Temperament n’ Cool Boy – Chap. 6

Temperament-n-cool-boy_3

First as Fearfulness Date

Author : Yanlu/ @yanlu_arron

Genre : Romance, little bit comedy

Main Cast : Kris Wu, Lee Jinki, Samantha Lee (OC)

Other Cast : member of EXO-M, Park Euncha (OC), La Yin (OC), Kim Kibum

Length : Chaptered

Rating : PG-16

Come To You | Bad Luck | Going Party? Oh No! Broken Heart | Jinki’s Threat |

WARNING! Typo…because I’m post this in hurried, there’s no chance for edited this part but as you wish, this part will be long, special 17 page for my beloved reader. Enjoy!

“Jadilah kekasihku”

Dua kata yang berhasil membuat Samantha berhenti menghirup udara sesaat. Ia menatap Jinki dengan ekspresi melongo. Jinki menyeringai, tapi dimatanya seringaian itu tampak memesona. Entah ia sedang kerasukan apa hingga menganggap Jinki memesona.

“Itulah syaratnya, arrachi?” lanjutnya, raut muka penuh kemenangan tercetak jelas di matanya. Samantha buru-buru sadar saat Jinki mengucapkan itu. Ia menggelengkan kepalanya. Berusaha menghilangkan pikiran aneh-aneh yang tadinya sempat memenuhi kepalanya.

“M-mwo? MWORAGO?! Andwae! Aku tidak sudih menjadi pacarmu” tolaknya.

“Hei, kau pikir aku memintamu menjadi pacar sungguhan? Aku hanya memintamu berpura-pura saja” tawarnya sembari memamerkan eye smilenya. Tapi tidak memberi efek pada Samantha. Gadis itu malah berniat menjauhi Jinki tapi namja itu mendorong bahunya hingga Samantha kembali membentur dinding, terjebak dalam kedekatan jarak kembali.

Sesaat mereka beradu tatapan, kali ini Samantha lebih berani untuk mendongak. “kalau begitu, tunggu foto itu jadi trending topic besok” ancam Jinki. Sorot matanya menyiratkan keseriusan. Membuat Samantha tidak bisa berkutik. Namja itu lalu melepas cengkeraman tangannya yang ada pada bahu Samantha. Ia melangkah mundur dan berbalik membuka pintu kelas.

Chankaman!” Jinki menahan langkahnya mendengar seruan Samantha. Ia berbalik dengan ekspresi datar. “A-aku…akan menuruti…permintaanmu” Samantha menghela nafas pasrah. Jinki tersenyum merasa menang karena rencananya berhasil.

Belum juga berlega ria, gadis itu harus kembali berjengit kaget saat tiba-tiba Jinki menggamit pergelangan tangannya.

“Kau resmi menjadi pacarku, jadi biasakanlah seperti ini” setelah itu ia mengedipkan sebelah matanya. Anehnya, Samantha hanya terdiam mendapati perlakuan itu. Pikirannya menjadi kosong sesaat.

Ne?! Aku hanya pacar pura-puramu, ingat itu! Jadi jangan coba-coba mencari kesempatan dengan menyentuhku seenaknya!” Samantha mencoba memeringati Jinki saat berada di mobil. Namja itu mengiyakan lalu melaju bersama mobilnya menuju jalanan padat Seoul.

^^^

Ahjummamu yang menyebalkan itu pulang? Jeongmalyo?” Xiumin mengangguk mengiyakan sekaligus mengerucutkan bibirnya kesal.

“Hahaha”

Tawa sekelompok namja di café itu menggema saat mendengar penuturan Xiumin tentang SoHee ahjumma yang memang membuat hari-hari Xiumin dan sepupunya Euncha bakal muram. Tawa mereka terdengar sangat nyaring dibanding pengunjung lainnya hingga menimbulkan perhatian.

“Ya! Kalian menyebalkan! Kami tersiksa dirumah sekarang” protes Euncha yang juga ikut berada disana. Ia berada di antara Xiumin dan Luhan.

“Kalau kau mau, kau bisa mengungsi dirumahku” Luhan mengedipkan matanya genit membuat Euncha bergidik.

“Tidak akan pernah!” tolak Euncha sembari menjulurkan lidah.

“HAHAHA”

“Jangan menggoda Euncha, Luhan-ah!” Xiumin mencoba memperingati.

Lonceng tanda pengunjung datang berbunyi. Semua mata otomatis melihat kearah pintu. Sosok tubuh tegap dengan postur setinggi hampir 2 meter memasuki ruangan itu dengan langkah khasnya, semua pengunjung khususnya yeoja mulai berbisik-bisik menyuarakan kekaguman.

“Oh Kris!” pekik Euncha, matanya seketika berbinar-binar. Raut wajahnya kembali cerah, melupakan kemurungannya sesaat.

Namja yang baru masuk itu segera duduk di kursi kosong sebelah Lay. Tidak terlalu mempedulikan pekikan senang Euncha barusan.

“Kenapa kau mabuk waktu itu?” Xiumin langsung menginterogasi membuat Kris terkejut lalu melirik tajam pada Luhan.

“Hanya ingin” sahutnya, enggan menjelaskan.

