[Oneshoot] Too Late

Too Late

Tittle : Too Late

Author : Evilliey Kim

Cast :

– Kim Seung Hyo as Kim Seung Hyo

– Shin Sung Rin as Shin Sung Rin (sahabat Seung hyo)

– Lu Han (ex-Boyfriend Seung Hyo)

– Lee Ki Kwang (ex-Boyfriend Seung Hyo)

Other Cast :

– you can find by yourself J

Genre : Friendship, Angst, Romance, Comedy (?), Family (?)

Length : WARNING! LENGTHSHOOT!

Rating : PG-16

A/N : Nothing Special. Nothing Idea. Just writing, if you bored please don’t bash or judge my imagination. Aku udah usaha buat bikin lanjut semua epepku yang banyak banget pending di mana-mana. Untuk mestrilkan otakku, seenggaknya aku harus ngeluarin unek-unekku. Di karyaku yang satu ini aku yakin bakal bener-bener bikin kalian bosen. Atau mungkin ini cerita murahan yang udah kalian baca di mana-mana, tapi perlu tau ini bukan cerita yang copy-an. Asli punyaku. Dari otakku dan asli dari jariku sendiri mengetik ini imaginasi. So,please leave your coment or critic with your good attitude. 47% Insipiration by myself, 51% by Creatifition and 2% by Support all Sunbaenim ^^

Warna Merah = Quotes

Warna Biru = Flashback

Bisakah? Bisakah kau kembali padaku? Bisakah? Bisakah kita memulainya dari awal kembali? Aku mohon, katakan bahwa kau juga masih membutuhkanku.

Ku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku berjanji akan menjadi yang terbaik –lagi- untukmu.

Aku tau kau membenciku dan tidak bisa memafkanku. Tapi bisakah kau tak melupakan bahwa kita pernah sama-sama saling mencintai?

~~~~ Too Late ~~~~

Seorang yeoja yang menopang wajahnya di antara kedua lengan yang dilipat di atas meja bundar tidak terlalu lebar dan panjang tersebut terus menerus menghembuskan napas beratnya. Yeoja tersebut terlalu bingung dengan jalan kehidupannya sendiri, lebih tepatnya jalan kisah cinta yang bisa dibilang cukup rumit. entahlah, ia merasa dirinya terlalu bodoh. Atau.. ia memang terlalu idiot. Sedangkan satu yeoja yang duduk berhadapan dengannya tengah sibuk dengan benda canggih teknologi keluaran terbaru, hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang sepertinya sangat jenuh. Bukannya ia ingin mengabaikan sahabatanya tersebut, namun ada waktu di mana ia tidak lebih dulu merusak mood sahabatnya tersebut.

“Sung Rin-aa” panggil Seung Hyo dengan nada sedikit merengek. Yeoja yang di panggil tersebut akhirnya tersenyum. Sahabatnya sudah mengeluarkan suaranya. Ini saatnya menjadi pendengar yang baik. Karena memang inilah tugasnya di panggil dan bertemu –secara paksa- oleh sahabatnya tersebut.

“Hmm..” gumam Sung Rin menjawabnya dan masih focus pada teknologi canggih tersebut.

“Aku… melihatnya sudah dengan yeoja lain? Ottokhe? Sia-sia sudah usahaku selama ini!” Seung Hyo merasa putus asa seakan setengah raganya mengilang begitu saja.

“Usaha apa yang kau lakukan? Bahkan menghubunginya lagi saja kau tidak pernah.” cecar Sung Rin tetap bersikap datar. Seung Hyo hanya mendecak kesal dengan jawaban Sung Rin. Seharusnya ia mendapat saran atau nasihat, tapi sebaliknya. Tapi, Benar apa yang telah dikatakan oleh sahabatnya tersebut, ia tidak pernah melakukan usaha apapun untuk dapat bersama kembali dengan mantan kekasihnya. Karena.. banyak alasan. Jika kalian mau mendegarkan mungkin akan cukup sulit. Butuh waktu lebih dari 7 hari, itupun jika coffee mu mampu mmebuat matamu tetap terbuka. Oh, sedikit agak lebay memang.

“Kenapa kau mempersulit dirimu sendiri, Hyongie-ya. Kau kan bisa mencari yang lain!” saran Sung Rin akhirnya karena selalu melihat reaksi Seung Hyo yang sudah seperti mayat hidup.

“Sudah kucoba. Bahkan aku yang tak pernah menjomblo selama 1 tahun, sekarang benar-benar terjadi. 1 tahun lebih aku relakan diriku berkutat dengan kuliah akhir semester, melihat kepala botak Mr.Nam dan setiap malam bercinta dengan buku-buku tebal yang keseluruhannya menjabarkan tentang organ-organ menjijikan. Apa yang kudapat? Hahh~” keluhnya lagi. Menahan semua air mata yang sedikit lagi ingin menetes dari mata bulatnya.

“Bahkan ketika aku tau dikhianati-” Seung hyo mendapat tatapan tajam dari Sung Rin, karena Sung Rin tau yang sebenarnya terjadi. “Kau yang mengkhianatinya. Kau tak pernah percaya padanya. bahkan kau terus mengerjainya! Padahal Kikwang selalu meyakinkanmu. Dan jangan terlalu melebay-lebaykan kuliahmu. Kau hanya kuliah di jurusan Psikologi.” tusuk Sung Rin langsung tanpa merasa bersalah. Orang yang dimaksud tersebut hanya mengerucutkan bibirnya. Berusaha menganggap semua cerca’an sahabatnya.

“Kau sudah tau kan saat itu pikiranku buntu, dan juga aku bukan yeoja yang gampang bisa percaya begitu saja. Aku tau Kikwang dan mantan kekasihnya itu sudah lebih dari 2 tahun berpacaran, bahkan 5 bulan lagi usia pacaran mereka akan menjadi 3 tahun. Entah karena alasan apa, mantannya tersebut memutuskannya. Lalu genap 2 bulan dia memilihku dan mengajakku menjadi keksihnya. Apa namanya kalau bukan pelampiasan?” kesal Seung Hyo mulai mengeluarkan emosinya di kalimat terakhir. Sung Rin kali ini yang menghela napasnya.

“Mantannya adalah masa lalu, kaulah masa depan yang harus menjadi tanggung jawabnya. Dia percaya bahwa kau yang dapat merubah hatinya untuk dapat melupakan mantannya. Ia mencintaimu sangat tulus, untuk itu ia tidak mau berlama-lama berpura-pura menjadi orang lain dalam hidupmu. Karena ia tau bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama padanya. perasaan saling tertarik satu sama lain. Bukan kerena menjadikanmu pelampiasan tapi ia melakukannya karena sudah sangat yakin. Ia tau bahwa banyak namja yang sedang mengincarmu, hanya kau saja yang polos pura-pura tidak tau. Lucu sekali memang.” Jelas Sung Rin panjang lebar sedikit melirik ke arah Seung Hyo, melihat reaksi sahabatnya. Namun Seung Hyo hanya menatap Sung Rin datar. “Aku tau kau memiliki ketakutan yang luar biasa soal cinta, apalagi dengan namja seperti Kikwang Oppa. Tapi memiliki setitik saja kepercayaan untuknya apa sangat sulit Hyongie-ya?” lanjut Sung Rin kini melepas kaca mata minusnya dan menatap Seung Hyo dengan intens.

“Apa kau selalu bersikap seperti ini saat bersama si Kunci itu?” tanya Seung hyo polos. “Apa?” malas Sung Rin jika Seung Hyo sudah mengilah ke arah topic lain. Padahal ia sudah menjadi penceramah gratis. Seharusnya ia tau sahabatnya memiliki telinga super baja yang dilahirkan dari supermen, jadi percuma saja semua ocehannya yang membuat mulutnya berbusa-busa menyadarkan sahabatnya tersebut. “Bersikap dewasa?  Tidakkah ia seharusnya bosan padamu?” tanya Seung Hyo lagi masih dengan wajah polosnya. Dan ketika itu juga sebuah kertas bundar dengan acakan kasar melayang tepat ke kepala Seung Hyo. “Diamlah. Jangan seenaknya memanggil kekasihku dengan sebutan ‘si Kunci’ bahkan kekasihku lebih baik daripada mantan-mantan kekasihmu!” sebal Sung Rin yang kini focus lagi pada benda canggihnya.

“Arraseo. Mianhae ~ Sung Rin-aa, aku.. saat ini benar-benar merindukannya. Merindukan kisah kami lagi.” Kali ini runtuh sudah pertahanan diri Seung Hyo. Ia meneteskan air matanya yang membasahi pipi chubbynya tersebut.

