Ya yang selalu bergembira menyambut hari Minggu, alasan satu-satunya adalah lagi-lagi gadis manis ini bermimpi tentang orangtuanya. Bertahun-tahun lamanya ia telah mencoba merelakan kepergian orang yang paling ia cintai tersebut, namun sampai sekarang ia masih belum bisa sepenuhnya merelakan. Sulit memang merelakan seseorang yang kita cintai yang tidak ada dan pada kenyataannya sudah tidak berada di samping kita lagi, apalagi dalam kasus Sin Ya ini, ia harus merelakan kepergian orangtuanya yang mendadak dan terkesan menyakitkan.

Sin Ya mengacak rambutnya kesal karena sakit di kepalanya tak kunjung hilang.

Gadis berambut panjang itu pun perlahan-lahan membuka pintu kulkas warna silver tersebut. Mengambil satu botol keciil yogurth dan meminumnya langsung. Dalam hitungan detik saja, ia telah menghabiskannya. Tak peduli bagaimana rasa masam yang terkandung dalam yogurth rasa stroberi tersebut, ia tetaplah seorang maniak yogurth.

Kembali, ia membuka pintu kulkas Keluarga Kim dan pandangannya kini menerawang ke semua sisi dalam kulkas. Hingga akhirnya bibi Ga In datang sambil menepuk pundak gadis tersebut.

“Apa apa? Apa kulkas ini ada masalah? Haha.” canda Ga In.

Namun Sin Ya tetap tidak menggubris candaan bibinya dan dahinya mengerut. “Bibi, apakah bibi tidak belanja lagi? Kulkas ini sangat sepi, bahkan telur saja sisa satu butir.”

Ga In lalu melangkahkan kakinya mendekati Sin Ya dan melihat sekeliling kulkas berukuran besar itu. Benar, yang bisa ia lihat adalah satu butir telur, dua ikat kubis, satu kemasan daging cincang, air mineral, dua jeruk, lima yogurth milik Sin Ya. Satu-satunya makanan segar yang dilihat Ga In dalam persediaan cukup banyak adalah apel Kai. Tentu saja, bahan-bahan makanan ini tidak cukup untuk beberapa hari ke depan dan ditambah lagi kebutuhan-kebutuhan lima anggota keluarga ini.

Sin Ya menggigit bibir bawahnya dan bergumam, “Haruskah aku belanja? Sepertinya… err, persediaan ma-ka-nan-nya kurang.” katanya dengan sedikit penekanan.

Ga In berbalik seraya berpikir, hal ini tentu saja membuat Sin Ya menunggu. Mungkin saking lamanya bibinya ini berpikir, ia bahkan telah menghabiskan dua botol yogurth-nya.

“Baiklah. Tapi kau akan pergi dengan Kai dan Taemin. Sepertinya perasaanmu akan lebih baik jika setelah pergi dengan mereka. Benar, kan?”

Semburat rasa senang muncul di wajah Sin Ya setelah nama Kai dan Taemin akan pergi bersamanya untuk berbelanja.

Ga In mengambil secarik kertas yang lumayan panjang dari sakunya—seperti telah disiapkan sebelumnya—dan memberikannya kepada Sin Ya. Kemudian tak lama setelah itu, wanita berusia 40 tahun ini pun memanggil kedua anaknya untuk pergi bersama Sin Ya. Seperti yang diharapkan, Taemin langsung sumringah tak kala harus menemani gadis yang notebene menjadi sepupunya ini. Dan kebalikannya, Kai dengan wajah yang tampak seperti memasang emoticon ekspresi datar saat mendengar dirinya akan kembali bersama Sin Ya dan kembarannya. Bisa di dengar, Kai sesekali mendengus dengan napas panjang di sela ibunya memberikan uang untuk berbelanja.

***

“Aku tidak sabar! Ah, aku tidak percaya kita jalan bersama kali ini,” Taemin merenggangkan kedua tangannya sambil menunjukkan senyum lebarnya menghadap kepada dua makhluk yang sedari awal perjalanan masih saja diam.

“Jong In! Katakan sesuatu!” sergah Taemin sambil menghentakan kakinya keras. Benar-benar seperti anak usia 5 tahun.

“Sesuatu.” Singkat, padat dan jelas. Itulah jawaban dari ‘cool guy’ Kai.

Namja dengan paras tampan—seperti berita yang beredar—mata sayu yang malah terlihat seperti tidur, garis rahang sempurna dengan perpaduan dagu belah dua di mana setiap lelaki menginginkannya karena pendapat bisa terlihat ‘manly’, dan tak luput rambut coklat-hitam miliknya yang sedikit berantakan—dapat dengan mudah memikat hati para gadis yang melihatnya. Kai, si pemilik hal yang hampir sempurna ini hanya mendengus napasnya kesal ketika harus dipasrahkan berjalan-jalan dengan dua manusia yang notebene seperti mengganggu ketenangan hidupnya.

Namun, Kai terperangah di tengah-tengah langkah kakinya saat namanya dipanggil oleh suara kecil nan lembut seorang gadis yang berada di sampingnya sekarang.

