The Day I Confess

Image

Title: The Day I Confess

Author: Vanana

Main Casts: Shin Dongho (U-Kiss), Park Hayeon (OC/You)

Side Casts: Members of U-Kiss, Hyuna (4Minute), Jiyoon (4Minute), Sohyun (4Minute)

Theme: Romance, Fluff, Cute

Length: Oneshot

Author’s Note: Annyeong! Kali ini aku gak bikin ff dengan tema angst atau sad-ending, seperti yang biasa aku buat. Tapi kali ini aku bikin ff dengan tema fluff! Kenapa ff-nya tentang U-Kiss? Karena fandom saya KissMe :3 Selain itu juga karena sedikitnya jumlah ff ukiss di ffindo ini T_T Walaupun cast-nya bukan bias kalian, harap baca dan comment ya! Bayangi aja Dongho itu bias kamu dan Hayeon itu kamu. Semoga ffnya memuaskan dan bisa bikin kamu greget ^^ JANGAN LUPA COMMENT! /ganyante/

 

Di dunia ini memang tidak ada orang yang sempurna. Tapi bagiku, ada seorang perempuan paling mendekati sempurna yang pernah kukenal. Apapun yang dia lakukan benar-benar membuatku berdebar-debar.

Sedangkan aku, Shin Dongho, adalah laki-laki yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang terlalu spesial dari diriku. Tubuhku tidak setinggi anak laki-laki lain, wajahku juga tidak begitu tampan. Aku adalah objek penderita teman-temanku, karena aku yang paling muda diantara mereka. Satu-satunya hal yang patut dibanggakan dariku adalah aku bisa memasak. Walaupun aku tahu, memasak adalah pekerjaan perempuan. Itulah mengapa aku hanya bisa memandanginya dari jauh saja. Aku tidak berani berbicara dengannya.

 “Kau sedang melihat siapa?” tanya Kevin yang ternyata menyadari bahwa aku sedang mengarahkan pandanganku pada seseorang.

 “Kau ini bicara apa?” aku balik bertanya dan mencoba menutup-nutupi semuanya, karena aku tidak ingin ada yang tahu tentang ini.

 “Jangan pura-pura tidak tahu. Semua orang bisa melihat bahwa kau sedang memandangi Park Hayeon,” kata Kevin menggodaku.

Aku hanya menunduk dan diam saja. Kalau Kevin tau semuanya, riwayatku akan tamat. Aku akan menjalani hari-hariku di sekolah dengan rasa malu.

 “Yah, jangan seperti itu. Jelas sekali kau menyukai Hayeon,” Kevin menyenggolku dengan sikunya dan membuatku kaget.

 “A-a… aku…” aku terbata-bata, “aku tidak menyukainya,” aku berbohong demi kebaikan.

Tiba-tiba, ketika aku sedang dalam situasi seperti ini, teman-temanku yang lain datang menghampiriku dan Kevin.

 “Kalian harus tau tentang ini. Dongho menyukai Hayeon!” kata Kevin nyengir pada yang lainnya.

Semuanya tertawa mendengar apa yang baru saja Kevin katakan. Sudah aku perkirakan, orang-orang pasti menyangka bahwa aku tidak pantas dengan Hayeon. Walaupun menurutku kami pantas-pantas saja.

 “Kalau kau menyukainya, katakan saja padanya! Jangan banci seperti itu!” ujar Soohyun sambil tertawa.

Mereka semua bicara terlalu keras. Aku berharap Hayeon tidak mendengar apa yang kami bicarakan disini.

 “Ssst… Kalian! Jangan bicara sekeras itu!” aku menyuruh teman-temanku untuk mengecilkan volume suara mereka.

 “Aku sarankan, kau segera menyatakan perasaanmu padanya! Supaya kau tidak menyesal di kemudian hari,” Kiseop memberikan saran padaku dengan santainya. Ya, bagi Kiseop, menyatakan perasaan pada seorang perempuan adalah hal yang mudah karena ia tampan dan digilai wanita.

 “Yang benar saja, mana mungkin aku tiba-tiba mendatanginya lalu memberitahunya bahwa aku menyukainya? Kau tahu sendiri kan bagaimana aku bertemu dengannya,” kataku dengan wajah suram.

