The Day I Miss You

The Day I Miss You

the-day-i-miss-you

 

Author                   : Kaito

 

Beta Reader         : Harumi Aiko

 

Main Cast             : Park Eun Kyo (OC), Oh Sehun

 

Genre                     : Sad Romance

 

Rating                    : PG-13

 

Lenght                   : Oneshoot

 

Poster by               : PhoenixFromBusan

 

 

***

 

 

Senyum.

 

Kembali sosok itu tersenyum padaku, dengan tak bisa kuartikan apa maksudnya. Apa yang ia inginkan dariku atas senyuman itu. Dan aku hanya menatapnya bingung. Aku harus melakukan apa? Membalas senyumnya kah? Dengan segala ketidakpahamanku aku hanya terdiam. Bahkan ketika dia mengulurkan tangannya yang cemerlang, aku masih tak mampu untuk menyongsongnya yang datang seperti fajar. Meski dia sanggup menerangiku dengan cahaya berjuta watt, aku masih merasa gelap dan asing dihadapannya.

Aku tak tahu. Aku tak mengenal siapa orang itu.

 

“masih ragu padaku? Lambat laun kau akan  kembali. Ayo ikut denganku..”

 

Ia kembali membisikiku dengan suaranya yang sehalus sutra. Dari kelembutannya, aku tahu betapa sabar dan gigihnya ia mendekatiku. Membuatku semakin terkekang oleh kesalahan yang bahkan aku tak tahu bagaimana bentuknya. Tapi aku rasa aku sudah menyakitinya terlalu banyak.

 

Aku tak ingin senyum itu hilang. Maka kusambut cahaya itu dengan tangan kananku. Aku menggenggamnya dan ia semakin mengukungku dalam kenyamanan dibalik genggamannya.

 

“teman-temanmu pasti sudah banyak yang kangen. Hah, aku sudah tidak sabar. Bagaimana ya reaksi mereka melihatmu nanti? Kau sudah banyak berubah tentunya. Hohoho..”

 

Orang ini mengoceh sendiri seperti orang gila. Mau tak mau aku terkikik geli mendengarkannya. Kenapa ia begitu lucu? Kenapa aku begitu senang mendengar leluconnya? Tapi kalau dipikir-pikir itu hal biasa ketika mendengar sebuah candaan maka seseorang akan tertawa, jadi bukan sesuatu yang ganjil. Hanya saja..aku seperti terbiasa.

 

Biasa tertawa bersama orang ini.

 

Kami menyusuri lorong sekolah bersama dan aku cukup kelelahan karena ternyata sekolah orang ini –yang katanya juga sekolahku- luas sekali. Kami bahkan harus menaiki berpuluh-puluh anak tangga untuk naik kelantai tiga. Ke kelasku.

 

“tunggu sebentar…” aku berhenti di lantai kedua. Lututku lemas dan aku berpeluh cukup banyak. Mungkin karena kondisiku belum benar-benar pulih jadi daya tahanku lemah.

 

Orang itu ikut berhenti dan berjongkok disampingku. Nafasnya sedikit tersengal, mungkin sama lelahnya denganku. Tapi ia pandai sekali menutupinya. Padahal wajah porselennya itu sudah merah padam seperti kepiting rebus. Tampak samping, ia begitu tampan.

 

Tunggu, mengapa aku jadi suka mengagumi wajahnya?

 

Akhirnya, untuk sementara kami duduk bersandar pada tembok didepan sebuah aula. Aku menyelonjorkan kakiku yang terasa pegal, begitupun orang disebelahku ini. Kami duduk berdua dalam keheningan. Tak satupun membuka pembicaraan, terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku masih memikirkan siapa dia. Tentang namanya, Oh Sehoon. Itu katanya. Tentang sekolah ini, Yeomkwang High School. Dimana aku dan si Sehun ini bersekolah.

