Something You Don’t Understand [Part 3]

Luhan-crop

[A Fanfict From A Friend]

Author : @syadzadhanti

 Genre : Romance, action | Rating : PG-13

 Length  : Multi Chapters

 Main casts: Xi Lu Han, Park Yoora (OC)

Other casts :

 Park Ji Soo (OC), Kim Minseok (Xiumin), Zhang Yixing (Lay), Wu Yi Fan (Kris), Keluarga Xi

 

[PART 1] | [PART 2]

I also have my own wordpress, you can check it^^ ohyeolliepop.wordpress.com. Kamsahamnida^^

***

Something You Don’t Understand

“Aku tahu kau pasti akan menyelamatkanku, Yoo.. –Kau?!”

Mata Luhan mungkin akan melompat keluar kalau saja Luhan tidak menahannya. Ia benar-benar terkejut saat gadis itu membuka maskernya. Ternyata gadis itu bukan Yoora. “Kau ini siapa?” tanya Luhan heran. Ia yakin belum pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya.

“Tidak penting aku ini siapa,” sahut gadis itu ringan. “Yang penting sekarang kau sudah selamat.”

Luhan memandangi gadis itu dengan heran. Kenapa ia kelihatan santai sekali? Padahal ia baru saja melakukan sebuah ‘aksi penyelamatan’. Gadis itu rupaya sadar bahwa Luhan memperhatikannya, maka ia bertanya, “Kenapa memandangiku? Ada yang aneh dariku, Luhan?”

Luhan gelagapan mendapat pertanyaan yang mendadak seperti itu. “Ani. Kau tahu namaku.. Kau mengenalku?”

Gadis itu tersenyum simpul. “Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal Xi Lu Han, anak dari Keluarga Xi yang sangat terkenal di seluruh penjuru Korea.”

Luhan merasa gadis ini jadi terdengar seperti si pria pendek pemabuk. Ia bergidik ngeri, meskipun gadis ini sudah menyelamatkannya, tidak menutup kemungkinan gadis ini juga mempunyai niat jahat terhadapnya. “Kau ini sebenarnya siapa?”

Gadis itu kelihatan berpikir sebentar. “Aku ini penculik.”

Tepat setelah gadis itu menjawab tudingan Luhan, Luhan merasakan seseorang menariknya dengan kasar dari belakang. Luhan mencoba untuk menghindar, namun terlambat. Orang itu dengan cepat membekap hidung dan mulut Luhan dengan sebuah kain. Setelah itu Luhan tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Semuanya menjadi gelap.

***

“Uh..,” keluh Luhan.

Luhan pelan-pelan mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Tidak ada yang membangunkannya, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya memaksanya untuk tersadar. Luhan mencoba untuk menggerakkan badannya namun gagal. Ia baru sadar kalau dirinya sekarang.. Terpasung.

Ini lebih mengerikan dari sebelumnya! Kedua tangan Luhan diikat ke belakang dan kakinya dipasung pada sebuah kayu. Ketakutan yang mendalam segera menjalari Luhan. Siapa yang tega memasungnya? Setahu Luhan, hanya orang dengan gangguan mental yang mendapat perlakuan seperti ini. Tapi dia baik-baik saja, ia tidak mengalami gangguan apa pun.

Kriet.

Tiba-tiba pintu di ruangan itu dibuka dan muncul seorang pria. Luhan tidak dapat mengenali pria itu karena ia mengenakan masker yang menutupi wajahnya sampai ke hidung. Luhan mengenali masker itu. Ya, itu adalah masker yang sama dengan masker gadis yang tadi ia kira akan menyelamatkannya. Luhan dapat mengenalinya karena masker itu memiliki bercak berwarna ungu di ujung kirinya. Pria itu diam saja di ambang pintu, mengamati Luhan dalam diam. Sementara Luhan masih berperang dengan perasaannya sendiri. Antara takut dan sibuk menebak-nebak siapakah pria di depannya ini.

“Kau sudah sadar,” komentar pria itu singkat. Suaranya terdengar sedikit aneh. Mungkin pria itu mengubah suara aslinya.

Pria itu pasti adalah otak dibalik pemasungan ini. Luhan mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki dan berteriak, “KENAPA KAU MEMASUNGKU?!”. Luhan tidak bisa menahannya lagi. Ini sudah keterlaluan.

Pria itu mendengus kesal, “Jangan pernah berteriak padaku.”

Bukannya menuruti perkataan pria itu, Luhan justru kembali berteriak, “JAWAB!”

