I Want a Baby – Part 8

i-want-a-baby1

Part 1| Part 2| Part 3| Part 4| Part 5| Part 6| Part 7|

Author: Ulfah_Naziah

Title: I Want a Baby

Main Cast:

·         Lee Donghae (SJ)

·         Jane Han (OC)

Support Cast:

·         Find by yourself

Genre: Drama, family, marriage life

Rating: PG-16

Disclaimer: Cerita ini ngambil plot dari film india, kalau nggak salah judulnya ‘Chori-chori, cupke-cupke’. Yang diperankan salman sama Rani. Ketahuan ya, suka film indianya. Kekeke~ Habisnya aku suka banget, nget, nget~ sama film itu, ditambah dengan imajinasi liarku.

Credit poster: Mira~Hyuga, posternya keren~~^^

Warning: Typo, cerita gaje, alur lambat, PERPINDAHAN WAKTU SANGAT CEPAT dan kekurangan yang lainnya. .—.v

A/N: Maaf~~ karena updatenya lama banget. (^.^)v Happy reading dan semoga nggak ngecewain+ngebosenin. Enjoy!

Story 8

Donghae membaringkan tubuh Seorim di atas ranjangnya, menyelimutinya. Ia lalu berjalan mengambil kotak P3K di sudut kamarnya, meneteskan alkohol ke atas kapas dan kemudian dengan perlahan mulai mengobati sudut bibir Seorim yang berdarah.

“Apa pria brengsek tadi adalah orang yang sama ketika memaksamu di bar waktu itu?” Tanya Donghae disela kegiatannya mengobati Seorim. Wanita itu mengangguk dan sesekali meringis ketika Donghae tidak sengaja menekan kapas di pusat rasa nyerinya.

“Apa kandunganmu tidak apa-apa?” Donghae kembali bertanya dengan hati-hati, dan lagi-lagi hanya anggukanlah yang ditunjukan oleh Seorim.

“Syukurlah.” Desah Donghae, tidak bisa menyembunyikan rasa leganya. Pria itu kemudian kembali melanjutkan mengobati luka Seorim, kali ini pada lengan wanita itu yang terlihat memar akibat cengkraman kuat pria brengsek itu.

Seorim menatap pria dihadapannya, ia merasa sangat tersentuh dengan perhatian yang diberikan Donghae padanya. Ia tidak menduga Donghae akan terlihat semarah itu tadi, hanya karena ingin melindunginya atau melindungi kandungannya?

Tanpa ia sendiri sadari, ia menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman lembut menatap pria itu.

“Nah selesai, sebaiknya kau istirahat.” Ujar Donghae, menyimpan kembali peralatan P3K-nya, bangkit berdiri, membetulkan selimut yang menyelimuti tubuh Seorim dan kemudian mengelus rambut wanita itu pelan. Setelahnya beranjak keluar dari kamarnya.

Sepeninggalan Donghae, Seorim tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum dan berkali-kali memegangi tempat dimana jantungnya berada.

.

Donghae berjalan menuruni tangga, tersenyum begitu mendapati istrinya tengah membereskan serpihan kaca dari vas bunga yang tadi pecah. Dengan langkah ringan pria itu berjalan menghampiri Jane, memeluk tubuhnya dan mencium bibir wanita itu sekilas yang hanya dibalas dengan reaksi diam Jane.

“Ada apa?” Tanya Donghae, tidak biasanya Jane akan bereaksi tak acuh ketika dirinya mulai melakukan skinship.

“Jawab pertanyaanku dengan jujur Hae.” Ucap Jane serius, melepaskan tangan Donghae dari pinggangnya dan melangkah mundur kebelakang sehingga sekarang tercipta jarak diantara mereka.

“Tentang?” Sahut Donghae, ketika ia maju selangkah untuk kembali mendekati istrinya. Jane memundurkan langkahnya, membuat Donghae menaikan sebelah alisnya, dan kembali mencoba maju selangkah tapi lagi-lagi Jane memundurkan langkahnya seolah benar-benar ingin menciptakan jarak diantara mereka.

“Apa benar Seorim seorang pelacur?”