 

Aku tahu, aku pernah pingsan ketika jatuh dari tangga sekolah. Setelah itu aku tak mengingat apapun dan orang pertama yang kulihat begitu membuka mata adalah Sehun.

 

Aku tak merasa kesakitan ditubuhku, tapi ada sedikit ketakutan menyusup ke hatiku. Begitu asingnya aku dengan keadaanku yang waktu itu bahkan hingga hari ini. Disamping Sehun, aku merasa seperti ada didunia lain, bukan dunia yang biasa aku pijak dan lewati.

 

Tiba-tiba, aku merasa kenyamanan itu kembali menghampiriku. Beban itu seolah terangkat kembali ketika seseorang memberiku tempat bersandar. Aku terhenyak, rupanya Sehun menarik kepalaku agar berbaring dipundaknya yang kurus. Tangannya menyisir rambutku dengan lembut seolah meninabobokan.

 

“banyak hal yang kau lewati, Eunnie.. sebanyak hal yang kau lupakan. Mereka ingin kau jumpai lagi lalu kau sapa. Dan kau akan kembali pada hidupmu yang dulu. Ketika aku masih bisa melihat senyum dan tawa lepasmu, bukan segambar raut kebingungan ketika kita datang ke sekolah bersama. Kau..mau kan, mengingatnya?” diakhir pertanyaannya, Sehun terisak. Aku menebak dari suaranya yang bergetar dan hentakan-hentakan kecil dipundaknya.

 

Aku menegakkan tubuhku, dan menerawang ke langit-langit. Sebelum akhirnya kuanggukkan kepalaku dan bersedia mengingat kembali semua peristiwa yang mungkin sudah hilang dari ingatanku. Demi hidupku, dan Sehun.

 

Setelah letih kami berdua hilang, aku dan Sehun kembali menaiki tangga dan akhirnya tiba dilantai tiga. Dipojok koridor, itulah kelasku. Kelas 12-1. Rumah keduaku karena aku begitu banyak menghabiskan waktu disini, kata Sehun.

 

Sehun membimbingku menuju kelas. Dari jarak beberapa meter, aku bisa mendengar ricuh murid-murid didalam sana. Pasti mereka sedang bersenda gurau, sebagaimana anak sekolah pada umumnya.

 

PLUK

 

Sesuatu membentur dahiku lalu jatuh kelantai. Tidak sakit tapi membuatku sedikit terkejut. Aku meihat kebawah, ternyata sebuah pesawat kertas. Kubungkukkan tubuhku untuk mengambilnya, ketika sebuah suara mengejutkanku kembali.

 

“Park Eun Kyo???”

 

Aku terhuyung. Rupanya sesosok tubuh mungil menubrukku dengan cukup kuat dan memelukku erat. Ya tuhan!

 

Sesak.

 

Tapi yang membuatku sesak bukan dekapan kuat gadis ini. Ada isakkan kecil dibalik tawanya. Ia menangis sambil memelukku dan itu benar-benar menyesakkan. Kembali, aku merasa bersalah atas airmata seseorang.

 

“eun kyoooo.. kau kemana sajaaaaaaaaaaaa???? “ ia histeris. Senang, sedih, bercampur marah, itu yang kufikirkan tentangnya. Dan aku juga merasakan kesedihan itu. Hatiku sakit.

 

“aku kembali. Aku disini…” jawabku sekenanya. Tapi jujur, barusan aku mengatakannya dengan tulus. Seolah meyakinkan orang-orang disekitarku bahwa aku baik-baik saja. Seakan-akan aku tak mau mereka khawatir.

 

Gadis dihadapanku ini, awalnya terlihat asing. Tapi makin kuperhatikan, aku semakin mengenal raut sedih ini. Matanya yang sipit, kulitnya yang putih merona dan bibir manja itu. Bahkan tinggi badannya yang jauh diatasku tak bisa berbohong. Dia Byun Hyori. Sahabat terbaikku.

