The Magical Poster [1st Part]

request_the_magical_poster

Title             : The Magical Poster  [1st Part]

Written By    : ChoiNi | @imSIWONGELF

Genre          : Romance, Fantasy, School Life, Little Comedy

Length         : Chapter

Rating          : PG15

Poster By     : Pradipa @graphicsfamily.wordpress.com

Cast             :

ɷ   All Member EXO

ɷ   Son Eun Seo [OC]

ɷ    (bisa bertambah/berkurang di setiap part)

Desclaimer : Storyline by ChoiNi!

Note : Hollaa!! ChoiNi imnida! ^o^ Ini ff pertama saya yang di share disini. Semoga suka dehyaa! 😀 Minta doa juga supaya ini ff nggak mandeg ditengah jalan (‘3’) Kemaren kan udah sempet nge-share Intro yaa? Semoga paham deh. And thanks to Pradipa >< covernya makasih yaa! Jadi keinget sungmin *eh? Buat kak mey juga, makasih udah mau nge-share ini ff *cipokatuatu*

Warning : CAST(s) BEJIBUN! Alur GAJE! Bahasa aneh. NGEBOSENIN! Typo(s) everywhere. Don’t bash. Don’t be silent reader. Don’t be plagiator. RCL seikhlasnya 🙂

Inspirased : Poster Jumbo EXO yang nempel didinding kamar saya -_- *nggak elit banget

ChoiNi POV = Author POV

Happy Reading 🙂

Intro |

#__________________

» ChoiNi POV «

Didalam hutan yang lebat, seorang pria tengah ditarik menuju sebuah lubang. Ia berusaha meronta tapi kekuatannya tak cukup untuk membebaskan diri dari dua orang berbadan tegap yang memegang lengannya erat. Mulutnya yang semula dibekap menggunakan kain usang kini telah dilepas.

“Apa maumu He Jiong?!!” teriaknya setelah kain usang itu jatuh ke tanah

“Tentu saja sebuah kehormatan dan pengakuan!” ucap He Jiong tak kalah seru

“Kau…. Awas kau He Jiong!!” rutuknya

“Apa? Apa yang akan kau lakukan hah? Lebih baik kau bersiap untuk menjadi manusia dan masuk ke dunia tak berperikemanusiaan seperti itu, Tuan Zhang!” kata He Jiong lalu mengeluarkan seringai paling mengerikan yang ia punyai

Dan setelah itu, tubuh Zhang Yi Xing dikelilingi sinar putih. Ia kesakitan. Dan sedetik kemudian, Yi Xing telah masuk ke dalam lubang yang tak lain adalah penghubung dimensi manusia dan para kaum Pixie.

“Kyaaaa!!!!” teriakkanya menggema didalam lubang mirip sumur itu. Hingga Ia terdampar disebuah ruangan dengan pakaian yang berbeda.

***

“Sangjanim? Apakah tidak ada hukuman lain selain menjadi manusia dan harus tinggal dibumi? Aku akan melakukan apapun jika hukuman ini diubah Sangjanim, kumohon” kata seorang namja sambil berlutut

“Kau sudah salah dan lancang Park Chanyeol! Dan sekarang kau masih berani untuk menawar hukumanmu?! Apa kau gila Park Chanyeol!!” teriak Jung YunHo, Pemimpin Kaum Hemma.

“Mianhaeyo, sangjanim. Jeongmal Mianhaeyo Sangjanim. Tapi aku sungguh tak ingin masuk ke dunia tak beradab seperti itu, Sangjanim” keukeuh Chanyeol

“Itu pantas untukmu Park Chanyeol. Sama sama tak beradab!” tegas YunHo

***

Seorang namja tengah terbang rendah menggunakan sepasang sayap putih nan lebar disekitar hutan terlarang. Mencoba sehati mungkin agar tidak mengeluarkan suara. Ya, Ia sedang diburu oleh puluhan bahkan ratusan makhluk yang sama jenisnya. Namun berbeda kelamin. Luminos.