Pria itu kelihatan sudah kehilangan kesabarannya. Ia segera mendekati Luhan dan menampar kedua pipi Luhan dengan kasar. Luhan dapat merasakan pipinya perih, sepertinya berdarah.

“Asal kau tahu, aku bisa menyakitimu kapan saja seperti aku menyakiti gadis ini.”

Tiba-tiba seorang gadis ambruk di depan Luhan. Kelihatannya seseorang mendorongnya masuk dari luar, tapi karena gadis itu dalam kondisi tidak sadarkan diri, ia jatuh ambruk di lantai. Pria itu lalu menarik rambut gadis itu dengan kasar –menampakkan wajah gadis itu kepada Luhan. Itu adalah gadis yang menyelamatkannya tadi.

“Kau tidak ingin bernasib sama dengannya, kan?” tanya pria itu sambil tertawa. Sungguh, tawanya terdengar jahat sekali.

Luhan mengamati gadis itu, terdapat beberapa bekas pukulan dan luka goresan di wajahnya. Gadis itu babak belur. Tidak sadar, wajah Luhan memucat. Pria itu tersenyum puas melihat reaksi Luhan. “Kalau begitu turutilah perkataanku dan jangan pernah macam-macam.”

Pria itu kemudian keluar dari tempat Luhan dipasung dan mengunci pintunya. Samar-samar Luhan dapat mendengar pria itu berkata kepada seseorang, “Jaga ruangan ini. Jangan biarkan mereka kabur.”. Sekarang yang bisa Luhan lakukan hanya memandangi gadis yang pingsan di depannya ini dengan bingung dan putus asa.

***

Prang!

Sebuah botol soju dibanting dengan kasar ke lantai. “Kenapa kau jadi begitu bodoh, Park Yoora?! Kau membiarkannya kabur begitu saja!” maki seseorang. Si pria pendek pemabuk.

Yoora menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap orang yang berdiri di hadapannya. “Mianhae, appa.”

Pria pendek pemabuk itu memaki sekali lagi. “Kau tahu sendiri, Luhan adalah kunci untuk kesuksesan kita. Tapi kau membiarkannya kabur begitu saja. Saat Luhan kabur, satu-satunya orang yang ada di tempat ini hanya kau. Kenapa kau tidak mengawasinya, hah?!”

Omelan pria pendek pemabuk terhenti saat seseorang masuk ke dalam ruangannya. Orang itu adalah Kim Minseok, salah satu anak buah yang paling diandalkannya. “Permisi, Tuan Park Ji Soo.”. Itulah nama si pria pendek pemabuk yang sebenarnya. Park Ji Soo.

“Ada apa?” tanya Ji Soo.

“Saya baru saja memeriksa ruangan tempat Luhan disekap. Sepertinya Luhan tidak kabur, tapi ia diselamatkan oleh seseorang. Itu terlihat dari teralis jendela yang jelas dirusak dari luar, bukan dari dalam,” tukas Minseok.

Ji Soo mengerutkan alisnya, “Diselamatkan oleh seseorang?” tanyanya. Ia langsung mengalihkan padangannya kepada Yoora. Ia mengangkat dagu Yoora dan membuat Yoora menatapnya. “Jangan bilang kau yang menyelamatkannya.”

Yoora cepat menggelengkan kepalanya. “Aku tidak melakukannya, appa. Sungguh.”

Ji Soo menatap Yoora dingin dan tanpa minat, “Berikan alasan kenapa aku harus mempercayaimu.”

Aku ini anakmu, appa. Sudah seharusnya kau mempercayaiku, batin Yoora. Tapi lidahnya kelu, ia juga terlalu takut untuk mengatakan hal itu kepada Ji Soo. Akhirnya Yoora memilih kata-kata lain, yang tidak akan menyulut emosi Ji Soo. “Hari itu aku hanya bertemu Luhan sekali, saat aku mengantarkan sarapannya. Tapi karena Luhan tidak mau makan, aku langsung pergi meninggalkannya dan menemui Minseok di ruang makan. Bukan begitu, Minseok?”

Minseok langsung mengangguk begitu Yoora meminta persetujuannya. Ji Soo menatap Yoora dan Minseok bergantian. “Aku percaya padamu, Kim Minseok. Kuharap kau tidak membohongiku,” desis Ji Soo. Ia lalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan Yoora dan Minseok berdua.

Setelah Ji Soo benar-benar sudah keluar, Yoora tertawa sinis. Ia menatap Minseok pilu. “Dia sangat mempercayaimu, Minseok. Hebat. Bahkan dia tidak pernah bisa mempercayaiku.”

