I Am Wolf [ Chapter 1]

i-am-wolf-4

AUTHOR: Avyhehe / @a_vy

LEGTH: Chaptered

GENRE: Sci-fi / Action / Romance

RATED: PG-13

Characters:

  • Choi Minhee – OC
  • Kris Wu – EXO
  • Huang Zi Tao – EXO
  • Park Chanyeol – EXO
  • Byun Baekhyun – EXO
  • Xi Luhan – EXO
  • Oh Sehun – EXO

Others: The rest of exo members

Disclaimer: Mine.

A/N: haduh, knp tiba2 jd bikin FF absurd kayak gini yah

bukannya ngelarin FF yg two sides, malah bikin FF baru*dibacok exo boys rame2*

oke happy reading ~ 😀

DON’T BE A SILENT READER, PLEASE

Enam pemuda, berandalan, dengan kemampuan berkelahi diatas rata-rata.

“The Wolves” adalah sebutan untuk mereka.

Sejauh ini hanyalah sebutan,

tapi apa yang terjadi bila sebutan itu menjadi kenyataan?

Gadis itu memutar matanya saat sosok bertubuh tinggi itu berdiri di depannya, menghalangi jalannya, dengan seringai terpampang di wajahnya dan punggung yang bersandar di loker sekolah. Sosok itu berwajah rupawan, mulus tanpa cacat, dengan alis indah seperti sapuan kuas malaikat dan garis wajah yang tegas.  Matanya berwarna hazelnut, tidak lupa rambut pirang cerahnya yang membingkai puncak kepalanya seakan menantang matahari.

“Hei,” dia menyapa gadis itu, seringainya berubah menjadi senyum lebar dan membuatnya semakin tampan.

Si gadis mendecak, seolah tidak terbius dengan wajah tampan di hadapannya. Dia mendorong tubuh sosok itu dan berjalan melewatinya, menuju lokernya yang berada di deretan paling belakang. Tapi sebelum dia melangkah lebih jauh, sosok itu menahan pergelangan tangannya. Gadis itu berbalik dan menatapnya tajam persis di manik mata.

“Kris, tolong, jangan membuntutiku terus.” dia mendesah, mencoba menahan emosi pada sosok bernama Kris itu.

“Apa salahnya membuntuti orang yang kusuka, hm?” kata-kata telak itu meluncur dari bibir plum milik Kris. Kata-kata yang biasanya akan membuat perempuan yang menjadi objek luncuran bertekuk lutut saat mendengarnya. Tapi gadis di hadapannya adalah suatu pengecualian. Gadis itu, Choi Minhee.

Minhee menatap Kris dengan tatapan sinis. Dia sudah tahu sejak lama bahwa pemuda di hadapannya adalah ‘serigala’ di sekolah ini, bersama teman-teman satu geng nya yang juga menyandang gelar itu. Mereka adalah enam orang namja tampan dengan kemampuan berkelahi diatas rata-rata, membuat para siswi mengerumuni mereka seperti lebah-lebah yang sedang mengerumuni sarangnya yang penuh madu. Mereka adalah serigala, itulah yang selalu tertanam di benak Minhee. Dia adalah tipikal gadis yang menanam pepatah ‘biasanya cowok ganteng itu kurang ajar‘ sebagai mindsetnya. Apalagi selain senang menggoda perempuan, keenam namja itu adalah berandalan yang suka berkelahi, membuat mereka benar-benar pantas disebut serigala.

Tapi menurut Minhee, yang paling parah adalah Kris, karena pemuda itu adalah duizhang mereka. ‘Duizhang’ adalah sebutan untuk seorang leader dalam sebuah kelompok. Dalam hal ini, khusus untuk Kris dan berandalan lainnya, artiannya adalah ketua gang.

“Minggir!” teriak Minhee kesal.

Gadis itu berusaha menyingkir dari hadapan Kris, namun Kris selalu membayang-bayanginya dan menghalangi tubuhnya.

“Tidak boleh, sebelum kau mau kuajak keluar.”

“Aku tidak akan PERNAH mau!” kata Minhee ketus.

“Kenapa?”

“Kenapa?” Minhee mendengus, sambil mengulang pertanyaan Kris. “Tentu saja…karena kau serigala.”

“Memang kenapa kalau aku serigala?”
“Aku tidak ingin dimangsa serigala playboy sepertimu!”

Kris mengernyitkan alisnya sejenak, mencoba mencerna ucapan Minhee.  “kau tahu ‘definisi’ serigala sesungguhnya?” tanyanya pada akhirnya.

“Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu!” sahut Minhee ketus. Dia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari deretan loker dengan langkah cepat, seolah tidak ingin Kris menahan tangannya lagi.

“Choi Minhee!“ Kris berteriak saat Minhee berlalu pergi, membentuk corong di mulutnya dengan kedua tangan.

“Kau tahu? Serigala adalah makhluk setia. Mereka hanya menyukai seseorang dalam satu waktu, dan bukan seorang Playboy!”

