FF : Oramanieyo… [CHAPTER 6B]

oramanieyoooo

http://bang2bang.wordpress.com/

TEASER | TEASER 2 | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 |  CHAPTER 3  |  CHAPTER 4 | CHAPTER 5 | CHAPTER 6A

 

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

Jung Na Mi (OC)

Kim Him Chan ( B.A.P )

Kim Su Ho ( EXO-K )

Yong Jun Hyung ( BEAST )

Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

Lee Sung Yeol ( INFINITE )

Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

Preview : 

Kedatangan Alice dari New York membuat Himchan bingung akan perasaannya, di satu sisi, dia masih ingin bersama dengan Alice. disisi lain, Nami tlah memberinya kebahagiaan yang sempat hilang dulu. Serta, pernyataan Alice yang tak terduga membuat Himchan bingung harus memilih siapa. 

sementara itu, Nami yang tahu kalau Alice itu mantan tunangan Himchan, hanya bisa pasrah dan bersikap biasa saja dengan semuanya. seakan tidak ada yang terjadi diantara mereka. dan, ada seseorang yang ingin mencelakai Nami. 

A/N :

HAI!! Hyerinn Park disini~ duh maaf banget belum sempat ngepost FF u.u disini Hyerinn bawa FF Sequel Please, Stop The Time :D alias sequel Nami versionnya tanpa banyak bacot lagi, semoga para readers suka ya sama ceritanya. NO PLAGIAT, NO SILENT READERS. please, komen FF ini sebagai bentuk rasa membangun buat authornya, biarpun itu komen apapun. :) Oh ya, mungkin part ini agak panjang. Maaf ya >.<

PLEASE BE A GOOD READERS

-oOo-

“Jadi, kau bisa dipercaya?”

 

Ha Ra mengetuk permukaan meja kayu dengan jemarinya pelan. Dia nampaknya menimang-nimang penawaran yang saat ini dia lakukan di telepon sekarang. Bagaimana pun juga, dia berutang membuat hidup seseorang menderita. Dia telah berjanji kepada dirinya sendiri dan dia harus menepatinya.

 

“Baiklah, aku mau.” Ha Ra tersenyum lebar lalu menutup teleponnya. Dia sudah memutuskan, dan dia harus melaksanakannya. Semuanya akan dia balas, seperti apa yang orang itu telah lakukan kepadanya.

 

-oOo-

 

Alice mengerutkan dahinya. Tangannya memegang selembar foto yang ditemukannya didekat meja kerja Him Chan. Alice terus memandangi foto itu. Perhatiannya penuh ditujukan pada foto itu. Foto itu, benar-benar membuatnya berpikir jernih. Siapapun yang melihat sekumpulan foto yang sedang dipegang Alice,  pasti dapat berpendapat sama dengan pendapat Alice sekarang.

 

Foto pertama terlihat ada seorang pria yang tengah merangkul seorang wanita dengan senyuman yang terlukis jelas diwajahnya. Mereka saling berangkul, lalu tersenyum lebar. Terlihat sangat dekat, satu sama lain. Seakan ada sebuah benang yang menghubungkan jiwa mereka. Sebuah benang yang tidak nyata, tapi begitu nyata dimata Alice.

 

Foto kedua, dengan objek yang sama. Berbeda dengan foto sebelumnya, keduanya kali ini menatap dengan tatapan yang Alice sulit mengerti. Sang gadis mengerutkan dahinya, menatap sang pria yang berbalik menatap gadis itu. Sang pria itu tersenyum, senyum yang tulus.

 

Alice sakit melihat cara pria itu tersenyum kepada gadis itu.

 

Sang pria menatap gadis itu dengan penuh kasih sayang. Lagi dan lagi, senyuman manis terukir disudut bibir pria itu saat melihat gadis itu.

 

Foto selanjutnya, sebagai penjelas apa yang Alice liat dari sederetan foto-foto ini. Sang Pria, menatap sang gadis itu. Gadis itu memperhatikan objek lain. Mereka berangkulan. Ah, tidak. Tangan gadis itu hanya bertautan dengan lengan milik pria itu.  Senyum pria itu begitu tulus, Alice tahu arti senyum dan tatapan sang pria itu. Dan, dirinya juga tahu, sang pria tidak menatap kesiapa-siapa, tidak tersenyum ke siapa-siapa lagi, hanya ke gadis itu. Alice mmebalik fotonya, terdapat sebuah kalimat yang ditulis tangan disana. Alice membacanya, dan terperanjat e=ketika membacanya.

 

Alice tertegun. Dia berusaha menghubungkan semuanya, semua dari apa yang dia liat difoto-foto tersebut. Cara tersenyum pria itu, cara pria itu menatap gadis yang ada di foto itu, segalanya. Dia yakin, Pria itu tidak main-main atau  menertawakan gadis itu. Pria itu, punya perasaan terhadap gadis itu.

 

Sekali lagi, Alice memerhatikan sosok yang ada di foto itu. Dia ingin, matanya salah. Dia ingin, apa yang dia lihat itu semuanya keliru. Alice mengerjapkan matanya, lagi dan lagi. Namun, hasilnya sama saja. Dia mengenal sosok di foto itu.

 

Sang pria adalah Kim Him Chan, dan sang gadis itu adalah Jung Na Mi.