Minseok tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tahu, Yoora hanya merasa iri padanya. Minseok lalu mencoba untuk merengkuh bahu Yoora dan menguatkan gadis itu.

Yoora menyingkirkan tangan Minseok dari bahunya dengan tidak suka. “Kau tidak perlu mengasihaniku.”

“Aku tidak mengasihanimu, Yoora. Aku peduli padamu.”

“Kalau begitu berhentilah peduli padaku.”

“Kenapa?”

Yoora menatap Minseok seakan-akan namja itu baru saja mengajukan sebuah pertanyaan yang retoris. “Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa. Kenapa kau peduli padaku? Kenapa kau tidak menganggapku sampah seperti yang orang lain lakukan?”

Minseok tercekat. Ia tidak bisa menyangka Yoora akan mengatakan hal seperti itu. Ia langsung memeluk Yoora, tidak peduli seberapa kuat gadis itu mencoba memberontak. “Tidak ada yang menganggapmu sampah, Yoora. Jangan pernah berkata seperti itu.”

Pertahanan Yoora runtuh sudah. Ia Bulir-bulir air mata turun begitu saja dari pelupuk matanya. “Tidak ada? Kau bilang tidak ada? Bahkan appaku sendiri menganggapku seperti sampah!”

“Kenapa kau bicara seperti itu?”

Appa memang tidak pernah menghargaiku. Aku selalu belajar mati-matian agar prestasiku di sekolah bagus, tapi apa? Appa tidak pernah peduli,” sesal Yoora. “Semuanya yang terbaik sudah aku berikan, tapi appa tidak pernah menganggapku berarti. Apa bedanya aku dengan sampah?”

Minseok mempererat pelukannya pada Yoora, “Kau adalah gadis yang hebat, Yoora. Kau tidak perlu merasa rendah seperti ini.”

Dalam sekali hentakan yang cukup kuat, Yoora melepaskan dirinya dari pelukan Minseok. Namja ini tidak akan pernah mengerti dirinya, karena namja ini tidak ada di posisinya. Sebenarnya, Yoora iri sekali dengan Minseok. Appanya begitu dekat dan percaya pada Minseok, padahal ia bukanlah anggota Keluarga Park. Minseok hanya anak laki-laki kurang beruntung yang diambil Ji Soo dari jalanan saat usianya masih  empat belas tahun. Ji Soo kemudian melatihnya agar menjadi namja yang gesit, cekatan, dan jago bela diri. Saat masih remaja, Yoora sangat senang dengan kehadiran Minseok karena akhirnya ia memiliki teman yang sepantaran. Yoora juga banyak menghabiskan waktu latihan bela diri bersama dengan Minseok. Tapi seiring berjalannya waktu, Yoora merasa iri karena ternyata Ji Soo menyayangi Minseok lebih daripada ia menyayangi putrinya sendiri.

“Aku sudah bilang, Kim Minseok. Kau tidak perlu mengasihaniku,” tegas Yoora sambil berlalu. Minseok menatap punggung Yoora lirih sampai gadis itu hilang dari pandangannya. Yoora tidak akan pernah tahu seberapa besar Minseok menyayanginya.

***

Suasana di rumah Keluarga Xi menjadi suram semenjak Luhan hilang. Semua orang menghabiskan waktunya untuk mencari cara agar Luhan dapat ditemukan.

Annyeonghaseyo, Tuan Xi,” sapa seorang namja dengan hormat.

Tuan Xi menoleh, kemudian tersenyum, “Bagus. Kau sudah datang, Zhang Yixing.”

Namja yang ternyata bernama Zhang Yixing itu mengangguk. Yixing adalah salah satu orang kepercayaan Keluarga Xi –meskipun senioritasnya masih jauh di bawah Gong Ah Hwa. Yixing memiliki kemampuan bela diri yang cukup baik dan kemauan untuk bekerja keras, itulah sebabnya ia diangkat menjadi orang kepercayaan Keluarga Xi walaupun usianya masih tergolong muda.

“Apakah kau sudah mendapatkan informasi terbaru tentang Luhan?” tanya Tuan Xi.

Yixing menggelengkan kepalanya. “Saya sangat menyesal, namun saya belum mendapatkan informasi apapun tentang Luhan.”

Tuan Xi kelihatan kecewa. Yixing belum mendapatkan informasi terbaru tentang Luhan. Gong Ah Hwa juga belum memberinya kabar. Tiba-tiba, Tuan Xi teringat pada orang kepercayaannya yang lain. Wu Yi Fan. Sebenarnya Tuan Xi ingin memberi perintah kepada Yi Fan agar ikut melacak keberadaan Luhan, namun kabar terakhir yang diterimanya mengatakan Yi Fan masih berada di luar Korea.

