Black Swan – Chapter 4

Black swan3

Black Swan

| Genre : Life, Romance |

| Rating : General |

| Cast : Lee Taemin, Byun Baekhyun, Song Dayeon |

 

© Copyright EnnyHutami’s Fanfiction 2013

Previous : Chapter 3

~œ Swinspirit œ~

Atmosfer di ruangan itu terasa aneh dan kikuk bagi Dayeon dan Baekhyun, namun pengecualian bagi ibu Baekhyun yang justru senang dan tersenyum lebar melihat ekpresi yang ditunjukan anak satu-satunya itu begitu melihat foto masa kecilnya.

Foto tersebut adalah foto kecil Baekhyun dan Dayeon saat keduanya berusia dua tahun. Saat itu Dayeon dan keluarganya tinggal di blok yang sama dengan keluarga Baekhyun. Namun sayangnya mereka pindah ke Seoul karena urusan bisnis.

Dan dalam foto tersebut memperlihatkan Baekhyun kecil yang tengah mengecup Dayeon kecil. Tepat di bibir. Dayeon kecil yang lebih tinggi dari Baekhyun kecil bahkan merundukkan kepalanya sambil tersenyum sehingga matanya melengkung seperti bulan sabit, sedangkan Baekhyun sendiri mendongakkan kepalanya.

Posisi yang sebenarnya terlihat lucu karena yang seharusnya mendongakkan kepalanya itu Dayeon, bukan justru Baekhyun.

“Tidak mungkin…” gumam Dayeon dengan pandangan tak percaya ke arah foto tersebut. Dan gumamannya itu membuat ibu Baekhyun terkikik.

Berbeda dengan Baekhyun, ia hanya mengambil tirai berwarna putih yang dipegang ibunya lalu berjalan ke arah jendela. “Biar aku yang memasangnya.” Katanya. Namun sama seperti Dayeon, ia terlihat salah tingkah.

Ciuman pertamanya… dengan laki-laki dingin yang ketus itu? Batinnya dengan ekpresi seperti baru saja melihat kejadian yang cukup menjijikan.

“Kau mau menyimpannya?” tanya ibu Baekhyun, menyadarkan Dayeon dari lamunannya.

Cepat-cepat Dayeon menggelengkan kepalanya. Bahkan terlalu cepat untuk sebuah reaksi. “Tidak perlu.” Tolaknya, lalu berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.

Mwoya?” gumamnya saat ia sudah menutup pintu kamarnya. Kemudian kepalanya ditelungkupkan ke dalam telapak tangannya dan menggelengkan kepala keras-keras.

Baiklah. Foto tersebut memang diambil saat dirinya dan Baekhyun berumur dua tahun. Tapi tetap saja itu memalukan dan mungkin akan membuat keduanya canggung jika bertemu. Terlebih lagi mereka duduk satu bangku dan tinggal satu atap.

Bagaimana sikap yang harus diperlihatkan Dayeon ketika ia melihat Baekhyun setelah ini? “Oke… tenang. Biasa saja.” Katanya pada diri sendiri sambil menarik nafas dalam-dalam.

Lalu ia menyambar ponselnya yang ia letakkan di atas meja belajar. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk di kamarnya. Tepat saat ponselnya menyala, ponsel tersebut berdering. Ketika ia melihat layar ponselnya, nama temannya tertera di sana. Goo Riae. Ia pun cepat-cepat bangkit dan duduk di tepi kasur dan berpikir.

Sejak hari pertamanya di sini, ia mengabaikan semua telefon yang masuk ataupun pesan singkat dari teman-temannya di Seoul. Namun ia rasa sudah cukup untuk mengabaikan teman-temannya. Jadi, ia mengangkat telefon tersebut.

Yeoboseyeo?” ucap Dayeon begitu ia menggeser ibu jarinya pada layar ponsel.

“Ya, Song Dayeon! Kemana saja kau? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kenapa kau pergi tiba-tiba?

Mendengar pertanyaan beruntun yang diucapkan Riae dari seberang telefon, Dayeon menghela nafasnya.