 

Alice menggigit bibirnya keras, berusaha menenangkan debaran hatinya yang berdebar tak karuan. Menenangkan perasaannya yang tiba-tiba kacau. Orang bodoh pun tahu, hanya dengan melihat foto ini.

,

Alice beranjak berdiri. Dia merasa, dia harus meminta kejelasan pada Kim Him Chan. Dia harus.

 

-oOo-

 

“Astaga ! Kau mengagetkanku!”

 

Nami terlonjak dari kursinya. Gelas yang dia pegang hampir saja tumpah mengenai tangannya. Nami melirik kesal orang yang barusan mengagetkannya. Astaga, sekarang orang itu sudah duduk tenang dihadapannya, membaca menu dengan seksama seakan tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Nami menghela napas berat.

 

Take your responsibility ! Kau hampir membuat tanganku melepuh. Bagaimana kalau kopinya tumpah? Oh my dear… Him Chan…Him Chan… Kau mendengarkanku?”

 

Him Chan pura-pura tidak mendengar, membuat Nami hanya bisa menggeleng pasrah melihat kelakuannya. Dirinya kembali menyeruput caramel latte-nya pelan. Seperti biasa, mereka ada di sudut sebuah coffee shop di kawasan Harajuku. Name dan Him Chan sering menghabiskan waktu mereka berdua. Awalnya, karena Him Chan sering mengajak Nami ke coffee shop itu. Lalu, mereka berdua sering bahkan selalu emnghabiskan waktu senggang mereka. Tanpa ada yang sadar, kapan kebiasaan itu bermula. Dan, mereka berdua tidak keberatan akan hal itu.

 

“Oh ya?” akhirnya, Him Chan membuka suara. Dia menutup menu booknya, lalu menyandarkan bahunya ke kursi. Menatap Nami, yang kini memerhatikan jendela. Nami mengangguk, tidak tahu hal apa yang membuatnya mengangguk.

 

“Entahlah.”

“Kita membicarakan apa?”

“Tidak tahu,” sahut Nami lagi. “Kau yang mengajakku kesini.”

“Aku?”

Nami mengangguk. Ia tersenyum tipis. Lagi lagi dia terlibat percakapan sarat makna dengan Him Chan. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Hanya sekumpulan pertanyaan, dan jawaban. Tapi, nyatanya, Nami suka melakukan ini. Terlebih lagi jika dengan Him Chan.

 

“Nyatanya kau duluan datang kesini,” Him Chan menyahut.

“Kau menyuruhku datang lebih cepat, bukan?”

“Aku?” Him Chan nampak berpikir sesaat. “Benarkah?”

 

Nami tertawa melihat ekspresi Him Chan. “Hentikan,” katanya menahan tawa.

 

Him Chan malah mendelik balik, melirik tajam melihat Nami yang berusaha menahan tawanya. “Aku tidak sedang melucu, Jung Na Mi.”

“Ekspresimu. Lucu.”

 

Nami tertawa karena tatapan mata Him Chan, kemudian larut ke dunianya sendiri, hanyut terbawa melodi lagu yang mengalun ditelinganya. Dia menggoreskan beberapa garis untuk mempertegas desainnya diatas sketch book dengan pensil.

 

Him Chan memerhatikan ekspresi Nami yang asyik dengan dunianya. Senyumnya terbentuk, perlahan dia beranjak dan duduk disamping Nami. Memerhatikan garisan, lengkungan, serta detail yang Nami tulis di sketch booknya.

 

“Lagu apa?”

 

Nami, yang tersadar kalau Him Chan sudah duduk disampingnya, dan memerhatikannya. Dia melepaskan headsetnya. “Younha. Real Reason Why We Broke Up. kau mau dengar juga?”

 

Him Chan mengangguk, dan mendengarkan lagu dengan sebelah headset, sebelahnya lagi Nami yang memakainya. Ternyata, lagunya enak didengar. Himchan sempat berpikir, dari judulnya, lagu itu mungkin tentang keluh kesah seorang kekasih yang barusaja diputuskan kekasihnya, dengan melody slow yang kadang membuat orang ngantuk.

 

Himchan kembali memerhatikan Nami dengan seksama. Lekuk wajah, rambut yang berjatuhan di sisi wajahnya, mata tajam yang kadang suka memicing dan semuanya. Himchan mengalihkan pandangannya lagi. Jantungnya, jantungnya tidak berdebar lebih keras lagi. Tapi,rasa nyaman bersama gadis ini memenuhi perasaannya. Hatinya terasa tentram. Semua bebannya terasa ringan. Padahal gadis ini tidak melakukan apapun. Hanya berada disampingnya.

 

“Nami.”

 

Nami menoleh. Himchan menatapnya. Mata itu menatap langsung bola mata Nami, membuat Nami ikut hanyut dalam pesona Himchan yang sedang menatapnya. Napasnya tercekat sesaat. Tatapan itu menelan semua emosinya, menggantikannya dengan sebuah perasaan yang berdebar, namun nyaman.

 

Nami tidak bisa berkata apa-apa. Keduanya saling menatap. Saling diam. Dan, keheningan pun pecah dengan senyuman Himchan yang lembut. Himchan menatapnya lembut.

“Terimakasih.”