Aku mengingat pertama kali aku bertemu dengannya…

 

Malam  festival musim panas tahunan sekolah tahun lalu, minggu pertamaku dan teman-teman seangkatanku menjadi siswa resmi disini. Festival itu adalah sebuah acara hebat yang tidak dapat dilewatkan oleh siapapun. Api unggun, kembang api, popcorn, hotdog, soda, permainan seru, dan semua hal menyenangkan yang bisa dilakukan oleh anak SMA ada disini. Tapi ada satu hal yang membuatku tidak bisa melupakan festival itu, yaitu pertemuanku dengan seseorang.

Ditengah keramaian, aku tidak sengaja melihatnya. Dari pandangan pertama berubah menjadi pandangan kedua, hingga aku menyadari bahwa aku mengaguminya, karena aku tidak bisa berhenti mengalihkan pandanganku kepadanya. Aku berharap takdir membuatnya menoleh padaku, lalu kami berkenalan. Dan benar saja. Ketika aku sedang berjalan sehabis membeli soda, seseorang memanggilku.

 “Shin Dongho!” kata suara itu.

Aku kaget mendengarnya, maka aku menoleh dan melihat perempuan yang daritadi aku kagumi. Aku semakin kaget karena dia mengetahui namaku. Bagaimana bisa?

 “Kau meninggalkan dompetmu di stand soda,” katanya sambil tersenyum padaku.

 “Terimakasih ya,” aku berterimakasih kepadanya, lalu membalas senyumnya. Pada awalnya aku kira dia memang mengetahui namaku. Ternyata dia melihat kartu identitas di dalam dompetku.

Sebelum dia berjalan meninggalkanku, aku segera mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya. Aku ingin berkenalan dengannya.

 “Aku Shin Dongho,” kataku dengan antusias. Ya, jujur saja. Aku memang memalukan.

Perempuan itu mengulurkan tangannya juga dan berjabat tangan denganku, “aku Park Hayeon. Senang berkenalan denganmu, Dongho.”

 

 “Hey! Hey! Shin Dongho! Apakah kau mendengarkan apa yang kubilang?” tanya Eli tiba-tiba.

Aku bingung karena aku tidak tahu apa-apa. Tadi, aku terlalu sibuk memikirkan tentang pertemuan pertamaku dengan Hayeon, “maaf aku tidak mendengarkan tadi.”

 “Lain kali jangan melamun saja. Ah, kau ini. Aku anjurkan, kau menyatakan perasaanmu pada malam festival musim panas tahun ini. Bukankah festivalnya akan diadakan pada awal Juli?” kata Eli.

Ya, festival musim panas akan diselenggarakan pada tanggal 1 Juli, satu hari sebelum ulang tahun Hayeon, yaitu satu minggu dari sekarang. Apa yang harus kulakukan dalam satu minggu ini untuk mendekati Hayeon?

 “Kau gila, Eli,” kataku sambil tertawa sinis pada Eli. Yang lainnya hanya bisa menertawakanku saja.

 “Sebaiknya kau cepat-cepat menyatakannya, karena kau bukanlah satu-satunya yang menunggu Hayeon!” ujar Jaeseop, yang membuat teman-temanku yang lain tertawa semakin keras.

Sedikit kesal, aku keluar dari kerubunan keenam temanku itu. Aku berjalan dengan cepat, dikarenakan perasaan jengkelku pada mereka.

 “Ah,” aku tidak sengaja menabrak seseorang karena aku yang berjalanan terlalu cepat.

Butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari siapa yang tidak sengaja aku tabrak. Dan ketika aku melihatnya, ternyata itu Park Hayeon.

 “M-maaf! Aku tidak melihatmu tadi,” aku meminta maaf pada Hayeon. Aku harap dia baik-baik saja.

 “Err.. Tidak apa-apa,” kata Hayeon sambil melontarkan eye-smile-nya padaku. Saat itulah aku tahu bahwa aku telah mencair seperti es yang dipanaskan. Aku selalu seperti ini ketika berdekatan dengan Hayeon.

Aku kembali berjalan, walaupun sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padanya. Tetapi aku tidak mungkin berbicara padanya ketika teman-temanku melihat, karena aku tidak ingin dipermalukan dan ditertawakan lagi oleh mereka.