 

Kami tak lagi berpelukkan, setelah Hyori sedikit tenang dan tidak menangis lagi. Ia tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya dengan airmata yang tak bisa kutahan. Ketika semua yang sudah tak asing lagi dimataku. Kelasku. Ini kelasku.

 

Aku menghampiri sebuah bangku yang terletak dipojok kelas. Hatiku mendadak sakit, tersayat. Apa karena aku merindukan tempat ini? aku..tak tahu.

 

“bagaimana, Eun? Kau masih mau berdiri disitu? Sebentar lagi Wu Sonsaengnim akan segera masuk” aku terlonjak. Bagaimana tidak? Sehun tiba-tiba saja sudah ada dibangkuku, ehm maksudku disebelah kursiku. Ia sudah siap dengan catatannya, sedangkan aku masih bingung dengan bagaimana pria itu bisa ada disitu. Tapi sudahlah, toh mungkin saja karena aku terlalu banyak melamun jadi mengabaikan apa yang ada disekitarku.

 

Guru tiang listrik itu mulai melangkahkan kakinya kedalam kelas. Mendadak tegang dan kaku yang kurasakan disini. Hey, ada apa?

 

“siapkan kertas selembar. Waktunya dua puluh menit dari sekarang”

 

HAH ????? Mataku melotot tak karuan. Masa sih ulangan? Hell, ini hari pertamaku kembali kesekolah!

 

“Park Eun Kyo!! Cepat siapkan kertas atau waktumu akan terbuang percuma!” Wu Sonsaengnim menunjukku dengan spidol sambil mengeluarkan jurus tatapan angry birdnya. Aku menelan ludah susah payah, menakutkan.

Saat ulangan tengah berlangsung, tiba-tiba saja kepalaku terasa pening dan berat. Ya tuhan.. jangan sekarang. Aku sedang ulangan T.T

 

“nih..” Sehun menggeser kertas ulangannya ke mejaku. Aku menatapnya bingung. Sehun tidak bergeming untuk sekedar balas menatapku dan menjelaskan. Aku pun mengambil kertas itu dan sesuai insting menyalin jawaban milik Sehun. Dari ekor mataku, aku bisa melihat pria itu tersenyum namun aku tak tahu maksudnya apa. Lagi-lagi misterius.

 

“kita harus lekas selesai karena aku mau membawamu ke suatu tempat.” Sehun berbisik dari tempat duduknya tanpa menoleh padaku. Aku mengernyitkan dahi, tapi kembali sibuk menyalin jawabannya ke dalam lembar jawabanku. Soal itu bisa kutanyakan nanti.

 

20 menit kemudian..

 

“yah.. waktunya habis! Ayo kumpulkan..”

 

Hufftt.. untung sudah selesai. Sonsaengnim berjalan memutari kelas untuk mengambil lembar jawaban dari bangku setiap murid. Setelahnya, kami dibolehkan pulang karena Guru Lee sedang absen. Banyak yang bilang beliau masuk rumah sakit karena kecelakaan.

 

Belum hilang peningku, Sehun sudah beranjak dari tempat duduknya.

 

“mau kemana?” tanyaku heran. Sehun tersenyum, “aku kan sudah bilang tadi. Aku mau mengajakmu ke suatu tempat”

 

“kemana?”

“itu rahasia. Tempat yang bisa membuatmu mengingat segalanya. Ayo!”

 

Tanganku ditariknya pelan lalu kami keluar kelas bersama. Sehun tampaknya bersemangat sekali mengajakku ketempat ‘rahasia’ itu. Sepanjang koridor, aku menyadari tatapan tak biasa dari para siswi yang ada di sekolah ini. Tatapan sedih dan kasihan yang mereka tunjukkan membuatku bertanya-tanya dalam hati.