Donghae bergeming ditempatnya, menatap Jane dengan pandangan terkejut. Jadi Jane mendengarnya.

“Donghae!”

Pria itu masih terdiam membisu di tempatnya begitu ia bentakan Jane yang memanggil dirinya. Donghae mulai menggerakan kedua bola matanya untuk menatap istrinya, meneguk ludah sekali dan mulai memberanikan diri untuk meraih kedua tangan Jane, menggenggamnya.

“Jane…”

“Jawab aku Lee Donghae.” Tuntut wanita itu menaikan sedikit volume suaranya. Donghae menghela napas berat, tidak ada pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya. Ia menyesal kenapa tidak dari awal ia jujur pada Jane tentang siapa sebenarnya Seorim.

“Yah, Seorim seorang pelacur.” Jawab pria itu lirih, ia bisa merasakan sedetik setelah mengatakan itu tangan Jane menegang dalam genggamannya.

“Kenapa…kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?” Jane menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Donghae meringis pelan, yah, hal itu lah yang mulai disesali Donghae sekarang.

Sedikitnya wanita itu cukup terkejut mendengar kenyataan ini, selama ini ia berpikir Seorim adalah wanita biasa dari keluarga baik-baik yang dengan sukarela membantu mereka, membantu Donghae yang notabene sahabatnya.

Tapi…

Jane menghela napas lelah, ia harus percaya pada Donghae. Tidak mungkin suaminya itu menanamkan janin di rahim Seorim kalau pria itu tidak mempercayai wanita itu. Donghae pasti mempunyai alasan kenapa ia mempercayakan Seorim untuk mengandung anaknya, terlepas dari pekerjaan yang disandangnya.

Yah, Jane harus mempercayai Donghae.

Menghela napas sekali (lagi), Jane mulai mendongakan kepalanya menatap Donghae. Mengusahakan untuk menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum.

“Gwaenchana.” Sahut Jane, mengangguk, meyakinkan Donghae juga dirinya sendiri.

“Jane…”

“Gwaenchana.” Sekali lagi Jane mengangguk, tersenyum dan menggumamkan kata ‘gwaenchana’ beberapa kali setelahnya.

Donghae membuang napas berat, berjalan maju dan langsung memeluk tubuh Jane erat. Mengusap punggung istrinya lembut, berusaha membuat wanita yang paling di cintainya itu merasa nyaman didalam pelukannya. Beberapa saat setelahnya Donghae bisa merasakan baju yang dikenakannya basah, terutama disekitar dadanya.

Hal itu mampu membuat hatinya mencelos sakit. Ia semakin mempererat pelukannya, demi hal apapun yang ada di dunia ini Donghae tidak pernah ingin membuat dan melihat orang terkasihnya itu menangis.

“Maafkan aku, sayang…”

***

Seorim menggeliat pelan dalam tidurnya, entah kenapa tidurnya semalam terasa begitu nyenyak. Perlahan ia mulai membuka kedua kelopak matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah pria itu. Donghae tengah berdiri membelakanginya, terlihat sibuk dengan kemeja dan jas kerjanya.

Tanpa sadar bibir Seorim berkedut membentuk senyuman, melihat pria itu di pagi hari seperti ini membuat hatinya tiba-tiba terasa menghangat. Seorim cepat-cepat menutup kedua matanya kembali begitu melihat gerak-gerik Donghae yang akan berbalik menatapnya. Ia hanya tidak ingin pria itu mengetahui kalau sedari tadi, ia memperhatikannya.

Seorim kembali membuka kedua matanya begitu ia mendengar suara langkah kaki dan beberapa detik kemudian terdengar suara pintu kamar tertutup, menandakan kalau Donghae sudah keluar dari kamar ini.

Tersenyum kembali, wanita itu mulai bangkit dari tidurnya dan matanya tidak sengaja tertuju pada dasi yang masih tersimpan rapi di atas meja rias.

Apa Donghae lupa memakainya?

Dengan cepat Seorim menyingkap selimutnya, berjalan mengambil dasi berwarna biru tua itu dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar yang selama beberapa bulan ini di tempatinya.

