Black Swan – Chapter 3

062513_0203_BlackSwanCh1.jpg


Black Swan

| Genre : Life, Romance |

| Rating : General |

| Cast : Lee Taemin, Byun Baekhyun, Song Dayeon |

Disclaimer : Plot, karakteristik, dan cerita sepenuhnya hasil imajinasi saya, Enny Hutami. Seluruh pemeran punya orangtua masing-masing kecuali Song Dayeon yang keberadaannya entah ada atau tidak.

© Copyright EnnyHutami’s Fanfiction 2013

Previous : Chapter 2

~œ Swinspirit œ~

Hari berikutnya datang. Alarm berbunyi nyaring di dalam kamar Dayeon, membuatnya merubah posisi tidurnya dan menguap lebar-lebar. Matanya terbuka hanya satu detik, kemudian menutup kembali. Ia pun mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk ke dalam kamarnya.

Masih dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, tangan panjang Dayeon menggapai-gapai jam beker yang terdapat di nakas di sebelah tempat tidunya untuk mematikan sumber suara berisik yang menganggu tidurnya.

Lagi-lagi ia menguap, kali ini ia sudah duduk di pinggir tempat tidur dengan kaki yang menyentuh karpet.

Ketika ia mencoba berdiri, tubuhnya terhuyung ke samping namun tidak sampai jatuh. Jadi, ia mengambil handuk dan seragam yang semalam ia sudah siapkan ke kamar mandi. Dan begitu ia sudah berada di depan pintu kamar mandi, ia langsung memutar kenop dan membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

“KYAK!” Alhasil, ia berteriak saat melihat Baekhyun yang tengah memakai kemeja di dalam sana walaupun ia sudah mengenakan celana.

Teriakan Dayeon tentu saja membuat Baekhyun memutar bola matanya dan membuatnya bergumam, “Bodoh,” dengan nada mengejek.

Dan, Dayeon langsung membalikkan badannya, serta menutup kembali pintunya. “Aku tidak melihatnya!” teriak Dayeon yang masih berdiri membeku di depan pintu.

Tak lama kemudian, Baekhyun membuka pintu kamar mandi dari dalam. Ia menatap Dayeon terlebih dahulu dengan pandangan aneh sebelum ia masuk ke kamarnya.

Setelah Baekhyun masuk ke dalam kamarnya, ia mendengus. Suasana rumahnya tidak pernah seribut tadi. Dan, berkat Dayeon, ini pertama kalinya. Mungkin orangtuanya akan bertanya nanti.

Jadi, Baekhyun cepat-cepat mengenakan blazer sekolahnya, mengambil tasnya dan turun ke bawah untuk sarapan.

“Pagi,” sapa Baekhyun acuh tak acuh sambil menarik bangku di hadapan ibunya. Jika tak menyapa seperti ini, pasti ibunya akan mulai menceramahinya panjang-panjang. Dan akhirnya telinga seperti terbakar karena selama sarapan, ibunya terus bercuap-cuap menceramahinya.

“Dayeon mana?” pertanyaan pertama yang keluar dari mulut ibunya pagi ini adalah Dayeon.

Sambil mengoleskan selai di atas rotinya, Baekhyun menjawab. “Baru saja masuk kamar mandi.”

“Apa?” Ulang ibunya. “Jangan berangkat sendiri. Tunggu dia.”

Baru saja Baekhyun hendak membuka mulutnya untuk protes, tapi kembali menutupnya karena ia tahu akan sia-sia saja. Jadi, ia sudah bersiap-siap untuk terlambat sekolah hari ini.

Tak lama, Dayeon pun muncul dengan seragam dan tas seperti kemarin. Hanya saja, hari ini rambut panjangnya dikuncir satu ke belakang tanpa aksesoris. Tubuh kecilnya terlihat menjulang dibanding jika ia membiarkan rambutnya jatuh begitu saja sampai punggung.

“Selamat pagi,” sapanya dengan wajah cerah. Tidak menyadari betapa gelapnya wajah Baekhyun saat ini karena harus menunggu Dayeon.

Baekhyun mendelik saat Dayeon menarik kursi yang berada tepat di sebelahnya. “Cepat makan sarapanmu.” Ucapnya saat Dayeon baru saja duduk.

Dayeon menoleh dan menatap Baekhyun dengan pandangan tak bersalahnya, membuat Baekhyun menghela nafas menahan kesal lalu mengatupkan rahangnya. Sedangkan ayah dan ibu Baekhyun hanya memperhatikan anaknya dan Dayeon dengan pandangan heran.

~œ~œ~œ~

Selagi Dayeon dan Bakehyun berjalan bersama—tidak bisa dibilang bersama sih karena Baekhyun berjalan cukup jauh di depan Dayeon—Dayeon melirik punggung Baekhyun dengan wajah merenggut.

Ia tidak tahu apa yang membuat Baekhyun sinis begitu pada dirinya. Atau mungkin, Baekhyun tidak menyukai dirinya karena tiba-tiba ia datang dan tinggal di rumahnya. Ia tidak tahu.