“Benarkah Oppa mabuk? Wae? Apa begitu banyak masalah menimpamu?” tanya Euncha dengan nada khawatir yang berlebihan. Sepupu Xiumin yang satu ini memang sangat berlebihan jika menyangkut seorang Kris. Berbanding terbalik saat berhadapan dengan teman-teman Xiumin sendiri.

“Euncha, kau berlebihan!” ujar Luhan tampak sebal. Euncha melirik sinis pada namja itu lalu kembali menatap Kris.

“Aku tahu! Sepertinya karena yeoja itu. Ku dengar ia akan melangsungkan pertunangan dalam waktu dekat ini” perkataan Chen kembali membuat Kris harus mengingat La Yin. Ia menundukkan pandangannya sedih, Euncha memperhatikan itu. Ia buru-buru menjitak kepala Chen.

“Yak! Appo!” ringis Chen sembari mengusap kepalanya yang terkena pukulan Euncha barusan. Gadis itu kembali melihat Kris, tidak mengacuhkan Chen yang menggerutu sebal. Xiumin menepuk bahu Chen menenangkan seraya terkekeh kecil.

Nugu? Nuguya? Aku akan memberinya pelajaran. Seenaknya menyakitimu!” Euncha mulai menyungut, kembali berlebihan. Luhan menatap Euncha dengan sebal lagi tapi gadis itu tidak peka. Ia terlalu sibuk mengurusi Kris.

“Semua ini salahku, aku terlalu egois” ujar Kris, lirih. Euncha langsung bungkam. Sedangkan yang lain hanya menatap Kris dengan iba. Mereka semua sudah mengetahui hubungan Kris dengan La Yin kecuali Euncha.

Pikiran Kris kembali menerawang. Dulu, saat ia pernah datang ke Korea dan menetap selama setahun pernah suatu kali bertemu dengan seorang gadis. Saat itu ia tengah terjebak di tengah derasnya hujan hampir satu jam. Gadis itu tiba-tiba mengulurkan payung miliknya pada Kris kemudian mereka berkenalan sambil jalan. Namanya La Yin, gadis keturunan China yang sudah lama menetap di Korea. Selama perjalanan itu mereka mengobrol banyak. La Yin, gadis yang ramah serta unik itu membuat Kris tertarik sejak pertemuan pertama mereka. Hari-hari berikutnya ia bertemu kembali karena ternyata gadis itu punya hobi yang sama yaitu bermain badminton. Dibalik penampilannya yang anggun ternyata La Yin memang gadis yang energik dan ramah.

Ia mulai jatuh cinta sedikit demi sedikit. Gadis itu berbeda. Setiap kali Kris mengucapkan kata-kata pujian La Yin hanya menanggapinya santai. Tidak berlebihan maupun menampik. Dan Kris menyukai itu.

Obrolan teman-teman Kris di cafe itu kembali hangat. Hanya Kris yang tidak tertarik untuk bercerita, ia kembali menerawang. Sorot matanya mulai terlihat sendu. Kisah kelam itu kembali terputar dalam memorinya. Saat ia mengikat La Yin dalam egonya. Merantai gadis itu terlampau erat hingga membuatnya lelah dan melukai batinnya perlahan-lahan. Tentu saja ia harus menerima akibatnya. Gadis itu merasa takut padanya, lalu menghilang. Kris benar-benar tidak menyadari kesalahannya sampai ia pulang kembali ke Canada. Barulah saat ia berada disana gadis itu kembali menghubunginya. Memberitahu segalanya dan yang mengejutkan gadis itu sudah menemukan orang lain dihatinya. Seketika beribu penyesalan menghampirinya. Ia benar-benar menyesal dan merasa bodoh. Kehilangan orang yang dicintai karena kesalahan dan egonya sendiri.

“Kris! Apa kau baik-baik saja?” ucapan Euncha membuyarkan lamunan Kris. Namja itu hanya menyunggingkan senyum miris sembari menyesap jusnya.

Melihat gelagat Kris sebenarnya Euncha menyadari bahwa namja itu tidak baik-baik saja. Rautnya yang menyimpan kesedihan itu tergambar dengan jelas tapi ia tidak tahu apa itu. Ia penasaran tapi tidak ingin semakin membuat Kris sebal padanya dengan bertanya-tanya. Mungkin itu hal pribadi, pikirnya.

Sedangkan tanpa mereka sadari, Luhan melihat kecemasan Euncha pada Kris di tempatnya. Ia mendengus dan memalingkan wajahnya ketika Euncha menolehkan kepala ke arahnya.

“Kenapa lihat-lihat?!” seru Euncha galak, membuat Luhan mencibir lalu menggoyangkan sedotannya dengan keras.

Ani, kau terlihat seperti wanita bermuka dua” Euncha sontak melebarkan mata mendapati ucapan itu. “Apa maksudmu?”

Luhan menghembuskan nafasnya sejenak lalu menatap Euncha dengan mata memincing. “Hanya dihadapan Kris kau berubah lembut, tapi sebenarnya kau nenek sihir” ungkapnya, Euncha hendak memukul kepala Luhan tapi namja itu sudah menangkis lebih dulu dengan menggenggam pergelangan tangan Euncha.

“Ish…” gerutu Euncha.

