The Fear of Falling for You: Chapter 7

TFOFFYPbysoora

Prolog | Chapter: 123456

Side Story: Suho – Kai: part 1

Title: The Fear of Falling for You

Author: SSI

Length: Chaptered (still on-going)

Cast: Wu Yi Fan / Kris Wu (EXO M), Park Chanyeol (EXO K), Son Hana (OC)

Other cast: EXO K, EXO M, etc.

Genre: Action, romance, angst, slightly abuse

Rating: PG-16

Disclaimer: We don’t own anything but the storyline

Poster: cr; logo

Author’s POV

victoria71

“What the hell are you doing here, Vic?” tanya Kris tanpa basa-basi.

“Looking for you, of course,” jawab Victoria sambil tersenyum.

“I don’t buy that kind of answer. Setelah selama ini, kenapa baru sekarang kau muncul di hadapanku?”

Victoria tertawa pelan, “So, you were waiting for me, huh?”

“Not anymore,” geram Kris.

“Jangan berbohong kepadaku, Kris. Aku tau kau tidak mungkin semudah itu melupakan apa yang pernah kita lalui bersama dulu.”

“That was in our past. Now excuse me, miss. Aku rasa sudah tidak ada hal yang perlu kita bicarakan lagi,” ucap Kris seraya berjalan melewati wanita itu.

“Wait,” pinta Victoria sambil meraih lengan Kris.

Kris yang sempat tersentak akibat sentuhan ringan itu segera mengibaskan tangannya dan berkata, “Don’t touch me.”

Victoria terhenyak saat mendengar suara dingin milik pria tersebut. Dulu, tak pernah sekali pun Kris berbicara dengan nada seperti itu padanya. Namun dia segera tersadar dari pikirannya saat dilihatnya punggung Kris mulai bergerak menjauh dari pandangannya. Dengan tergesa-gesa, dilangkahkan kedua kakinya yang saat itu dibalut oleh stiletto berwarna hitam untuk menyusul pria itu. Rupanya suara dentuman stiletto-nya yang beradu dengan lantai tersebut dapat ditangkap oleh Kris. Hening, tidak ada satupun yang berbicara. Baik Victoria maupun Kris sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing tentang satu orang yang sama. Dengan cepat dibalikkannya tubuhnya untuk menatap wanita yang dulu pernah sangat dicintainya.

“Don’t follow me,” desis Kris.

Victoria tersenyum simpul saat melihat apa yang terpampang di belakang bahu Kris, “That’s her, right?”

“Who?” tanya Kris bingung.

Namun dengan cepat dia menyadari apa yang saat itu tengah diamati oleh Victoria saat dia menolehkan kepalanya, mendapati Hana yang tengah duduk dan menggunakan tangan kanannya untuk menopang dagu miliknya, sementara pandangannya mengarah keluar jendela, dan jari-jari di tangan kirinya tengah sibuk mengetuk-ngetuk meja dengan pelan, tampak sabar menunggu dirinya.

“Your beloved wife,” jawab Victoria saat perhatian Kris telah kembali padanya.

“Yes,” desis Kris.

Victoria menatap Kris sekilas dengan penuh arti sebelum melenggang menuju tempat di mana Hana. Dan sebelum Kris dapat menahan apa yang akan dilakukan oleh wanita itu, dia mendapati Victoria telah berdiri di hadapan Hana sembari mengulurkan tangannya.

“You’re Hana, am I right?” tanya Victoria.

Mendengar suara seseorang yang menyebut namanya, mata Hana beralih dari jalanan yang berada di luar jendela ke arah wanita cantik bertubuh langsing di hadapannya sembari membalas uluran tangannya.

“Yeah. Do I know you?”

“No, but your lovely husband probably does,” jawab Victoria dengan manis saat dia menyadari Kris telah sampai di tengah-tengah mereka.

“Cukup, Vic,” geram Kris sambil melepaskan genggaman tangan Victoria dari tangan Hana.

“See? Dia bahkan tahu nama kecilku,” tambah Victoria kepada Hana.

Hana hanya terdiam mendengarnya. Sementara Kris tengah mati-matian menahan emosi untuk tidak memanggil pihak keamanan dan meminta mereka untuk mengeluarkan Victoria dari sana. Victoria yang mendapati kedua orang di hadapannya tidak mengeluarkan sepatah kata pun segera menarik kursi yang terletak di hadapan Hana, yang tadinya milik Kris, dan duduk di sana.

“Hana, kau tidak keberatan kalau aku bergabung dengan kalian, kan?”

Hana’s POV

Siapa wanita ini? Mengapa wajahnya sangat mirip denganku? Apa yang dia lakukan di sini? Apa hubungannya dengan Kris? Dan mengapa Kris membiarkannya duduk di hadapanku tanpa berkomentar apa-apa dan malah menjatuhkan dirinya di kursi yang terletak di samping wanita ini?

Belum sempat pertanyaan-pertanyaan tadi terjawab, wanita tersebut kembali mengeluarkan suaranya, “Aku Victoria. Aku dan Kris pernah saling mencintai.”

Aku merasakan tubuhku tersentak mendengarnya. Aku bahkan tidak mampu membuka mulutku untuk menanggapi penjelasannya barusan. Aku hanya diam sambil menundukkan kepalaku. Ini adalah salah satu hal yang paling kubenci, di saat aku merasa kecewa, aku tidak dapat berbuat apa-apa kecuali diam dan menahan perasaan yang tengah memberikan rasa sakit di dadaku ini.

“Enough, Vic,” aku mendengar suara Kris pelan.

“Why, Kris? Dia berhak tahu masa lalumu, kan?”

Setelah itu aku tidak mendengar lagi kata-kata dari mulut Kris. Wanita bernama Victoria itu memanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami. Saat salah seorang pelayan tiba di meja kami dan menyodorkan buku menu, dia menatapku lembut dan berkata, “Kau ingin memesan apa, Hana?”

