Somebody to Love [#12]

Somebody to love 8

Author: Vddid

Tittle: Somebody to Love

Casts: Oh Sehoon (sehun), Cho Minhwa (OC), Lee Taemin, Kim Jongin (Kai)

Length: Chaptered

Rating: PG 15+

Genre: Romance & Friendship

Disclaimer: It’s my plot! My imagination like my own world! Its just a fiction okay?!

DANGER: Typo ._.

Previous part > Somebody to love [#12]

Enjoy :D

[Flashback]

Taemin sepertinya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Taejun yang sedang bersamanya memerhatikan raut wajahnya yang terlihat… khawatir. “Hyung, waeyo? Is something happen?” Tanya taejun memastikan. “Aku, merasa ada sesuatu yang tidak beres.” Jawab taemin yang masih terlihat khawatir. Apakah mungkin ini tentang minhwa, batinnya. Akhirnya taemin mengambil iPhonenya yang ada diatas meja belajarnya. Taejun yang sebelumnya sibuk dengan komiknya akhirnya teralihkan dan lebih memerhatikan gerak-gerik kakaknya. “Aish! Pesan terakhir yang diberikannya juga membingungkan!” gerutu taemin sambil menatap iPhonenya frustasi. “Minhwa noona?”

“Aish! Kau membajak iPhoneku lagi, taejun-ah!”

“Mianhae, tapi aku disuruh jonghyun hyung untuk melakukannya.”

“Aish! Namja itu!”

“Tapi yang dia bilang ternyata benar adanya. Hyung, tadi kenapa kau tidak menelponnya kalau kau sedang merindukannya?”

“Tapi sekarang aku sedang –“

“Khawatir dengannya bukan? Hyung, kalau aku jadi kau maka aku akan langsung menelponnya,”

“Tapi ini berbeda, taejun-ah,”

“Makanya hyung harus memastikannya!” akhirnya taemin menelpon minhwa dengan rasa khawatir yang kentara. Tapi… tidak diangkat. “Taejun-ah, minhwa… tidak mengangkatnya,” kata taemin dan perasaan khawatirnya semakin meluap. “Lacak pakai GPS,” balas taejun yang sekarang melipat tangannya didepan dada dan mulai bersikap serius. “Handphonenya, berada dirumahnya. Tapi kenapa tidak diangkatnya?” Tanya taemin. “Aish! Hyung, berarti dia sedang dirumah. Tidak perlu mengkhawatirkannya,”

“Jika dia keluar rumah tanpa membawa handphonenya?”

“Lacak GPS mobilnya. Setahuku mobilnya sudah memakai GPS,”

“Jika dia keluar tanpa mobilnya?”

“Silahkan Tanya teman karibnya. Ada lagi?”

“Bagaimana jika temannya tidak tahu dia kemana?”

“Aish! Tanya saja pada ayahnya!”

“Bagaimana jika ayahnya sedang sibuk dan tidak bisa diganggu? Lagipula kyuhyun ahjussi sedang berada dijepang.”

“Aish hyung! Kau ingin mencari solusi atau ingin berdebat denganku? Tidakkah kau mencoba satu persatu cara yang sudah kukatakan tadi? Jangan membuat dirimu panik!”

Akhirnya taemin menyerah, dan mulai mengikuti apa saja cara yang dikatakan taejun padanya. Dia mulai membuka iPhonenya lagi. Tapi sebelum taemin membuka aplikasi GPS, seseorang menelponnya. Tanpa basa-basi lagi taemin langsung menyentuh tombol berwarna hijau tanpa melihat nama kontak yang menelponya. “Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, Taemin-ah. Nan kyuhyun ahjussi.” Jantung taemin semakin berdebar-debar mendengar nama ayah minhwa terdengar dari seberang sana. “Nde ahjussi. Kenapa menelponku?” Tanya taemin yang langsung to the point. Setelah mendengar penjelasan dari kyuhyun ahjussi, badannya membeku. “Minhwa sedang sakit dan sedang dirawat dirumah. Kau tahu kenapa dia bisa sakit?” taemin mencoba menyerap kembali pertanyaan kyuhyun. “Taemin-ah? Lee taemin?” akhirnya lamuan taemin buyar seketika. “N-nde. Molla, ahjussi.” Akhirnya taemin bisa mengatakannya walaupun sedikit terbata-bata. “Baiklah. Lebih baik aku menanyakan sendiri pada minhwa jika aku sudah sampai dirumah. Gomawo, taemin-ah,” tanpa basa basi lagi ia menyentuh tombol merah. Sepersekian detik kemudian iPhonenya jatuh menyentuh lantai kamarnya. Lututnya menjadi lemas dan akhirnya ia juga jatuh dengan posisi berlutut. “Hyung! Waeyo?” Tanya taejun cemas melihat taemin yang sudah jatuh. Tiba-tiba iPhonenya berdering lagi menandakan panggilan masuk. Taemin tidak ingin mengangkatnya dan lebih memilih diam. “Yeonji-ssi,” gumam taejun setelah melihat di layar iPhone siapa yang sedang menelpon taemin. Karena taemin tidak merespon apa-apa, taejun memutuskan untuk mengangkatnya.

