Thousand Years

thousand-years

Thousand Years

Author : Kaito || Beta Reader : Harumi Aiko || Main Cast : Wei Qian Ya (OC), Kim Jong In, Xi Luhan

Genre  : Sad Romance | Rating : PG-13 | Lenght : Oneshoot | Poster by : PhoenixFromBusan

***

 

“Qian… tangkap!”

 

Pria bertubuh kurus itu melempar bola berukuran sebesar genggaman tangannya pada gadis yang sudah bersiap dipinggir lapangan. Lemparannya melambung cukup tinggi, hampir tak terjangkau karena tinggi badan gadis itu yang bisa dibilang kurang tinggi. Tapi ia berusaha keras. Ia menolakkan kaki kanannya dan melompat setinggi mungkin demi menangkap bola kecil tadi.

 

“HAP!” berhasil. Bola itu sudah berpindah ke tangannya sekarang.

“Luhan!! Aku berhasil menangkapnya!!” pekik gadis bernama Qian itu sambil melompat-lompat girang. Luhan meneriakkinya dari seberang lapangan untuk melempar balik bola itu.

“lempar lagi Qian..!”

“baiklah !!!”

 

Kini giliran Qian mengambil ancang-ancang untuk membalas dendam pada sahabatnya. Sejauh mungkin ia menarik tangannya kebelakang agar nanti bolanya bisa melambung lebih jauh dari lemparan Luhan barusan. Semakin jauh, jauh, dan…

 

“hyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~”

 

Luhan tampak menganga lebar melihat lemparan Qian yang luar biasa itu. Bola kasti miliknya terlempar begitu tinggi diudara, bahkan nyaris tak terlihat jika terlalu dekat cahaya matahari. Gawat! Kemana gadis itu mendaratkan bolanya? Dan sekarang Luhan benar-benar tidak tahu dimana bola kasti itu akan jatuh. Diseberang sana juga Qian tak henti-hentinya berteriak agar Luhan cepat-cepat menangkap bolanya.

 

Tidak terdengar apa-apa. Bola itu entah landing dimana dan sekarang Qian hanya bisa melongo parah. Ia berlari menghampiri Luhan yang hanya menggoyang-goyangkan tongkat kastinya.

 

“bolanya?” tanya Qian menyentuh bahu Luhan. Luhan mencibir dan membuat gerakan seakan mau memukul Qian dengan tongkat.

“kau buang kemana, huh?”

“mana kutahu, Luhan.. aku melemparnya bukan membuangnya. “

“ADUUUUUUUHHHHHHHHHH…”

 

Suara jeritan itu terdengar keras sekali. Luhan dan Qian serentak berlari keluar lapangan sekolah setelah kompakkan melotot bersama. Apa jangan-jangan bolanya mengenai seseorang?

 

Disebelah lapangan tempat mereka main tadi adalah kantin sekolah mereka. Disana cukup sepi memang, tapi Luhan bisa melihat ada seorang pria berseragam sama sepertinya sedang mengacak-acak rambutnya dan semangkuk bakso yang tumpah disebelahnya. Qian meringis pelan, tangannya menarik ujung almamater Luhan.

Mereka berdua menghampiri siswa itu dengan posisi Luhan yang memimpin didepan sedangkan Qian hanya menampakkan sedikit wajahnya dari balik badan Luhan.

 

“apa kau baik-baik saja?” tanya Luhan dengan sedikit takut dan malu. Siswa berkulit coklat itu menengadahkan kepalanya, dengan wajahnya yang mengernyit karena kesakitan, ia tersenyum.

 

“gwenchana.. gwenchana..”

 

he?

 

O.O

 

Begitulah ekspresi Luhan dan Qian sekarang. Cowok yang ada dihadapan mereka mengucapkan sesuatu yang tidak mereka mengerti . bahasa apa itu?

 

Qian menarik-narik ujung jas Luhan dan berbisik, “dia bilang apa barusan?”

Luhan sedikit menengok, “aku juga tidak tahu. Dia bukan orang China.”

“apa dia baik-baik saja?”

“bagaimana aku tahu? Dia ngomong apa aku gak ngerti. “

 

Melihat Luhan dan Qian malah saling berbisik, cowok tadi berdiri dari tempat duduknya. Setelah sedikit membersihkan celananya, ia membungkuk hormat pada kedua orang yang ada didepannya.

 

“Namaku Kim Jong In. Senang bertemu kalian.” Sapanya penuh dengan senyum. Luhan kembali berbisik pada Qian, “dia bisa bahasa Mandarin,”

 

“aku dengar.” Balas Qian menoel pinggang Luhan dan tersenyum semanis mungkin pada Jongin.

“ah.. Kaim chong en..”

 

PLETAK!!!

 

Luhan menjitak kepala Qian saat gadis itu salah menyebut nama Jongin.

 

“awww… sakit tahu. Kenapa senang membullyku sih? “

“namanya bukan kaim chong en… kau ini! dia Jongin!”

 

Sementara kedua orang aneh ini meributkan namanya, Jongin justru merasa lucu dengan mereka berdua. Berhubung dia masih murid baru disekolah ini, jadi bisa dibilang mereka teman pertama yang ia temui.

 

“ah,, sudah sudah! Oiya, kami minta maaf atas insiden bola tadi. Ada unsur ketidak sengajaan disana, hhe. Jadi maafkan kami, ya..”

“iya, aku minta maaf. Tadi aku yang melempar bolanya.” Qian sedikit memperhalus suaranya. Ia merasa amat sangat bersalah karena sudah melempar bola terlalu kuat sampai memakan korban *okeinilebay*

“Nama kalian siapa? Boleh kutahu?”

 

Luhan dan Qian sempat saling berpandangan sejenak. Rupanya orang ini sangat pemaaf, malah begitu ramah. Bersyukurlah, Qian!

 

Dari awal melihat Jongin, sebenarnya Qian sudah sedikit grogi karena baru kali ini bicara lumayan dekat dengan pria selain Luhan. Apalagi Jongin begitu tampan dengan kulit coklatnya. Jadi wajar saja saat Jongin menanyai namanya, pipi Qian sedikit merona.

 

“namaku Wei Qian Ya.. senang bertemu denganmu,”

“namaku Xi Luhan, atau kau bisa memanggil aku ‘coker’ ” Luhan menepuk-nepuk dadanya bangga, sedangkan Qian mulai memasang tampang eneg –Ohmygoat jangan mulai lagi-

 

Jongin mengernyitkan dahinya. Coker? Apa itu? apa sama dengan Joker? Atau memang di cina sebutannya berbeda?

 

“kau tahu, coker itu kependekan dari cowok keren. Tapi kau jangan percaya. Dia mah suka aneh-aneh,” ujar Qian seakan bisa membaca pikiran Jongin. Luhan tersenyum jahil.

“dia ini si tuan putri Mulan yang sedang mencari pangeran berkuda putih disiang bolong, wkwkwkwk..” Luhan balas dendam membuat Qian makin dongkol. Gadis itu pun berusaha mengalihkan perhatian dengan menanyai Jongin lagi.

 

“oiya, kelasmu dimana?”

“10-C . dilantai dua tepatnya,”

Qian menganggukkan kepala, “oh… iya iya. Itu kan kelasnya Kris. Kurasa sekarang sudah hampir jam masuk. Kita kembali ke kelas, gimana?”