.

Donghae berjalan dengan langkah ringan menuruni tangga, tersenyum begitu kedua retina matanya menangkap sosok istrinya yang sudah berada di dapur, sudah sibuk dengan adonan kue di pagi hari seperti ini.

“Morning honey.” Sapa Donghae, mencium pipi Jane lama. Setelah puas dengan morning kiss-nya, pria itu mengusap lembut pipi Jane dan menatap penuh cinta wanita itu. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan ketika ia bisa melihat senyuman di wajah cantik Jane.

“Aku berangkat.” Pamit Donghae dan langsung diberi anggukan dari Jane sedetik setelahnya. Sebelum benar-benar pergi, Donghae menyempatkan diri untuk mencium bibir istrinya itu sekilas dan setelah itu melangkah dengan cepat keluar dari rumah mereka sebelum mendapat omelan dari istrinya.

Jane terkekeh, menggelengkan kepalanya beberapa kali dan setelahnya kembali berkutat dengan adonan kuenya.

“Jane.”

Wanita itu kembali mendongak hanya untuk mendapati Seorim sudah berada dihadapannya, memegang dasi biru yang dibelikannya sebulan lalu untuk Donghae itu sekarang sudah berada di tangan Seorim.

“Donghae lupa mengenakan dasinya.” Jelas Seorim mengulurkan dasi yang dipegangnya kehadapan Jane, menyuruh perempuan itu untuk segera memakaikan dasi itu pada suaminya. Jane menggeleng, kemudian menunjukan kedua tangannya yang sudah penuh dengan terigu.

“Kau saja, tanganku kotor.” Ujar perempuan itu, untuk sesaat Seorim terlihat ragu tapi pada akhirnya ia mengangguk dan kemudian berlari untuk mengejar Donghae.

.

“Donghae~a.” Panggil Seorim begitu melihat pria itu akan masuk kedalam mobilnya. Donghae menoleh dan menatap bingung Seorim, mengerti dengan tatapan bingung yang diperlihatkan Donghae. Seorim mengangkat tangannya untuk memperlihatkan dasi yang dibawanya dan menyuruh pria itu untuk mendekat padanya.

Seorim kemudian membantu memasangkan dasi pada kerahan kemeja Donghae, menyimpulkannya dengan rapi setelah itu menepuk jas yang dikenakan Donghae. Menandakan kalau pekerjaannya telah selesai.

“Gomawo, Seorim.” Sahut Donghae memberikan senyum tipisnya untuk wanita itu, setelahnya laki-laki itu kembali membalikan badannya dan berjalan pergi. Tapi baru beberapa langkah, Donghae tiba-tiba berhenti.

Terdiam sesaat, ia kemudian berbalik dan mulai berjalan menghampiri Seorim dan tiba-tiba mengelus rambut wanita itu pelan. Seorim tersenyum, walaupun tadi ia sempat berharap hal yang lebih, seperti Donghae mencium keningnya, mungkin. –kegiatan yang selalu Donghae lakukan pada Jane ketika wanita itu selesai membantu Donghae memasangkan dasi.

Entah kenapa ia juga ingin merasakan hal itu.

Menggeleng untuk mengenyahkan pikiran anehnya, Seorim mulai berjalan masuk kedalam rumah setelah memastikan Donghae sudah benar-benar pergi. Ia berniat untuk membantu Jane membuat kue pagi ini.

***

Empat bulan…

Ya, waktu terasa begitu cepat berlalu. Sekarang usia kandungan Seorim sudah mencapai enam bulan. Tinggal tiga bulan lagi waktu yang diperlukan sampai bayi itu lahir ke dunia.

“Hohoho~ enam bulan.” Seru Jane, bersiul pelan. Ia dan Donghae kemudian berjongkok dan mendekatkan telinga mereka ke arah perut Seorim, mendengar calon bayi mereka mungkin.

Seorim tersenyum tipis melihat mereka berdua begitu antusias dengan bayi yang ada didalam kandungannya, apalagi Jane. Selama empat bulan ini, Jane dan Donghae selalu merawatnya, menjaganya, mengingatkan dia untuk tidak lupa meminum susu ibu hamil dan hal-hal lainnya. Mereka memperlakukan Seorim dengan baik, bahkan kata baik pun seolah belum cukup untuk mendeskripsikannya.