 

Kami tiba di lapangan sekolah, tempat Sehun memarkirkan motornya. Ia memasangkanku helm bahkan tanpa persetujuanku. Lalu menaiki motornya dan menghidupkannya. Aku masih terdiam bingung.

 

“Eunnie.. ada yang ketinggalan?”

 

Aku terhenyak lalu menggeleng pelan. Jujur, ini pertama kali aku dibonceng motor oleh seorang pria. Benar-benar gugup dan bingung. Meski akhirnya aku pun duduk dibelakang Sehun dan jantungku semakin meloncat keluar saat ia membimbing tanganku untuk mendekap pinggangnya.

 

Ia tak mau aku jatuh, kan? Hanya itu. hufft…

 

Motor pun melaju pelan meninggalkan sekolah. Aku tegang, nervous, gugup, segalanya. Sepanjang jalan aku hanya menutup mata, menikmati punggung Sehun yang aku tahu tidak akan setiap saat seperti ini. Tapi aku senang. Aku bahagia.

 

Beberapa menit kemudian..

 

“sudah sampai.”

 

Aku pun membuka mata dan aroma laut menyambutku dengan ketenangan. Semilir angin mengibarkan anak rambutku begitu aku melepas helm dan menyerahkannya pada Sehun.

 

Burung camar bersahutan diatas ombak. Deburnya menghempas batu karang.

 

“pantai?” tanyaku refleks. Sehun menyandarkan tubuhnya pada motor yang masih kutumpangi. Pandangannya terhampar jauh kedepan, pada laut yang sewarna dengan iris matanya.

 

“pertunjukkannya sebentar lagi,” katanya sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan kurusnya. Ia pun melangkah dua kali meninggalkanku dibelakang. Melihat tubuhnya yang jangkung menjulang dihadapanku, punggungnya yang setegap pohon nyiur, seakan menyiram kegersangan hatiku sejak kali pertama pertemuan kami. Aku yang awalnya merasa asing, gelap, dan takut. Ketika ia membawaku pada laut, seakan menyadarkanku bahwa ada pesan tak tersampaikan. Ia mendekatkanku pada sebuah kebenaran yang nyata.

Instingku bergerak maju mendekatinya. Aku sedikit berlari dan meraihnya dalam dekapanku. Aku ingin merasakan kembali punggungnya yang hangat itu. Aku merindukan sesuatu, hal yang tak pernah kulalui. Pria ini, aku merindukannya.

 

“Lihat Eun.. pertunjukkan sudah dimulai. “

 

Sehun menunjuk semburat oranye yang perlahan muncul dilangit, menaungi ombak yang bergulung-gulung hebat. Awan berarak pelan, mengantar sang surya kembali ke peraduannya.

 

Ini sungguh menakjubkan. Lebih dari apapun. Ketika matahari perlahan menghilang dibalik serabut halus awan-awan tak berbentuk, aku melihatnya tak beda dari sebuah lukisan, mahakarya terindah yang tuhan ciptakan untuk kulihat bersama Sehun.

 

Tak ada yang lebih sempurna. Aku dan Sehun, nama yang unfamiliar ditelingaku, tak pernah tersentuh indra penglihatanku, tapi sanggup membuatku jatuh cinta . ya, aku jatuh cinta pada Oh Sehoon.

 

Andai ia melihatku sekarang, wajahku kini berderai air mata. Aku sendiri tak tahu mengapa aku menangis. Bahagia? Sedih? I can’t explain what i feel…

 

BYURRRR

 

“YA!!” aishh… tiba-tiba saja Sehun menyiramku dengan air laut dan lihat sekarang! Baju seragamku jadi basah dan kotor. Anak itu malah terpingkal-pingkal masih dengan ember ditangannya.

 

“Sehun! Apa-apaan kau, huh?!” aku kesal dan merebut ember itu dari tangan Sehun . Dia tampak kaget, sepertinya Sehun tahu apa yang akan kulakukan. Ia buru-buru kabur saat aku sedang menciduk air laut dengan ember tadi.