“Ya, Wae?” tanya Riae lagi ketika ia mendengar helaan nafas Dayeon. “Kau tahu? Guru Jang bilang kalau kau keluar dari sekolah. Tapi, dia tidak mengatakan alasannya. Kau tahu betapa aku kewalahan mencarimu ke mana-mana? Dan rumahmu kosong. Kau bahkan keluar dari sanggar—astaga! Di mana kau sekarang?

“Aku di rumah teman ayahku saat ini. Tidak di Seoul. Dan, ayahku bilang untuk tidak mengatakan pada siapapun bahwa aku di sini,”

Kau tidak mempercayaiku?” Riae mulai mendramatisir keadaan. Terdengar dari suarannya. “Katakan padaku kenapa kau pergi.” Kemudian ia menuntut.

Dayeon terdiam sebentar. Ia tidak tahu apakah ia harus memberitahu Riae atau tidak. Dan sejujurnya, ia sedikit merasa… malu jika Riae tahu tentang ini. “Aku… Riae-ya, jika urusan ini sudah selesai dan aku bisa kembali ke Seoul. Akan kuceritakan sekarang. Janji.” Katanya.

Kali ini giliran Riae yang menghela nafasnya. Lalu, “Baiklah, baiklah. Tetapi, ada yang ingin kuberitahukan padamu. Tentang Minho.

Mwo?” tanya Dayeon. Matanya menyipit curiga begitu mendengar nama Minho. “Wae? Dia kenapa?”

Dia mencarimu! Ya Tuhan, laki-laki brengsek itu mencarimu setelah putus dari Soojung.

Dayeon mendengus setengah tertawa mendengar betapa tidak sukannya Riae pada Minho—laki-laki yang pernah disukai Dayeon saat ia masih berada di kelas satu di sekolah lamanya. “Kau masih memanggilnya brengsek?” tanyanya, masih setengah tertawa.

Dia mengencani banyak gadis hanya dalam kurun waktu satu bulan. Bagaimana tidak dibilang brengsek?” Riae berkata dengan berapi-api. Dan, selanjutnya, mereka membicarakan tentang banyak hal. Termasuk Dayeon yang yang menceritakan tentang sekolah barunya. Tentang ia tinggal bersama Baekhyun, dan tentang ruang tari serta ajakan Taemin untuk masuk di klub tari.

Setelah mengobrol cukup lama, Riae teringat sesuatu. Kemudian memanggil nama Dayeon dengan intonasi yang serius.

Wae?” tentu saja Dayeon heran ketika tiba-tiba Riae bersuara serius. Dan perasaannya pun terasa tidak enak.

Hari pertama kau tidak masuk sekolah, ada dua pria berpakaian jas hitam mencarimu.” Riae memberitahu. Sebenarnya ia ingin memberitahukan ini kepada Dayeon setelah ia melihat dua pria yang datang ke sekolah tersebut. Namun karena Dayeon tak kunjung bisa dihubungi, ia pun lupa dan baru ingat sekarang.

“Mencariku?” ulang Dayeon dengan kening berkerut. Ia mengira-ngira apakah ia mengenal dua pria tersebut atau tidak.

Mm! Dan kau tahu? Dua pria itu terlihat… menyeramkan.

Dayeon menyerngit. Menyeramkan? Ia tidak pernah mengenal seseorang yang menyeramkan. Lalu, ia mencoba mengingat-ingat dan adegan percakapan dengan ayahnya pun terlintas di benaknya.

Orang-orang jahat tengah mengejar appa karena mereka menuduh jika appa mengorupsi di perusahaan.” Kata ayahnya saat itu.

Dayeon bergidik ngeri. “Ya, Goo Riae, kurasa aku tahu mengapa ayahku menyuruhku agar tidak memberitahu keberadaanku pada siapapun.” Katanya kemudian.

“Wae, wae, wae?” tanya Riae penasaran. Sangking penasarannya ia, di dalam kamarnya, ia bahkan memajukan tubuhnya. Entah untuk apa.