Dari ketidaktahuan tersebut, itulah asal mengapa Dayeon penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan Baekhyun. Laki-laki itu tidak banyak bicara dan tidak banyak melakukan gerak-gerik yang membuatnya mudah terbaca, jadi ia tidak bisa menebak-nebak.

Dayeon menghela nafas berat. Ini sudah kesekian kalinya sejak ayahnya mengatakan bahwa perusahaannya mengalami kebangkrutan. Sebelumnya ia tidak pernah menghela nafas sesering ini.

Ngomong-ngomong ayahnya, belum-belum satu minggu terlewat tanpa melihat wajah dan mendengar suara ayahnya, ia sudah merasa rindu dan ingin semua ini cepat berakhir. Yah, walaupun ayah dan ibu Baekhyun sangat baik padanya.

Tiba-tiba, keningnya merasa terbentur sesuatu yang—tidak begitu—tajam. Dayeon mengerang sambil mengelus keningnya yang baru saja mengenai sesuatu. Dan saat ia mengangkat kepalanya, ternyata Baekhyun berdiri menghadapnya dengan pandangan mengejek.

“Apa?” tanya Dayeon sewot, masih mengelus keningnya yang ternyata mengenai jari Baekhyun. Laki-laki itu sengaja rupanya…

“Ingat apa yang kukatakan semalam?” Baekhyun balik bertanya. Ia sama sekali tidak menanggapi kesewotan Dayeon atas apa yang barusan dilakukannya.

Dayeon mendecak. “Kau yang memulai berbicara denganku.” Kalimatnya membuat Baekhyun terdiam. Lalu ia berlalu dan meninggalkan Baekhyun di belakang. Tidak peduli dengan reaksi Baekhyun atas apa yang barusan ia katakan.

“Satu sama.” Gumam Dayeon sambil tersenyum puas.

Saat Dayeon masuk ke dalam kelasnya, ternyata ia tidak terlambat seperti apa yang diperkirakan Baekhyun. Yah… walaupun suasana kelas sudah ramai.

Dayeon menghampiri mejanya, bukannya langsung dudu di kursi, ia justru terpaku melihat tulisan-tulisan yang ada di atas mejanya.

Ada beberapa tulisan seperti, “jauhi Baekhyun-ku!” dengan tinta berwarna hitam, “kau tinggal dengan Baekhyun? Kau seperti *******” kata terakhir dicoret dengan tinta warna biru. Entah siapa yang mencoretnya. Dan, ada juga yang bilang, “jangan coba-coba merayu Baekhyun.”

Mwoya?” dengus Dayeon sambil tertawa kecil. Memang hanya ada tiga tulisan di atas mejanya dan sisannya ada gambar-gambar kecil. Namun, itu tidak memenuhi mejanya.

“Kau tertawa?”

Dayeon mengangkat kepalanya dari meja dan melihat Eunji yang menatapnya dengan pandangan heran. Ia pun tersenyum kecil sambil mengangguk. Lalu duduk di atas kursinya. “Menurutku ini lucu.” Ucapnya.

“Lucu?” dengus Eunji tidak percaya. “Aigoo, seorang Byun Baekhyun memiliki penggemar yang luar biasa mengerikan.” Kemudian Eunji menyindir saat Baekhyun muncul dari balik pintu kelas. Lalu, “Dayeon-a, tidak perlu khawatir. Aku siap menghajar siapapun yang berani menyentuhmu.” Katanya lagi sambil tertawa.

Mendengar entah itu gurauan atau betulan, Dayeon pun ikut tertawa. Namun, tawa mereka berhenti saat Baekhyun datang dan duduk di bangku di sebelah Dayeon. Baekhyun jelas merasa aneh, jadi ia melempar pandangan bertanya pada Eunji dengan mengangkat dagunya.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Eunji sambil menahan tawanya, membuat Baekhyun menyipitkan matanya.

Tawa Eunji dan Dayeon pun meledak lagi, membuat Baekhyun langsung melirik sinis pada Dayeon yang duduk di sebelahnya.

Kemudian, saat Baekhyun hendak mengalihkan pandangannya, dengan cepat Dayeon menutupi atas mejanya dengan buku-buku tebal nan lebar dengan sedikit kasar sehingga menimbulkan suara yang cukup terdengar oleh Baekhyun. Namun Baekhyun sama sekali tidak menyadari bahwa ternyata Dayeon menutupi sesuatu darinya.

~œ~œ~œ~

Sekejap mata, tiap lorong di sekolah tersebut sudah dipenuhi murid-murid ketika bel baru saja berderang. Tidak peduli apakah guru tersebut masih berada di dalam kelas atau tidak, mereka langsung keluar dari kelas seperti narapidana yang baru saja bebas.

Di dalam kelas 2-1, Dayeon tengah memisahkan buku-buku yang perlu ia pelajari di rumah dan yang tidak. Jika buku tersebut ia butuh baca di rumah, ia memasukkan buku-buku tersebut ke dalam tasnya. Namun jika tidak, ia akan menaruh buku-buku tersebut ke loker baru yang berada di belakang kelas.

