[One-Shot] A(f)fair

By : MissFishyJazz

2NE1’s Dara, EXO’s Suho, BIGBANG’s G-Dragon, Miss A’s Suzy

One-shot | Hurt, Family, Romance | PG-17

Inspired By : Ailee – Ice Flower, Cruel Temptation (2009), Pink Lipstick (2010)

A(f)fair

Another day quietly passes again

I am just living like that

I can’t do anything

Only memories remain

 

If only I can love again after time passes

It would be so nice

Namanya Sandara Park. Jika kamu ingin mengetahui siapa wanita dengan sanggulan rambut kecoklatan rendah. Orang-orang pasti mengiranya sebagai gadis di pertengahan usia kepala dua yang terjebak dalam pesta umum para tetua yang ketat aturannya. Tapi tidak. Karena dia beberapa bulan lagi akan resmi menyandang usia 36 tahun dan sudah sepatutnya wanita sepertinya, apalagi dalam lingkup keluarga hedonis kaya untuk berdandan bak porselen Inggris.

Jika mau ditilik lagi, ia tidaklah lahir dari keluarga bangsawan manapun. Ia hanya anak buruh tani di pinggir Yeonju yang mengadu nasibnya di ibukota dan terjebak dalam kepedihan hati selama bertahun tahun. Ia memiliki suami, yang sangat mencintainya. Bahkan tak segan memberikan apapun untuknya. Sekalipun suaminya, Kwon Jiyong—Si Anak Bangsawan sekaligus konglomerat yang kekayaannya tak akan habis sampai 10 atau mungkin 20 turunan—lebih tua hampir 11 tahun darinya. Lantas apa yang membuatnya terjebak dalam kepedihan hati jika seperti itu? Ia memiliki semua yang wanita bermata hijau inginkan, cantik, awet muda, kaya, memiliki suami yang mencintai sepenuh hati di usia yang rawan mati, dan pintar.. Ahh iya, ada satu yang terlupa, Sandara amat pintar. Ia bisa tinggal di asrama kampusnya karena otaknya yang encer dan ide-ide pembaharuannya yang cemerlang.

Ironisnya, hal yang membuatnya merasakan kepedihan hati adalah.. Pernikahannya, suaminya. Bukan. Bukan karena Jiyong belum menandatangani pelimpahan tiga perempat harta untuknya, Jiyong sudah melakukan itu tepat sehari setelah ia mulai jatuh sakit-sakitan. Bukan juga karena Sooji, gadis 17 tahun, anak Jiyong dari istrinya terdahulu. Sandara sangat menyayangi Suzy—nama sehari-hari Sooji—seperti anaknya sendiri. Lalu karena apa?

Karena di lubuk hatinya yang terdalam tidak pernah ada nama Kwon Jiyong. Di celah hatinya yang manapun, sekalipun ia telah memiliki Minhyuk dan Jennie dari 10 tahun pernikahannya, Ia tidak pernah mencintai suaminya.

Suaminya seperti pahatan Michael Angelo yang sempurna. Ia tampan, kaya, ramah, cerdas, pebisnis ulung dengan darah biru murni, dan penuh pesona. Tapi yang tidak semua orang tahu adalah setiap orang di dunia ini, bisa menjadi pedang bermata dua. Seperti halnya Jiyong. Di balik semua frasa frasa sempurna itu ada Jiyong yang culas, Jiyong yang licik, Jiyong yang semena-mena, dan Jiyong yang telah merebut kebahagiannya. Kebahagiaan yang dulu seharusnya ia rasakan bersama kekasihnya, Joonmyun.

Istri Jiyong yang terdahulu, Ahn Sohee, bahkan mencampakkan pria itu karena segudang sikap buruk yang ia miliki. Dan dengan segudang sikap buruk itu pula Sohee yang malang tidak bisa mengambil Suzy dari tangan Jiyong dan berakhir dengan bunuh diri beberapa tahun setelah perceraian keduanya.

Eomma..” Suzy memanggil. Gadis itu nampak cantik. Ketika Sandara melihat gadis itu ia jadi teringat Sohee. Ia pernah sekali bertemu Sohee, gadis baik yang hanya berbeda empat tahun di atasnya di sebuah posko bantuan korban bencana ketika ada gempa di Ilsan. Sohee yang baik hati, kenapa harus berakhir dengan tragis seperti itu?

