To Daddy, With Love — Four

ImageAuthor: AutumnHearts on Asianfanfics

Translator: anonyx (@owlssi)

Editor: RiChan (@Ambar_Rizka)

Cast: Kim Jongin and Park Taehee

Note: Cerita ini sepenuhnya milik AutumnHearts yang saya terjemahkan dengan izin sang penulis.

Previously on To Daddy, With Love; Prologue – One TwoThree

Stealing/plagiarizing is prohibited. I will hunt down whoever stealing/plagiarizing this translated story.

Taehee masih tidak mengerti mengapa ia menerima tawaran Jongin untuk tinggal bersamanya. Mungkin saat itu, ia terlalu lemah. Tetapi sekarang, ia tidak bisa memengaruhi Jongin maupun dirinya sendiri. Ia perhatikan lelaki tinggi nan tampan di hadapannya yang sedang membuka pintu apartemen, yang kemudian meminggir.

“Buatlah dirimu senyaman mungkin.” Jongin mempersilakannya masuk, seperti gentleman saja.

Taehee memasuki apartemen yang tidak ia kenal, dan merasa tidak pantas berada di sana. Apa yang sedang ia lakukan di sini? Kenapa ia mudah sekali dipengaruhi hanya dengan ajakan seperti itu?

“Mandilah, aku akan menyiapkan makanan,” kata Jongin dengan kelembutan yang cukup dipaksakan sembari menaruh tas Taehee di lantai. “Kamar mandinya ada di pintu kedua sebelah kananmu,” tambahnya.

Setelah memberitahu Taehee bahwa Jongin akan membawa barang-barang Taehee ke kamar barunya, Jongin kemudian menghilang. Taehee berjalan ke arah kamar mandi, mencuci tangan dan wajahnya. Air dingin dan butiran air yang berkilat di bawah sinar lampu membuatnya sedikit lebih rileks. Kamar mandi ini luas, berwarna biru dan rapi.

Taehee sudah keluar dari rumah sakit sejak beberapa jam yang lalu dan Jongin membawanya pulang. Jadi, ia bisa mengepak beberapa pakaian dan barang-barang lainnya. Walau sering membuatnya bingung, Jongin benar-benar seorang gentleman. Dan mungkin, memang seperti itulah dirinya.

Aroma makanan yang menggoda tercium olehnya, dan Taehee berjalan perlahan ke arah dapur. Betapa terkejutnya ia menemukan banyak makanan di atas meja makan. Makanan itu lebih cocok untuk dimakan dua belas orang, bukan untuk dua orang! Dan orang yang menyiapkan makanan ini sangatlah seksi. Ia mengenakan kaos hitam dan celana jeans yang sudah robek, dengan apron putih yang mengelilingi tubuh seksinya, rambut yang dibiarkan berantakan, dia benar-benar mampu merangsang nafsu siapa pun. Taehee berdiri di dekat meja makan dengan canggung, mencoba mengenali makanan di hadapannya. Sayang sekali, ia tidak berhasil.

“Oh, hei.”

Jongin membalikkan badan tiba-tiba, menggenggam panci di tangannya.

“Silakan duduk. Makanan akan siap sebentar lagi.”

Dan kemudian Taehee duduk. Tak beberapa lama, Jongin menempatkan makanan—entah apa yang ia masak—ke dalam mangkuk, dan kemudian duduk di hadapannya. Lalu ia sajikan semua makanan yang sudah ia buat. Banyak dari makanan tersebut mengandung protein, dan mata Taehee membesar karena tidak dapat mengingat semua makanan yang disediakan. Jongin menaruh sedikit dari setiap makanan yang ia buat ke piring Taehee, menunggu dengan gugup saat Taehee mencicipinya.

“Jadi? Bagaimana?” tanya Jongin harap-harap cemas.

“Ini lezat.”

Ya Tuhan, Kim Jongin sangat pintar memasak!

Keheningan terbentuk di antara mereka, di mana Taehee makan dengan sangat perlahan dan Jongin memperhatikannya dengan senyum konyol yang terpampang di wajahnya. Tiba-tiba, rumahnya terasa lengkap, kehadiran Taehee memberikan warna di apartemennya.

Dan dalam saat-saat yang berbahagia tersebut, Jongin menanyakan pertanyaan yang fatal.

“Kau sudah memberitahu orangtuamu?”

Taehee dengan jelas berhenti makan dan menempatkan sumpit di samping piringnya. Khawatir, Jongin bercuap tentang ini dan itu, mencoba memperbaiki atmosfir.