“Yeonji-ssi ingin berbicara dengan hyung. Katanya penting. Soal minhwa,” taemin langsung mengambil iPhone yang digenggam taejun dan langsung menempelkannya di salah satu daun telinganya. Mendengar semua penjelasan yeonji tentang kenapa minhwa bisa sakit. “… Sebelum wajahnya memucat, ia menelponmu, Taemin-ssi.” Dan rasa bersalah taemin semakin menjadi. Babo! Kaulah tersangka utama kenapa dia bisa sakit, batin taemin. Setelah yeonji menjelaskan semuanya dan mengakhiri percakapan, taemin langsung mengambil jaketnya. “Taejun-ah, katakan pada appa dan eomma bahwa aku sedang pergi keluar menemui jonghyun. Jangan sampai mengatakan kalau aku ingin bertemu minhwa, arrachi?” taejun hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dan taemin langsung pergi dengan membawa mobilnya.

[Flashback End]

“Ta-tapi, kenapa kau tidak membalas pesan atau menelpon balik aku?” Tanya minhwa terbata-bata. Jujur, dia cukup syok ketika mendengar suara teriakan yang sarat penuh dengan kekhawatiran dan kepanikan itu ternyata suara dari taemin. “A-aku tahu kalau sehun sudah menyatakan cintanya padamu. Ja-jadi, sepertinya tugasku untuk melindungimu sudah berkurang. A-aku tahu, beberapa bulan yang lalu kau pernah mengatakan padaku bahwa kau tidak ingin… banyak berhutang budi padaku. Makanya aku mencoba untuk menarik diri dari hadapanmu,” jelas taemin dan perlahan ia berjalan mendekati minhwa walaupun ia sebenarnya ingin cepat-cepat memeluk yeoja itu karena… yeoja itu sedang menatapnya nanar, dan sepertinya baru selesai menangis karena mata yeoja itu masih berkaca-kaca dan sedikit merah. Langkah taemin gontai terlihat seperti orang yang baru saja putus harapan. Seolah yeoja yang sedang menatapnya nanar itu adalah harapannya yang hilang dan yeoja itulah titik kelemahannya. Setelah sudah sudah dekat dengan minhwa, taemin diam tanpa kata beberapa menit, memberikan tatapan kosong terhadap minhwa.

“Minhwa…” sepersekian detik kemudian taemin langsung memeluk minhwa dengan erat. Minhwa yang sampai sekarang masih bungkam diam-diam tersenyum tipis didalam pelukan taemin. Ia mencoba mengingat lagi memori-nya bersama taemin dari mulai pertama kali mereka bertemu. Pelukan ini… menghangatkan. Minhwa rindu taemin memelukknya seperti ini dikarenakan hal-hal spele seperti menangis, kedinginan, dan ketika ia sedang kesal pada taemin pasti namja itu akan memeluknya dan meminta maaf. Tapi, entah kenapa minhwa lebih memilih sehun dibandingkan taemin. “Apakah… kita bisa memperbaiki hubungan kita yang sepertinya sangat canggung? Karena… aku tidak tahan dengan kecanggungan ini,” kata taemin membuka pembicaraan dan masih dengan posisi memeluk minhwa. “Baiklah,” kata minhwa pelan. What the hell? Bukan itu yang ingin ia katakan! Karena dengan begitu taemin lebih bebas menemuinya dan sepertinya sudah tidak ada jarak lagi diantara mereka. Seolah benteng kuat yang dibuatnya diantara mereka runtuh seketika. Entah kenapa kata ‘baiklah’ refleks keluar dari mulutnya. Bukan ‘tidak’ ataupun ‘maaf’.

Taemin merasa seperti ada sebuah tembok kokoh diantaranya dan minhwa yang runtuh seketika ketika minhwa mengatakan “Baiklah,” walaupun hanya satu kata, tapi kata itulah yang membuat tidak ada jarak lagi di antara mereka berdua.

***

            “Myungsoo-ssi, apa aku sekarang benar-benar sudah sembuh?” Tanya minhwa tidak percaya. “Bukan benar-benar sembuh. Minhwa-ssi sudah sembuh. Tapi harus banyak beristirahat lagi agar bisa benar-benar sembuh. Minhwa-ssi sudah bisa keluar rumah, tapi jangan sampai terlalu kelelahan atau mencari masalah dengan pikiran. Berusaha berpikir jernih dan positif. Minhwa-ssi perlu refreshing, misalnya pergi ke sebuah desa dan berlibur disana menjernihkan pikiran.” Jelas myungsoo panjang lebar sembari mencabut jarum infus ditangan minhwa. “Oh, arraseo. Jadi aku masih dalam masa pemulihan.” Minhwa beberapa kali mengangguk. “Setelah mencabut infus, lalu menyuntikmu untuk yang terakhir kalinya dan memastikan minhwa-ssi meminum obat, maka saya sudah menyelesaikan semua tugasku dan bisa menerima cuti.” Kata myungsoo. Minhwa setelah meringis kesakitan langsung tersadar bahwa ia harus menanyakan sesuatu pada myungsoo. “Myungsoo-ssi, bolekah aku menanyakan sesuatu?”

“Ige mwoya?”

“Sebelumnya, aku memintamu untuk berhenti memanggilku seformal itu karena sekarang kita adalah teman.”

