Painted Heart

ImageAuthor: AutumnHearts on asianfanfics

Translator: anonyx

Cast: Li Juan and Luhan

Stealing/plagiarizing is prohibited. I will hunt down whoever stealing/plagiarizing this translated story.

Disebuah rumah tua, terdapat sebuah lukisan. Walaupun rumah itu sudah menjadi reruntuhan, tetapi lukisan tersebut masih tergantung dengan rapinya di dinding. Lukisan tersebut sangatlah menarik, misterius dan mungkin sedikit berbahaya. Apakah lukisan itu meminta pertolongan? Ataukah hanya perangkap untuk orang-orang yang penasaran? Tidak ada satupun orang yang dapat membuktikannya.

***

“Pergi kau, dasar aneh!” Seorang anak berteriak kepada gadis kecil itu, melempar pulpen, penghapus, batu, dan bola-bola kertas ke arahnya.

Sang gadis kecil menjerit meminta belas kasihan ketika ia menyembunyikan luka yang baru terbentuk dibalik rambut hitamnya. Air mata mengalir di pipinya dan hatinya terasa tercabik-cabik, melihat bagaimana teman-temannya memperlakukannya. Namun ia tidak bisa melakukan apapun, dia hanya bisa melarikan diri.

Tidak ada tempat yang pantas untuknya, tidak ada tempat dimana ia bisa menemukan ketenangannya. Tidak ada satupun orang yang menginginkannya ataupun mempedulikannya. Tetapi, ada satu tempat dimana ia bisa bersembunyi. Rumah yang seharusnya terkutuk, dengan satu dinding yang masih tegak berdiri.

Legenda mengatakan bahwa ada jiwa yang terjebak disana dan tidak akan pernah menemukan ketenangannya, tidak hingga seseorang membebaskannya. Mungkin jika dia bisa melakukan hal yang baik, dia akan terbebas dari pembullyan. Mungkin jika ia membebaskan jiwa itu, dia akan bahagia…

Mungkin ia akan menemukan kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan.

***

Pertama kalinya Juan memasuki rumah kosong itu adalah ketika teman-temannya membullynya di sekolah. Pada saat-saat tertentu, dia masih bisa menahan semuanya. Melempar bola kertas kecil ke kepalanya atau melihatnya dan tertawa. Menabraknya di lorong sekolah atau mencuri pensilnya masih dapat ia terima.

Tapi mendorongnya ke lantai, menjambaknya, dan meludahi sepatunya tidak dapat ia terima.

Rumah kosong itu sangat membuatnya takut. Rumah itu selalu menjadi buah bibir masyarakat. Betapa menakutkan, angker dan bisa jadi rumah itu terkutuk. Tidak ada seorangpun yang berani memasukinya di siang hari, bagaimana di malam hari?

Rumah itu dibangun pada akhir abad ke-18 oleh bangsawan Inggris. Dia menjadi buah bibir masyarakat untuk waktu yang lama. Masyarakat berkata jika bangsawan ini mempunyai kepuasan yang aneh, terutama yang berhubungan dengan anak laki-laki. Namun rumah itu runtuh pada masa Perang Dunia dan keturunan dari sang bangsawan meninggalkan rumah itu. Satu hal yang masih tersisa adalah satu dinding dari ruang rahasia, dengan satu lukisan yang tergantung.

Juan sangat yakin jika dia bisa membebaskan jiwa itu, dia akan terbebas dari pembullyan. Tidak ada seorangpun yang berada di pihaknya, tidak juga kedua orangtuanya. Dia benar-benar seorang anak sebelas tahun yang sebatang kara.

Anehnya, ia sama sekali tidak takut ketika memasuki reruntuhan rumah itu, yang dipenuhi oleh sarang laba-laba, serangga, dan yang lainnya. Mungkin disana ada iblis, penyihir, raksasa, dan monster yang mengintai dalam kegelapan, tetapi Juan tidak peduli.

Jika disana ada monster jelek, maka ia akan terbebas dari kehidupan yang menyakitkan ini.

Dia berjalan diantara reruntuhan rumah, hingga dia mencapai ruang rahasia dengan lukisan indah yang terpajang di dinding. Mereka bilang tidak akan ada yang bisa melepaskannya, seberapa keraspun usaha mereka.

Juan terpesona oleh keindahan lukisan tersebut. Lukisannya besar, dengan bingkainya yang berwarna emas dan lukisan tersebut menggambarkan amarah sebuah lautan. Cahaya aneh mengelilinginya dan Juan hampir lupa akan dirinya sendiri.