 

Nami mengerutkan alisnya,“Kenapa?”

 

“Karena kau selalu membuatku nyaman saat aku bersamamu.”

 

Apa? Apa katanya? Oh. Nami memegang pegangan kursinya. Dia mengerjapkan matanya, menatap. Berusaha mencari tahu, apa yang dikatakan laki-laki ini barusan adalah ilusi atau bukan. Himchan sedang tersenyum, namun tidak ada satupun yang bisa membuat Nami mengatakan kalau lelaki ini sedang berbohong. Tatapan matanya terlihat tulus.

 

Rasa hangat mengalir ke sekujur badan Nami. Sepertinya, pipinya merona sekarang. Dan, dia beum mengalihkan wajahnya dari tatapan Himchan. Dunia serasa berhenti berputar pada porosnya, waktu seakan terhenti pada detik itu. Setiap detak jantung Nami mungkin bisa Himchan dengarkan dengan jelas. Keduanya saling menatap satu sama lain. Waktu berjalan begitu lama.

 

Trrtt Trrrrtt

Suara handphone memecahkan keheningan antara mereka berdua. Nami mengerjapkan matanya. Dirinya selamat, berkat dering handphone Himchan. Nami menghela napas lega, memerhatikan Himchan yang menjauh menerima telepon.

 

Beberapa saat, Himchan kembali dan duduk disamping Nami. “Maaf.”

 

Nami menangguk pelan. Lalu mereka kembali hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Keheningan menyelimuti mereka berdua.

 

Nami beranjak berdiri, “Aku ke kamar kecil sebentar,” katanya langsung berjalan pergi.

 

-oOo-

 

Himchan menghela napasnya. Dia menatap kosong meja didepannya. Barusan telepon dari Alice. Pikirannya langsung melayang saat Alice menceritakan semuanya. Dia tidak mencurigai Alice, tapi dia menduga kalau Alice ingin kembali dengannya. Dan, kalau memang kemungkinan ini benar, Himchan tidak tahun harus bagaimana.

 

Disatu sisi, dia merindukan saat-saat bahagianya bersama Alice. Disisi lainnya, dia tidak mau jatuh dilubang yang sama. Dia terjebak dilema.

 

“Chan-a, Chan-a.”

 

Himchan menoleh kearah belakangnya, dan melihat Alice berjalan mendekat.

 

“Kau serius datang kesini?” Himchan beranjak bangkit, mengerutkan dahinya. “Ada apa?”

“Ada apa?” ulang Alice mendengus kesal. “Aku sudah memberitahumu, bukan?”

 

Alice langsung memeluk Himchan. Himchan kaget mendapatkan perlakuan seperti itu. Dia diam, diam dipelukan Alice.

 

-oOo-

“Nami.”

 

Seseorang memanggil namanya. Nami menghentikan langkahnya, menoleh kearah suara tersebut dan melihat Sungyeol yang berjalan menghampirinya.

 

“Hai.” Sungyeol menyapa Nami. Dia melihat sekeliling, lalu kembali bertanya. “Sedang apa disini?”

 

Nami mengerjap. “Hanya menikmati secangkir kopi seperti biasanya.” Ia berbalik badan, “Dengan…”

 

Kata-kata Nami terhenti. Nami mengerjapkan matanya, tidak percaya dengan apa yang matanya lihat. Dia kembali memicingkan matanya, berusaha meyakinkan apa yang dia lihat dihadapannya memang nyata.

 

Tiba-tiba, dada Nami sesak. Bernapas menjadi sulit, dan lututnya lemas. Nami langsung membalikkan badannya, lalu tersenyum ke Sungyeol seolah tidak terjadi apa-apa. Nami berusaha meyakinkan Sungyeol dari tatapannya.

 

“Sepertinya urusanku sudah selesai. Aku pulang dulu.” Nami pun berjalan meninggalkan Sungyeol yang memandangi Nami dengan tanda tanya yang memenuhi pikirannya.

Sungyeol lalu membalik badan dan menatap didepannya. Sungyeol tercengang untuk sesaat. Lalu, dia mengerti apa yang terjadi. Sungyeol pun meninggalkan tempatnya berdiri, kembali di kursinya dan menelpon seseorang. Seseorang yang ia tahu, bisa menenangkan Nami.

 

Junhyung.

 

Sementara itu, Nami terus berjalan meninggalkan kafe itu dengan langkah yang terburu-buru. Baginya sekarang, meninggalkan kafe itu yang terbaik dilakukan. Ia masih mengingat apa yang dia lihat. Nami ingin melenyapkan semuanya. Dia terus berjalan dengan langkah yang terburu-buru.

 

Setelah memastikan kafe itu sudah tidak tampak lagi, Nami menghentikan langkahnya. Dia terdiam, lalu kembali berjalan pelan. Pikirannya kacau. Bayangan Himchan dan Alice terus saja berputar dibenaknya. Nami menghela napas keras.

 

Sebuah kursi panjang ditepi jalan kosong. Nami memutuskan duduk disana, berusaha menormalkan semuanya. Ia terduduk pelan.  Napasnya tidak teratur. Nami memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Dia melakukan itu berulang-ulang kali. Namun, usahanya tidak berhasil. Bayangan Himchan dan Alice terus saja memenuhi benaknya. Pikirannya kacau dibuatnya.