Mereka menganggap Seorim bukan hanya sekedar orang asing, tapi mereka memperlakukan ia layaknya keluarga mereka. Dan kalau boleh jujur itu benar-benar membuat Seorim senang.

Ia merasa….dianggap.

Tid! Tid!

Mereka bertiga serentak mengalihkan pandangan mereka keluar begitu suara klakson mobil tiba-tiba terdengar di halaman rumah mereka. Saling berpandangan bingung sejenak, akhirnya Donghae memutuskan untuk berjalan mendekat ke jendela hanya untuk memastikan siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini.

Matanya tiba-tiba membulat karena terkejut, begitu mengenali mobil milik siapa yang sekarang terparkir manis di halaman rumahnya.

Mobil Donghwan.

Mendecakan lidahnya panik, Donghae berbalik hanya untuk balas menatap horror kedua wanita yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung itu.

“Wae?” Tanya Jane tidak mengerti dengan ekspresi yang diperlihatkan suaminya. Terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.

“Keluarga kita datang.” Jawab Donghae cepat.

“Mwo?” Jane menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya, ikut melongok keluar jendela hanya untuk memastikan kalau sekarang keluarganya sudah turun dari dalam mobil dan tengah berjalan kemari.

“Otteokhae?” Desah Jane panik, menggigit kuku-kuku jarinya. Tidak lucu bukan, ketika orang tuanya datang dan melihat dirinya dengan perut datarnya. Ia tidak ingin semuanya terbongkar disini, sandiwara yang selama ini coba mereka jaga.

“Ikut aku.” Donghae menarik tangan Jane menaiki tangga dan menyuruh Seorim yang dari tadi hanya bisa diam karena bingung untuk mengikutinya. Donghae membawa mereka masuk kedalam kamarnya, mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dan gerakan matanya terhenti ketika ia menemukan benda yang dicarinya sedari tadi.

“Seorim, tolong pasang bantal ini di perut Jane. Buat dia terlihat seperti mengandung. Aku akan menahan keluargaku dibawah.” Titah Donghae, memberikan bantal itu ke tangan Seorim dan setelah itu bergegas keluar untuk menemui keluarganya.

Mengatur napas pelan, Donghae mencoba mengendalikan ekspresinya. Setelah dirasa siap, pria itu kemudian memegang knop pintu dan menariknya pelan.

“Kenapa lama sekali membuka pintunya?” Omel nyonya Lee begitu pintu itu terbuka, Donghae meringis dan hanya bisa tersenyum bersalah.

“Mianhe oemma,” Jawab Donghae, melebarkan pintu rumahnya, “ayo masuk.”

Mereka bertiga –nyonya Lee, tuan Han dan Donghwan- kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah setelah sebelumnya Donghae memeluk mereka bertiga sekilas.

“Dimana putriku?” Tanya ayah mertuanya setelah pria paruh baya itu menyadari tidak adanya keberadaan Jane disisi Donghae.

Donghae mengusap tengkuknya beberapa kali, gugup, “Itu…Jane…dia…,”

“Kenapa kau tergagap seperti itu?” Tanya Donghwan menatap adiknya aneh. Tidak biasanya Donghae berbicara seperti itu.

“Tidak, siapa yang tergagap?” Kelitnya, Donghae tersentak begitu melihat ibunya akan menaiki anak tangga rumahnya. Dengan cepat pria itu segera menghalagi langkah ibunya.

“Oemma, jangan naik!” Bentak Donghae tanpa sadar, saking paniknya ia sekarang. Bahkan sampai membuat ibunya berjengit kaget.

“Ada apa sih denganmu, aku hanya ingin bertemu menantuku.” Ucap nyonya Lee, bersikeras ingin naik ke atas meskipun Donghae berusaha keras menahan langkah ibunya.