Namun tidak ada yang terjadi. Tidak ada monster yang muncul, tidak ada hantu yang menembus dinding, tidak juga malaikat yang menyanyikan kisah tragis mereka.

Tidak ada. Hanya ada dia, dengan hatinya yang pedih.

***

Juan menemukan tempat perlindungannya di rumah kosong itu. Setiapkali sesuatu yang buruk terjadi padanya, dia akan lari ke rumah itu dan menangis. Dia memang sendirian, tetapi dengan melihat lukisan tersebut akan sedikit menghilangkan rasa sedihnya. Disaat itulah sebuah keajaiban terjadi.

Lukisan itu berubah ketika dia menangis karena tidak bisa menghadiri pesta prom, tidak ada yang memperbolehkannya datang, dan semua orang menertawainya. Dengan cahaya hangat yang mengelilinginya, Juan mendengar sebuah suara yang halus.

Kenapa kamu menangis?” Tanya suara itu dengan khawatir.

Juan tidak tahu harus bereaksi seperti apa, apakaha ia harus melarikan diri dan tidak akan pernah kembali lagi, atau tetap disana dan mendengarkan.

“Aku orang buangan.” Jawabnya kepada cahaya itu.

Hening, dan Juan menunggu cahaya itu untuk membalasnya. Tetapi suara itu tidak pernah terdengar lagi. Atau itulah yang ia pikirkan. Sebagai gantinya, cahaya itu datang kembali dan meninggalkan sang lukisan, mengambil setiap bayangan dalam lukisan tersebut dan membentuk sesosok manusia, walaupun tidak terlalu jelas. Cahaya yang mengelilinginya sangatlah terang, hangat, indah dan luar biasa. Juan memperhatikannya hingga terlihat dengan jelas. Seorang pemuda, lebih tua darinya, dan sangatlah tampan.

Dia tinggi dan cantik. Sosoknya feminin, walaupun memiliki aura dan tubuh seorang laki-laki. Rambutnya berwarna pirang—yang pastinya di cat—dengan mata besar seperti rusa dan bentuk bibir yang bagus. Kulitnya berwarna putih susu dan seluruh tentangnya sangat mempesona.

Juan menatapnya dengan kagum dan sang pemuda mengacak-acak rambutnya lalu duduk di lantai kotor sebelahnya. Juan tidak dapat mempercayai matanya atas apa yang sudah terjadi.

“Siapa kamu?” tanya Juan dengan sedikit takut.

Sang pemuda menaikkan bahunya. Dia tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dan juga, apakah dia itu…

“Aku malaikat.” Jawabnya dengan suara maskulinnya yang membuat Juan merinding. Dia sangat menawan.

Juan menatap sang pemuda di hadapannya dengan bingung, tidak dapat mengatakan apapun. Bagaimana mungkin dia adalah malaikat? Bukankah harusnya ia adalah hantu, iblis, atau monster?

“Lalu, siapa namamu?” Juan bertanya sembari memeluk tangannya. Masih tidak dapat mempercayainya.

Yang mengaku sebagai malaikat hanya menaikkan bahunya, bahkan ia tidak mengetahui siapa namanya. Sudah terlalu lama sejak orang-orang memanggilnya dengan nama.

“Aku tidak ingat.”

Betapa bodohnya. Bagaimana bisa seseorang tidak mengingat namanya? Maka dari itu, Juan memutuskan untuk memberinya nama. Tidak ada yang lebih sedih di dunia ini daripada hidup tanpa identitas.

“Luhan. Namamu Luhan kalau begitu.” Kata Juan dengan senyum lembut di wajahnya.

Sang malaikat mencoba nama barunya, terus mengulang-ulang namanya, merasa betapa cocoknya nama itu. Dan ia menyukainya.

“Siapa namamu?” tanya Luhan, tanpa bisa menepis rasa penasaran tentang gadis muda ini.

“Juan. Li Juan.”

***

Selama bertahun-tahun Juan terus menemui Luhan, dan mereka sering berbincang-bincang. Ternyata, sang bangsawan era Victoria ini menangkap Luhan dan menggunakan kekuatan Luhan untuk membuatnya menjadi sangat kaya, dan terus menerus memanfaatkan Luhan. Alhasil, Luhan terjebak dan menjadi tahanan dalam lukisan, tidak bisa terbebas dari kutukan ini dan kembali pulang ke surga. Dia membutuhkan seseorang untuk melakukan itu. Namun ia tidak sampai hati untuk mengatakan pada Juan apa yang dapat ia lakukan.