“Dua pria itu mencariku, bukan? Harusnya kau langsung mengerti—dan, hei, jangan bilang pada siapapun kalau kau habis menelefonku. Aku percaya padamu, Riae-ya.” Dan tanpa menunggu jawaban atau reaksi Riae, Dayeon menutup ponselnya dan melepas baterai ponselnya.

Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya lagi ke atas kasur dan meletakkan pergelangan tangannya di dahi sambil menatap langit-langit kamarnya. Dikala pandangannya kosong seperti ini, pikirannya terlalu penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang keluarganya saat ini karena ia belum begitu mengerti dengan apa yang terjadi.

Jika ayahnya tidak bersalah, mengapa ia pergi ke kanada? Untuk memulai bisnisnya lagi atau yang lain? Karena setahunya, saudara-saudaranya yang tinggal di kanada ada yang berprofesi di bidang hukum.

Ia penasaran, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dan saat ini, ia hanya bisa fokus pada sekolahnya.

~œ~œ~œ~

Pandangan mata Dayeon terus mengarah ke langkah kaki Taemin yang berjalan tepat di depannya melalui lorong panjang sekolah menuju ruang tari satu jam tiga puluh menit setelah bel pulang sekolah berderang.

Hari ini adalah hari pertama Dayeon masuk ke dalam klub tari. Dan untuk latihan pertamanya ini, ia mengenakan celana training abu-abu yang ia kenakan saat berlatih sendirian waktu itu dengan kaus lengan panjang yang kelonggaran.

Sampai ia berdiri di belakang pintu ruang tari, sejujurnya ia belum begitu yakin dengan pilihannya ini. Bagaimana jika ia justru melupakan cara-cara menari balet yang sudah ia pelajari bertahun-tahun hanya karena ia masuk ke klub tari? Pasti jika ayah—atau mungkin ibunya di surga sana—tahu, mereka pasti kecewa.

“Hei,” ucap Taemin dengan wajah heran ketika melihat Dayeon berdiri mematung di belakang pintu dengan pandangan gugup.

Mendengarnya, Dayeon mengangkat kepalanya dan menatap Taemin dengan pandangan terkejut. “Huh?” gumamnya linglung.

“Ada apa?” tanya Taemin dengan sedikit memiringkan kepalanya.

Cepat-cepat Dayeon menggelengkan kepalanya. “Tidak ada.” Bantahnya sambil tersenyum kikuk.

Kemudian Taemin masuk ke dalam ruangan tersebut yang sudah semuanya berkumpul. Hanya perlu menunggu sang pelatih, mereka semua siap untuk memulai.

Begitu Dayeon menampakan dirinya, hampir seluruh orang yang berada di ruangan itu melihatnya dengan heran dan ada juga beberapa yang langsung berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya.

Dari semua yang Dayeon dengan samar-samar, mereka semua menanyakan tentang dirinya yang merupakan wajah asing di sekolah dan mengapa dipertengahan tahun seperti ini Taemin merekrut murid baru masuk ke dalam klub.

Salah satunya adalah seorang gadis yang memakai kaus merah dengan rambut hitam gelombangnya terurai ke bawah. Gadis itu melihat Dayeon dengan pandangan tidak suka.

“Siapa dia?” kata gadia yang melihat Dayeon sinis itu pada Taemin. Dari cara bicaranya, Dayeon menduga bahwa gadis tersebut berada pada satu angkatan yang sama dengannya dan Taemin.

“Song Dayeon.” Taemin memperkenalkan dengan senyumannya. “Murid pindahan di kelasku.”

“Lalu?” gadis lainnya bertanya dengan nada tak suka. Membuat Dayeon beringsut ke belakang Taemin.

Ekpresi Taemin berubah ketika menyadari bahwa anggota klubnya tidak menyukai kedatangan Dayeon. Kemudian ia memiringkan kepalanya sedikit dan memaksakan sebuah senyum kecil. “Dia lebih baik darimu. Jangan begitu.” Ujarnya tepat mengenai sasaran. Membuat kedua gadis itu diam.