“boleh,”

 

Sepanjang perjalanan menuju kelas, Luhan tak henti-hentinya melempar-lempar bola kasti miliknya yang sudah kembali. Jongin tetap stay cool, padahal sedaritadi diliatin Qian.

 

Di persimpangan koridor, Luhan dan Qian berpamitan untuk lebih dulu masuk kelas. Kelas 10-A memang terletak dilantai satu dan Jongin harus naik tangga dulu untuk pergi kekelasnya, 10-C.

 

*di kelas 10-A*

 

Luhan mengetuk-ngetuk kepalanya dengan ujung pulpen. Hari ini mereka diberi tugas membuat sebuah narasi fiktif atau lebih tepatnya cerita pendek. Tapi kan otak Luhan terlalu kecil untuk bisa memikirkan rangkaian peristiwa untuk ditulis. Setidaknya begitulah kata Qian saat mengomentari Luhan yang terus mengeluh ditengah pelajaran.

 

“huhuhu… aku tidak bisa menulis. Lebih baik dihukum lari mengelilingi lapangan, itu sesuai bidangku,”

 

Qian berdecak. Ia menulis cepat diatas kertas miliknya, sebentar mendongak untuk berpikir, lalu kemudian menulis lagi dengan kecepatan turbo. Luhan bosan. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela namun tiba-tiba matanya membulat besar. Bibirnya mengulas senyum. Jantungnya berdebar kencang. Dan mulutnya berbisik lirih, “cantiknya….”

 

Cukup lama ia memandangi obyek yang menarik perhatiannya diluar kelas. Kebetulan kelas 10-A langsung menghadap ke perpustakaan, dan seseorang yang Luhan lihat baru saja keluar dari sana dengan sebuah buku tebal ditangannya. Seorang gadis cantik bermata sipit dan kulit putih susu bersama temannya yg sedang bercanda, terbukti dari tawa yang tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Jantung Luhan semakin tak terkendali. Eye smile milik gadis bernama lengkap Tiffany Hwang itu selalu bisa membuatnya gila mendadak. Seperti sekarang, senyum-senyum sendiri.

 

“Fany!! Fany!!! Lihat sini ada cowok tampan ngeliatin kau terus!!”

 

Luhan terkejut. Ternyata itu suara Qian disampingnya mengetuk-ngetuk kaca jendela. Gadis itu memang benar-benar…

 

Qian memegang pipi Luhan dan mengarahkan wajah pria itu kejendela. Ditarik-tarik wajah Luhan supaya tersenyum.

 

“Lihat! Dia tampan, kan?”

“QIAN!” Luhan melepas paksa tangan Qian dari wajahnya. Ia tampak kesal dan menekuk wajahnya. Sedangkan Qian kembali duduk.

“Hahahaha… lihat tampangmu tadi. Lebih bodoh dari orang tolol!”

“diam kau!”

Berkali-kali Qian menoel pinggang Luhan dengan sikunya, karena cowok itu tampak sebal dan wajahnya kusut.

“kkkkk~ maafkan aku, ya… Luhan si tampan dari Beijing. Ya ya ya?”

 

Luhan memutar kdua bola matanya dan mendesah berat. Qian selalu saja bisa membuatnya memaafkan semua lelucon gadis itu. Walau bagaimanapun juga, mereka sudah berteman sejak SMP kelas 1.

 

“Qian.. ada yang mencarimu..” seorang gadis berkuncir dua menegur Qian dan menunjuk ke arah pintu. Qian tersenyum lebar, “Jongin???”

“Jongin?” Luhan juga ikut terkejut. Cowok bernama Jongin itu pun memasuki kelas Luhan & Qian.

“wah… kalian rajin sekali. Tadi aku mendengar suara bel istirahat jadi aku kesini,”

“iya dong. Jadi pelajar itu harus seperti Luhan, rajin pangkal pandai dan pelit pangkal kaya, eh..” mereka spontan tertawa mendengar celetukan Luhan. Qian menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. setelah menyelesaikan paragraf pertama, Luhan pun beranjak diikuti kedua temannya.

“tapi aku gak biasa ke kantin. Mau main bola denganku?” ajak Luhan pada Jongin seakan mengabaikan Qian.

“wah, pasti seru tuh. Boleh bolehh…” Jongin antusias. Qian semakin sebal.

“kalian! Terus aku sendiri gitu ke kantin?”

“memang Qian gak ada teman cewek?” tanya Jongin spontan, tapi membuat Qian sedikit tersentak. Ia menundukkan kepalanya dalam. “baiklah.. kalian pergi saja,”

 

Qian melangkah lesu keluar kelas dengan kepala yang terus tertunduk. Hal itu membuat Jongin merasa sangat bersalah. Ia menatap Luhan meminta penjelasan. Tapi cowok kurus itu hanya menepuk pundak Jongin dan mengajak Cowok itu pergi keluar, membuat Jongin terus bertanya-tanya dalam hati.

 

Apa pertanyaannya tadi menyinggung Qian?

 

Jongin dan Luhan sudah ada diluar kelas, tapi tidak melihat Qian sama sekali. Ada perasaan tidak enak terselip dihati Jongin. Bagaimana jika gadis itu marah? Bagaimana jika Qian menganggap Jongin baru saja menghinanya dengan bertanya seperti tadi? Bagaimana jika..

 

Sebuah bola besar melesat kencang kearah Jongin. Untung saja cowok itu cepat menyadarinya dan dengan sigap menangkap dengan kedua tangannya. Diseberang lapangan, tampak Luhan melambai-lambaikan tangan.

 

“ayo.. lempar kembali!” teriak Luhan cukup menggema. Kebetulan lapangan basket sedang sepi karena sedang tidak ada kegiatan apa-apa, selain hal konyol yg dilakukan Luhan dan Jongin.

“kenapa tidak bermain basket saja?” Jongin balas berteriak. Luhan tampak menggaruk-garuk kepalanya sambil terkekeh. Ia meloncat-loncat seperti anak kecil.

“ayo lempar, Jongin! Biasanya aku main ini sama Qian! Nanti kita lanjutkan main basket! Sip?”

 

Luhan sungguh kelihatan seperti anak SMP yang sedang merajuk. Begitu juga dengan Qian, sejauh yang Jongin kenal. Mereka berdua benar-benar masih memiliki sisi kekanakkan yang jarang ditemui pada anak kelas 10 jaman sekarang.

 

“NIH!”

 

Jongin melempar bola basket dengan sangat sangat kuat, nyaris membentur dada Luhan kalau saja cowok kurus itu tidak cepat-cepat menangkapnya. Tapi dari ekspresi O.O Luhan, bisa dipastikan cowok itu kaget setengah hidup.

 

“hhha…. kau kenapa luhan?” tawa Jongin pecah. Luhan sedikit kesal dan melempar bolanya ke lantai hingga memantul beberapa kali.