 

Pada jam istirahat, aku dan teman-temanku berkumpul di kafetaria. Seperti biasa, kami duduk bersama sambil menikmati makan siang. Dan seperti biasa pula, aku memerhatikan Hayeon dan memastikan bahwa teman-temanku tidak melihatnya.

Aku melihat Hayeon bersama teman-temannya, Hyuna, Jiyoon, dan Sohyun. Mereka terlihat seperti sedang membicarakan sesuatu, mereka tertawa terkikik-kikik. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tidak pernah mengerti tentang anak perempuan.

Tiba-tiba Soohyun memetikkan jarinya tepat dihadapan wajahku. Spontan saja aku kaget. Aku baru menyadari bahwa daritadi aku memerhatikan Hayeon tanpa menghiraukan yang lainnya.

 “Sepertinya maknae kita benar-benar jatuh cinta,” kata Hoon, mengacak-acak rambutku.

Aku menyingkirkan tangan Soohyun dari rambutku, lalu aku menutup wajahku dengan tanganku untuk menyembunyikan pipiku yang memerah.

Ketika Soohyun dan yang lainnya sudah puas menertawakanku, aku kembali mengarahkan mataku pada Hayeon. Tapi, belum satu detik aku memerhatikannya, Hayeon menoleh dan jujur saja, aku malu sekali. Mata kami bertemu, dan itu yang membuatku segera menggerakan bola mataku kearah lain. Jelas sekali tadi dia melihatku sedang memerhatikannya.

 

Seperti biasa, saat pulang sekolah, aku pulang bersama dengan Soohyun. Kami adalah tetangga dan kami biasa belajar bersama.  Selama perjalanan pulang, Soohyun tidak bisa berhenti menanyakanku tentang Hayeon. Tidak, sebenarnya dia tidak menanyakan tentang Hayeon. Tapi dia menanyakanku tentang perasaanku pada Hayeon.

 “Sejak kapan kau menyukainya?” Soohyun bertanya, wajahnya terlihat benar-benar penasaran.

Aku menghela nafas panjang dan menjawabnya, “sejak pertama kali kami bertemu.”

Soohyun tertawa mengejekku, “cinta pada pandangan pertama?”

 “Ya, aku yakin itu cinta pada pandangan pertama,” kataku tanpa melihat wajah Soohyun. Aku bisa membayangkan ekspresinya ketika mengetahui bahwa aku, Shin Dongho, ternyata bisa jatuh cinta juga.

Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke kamarku dan menghempaskan tubuhku ke kasur tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu. Entah aku harus merasa senang atau malu karena aku dan Hayeon tidak sengaja ber-eye-contact. Aku masih bisa mengingat wajahnya pada saat itu. Matanya… benar-benar indah. Aku yakin, semua perempuan iri kepadanya. Dan jika aku menjadi pacarnya, semua orang pun akan iri kepadaku.

Tiba-tiba aku teringat akan apa yang dibicarakan oleh teman-temanku tadi. Menyatakan perasaanku pada malam festival musim panas? Tidak mungkin. Shin Dongho adalah anak yang pemalu dan penakut. Aku tidak mau ditolak pada kali pertama aku menyatakan cinta pada seseorang. Lagi pula, aku dan Hayeon tidak terlalu dekat. Kami saling mengenal dan berteman, tetapi kami tidak pernah pergi kemana-mana berduaan.

Ulang tahun Hayeon bertepatan pada satu hari setelah malam festival musim panas, yaitu tanggal 2 Juli. Sedangkan ulang tahunku tanggal 29 Juni, berarti 4 hari dari sekarang. Aku tidak terlalu menantikan ulang tahunku, karena tidak akan ada pesta atau apapun. Aku menunggu ulang tahun Hayeon, walaupun aku tidak terlalu yakin apakah aku akan berada bersama di hari ulang tahunnya.

Keesokan harinya di sekolah, aku kembali berkumpul bersama teman-temanku pada saat jam istirahat. Aku terlambat datang ke kafetaria karena aku harus mengambil buku catatanku yang kemarin dipinjam oleh anak kelas sebelah. Ketika aku sampai di bangku yang biasa kami singgahi, aku kaget karena Hayeon, Hyuna, Jiyoon, dan Sohyun juga ada disana. Mereka sedang tertawa bersama-sama.

 “Nah, ini dia orang yang daritadi kita bicarakan!” kata Jaeseop menghampiriku dan menyeret aku yang sedang diam karena terlalu kaget.