~~~~~ Too Late ~~~~~

Seperti dua jarum jam yang berada di satu tempat yang sama namun keduanya memiliki perputaran yang berbeda. Akan bertemu di titik yang sama pula. Dan akankah? Pertemuan tersebut menjadi sebuah mukzizat? Atau sebaliknya? Tetap mempertemukan mereka namun tetap tak dapat menyatukan keduanya.

Mencintaimu hingga sampai saat ini begitu menyakitkan bagiku. Bahkan dengan bodohnya aku berharap, tuhan masih menyisakan kepingan tentang kita. kumohon, kembalilah.

Sepasang kekasih tengah merajut cinta yang sangat indah di bawah hamparan ribuan bintang dan juga sebuah bulan yang nampak menerangi gelapnya malam mereka. Sepasang kekasih tersebut seakan lupa, bahwa dunia bukan hanya ada mereka.

“Bulannya sungguh indah bukan, Hyongie-ya?” ucapnya memandang bulan dan mengeratkan pelukannya seakan tak ingin kehilangan lagi orang yang paling di cintainya. Orang yang sudah merebut penuh hatinya kembali. “Ne, sangat indah.” jawabnya menenggelamkan dirinya pada dada bidang namja tersebut.

“Kau bulanku saat ini, menerangi hatiku yang gelap. membuat hidupku menjadi lebih indah.” jujur Kikwang mengecup lama kening Seung Hyo dengan penuh cinta. Menyalurkan semua rasa cintanya bahwa hanya yeoja yang ada dalam dekapannya menjadi sumber kehidupannya untuk hari-hari kehidupannya. “Jinjjayo? Kau pasti menggombal lagi!” ucap Seung Hyo pura-pura marah. “Aniyo. Kau tau bukan, aku tidak suka menggombal. Kau benar-benar bulanku.” Kikwang menunjukan keseriusannya dengan menatap mata Seung Hyo untuk menyiratkan tidak ada arti kebohongan dalam hidupnya.”Arraseo, oppa. Aku hanya bercanda. Baiklah, jika aku bulanmu. Maka kau bintangku. Bintang yang bergantung pada bulannya.” Seung Hyo masuk lebih dalam ke dekapan Kikwang. Kikwang mencubit pelan hidung Seung Hyo dengan ucapan kekasihnya tersebut. “Kita, kita yang saling bergantung. Saling membutuhkan dan melengkapi.” Ujar Kikwang membetulkan ucapan Seung Hyo. Tanpa ada kata lagi Seung Hyo menganggukkan kepalanya. Karena ia juga membutuhkan Kikwang, sangat. Mereka berdua kembali memandang langit malam yang sangat pas dengan suasana mereka saat ini. Romansa sepasang kekasih yang baru saja jatuh cinta dan memulai kisah cinta mereka.

~~~~~ Too Late ~~~~~

Aku egois. Aku menjadi orang yang ingin memenangkan hatimu. Bahkan aku menyakiti orang-orang yang tak bersalah dalam hidupmu. Tapi kau selalu memaafkanku dan meminta maaf padaku. Aku…. bodoh.

Aku hanya ‘belum’ menjadi dewasa untuk mengerti arti cinta. aku terlalu kekanakan karena mengakhirinya begitu saja seoalah semua telah selesai. Meninggalkanmu tanpa mendengar lebih dulu penjelasanmu. Aku… menyesal.

Setelah cukup tenang dan menghabiskan 3 piring jajangmyeon, kini mood Seung Hyo sudah kembali dan mendapatkan tenaga lebih untuk mencurahkan sesak hatinya. Entahlah, Sung Rin juga bingung dengan tingkah laku sahabatnya tersebut. ia selalu melampiskan kesedihannya dengan makanan yang sama sekali tidak bersalah. 3 piring memang belum cukup. Ketika ia menangis lagi mungkin akan ada piring dengan menu yang berbeda lagi. Dan beruntungnya yang bertambah gendut hanya pipi sahabatnya tersebut. tubuhnya masih mungil dengan proporsi yang sangat diinginkan oleh yeoja manapun.

“Bagaimana kabar Luhan? Apa dia masih menghubungimu? Kenapa tidak coba berhubungan dengan dia saja lagi?” tanya Sung Rin bertubi-tubi tanpa mempeduliakan bahwa mood sahabatnya baru saja membaik. Baginya mood sahabatnya tersebut baik atau tidak, dunia juga belum menampakan akan kiamat.

“Kemarin dia menghubungiku. Dengan nomor yang baru. aku tau itu dia, tapi aku pura-pura tidak tau dan mengacuhkannya.” Jujur Seung Hyo yang menjawab dan kembali menumpukan wajahnya di atas meja.

“Kau bersikap munafik? Padahal kau sangat pasti menanti-nantikan dia menghubungi atau mengajakmu kembali lagi, bukan? Mantan Pacar gelapmu. Cih, untung saja tuhan selalu menyelamatkanmu.” Dengus Sung Rin menyeruput Jusnya. Menaruh kembali kertasnya dan menyimak apa yang akan pembelaan sahabatnya tersebut. “Kau pintar mendapatkan pacar gelap dari tempat yang berbeda dari Kikwang Oppa, jadi ia tidak tau apa yan kau perbuat di belakangnya selagi ia masih sibuk. Kau menceritakan padanya bahwa kau sudah putus dengan Kikwang Oppa padahal ia pelampiasanmu, yang pertama tentunya. Kau berakting sangat hebat.”  Seung Hyo menatap tajam Sung Rin. Ia menyesal menceritakan lika-liku kisah cintanya pada sahabatnya tersebut. sedangkan yang mendapat death glare hanya tersenyum tiga jari tanpa memperdulikan bahwa dunia benar-benar akan kiamat.

“Aku sama sekali tidak tertarik padanya. Wajahnya memang manis dan dia juga tipe namja yang memanjakan wanita. Tapi semua itu sangat membosankan bagiku. Bagiku itu bukan ‘memanjakan’ tapi’memaksakan’ kehendaknya. Aku benci itu.” Jelas Seung Hyo kali ini duduk menyender pada sandaran kursi sambil melipat kedua tangannya.

“kalau soal satu ini aku setuju padamu. Tapi tidak terlalu berlebihan bukan? Kau yang bodoh, semua wanita ingin mendapat banyak perhatian dari kekasihnya. Membawakan bekal makan siang, menyediakan waktu berdua, bahkan dia mengenalkanmu pada orang tuanya. Tidak seperti Kikwang Oppa yang selalu mengatakan ‘belum saatnya’ lalu kau marah padanya. sekarang apa penjelasanmu? Apa yang ingin kau kilah’kan lagi?” Sung Rin berusaha mencari apa yang diinginkan sahabatnya itu dari semua keseriusan semua namja yang selalu menaruh cinta pada sahabatnya tersebut.

“Entahlah, aku juga bingung.” Jujur Seung Hyo akhirnya. “Aku hanya bosan.. juga merasa bersalah pada Kikwang karena diam-diam ‘bermain’ di belakangnya.” Lanjut Seung hyo benar-benar frustasi dengan jalan kisah cintanya.

“Hufft. Bukan hanya Kikwang yang kau permainkan saat kalian masih berpacaran, tapi juga Luhan. Walaupun kau tak menceritakan padaku, tapi kali ini kau harus mengaku padaku.” Seung Hyo hanya mendesah pasrah. Sahabatnya tersebut sudah seperti malaikat kematian baginya. “Ne, aku juga ‘bermain’ di belakang Luhan. Sudah kubilang bukan, aku bosan padanya. kelihatan dari luar ia memang sosok kekasih yang sangat romantis. Tapi kau tak merasakan berada diposisiku. Ia benar-benar sangat membosankan.” Jujur Seung Hyo lagi.