“Begitu juga sebaliknya,”

“Deal,” kata minhwa lalu mengambil nafas sejenak. “Myungsoo-ya, jikalau kita menderita penyakit leukemia stadium empat, apakah masih ada kemungkinan untuk sembuh?” mata myungsoo membulat ketika mendengar pertanyaan minhwa. Jujur, myungsoo yakin bahwa semua orang juga sudah tahu bahwa penyakit leukimia stadium empat sudah tidak memiliki harapan untuk hidup lagi kecuali mujizat.

Ketika minhwa melihat raut wajah myungsoo yang terbilang aneh, minhwa pun melanjutkan kata-katanya. “A-aku masih belum percaya apa kata orang. Aku ingin tahu sendiri dari seorang dokter,” jelas minhwa lagi dengan raut wajah serius. “Apakah ini alasanmu ingin mengetahui namaku?” Tanya myungsoo yang terlihat kecewa. “Jujur, tujuan utamaku mengenalmu adalah hal itu. Tapi, setelah mulai semakin dekat, aku tidak ingin berteman denganmu hanya untuk hal itu.” Jawab minhwa terlihat santai. “Baiklah. Aku akan menjelaskan semua.” Myungsoo terlihat menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan. Minhwa terlihat sabar menunggu myungsoo mengeluarkan kata-katanya. “Kanker leukemia adalah kanker ganas, minhwa-ya. Kanker itu membunuh orang yang mengidapnya. Hanya sepuluh persen kemungkinan orang yang mengidap kanker ini akan sembuh,”

“Untuk memperlambat pertumbuhan kanker itu, orang yang mengidapnya harus mengikuti kemoterapi,”

“Kemoterapi tidak meyakinkan pengidap penyakit leukemia akan sembuh. Melainkan meyakinkan seorang pasian bahwa dengan kemoterapi bisa memperlambat pertumbuhan kanker itu,”

“Diantara seratus orang pengidap penyakit ini yang mengikuti kemoterapi, hanya Sembilan orang saja yang akan sembuh. Jadi, kemungkinan akan sembuh itu sangat kecil,”

“Aku rasa, percuma saja mengikuti kemoterapi yang mahal itu tapi tidak akan pernah sembuh. Hanya memperlambat pertumbuhan kanker itu saja. Kita hanya bisa menunggu mujizat dari Tuhan agar bisa sembuh dari penyakit itu,”

“Kanker leukemia disebabkan oleh produksi leukosit yang berlebihan. Bisa juga karena penyakit genetik atau turunan. Penyakit genetik tidak bisa dicegah atau ditolak, karena itu memang turun dari orangtua kita, atau nenek kita,”

“Kalau boleh tahu, kenapa kau meminta penjelasan penyakit itu?” dengan hati-hati, myungsoo bertanya pada minhwa. Lima detik tidak ada jawaban, akhirnya myungsoo mengalihkan pandangannya dari jendela kamar minhwa, lalu menatap minhwa. Bisa dilihat dengan mata kepala myungsoo sendiri bahwa minhwa sudah mulai mengeluarkan airmata dikedua bola matanya. Myungsoo memberanikan diri untuk duduk disamping minhwa dan mengusap pelan punggungnya, berniat untuk menenangkannya. Seperdekian detik kemudian minhwa langung memeluk myungsoo, dan menangis dengan hebatnya. “Kenapa ini terjadi pada sehun? KENAPA?” myungsoo hanya diam tanpa kata. Menjadi seorang pendengar yang budiman. “Kenapa harus sehun yang menerima penyakit itu? DIA SALAH APA SEHINGGA IA HARUS MENERIMA PPENYAKIT ITU?” sepertinya myungsoo akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya lewat sela-sela tangisan dan kekesalan minhwa. “Kenapa dia harus menerima penyakit ini dari ayahnya? Kenapa Tuhan? Apakah Tuhan tidak menyayanginya dan menurunkan penyakit itu padanya?” jadi penyakit leukemia turunan ini diderita oleh seorang yang ia cintai, pikir myungsoo menyimpulkan. “Aku menyayanginya, Tuhan. Tapi kenapa Tuhan tidak menyayanginya?” dan kesimpulanku benar, pikir myungsoo lagi. “Tuhan bukannya tidak menyayangi sehun, tapi dia ada rencana indah buat sehun. Entah didunia atau dimana, yang pasti Tuhan memiliki maksud dari apa yang sudah dibuat-Nya.”

“M-mwo?”

“Tuhan memiliki rencana indah untuk sehun. Dan dasar kita manusia, kita tidak tahu apa rencana Tuhan kepada kita, apalagi rencana Tuhan untuk orang lain.”

“Tapi apakah Tuhan tidak menyayangiku dan mengambil Sehun secepat yang tidak pernah terbayangkan olehku?”

“Tuhan mempunyai Kasih. Dia tidak pernah membiarkan kita susah. Tuhan menyayangi kita. Kau percaya Tuhan ‘kan?”

“Aku percaya. Sangat percaya. Tapi kenapa dia ingin mengambil Sehun secepat ini?”

“Tuhan memiliki rencana yang indah. Dia sudah merencanakan Sehun, juga sudah merencanakanmu. Tuhan juga memiliki rencana indah untukmu dan aku, dan semua manusia.”

“Ta-tapi, apa yang Tuhan rencanakan pada kita?”

“Sudah kukatakan sebelumnya, minhwa-ya. Dasar manusia, kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan rencanakan terhadap kita.”