Baekhyun yang baru saja berdiri, matanya menangkap coret-coretan di meja Dayeon saat ia hendak mengalihkan pandangannya. Kemudian ia mendengus melihat tulisan dan gambar-gambar di sana.

Penggemarnya? Pikir Baekhyun karena coret-coretan tersebut hanya berisikan tentang dirinya. Ia tidak percaya bahwa ia memiliki penggemar yang bersikap seperti ini. Jenis penggemar seperti apa mereka?

Namun, jika dilihat dengan seksama, model tulisan tersebut sama saja—hanya warna tintanya yang berarti. Itu tandanya, yang menyoreti meja Dayeon hanya satu orang.

Lalu kenapa ia peduli walaupun ada namanya yang ditulis di sana? Jadi, ia melanjutkan langkahnya keluar dari kelas melewati pintu depan.

Sedangkan di belakang sana, di depan loker, Dayeon menutup pintu kecil lokernya lalu menutupnya dengan pelan. Ia mencabut kunci dari lubang kecil di bawah kenop loker dan memasukkan ke dalam tas.

“Murid pindahan,”

Dayeon membalikkan badannya merasa terpanggil karena di kelas ini—mungkin juga sekolah ini—ialah satu-satunya murid pindahan.

“Hai,” sapanya dengan senyuman terhias diwajahnya begitu melihat Taemin berada di depannya.

Taemin ikut tersenyum, kemudian menyodorkan sebelah tangannya yang memegang sesuatu. “Kunci cadangan.” Katanya, membuat senyum Dayeon semakin lebar ketika ia mengambil kunci tersebut dari tangan Taemin.

Gomawo.” Ucap Dayeon, masih dengan senyum lebarnya. Kemudian pergi meninggalkan Taemin dan bergegas menuju ruang tari yang berada di lantai dua, di ujung gedung sebelah barat.

Dengan langkah yang terlampau ringan, Dayeon melangkah sambil meloncat-loncat sangking senangnya begitu membayangkan ia bisa menari lagi. Tidak membutuhkan waktu lama agar ia sampai di ruang tari, karena toh kelasnya berada di gedung bagian barat dan hanya perlu menuruni tangga sebentar, ia langsung membuka kunci pintu dari ruang tari begitu ia berada di depan pintu.

Ruang tari ini… memang jauh lebih besar dari ruang latihan sebelumnya karena mungkin ruangan ini digunakan untuk banyak orang yang masuk ke klub tari. Namun tidak ada grand piano dan hanya ada speaker serta pemutar musik. Cermin besar hanya ada satu, yaitu di bagian di depan pintu masuk, dan tidak ada ruang ganti.

Jadi… ia mengganti seragamnya dengan pakaian tarinya bagaimana? Terlebih lagi ia tidak tahu letak toilet perempuan di lantai dua.

Ia menggigit bibirnya sambil berpikir dengan mata yang berkeliling ke seluruh ruang tari. Ruangan ini berbentuk persegi panjang dengan setiap sudut yang kosong tanpa kursi dan hanya ada pendingin ruangan di dua sudut, serta dua kipas angin di langit-langitnya.

Kemudian, ia mengintip ke satu-satunya pintu yang bagian tengahnya terbuat dari kaca memanjang. Tidak ada siapa-siapa.

Untungnya ruangan ini tidak ada jendela dan dikelilingi tembok bercatkan warna putih yang sudah agak pudar. Satu-satunya kaca hanya pada pintu, itupun hanya dua garis kecil untuk mengintip.

Jadi ia berlari menuju pintu, dan menguncinya. Lalu langkahnya mengarah ke sudut ruangan yang berada di sebelah pintu untuk mengganti pakaiannya. Sudut yang jauh dari pintu.

~œ~œ~œ~

Taemin melangkahkan kedua kakinya di sepanjang jalan yang mengarah ke luar sekolah. Karena sekolahnya itu menyandang sekolah terbersih dan terasri dari seluruh sekolah di daerah Kyeonggi, jadi tepat di sisi kanan dan kiri jalan dipenuhi dengan pohon dan tanaman yang memiliki bermacam-macam warna daun.

Begitu langkahnya mencapai gerbang sekolah, kakinya berhenti untuk melanjutkan.

Sejujurnya, ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan Dayeon di ruang tari sendirian. Namun otaknya berpikir agar tidak mencampuri urusan orang lain.

Kemudian ia menghela nafas, sekaligus memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. Dan, ia mengikuti perkataan otaknya menyuruhnya pulang dan tidak mencampuri urusan Dayeon.

Selama ia melangkahkan kakinya di sepanjang trotoar jalan menuju halte bus, hatinya sangat berat untuk pergi. Kenapa seperti ini? Batinnya. Sebelum bertemu Dayeon, ia selalu menuruti apa yang diperintahkan otaknya bukan hatinya. Namun, setelah bertemu… mengapa begini?