 

Nami terdiam dalam sunyi, tenggelam dalam hiruk pikuk aktifitas disekelilingnya. Pikirannya kembali melayang ke kejadian tadi. Lalu, seperti sebuah film, saat Nami melihat Himchan memandangi Alice, saat Himchan tersenyum kepada gadis itu, dan saat Himchan memeluk Alice. Semuanya terputar. Dan itu membuat Nami sesak.

 

Tangan Nami terangkat menyentuh dadanya. Dia berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, menormalkan napasnya yang tercekat, menormalkan pikirannya. Tapi, dia tidak bisa. Kenangan tentang Himchan justru terus membayanginya, menghantuinya dan membuat Nami tercekat.

 

Suara petir tiba-tiba membuyarkan lamunan Nami. Nami melihat langit yang suram. Awan-awan hitam nampak menggantung. Sebentar lagi akan hujan, sepertinya. Orang-orang oun sibuk berlari mencari tempat berteduh, ada yang segera mengambil payung dan membukanya.

 

Benar saja, tetes-tetes hujan pun turun membasahi bumi. Nami masih memandangi langit, tidak memperdulikan hujan yang membasahinya. Dipikirannya, bahkan langit pun tahu apa yang Nami rasakan sekarang. Tetes-tetes hujan seperti memberitahu ke Nami kalau langit pun turut merasakan apa yang dia rasakan. Nami tersenyum pahit.

 

Bau jalanan yang basah pun menyergap. Perhatian Nami pun beralih ke jalanan dihadapannya. Dia menatap jalanan itu, tapi pikirannya tidak fokus kesana. Pikirannya melayang ke Himchan lagi. Laki-laki itu sudah berhasil membuatnya tak karuan.

 

Didekat Himchan, Nami selalu saja merasakan frekuensi debaran jantungnya meningkat. Nami yang sulit bernapas bila Himchan menatap bola matanya, rasa hangat saat Himchan memeluknya atau menggeggam tangannya, memberikan rasa nyaman yang menyenangkan. Nami merindukan itu semua. Nami merindukan Himchan, lebih tepatnya.

 

Dirinya ingin berharap, Himchan merasakan apa yang dia rasakan apabila bersamanya. Semuanya. Alangkah senangnya Nami, jika benar Himchan merasakannya juga. Entah sejak kapan dia merasakan itu semua untuk Himchan.

 

Namun, Nami tidak boleh lupa siapa dirinya. Dirinya, yang hanya seorang teman bagi Himchan. Tidak lebih. Name bisa yakin itu, karena Himchan sudah punya seseorang yang bisa membuatnya merasakan hal itu. Seseorang itu, adalah Alice.

 

Cara Himchan memandangi Alice dengan matanya, Himchan tersenyum kepada Alice, kilat mata Himchan saat bercerita dengan Alice, dan cara Himchan memeluk Alice. Segalanya terlalu jelas untuk Nami mengerti. Apalagi, cara Alice membalas semuanya. Semuanya sangat jelas. Dan, itu membuat hati Nami sakit.

 

Seharusnya, dari awal, Nami sadar diri. Dia tidak boleh menaruh harapan pada Himchan, apapun yang telah dilakukannya. Nami menyalahkan dirinya sendiri. Dia telah melakukan kesalahan, yang tidak bisa ia tolerir. Dia, sudah membiarkan hatinya diacak-acak oleh Himchan.

 

Rintik hujan membuat sekujur tubuh Nami basah. Banyak orang yang berlalu lalang memerhatikan Namid engan berbagai tatapan. Tatapan kasihan, atau tatapan aneh karena seorang gadis duduk melamun ditengah hujan yang cukup deras ini. Nami tidak perduli, dia tetap memandangi kosong jalanan.

 

Semakin dia mengingat kenangannya bersama Himchan, semakin sering pula kenangan Himchan dan Alice muncul membuat hati Nami pedih mengingatnya. Nami merasakan matanya memanas, berkaca-kaca. Dan, sedetik kemudian dia meneteskan air matanya. Air mata itu tidak nampak, karena tertutup rintik hujan yang juga mengenai wajahnya.

 

Nami menggigit bibirnya. Dia tidak terisak juga tidak meraung-raung. Hanya meneteskan air mata, namun hatinya merintih. Dadanya sakit. Air matanya pun semakin deras turun, seiring semakin deras hujan turun membasahi bumi.

 

“Nami! Apa yang kau lakukan?”

 

Seseorang menyerukan namanya. Lalu, Nami melihat ada bayangan hitam besar diatas kepalanya. Seiring itu, dihadapannya, ada sesosok pria berdiri. Pria itu langsung melepas mantelnya, dan memakaikannya ditubuh Nami. Dan, pria itu menarik lengan Nami, membuat Nami beranjak berdiri dan melihat wajah pria itu. Yong Junhyung sedang berdiri dihadapannya, dengan wajah yang cemas menatap Nami. Nami pun menggigit bibirnya keras, isakan yang dia tahan daritadi akhirnya keluar juga. Dia terus menggigit bibirnya, berusaha meredam isakannya.

 

Junhyung langsung menarik Nami masuk kedalam mobilnya. Dia tidak mau berlama-lama melihat Nami kedinginan. Nanti saja dia bertanya apa yang membuat Nami hujan-hujanan seperti itu. Junhyung juga tahu, Nami tadi menangis. Hatinya kesal, melihat Nami menangis.