^^^

Semenjak menjadi pacar bohongannya, Samantha terus dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan. Terutama teman-teman Jinki seperti Minho, Taemin, Jonghyun dan Kibum. Mereka terus bertanya tentang hubungan itu sudah sejauh mana. Samantha hanya diam dan membiarkan Jinki yang menjelaskan, lagipula yang melakoni hanya Jinki sehingga ia tidak mau ikut pusing memikirkan jawaban apa yang mesti terlontar untuk menjelaskan hubungannya dengan Jinki.

Di kampus tentang hubungannya dengan Jinki juga sudah menyebar padahal baru sehari mereka berpura-pura pacaran. Samantha sampai mendapat lirikan sinis dari beberapa yeoja yang notabene adalah fans Jinki. Beruntung belum ada yang bertindak berani seperti melabraknya atau mengerjainya. Ia berpikir mau sampai kapan namja itu mengancamnya, yang jelas gadis itu hanya berharap semua berakhir entah kapan.

Samantha berjalan menuju perpustakaan untuk mencari referensi. Memasuki ruang perpus, ia segera mencari rak buku yang dituju. Setelah menemukan buku yang dicari ia segera mencari tempat duduk yang nyaman. Pandangannya mengarah pada sudut perpustakaan yang tampak sepi hanya terlihat satu orang yang menempati meja itu.

Gadis itu buru-buru meletakkan buku lalu menggeser kursi tanpa begitu memperhatikan seorang namja yang sedang tertidur pulas dihadapannya. Namja itu menutup wajahnya dengan buku yang lumayan lebar sehingga tidak terlalu menarik minat Samantha untuk memperhatikan. Gadis itu lebih sibuk membaca bukunya dengan cepat, memindai.

Ditengah kesibukannya mencatat dan membalik buku, namja yang berada dihadapannya diam-diam terusik dan akhirnya terbangun. Buku yang menutupinya kini tergeletak di meja membuat wajahnya terlihat.

Namja itu menatap Samantha sejenak dan kemudian menyunggingkan senyum tipis tapi gadis itu terlalu sibuk membaca dan menulis sehingga tak menyadari. Namun tak lama kemudian Samantha mulai merasa bahwa ada yang memperhatikannya. Ia membelalakkan matanya terkesiap begitu melihat Kris berada dihadapannya sedang menatapnya dengan bibir tersenyum begitu menawan.

“Akh…Kris, kau disitu rupanya” sapanya sembari mengatur kegugupannya terlebih kini Kris masih memperhatikannya tapi kali ini dengan muka datar.

“Um…setelah kuliah ini aku ingin pergi menonton tapi aku tidak punya teman untuk ditemani,  mmm…apa kau mau menemaniku?” tawarnya.

Samantha langsung mendongak menatap Kris. “Mwo?” Apa kupingku bermasalah?, benarkah Kris mengajakku…kencan?, pikirnya. Kris berdeham membuyarkan lamunan Samantha. Gadis itu tak kunjung menjawab membuat namja itu bingung.

“N-ne” jawabnya, gugup.

“Maksudmu?” Kris mengangkat sebelah alisnya tak paham.

“Ya, maksudku aku mau”

Mendengar jawaban itu, Kris menyunggingkan senyumnya tampak senang. Hal itu sukses membuat jantung Samantha bergemuruh hebat, perutnya tergelitik seperti ada kupu-kupu yang berterbangan melewati kepalanya. Pikirannya seketika melambung tinggi, apakah aku bermimpi? Begitulah kata-kata yang terus terngiang dibenaknya.

“Aku pergi dulu” ujar Kris sembari mengulas senyum kembali. Samantha hanya bisa mematung dan memandang punggung namja itu sampai menghilang dari penglihatannya. Ia tidak tahu senyuman Kris begitu memesona karena baru pertama kali ia melihat namja itu dengan senyumnya. Selama ia mengagumi dan memperhatikan namja itu tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya ia bakal melihat senyuman itu. Senyuman manis yang ditunjukkan hanya untuknya. Benar, hanya untuknya. Harapnya.

Setelah menyelesaikan referensi dan mendapatkan ringkasan untuk tugas. Samantha buru-buru mengirim pesan untuk Kris, ia siap untuk pulang karena memang tidak ada jam kuliah lagi hari itu.

Belum semenit ia mengirim sms, ponselnya berdering nyaring. Cepat sekali, pikirnya sembari mengulas senyum bahagia.

From : Temperament boy

Tunggu aku didepan gerbang sekarang!

Samantha mendengus kesal, ia secepat mungkin membalas pesan tersebut hendak menolaknya. Untuk kali ini ia ingin terlepas dari Jinki. Tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya dan mengirim, sebuah pesan masuk.

From : Temperament boy

Apa kau mau foto konyolmu menjadi hot topic besok?

“AISSH…Neo Jinja!” gerutu Samantha begitu mendapat pesan lanjutan dari namja bernama Jinki itu. Padahal baru saja ia berencana untuk memberitahu untuk kali ini saja ia tidak menuruti permintaan Jinki.

To : Jinki

Mianhae Jinki…untuk kali ini saja aku mohon kau membiarkanku bebas. Aku janji akan tetap menuruti naskahmu menjadi pacar bohongan sampai kau puas.