Akhirnya ia menyerah dan membalikkan badannya untuk kembali ke sekolah, lebih tepatnya menuju ke rung tari untuk melihat Dayeon.

Saat ia hendak menaiki anak tangga, ia melihat seorang gadis berambut hitam gelap yang panjang dan berponi baru saja menjatuhkan buku-buku tebal yang ia bawa karena keberatan. Jadi, dengan sedikit berlari Taemin menghampiri gadis tersebut untuk membantunya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Taemin sambil membantu gadis tersebut membereskan buku-buku yang berserakan di lantai. Taemin melirik sekilas papan nama kecil yang melekat di seragam gadis itu. Park Hyeju, nama gadis itu.

N-ne, sunbaenim.” Jawab gadis itu dengan suara kecil seperti bisikan. “Aku baik-baik saja.”

Taemin berdiri ketika buku-buku tebal nan berat itu sudah berada di tangannya. Hyeju hendak mengambil kembali buku-buku tersebut, namun Taemin tidak mengizinkannya dan justru bertanya, berpura-pura tidak tahu bahwa Hyeju hendak membawa buku-buku tersebut kembali.

“Kau akan kemanakan buku-buku ini?” Tanyanya dengan wajah ramah seperti biasa.

Hyeju menatap Taemin sambil mengerjap berkali-kali. “P-p-per-pustakaan.” Ucapnya tergagap.

Tidak tahu apa yang membuat Hyeju tergagap seperti itu, Taemin melayangkan senyumnya agar—mungkin—bisa menenangkan Hyeju dan agar gadis itu bisa bersikap biasa saja.

Taemin mulai melangkah menuju perpustakaan, dan Hyeju pun mengikutinya dari belakang dengan terheran-heran.

Sunbaenim… kenapa kau mau membantuku?” pertanyaan Hyeju membuat Taemin tertawa.

Wae? Aku tidak boleh membantumu?” tanya balik Taemin.

“Bukan begitu!” Hyeju mengibaskan tangannya berkali-kali sambil sedikit berlari untuk bisa menyamai langkah Taemin. “Hanya saja, ada yang bilang kalau kau kelihatan baik… namun sebenarnya tidak…” ia tidak meneruskan kalimatnya.

Lagi-lagi Taemin tertawa. “Siapa yang bilang begitu?”

“Anu… t-teman sekelasku.” Jawab Hyeju sambil merundukan kepala.

Taemin berpikir sebentar. Lalu, “Aku baru mendengar gosip itu.” Ucapnya.

Di belakang, Hyeju meringis malu. Seharusnya ia tidak mengatakan hal seperti itu pada Taemin. Bodoh, bodoh, bodoh. Rutuknya dalam hati.

Sesampainya di perpustakaan, Taemin langsung meletakkan buku-buku tersebut di atas meja pustakawati yang duduk di balik komputernya. Pustakawati itu menaikan kacamatanya yang melorot ketika Taemin meletakkan buku-buku tebal itu di atas mejanya.

“Ini buku yang dipinjam Kwon Hyunjin sonsaeng.” Kata Hyeju cepat-cepat saat pustakawati itu memandangi Taemin dengan pandangan bertanya-tanya.

Tanpa banyak komentar, pustakawati itu pun menyuruh Hyeju dan Taemin keluar dari perpustakaan. Taemin yakin sekali jika pustakawati itu cepat-cepat ingin keluar dari sekolah.

Taemin dan Hyeju pun keluar dari perpustakaan dan berjalan beriringan melewati—seperti—jembatan panjang yang menghubungkan perpustakaan dengan gedung sekolah.

“Terimakasih sudah membantu, sunbaenim.” Ucap Hyeju saat ia hendak berbelok untuk ke luar dari sekolah, sedangkan Taemin tetap lurus.

Taemin berhenti dan membalikkan badannya menghadap Hyeju. “Mm,” sahutnya, kemudian kembali membalikkan badannya dan pergi menuju ruang tari.

Keadaan sekolah sudah mulai sepi, hanya ada beberapa murid yang berkeliaran di lapangan sekolah dan tempat lainnya untuk melakukan kegiatan di luar jam pelajaran.

Setibanya Taemin didepan pintu ruang tari di lantai dua, ia mengintip ke dalam ruangan tersebut dan mendapati hanya ada Dayeon sendiri di dalam dengan celana abu-abu yang biasa digunakan untuk olah raga serta kaus longgar warna merah muda keunguan. Rambut panjang Dayeon digulung ke atas hingga tak bersisa.

Dilihatnya, Dayeon menjijitkan sebelah kakinya, sedangkan sebelahnya lagi naik turun ke atas namun tidak menginjak lantai. Cukup lama Dayeon melakukan itu sambil melompat-lompat kecil dengan sebelah kakinya dengan tangannya bergerak dengan lentu.

Kemudian Dayeon menurunkan sebelah kakinya hingga keduanya menginjak lantai, tapi tetap berjinjit. Lalu tubuhnya berputar, membentuk gerakan yang indah.