“kau..sama aja kayak Qian. Lempar bolanya gak pake perkiraan. Huh -.- sebel ah,”

 

*di kantin*

 

Qian baru saja memesan sepiring Kimchi dan sekarang sedang terduduk bosan menunggu pesanannya selesai. Sesekali menekan-nekan layar touch ponselnya, mencoba mengusir kejenuhan dengan melihat folder foto-foto SMP-nya. Fotonya bersama Luhan dan seorang sahabat ceweknya begitu mendominasi. Tiga orang yang menjadi objek foto itu tampak ceria dan tanpa beban, sebagaimana anak kecil pada umumnya.

 

Qian, Luhan, dan Jia.

 

Mei Jia, yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bersosialisasi Qian. Cewek blasteran Korea-China itu adalah seseorang yang pertama kali menyapa Qian saat masa perkenalan lingkungan di SMP. Wajah Jia begitu khas, oval dan berdagu lancip. Dengan matanya yang sangat sipit namun berkulit agak gelap, Jia terlihat begitu cantik jika sedang berolahraga. Diantara tiga sekawan itu, memang Jia dan Luhan yang sangat menyukai olahraga.

 

Mei Jia, orang yang dipercayai oleh Qian untuk menceritakan semua unek-uneknya, masalah baik itu disekolah maupun dirumah. Karena Jia begitu dewasa jika dibandingkan Luhan yang sama kekanakkannya dengan Qian. Dan pula, Jia pandai memberi nasihat dan itu benar-benar berguna untuk Qian. Karena Jia sangat mengerti Qian.

Tapi…sekarang Qian merasa matanya mulai berair. Pelupuk matanya sudah basah dan jika ia berkedip sekali saja, maka airmata itu akan meluncur mulus dipipinya.

 

Jia sekarang sudah pergi. Dia sudah menanggalkan gelar sahabat bagi Qian, tapi entah untuk Luhan. Keegoisan memang bisa mengalahkan segalanya. Bahkan kedewasaan Jia luntur hanya karena satu kata itu, egois.

 

Entah siapa yang sebenarnya egois. Qian atau Jia.

 

Ditengah pikirannya yang melambung jauh, seorang bibi mengantarkan sepiring kimchi ke meja Qian. Baunya yang harum begitu menggoda indera pengecap gadis itu. matanya yang semula keruh mendadak bling bling dan bercahaya.

 

“terimakasih, bi…”

 

Bibi tadi tersenyum lebar lalu meninggalkan meja Qian. Sementara Qian menatap layar ponselnya sejenak sebelum menekan tombol on/off dibagian atas ponselnya. Ia tersenyum dan,

“selamat makan!”

 

***

 

Hari-hari selanjutnya setelah pertemuan Qian, Luhan dengan Jongin. Ketiganya sekarang semakin dekat dan mulai berlanjut pada seringnya mereka istirahat dan pulang bersama. Kebetulan Jongin juga biasa naik bus, jadi mereka bisa jalan bareng menuju halte yang letaknya ada diseberang lapangan sepak bola depan sekolah.

 

Qian semakin suka memperhatikan Jongin. Kulit gelap cowok itu kerap kali mengingatkannya pada sosok Jia, selain itu sikap Jongin yang dewasa namun masih suka bercanda membuat Qian mau tidak mau merasa nyaman menjadi sahabatnya. Begitupula Luhan yang jadi punya teman bermain bola konyolnya.

 

“Luhan! Qian! “ Jongin menyapa kedua temannya saat tanpa sengaja berpapasan dikoridor depan ruang guru. Barusan dia baru saja mengumpulkan fotocopy ijazah SMP nya pada wali kelas.

 

Luhan melambai pada Jongin, “ Jongin! Kemari…”

 

Qian ikut menoleh pada Jongin dan sedikit terpaku mengagumi betapa sempurnanya fisik teman barunya itu. dari kejauhan, tubuh Jongin yang tinggi terlihat menjulang bak tiang listrik, dan kulit gelapnya yang menambahkan kesan seksi. Tapi semuanya sedikit membuat Qian merasa ada sedikit perih dihatinya. Entahlah..

 

Jongin berlari kecil kearah mereka. Ia sempat tersenyum pada Qian, membuat gadis itu sedikit gugup dan salah tingkah. Padahal Jongin melakukan hal yang sama juga pada Luhan.

 

“Seleksi olimpiade tingkat SMU. Wahhh.. siapa nih yang berminat daftar?” tanya Jongin bersambut tepukan bangga Luhan dibahu Qian.

“sudah pasti dia lah.. siapa lagi yang siap ditumbalkan kalau bukan Nona Wei Qian Ya?” Luhan mengedip-ngedipkan sebelah matanya pada Qian.

 

Qian menatap jijik, “matamu kenapa?”

“aish…”

“hahahaha… kalian ini kalau bertengkar lucu. Hahaha..” Jongin tertawa sembari memegangi perutnya. Sedangkan Qian mencibir, tidak ada yang lucu sama sekali, pikirnya.

 

Qian melirik jam tangannya, lalu menepuk jidatnya sambil meringis.

“ah.. aku lupa. Kalian pulang duluan saja, ya.. aku harus menemui tutor-ku..” ujarnya pada Luhan dan Jongin dengan sedikit tergesa. Kemudian Qian pergi meninggalkan mereka dengan sedikit berlari.

 

Setelah Qian sudah tak kelihatan lagi, Jongin mulai membaca pengumuman lomba yang ditempel didepan ruang guru.

“kau harus bisa menjaga perasaannya,” Luhan bergumam tiba-tiba. Ia tidak menatap pada Jongin melainkan pada kertas pengumuman. Tapi Jongin tahu kalau Luhan sedang berbicara padanya.

“perasaan Qian?”

“tentu aja. Qian itu bukan cewek yang gampang menangis, tapi kalau sudah menangis susah sekali dihentikan.” Pesan Luhan panjang lebar. Ia mendesah pelan, dan kini berbalik untuk menatap Jongin.

“Qian menyukaimu,”

 

Jongin membulatkan matanya, “mwo? Emm.. itu.. maksudku..bagaimana bisa begitu?”

“kau pikir Love at first sight itu hanya cerita novel? Qian itu mudah sekali jatuh cinta, jadi sulit untuknya berhati-hati pada pria. “

“makanya dia cuma mau temenan sama kau?” Jongin menebak-nebak.

 

Luhan mengacungkan dua jempolnya. Itu artinya tepat?, pikir Jongin. Meskipun baru beberapa minggu menjadi sahabat Luhan dan Qian, tapi ia sungguh ingin tahu lebih banyak tentang teman-teman barunya. Terutama Qian, yang sedikit banyak menarik perhatiannya.

 

“kalian..” sebuah suara berat dibelakang Jongin dan Luhan membuat mereka terkejut. Luhan menoleh dan tersenyum, “oh, Kris!”

 

Sedangkan Jongin hanya diam melihat Kris menghampirinya dan Luhan. Cowok itu sangat tinggi, menjulang bak Namsan Tower yang sering dikunjunginya dulu saat masih tinggal di Korea. Perawakannya yang gagah mengundang decak kagum Jongin. Pasti banyak gadis yang mengejar Kris disekolah ini, pikirnya.

 

“jongin.. kau disini juga? Kalian begitu dekat..” komentar Kris melihat Luhan dan Jongin sedang bersama. Jongin hanya tersenyum kecil dan Luhan menepuk pundak Kris .

“biasa saja, Bos.. kau sendiri ada urusan apa denganku?”