Aku tidak tahu apa yang akan Jaeseop lakukan untuk mempermalukanku didepan perempuan yang aku sukai. Aku hanya bisa berdoa supaya mereka tidak bilang pada Hayeon bahwa aku menyukainya.

 “Hayeon, apa yang akan kaulakukan jika Dongho mengajakmu berkencan?” tanya Hyuna pada Hayeon sambil melompat kegirangan.

Sial! Soohyun pasti cerita pada Hayeon tentang apa yang kuceritakan padanya kemarin saat pulang sekolah; bahwa aku ingin mengajak Hayeon berkencan. Aku tidak tau harus menaruh wajahku dimana. Aku benar-benar malu.

Hayeon melihat kearahku, lalu wajahnya memerah. Dia hanya tersenyum dengan manisnya, tanpa menjawab apa-apa. Aku menjadi penasaran, apa maksud dibalik senyumnya. Apakah dia menolakku atau menerimaku?

 “Baiklah jika kau tidak ingin menjawabnya,” kata Hyuna lagi, kali ini wajahya terlihat kecewa, “padahal kalian tau sendiri kan, Dongho dan Hayeon terlihat sangat manis ketika bersama!”

 “Apa?” kataku dan Hayeon bersamaan. Aku mengatakan ‘apa’ karena aku tidak percaya dengan apa yang baru saja Hyuna katakan. Aku? Hayeon? Manis?

 “Kalian bisa melihatnya, mereka berjodoh!” kata Kevin sembarangan. Aku menjadi semakin malu, dan senang. Tentu saja aku senang jika aku berjodoh dengan Hayeon. Siapa yang tidak senang jika berjodoh dengan perempuan sesempurna dia?
Beberapa saat kemudian, para perempuan itu pergi meninggalkan kami bertujuh. Aku merasa lega karena aku tidak perlu mengucurkan keringat dingin ini lagi. Ya, Hayeon memang selalu membuatku salah tingkah.

 “Kalian bicara tentang apa saja?!” tanyaku dengan galak, tetapi percuma saja, mereka tidak akan pernah takut padaku.

 “Hey hey, jangan marah seperti itu.  Rahasiamu aman, kami hanya mencoba membantumu untuk mendekati Hayeon!” kata Eli.

 “Membantuku dengan cara apa?” aku bertanya dengan penasaran.

Eli menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya, “kau akan tahu nanti.”

 

Sore harinya, ketika hampir semua murid telah meninggalkan gedung sekolah, aku masih diam di perpustakaan karena aku harus menyelesaikan tugas bahasa Inggrisku. Ibuku berjanji akan menjemputku hari ini. Syukurlah, aku tidak perlu berjalan sendirian ke stasiun kereta karena Soohyun sudah pulang lebih awal.

Tetapi ketika aku sudah menyelesaikan tugas tersebut, ternyata ibuku masih belum juga menjemputku. Beliau bilang bahwa jalanan benar-benar macet. Aku terpaksa menunggunya di koridor sekolah. Aku duduk di sebuah bangku disana. Karena kupikir tidak ada murid lagi disekolah, aku berniat untuk menaikkan kakiku ke bangku supaya aku bisa bersantai sedikit. Tetapi, ketika aku hendak menaikannya, seseorang memanggilku.

 “Dongho!” kata suara yang familiar itu.

Aku menoleh ke sumber suara dan melihat Hayeon menghampiriku. Untung saja aku belum sempat menaikkan kakiku.

 “Hayeon? Kau belum pulang?” tanyaku. Aku penasaran dengan apa yang dilakukan Hayeon sesore ini di sekolah.

Hayeon duduk disebelahku, “belum,” katanya, “tadi aku mengobrol sebentar dengan Kevin, tetapi sekarang dia sudah pulang. Mengapa kau belum pulang?”

Aku menahan diriku untuk tidak tersenyum terlalu lebar, “aku menyelesaikan tugas bahasa Inggris di perpustakaan. Seharusnya ibuku sudah menjemputku, tapi ia belum datang hingga kini.”

 “Aku juga sedang menunggu Ibuku menjemputku,” kata Hayeon, “ayo kita tunggu sama-sama.”