Balerina. Taemin langsung tahu bahwa Dayeon adalah penari balet. Dan, ia menganga melihat gerakan Dayeon. Cantik dan indah.

Masih menari, Dayeon tidak menyadari bahwa di luar Taemin sedang berusaha untuk membuka pintu. Karena dikunci Dayeon tadi, akhirnya Taemin memilih untuk mengambil kunci ruangan itu dalam saku celananya dan membuka pintu, membuat kunci yang menggantung di dalam sana jatuh ke lantai dan menimbulkan suara benturan kecil.

Bahkan sangking kecilnya suara tersebut, sampai-sampai Dayeon tidak mendengarnya karena ia terlalu fokus dengan musik dari ponselnya yang nadanya cukup cepat.

Berhasil masuk, Taemin berjongkok untuk mengambil kunci yang jatuh dan berdiri tepat di samping pintu, memperhatikan Dayeon yang sepertinya belum menyadari keberadaan Taemin di belakangnya.

Eomma!” pekik Dayeon begitu ia melihat pantulan bayangan Taemin dalan cermin besar di depannya, ia yang terkejut langsung terjatuh.

Taemin cepat-cepat berlari ke arah Dayeon untuk membantunya. “Kau baik-baik saja?” pertanyaan itu sudah ditanyakannya dua kali kurang dalam satu jam hari ini.

“Mm,” jawab Dayeon sambil merubah posisi duduknya dengan kaki menjadi lurus ke depan. Ia lega karena kakinya tidak keseleo. Lalu ia menoleh ke Taemin. “Kenapa kemari?” tanyanya dengan tatapan polos.

Taemin ikut duduk di sebelah Dayeon. “Hanya… penasaran?” jawabnya tidak yakin, membuat Dayeon mendengus setengah tertawa.

“Tadi itu bagus sekali,” kata Taemin lagi, tak ingin pembicaraan antara mereka berhenti. “Cantik.” Ia tersenyum sambil menatap Dayeon.

Gomawo.” Ucap Dayeon, tidak menyadari bahwa kata ‘cantik’ yang diucapkan Taemin ditunjukan untuk dirinya—wajahnya—bukan gerakatn tariannya.

“Kau berhenti menari balet?” tanya Taemin.

Dayeon diam sebentar, tidak langsung menjawab. Jadi, Taemin tahu bahwa ia salah bertanya. Baru saja ia hendak membuka mulutnya lagi untuk mengganti topik pembicaraan, namun Dayeon lebih dulu menjawab.

“Tidak berhenti.” Ucap Dayeon. Matanya menatap ujung sepatunya menerawang. “Setelah semuanya kembali normal, aku akan kembali menari lagi.”

“Kembali normal?” ulang Taemin dengan kening berkerut. “Apa… sama artinya dengan kembali ke Seoul, ke sekolah lamamu?”

Dayeon menganggukkan kepalanya tanpa melirik Taemin. “Mm, aku harus kembali berlatih.” Jawabnya sambil membungkukan tubuhnya dan menjulurkan tangannya ke depan sehingga tangannya memegang ujung kaki dan wajahnya mencium lutut.

Taemin hanya memperhatikan gerak-gerik Dayeon.

Sebenarnya, Dayeon sedikit tidak nyaman berlatih menggunakan celana ini. Ia lebih senang dan leluasa jika mengenakan legging seperti ia berlatih biasanya. Tetapi tidak mungkin ia mengenakan pakaian itu jika ingin berlatih di sekolah. Telebih lagi seperti saat ini, dimana Taemin datang untuk melihatnya.

“Bagaimana kalau kau benar-benar berhenti menari, dan kau tidak bisa kembali ke Seoul?” pertanyaan Taemin sangat jauh dari perkiraan Dayeon.

Masih dengan posisi tubuhnya yang sama—mencium lututnya selagi kakinya diselonjorkan—Dayeon memiringkan wajahnya, menatap Taemin dengan pandangan heran. Lalu, merubah posisinya hingga duduk bersila. “Aku… tidak pernah membayangkan yang seperti itu akan terjadi. Aku menari sejak kecil, dan tidak pernah terpikirkan bahwa aku akan berhenti.” Katanya.

“Dan, kalau itu terjadi?” tanya Taemin lagi, kali ini sedikit memancing. Entah untuk apa. “Kau harus berpikir realitas. Kau tahu?”

Dayeon diam sebentar untuk berpikir. Kemudian ia tertawa kecil, tanpa suara. “Kurasa, aku akan menjadi angsa hitam.” Kalimat yang diucapkan Dayeon sangat tidak dimengerti Taemin.

“Angsa hitam?” ulang Taemin meminta penjelasan.

Dayeon menoleh ke arah Taemin dengan wajah terkejut. “Kau tidak tahu angsa hitam? Black swan.” Taemin menggeleng. Jadi, Dayeon mulai menjelaskan. “Saat suatu negara menemukan seekor angsa berwarna hitam padahal dunia meyakini bahwa angsa hanya berwarna putih.”