Tapi percuma, gadis itu sudah menghilang di balik tikungan lorong tanpa menghiraukan teriakannya. Kris mendesah, dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Pemuda itu lalu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, mengeluarkan satu tangannya dari dalam saku untuk mengacak rambut pirangnya, kemudian berbalik pergi menuju kelas sambil bersiul-siul.

Seorang siswa bertubuh tinggi menghampiri siswa berambut pirang yang berjalan memasuki kelas. “Kris!” sapanya sambil memamerkan deretan giginya yang berjajar rapi.

“Hai, Park Chanyeol.” Kris tersenyum tipis dan berjalan menghampiri bangkunya. Setelah mendudukkan tubuhnya dengan nyaman, Kris memangku wajahnya dengan kedua tangannya di atas meja. Tatapannya menerawang pada papan tulis di depan kelas.

“Kau kemana saja?” Chanyeol mengekornya dan ikut duduk di sebelah Kris. “Tadi pagi saat aku tiba di kelas yang terlihat hanya tas hitammu, tapi aku tak melihatmu.” dia menunjuk tas hitam milik Kris yang tergeletak di atas meja. Kris tidak menjawab. Di pikirannya masih terngiang-ngiang wajah dingin Minhee yang ditemuinya di loker tadi pagi.

Menyadari sesuatu, Chanyeol menyeringai dan menyodok pinggang Kris. “Aaah… aku tahu! kau pasti bertemu dengannya lagi kan? gadis jahat itu?” tanyanya penuh selidik.

“Dia tidak jahat,” ralat Kris, “Hanya mukanya saja yang dingin dan gaya bicaranya yang judes.”

Chanyeol menggeret kursinya mendekati kursi Kris dan mulai berceloteh, menumpahkan seluruh isi kepalanya.  “Kau menyukainya sejak kalian satu bus saat darmawisata bulan lalu kan? Apa yang kau sukai darinya, Kris? kupikir dia tidak terlalu cantik.” Chanyeol berusaha mengingat wajah Minhee. “Yah, mungkin… agak manis…” katanya pada akhirnya.

“Oh…ayolah, Kris. Apa yang membuatmu menyukainya?” tanyanya lagi.

Kris menyeringai mendengar pertanyaan Chanyeol yang seolah tidak pernah membuatnya bosan, padahal sudah berpuluh-puluh kali dilontarkan untuknya.

“Dia… menarik,”

dan seberti biasa, jawaban itulah yang selalu diberikan oleh Kris.

Chanyeol mendecak. Aiiissshh… lagi-lagi jawaban itu yang diberikan oleh Kris untuk mendeskripsikan gadis yang menarik hatinya.

“Minggir, Park Chanyeol!” tiba-tiba sebuah tas sekolah bermerk Gucci mendarat di bangku yang diduduki Chanyeol. Siswa bermata tajam yang melempar tas itu menatap Chanyeol dengan tatapan deathglare-nya. “YA! Sudah berapa kali kuperingatkan, jangan duduk di bangkuku!” dia menarik lengan Chanyeol, menyuruhnya berdiri secara paksa.

“Tao!!” Chanyeol merengut saat lengannya ditarik paksa oleh orang itu. Dia mengentakkan tangannya dan membuat pegangan Tao melepas. “Aiisshh… aku kan hanya ingin mengorek informasi dari Kris, kau menggangguku saja!”

“Dasar tukang gosip…!” cibir Tao.

“Makelar Gucci!” Chanyeol tak mau kalah.

“Tiang listik!”

“Tongkat pel!”

dan hinaan Chanyeol yang terakhir itu sukses membuat darah Tao naik ke ubun-ubun. Dia memang tidak suka ada orang yang menghina tongkat Wushu kesayangannya. Apalagi dengan sebutan ‘tongkat pel’. Kalau saja Tao membawa tongkatnya hari itu, dia pasti sudah menjejalkannya ke lubang hidung Chanyeol. Ah, ani. Nanti tongkatnya kotor.

“Ada apa ini ribut-ribut?!” seorang siswa yang baru saja memasuki kelas langsung menghampiri sumber keributan yang di dengarnya dari lorong depan kelas.

“Baekhyun!” Chanyeol melambaikan tangannya sebentar ke arah siswa itu, kemudian kembali bertatapan tajam dengan Tao. Baekhyun  menggeleng-gelengkan kepalanya maklum saat mengetahui biang keributan adalah Chanyeol dan Tao, karena melihat mereka bertengkar sudah menjadi makanannya sehari-hari.

“Baekhyun, urus pacarmu ini!” Tao melirik Baekhyun sambil menuding Chanyeol dengan telunjuknya. “Dia selalu saja menduduki bangkuku!”

Chanyeol mendelik mendengar perkataan Tao yang seenaknya menyebutnya pacar Baekhyun. Memangnya dia homo?! tapi sebelum dia sempat melayangkan bogemnya ke arah Tao, Baekhyun sudah mendorong pundaknya dan menggiringnya menuju bangkunya terlebih dahulu.