“Ahh, aku harus sembunyi dimana?” tanya Luhan pada diri sendiri

Luhan celingukan. Mencari tempat seaman mungkin sebelum para prajurit Istana Luminos menangkapnya. Hingga Ia menemukan sebuah lubang disalah satu pohon tua. Luhan memutuskan masuk ke dalamnya. Seketika sinar putih keluar terpancar dan membawa Luhan ke sebuah ruangan berbeda juga dengan baju berbeda. Tanpa sayap kebanggaan kaum-nya.

***

“Semua pilihan ada ditanganmu, Wu Yi Fan!”

Wu Yi Fan atau WuFan tengah berpikir keras. Ia merutuk dirinya karena telah terjebak dalam permainan calon kakak iparnya, Lee Hyuk Jae. Ya, menurut WuFan pilihan yang diberikan oleh Hyuk Jae adalah sebuah jebakan.

Trade Off! WuFan atau makhluk lainnya pun membenci itu. Kondisi dimana seseorang harus memilih salah satu dan mengorbankan hal lainnya.

WuFan tak ingin memilih, tapi Ia harus memilih. Meninggalkan calon istrinya, Lee Hyun Jae dan Ibunya akan aman. Atau tetap bersama Hyun Jae namun dirinya akan melihat Ibunya digantung di alun alun kota. Sungguh pilihan yang sangat konyol karena kedua wanita itu adalah orang yang WuFan cintai dan ingin dia lindungi.

“Aku memilih Ibu…” lirih WuFan. Tangannya mengepal saat mengucapkan kalimat itu. Hyuk Jae yang mendengarnya tersenyum penuh kemenangan lalu bergumam.

“Good Son,”

***

Seorang namja bertubuh mungil berlarian tak tentu arah. Tak jarang Ia tersandung batu maupun akar tunjang pohon pohon tua nan besar yang tumbuh disepanjang lereng gunung. Ia sedang dikejar seorang gumiho laki laki. Namja mungil itu tak bisa mencari alasan kenapa dia –gumiho boy- terus saja mengejarnya. Bahkan dari ucapan atau tepatnya teriakan dan seruan yang dikeluarkan gumiho laki laki itu.

“Hey, pencuri! Jangan lari kau!!” sebuah teriakan dari gumiho laki laki itu menggema. Membuat tubuh namja mungil itu lebih bergedik ngeri

“Apa yang harus kulakukan?” lirih namja mungil itu

“Hey, bocah! Kembaikan permata milik kekasihku!” suara itu terus menggema. Mengalirkan ketakutan tersendiri bagi namja mungil itu

Si namja mungil itu bergerak mundur saat merasakan seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri. Berjalan mundur dengan perlahan. Hingga suaranya yang kini menggema disekitar lereng gunung terdengar.

“Kyaaaa!!!” teriak namja mungil itu setelah dirinya jatuh dari pinggir jurang. Ia berpikiran jika dirinya telah meninggal. Hingga Ia berada di sebuah ruangan dengan baju yang berbeda. Dan ternyata, bukan dirinya saja yang ada diruangan itu. Empat namja dengan baju yang sama telah berada ditempat itu sebelumnya.

‘Apa mereka juga baru saja mati sepertiku?’ pikirnya

***

Tengah malam di rumah tua yang mengerikan, seorang pria berkulit tan tengah mengendap endap. Bermaksud keluar dari rumah keluarga Kim. Ini adalah kesempatan emas untuknya melarikan diri dari rumah. Mengingat orangtuanya baru saja pergi ke rumah Kim Halmoeni.

“Selamat tinggal rumah jelek, aku akan mencari pujaan hatiku! Yuhuu!” girangnya setelah berada jauh dari halaman rumah tua itu

Setelah beberapa saat lompat dari satu pohon ke pohon lainnya (?), Kim Jongin akhirnya berhenti disebuah gua. Ia dan bangsanya tau jika itu adalah gua terlarang. Tak boleh ada yang kesana. Tapi Jongin nekat. Dan itu semua karena jantungnya yang berdebar setiap bertemu seorang wanita dari bangsa musuhnya, Manusia.