Setelah pesan itu terkirim Samantha mulai harap-harap cemas. Ia melangkah menuju gerbang dengan hati-hati agar ia tak bertemu pandang dengan Jinki. Sengaja dipelankan sembari menunggu balasan Kris. Cukup lama ia menunggu balasan entah dari Jinki maupun Kris. Ia menggigit bibirnya gelisah seraya mengedarkan pandangan ke sekitar pintu gerbang. Tubuhnya berdiri jauh dari pintu tersebut, berjaga-jaga jika saja tiba-tiba Jinki melihatnya.

Namun tiba-tiba Samantha merasa tengkuknya memanas. Hembusan nafas seseorang menerpa telinganya membuat ia bergidik lalu membalikkan tubuh.

Omona! Jinki!” teriak Samantha, terkejut mendapati namja itu sudah berada dibelakang dengan posisi berkacak pinggang.

“Sekarang kau mau kemana? Berusaha menghindariku, hm?”

Samantha hanya bisa bergeming di tempat sembari menatap Jinki takut-takut. Tapi kemudian ia memberanikan diri untuk menghadap Jinki. Ia ingin sekali ini saja menentang namja itu.

“Aku ada janji dan harus menepati janji itu. Jadi mengertilah! Untuk kali ini saja kau membiarkanku” Jinki memincingkan matanya mendengar ucapan Samantha yang terdengar meminta dibanding memohon.

Jinki sengaja menggosok dagunya berpikir. “Tapi janjimu aku pegang, setelah ini kau harus benar-benar menurutiku, otte?” tanpa pikir panjang Samantha segera mengangguk semangat lalu ponselnya bergetar. Satu pesan dari Kris tampaknya telah masuk. Ia buru-buru menjauh dari Jinki menuju pintu gerbang.

Awalnya Jinki tidak terlalu peduli janji apa yang membuatnya begitu namun saat ia melihat gadis itu terlihat sangat senang dan sekarang tengah berjalan cepat ke arah mobil audi putih, ia jadi penasaran. Sayangnya, hanya setengah dari wajah orang itu yang dapat ia lihat karena kaca pintu mobil itu terlalu gelap dan terbuka hanya setengahnya. Yang ia tangkap adalah Samantha melakukan janjinya terhadap seorang namja dan ia tidak tahu seperti apa namja itu.

“Cih…dasar yeoja polos! Kau pikir janji seperti itu tidak berbahaya” decaknya sembari melanjutkan langkahnya.

Sedangkan raut wajah Samantha berubah menjadi cerah. Ia terus menyunggingkan senyumnya tanpa sadar saat memasuki mobil Kris. Sepanjang perjalanan hanya bunyi jantungnya yang terdengar begitu keras, beradu dengan mesin mobil.

Namun satu pertanyaan tiba-tiba muncul dibenaknya. Ia menatap Kris yang sedang fokus menyetir. Tatapannya masih terlihat dingin seperti biasanya.

“Um…sebenarnya kau akan menonton film apa?”

Kris menoleh. “Film thriller, kau suka kan?” tanyanya tanpa begitu memperhatikan ekspresi Samantha yang langsung berubah dratis. Apa? Film menjijikan itu? Pikirnya. Ia sangat membenci film dengan genre yang thriller terlebih yang menjurus kekerasan. Tidak pernah sekalipun terbayang dibenaknya seorang namja mengacaknya kencan dengan menonton film sejenis itu. Ini gila, batinnya.

Ia melirik ke arah Kris dengan wajah takut dan ragu. Pikirannya terbagi menjadi dua, antara tetap menjalankan kencan ini dengan berpura-pura tidak takut atau ia jujur saja padanya, yang kemungkinan besar akan membuat Kris kecewa dan tidak mau mengajaknya keluar lagi. Terlebih ini adalah kencan pertama baginya. Meski yah…mungkin Kris menganggapnya jalan-jalan biasa tapi tetap saja.

Sesampainya di depan theater Samantha mulai berkeringat. Ia bergidik ngeri melihat poster besar yang menempel disana. Entah mengapa hawa mual itu muncul. Padahal biasanya ia tidak pernah merasa segelisah ini ketika akan menonton film. Final destination, oh God!

Sedangkan yang berada dalam pikiran namja itu hanyalah mencari kesenangan belaka. Melepas penat dengan menonton film yang sebenarnya bukan favoritnya tapi entah mengapa ia ingin menonton film bergenre itu. Suasana hatinya akhir-akhir ini benar-benar buruk. Ia merasa pikirannya sedang kacau. Seharusnya ia tidak mengajak seorang gadis ke bioskop untuk menonton film sejenis itu, apalagi gadis itu baru pertama kali ia ajak untuk keluar. Tapi ia tidak memikirkan hal itu dan merasa perlu seseorang untuk menemani, itu saja.

“Kris…um…apa kau yakin akan menonton film itu?” Samantha bertanya dengan nada cemas. Ia menggosok tengkuknya merasa gelisah. Kris mengangkat kedua alisnya seraya memperhatikan raut Samantha.

“Ne. Kau kenapa?” tanyanya, tampaknya ia tidak peka. Sebelum Samantha menjawab, suara speaker jika film Final Destination akan diputar berbunyi. Menyeru pada semua penonton untuk segera masuk ke ruangan.

Kris buru-buru mengajak Samantha untuk masuk tanpa pikir panjang. Sedangkan gadis itu dengan berat hati menyeret langkahnya memasuki bioskop. Kakinya perlahan mulai bergetar diikuti keringat yang bercucuran. Ia sampai harus menyeka keringatnya berulang kali.