“Duduk!” perintah Baekhyun. Mau tidak mau Chanyeol menurutinya dan duduk di kursi dengan mulut cemberut. Chanyeol memang tidak berkutik bila Baekhyun atau Duizhang sudah memarahinya.

“Aigooo… kenapa kau sangat kekanakan!” Baekhyun mengomeli Chanyeol, setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke Tao yang mulai duduk di sebelah Kris dengan alis mengerut.

“Kau juga, Tao! kalian ini sudah kelas tiga, apa kalian tidak malu? bagaimana jika ada adik kelas yang melihat kalian?”

“Akan kubunuh adik kelas yang melihat kita!” sahut Tao asal.

Kris yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri berusaha menahan tawanya saat melihat muka Tao yang sedang sebal.  Kobaran api terlihat jelas di kedua mata Tao.

“Ah, sudahlah!” Baekhyun mengibaskan tangannya ke arah Tao tidak peduli. “By the way, mana Sehun dan Luhan? biasanya mereka berdua datang paling pagi.”

Chanyeol menggeleng. “Luhan bilang dia mengantar eommanya ke pasar dulu sebelum berangkat, dan otomatis Sehun yang biasanya menumpang mobilnya itu pasti ikut ke pasar.”

Tao menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, memain-mainkan pensil mekanik di tangannya seolah itu adalah tongkat Wushu-nya.

“Dia menurut sekali dengan eommanya,” komentarnya.  “Siapa yang menyangka,  juara Knife Throwing nasional, menemani eommanya belanja di pasar?” dia terkekeh. Knife Throwing adalah olahraga lempar pisau yang baru-baru ini populer di daerah mereka.

Kris mengangkat bahu, “Ya memang begitulah Xi Luhan. Memangnya kau, Huang Zi Tao?”

Tao meringis mendengar sindiran duizhang-nya. Dia memang anak yang bandel dan senang sekali membuat eommanya marah-marah, tidak seperti Luhan yang kalem.

Tepat saat bel masuk berdering, Luhan dan Sehun, dua orang yang tidak pernah terpisahkan sejak tahun pertama mereka bersekolah memasuki kelas. Mungkin karena apartement mereka bersebelahan,  membuat hubungan mereka sangat dekat sampai sekarang.

“HunHan datang!” seru Chanyeol. Dia berjalan menghampiri mereka berdua yang sudah duduk di bangku masing-masing dengan wajah bersinar-sinar. Beberapa saat kemudian Chanyeol sudah terlibat pembicaraan seru dengan Luhan.

“Dasar anak itu… kenapa dia suka sekali bicara ya…” Baekhyun menggaruk-garuk tengkuknya saat melihat Chanyeol yang tidak bisa  menghentikan gerakan mulutnya barang sedetik pun.

“Namanya juga biang gosip,” timbrung Tao.

DUIZHANG!!” teriak seorang siswa yang tiba-tiba memasuki kelas mereka dengan langkah terburu-buru.  Butir-butir keringat terlihat menetes di dahi dan lehernya. Dadanya naik turun dengan cepat seperti orang sesak nafas. Dia memandangi keenam anggota “The Wolves” yang merupakan sunbae nya itu dengan panik.

“The Wolves”,  adalah sebutan yang diberikan oleh seisi sekolah kepada keenam namja paling tampan dan paling kuat di sekolah mereka. Awalnya Kris merasa aneh dengan sebutan itu yang ditujukan untuknya, Tao, Chanyeol, Baekhyun, Luhan dan Sehun. Namun akhirnya dia membiarkan saja hal itu karena tidak terlalu mengganggunya.

“Duizhang, sekolah kita…” kata siswa itu sambil terengah-engah.

Seluruh siswa di dalam kelas yang juga heran karena kedatangan siswa asing itu menghentikan aktivitas mereka, dan menatapnya penasaran.

“Waeyo?”

Bukan Kris atau anggota lainnya yang menyahut, tapi Luhan. Luhan memang memiliki sifat yang paling baik dan pengertian dari keenam namja itu. Dia menghampiri siswa itu yang sedang mengatur nafasnya sambil berpegangan di ambang pintu.

“Lu… Luhan sunbae…” kata siswa itu dengan tenggorokan tercekat. “Sekolah kita… sekolah kita diserang…”

Keempat namja tampan di dalam kelas yang awalnya tidak peduli, langsung menoleh cepat ke arah siswa itu. Hanya Kris yang tidak menunjukkan respon apapun, dia masih duduk di kursinya dengan tangan terlipat di depan dada.

“Diserang…?” desis Tao, seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Sekolah mana lagi yang berani menyerang sekolah mereka? Seingatnya dia dan anggota The Wolves lainnya sudah berhasil menaklukkan semua sekolah yang menantang dan menyerang mereka.

“Siapa…?” sekarang Baekhyun yang ganti bertanya. Dia melirik Chanyeol, namun Chanyeol yang duduk di sebelahnya hanya mengangkat bahu. Chanyeol menoleh ke arah Kris, duizhang mereka, dan menatapnya penasaran seolah meminta penjelasan. Seisi kelas langsung mengikuti tatapan Chanyeol yang mengarah pada Kris, dengan pertanyaan yang menari-nari di benak mereka.