“Bagaimana dengan Yi Fan? Apakah ia masih di Kanada?”

Yixing menggaruk tengkuknya dengan sedikit kikuk. “Mianhaeyo, Tuan. Saya tidak tahu dimana keberadaan Yi Fan sekarang.”

Tuan Xi lagi-lagi terlihat kecewa. Yi Fan adalah orang kepercayaannya dengan kemampuan bela diri dan insting yang sangat baik. Meskipun ia juga masih muda –hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Yixing, namun kemampuan Yi Fan bisa dikatakan sudah hampir setara dengan Ah Hwa. Karena itulah Tuan Xi biasa menurunkan Yi Fan untuk langsung menghadapi musuh-musuhnya, sementara Ah Hwa memantau dan mengatur strategi dari jauh. Yixing juga kadang diturunkannya, namun menurut Tuan Xi, Yixing masih harus banyak belajar baik dari Ah Hwa maupun Yi Fan.

Sayangnya sudah tiga bulan ini Yi Fan meninggalkan Korea. Yi Fan hanya memberikan pesan lewat sebuah memo yang mengatakan kalau ia akan pergi ke Kanada. Tidak ada orang yang tahu apakah Yi Fan benar pergi kesana dan untuk keperluan apa ia ada disana. Hanya Yixing yang tahu, Yi Fan memang pernah tinggal di Kanada, tapi sekarang ia tidak memiliki saudara lagi di Kanada. Semua sisa anggota keluarganya tinggal di China. Sisa? Ya, sisa anggota keluarganya yang selamat dari sebuah insiden mengerikan di Kanada belasan tahun yang lalu. Tentang hal itu, juga hanya Yixing yang mengetahuinya.

“Baiklah, Yixing. Kau bisa kembali bekerja,” perintah Tuan Xi pada akhirnya. Yixing mengangguk patuh dan segera meninggalkan tempat itu. Tuan Xi lantas meraih telepon genggamnya dan menelepon seseorang. “Carilah informasi tentang keberadaan Wu Yi Fan sekarang. Aku sangat membutuhkannya.”

***

“Bangunlah.. Kumohon, bangunlah,” Luhan terus berusaha untuk membangunkan gadis yang sedang pingsan di depannya ini. Ia sudah mencoba berbagai cara, mulai dari berteriak, bersiul, bahkan bernyanyi. Andai saja tangannya tidak diikat dan kakinya tidak dipasung seperti ini, pasti akan lebih mudah untuk membangunkan gadis itu. Luhan merasa ia perlu tahu siapa gadis itu sebenarnya dan ada hubungan apa ia dengan pria tadi.

Tidak lama kemudian, gadis itu akhirnya mulai menggerakkan tangannya. Luhan bernafas lega, kelihatannya gadis itu sudah mulai sadar. “Hey, bangunlah,” kata Luhan sekali lagi. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan pelan-pelan bangkit dari posisinya yang tertelungkup di lantai. Gadis itu mencoba duduk, walaupun kelihatannya ia sangat kesakitan.

“Sakit,” keluh gadis itu pelan. Luhan memandanginya dengan iba. Ia tidak tahu apa yang sudah dilakukan pria bermasker tadi kenapa gadis itu –kelihatannya sesuatu yang mengerikan. Tapi kenapa si pria bermasker menyiksa gadis itu? Bukankah gadis itu adalah anak buahnya sendiri? Luhan mengasumsikan demikian karena tepat setelah gadis itu berkata ‘penculik’, seseorang langsung membekapnya dan ia sekarang ada di tempat ini. Ada kaitannya, bukan?

“Tentu saja sakit. Kau ini babak belur,” komentar Luhan. Gadis itu pelan-pelan mengangkat kepalanya dan menatap Luhan. “Luhan? Untunglah kau baik-baik saja.”

Luhan membuang tatapan ibanya dan menggantinya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa gadis itu bilang bahwa Luhan baik-baik saja? Oke, meskipun tidak babak belur, tapi sekarang Luhan dipasung. Jelas ia tidak baik-baik saja. “Bagaimana bisa kau bilang begitu? Kau tidak lihat aku dipasung?”

Gadis itu mengalihkan tatapannya pada kaki Luhan dan sedetik kemudian ia memasang ekspresi wajah terkejut. “Ah, mianhae.. Aku tidak tahu.”

Luhan mendengus kecil. “Pria tadi menyiksamu?”

Gadis itu mengangguk. “Sebenarnya tidak hanya pria tadi, tapi juga beberapa anak buahnya.”