Di dalam suasana bioskop masih ramai dan lampu belum dipadamkan. Hal itu membuat Samantha bisa bernafas sedikit lega namun baru saja ia duduk lampu sudah dipadamkan. Menandakan film akan diputar. Ia menggigit bibirnya lalu meremas roknya tanpa sadar.

Adegan pertama masih berjalan dengan lancar. Samantha tidak perlu terus merasa tegang namun saat tanda-tanda terjadi kecelakaan terputar ia kembali menggigiti bibirnya dan menatap layar dengan mata setengah terpejam. Suara penonton yang berteriak semakin meyakinkan dirinya jika adegan ngeri itu sedang terjadi. Ia memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha untuk tidak melihat adegan itu. Adrenalinnya terpacu dengan cepat hanya dengan mendengar teriakan penonton itu. Ia menatap Kris dengan sudut matanya dan menangkap raut wajah Kris yang sungguh diluar dugaannya. Namja itu menatap layar itu dengan pandangan kosong seolah hanya matanya yang fokus tapi tidak dengan pikirannya.

Setelah film selesai Samantha merosotkan bahunya dengan lemas. Ia menghembukan nafas panjang. Nafasnya masih terdengar memburu. Sepanjang film terputar sampai bagian akhir ia tidak berani sekalipun melirik film itu. Berbeda dengan Kris yang tampaknya tidak berkonsentrasi penuh, ia melihat kekosongan ditatapan matanya.

Sunbaenim! Gwenchana?” lamunan Kris langsung buyar begitu mendengar ucapan Samantha. Ia buru-buru menarik bibirnya melengkung untuk tersenyum pada gadis itu.

“Oh, sudah sepi rupanya, kajja!” Kris menarik tangan Samantha tanpa sadar, sedangkan gadis itu tersentak seketika. Wajahnya memanas tiba-tiba mendapat sentuhan itu.

Grep!

Kris membalikkan badan, ia merasa ada tangan lain yang memegang tangannya. Tidak! Lebih tepatnya menahannya.

Saat membalikkan tubuh ia melihat seorang lelaki yang tidak asing. Ia menatapnya dengan tajam.

“Jinki-ssi! K-ka-kau di s-sini?” ucapnya terbata, begitu melihat sosok Jinki berada disana. Sedangkan namja itu tidak menghiraukan ucapan Samantha. Ia menatap Kris dengan dingin. Samantha memperhatikan kedua orang itu dengan pandangan bingung. Ia tidak menyangka Jinki berada disini tapi begitu ia memperhatikan dengan detail wajah namja itu memang benar dia adalah Jinki.

“Apa kau mau membuatnya tersiksa, huh?! Kau tidak lihat ekspresi gadis ini saat menonton tadi?” seru Jinki, terlihat marah. Samantha membelalakan matanya tidak percaya. Ia menatap Jinki dengan ekspresi heran. Kris mengalihkan pandangannya ke arah Samantha, memeriksa keadaannya. Namja itu seketika menyadari kesalahannya, ia hendak memegang bahu Samantha tapi dengan cepat Jinki melingkarkan lengannya di bahu Samantha. Samantha terkejut mendapat perlakuan itu, sesaat ia hanya diam tapi tak lama kemudian ia sadar masih ada Kris dihadapannya. Tidak ingin membuat kesalahpahaman, ia berusaha menyingkirkan tangan Jinki dari bahunya. Namja itu mendelik menatap Samantha dan kembali melingkarkannya dengan paksa.

Mianhae…aku benar-benar salah, seharusnya aku tidak mengajakmu menonton film ini. Mian…”

BUG

Jinki menghantam Kris dengan satu pukulan, Samantha membekap mulutnya terkejut. Ia tidak mengira Jinki melakukan hal itu dihadapannya. Apa maksudnya!

“Yak! Jinki, Hentikan! Apa-apaan kau ini! Aku baik-baik saja dan kau tidak perlu memukul Kris seperti itu” seru Samantha, ia menatap Jinki dengan pandangan menusuk tajam. Lalu mengalihkan pandangannya pada Kris ia menghampiri dan menyentuh sudut bibir namja itu. Memastikan tidak ada luka. Perlakuan itu membuat kepala Jinki panas, amarahnya kembali meluap. Entah mengapa ia tidak suka melihat cara gadis itu menatap Kris dan menyentuh pipinya. Perlakuan itu menyiratkan perhatian yang berlebihan di mata Jinki.

Samantha tersentak begitu Jinki menarik tangannya yang tengah menyentuh sudut bibir Kris. Namja itu menarik Samantha menjauh hingga berada di belakang punggungnya.

“Dia yeojachinguku, jadi aku berhak menjaganya, jangan pernah membuatnya ketakutan seperti tadi dan…jangan pernah mengajaknya keluar kecuali pergi bersamaku” ujar Jinki, memperingati. Samantha membelalak tidak terima.

“Jinki!, malhajima! (berhenti bicara) Aku tidak akan…melanggarnya. Jadi berhenti mengkhawatirkanku!” setelah mengatakan itu ia merasa tenggorokannya tercekat. Ia mengatakannya tanpa berpikir. Pabo! Kenapa aku berbicara tanpa berpikir dulu pikirnya. Ia memberikan death glare pada Jinki tapi namja itu tidak terlalu mengacuhkannya. Ia malah merasa menang dan sekarang menyeret Samantha keluar dari gedung bioskop itu.