“Aku tidak punya orang tua,” balas Taehee dingin. Tangannya ia letakkan di atas perutnya yang masih rata.

Jongin berhenti bercuap-cuap dan menatap Taehee bertanya-tanya.

“Aku yakin kau penasaran kenapa aku ingin menjaga bayi ini.” Kemudian Taehee bersuara dan Jongin hanya mengangguk pelan.

Ini adalah kisah hidup Taehee yang sudah lama sekali tidak ia ungkit. Dan ia merasa aneh untuk menceritakannya. Karena, satu hal yang Taehee benci adalah dikasihani oleh orang lain.

“Karena aku tidak ingin seperti orangtuaku. Kau lihat, Jongin, aku ini anak yang tak diinginkan. Aku ditinggalkan di depan pintu panti asuhan. Karena mereka tidak ingin bertanggung jawab akan hidupku, dan tidak berarti aku tidak akan bertanggung jawab akan anak ini. Kau lihat, janin yang kukandung ini tidak hanya anakmu, tetapi juga anakku. Dan aku tidak akan berputus asa untuknya, apa pun yang terjadi.”

Kata-kata Taehee penuh dengan keyakinan, atau mungkin saja ia berbual. Dia dibuang, dia membesarkan dirinya sendiri. Tapi sekarang, ia mengatakan semua itu seperti tak ada artinya. Jongin dapat melihat, di balik topeng yang Taehee pakai—atau mungkin itulah yang ingin ia percayai—tapi bagaimanapun, Taehee memang wanita yang tangguh.

Jongin mengangguk, kembali memilih-milih makanannya.

“Sejujurnya, aku masih belum siap menjadi seorang ayah.” Mata gelapnya menatap wajah mungil Taehee.

Taehee memiringkan kepalanya sedikit, meminta Jongin untuk melanjutkan.

“Aku pun tidak pernah diasuh oleh orangtuaku sejak masih kecil. Hanya aku dan kakak-kakakku. Jadi, aku takut tidak akan menjadi ayah yang baik. Tapi tetap saja, ikatan ini tidak akan mudah lepas.” Jongin berhenti sesaat, matanya menatap perut Taehee yang ada di tutupi oleh meja. “Kita memang tidak dalam hubungan yang baik, dan kita tidak akan menikah, tetapi selama anak ini akan tumbuh dewasa dalam sebuah keluarga dengan orangtua, aku rasa sudah cukup.”

Kata-katanya memang menyakitkan, tetapi Taehee tahu dia berkata jujur. Mereka bukanlah kenalan, mereka hanya orang asing satu sama lain. Musuh. Apapun hubungan yang mereka jalin. Mereka tidak memiliki komitmen untuk satu sama lain, hanya untuk anak mereka yang belum lahir.

“Aku akan tinggal bersamamu hingga anak ini lahir,” tambah Taehee, setelah meredakan rasa panas di tenggorokannya dengan menegak segelas air putih.

“Tidak akan ada komitmen di antara kita. Hanya saja, anak ini akan mengetahui orangtuanya. Dan, jika kau atau aku memutuskan akan menikah nanti, kita tidak berhak mencampuri urusan satu sama lain.”

Jongin mengangguk. Betapa datarnya obrolan mereka. Mungkin inilah yang terbaik. Karena dengan begitu, mereka dapat menghindari perasaan tak berguna.

***

Suatu siang ketika Jongin pulang, dua minggu sejak Taehee tinggal bersamanya, Jongin melihat Taehee di ruang tamu, tergeletak di atas meja dan menggambar dengan penuh nafsu.

“Selamat datang,” sambut Taehee dengan anggukan sedikit dan meliriknya, kemudian kembali menggambar.

Ini adalah kejutan untuk Jongin. Dia tidak tahu jika Taehee sebegini berbakatnya. Dan lagi-lagi, dia hanya tahu sedikit tentang Taehee. Hubungan mereka hanya sebatas kehamilan Taehee. Ia rawat Taehee, menemaninya periksa ke dokter, dan mengikuti setiap nasihat Yixing. Karena hanya itulah cara terbaik untuk menjaga ketenangan.

“Aku membuatkanmu teh hitam.” Taehee mendadak teringat dan lekas berdiri, lalu terburu-buru pergi ke dapur.

Jongin tertawa sedikit, kemudian mendekati kertas A3 kepunyaan Taehee untuk melihat apa yang membuatnya sibuk. Rupanya, Taehee menggambar pemandangan di malam hari. Sebuah pohon yang menyembunyikan bulan di balik cabangnya, dan kerangka kota yang dibuat dengan keahliannya. Anehnya, gambar ini mirip sekali dengan pemandangan dari kamarnya….