“…”

“Kita hanya bisa menunggu mujuzat dari Tuhan agar Sehun bisa sembuh.” Minhwa terdiam setelah beberapa saat yang lalu berdebat dengan myungsoo dan akhirnya myungsoo yang memenangkan perdebatan ini. Myungsoo yang sepertinya sadar dengan keadaan, pun melanjutkan kata-katanya. “Bahagiakanlah Sehun semampumu selagi dia masih hidup. Buatlah sisa hidupnya begitu indah dan berarti. Jangan membuatnya Down. Itulah hal yang perlu kau perbuat terhadapnya. Jangan lupa juga untuk mendoakannya.” Myungsoo mengusap punggung minhwa pelan. Beberapa menit dalam diam, myungsoo melihat wajah minhwa yang sedang memelukknya itu. Ternyata dia sudah tertidur. Akhirnya myungsoo melepas pelukan minhwa dan membaringkan minhwa dikasurnya, memberikan kapas beralkohol pada tangan bekas infus, lalu menyuntikkan obat dilengan minhwa. “Tidurlah sampai pulas. Karena kau banyak mengeluarkan energi. Tolong titip salamku pada Sehun,”

***

            “SEHUN-AH!!!” teriak minhwa membahana dirumah sakit. Sehun yang sedang asiknya menggambar langsung terlonjak dari kasurnya. “Hwa-ya, kau ingin membunuhku? Jantungku hampir saja berhenti tiba-tiba!” kata sehun dengan nada kesal. Walaupun ia kesal, ia juga sangat senang karena minhwa kembali menjenguknya dengan mood yang terlihat begitu senang. Sehun bersyukur kepada Tuhan atas apa yang terjadi sekarang.

Minhwa berjalan menuju tempat dimana sehun berada. “Hayo tebak apa yang kubawa, sehun-ah?” minhwa mengangkat tangan kanannya, mencoba menunjukkan apa yang sedari tadi dipegangnya. “Hwa-ya, kau terlihat aneh sekarang. Apakah kau sedang panas?” sehun meraba dahi minhwa. Minhwa bisa merasakan tangan sehun yang terbilang dingin. “Aniyo. Aku sedang sehat kali ini. Dan kau tidak ingin menebak apa yang kubawa sekarang? Jangan menyesal ya, Sehun-ah,” minhwa bisa mencium aroma kue yang dibawanya. Minhwa menebak-nebak apakah Sehun bisa menciumnya atau tidak. “Kau membawa kue?”

“Lebih tepatnya Fish pancake, Oh Sehoon!” mata Sehun langsung berbinar seketika. “Yogi.” Minhwa memberikan bungkusan yang dipegangnya tadi pada Sehun. Dengan cepat Sehun membuka bungkusan itu lalu memakan kue yang berada di dalam bungkusan itu. “Sehun-ah, kau terlihat lebih kurus dan lebih pucat sekarang. Waeyo?” tanya minhwa cemas yang melihat Sehun sepertinya lebih kurus dan lebih pucat. Tapi melihat Shun yang sedang memakan kue seperti anak kecil, ia pun tersenyum tipis. “Molla, hwa-ya. Padahal aku makan lima kali sehari. Tidak lupa juga meminum vitamin dan makan buah-buahan.” Itu karena penyakitmu, batin minhwa. “Apakah badanku terlihat sangat kurus sekarang?” sangat kurus dari yang kuperkirakan, batin minhwa lagi. “Aniyo. Kau tidak terlihat seperti itu.” Kata minhwa mencoba menenangkan Sehun. Minhwa beralih melihat sketchbook yang berada disamping Sehun. “Mwo? Kau menggambar gaun pengantin?” tanya Minhwa heran. Jujur, ia baru melihat Sehun menggambar gaun pengantin. Yang minhwa tahu Sehun hanya bisa menggambar mana. “Ini gambarmu ‘kan?” tanya minhwa lagi memastikan. “Nde. Gaun itu kudesain khusus untukmu,” jawab Sehun santai. Minhwa langsung mengambil sketchbook itu dan mulai membuka lembar demi lembar. Lembar pertama ada mini dress, lembar kedua adalah dress polos, lembar ketiga adalah gambar seorang mana perempuan yang sedang tersenyum, lembar keempat ada baju couple yang bertuliskan ‘forever’, dan lembar terakhir adalah gaun pengantin yang pertama kali dilihatnya. “Aku ingin melihatmu memakai gaun itu,” tambah Sehun lagi dan membuat minhwa membeku ditempatnya.

***

            “Myungsoo-ya, tempat yang paling bagus untuk menenangkan pikiran Dimana?” tanya minhwa polos pada myungsoo. “Kau datang jauh-jauh ke sini hanya menanyakan hal itu?” myungsoo berbalik bertanya. Jujur, kalau ia menjadi minhwa pasti ia hanya akan langsung menelpon, bukan datang repot-repot kerumah sakit. “Kau… tidak mengambil cuti, bukan?” skak Matt! Minhwa tahu myungsoo tidak mengambil cuti yang diberikan presdir kyuhyun padanya. “Oke, aku akan menjawab satu per satu. Pertama, Tempat yang paling bagus untuk menenangkan pikiran adalah keluar kota lalu pergi ke desa. Kedua, aku tidak mengambil cuti karena saya harus mengikuti Dr. Kim dalam menjalankan operasi pengangkatan tumor otak. Untung saja kau datang disaat yang tepat. Saya baru saja keluar dari ruang operasi dan baru saja mengganti baju ketika suster eunji memanggilku karena kau ingin bertemu.” Jelas myungsoo panjang lebar dengan satu helaan nafas. jujur, ia tidak menyangka bahwa minhwa akan datang kemari menemuinya. “Baiklah. Apakah besok kau akan mengambil cuti?”