Aku segera menyebutkan nama makanan yang pertama kali ditangkap oleh mataku dan memesan segelas Snowflake Cappuccino sebagai minumannya.

Setelah melihat pelayan tersebut mencatat pesananku, Victoria berkata, “Biar aku yang memesankan untukmu, Kris. Aku masih ingat kau sangat suka Chicken Lo Mien karena aku sering membuatnya untukmu. Dan dulu kau sering memesankan Riesling untukku. Kurasa lebih baik kita memesan itu saja.”

Pelayan itu kembali mencatat pesanan yang disebutkan oleh Victoria sementara aku kini memandang Kris tak percaya yang sedari tadi terus diam dan membiarkan wanita di sampingnya memegang kendali atas acara makan malam yang seharusnya hanya milik kami. Dan lagi, aku kembali merasa tertampar akibat kehadiran Victoria. Dia begitu tahu semuanya tentang Kris. Sementara aku, ‘pekerjaan’ yang saat ini digeluti oleh Kris saja aku baru mengetahuinya dari orang lain, dari seorang polisi yang menolongku saat aku melarikan diri karena tidak tahan diperlakukan kasar olehnya. Sebenarnya aku ini siapa? Mengapa saat ini Kris sama sekali tidak berada di sisiku? Apakah aku begitu tidak penting baginya hingga dia tega membiarkanku duduk sendiri di sudut yang berlawanan darinya?

Author’s POV

Kris71

Kris tengah larut dalam pikirannya sendiri. Setelah apa yang dilakukan Victoria kepadanya di masa lalu, dia sangat terkejut untuk mendapati wanita itu sedang duduk di sampingnya, dengan bahu mereka yang terkadang bersentuhan, dan tatapan istrinya yang kosong di hadapannya. Tiba-tiba dia tersadar, sebuah cincin yang berada di kotak kecil berwarna merah berbahan beludru yang baru saja dia beli kemarin, masih tersimpan rapi di dalam sakunya. Dia telah melakukan banyak cara untuk membuat wanita itu kembali. Mengeluarkan banyak uang, mempertaruhkan harga diri dan tentu saja membuang-buang banyak waktunya. Kemarin dia memang sengaja keluar lebih cepat dari pesta perayaan keberhasilan Dragon Team untuk membeli benda tersebut. Niatnya untuk memberikan cincin itu kepada Hana kini tergantikan oleh perasaan yang tidak dapat dia deskripsikan setelah kedatangan Victoria, wanita yang dulu mengisi hidupnya.

victoria72

Bohong jika Kris berkata dia tidak merindukan Victoria sama sekali. Wanita itu yang dulu selalu berada di sisinya, menemaninya melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan oleh wanita lain, because she was one of a kind. Di samping Victoria dia bisa melepaskan segala kepenatan dan tekanan yang dirasakannya saat baru saja menjadi pemimpin dari Dragon Team. Victoria adalah satu-satunya wanita yang tidak merasa tertekan saat berada di dekatnya, satu-satunya wanita yang berani mendominasinya. Dia menciptakan sosok Kris yang hebat sebelum kemudian menjungkirbalikkannya saat dia dengan tiba-tiba menikahi pria lain. Hal yang dilakukannya tersebut merubah kepribadian Kris 180 derajat. Kris menjadi sosok yang dingin dan menganggap semua wanita yang ditemuinya adalah mainan untuknya.

Tindak semena-mena yang dilakukannya selama ini kepada Hana pun didasari atas perasaan tidak suka Kris setiap melihat wajah Hana yang mengingatkannya pada Victoria. Saat dulu dia mendapat kabar bahwa ayahnya akan menikahkannya dengan seorang gadis yang orangtuanya sudah meninggal sebelum berhasil melunasi hutang mereka kepada keluarganya, dia telah menyadari bahwa ayahnya sedang berusaha untuk membuatnya melupakan Victoria. Namun pikiran itu segera hilang saat dia menerima foto gadis tersebut sehari sebelum pernikahan mereka berlangsung. Gadis itu, Son Hana, memiliki wajah yang sangat mirip dengan Victoria. Sambil mengacak-acak rambutnya dengan gusar, Kris berniat untuk membuat gadis itu tersiksa karena memiliki wajah yang sama dengan wanita yang saat itu sangat dibencinya.

‘Tetapi itu dulu,’ gumam Kris dalam hati.

Setelah terasa seperti ribuan tahun bagi Kris dan usaha keras Hana untuk menelan makanannya dengan susah payah akibat mendengar celotehan tentang Kris yang keluar dari mulut Victoria, makan malam yang sangat tidak mengenakkan itu berakhir. Saat melihat piring Hana yang tampak masih penuh namun tidak tersentuh lagi, Kris segera meletakkan beberapa lembar uang di atas meja sebelum bangkit dan meraih tangan Hana untuk membawanya pulang. Sementara Victoria masih duduk di kursinya sambil tersenyum penuh kemenangan mengamati pasangan tersebut pergi dengan kaku.

“There will be a big fight tonight,” gumam Victoria pelan seraya berdiri dan melangkahkan kakinya menuju bar yang masih terhubung dari restoran tersebut.

Sementara itu tepat selangkah setelah kakinya meninggalkan lantai restoran, Hana melepaskan tangannya dengan paksa dari genggaman Kris. Kris sempat kaget namun tidak berkata apa-apa. Dia menekan tombol di alat yang baru saja dikeluarkan dari sakunya. Tetapi belum sempat dia meraih gagang pintu mobil untuk membukakannya untuk Hana, gadis itu sudah membukanya sendiri dan segera masuk ke dalamnya. Lagi-lagi Kris hanya bisa diam dan berjalan ke sisi yang lain untuk mengemudikan Black Rolls Royce miliknya tersebut kembali ke rumah. Sisa perjalanan itu kembali mereka lalui dalam diam. Salah satu pihak sama sekali tidak berminat untuk mengajukan pertanyaan, sedangkan pihak yang lain pun enggan untuk menjelaskan.