Anak ini… benar-benar membuatku panik. Bukan, aku panik dalam arti yang bagus. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, sehingga aku hanya terdiam disana, melirik Hayeon yang sedang sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya. Dia sangat cantik.

 “Apa yang kau cari?” aku mencoba untuk bersikap santai. Tetapi nyatanya, walaupun aku terlihat santai, jantungku seperti sedang berlomba-lomba.

 “Ponselku,” jawabnya sambil tetap merogoh tas-nya, “ah, ini dia.”

Aku yang sedang menggenggam iPodku dengan tidak sadarkannya menanyakan pada Hayeon apakah ia ingin mendengarkan lagu bersamaku. Bodoh. Aku sangat bodoh. Bagaimana jika Hayeon tidak mau?

 “Ingin mendengarkan lagu?” ajakku sambil tersenyum padanya.

Hayeon mengangguk, “tentu.”

Aku memberikannya sebelah dari headsetku, supaya kami bisa mendengarkan lagunya berdua tanpa harus memakai speaker. Aku bersyukur karena Tuhan menciptakan manusia dengan dua telinga.

Aku menyalakan iPodku dan alat itu mulai memainkan lagunya. Aku bingung, apakah aku harus mengajaknya berbicara atau tetap mendengarkan lagu tanpa harus mengobrol bersamanya.

Tiba-tiba Hayeon melihat kearahku dan tertawa dengan manisnya. Aku menjadi semakin salah tingkah. Apakah aku baru saja melakukan hal yang membuatku terlihat seperti seorang idiot?

 “Mengapa kau tertawa?” tanyaku.

 “Ada daun di rambutmu,” jawab Hayeon. Yang tidak kusangka-sangka adalah, ia menyingkirkan daun itu dari rambutku lalu merapikannya, “sudah tidak ada.”

 “Bagaimana bisa daun itu ada di rambutku?” tanyaku sambil tertawa kecil. Aku pun tidak menyadari bahwa ada daun yang singgah di rambutku.

 “Mana aku tahu,” kata Hayeon. Setiap kata-kata yang diucapkannya selalu membuatku berdebar-debar.

Setelah beberapa lama kita mengobrol bersama di koridor, Hayeon pamit untuk pulang lebih dulu, karena ia sudah dijemput. Sayang sekali, padahal aku masih ingin mengobrol bersamanya. Dan sekarang, aku sendirian di koridor sekolah, menunggu ibuku untuk menjemput anaknya yang malang ini.

 

Singkat cerita, hari ulang tahunku tiba. Pagi itu, aku bersiap-siap ke sekolah seperti biasa. Aku menganggap hari ini spesial, tetapi aku tidak merubah penampilanku sama sekali.

Sebelum berangkat sekolah aku berpamitan pada orang tuaku yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Sial, mereka tidak memberiku uang jajan tambahan di hari ulang tahunku.

Sesampainya di sekolah, aku merasa seperti seorang artis karena semua orang yang kukenal mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Tapi aku belum juga bertemu Hayeon pagi ini.

Ketika bel berbunyi dan Pak Soobin memasuki ruang kelas, tiba-tiba ada pengumuman dari speaker. Aku selalu senang ketika ada pengumuman. Siapa tau ada libur mendadak.

 “Diberitahukan kepada seluruh warga sekolah, festival musim panas tahunan akan diundur ke tanggal 2 Juli dikarenakan suatu hal.”

Apa? 2 Juli adalah ulang tahun Hayeon. Ini adalah sebuah pengumuman yang bagus karena festival itu akan berasa seperti pesta ulang tahun Hayeon.

Sepulang sekolah, aku dan enam orang sahabatku yang memalukan berkumpul di kafetaria untuk memakan kue yang dibelikan oleh Hoon untukku. Kami berasa seperti pusat perhatian karena semua orang disana melihat kearah kami. Ketika kami sedang asyik-asyiknya menikmati kue, Hyuna, Sohyun, dan Jiyoon menghampiri kami dan meminta kuenya. Mereka beruntung karena aku orang baik. Kalau saja mereka bukan sahabat Hayeon, aku tidak akan merelakan kue yang enak ini untuk mereka.

“Dongho, Hayeon menitipkan salam untukmu. Katanya, selamat ulang tahun. Dia tidak bisa datang karena ada urusan keluarga,” kata Sohyun sambil menepuk bahuku.