Dayeon mengerjapkan matanya sekali karena kaget. Baru saja ia melihat sisi lain Taemin yang sedikit menakutkan, baginya.

Kemudian suara khas pintu terbuka terdengar, dan seorang wanita yang Dayeon duga berada di usia dua puluh akhir masuk ke dalam ruangan dengan rambut panjangnya digerai begitu saja. Bisa Dayeon duga bahwa wanita itu adalah pelatih klub ini.

“Ada apa dengan atmosfer di sini?” tanyanya begitu ia merasakan suasana tak menyenangkan di dalam ruangan. Kemudian matanya menangkap sosok Dayeon yang berdiri tidak jauh dari Taemin. “Oh, kau Song Dayeon, benar?” kemudian ia bertanya lagi. Wajah ovalnya melukiskan senyuman cantik.

Dengan kikuk, Dayeon menganggukkan kepalanya.

Wanita itu—Park Kahi—beralih ke pinggiran ruangan untuk menaruh tas dan jaketnya. “Taemin menceritakan tentangmu, tentang tarianmu yang dia lihat. Dan kurasa semua yang ada di sini juga ingin melihatnya.” Ucapnya.

“Huh? Oh,” gumam Dayeon sambil menganggukkan kepalanya. Seketika ia teringat dengan pelatihnya di sanggar. Persis sekali dengan Kahi yang bisa dibilang banyak bicara dan tidak langsung mengatakan intinya.

Dan, ia merindukan sanggarnya.

“Bermain tanpa musik atau…?” Kahi menggantungkan kalimatnya ketika ia bertanya karena ia tahu jika Dayeon akan mengerti apa yang sedang ia pertanyakan.

Tentu saja Dayeon memilih yang memakai musik agar ia tidak buta irama, namun ia teringat sesuatu dan cepat-cepat menambahkan. “Tetapi, aku tidak bawa toe shoes.” Beritahunya.

Kahi sedikit kecewa mendengarnya karena ia pun tahu bahwa seorang balerina tidak bisa menari tanpa sepatunya. “Yah… mungkin kita bisa melihatnya lain waktu.” Katanya. Lalu, “Kalau begitu, bersiaplah. Kita akan mulai latihan untuk festival musim panas.”

“Festival musim panas?” Dayeon berbisik pada Taemin. Ia memang sering mendengar tentang festival musim panas, namun ia tidak tahu bahwa klub ini akan berpartisipasi pada festival tersebut.

Taemin mendekatkan mulutnya ke telinga Taemin. “Sebenarnya itu adalah festival sekolah untuk memperingati ulangtahun sekolah. Namun karena bertepatan di musim panas, semua murid mulai menyebutnya festival musim panas. Dan setelah acara inti berakhir, orang-orang luar sekolah boleh masuk dengan membeli tiket masuknya.” Jelasnya panjang lebar.

Dayeon menganggukkan kepalanya mengerti. Ah, semacam perayaan ulangtahun sekolah?

Kemudian hampir seluruh orang yang berada di ruangan itu berdiri dan membuat barisan longgar-longgar tidak rapih. Seluruhnya menghadap ke kaca besar. Dayeon melihat dengan bingung seperti orang bodoh di tempatnya berdiri, di belakang Taemin.

Musik berirama cepat pun mengalun. Dayeon mengerjapkan matanya sambil terus mengawasi gerakan Kahi yang berdiri sendiri di depan mereka. Dan saat Kahi mulai menggerakan tubuhnya, Dayeon kewalahan mengikuti gerakan yang menurutnya terlalu cepat dan sama sekali bukan genre-nya.

Ini salah. Seharusnya ia tak berada di sini. Otaknya harus berpikir keras saat ia mengikuti gerakan Kahi di depan sana, lalu ia menyuruh anggota tubuhnya bergerak seperti yang dilakukan Kahi. Namun itu tidak semudah perkiraannya.

Jadi, ia hanya berdiri di tempatnya dengan sesekali mencoba menggerakan seluruh tubuhnya mengikuti Kahi.

