[Chapter 3] The Second of Telepathy

Untitled-1-Recovered

[3rd] The Second of Telepathy

AUTHOR             : Ifaloyshee

MAIN CAST        :  Kim Sumin (OC), Oh Sehun,  Kim Jongin (Kai), Im JinAh (Nana), Choi Junhoong (Zelo), Kim Hyelim (Lime)

GENRE                 : Fantasy, Romance, Supranatural, Drama

DISC                      : The casts are not belong to me. The story-line, plot, ideas are comes from my mind. Dont copy  this story without my permission. And dont copy my idea, be creative pls.

RATING                               : PG. [ bakal sering naik seiring bertambahnya part] , Profanity, bloody and maybe….

 

Chapter 1 / Chapter 2

I present to you this New Character here

hhhhhh

>>>

Because there must be reason behind transition

>>> 

Sehun memasukkan sebuah lembaran emas tipis kedalam saku celana seragamnya seolah – olah ia mengantungi lembaran uang won tanpa memperhatikan nilai benda tersebut. Ia berjalan dengan tenang menuju studio dance yang berada di ujung koridor; dekat dengan ruang serbaguna untuk menemui Zelo.

Sebuah seringaian nampak diwajahnya, pertanda kalau ia puas. Puas bisa mendapatkan sebuah barang yang bisa ia curi saat pelajaran berlangsung tadi dengan tanpa meninggalkan jejak kecurigaan dimata sang pemilik. Bukankah ia hebat?

Sebuah license yang terbuat dari emas murni dengan panjang sekitar sepuluh centi berhasil ia curi dari dalam tas Sumin. License tersebut adalah suatu akta yang membuktikan bahwa Sumin adalah seorang demon, dan Sehun akan membawanya ke apartemennya untuk mencari tau lebih lanjut lagi. kali ini ia hanya bisa mengantongi license tersebut sampai sore nanti karena ada hal penting yang harus ia bicarakan dengan Zelo.

jjjj

Alunan Superbass milik Nicki minaj berdentum keras disebuah ruangan cukup luas yang terletak dilantai dua gedung sekolah Cheongnam high school, dimana disekolah ini terdapat dua gedung dengan masing – masing lima lantai dan sebuah lapangan besar diantara dua gedung tersebut. Terdapat lapangan basket, tennis dan softball di belakang gedung pertama. Sebuah kolam renang besar di rooftop dan berbagai fasilitas lainnya yang membuat Cheongnam high school menjadi salah satu sekolah dengan kualitas tinggi di Korea Selatan.

Oh Sehun berdiri diambang pintu studio dance. Pandangannya menyapu seluruh ruangan untuk mencari seseorang dan beberapa saat kemudian matanya menangkap sosok Zelo yang baru saja melompat dari hand-stand-nya dan mengelap peluh yang membasahi wajahnya. Begitu Zelo melihat Sehun, ia langsung mematikan speaker dan melambai kearah Sehun.

Sehun masuk kedalam—sekelompok group dance yang sedang menikmati air mereka langsung teralihkan perhatiannya—dan tersenyum ramah kearah group dance tersebut, dimana Zelo menjadi salah satu dari anggotanya.

“ah… aku tidak mengikuti kelas Anatomi dan kabur ke sini. Lagipula, Anatomi menjadi jam terakhir jadi tidak apa – apa kalau aku tidak mengikuti kelas itu, dan.. aku muak sekali dengan Tony saem. Dia selalu memberiku nilai jelek.”

Sehun hanya mengangguk – angguk saja sembari duduk disebelah Zelo. Dia sekarang mengerti kenapa setiap hari rabu dan sabtu Zelo seringkali menghilang setelah istirahat kedua dan tidak mengikuti jam terakhir.

Zelo meneguk air mineralnya sampai habis kemudian meletakkan botol yang sudah kosong itu dilantai. Wajahnya masih tampak penuh keringat begitu juga tubuhnya yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan berwarna abu – abu dan sweatpants. Tampak otot tangannya yang cukup kekar, wajar saja karena Zelo salah satu atlit berbakat disekolah ini.

“aku selalu menantikan hari ini. Kau sudah berjanji padaku mau memberitahuku banyak hal.” Sehun menyeringai dan Zelo hanya tertawa hambar. “aish, kau ini! Aku lelah sekali hari ini bisa kita tunda sa—“

Sehun melemparkan death-glare nya, membuat Zelo merinding selama beberapa detik.

“okay.” Ucap Zelo pasrah.

“bagaimana kalau nanti sore?  Di Coffee shop?“

***

At Coffee shop. 3PM

Terkadang, ada banyak hal yang tidak bisa Zelo mengerti dari manusia supernatural. Disamping ciri khas bola mata mereka yang memikat sekaligus beraneka warna kelam, mereka selalu diberikan keindahan tersendiri di wajah yang begitu mulus itu. Yang benar – benar Zelo tidak mengerti adalah… kenapa Sehun menanyakan tentang demon selalu kepadanya sedangkan jelas kalau Zelo hanyalah manusia biasa. Kenapa Sehun tidak bertanya pada Sumin saja?

Pertanyaan tak terjawab itu membuat Sehun menolehkan wajahnya kearah Zelo, sambil menyesap secangkir Americano ditangannya. Hal yang menarik dari Zelo adalah bahwa dia selalu memikirkan hal – hal secara gamblang dan dapat dengan jelasnya terbaca oleh Sehun.

Sudah tau begitu, Sehun tidak mau menjawab pertanyaan Zelo karena menurut Sehun, Zelo bisa menjawabnya sendiri… nanti.

“Berapa lama kau sudah mengenal Sumin?”

Zelo memalingkan wajahnya dari jendela.

“uh… saat aku baru masuk ke Cheongnam. Yeah, aku ingat kalau sewaktu itu kami berkenalan di gerbang sekolah dihari pertama menjadi murid SMA. Sudah sekian tahun.”

Sehun hanya mengangguk mengerti. “Apakah ada hal spesifik yang kau tau tentangnya?”

Zelo berjengit. Sebenarnya ia tau, cepat atau lambat Sehun pasti akan bertanya tentang hal ini namun terkadang ada beberapa dosa tersendiri yang dirasakan Zelo ketika ia membicarakan tentang Sumin pada Sehun. Bukan… bukan berarti Zelo berbicara buruk tentang sahabatnya..

Tapi terkadang Zelo kurang mengerti, mana yang rahasia dan mana yang bukan. Jadi ketika ia menginformasikan pada Sehun tentang Sumin, Zelo berpikir apakah itu rahasia atau bukan. Jika memang rahasia, Zelo akan berdosa karena menguaknya.

Zelo masih tampak berpikir. Tidak mengetahui bahwa Sehun sedang membaca pikirannya yang begitu gamblang itu, dan Sehun hanya diam saja menunggu jawaban apapun yang akan diucapkan Zelo. Sehun tidak akan marah seandainya Zelo tidak mau memberitahunya karena Sehun bisa mengerti bagaimana yang Zelo rasakan. Dan, Zelo sudah sangat baik karena selama dua minggu Sehun menjadi murid baru, yang selalu memandunya adalah Zelo. Yang membantunya untuk berbicara dengan Sumin walaupun sepatah dua patah adalah Zelo.

“dia seorang demon. Dan kau… kurang lebih seperti dia.” Zelo melihat garis membentuk lingkaran ditepi bola mata Sehun, warnanya hitam sedangkan bola mata Sehun cokelat kemerahan. Zelo tau kalau itu bukanlah softlens. Karena Zelo bisa menemukan hal yang sama dimata Sumin, lingkaran hitam ditepi bola mata dan bedanya, Sumin memiliki bola mata berwarna cokelat almond.

Sehun mengangguk. “Ya, kau cukup cermat juga. Bola mata seorang demon adalah yang paling indah, begitu yang aku dengar dari teman – temanku.”

Dan saat itu juga Zelo baru menyadari kalau Sehun bisa membaca pikiran.

Sehun tertawa pelan. “Yes. I can read human’s mind.

“damn you, dude!” desis Zelo sambil membuat gesture seolah – olah akan memukul Sehun.