 

Junhyung langsung menggas mobilnya dan meluncur pergi. Dia akan mencari tahu siapa yang membuat Nami menangis sampai terisak dan kenapa Nami sampai menangis seperti itu.

 

Mobilnya pun terus melaju, membelah rintik hujan yang deras membasahi bumi.

 

-oOo-

 

Himchan berdiri menghadap jendela. Memandangi lalu lintas kota Tokyo yang tetap padat pada malam hari, walaupun hujan turun. Pandangannya beralih ke ponsel yang tergeletak disampingnya. Himchan mengambilnya, lalu mengecek kotak masuknya. Tidak ada sms masuk.

 

Dia lalu menekan tombol ponsel dan menempelkannya di telinga. Himchan berusaha menelpon Nami. Dia langsung melempar ponselnya ke sofa, karena nomor Nami tidak aktif. Sudah lebih dari 5 kali Himchan menelpon, namun sama saja. Himchan menghempaskan dirinya ke sofa, dan melihat ponselnya lagi. Kesal, dia melepas batere ponsel dan meletakkannya begitu saja di meja.

 

Bagaimana bisa Jung Nami meninggalkannya begitu saja, tanpa kabar apapun dan sekarang dia tidak tahu dimana keberadaan gadis itu. Setidaknya, bisa mengirim pesan dia berada dimana sekarang. Bersama siapa, atau sejenisnya. Tidak dengan membuat Himchan khawatir seperti ini. Himchan mengacak rambutnya frustasi.

 

Merebahkan tubuh mungkin bisa menghilangkan frustasi, mungkin. Himchan mencoba merebahkan tubuhnya, tapi sama saja. Pikirannya masih melayang ke Jung Nami. Apa gadis itu baik-baik saja? Diluar sedang hujan deras. Apa dia tidak kehujanan? Dan berbagai pertanyaan lain muncul membuat Himchan semakin stress.

 

“Chan-a.”

 

Himchan langsung bangun dan menyeret pandangannya kearah kamar tamu. Alice, berjalan mendekat dan duduk disamping Himchan.

 

“Kau stress?” tanya Alice melihat tingkah laku Himchan. Himchan menggeleng.

 

“Tidak.”

 

Alice mengdesah pelan. Dia lalu membuka mulutnya untuk bersuara. “Chan-a, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

 

Himchan menoleh, melirik Alice dengan alis yang dikerutkan. “Apa?”

 

“Aku…” Alice menggantungkan kalimatnya. Dia menatap mata Himchan. Dia harus yakin. Dia harus membulatkan tekadnya. Jika tidak, lelaki dihadapannya mungkin akan pergi dari sisinya.

 

“Aku… mau membuat sebuah pengakuan. Tentang perasaanku.”

 

Himchan langsung menghadapkan tubuhnya ke Alice. Dia memandangi gadis itu serius. Himchan menanti apa yang akan dikatakan Alice.

 

“Aku… sadar kalau selama ini, aku merasa bahagia bersama James. Aku pikir, apa yang aku rasakan bersamanya itu memang bahagia. Sampai aku pun meninggalkanmu…” Alice menghela napasnya.

 

“Dan memilih dengan James. Beberapa bulan kemudian, aku sadar bukan James yang bisa membuatku bahagia. Tapi…”

 

Alice menatap mata Himchan dalam. “Orang yang bisa membuatku bahagia itu kau. Kim Himchan. Hanya kau.”

 

Himchan tercengang mendengar pernyataan Alice. Begitu tiba-tiba dan mengejutkan. Himchan bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Dia kehilangan kata-katanya. Lidahnya kelu untuk berbicara.

 

Alice langsung menggenggam tangan Himchan. “Aku tahu ini terkesan tiba-tiba untukmu, tapi kau harus tau, aku jujur tentang ini. Aku ingin kita bersama-sama lagi. Aku ingin kita…menjadi sepasang kekasih lagi…”

 

Apa yang dikatakan Alice barusan membuat Himchan seperti membeku. Dia terpaku ditempatnya duduk.

 

“Chan-a?”

 

“Iya?” Himchan berusaha mengembalikan kesadarannya. Dia tersenyum memandangi Alice. Tapi hatinya masih shock mendengar pengakuan Alice.

 

“Kau mau?”

 

Himchan memandangi gadis dihadapannya lekat. Gadis ini, yang 5 tahun lalu memutuskan hubungan dengan dirinya, dan memilih dengan James. Gadis ini, yang mencampakkannya, membuat dirinya putus asa sampai dirinya memilih meninggalkan New York agar bisa melupakan gadis itu. Dan kini, gadis itu kembali. Setelah berpisah dari mantan pacarnya, dia justru meminta mereka agar bisa menjadi sepasang kekasih lagi.

 

Himchan memejamkan matanya, meredam emosinya. “Tidurlah. Ini sudah larut.”

 

Alice nampak kecewa dengan Himchan, namun dia hanya tersenyum dan beranjak ke kamar tidurnya. Sebelum masuk, Alice menoleh dan memandangi Himchan. “Aku harap kau mau.”