“eits… minggu depan mading kita akan dilombakan dengan sekolah seberang depan itu…”

Jongin mengernyitkan dahi, “Lomba mading? Kalau boleh kutahu, sekolah seberang depan itu yang mana?”

 

Luhan tertawa kecil dan menepuk-nepuk bahu Jongin, “dengan sekolah itu tuh..sekolah itu..”

“eo? Sekolah yang mana?”

“yang ada bidadari turun dari surga.. eeeeeeeeeaaaaaaaa,”

Luhan mulai bermain-main, membuat Kris tak bisa menahan tawanya. Padahal Jongin malah jadi semakin bingung. Jelas-jelas ia memang belum tahu sekolah yang dimaksud itu yang mana.

 

“sbenarnya masih satu kompleks sama kita, hanya saja disana mayoritas perempuan sedangkan disini kan ganda campuran..” jelas Kris akhirnya.

“dipikir badminton kali ah ganda campuran.. iya kok, mereka masih satu yayasan dengan sekolah ini. hanya saja disana lebih banyak kegiatan dan kejuruan untuk anak cewek,”

“kenapa Qian nggak masuk kesana aja?”

“dia kan ngga jelas cwe atau bukan..”

“ketahuan Qian kau bisa di High Kick sampai ke planet luar.” Kris menoyor pelan kepala Luhan. Jongin hanya terkikik kecil, tapi kemudian berhenti karena ia melihat Qian baru keluar dari sebuah ruangan. Tepatnya Laboratorium.

 

Dada Jongin berdesir pelan. Baru kali ini ia melihat Qian mengenakan Jas Laboratorium dan gadis itu tampak amat sangat berbeda dari biasanya. Meskipun setiap hari Qian selalu cantik dimata Jongin, tapi hari ini sisi kedewasaan Qian begitu terlihat.

 

Sebuah ide melintas dibenak Jongin. Ia tahu Qian menyukainya, maka dari itu juga ia ingin membuat dirinya sendiri menyukai Qian. Jongin ingin melakukan pendekatan dengan Qian. Karena ia ingin menjadi sesuatu yang sepenuhnya ada dihati Qian.

 

“hei, lihat apa sih?” tanya Luhan seraya melihat kearah Jongin mengarahkn pandangannya. Tak lama ia pun tertawa terbahak-bahak.

“hahahahaha…hahahahaha… sejak kapan Jongin???? Hahahaha”

Ternyata yang dilihat Luhan adalah seorang wanita hitam gemuk yang baru keluar dari laboratorium. Dia itulah tutor Qian. Jongin merengut, padahal kan bukan mahluk itu yang dia lihat.

 

***

Akhir pekan datang juga akhirnya. Meskipun biasanya hari Sabtu itu sekolah libur atau tidak ada kegiatan, tapi Qian tampak sibuk dengan modul tebal yang ada dimejanya. Untuk hari ini, ada beberapa soal dari materi kemarin yang harus ia kerjakan. Dan itu benar-benar menyita waktunya untuk belajar normal disekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah memberinya dispensasi untuk berlatih sebelum olimpiade datang.

 

Luhan tampak sedang bermain bola dengan Jongin dan Kris dilapangan dekat kantin. Mereka sepertinya baru selesai ekskul sepak bola dan Luhan sengaja menunggu Qian untuk pulang bersama.

“ah, lempar biasa saja, Jongin-ah!”

Ternyata bola basket yang dilempar Jongin mengenai dahi Luhan. Sontak Kris tertawa puas.

“enak, Han? Hahahaha…”

“sial!” Luhan masih mengusap-usap dahinya. Mungkin sebentar lagi akan tumbuh benjolan kecil disana.

“Qian!” itu suara Jongin, berteriak memanggil Qian yang ternyata melewati koridor dekat lapangan menuju kantin. Gadis itu tampak membawa tumpukkan kertas tebal dan sebuah kacamata bertengger di hidung bangirnya.

 

Tampaknya Qian tidak mendengar panggilan Jongin barusan. Ia terus saja melangkah dengan sedikit kerepotan. Jongin mendesah kecewa.

“dia sibuk kali. Sudahlah, kalau lombanya beres juga dia balik lagi sama kita!” ujar Luhan seraya melempar bola basket pada Jongin yang sedikit melamun. Jongin menangkap bola itu dan menatap sebentar kearah Qian yang akhirnya menghilang ditikungan koridor. Darahnya berdesir lagi dngan cukup lembut.

 

***

 

Langit yang menghitam mulai menjemput sang surya untuk kembali ke peraduannya. Digantikan bulan yg hanya sepotong dengan bentuk melengkung seperti sabit. Persis seperti bentuk mata gadis itu saat tersenyum. Gadis dengan tumpukan buku tebal ditangannya dan kacamata yang bertengger manis dihidungnya. Ia tersenyum begitu menyadari kalau Jongin dan Luhan masih setia menunggunya disekolah.

 

“Qian sudah selesai?” tanya Jongin seakan memberi perhatian lebih pda seorang Qian. Pipi Qian merona seraya ia menganggukkan kepalanya. Sedangkan Luhan sibuk menggoda Jongin dengan bersiul-siul ria.

“jadi..kita pulang nggak, nih? Atau kalo mau pacaran dulu juga ga apa-apa deh.. perlu aku temani?”

PLAK. Otomatis tangan Qian memukul punggung Luhan keras.

“ups- maaf Lu.. refleksku terlalu bagus,” kilah gadis itu memutar kedua bola matanya. Luhan meringis sakit.

“ya kali..tapi gak usah pake mukul.”

“ayo kita pulang..” qian pun menggamit lengan kedua cowok itu bersamaan dan melangkah menuju halte untuk menunggu bis. Cukup lama mereka disana, hingga sebuah telefon masuk ke ponsel Luhan.

 

Sementara Luhan bertelefon, Jongin mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Qian mengobrol.

“kapan kau mulai lomba?”

“besok lusa. Doakan aku, ya..”

“tentu saja,” Jongin mengacak rambut Qian gemas. Seakan menyalurkan energi positif untuk gadis itu. memberinya sedikit kehangatan boleh, kan? Hanya sebagai teman, kok.

 

Tiba-tiba Luhan menginterupsi keduanya, “eh kalian.. aku duluan ya. Nenekku masuk rumah sakit.  Gak apa-apa kan?”

Qian langsung berdiri memeluk Luhan, “gak apa-apa.. sudah sana. Salam untuk halmeoni tercinta,”

 

Senyuman Qian mngantar kepergian Luhan meninggalkannya dengan Jongin, hanya berdua di halte. Detik berikutnya hujan turun rintik-rintik. Qian kembali duduk disamping Jongin yang tadi sempat memandang tidak suka saat Qian memeluk Luhan. Tapi toh mereka hanya sahabat?

 

“kau..begitu dekat dengan Luhan?” tanya Jongin hati-hati. Takut kalau ucapannya akan salah lagi seperti beberapa hari yang lalu. Qian tersenyum dan mendongak menatap langit yang semakin gelap.

“dia seperti rusa kecil bagiku. Luhan sangat ceria dan bisa membuatku bangkit saat aku merasa tak bisa melakukan apa-apa lagi. Bahkan ketika kami kehilangan satu sahabat yang begitu berharga. Yang selalu bersama dalam suka dan duka. Yang mau menjadi tempat berbagi tangis dan tawa. Ketika itu aku begitu kosong.