“Mm, mungkin aku akan mengambilnya.” Mata minhwa berbinar mendengarnya. “Kau, terlihat mengerikan ketika menatapku seperti itu,” minhwa tidak menghiraukan komentar myungsoo dan lebih bersemangat. “Kau tahu membawa mobil?”

“ha?”

“Aish! Jawab!”

“Arraseo, Arraseo! nde, Waeyo?”

“Temani aku pergi ke Busan!”

“MWO?”

“Haish! Cuma dua hari dua malam! Arrachi?”

“Bagaimana jika Dr. Kim memanggilku mendadak?”

“Aku sudah mengonfirmasi Dr. Kim tadi katanya kau bisa berlibur.”

“Berdua?”

“Yup!”

“KAU SUDAH GILA? BAGAIMANA JIKA SEHUN TAHU?”

“Mwo? Kau tahu Sehun darimana?”

“Kau yang menceritakannya,”

“Kapan?”

“Molla,”

“YAK!”

“Cho minhwa, kita masih berada dirumah sakit. so, pelankan suaramu,”

“Jadi?”

“Kau sudah memberitahu presdir kyuhyun?”

“Nde. Karena dia mengenalmu, maka dia mengizinkan.”

“Taemin? Bagaimana dengan Taemin? Kau bisa memanggilnya ‘kan?”

“Aish! Anak itu harus mengurus perusahaan!”

Shinjima* (*Its japanese)”

“Mwo?”

“Aniyo. Baiklah,”

“Good. Sekarang kau bisa pulang, mengemasi barang yang perlu dibawa, dan jemput aku dirumahku.” Myungsoo langsung membulatkan matanya. Bagaimana yeoja yang berada didepannya ini menyuruhnya seperti seorang pembantu? “jam dua siang kau harus berada dirumahku.” Myungsoo melihat jam dinding yang berada diruangannya. Jam menunjukkan pukul 11.45. “Ada pertanyaan?” tanya minhwa. “Kita akan berlibur kesana bukan? Uang jajanku sudah habis membeli buku kedokteran berhologram,” myungsoo langsung menyemburkan pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyanya. “Coba cek saldo kartu kreditmu sebelum keluar dari sini. Abeoji sudah mengirim uang kepadamu. Uang itu sebagai budget kita dibusan. Kau harus bertanggung jawab atas semuanya,”

“MWO? Kenapa harus aku?”

“Karena kau namja sedangkanku yeoja. Simple,”

“Aish!” minhwa merasa menang sekarang. Bisa dilihat dari wajahnya ia tersenyum. “Oke. Aku harus pergi bersiap sekarang. Dan kau, jangan berlama-lama lagi di sini, arrachi? Annyeong,” minhwa langsung berlari keluar. Dan tanpa menunggu lama lagi myungsoo langsung mengambil smartphone dan mengecek saldo bank-nya lewat sms banking. Bisa dilihat dari mata kepalanya sendiri bahwa uang yang masuk dua jam lalu mempunyai angka lima didepan, diikuti tujuh angka nol. Lima puluh juta won. “What The hell is going on? Only two days two night we’re in vacation, has fifty million won budget. Am I dreaming now?

***

            “Hua… jadi ini yang namanya busan?” Tanya minhwa sambil melihat sekitanya dengan penuh rasa kagum. “Kau belum pernah datang kesini?” Tanya myungsoo yang masih terkesima melihat busan sekarang yang semakin maju. “Aniyo. ini pertama kalinya aku datang kesini,” jawab minhwa. Minhwa langsung mendudukkan dirinya tempat duduk taman. “Kamu?”

“Aku pernah datang kesini sekali bersama Dr. Kim. Membuka praktek disini selama enam bulan,” jawab myungsoo lalu menatap minhwa. Jika yang dilihatnya ini adalah yeojachingunya, pasti myungsoo akan merangkulnya. Myungsoo menggelengkan kepalanya sekilas, mencoba membuang pikiran yang dianggapnya aneh. Dia harus menjaga jarak selama liburan ini atau minhwa akan mendapat akibatnya. “Wow! Apakah penduduk disini ramah?” Tanya minhwa dengan wajah innocent-nya. Membuat myungsoo ingin sekali menyubit pipi yeoja itu. “Lumayan. Tapi bahasa disini bisa dibilang kasar. Jadi jangan tersinggung ketika mereka berkata kasar. Karena itu sudah menjadi budaya disini.” Jelas myungsoo lagi lalu pergi meninggalkan minhwa mengambil sesuatu yang ada didalam mobilnya. Dan myungsoo kembali dengan membawa sebuah alat musik kecil. “Ige mwo-ya? Harmonika? Kau tahu cara memainkannya?” Tanya minhwa terlihat kaget dengan apa yang ditunjukkan myungsoo kepadanya. “Nde. Halmoni mengajarkanku sejak aku masih sekolah dasar. Dan sekarang beliau sudah meninggal,” mereka pun bercerita dengan asiknya. Santai, itulah yang mereka rasakan. Minhwa terlihat menikmati percakapannya begitu juga myungsoo. Mereka berdua tidak bisa menyangka bahwa mereka akan ‘connect’ seperti sekarang.