“Ah, darimana kau tau kalau Sumin adalah demon?” Tanya Zelo penasaran. Sehun hanya mengangkat alisnya sambil melihat cangkir putih dihadapannya, pikirannya melambung pada saat itu; saat dimana ia dan Zelo duduk berdua ditepi lapangan basket. Zelo menanyakan hal yang sama namun Sehun saat itu tidak menjawabnya.

“Aku akan menjawabnya dan memberitahu siapa aku jika kita sudah cukup dekat. Mungkin dua minggu lagi.”

Begitulah ucapan Sehun sewaktu itu dan, sekarang ia akan menjawabnya. Zelo juga sudah berjanji pada Sehun kalau ia akan memberitahu semua hal yang ditanyakan Sehun padanya. Termasuk tentang Kai, saat itu Zelo hanya mengatakan kalau Kai adalah seseorang yang sangat berarti untuk Sumin.

“aku mengenal kakaknya.” Jawab Sehun singkat.

“kau mengenal Myungsoo hyung?”

“Yeah. Aku tidak mengenalnya secara pribadi tapi aku berhubungan cukup dekat dengan sahabatnya. Lee Donghae.”

Zelo hanya ber-oh ria kemudian menyesap Cappucino-nya.

“dan… ini.” Sehun mengeluarkan license milik Sumin dari balik sakunya dan meletakkan lembaran emas itu diatas meja yang langsung membuat Zelo membelalakkan matanya kaget. “darimana kau mendapatkannya?!”

“Aku mencuri dari dalam tasnya.”

“Hey kau—“

“aku akan mengembalikannya. Tenang saja.”

“tapi—ah, aku harap kau tidak memiliki maksud apapun padanya. Maksudku, Yeah.. hidupnya sudah cukup menderita. Aku tidak mau kau mengganggunya.”  Ucap Zelo melirik license tersebut. Takut kalau Sehun akan berbuat macam – macam pada benda berharga Sumin. Zelo benar – benar serius dengan perkataannya, ia menantang tatapan Sehun. Nada bicaranya terdengar sedikit mengancam.

“Tentu saja tidak. Aku justru ingin membantunya. Kalau aku kenal baik dengan sahabat kakaknya, jelas aku bukanlah orang jahat untuk Sumin.”

Zelo mengangguk, ia menerima kesimpulan itu.

“Jadi, apakah Sumin memberitahumu segala hal tentang manusia supernatural? Kau bisa mengenali jati diriku lewat mataku, manusia biasa pasti akan terkecoh dan mengira itu hanyalah softlens.”

“Yeah, dia memberitahuku tentang dirinya sejak dulu.. sejak pertama kali Sumin merasakan perubahan dalam dirinya. Sejak ia mengalami kecelakaan itu. Hanya aku dan Lime yang tau. Dan tentang Nana, ia juga yang memberitahuku. Dia juga memberitahu secara spesifik tentang mata seorang manusia supernatural. Kau tau, dia bukan tipikal yang akan mempercayai orang dengan mudahnya.”

“tapi dia memberitahumu? Dan Lime?”

“Yeah. kau mungkin tidak tau dan mungkin ini juga terdengar kurang masuk akal tapi… aku dan Lime seperti memiliki ikatan batin dengannya. Si blonde bitch—Nana—itu mampu menghipnotis semua murid disekolah ini, tapi dia tidak bisa menghipnotis aku dan Lime.”

“itu adalah ketulusan. Persahabatan kalian… tulus. Nana tidak mampu menembusnya.”

Zelo mengerling kearah Sehun kemudian menarik ujung bibirnya, tersenyum. “Ya. Aku tau.”

“lalu… hubungannya dengan Kai? Apa yang terjadi dengan mereka berdua?” Sehun melanjutkan interogasinya. Kali ini raut wajah Zelo berubah menjadi sendu. Zelo menghela nafasnya dan meletakkan kedua tangannya diatas meja; menopang dagu.

“Kai. Seseorang yang merubah kepribadian Sumin, merubah karakternya… menjadi sebagian dari hidup gadis itu.” Zelo masih ingat jelas kedua mata Sumin yang dingin itu ketika mengeluarkan air mata tanpa henti, masih terpatri jelas di ingatan Zelo tentang raut kesedihan dan penyesalan diwajah gadis itu.

Kai. Kim Jongin. Adalah seprihan masa lalu yang merubah Sumin, Nana, dan suasana Cheongnam high-school seratus delapan puluh derajat.

***

// Flashback //

Sowon-gil track sudah menjadi jalan yang selalu bising disetiap malam – malam tertentu diwaktu dini hari. Jalan panjang yang mengelok itu menjadi tempat yang sungguh strategis bagi komunitas spoiled brats yang rela menghabiskan entah berapa banyaknya won demi mobil mereka. Memecah heningnya malam, berpuluh mobil berjejeran dan beberapa diantaranya melintasi sowon-gil demi sebuah kemenangan.

Race track.

Adalah Nissan skyline berwarna biru tua yang melaju kencang diatas aspal,  dengan neon biru dikolong mobil. Warna birunya mengkilap dan terdapat warna silver di bagian samping Nissan skyline  tersebut. Mobil berwarna biru tua itu membelok tajam dipersimpangan dengan sudut yang sempurna tanpa mengurangi kecepatannya kemudian kembali berjalan lurus lagi melintas disamping Sungai Han.

Dibelakangnya terdapat Nissan veilside RX-7 yang memburu berusaha menyalip skyline biru itu, dengan model minimalis yang ramping, veilside itu menyalip skyline biru dengan mudahnya walaupun menimbulkan sedikit gesekan dikedua mobil balap tersebut.

“shit!”

Seorang pria yang berada dibelakang setir skyline biru itu mengumpat, ia langsung membanting setirnya ke kanan dan menekan penuh pedal gas membuat tabung nitro ukuran besar yang berada dalam skyline biru itu bekerja, memacu daya kecepatan yang super dahsyat.

Pengemudi skyline itu tampak hampir frustasi ketika skyline-nya tidak mampu melampaui lawannya, hanya tertinggal sedikit dibelakang. Ia mengeratkan pegangannya pada setir dan memacu mobilnya lebih cepat lagi. Kali ini melampaui dan pria itu tampak tersenyum puas.

Tepat beberapa meter sebelum line finish, skyline biru itu tampak sangat memikat karena memimpin perlombaan dan dengan agungnya melintas paling depan….sebelum Nissan veilside yang tadi sempat menyalipnya kini kembali melakukan hal yang sama. Membuat pria pengemudi skyline biru itu menegakkan badannya. Adrenalinnya terpacu.

Skyline biru itu melaju lebih cepat lagi dari sebelumnya tapi ternyata tidak mampu mengubah kenyataan kalau veilside RX7 sudah lebih melintasi garis finish.

Pria pengemudi skyline biru itu mendengus kesal, ia menunduk diatas stirnya dengan sebelah tangannya yang mengepal. Predikatnya sebagai Master of Racing hilang sudah malam ini karena sebuah kekalahan dari mobil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Yang tidak pernah menjadi lawannya sebelumnya.

Ia turun dari dalam mobil dan membanting pintunya. Wajahnya tampak gusar.

Pemilik Skyline biru tua itu, Kim Jongin. Ia dijuluki Master of Racing karena kemampuannya mengalahkan semua racer di penjuru Korea. Mereka akrab memanggilnya Kai. Seperti kebanyakan jagoan lainnya, Kai begitu diagungkan didalam komunitas ini dan sebenarnya bukan suatu masalah yang besar kalau Kai menemui kekalahan, karena dibandingkan dengan jumlah kemenangannya masih tertinggal sangat jauh. Tapi Kai adalah seseorang yang perfeksionis, dia tidak mau kalah, dia harus menang.

Tidak ada yang berani mendekat ketika Kai sedang mengepalkan tangannya. Apalagi disituasi seperti ini. Dimana ia kalah, dan sekali ada seseorang yang mendekat kearahnya.. Kai bisa saja langsung memukul orang itu dan melemparnya. Seolah orang itu menjadi boneka objek kekesalannya.