“Jangan oemma, lebih baik oemma tunggu di sofa. Oemma pasti lelah, perjalan dari Mokpo ke Seoul sangat jauh. Oemma ingin aku buatkan coffe, teh, orange juice, air putih, atau apa?” Donghae benar-benar berusaha memberikan alasan yang masuk akal agar ibunya itu tidak curiga.

“Oemma tidak lelah atau pun haus, oemma ingin bertemu Jane.” Oh, astaga betapa keras kepala sekali ibunya itu.

“Oemma~” Desah Donghae sudah mulai putus asa, kenapa Jane lama sekali?

“Memang ada apa sih di atas?” Geram ibunya jengkel. Kegeraman nyonya Lee semakin bertambah ketika melihat Donghae hanya terdiam.

“Haisshh~ biarkan oemma melihat menantuku.” Nyonya Lee sedikit mendorong tubuh anak bungsunya kesamping membuka jalan untuknya. Tapi ketika beliau akan menaikan kakinya di anak tangga kedua, suara Jane menginterupsi langkahnya.

“Oemma~!”

Donghae benar-benar menghembuskan napas lega begitu melihat Jane muncul, lengkap dengan perut buncitnya yang seperti orang yang sedang hamil sungguhan. Nyonya Lee tersenyum kemudian memeluk Jane sekilas di ikuti oleh ayahnya dan Donghwan.

“Aigoo~ Tuhan memberkatimu nak.” Seru tuan Han, membelai putri satu-satunya itu sayang.

“Kenapa kalian tidak memberitahu dulu kalau akan kesini?” membuatku benar-benar panik. Lanjut Jane dalam hati.

“Kami hanya ingin memberikan kejutan pada kalian, lagi pula kami sangat merindukanmu dan juga Donghae.” Kali ini nyonya Lee yang angkat suara.

“Lihat, kami membeli banyak hadiah untukmu.” Tambah Donghwan, mengangkat banyak paper bag di tangannya.

“Woah~ gomawo!” Pekik Jane senang, apalagi ketika ia melihat ada satu set baju bayi didalamnya. semua orang disana hanya bisa terkekeh melihat ke antusiasan Jane, membuka semua isi dari paper bag itu.

Ditengah suasana kekeluargaan itu, Seorim hanya bisa bersembunyi dibalik dinding melihat semua itu. Melihat begitu sayangnya mereka semua pada Jane. Tanpa sadar wanita itu tersenyum kecut dan mengelus perutnya yang membuncit itu lembut.

Ia tidak sadar kalau dari tadi nyonya Lee menatap dirinya, menyadari keberadaannya.

“Donghae~a, siapa perempuan itu?” Tanya nyonya Lee menginterupsi mereka semua. Secara refleks Donghae dan Jane saling menukar pandangan, meringis pelan karena melupakan tentang Seorim yang masih berada disini.

“Itu…hmm…, dia Seorim. Istri dari teman bisnisku. Temanku meminta Seorim untuk tinggal disini sementara, karena suaminya ada pekerjaan di luar negeri. Ya, begitu.” Hebat, sejak kapan seorang Lee Donghae begitu pandai dalam berbohong? Menceritakan dengan lancar, semua yang terlintas di otaknya.

Nyonya Lee terliht mengangguk sekali, sepertinya percaya dengan karangan yang di ucapkan anaknya.

“Sini nak, bergabung bersama kami.” Ajak nyonya Lee, Seorimterlihat benar-benar ragu karena beberapa kali dia melirik Donghae untuk meminta persetujuan. Dan ketika Donghae mengangguk kecil, Seorim memberanikan dirinya untuk berjalan menghampiri mereka semua.

Keluarga Donghae berjengit terkejut begitu melihat Seorim juga sama-sama tengah mengandung.

“Kau juga sedang mengandung?” Tanya perempuan paruh baya itu, Seorim mengangguk sebagai jawaban.

“Usia kandungannya sama dengan usia kandungan Jane.” Jelas Donghae. Mereka bertiga mengangguk mengerti.

“Donghwan, tolong ambil satu paper bag lagi di mobil. Sepertinya masih tersisa satu set pakaian bayi.” Titah nyonya Lee.