Di kantor, semua orang sudah mengetahui akan kehamilan Taehee, walaupun tak ada satu pun yang tahu siapa ayahnya. Dan, seperti yang sudah diperkirakan, Jongin dibombardir ribuan pertanyaan. Dan, yeah, dia tidak tahu harus berkata apa dan tidak merepotkan diri untuk menjawab semua pertanyaan. Jadi, hanya Sehun yang mengetahui bahwa ialah sang ayah dari anak Taehee.

Jongin tersandung bungkusan kosong keripik dan kue kering. Alis matanya menyatu, pura-pura marah. Kemudian, Taehee kembali dari dapur dengan membawa teh untuknya.

“Kau membeli makanan ringan lagi?” tanyanya dengan nada dibuat-buat.

“Tidak,” bohong Taehee, menggelengkan kepalanya cepat-cepat dan menempatkan cangkir teh di meja kecil, di mana masih ada sedikit tempat.

Kemudian, Jongin menunjukkan bungkusan kosong kepadanya dan Taehee mengerutkan bibirnya dengan lucu lalu mendekap kedua tangannya. Dia terlihat menggemaskan.

“Oke … ya, aku membelinya….” Dia mengaku dan membuat Jongin terhibur.

Jongin tertawa dan mendekatinya untuk mengacak-acak rambutnya. Dia tarik kedua tangan Taehee dan mengejutkannya dengan sebungkus kue coklat. Mata Taehee seketika bersinar saat melihatnya. Jongin tahu, terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis tidak baik untuk mereka. Tetapi, setelah berkonsultasi dengan Yixing, dia baru tahu kalau sudah sewajarnya wanita hamil memiliki gejala seperti itu. Beberapa ada yang mudah lupa, sementara ada yang ingin makan terus, jadi tidak perlu ditanyakan lagi.

“Terima kasih!” Taehee berkata dengan riangnya, kemudian duduk diatas parket, membuka bungkusan dan ingin berbagi dengan Jongin.

Jongin menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mandi. Hari ini adalah hari yang panjang dan melelahkan untuknya. Dan sejujurnya, meninggalkan Taehee sendirian di apartemen ini bukanlah ide yang bagus, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Taehee melanjutkan menggambar pemandangan yang biasa ia lihat setiap hari. Seakan pemandangan itu terus menerus ada di kepalanya dan minta untuk di keluarkan. Setelah berhenti sejenak dari pekerjaan awalnya, semangatnya untuk menggambar kembali lagi. Dan ia memanfaatkan waktu dengan baik.

Taehee masih menggambar ketika Jongin kembali dari kamar mandi. Dan Jongin membuat dirinya senyaman mungkin di sofa, memperhatikan Taehee. Jongin membuat seluruh ruangan menjadi berbau sampo dan sabunnya; sandalwood dan asap. Indera penciuman Taehee terasa terbakar walau dia sudah mencoba untuk menahan diri. Jongin sedang menonton berita, tetapi beberapa saat kemudian ia tertidur.

Taehee memberanikan dirinya untuk melirik sosok Jongin yang sedang tertidur. Terinspirasi, Taehee menggambar sosok Jongin.

***

Petir mengamuk tepat di luar apartemen mereka, membuat Taehee terpaksa bangun dan berteriak. Suara petir yang lain terdengar dan membuatnya berteriak lagi, kali ini lebih keras. Ia meringkuk di tempat tidurnya dan menutupi kedua telinganya. Dia pejamkan matanya untuk menghilangkan ketakutan pada petir ini.

Potongan gambar berwarna hitam putih muncul di benaknya, mengingatkan dia ketika kabur dari panti asuhan setelah menemukan alamat ibunya. Dia berlari dalam badai musim panas, didorong keinginan untuk melihat ibunya. Ketika ia tiba di tempat tujuan, sebuah rumah di pinggiran kota Seoul, ia melihat seorang wanita yang sedang membacakan cerita kepada seorang anak lelaki dan kemudian mencium keningnya. Dia juga melihat wanita itu dipeluk seorang pria di ruang tamu. Mereka terlihat bahagia.

Di saat itulah Taehee sadar; di sana bukanlah tempatnya. Faktanya, dia tidak cocok berada dimana pun. Dia anak buangan. Karena tidak ada yang menginginkannya, karena ia tidak cukup baik.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun terlewat, ia baru merasakan betapa asin air matanya. Dia sendirian dalam kesedihannya.

Tidak ada orang yang akan−

Sshh, Sayang!”