 

Sepeninggalan Alice, Himchan masih termenung. Masih terngiang-ngiang kata-kata Alice barusan. Himchan tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang.

 

Alice memintanya kembali di sisinya, menjadi kekasihnya dan menghabiskan waktu bersama-sama lagi. Seperti dulu. Himchan berdiri, dan masuk ke kamarnya. Dia merebahkan badannya di kasur. Matanya menatap langit-langit kamarnya.

 

Semua kenangan bersama Alice masih tersimpan rapi di ingatannya. Saat mereka berbagi kebahagiaan, canda, tangis dan tawa. Saat Himchan melamar Alice, saat mereka bertunangan. Bahkan Himchan masih mengingat tanggal pertunangan mereka dengan jelas. Semuanya masih jelas diingatannya.

 

Tapi, gadis itu telah membuatnya hancur. Alice langsung saja memutuskan pertunangan dengan dirinya, karena merasa James lebih baik darinya. Alice, yang telah memporak-porandakan hidupnya, menghancurkan semangat dan senyumnya, mengacaukan segalanya. Membuat Himchan kehilangan arah dan tujuan hidup. Membuat Himchan menjadi orang yang paling bersedih melihat kebersamaan James dan Alice.

 

Himchan membalikkan badannya. Pikirannya masih semrawut. Dia masih ingat betul, saat-saat dimana dia kehilangan kebahagiaannya yang direnggut oleh sahabat sendiri. Dimana dia hanya tersenyum dan merelakan semuanya, padahal dirinya begitu hancur. Hatinya tiba-tiba sesak.

 

Jujur, Himchan emang pernah mengharapkan ini terjadi. Alice sadar, dan kembali ke pelukan Himchan. Sebelum Himchan pergi meninggalkan New York, dia selalu berharap agar Alice tahu cinta Himchan lebih besar untuknya, daripada cinta James. Semua yang Himchan telah korbankan untuk gadis itu. Apapun dia akan lakukan, agar gadis itu kembali ke sisinya. Illegal atau tidak, buruk atau baik, positif atau negative kah cara itu, Himchan akan melakukannya. Asalkan Alice kembali ke sisinya, kembali menjadi bagian hidupnya, kembali menjadi sumber kebahagiannya.

 

Namun, sayangnya Himchan tidak bisa menyakiti hati James sendiri. James adalah sahabatnya sejak mereka kecil. Himchan dan James terlihat sangat akrab, segala problema Himchan pasti ia ceritakan di James. Begitu juga sebaliknya. Sampai, Himchan tahu James menyukai Alice. Dan, entah kapan, Alice pun menyukai James. Hati Himchan tersayat melihat mereka berdua. Namun, Himchan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bis amemisahkan Alice dan James seenaknya. Dia tidak ingin membuat James kecewa dengan dirinya. Terlebih dengan Alice. Jadi, dia memilih meninggalkan NewYork dengan segala kenangan pahitnya disana. Berusaha lari sejauh mungkin agar Himchan bisa melupakan segalanya.

 

Bukankah ini yang dirinya inginkan? Alice akhirnya sadar, dan kembali dipelukannya. Mungkin. Himchan menghela napas berat. Dirinya mungkin senang, apabila tidak ada seseorang yang berhasil mengisi hatinya.

 

Nama itu. Jung Nami. Gadis pengidap skizofrenia, yang dingin namun punya pesona tersendiri. Himchan tidak pernah tahu akan bertemu dengan Nami saat kembali ke Tokyo, dan jatuh cinta padanya. Segalanya terjadi secara alami, seperti bunga yang bermekaran pada musimnya. Gadis dingin yang memiliki aura tersendiri, pesona yang menghanyutkan. Yang berhasil membuat Himchan hanyut dalam pesonanya, dan berusaha menyelami segalanya tentang gadis itu.

 

Entah sejak kapan, Jung Nami berhasil membuat dirinya bahagia, sedih, bahkan kacau sekalipun. Gadis itu tidak pernah meminta Himchan memerhatikannnya, Namun Himchan menawarkan diri. Salahnya Himchan adalah… membiarkan dirinya jatuh oleh pesona Nami. Tidak, itu bukan suatu kesalahan, batin Himchan. Itu memang takdir. Tuhan menggantikan segala kebahagiaannya yang hilang, dan menggantinya dengan kebahagiaan tersendiri oleh Jung Nami.

 

Didekat Jung Nami, Himchan merasa hidup kembali. Dia bisa memandangi dunia lagi, tersenyum lagi, dan kembali menjadi dirinya yang dulu. Jung Nami mengembalikan segalanya. Dan, Himchan pun tidak sadar sejak kapan, tapi dirinya yakin, Jung Nami adalah orang yang penting di hidupnya, Kim Himchan. Himchan bahkan mulai ragu apakah hidupnya akan berjalan seperti biasanya jika Jung Nami jauh darinya. Himchan telah menemukan kebahagiannya.

 

Himchan bangun dan terduduk di tempat tidurnya. Ada dua gadis yang sekarang bermain dipikiran Himchan. Alice Song dan Jung Nami. Dua gadis yang punya kepribadian saling bertolak belakang. Dua gadis yang menjadi kebahagiaan Himchan, dari masa lalu dan sekarang. Namun, Himchan belum bisa menetapkan hatinya. Dia belum bisa memutuskan. Dirinya takut, jika keputusannya nanti membuat salah satu diantara mereka, atau mungkin dirinya, menyesal dan sedih.