—–

bar71

Victoria memukul pelan bahu seorang pria yang tengah duduk di salah satu bangku bar sambil menikmati segelas red wine. Pria itu menoleh dan dengan cepat Victoria menyambutnya dengan senyuman manis andalan miliknya.

“What the hell are you doing here, Victoria?!” tanya pria tersebut yang lebih terdengar seperti bentakan dengan nada tidak percaya. Pria itu bahkan tengah meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak mabuk atau bermimpi.

Victoria tertawa pelan sebelum berkata, “Kau orang kedua yang bertanya seperti itu kepadaku hari ini.”

“Answer my question.”

Victoria menarik kursi di samping pria itu sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari teman lamanya itu, yang tentu saja masih menjadi sahabat baik Kris saat ini.

xiumin71

“Don’t you miss me, Xiu?”

Xiumin kembali menegak red wine-nya sebelum menjawab, “I thought you would never come back.”

“I won’t leave Kris. I’ve told you that, haven’t I?”

Xiumin hanya mengendikkan bahunya dan membalas, “Well, you did. You did leave him, right? And now Kris is already married.”

Xiumin sendiri baru saja mengetahui fakta tersebut setelah insiden dirinya dengan Hana yang membuat Kris naik darah. Dan ketika melihat betapa murkanya Kris terhadap dirinya, dia langsung tahu bahwa gadis itu sangat berharga bagi Kris. Kris bahkan merahasiakan identitas Hana sebagai istrinya agar tidak ada seorang pun dari pihak lawan yang menyentuhnya. Dia sangat melindungi Hana, seolah hidupnya bergantung di sana.

“I know. But he was forced to marry her. I believe he doesn’t love her. In fact, he still loves me,” balas Victoria dengan yakin seraya menyambar botol red wine milik Xiumin dan menuangkannya ke gelasnya sendiri hingga penuh sebelum diteguknya habis.

Xiumin menatapnya datar, “And how about your husband?”

Victoria tertawa mendengar pertanyaan Xiumin.

“Zhoumi, maksudmu? Kami baru saja bercerai tiga bulan yang lalu,” jawab wanita itu enteng.

Xiumin telah menduga hal itu cepat atau lambat akan terjadi. Dan ternyata dugaannya itu tepat. Wanita di hadapannya ini menikahi Zhoumi hanya karena uang dan meninggalkan Kris yang saat itu belum meraih apa-apa dengan Dragon Team-nya. Tepat setelah Zhoumi mengalami kemunduran, wanita ini bosan dan merasa tidak ada hal yang perlu dipertahankan lagi. Dia mengenal Victoria dengan baik seperti dia mengenal Kris, tentu saja.

“Jadi, kau kembali hanya untuk menghancurkan pernikahan mereka?” lanjut Xiumin lagi.

Victoria menggelengkan kepalanya sebelum berkata dengan serius, “Tidak, tetapi untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Xiumin menangkap bahwa wanita ini akan melakukan apa saja untuk memisahkan Kris dan Hana. Maka dia membalas, “Kau tidak lupa apa yang telah kau lakukan kepada Kris, kan? You destroyed his life and now you want him to come back? Trust me, he won’t.”

“Yes, he will. He loved me and he still does. Lima tahun yang dulu kami lalui bersama bukan hal yang mungkin dapat dia lupakan dengan cepat, kan?”

Xiumin memilih menyerah, dia sedang malas berdebat dengan Victoria, “Yeah, maybe you’re right.”

Kali ini Victoria mengeluarkan seringai liciknya sebelum mendekatkan bibirnya ke telinga Xiumin dan berbisik, “And I surely need your help.”

Kris’ POV

Perlakuan Hana yang mendiamkanku sepanjang perjalanan pulang benar-benar membuatku frustasi. Kehadiran Victoria di acara makan malam yang sudah aku persiapkan dari tadi pagi memang menghancurkan segalanya. Aku sangat ingin menjelaskan tentang masa laluku dengan wanita sialan itu padanya namun aku tidak ingin konsentrasiku saat mengemudi terbagi dan membahayakan nyawa kami berdua. Lebih tepatnya, nyawanya. Aku tidak peduli jika aku harus mati saat ini, tetapi dia tidak. She deserves to live. And she deserves to be loved. By me, perhaps?

Black Rolls Royce milikku mulai memasuki halaman rumah dan kubelokkan setirnya untuk memarkirkannya di tempat biasa. Aku baru saja mematikan mesin dan hendak melepas sabuk pengamanku saat kusadari Hana telah membuka pintu mobil, beranjak keluar, dan melangkahkan kakinya dengan cepat untuk masuk ke rumah. Dengan terburu-buru aku segera mengejarnya dan meraih lengannya. Betapa terkejutnya aku saat dia menolak sentuhanku dan menatapku dengan tatapannya yang dulu, tatapan yang penuh dengan kebencian dan kekecewaan.

“Don’t you ever dare lay your dirty fingers on me,” geramnya.

Suaranya terdengar serak saat mengucapkan kalimat itu dan dapat kulihat genangan air mata di pelupuk matanya.

She’s mad at me.

Dia kembali melangkahkan kakinya namun dengan segera aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Dia meronta-ronta, memaksaku untuk melepaskannya, tetapi aku menolak. Dapat kurasakan punggungnya yang menempel erat di dadaku mulai bergetar hebat sebelum aku mendengar isakannya. She’s crying again, because of me. Aku benci hal ini. Dia selalu menangis saat bersamaku. Padahal baru kemarin malam kami merasa bahagia, detik ini aku kembali membuatnya marah dan kecewa. Aku membenamkan wajahku di lehernya dan kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Maafkan aku jika aku egois, but no matter what happens, I will never let you go, Hana.

Author’s POV

Hana berhenti menangis saat dia merasakan bibir Kris yang menyapu pundaknya. Dengan cepat dia membalikkan badannya menghadap Kris. Kris sudah siap untuk memeluknya lagi saat dia merasakan kontak keras yang terasa di pipinya.

Hana menamparnya.