Hidup Juan tidak kunjung membaik. Dia tetap menjadi anak buangan dan objek pembullyan. Hingga sekarang, diumurnya yang ke duapuluh, ia ingin sekali mati. Ia ingin semua orang juga mati. Ia ingin terbebas dari rasa sakit, fisik ataupun batin.

Juan menangis disamping Luhan sepanjang malam dan ln menenangkannya. Luhan berjanji semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia akan menyelamatkan Juan. Sebagai gantinya, Juan harus membantu Luhan.

Pagi harinya, seluruh kota diselimuti oleh api. Terkejut, Juan berlari keluar dan melihat seluruh bangunan dilalap api. Teriakan memenuhi seluruh jalan, sang api menghancurkan semua yang pernah menyakitinya.

Juan berlari kembali kearah lukisan dan meneriaki nama Luhan dengan ketakutan. “Luhan! Apa yang kau lakukan?!” Juan tak bisa menahan amarah dan keterkejutannya, tidak ketika semua orang kehilangan nyawanya.

Sebuah cahaya muncul dari gambar lautan, sang malaikat menampakkan dirinya.

“Apa yang kau maksud?” Luhan bertanya dengan memiringkan sedikit kepalanya. Apa sekarang dia berpura-pura tidak mengerti?

“Apa? Kau membakar seluruh kota!”

Mengerti, Luhan menganggukan kepalanya sedikit. Juan tertegun menatapnya. “Kau ingin melarikan diri. Jadi aku membantumu.” Suaranya memberat, dan hilang sudah sinar kepolosan dari matanya.

Rasa merinding menyeruak ketika Juan menatapnya. Dia mencoba untuk mundur selangkah, tetapi kakinya terpaku tak bisa digerakkan. Dia ketakutan, dan mendadak dia menyadari segala yang Luhan katakan adalah kebohongan.

“Aku sudah menyelamatkanmu.” Kata Luhan sembari mendekatinya, suaranya sangat menakutkan. “Sekarang kau harus menyelamatkanku.”

Dan kemudian Luhan mencekik leher Juan dengan kedua tangannya, memutarnya, dan melemparnya kearah lukisan. Juan berteriak, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan ketika sang bayangan memeluknya. Sekarang ia terjebak dalam kegelapan, tak dapat melarikan diri lagi. Ternyata seperti inilah. Inilah akhir dari hidupnya. Segalanya sangat layak, salahkan dirinya yang mudah percaya pada apapun.

“Luhan,” panggilnya, menatap Luhan dengan pandangan memohon. Lengannya berusaha menggapai Luhan, tetapi sang pria berambut pirang itu hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Air mata hampir mengaburkan pandangannya saat sang bayangan menariknya kedalam lukisan.

“Tidak semuanya sebuah kebohongan. Aku memang dikutuk. Bangsawan bodoh itu memang menangkapku dan menjadikanku tahanannya. Aku hanya merubah satu bagian. Aku bukanlah malaikat.” Katanya santai dengan tangan disilangkan dan melihatnya saat ditarik sang lukisan terkutuk.

Iblis, bisik Juan, tetapi ia sudah terlambat. Sang bayangan sudah menariknya, mengorbankan dirinya, mengancurkan dia perlahan-lahan, dan menghilangkan jejak kehidupannya.

“Suatu hari nanti, kamu akan terbebas, dan kau akan datang padaku.” Kata Luhan kepada sang lukisan baru, mendekatinya, dan mengelus kanvasnya.

Lukisan ini memperlihatkan seorang wanita cantik yang menatap keluar jendela dengan ekspresi panik yang terlukis diwajahnya. Lukisannya sangatlah indah.

“Aku akan menunggumu.” Kata sang pria tampan kepada lukisan itu, tahu bahwa lukisan itu dapat mendengarnya.

Dan kemudian, ia berbalik, meninggalkan reruntuhan yang sudah memenjarakannya selama hampir dua abad, melangkah kearah api, dan sosoknya perlahan menghilang.

***

FF terjemahan ini saya publish sebagai permintaan maaf karena update To Daddy, With Love dan 7 Days akan mengalami keterlambatan. Saya banyak keperluan sampai tidak sempat menerjemahkan hehehe btw, ff ini sudah saya publish di wordpress pribadi saya

Ayo komentar~ 😀

P.S tidak ada sekuel 😐

Advertisements

76 responses to “Painted Heart

  1. wahh daebak critanya… si luhan udah umur berapa ntu?? o.O
    bru kali ini kaget aku baca ff luha jdi galak 😮
    author daebak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s