Dia mendengar suara nan lemah lembut dan lengan yang memeluknya.

Jongin memeluk Taehee erat-erat. Untuk sesaat, Taehee tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun, tangisannya perlahan mereda dan seluruh tubuhnya terasa rileks berada di pelukan Jongin. Ia memegang erat tank top Jongin, terbuai akan aroma tubuhnya; sandalwood danasap.

“Jongin.” Ia memanggil nama Jongin, merasa lega dan agak sedikit takut.

“Aku di sini. Tidak akan ada yang menyakitimu.” Jongin menenangkan Taehee sembari mengelus rambut coklatnya.

Dengan mengecup keningnya, Jongin membaringkan Taehee dan menyelimutinya. Sebagai gantinya, Taehee menggenggam erat tangan Jongin, matanya berkaca-kaca dan memohon padanya untuk tetap tinggal.

Jongin penuhi permintaan Taehee, masuk kedalam selimut Taehee dan memeluknya. Tubuh Taehee sangat sempurna berada dalam pelukannya, mendekatkan dirinya pada dada Jongin. Jongin tidak dapat menahan untuk tersenyum saat memeluknya, siap untuk menjaganya.

Menggerakkan jemarinya diatas lekuk tubuh Taehee, Jongin merasa tulang pinggulnya mencuat, dan tak sengaja meringis. Taehee terlalu kurus. Telapak tangannya berhenti di atas gundukan yang mulai terbentuk di perut Taehee dan merasa bagian dalam dirinya memanas. Dia merasa protektif akan ibu dan anaknya. Taehee tidak pernah merasa selemah ini.

Park Taehee, Sang Iblis Kantor, yang tak pernah takut dan selalu menghadapi setiap dealer, sekarang bergumul dalam pelukannya.

“Kau tak bisa tidur?” Jongin bertanya, suaranya serak dan rendah.

Taehee menggelengkan kepalanya.

Keheningan menghampiri mereka, yang terdengar hanya suara rintik hujan.

“Bolehkah aku merasakan bayi kita?” tanyanya hati-hati, ketika pertanyaan itu keluar dari mulutnya, Taehee bangun secara tiba-tiba.

Jongin ikut terbangun, khawatir. Sesaat kemudian, Taehee berbaring kembali, menggelengkan kepalanya. Tampaknya ia lebih rileks sekarang.

“Kau boleh.” Taehee mengizinkannya.

Dengan Jongin mendekatinya, ia singkirkan selimut yang menutupi Taehee dan mencium keningnya. Jongin dapat merasakan Taehee gemetar saat ia sentuh. Tangannya ia lingkarkan ke pinggang Taehee dan membuka bajunya, menampakkan perut telanjangnya.

Nafas Taehee tertahan dan kehadiran Jongin memabukannya. Jongin mulai mencium-cium perut Taehee dan membuatnya menahan desahan. Jongin sangat mengerti dirinya. Atau ini hanyalah insting semata?

“J-Jongin….” Taehee menjambak rambut Jongin dan memaksanya untuk menghadapnya.

Jongin merasa puas dan menampakkan seringai khas badboy-nya yang menggoda.

“Ya, Sayang?”

Jongin mendongak, menopang dengan kedua sikunya di sisi pinggang Taehee.

“Aku ingin… kau bercinta denganku.” Taehee menuntut, membuatnya terkejut.

Ya, tidak terlalu terkejut, karena Yixing sudah mewanti-wantinya tentang hormon Taehee yang tak dapat dikontrol. Dan juga memperingatkan tentang tindakan seksual, karena Taehee adalah pengecualian.

Jongin menurut, karena dia juga menginginkan Taehee seperti Taehee menginginkannya.

Jongin mendekat, bibirnya menempel di bibir Taehee, saling menginginkan dan berbagi ciuman manis.

***

Allô!!! Chapter four is out! How’s? 😀

Oh ya, Nyx minta maaf jika punya kesalahan ya~

Selamat berpuasa bagi teman-teman yang menjalankan! 😀

255 responses to “To Daddy, With Love — Four

  1. Haduh bagian akhirnya bikin gereget thor ><
    Kasian ya taehee,dari kecil gk ngerasain kasih sayang orang tua .
    Semoga jongin berubah fikiran dan bisa nikah sama taehee.

  2. cie,,ciee,,kt nya gk bakal ada ikatan apa2,,,kl gini terus caranya pst ada apa2…wkwkwkwk…
    btw,ksian ya taehee sm jongin…kduanya sm2 anak terlantar…mdh2n mrk gk akn prnh bkin ank mrk mengalami yg mrk alamin dlu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s