Jadi Kai sendiri saja. Disebelah Nissan Skyline-nya. Ia berangsur membalikkan tubuhnya dan memandang benci Veilside RX7 yang terparkir disebelah. Mobil dengan warna oranye dan hitam yang memiliki turbo bertenaga besar. Kai mengerti struktur mobil tersebut, sampai dalam – dalamnya. Ia tahu bahkan lebih dari montir yang biasa menangani kerusakan mesin mobil. Hatinya mencelos, Kai sekarang mengerti kenapa ia terkalahkan.

Mobil lawannya ini sangat sempurna. Dan dengan harga yang sangat melambung—walaupun tidak jauh dari harga Skyline biru milik Kai.

Kai menyeringai menunggu pengemudi veilside itu turun, dan ia akan segera menawarkan perlombaan kedua dimana kemenangan harus menjadi milik Kai. Atau mungkin ia bisa mengajaknya duel otot-melawan-otot karena Kai menguasai ilmu bela diri. Tapi…

Kai menganga. Matanya hampir copot ketika melihat seorang gadis turun dari dalam mobil. Yang menjadi lawannya. Yang memancing emosinya. Yang ingin Kai ajak bertarung tapi…

Seorang gadis? Pengemudi veilside RX-7 itu seorang gadis?

Ini pasti sudah gila. Gadis setangguh apa yang bisa mengalahkan Master of Racing?! Dan…

“hey!” sapa gadis itu dengan seringaiannya, menampakkan lesung pipi yang sukses menggagalkan siasat Kai untuk membencinya. Gadis ini terlalu manis untuk diajak duel otot. Atau mungkin Kai saja yang memiliki mata menjadi hijau begitu melihat gadis cantik barang sedikit saja.

Kai mengerjapkan matanya kemudian memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah.

“jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku risih.” Gadis itu melepaskan ikatan rambutnya, membuat rambut hitam panjangnya tergerai sempurna sampai punggung. Dan ia segera melangkahkan kakinya untuk duduk di trotoar yang ada didepan mobilnya, dibawah cahaya temaram bulan.

Dengan percaya diri, Kai mengikuti gadis itu dan duduk disebelahnya. Ia menolehkan wajahnya kearah gadis itu dengan rasa penasaran. “Kau seharusnya mengenakan baju yang lebih seksi.. untuk ukurang seorang pembalap wanita.” Komentarnya dengan nada yang menyebalkan. Gadis itu mendelik.

“jangan komentari aku.”

Kai tertawa mendengarnya. “kalau kau tidak memaKai Veilside RX-7 aku yakin saat ini pemenangnya adalah aku.” Lagi – lagi Kai terdengar menyebalkan, gadis itu hanya bisa mendengus sebal. “jangan menyalahkan mobilku karena kau kalah. Lihatlah dirimu sendiri, apakah kau sudah cukup hebat untuk disebut Master of Racing sedangkan seorang gadis secara telak telah mengalahkanmu?”

“shit.” Umpat Kai setelah mendengar kesarkatisan kalimat barusan. “siapa namamu?”

“apakah itu penting bagimu?” gadis itu menoleh kearah Kai dengan tatapan meledek.

“setidaknya suatu saat aku akan mencarimu untuk mengadakan turnamen kedua, aku ingin melihat Nissan veilside-mu kalah ditanganku. Atau mungkin, suatu saat aku rindu padamu.” Kai membalas tatapan gadis itu, ia menyeringai.

“well..” gadis itu mengedikkan bahunya. “Are you trying to flirt on me?”

“Yeah, maybe..” Kai menatap gadis itu intens, berusaha merayunya seperti yang biasa ia lakukan pada seluruh gadis yang ia temui; yang bersedia untuk bertekuk lutut padanya. “I mean, of course. You’re quite beautiful.”

Gadis itu mendekatkan wajahnya kearah Kai sampai Kai bisa merasakan aroma strawberry dari lipgloss yang digunakan gadis dihadapannya ini. “but… I don’t like you.” Ucap gadis itu, kemudian memundurkan wajahnya.

“Kim Sumin. Kau bisa memanggilku Sumin. Dan… cukup menyedihkan bahwa kau tidak mengenali teman satu sekolahmu sendiri. Tapi.. aku bisa mengerti kalau statusmu adalah Kingka sedangkan aku murid biasa, wajar kalau kau tidak tahu aku. Gwenchana, aku tidak berharap kau mengenalku juga.”

Kai tampak berpikir sebentar kemudian ia berseru kecil. “Ah! Kau 10 dari murid terpintar disekolah, Sumin-ssi? Aku melihat nama dan fotomu di majalah dinding sekolah.”

Sumin tidak menjawab, tapi Kai tau kalau tebakannya memang benar. Dalam hati, Kai masih tidak menyangka kalau murid teladan seperti Sumin bisa terjun ke dunia Racing which is keras dan glamour. Hanya yang berlimpah harta dan berpengetahuan luas tentang mobil saja yang mampu terjun ke Race territory. Dan mengalahkan sang Master of Racing? Well, she is amazing.

Kai memicingkan matanya ketika Sumin menyalakan koreknya dan menghisap sebatang rokok. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Kau merokok?”

“yeah.”

“berapa pria yang sudah berhasil kau tiduri?”

Sumin berjengit mendengar pertanyaan Kai barusan, ia menghembuskan kepulan asap dari mulutnya dan memutar bola matanya. Ia menoleh kearah Kai gusar, terlihat dari raut wajahnya kalau ia tersinggung. “beraninya kau berkata seperti itu?!” desisnya sambil mengarahkan rokoknya kearah Kai.

“kau bukan gadis baik – baik. Aku tau itu.” Ujar Kai santai, mengabaikan tatapan sangar dari Sumin.

“darimana kau bisa menyimpulkan hal itu? Kau bahkan baru mengenalku beberapa menit yang lalu.”

“bukankah sudah cukup jelas? Kau berkeliaran di pagi – pagi buta dengan mobilmu, kau merokok.”

“ya. Dan—“

“dan itu sudah cukup jelas.”

“Dan kau berpikir sangat pendek.”

Kai mengerutkan alisnya. “Maksudmu?”

“aku benci pria.”

“ah, aku mengerti sekarang. Kau lesbian, hm?”

Sumin mengepalkan tangannya kesal. Ia sungguh kesal. Kenapa Kai suka sekali menyimpulkan hal sependek itu sih? Rasanya Sumin ingin menjejalkan rokoknya ke mulut pria kurang ajar ini agar bisa tutup mulut dan berhenti menuduhnya sembarangan.

“dengar, aku-bukan-lesbian dan.. aku-tidak-akan-pernah-menjadi-lesbian. Jadi jangan sok tau.”

Kai menghela nafasnya, tidak mengerti jalan pikiran gadis ini. Ia benci pria, tapi juga tidak suka wanita. Lalu bagaimana? “Aku tidak mengerti.” Ucap Kai dengan nada datar, ia mengambil rokok dari tangan Sumin dan menghisap rokok milik gadis itu. Sumin mendelik kearahnya namun lagi – lagi Kai mengabaikannya.

“kau memang tidak mengerti jadi tutup mulutmu.”

“aku akan menutup mulutku kalau kau menutupnya dengan mulutmu.”

“Kai!”

Sumin benar –benar kesal. Sudah menuduhnya, merebut rokoknya dan malah merayunya. Dan lagi.. Kai malah tertawa saat ini. Sumin ingin sekali memukul wajahnya yang menyebalkan itu tapi ia tidak mau mengambil resiko babak belur ditangan Kai, karena jelas… kalau dilihat dari otot yang menonjol dilengan Kai kalau pria ini tangguh. Sumin akan kalah telak.

just a kidding, Miss.”

Sumin mendengus kesal dan melipat kedua tangannya didepan perut.

“Jadi kenapa kau membenci pria?”

“itu sungguh bukan urusanmu.”

“aku hanya ingin tau.”

Kai memandang Sumin yang terdiam cukup lama, mengamati gadis itu yang terlihat sedang berpikir dan menimbang – nimbang suatu hal entah apa. Kai sungguh antusias karena ia tidak pernah menemukan gadis yang secara gamblang mengatakan kalau pria patut dibenci, dan secara terang –terangan Sumin telah menolak Kai bahkan sebelum Kai sempat menanyakan nomor handphonenya.