Ne, Suzy?” Suzy mendekat, mengantar sebuah nampan baja di tangannya. Sandara melihatnya hanya tersenyum tenang. Ini sudah waktunya.

“Jadi ini yang terakhir?”

Ne eomma. Aku mendengar dari Dokter Han, bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk Appa. Sembuh atau tidaknya Appa ditentukan hari ini. Kita bisa menunggu hasilnya.. Besok.” Suzy tersenyum lamat-lamat dan Sandara mengangguk mengerti.

“Apa malam ini kau akan pergi dengan Junho lagi?” Sandara mengusap rambut putrinya dengan penuh sayang. Bagaimanapun entah kenapa ia sangat mencintai Suzy.

Ne eomma, aku dan Junho oppa akan melihat festival makanan bersama Myungsoo oppa dan Naeun.”

“Hati-hati ya. Jangan pulang terlalu larut.” Suzy tersenyum dan mengecup pipi ibu tirinya penuh sayang. Eomma, ini tidak akan lama lagi.

Suzy tahu, ia tahu tentang hubungan ibu tirinya dan Joonmyun. Ia pernah melihat sekali mobil pribadi Sandara berhenti di depan sebuah rumah sederhana di daerah Barat Seoul. Sandara tidak turun. Ia hanya menepi di seberang rumah itu. Memperhatikan seorang pemuda, yang mungkin hanya satu atau dua tahun lebih muda dari Sandara berkebun. Ia tidak tahu siapa pria itu. Tapi ia tahu dari pertama kali melihat pria itu, pria itu sama sekali tidak memiliki gairah hidup. Pria itu tanpa sengaja menjatuhkan beberapa barang. Bahkan ia tidak merespon beberapa sapaan hangat dari orang yang lalu lalang di depan rumahnya. Ia seperti mesin hidup yang bisa berkedip, bergerak, dan berinteraksi layaknya manusia tapi tetap tidak memiliki hati.

Beberapa hari setelahnya Sandara datang lagi. Lagi dan lagi. Sampai Suzy mendengar pertengakaran hebat kedua orangtuanya, Sandara menangis malam itu. Sekalipun Sandara nampak begitu rapuh, tapi di mata Suzy ibu tirinya bukan orang yang seperti itu, Sandara begitu kuat dan jarang menangis. Sejak malam itu, Suzy tidak pernah lagi menemukan mobil Sandara di depan rumah pria yang akhirnya ia ketahui bernama Joonmyun berikut dengan riwayat hubungannya dengan Sandara.

Eomma..” Ketika mereka sudah berjarak cukup jauh dan saling memunggungi Suzy berujar dengan suara pelan. Sandara hanya berdiam di tempatnya, tidak berbalik dan hanya mengerjap sayu.

Ye, Suzy?”

“Maukah eomma menunggu?”

“Menunggu?” Sandara hendak menoleh ketika Suzy mencegah dengan suara parau.

“Tolong jangan menoleh,” Suzy menghapus airmatanya yang tiba-tiba mengalir. “Maukah eomma menunggu sampai semua ini selesai nantinya, tetap bersamaku, dan pada akhirnya bisa bersama dengan Kim Joonmyun lagi?”

Suzy tidak membayangkan apa yang sepuluh tahun ini dipikul Dara sendiri. Ayahnya yang pemaksa memaksakan pernikahannya, merebut Dara dari Joonmyun yang miskin dengan cara tidak terhormat hingga mengandung Minhyuk. Jika ia jadi Dara mungkin ia sudah mati bunuh diri setelah melahirkan Minhyuk, atau langsung membunuh Jiyong. Tapi tidak, ibunya malah memilih meninggalkan Joonmyun. Demi keselamatan Joonmyun dan demi dirinya. Ayahnya yang mulai depresi dengan semua penolakan Sandara mungkin saja mencelakainya dan Dara menikahi ayahnya untuk melindungi Suzy dari segala bentuk celaka yang mungkin ayahnya lakukan.

“Suzy… Semua ini sudah terlambat. Tidak ada lagi yang bisa eomma perbarui dan..”

Eomma bisa.” Suzy memotong dengan nada tegas tapi masih sengau, “Eomma bisa. Aku tidak akan membiarkan semua kebaikanmu padaku tidak pernah terbalas. Aku tahu eomma sangat ingin melindungiku, Minhyuk, dan Jennie. Tapi eomma harus memikirkan kebahagiaan eomma sendiri…”

“KWON SOOJI!” Dara menaikkan nada suaranya. Suzy terdiam dan mengusap air matanya lagi.

