Two Sides [part 3]

two-sides-cover

PREVIOUS: [prolog] [part 1] [part 2]

AUTHOR: Avyhehe

LEGTH: Series

GENRE: Supranatural/Fantasy/Mistery

RATED: PG-13

Characters: Xi Luhan (EXO), Oh Sehun (EXO) Wu Yi Fan/Kris (EXO)

others: Lay (EXO), Sulli f(x)

Disclaimer: Mine.

A/N: mian baru apdet, happy reading ^^

DON’T BE A SILENT READER, PLEASE

Saat kepakan sayap menggema,

dan pedang-pedang saling berbenturan,

hanya satu kata untuk menjelaskan semuanya,

“Perang telah dimulai”

 

avy present

~Two Sides~

Kurasakan kakiku menginjak sesuatu yang dingin

Kutundukkan kepalaku, mendapati jalanan beraspal di bawah kakiku

Kakiku tak mengenakan alas kaki, mungkin itu yang membuatnya terasa dingin

Tidak, rasa dingin itu juga menjalari sekujur tubuhku meski pakaianku lengkap

Bulu kudukku meremang, kupeluk tubuhku sendiri karena dingin itu

Sayup-sayup kudengar suara-suara,

Suara panik, ketakutan, dan putus asa

lalu dua kelebat bayangan muncul di kegelapan

Seorang pria dan wanita berlari ke arahku dengan raut panik

Si pria sangat tampan, sedangkan si wanita sangat cantik

Mereka berlari, berkeringat, dan melewatiku tanpa melirikku

Tubuh mereka bahkan… menembusku

Apa mereka tidak menyadari kehadiranku?

Sedaritadi mereka hanya memandang langit sembari berlari

Kudongakkan kepalaku, mengikuti arah pandang mereka

Dahiku mengernyit saat tak mendapati sesuatu yang aneh

yang kulihat hanyalah langit malam,

Bertabur bintang dan membentuk rasi-rasi

Tiba-tiba si wanita berteriak

Mata mereka membelalak lebar saat menatap langit

seakan ada sesuatu yang mengerikan keluar dari sana

Kudongakkan lagi kepalaku, namun tak mendapati apapun di atas sana

yang kudapati… hanyalah suara kepakan sayap

kepakan sayap yang terdengar seperti puluhan sayap burung

…atau mungkin ratusan?

Luhan melonjak bangun dari tidurnya dengan tubuh berkeringat. Dadanya sesak nafas, kepalanya berdenyut hebat. Dia jadi bingung sendiri, harus memegangi dadanya yang sesak atau kepalanya yang berdenyut. Namun karena rasa sakit di kepalanya lebih hebat dan membuat otaknya serasa terbelah menjadi dua, dia memutuskan memegangi kepalanya dan mengelus pelipisnya terlebih dahulu untuk meredam rasa sakit.

Sebuah palu godam tak kasat mata serasa menghantam tengkuk Luhan. Mulutnya terbuka lebar seakan ingin berteriak, namun suara itu terasa tercekat di tenggorokannya. Dia hanya bisa berteriak tanpa suara sambil merintih kesakitan.

Tiba-tiba tubuhnya menegang saat merasakan sensasi yang sama seperti di mimpinya.

Sensasi itu.

Sensasi berwujud hawa dingin yang menyapu pundaknya hingga menjalar ke tulang punggungnya punggungnya. Hawa dingin yang seperti tiupan angin, terasa lembut, tetapi entah kenapa membuatnya bergidik ngeri.

Damn it, umpat Luhan. Sudah tiga hari ini dia menderita sakit kepala dan mengalami mimpi yang sangat aneh. Anehnya lagi, mimpi aneh itu terus berulang-ulang setiap malamnya seperti kaset bioskop yang sudah rusak. Luhan menelan ludahnya untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokannya.

Bagus, sakit kepalanya sudah hilang, pikirnya saat denyutan di kepalanya berangsur hilang.

Pemuda berwajah aegyo itu bangkit perlahan dari kasurnya, menghampiri cermin setubuh yang berdiri tegak di sebelah kasur. Sambil mematut dirinya yang baru terbangun, pikirannya melayang kemana-mana. Sejak kepindahan Kris sunbae dia selalu didatangi mimpi-mimpi aneh itu dan sering sakit kepala.

Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya bahwa Kris tidak ada hubungannya sama sekali dengan hal itu. Tapi firasatnya mengatakan… ah, sudahlah.

Luhan menatap jam dinding berbentuk rusa yang menggantung di tembok kamarnya. Masih pukul 4 pagi. Dengan langkah diseret dia berjalan memasuki kamar mandi kamarnya, setelah sebelumnya menyambar handuk di atas gantungan.

Dia benar-benar butuh mandi. Mungkin air dingin yang terpancar dari shower bisa mendinginkan pikirannya.

Sebuah tangan terulur ke sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan ‘Wu Yi Fan’ yang terpampang di permukaannya dan mengetuknya beberapa kali.