 

“OH SEHOON… JANGAN LARIIIIIIIIIIIIII”

 

“TANGKAP KALAU BISA!!!!! Wleeeeeeeeeeeeeeeeeeee :P”

 

Duh. Beratnya. Aku dan Sehun malah main kejar-kejaran dipantai hingga larut. Benar-benar tidak direncanakan, tapi ini menyenangkan. Aku tak menyangka kami bisa sedekat ini. ia bisa membuatku nyaman dan…

Sehun bisa membuatku lupa tentang siapa dia.

 

“hah… capek,”

 

Kami membanting diri diatas hamparan pasir lalu tertawa lepas. Bisa-bisanya melakukan hal sebodoh ini, seperti anak TK saja. Sungguh kekanak-kanakan.

 

“walaupun matahari sudah tenggelam, langit tetap indah ya?” ujar Sehun dibalas anggukan olehku. Langit malam ini memang tampak lebih indah dari biasanya. Meskipun tidak ada bulan, tapi bintang-bintang masih setia menerangi kami dari atas sana.

 

Ditambah dengan Oh Sehoon, semakin lengkap.

 

“haha..bodohnya aku.”

 

“hmm? Maksudmu?”

 

Sehun memutar tubuhnya menghadapku. Masih dalam posisi berbaring diatas pasir, ia membelai rambutku lembut, sama seperti disekolah tadi. Hanya saja kali ini ia menatapku dengan pancaran iris sapphirenya yang lebih berbinar.

 

“sudah lama aku ingin mengatakannya. Tapi tuhan seakan tak mengijinkan itu terjadi ketika…”

 

Aku menangkap kesedihan dalam tatapannya. Ada apa?

 

“aku ingin mengungkapkannya padamu sejak dulu, tapi…”

 

Sehun menghentikan ucapannya lalu beranjak. Duduk memeluk lutut sambil termenung menghadap laut yang tenang.

 

Aku masih terlentang menatap langit yang menghampar luas diatasku, menyelimuti kami dalam kegalauan.

 

“Tapi apa…?” aku berbisik serak. Bisa kurasakan kalau aku sedang menahan tangis. Aku menutup mata saat aku menyadari sesuatu. Sehun memerangkapku dibawah tubuhnya dengan kedua tangannya disamping kiri-kanan kepalaku.

 

Mata kami bertemu. Biru laut yang hampa . Dibalik matanya aku menangkap sebuah kekosongan .

 

Sehun menangis. Kristal bening itu perlahan menetes dari sapphire miliknya mengenai pipiku. Tapi aku justru tak bisa. Aku hanya terdiam menatapnya.

 

“kau tak mengingat apa-apa?” tanya Sehun dengan suaranya yang mendadak parau. Aku tahu ia akan menanyakan hal ini dan dengan berat hati aku menggelengkan kepalaku.

 

Apa yang harus kuingat? Kurasa aku..-

 

“tidak ada. Kau memang tak perlu mengingat apa-apa.”

 

Aku kembali tersentak. Aku ini amnesia atau apa?

 

“Park Eun Kyo.. aku kesini hanya untuk menyampaikan satu hal. Aku mencintaimu, hanya itu.”

 

“aku tahu itu, Oh Sehoon. Tapi..siapa dirimu sebenarnya?”

 

Sehun diam seribu bahasa, seperti enggan menjawab pertanyaan singkatku. Aku menatap jauh kedalam matanya, berusaha mencari adakah secercah kejujuran disana? Aku hanya ingin tahu siapa dirimu sebenarnya, Oh Sehun..

Benar. Sehun tak mau menjawab pertanyaanku dan malah berdiri tegak. Aku menyusulnya, bangun dari posisi berbaringku dan menghalangi pandangannya pada laut. Aku ingin ia memberiku penjelasan. Hanya itu.