 

Tapi Luhan mengisi kembali energi persahabatan kami dngan keceriaannya itu. aku tak sanggup membayangkan jika tak ada Luhan dihidupku. Mungkin juga kita tak akan pernah bertemu,” Qian tersenyum mengingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Jongin saat ia sedang bermain bola dengan Luhan.

 

Jongin sedikit terpaku mendengar rentetan curahan hati yang keluar dari mulut seorang gadis yang ia sukai. Ternyata persahabatan begitu dihargai dan dijunjung tinggi.

“apa..kau menyukai Luhan?”

Qian terdiam. Kenapa jongin bertanya seperti itu seolah yang ia lakukan bersama Luhan bukanlah suatu hal wajar dalam persahabatan. Ia memiringkan kepalanya, “maksudmu?”

“jawab saja. Apa kau menyukai Luhan?”

“aku menyukainya,”

 

DEG

 

Jongin sedikit tercekat.

“dia sahabatku, tentu saja aku menyukainya, kau ini lucu sekali..”

Tawa Qian membawa Jongin kembali kedunia nyata. Syukurlah, huffft..batinnya lega.

Begitu banyak sesuatu yang bisa dirasakan manusia didunia ini, tapi tak semua bisa terdefinisikan. Asing dan sulit ditebak. Seperti yang dirasakan Jongin saat ini. Begitupula Qian, entah kenapa berada disisi seorang Kim Jongin bisa membuatnya senyaman ini. meskipun deg-degan, tapi tidak dipungkiri jika ia tidak mau jauh barang sedetik. Hingga waktu terbuang beberapa menit dalam diam, mereka sama sekali tak bergeming.

Tapi jongin sudah tak mampu menahan perasaannya. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Qian dan memalingkan wajah gadis itu kearahnya. Bisa ia rasakan bagaimana suhu tubuh gadis itu meningkat atau entah hanya pipinya yang menghangat. Warnanya berubah semerah tomat.

 

“Wei Qian Ya.. a-aku..jatuh cinta,”

“hmm?” mata Qian sedikit membesar, dalam hati ia berharap penuh pada situasi hari ini.

“aku jatuh cinta…”

Iris Hazel milik Jongin mencoba terbawa jauh pelangi yang menjeratnya kedalam mata Qian. Menelusuri gadis itu lebih dalam. Dan ia semakin mantap kala menemukan apa yang ia cari dari sapphire itu.

 

CINTA.

 

“padamu..”

 

***

Kami tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Jatuh dalam satu perasaan yang sama, dimana orang kebanyakan menyebutnya CINTA. Tapi kesetiaan ini jauh lebih tinggi derajatnya jika hanya dibandingkan dengan kata CINTA. Ketika kita harus menunggu, menunggu, menunggu, menunggu, ups- kami tak tahu lagi harus menuliskan kata itu hingga deret keberapa. Karena lebih dari sekedar menunggu, proses saling mengenal perasaan yang berkembang dihati masing-masing. Bagaimana cara mengungkapkannya lewat bahasa kalbu atau bahkan kontak fisik.

Kami bisa bertahan hingga seribu tahun –jika tuhan menganugerahi kami umur panjang- untuk saling menunggu. Karena cinta itu terkikis bukan oleh waktu, melainkan kepercayaan. Kami yakin, jika masih saling percaya tentang waktu yang akan segera datang, menunggu itu bukanlah hal yang sia-sia. Dan suatu saat kami akan menemukan cinta kami satu sama lain dalam keadaan utuh.

Kami bukan insan yang sedang dibuai oleh masa lalu yang picisan.

Kami akan segera datang dengan kebahagiaan untuk semua orang yang kami sayang.

 

Kim Jongin pov.

 

Seminggu yang lalu, tepat ditengah hujan rintik, aku menyatakan perasaanku padanya. Tentang bagaimana aku mencintainya, menyukai senyum dan tawanya, seperti yang kulihat sekarang dari ambang pintu kelasnya. Gadis itu –Wei Qian Ya- senang sekali tertawa apalagi jika mendengar lelucon Luhan. Kadang aku merasa iri dengan pria cantik itu. Kenapa aku tidak bisa sekonyol dia? Lalu dengan candaanku, Qian akan tertawa terpingkal-pingkal?

 

Tapi dibalik itu semua, aku bangga sebagai seorang laki-laki. Aku mampu mengungkapkan isi hatiku pada Qian walaupun aku tak yakin dengan jawaban gadis itu. meskipun Luhan bilang Qian menyukaiku, itu tidak serta merta membuatnya bisa menerima cintaku yang terlalu terburu-buru. Qian pernah bilang,

 

‘aku tidak mudah menentukan perasaanku sendiri. Apa itu cinta atau hanya suka atau bahkan kagum saja? Jadi aku tidak terlalu berani mengambil keputusan untuk pacaran’

 

Qian mengatakannya beberapa hari sebelum aku menembaknya. Saat itu kami sedang terlibat obrolan ringan dikantin, ketika Luhan cerita kalau Qian tidak terlalu dekat dengan orang lain –selain aku dan Luhan- semenjak ditinggal Jia, sahabat SMPnya. Qian selalu takut dengan anggapan orang padanya. Ia sudah cukup merasa lelah karena Jia pernah salah paham padanya.

 

Dengan langkah lebar, aku memasuki kelas 10-A. Sepertinya Qian dan Luhan menyadari kedatanganku. Luhan tersenyum lebar, sedangkan Qian… dia.. kenapa dia seolah tidak menghiraukanku? Dia memilih tenggelam dalam aktivitasnya membaca komik.

Aku memandang sedih pada gadis itu. Tapi kucoba untuk bersikap seperti biasa dan mengacak rambutnya pelan, “sedang sibuk, ya?”

“hmm…” ia hanya menjawab seperti itu. Dan itu sama sekali bukanlah jawaban. Kau kenapa..Qian?

“ke kantin yuk..” aku kembali berucap riang, seolah mengabaikan rasa sakit yang mulai meremas jantungku.

 

Luhan menatap Qian minta persetujuan, tapi gadis itu bahkan tak sedikitpun melirik sahabat kentalnya. Akhirnya terpaksa Luhan pun menolak ajakanku seraya mengangkat bahunya,

“maaf, Jongin..”

 

Aku harus tetap tersenyum, “tak apa. Qian, kalau kau kurang sehat, biar kuantar pulang. Wajahmu merah,” saranku dibalas gelengan enggannya. Aku menghela nafas kecewa. Lalu menyeret kakiku yang tiba-tiba terasa sulit untuk dilangkahkan.

 

What’s wrong with us, Qian?

 

Waktunya pulang pun tiba. Karena ini hari jumat, kami pulang lebih awal dari hari biasa. Sekitar pukul 3 sore. Dan pada jam-jam segitu biasanya kelasnya Qian baru selesai olahraga. Pasti toilet akan penuh sekali.

Sudah kepalang ingin buang air kecil, akhirnya aku harus menunggu didepan toilet pria yang letaknya persis disebelah toilet perempuan. Berisik sekali anak-anak gadis itu, terdengar sampai keluar. Pasti mereka sedang bergosip.