“Huh, Ayah? Ibu? Maafkan anakmu ini yang telah durhaka karena jatuh cinta pada seorang manusia,” gumamnya sesal lalu melangkah menuju gua terlarang itu. Hingga Jongin terdampar disebuah ruangan dengan pakaian berbeda. Mata cokelatnya bertemu dengan lima pasang mata lainnya.

***

“Hyung, apakah kau yakin dengan rencanamu ini?” tanya seorang namja kepada Hyuk Jae

“Tentu saja, Hyun Jae pasti akan senang karena bisa menikah dengan pria sepertimu,” jawab Hyuk Jae lalu menepuk pundak Junmyun beberapa kali

“Tapi bagaimana dengan mantan kekasihnya itu?” tanya Junmyun lagi.

“Makhluk demigod itu sudah kuatasi. Kau tak usah khawatir, Kim Junmyun” ujar Hyuk Jae diiringi seringai khas miliknya

Junmyun hanya bisa berharap jika pernikahannya dengan Hyun Jae esok hari berjalan dengan lancar. Meski sebagian hati kecilnya berontak. Mengatakan jika hal ini adalah keputusan yang salah.

Junmyun dan Hyuk Jae larut dalam pemikiran masing masing. Hingga seorang pelayan dengan gugup mengatakan hal yang sangat buruk.

“Maaf Tuan, Nona Lee Hyun Jae telah melarikan diri dari istana” ucap sang pelayan dengan gugup dan menundukkan kepalanya.

***

Sehun berkali kali berteriak menyerukan ancamannya. Ia marah. Permata milik kekasihnya, Min Chan telah dicuri oleh seorang lelaki yang ternyata manusia. Makhluk yang sangat dibenci oleh pria bermarga Oh itu.

“Aishh, kemana perginya bocah itu?” geram Sehun

Sehun melangkah mendekati ujung lereng. Ia merasakan ada makhluk selain dirinya di lereng gunung itu. Entah manusia atau gumiho atau bahkan makhluk lainnya. Sehun tak tahu. Ia hanya mengikuti langkah kakinya. Hingga sebuah teriakkan menggema.

“Kyaaa!!!!”

Sehun sadar betul jika itu memanglah nyata. Bukan halusinasi ataupun semacamnya. Ia mendekati asal suara dengan hati hati. Langkahnya terhenti sejenak, pikirannya sedang berpikir keras.

“Apa dia sudah mati? Jika aku turun apa aku juga akan ikut mati?” tanya Sehun pada dirinya sendiri

“Eyy, aku gumiho. Mana mungkin mati -_-” lanjut Sehun ß- labil pemirsah -,-

Dan sedetik kemudian, tubuh Sehun telah terjun bebas. Teriakkannya menggema di sepanjang lereng gunung. Matanya terpejam saat itu juga. Menikmati udara malam yang sangat dingin.

“Eh? Aku dimana?”

Itu adalah pertanyaan pertama yang Sehun katakan setelah mata hazelnya terbuka. Pakaiannya sudah terganti. Sebuah ruangan dengan tujuh orang lainnya.

***

Seorang namja Pixie tengah terbang tinggi menggunakan sayap putihnya. Ia satu satunya Pixie dengan sayap putih. Tinggi tubuhnya tak lebih dari ibu jari orang dewasa, sama seperti Pixie lainnya.

Setelah terbang dengan jarak yang cukup lumayan. Namja itu perlahan turun dan memijakkan kaki mungilnya dilingkungan Istana Kerajaan Pixie. Ia memasuki sebuah bangunan yang terlihat cukup besar diantara bangunan lainnya.