~~~~~ Too Late ~~~~~

Aku memang bodoh, sejauh apapun aku menghindar dan mencari segala pelampiasan tapi hatiku tetap memilihmu.

Bagaimana caranya aku meluapakanmu jika semua kenagan tentang kita selalu terlihat oleh mataku. Aku berusaha memejamkannya tapi segelintitr memori terus berputar di memori otakku.

Ini benar-benar menyakitkan. Ku mohon padamu, kembalilah..

Taman yang cukup indah dengan semilir angin yang menerpa helaian rambut dan juga dapat menyejukan jiwa siapapun tapi tidak berdampak pada 2 orang yang ada di tempat tersebut. tempat ketika mereka menghabiskan waktu bersama –bagi sang Pria-.

“Jadi kisah kita harus berakhir sampai disini saja?” tanya Pria tersebut. Seung Hyo hanya menghembuskan napasnya dengan berat. Terlalu sulit baginya jika menceritakan bahwa ia adalah salah satu pelampiasannya, karena tak sadar ia juga sudah memiliki sedikit perasaan cinta pada pria tersebut. “Ya. Kita tidak akan punya banyak waktu lagi seperti saat ini. kau pasti nanti akan sangat sibuk dengan grup debutmu. Aku tidak suka diabaikan dan dijadiakan kedua.” Kilah Seung Hyo mencari beribu-ribu alasan masuk akal. Setidaknya ia ingin berhenti menyakiti hati siapapun lagi walaupun ini sudah sangat terlambat, sangat. “Tidak. aku pasti bisa memberikan waktu bagi kita. ku mohon Hyongie-ya. Jangan samakan aku dengan dirinya.” Luhan terus memohon, ia terlalu mencintai wanita yang tak menatapnya saat ini. Seung Hyo menggenggam erat tangannya, menahan sesak dadanya.

“Aku tau kau bukan dirinya, Luhan-ah. Tapi selanjutnya hubungan kita tidak akan mudah. Agensimu pasti tidak akan mengijinkanmu. Dan pasti banyak fans akan kecewa padamu. Grupmu akan besar, kau akan banyak disukai. Itu menyulitkanku. Jadi biarkan kita akhiri di sini saja.” Seung Hyo masih berbalik memunggungi Luhan. Air matanya sudah mengalir, padahal ia tau awalanya tak pernah ada cinta untuk pria di belakangnya. Tapi hari demi hari karena sikap manis pria tersebut ia luluh. Karena itulah ia tak mau semakin luluh dan mendapati perasaanya benar, ia harus mengakhiri segalanya. Tidak ada lagi hati yang harus ia sakiti. “Tid—“ Luhan ingin menolak ketika Seung Hyo memotongnya dengan cepat “Kau percaya takdir bukan, Luhan-a? Jika masih ada takdir untuk kita di masa depan, maka biar takdir itu yang menyatukan kita lagi. Untuk saat ini akulah yang memohon padamu. Biarkan ini berakhir dengan baik. Kau memulai karir yang sudah lama kau impikan. Begitupun denganku, aku juga harus melanjutkan kuliah akhir semesterku yang semakin terbengkalai. Kali ini kita akan melangkah dengan jalan kita sendiri. Mianhae, Luhan-a~” ucap Seung Hyo panjang lebar lalu meninggalkan Luhan begitu saja. Ia tak ingin mendengar apapun lagi jawaban dari Luhan. Baginya cukup ia membiarkan pria itu dibohongi oleh dirinya. Ia tak bisa membiarkan pria itu tetap berada disisinya, sedangkan ia mencintai pria lain. Sungguh brengs*k memang dirinya. Ia akui itu. Namun Seung Hyo kali ini mencoba tetap tegar dan kuat. Ini memang sudah konsekuensinya dan ia pantas mendapatkan sakit juga untuk dirinya.

 

2 minggu Kemudian.