Krieettt…

Pintu pun terbuka, menampakkan Kris dengan rambut acak-acakan dan ekspresi mengantuk di baliknya. Sepertinya pemuda berambut pirang itu baru saja terbangun dari tidurnya. Wajar saja, sekarang masih pukul lima dini hari. Kris mengerajap-ngerjapkan pandangan matanya yang masih terasa blur, mengulet badannya sebentar. Saat pandangannya kembali normal, seketika raut wajahnya berubah kaget bercampur senang saat melihat sosok yang berdiri di depannya.

“Lay Hyung…!” seru Kris saat melihat orang itu. Orang bernama Lay itu tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Kris.

“Kau masih memakai nama China-mu, Kris?” Lay melirik papan nama yang tertempel di depan pintu dan mengetuk-ngetuknya. “Sepertinya kau harus menggantinya dengan nama Korea, karena sekarang kita tinggal di negara ini.”

Kris hanya menggaruk tengkuknya dan meringis saat mendengar komentar hyungnya. “Ani, aku belum memikirkan hal itu. Aku masih nyaman dengan nama Wu Yi Fan.”

“Oh, ya sudah kalau begitu. Aku juga masih menyukai nama Zhang Yixing-ku, terdengar keren.” Lay melewati tubuh Kris yang berada di ambang pintu dan langsung menyelonong masuk ke dalam apartemen dongsaengnya. Matanya menyapu seluruh sudut apartemen minimalis itu. Di tengah ruangan dia bisa melihat sebuah piano klasik hitam mengkilat yang berdiri kokoh di atas karpet warna krem.

“Hmm… not bad…” komentarnya dengan aksen inggris yang bagus.

Kris menutup pintu depan dan berjalan ke arah dapur, menyiapkan sarapan untuknya dan hyung-nya. Lay masih sibuk menelusuri isi apartement. Semua sudut ruangan dijelajahinya seperti polisi yang sedang inspeksi narkoba.  Mulai ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi, kamar tidur, bahkan isi lemari Kris.

“Yah!! itu privasi!” Kris mengacungkan spatula yang digunakannya menggoreng telur ke arah Lay yang mulai menggerayangi isi lemarinya. Lay tertawa dan segera menutup lemari itu. “Mianhae, mianhae.” Kris mendecak pelan.

“Bagaimana Kris? ada perkembangan darinya?” tanya Lay yang kini berjalan menuju ruang makan, mengubah topik pembicaraan.

“Mungkin. Aku merasakan aroma dan auranya semakin pekat.” jawab Kris tanpa menatap lawan bicaranya, masih sibuk dengan telur di teflonnya.

“Aroma, hm? baik atau buruk?” Lay menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursi.

Kris mematikan kompor setelah telurnya matang sempurna. “Baik, kukira. Aku tak mencium aroma buruk.”

“Tapi kita harus tetap waspada, Kris. Dan kau harus mulai menjelaskan semuanya ke anak itu, lalu melatihnya.” Lay membolak-balik majalah musik yang tergeletak di meja makan, sedikit mengangkat wajahnya agar bisa melihat Kris.

“Waktu kita tidak banyak…” dia mendesah. “Perang sudah dimulai.”

“Aku tahu hyung. Aku bukan anak kecil lagi.” Kris mendengus dan meletakkan piring berisi dua telor mata sapi ke meja makan. Hening menyelimuti mereka. Namun tidak lama, karena seketika mata mereka membelalak lebar dan kedua orang itu bangkit dari kursi mereka secara serempak.

“Kau menciumnya?” tanya Lay pada Kris yang kini memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam, memenuhi rongga dadanya.

“Ya, asalnya persis di sebelah apartemen ini!”

Setelah mengatakan itu, Kris bergegas membuka pintu depan dan berlari keluar apartemen, diikuti Lay yang berlari di menyusul di belakangnya setelah sebelumnya menjatuhkan majalah yang dipegangnya ke lantai.

1 hour before

“Hai, Choi Sulli. Lama tidak bertemu,”

“Apa maumu, Victoria?”

“Mauku? hmm… tidak ada. Hanya sekedar memberimu info, kemarin aku diterima sebagai model di agency XXX…”

“Lalu? apa hubungannya denganku?!”

“Tidak ada, hanya ingin membuktikan kualitasmu memang jelek. Masih ingat kan, setahun yang lalu kau mendaftar di sana tapi tidak diterima, hahaha…”

“Jangan bermulut besar hanya karena diterima di agency itu, Vic! lihat saja, aku pasti mengalahkanmu!”

“Oh, coba saja kalau bisa, hahahaa…”

Piiiip.

Sulli memutus sambungan dengan kesal. Dia melempar ponsel flip nya ke atas tempat tidur lalu menghempaskan dirinya sendiri di sebelah ponselnya. Sial, Victoria selalu saja bermulut besar. Mereka berdua memang rival sejak di bangku SMP, bahkan sekarang mereka satu sekolah lagi saat SMA.

Tiba-tiba layar ponsel Sulli berkedip dan menampilkan sebuah tulisan.

‘You got 1 new message’

Sulli mendesah, meraih ponsel kuningnya dan membuka SMS itu.

From: si busuk

Bagaimana? apa kau masih berfikir bisa mengalahkanku dalam segala hal? gadis miskin sepertimu harusnya sadar diri, kau tak pantas bersaing denganku!