Taemin menatap Dayeon. Masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan gadis itu.

“Penemuan tentang angsa hitam sangat tidak diduga oleh para ahli dunia. Jadi, jika ada kejadian yang tidak pernah diduga, kejadian tersebut biasanya disebut-sebut seperti angsa hitam. Teori angsa hitam—kau benar-benar tidak tahu? Buku Fooled By Randomness karya Nassim Nicholas?”

Taemin hanya mengerjapkan matanya pada Dayeon. Heran. Dan, mungkin saat ini ia terlihat sangat bodoh. “Lalu?” tanyanya.

Dan, Dayeon mendecakkan lidahnya sembari melepas tali yang melilit pada kakinya—tali sepatunya. “Seperti aku jika aku benar-benar berhenti menari. Apa kau berpikir sama denganku?” kemudian ia menatap Taemin untuk meminta persetujuan dari perkataannya.

Namun Taemin tidak menanggapi pertanyaan tersebut dan berbicara lagi. “Bagaimana kalau jangan berhenti menari?” usul Taemin.

Dayeon tertawa. “Yah… aku juga ingin seperti—”

“Bukan balet, namun menari dengan jenis lain?” Dayeon langsung melirik Taemin dengan pandangan tak mengerti—sebenarnya pura-pura tidak mengerti. “Mencoba hal baru. Kedengarannya bagus, bukan?” lanjut Taemin.

Dayeon mengerjapkan matanya. Kemudian mencoba melepas sepatu sebelahnya. “Entahlah. Aku tidak yakin,”

“Kau belum yakin karena kau belum mencoba.” Sela Taemin. Kelihatannya ia semangat sekali agar Dayeon masuk ke klub tari.

Cukup lama Dayeon berpikir, akhirnya ia menganggukan kepalanya, walaupun kelihatan ragu. Dan, senyum Taemin pun melebar melihatnya. “Tapi… bolehkan aku tetap menggunakan ruangan ini saat kosong?” tanyanya.

Taemin mengangguk dan Dayeon tersenyum, walaupun bukan senyum seperti biasa dan terlihat sedikit aneh dan dipaksakan.

Dayeon sangat tahu bahwa Taemin sedang mengajaknya untuk masuk ke klub tari, tetapi ia tidak begitu yakin dengan masuk ke klub tersebut karena ia tahu bahwa di klub tersebut, ia tidak menari seperti biasa. Dan, ia takut akan mengurangi kemampuan baletnya. Maka dari itu, ia meminta Taemin agar mengizinkan tetap menggunakan ruang tari.

~œ~œ~œ~

Keadaan lorong pendek yang hanya ada di depan kamar mandi, kamar Dayeon dan juga kamar Baekhyun sepi. Dari salah satu pintu tersebut, pintu kamar Baekhyun terbuka lebih dulu, menampakkan Baekhyun dengan rambut pendek mencapai telinga yang jatuh ke bawah dan pakaian santai rumah—celana jeans hitam dan kaus lengan pendek berwarna hijau.

Tak lama setelah itu, pintu kamar Dayeon ikut terbuka. Dayeon yang mengenakan celana pendek setengah paha—lebih pendek sedikit—dan kaus tanpa lengan berwarna putih yang memanjang sampai menutupi zipper celana.

Baekhyun melirik ke belakang sejenak begitu mendengar suara pintu terbuka, menatap Dayeon dengan pandangan monoton dan berlalu pergi. Bibir Dayeon mencebik melihat ekpresi Baekhyun, dan mengikuti Baekhyun menuruni tangga.

Hari ini adalah hari minggu. Hari berkumpul bersama bagi keluarga Byun di mana seluruhnya berada di rumah, tidak berkerja dan pergi bersama teman. Dan juga bisa dibilang hari bersih-bersih, begitu pikir Baekhyun saat ia menarik kursi di hadapan ibunya di meja makan.

“Pagi,” sapa Baekhyun dengan suara yang terdengar tidak bersemangat. Berbanding terbalik dengan Dayeon yang menyapa tepat beberapa detik setelah sapaan Baekhyun.

Dayeon menarik kursi di sebelah Baekhyun.

“Dayeon-a, hari ini kau tidak berencana untuk pergi, bukan?” tanya ibu Baekhyun, membuat Baekhyun melirik Dayeon yang duduk di sebelahnya karena seharusnya ibunya itu bertanya padanya lebih dulu.

Sambil membalik piringnya, Dayeon menggelengkan kepala. “Tidak, bi. Aku ingin membantu membereskan rumah.” Salah satu peraturan di rumah ini yang dibuat oleh ibu Baekhyun adalah membereskan rumah di akhir pekan jika memang ada yang harus dibersihkan.

Dayeon membaca peraturan tersebut di tulisan yang ditempel di lemari es.

Setelah sarapan, ayah Baekhyun lebih memilih untuk membaca koran di halaman depan rumah. Dan tidak ada satupun yang protes karena mereka merasa bahwa ayah Baekhyun sudah berkeja sangat keras saat hari-hari kerja. Jadi, hari minggu adalah waktu santai untuk beliau.