“Aku memang sedang butuh teman untuk membagi ceritaku tapi… aku tidak mudah percaya pada orang. Apalagi yang baru saja kukenal sepertimu. Aku hanya tidak mau berkomitmen dengan pria.” Itu semua yang bisa Sumin ucapkan, membuat Kai mendesah kecewa. Gadis ini benar –benar sulit ditaklukan.

“Kau terdengar seperti gadis yang menderita.”

“yeah aku memang gadis yang menderita.” Sumin tertawa pedih. “kau puas?”

“Hei, aku hanya bercanda.”

“kau tidak bercandapun aku terima saja.”

“Ahahaha.”

“apakah menurutmu ini lucu?”

“Tidak.. tidak.. hanya saja… kau sarkatis sekali.”

Sumin hanya bungkam. Sedangkan Kai meliriknya dan tertawa lagi, menertawakan kata – kata sarkatis yang selalu Sumin utarakan. Walaupun Sumin tidak bermaksud begitu, hanya saja sifatnya yang memang seperti itu.

“Okay, Sumin-ssi. Bagaimana kalau kau meminta hadiah dariku? Kau menang dan berhak mendapatkan hadiah dariku. Yeah itu mungkin bisa menghiburmu sedikit. Kau bisa mengambil Skyline biru-ku kalau kau mau.”

Sumin menyelipkan beberapa helai rambutnya dibelakang telinga, kemudian menatap Kai yang mengedikkan kepalanya kearah Nissan Skyline biru mengkilap kebanggaan pria itu. Sumin menoleh kearah Skyline biru milik Kai dengan tidak minat sedikitpun. “untuk apa?”

“untuk apa?! Hey kau bisa memamerkan kepada seluruh orang didunia ini kalau Skyline biru milik Kim Jongin jatuh ketanganmu. Itu membanggakan, kau tau?”

“mobil itu kalah. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi.”Sumin menggelengkan kepalanya sedangkan Kai hanya mendengus kesal. “kau.. benar- benar.”

“Hmm.. begini..” Sumin memutar posisi duduknya sehingga menghadap kearah Kai dan mencondongkan tubuhnya. Ia ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak cukup yakin sedangkan Kai mengisyaratkan seolah – olah dirinya adalah genie yang siap memberikan apapun yang diminta Sumin. Dengan sekali helaan nafas panjang, Sumin akhirnya membuka suara. “ini sedikit.. rahasia. Temanku ada yang berminat dan aku mendengar kalau kau menjual beberapa kepada orang – orang kaya disekitar Apgujeong. Kai, bolehkah aku meminta obat –obatan terlarangmu?”

***

Still flashback.

At School. 9AM.

Terdengar suara langkah yang dihentak – hentakkan, seorang gadis dengan sepatu kets berwarna biru berjalan gusar dikoridor Cheong-nam high school kemudian mendobrak pintu kelas yang setengah tertutup membuat perhatian murid – murid langsung tertuju kearahnya.

Lime, gadis dengan sepatu kets berwarna biru itu menghampiri sang kingka sekolah, Kim Jongin, yang sedang menyandarkan tubuhnya dimeja dengan geng-nya yang mengitarinya. Tanpa pikir panjang, Lime menarik kerah seragam Kai dan…

PLAK.

Menampar Kai tepat dipipi kanan.

Kai terdiam selama beberapa saat mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, wajahnya perlahan menoleh kearah Lime yang menatapnya muak. Rahang Kai mengeras, tidak terima dengan perlakuan ini. Beraninya gadis berambut biru ini menampar seorang Kim Jongin?! Bahkan Chen masih saja melongo melihat sahabatnya ditampar secara tiba –tiba.

Sebelum Kai sempat protes, Lime menarik—menyeret lebih tepatnya—seragam Kai dan membawanya jauh dari kerumunan murid – murid lalu ia menghempaskan tubuh Kai ke tembok. “beraninya kau Kai! Kau pikir siapa dirimu berani memberikan benda – benda seperti itu kepada Sumin, huh? Aku peringatkan kau! Jangan coba kau merusaknya!” Lime menunjuk – nunjuk Kai dengan marah.

Kai mengerutkan alisnya. “memberikan apa? Sumin?”

“jangan berlagak bodoh! Tentu saja obat – obatan terlarang itu. Mau mati ditanganku, kau hah?!” Lime menarik  kerah seragam Kai lagi; membuat Kai bertanya –tanya apakah gadis ini jelmaan pria karena ia bergitu anarkis.

“heI obat itu untuk temannya! Jadi aku memberikannya! Kenapa kau harus marah?!”

“obat-obatan itu ia konsumsi sendiri bodoh!”

“molla! Dia mengatakan padaku kalau itu untuk temannya—AAH!” Kai mengerang kesakitan saat Lime menendang selangkangan Kai dengan lututnya, tanpa ampun. “jangan coba – coba berbohong!” seru Lime kemudian memukuli Kai lagi secara anarkis. Kai ingin melawan, tapi ia tidak bisa. Wanita bukanlah tandingannya. Karena sekali pukul, Lime bisa saja terkapar pingsan dan Kai tidak mau ambil resiko.

“kau menendang asset berhargaku, gadis sialan!”

“Yah!! Lime!!” Sumin tiba – tiba muncul dan berlari kearah pertarungan satu pihak antara Kai dan Lime itu kemudian mendorong pinggang Lime untuk menjauh dari Kai. “Aish! Kim Hyelim!” kedua tangan Sumin masih mencoba mendorong Lime tapi gadis  berambut biru itu terlalu anarkis.

Tidak lama kemudian Zelo muncul dan segera menghambur kearah mereka. Zelo menarik pinggang Lime dan dengan mudahnya menjauhkan tangan gadis itu dari Kai. Lime masih saja memberontak padahal Zelo sudah memegangnya kuat – kuat.

“hentikan! Dia harus diberi pelajaran! Lepaskan aku Zelo!”

“Tidak, Lime! Aku yang memintanya sendiri dan apa yang dikatakan Kai itu benar. Aku yang berbohong pada Kai agar ia mau memberikan padaku. Jadi jangan salahkan dia, okay?” Sumin berdiri membelakangi Kai, ia menatap Lime dengan tatapan memohonnya membuat Lime berangsur tenang. Ia menatap sahabatnya dengan pandangan heran. “Kenapa? Kenapa Sumin-ah? Kau mau merusak masa depanmu sendiri?!”

“masa depanku yang rusak bodoh..” gumam Kai sambil melirik kearah selangkangannya. Secara reflek Sumin menginjak kaki Kai; mengisyaratkannya untuk diam.

“aku…” Sumin kehilangan kata – katanya. Ia tidak tau harus memberi jawaban apa. Ia bahkan tidak tau apa yang melintas dipikirannya ketika keinginan untuk mencoba obat – obatan terlarang terbesit dipikirannya; ia sedang sangat kacau saat itu. Sumin meremas ujung blazer-nya, mencoba menahan sakit yang tiba – tiba menusuk hatinya. “tapi aku belum memakannya.. sama sekali.”

“tetap saja… kau berniat memakannya kalau saja aku tidak memergoKimu. Apa yang kau pikirkan Kim Sumin!”

“…molla.” Perasaan itu datang lagi, rasa sakit dan kecewa ketika kejadian malam itu terjadi. Ketika secara terang – terangan ayahnya meminta bercerai dari Ibunya dan lebih memilih untuk menikah lagi dengan sekertaris yang sudah menjadi selingkuhan ayah Sumin sejak lama. Hal itulah yang membuat Sumin rusak, setelah sekian lama ia depresi karena pertengkaran orang tuanya yang tidak pernah berujung dan berakhir pada perceraian mereka… Sumin tidak bisa tahan lagi dengan semuanya, ia ingin rasanya mencari pelarian dari masalahnya. Namun akhirnya Sumin sadar kalau caranya itu salah.