“Yak! Lee Jinki, lepaskan!” setelah berada dipintu luar bioskop barulah Jinki melepas Samantha.

“Keterlaluan, kau menghancurkan kesenanganku! Padahal aku bermimpi untuk hal ini tapi kau malah menghancurkannya, sungguh keterlaluan!” lanjutnya, memaki Jinki.

Jinki memincingkan matanya mendengar ucapan yang terlontar dari Samantha. Gadis itu tidak kalah menatapnya dengan tajam. Jinki tidak habis pikir dengan gadis dihadapannya ini. Sepertinya Samantha benar-benar tidak mendengarkannya meskipun ia mengancam. Apa karena ia menyukai namja itu?

“Kuharap besok kau tidak shock mendapati fotomu terpampang dengan indah di kampus” ancam Jinki, ia berbalik menuju mobilnya dan meninggalkan Samantha dalam keadaan panik.

Saat terdengar deru mobil yang melaju meninggalkan pelataran parkir Samantha menghentak-hentakkan kakinya kesal.

“Pabo! Pabo Samantha! memangnya kau siap dipermalukan, huh? Pabo!” Ia merutukki diri saat itu juga. Bahunya melemas seketika. Ia berjalan dengan pandangan cemberut, berpikir seandainya tadi ia ingat hal itu dan ia akan menuruti perkataan Jinki.

Tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi. Wajahnya berubah cerah seketika.

Akh syukurlah, pikirnya. Berharap itu adalah Jinki, ia bisa meminta pertimbangannya lagi sebelum ia harus mengubur diri besok karena foto memalukan itu.

Namun saat berbalik, wajahnya yang tadinya semangat berubah kembali menjadi lesu. Padahal seharusnya ia senang ada Kris disana tapi dalam keadaan seperti ini hal ini tidak begitu ia harapkan.

“Kupikir kau bersama namjachingumu itu. Ayo, kuantar kau pulang, tidak baik seorang gadis berjalan sendiri malam-malam” tawar Kris seraya membukakan pintu mobil terlebih dulu untuknya. Samantha berusaha mengulas senyum kecil meski lemah lalu masuk ke dalam mobil bersama Kris.

^^^

Hari ini Samantha mendapat jadwal kuliah siang. Ia melangkahkan kakinya dengan gemetar. Sesekali berpikir untuk membolos kuliah tapi ia ragu. Hatinya tetap memerintahnya untuk maju. Ia tidak boleh seperti itu hanya karena ancaman Jinki. Setelah memantapkan hati ia berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Melewati koridor dengan pandangan tak acuh, berusaha menghiraukan lirikan aneh padahal sepanjang ia berjalan tidak ada yang menaruh pandangan aneh. Semua berjalan seperti biasanya.

Astaga! Pekiknya saat melihat foto lain yang lebih memalukan terpampang di depan lokernya sendiri. Ia buru-buru menarik foto itu dan menunduk malu. Dilihatnya beberapa orang di belakang dan di sekitar gadis itu berbisik ria. Ia semakin menundukkan wajahnya dan mulai merutuk kesal.

“JINKI ! YAK! JINKI SUNBAE!” teriaknya lantang saat ia berada didepan kelas Jinki. Saat itu suasana kelas langsung berubah hening mendengar teriakkan Samantha. Jinki terkejut setengah mati melihat gadis itu tengah berteriak memalukan seperti itu. Tapi gadis itu tampaknya tidak peduli. Ia mulai berjalan menghampiri meja dimana namja itu sedang membaca buku tebalnya.

Samantha buru-buru menarik Jinki untuk keluar, ia tahu diri dan tidak akan mencari keributan di kelas para sunbaenya.

“Ini, kau benar-benar berniat mempermalukanku?!” sentaknya seraya menunjukkan foto selca itu dihadapan Jinki. Namja itu mengernyitkan alisnya, lalu balik menatapnya tajam.

“Itu peringatan pertama, sebenarnya…foto itu hendak terpampang di papan pengumuman sekaligus tapi…aku masih memberi kompensasi, apa sekarang kau tetap berniat membantahku?” ungkapnya, Samantha meneguk ludahnya. Kini keadaan berbalik, ia yang berencana untuk menghentikan semua ulah Jinki kembali tidak bisa berbuat apa-apa dan menangkis ucapannya tersebut. Bisa-bisa fotonya benar-benar menjadi trending topic jika ia  terus membantah kemauan namja itu.

Samantha menghela nafasnya berat. “Fine! Do whatever you want” jawabnya, pasrah. Ia melangkah pergi dengan kesal.

Jinki membuka kacamatanya yang sejak tadi masih bertengger, ia menyeringai memandangi sosok Samantha yang kian menjauh.

“Jinki Hyung, mana janjimu?” seorang namja menghampiri Jinki, menuntut sesuatu. Jinki menyunggingkan senyum penuh arti. “Gomawo, Taemin-ah! Ah, tenang saja. Aku akan membelikan playstastion itu nanti” ujarnya, menepuk bahu Taemin. Namja itu tersenyum senang dengan mata berbinar-binar. Tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu berupa Memori Card dan menyerahkannya pada Jinki, namja itu pergi setelahnya.

Jinki mengulas senyum kecil. “I got you!”