 

“hai..Jongin”

 

Sebuah suara cempreng mengejutkanku. Ternyata itu Tiffany, anak sekolah sebelah yang entah kenapa bisa ada disini. Dia itu aneh, setahuku disana masih banyak eksul cewek kan, tapi kenapa dia selalu berkeliaran disini, bahkan ikut kelas fotografi disini?

 

Aku membalas sapaannya hanya dengan senyuman. Tapi gadis itu tidak juga bergeming dari sisiku.

“kau ikut klub mading, kan? Kau juga yang bergabung di ekskul dance? Keren^^” eye smile cantik menghiasi wajahnya. Aku hnya mengangguk, “darimana kau tahu?”

“aku kan ikut kelas fotografi. Aku banyak memiliki fotomu. Boleh aku meminta foto kita berdua?”

 

Aku bingung. Gadis ini bisa dibilang genit sekali, karena aku belum pernah sekalipun bertemu gadis agresif macam dia. Tapi daripada aku disangka sombong, aku pun mengiyakan.

 

Tiffany mengambil posisi disebelahku. Awalnya dia hanya berpose Vsign dan aku tidak berekspresi sama sekali. Karena aku jarang sekali foto-foto. Tapi gadis ini merajuk agar aku sedikit bergaya, dan tanpa kusangka ia menggamit lenganku dan..

 

CKREK!

 

LSR itu merekam gambar kami dengan begitu jelas. Tiffany tersenyum senang dan mengucapkan rasa terima kasihnya padaku. Setelah itu masuk kembali kedalam toilet perempuan. Tunggu, apa dia mau memamerkan foto itu pada teman-temannya??

 

***

 

Sekali lagi, Qian mematut dirinya didepan cermin. Baru saja ia mengganti pakaian olahraganya dengan seragam sekolah membuat kuncir kudanya sedikit berantakkan. Dari cermin toilet, ia bisa melihat seorang gadis incaran Luhan memasuki toilet. Kenapa sih akhir-akhir ini ia sering berkeliaran disekolah ini? apa di sekolahnya ia kehilangan teman?

 

Oh, tidak. Tiffany kan bukan Qian .

 

“lihat..dia tampan, kan?”

“benar-benar cocok denganmu, Fany. Kenapa kalian tidak jadian saja? Lagipula kalian sering terlibat dalam klub mading, kan?”

“iya, Fany. Semua murid disini pasti mendukung kalian. Kau cantik dan dia sangat tampan. Seperti pangeran berkuda putih dan putri salju!”

 

Qian mengutuk dirinya sendiri yang tiba-tiba saja jadi penyadap yang suka mencuri dengar pembicaraan orang. Apalagi si Tiffany itu! apa gadis itu sedang membicarakan Luhan? Kalau begitu, baguslah!

 

Saat Qian sudah menggendong ranselnya dan bersiap keluar, suara Tiffany lagi-lagi menginterupsi langkahnya.

“kalian tau tidak siapa namanya?”

 

Tidak ada jawaban. Hanya detak jantung Qian yang tiba-tiba berdegup lebih cepat. Ia penasaran dengan nama pria itu.

 

“namanya Kim Jongin! “

 

DEG

DEG

DEG

 

Qian bersumpah ia salah dengar kali ini. Mana mungkin..Jongin?

“Kim Jongin? Dia orang korea?”

“iya.. tapi karena anak klub kesulitan menyebut namanya, aku mengusulkan untuk memanggilnya Kai. Keren, kan?”

 

BLAM

 

Ketiga gadis yang sedang bergosip itu terlonjak saat mendengar suara pintu dibanting.

“aishh.. tidak sopan sekali. Siapa sih?”

“kalau tidak salah, yang tadi itu Wei Qian Ya. Anak 10-A. Dia sahabat Luhan dan cukup dekat dengan Jongin,”

Tiffany mencibir, “huh? Apa katamu? Luhan si rusa kerempeng itu? isshhh~”

 

Qian mengatur nafasnya yang tersengal dibalik pintu toilet. Kenapa seperti ini? kenapa rasanya sesak sekali?

Belum hilang sakit hatinya atas obrolan Tiffany dan kedua temannya tadi, Qian sudah dikejutkan dengan suara seruan seorang pria dari dalam toilet.

 

“wooohhh~ sepertinya tuan putri itu menyukaimu, Jongin-ah! Sayang sekali, cepat tembak dia sebelum kuambil! Hahahaha~”

 

Dari suaranya yang berat, Qian tahu itu Kris. Anak mading juga. Padahal dia teman akrab Luhan, tapi sepertinya dia tidak tahu kalau Luhan sebenarnya memendam rasa pda Tiffany. Apa anak itu hanya bercerita padaku? Sama dong denganku yang hanya cerita pada Luhan?

 

Hufft~

 

Qian POV       

Tubuhku lemas. Hari ini aku harus dua kali mendapatkan hantaman keras dijantungku. Dan semuanya mengaitkan Jongin dengan Tiffany. Karena saat ini merekalah orang paling populer dilingkungan sekolahku dan sekolah seberang. Mereka sama-sama memiliki fisik yang sempurna, mempunyai popularitas. Jongin mungkin anak baru disekolah ini, tapi karena mengikuti banyak ekskul dan semua murid beserta guru menyukainya, ia jadi cepat dikenal. Begitupula Tiffany. Meskipun ia bukan siswi sekolah ini, lihat saja bagaimana dia bisa berkeliaran bebas disini dan berinteraksi dengan banyak orang. Luhan juga, dengan teman di klub mading dan fisikanya.

Sedangkan aku? Kusebutkan temanku yang paling dekat? LUHAN.

 

Teman sebangku? LUHAN.

Teman bermain? LUHAN.

Teman ekskul? LUHAN.

Teman rumah? LUHAN.

Teman SMP? LUHAN.

Teman SD? LUHAN.

 

Hufft~ aku sampai bosan menyebut namanya terus. Tapi harus kuakui, memang hanya Luhan yang aku percaya, dan aku sayangi. Hanya Luhan. Dan aku memang salah tidak mau membuka hati untuk orang lain meskipun hanya sekedar bersahabat.

 

Tapi..Jongin berbeda. Aku bisa dengan begitu mudah menerimanya masuk keduniaku.

 

‘Wei Qian Ya.. a-aku jatuh cinta padamu.’

 

Airmataku mengalir sedikit demi sedikit dipipiku. Tapi bagaimana dengan pernyataan cinta Jongin waktu itu? aku bingung. Aku ingin mengiyakan, tapi melihat keadaan sekarang, aku jadi ragu jika Jongin masih cinta padaku. Aku memang terlalu bodoh karena menggantungnya cukup lama. Tapi dia sendiri tahu, aku belum pernah pacaran sebelumnya.

 

Karena apa? Karena aku takut disakiti, seperti saat Jia meninggalkan aku.

 

“Qian?”

 

Tidak! Jongin memergokiku sedang menangis didepan toilet. Secepatnya aku berlari meninggalkan tempat terkutuk itu. Persetan dengan Kim Jongin dan pernyataan cintanya beberapa hari lalu! Semua sudah berubah sekarang! Aku mau mencari Luhan saja!