-Victoria-

“CIH!” emosinya kali ini tak terbendung lagi. Sulli membanting ponselnya ke lantai  dengan kasar. Dadanya naik turun, nafasnya memburu dan matanya mulai berkaca-kaca. Dia mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Berusaha menahan tangis yang memaksa keluar dan menenangkan dirinya sendiri.

Setelah merasa sedikit tenang, gadis berambut hitam panjang itu hanya terdiam di kamarnya yang sepi. Dia melirik jam weker di atas meja kecil di sebelah kasurnya. Pukul empat pagi. Masih 4 jam lagi sebelum sekolah dimulai, Namun dia benar-benar tidak berminat untuk berangkat ke sekolah,  meski berangkat bersama Kris sunbae dan Luhan sekalipun.

Sulli bangkit dan berjalan keluar kamar. Matanya menerawang ke seluruh bagian apartemennya yang sederhana. Sepi.

Gadis itu mendesah. Eomma-nya belum pulang dari kemarin siang. Wanita itu memang meneleponnya dan memberitahu jika hari ini dia akan pulang terlambat karena kerja lembur, tapi kerja lembur sampai pagi bukanlah hal yang wajar. Sulli tahu, semua ini dilakukan eomma demi kelangsungan hidupnya karena 5 tahun yang lalu appa-nya meninggal karena diabetes, saat dirinya masih duduk di bangku SD. Hal itu membuat eomma-nya harus bekerja membanting pulang dan sering pulang malam. Namun meski sudah berusaha membanting tulang, terkadang kebutuhan mereka belum sepenuhnya tercukupi.

Bagaimanapun juga Sulli masih bersyukur, karena setidaknya dia masih bisa bersekolah dengan normal seperti anak-anak seusianya. Dan dia juga bersyukur memiliki tetangga yang bernama Xi Luhan, yang selalu men-supportnya ketika dia berada di titik terendah kehidupannya.

Sulli menghampiri ruang tamu dan melirik foto seorang gadis tertempel di dinding ruangan. Foto itu digunakan sebagai target permainan dart olehnya, sehingga foto itu berlubang di sana-sini dengan panah berukuran kecil yang tertancap di beberapa bagiannya.

Dia menggeram ketika menatap foto itu. Foto itu adalah foto Victoria, gadis kaya menyebalkan yang merupakan musuh abadinya hingga saat ini. Merasa muak, Sulli menghampiri foto itu dan merobeknya dari dinding, kemudian merobek-robeknya lagi hingga foto itu tak berbentuk dan membuangnya begitu saja ke tempat sampah di sebelahnya.

Masih dipenuhi emosi, Sulli menghampiri sebuah Personal Computer di sudut ruangan dan duduk di hadapannya. Dia menyalakan komputer itu dan membuka browser, kemudian mengetikkan sebuah alamat di kolom url-nya. Setelah menunggu beberapa saat, sebuah situs bernuansa suram dengan background berwarna hitam tertera di layar.

Sulli mengetikkan sesuatu pada kolom chatting di situs tersebut.

‘Choi Sulli, 17 y.o. Aku butuh pertolonganmu. Balaskan dendamku pada seorang gadis yang bernama Song Qian.’

Sulli mendesah puas setelah mengetikkan rentetan kalimat itu. Ya, Song Qian adalah nama asli Victoria. Dia lalu menekan tombol Enter dan mengirim pesan singkatnya.

Setelah mengirim pesan, tiba-tiba koneksi PC nya mati. Sulli terkejut dan menyalakan ulang modemnya lalu me-refresh situs itu lagi. Setelah beberapa saat menunggu, alangkah terkejutnya saat mendapati situs itu telah menghilang, digantikan dengan tulisan “Website not Found”.

Blak!!

Angin kencang berhembus dari luar apartemen, membuat jendela apartemen Sulli menjeblak terbuka dan mengibarkan tirai yang membingkainya. Bersamaan dengan terbukanya jendela, lampu-lampu di seluruh ruangan langsung padam dan menyisakan pemandangan gelap gulita di apartemen itu. Sulli beringsut mundur dan menggigiti bibir bawahnya. Dia memeluk tubuhnya sendiri sambil gemetar ketakutan.

Sekelebat bayangan berwarna hitam melompat masuk lewat jendela Sulli yang terbuka lebar. Bayangan yang tidak jelas milik siapa karena membelakangi cahaya bulan yang merupakan satu-satunya penerangan di dalam apartemen. Namun dilihat dari bentuknya, sudah pasti bayangan itu adalah milik manusia.

Bayangan itu bergerak maju ke arah gadis di hadapannya. Angin kencang yang tidak wajar terus merasuk melalui jendela di belakangnya yang terbuka lebar. Sulli merasakan jantungnya berdegup kencang dan dia memejamkan matanya takut saat jaraknya dengan bayangan itu semakin menipis.

“Kau memanggilku?”

Sebuah bisikan berat tertangkap oleh telinga Sulli. Bisikan yang mengerikan, dingin, dan terasa seperti desiran angin.

Gadis itu berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya. Setelah merasa agak tenang, dia membuka kelopak matanya dan mendapati sesosok lelaki bertelanjang dada yang berdiri menjulang di hadapannya.

543716_233460500125050_555954795_n

“Kulangi lagi, kau memanggilku?” ucapnya. Sudut bibirnya ditarik, membentuk sebuah seringai di wajahnya.