“Anak buahnya? Jadi teman-temanmu sendiri juga ikut menyiksamu?” tanya Luhan.

“Mwo? Teman-temanku? Aku tidak mengenal mereka!” jawab gadis itu –kelihatan tidak suka.

“Bukankah kau juga anak buah pria tadi? Bahkan kalian memiliki masker yang sama,” sindir Luhan.

“Bukan! Kami tidak memiliki masker yang sama. Masker yang dipakainya tadi adalah punyaku. Dia mengambilnya dariku untuk menyamarkan identitasnya.”

“Lalu, kau ini siapa?”

“Kau benar-benar ingin tahu aku ini siapa?

“Tentu saja.”

Gadis itu menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya lambat-lambat. “Gong Ah Ri imnida. Aku adalah anak dari Gong Ah Hwa. Aku yakin kau pasti mengenal appaku.”

Luhan menatap gadis itu dengan tidak percaya. Jadi, gadis itu adalah anak dari orang kepercayaan keluarganya. Ia sama sekali tidak menyangka.

“Keluarga Xi panik sekali saat kau menghilang. Tuan Xi lalu memberi perintah pada appaku untuk mencarimu. Sayangnya appaku tidak bisa berbuat banyak karena penyakit tumornya terlalu berbahaya,” jelas Ah Ri. “Karena itu appaku memintaku untuk menggantikan tugasnya. Ia memintaku untuk mencarimu.”

Luhan mengangguk paham. “Lalu, kenapa kau bisa disiksa?”

“Karena aku melawan,” jawab Ah Ri. “Yang pertama kali menyiksaku adalah beberapa anak buah pria tadi. Mereka menyiksaku karena aku menolak untuk memberikan senjataku.”

“Kau membawa senjata?”

“Tentu saja. Aku membawa senjata untuk berjaga-jaga.”

“Lalu, apa yang terjadi?”

“Meskipun mereka terus menyisaku, aku tetap mencoba untuk melawan. Akhirnya aku bisa menumbangkan satu di antara mereka –“

“Mereka ada berapa orang?” potong Luhan.

“Empat. Tapi satu di antara mereka tidak ikut menyisaku, dia hanya diam dan memperhatikan dari sudut ruangan. Sayangnya dia memakai topeng jadi aku tidak dapat melihat wajahnya.”

“Apakah itu pria yang tadi?”

“Bukan”

“Oh.. Lalu apa yang terjadi?”

“Saat satu di antara mereka tumbang, dua yang lain jadi sedikit kehilangan konsentrasi. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Sayangnya, saat aku hampir keluar dari tempat ini, aku bertemu dengan pria tadi. Pimpinan dari sindikat penjahat ini.”

“Pria itu lantas menyiksamu karena kau ingin kabur?”

Ne, pria itu memang menyiksaku. Bahkan lebih parah daripada anak buahnya. Tapi ia menyiksaku bukan karena aku ingin kabur..”

Luhan mengerutkan keningnya. “Kalau bukan karena kau ingin kabur, lalu karena apa?”

Ah Ri menerawang ke langit-langit. “Karena aku melihat wajahnya.”

Luhan jadi semakin bingung. “Memangnya ada apa? Ada sesuatu yang salah dengan wajahnya?”

“Sebenarnya tidak ada apa-apa dengan wajahnya. Dia hanya sangat marah, karena aku bisa mengenalinya..”

Luhan membulatkan matanya. “Kau mengenalinya?”

Ah Ri mengangguk lesu. “Ia tidak akan pernah membiarkan kita kabur dari sini karena aku sudah mengetahui identitasnya.”

“Memangnya dia siapa?” tanya Luhan penasaran.

Ah Ri menggigit bibir bawahnya dengan frustasi. Meskipun tidak yakin, Ah Ri rasa Luhan perlu tahu yang sebenarnya.

“Pria tadi adalah Wu Yi Fan.”

 To Be Continued

__

Hai readers^^

Gimana ceritanya? Mianhae kalo abal-abal banget, harap dimaklumi soalnya aku masih newbie banget di dunia perfanfican :’) aku harap kalian mau ninggalin comment dan ga jadi silent reader, biar aku tahu kesalahanku dimana. Kalo ada kritik dan saran juga bisa kok langsung ke wpku sendiri di ohyeolliepop.wordpress.com

Thanks for reading 😀

83 responses to “Something You Don’t Understand [Part 3]

  1. Pingback: Something You Don’t Understand [Part 7] – END | FFindo·

  2. oh my god~ jadi kris yg nyekap mreka berdua jadi lay juga termasuk dong ckckck

    mreka licik banget -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s