~œ~œ~œ~

Baekhyun menutup bukunya setelah merasa matanya berkunang sedikit melihat tulisan yang ditulis dengan alfabet di depannya selama kurang lebih dua jam. Guru bahasa inggrisnya di sekolah memang terkenal sangat kejam sehingga menyuruh murid-muridnya membaca buku yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, lalu mengerjakan tugas yang diberikan.

Ia menghela nafasnya. Untung saja ia bisa mengerti apa yang ditulis di dalam buku yang sedang dibacanya itu dan mengerjakan tugasnya.

Kemudian matanya beralih ke depan dan melihat ke luar jendela yang berada persis di depan meja belajarnya. Matanya menyipit begitu melihat Dayeon dan Taemin yang masih mengenakan seragam sekolah berdiri di depan pagar rumah.

Dilihatnya Dayeon tertawa setelah Taemin mengatakan sesuatu. Lalu Taemin pergi dengan Dayeon yang melangkah masuk ke dalam rumah.

Entah darimana pikiran itu berasal, namun setelah Dayeon sudah tak terlihat lagi di pandangannya, Baekhyun langsung bangkit dari duduknya lantas keluar dari kamarnya.

“Aku pulang!” Seruan Dayeon bahkan terdengar sampai ke lantai atas. Lalu terdengar suara ibu Baekhyun yang menyahuti.

Setelah tak terdengar suara dari Dayeon dan ibunya lagi, Baekhyun pun menutup pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju tangga, lantas menuruninya dengan perlahan. Di tengah-tengah langkahnya Dayeon dan Baekhyun pun bertemu, namun sepertinya Dayeon tidak terlalu mempedulikan keberadaan dirinya dan terus saja menaiki anak tangga sampai melewati bahu Baekhyun.

Baekhyun yang sedikit kesal pun berhenti dan berbalik. “Ya, Song Dayeon!” serunya, namun suaranya masih tetap terjaga agar tidak sampai terdengar ke ruangan tempat ibunya berada.

Dayeon berbalik dan menatap Baekhyun dengan wajah polosnya. “Wae?” tanyanya dengan wajah seperti anak kecil yang tidak memiliki dosa.

“Kau berkencan dengan Taemin?” Baekhyun balas bertanya.

Mwo?” Pekik Dayeon tak percaya dengan mata disipitkan sambil menatap Baekhyun. Dalam hati ia bertanya-tanya darimana asal mula dari pikiran Baekhyun itu.

Karena merasa posisi berdirinya kurang nyaman, Baekhyun pun merubah posisi tubuhnya berdiri sebelum ia menyahuti pekikan Dayeon. “Sudah hampir gelap dan kau baru pulang? Darimana kau?” Entah ada apa dengan dirinya, tetapi ia bertanya seperti itu pada Dayeon. Setelah bertanya seperti itu, ia merutuk dirinya sendiri karena mencoba ikut campur dengan kehidupan Dayeon.

Dance club.” Jawab Dayeon cepat.

Mata Baekhyun membulat lebar. “K-kelab?” Kali ini giliran ia yang memekik karena tidak percaya dengan jawaban yang Dayeon katakan dengan bahasa inggris. Yah… Baekhyun memang cukup mengerti dengan bahasa asing tersebut, namun jika membaca. Ia masih merasa asing jika mendengarnya.

Lagi pula itu bukan sepenuhnya salah Baekhyun karena pelafalan Dayeon yang kurang sempurna—di pendengaran Baekhyun sih begitu.

Dan tentu saja pekikan Baekhyun tersebut membuat Dayeon memutar bola matanya lantas mendengus. “Bodoh!” cercanya lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan Baekhyun yang melotot padanya.

Masih berdiri di tempatnya, Baekhyun melotot pada punggung Dayeon yang semakin menjauh dengan rahangnya yang mengeras menahan kesal. Namun kemudian ia berpikir mengapa Dayeon mengatainya bodoh, dan lagi-lagi ia merutuk dirinya sendiri.