Sedangkan Baekhyun keluar rumah untuk membeli sesuatu.

“Dayeon-a, apa benar Baekhyun punya teman?” tanya ibu Baekhyun pada Dayeon yang tengah mencuci piring-piring bekas sarapan.

Dayeon mengangkat wajahnya dari tempat cuci piring untuk melihat ibu Baekhyun. “Mm, dia punya.” Jawabnya dengan wajah heran. Mengapa ibu Baekhyun berpikir bahwa Baekhyun tidak memiliki teman? “Dan, kurasa dia populer di sekolah.” Tambahnya.

“Benarkah?” ibu Baekhyun meragukan. Dan seolah bisa membaca pikiran orang, ia menjawab pertanyaan Dayeon yang tidak ia ucapkan. “Baekhyun itu sedikit aneh,” katanya dengan berbisik, Dayeon mengerjapkan matanya heran. Ini pertama kalinya ia mendengar seorang ibu mengatakan bahwa anak satu-satunya itu aneh.

“Dia bersikap dingin, cuek, sinis dan tidak bersahabat. Mana ada yang mau berteman dengan orang seperti itu?”

“Ah, benar juga.” Gumam Dayeon membenarkan. Semua sifat Baekhyun yang dijelaskan oleh ibu Baekhyun memang sangat benar. Ditambah dengan menyebalkan. Namun, Dayeon masih berpikir apakah ada penyebab dari semua sikap itu karena kedua orangtuanya sangat baik dan ramah.

Kemudian mata Dayeon mengarah ke jendela yang berada di ruang keluarga setelah ia menyelesaikan cucian piringnya.

“Bibi, sudah berapa lama tirai tidak diganti?” tanya Dayeon seraya mengelap tangannya dengan lap yang menggantung di dekatnya.

Mendengar pertanyaan Dayeon, ibu Baekhyun membalikkan badannya dan melihat tirai yang berwarna hijau tosca yang terdapat di ruang tengah. Ia berpikir sejenak. Lalu, “Tahun lalu—astaga, pasti kotor sekali!” Ucapnya sambil bergegas pergi untuk mengambil tirai lainnya di kamarnya.

Tanpa disuruh—apalagi dipaksa—Dayeon mengambil bangku yang permukaannya berbentuk lingkaran dan cukup tinggi, lalu mendorongnya sampai ke depan jendela.

Kemudian ibu Baekhyun keluar dari kamarnya tanpa membawa tirai. Ketika ia melihat Dayeon tengah berdiri di atas kursi dan tangannya menggapai-gapai atas tirai, ia langsung membelalakan matanya tak percaya dan sedikit khawatir.

“Dayeon-a, kau sedang apa?” tanyanya dengan nada tinggi.

Dayeon yang tadinya berjinjit langsung menapakkan kakinya di atas permukaan kursi dan membalikkan badannya. “Melepas tirai.” Jawabnya dengan wajah yang kelewat polos.

“Lebih baik tunggu Baekhyun pulang saja.” Usul ibu Baekhyun. Wajahnya terlihat cemas. “Bagaimana kalau kau jatuh?”

Bukannya menyetujui usul ibu Baekhyun dan turun dari bangku tersebut, Dayeon justru tertawa. “Tidak akan jatuh kok. Aku sudah biasa mengganti tirai di rumah saat appa tidak ada di rumah.” Ujarnya. “Lagipula, tinggi Baekhyun tidak jauh denganku. Tidak akan banyak membantu.”

Kalimat yang barusan diucapkan Dayeon sambil tertawa membuat ibu Baekhyun ikut tertawa. Pasalnya, apa yang dikatakan Dayeon ada benarnya. Tinggi badan Baekhyun tidak bisa dibilang tinggi, alias… pendek.

“Baiklah. Kalau begitu hati-hati. Jangan sampai jatuh.” Kata ibu Baekhyun. “Bibi cari tirai barunya dulu di atas.” Kemudian ia melangkah menuju anak tangga.

Jadi, alasan mengapa ibu Baekhyun keluar dari kamar dengan tangan kosong karena ia tidak mendapatkan tirai yang dicarinya di sana. Dan ternyata, tirai dan macam-macam kawannya seperti seprai ditaruh di ruangan khusus di lantai dua.

Setelah ibu Baekhyun pergi, Dayeon kembali melanjutkan pekerjaannya melepas tirai. Bukan pekerjaan yang sulit karena ia hanya harus berjinjit agar tangannya bisa menggapai tongkat panjang yang diletakkan horizontal sedikit di atas jendela dan mencabuti gantungan kecilnya satu persatu.

Saat hampir setengahnya terlepas, setengah tirai yang sudah terlepas dari kaitan tongkat kecil itu dipeluk dengan setengah tangan Dayeon. Bahkan bagian bawahnya membuat kaki Dayeon terpaksa menginjak tirai tersebut.

Ugh, tirainya terlalu besar. Begitu batinnya.