“Berani-beraninya kau menyentuhku setelah kau memperlakukanku seperti budakmu di hadapan wanita tadi,” geramnya.

“Aku tidak memperlakukanmu seperti budakku,” balas Kris.

“Siapa wanita itu?” tanya Hana.

“Victoria.”

“Yang aku maksud adalah nama aslinya, Kris,” lanjut Hana lagi.

Kris membuang napas berat sebelum akhirnya menjawab, “Song Qian.”

Hana tertawa miris, “Song Qian, Son Hana. Wajah kami begitu mirip. Apa ini alasan di balik perlakuanmu selama ini, Kris?”

“Apa maksudmu?”

“Kau selalu memperlakukanku dengan kasar, setelah itu kau memohonku untuk tidak meninggalkanmu, namun keesokan harinya kau melakukan hal yang sama lagi. Apakah aku sangat mengingatkanmu padanya?”

Kris hanya terdiam sambil menatap Hana dingin. Membahas Victoria adalah hal yang paling dibencinya saat itu.

“Jawab, Kris!” desak Hana.

“Kau tidak memiliki hak apa pun untuk memaksaku menjelaskan tentang dia padamu,” balas Kris.

Hana terhenyak mendengar jawaban Kris dan nada bicara Kris yang telah berubah menjadi datar dan dingin.

kris72

The dominant Kris is back.

Kris melepaskan kancing kemejanya satu persatu sambil berjalan mendekati Hana yang sedang melangkah mundur menjauhinya. Sampai akhirnya Hana merasakan tembok dingin di punggungnya dan dia tahu, dia tidak bisa melarikan diri lagi dari pria di hadapannya ini. Kris meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepala Hana, mengurungnya agar dia tidak bisa menghindar. Perlahan, Kris mendekatkan bibirnya ke bibir milik Hana namun dengan cepat Hana menolehkan wajahnya, menolak Kris. Kris tertegun sebentar, rahangnya mengeras, menandakan ego-nya telah kembali. Dia menggeram dan menggunakan satu tangannya untuk mencengkram dagu Hana untuk menahannya, kemudian dia menekankan bibirnya dengan paksa ke atas bibir Hana. Hana menutup bibirnya rapat-rapat. Kesal, Kris beralih melayangkan ciumannya ke rahang dan leher Hana. Dia merasakan tubuh Hana bergetar hebat sebelum didengarnya isakan kecil yang keluar dari bibir Hana.

“Don’t touch me! I hate you, Kris. I really hate you!” teriak Hana frustasi.

Kris tersentak dan memilih untuk melepaskan tubuh gadis itu. Hana menutup mulutnya sedangkan air matanya sudah mulai berjatuhan dari sepasang mata berwarna cokelat miliknya. Hana berlari keluar rumah, sementara Kris hanya diam terpaku di tempatnya berdiri tadi. Mencoba mencerna apa yang baru saja dilontarkan oleh istrinya itu.

“She hates me?” tanyanya yang lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.

Entah mengapa Kris betul-betul merasa sakit kali ini. Sakit yang sudah lama sekali tidak pernah dirasakannya. Sebuah perasaan yang pernah hilang dari raganya. Kris terus berpikir dan tanpa dia sadari dia telah melangkah memasuki kamar mandi pribadinya. Dia menghentikan langkahnya di sebuah cermin yang tergantung dan menatap bayangan yang terpantul di sana.

“Do I love her this freaking bad?”

Dia memandang cerminan dirinya sendiri, terlihat begitu menyedihkan. Kris bahkan tidak mengenali dirinya sendiri. Kemejanya yang tadi rapi kini beberapa kancingnya telah terbuka dan tampak kusut, begitu juga dengan rambutnya. Kata-kata Hana yang menyatakan bahwa gadis itu membencinya kembali terngiang dalam benaknya. Tangannya terkepal kuat, napasnya memburu.

‘Braaakkk!’

Dia memukul kaca itu dengan tangan kanannya, membuat suatu cairan berwarna merah keluar dari suku-suku jarinya. Dia kembali merasa tidak berguna kali ini.

‘I can’t live like this. I have to find her. I don’t wanna lose my life for the second time.’

—–

chanyeol71

Chanyeol menyesap kopinya dalam-dalam. Ini sudah gelas ke sekian, dia bahkan sudah malas menghitungnya, tetapi semua perkerjaannya tentang Dragon Team betul-betul membuatnya ingin membuang tanda pengenal polisi miliknya jauh-jauh. Tetapi tentu saja setelah semua yang terjadi selama ini, dia tidak mungkin menyerah begitu saja. Dia melirik Sehun sekilas yang datang dengan terburu-buru, membawa setumpuk map di tangan kanannya. Kedatangannya yang tiba-tiba tentu saja mengherankannya. Wajah Sehun tampak berwarna merah, mungkin kelelahan atau panik? Entah lah, Chanyeol sama sekali tidak ingin peduli kali ini.

Sehun agak terkejut melihat Chanyeol yang terlihat sama sekali tidak semangat. Ini bukan seperti Park Chanyeol yang dia kenal, pria itu biasanya selalu ceria dalam keadaan apa pun, sesuatu terlintas begitu saja di benak inspektur baru itu.

‘Apakah ini karena Hana?’

Sehun ingin sekali bertanya langsung tentang hal tersebut, tetapi melihat Chanyeol seperti ini, dia merasa lebih baik untuk membiarkan Chanyeol bermain dengan pikirannya sendiri.

“Sehun, aku pulang duluan,” suara berat itu menyadarkan Sehun dari keseriusannya menyelidiki sebuah file penting tentang kasus yang tengah ditangani mereka. Dia sebenarnya masih tidak percaya, tetapi apapun bisa terjadi dalam dunia mafia maupun polisi.

“Yeah. Hati-hati, hyung,” balas Sehun dengan disuguhi senyum manis yang tampak lelah itu.

Chanyeol mengangguk sekali lalu segera beranjak dari tempat favoritnya tersebut.