“Bodoh!” Ia mengulangi cercaan Dayeon beberapa detik yang lalu, mengatai dirinya sendiri yang terlalu bodoh untuk berpikir bahwa Dayeon pergi ke kelab. Harusnya dia mengakui bahwa penampilan Dayeon tidak seperti gadis-gadis yang suka ke kelab. Terlebih lagi usia mereka berdua yang masih dibilang dibawah umur.

Dengan wajah yang sedikit memerah malu akibat pemikirannya sendiri, ia pun menuruni anak tangga dan menghampiri lemari es untuk mengambil air minum karena tenggorokannya terasa kering.

Ia menyesal keluar dari kamarnya dan berbicara pada Dayeon. Lagi pula, kenapa ia peduli dengan urusan Dayeon? Seperti bukan dirinya sendiri. Begitu yang ia rasa saat ini.

Setelah itu Baekhyun kembali duduk di depan meja belajarnya untuk kembali membaca buku yang belum ia selesaikan. Namun alih-alih membaca, ia hanya bertopang dagu sambil menatap buku di hadapannya dengan pandangan kosong.

Ia masih memikirkan tentang bodohnya dirinya tadi, dan juga menyesali karena keluar dari kamar hanya untuk… tunggu—sebenarnya, ia keluar kamar untuk apa? Menanyakan pada Dayeon kenapa ia baru pulang saat hari sebentar lagi gelap, atau karena Dayeon pulang bersama Taemin?

Tetapi, kenapa ia harus menanyakan hal tersebut pada Dayeon?

Ia mengerang pelan. Kedua tangannya pun kini beralih memegang keningnya, lalu mengacak rambutnya. “Ada apa denganku?” gumamnya frustasi.

Kemudian matanya kembali melirik ke tulisan pada buku di hadapannya tersebut. Ia kembali mencoba memfokuskan dirinya lagi karena dari dua ratusan halaman yang terdapat pada buku tersebut, ia baru membaca sampai halaman delapan dengan waktu kurang lebih dua jam. Jika terus begini, tidak mungkin cukup untuk membaca semua habis buku itu dalam waktu kurang dari satu minggu. Apalagi membaca bukanlah hobi atau kesukaan Baekhyun.

Ia menghela nafasnya untuk yang kesekian kalinya, lalu menutup bukunya.

~œ~œ~œ~

Pintu kamar mandi terbuka dan tepat pada saat itu, tampaklah Dayeon yang mengenakan pakaian santai rumah dengan handuk yang diletakkan di atas rambutnya yang basah. Hanya dengan beberapa kali langkah, ia pun sampai di kamarnya yang memang terletak tepat di depan kamar mandi.

Begitu masuk ke kamarnya dan menutup pintu, ia duduk di atas meja rias sambil menatap bayangan dirinya sendiri yang terpantul di cermin di hadapannya dengan ekpresi kosong.

Ia masih memikirkan klub tari. Baru satu kali ia berlatih, rasanya ingin langsung keluar karena tarian yang dipelajari di klub tari sangatlah berbeda dengan balet.

Kemudian ia meraih ponselnya, mencari sebuah kontak di sana, dan mencoba menelefonnya. Tiga kali dering terdengar, barulah orang yang ditelefonnya menjawab.

“Taemin-a,” ucapnya begitu telefonnya terhubung. Alasannya menefon Taemin adalah untuk bertanya apakah ia boleh keluar dari klub atau tidak. Yah, kedengarannya memang seperti dirinya tidak memiliki rasa berterima kasih karena ingin keluar dari klub padahal ia baru berlatih satu kali

Di seberang telefon, Taemin bertanya mengapa Dayeon menelefonnya dengan suara khas Taemin yang lembut. Namun mendengar suara Taemin seperti itu justru membuat Dayeon sedikit gugup dan tidak yakin.

“Itu…” Dayeon tidak yakin untuk menanyakannya. Bagaimana jika Taemin marah padanya? “Aku..”

Gemas karena ucapan Dayeon yang tidak jelas, di kamarnya, Taemin mengerutkan keningnya heran lantas menyela ucapan Dayeon. “Kau apa? Kau baik-baik saja, bukan?”