Aku sedikit kecewa karena Hayeon tidak bisa berada disini pada hari ulang tahunku. Tetapi, biarlah. Setidaknya ia mengingat hari ulang tahunku.

 “Jangan muram seperti itu, idiot! Kami telah menyiapkan semuanya!” Jaeseop tertawa dengan puas melihat wajahku yang suram karena Hayeon tidak ada bersama Hyuna, Sohyun, dan Jiyoon.

 “Aku harap kau tidak bersikap seperti banci pada saat festival musim panas nanti,” ujar Eli sambil mengacak-acak rambutku, “Dongho sekarang sudah besar ya.”

 “Ya, dia sudah siap untuk punya pacar!” goda Kiseop yang dari dulu sudah memiliki banyak sekali mantan pacar. Beruntung sekali menjadi orang tampan seperti dia.

 

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam itu, aku pergi ke halaman sekolah yang sangat luas, tempat dimana festival musim panas sekolah diselenggarakan. Aku bisa melihat banyak orang disana, termasuk Hayeon. Orang-orang memberikan salam selamat ulang tahun padanya. Aku ingin sekali bicara padanya detik ini juga, tetapi Hoon dan Jaeseop bilang, aku lebih baik tidak berbicara pada Hayeon dulu saat ini karena mereka telah menyiapkan sesuatu yang spesial.

Ketika kembang api dinyalakan, aku tidak sengaja melihat Hayeon berjalan sendirian ke arah gedung sekolah. Dia terlihat kebingungan. Sepertinya dia sedang mencari seseorang. Saat itu, aku sudah tidak mempedulikan lagi apa kata teman-temanku yang melarangku untuk berbicara pada Hayeon. Siapa yang peduli tentang rencana mereka? Aku bisa mendekati Hayeon tanpa bantuan mereka.

 “Hayeon!” aku memanggilnya dan menyeretnya kembali ke halaman sekolah, tetapi ke tempat yang lebih sepi, supaya aku tidak perlu malu jika orang-orang melihatku ditolak oleh Hayeon.

 “Dongho? Daritadi aku mencari…” pembicaraan Hayeon terpotong karena aku menyelanya.

 “Mencari seseorang? Orang bodoh tidak berotak mana yang berani membuatmu melewatkan momen terbaik pada festival musim panas ini?” tanyaku dengan nada sedikit marah. Walaupun sebenarnya aku tidak marah padanya. Aku hanya kesal pada orang dicari Hayeon. Karena dia, Hayeon melewatkan kembang apinya.

Ia diam saja. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menyatakan perasaanku padanya.

 “Kenapa kau belum menyadarinya?” tanyaku dengan pelan. Aku terus berdoa supaya ia tidak menolakku, supaya ia juga mencintaiku.

 “Menyadari apa?” dia balik bertanya, sambil menatapku dengan matanya yang begitu coklat.

Aku mengambil tangan Hayeon dan meletakkannya tepat di dadaku, aku menggenggamnya, “kau tau mengapa hatiku berdetak sekencang ini?”

Hayeon menggelengkan kepalanya.

 “Itu semua karena aku berada disampingmu sekarang,” kataku, “Hayeon… aku menyukaimu.”

 “Aku… tidak tahu apa yang harus kukatakan,” Hayeon bilang. Tapi ia tersenyum. Ia tersenyum.

 “Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku juga. Tapi kau sudah merasakan detak jantungku tadi kan? Kau sudah merasakan betapa kencangnya jantungku berdetak ketika kau ada bersamaku,” kata-kataku memang terdengar berlebihan, tetapi semua itu benar.

 “Masalahnya adalah…” Hayeon menghentikan kata-katanya sejenak, “aku sudah menyukaimu dari dulu.”

Aku tidak bisa lagi menahan diriku untuk tersenyum sepuasnya. Aku memeluk Hayeon seerat mungkin, seakan-akan aku tidak ingin melepaskannya.

Saat kami sedang berpelukan, Hayeon berbisik di telingaku, “kau ingin tahu siapa orang bodoh tidak berotak yang berani membuatku melewatkan penyalaan kembang api pada festival musim panas?”

Aku menggeleng, tidak berkata apa-apa.

 “Orang  bodoh itu adalah kamu,” kata Hayeon sambil melepaskan pelukan kami.