—–

Pria berambut cokelat itu menyetir dengan pikiran kalut. Terkadang dia merasa ada yang salah dalam dirinya. Dia tidak benar-benar mencintai Hana, kan? Gadis itu telah menjadi milik orang lain, walau dia tahu pria itu bukanlah yang terbaik untuk Hana, tetapi dia dapat membaca dari pancaran mata Hana bahwa gadis itu sangat mencintai Kris.

chanyeolshouse71

Chanyeol memakirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang terlihat minimalis miliknya itu. Tetapi dia heran saat melihat sebuah mobil terparkir di pekarangan rumahnya. Bukan, itu jelas bukan mobil salah satu anggota timnya. Sebuah mobil SUV dan tiba-tiba satu nama yang sebenarnya sedari tadi telah hadir dalam pikirannya kembali muncul.

“Hana?”

Dia berjalan cepat, nyaris berlari mendekati mobil itu, menghampiri sisi kemudinya dan mengetok kacanya beberapa kali. Tak lama, kaca mobil tersebut telah diturunkan dan Chanyeol segera tersenyum menyambut gadis pengendara SUV tersebut.

“Aku sudah menduga hal ini akan terjadi,” kata Chanyeol pelan.

Hana hanya tersenyum pelan membalas senyuman Chanyeol. Gadis itu seperti merasakan de javu. Chanyeol menarik kunci mobil Hana sembelum membukakan pintunya dan mempersilahkan wanita itu untuk keluar.

“Ayo, masuk,” ajak Chanyeol ramah.

“Chanyeol-ah,” bisik Hana hampir tak terdengar.

“Ya?” tanya Chanyeol.

“Maaf, aku tidak tahu harus ke mana lagi,” jawab Hana sambil menundukkan kepalanya.

Chanyeol kembali tersenyum, senyum yang terasa seperti menenangkan bagi Hana. Senyum yang sangat tulus, senyum yang sebenarnya dia harapkan dari dulu diberikan oleh Kris. Apa yang pernah dikatakan Chanyeol kepadanya dulu memang benar, Kris bukan lah pria yang tepat untuknya. Namun di dalam hati kecil Hana, dia juga merasa tidak pantas untuk Kris.

“Tidak masalah. Kita teman, kan? Kau bisa ke sini kapan pun kau mau,” balas Chanyeol lagi.

Untuk sesaat Hana merasa betul-betul tenang. Dia ingin sekali melupakan Kris. Mungkin terlihat seperti lari dari masalah, tetapi jika terus memikirkan hal itu, dia bisa benar-benar gila.

“Isn’t it true? Kris tidak akan pernah balas mencintaiku, kan?” gumam Hana pelan secara tiba-tiba.

Chanyeol dapat mendengar ucapannya itu dengan jelas, namun dia tidak berniat untuk meresponnya karena dia tidak mau Hana merasa tertekan setelah mendengar hal yang sangat ingin dia katakan. Chanyeol memilih untuk terus melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah, membiarkan Hana mengikutinya di belakang.

—–

Chanyeol menguap ketika sinar matahari pagi menusuk masuk menembus kelopak matanya. Badannya sedikit pegal karena harus tidur di sofa yang tidak terlalu lebar yang terletak di sudut kamarnya dan merelakan kasur nyamannya digunakan oleh ‘tamunya’. Perlahan, dia membuka mata khasnya yang berukuran lebih dari pria Korea normal. Betapa terkejutnya saat dia mendapati Hana sedang tersenyum di hadapannya dengan bayangannya dibiaskan oleh sinar mentari pagi. Pagi ini layaknya pagi terbaik yang pernah dialaminya. Jika boleh berandai, Chanyeol ingin sekali pagi-pagi selanjutnya dia akan terbangun seperti ini, dengan Hana di dekatnya. Tetapi dia tahu, bukankah itu permintaan yang terlalu besar?

“Bangun, pemalas. Kau harus ke kantor, bukan?” sapa Hana kepadanya.

Chanyeol hanya membalas perkataan Hana tersebut dengan senyum cerahnya, “Iya, sebentar lagi, nyonya. Beri aku waktu karena aku masih ingin menikmati pagiku.”

Hana mengangguk dan membiarkan Chanyeol merenggangkan otot-ototnya terlebih dahulu sebelum mandi dan bersiap-siap. Dia membalikkan tubuhnya, melangkahkan kakinya menuju pintu kamar tersebut dan berkata, “Kalau begitu biar aku siapkan sarapanmu.”

Chanyeol kembali tersenyum mendengarnya. Sebenarnya dia ingin memandang Hana lebih lama lagi, tetapi dia tidak ingin memaksakannya. Terkadang, dia merasa si bajingan itu betul-betul beruntung, dicintai oleh gadis seperti Hana. Dan itu membuatnya benar-benar iri.

“Hana,” panggilnya lirih.

“Ya?” jawab gadis itu seraya berbalik.

hana71

Chanyeol tergagap bingung mendapati dirinya yang tiba-tiba bangkit dari sofa ruang santai dan kini telah tepat di belakang Hana. Dia bahkan tidak tahu mengapa dia reflek menyebutkan nama gadis itu saat tengah memandangnya menyiapkan sarapan. Dia hanya berdiri mematung, diam membisu, dan tidak tahu harus menjawab apa. Salah satu alis Hana terangkat, menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir Chanyeol. Tetapi pria itu terus diam dan tampak bingung.

“Kau tidak berniat untuk menyuruhku keluar sekarang, kan?” tanya Hana tiba-tiba dengan polosnya.

Chanyeol tentu saja menggeleng dan nyaris tertawa terbahak-bahak sebelum membalas, “Tidak, tentu saja tidak. Ah, lupakan saja. Kau lanjutkan saja apa yang sedang kau lakukan tadi.”