Kris mendesah.

“Kalau dia sepanik itu…” Kris melirik siswa di ambang pintu itu sekilas, kemudian tatapannya berpindah ke masing-masing temannya. “…jawabannya  sudah jelas. Yang menyerang pasti musuh bebuyutan kita.”

Derap langkah terdengar di lorong sekolah. Beberapa guru menggeleng-gelengkan kepala saat berpapasan dengan keenam siswa pembuat onar itu. Padahal pelajaran sudah mulai berlangsung tapi keenam siswa itu malah berkeliaran di lorong sekolah. Dan yang membuat tambah parah, atribut seragam mereka tidak sesuai aturan sekolah. Namun guru-guru tidak bisa berbuat apa-apa, karena ayah Kris adalah ketua komite di XO-M High, penyumbang terbesar sekolah itu. Begitu pula dengan kelima siswa biang onar yang selalu bersamanya. Mereka rata-rata adalah anak direktur dan pejabat di daerah mereka.

Keenam namja itu berlalu keluar gedung sekolah, menyusuri lapangan voli dan menuju halaman depan yang dipenuhi rumput dan pot bunga di pinggir sepanjang jalan paving yang mereka lewati. Mereka terus berjalan hingga langkah mereka berhenti di depan gerbang sekolah yang berukuran besar dan terbuat dari jeruji-jeruji besi berwarna hitam. Kris mendekati gerbang itu, merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci untuk membuka gemboknya.

Shindong ajusshi, satpam sekolah yang setiap harinya berjaga di sebuah pos di sebelah gerbang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan membiarkan keenam namja itu berhamburan keluar gerbang. Dia tidak ingin terlibat masalah dengan geng berandalan itu, bisa-bisa dia pulang dengan tubuh babak belur.

Shindong kembali membaca korannya dengan santai sambil menyeruput kopinya pelan-pelan.

“Sial… kenapa harus sekarang? aku tidak membawa nangun-ku!” desis Tao sambil menjajari langkah Kris yang berjalan paling depan. Dia menyesal meninggalkan tongkat Wushu kesayangannya kamar. Tadi pagi Tao terlalu terburu-buru hingga melupakan tongkatnya itu karena takut terlambat.

Kris menepuk pundak Tao sambil terus berjalan. “Tidak apa-apa, kau masih bisa berkelahi tanpa tongkat.”

Ucapan Kris itu membuat Tao mengangguk. Tapi tetap saja, rasanya aneh sekali saat berkelahi tanpa tongkatnya.

Di belakang mereka, Luhan yang berjalan berdampingan dengan Sehun merogoh-rogoh saku seragamnya yang ukurannya sengaja dibuat lebih besar dari saku celana normal.

“Kau bawa ‘kan?” tanya Sehun pada Luhan yang masih menggerayangi kedua sakunya.

Luhan menggeleng lemah. Dia lalu mengeluarkan satu-satunya benda yang tersimpan di sakunya, sebuah cutter kecil yang sudah mulai berkarat.

“Oh, yang benar saja.” Sehun memutar matanya. “disaat seperti ini kau malah membawa benda tidak berguna seperti itu. Cutter tumpul itu bahkan tidak bisa meraut pensilku dengan benar!” dia meninju bahu Luhan pelan.

Luhan tertawa.

“Kau sendiri?” tanyanya.

Sehun menyeringai. “Aku sudah siap dengan alatku sendiri,” dia merogoh saku celananya, memastikan barang kesayangannya berada di dalam saku.

“Aku tidak perlu membawa apapun.” sahut Chanyeol di belakang mereka. “Membawa kakiku saja sudah cukup.”

Baekhyun yang berjalan di sebelahnya menyodok pinggang Chanyeol gemas. “Tentu saja, atlet taekwondo sepertimu tidak perlu membawa apapun selain kakimu yang besar itu!”

Chanyeol terkekeh.

Keenam namja itu terus berjalan menyusuri trotoar dengan formasi dua-dua. Mereka mulai berceloteh dan membicarakan sekolah mereka yang baru saja diserang oleh sekolah lain. Hanya Kris yang tetap diam, sepertinya dia disibukkan oleh pikirannya sendiri. Mata Hazelnut nya menatap sebuah rumah kosong di kejauhan yang merupakan tujuan mereka. Tao yang tidak suka dengan keheningan mencolek-colek pinggang Kris dan berusaha mengajaknya bicara.

Duizhang, kenapa mereka tidak menghadapi kita di sekolah saja? kenapa pula kita harus menemui mereka di rumah kosong itu?” Tao menggerutu karena jarak sekolah dengan rumah kosong yang sekarang mereka tuju lumayan jauh jika ditempuh dengan kaki. Tahu begini dia menghampiri mobilnya dulu di parkiran. Namun karena mereka terlalu tergesa-gesa, tidak ada satupun yang memikirkan hal itu dan mereka terlanjur berjalan kaki.