“Aku benci ayahku… aku benci sekali…” ucap Sumin dengan nada getir. Matanya berkaca – kaca, sekuat tenaga ia berusaha menahan tangisnya agar tidak tumpah. Ia tidak suka terlihat lemah dan rapuh walaupun kenyataannya ia lebih parah dari itu saat ini.

Zelo masih memeluk pinggang Lime dari belakang dan ia bisa merasakan genggaman Lime ditangannya menguat, pertanda ada emosi yang dalam yang dirasakan gadis itu setelah menangkap raut kesedihan diwajah Sumin. Dan didetik berikutnya Lime lepas dari genggaman Zelo kemudian berlari untuk memeluk Sumin. Zelo berjalan mendekati mereka berdua, tangannya mengelus rambut panjang Sumin dengan pelan.

“Oh sudahlah Sumin-ah…” Lime menepuk pelan punggung Sumin mencoba menenangkan gadis itu dalam pelukannya. Dan Sumin masih saja terisak, membenamkan wajahnya di pundak Lime. “aku benci Dad memilih si jalang itu, dia membuat Mum menangis..”

Kai mematung dibelakang mereka; sedari tadi ia terdiam menjadi penonton drama tanpa sengaja ini. Tatapannya masih terlihat heran. Heran kalau Kim Sumin, gadis dingin yang ia temui malam itu kini sedang menangis. Terlihat begitu rapuh padahal Kai mengira kalau Sumin tidak bakal serapuh ini. Dilihat dari kepribadiannya yang terlihat begitu independen.

Don’t judge someone from its cover. Kai bisa mengerti statement itu saat ini. Saking herannya bahkan ia tidak sadar kalau Zelo sedang mendelik kearahnya saat ini, bagaimanapun Zelo tetap kesal dengan Kai karena Kai memberikan obat – obatan itu. Apa yang Kai telah lakukan termasuk dalam kriminalitas kan?

“Kau..” desis Zelo kemudian menyeret tangan Kai namun Kai langsung menghempaskan genggaman kuat Zelo lalu meliriknya tajam. “apa?! Bukankah sudah clear. Ini salah paham!” desis Kai tidak mau kalah dari Zelo sambil merapikan seragamnya yang berantakan karena ulah Lime tadi.

Zelo mengepalkan tangannya geram.

“jangan menyulut api denganku. Kau pria, aku bisa saja memukulmu sampai mati.” Kai memberi jeda kemudian melanjutkan. “urusi saja dia. Temanmu sedang kacau.” Jelas yang dimaksud Kai adalah Sumin. Zelo hanya menatapnya tajam kemudian memutar badannya untuk menghampiri Sumin dan Lime kembali. Bukannya Zelo takut dengan Kai atau semacamnya, ia hanya tidak mau membuat keonaran sementara sahabatnya sedang membutuhkan support-nya.

Kai berbalik kemudian berjalan menjauh.

***

Still flashback

Kim’s Residence. 5PM.

Mungkin Kim Sumin hanyalah seorang remaja biasa di umurnya yang hampir menginjak tujuh belas tahun.  Di umur dengan tingkat kelabilan emosi seseorang sedang dalam puncaknya, mereka mencoba mencari jati diri mereka dengan melakukan banyak hal baru. Dan memikirkan tentang bagaimana hidup mereka yang telah berlangsung sampai saat ini, dan untuk kedepannya. Teens often over-think about every single part of their life.

Sore yang menyebalkan bagi Sumin. Ia sedang terduduk di sofa panjang didalam kamarnya; menyilangkan kaki di satu sisi dan menyandarkan punggungnya di bantalan sofa sambil membaca sebuah novel Sci-fi ditangannya ketika seruan seseorang memanggilnya dengan keras, suara berat yang terlalu familiar ditelingannya.

“Sumin!!”

Sumin mendecak kesal, ia menutup bukunya dengan gusar lalu tangannya meraba meja belajar yang persis berada dibelakangnya mencoba mencari earphone-nya, namun Sumin tidak mendapati benda itu. Dan ia beralih bangkit dari duduknya untuk mencari sofa namun hasilnya tetap nihil.

Pintu kamarnya menjeblak terbuka, membuat tangan Sumin terhenti diudara dan ia menolehkan kepalanya mendapati Kim Myungsoo berdiri diambang pintu dengan berkacak pinggang. “Dad memanggilmu.” Ucap pria itu datar namun penuh penekanan. Sumin bergeming, ia hanya memutar bola matanya kemudian kembali menghempaskan tubuhnya diatas sofa.

“Yak—Kim Sumin!”

“Aku tidak mau.” Sumin membuka kembali novelnya, membuat Myungsoo naik darah. Pria itu hanya menghela nafasnya menghadapi adiknya yang sangat keras kepala. Tetapi Myungsoo sudah terbiasa, ia sungguh sudah terbiasa menghadapi Sumin. “Oke. Aku akan memanggil Dad untuk menyeretmu—“

“Tidak!” Sumin nyaris melemparkan novelnya kearah Myungsoo. ia menoleh kearah Myungsoo yang menaikkan sebelah alisnya. “Oke – oke aku akan turun.” Satu jawaban yang membuat Myungsoo menyeringai kemudian pria itu berbalik dan berjalan ke lantai bawah. “Aku tunggu kau dibawah dongsaeng!”

Damn.”

Setelah merapikan kembali kamarnya; meletakkan novel-nya yang berserakkan diatas kasur dan melipat kembali selimutnya, Sumin menutup pintu kamarnya dan turun kebawah dengan perasaan dongkol. Ia lebih memilih mengurung diri seharian penuh didalam kamar daripada berkumpul bersama ayahnya dan Myungsoo oppa serta Sulli—istri Myungsoo. ia menuruni tangga panjang dengan langkah yang sengaja dihentak – hentakkan dan…

Oh sial.

Semesta pasti sedang sengaja menguji emosinya saat ini. Seperti ada sebuah petir yang menyambar dibelakang tubuh Sumin ketika melihat seorang gadis dengan rambut cokelat pendek mengenakan dress ungu sepaha yang langsung membuat Sumin ingin muntah saat ini juga.

Wanita itu, sekertaris ayahnya yang sekarang menjabat menjadi calon-ibu-tiri Sumin walaupun Sumin lebih mengecapnya sebagai wanita murahan yang merebut posisi ibunya. Dan wanita itu duduk disebelah ayah Sumin, sementara didepannya Myungsoo duduk dalam diam. Sumin mendesah malas.

Keadaan menjadi sangat canggung ketika Sumin melemparkan tatapan tajamnya pada seluruh anggota keluarga-nya yang sedang duduk di ruang makan. Ayahnya, istri baru ayahnya dan Myungsoo. Sulli tidak hadir karena harus menunggui Maire—ibu kandung Sumin; seorang Canadian—yang sedang terbaring dirumah sakit. Oh, jadi ini semacam dinner penyambutan ibu tiri?

Myungsoo menatap adiknya dengan pandangan waspada ketika adiknya itu berjalan menghampiri meja dengan dagu yang mendongak, tatapannya masih tajam dan bibirnya menyeringai. Sumin berhenti tepat disebelah wanita yang paling dibencinya itu kemudian menunduk sedikit untuk mengambil gelas berisi air putih yang tergeletak diatas meja.

Sepersekian detik kemudian Sumin menumpahkan isi gelas tersebut tepat diwajah wanita itu membuat semua mata yang sedang memandang kearahnya langsung mendelik kaget, dan wanita itu terdiam shock masih mencoba mencerna apa yang barusan terjadi padanya.

“Kim Sumin!” teriak ayahnya tegas, tapi gadis itu mengabaikan.

“beraninya kau menginjakkan kakimu dirumah ini?! Kau pikir kau siapa huh? Apakah dengan makan malam bersama kau pikir aku bisa menerima keberadaanmu? Sampai mati pun aku tidak bakal berbaik hati denganmu, melihatmu saja membuatku ingin muntah!” tangan Sumin mengepal kuat, emosinya meletup – letup dan ia merasa ingin meledak saat ini juga. “PRANG!” sebelum yang lainnya bereaksi, Sumin melemparkan gelas ditangannya ke lantai membuat pecahan kaca mengotori lantai pualam tersebut.