Setelah menutup pintu, namja itu menghampiri sebuah ranjang. Diatas ranjang, seorang wanita tengah tertidur pulas. Disisi kanan kirinya terdapat beberapa pengawal kerajaan.

Mengetahui jika salah satu Pangeran Kerajaan Pixie datang, para pelayan segera menunduk. Namja itu hanya tersenyum tipis dan segera berdiri disamping ranjang. Mengusap rambut sang bunda dengan penuh kasih sayang.

“Hyung? Kau benar akan melakukannya? Mencari white pearl di dunia manusia?” tanya Kyung Jae yang telah berada diruangan itu lebih dulu

“Yee, Kyung Jae. Aku akan menghadap Appa setelah ini,” jawab Kyung Soo yakin

“Tapi hyung…” ucapan Kyung Jae terpotong oleh selaan Kyung Soo

“Jaga omma baik baik. Aku pergi sekarang,” pesannya pada adik beda rahim itu setelah mengecup kening sang bunda

Kyung Soo berlalu dari kamar itu. Ia segera terbang menuju Istana tempat tinggal Appanya yang tak lain adalah Raja Pixie. Demi ibunya, apapun akan Ia lakukan.

***

“Kim Jong Dae, ini sudah ketiga kalinya kau salah mencabut nyawa seseorang! Oleh karena itu, namamu akan dicoret dari daftar para pencabut nyawa!” tegas Kwon BoA, pemimpin para pencabut nyawa manusia.

Jong Dae yang mendengar hal itu hanya bisa menghela nafas berat. Ia merutuk dirinya sendiri karena telah melakukan kesalahan fatal secara berulang.

“Dan hukuman untukmu adalah melindungi seorang perempuan yang mempunyai white pearl didunia. Kau akan kujadikan manusia lagi. Jika kau tidak bisa melindungi gadis itu dan white pearlnya maka kau tidak akan bisa merasakan indahnya surga dan akan terus mengalami reinkarnasi! Kau paham?!” jelas BoA

“Arasseo,” kata Jong Dae pasrah

***

“Aku tak menghamili putrimu Tuan Li!” sergah namja yang tengah berlutut itu. Lebih tepatnya dipaksa berlutut

“Kau lancang sekali hah? Aku Raja disini, Pemimpin Warlock! Harusnya kau lebih sopan sedikit, Kau tahu!” bentak Raja Li

“Cih, aku tak perduli!” balasnya disambut dengusan kecil dari Sang Raja

“Kau hanya perlu mengaku jika kau telah menghamili putriku, Huang Zi Tao. Itu saja. Apa susahnya hah?!!” bentak Raja Li lagi

“Itu karena aku tak menghamili putrimu Tuan Li! Menyentuhnya saja aku tidak pernah! Bagaimana bisa aku menghamilinya hah?!!!” balas Tao dengan nada tak kalah tinggi

“Cih, masih saja mengelak” dengus Raja Li

“Pengawal, segera eksekusi Huang Zi Tao! Sekarang!” lanjutnya

***

“Bibi, aku merindukan keluargaku” eluh seorang namja kepada ahjumma yang sudah dianggap seprti ibunya sendiri

“Aku tahu, Min Seok. Kau pasti sangat merindukan mereka. Aku mengerti,” tutur Kim Ahjumma lembut sambil membelai rambut milik Kim Min Seok yang berada dalam pelukannya

“Bibi? Apakah bisa jika aku kembali menjadi manusia? Aku ingin bertemu dengan keluargaku, bibi” eluh Min Seok lagi

“Jika itu yang kau mau, bibi akan usahakan. Kau masuklah ke dunia manusia dulu. Dan untuk mejadikanmu manusia lagi, kita lakukan secara perlahan. Arasseo?” kata Kim Ahjumma

“Arasseo. Gomawo, bibi” ucap Min Seok lalu mengeratkan pelukkannya pada pinggang Kim Ahujmma.