“Dengarkan aku sebagai ibumu, aku tidak pernah menuntut balasan apapun darimu! Asalkan sampai nanti aku mati kau tetap hidup dengan layak dan bahagia, aku tidak pernah mempermasalahkannya!”

EOMMA!!”

“Sudah cukup aku mengorbankan kebahagiaan orang lain, aku tidak akan mengorban kebahagiaan ketiga anakku hanya untuk menebus kebahagiaanku.”

EOMMA!!” Suzy membentak sekali lagi ketika akhirnya Sandara berlalu dengan langkah terburu. Nampan di tangannya bergetar. Sandara mengutuk dirinya yang tak ubahnya sesosok wanita munafik yang memang masih menginginkan kebahagiaannya. Tapi sekarang, ia tidak hanya menginginkan kebahagiaannya, ia juga menginginkan kebahagiaan untuk ketiga anaknya.

“Tunggulah Suzy-ya, Minhyuk-aa, Jennie-ya. Sebentar lagi semuanya akan menjadi kebahagiaan kita.”

 

Sepuluh tahun ini. Sepuluh tahun penuh air mata dan luka hatinya ia yakin akan terbalas. Demi Sohee yang tersakiti, demi ayahnya yang meregang nyawa di hari pernikahannya karena menikahi pria yang merebut tanah warisan mereka, demi Suzy yang harus kehilangan cinta murni ibunya, demi Minhyuk dan Jennie yang lahir tanpa ikatan cinta, dan demi… Kim Joonmyun nya yang miskin dan malang.

A(f)fair..

Tears, my memories can’t forget you

Heart, my memories can’t let you go

If only I can see you for just one day my love

 

Sandara membuka pagar kusam di hadapannya. Suara deraknya benar-benar memekakkan telinga. Padahal ia sudah berusaha mengeluarkan tenaga seringan kapas untuk membukanya. Sandara masuk. Melewati pekarangan dengan rumput rumput pendek yang dipotong asal. Menginjak bebatuan yang disusun rapih sebagai jalan di tengah pekarangan.

Rumah ini masih sama..

Setelah 10 tahun rumah ini masih sama. Masih menghangatkan hatinya dan masih menyimpan memori tentang semua kenangan manisnya. Sandara melihat deretan pot pot kaktus yang dulu pernah ia beli untuk rumah ini masih berjajar rapi di samping pekarangan. Di atas sebuah palang kayu yang masih berplitur. Wanita itu baru ingin menoleh ketika seseorang memanggil namanya..

“Sandara, kau kah itu?” Sandara sepenuhnya menoleh. Melihat seorang lelaki, setahun lebih muda darinya yang muncul dari balik pintu. Dengan jenggot yang lumayan tebal dan kumis yang dipotong asal. Rambutnya sebahu dan nampak basah, mungkin baru saja mandi.

“Joonmyun..” Sandara mengenali pria itu. Pria yang walau penampilannya berubah tapi tak pernah lekang di hatinya. Sandara berjalan dengan hati-hati. Takut-takut ini semua hanya mimpi. Ia kira setelah empat tahun ia tidak menemui pria itu, pria itu akan meninggalkan rumah penuh kenangan antara mereka dan memiliki keluarga bahagia. Ahh, keluarga. Mungkin saja Joonmyun punya keluarga. Sandara berhenti beberapa langkah di depan pintu, di depan Joonmyun. Mungkin saja Joonmyunnya yang sekarang tidak lagi sama seperti itu. Mungkin saja Joonmyun nya yang sekarang sudah memiliki istri atau bahkan anak..

“Apa kau ingin masuk? Maksudku, tidak apa kan kalau kau hanya sekedar ingin masuk? Aku ragu jiak sua—“

Ohh tidak apa. Hanya saja apakah aku mengganggu?”

“Tentu tidak,” Joonmyun keluar seutuhnya dari pintu. Ia hanya menggunakan jeans balel dengan kaos abu abu pucat yang membungkus tubuhnya yang masih bidang. Joonmyun membuka pintu. Mengijinkan Sandara masuk.

“Apa nanti aku tidak mengganggu? Istrimu mungkin?” Sandara tersenyum samar, sangat hati-hati. Tapi Joonmyun justru tertawa, lalu mengernyit perih. Membuat wanita di hadapannya tercenung. Joonmyun melihat wanita itu dalam diam.