 

“Luhan?” aku menemukan Luhan sedang berjalan ditrotoar tak jauh dari sekolah. Ia menengok padaku dan aku langsung  berlari kearahnya, menyerukkan tubuhku kedalamnya tubuhnya yang kurus. Aku memeluknya erat, sangat erat. Seolah mencari kehangatan.

 

“kau kenapa Qian?”

 

Aku tahu Luhan khawatir. Ia mengelus surai hitamku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku menangis, ia juga ikut menangis. Dan kami sama-sama menangis.

 

“sakit…sangat sakit.” Aku meringis seakan ada ribuan jarum mencucuki seluruh bagian tubuhku. Perihnya benar-benar hebat. Demi tuhan, aku menyesal telah merasakan cinta. Cinta itu menyakitkan.

 

“sudah Qian..sudah,” Luhan semakin terisak dan menenggelamkan kepalanya dibalik rambutku. Aku seperti mengalami de javu. Persis seperti saat Jia bilang aku dan Luhan sudah bukan sahabatnya lagi. Benar-benar sama.

 

Tapi kurasa kali ini, aku yang bisa saja salah paham pada Jongin. Tapi mendengar semua yang tiffany dan kris katakan tadi membuatku benar-benar jatuh dan takut. Aku takut Jongin berubah pikiran dan meninggalkanku.

Aku takut..

***

Hujan lagi. Penghujung tahun memang begini, setiap pulang sekolah pasti harus sedia payung jika tidak mau basah-basahan. Seperti Jongin yang mengigil begitu keluar dari gerbang sekolah. Angin sore cukup menusuk persendiannya ditambah hujan rintik yang menetes dipermukaan kulitnya seperti es.

 

Jongin harus menunggu bus dihalte. Sebelum umurnya cukup, ia memang tidak diizinkan untuk membawa kendaraan sendiri ke sekolah. Jadi ya beginilah rutinitasnya setiap pulang sekolah.

 

“Kai, aku duluan ya! Hati-hati tersandung! Hahahaha…” begitu Kris selalu mengejeknya setiap hari karena Jongin berjalan kaki sedangkan Kris pasti naik mobil meski tetap memakai supir.

 

Jongin hanya mendengus kesal. Teringat kembali perkataan Kris ditoilet tadi. Tentang Queen Tiffany yang menyukainya dan bagaimana Jongin harus mengambil langkah untuk mendapatkan gadis itu. tapi..bagaimana bisa jika Jongin tidak menyukai gadis itu sedikitpun?

 

Jongin tersenyum sinis.

 

Dihadapannya. Sekarang. Dengan mata kepalanya sendiri.

 

Jongin melihat Qian memeluk Luhan dengan sangat erat, dan pria cantik itu membalasnya dengan usapan lembut dikuncir kuda Qian.

 

“Qian…sekarang aku tahu. Apa alasanmu dibalik semua. Kenapa kau menjauhiku. Kenapa kau tak menjawab perasaanku. Kenapa kau menggantung cintaku padamu.”

 

Jongin sudah tak mnghiraukan tetesan hujan yang semakin deras. Ia bersyukur karena airmatanya bisa tersamarkan.

 

“karena kau…Wei Qian Ya… Kau menyukai Luhan. Kau hanya merasa nyaman dengan pria yang kau sukai. Kau hanya memeluk pria yang kau cintai. Dan orang itu adalah Luhan. Aku benar kan, Qian? Jawab aku, Wei Qian Ya!” Jongin hanya mendesis, dengan rahangnya yang mengeras. Meski matanya berkaca-kaca dan tak sanggup menutupi kesedihannya karena Qian ternyata tak menyukainya, seperti apa yang Luhan katakan.

 

“asal kau tahu, Nona Wei… mau kau membenciku bahkan menganggapku sampah, dimataku kau tetaplah Qian yang membuatku merasakan cinta pertama. Terimakasih untuk itu.”

 

Pria berkulit gelap itu memutar tubuhnya membelakangi Luhan dan Qian yang masih belum menyadari keberadaannya disana. Mungkin karena jarak mereka yang terlalu jauh. Syukurlah, setidaknya sekarang Jongin bisa membawa dirinya berlari dari rasa sakit yang mengukungnya dibalik hujan.

 

Tapi ia tak pernah menyesal mencintai Qian. Cinta pertamanya. Gadis pertama dihatinya.

 

Meski cinta itu memang menyakitkan.

 

***

 

Hari itu datang juga, olimpiade fisika yang dinanti-nanti oleh Qian setelah berlatih satu bulan lamanya. Meski semangatnya cukup luntur karena peristiwa kemarin, tapi Qian tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak boleh mengecewakan Luhan yang sudah mendukungnya habis-habisan. Walaupun seisi kelas tidak ada yg peduli dengan lomba yang akan diikuti gadis itu, tapi Qian tetap harus mengharumkan nama kelas 10-A.

 

“Jiayou! Bawakan kami medali emas ya.. seperti tahun lalu!” guru Xing mengepalkan tangannya keudara, memberi dukungan positif pda anak didiknya yang paling ia sayangi. Qian ikut mengepalkan tangannya juga dan tersenyum, “semangat!”

 

Elf sekolah yang nanti akan mengantarkan Qian ke lokasi perlombaan. Sebelumnya gadis itu sempat melewati kelas 10-C dan mencuri pandang kesana. Hening sekali. Dipojok kelas, tepatnya disamping Kris, bangku itu kosong. Sang empunya entah kemana, hari ini tidak masuk. Padahal jauh sebelum hari ini Qian amat sangat menanti dukungan dari Jongin, bagaimanapun bentuknya. Ia ingin pria yang ia sukai memberinya support dan energi positif. Tapi sayang, cuma harapan kosong karena justru melihat batang hidungnya saja tidak.

 

“Qian..kau sedang apa? Ayo cepat.” Guru Xing menegur Qian dari dalam mobil. Rupanya anak itu sudah tertinggal jauh, tidak fokus. Secepat kilat Qian menyusul gurunya dan meminta maaf . Elf berwarna biru itu pun melaju meninggalkan sekolah.

 

Sedangkan dari arah berlawanan, sebuah mobil meluncur masuk kedalam wilayah sekolah Olympic. Audi hitam itu berhenti tepat diwilayah parkir sekolah . Pintu belakang pun terbuka, menampakkan sosok pria dengan balutan kemeja putih dan celana kain yang kemudian membanting pintu mobilnya dengan kasar. Dari air mukanya, tampak sekali moodnya yang sedang buruk dan kesal.

 

“Jongin. Ayo cepat. Kita sudah hampir terlambat,” seorang wanita paruh baya berpakaian glamour menegur pria tadi dibalas lenguhan kesalnya. Terpaksa ia mengikuti ibu dan ayahnya masuk kedalam gedung sekolah, tepatnya ruang kepala sekolah.

 

Pria bernama Jongin itu merasa kakinya semakin sulit dilangkahkan. Beban berkilo-kilo seolah menimpa bahunya dengan sekali hantam, menyakitkan. Apa ia harus melakukan hal ini? bagaimana dengan cinta pertamanya? Bagaimana dengan kesalahpahaman yang mendera ia dan Qian? Ingin rasanya Jongin mempertahankan gadis itu dan menghilangkan semua spekulasi buruk yang memenuhi batinnya. Tapi apa yang nampak didepan mata semua ada diluar ekspetasinya. Ia tak bisa menyangkal.