 

“eun kyo?”

 

“sehun.. jawab aku. Jangan buat aku semakin asing terhadapmu! Tadi kau bilang mencintaiku? Tapi-“

 

Sehun mengunci bibirku dengan ciumannya. Itu ciuman pertamaku. Hey, dia merebut ciuman pertamaku! Orang yang tak kukenal!

 

Aku mendorong tubuh kurus Sehun dan mengusap bibirku kasar. Menatapnya dengan penuh amarah.

 

“Sesulit itukah menjelaskan siapa dirimu sebenarnya? Apa bilang cinta lebih mudah bagimu? Kau mempermainkan perasaanku!”

 

Sehun terkejut dengan ucapanku yang tiba-tiba dan sedikit kasar. Tapi aku tidak peduli. Setidaknya aku tahu pada siapa aku jatuh cinta. Siapa pria itu sebenarnya.

 

“saat matahari kembali, kau akan tahu jawabannya. Saranghamnida, Park Eun Kyo. Aku berterima kasih pada Tuhan karena mengijinkanku menyampaikan pesan terakhirku padamu,”

 

Pesan terakhir? Aku menubruk Sehun dan memeluknya erat tanpa ada niat untuk melepasnya. Apa yang dimaksud Sehun dengan pesan terakhir? Oh tuhan.. baru sehari kau mempersatukan kami tapi kenapa kau berniat mengambilnya kembali dariku?

 

Sehun melepas pelukanku, dengan tatapannya yang seteduh laut malam itu, ia kembali menciumku. Apa ini juga ciuman terakhir?

 

“ayo..kau harus pulang,”

Meski aku masih tak rela, aku ikut Sehun menuju motornya. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak, buruk sekali. Aku menarik ujung jaket Sehun dan menggeleng.

 

“kenapa?” tanyanya datar. Aku kembali hanya menggeleng, tapi Sehun bersikeras naik ke atas motor dan memberiku helm.

 

“ayo cepat. Sudah larut.”

 

“baiklah..”

 

***

 

Malam begitu dingin dan bodohnya aku lupa memakai jaket. Rasanya menusuk hingga ke tulang. Aku menggigil padahal kecepatan motor Sehun masih dalam taraf standar tapi angin berhembus begitu kencang.

 

“pegangan yang erat, Eunnie..”

 

Aku mengangguk lalu mengeratkan pelukanku pada Sehun. Perasaan buruk itu datang lagi. Dan..

 

Aku..aku melihat sesuatu dari balik kaca spion motor Sehun. Sosok berjubah dengan tudung menutupi kepalanya sedang mengejar kami.

 

Tidak! Itu apa???

“Sehun… itu…”

 

Sehun tampaknya mengerti apa yang kumaksud. Kurasakan tubuhnya tiba-tiba menegang dan sekelebat sosok hitam melintas didepan kami membuat Sehun oleng. Aku berteriak sekeras mungkin sambil mencengkram kuat ujung jaket sehun.

 

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

 

***

 

“Eun… “

 

Aku membuka mata dan semua tampak putih sekarang. Bau obat menusuk indera penciumanku. Dimana ini? rumah sakit? Aku dan Sehun kecelakaan?

 

“SEHUN!”

 

Nafasku tersengal. Peluh bercucuran dari pelipisku hingga membasahi leher. Aku sulit bernafas, rasanya sesak.

 

Oh Sehun.. apa kau baik-baik saja?

 

Oh Sehun.. kau dimana? Apa kita mengalami kecelakaan? Siapa sosok dibalik jubah hitam itu?

 

Oh Sehun.. Oh Sehun..

 

“siapa Sehun? Kau bermimpi, Eun?” seseorang menyentuh puncak kepalaku lembut. Aku melirik sekilas lalu menutup mata karena masih shock dengan apa yang terjadi. Kepalaku pusing sekali.

 

“Eun..”