 

Himchan menghela napasnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya, dan berusaha tertidur. Menyelimuti dirinya, berusaha melawan hawa dingin akibat hujan.

 

-oOo-

 

Junhyung membuka pintu kamar Nami pelan dan masuk kedalam. Memastikan kalau Nami sudah tertidur pulas. Junhyung tersenyum melihat Nami terbalut selimut tertidur pulas. Dia lalu mengingat Nami yang berusaha menahan isakannya, menangis ditengah hujan yang mengguyur. Mata Nami yang tidak bisa bohong, saat menatap Junhyung, ia tahu semuanya. Apa yang dirasakan Nami, seolah olah Junhyung ikut sedih. Junhyung mengusap mukanya. Dia harus tahu apa yang membuat Nami sedih sampai menangis seperti itu.

 

Dia pun keluar dari kamar Nami. Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Junhyung menekan tombol ‘yes’ dan menempelkannya ditelinga.

 

“Halo?… Apa? Kau sudah dapat?…..Baik-baik….Datang ke sini….Rumah Jung Nami…..aku tunggu.”

 

Junhyung duduk disofa menunggu asistennya datang. Selang beberapa menit, asistennya tersebut datang. Junhyung mempersilahkannya masuk.

 

“Apa yang kau dapatkan?” Junhyung langsung bertanya pada intinya. Asisten itu nampak membawa amplop besar coklat. Dia membukanya dan mengeluarkan beberapa berkas dan meletakkannya di meja. Junhyung memicingkan matanya, mengamati satu-satu berkas tersebut.

 

“Setelah saya selidiki, 3 orang ini yang saya curigai sebagai pelaku pemboman di outlet nona Nami, juga mereka yang menyebarkan artikel fitnah tentang hubungan anda dengan nona Nami serta yang lesbian itu.”

 

Junhyung mendengarkan penjelasan asistennya dengan seksama. Asistennya mengambil sekumpulan berkas pertama dan menyerahkannya kepada Junhyung.

 

“Terduga tersangka pertama, Miyakama Aoi umur 32 tahun. Seorang designer yang memang terkenal iri dengan kesuksesan nona Nami. Dia kerap kali menyebarkan isu dan gossip tentang nona Nami yang tidak benar. Baginya, kesuksesan Jung Nami terkesan instant karena usia nona Nami yang masih sangat muda. Terlebih lagi, saat kejadian tersebut, dia tidak ada dikantornya. Tapi, dia tidak berada di Seoul. Waktu itu dia berada di Thailand.”

 

“Terduga tersangka kedua, Sora Im. Pengusaha tekstil. Dia memiliki dendam pribadi dengan nona Nami lantaran gossip nona Nami dengan Nishimura Kaito yang santer terdengar. Dia selalu menyebarkan gossip yang aneh lewat akun jejaring sosialnya, bahkan terbukti pernah menghack situs website JNM. Saya mencurigainya karena dia ada di daerah Gangnam pada saat kejadian berlangsung, juga dia terlihat datang ke kantor penerbitan majalan itu.”

 

Junhyung mengamati kedua foto orang itu. Dia tidak mengenalnya. Dia tidak mencurigainya.

 

“Ada apa, tuan Junhyung?” tanya asisten itu melihat Junhyung menatap foto kedua terduga tersangka.

 

Junhyung menggeleng. “Tidak ada, lanjutkan.”

 

“Yang ketiga, Goo Hara. Make up artist juga seorang stylist dari Korea Selatan. Teman akrab Jung Nami semasa SMA dulu, namun sekarang menyimpan dendam yang besar kepada nona Nami. Dia terkenal selalu mencibir atas karya-karya nona Nami. Dia juga terlihat disektiar daerah Gangnam saat kejadian. Terlebih, saksi mata menyebutkan, dia juga terlihat sering bolak-balik kantor penerbitan majalah yang menyebarkan gossip itu. Dia juga mantan kekasih Suho Kim.”

Junhyung mengamati foto Goo Hara ini, lalu tampak berpikir sesaat. Berusaha mengingat saat kejadian waktu itu. Entah kenapa, Junhyung pernah melihat wajah Goo Hara ini. wajah yang familiar.

 

Junhyung memerhatikan kembali foto Goo Hara. “Aku pernah melihatnya. Ya, pernah. Di daerah Gangnam tepat saat kejadian itu berlangsung.”

 

“Menurut data dari saksi juga mengatakan dia ada disana, tepat saat kejadian itu berlangsung.”

 

“Apa dia yang melemparkan bom dan tumpukan sampah itu?”

 

Asisten Junhyung terdiam berpikir sesaat. Lalu, Asistennya menggelengkan kepalanya. Junhyung menyandarkan punggungnya di sofa.

 

“Apa kau sudah menemukan siapa orangnya?”

 

“Ya. Tapi, orang itu masih tidak mau membuka suaranya. Justru, orang itu bertingkah aneh di sel tahanan, mengganggu tahanan lain dan membuat bingung polisi.”