» ChoiNi POV END «

***

» Eun Seo POV «

Cahaya matahari sore menembus kamarku melalui kaca jendela dan beberapa lubang kecil. Tapi itu tak membuatku untuk berhenti memandang sebuah poster jumbo yang telah terpasang didinding kamarku yang berwarna putih. Sebuah pikiran konyol sempat lewat diotakku.

“Apa benar kata halmoeni tadi? Jika mereka bisa menemaniku?” gumamku lirih tanpa mengalihkan arah pandangku ke benda lainnya. Kejadian siang tadi masih teringang dipikiranku.

╣Flashback Star╠

Aku mengeratkan mantel putih gading yang melekat ditubuhku. Entahlah, cuaca hari ini sangatlah dingin. Padahal, ini baru awal musim dingin. Sampai sampai aku harus menggunakan syal tertebal yang kumiliki. Dan kurasa aku harus membuat beberapa rajutan syal yang lebih tebal lagi. Ya, mungkin itu harus.

Aku melangkahkan kakiku santai menuju rumah sederhana yang bisa dibilang cukup luas untuk kutinggali sendiri. Ada sekitar tiga kamar kosong dan satu lagi kamarku tentunya. Tak ada orangtua, keluarga ataupun pembantu. Hanya ada seorang ahjussi baik hati yang kadang akan berjaga didepan rumahku jika malam tiba. Im Ahjussi memang terlalu baik.

Tak sedikit asap keluar dari bibirku, hidung bahkan telinga. Sungguh, setelah ini aku harus merendamkan kakiku ke air hangat dan meminum secangkir white coffee. Hah, membayangkannya saja sudah terlalu nikmat.

Samar dari kejauhan aku bisa melihat seorang nenek dengan sweeter bewarna hijau tua tanpa mantel. Oh ya ampun, apa nenek tua itu mau mati bunuh diri? Di suhu yang bahkan mencapai minus derajat celcius ini, beliau hanya menggunakan sweeter yang sedikit usang? Tanpa syal? Tanpa sarung tangan? Dan bahkan tanpa mantel? Sungguh gila.

Aku melangkahkan kakiku. Bukan masuk ke rumahku yang sudah terlewati tiga rumah. Melainkan menuju halmoeni yang tengah meringkuk itu.

“Chogiyo, Halmoeni? Gwenchanayo?”

Aku menyapanya sesopan mungkin dan ikut berjongkok didepan halmoeni itu. Oh Tuhan, sungguh. Wajahnya begitu pucat. Hidung dan telinganya memerah. Bibir halmoeni juga sedikit retak. Sudah berapa lama halmoeni ini disini?

Beliau tak menjawab. Hanya gertakan gigi gigi nya yang sudah tak penuh yang dapat kudengar. Menandakan jika beliau memang kedinginan. Sangat kedinginan malah.

“Halmoeni, ikutlah denganku. Rumahku tak jauh dari sini. Anda bisa menghangatkan tubuh Anda sejenak,” ucapku menawarkan bantuan

Ia tersenyum. Senyuman lembut seorang nenek. Ahh, aku jadi rindu mendiang nenekku.

“Bolehkah?”

Aku tersenyum mendengar suara serak miliknya. Matanya memancarkan sebuah harapan. Sepertinya, besok aku harus segera ke makam nenek dan keluargaku lainnya.

Aku merangkul tubuh renta milik wanita berumur sekitar lebih dari 60 tahun itu. Dan hal yang kurasakan saat menyentuh kulit keriput yang tak terbalut kain itu adalah dingin. Sangat dingin.

Setelah beberapa melangkah, aku masuk kerumah bersama halmoeni yang baru saja kuketahui bermarga Park. Entahlah, beliau hanya memberi tahuku marganya saja.

Aku mempersilahkan Park Halmoeni untuk duduk di ruang keluarga. Oh tidak, aku lebih suka menyebutnya ruang tv daripada ruang keluarga, mengingat aku sudah tidak mempunyai keluarga disini. Hanya beberapa saudara jauh yang tidak terdeteksi keberadaanya.