“Plak!”

Sebuah tamparan telak mengenai pipi kanan Sumin, tamparan dari ayahnya sendiri yang kini sudah berdiri dihadapannya dengan wajah memerah menahan amarah. “Pernahkah aku mengajarimu untuk berperilaku seperti ini terhadap seorang tamu hah?!”

Sumin tertawa pedih, ia menyelipkan helaian rambutnya kebelakang telinga kemudian  menatap ayahnya tajam. “dia yang membuat Mum sakit sekarang! Dia penghancur segalanya, bahkan aku berencana untuk menyeretnya dari rumah sekarang juga. Kenapa dad? Kau tidak terima? Katakan padaku! Atau karena kau mencintainya? Oh, tentu saja. Kalau kau mencintai si jalang ini lebih baik kau pergi saja dengannya dan—“

“Plak!”

“dan.. dan jangan pernah kembali lagi.” Sumin memegangi pipi kirinya, ia bisa merasakan perih dikedua pipinya yang ditampar oleh ayahnya sendiri. Namun hal itu tidak ada apa –apanya disbanding luka dihatinya yang sangat perih, ketika ia mengingat ibunya yang sedang terbaring dirumah sakit karena depresi, dan ayahnya yang tega menghianati keluarganya, wanita jalang yang berani memasuki rumahnya dan duduk dikursi yang seharusnya ditempati oleh ibunya. Sumin merasa ingin mati saat ini juga.

Wanita itu hanya menunduk dan diam saja. Ia tidak berani berkata apapun karena Sumin bisa saja memukul wajahnya saat ini juga.

Air mata mulai turun dari kedua mata Sumin, tapi ia tidak peduli. Ia tidak menyekanya. Tidak ada yang menyekanya. Tidak ada yang peduli.

“kau harus memilih Dad, anak – anak mu… atau wanita ini. Kalau kau memilih si jalang ini, jangan pernah temui aku dan Myungsoo oppa lagi. dan aku akan dengan senang hati melupakanmu, menganggapmu tidak ada.”

Ayahnya terkesiap kaget namun Sumin mengacuhkannya dan berjalan meninggalkan mereka bertiga dengan rasa sesak didadanya, bahkan air matanya turun dengan deras dan Sumin hanya bisa menggigit bibirnya untuk mencegah suara tangisnya pecah. Ia tidak mau terlihat lemah. Ia harus kuat. Sumin ingin mendongakkan kepalanya untuk mengisyaratkan bahwa ia tidak apa – apa tapi rasanya sulit sekali.

“Sumin tunggu!”

Sumin bisa merasakan tangan Myungsoo menarik bahunya dengan tegas namun Sumin segera menampiknya. Myungsoo sangat terluka melihat adik satu – satunya dalam keadaan seperti ini, ia mengelus rambut panjang dongsaeng ­–nya itu dan hendak memeluknya tapi Sumin mendorongnya pelan.

“tidak, oppa.”  Sumin menyingkirkan pelan tangan Myungsoo yang sedang mengelus rambutnya. Ia menatap oppa nya itu dengan kedua matanya yang sembap kemudian menggeleng pelan. Myungsoo menghela nafas.

“Ayo kita kembali kekamar oke? Aku akan menemanimu menangis sampai kau tertidur..” Myungsoo menyingkirkan helaian rambut Sumin yang menutupi wajah dan mengusap air matanya. Gadis itu menggeleng lagi.

“Aku tidak mau. Aku butuh sendiri..”

“hei, sampai kapan mau seperti ini? Kau harus belajar menerima kenyataan, kau—“

“kenyataan apa?! Bahwa kita akan tinggal satu rumah dengan jalang itu selagi Mum berada dirumah sakit?!”

“Bukan.. bukan begitu. dengarkan—“

“lalu apa?! Kau suka kan kalau si jalang itu menjadi istri baru Dad? Kenapa tidak sekalian kau cuci telapak kakinya dan cium tangannya hah?”

Myungsoo melongo mendengar kalimat barusan, ia tidak percaya Sumin bisa berkata seperti itu. Memang Sumin sedang diliputi emosi tapi…bisakah ia menjaga ucapannya? Pada kakaknya sendiri? Myungsoo benar – benar tidak habis pikir.

“a-apa? Coba kau ulangi sekali lagi ucapanmu!”

“Cukup—ah aku lelah.” Sumin berbalik dan berjalan mendekati pintu dengan perasaan campur aduk, ia tidak tau harus bagaimana. Ia tau ucapannya tadi kelewatan tapi memang Sumin tidak bisa berpikir jernih saat ini. Pikirannya terlalu kalut.

“Kim Sumin! Bisa tidak kau mendengarkanku sekali saja?!”

Tidak. Tidak bisa. Sumin tidak mau mendengar apapun.

***

Kai baru saja mengunjungi teman lama nya di Apgujeong sore ini, sejak siang tadi ia mengeluyur entah kemana saja untuk menghilangkan kebosanannya dan setelah melihat beberapa Skyline dengan modifikasi sana – sini—yang sebenarnya tidak menarik perhatiannya karena ia hampir memiliki semuanya—akhirnya Kai memutuskan untuk ke tempat yang… belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Kai tidak yakin, tapi entah angin apa yang membawanya kesini ia juga tidak tau.. ia tidak tau kenapa saat ini ia ada didepan rumah Kim Sumin.

Sudah sejak dua minggu yang lalu ketika Kai pertama kali bertemu dengan Sumin, dan setelahnya mereka berdua tetap seperti dua orang asing disekolah. Kalau bertemu pun tidak saling menyapa. Kai sibuk dengan urusannya sendiri dan begitupula dengan Sumin. Tapi nyatanya, Kim Jongin tetaplah Kim Jongin. Yang tidak mau terkalahkan. Yang  ingin selalu menjadi nomor satu dalam perlombaan mobil dengan bentuk apapun agar gelar Master of Racing-nya tidak luntur sedikitpun.

Dan puncaknya hari ini, Kai berniat mengajak Sumin untuk perlombaan keduanya dimana seratus persen Kai yakin kalau dirinya akan menang—ia menambahkan tenaga super di tabung nitro Skyline birunya.

Kai menyandar pada mobilnya sambil memutar-mutar kunci ditangan kanannya. Baru saja ia akan melangkah untuk memasuki pelataran depan rumah mewah itu ketika suara jeritan terdengar dari dalam, Kai langsung menghentikan langkahnya dan pasang telinga.

“Kim Sumin!”

“beraninya kau menginjakkan kakimu dirumah ini?! Kau pikir kau siapa huh? Apakah dengan makan malam bersama kau pikir aku bisa menerima keberadaanmu? Sampai mati pun aku tidak bakal berbaik hati denganmu, melihatmu saja membuatku ingin muntah!”

Kai mengenal betul suara itu. Suara milik Sumin. Kenapa ia berteriak – teriak seperti itu?

Setelah itu terdengar suara pecahan kaca. Dan teriakan – teriakan lain kali ini dengan suara berat, Kai menyimpulkan kalau itu adalah suara ayah Sumin.

“dia yang membuat Mum sakit sekarang! Dia penghancur segalanya, bahkan aku berencana untuk menyeretnya dari rumah sekarang juga. Kenapa dad? Kau tidak terima? Katakan padaku! Atau karena kau mencintainya? Oh, tentu saja. Kalau kau mencintai si jalang ini lebih baik kau pergi saja dengannya dan—“

Kai terkesiap, ia menelan ludahnya dan sedikit merasa berdosa karena menguping keadaan keluarga Sumin yang sedang bertengkar hebat saat ini. Mungkin seharusnya tadi ia tidak usah mengikuti instingnya untuk pergi kesini. Mungkin seharusnya Kai tidak usah datang. Mungkin?

Tapi disamping itu, Kai juga penasaran. Sewaktu itu ia pernah menjadi penonton tidak sengaja ketika Sumin menangis hebat dalam pelukan Lime dan rasanya Kai bisa mengerti kenapa sewaktu itu Sumin kacau sekali. Jadi ini sebabnya.