Acara sangat megah diadakan oleh salah satu rekan atau staff tempat pria yang ia cintai sedang melangsungkan pernikahan besar-besaran. Semua berkumpul dalam 1 meja besar di dalam gedung tersebut, merayakan hari bahagia seorang pasangan. Canda tawa terus bergulir di antara mereka. Seung Hyo yang berada dalam kerumunan tersebut juga berusaha mengadaptasikan dirinya. Ia kembali menjadi pacar pria yang dicintainya, ia telah memutuskan semua pacar gelapnya dan hanya memilih setia pada prianya kembali. Namun di hari yang sungguh membahagiakan bagi mereka yang merayakannya, namun tidak bagi Seung Hyo ketika ia mendengar kalimat atau celetukan yang tidak sengaja terlontarkan bahkan pria tersebut juga tidak menyadarinya dan tetap asik berpesta ria. Sedangkan Seung Hyo hanya diam membeku, mencerna bagaimana kalimat tersebut terdengar jelas di pendengarannya.

Sangat sulit ia mempercayai kebenaran yang tak sengaja tertangkap oleh indra pendengarannya. Di saat ia telah memutuskan setia kepada pria yang dicintainya dan memilih berada disisinya mungkin lebih baik. Tapi hari ini, pria itu sudah meruntuhkan semua keyakinan, kepercayaan yang sudah mereka bangun. Apa sebegitu tidak pantasnya dia? Apakah baju pesta yang dipakainya saat ini sangat norak? Atau dandanannya terlalu berlebihan? Mengapa? Ini bukan hanya menyakiti diri Seung Hyo, tapi juga harga dirinya.

~~~~~ Too Late ~~~~~

Seung Hyo mengingat-ngingat semua yang telah terjadi belakangan ini sangat menakjubkan dan terus berputar bagai memori yang tak pernah rusak.

“Aku sudah menceritakannya padamu’kan Sung Rin-a, secara tidak sengaja Kikwang menyakiti hatiku. Seolah merendahkan keluargaku yang tidak ada apa-apanya. Bahkan aku baru sadar mengapa selama ini ia tak mau mengajakku memperkenalkan orang tuanya padaku. karena aku masih kekanakkan. Hubungan kami sudah 4 tahun. Apa itu belum cukup meyakinkannya? Bahkan dengan mudahnya ia mempermalukanku di hadapan seluruh teman-temannya. Aku yang salahkah ingin lebih serius padanya, padahal katamu ia sudah yakin denganku. Tapi apa yang diragukannya padaku. sedangkan, Luhan belum sampai seminggu kami berpacaran dia sudah mengajakku bertemu dengan seluruh keluarganya, bukan hanya orang tuanya. Aku kecewa pada Kikwang, sangat. Apa karena ia masih menganggapku belum cukup dewasa atau hubungan kami masih belum cukup lama? Aku tidak terima dengan semua ucapannya saat itu Sung Rin-a. secara tidak sengaja ia sudah menyakitiku lebih dulu. ia mendapatkan semua yang dia inginkan dalam hidupku maupun juga diriku. Aku mengorbankan hatiku dan ragaku untuknya.” Sung Rin sungguh terkejut dengan penuturan sahabatnya yang sudah berlimpangan air mata. Wajahnya sudah sangat basah. “Untuk itu aku melakukan semua itu. Setelah ia mengatakan kata-kata yang diyakininya secara tidak sengaja. Aku sengaja mengetesnya. Aku sengaja memojokkannya dengan seribu satu caraku untuk dapat mengetahui keseriusannya padaku. namun yang aku lakukan sepertinya tetap saja sia-sia. Entah dia tau atau tidak permainanku, dia tetap berusaha mempertahankanku. Meyakinkanku padahal ia tau bahwa aku semakin menyakitinya. Apa salah caraku untuk mengetahui kejujuran hatinya? Aku sudah terperangkap lebih dalam di hatinya. Sulit untukku karena sudah terlalu jauh berkorban untuknya. Aku SANGAT mencintainya, Sung Rin-aa~” kali ini Seung Hyo benar-benar menumpahkan segalanya. Ia tidak peduli bagaimana orang-orang disekitar sana menatapnya. Seung Hyo menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangannya. Sung Rin yang melihat tersebut hatinya merasa ngilu. Inilah yang tidak ia ingin lihat dari Seung Hyo. Sikap lemahnya yang membuat Sung Rin serba salah.

Sung Rin tak pernah tau apa yang sebenarnya yang ada di otak picik Seung Hyo mengenai arti kekasih dan keseriusan dalam sebuah hubungan. Sulitkah ia untuk mengerti dan mencoba jujur pada kekasihnya. Setidaknya mereka pasti akan berubah jika untuk kebaikan hubungan mereka. Tapi Seung Hyo hanya selalu mengatakan bosan, bosan dan bosan lalu mengabaikan mereka begitu saja. Jadi hubungannya selama ini selalu berjalan dengan ketidaknyamanan dalam posisinya. Ia selalu mengatakan menjadi yeoja yang paling disakiti karena ialah yang selalu mencoba mengerti, seakan dialah menjadi pihak yang membuat hubungan tersebut menjadi terus bertahan. Andaikan saja Seung Hyo dapat mengalahkan semua rasa gengsinya dan mengenyahkan sikap egonya maka tidak ada perasaan yang memberatkan salah satu pihak. Ia tidak pernah menyalahkan sahabatnya, ia mengerti perasaan sahabatnya tersebut. Memiliki kekasih yang lebih tua jauh sekali diatasnya membuat Seung Hyo merasa berat juga baginya, mengimbangi kedewasaan kekasihnya tersebut. Seung Hyo berpacaran di usia yang cukup muda sedangkan kekasihnya yang notabenenya sudah memiliki pekerjaan yang cukup terkenal sebagai seoran public figure tentu juga pasti sanagt susah meluangkan waktu cukup banyak untuk dapat mengeluarkan isi hati mereka. Sedangkan kekasih ‘gelap’nya yang hanya seorang trainee walaupun cukup sibuk tapi masih bisa menyempatkan waktunya untuk memperhatikan Seung Hyo. Dan pacar-pacar ‘gelap’ lainnya hanya memanfaatkan Seung Hyo, entah itu kencantikan atau bagian lainnya. Sung Rin sudah cukup jauh masuk ke dalam kisah cinta Seung Hyo selama ini. alasannya cuman 1. Menyadarkan sahabatnya. Atau lebih tepat melindungi Seung Hyo saat Karma bisa kapan saja membalasnya.

Tapi memang semua sudah SANGAT terlambat. Seung Hyo saat ini telah mendapatkan karmanya. Sung Rin sebagai sahabatnya tidak ingin menambah beban yang menyakitkan lagi,cukup dengan menyadarkan dan kembali menyupport Seung Hyo untuk bangun lalu memulai semua kembali dari awal.

“Hyongie-ya. Kau tau bukan, kelakuanmu selama ini pada mereka sudah sangat salah dan menyakiti mereka dan tidak lain juga lebih menyakiti dirimu sendiri? aku menyayangimu. Selama ini aku melindungimu. Aku tidak ingin kau bersikap bodoh lagi, Hyongie-ya. Jadi.. sadarlah. Lupakanlah Kikwang kalau memang dia yang lebih dulu menyakitimu, walaupun tidak sengaja. Kau tidak boleh lagi berharap terlalu jauh padanya. begitupun dengan mantan-mantanmu yang lainnya. Lupakan mereka semua, jangan buat hatimu semakin sakit, Ne?” Ucap Sung Rin tulus dan menggenggam tangan Seung Hyo. Sahabatnya belum berhenti menangis bahkan semakin mengeras tangisan tersebut.