Mwohani?”

Mendengar suara yang terdengar ketus, Dayeon menolehkan kepalanya namun tidak mengubah posisinya karena takut terjatuh. “Kau tidak bisa lihat?” balas Dayeon tajam.

Baekhyun mendengus, lalu melangkah menuju dapur untuk meletakkan kantung plastik yang dibawanya di atas meja makan. Setelah itu langkahnya mengarah mendekati Dayeon yang masih menggapai-gapaikan tangannya ke atas dengan berjinjit di atas bangku.

Mata Baekhyun beralih ke arah telapak kaki Dayeon yang sebelahnya menginjak tirai. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa Dayeon nekat melepaskan tirai jendela sendirian dibanding menunggunya. Memangnya dia tidak takut jatuh?

“Oi, Song Dayeon.” Panggil Baekhyun. Dayeon tidak menoleh, namun menggumamkan sesuatu untuk menanggapi panggilan Baekhyun. Lalu, “Kau tahu coret-coretan di atas mejamu?” Baekhyun bertanya.

“Kau bodoh?” Dayeon mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun sebentar. Lalu turun dari bangku dengan tirai yang masih dipeluknya. “Bagaimana mungkin aku tidak tahu?”

Baekhyun mendengus. Ia menyesal bertanya pada Dayeon jika jawabannya seperti ini. Jadi ia membalikkan badannya dan pergi.

Namun sebelum Baekhyun benar-benar pergi, Dayeon memanggilnya. Dan Baekhyun kembali membalikkan badannya sambil melempar pandangan bertanya pada Dayeon dengan mengangkat dagunya.

“Apa kau khawatir?” tanya Dayeon tiba-tiba dan tanpa menjelaskan lebih maksud dari pertanyaannya tersebut.

“Apa?” Ulang Baekhyun sembari menautkan alisnya bingung.

“Tulisan-tulisan di mejaku,” jelas Dayeon dengan memamerkan senyum kecilnya. “Apa kau khawatir?” kemudian ia mengulang pertanyaannya.

Baekhyun hanya menatap Dayeon tanpa berkedip untuk sementara waktu. Lalu, begitu kembali ke kesadarannya, ia mendengus namun tidak menjawab pertanyaan yang sudah diulang kembali oleh Dayeon.

“Dayeon-a!”

Begitu Baekhyun hendak kembali ke kamarnya, ibu Baekhyun berteriak sepanjang ia menuruni tangga. Membuat Dayeon dan Baekhyun yang berada di dalam rumah menoleh dengan heran.

“Oh, kau sudah pulang?” kata ibu Baekhyun dengan nafas terengah saat ia melihat Baekhyun yang hendak pergi dari ruang tengah. Kemudian, senyum lebar—yang benar-benar lebar—kembali terlukis di wajahnya.

Lalu, tangan kanannya yang bebas dari memegang tirai yang terlipat rapi dikibas-kibaskan, menunjukkan bahwa ia memegang sesuatu seperti kertas kecil. Kertas foto.

“Kalian ingat ini?” tanya ibu Baekhyun menggebu-gebu sambil memperlihatkan gambar dari foto yang dipegangnya. Mata Baekhyun melotot melihatnya.

Dayeon dari jarak yang cukup jauh jelas saja jika ia melihatnya dengan samar-samar. Kemudian ia meletakkan tirai yang dipeluknya di punggung sofa dan melangkah mendekat ke arah ibu Baekhyun untuk melihat lebih jelas.

Saat sudah bisa melihatnya dengan jelas, sama seperti Baekhyun, mata Dayeon juga melotot melihat foto tersebut.

“I-itu siapa?” tanya Dayeon tergagap sembari menunjuk anak laki-laki yang berada di dalam foto tersebut karena ia sangat mengenali anak perempuan yang ada di dalam foto tersebut.

“Kalian berdua.” Ibu Baekhyun menjawab dengan cengiran puas. Tidak mempedulikan reaksi Baekhyun dan Dayeon saat ini.

Dayeon hanya mengerjapkan matanya tak percaya, sedangkan Baekhyun menelan ludahnya susah payah. Kemudian, keduanya saling melirik dengan pandangan ngeri.

~œ To be continue œ~

Happy fasting‼! Aku mau minta maaf nih sebelum puasa hehe. Maaf kalau selama ini punya salah dari perkataan atau apapun. Maaf juga kalau aku jarang balas komen, internetnya minta dibacok soalnya, jadinya udah bete duluan. Untuk BS, coba tebak foto apa yang diliatin si ibunya Baekhyun keke. Dan sebenernya, aku minta maaf kalo adegan baletnya cuma sedikit, soalnya aku gak ngerti apa-apa tentang balet dan kawan-kawannya. Jadi, maaf kalo aku buat salah-salah tentang balet. Cuap-cuapku gak banyak kok, soalnya emang cuma mau bilang selamat puasa bagi yang merayakannya doang hehe. Sekali lagi, happy fasting‼!

87 responses to “Black Swan – Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s