Aku memberikan mantelku padanya lalu menyalakan penghangat ruangan. Setelah sedikit berbasa basi, aku pamit untuk pergi ke dapur. Menyiapkan sebuah baskom berisi air hangat dan secangkir teh melati. Setelah siap, aku baru melangkahkan kakiku keluar dari dapur dan membawa benda benda tersebut secara bergantian.

“Halmoeni, berendamlah sebentar. Kurasa penghangat ruangan juga belum cukup,” kataku sambil meletakan baskom merah tua itu disamping kedua kaki Park Halmoeni

“Terimakasih, Nak. Maaf merepotkanmu” ujarnya seraya tersenyum dan memasukkan kedua kakinya kedalam baskom

“Tak apa halmoeni. Sudah sewajarnya. Ahh, dan ini kubuatkan teh untukmu. Minumlah selagi hangat,” ucapku sambil memberikan secangkir teh hangat

“Ahh, aku telah banyak merepotkanmu. Bagaimana bisa aku membalas kebaikanmu, yeoja baik?” tuturnya lembut

“Emm, aku akan sangat senang jika Halmoeni bisa tinggal bersamaku disini. Tinggal sendirian itu sangatlah tidak mengenakan.” ujarku sambil sedikit tertawa

Entahlah, aku bahkan belum genap satu jam mengenal Park Halmoeni. Tapi aku sudah bisa merasakan jika Beliau adalah orang yang baik dan penyayang.

“Mianhae, tapi halmoeni tidak bisa tinggal bersamamu. Ada beberapa urusan pribadi yang harus halmoeni selesaikan dulu,” kata Park Halmoeni dengan raut wajah penuh penyesalan. Ahh, aku jadi tak tega jika melihatnya seperti itu

“Eo, gwenchana halmoeni. Aku mengerti” ucapku dengan raut wajah yang seakan baik baik saja

“Geunde, halmoeni mempunyai sesuatu untukmu. Ige..” Park Halmoeni memberiku segulung kertas lumayan tebal

“Poster…?” ulangku dengan dahi mengernyit

“Nde, semoga kau suka dengan poster itu. Maaf, hanya poster itu yang bisa Halmoeni berikan untukmu” ujarnya dengan senyum manisnya

“Aniyo, halmoeni. Aku sudah sangat senang dengan postermu ini. akan kupajang didinding kamarku nanti,” ucapku seranya tersenyum dan membuka gulungan itu perlahan

Dan ya. Terpampanglah 12 pria dengan wajah diatas rata rata. Aku tidak bisa mengingkari jika mereka semua tampan. Tapi ada salah satu yang menarik perhatianku. Aku seperti mengenal satu diantaranya. Tapi siapa?

“Kau tidak akan kesepian lagi, mereka semua akan menemanimu,” tuturnya lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari poster jumbo yang sedang kupegang

Aku hanya meresponya dengan senyuman kecil. Antara percaya dan tidak. Bagaimana tidak? Mereka hanyalah dua belas pria tampan yang tidak kuketahui siapa dan menempel dikertas yang bahkan tebalnya tidak lebih dari 0,1 cm. Tapi bagaimana lagi? Aku harus menjaga sopan santun dengan hanya menerima poster ini tanpa bertanya lebih jauh lagi.

Love in your eyes

Sitting silent by my side

Going on Holding hand

Walking through the nights

 

Aku bisa mendengar lagu milik Foina Fung – Proud Of You mengalun dari arah kamarku. Sepertinya ada yang meneleponku.

“Halmoeni, aku mau mengangkat telepon terlebih dahulu” kataku lalu beringsut menuju kamar

Aku mengenryit heran setelah sampai dikamar. Saat aku mengecek handphone-ku tak ada pemberitahuan panggilan masuk. Terakhir dari Eun Rii dan itupun tadi malam. Apa hanya perasaanku saja? Ya, aku harap begitu. Karna jika tidak, berarti rumahku ada penunggunya dong? Aku bergidik ngeri membayangkan jika itu memang terjadi.