Kris menggeleng, tidak mengerti apa yang harus dikatakannya untuk menjawab pertanyaan Tao. Tiba-tiba Kris teringat kata-kata hoobae-nya saat di kelas tadi, saat Kris menghampirinya di ambang pintu.

“Siapa…?” tanya Kris pada hoobae-nya yang berdiri di hadapannya. Siswa itu menggeleng. Dia hanya menyodorkan secarik kertas pada Kris.

“Aku tidak tahu, Duizhang. Tadi pagi mereka melemparkan petasan dan sebuah pisau di halaman belakang sekolah, kupikir mereka akan menyerang sekolah kita, tapi saat aku dan teman-temanku keluar untuk mengecek jalan belakang sekolah dengan memanjat tembok belakang, kami tidak menemukan siapapun di luar sekolah kita. Yang kami temukan hanyalah kertas ini yang teronggok di atas trotoar.”

Kris menatap lipatan kertas itu dan membukanya.

To: Kris Bastard

Hey, lama tidak bertemu, Kris. Aku  hampir melupakan wajahmu, tapi aku tak akan pernah melupakan dendamku padamu. Kau yang dulu menorehkan luka di lengan kiriku dan bekasnya tidak pernah hilang sampai sekarang. Selama luka ini belum sembuh, selama itu pulalah aku akan terus menyimpan dendamku, bahkan mungkin selamanya.

PS: Temui aku di rumah kosong putih dekat sekolah ini. Bawa teman-temanmu dan kita akan membicarakan sesuatu yang asyik. Kalau tidak datang, sesuatu yang buruk akan menimpamu.

from: XO-K Jjang

Kris mengernyit saat membaca itu. Dia mengecek nama pengirim berkali-kali. XO-K Jjang… XO-K Jjang… tidak salah lagi… dia adalah Kim Joonmyun alias Suho. Suho adalah seorang Jjang di XO-K High. ‘Jjang’, adalah sebutan untuk ketua gang di sekolah-sekolah korea, hampir sama seperti Duizhang. Berhubung Kris berdarah China, seisi sekolah memutuskan untuk memanggilnya Duizhang, bukan Jjang.

Kris meremas kertas yang dipegangnya dan membuangnya ke lantai. Dia menoleh ke arah kelima temannya dan mengangguk, kemudian berjalan keluar kelas diikuti kelima temannya.

Kris, Tao, Luhan, Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun tiba di depan sebuah rumah kosong putih bergaya eropa yang berdiri megah, namun tidak terawat. Halamannya dipenuhi ilalang-ilalang setinggi lutut yang tumbuh liar kemana-mana, bahkan ilalang-ilalang tinggi itu juga merambat dan tumbuh di antara celah-celah retakan lantai teras yang sudah retak disana-sini.

Kris meregangkan tangannya sejenak, dan berjalan memasuki ambang pintu rumah yang kini sudah tidak berpintu, hanya menyisakan engsel yang menempel di kusennya. Kelima temannya mengikutinya di belakang. Kini keenam pria tampan itu berjalan menyusuri bagian dalam rumah yang sangat besar. Sesekali mereka harus merundukkan badan karena burung-burung walet yang mendiami rumah itu beterbangan ke arah mereka, mungkin merasa terusik.

“Hooo… kalian datang juga…”

Sebuah suara menyapa mereka ketika mereka berenam sudah tiba di ruang tengah. Di depan mereka, terlihat seorang siswa yang masih mengenakan seragam sekolah, duduk di sebuah kursi kayu reot di tengah-tengah ruangan. Penampilannya acak-acakan dan seragamnya tampak lecek disana-sini.

“Suho…” Kris menggeram saat melihat siswa itu.

Suho bangkit dari kursi kayunya dan berjalan menghampiri Kris. Tao, Chanyeol, Luhan, Sehun dan Baekhyun memasang kuda-kuda mereka dan menatap Suho waspada saat jarak antara Suho dengan Duizhang mereka semakin mengecil.

Suho mendecak melihat kelakuan kelima orang itu. “Santai saja, aku tak akan melakukan apa-apa pada kalian.” setelah itu dia menjentikkan jarinya, lalu kelima orang yang mengenakan seragam yang sama seperti yang dipakainya turun dari lantai atas,  berdiri menjajarinya sambil membawa sebatang kayu di masing-masing tangan mereka.

“Tidak melakukan apa-apa?” Kris mencibir sambil melirik batang kayu yang dibawa oleh anak buah Suho. “Lalu untuk apa itu?”

“Hanya untuk berjaga-jaga jika kalian melakukan hal yang tidak diinginkan.” Suho menyeringai.

Sehun yang paling mudah tersulut emosinya langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sepasang sapu tangan  kulit berwarna biru dan memasangnya di kedua tangannya. Seorang anak buah Suho yang berdiri berhadapan dengan Sehun maju ke arahnya sambil memutar-mutar batang kayu yang dipegangnya

“Wah wah… lihat siapa yang di hadapanku ini… Oh Sehun, Boxing king Seoul tingkat junior,” katanya dengan nada mengejek saat Sehun mulai memasang kuda-kuda seperti petinju profesional yang sering dilihatnya di acara-acara televisi. Sehun menatapnya tajam dan mengeratkan kepalan tangannya.