“Apa menurutmu aku mungkin memiliki istri? Aku.. Aku masih tidak bisa mengobati luka yang ada di sini.” Joonmyun menunjuk dadanya. Menyinggung Sandara dengan tajam dalam kepedihannya. Maafkan aku Joonmyun..

Ohh.. Aku minta maaf..”

“Sudah tidak apa, ayo masuk..”

Sandara dan Joonmyun akhirnya masuk. Sandara lebih memilih duduk di lantai kusam ruang tamu, membiarkan Joonmyun melenggang ke dalam. Beberapa menit kemudian Joonmyun sudah kembali hadir dengan secangkir teh yang uapnya masih terlihat dan harumnya begitu familiar untuk Sandara.

“Aku tidak menyimpan banyak, tapi aku masih memiliki Chamomile Tea.” Joonmyun meletakkan cangkir itu di meja kecil di antara mereka.

“Apa kau masih mengharapkan aku berkunjung?” Sandara hanya bercanda. Ia tahu mustahil untuk menunggu orang yang hampir tidak mungkin kau temui selama 10 tahun, sekalipun ia melakukannya.

“Sejujurnya.. Iya.” Cangkir yang ada di genggamannya seperti menyalurkan suhunya dan membakar hati Sandara lamat-lamat. Ia jadi merasa sesak begitu mendengarnya.

“Sudah kau tidak perlu memikirkannya,” Joonmyun tersenyum lembut dan mengusap lengan Sandara lembut. “Jadi untuka apa kau kemari?”

Hening. Semua oktaf suara merendah. Seakan mereka berdua—Joonmyun dan Sandara—tinggal di ruang hampa udara. Dalam hatinya Sandara juga bertanya, apa yang sebenarnya ia cari dengan datang kemari? Ia masih tidak punya nyali untuk menginginkan Joonmyun kembali dan… Sandara tertegun, ia benar-benar tidak tahu untuk apa ia kemari.

“Aku tidak tahu.”

Hehh?” Joonmyun mengangkat alisnya. Kemudian tertawa pelan. “Kau tidak tahu untuk apa kemari lalu untuk apa kemari? Apa kau tidak takut pada..”

“Jiyong sudah meninggal.”

Waktu berhenti lalu berputar kembali ke waktu dimana Sandara akan mulai kisahnya..

“NYONYA NYONYAA!!” Sandara dan Jennie yang saat itu tengah bercakap-cakap di ruang penyimpanan koleksi boneka Jennie terlonjak dan langsung menghampiri sumper suara.

“Ada apa?”

“TUAN! Tuan kritis!” Sandara melepaskan pegangan tangannya pada Jennie dan segera berlari. Menyusuri lorong-lorong mewah bergaya aristocrat dan membuka lebar pintu kamar utama dengan cepat.

“Sandara?” Suara rendah suaminya memanggil. Di sampingnya Dokter Han berdiri tegang dengan raut yang tidak bisa ia jelaskan. Sandara mendekat, menghampiri suaminya yang nampak sangat lemah. Lebih lemah dari minggu minggu sebelumnya.

“Kenapa bisa sampai seperti ini?” Sandara duduk di samping suaminya. Menggenggam tangan suaminya hangat, seolah penuh cinta.

“Waktuku sudah dekat. Aku hanya berjuang melewati masa kritis untuk melihatmu terakhir kali.” Sandara tercenung. Hanya melihatnya, lalu bagaimana dengan Suzy, Minhyuk, dan Jennie?

Pintu terbuka ketika pikiran pikiran itu berkubang di kepalanya. Suzy dan Minhyuk yang masih berseragam sekolah, dan Jennie yang masih memakai piyama tidurnya.

 

Appa..” Jennie mendekat. Anak ini masih polos, usianya masih empat tahun dan belum tahu sebenarnya ayahnya. Jadi ketika Suzy dan Minhyuk lebih memilih untuk berjalan ringan tanpa menaruh beban pada kesakitan ayahnya, Jennie justru berlari kencang dan berurai air mata. Jennie naik ke samping ayahnya.

“Jennie..” Jiyong tersenyum dan mengusap pipi putri kecilnya yang basah.

“Apa yang terjadi, Appa?”

“Tidak ada, Appa hanya kelelahan dan butuh tidur.”