Dan setelah beberapa menit berjalan Kai tetap masih pada posisinya, berpikir tentang banyak hal karena pertengkaran yang ia dengar barusan kemudian mengaitkannya dengan keadaan keluarganya sendiri. Ia masih saja bermain – main dengan lamunannya ketika tiba – tiba saja…

“sedang apa kau disini?”

Secara relfek Kai langsung mendongak dan betapa terkejutnya ia ketika Sumin sedang berdiri di ujung tangga dekat pintu masuk rumahnya, menatap Kai dengan mengintimidasi seolah Kai adalah penyusup yang sedang mengintai rumah Sumin.

Kai gelagapan. Sungguh memalukan ia tertangkap dalam keadaan seperti ini, rasanya Kai ingin menyembunyikan diri dibawah mobilnya atau menghilang saja. Ah, tapi semuanya sudah terlanjur! Kai hanya bisa merutuk dalam hati.

“A-aku…”

Sumin menuruni tangga namun tatapannya tidak lepas dari Kai. Masih mengintimidasi dan tajam walaupun ia sehabis menangis. Gadis itu tampak begitu rapuh dimata Kai, langkahnya pun terlihat ringan sekali seolah – olah ia bisa jatuh terhuyung kapan saja.

“Aku hanya mau mengajakmu berlomba lagi, yeah… aku ingin mengalahkan Veilside-mu itu.” Kai melipat kedua tangannya; berusaha untuk tetap cool.

Sumin terdiam selama beberapa detik kemudian ia menarik ujung bibirnya untuk berusaha tersenyum. Kai tidak bodoh, ia tau kalau senyum yang dipasang gadis itu palsu. Hanya untuk menutupi raut kesedihannya, dan Kai tidak mengerti kenapa Sumin masih saja berusaha sok kuat.

“Oh. Okay, aku akan mengambil mobilku. Kau tunggu dulu..”

Kai hanya bisa tercengang. Apa gadis ini gila? Bagaimana bisa ia menyetujui ajakannya? Jelas – jelas wajah Sumin pucat dan ia berjalan bagaikan seorang yang terkena anoreksia dan dehidrasi disaat yang bersamaan. Dan lihat matanya! Bahkan masih sembab, masih tampak kemerahan. Bekas – bekas air matanya juga masih terlihat. Dan ia mau balapan?!

“Hei—“

Sumin berbalik dan menatap Kai dengan tatapan bertanya.

“Mana bisa kau mengendalikan mobilmu dengan mata sembap seperti ini..”

Didetik selanjutnya Kai sudah merengkuh tubuh rapuh Sumin kedalam pelukannya, membiarkan Sumin menangis sepuasnya didada bidang Kai. Dan Sumin tidak bisa memberontak, ia terlalu lelah. Ia hanya mampu meremas kuat – kuat kaus Kai dan terisak didada pria itu.

Kai tidak peduli apa hubungan mereka, bagaimana mereka bertemu, siapa dirinya dimata Sumin tapi satu yang ia tau pasti kalau Kai ingin sekali memeluk gadis ini seerat mungkin sejak pertama kali Sumin terlihat diujung tangga. Mungkin insting itulah yang membawanya kesini, mungkin inilah sebabnya Kai sedari tadi ingin pergi kerumah Sumin.

Untuk memeluknya.

Kai mencium puncak kepala gadis itu dan mengelus rambutnya.  “menangislah sampai puas..”

***

“HEI!”

Sumin mendecak kesal ketika bubble tea-nya direbut paksa oleh Kai dan pria itu meminum hampir setengah dari isinya dengan cepat, membuat Sumin ingin protes lagi tapi tidak jadi karena percuma saja, Kai tidak peduli dengan protesannya.

Pria itu diam saja dan memandang lurus kedepan kearah Sungai Han yang terbentang luas dan mengkilap terkena pantulan cahaya bulan. Suasana sunyi namun tidak senyap dan dapat terlihat citylight di jarak pandangnya. Itulah mengapa Sumin menyukai tempat ini dimalam hari dan ia bersemangat—memaksa lebih tepatnya—mengajak Kai untuk duduk ditempat ini sekarang.

Citylight Seoul selalu indah, puji Sumin dalam hati.

Setelah kejadian sore tadi, Kai membawa Sumin entah kemana—hanya berputar – putar di Seoul dan sekedar menghabiskan bensin—namun akhinya mereka berdua berakhir duduk santai ditepi Sungai Han, tepat diseberang mereka terlihat jalan yang riuh oleh kendaraan berlalu – lalang.

Kai mentraktir semua makanan yang dibeli Sumin karena gadis itu tidak membawa uang sepeserpun dari rumah. Tapi Kai tidak keberatan, toh dia sedang bosan dan tidak memiliki banyak kepentingan jadi apa salahnya menghibur sedikit gadis malang ini?

Sumin yang selalu terlihat tangguh memang hanya topeng belaka. Secara tidak sengaja, Kai sudah menguak segala sisi rapuhnya hari ini. Mulai dari gadis itu yang menangis hebat didadanya—sampai Kai harus mengganti kausnya karena terlalu basah—wajah gadis itu yang menyiratkan banyak kesedihan dan bahkan Sumin mengigau dengan memanggil nama ibunya saat tertidur didalam mobil tadi.

“Aku tidak yakin bisa menghadapi hari esok..”

Kai menoleh kearah Sumin yang sedang memandang kedepan, kedua tangan gadis itu ia tautkan satu sama lain.

“kenapa tidak? Hari esok akan lebih baik dari hari ini.”

Sumin hanya tertawa getir. “That’s an old quote. Siapa yang bisa tau sih kalau hari esok bakal lebih baik dari hari ini? Tidak ada kan. Kita hanyalah manusia dengan kepasrahan atas takdir yang ditentukan Tuhan.”

“Apakah kau sedang menyalahkan Tuhan? Sebenarnya, baik atau tidaknya suatu hal tergantung pada bagaimana kita menghadapinya. Kalau kau berpikir, keretakkan keluargamu itu adalah suatu pelajaran untukmu maka hal itu bisa disebut baik kan? Maksudku, kau bisa mengambil sisi positifnya saja. Kau tidak bisa terus memarahi semua orang kemudian menangis.” Entah sejak kapan Kai bisa sebijaksana ini, padahal hidupnya sendiri saja tidak baik – baik juga. Sumin perlahan menolehkan wajahnya untuk melihat Kai. Takjub, mungkin?

Tapi ekspresi Kai tampak tenang, setenang air sungai Han yang berada dibawah kakinya. Dia selalu tenang. Menenangkan. Saat Kai memeluk Sumin tadi, saat Kai membawanya mengitari Seoul, saat Kai duduk bersamanya saat ini. Dan saat Kai mengucapkan kalimat tadi, Kai tampak tenang. Ia tidak seperti ayah Sumin yang selalu membentaknya, tidak seperti Myungsoo yang menuntut Sumin untuk mendengarkannya.

Diam – diam Sumin jadi mengamati postur pria ini. Wajahnya yang manis dan tampan, bibirnya yang penuh dan kemerahan, rambut hitam cepak yang tampak berantakan. Kaus dan celana jeans yang tampak casual. Kenapa Kai keren sekali? Bahkan setelah entah berapa lama Sumin mengetahui pria ini, tidak pernah terlintas dibenaknya kalau Kai bisa se keren malam ini.

Ah, Kim Sumin apa yang kau pikirkan!

“Bagaimana?”

Suara husky Kai secara tiba –tiba itu membuyarkan lamunan Sumin. Parah. Sumin benci pria. Ia tidak mau berkomitmen dengan pria. Sebentar… Apakah Sumin sedang mengagumi Kai saat ini? Tidak. Ia tidak mau.

Kai menolehkan wajahnya kearah Sumin, membuat gadis itu gelagapan ketika pandangan mereka berdua bertemu. Sumin mengerjapkan matanya dua kali lalu mengalihkan pandangannya.

“Ah..ya, aku rasa… kau benar juga.” Ucap Sumin jujur. Si keras kepala ini tidak biasanya langsung setuju dengan pernyataan seseorang. Namun sepertinya malam ini Kai menjadi pengecualian.