“Yang benar, Kai?” sahut seseorang yang berdiri di sebelah pemuda itu. “Hmm… jadi dia adalah Oh Sehun… lalu, siapa orang yang berdiri dihadapanku ini?” dia menunjuk Baekhyun yang berdiri di hadapannya dengan dagunya.

Baekhyun tidak menggubris celotehan orang itu. Pemuda itu malah mengeluarkan headset dan memasangnya di kedua telinganya. Headset itu  tersambung dengan iPod di saku baju Baekhyun.

“Huh, kenapa dia malah memasang headset di kupingnya? dia meremehkanku?” pemuda itu berjalan mendekati Baekhyun dan mengangkat batang kayunya, namun sebuah tangan menahannya. “Apa yang kau lakukan, D.O? lepaskan!” dia mengentakkan tangannya, berusaha melepaskan tangan orang yang menahannya.

“Jangan bertindak gegabah, XiuMin. Dia adalah Byun Baekhyun, atlet capoeira yang pernah memenangkan kompetisi di Brazil. Dia memakai iPod bukan berarti meremehkanmu, karena capoeira adalah bela diri yang mengandalkan musik,” D.O. semakin mengeratkan pegangannya di tangan XiuMin. Pemuda bernama XiuMin itu mendengus dan menurut saat D.O. menarik tubuhnya mundur.

“D.O, sepertinya kau tahu banyak, bisakah kau jelaskan kepada kami siapa saja mereka?” Chen yang berdiri di sebelah D.O. tidak tahan untuk tidak bertanya. Apalagi sekarang dia berdiri di hadapan Tao yang wajahnya terlihat misterius.

“Yang berada di depan Kai tadi adalah Sehun, dia menyandang gelar King Boxing karena sering memenangkan pertandingan tinju tingkat junior. Di depan XiuMin adalah Byun Baekhyun, atlet capoiera. Di sebelahnya, persis di depanku, adalah Xi Luhan, pelempar pisau profesional. Lalu di depan Lay ada Park Chanyeol, seorang atlet Taekwondo. Dan… yang sekarang berada di depanmu adalah Tao, Chen. Atlet Wushu yang tidak pernah lepas dari tongkatnya…” jelas D.O. panjang lebar. Chen memanggut-manggut.

D.O. lalu melirik Kris yang berdiri di hadapan Suho.  “Itu yang paling berbahaya. Dia adalah duizhang mereka, jago kung fu dan karate.”

“Aku jadi ingin menghabisi mereka disini,” Kai terdengar bersemangat. Dia menatap lurus ke arah Sehun yang masih melindungi wajahnya dengan kedua tangannya yang mengepal, pose khas petinju saat dirinya merasa terancam.  Kai mendecak. “Lihat saja… wajah sombongmu itu akan kulukai, Oh Sehun!” katanya dengan seringai  mengerikan yang terpampang di wajahnya.

“Sudah cukup,” Suho memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menurunkan senjata mereka. “Kita kesini bukan untuk berkelahi, tapi untuk bernegosiasi.”

“Bernegosiasi?” Kris menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak akan pernah bernegosiasi denganmu, Kim Joonmyun. Kau seorang Jjang yang licik.”

Suho terkekeh. “Oh, mau tidak mau, kau harus setuju dengan negosiasi yang kubuat.” dia berjalan maju, hingga dadanya berbenturan dengan dada Kris yang lebih tinggi beberapa senti darinya. Suho mendekatkan mulutnya di telinga Kris.

“Karena jika tidak, kau akan kehilangan Choi Minhee…” bisiknya persis di telinga pemuda pirang itu.

Kris membelalak saat mendengarnya. Dia mendorong tubuh Suho dengan emosi. “Bagaimana kau bisa tahu gadis itu?!” bentak Kris. “Kalau kau berani menyentuhnya, aku akan membunuhmu, Kim Joonmyun!!”

“Aku tidak akan melakukan apapun padanya, jika kau menyetujui permintaanku…” kata Suho senang, seringai kemenangan terpasang di wajahnya. Begitu juga dengan Kai, XiuMin, D.O., Chen, dan Lay yang berdiri di belakangnya.

Duizhang…” Luhan menepuk bahu Kris dari belakang dan menatapnya prihatin, seolah mengerti kegalauan yang dirasakan oleh ketuanya itu.

Kris menoleh dan menatap Luhan. Kemudian tatapanya beralih ke seluruh temannya yang kini berdiri di belakangnya. Kris menatap mereka dalam-dalam seolah meminta persetujuan. Kelima temannya itu lalu mengangguk pelan.

Kris memutar kepalanya dan menatap Suho dengan tajam. “Oke, aku akan mendengarkan permintaanmu. Sekarang cepat katakan!”