 

Aku mengabaikan semua . Aku masih belum bisa berpikir dengan baik.

 

“Eun Kyo..”

 

Tidak. Jangan tinggalkan aku, Oh Sehun. Satu hari itu belum cukup untukku. Aku ingin bersamamu.

 

“Park Eun Kyo..”

 

Mataku terbuka perlahan, menghadapi seraut wajah sedih yang sangat kurindukan. Kakakku..

 

“Chanyeol Oppa?”

 

Bibirku dengan mudahnya mengucap satu nama itu. Selama satu hari itu aku belum bertemu kakak, tapi rasanya seperti bertahun-tahun.

 

“boleh oppa tanya sesuatu?” mata besar Chanyeol Oppa seakan memaksaku untuk mengiyakan. Ia tampak begitu penasaran akan sesuatu.

 

Dan oppa menanyakan hal yang membuat nafasku kembali tercekat.

 

“siapa itu Sehun?”

 

Aku terdiam, membeku. Bagaimana aku harus menjabarkannya? Sehun bukan siapa-siapaku, tapi ia adalah pria yang sudah merampas separuh nyawaku. Aku pusing. Aku bingung harus memulai darimana. Oppa benar-benar tidak mengenal Sehun?

 

“dia.. kekasihku, Oppa..”

 

Satu hal membuatku tersentak dan segera bangkit dari ranjangku. Sehun! Aku harus tahu bagaimana keadaannya!

 

“Eun! Kau mau kemana? EUN !!”

 

Aku mengabaikan seruan Oppa dan bergegas keluar kamar untuk mencari Sehun. Aku yakin jika kami mengalami kecelakaan itu bersama, dia pasti dirawat di rumah sakit ini juga.

 

“EUN KYO !!”

 

Sebuah suara cempreng memanggilku dari sisi kanan. Aku menoleh dan bisa kulihat Hyori berlari menghampiriku. Bibirnya bergetar hebat dan matanya yang berkaca-kaca membuatku tertegun.

 

“Park Eun Kyo?? Akhirnya kau siuman!!!”

 

Aku terhuyung saat ia menubrukku dan mendekapku erat. Otakku berputar cepat, teringat sebuah kejadian yang sama persis seperti sekarang. Ya, saat Hyori memelukku didepan kelas.

 

Kulepas pelukan Hyori dan menatapnya meminta pengertian.

 

“aku mau mencari Oh Sehun, Hyori-ah..”

 

Hyori mengernyitkan dahinya, “Oh Sehun? K-kau..”

 

“apa? Kauu tahu Sehun? Kau tahu dia dimana sekarang? Beritahu aku Hyori!! Jeballll~” aku mengguncang-guncang bahu Hyori dengan kuat sampai ia meringis. Tapi tak satupun kata kudengar sebagai jawabannya. Ia malah menangis sesenggukkan. Ada apa ini sebenarnya?

 

“Hentikan,, Eun.. kau menyakiti Hyori,” Chanyeol Oppa menarik tanganku dan memelukku erat. Aku masih terbengong, tak tahu apa-apa. Kenapa mereka berpura-pura tidak mengenal Sehun? Sehun bilang dia satu sekolah denganku.

 

Dari kejauhan, terdengar suara gesekan roda dengan lantai mendekat kearah kami. Seperti suara troli. Tapi begitu benda itu semakin mendekat, aku bisa melihat beberapa suster mendorong sebuah ranjang dengan seseorang yang terbaring dibalik selimut putih.

 

Perasaan buruk itu kembali menderaku.

 

Ranjang itu berlalu melewatiku. Tubuhku lunglai dan sarafku seakan mati perlahan.

 

Sehun.. itu Oh Sehun..

 

Aku tidak tahu. Aku tidak bisa merasakan apapun disekitarku. Aku benar-benar mati. Aku mati.

 

Dan semua kini gelap seperti saat pertama aku berjumpa dengan Sehun.