 

Sebagaimana ia tak bisa menolak kalau ia benar-benar mencintai Qian dan tak mau meninggalkannya.

 

“Jongin!”

 

Ketiga orang itu menoleh saat ada yang menyerukan nama salah satu dari mereka. Jongin sedikit terkejut, sedangkan kedua orangtuanya memasang raut wajah bingung.

 

“Luhan?” bisik Jongin . kedua orang tua Jongin tidak menghiraukan dan masuk lebih dulu keruang kepala sekolah, sedangkan Luhan menghampiri Jongin yg tak bergeming dari tempatnya.

 

Tangan kurus Luhan melingkar dibahu Jongin, akrab.

 

“hey..kenapa hari ini tidak sekolah? “

“aku..ada sedikit urusan. Kenapa?”

“qian kan hari ini lomba. Kau lupa?”

 

Tidak. Jongin tidak pernah lupa dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Qian. Apalagi tentang lomba itu, Jongin pernah menanyakannya dua hari yang lalu.

 

“dia sudah pergi?”

 

Luhan mengangguk. “orangtuamu kenapa kesini? Kau kena masalah?”

 

Jongin tertawa dan meninju bahu sahabatnya itu pelan, “enak saja. Kami mau mengurus administrasi kepindahanku dari sini.”

 

Tangan Luhan seketika merosot dari bahu Jongin. Mata bening pria itu membesar dan mulutnya menganga, “hah? Pindah? WTF Jongin.”

“tolong sampaikan maafku pada Qian. Aku-“

 

Belum selesai Jongin berkata, suara sang ibu sudah memanggilnya. Ia menengok kebelakang lalu memberi kode bahwa ia akan menyusul sebentar lagi. Ketika ibunya sudah pergi kembali ke tempat parkir, Jongin memeluk Luhan dan meremas bahu sahabatnya itu.

 

“aku mencintai Qian. Sampaikan itu padanya. Maafkan aku. Maaf.”

 

Bahu Jongin bergetar hebat. Ia tergugu dipundak Luhan. Ia tak kuat lagi untuk tidak menangis. Luhan menepuk-nepuk punggung Jongin, meyakinkan pria itu bahwa semua akan baik-baik saja. Dan tentang Qian..

 

“Jongin-ah.. Qian juga mencintaimu. Amat sangat mencintaimu. Membuatku iri karena kau yang baru dua bulan disini sudah berhasil merebut hatinya dengan sangat mudah. Tapi ia takut kau meninggalkannya karena semua temanmu menyukai kedekatanmu dengan Tiffany.”

 

Jongin tersentak. Ia melepas pelukannya dan menatap Luhan gusar, “Tiffany?”

 

“hmm.. Qian tampaknya salah paham. Tapi biar kujelaskan nanti. Sekarang temui orang tuamu dan pergilah. Hati-hati dijalan. Jika kau masih mencintai Qian untuk beberapa tahun kedepan, kembalilah ke Beijing dan jemputlah Qian. “

 

“apa kau yakin Qian bersedia menungguku dalam jangka waktu yang lama bahkan aku sendiri tidak bisa menentukan?”

 

Luhan menepuk bahu Jongin dan tersenyum tegas, “aku. Sangat. Yakin. Jadi pergilah…”

“Xie Xie..Luhan. kau memang sahabat terbaik. Tidak salah Qian begitu mempercayaimu. Aku titip dia ya. Jaga dia untukku.”

 

“tentu.”

 

Dan Jongin pun berlari menuju Audi hitam yang sudah menunggunya dengan resah didepan pintu gerbang sekolah. Luhan tersenyum miris. Kenapa..mereka harus berpisah dalam keadaan yang sedang tidak baik?

 

Bagaimana Qian menerima ini semua?

 

Bagaimana jika ia trauma karena kehilangan utk yang kedua kali?

 

***

 

 ‘jongin sudah kembali ke korea’

 

Qian masih ingat saat Luhan menyampaikan hal itu tadi siang sepulang ia dari kegiatan Lomba di BalaiKota. Gadis itu sempat berontak dan tidak percaya. Tapi apa daya, karena Jongin pada kenyataannya memang sudah pergi.

 

Teganya kau meninggalkanku dalam keadaan seburuk ini,

Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu?

 

Korea mungkin sangatlah jauh, tapi bukankah sudah dari beberapa hari yang lalu ia bejauhan dengan Jongin? Lalu kenapa sekarang harus takut? Kenapa harus bersedih?

 

Kenapa..

 

“kau jahat, Kim Jongin”

“kau meninggalkanku seperti Jia,”

“kau tidak tahu kalau aku masih harus mengatakan banyak hal padamu,”

“kalau aku…”

“aku juga mencintaimu.”

 

***

 

aku minta maaf sekali lagi. Mungkin saat itu aku belum mengerti tentang perasaanku sendiri karena kau tahu, usia kita bahkan belum mencapai batas minimum untuk jatuh cinta. Tapi aku tetap mengakui persahabatan aku, kau, dan Luhan. Karena hanya itu yang aku tahu. Aku hanya mengerti sebatas itu. berteman. Tidak lebih. Tapi boleh kan jika aku cemburu saat seseorang merebut temanku? Saat orang lain lebih menyukai kalian bersama padahal sudah jelas kau lebih sering menghabiskan waktu bersama aku dan Luhan.

 

Apa mereka hanya menganggap kami berdua sebagai kurcaci? Apa kami sungguh tak pantas dipandang ketika berdampingan denganmu? Karena kau pangeran, begitu? Ketika kita saling berjauhan, aku baru sadar kalau aku kehilangan sahabatku. Bahkan Luhan juga sempat ikut menjauhiku. Pada tahap itu aku sudah benar-benar frustasi. Aku tak mungkin menyapamu lagi karena malu. Aku bukan siapa-siapamu. Walaupun pada akhirnya aku tahu perasaanmu yang sesungguhnya dari Luhan.

 

Untukku, aku tak perlu memilikimu meski aku sangat mencintaimu. Aku bersyukur karena tuhan menganugerahi kau sebagai cinta pertama ku. Terima kasih untuk itu. I Love You. Sekarang waktu masih tersisa banyak. Aku akan meneruskan penantianku untukmu. Berharap jika suatu saat kita dipertemukan lagi, kau tidak melupakanku seperti aku yang masih mengingatmu hingga hari ini, saat aku menorehkan kisah kita dalam sebuah cerita pendek.

 

1 tahun… 2 tahun… 3 tahun… 4 tahun… 5 tahun… 6 tahun… 7 tahun…

 

-Untuk Kim Jongin yang tidak pernah lekang oleh waktu-

 

 

END

 

***

Notes :

Annyeong Hasseo, readers^^

Maaf yaa kalau fanfic ini banyak kekurangannya hehe 😀

Tinggalkan jejak yaa readers.. Komen, saran maupun like ditunggu..

Kamsahamnida ^_^

 

 

Advertisements

64 responses to “Thousand Years

  1. Good ff tor ^^ aku bacanya serius bgt, sampe2 ibu aku nyuruh sesuatu aku abaikan sebentar hhaha good author ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s