“Kai… Ada apa denganmu kemarin, saat di sekolah lebih tepatnya? Kau tampak aneh.” kata Sin Ya sambil menolehkan sedikit kepalanya ke Kai. Namja yang ditanyanya ini hanya diam sejenak dan terlihat seperti mempersiapkan jawaban yang pas.

“Kau tidak perlu tahu.” jawab Kai dengan kebiasaan ketusnya.

Taemin yang dari tadi seperti diabaikan oleh dua orang ini, akhirnya angkat bicara. “Benar! Kenapa kau terlihat aneh!? Bahkan kemarin adalah pertama kalinya kau dihukum. Selama kita bersekolah bersa─”

“Tutup mulutmu.”

Ucapan singkat dari Kai berhasil menutup mulut Taemin hingga namja yang terbilang ‘cantik’ ini terdiam. Sin Ya mengerutkan dahinya kesal akan kelakukan Kai yang sangat acuh dengan sekitarnya.

“Ada apa denganmu sebenarnya!” Mata Sin Ya kini lebih jelas terbuka dibanding sebelumnya yang terlihat sayu.

“Apakah kepalamu itu terbuat dari batu? Yak, jangan terlalu dingin kepada orang. Kau akan cepat tua, hanya sekedar informasi,” sambungnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Kai menendang batu kerikil yang berada tepat di depannya, menendangnya dengan keras hingga membuat benda mati itu terlempar jauh.

Kai menoleh ke arah Sin Ya dan mendekati gadis yang setinggi bahunya ini dengan satu langkah besar. Kai sedikit menunduk dan menatap lekat-lekat manik mata coklat milik Sin Ya.

Sin Ya sedikit bergidik saat matanya kini tertangkap oleh tatapan tajam Kai. Mungkin ia tidak sadar bahwa jarak mereka sangat dekat sekarang, makhluk satu-satunya yang menyadari hal ini adalah Lee Taemin, manusia yang sepertinya diabaikan oleh dua orang ini.

“Jangan-menjadi-orang-sok. Nona kecil.” ucap Kai dengan penekanan di setiap perkataannya. Sin Ya sekarang menjadi berani membalas tatapan Kai dengan tak kalah tajamnya, hingga membuat dahinya mengerut sempurna.

Tiba-tiba Taemin mendekati mereka dan menjauhkan tubuh Kai dengan Sin Ya. Taemin seperti seorang wasit yang menenangkan dua petinju muda di atas ring. Namun Kai dan Sin Ya masih menautkan tatapan tajam hingga berakhir dengan satu sama lainnya memasang wajah kecut.

“Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan dengan dua manusia ini…” gumam Taemin.

***

Sin Ya mengambil satu botol sedang minyak zaitun dari rak supermarket dengan wajah yang masih kecut dari tadi. Menaruhnya ke dalam kereta dorong yang dikendalikan oleh Kai. Sedangkan makhluk yang satunya lagi—Taemin—tengah berada di barisan cemilan kecil dan mengambil satu bungkus permen manis bermerk dari rak tersebut.

Kai mendorong kereta belanjanya dengan pelan sambil melihat sekeliling dan mengambil beberapa bahan makanan yang telah ibunya pesankan. Memilihnya dengan seksama dan tak lupa untuk melihat tanggal expired-nya.

“Sin Ya! Lihatlah di sini! Kemarilah sekarang!” panggil Taemin sambil terus tersenyum memegang suatu kemasan cemilan manisan.

Sin Ya pun berjalan ke arah Taemin dan membawanya ke tempat deretan rak berisikan permen, lollipop, coklat dan cemilan manisan lainnya. Membuat langkah Sin Ya sempat terhenti dan pikirannya pun melayang, hingga terfokus dengan momen-momen masa kecilnya 8 tahun lalu.

Dengan datangnya Sin Ya yang kini tepat berdiri di samping Taemin, namja dengan rambut blonde tersebut memperlihatkan kemasan sebuah lollipop dengan corak warna-warni ke arah Sin Ya. “Lihatlah. Kau ingat? 8 tahun lalu aku memberikan ini kepadamu. Kau ingat?” kata Taemin dengan bersemangat. Namun tidak dengan Sin Ya yang terlihat terpaku.

Sin Ya terdiam dan badannya seakan beku. Kedua tangannya lemas dan ia dapat merasakan panas di sekitar pelupuk matanya, seakan ada yang ingin keluar dari dalam sana. Sekujur tubuhnya kaku hingga ia tidak bisa menggerakkan tangan atau kakinya sekalipun. Sementara kepalanya kini penuh dengan kenangan saat ia berusia 8 tahun. Ketika awal mimpi buruknya datang, di mana orangtuanya meninggal dan berujung dengan ia hidup bersama bibi dan pamannya. Ketika ia memakan lollipop di mobil yang ditumpanginya bersama orangtuanya dulu sampai ketika ia memakan lollipop ini dengan Taemin. Terlalu banyak kenangan untuk 8 tahun yang lalu dan lollipop ini.