“Aku ingin makan seafood.” Kata minhwa sambil membayangkan beberapa makanan seafood kesukaannya. “Abeoji bilang, kalau aku sudah sampai disini harus langsung makan seafood disini,” minhwa menunjukkan alamat restoran pada myungsoo lewat GPS handphone-nya. Mata myungsoo langsung membulat melihatnya. “Mwo? Itu rumah makan bintang 5 hwa-ya,” komentar myungsoo cukup syok mengetahui restoran yang dimaksud. Restoran itu memberikan makanan high class untuk para pebisnis. Sepiring cumi goring tepung saja dihargai hampir empat ratus ribu won. “Apa uang yang diberikan abeoji tidak cukup? Tenang, aku juga punya uang saku yang diberikan abeoji”

“memangnya berapa juta won yang diberikan presdir kyu padamu hwa-ya?”

“Lebih dari tujuh puluh juta won,”

“MWO?” myungsoo lebih syok lagi mendengar jawaban dari minhwa. Jujur, uang yang diberikan presdir kyuhyun pada mereka sudah lebih dari cukup dan bisa dibilang keterlaluan. Tapi setelah berpikir lebuh jauh lagi dan sadar bahwa minhwa adalah satu-satunya keturunan juga keluarga dari presdir kyuhyun akhirnya myungsoo memakluminya.

***

“Mwo? Minhwa tidak menjengukmu malam ini?” Tanya soonhyeon tidak percaya pada sehun yang terlihat sedang menggambar. “Nde, tadi siang dia pamit padaku katanya ia ingin berlibur dengan temannya,”

“Nugu? Taemin?”

“Ani,”

“Yeonji?”

“Ani,”

“lalu siapa?”

“Myungsoo. Kim myungsoo.”

“Kau… tidak cemburu, sehun-ah?”

“Cemburu? Ani,”

“Wae?”

“Karena aku tidak mungkin akan bersama-nya.”

“Tidak mungkin?”

“Nde, hidupku tinggal beberapa bulan lagi,”

“Dan kau ingin menyerah begitu saja?”

“Ani. Kalau aku menyerah, berarti aku bukan oh sehoon,”

“Lalu, apa kau benar-benar mencintai minhwa?”

“Sangat mencintainya. Kau tahu noona, foto yeoja satu-satunya yang berada dikamarku hanyalah fotonya. Sedangkan aku sama sekali tidak memasang foto noonaku sendiri. Mianhae, noona-ya.” Sehun tersenyum. Senyum itu terkesan pahit. Percakapan ini membuatnya menghentikan aktivitasnya. Soonhyeon hanya diam. Ia tidak menyangka bahwa adik satu-satunya ini sangat setia pada satu orang yang sangat dicintainya diluar keluarganya. Minhwa. Yeoja itu membuat warna baru bagi sehun. Dan soonhyeon sangat bersyukur padanya. “Noona, bisakah aku meminta sebuah permintaan?” soonhyeon seperti terkena listrik dan langsung sadar dari lamuannya. “Apa itu? Aku akan mengusahakannya, sehun-ah,” kata soonhyeon waswas. Ia takut jangan-jangan sehun ingin memberikan surat dan meninggal tiba-tiba karena sakit yang ditahannya atau sehun akan memintanya untuk meninggalkan ruang inap ini lalu sehun akan bunuh diri. Soonhyeon tidak akan tinggal diam jika salah satu dari perkiraannya itu terjadi. “Aku ingin noona, membuat gaun ini,” sehun memberikan sketchbook-nya pada soonhyeon. “Aku ingin melihat minhwa memakai gaun itu sebelum aku meninggal,”

“Apa kau akan menyerah dengan penyakitmu?”

“Ani,”

“tapi kenapa kau mengatakannya seolah-olah kau menyerah dengan keadaan?”

“tapi cepat atau lambat aku tetap akan meninggal Noona-ya. Apakah kau bisa membuatkan gaun itu?” soonhyeon tidak tahan lagi dan ingin menangis. Tapi ia masih enggan mengeluarkan airmatanya karena tidak ingin dicap ‘lemah’ oleh adiknya. Dia harus kuat didepan adiknya. “Baiklah. Aku akan membuatkannya untukmu. Anyway…” soonhyeon menggantungkan kalimatnya, mencoba membaca pikiran sehun. “Itu untuk minhwa,” sebelum soonhyeon berbicara, sehun sepertinya bisa membaca lebih dulu pikirannya dan akhirnya menyambung perkataannya. “Aku ingin… melihatnya memakai gaun itu didepan altar bersamaku sebelum aku meninggal,” dan soonhyeon pun membeku seketika setelah baru saja mendengar apa yang dikatakan sehun padanya.