Kai tersenyum samar.

Suara gemuruh petir tiba – tiba terdengar dimalam yang terang dan sunyi ini, padahal langit tidak mendung. Sumin langsung berjengit dan hampir saja terjungkal kedepan—dia bisa saja tewas tenggelam di Sungai Han—sebelum tangan Kai menahan lengannya. Sumin bernafas lega.

“gwenchana?” Tanya Kai khawatir, tangannya masih menggenggam lengan Sumin erat.

Sumin mengangguk, ia mengelus dadanya pelan. Terlalu kaget. Dan… ia takut petir.

Dan selang beberapa detik setelahnya, Sumin bisa merasakan tetesan air hujan turun secara berangsur dan ia mendongak kemudian bangkit dari duduknya. Kai otomatis mengikuti aksinya. “Sepertinya.. akan hujan deras?”

Kai mengangguk. “Hei ayo cepat! Hujannya bertambah deras.” Ia menarik lengan Sumin dan mereka berdua berlari kearah Skyline biru Kai.

Sumin masih saja meringkuk gelisah walaupun dirinya sudah berada didalam mobil, sedangkan Kai sedang memasang sabuk pengamannya kemudian memutar kunci tanpa menyadari kalau gadis disebelahnya sedang kedinginan dan ketakutan. Biasanya Myungsoo yang akan menenangkannya jika ada petir namun kali ini Sumin sendiri. Ia hanya bisa memeluk tubuhnya dengan lengannya sendiri.

“Aish! Aku tidak bawa jaket. Kau sangat kedinginan?” kentara sekali kalau Sumin sangat kedinginan tapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. “kau kedinginan.” Ujar Kai, menyimpulkan. dan Sumin tidak bisa merespon apa – apa karena memang itu benar.

“aku akan antar kau kerumah.”

“Tidak! Aku—tidak mau pulang hari ini.”

Kai memandang Sumin dari ujung matanya dan menyadari kalau gadis itu masih trauma pada kejadian sore tadi. Sepertinya Kai bisa mengerti.

“oke, aku akan bawa kau ke apartemenku. Tidak jauh dari sini jadi kau tidak perlu menahan dingin terlalu lama.” Entah kenapa yang terpikir oleh Kai secara langsung adalah apartemennya, tapi ia rasa Sumin tidak bakal langsung setuju dengan usulnya.

“Apartemenmu?”

Ya setidaknya, gadis itu meragukannya. Sumin memicingkan matanya. “jangan mengambil kesempatan.”

Kai menghela nafasnya. “Okay gadis-pembenci-pria, apakah kau mau di hotel saja? Biar aku antar kesana.”

Sumin nyaris mengangguk setuju sebelum ia akhirnya sadar kalau tidak ada uang sepeserpun disakunya. Atau tas? Bahkan Sumin tidak membawa tas. “aku tidak punya uang.”

“Ah, Kau benar. Apartemenku? Itu option terakhir. Dan aku sedang tidak ingin bercinta dengan siapapun saat ini jadi jangan curiga—AAH! Kenapa memukulku?!”

“siapa juga yang ingin!” ucap Sumin ketus, lengkap dengan death-glare-nya.

“Ya dengan maka itu, karena aku sedang tidak ingin jadi aku tidak akan berbuat macam – macam padamu.”

“Hah. Terserahlah.”

***

Dengan sedikit perdebatan ditengah jalan tadi, akhirnya berbuah pada keputusan bahwa Sumin akan menetap satu malam di apartemen Kai dan dengan sedikit terpaksa Kai merelakan diri untuk tidur diruang tengah, diatas sofa depan TV. Walaupun Sumin masih terus saja menimbang – nimbang tapi dia sudah terlalu lelah hari ini, ia ingin cepat – cepat mandi air hangat dan istirahat. Dan kebetulan apartemen Kai adalah tempat terdekat dari Sungai Han yang setidaknya ia bisa tempati dengan gratis.

Sumin menghela nafasnya ketika ia memasuki apartemen minimalis ini. Simple namun berkelas. Khas Kim Jongin sekali, dan ia bisa melihat berbagai wallpaper dengan gambar mobil berada disana – sini. Ia berdiri diam menunggu intruksi sang tuan rumah.

Kai berjalan menuju dapur dan langsung membuka kulkas, mengambil sekaleng Narangdeu Cider—sejenis cola. Ia meneguknya sambil memandang Sumin yang berdiri canggung tidak jauh darinya.

“kau boleh masuk ke kamarku, pintunya disebelah kirimu. Didalam ada kamar mandi. Mandilah dengan air hangat dan segera tidur agar kau tidak flu.”

Sumin menangguk patuh. Ia berjalan memasuki kamar Kai kemudian menutup pintunya. Kamar yang rapi, ujar Sumin dalam hati, memberi penilaian bagus untuk ukuran kamar seorang pria yang biasanya kau-taulah-seperti-apa. Ia bergegas mandi dengan air hangat, membiarkan dirinya tenang dibawah guyuran shower dan tidak butuh waktu lama ia sudah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sumin mengambil asal sebuah kemeja kebesaran milik Kai yang tergeletak didalam lemari, memakaikannya ditubuh kurusnya.

Rasa nyaman setelah mandi air hangat menyelimutinya dan membuatnya menguap kecil. Sumin melangkah menaiki ranjang super berwarna cokelat milik Kai dan merebahkan tubuhnya disana. Ia membalut tubuhnya dengan selimut dan membenamkan wajahnya dipermukaan bantal. Aroma mint menyeruak, persis seperti ketika Sumin berada dipelukan Kai tadi. Aroma yang sama. Menenangkan.

Sumin terlelap dalam tidurnya dan untuk yang pertama kalinya ia memimpikan pria itu.

Kim Jongin.

TBC

Oh, dude! Im done! Longer than usual but romance overload. Ah!! Saya ga begitu mahir nulis romance-drama gini dan entahlah feelnya dapet atau ga yang pasti nulis ini sambil gemeteran karena dalam pikiran saya image Kai disini itu cool. I love you Kim jongin! /………../

Sebenernya saya lagi kesel karena ternyata laptop saya yang rusak bukan modemnya padahal udah beli modem baru. Ngenes. Tapi ya, saya lagi puasa jadi gaboleh kesel. Tapi kesel huhuhuhu entahlah

Dan, menurut kalian moment Kai-Sumin nya saya banyakin atau mau di skip aja? Takutnya ntar membosankan dan Sehun saya umpetin sebentar sampe si Kai tinggal nama abis itu dimunculin lagi deh, can you imagine betapa panjangnya ff ini nanti hahahaha.

Soal mobil Nissan veilside yang dipaKai Sumin itu, adalah mobil yang ada di film fast furious Tokyo drift. Mobil milik Han, keren sekaliii

Btw..

Adakah yang penasaran atau bertanya-tanya, kenapa sih Sehun langsung bisa suka dan sepenasaran ini sama Sumin?

Dan, comment please?

 

 

 

Advertisements

182 responses to “[Chapter 3] The Second of Telepathy

  1. Sumpah ‘mi apa, thor! Aku nangis pas baca bgian Sumin tuang air ke muka selingkuhn bokapx. Ngebyangn aku ada di posisinya Sumin, tpi kashan juga sama wanita itu. Hmmm

  2. Akhh!! Ini keren Sekali >_<
    Gak nyangka dibalik image ice princess yg melekatpada sosok Sumin,, ternyata dia sempet terjun ke dunia drive gitu dan yg bikin nngenes ternyata dia korban dari broken home! OMG! Gak kebayang gimana tertekannya Sumin 😥
    Tapi penasaran gimana Kai bisa mati? apa karna balapan atau telepathy dari Sumin??? Kenapa sumin yg dibilang bunuh kai?
    Jadi Myungsoo nikahnya sama Sully!! DAEBAK!! Ending telepathy yg pertama pasti seru abisss!!! Sayangnya aku gg bisa baca…hiks U.U
    OiyA,, sebenernya ini bukan komen pertamaku, semoga komenqu dichapt sblum2nya mau kpost yaa…
    Salam kenal author-nim~
    KEEP WRITING AND FIGHTING!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s