^^^

Kris POV

Hari menjelang siang dan perutku mulai lapar. Aku pun berniat untuk menuju kantin kampus namun sesampainya disana antrian panjang terjadi, akhirnya aku malas untuk makan. Lebih memilih keluar area kampus dan mencari cafe yang lumayan lenggang.

Saat hendak berbalik, seorang gadis menabrakku dan menyebabkan jus yang dibawanya tumpah mengenai pakaianku. “Mianhae…jeongmal mianhae” ujar gadis itu. Ia membungkuk sampai dua kali dan langsung mengeluarkan sapu tangannya. Membersihkan noda yang mengotori kemejaku. Saat ku perhatikan sungguh-sungguh ternyata gadis ini adalah gadis yang ku kenal, Samantha.

Gwenchana, ini masih bisa dibersihkan” tapi Samantha terus membersihkan nodanya dan melontarkan maaf kembali, membuatku gemas. Aku berusaha menahan gerakan mengelap yang dilakukan olehnya dengan memegang lengannya.

Samantha membelalakkan matanya. “Oh…K-Kris sunbae. Ani, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku merusak penampilanmu, jadi aku harus bertanggung jawab” Aku terkekeh kecil mendengar itu, namun kembali aku menahan lengannya.

“Kalau begitu, traktir aku makan di cafe luar kampus” tawarku, mencari alternatif lain. Samantha mengangguk lalu tersenyum padaku.

Suasana di cafe lumayan lenggang. Namun tidak  begitu sepi karena diiringi musik jazz yang mengalun di panggung cafe. Sebagian pengunjung juga berasal dari mahasiswa, mungkin karena letaknya dekat dengan universitas.

Setelah memesan makanan, aku menatap Samantha, gadis itu balas menatapnya tapi sedetik kemudian mengalihkan pandangannya.

“Tentang malam itu, aku sungguh merasa bersalah, mianhae…” aku masih begitu tidak enak hati dengan gadis ini, sungguh malam itu aku tidak bisa menjernihkan pikiranku, membiarkan suasana hatiku yang buruk sebagai pelampiasan. Tanpa memikirkan siapa orang yang kuajak.

Samantha balik menatap Kris dengan pandangan melunak. “Gwenchana, aku mengerti” jawabnya. Aku menghela nafas lega setelah itu.

“Kris…sunbae, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Um..kenapa kau ingin tinggal di Korea?”

Aku memandang Samantha dalam diam lalu mengalihkan tatapan sembari berpikir. “Karena aku ingin kuliah disini” jawaban yang tidak begitu meyakinkan sebenarnya tapi cukup membuat Samantha tidak bertanya lebih lanjut. Sebenarnya bukan itu alasanku pergi ke Korea tapi karena aku belum bisa bercerita hal yang lebih pribadi dengan gadis itu, aku memilih merahasiakannya.

“Waktu kau datang di pesta itu, kenapa kau mabuk?” lagi Samantha melontarkan pertanyaan yang sulit untuk kujawab.

“Aku hanya sedang stres saja, um…kau kenal dengan sepupuku? ujarku mengalihkan percakapan.

“Sepupumu? Maksudmu?”

“Pertunangan sepupuku, malam itu. Kau mengenalnya?” ungkapnya.

“Um… itu sebenarnya temanku yang memaksa minta ditemani, jadi aku hanya menuruti saja” Samantha menatap gelas jusnya dengan malas. Pikirannya kembali pada Jinki jika mengingat hal itu dan ia masih kesal dengan perlakuan namja itu.

Gomapta, waktu itu sudah menyelamatkanku. Aku tidak tahu apa jadinya jika aku terus meminum soju” ujarku.

Samantha terlihat canggung, ia menyunggingkan senyumnya malu-malu. “Itu wajar, sebagai tetanggamu memang seharusnya begitu kan?”

Aku mengangguk mengiyakan. Kemudian aku teringat malam saat menonton bioskop, seorang namja tiba-tiba marah padaku dan itu membuatku penasaran.

“Namja yang waktu itu, nugu? Apa dia namjachingumu?” gadis itu tiba-tiba menatapku dengan panik. Aku tidak tahu mengapa, tapi kurasa begitu.

“Um…itu d-dia memang namjachinguku tapi…”

Utsumuiteta rainy day
Boku wo yobisamasu koe

Suara ponsel menginterupsi perkataan Samantha membuatnya terpotong begitu saja, ternyata ponselnya berdering. Ia melihat ke arahku sejenak, aku mengangguk paham.

“NE?! Tapi…jebal! tapi aku benar-benar tidak bisa…Aish…Arraso” Aku pura-pura tidak mendengar tapi dari nadanya ia terlihat sedang kesal karena si penelpon menuntutnya meski tidak bisa.

Setelah telepon terputus aku mendengar Samantha menghela nafas panjang, kemudian ia menggaruk tengkuknya sambil sesekali menatapku. Aku tidak bertanya membiarkan ia sendiri yang berbicara padaku karena sepertinya ia akan mengatakan sesuatu.

“Aku harus pergi, tidak apa kan jika aku tidak bisa menemanimu lama-lama? Aku akan membayar—”

“Tidak usah, pergilah” aku segera memotong ucapannya. Sengaja memang aku yang mengajaknya makan untuk menebus kesalahanku waktu itu. Ia terlihat bingung tapi aku kembali menggeleng dan menyuruhnya pergi.