***

            “Myungsoo-ya! Berdiri disana! Aku akan memotretmu!” seru minhwa ketika ia dan myungsoo pergi melihat sunset. Sebentar lagi mereka akan pulang kembali ke seoul. “Yak! Sampai kapan aku selalu dijadikan objek? Sini! Lebih baik aku yang memotretmu. Lagipula, kamera itu punyaku,” balas myungsoo sambil berjalan menghampiri minhwa yang sedang mengutak atik kamera. Minhwa tidak ingin memerikan kamera itu pada myungsoo dengan cara menyembunyikannya kedalam jaketnya. “Aniyo! makanya, fotomu harus didominasi karena ini kameramu!” katanya ketus dengan posisi masih menyembunyikan kamera. “Ternyata kau mempersiapkan perjalanan ini dengan sangat matang myungsoo-ya. Bahkan aku tidak sampai berpikir bahwa aku harus membawa kamera,” lanjutnya lalu mengeluarkan kamera itu. Tidak berpikir lama lagi myungsoo langsung merampas kameranya. “YAK! KIM MYUNGSOO!”

“Ini punyaku, minhwa-ya! Bukan punyamu. Arrachi?” minhwa hanya mendengus kesal. Myungsoo pun langsung tertawa merasa menang. Myungsoo mengangkat tinggi-tinggi kamera yang dipegangnya karena minhwa yang langsung saja bergerak cepat ingin merebut kamera itu dari tangan myungsoo. “Wow! Ternyata kau begitu lincah, minhwa-ya. Tapi sayang, tinggimu itu sangat tidak mendukung untuk bisa mengambil kamera ini,” kata myungsoo yang sepertinya meledek minhwa. Minhwa melompat-lompat mecoba meraih kamera itu. Tapi hasilnya nihil. “Aish! Myungsoo-ya, kau jahat!” kata minhwa kesal lalu duduk disebuah tempat duduk yang disediakan taman itu. Myungsoo hanya melihat punggung minhwa yang menjauh darinya. Minhwa duduk dengan muka cemberut. Langsung saja myungsoo menjadikan minhwa sebagai objeknya dan mulai memotret minhwa. Minhwa yang sepertinya sedang bicara sendiri, memegang handphone lalu mengutak atiknya, melihat kesamping, bertemu dengan seekor anjing kecil dan kelinci, dan akhirnya tersenyum puas melihat sunset. Semua gerak-gerik minhwa diabadikan oleh myungsoo. “Myungsoo-ya! Kita pergi kepasar segar disana sebelum pulang? Bagaimana?” Tanya minhwa sedikit berteriak karena jarak antaranya dan myungsoo cukup jauh. “Nde, arraseo!” setelah mengatakan itu myungsoo langsung menghampiri minhwa lalu berjalan beriringan dengannya menuju pasar. Pasar itu cukup ramai walaupun sudah malam. Banyak sekali orang menjual seafood. Myungsoo dan minhwa baru tahu bahwa ada jenis seafood lain yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan seafood yang mereka tahu. Minhwa tidak tahu bahwa gerak-gerik yang diciptakannya sedari tadi diabadikan oleh myungsoo melalui kameranya. “Ahjumma! Udang ini berapa sekilonya?”

“Mwo? Kau ingin membeli seafood untuk dibawa ke seoul?”

“Lihat nama tokonya terlebih dahulu,” akhirnya myungsoo sedikit mendongakkan kepalanya dan melihat apa nama toko itu. Oh ternyata toko itu sangat familiar. Ternyata toko itu selain menjual hasil laut, mereka juga menyediakan rumah makan, dimana kita bisa langsung menyuruh mereka memasak jenis seafood apa yang kita beli tanpa membawanya kerumah lalu memasaknya. Myungsoo teringat sesuatu yang membuatnya tidak ingin makan disitu. “Bukankah jika kau ingin makan harus ditempat dimana presdir kyu tentukan?” Tanya myungsoo pada minhwa yang sibuk memilih seafood yang diinginkannya. “yang penting kita tutup mulut saja pada abeoji. Liburan macam apa kalau kita harus makan ditempat yang sama? Lagipula, ini adalah hari terakhir kita disini. Jadi, kita tidak boleh lewatkan kesempatan untuk bisa makan disini.” Jelas minhwa tanpa melihat myungsoo. Ia lebih tertarik dengan beberapa lobster yang berjalan di aquarium yang cukup besar. “Bagaimana jika presdir kyu membawa mata-mata tanpa sepengetahuan kita?”

“yasudah. Kita jujur saja,”

“Bagaimana jika kita kena marah?”

“Myungsoo-ya! Tenang. Jika ayahku marah padamu, aku akan membelamu habis-habisan,”

“Jinjjayo?”

“Nde. Promise,” myungsoo lalu diam beberapa detik, lalu mulai memotret minhwa lagi disaat minhwa sedang tawar-menawar dengan seorang ibu penjual. “Kau ingin makan yang mana, myungsoo-ya?” Tanya minhwa yang lagi-lagi tidak melihat myungsoo. Myungsoo bersyukur karena kegiatan yang sedari tadi dibuatnya tidak diketahui oleh minhwa. “Terserah kau saja,” jawab myungsoo singkat lalu ia mematikan kameranya. Ia tidak mau mengambil resiko jika minhwa mengetahuinya.