“Sin Ya? Sin Ya? Kau tidak apa-apa?” tanya Taemin sambil mengguncang-guncangkan tubuh Sin Ya yang ia sadari bahwa gadis ini sedikit terbengong.

Sin Ya sadar dan matanya terus berkedip untuk menyadarkan 100% dirinya. “A-a-aku, tidak apa-apa. Sungguh,” Sin Ya terus-menerus mencoba menyadarkan pikirannya dan melupakan kenangan kelamnya.

Dari kejauhan, Kai nampak melirik Sin Ya dan Taemin dari ujung mata kanannya sambil sesekali memutar-balikkan kaleng buah hingga terkesan seperti tengah memperhatikan setiap detail dari produk tersebut. Namun tidak untuk tatapan matanya yang sebenarnya.

‘Dasar Taemin bodoh.’ ─batin Kai seraya mengembalikkan kaleng buah tersebut ke tempat awal dan pergi ke rak lain.

***

Waktu terus berputar hingga sekarang menunjukkan waktu tengah hari. Kai, Taemin dengan Sin Ya akhirnya pulang setelah membeli beberapa belanjaan dari supermarket. Dan kini gadis itu tengah menderita karena harus membawa barang belanjaan yang telah terbungkus oleh plastik—terbilang cukup berat untuk ukuran perempuan—dengan kedua tangannya. Berjalan tertatih-tatih ke rumah, tanpa menggunakan bis ataupun taksi.

“Aish, kenapa plastik punyaku ini berat! Huh, sepertinya di antara kita bertiga, hanya aku yang membawa barang paling berat. Yak! Aku ini perempuan!” ucap Sin Ya dengan kesal.

Kai dan Taemin refleks menoleh ke arah Sin Ya yang tepat berada di belakang mereka tengah menyeret barang bawaannya tanpa peduli dengan sobekan-sobekan kecil dari plastik yang ia perbuat. Jelas saja, ketika dua laki-laki di hadapan Sin Ya terlihat dengan entengnya membawa barangnya dengan satu tangan mereka tanpa memperdulikan seorang gadis di belakang mereka yang tampak menderita.

“Dasar, babo yeoja.” gumam Kai saat melihat plastik barang Sin Ya sedikit robek akibat bergesekan dengan aspal jalan.

Taemin menampakkan senyum innocent-nya. “Biar ak─”

“Biar aku saja yang membawakan barangmu.” kata Kai cepat sambil dengan paksa mengambil satu kantung plastik penuh dengan bahan makanan milik Sin Ya. Membawanya dengan tangan kirinya. Hingga sekarang ia membawa dua kantung plastik penuh dengan kedua tangannya.

Taemin terdiam, melihat intens bagaimana Kai mengambil plastik milik Sin Ya yang seharusnya dia-lah yang melakukannya duluan… jika satu detik lebih cepat dari saudara kembarnya.

Terdengar Sin Ya menghelakan napasnya lega sambil mengelap keringat di dahinya. “Ahhh, terima kasih Kai!” Sin Ya bernapas lega dan tubuhnya kini bisa tegak dengan sempurna, menandakan dengan resmi penderitaannya hilang.

“Aku memaafkan segala perbuatanmu yang telah membuatku kesal saat perjalanan menuju supermarket tadi. Hehe.” lanjut gadis itu, namun tidak direspon oleh Kai. Well, Kai tetaplah seorang Kim Jong In yang dingin.

Mereka pun melanjutkan perjalanannya dengan diam. Tidak ada pembicaraan, tidak ada yang memulai pembicaraan. Kali ini Taemin yang sebelumnya terlihat aktif, sekarang ia menjadi diam seribu bahasa. Dirinya hanya menikmati setiap langkah yang ia buat untuk pulang ke rumah dan tujuan pertamanya setelah pulang adalah bersantai di kamar. Entah mengapa ia tampak berbeda. Apakah karena ia lelah membawa kantung besar berisi barang-barang penuh atau melihat Kai yang ‘mencuri start’-nya tadi? Lagi-lagi, seseorang harus membantu Taemin dalam perasaannya. He’s too complicated.

-To be continued-

Cuap Cuap Author: *roll depan* Kyaa! Akhirnya Chap 2-nya dipublish, hiks. Chap 2-nya gak penting ya :)) #dibuang. Sedikit bocoran, part awal-awal memang ‘agak’ gak complicated LOL Tapi nanti percayalah, ada banyak konflik .__. MAAFKAN SAYA. Alright, RCL juga diharapkan bersamaan dengan kritik & saran ‘-‘ Mau saran seperti apa juga saya terima, hoho. Part 3 masih on going dan mudahan dipublish secepatnya lagi (mudah-mudahan) Silahkan RCL ^o^)/ Sampai jumpa di Part selanjutnya!

64 responses to “[Chapter 2] Love in Love

  1. Pingback: [Chapter 4] Love in Love | FFindo·

  2. Pingback: [Chapter 5] Love in Love | FFindo·

  3. Pingback: [Chapter 6] Love in Love | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s