“Lalu kenapa tadi Jung ahjumma memanggil eomma dengan teriakan?”

Appa hanya membutuhkan eomma sebelum pergi tidur. Seperti Jennie membutuhkan eomma sebelum Jennie pergi tidur.” Jiyong tersenyum lembut. Sandara melihatnya masih dalam diam. Seandainya senyum itu selalu ada dan terbagi sama rata untuk Suzy, Minhyuk, dan Jennie. Semuanya tidak akan semenyakitkan ini. Entah kenapa, sejak kelahiran Jennie, semua perhatian Jiyong hanya untuk Jennie. Tidak lagi pada Suzy atau pada Minhyuk.

 

Jennie turun begitu ayahnya memberi pengertian. Jennie berlari ke arah kakak lelakinya. Minhyuk langsung menggandeng tangan Jennie lembut. Sekalipun ayahnya tidak pernah memperlakukan mereka sama, setidaknya ia sangat menyayangi Jennie karena anak itu lahir dari rahim yang sama dengannya. Dan soal ia menyayangi Suzy, ia menyayanginya sebagai teman senasib sepenanggungan.

 

“Dara… Setelah nanti aku pergi 70% hartaku akan teralihkan menjadi milikmu, 20% untuk Jennie, dan sisanya untuk Suzy dan Minhyuk.” Pria licik yang tak pernah adil.. Suzy hanya menggumamkannya dalam hati. Sekalipun ia tahu Minhyuk pasti akan menyetujuinya, tapi tidak baik untuk merusak suasana seperti ini dengan perkataan itu. Toh ayahnya sudah tidak bisa diajak bertengkar lagi.

“Ya.”

“Tolong jaga mereka dengan baik..”

“Ya, suamiku.”

“Dara..” Jiyong memanggil dengan suara parau. Ia menatap langit-langit kamarnya yang nampak indah dengan lukisan sebaliton malaikat. Tidak peduli dirinya sejahat iblis, tapi ia tentu masih menginginkan kehidupan setelah kematian seperti malaikat-malaikat itu.

 

“Ya?”

“Maafkan aku…” Sandara terdiam. Dia benar-benar diam dan tidak lagi berucap. Di detik detik seperti ini, wajar jika seseorang memohon maaf. Tapi ketika hal itu dikatakan oleh seorang Kwon Jiyong yang culas, licik, dan tak punya hati… Semuanya terasa berbeda.

“Aku tahu aku tidak bisa dimaafkan..” Jiyong tertawa parau. “Aku hanya terlalu mencintaimu sampai membuatmu berpisah dengan kekasih miskinmu. Aku tidak mau orang yang aku cintai hidup sengsara bersama laki-laki miskin itu. Aku juga menginginkanmu. Lebih dari apapun. Sehingga aku melakukan segalanya untuk mendapatkan semua kebahagiaan yang aku mau.”

“Dan sepuluh tahun ini, aku merasa begitu bahagia.” Jiyong mulai tersendat. Nafasnya sudah satu-satu. “Entah kamu bahagia atau juga, sekalipun aku begitu egois, tapi aku begitu bahagia. Aku bahagia memilikimu di sampingku.” Jiyong mengangkat tangannya dari genggaman Dara. Ia menyentuh wajah istrinya perlahan, dengan penuh cinta. Cinta satu-satunya yang ia kenal dalam hidupnya. Waktunya sudah tidak banyak.

 

“Dara-ya. Nan neomu saranghamnida..” tangannya terjatuh tepat di pangkuan satu-satunya cinta yang ia miliki. Elektrokardiograf di samping ranjangnya berbunyi nyaring. Sekalipun setelah ini neraka jahanam yang menunggunya, Jiyong rela. Ia rela setelah sepuluh tahun kehidupannya terisi dengan wajah istrinya setiap pagi. Ia rela. Sekalipun ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia rela. Baginya kematian bahkan masih belum pantas untuk menghargai semua kebahagiaan yang ia punya selama sepuluh tahun ini.

 

Dara menangis. Sejahat apapun pria yang menjadi suaminya ini, ia tetap merasa kehilangan. Ia belum pernah melihat Jiyong yang seperti ini sebelumnya. Jiyong dengan senyum yang begitu lembut, Jiyong dengan tatapan mata penuh perhatian dan cinta. Atau mungkin ia yang sama sekali tidak mempedulikannya. Ia tidak tahu dan tidak mengerti.