Sulli masih tidak merespon, kepalanya menunduk dalam-dalam. Gadis itu terlalu takut untuk menatap sosok di hadapannya.

Lelaki itu mengulurkan tangannya dan memegang dagu Sulli dengan tangannya yang dingin. Dia mengangkat kepala gadis itu perlahan, membuat mereka bertatap muka.

“Choi Sulli, 1.7. yo, ingin membalas dendam pada Song Qian,”

Sulli membelalak. Bagaimana dia bisa tahu apa yang ditulisnya di situs itu?

Apakah dia… orang yang akan membantunya membalas dendam?

“Ya.” Lelaki itu mengangguk, menjawab pertanyaan di benak Sulli. Kedua tangannya lalu beralih ke atas pundak gadis di hadapannya. Dia memejamkan mata sejenak, dan ketika dia membukanya kembali, dalam sekejap sebuah lingkaran api menyembur dari lantai mengelilingi mereka berdua.

Sulli mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya mendapati dirinya kini dikelilingi oleh lidah-lidah api. Lelaki di hadapannya menyeringai kembali, lalu memegang puncak kepala Sulli dengan tangan kanannya.

Dormeo.” bisiknya pelan, detik kemudian mata Sulli terasa berat dan gadis itu jatuh tertidur di atas lantai.

“Choi Sulli! buka pintunya!”

“Choi Sulli!”

BRAKK! pintu apartemen Sulli didobrak dari luar, menampakkan dua sosok lelaki yang tengah mengatur nafasnya. Mereka berdua kaget saat mendapati bagian dalam apartemen yang gelap gulita dengan sebuah jendela yang terbuka lebar dan tirai yang berkibar tertiup angin.

“Sial!” salah satu lelaki yang berambut pirang melangkah memasuki pintu dan mengitari seluruh bagian apartemen, seperti mencari sesuatu.

“Bagaimana, Kris?” tanya lelaki yang satunya, masih berdiri di ambang pintu.

Kris mendecak, menyandarkan punggungnya di tembok ruang tamu dan mengacak rambutnya frustasi. “Kita terlambat…” desisnya pelan.

Lelaki yang berdiri di ambang pintu itu beranjak dari tempatnya dan menepuk-nepuk pundak Kris. “Mungkin masih ada sesuatu yang bisa dijadikan bukti.” pandangannya tertuju pada sebuah PC di sudut ruangan dengan kursi yang diletakkan sembarangan di hadapannya, menandakan PC itu baru saja di pakai.

Kris menunjuk layar PC yang sudah mati.

“Lay hyung, ada sesuatu di PC itu.”

Lay memanggut dan menyalakan tombol power, namun PC itu tidak mau menyala.

“Hyung bodoh! sepertinya listrik apartement ini padam.” Kris menghampiri saklar listrik di sudut ruangan dan menarik tuasnya. Seketika lampu-lampu di apartemen itu menyala terang, dan keadaan yang tiba-tiba silau itu tidak mempengaruhi kedua orang di dalam ruangan yang disinarinya.

“Website lagi, huh?” ucap Lay setelah komputer di hadapannya menyala dan kini dia menatap serentetan history yang ditampilkan oleh browser. Kris menghampiri Lay dan berdiri di sebelahnya, matanya menatap lurus pada alamat situs yang baru dibuka oleh Sulli.

‘lustandrevenge.com’

“Kurasa aku tahu siapa pelakunya.” kata Kris yang lebih terdengar seperti desisan. “Aku juga harus secepatnya mencari Choi Sulli, tapi sebelumnya…” dia melirik jam dinding di apartemen itu. “… aku harus bersiap-siap sekolah,” desahnya dan segera berjalan keluar dari apartemen Sulli.

“Dasar murid teladan.” Lay mendecak dan mengikuti langkah Kris yang berjalan kembali ke apartemennya.

KRIIINGGGG

bel pergantian pelajaran berbunyi nyaring di seantero sekolah. Luhan melirik manusia di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Sehun.

“Isshh… dia masih tetap melamun…” desisnya saat mendapati tatapan mata Sehun yang kosong dan lurus ke papan tulis di depan kelas.

Seolah mendapat ide, Luhan merogoh kotak pensilnya dan mengeluarkan sebuah benda. Dia lalu tersenyum jahil dan menancapkan benda itu di punggung tangan Sehun.

“YAA!!!” reflek Sehun berteriak keras saat ada benda berujung tajam yang menancap di tangannya. Dia melempar lirikan tajam pada seseorang yang sekarang sedang senyum-senyum tidak jelas di sebelahnya. Sehun menjitak kepala orang itu dengan gemas.

“Ahhh…!” Luhan mengerang saat jitakan keras mampir di kepalanya. Tunggu, kenapa jitakan Sehun terasa seperti sengatan listrik?

“Sakit tahu!” omelnya sambil memegangi kepalanya yang masih terasa seperti tersengat arus listrik.

Sehun mendelik ke arahnya, “Begitu saja sudah mengomel!” dia lalu menunjuk punggung tangannya yang menampakkan sebuah lubang kecil di permukaannya karena ulah Luhan. “Lihat ini, bekas pensil mekanik yang kau tusukkan ke tanganku!” protesnya, tapi Luhan malah tertawa keras. Hal itu membuat Sehun bersiap melayangkan jitakannya lagi ke teman sebangkunya.