Hana mengangguk dan segera melesat keluar dari kamar milik pria itu. Dia memang tidak bisa selamanya berada di sini untuk tinggal bersama Chanyeol, tetapi dia masih belum ingin menemui Kris dan menyelesaikan masalah mereka. Dia belum siap, dia takut kalau Kris akan marah padanya dan melakukan hal yang sangat dibencinya terhadapnya. Namun, dia lebih takut membayangkan jika pria itu akan kembali bersama Victoria dan meninggalkannya.

—–

Hana tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Sedari tadi dia hanyak duduk di sebuah sofa besar, sementara jempol tangannya terus menekan-nekan tombol-tombol di remote TV milik Chanyeol. Dia sebenarnya tidak berniat untuk menonton TV, tetapi semua yang bisa dia kerjakan telah diselesaikannya. Dia sudah menyiapkan sarapan untuk Chanyeol, merapikan kamarnya, dan membersihkan seisi rumah. Pria itu pulang sedikit telat sepertinya. Dan Hana tidak tahu apa lagi yang bisa dia lakukan sebagai ucapan terimakasihnya kepada pria itu.

Tiba-tiba dia mendengar bel rumah Chanyeol berbunyi.

‘Chanyeol sudah pulang rupanya,’ pikirnya.

Dia segera beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu. Namun betapa terkejutnya Hana saat mendapati yang berdiri di depannya bukan lah pria tinggi dengan senyumnya yang hangat itu.

“What are you doing here?!”

Suara itu terdengar kasar dengan nada seperti tidak suka. Hana mundur selangkah sebelum menurunkan pandangan matanya ke lantai, tidak berani memandang pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tajam.

“Well, lebih baik kau keluar sekarang. Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya!” bentak suara itu lagi.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” balas Hana.

sehun71

Dia memang tidak pernah berkenalan langsung dengan pria ini, tetapi Hana masih sangat mengingatnya. Oh Sehun, salah satu anggota kepolisian Seoul yang juga ingin menangkap Kris, hidup atau pun mati. Dan Sehun tentunya juga tidak menyangka akan menemukan gadis itu di sini, di rumah salah satu partner kerjanya. Tujuan awalnya adalah ingin mendiskusikan beberapa hal penting mengenai kasus jual-beli senjata yang dilakukan oleh Dragon Team dengan Chanyeol, namun siapa sangka dia malah bertatap muka dengan gadis milik ketua organisasi tersebut.

“Tidak usah pura-pura bodoh, Mrs. Wu. Cepat atau lambat kami pasti bisa menangkap Dragon team dan membuka semua kedok busuk mereka,” balas Sehun tajam sembari menatap Hana dengan penuh kebencian.

Hana tersentak kaget medengar dua kata yang terselip di antara kalimat-kalimat yang baru saja diucapkan oleh pria dingin itu.

Mrs. Wu.

Dia sudah tahu.

Melihat Hana tidak bergeming, Sehun melanjutkan, “Just go. And don’t disturb my friend‘s life anymore.”

Hana ingin membela diri, namun dia tahu hal itu tentu saja sia-sia. Dia tidak ingin membuat Sehun semakin marah kepadanya, kepada Chanyeol, sehingga menyebabkan masalah menjadi semakin besar. Dia seperti mengutuk dirinya sendiri yang selalu menjadi penyebab sebuah masalah. Masih teringat jelas olehnya bagaimana dulu kedua orang tuanya meninggal karena sesuatu yang secara tak langsung disebabkan olehnya.

Hana menatap mata Sehun yang dingin sekali lagi sebelum berbalik dan menyambar kunci mobilnya yang sudah seharian ini tergeletak di atas meja. Sebelum melewati pintu utama rumah tersebut, Hana harus kembali melewati pria itu.

“Tell you friend, thank you… And sorry for everything,” ucap Hana pelan saat berhenti sebentar di hadapan pria itu dan melanjutkan langkahnya keluar dari sana.

Sehun menghembuskan napas panjang. Dia tidak seharusnya kasar kepada wanita. Tetapi demi seluruh darah yang tengah mengalir pada dirinya, dia betul-betul membenci Kris dan Dragon Team. Dan tujuannya ke rumah Chanyeol hari itu ialah tidak lain untuk mendiskusikan rencana baru demi menghancurkan Kris dan seluruh organisasinya. Namun betapa kagetnya saat mendapati gadis yang baru beberapa minggu lalu dia ketahui sebagai istri dari ketua tim laknat itu di rumah partner kerja yang paling dipercayainya tersebut. Ternyata benar dugaannya selama ini, Chanyeol really has a thing for that woman.

—–

Jalanan tampak sepi karena Hana sendiri tidak tahu harus ke mana. Pandangannya kosong menatap jalan di depannya. Dia mengingat kembali kata-kata Sehun tadi. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan pengusiran dirinya yang sangat tidak terhormat dari rumah Chanyeol tadi, yang ada di pikirannya sangat ini hanyalah Kris dan keselamatan pria itu. Oh Sehun, ketua dari tim pihak kepolisian yang bertugas menghancurkan Dragon Team, sudah tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Sempat terbesit di benaknya bahwa Chanyeol yang membocorkan semuanya. Tetapi tidak mungkin, dia sangat percaya kepada pria itu. Dan Sora? Gadis itu sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri, dan lagi naluri sesama wanita tidak mungkin mengkhianati. Harus Hana akui bahwa inspektur baru itu benar-benar gigih dalam mengais informasi.

Hana tengah memegang pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit dengan satu tangan saat tiba-tiba segerombolan pria melintas ke tengah jalan dan menghalangi laju mobilnya. Dengan cepat Hana menginjakkan kakinya ke rem yang menyebabkan SUV miliknya berhenti dengan mendadak. Hana tidak berniat untuk turun dan meladeni orang-orang itu hingga salah satu dari mereka mengetok kaca mobilnya secara kasar.

“Hai, kau gadis yang berada di dalam, cepat keluar sebelum kami hancurkan mobil mahalmu ini,” ancamnya sambil memamerkan tongkat baseball yang dibawanya.