 

Pengasuh Jennie membawa gadis kecil itu kembali ke kamarnya dengan alasan agar tidak mengganggu tidur ayahnya. Minhyuk dan Suzy terdiam di tempat. Menyaksikan kepergian ayah mereka dalam diam. Dokter Han dan asistennya sibuk melepaskan alat medis yang terpasang di tubuh Kwon Jiyong.

 

Tepat ketika ruangan telah ditinggalkan oleh tubuh dingin Jiyong dan seluruh awak medis, Suzy dan Minhyuk berjalan mendekati ibu mereka. Minhyuk memeluk pinggang ibunya dengan tenang. Sementara Suzy memandangi ranjang mendiang ayahnya yang masih berantakan.

“Aku bertaruh bahwa eomma tidak akan menangis saat keadaan ini datang pada Minhyuk. Tapi sepertinya Minhyuk benar, ibu kandungnya yang begitu lembut masih memiliki perasaan sekalipun sudah tersakiti begitu lama.” Sandara tidak menjawab, hanya terdiam dan memandang ranjang yang sepuluh tahun ini menjadi tempatnya berlabuh ketika malam menjelang bersama mendiang suaminya.

 

“Aku bukan anak kandungnya.” Dara menoleh bingung. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia berharap telinganya terkena gangguan pendengaran atau Suzy yang terlalu banyak minum sebelum pulang tiba-tiba ke rumah.

“Suzy?”

“Aku juga bukan, eomma..” Minhyuk menyahut dengan suara datar, justru terlampau datar.

“Apa maksud kalian?”

“Pria itu dan ibuku memang saling mencintai. Dulunya. Sampai pria itu mulai sibuk dengan segudang pekerjaannya. Ibu yang terabaikan mencari kesenangannya sendiri dan justru terjebak dengan mengandung aku. Anak yang sudah diketahui pria itu sebagai anak haram. Tapi pria itu tetap bertahan karena cintanya pada ibuku. Hingga akhirnya ibuku yang tidak tahan dan pergi, pria itu menganggap ibuku benar-benar tidak tahu diuntung dan memutuskan menahanku di rumahna sebagai bentuk pembalasan. Ibuku yang malang dan sangat mencintaiku akhirnya memutuskan bunuh diri.” Suzy menghapus air matanya yang mengalir begitu pelan dari dua sudut matanya. Tapi kemudian ia tertawa parau, “Minhyuk kau bisa menceritakan ceritamu sendiri.”

Minhyuk yang masih memeluk pinggang ibunya hanya memiringkan kepalanya sedikt agar ia bisa bicara. “Aku bukan anak kandungnya.”

“Tapi aku yang melahirkanmu, mana mungkin kau bukan..” Sandara teringat sesuatu.. Sesuatu yang entah kenapa sepuluh tahun ini seperti hilang dari otaknya.

“Aku sama seperti Suzy noona, Eomma. Kami memang anak dari ibu kandung kami tapi bukan anak kandung pria itu. Jika sekarang eomma memikirkan aku kemungkinan anak pria bernama Joonmyun itu. Maka itu benar. Pria itu sebenarnya tahu, aku adalah anak Joonmyun, bukan anaknya. Tapi demi eomma ia memalsukan semua uji DNA dan menyatakan bahwa anak yang saat itu eomma kandung adalah anaknya.”

 

“Itulah sebabanya kenapa aku ataupun Minhyuk tidak memiliki diberi nama dengan awalan sesuai nama pria itu , J, dan hanya Jennie yang mendapatkannya. Dan itu juga alasan mengapa Jennie yang paling disayangi olehnya.” Suzy berkata dengan suara datar tapi menyimpan makna yang begitu dalam. “Tapi tenang, aku tetap mencintai Jennie sebagai adikku. Aku tidak pernah melihatnya sebagai anak pria itu. Aku hanya memandangnya sebagai anakmu dan adik Minhyuk.”

 

“Sejak kapan kalian mengetahuinya?” Dara menggumamkan suaranya perlahan.

“Sehari sejak malam itu. Malam dimana kalian bertengkar hebat dan setelah itu eomma tidak pernah bertemu dengan ayah Minhyuk.”