Suho menyeringai mendengar jawaban Kris. Dia lalu menarik kursi kayu yang didudukinya tadi lalu duduk kembali di atasnya sambil menyilangkan satu kakinya di atas kaki lainnya. “Permintaanku sangat sederhana, Kris. Kau dan kelima temanmu itu, harus menghadiri sebuah pesta yang diselenggarakan oleh ayahku. Tempatnya di sebuah pulau yang masih berada di Korea.”

“Pesta?” Kris mengernyit mendengarnya, karena permintaan Suho tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Dia menatap Suho curiga. “Apa… yang membuatmu berpikir untuk mengajak kami?”

Suho membetulkan poninya yang jatuh menutupi matanya. “Memangnya salah mengajakmu ke sebuah pesta? Jjang dari sekolah lain juga kuajak kesana, karena pulau itu sangat indah. Ayahku juga pasti senang melihat banyak laki-laki kuat yang berkumpul disana,”

“Pulau apa?” sahut Chanyeol tiba-tiba, yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.

“Jukdo. Pulau Jukdo.” jawab Suho. Baekhyun membelalak. Setahu dia Jukdo adalah pulau karang yang terpencil, dan jarang sekali di datangi oleh orang. Apa maksud Suho mengajak mereka mengikuti pesta di tempat itu?”

“Kris… pulau itu…” Baekhyun membuka suaranya, namun Kris mengacungkan telapak tangannya ke arahnya, menyuruhnya diam. “Aku tahu, Baekhyun. Tapi tidak ada salahnya kita pergi ke pulau itu. Tidak akan terjadi apa-apa.” katanya berusaha meyakinkan Baekhyun, tapi dia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya. Yang terpikir di benaknya kini hanyalah mengikuti seluruh permintaan Suho sehingga Minhee tidak dicelakai olehnya.

“Kris benar, tidak akan terjadi apa-apa. Apalagi yang mengundang kalian adalah ayahku, seorang ilmuan genetik yang terkenal di kota ini.” Suho bangkit berdiri dan merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kertas berwarna coklat dengan pita yang menghiasi sudutnya. Dia mengulurkan kertas itu pada Kris. “Ini undangannya.”

Kris menerima kertas itu dan langsung memasukkannya ke sakunya. Dia lalu menatap Suho tajam. “Hanya itu?” tanyanya menyelidik.

Seolah teringat sesuatu, Suho menjentikkan jarinya. “Ah ya! dan kau harus membawa gadis bernama Minhee itu bersamamu.”

ucapan Suho itu membuat Kris mendelik. “Untuk apa?!”

“Kau tidak ingin mengajak gadis yang kausukai?  menurut pengetahuanku kau selalu berusaha mengajaknya keluar, tapi dia tidak mau.”

Kris menganga tidak percaya karena Suho tahu banyak tentang dirinya. Sial, siapa yang berani membocorkan hal memalukan ini pada musuhnya sendiri?

Suho melanjutkan bicaranya. “Kau harus bisa mengajaknya ke pesta itu, Kris. Kalau tidak gadis itu tidak akan selamat.” dia mengatakan hal itu dengan perasaan puas, karena membicarakan keselamatan Minhee di depan Kris cukup membuat musuhnya yang terkenal dingin itu terguncang.

“YA! kenapa kau seenaknya mengatur Kris! memangnya kau siapa?!” Sehun berteriak marah dengan bogem yang terkepal ke arah Suho. Xiumin mendecak dan melempar tongkat kayunya ke arah Sehun, namun Sehun berhasil menghindarinya. “Diam kau, jangan menginterupsi saat Suho sedang bicara!” bentaknya sambil menatap Sehun tajam.

“Baiklah, kita bertemu minggu depan, dan kau harus berhasil membujuk gadis itu untuk ikut bersamamu.” Suho menepuk pundak Kris dan tersenyum licik. “Ayo teman-teman, kita pergi!” dia melambaikan tangannya ke arah lima temannya, dan menyuruh mereka keluar dari bangunan kosong itu. Suho, Kai, Xiumin, Lay, D.O. dan Chen berjalan melewati Kris dan teman-temannya dengan seringai puas yang terpampang di wajah mereka. Di tengah jalan, Kai sengaja menyenggol bahu Sehun dan membuat Sehun emosi.

Sepeninggal siswa XO-K, Kris menundukkan kepalanya dan mengeratkan kedua tangannya yang mengepal. Tangannya sampai gemetaran karena dia melampiaskan emosinya pada kepalan tangan itu. “Mianhae…” kata Kris dengan kepala yang masih menunduk. Kelima temannya berjalan menghampirinya dan bergantian menepuk pundaknya. “Mianhae… karena aku mencampur urusan hatiku dengan urusan ini, membuat kalian terlibat. Seharusnya jika aku menolak, kalian tidak harus pergi ke pesta itu. Jeongmal mianhae…” kata Kris dengan penuh penyesalan.