Kembali, aku mengenryit heran untuk kesekian kalinya. Halmoeni? Park Halmoeni tidak ada! Aku mengedarkan pandanganku seluruh penjuru rumah, tapi Nihil. Aku tidak menemukan batang hidungnya. Sesaat pandanganku mengarah ke meja tempat dimana kami berbincang tadi. Teh hangat nya sudah tak penuh lagi, hanya tinggal setengah. Handuk kecil yang kuberikan tadi juga masih kering. Tidak basah sama sekali. Pandanganku beralih menuju pintu rumahku. Masih terkunci. Aneh, bagaimana bisa Park Halmoeni meninggalkan rumahku tanpa ada suara sedikitpun?

Aku mengangkat bahu. Mencoba berpikir positif dan realitis. Daripada aku berpikiran negatif, lebih baik aku membereskan beberapa benda yang tadi sempat kuberikan kepada Halmoeni. Secarik kertas kecil menarik perhatianku. Dan kuputuskan untuk menariknya dari bawah cangkir. Dan ya, coretan singkat ada diatas lembar kertas mungil tadi.

‘Terimakasih, Nak. Dan berbahagialah’

 

Aku tersenyum kecil setelah membaca pesan dari Park Halmoeni. Lalu melanjutkan kegiatanku yang sempat tertunda tadi.

╣Flashback END╠

Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Huh, apa aku sudah mulai termakan omongan Park Halmoeni? Dan ya, kurasa aku juga ketularan sifat aneh dari lead vocal Super Junior. Siapa lagi kalau bukan Kim Yesung? *ditendangclouds

Aku mengambil kertas kecil yang bertuliskan pesan singkat dari Park Halmoeni. Entahlah, aku sedikit berat hati untuk sekedar memasukkannya ke dalam tong sampah.

Aku mengangkatnya tinggi tinggi. Seolah ada benda tak kasat mata seperti kuman atau bahkan virus maupun bakteri. Bukan karena aku jijik. Tapi karena aku penasaran. Menurutku, ada pesan lain yang ditinggalkan Park Halmoeni selain ungkapan terimakasih.

Aku menghadapkan tubuhku ke kaca jendela. Membiarkan tubuhku terkena sinar matahari sore yang menembus jendela kamarku. Sekali lagi, aku mengangkat kertas itu diatas kepalaku. Aku menyipitkan mataku karena silau. Dan kurasa aku menemukan beberapa deret huruf hangul disisi kertas yang masih kosong.

Bingo!

Aku membelakakan mataku seketika. Mulutku juga berhasil membuat huruf ‘o’ untuk beberapa saat. Bagaimana tidak? Park Halmoeni meninggalkan pesan tersembunyi! Ia menggunakan air jeruk nipis untuk menuliskan deretan kata itu. Jika dilihat secara sekilas, memang tidak terlihat apa apa. Tapi jika diteliti lagi dan diterawang. Jelas sekali ada kalimat cukup singkat yang tertulis disana. Jangan heran kenapa aku bisa langsung tau, ini adalah salah satu caraku berkirim pesan dengan Myung Soo saat aku masih kecil. *mantan saya nyelip -_-v

Cium wajah ke 12 pria itu, jika kau ingin bahagia  

 

Aku membulatkan mataku tak percaya. Mencium ke 12 orang itu? Oh tidak, bukan orang melainkan gambar. Bukan hal sulit memang, tapi ayolah itu terdengar konyol. Sangat konyol malah.

Aku mulai beringsut dari dudukku. Menuju ruangan kecil yang berada di salah satu sudut kamarku. Ya, kamar mandi. Mungkin setelah mandi pikiran konyol itu akan hilang. Semoga saja.