Kini Seung Hyo hanya mengisak, menyisakan tangisan-tangisan kecil sambil memakan kentang goreng yang sudah tersedia beberapa menit yang lalu. sudah ku bilang bukan, bahwa ketika ia bersedih pelampiasannya adalah makanan. Namun Sung Rin cukup lega, itu pilihan yang tepat daripada sahabatanya melampiaskan pada benda-benda negative. Seperti minuman keras mungkin, itu akan membuat dirinya terlihat lebih buruk. Oh tidak, jangan sampai itu terjadi, batin Sung Rin. Setelah cukup lama Seung Hyo tidak terisak lagi. Kali ini 2 piring yang hanya tersisa bumbu dari kentang goreng yang telah ditelannya habis.

“Hahh~ aku bingung harus berkata apa. Lalu bagaimana sikapmu setelah itu? Terutama pada hatimu setelah  ‘dendam’ selubungmu? ” tanya Sung Rin menutup teknologi canggihnya dan memasukkan kertas-kertasnya ke dalam tas bahu yang sangat besar disusul oleh teknologi canggihnya dan juga kaca mata minusnya. Tatapannya menuju pada Seung Hyo menunggu wanita itu lebih tenang. Seung Hyo mengarahkan pandangannya ke arah Sung Rin dan akhinya tersenyum kecil.

“Aku…. entahlah. Aku juga bingung.” Sung Rin hanya mengangguk-angguk. “Hyongie-ya, kalau boleh tau.. bagaimana bisa akhirnya.. Ah sudahlah, lupakan! Kau cari saja lelaki lagi, bukannya kau penakhluk hati lelaki? Kau bisa menakhlukan hati lelaki manapun bukan?” goda Sung Rin ingin mengembalikan kekuatan sahabatnya tersebut.

“Haahh~ andaikan saja bisa. Aku sekarang terlalu gengsi untuk melakukannya Yang kupikirkan saat ini hanya harus menunggu.” Sung Rin menatap sendu wajah sahabatnya tersebut. “Kau tak mau berusaha mencoba membuka hatimu lagi? Setidaknya.. kau bisa lebih dulu menyukai, tidak harus memaksa dirimu mencintai pria manapun lagi.” nasehat Sung Rin. Namun Seung Hyo tetap saja mendesah malas. Ia sudah cukup lelah. “Beberapa bulan yang lalu ada pria yang menyukaiku. Namun.. dia lebih muda daripada ku.” kali ini Sung Rin yang mendesah lesu.

“Lalu? kau menolak atau menerima ‘bocah’ tersebut?” tanya Sung Rin, sebenarnya Seung Hyo ingin tertawa karena dengan terangnya sahabatnya tersebut menyebut pria yang lebih muda dengan sebutan bocah. “Tidak, aku tidak tau. Kare-” Seung Hyo menundukan kepalanya. “Kau menggantungkannya? Astaga Hyongie-ya, berhentilah menyakiti dirimu sendiri.”potong Sung Rin langsung sambil memijat pelipisnya, Menghilangkan rasa penatnya. “Aku belum selesai berbicara. Aku tidak menggantungkannya. Karena dia belum menyatakan perasaannya padaku. Pria yang kau sebut bocah tersebut sama sekali belum menembakku.” Jelas Seung Hyo. Sung Rin mengangkat sebelah alisnya. Terdengar konyol memang,ada seorang pria yang menyukaimu tapi belum menembakmu.

“Lalu, bagaimana kau tau dia menyukaimu? Aneh sekali” Seung Hyo tau otak sahabatnya tersebut tidak pernah lemot sepertinya, tapi bodohnya. Sahabatnya tersebut selalu mempunyai hobi yang senang berspekulasi sendiri. “Hahh~ aku tau dari temannya. Bukannya aku percaya diri, tapi apa yang dikatakan temannya adalah benar.” Tutur Seung Hyo. “ itu sama saja kau percaya diri.” sembur Sung Rin langsung. “Terserahlah, aku juga tidak berniat mengincar ‘bocah’ atau lelaki manapaun lagi.” Sepertinya suasana kembali menjadi hening. “Biasanya kau senang mencoba. Apa ‘bocah’ tersebut tidak pernah mendekatimu sama sekali. Seperti pria-pria terdahulumu? Setidaknya dia mencari nomor telponmu, menghubungimu, lalu kalian dekat. Taktik macam teri seperti biasanya.” Ujar Sung Rin mengejek. Seung Hyo hanya menatap tajam, ia tidak suka denga ucapan Sung Rin, karena ia akan terlihat juga seperti wanita murahan.

“Tidak. sudah kubilang aku tidak tau. Tapi diamanapun aku berada –saat masih berkuliah- dia ada di dekatku. Hanya aku yang pura-pura tidak sadar keberadaannya. Bahkan ketika aku lewat di dekatnnya, dia tersenyum padaku dan lagi-lagi aku pura-pura tidak melihatnya.” Jelas Seung Hyo. Sung Rin memutar bola matanya seakan jenuh. Tak ada perubahan, di manapun gadis selalu mementingkan gengsinya. Oke, Sung Rin juga begitu, karena dia juga seorang gadis. Tapi gengsinya tidak pernah setinggi sahabatnya hanya untuk menggoda lelaki. “Kau lagi-lagi munafik. Kau selalu senang bermain dengan namja. Itulah mengapa dia tidak mendekatimu. Tidak ada sinyal-sinyal positif darimu. Ck.” kesal Sung Rin. Mereka menyeruput minuman mereka dengan tujuan yang berbeda. Sung Rin ingin membasahi kerongkongannya yang sudah kering karena terus menceramahi sahabatnya. Sedangkan Seung Hyo berusaha untuk merekan isakannya.

“Sung Rin-a ~” panggil Seung Hyo dengan nada dibuat manja. Sung Rin menggeliatkan tubuhnya, geli sendiri jika namanya dibuat-buat manja seperti itu. “Mwo?!” Seung Hyo tersenyum penuh arti pada sahabat terbaiknya tersebut. oh, baiklah. Ada udang di balik batu. Ia menyesal telah bersahabat lebih dari 7 tahun dengan wanita yang ada di hadapannya tersebut. “Kau bisa bukan menjodohkan aku dengan teman-teman ‘si Kunci’ itu? Ah, misalnya saja dengan Taemin. Kau pasti dekat dengannya juga bukan?” Sung Rin mendecak sebal, benar bukan apa yang dipikirkannya. “Kau kira aku tidak ada pekerjaan lain apa! Kau seenaknya sendiri memintaku –memaksa lebih tepatnya- untuk bertemu. Dan bagusnya kau memilih tempat yang sangat cocok, kita bertemu di restoran milikku. Kau menyuruh pelayanku membelikan jjangmyeon yang ada di depan restoran ini, padahal menu yang disediakan di restoranku ini juga bisa mengenyangkan perutmu. Ah, kentangku! kau harus membayarnya. Duduk selama berjam-jam direstoranku juga harus kau bayar. Semua tidak ada yang gratis!” kesal Sung Rin yang akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya, sebenarnya ada seidkit candaan di sana. Seung Hyo yang menjadi objek hanya terperangah dan terdiam tentunya. Tak ada yang dapat ia ucapkan. Tapi yang kini diperlihatkan Seung Hyo hanya cengiran polosnya. Berusaha Nampak seperti seorang yang semakin disudutkan padahal ia tau memang salah besar bersikap seperti itu.