“Hei, bukannya tugas kita sebagai The Wolves  adalah melindungi sekolah kita? dan otomatis semua siswa yang bersekolah di XO-M berada di bawah perlindungan kita,” Luhan menghibur duizhang itu. Chanyeol menganggukkan kepalanya. “Benar apa kata Luhan, Kris. Selama ini kita berkelahi untuk melindungi teman-teman kita dari gangguan sekolah lain, kan? sekarang giliran kita untuk melindungi si Choi Minhee itu…” katanya diikuti anggukan keempat temannya yang lain.

“Xie xie…” Kris mengatakan terimakasih dalam bahasa China. Kelima temannya mengangguk, dan setelah berbincang-bincang sejenak mereka berlalu pergi dari rumah kosong itu.

Suho menghempaskan dirinya di atas sofa empuk di ruang tamu rumahnya sepulang sekolah. Dia meraih remote televisi dan menyalakan televisi layar lebar di depannya. Setelah mengganti-ganti channel sejenak, dia mematikan televisi itu dan melempar remotenya ke lantai karena tidak ada acara yang bagus. Suho mendengus.

“Bagaimana, Suho?”

Suho melonjak saat sebuah suara memanggilnya dari belakang. Dia menoleh, dan mendapati appa nya berdiri di belakangnya,  mengenakan jas putih dengan tangan kanan yang memegang buku berjudul ‘Genetic Evolution’.

“Nde, aku sudah menemukan enam namja yang kau butuhkan,” Suho menyeringai senang pada appanya. “Dan sesuai permintaanmu, keenam namja itu memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan,”

Appa Suho tersenyum. Dia menepuk-nepuk kepala anaknya. “Baiklah, Kim Joonmyun. Sekarang kau meminta apa sebagai gantinya?”

Suho merebut buku yang dipegang appa-nya dan membolak-balik halamannya. Dia menunjuk sebuah halaman dengan foto hewan di tengah-tengahnya. “Suntikkan gen hewan yang sudah kau sempurnakan ini ke dalam tubuhku dan teman-temanku, karena dengan itu kami bisa menjadi siswa terkuat di seluruh Seoul!”

Appa Suho tertawa mendengar permintaan anaknya kekanakan. Entah kenapa tawanya terasa begitu mengerikan. Lelaki itu lalu mengangguk dan mengambil kembali bukunya. “Oke, appa akan turuti permintaanmu. Tapi hanya setelah kau membawa keenam anak itu ke pulauku dengan selamat. Setelah itu, kau dan temanmu baru boleh menjalani eksperimen itu.”

Bapak dan anak itu pun tertawa puas, setelah itu mereka berjalan ke ruang makan dan duduk di meja makan berukuran besar untuk makan siang bersama.

______________

To Be Continued

______________

Note:

Karate & Kung Fu : pasti udah tau semua kan? haha…

Taekwondo: bela diri asal Korea yang menitik beratkan pemakaian kaki, jadi nendang-nendang kyk orang autis gitu. kalo karate kan pake tangan ato kaki oke-oke aja.

Wushu: beladiri China yang rada2 memper sama kung fu, bisa pake tangan kosong tp bisa juga pake senjata (kea pedang ato tongkatnya tao)

Boxing: olahraga tinju, kea chris john itu loh, hahaha…

Capoeira: seni bela diri brazil yang gerakannya kayak tarian, menitik beratkan pada tendangan kea Taekwondo. cuma bedanya disini capoeira itu diiringi musik. haha… kayak orang dugem aja yah.

Throwing Knife: olahraga yg belum begitu populer sih. lempar2 piso , kyk lempar lembing. tapi butuh ketepatan saat mbidik kea orang lagi manah. biasanya yang dilempar pisau ‘dagger’.

udah segitu doang. kalo masih penasaran cari aja di gugel, saya capek. fufufufu…

apa-apaan nih… *nangis darah* mian ya, ini cuma FF iseng yg saya buat setelah dengerin lagu wolf-exo, jadi mohon maklum kalo ceritanya gaje bin aneh hahaha… mana wolf nya juga belum keluar 😆 remang-remang abis

dan sejak kapan jd hobi ngepost tengah malem gini, hahaha… untung bukan FF horor yg di post yah

jgn protes soal nama sekolahnya ya. soalnya XO-K sama XO-M itu satu2nya kata yg kelintas di benak saya waktu membagi 12 member exo ke sekolah yang berbeda. ga ada hubungannya sama sub group mereka di real. kalian pasti mikir member EXO-M harusnya di masukin ke sekolah XO-M, dan EXO-K di XO-K high. Sekali lagi, ini cuma random. Mana membernya campur2 gitu yah, hahaha… *tunjuk2 sehun+baehyun+chanyeol yg digabung satu sekolahan sama member EXO-M*

sekali lagi saya gatau mau bikin kelanjutannya ato ngga, masih remang2 /plak/ nunggu responnya… tp ga janji juga XP *ditabokin kris+luhan rame2*

komen?

Advertisements

102 responses to “I Am Wolf [ Chapter 1]

  1. Kris keren disini kyaaaa^^, Suho dan appa nya sdg merencanakan sesuatu ni.. ckckck kasihan Min Hee yang gatau apa-apa tp diikut2in di masalah ini T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s