***

            Genap sudah tiga bulan sehun dirawat dirumah sakit. Kerjanya makan, tidur, duduk, dan menggambar. Tidak lebih. Berat badannya lebih menurun dan wajahnya lebih pucat. Sehun tersenyum pahit setelah membaca sebuah komik romance yg berjudul ‘I Give My First Love to You’. Komik ini menceritakan sebuah kisah dimana sepasang kekasih yang saling mencintai dari sejak mereka kecil dan pada akhirnya salah satu dari mereka meninggal. “Pasti kisah cintaku akan seperti ini. Hahaha…” sehun tertawa hambar. Sehun tidak menyangka bahwa hubungannya dengan minhwa akan seperti ini. Dialah yang membuat minhwa siksa. Kenapa dia? Yah, dia merasa bahwa dia tidak berguna. Didepan minhwa, dia tidak bisa apa-apa. Menjaga minhwa pun tidak bisa. Apalagi melindunginya? Justru hal itu yang berbanding terbalik. Minhwa yang mencoba menjaga dan menguatkan sehun agar sehun kuat melawan penyakitnya. “Namja apa aku ini hah?” sehun menutup komiknya. “Aku tidak berguna, sama sekali tidak berguna. Menjaga minhwa tidak bisa. Apalagi melindunginya? Hahaha…”

“Kau namja atau yeoja? Dasar lemah!” soonhyeon yang mendengar kata-kata sehun hanya menggelengkan kepalanya. Sehun sudah sering berbicara sendiri dari minggu lalu. Soonhyeon tidak menyangka bahwa sehun sepertinya sudah menyerah dan menerima kenyataan bahwa ia tidak akan hidup lama lagi. “Bagaimana dengan eomma? Noona? Sebenarnya aku yang harus melindungi mereka! Bukan mereka yang melindungiku! Kau banci, oh sehoon! BANCI!” tanpa sadar airmata soonhyeon sudah mengalir. Soonhyeon tidak menyangka bahwa sehun sekarang sudah frustasi tingkat tinggi. Ingin ia menelpon dokter untuk memberikan obat tenang untuk sehun. Tapi ia tidak tega melihat adiknya itu diberikan obat penenang seperti adiknya itu adalah seorang yang gila. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. “Annyeonghaseo, Oh Sehoon,” orang itu membungkuk Sembilan puluh derajat didepan sehun. Soonhyeon dengan cepat menghampiri orang itu. Ternyata orang itu adalah seorang namja dan sedang memakai jas putih khas seorang dokter. Orang itu sepertinya menyadari soonhyeon dan akhirnya ia memperkenalkan diri. “Nan Kim myungsoo imnida. Asisten dokter Kim,”

“Sedang apa kau kemari?” myungsoo sudah tahu lebih tepatnya sangat tahu kalau mereka tidak akan mengenal dokter kim, apalagi dia asistennya. “Aku datang kemari hanya ingin memberikan sesuatu, bukan untuk memeriksa sehun,” bisa dilihat oleh myungsoo bahwa kedua kakak beradik itu sedang memberikan tatapan yang mengartikan ‘apa-itu’. Myungsoo tersenyum sekilas. “Yogi,” myungsoo memberikan buku yang cukup tebal pada sehun dan sehun menerimanya dengan tatapan yang sama. “Itu dokumentasi minhwa waktu ia berada di busan bulan lalu. Mianhae, baru memberinya sekarang dikarenakan aku yang sangat sibuk dengan pasien dokter kim,” myungsoo mengalihkan pandangannya pada yeoja yang diperkirakannya seumuran dengannya. “noona sehun?” yeoja yang melihatnya itu pun menganggukkan kepalanya. “Oh, ternyata kau… yang pergi berdua dengannya?” tubuh myungsoo menjadi tegang seketika mendengar pertanyaan sehun yang terkesan… entahlah. Ia tidak bisa menjelaskannya. “Kau jangan berpikir kalau dia mulai menyukaiku. Faktanya, setiap kita pergi ke tempat wisata dibusan, dia selalu berkata, ‘Jika sehun menemaniku saat ini,’ dan ‘jika kim myungsoo itu adalah oh sehoon yang menemani minhwa,’ didepanku dengan nada sedih.” Jelas myungsoo. Ia tahu bahwa sehun pasti akan seperti ini terhadapnya.

“Minhwa-ya,” sehun mulai berkata-kata sendiri lagi. Ia menempelkan tangannya ke sebuah foto dimana minhwa sedang tersenyum. “Jeongmal bogoshipo,” sehun tersenyum pahit melihat foto minhwa sedang tersenyum sembari memamerkan giginya yang rapi tersusun.

“AAARRRRGGGGGHHHHHH!!!!” soonhyeon panik seketika begitu juga myungsoo. “OH SEHOON!!!”

***

|To be Continue|

ANNYEONG!!!! MIANHAE JEONGMAL MIANHAE!!! LAGI-LAGI TELAT POST ><

Oke, ini karena author ga punya waktu -_-v mian. Tumben banget libur gini author sibuk bgt ><

yaish. Mungkin part 13 adalah part terakhirnya. Karena author rasa kalo permasalahan minhwa ama sehun itu sudah mencapai klimaks. Nanti kalo author buat sequel pasti ceritanya minhwa udah bersama namja lain. Artinya, sehun sudah tidak ada lagi di sequel STL. Ada yang mau minta sequel? boleh. Silahkan komen yaa 😉

Oiya jan lupa juga follow twitter blogku @Vidyxezia mention for follow back oke!

Gomawo (/.\)

Advertisements

25 responses to “Somebody to Love [#12]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s