***

Aku melirik jam dinding ultraman ku yang bertengger diatas poster idolaku, Choi Siwon. Sudah sekitar satu jam aku memperhatikan poster pemberian Park Halmoeni. Dan selama itu pula aku masih mempertimbangkan untuk mencium ‘orang orang’ dalam poster itu atau tidak. Bahkan hingga matahari tenggelam, aku masih bimbang.

5 menit…

10 menit…

15 menit….

20 menit…

Aku sudah beranjak dari dudukku. Bersiap maju untuk melakukan hal konyol yang kupikirkan sedari tadi sore. Tidak ada salahnya kan jika aku mencoba? Toh jika memang tak ada reaksinya aku tak akan gengsi karena dirumah ini aku tinggal sendirian. Tapi, jika itu bereaksi? Entahlah.

Aku memulai untuk mencium satu persatu bibir ‘orang’ yang ada diposter itu.

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

Aku telah mencium kesebelas orang didalam poster itu. Hah, sangat konyol. Tinggal satu namja yang belum kucium. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Aku malah menutup kedua mataku. Entah menikmati atau apa. Aku sendiri tidak tahu.

12

Aku membelakakkan mataku. Ketika menyadari ciumanku dibalas oleh seseorang. Namja jangkung dihadapanku ini melumat bibirku sedikit kasar. Tangan kanannya menekan tengkukku sedangkan tangan kirinya meraih pinggangku. Menginginkan ciuman yang lebih dalam lagi.

Seharusnya aku memberontak. Seharusnya aku mendorong pria kurang ajar ini. Seharusnya aku menampar pipi tirusnya. Tapi kenapa aku malah diam saja?

“Ekhem… Ekhem….”

Sebuah deheman menginterupsi. Membuat kesadaranku pulih seketika. Aku mendorong tubuh jangkungnya dengan keras. Mengelap bibirku yang masih sedikit basah. Bisa kuliat jika namja jangkung itu tengah tersenyum penuh kemenangan. Sial!

Aku mengedarkan pandanganku dan mendapati 12 namja tengah berdiri mengeliliku. Aku terkejut bukan main. Ini semua nyata! Semua namja tampan itu nyata!

“Oh! My God!”

-TBC-

Bagaimana? Bingung? Semoga enggak -,-

Gaje? Pasti iya =,=

Dan saya mau minta maaf, jika para reader malah tambah bingung -_-v Juga kalo first part ini malah membuat reader kecewa *bow*

Mungkin, untuk penjelasan makhluk makhluk yang berasal dari negeri antah brantah (?) itu akan dibahas next part, Okey? *nge-wink

Thanks for all 🙂

P.S : Please, don’t call me AUTHOR or AUTHOR-NIM! Just call me Niti/ChoiNi/Siwon’s Wife/Leeteuk’s Sister/Dio’s Girlfriend/Kris’s Bestfriend/Chanyeol’s ex-girlfriend. Okey? 😉 Haha 😀 #maruk :p

See you next part ^^

Advertisements

43 responses to “The Magical Poster [1st Part]

  1. Nama Yeppa disebut-sebut lagi hehe
    Namja terakhir itu pasti Kris….
    Kok dunia manusia dianggap ga’ beradab sih ?!
    Pokoknya keren (y)

  2. Daebak!!
    Openingnya bagus, tbc nya juga bagus (?) hehe maksudnya yang sebelum tulisan tbc.. Lebih bagus lagi kalo ‘tbc’ nya di ganti jadi ‘Next’ . . . Wkwkwk
    Author yang baik hati, jangan lama2 yah next partnya.. Ga sabar, coz ini adalah cerita yang saya nanti2 (ciyeee) dan saya menemukannya di ff author (cuitt cuiitt) B-)

    keep writing ya thor… Si tao kok kasusnya gak enak banget, “di tuduh ngehamilin anak orang” -_-‘ #wakabaikan

  3. Keren bnget ne ff,sesuai dgn hayalan sya haha ap lag! Qta 1 bias haha ,d tunggu next part x ch!ngu . .he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s