Tiba-tiba saja, Hyuna, Jiyoon, Kevin, dan Soohyun datang menghampiri kami. Wajah kami berdua berubah menjadi merah seketika. Walaupun ini malam hari, lampu-lampu yang menyala membuat semuanya terlihat jelas.

 “Hayeon, aku kan sudah bilang untuk mencari Dongho di dalam gedung sekolah!” kata Hyuna pada Hayeon.

 “Dongho! Kemana saja kau ini? Kami sudah mengirim pesan padamu untuk pergi ke ruangan 83!” Kevin mengomeliku.

“Kalian… menghancurkan rencana kami untuk kalian sendiri,” kata Jiyoon dengan nada sedikit kesal, “sekarang, ikut kami ke ruangan 83!”

Aku dan Hayeon mengikuti mereka ke ruangan 83. Koridor-koridor sekolah begitu gelap, untung saja Soohyun membaca senter. Tetapi, ketika kami hampir sampai di ruangan 83, senter milik Soohyun mati dan alhasil, semuanya terlihat begitu gelap. Aku memegang tangan Hayeon supaya kami tidak tersesat. Hyuna, Jiyoon, Kevin, dan Soohyun pasti mengerjai kami.

Aku mengeluarkan ponselku dan menyalakan flash-nya, supaya kami bisa mencari jalan ke ruangan 83. Kami berjalan hingga menemukan ruangannya, dan ketika kami memasukinya, aku bisa melihat sebuah kue coklat besar.

Aku dan Hayeon mendekati kue itu, lalu membaca tulisan yang tertera disana. ‘Selamat ulang tahun, Hayeon,’ adalah bunyi dari tulisan itu. Aku yakin kue ini adalah kue ulang tahun Hayeon, maka aku menanyakan padanya apakah ia ingin memotong kue itu dan meniup lilin.

Aku memasangkan lilin yang berada disamping kuenya. Setelah itu, aku menyalakan lilin tersebut dan kami berdua meniup lilinnya bersama. Lalu, aku membantu Hayeon memotong kuenya dan aku menyuapinya kue itu.

Tiba-tiba saja lampu menyala dan…

 “SELAMAT!!!” Teman-temanku dan teman-teman Hayeon memasuki ruangan 83 dan bernyanyi selamat ulang tahun. Sungguh, mereka tahu bagaimana cara membuat pesta.

 “Hey, Dongho. Pada awalnya kami ingin kau menunggu Hayeon disini dan dia akan mencarimu. Tapi kau merusak semuanya,” kata Jaeseop. Aku hanya bisa nyengir mendengar hujatan-hujatan dari teman-temanku.

Tiba-tiba Kevin menyeretku keluar ruangan dan dia terlihat penasaran dengan apa yang terjadi. Dia seperti memiliki jutaan pertanyaan untuk ditanyakan kepadaku.

 “Apakah kau sudah menyatakan perasaanmu?” tanya Kevin.

 “Sudah, dan dia juga menyukaiku,” jawabku. Ketika aku menjawab itu, Hayeon ternyata berada di balik pintu dan mendengar pembicaraan kami.

 “Siapa bilang aku menyukaimu?” ujar Hayeon yang mengerutkan keningnya. Aku tahu dia bercanda.

 “Siapa bilang kami sedang membicarakanmu?” Kevin balik bertanya pada Hayeon. Aku bisa melihat, Hayeon mencoba untuk menahan tawa.

 “Kami memang sedang membicarakanmu,” kataku, sebelum Kevin bicara yang macam-macam.

Hayeon berjalan kearahku dan memelukku. Sedangkan Kevin meninggalkan kami berdua di luar ruangan.

 “Terimakasih telah menjadi hadiah ulang tahunku yang terindah.”

 

 

Advertisements

15 responses to “The Day I Confess

  1. huwaaa akhirnya ada juga yang bikin ff ukiss . Btw ,aku juga kissme loh #gaadayangnanya

    ceritanya suka deh, sering” bikin ff ukiss thor ^^

  2. ah senengnya nemu wp ini terus nemu ff ini. tertatik baca wp ini karena ada u-kiss kyyyaaaa… hehehe maklum ya aku juga kissme 😛 sumpah aku seneng banget. kenapa? soalnya maincastnya dongho oppa dan ada u-kiss oppadeul lain. salam kenal ne. jangan bosen2 buat ff u-kiss ne 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s