Donghwan mengerucutkan bibirnya kesal, walaupun usianya sudah tidak pantas lagi untuknya melakukan hal-hal seperti itu.

“Kenapa oemma menyuruhku terus, kenapa tidak Donghae saja?” Rajuk pria itu yang langsung mendapat delikan tajam dari sang adik.

“Kenapa aku? oemma menyuruhmu. Umurmu sudah tua, berhenti bertingkah childish seperti itu!” Cibir Donghae sarat dengan nada ejekan didalamnya, membuat semua orang yang ada di ruangan itu mau tak mau tertawa melihat kelakuan adik kakak itu.

Seorim menatap semua orang dengan senyuman simpul di wajahnya, terasa begitu nyaman berada di tengah-tengah keluarga mereka.

***

Seorim meringis begitu merasakan kakinya kembali terasa sakit, ia kemudian menghempaskan tubuhnya secara perlahan di sofa. Mengistirahatkan diri. Semenjak kandungannya semakin membesar, ia semakin tidak leluasa lagi untuk berjalan terlalu jauh. Membuat dirinya begitu mudah merasa lelah.

Apa semua ibu hamil pernah merasakan kakinya terasa sakit seperti dirinya?

“Seorim~a.” Panggil nyonya Lee tiba-tiba membuat Seorim menoleh dengan cepat dan berusaha untuk bangkit berdiri.

“Jangan berdiri, tetap duduk. Biar aku yang kesana.” Titah nyonya Lee, sedikit merasa cemas dengan kondisi Seorim sekarang. Perempuan paruh baya itu kemudian berjalan menghampiri wanita itu, duduk disampingnya.

Tanpa mengucapkan apa-apa sebelumnya, ibu dari Donghae itu mengangkat pelan kaki Seorim ke atas pangkuannya membuat wanita itu berjengit kaget atas perlakuan tiba-tiba beliau.

“Ahjummeonim.” Pekik Seorim terkejut, berusaha untuk menurunkan kedua kakinya dari atas pangkuan nyonya Lee tapi sepertinya harus sia-sia karena ibu mertua dari Jane itu menahannya kuat.

“Lihat kakimu bengkak seperti ini, aku hanya ingin memijatnya saja.” Sahut nyonya Lee, mulai memijat kedua kaki Seorim pelan.

Seorim hanya mampu terdiam kaku di tempatnya, menatap perempuan paruh baya dihadapannya itu dengan tatapan yang sukar untuk di jelaskan. Setelah menghabiskan beberapa waktu dengan hanya menatap beliau, Seorim mulai menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Hatinya tiba-tiba menghangat, ia seperti melihat refleksi ibunya di dalam diri nyonya Lee.

“Oemma…” Gumam Seorim tanpa sadar.

“Ya, nak?” Sahut nyonya Lee, menoleh dan tersenyum lembut menatap perempuan itu. Tanpa aba-aba sebelumnya, Seorim mendekatkan dirinya untuk mendekap tubuh hangat nyonya Lee, memeluknya erat-erat.

~To be Continue~

 

A/N: Maaf atas keterlambatan updatenya yang super lama. Chapter ini sebenarnya udah di draf dari kemarin-kemarin dan aku selalu lupa untuk publish ini. *bow*

Next part will be the last part!

 

 

Advertisements

33 responses to “I Want a Baby – Part 8

  1. OMG!! Nih cerita bikin aku penasaran dan deg-deg’an karna keluarga donghae datang ke rumah. Untung aja gak sampe ketauan 🙂 apa Seorim suka sama Donghae?? Ku harap gak deh thor 😐 publish-nya jgn lama2 ya thor karna aku penasaran bgt ama kelanjutanya 😀

  2. Seorim suka sama donghae?.__.
    Semoga donghaenya ga suka sama seorim ye hehehe
    Semoga happy ending 😀
    Nice ff eon

  3. Jjang!
    Ngebut baca ffnya, jadi komentnya d part ini aja nggak apapa ya thor 😀
    sedih ya janenya TT ngebayangin kalo jadi jane beneran..
    Next cepet ya thor~

  4. Pingback: I Want a Baby – Part 9 [End] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s