“Huh? Oh, ya. Tentu saja aku baik-baik saja,”

Lalu?” sela Taemin lagi tidak sabar.

Dayeon menggigit bibir bawahnya sambil memutar otaknya untuk mencari kalimat yang bagus. Dan, beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya tanpa sepengetahuan Taemin di seberang telefon sana.

Ia rasa, ia tidak bisa keluar begitu saja dari klub tari. Dan, mungkin—oh! Ia tahu apa yang harus ia lakukan agar ia bisa mengikuti latihan di klubnya. “Ajari aku!” Serunya dengan suara yang cukup besar sehingga Baekhyun yang berada di kamarnya mendengar. Namun Dayeon tidak menyadari itu.

“Ajari aku menari gerakan yang tadi diajarkan oleh pelatih. Aku kesulitan dengan gerakan-gerakan yang diberikannya tadi.” Aku Dayeon. Dan mungkin meminta Taemin mengajarinya menjadi salah satu jalan terbaik.

Seharusnya memang ia tidak boleh menyerah begitu saja.

Baiklah,” Taemin menyetujui. “Tetapi dengan satu syarat.”

Dayeon mengerutkan keningnya. “Syarat apa?” tanyanya.

Hari sabtu, temani aku menonton.”

Mendengar syarat yang diajukan Taemin, Dayeon terkekeh pelan. “Bilang saja kau mengajakku berkencan. Benar, bukan?” ia bertanya sambil tertawa. Tawa renyahnya membuat Taemin ikut tertawa di seberang telefon sana. “Geurae. Hari sabtu.”

Setelah berbasa-basi sedikit, Dayeon pun memutus hubungan telefonnya dengan Taemin dengan senyum kecil yang terulas di wajahnya. Namun tanpa disadarinya, Baekhyun yang berdiri di depan pintu kamar Dayeon mendengarkan percakapan Dayeon dan Taemin dengan jelas.

Baekhyun yang bertujuan memanggil Dayeon agar segera turun ke bawah untuk makan malam pun mendengus saat mendengar obrolan Dayeon dengan seseorang pada telefon. Dan bisa ia duga bahwa seseorang tersebut tak lain adalah Lee Taemin.

Setelah tak terdengar suara Dayeon di dalam kamarnya, Baekhyun membuka pintu di depannya. Lalu ia melongokan kepalanya dan mendapati bahwa Dayeon tengah mengeringkan rabut basahnya dengan handuk.

“Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?” omel Dayeon yang menghentikan gerakan tangannya saat mendapati Baekhyun muncul di balik pintu. Untung saja dirinya tidak sedang berganti pakaian saat Baekhyun membuka pintu kamar. Jika iya? Mungkin saat ini Baekhyun habis kena omelan dan tinju dari dirinya.

Baekhyun kelihatan tidak ingin meladeni Dayeon, ia hanya memutar bola matanya dan menatap Dayeon ogah-ogahan. “Makan malam.” Beritahunya. Setelah itu ia berlalu pergi tanpa menutup pintu kamar Dayeon kembali.

Ekpresi yang ditunjukan Baekhyun beberapa detik yang lalu sangatlah berbeda dengan biasanya. Tidak tajam dan terlihat seperti ia tidak memiliki semangat sedikitpun sehingga Dayeon mengerjapkan matanya heran, dan entah mengapa ia merasa kasihan dengan pandangan yang dipancarkan dalam mata Baekhyun tadi.

“Kenapa dia?” gumam Dayeon sambil masih menatap pintu kamarnya terheran-heran. Tak mau terlalu memikirkan hal tersebut, ia pun kembali mengeringi rambutnya yang sudah setengah kering kemudian menyisirnya.

Setibanya di bawah, di ruang makan, keluarga Byun sudah mulai memakan makanannya satu atau dua sendok.

“Maaf, aku baru saja selesai mandi.” Kata Dayeon sambil menarik kursi di sebelah Baekhyun seperti biasanya.