Tawa Luhan seketika berhenti, saat perhatiannya tersita oleh buku bersampul coklat yang terlihat mencuat dari kolong meja Sehun. Dia lalu mengambil buku yang nampak berumur itu dan terpesona saat melihat gambar di sampulnya.

ad

“Whoaaa…!” Luhan mendelik takjub saat menyadari gambar di sampul buku tersebut adalah dua orang bersayap yang tengah berkelahi. Dia melirik judul buku dengan font berukuran besar di bagian atas yang bertuliskan;

“THE MYTH OF ANGEL AND DEMON”

“Kemarikan!” Sehun merebut buku itu dengan kasar. Luhan yang belum puas mengagumi buku itu berusaha melindunginya dari rebutan Seehun, hingga terjadi adegan tarik-menarik di antara mereka. “Hentikan! kau bisa merusak buku ini!” teriakan Sehun yang persis di depan mukanya membuat Luhan menghentikan usahanya untuk mempertahankan buku itu. Agak tidak rela, dia membiarkan Sehun mengambil bukunya kembali.

Luhan mendecak, menggembungkan kedua pipinya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, membuat Sehun memutar matanya. Dia pikir membuat muka aegyo seperti itu bisa membuatku luluh? pikir Sehun sebal. Setelah agak tenang, Sehun meletakkan buku itu di atas mejanya dengan tangan pucatnya. Luhan  meliriknya.

“Bukumu?” tanyanya menyelidik.

“Hmm, ya. Memang kenapa?” Sehun balik bertanya.

Luhan membelalakkan matanya. “Sejak kapan kau berniat mengoleksi buku seperti itu? biasanya kau lebih suka buku berbau pembunuhan dengan adegan pembantaian sadis di dalamnya!”

“Sejak kapan?” tanya Sehun balik dengan nada sarkastis, lebih ditujukan ke dirinya sendiri. “Sejak, yah, seorang pengantar paket mengantarnya ke rumahku tadi pagi.” dia melirik buku itu dengan malas. “Aku bahkan tidak tahu siapa pengirimnya.”

“Aigooo…” Luhan mendecak pelan, dia lalu meraih buku itu dan kali ini Sehun membiarkannya. “Kau sudah membaca buku ini? apa isinya?” tanyanya dengan nada iri. Dalam hatinya Luhan merutuk, kenapa malah Sehun yang mendapat buku menarik itu? kenapa bukan dirinya yang jelas-jelas menyukai buku bertema seperti itu.

Sehun menggeleng malas. “Belum, kau tahu kan aku tidak suka membaca buku seperti itu. Melihat sampulnya saja sudah membuatku muak. Lihat itu, masa pria yang berada di bawah berkelahi dengan pria diatasnya dengan tubuh telanjang.” katanya datar sambil menunjuk pria bersayap hitam di bagian bawah sampul.

Luhan tertawa keras hingga matanya hanya berbentuk seperti garis. Dia lalu membalik halaman pertama dan membacanya lekat-lekat, tidak menggubris Sehun yang menatapnya dengan tatapan muak.

.

page ii

PROLOGUE

Malaikat dan iblis, dua pihak yang saling bertarung demi kekuasaan mereka di langit.

Iblis adalah malaikat yang jatuh, mereka dibuang oleh Tuhan setelah mengingkari perintahNya untuk mengakui kehebatan manusia. Karena kesombongannya mereka dibuang dari langit ke dasar bumi yang begitu hina.

Iblis berusaha merebut kembali kekuasaan mereka di langit, namun para malaikat yang patuh berusaha mempertahankan singgasana langit dari serangan para iblis. Begitulah awal cerita dimulai, dimana pertempuran iblis dan malaikat tidak pernah berujung hingga kini.

Nobile, adalah jenis malaikat tertua yang mendiami langit, bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan langit itu sendiri dari gangguan luar; yaitu iblis itu sendiri. Sedangkan Expert dan Amateur memiliki tingkatan lebih rendah dari Nobile, ditugaskan langsung di bumi untuk menjaga umat manusia dari gangguan iblis yang menodai hati mereka.

Expert dan Amateur hidup membaur dengan manusia, bahkan ketika mereka lahir wujud mereka adalah manusia. Saat mencapai  kematangan umur, barulah tanda-tanda kemalaikatan mereka akan muncul, mulai dari sebuah simbol yang terukir di pundak kanan mereka hingga sepasang sayap putih bersinar yang tumbuh di punggung.

Iblis, di satu sisi, juga memiliki pembagian yang sama seperti malaikat. Iblis paling kuno bernama Nobile, paling jahat, paling gelap, dan paling kuat. Mereka mendiami perut bumi setelah ditendang dari surga, dan terus mempersiapkan pasukan untuk menyerang langit, manusia, beserta para malaikat-Nya.

Expert adalah iblis senior, dan sama seperti Expert di kalangan malaikat, mereka hidup berbaur dengan manusia. Sedangkan Amateur adalah jenis iblis yang kekuatannya baru bangkit, paling lemah dan paling rendah tingkatannya dari seluruh tingkatan iblis.