“Aku rasa, dia hanya berpura-pura. Kau tahu bukan? Berpura-pura gila memang andalan para penjahat. Usahakan agar dia bisa buka mulut, lakukan apapun agar dia bisa. Bagaimana pun juga, dia telah melakukan kejahatan. Berangkatlah ke Seoul besok, dan selidiki ketiga orang ini”

 

Asisten itu emngangguk mengerti. Junhyung lalu membuka mulutnya, menambahkan sedikit hal. “Dan, aku ambil berkas Goo Hara ini. kau selidiki lagi tentang Goo Hara, dan terduga tersangka lainnya.”

 

Junhyung menggenggam berkas Goo Hara itu. Dia memerhatikan fotonya sekali lagi. Dan, Junhyung yakin pernah melihat orang itu didaerah Gangnam. Dia ingat wanita yang berdiri tak jauh dari butik Nami, dengan segerombolan wanita-wanita berkumpul kasak-kusuk membahas sesuatu. Dan, wajahnya sekilas mirip dengan wanita bernama Go Hara tersebut.

 

Junhyung menatap asistennya. “Kerja bagus,” katanya lagi.

 

Lalu, asisten itu pulang. Junhyung menatap berkas yang ditinggalkan asisten tersebut. Dia harus mendiskusikannya dengan pegawai butik Nami dan Sungyeol. Merekalah yang tahu pasti kejadian tersebut.

 

Junhyung menggertakkan giginya menahan emosi. Kalau sampai benar, diantara tiga orang terduga tersangka ini, memang tersangka dibalik sederetan kejadian naas yang menimpa Nami, maka Junhyung tidak akan segan-segan menjebloskan mereka ke penjara. Agar mereka tahu, apa yang mereka lakukan itu salah dan mereka harus menerima ganjarannya.

 

Mengingat Nami, Junhyung belum tahu siapa yang membuat Nami menangis seperti itu. Junhyung langsung mengambil ponselnya, dan menelpon Sungyeol. Mungkin, dia tahu sesuatu.

 

“Sungyeol?
“Ada apa?”

“Aku ingin bertanya sesuatu. Apa kau… tahu siapa yang membuat Nami menangis?”

“Apa? Nami menangis?”

Junhyung mengangguk. “Iya. Dia menangis waktu aku menjemputnya, dia ada ditepi jalanan, terduduk, dan hujan mengguyurnya. Aku tidak tahu berapa lama dia duduk disana. Tapi, Aku bisa memastikan dia menangis.”

“Nami menangis? Ini sebuah kemajuan. Biasanya, dia tidak tahu harus mengekspresikan emosinya seperti apa dan bagaimana. Sekarang, dia bisa menangis. Berarti, dia merasa sedih. dan, dia tidak menampakkan gejala negative seperti biasanya.”

 

“Tapi, apa itu berbahaya untuknya?”

“Aku tidak bisa mendiagnosa jika belum memeriksa Nami lagi. Gejala-gejala positif skizofrenia belum dia alami, namun gejala-gejala negatifnya sudah dan sekarang dia bisa mengekspresikan emosinya. Indikator premorbid juga dialaminya. Ini mungkin sebuah kemajuan bagi otaknya, tapi tidak denga psikologisnya. Aku takut, keadaan psikologisnya sedang terganggu atau dia sedang terancam atau sedih berkepanjangan, sehingga syaraf nya memaksakan otaknya bekerja lebih keras. Aku khawatir akan hal ini.”

“Lalu, apa yang harus dilakukan?”

“Aku akan bertemu dengannya, mengkaji lebih dalam tentang Nami.  Kuharap kau juga mau ikut.”

“Pastinya. Ah, satu lagi, kau tahu siapa yang membuat Nami menangis?”

“Tidak. Tapi, kemarin aku bertemu dengannya di kafe, dia bersama Himchan dan seorang gadis lain.”

 

Junhyung mengerutkan dahinya. Himchan? Apa mungkin Himchan yang membuat Nami menangis? Jika iya, kenapa? Apa yang dilakukan Himchan sampai Nami menangis?

 

“Baiklah. Aku pasti datang besok. Sampai jumpa.”

 

Junhyung meletakkan begitu saja ponselnya dimeja. Dia memikirkan lagi. Kim Himchan… Apa benar dia yang membuat Nami menangis?

 

Junhyung kembali menggeluti pikirannya tentang Kim Himchan dan Goo Hara.

 

-oOo-

 TO BE CONTINUED

[!] from Author :

“Sorry for waiting TuT Minna saaaaaaaaaaan gomen nasaiiiii TT-TT maaf maaf maaf karena udah nunggu lama banget huwee author sibuk banget jadi ga sempat ngelanjutinnya. Masih adakah yang menunggu? Huwe mianhaee TT^TT disini mulai muncul konflik kedua terpenting dari FF ini, so better to watch out kkeke xD 

RCL diperlukan hitung hitung sebagai sedekah hehehe xD

SEKIAN, SAMPAI JUMPA DI NEXT CHAPTER~ PPYONG

Jung Na Mi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

61 responses to “FF : Oramanieyo… [CHAPTER 6B]

  1. Pingback: Bloody Camp [Act 1] | FFindo·

  2. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9] | FFindo·

  3. Makin lama ceritanya makin keren deh, jadi comlicated bgt gitu… Pokoknya kalo baca ini makin seru aja deh hehe Keep writing thor 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s