Tidak ada pilihan lain, Hana membuka pintu mobil dan berdiri di hadapan mereka, mencoba menyembunyikan rasa takutnya dan berkata, “Mau apa kalian?”

“Pretty girl,” komentar pria bertongkat baseball itu setelah melihat Hana.

“A tough one, I guess,” komentar yang lain sambil mematai Hana dari atas ke bawah, seperti menelanjanginya.

‘Empat orang,’ gumam Hana dalam hati.

“Apa yang kalian inginkan? Uang? Aku akan memberikannya sekarang,” kata Hana lagi. sekarang dia terlihat gemetaran dan membuat salah satu dari mereka tertawa mengejek.

“No, no, no. We don’t need your money, sweety,” jawab pria yang lain sambil melangkah maju, yang ini tatapannya benar-benar melecehkan.

“Kalau begitu aku pergi dulu,” ujar Hana cepat seraya berbalik untuk kembali ke dalam mobilnya.

Namun satu tangan milik pria yang berada di dekatnya menahan pintu itu.

“Where do you think you’re going, cutie?” tanya pria itu dengan nada manis sambil menggenggam pergelangan tangan Hana kuat-kuat yang membuat Hana merintih pelan.

“Yeah, kita baru saja ingin mengajakmu bersenang-senang,” kata pria lainnya.

Hana baru saja membuka mulutnya untuk berteriak saat salah satu dari mereka dengan sigap membekap dan menyeret tubuh gadis itu ke salah satu gang kecil dan gelap di pinggir jalan. Mereka mengurung tubuh gadis itu di ujung gang yang ternyata merupakan gang buntu. Hana bahkan sama sekali tidak dapat bersuara karena rasa takut yang sedang dirasakannya sekarang. Pita suaranya seperti kehilangan fungsinya saat salah satu dari pria-pria bajingan itu menarik kasar bagian depan kemeja yang digunakan Hana yang menyebabkan kancing-kancing kemeja itu berjatuhan.

“What a great body,” gumam pria itu.

Hana memekik pelan saat dia merasakan rahangnya dicengkeram yang memaksanya untuk mendongakkan kepalanya, memberi akses untuk pria-pria itu untuk mulai menjelajadi leher dan dada Hana. Saat itu lah Hana tersadar, dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak meminta tolong yang mendapat balasan tamparan keras di pipinya.

“Shut the fuck up, you bitch. Kau akan menikmati ini.”

Darah Hana mendidih mendengar panggilan hina itu. Dengan mengambil segala risiko, gadis itu menendang pria di hadapannya tepat di daerah rawannya. Pria itu lantas terjatuh dan Hana dengan sigap mencoba untuk melarikan diri. Namun tindakannya itu sia-sia, karena masih tersisa tiga pria lagi yang menghalangi jalannya. Melihat salah satu teman mereka tergeletak kesakitan, ketiga pria itu semakin beringas. Salah satu dari mereka yang mempunyai banyak piercing di telinganya menjambak rambut Hana dengan kasar dan mendorong tubuh gadis itu ke dinding. Hana merintih pelan akibat benturan yang menyakitkan pada kepala dan punggung nya. Tetapi rasa sakitnya itu segala hilang dan berganti dengan rasa takut saat kedua tangannya ditahan oleh pria yang mendorongnya tadi. Sementara pria yang lain memegangi kedua lututnya agar tidak dapat bergerak. Kedua mata Hana mengerjap panik saat dia mendapati satu pria yang tersisa tepat berada di depannya, di jarak yang sangat dekat, hingga Hana dapat mencium bau alkohol memuakkan yang keluar dari napasnya.

“You like it rough, don’t you? Fine, we will do it rough,” desis pria itu di bibir Hana.

“Please, don’t…” mohon Hana sambil terisak ketika dia merasakan ciuman-ciuman basah dan kasar di leher dan tulang selangkanya.

Kedua pria yang menahan tubuh Hana agar tidak dapat bergerak hanya tertawa licik mendengar permintaan Hana dan melihat tangan lihai teman mereka mulai bergerak secara kasar di atas tubuh Hana. Gadis itu semakin kuat meronta yang semakin mengundang tawa ketiga pria itu.

“Chanyeol…” desis Hana tanpa sadar.

‘Plak!’

Satu tamparan kembali dilayangkan ke pipi gadis tersebut.

“Jangan menyebut nama pria lain ketika sedang bersama kami,” desis pria yang sedang mengurung kedua tangan Hana sambil menjambak rambut Hana lebih kuat lagi.

“Chanyeol, tolong…” pinta Hana lagi. Kini air mata mulai menuruni pipinya yang memerah akibat tamparan-tamparan mereka. Entah mengapa di saat seperti ini, dia sangat mengharapkan kehadiran pria itu, pria yang selalu muncul saat dia sedang mengalami kesulitan.

Tampaknya ketiga pria itu sudah tidak peduli dan melanjutkan kembali kegiatan mereka. Pria di hadapan Hana tengah sibuk menjilati daerah depan tubuh Hana, sementara pria yang lain sedang menggigiti daun telinga Hana, dan pria yang berada di bawah tubuh Hana berkutat memberikan ciuman-ciuman kasar di sekitar paha gadis itu. Hana memejamkan matanya, mencoba menahan rasa sakit dan rasa jijik terhadap dirinya sendiri yang tidak dapat melakukan perlawanan apa-apa.

Napas Hana tertahan saat dia menyadari salah satu dari mereka sedang berusahan untuk melepaskan ikat pinggang yang terpasang di celana jeans miliknya.

“Jangan—“

‘Dor! Dor! Dor!’

Terdengar bunyi tiga tembakan seiring dengan hilangnya segala sentuhan yang tadi menghantui tubuh Hana. Hana membuka kedua matanya untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya dia saat mendapati ketiga pria yang tadi tengah berusaha untuk memerkosanya kini telah terkapar di tanah dengan luka tembak di kepala masing-masing. Gadis itu kontan memekik keras dan menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. Namun tiba-tiba dia merasakan tubuhnya ditarik ke dalam pelukan seseorang.