“Tidak apa-apa.” Sahut ayah Baekhyun senyum ramah yang hampir setiap hari dilihat Dayeon. Sedangkan ibu Baekhyun mengulurkan tangannya meminta piring kosong yang ada di hadapan Dayeon.

“Terima kasih.” Ucap Dayeon pada ibu Baekhyun yang mengambilkan nasi untuknya.

Layaknya seperti ibu kandung Dayeon sendiri, ibu Baekhyun pun menyerahkan kembali piring yang kini sudah terisi nasi dan beberapa lauk pauk yang tersedia di meja makan. Jika seperti ini, Dayeon mulai merindukan ibu dan ayahnya…

“Kau ikut kegiatan di sekolah, Dayeon-a?” Sambil menyerahkan piring pada Dayeon yang duduk di seberang meja.

Dayeon mengangguk. “Mm, aku ikut klub tari.” Jawabnya.

“Klub tari?” ulang ayah Baekhyun. “Wow, kau persis seperti ibumu.” Saat ayah Baekhyun berkata seperti ini, Baekhyun melirik ke arah Dayeon yang duduk di sebelahnya.

“Ibumu penari yang sangat hebat.” Sambar ibu Baekhyun ikut memuji ibu Dayeon. Jelas pujian tersebut membuat Dayeon tersenyum dan merasa bangga.

Kemudian tak ada yang berbicara lagi. Suara yang terdengar di ruang makan tersebut hanyalah suara sendok dan sumpit yang beradu dengan piring. Sebelum keempatnya menyelesaikan makan mereka, Dayeon membuka suaranya untuk bertanya pada ibu Baekhyun apakah setelah ini ibu Baekhyun sibuk atau tidak.

“Tidak sibuk. Mungkin bibi hanya akan duduk di depan televisi. Kenapa?” begitu jawaban ibu Baekhyun.

“Aku… ingin belajar menjahit dari bibi.” Kata Dayeon malu-malu karena gadis seusianya tidak bisa menjahit.

“Kau tidak belajar?” ayah Baekhyun bertanya.

Dayeon menggelengkan kepalanya dengan ekpresi wajah polosnya. “Materi yang akan diajarkan besok, aku sudah mengerti.” Jawabannya itu langsung membuat Baekhyun menoleh ke arahnya cepat.

“Tugas bahasa inggris?” ini kali pertamanya Baekhyun membuka suaranya untuk bertanya pada Dayeon selama makan malam ini.

“Aku sudah selesai membaca.”

Lagi-lagi Dayeon menjawab dengan wajah polos yang membuat Baekhyun gemas melihatnya. Bukan gemas yang… seperti itu, tetapi gemas yang lainnya. Karena menurut Baekhyun, Dayeon terlihat sangat santai sedangkan dirinya tidak.

Tetapi, ada sesuatu yang mengganjal pikiran Baekhyun; kapan Dayeon membaca buku yang ditugaskan oleh gurunya padahal guru tersebut baru memberinya tugas pagi tadi dan Dayeon sendiri pulang sangat telat hari ini untuk berlatih di klub tari.

Namun Baekhyun mencoba bersikap tenang dan tidak menanggapi lagi perkataan Dayeon.

Setelah itu ia membungkam mulutnya kembali karena tidak mau kejadian beberapa jam yang lalu kembali terulang dan membuatnya terlihat tampak bodoh di depan Dayeon serta di depan kedua orangtuanya. Menurutnya sudah cukup untuk sekali menjadi bodoh. Kini ia harus kembali bersikap seperti biasa.

Tidak banyak bicara dan tidak terlalu mempedulikan yang bukan urusannya. Baekhyun yang lama, sebelum Dayeon muncul. Menurutnya, bersikap seperti ini bisa membuatnya terlindung dari hal-hal yang tidak pernah ia duga.

~œ To be continue œ~

Advertisements

65 responses to “Black Swan – Chapter 4

  1. Si baek malu plus canggung gara-gara foto mereka.
    Lucu juga liatnya,Mungkin gara-gara foto itu sikapnya dia nanti berubah ke dayeon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s