“Ayolah Sung Rin-aa. Atau kau bisa meminta ‘si Kunci’ itu mendekatkanku dengan Taemin. Atau dengan Woohyun saja?. Emm.. atau, atau, kau minta ‘si Kunci’mu mencari nomor Siwon Oppa dan berikutnya biar aku yang memikirkan cara untuk dekat dengannya. Ne? Ne?” Seung Hyo mengerlingkan matanya penuh harap. “S-H-I-R-E-O!” tolak Sung Rin tegas. “Semua pria tersebut bukannya sama saja dengan ‘mantan-mantanmu’ bahkan semua pria yang kau sebutkan sangat sibuk dengan ke’famous’an mereka. Carilah pria dari kalangan biasa saja!” tolak Sung Rin lagi. Bukannya ia tak mau menuruti semua permintaan Seung Hyo, tapi terlalu cepat baginya untuk dapat berhubungan lagi, apalagi dengan semua pria yang menjadi incaran wanita di seluruh dunia, itu pasti akan lebih menyulitkannnya dan ujung-ujungnya akan sama saja. Walaupun 1 tahun sudah jarak yang terlalu lama –bagi Seung Hyo- tapi baginya 1 tahun masih belum cukup untuk mematangkan sikap sahabatnya. Jadi biarlah ia lebih menikmati waktu lajangnya.

“Kau benar-benar jahat padaku, Sung Rin-a. kau tidak mau kan sahabatmu ini menjadi perawan tua. Itu benar-benar mengerikan. Coba kau lihat, dari atas hingga bawah, aku sudah mempercantik diriku, gaun merah marun diatas lutut yang juga sedikit membentuk tubuhku. tapi apa yang ku lihat saat ini benar-benar mengecewakanku. Semua orang disini datang bersama pasangannya. Entah itu hanya dinner biasa atau sedang dalam masa pendekatan yang lebih serius. Padahal aku sangat berharap salah satu di antara mereka melihatku atau ada laki-laki lajang juga disini. Tertarik padaku saat pandangan pertama, lalu menghampiriku dan meminta nomor ponselku. Seperti yang ada di drama-drama. Haahh~ Percuma saja aku mempercantik diriku. Ah, Sung Rin-a, aku punya saran. Bagaimana kalau kau buat restoranmu ini dikunjungi hanya untuk para lajang?” sungut Seung Hyo panjang lebar dan diakhiri dengan sebuah ide gilanya. Sung Rin yang mendengar ide gila –namun sangat spektakuler di kepala Seung Hyo- tak mampu membuatnya mengeluarkan sepatah kata. Ia benar-benar terkejut, membulatkan mulutnya dan mengerjapkan matanya berkali-kali.

PLETAK!!

Yup. Sebuah pukulan lumayan keras di kepala Seung Hyo cukup membuatnya meringis dan mengelus kepalanya. Cukup sudah keputus asa’an shaabatnya tersebut yang dilimpahkan pada kepemilikannya yang sangat tidak bersalah. Seung Hyo hanya dapat menunjukan cengiran yang paling lebar, ia sudah sangat bersalah. Sedangkan Sung Rin berdecak kesal, melipat kedua tangannya tepat di dadanya dan mengalihkan pandangannya.

“Minhae Sung Rin-a ~” ucap seung Hyo tulus dan mimic muka yang sangat serius sedikit memohon. Sung Rin menghembuskan napasnya dan lebih merilekskan tubuhnya lagi. Terlalu banyak emosi, jika begini ia akan lebih cepat memiliki tekanan darah tinggi.

“Kau akan kemana setelah ini?” tanya Sung Rin lembut terlihat tenang kembali dan menatap Seung Hyo intens. Seung Hyo mengedikkan bahunya. “Molla, aku hanya berpikir untuk ikut ayahku.” Seung Hyo menimbang-nimbang dengan perkataannya sendiri. ia sendiri masih bingung dengan tujuan hidup untuk selanjutnya. “Kau akan ke Italy?” serbu Sung Rin langsung dengan keterkejutannya. Semua orang di restoran tersebut langsung menatap ke arah mereka. Suara Sung Rin mungkin tidak secempreng dirinya tapi tetap saja teriakan sahabatnya dapat menulikan telinga. Seung Hyo hanya memberikan senyuman kepada semua pelanggan di restoran tersebut. lalu menatap Sung Rin tajam. Hal seperti itu seharusnya tidak terlalu mengejutkan, lagipula ia hanya berpendapat.

“Aku kan bilang tidak tau. Kemarin ayahku menelpon mengucapkan selamat atas kelulusanku dan dia juga minta maaf tidak bisa datang langsung ke wisudaku. Ayahku mengutarakan pendapatnya jika aku tak punya tujuan akan kemana, ia mengajakku untuk bekerja di perusahaannya. Jiak aku setuju maka ayah akan mempersiapkan penerbanganku langsung ke Italy. Aku masih benar-benar bingung.” Jelas Seung Hyo panjang lebar. Sung Rin mengangguk-nggangguk dengan ke’galau’an sahabatnya tersebut. “Kau sudah bilang pada ibumu?” tanya Sung Rin lagi. “Belum, ia pasti tidak akan mengijinkanku. Itulah yang kupikirkan sekarang. Lagipula disini tempat aku lahir dan dibesarkan. Aku punya banyak kenangan di sini, aku juga masih punya dirimu dan juga restoranmu tentunya. Haha” canda Seung Hyo tapi meneteskan air matanya. Bila mengingat segalanya tentu semuanya tidak begitu mudah untuk ditinggalkan. Sung Rin menggeser kursinya lebih dekat ke arah Seung Hyo dan memeluk sahabatnya tersebut.

“Berhentilah menyiksa dirimu sendiri. kau memang punya segalanya disini, tapi apa gunanya jika masih belum bisa memberikanmu kebahagiaan yang cukup. Bukan hanya aku, kau pasti juga merindukannya. Sosok seorang ayah.” Sung Rin menenangkan sahabatnya yang terus saja terisak dan semakin banyak mengeluarkan ari matanya. “Jangan bohongi dirimu lagi, Hyongie-ya. Kau butuh aku hanya untuk pelarianmu, selama itu bisa menenangkanmu aku sama sekali tidak masalah. Begitupun juga dengan restoranku. Walaupun nanti ada jarak di antara kita tapi kau masih bisa menghubungiku, menjadikan pelarianmu lagi. Dunia ini sudah semakin canggih, Hongie-ya. Aku akan jadi tempat yang selalu kau butuhkan, akan ada ketika kau memintaku seperti saat ini. kita bukan hanya sahabat tapi juga saudara.” Sung Rin sebenarnya ingin menenagkan sahabatnya, memberi solusi agar sahabatnya tidak lagi menekan dirinya sendiri ke dalam keterpurukan yang ia buat lebih dalam. namun tangisan Seung Hyo semakin menjadi-jadi, membuat Sung Rin kewalahan. Semua orang yang berada direstoran tersebut menatap Sung Rin penuh tanya apalagi dengan keadaan mereka. Oh tidak, jangan sampai mereka berpikir kami penyuka sesama jenis. Batin Sung Rin. Namun Sung Rin menepis pikiran melanturnya dan lebih memilih mengelus sahabatnya