“Dan kenapa kalian tidak memberi tahu Eomma?” Dara memandang Suzy yang seakan tertawa puas. “Minhyuk bisa kah kau tutup telingamu?” Minhyuk yang mendengarnya hanya menggerutu sebal dan melepaskan tangannya dari pinggang ibunya. Bocah laki-laki itu duduk sembarangan di atas ranjang mendiang ayahnya dan menutup telinganya.

 

“Karena aku memang berencana memberi tahukan hal ini pada eomma setelah kepergiaan pria itu. Agar semuanya terasa lengkap. Semua kebebasan eomma, kebebasanku, Minhyuk, dan Jennie akan lengkap.”

“Apa maksudmu, Suzy?” Dara mulai mencium hal yang tidak benar dari perkataan anaknya.

“Karena aku memang yang merencanakan semuanya. Semua penyakit kronis pria itu. Semua racun TL yang berbaur dalam obat hariannya dan teh nya ketika pagi. Semuanya. Sekalipun Minhyuk yang malang dan tidak tahu apa-apa harus kusuruh mengambil racun itu dari penelitian laboratorium klub sains kakak kelasnya.”

“Suzy?” Dara terbelalak tak percaya. Bagaimana bisa putrinya yang nampak begitu lembut dan berperasaan tega melakuakn hal seperti itu? Tapi Suzy hanya terdiam masih dengan senyum puas.

“Ohh, dan sebenarnya ini semua terasa begitu menyenangkan karena pria itu meninggal jauh dari perkiraan 4 bulan yang aku perkirakan. Dia memberi dispensasi satu bulan sendiri pada jangka hidupnya.” Suzy berjalan ke arah Minhyuk dan melepaskan tangan bocah itu dari telinganya. Suzy baru melewati Dara ketika ia berujar pelan, “rahasia ini hanya aku dan eomma yang tahu. Mulai sekarang eomma bisa mengejar semua kebahagiaan yang pernah hilang… Aku, Minhyuk, dan Jennie mungkin akan mencari tempat yang tepat untuk menghabiskan beberapa koma persen dari warisan kami.”

 

Suzy berlalu. Bersama Minhyuk. Masih dengan langkah ringan dan penuh kebahagiaan yang tidak pernah benar-benar mereka dapatkan selama ini.

 

A(f)fair..

 

Joonmyun menghapus air mata Dara dengan jemarinya. Dan dengan perlahan kembali mengecap manisnya bibir yang entah berapa lama tidak ia sesap. Jalan hidup wanita itu terasa begitu sulit. Terjal dan membingungkan. Penuh misteri. Dalam hatinya Joonmyun benar-benar tak menyangka Dara sanggup bertahan hidup seperti itu selama sepuluh tahun ini.

Pada bagian cerita yang mana Joonmyun tidak mengerti ketika yang ia sadari, ia dan belahan jiwanya sudah terbaring di atas ranjang lapuknya saling menindih sekalipun masih berpakaian lengkap. Dan entah dari bagian yang mana pula ketika Joonmyun memberanikan diri mulai menelusupkan tangannya di balik punggung Dara untuk mengusapnya perlahan dan mengecap bibir bunga palm itu perlahan.

“Joonmyun…”

“Ya?” Joonmyun masih mengecup dengan intens, seolah ia takut menyia-nyiakan setiap waktu yang mungkin bisa terenggut lagi darinya.

“Aku mencintaimu…”Dara bersuara dengan begitu lembut. Menyimpan arti dalam dalam tiap tarikkan nafasnya yang berisi cinta. Cinta dan Joonmyun. Seperti dua mata uang yang kini bisa bertemu dan saling berhadapan.

“Aku juga mencintaimu, lebih dari yang kau tahu.” Joonmyun menurunkan tangannya. Meraih tubuh mungil wanitanya dalam tangannya. Mengecap manisnya sari bibir ranum wanitanya dengan dalam dan bergairah penuh perasaan. Dan Dara merasakan kembalinya hasrat dan gairah murni dalam dirinya begitu Joonmyun menyentuhnya dengan perasaan penuh. Jika malam ini harus menjadi malam yang panjang, itu akan mengakhiri cerita kelam dengan indah dan memulai lembaran baru dengan tinta emas.

.

.

.

.

.

.

.

.

A(f)fair..

“Suzy..” Suzy menoleh, Minhyuk sudah berjalan lebih dulu daripadanya. Sudah tidak tahan dengan semua kebebasan dan hal-hal baru yang akan menantinya.

“Ya, eomma?”