Bret!! Sehun merebut buku itu dari tangan Luhan tepat ketika dia hendak membalik halaman berikutnya.

“Sudah cukup! aku sudah muak dengan hal-hal yang bersangkutan dengan iblis dan malaikat ini!”

“Tapi itu kan hanya mitos.” komentar Luhan, membuat Sehun membelalak ke arahnya. Mitos? ya, mitos. Awalnya memang kupikir begitu, tapi apa kau tahu? sekarang aku menjadi salah satu dari mereka! batin Sehun sinis. Dia memasukkan buku itu secara asal-asalan ke dalam tas hitamnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara langkah kaki berat memasuki kelas. Ternyata itu adalah Won seonsaengnim.

“Buka buku paket kalian, halaman 117.” perintahnya setelah menghenyakkan dirinya di kursi guru. “Dan… Xi Luhan, bisakah kau mengerjakan 10 soal di halaman ini di depan kelas?” pintanya sambil tersenyum ke arah Luhan. Luhan memang siswa teladan dan paling pintar di kelasnya, membuat Won seonsaengnim menyayanginya dan selalu menyuruhnya mengerjakan soal yang susah. Berbeda sekali dengan Sehun yang selalu saja membuat ulah saat pelajaran berlangsung.

“Nde, seonsaeng!!” Luhan menempelkan tangan kanannya di depan dahi, membentuk pose hormat. Sehun mendecak saat tubuh temannya itu mulai beranjak ke depan kelas.

Victoria berlari ketakutan tak tentu arah di sebuah gedung besar yang merupakan agency barunya. Hari itu masih siang dan cahaya di dalam gedung terang benderang, namun gadis itu terus berlari gila-gilaan seperti sedang dikejar hantu.

Kepalanya berkali-kali menoleh ke belakang, seolah ada sesuatu yang mengerikan yang mengejarnya, dan dia bernafas lega saat tak mendapati seorang pun di belakang tubuhnya selain model-model lain dan para staf yang berkeliaran di dalam kantor itu.

Victoria mulai memelankan kecepatan larinya. Gadis itu lalu menyeruak dan menyusup ke segerombolan orang di hadapannya, berusaha mengenyahkan ketakutannya di antara keramaian itu.

“Percuma ke tempat yang ramai. Orang-orang itu tak akan bisa menolongmu.”

ternyata bisikan asing itu kembali berdesir di telinganya, membuat kedua kaki Victoria gemetar ketakutan. Cairan bening mulai mengambang di pelupuk matanya, dan mengaliri pipi wajahnya yang mulus.

Tidak, dia tidak boleh menangis, dia harus lari!

Gadis itu mempercepat langkahnya dengan tenaganya yang masih tersisa, sementara bisikan-bisikan yang tak tampak wujud pembisiknya itu terus menghantui pendengarannya. Dia berlari menabrak-nabrak orang lain di sepanjang jalurnya, membuat beberapa orang mengumpatnya namun umpatan-umpatan kasar itu tidak bisa mengalahkan suara bisikan misterius yang terus berdenging di telinganya.

Victoria membelok ke sebuah ruangan bercat putih dengan bilik-bilik yang berderet di salah satu sisinya dan cermin-cermin lebar yang menggantung di sisi lainnya. Sial! kenapa disaat seperti ini dia malah kabur ke dalam toilet? seharusnya dia menghambur ke luar gedung saja dan berlari ke pos polisi terdekat, atau rumah sakit jiwa. Nisikan-bisikan halus itu benar-benar membuatnya sakit kepala.

Tiba-tiba Victoria memekik keras saat segumpal asap hitam muncul di hadapannya. Asap itu perlahan memadat dan lama-lama membentuk sebuah tubuh manusia yang kini berdiri di hadapannya dengan tubuh bertelanjang dada.

“Yo, Song Qian.” sapa sosok itu dengan seringai khasnya. Dia mendekati Victori yang berjalan mundur dan mengangkat dagu gadis itu.

“Bersiaplah untuk menderita.”

Sehun berjalan menyusuri kegelapan malam menuju rumahnya dengan langkah diseret. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya yang terasa kaku dan nyeri disana-sini. Sepulang sekolah tadi, dia tidak langsung pulang dan malah terlibat perkelahian dengan siswa sekolah lain di belakang sekolahnya. Luhan sudah pulang duluan sejak tadi, karena anak itu bilang dia harus segera pergi ke toko buku untuk mencari buku pelajaran yang dibutuhkannya. Untung saja Luhan pulang duluan, kalau tidak, anak cerewet itu pasti sudah mengomelinya panjang lebar karena dia masih meladeni anak-anak berandalan itu untuk berkelahi. Tapi mau bagaimana lagi, Sehun termasuk orang yang gampang tersulut emosinya.