~~~~~ Too Late ~~~~~

Seminggu sudah berlalu semenjak Seung Hyo melampiaskan semua isi hatinya. Ia kini menjadi dirinya yang lebih baik. Bahkan tak pernah ia merasa sebaik ini, terlahir dengan seorang yang lebih percaya diri juga dewasa. Keputusan’pun telah ia buat. Seung Hyo tidak akan pernah kecewa dengan keputusannya karena semua belum terlambat. Jalan kehidupannya masih harus terus berlanjut dan ia harus mampu mewujudkan mimpinya. Walaupun itu bukan di tempat kelahirannya dan juga tempat ia dibesarkan. Masih ada tempat lain yang menunggu mimpi-mimpinya. Ya, keputusannya adalah ikut bersama ayahnya ke Italy. Membantu ayahnya. Kalau bukan dirinya, anak darah dagingnya, siapa lagi yang bisa dipercaya. Bagi Seung Hyo masa tua ayahnya tidak harus disibukkan dnegan pekerjaannya. Untuk itulah, dia ingin bersama ayahnya, menemani melwati masa-masa tua ayahnya. Bertugas sebagai semestinya anak yang berbakti.

Awalnya memang sangat sulit untuk mendapatkan izin dari ibunya. Selama 3 hari ibunya mengurung diri di dalam kamar, membuat Seung Hyo mengurungkan niatnya bahkan ia menelpon ayahnya dan menolak dengan halus ajakan ayahnya. Ayahnyapun hanya memaklumi karena ia sudah tau pasti ‘mantan istri’nya sangat sulit membiarkan anak perempuan satu-satunya mereka pergi bahkan harus membantu ayahnya didunia bisnis sedangkan pendidikan yang ia peroleh hingga sudah tamat adalah Psikologi.

Hanya saja ibunya kurang mengerti, bahwa selama ini pendidikan yang ia dapat dalam dunia Psikologi memang lebih ke arah dalam dunia bisnis. Ia mempelajari banyak sekali materi-materi bagaimana harus menyikapi persaingan, sikap seorang yang berkompeten atau sebaliknya. Terlalu sulit untuk menjelaskannya. Seung Hyo sudah berjanji pada dirinya sendiri bila ibunya memang tidak mengijinkannya maka ia akan tetap tinggal dan mencari cara lain untuk meneruskan mimpinya. Dan di pagi hari yang seperti biasa, Seung Hyo bangun dan bergegas ke meja makan. Tapi ia cukup terkejut ketika melihat ibunya menyiapkan sarapan dengan senyum yang menghias wajahnya –sedikit dipaksakan- namun masih memperlihatkan matanya yang sedikit bengkak. Seung Hyo sudah siap dengan keputusan apapun dari ibunya. Sepertinya saat itu dewi fortuna bersamanya, ibunya telah memutuskan membiarkannya pergi, ia tak bisa menahan Seung Hyo dengan keegoisannya. Ia sudah cukup melihat banyak pertumbuhan Seung Hyo yang menakjubkan selama 21 tahun. Apa salahnya membiarkan ayahnya juga ingin melihat perkembangan anaknya. Jadi ia membiarkan Seung Hyo pergi. Lagi pula ia masih harus melihat perkembangan anak laki-lakinya yang masih berumur 18 tahun.

“Kau sudah membawa semuanya bukan? Obatmu? Handphonemu? Pasportmu?” tanya ibunya bertubi-tubi terus mengingatkan Seung Hyo. “Eomma aku sudah membawa semuanya. Jangan khawatir, Ne?” Seung Hyo tersenyum pada ibunya. Ia tau, ibunya masih belum menginginkannya pergi secepat ini. “Kau sudah janji pada ibu jika sudah sampai di sana jangan lupa telpon Eomma, Ne?” ingatkan Eommanya masih keras kepala. “Ne, Eomma. Aku berjanji” Seung Hyo melilitkan jari telunjuknya dengan jari tengahnya dan mengacungkannya pada eommanya bahwa ia tidak akan lupa. Kebiasannya jika harus berjanji. Lalu Seung Hyo berjalan kesebelah kanan lagi. Memeluk sahabatnya seerat mungkin. “Jaga dirimu. Jika sudah sampai di sana setiap hari kau harus mengirimkanku pasta yang enak ke sini. Restoranku butuh menu baru.” canda Sung Rin sedikit memaksa, karena itu hal yang tidak mungkin. Seung Hyo hanya terkikik kecil lalu melepaskan pelukannya. “Baik!” hormat Seung Hyo bak tentara yang akan pergi ke medan perang. Hal itu membuat Sung Rin dan juga keluarga Seung Hyo tertawa –ibu dan adiknya-. Tak lama terdengar pengumuman pesawat tujuannya akan segera berangkat. Seung Hyo kembali memeluk sahabatnya dengan kilat, begitu juga dengan ibunya dan juga adiknya yang mendapatkan kecupan namun hanya dibalas teriakan adiknya yang sangat tidak suka. Seung Hyo menarik kopernya dan melambaikan tangannya.

Walaupun Seoul adalah rumahnya lahir dan tumbuh, memiliki beri- ah tidak sangat banyak lebih dari miliaran kenangan disini. Namun ada tempat lain yang juga pasti akan sama dengan tempatnya  dibesarkan. Kali ini ia akan melangkah dengan kepercayaan dirinya, ia tidak boleh lagi berpangku atau melampiaskan kepada sahabatnya. Sudah seharusnya ia menjadi dewasa, tapi setidaknya sesekali mungkin ia akan melakukan itu. Soal kisah cintanya? Mungkin pria luar negri memiliki banyak kriteria yang lebih baik. Jadi masih ada kemungkinan baginya mendapatkan kisah cinta lagi. Sesegera mungkin.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu yang baru jika kau punya niat dan kepercayaan diri, maka mulailah saat ini dengan senyumanmu.