“Kau tadi bilang, bahwa suamiku memberi dispensasi pada hidupnya satu bulan. Dan dari yang bisa kusimpulkan kau menghadiahkan kematiannya untuk membalas semua pengorbanan yang aku berikan untukmu dan kebahagiaan yang hilang dariku..”

“Ya..” Suzy kini yang ganti tak mengerti. Dara hanya berjalan dengan langkah anggun dan senyum penuh intuisi sarat makna.

“Nak,” Dara membelai wajah gadis itu lembut. Kemudian menyelipkan sesuatu di saku rok anaknya. “Seperitnya kau masih berhutang padaku untuk satu bulan dispensasi itu.” Dara tersenyum hangat sebelum akhirnya pergi meninggalkan Suzy sendirian di ruangan itu. Suzy masih tidak mengerti dengan apa yang ibu tirinya bicarakan sampai ia terhenyak dan langsung mengambil sesuatu yang ada di dalam saku roknya. Sebuah botol bening dengan dinding bagian dalamnya yang mengerak, mungkin cairan yang sudah lama ada di dalamnya belum lama di keluarkan. Suzy tidak mendapati kejanggalan apapun dengan botol bening sampai… ia melihat label perak dengan tulisan dari tinta hitam legam di bagian tutup botolnya..

 

“ARSENIK”

 

.THE END.

 Child Profile

authornotes:

halo everybudehhhhh~~ kembali dengan ff exo, berhubung saya lagi demen sama joonma.-. /yah setidaknya sebelum kang seung yoon debut mau selingkuh selingkuh dikit lah/ jadi bikin ff tentang dia. Dan kali ini… syukur dah nggak saya mati.in lagi member exo nya XD

udah dikasih warning juga sama temen saya “NANTI AKU BIKIN FF LEE HI MATI KALO KAMU BIKIN EXO MATI TERUS!” yah sudah saya nurut aja.-.

Lalu untuk arti judul. Itu kenapa kok judulnya –> A(f)fair. Kok nggak langsung Affair sih? Terus kalau Affair kenapa nggak ada selingkuh selingkuhnya? Pertama itu judulnya sebenernya bisa bermakna dua teman-teman. Bisa bermakna Affair, kalau f yang di dalam kurung itu di itung. Bisa juga bermakna A fair, kalau f nya di ilangin. A Fair di sini maksudnya sesuatu yang adil. Jadi setelah semua penderitaannya Dara and the children dia dapet kebahagiannya gitu. Terus kenapa nggak ada selingkuh selingkuhnya? Karena Affair itu nggak bermakna selingkuh doang. Affair itu bisa bermakna hubungan-hubungan yang penuh cinta dan bisa bermakna hubungan yang gelap *jadi hubungannya yang kesannya pahit* dan saya menggabungkan keduanya :D.

Maaf yah kalo aneh atau gimana.-. maaf juga suzy si baik hati jadi jahat di sini 😦 Dan sebenernya saya kaya applers durhaka banget misahin daragon pake cara nggak enak 😆 oke segitu dulu, sampai berjumpa di ff berikutnya 😳

Yang nggak ngerti sama endingnya, intinya itu selama ini si Suzy ngeracunin bapaknya pake racun TL, nah dia bingung kan kenapa bapaknya mati lebih cepet. ternyata sebenernya si dara juga ngeracunin jiyong pake arsenik 🙂

Komentar, kritik, saran, dan like sangat ditunggu! :mrgreen:

Advertisements

82 responses to “[One-Shot] A(f)fair

  1. aduhh kejam bgt jiyong nya,, tp aku gak bs ngebayangib karakter jiyong yg kayak gt.. gak dapat rasanya ._.
    itu dara jg ikut ngeracun ya?? waw.. gk nyangka ckck

  2. bagus kak bagus banget malah
    awalnya ngga mudeng eh pas baca yg terakhir
    dara juga ngeracunim toh
    seneng sama endingnya
    keep writing ya

  3. Eh? Baru nyadar, Suho jadi orang miskin yah? Mm … entah kenapa thor, ini kedua kalinya baca ff ini dan selalu kasian sama GD T.T juga pastinya ff nya gak ngebosenin, kata-katanya itu loh, lugas.
    Next time …. buat daragon lagi dong thor, tapi happy ending yah, kayak runaway (kalo gak salah judulnya itu) :))

Leave a Reply to kiranalinhwa Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s