Lensa mata Sehun menangkap sesuatu yang bergerak-gerak di sebuah gang kecil yang biasa dilaluinya saat pulang sekolah. Matanya menyipit, berusaha melihat sosok yang bergerak-gerak itu di tengah keremangan malam. Sosok itu sedang duduk bersimpuh, dan ternyata sosok itu tidak sendirian. Di depan tubuhnya yang kini bersimpuh memunggungi tubuh Sehun, terdapat sosok lain yang sedang berbaring telentang dengan tubuh yang sama sekali tidak bergerak. Sehun berjengit mendapati pemandangan itu. Apa orang yang terbaring itu sudah mati, dan sosok yang bersimpuh di hadapannya itu adalah temannya yang sedang meratapi kematiannya? pikiran Sehun berkecamuk karena berusaha menebak-nebak pemandangan dihadapannya.

Dengan segenap keberanian, Sehun menghampiri kedua sosok itu. Saat jarak mereka semakin dekat, Sehun mendesah karena ternyata sosok yang bersimpuh itu adalah seorang wanita, terlihat jelas dari rambut hitam panjang yang tergerai sampai ke punggungnya.

Sehun menepuk pundak wanita itu dari belakang. “Hey, apa kau menangis?” tanyanya penasaran. “Tidak apa-apa, nanti kita bawa temanmu itu ke rumah sakit.” katanya mencoba menenangkan.

Wanita itu menolah, dan alangkah terkejutnya Sehun saat ternyata wanita itu adalah tetangga Luhan yang bernama Choi Sulli, dan yang membuat rasa terkejutnya itu semakin parah adalah saat mendapati cairan darah yang melumuri mulut gadis itu, juga sebuah bola mata manusia yang tengah dikunyahnya.

Sehun ingin berteriak, namun tidak bisa karena kerongkongannya serasa tercekat. Perlahan dia melirik sosok yang terbaring di hadapan Sulli, yang ternyata adalah seorang pria berlumuran darah dengan mata kiri yang sudah hilang dari bingkainya. Sehun menatap Sulli ngeri, penuh tanda tanya, dan gadis itu hanya melempar senyum mengerikan ke arahnya dengan mata yang berwarna merah menyala.

Tunggu, merah menyala?

Kenapa hal itu mengingatkannya pada Yoochun?

Ingatannya kembali berkelebat ketika dia tengah berbincang-bincang dengan Amber, di sebuah gedung tinggi tempatnya pertama kali belajar terbang beberapa hari yang lalu.

“Umm…, Memangnya makanan jenis apa yang dibutuhkan oleh Ex-Human?” tanyanya penasaran pada wanita berpenampilan maskulin itu.

“Daging manusia.” jawab Amber.

.

Sehun mengusap-usap wajahnya depresi.

Jangan bilang, apa yang dikatakan Amber benar adanya. Jangan bilang, makhluk bernama Ex-Human benar-benar ada. Dan… jangan bilang, jika Choi Sulli, gadis yang sekarang berada di hadapannya adalah… makhluk itu?

Sehun menahan gejolak di perutnya saat Sulli kembali memakan ‘mangsa’ di hadapannya, dan tidak menggubrisnya sama sekali. Mungkin gadis itu tahu Sehun adalah seorang iblis dan dia merasa tidak perlu repot untuk menyerang pemuda di belakangnya, yang kini tengah mati-matian menahan mual,–karena mereka makhluk yang hampir sejenis, tentu saja.

wussshhh…

Tiba-tiba bau yang menyebalkan itu kembali tercium oleh hidung Sehun, seiring dengan desiran angin malam yang berhembus ke arahnya. Detik itu juga, dia menyesal karena belum menanyakan pada appanya sama sekali tentang bau yang terkadang sering mengganggunya itu.

Bau itu tercium makin kuat dan saat Sehun mengerjapkan matanya, sesosok manusia yang diselimuti cahaya putih berpendar sudah berdiridi hadapannya dan menatap lurus ke arah Sulli. Aura putih yang dipancarkan manusia itu sangatlah kontras dengan aura hitam miliknya, juga aura hitam yang dimiliki gadis bernama Sulli itu.

Oh my god.

Sehun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, karena ternyata sosok di hadapannya itu adalah… Kris?

Tanpa melirik sedikitpun pada Sehun di belakangnya yang menatapnya heran, Kris merentangkan kedua tangannya. Cahaya putih yang menyilaukan kembali memancar di punggungnya disusul munculnya sepasang sayap putih yang sangat lebar dengan bulu-bulu halus yang melapisinya. Sehun menganga. Sayap hitamnya yang kecil jadi tampak menyedihkan jika dibandingkan dengan sayap berukuran besar itu. Kris lalu mengepak-ngepakkan sayapnya dan membuat tubuhnya melayang beberapa inchi dari permukaan tanah.

“A–” Sehun baru saja ingin mengeluarkan suaranya ketika dilihatnya Sulli menoleh kebelakang dan menatap tajam ke arah Kris. Mungkin gadis itu merasa acara makannya terganggu. Dia lalu menggeram keras dengan mata merahnya yang semakin berkilat terang.

“GRRRRRR….” dengan geraman yang panjang, Sulli bangkit dari posisi bersimpuhnya dan berlari menerjang Kris yang berdiri tidak jauh darinya. Sulli merentangkan tangannya dan kuku-kuku tajam berwarna hitam yang sangat panjang mencuat keluar dari ujung-ujung jarinya.