Jika kau tak mampu melupakannya.. jangan pernah berharap apapun. Kubur perasaanmu, simpan dalam-dalam kenangan kalian. sesakit apapun dirimu. Jalani segalanya dengan menjadi dirimu. Di sekitarmu masih banyak orang yang sangat mencintaimu. Biarkan mereka juga dapat melihat senyummu.

Jangan kecewakan siapapun lagi, jika saat ini kau masih bisa memperbaiki segalanya. Segeralah meminta maaf. Karena dalam hidup ini tidak pernah ada kata

‘Terlambat’

^^

~~~~~ The END ~~~~~

Endingkah?? Sudahkah??? *tebar petasan* AHAHA aku yakin kalian pasti super bingung dengan alurnya. Apalagi aku yang bikin. Entah awalanya gimana eh jadinya gini. Yang penting udah aku usaha’in biar ending lah, apalagi happy. Daripada gantung terus ntar minta sequel. Epep yang lain aja belum gue selesein apalagi yang ini ntar diminta sequel. Hah~ Akhirnya 1 utang selese deh. Awalnya ini aku jadi’in 2. Akhirnya daripada ribet aku persingkat ceritanya *walaupun tetep aja panjang* diobrak abrik atas tengah bawah. Kalau feelnya masih kurang mian yaa ~

Entah dari mana aku bisa dapat ide kayak gini. Soal ke’real’an yang ada di epep itu cuman dikit. Kayak Kikwang pernah pacaran ama author itu benar, bahkan kami sudah nikah. *PLAK #digamparB2UTIES. Soal Luhan yang author putusin itu juga benar. *WAKAKAKAKK* #dibantaiEXOtics

Oke, yang benar disitu cuman soal… author GAK pernah selingkuh, curhat ke teman itu bener banget *tapi bukan temen yang aku jadi’in nama koreanya itu, yang aku pikirkan nama korea temenku cuman itu. Wkwkwk*  ampe pelampiasannya ke makanan gratis itu juga bener banget. Sampe aku nebar aib sendiri yang udah jomblo 1 tahun. AHAHA. Sekarang genap 2 tahun loh. #gaadayangnanya# *LOL*

Di sini author cari jalan cerita yang berbeda kayak dunia yang emang udah terbalik. Jaman sekarang katanya cewek yang nembak cowok. Bahkan masih ada cewek yang gengsinya tinggi lebih daripada patuh pancoran ancol (?). yang biasanya cowok yang jelek dan selalu membela dirinya. Gimana sih kalau jadi cewek. Jadi di sini aku lebih bikin si pemeran cewek sedikit buruk. Tapi gak buruk amat-ama sih, kasian kan pemeran utama punya gue udah disewa mahal itu, HAHA.

TYPO! Ok, aku tau itu msih bertebaran. Udah ampir 3x aku periksa. Jadi kalau masih ada typo please dimengerti, mata aku emang udah minus. *pembelaan diri* soal gaya tulisan aku? jangan ditanya, aku masih butuh banyak belajar. Semoga banyak yang mau ngajarin aku. *kasih kerlingan mata*

Akhir kata, Please jang lupa ‘RCL’nya. Aku nyempatin 3 hari aku buat bikin epep gini. *sebenarnya seminggu lebih, karena 4 hari kehilangan ide*

Sampai jumpa di lain karya aku, oke ~~ ~~ ~~ *kecup readers* #lempar bias masing-masing#

Advertisements

8 responses to “[Oneshoot] Too Late

  1. Bingung mw ngomen gimana..
    Longshot ya XD

    Ini kenapa kikwang sama luhan muncul di flashback aja. Dikit bgt sih #plak

    Tp ksian tuh kikwang sama luhan dipermainkan(?),,
    Seung hyo itu bener2 tega banget sama orang cakep, coba aja orangnya jelek mana mungkin seung hyo tega/oke ini apa/*abaikan*

    Aku suka sama sifat sungrin, dewasa gimanaaa gitu, sahabat yang pengertian, tapi omongannya agak nge-jleb(?)

    oke soal NC alias namjachingu sungrin aku no komen, tp plis jangan ‘kunci’ dong T.T

    Oiya typo emang masih ada dikit, gak pa2 yg penting udah berusaha meminimalisir ke-typo’an(?)nnya *bahasanya susah bgt*

    • Ottokhe feelnya?? Dapet gak?? Enggak pastinya kan. Wkwkwkwk XD

      ahhh bener2 tapi beruntungkan jadi Seung Hyo seenggaknya mencicipi jadi pacar namja tampan.
      Emang aku cuman nyempilin doang. Ntar si Seung Hyo keasikan lagi. Bayaranya ntar makin mahal. *WAKAKAKAK* tapi beruntung pas flashback Kikwang so sweet gitu. Tapi pas fb’nya Lulu pas mau di putusin. *wkwkwk*

      Iya, kalau Sung Rin emang dibikin dewasa biar bisa mengimbangi Seung Hyo.

      oKey, thanks for your coment. Sarangeeeee *kecup basah*

    • Hahaha. Kan aku udah bilang panjang. XD
      oke, gomawooo dah baca + coment. Sarangeeee *kecup basah*

  2. Kasian banget Luhan Gegenya dibohongin sama Seung Hyo Eonni… Padahal cintanya Luhan Gege ke Seung Hyo Eonni tulus loh . . . -,-
    Kalo punya pacar kayak Luhan Gege gitu mah, gak bakal aku lepasin! #Amiiiinnn~ XD

    Ini Gikwang Oppa jahat ye? Bilang Seung Hyo Eonni masih kekanakan padahal udah pacaran 4 tahun ? Ckckck~ -_-

    Keep writing, thor! Ditunggu karya” selanjutnya! FIGHTING!
    ‘-‘)9

    • Wahahaha. Iya jgn di lepasin. Tapi kan si seung hyo cinta mati ama gikwang. Jadi luhan mesti sabar. Amin. XD

      iya setuju juga tuh. Hehe

      gomawoooo udah nyempetin coment. Sarangeeee *kecup basah*

  3. Aku suka ceritanya, keren!!!
    Seung Hyo nih dasar! Orang cakep diembat semua sama dia –” udah gitu gak pake bagi bagi lagi si Seung Hyo ._.
    Ceritanya bagus author ^^ Quotenya juga tamban bikin ceritanya kena di hati.. keren deh pokoknya *kasi 14 jempol*
    Ditunggu karya selanjutnya ^^
    Hwaiting!!!!

    • Jinjja?? Kerenkah? XD
      ah bener! Semuanya cakep tuh! Sabar yaaa ~ kkkk *author memihal readers* LOL
      huaaaa jeongmall gomawoooo comentnya.
      Sarangeeee *kecup basah*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s