 

***

 

Beberapa hari kemudian.. aku hidup dalam bayang-bayang mimpi yang menghantuiku. Entahlah, dari dulu aku memang selalu duduk sendiri. Tapi sekarang, aku selalu berhalusinasi seakan-akan ada Sehun yang ikut belajar disampingku. Dan aku masih ingat saat ia memberiku contekan ketika ulangan dadakan Bahasa Inggris.

 

Begitu pula sekarang, saat diluar sedang hujan. Aku bisa menikmati pemandangan diluar karena bangkuku posisinya ada dipojok kelas dekat dinding kaca. Dari sini aku bisa menikmati rintik hujan yang membasahi rumput lapangan sepak bola. Meskipun kadang ada uap yang menghalangi pandanganku karena membuat kaca buram. Aku mengusapnya dengan telapak tanganku dan terhenyak.

 

Sehun.. sedang apa kau berdiri membelakangiku? Apa yang kau pandangi?

 

Aku menerawang jauh. Sehun ternyata menatap ombak yang bergulung-gulung tertiup angin yang berhembus kencang.

 

Hah..ayolah. aku berhalusinasi lagi. Ini sekolah dan tidak mungkin ada pantai didekat sini.

 

Pergilah, Oh Sehun. Biar debur ombak membawamu pergi seperti burung camar. Terimakasih sudah singgah dihidupku meski hanya satu hari. Aku bahagia.

 

Aku menempelkan keningku pada dinding kaca yang mulai tertutupi kembali oleh uap air. Masih terngiang dengan jelas ditelingaku, bagaimana Hyori bercerita tentang dirimu.

 

Kecelakaan tak mampu terhindarkan saat kau hendak menolongku diperempatan jalan itu. Jalan menuju pantai Busan. Dan tentang guru Lee yang absen karena kecelakaan, ternyata mobilnya menabrak sebuah pagar pembatas saat berusaha menghindari truk dan tanpa sengaja menabrakmu.

 

Terimakasih.

 

Dan aku minta maaf.

 

Ternyata kau bukan pria yang dengan mudah mengucapkan kata cinta.

 

Lebih dari itu, kau sudah memberiku separuh dari hidupmu. Meski sayang, kita tak sempat bertemu dari awal. Tidak saling mengenal dan baru menyadari perasaan masing-masing lewat sebuah pertemuan dialam bawah sadar.

 

I Love You, Oh Sehun. I’ll see you later..in heaven .

 

I miss you.. aku merindukan satu hari itu.

 

 

THE END

 

Advertisements

51 responses to “The Day I Miss You

  1. hah?! Sehun….
    Kenapa Sehun….
    oh, no! Eunkyo udah suka tapi Sehunnya….
    huwee… Sehun~~~
    bener bener dapet feelnya, senengnya, bingungnya -waktu si Eunkyo bingung dengan keadaannya-, sedihnya, semua terasa nyata *jie…*
    DDAEBAK! bener bener Ddaebbak!
    Kaito, keep writing and fighting! 😀

  2. Ya Ampun!! >o<
    Dari kata "pesan terakhir" udah punya firasat buruk. Eh, ternyata beneran! Sehun Oppa disini udah meninggal ?! Huaaaaaaa!! TAT

  3. Huweee mewek sudah…, sedih bngt thor. Feelny krasa bngt, sumpah! Omo sehun! Aku ga nyangka akan bgni critany, engga saling mengenal tp ktemu di alam bwah sadar.., jd sehun itu duluny memendam perasaan ke eunkyo ya? Aaah ga tau lg mau komen apa! Ini keren!! Lanjuuut!! SMANGAT AUTHOR!!

  4. Waktu awal-awal fluffy banget. Ternyata akhirnya sad 😥 😥

    Salah sendiri sih, ngga liat genre dulu .. :3

    Good Job Eonni, hehe 😀 *SKSD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s