“Chanyeol?” tanyanya lirih.

Hana merasakan tubuh pria itu menegang dan berusaha melonggarkan pelukannya tetapi Hana menolak. Dia semakin mempererat tangannya yang melingkar di pinggang pria itu dan menangis di dadanya.

“Ssh, Hana, it’s okay. Semuanya akan baik-baik saja.”

Hana betul-betul terkejut mendengar suara itu.

“Kris?”

Hana buru-buru melepaskan pelukan itu dan menengadahkan kepalanya untuk memastikan. Benar, pria yang baru saja menyelamatkannya dan saat ini tengah memeluknya dengan erat, seolah-olah dirinya adalah harta paling berharga, adalah Kris. Tatapan mata pria itu seolah menyiratkan… Entah lah, Hana hanya termangu menyadari kehadiran pria itu di hadapannya. Tampaknya Kris sadar akan kekagetan Hana dan mulai membelai pipi gadis itu dengan lembut.

“It’s okay. You’re safe now. You’re with me,” kata Kris pelan sebelum kembali memeluknya.

Kris menempatkan dagunya di puncak kepala Hana dan menghirup dalam-dalam wangi rambut gadis tersebut. Rasa marah yang dipendamnya kemarin akibat larinya Hana dari hadapannya kini telah benar-benar sirna, berganti dengan rasa marahnya terhadap diri sendiri yang datang terlambat dan membiarkan gadis rapuh di pelukannya itu disentuh oleh pria selain dirinya. Mengingat pemandangan yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa menit yang lalu, rahangnya mengeras. Nyawa tidak cukup untuk menghilangkan trauma yang dialami Hana.

Kris mengecup pelan puncak kepala Hana dan menguraikan pelukannya.

“Do you want to go home now?” tanyanya hati-hati.

Hana tidak bersuara, hanya menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian Hana mendapati Kris melepaskan jas hitam yang dia kenakan dan mengenakannya di tubuh Hana untuk menutupi bagian tubuh gadis itu yang terbuka, sebelum merangkul tubuhnya dan menuntunnya untuk keluar dari gang itu. Hana segera membenamkan wajahnya di leher Kris, tidak mau melihat pria-pria yang telah tergeletak tak bernyawa di hadapannya akibat tembakan jitu leader dari Dragon Team itu. Namun ternyata keputusan Hana salah, dengan posisi seperti itu dia dapat benar-benar mencium aroma tubuh  Kris yang maskulin. Hana memejamkan matanya dan mencoba menikmati momen singkat mereka itu.

Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan pintu Black Rolls Royce milik Kris dan mau tak mau Hana harus melepaskan dirinya dari pelukan pria itu saat mendapati pintu penumpang telah dibukakan untuknya. Hana masuk dan tidak berselang lama Kris telah turut masuk dan duduk di sebelahnya, di kursi pengemudi. Menit demi menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda Kris akan menyalakan mesin mobil. Hal itu membuat Hana heran dan menengokkan kepalanya ke arah Kris. Dilihatnya Kris sedang menatap kosong ke depan tanpa bergerak sedikit pun.

“Kris?” panggilnya.

Namun Kris tetap tak bergeming. Hana memutuskan untuk mengulurkan tangannya dan menyentuh lengan pria itu.

“Kris? What’s wrong?” tanyanya lagi.

“You, stupid, headstrong, and stubborn woman. What did you do to me?” jawab Kris frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, tetapi pria itu sama sekali tidak berani menatap Hana saat mengucapkan kalimat tersebut

“I’m sorry… Yes, I was so stupid and headstrong and stubborn and it’s such a bothersome for you to have a wife like—“

“No no no! That’s not what I mean!” balas Kris cepat dan meraih tangan gadis itu untuk digenggamnya dengan erat.

Hana hanya bisa terdiam melihat Kris tetap tidak sekali pun menoleh ke arahnya. Setelah kembali hening untuk beberapa saat, suara berat milik Kris kembali terdengar.

“Hana, I was so afraid…” bisik pria itu

Hana menatapnya dengan tatapan bingung.

Maka Kris melanjutkan, “I thought… I thought I would lose you again.”

Hana merasakan genggaman tangan Kris mengerat dan dalam hitungan detik, tubuhnya telah terkurung di dalam pelukan pria itu.

“Aku sudah seperti orang gila setelah kakimu beranjak meninggalkan rumah kita. My heart wanted to run to you, but my body betrayed me. Saat kau sudah melangkah terlalu jauh, aku tersadar… I was—no, I am afraid of losing you.”

Napas Hana tercekat mendengar pernyataan Kris.

Namun belum sempat gadis itu menarik napasnya kembali, Kris melanjutkan, “And now… I am afraid of falling for you as well.”

TO BE CONTINUED

a/n: HELLOOOOO! WE MEET AGAIN! Pertama-tama, mumpung sekarang udah mulai memasuki bulan Ramadhan, kami mau meminta maaf sebesar-besarnya karena udah lama ga update TFOFFY ini hehehehe jujur aja sempet kena writer’s block juga. Terima kasih juga yang udah rajin nagih author-authornya dan sabar mau nungguin ff ini 🙂 Sooo, how was it? Not one of our great chapters, yes we know. But at least… Could you give us some comments and let us know what are you thinking about this chapter? 😉 Let’s hope we can update Kai’s side story part 2 or chapter 8 soon!

Advertisements

333 responses to “The Fear of Falling for You: Chapter 7

  1. Aigoo nih ff udh dr jaman ak msih klas 1 SMA ampe’ aku udh kuliah msih blom ad lanjutannya huwahhh author lanjut dong aku slalu bolak balik page ini cmn nyari apakah ff ini udh d lnjut apa blom..

  2. Seriusan bolak balik baca ff ini cuma mau tahu kelanjutan tetapi belum juga dilanjut2kan. Udh lebih dri 5 kali baca nih ff tpi gk bosan2 jga. Penasaran banget. Kak lanjutkan dong. Please

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s