“Baiklah, gomapta Kris. Lain kali aku yang akan mentraktir” ucapnya sembari melambai lalu melangkah cepat keluar dari cafe. Terlihat sangat buru-buru dan takut seolah jika terlambat sedikit saja, ia akan mati.

Mataku masih mengawasi sampai punggungnya tidak terlihat. Entah mengapa gadis itu di lain sisi membuatku nyaman. Ia selalu muncul disaat suasana hatiku memburuk dan membuatku merasa hangat.

End POV

Jinki mengulas senyum sepanjang duduk di sofa lalu sesekali ia melihat jam di dinding. Terkadang melongokkan kepala menatap pintu berkali-kali menunggu seseorang datang. Namun setengah jam berlalu dan ia mulai kesal lantaran orang yang ditunggunya tidak kunjung mengetuk pintu…

Ting nong…

Jinki langsung tersenyum cerah dan menyeringai penuh arti.

^^^

Ruang perpus siang itu sepi, hanya ada penjaga perpustakaan yang tengah asyik membaca buku dan seseorang lagi yang tampaknya juga tidak serius membaca. Ia tengah tertidur, entah mungkin sedang membolos. Lalu ada lagi seorang gadis dengan tengah menulis sesuatu sembari membolak-balikkan halaman buku yang berada di meja.

Semilir angin menerbangkan sedikit poninya akibat posisinya yang dekat jendela dan angin yang sedang berhembus kencang. Sesekali ia menguap karena angin yang menenangkan itu ditambah ia sedang serius membaca buku. Membuatnya terlena. Tak lama kemudian seorang namja masuk di perpus dengan kacamata lebarnya. Ia mempunyai postur tubuh yang tinggi dan jakung. Rambutnya juga berwarna blonde. Menunjukkan ia bukan namja culun atau semacamnya, malah terkesan modis.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar perpus lalu senyumannya tercetak begitu menangkap sosok gadis yang tengah tidur didekat jendela. Ia segera duduk di meja yang agak berjauhan dengan gadis itu lalu membuka bukunya dengan sesekali melirik gadis itu.

Sedangkan gadis itu tertidur pulas tanpa menyadari pandangan namja itu yang terus mengawasinya. Padahal posisinya sangat tidak etis. Rambutnya yang dibuat kuncir kuda dan poni yang tidak menutup mata membuat wajah gadis itu terekspos saat itu juga. Air liur menetes dari sudut bibirnya. Lalu tiba-tiba ia mengerucutkan bibirnya seperti hendak mencium.

Namja itu mengeluarkan kameranya, siap membidik.

“Nice positionseraya mengamati hasil bidikannya dengan seulas senyum yang terkembang lebar. Setelah itu, ia kembali berpura-pura normal saat seseorang yang lain yang juga tertidur di perpus itu menggeliyat. Menimbulkan kekagetan bagi namja itu.

Setelah keluar dari perpus ia menghembuskan nafas lega. Lalu melepas kacamatanya dan membuangnya di tempat sampah.

#Tbc#

Uye…#tebarbungabarengsehun. Akhirnya long page and story bisa aku update, special buat reader yang setia mengikuti dan selalu request yang lebih panjang #ciumreadersatu-satu reader/huek/ -_-

Sekalian Hye mau minta maaf lagi, selama ramadhan cerita ini tidak akan di publish so, tunggu habis lebaran ya *deep bow. Mungkin bakal diganti cerita ramadhan kalo nggak aku publish di wp pribadi.

Oh ya aku mau main teka teki, itu scene last page yang pake italic coba tebak siapa and siapa? Wkwk… *sembunyi dirumah Kris*

Advertisements

54 responses to “Temperament n’ Cool Boy – Chap. 6

  1. Samantha ama si jinki kan eon? Kan? Kan?
    Ko si saman blom ada rasa rasa ama si jinki.. Blim ada adegan romantisnyaa niihh. (づ ̄ ³ ̄)づ

  2. Kyaa eonn mianhae telat bca n comment lgi 😦
    Keren eonn!! Keren bgt 🙂 ahh ff yg slalu sya tunggu2!!! 😀
    Jdi makin ska sm ff ini!!! 🙂 makin seru bca nya.. feel nya dpt bgt, sya ska! 😀
    Alurnya jg ga terlalu cpt, jalan ceritanya jg menarik, ada beberapa hal yg tidak terduga, jdi surprise 🙂 ahh pokoknya sya ska bgt!! Cma samantha-kris moment msh kurang krasa 😀 dan masih kurang panjang jg 😀 heheh
    Hmm, ceritanya d post udh lebran ya eonn? 😦 lama bgt dong 😦
    Y uh deh gpp, selama apapun ff ini d post, sya bakalan tetep waiting ff ini 🙂
    D tunggu yaa eonn, next chapnya 🙂

    Hwaiting!!! 😀

  3. Pingback: Temperament n’ Cool Boy – Chap. 7 | FFindo·

  4. Pingback: Temperament n’ Cool Boy – Chap. 8 | FFindo·

  5. Pingback: Temperament n’ Cool Boy – Chap. 9 | FFindo·

  6. Pingback: Temperament n’ Cool Boy – Chap. 10 [Final Choice] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s