Kris mengangkat tangan kanannya ke samping, menampakkan gelang berwarna perak yang melingkari pergelangannya dengan bandul putih mungil yang menggantung di gelang itu. Bandul mungil itu berayun-ayun tertiup angin, memancarkan sinar, dan sedetik kemudian Sehun bisa melihat bandul itu berubah menjadi sebuah pedang perak yang berpendar di tengah kegelapan malam–, jika matanya tidak mengkhianatinya. Kontan saja Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali saat melihat transformasi gelang itu.

Kris mengeratkan eratannya pada pedang peraknya saat jarak dirinya dengan Sulli semakin menipis. Sehun nyaris tidak melihat pergerakan gadis itu karena Sulli berlari menerjang ke arah mereka dengan kecepatan yang nyaris menyamai kecepatan angin.

Kris tetap berdiri dengan tenang. Dia memejamkan matanya sejenak, membukanya lagi, lalu menyabetkan pedangnya dengan cepat ke arah kanan saat sekelebat bayangan hitam muncul di sisinya.

“Aaaarghhhh…” ayunan pedang miliknya menebas tubuh Sulli tepat di bagian pinggang, saat gadis itu hendak menyabetkan kuku-kuku tajamnya dari sisi kanan tubuh Kris. Tebasan yang dalam dan cepat itu mampu membuat tubuh Sulli terbelah menjadi dua. Darah segar terciprat dari bekas tebasan itu, namun sebelum bagian tubuh yang terpotong menjadi dua itu jatuh menyentuh tanah, segalanya langsung berubah menjadi debu yang kemudian menghilang diterbangkan angin. Tubuh terpotong Choi Sulli benar-benar menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Pedang perak di tangan Kris kembali memancarkan cahaya dan berubah kembali menjadi bandul kecil yang tergantung manis di gelang peraknya. Kris lalu menatap lurus ke arah Sehun yang berada di belakangnya. Dia berjalan mendekatinya, membuat Sehun beringsut mundur hingga secara tidak sengaja kakinya tersandung sesuatu dan dia jatuh terjerembab di atas aspal.

Sehun menatap Kris dengan raut wajah yang tak terdefinisi. Rasa takut, bingung dan benci bercampur menjadi satu. Habis sudah, pikirnya saat Kris semakin mendekat ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mengucur di dahinya. Sehun memejamkan matanya rapat-rapat.

“Kau bisa berdiri?”

Suara berat Kris mampu membuat Sehun membuka matanya kembali. Dia melihat sebuah tangan terulur ke arahnya, yang tak lain adalah tangan Kris sendiri. Namun dia hanya menatap uluran tangan itu tanpa bereaksi sedikitpun, pikirannya kosong dan dipenuhi tanda tanya.

“Sepertinya kau masih syok dengan kejadian tadi.” ucap Kris saat melihat reaksi Sehun. “Biasakanlah dirimu, Oh Sehun. Karena inilah ‘dunia’ kita.”

Pemuda itu mendesah saat mendapati Sehun tetap tidak bergeming. “Oh ayolah, aku tak bermaksud membunuhmu.” dia semakin mendekatkan uluran tangannya pada Sehun, membuat Sehun menyerah, dan menyambut uluran tangannya. Setelah berdiri dengan sempurna, Sehun membungkuk dan membersihkan debu yang menempel di bajunya.

Hening melingkupi kedua orang yang berdiri berhadapan itu.

“Kris,” panggil Sehun tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Dia menatap mata Kris dalam-dalam.

Kris mengangkat satu alisnya. “Wae?” tanyanya.

“Sebenarnya… kau ini… ” kerongkongan Sehun terasa tercekat saat mengatakan hal itu. “…apa?” lanjutnya dengan suara yang sangat lirih.

“Seperti yang kau lihat, aku malaikat.” Kris meregangkan kembali sayapnya, kemudian menjejakkan kakinya di permukaan tanah dan melayang tinggi di atas Sehun. “Kau belum membaca buku yang kuberi?” tanyanya pada Sehun yang kini berada di bawahnya.

“Bacalah buku itu, Oh Sehun, dan teruslah berlatih dengan appa-mu. Kau memang iblis, tapi suatu saat kau akan diberi dua pilihan…”

“… menjauhi Luhan, atau menolongnya.”

Setelah mengatakan itu, Kris mengepak-ngepakkan sayapnya dan menghilang ditelan kegelapan malam.

Sehun menelan ludahnya sepeninggal Kris, berusaha mencerna kata-katanya yang terdengar seperti teka-teki olehnya. Dua pilihan?

Tidak, tunggu. Tadi Kris bilang di adalah orang yang memberinya buku aneh itu. Dia tidak salah dengar, kan? Untuk apa Kris memberinya benda seperti itu?

Pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya pusing kembali mampir di benak Sehun.

Pertanyaan pertama,

Kenapa Kris menyebut-nyebut nama Luhan?

dan yang kedua,

Kenapa perlakuan dari Kris itu terlihat seperti menolongnya?

Sebenarnya dia berada di pihak yang mana?

“Aku tahu kau mengikutiku.” Kris membuka mulutnya saat kini dia menjejakkan kakinya di hamparan rumput yang luas. “Keluarlah…” ucapnya yang terdengar seperti perintah pada sesuatu yang berada di belakangnya.

Sesosok manusia melangkah dari balik pohon yang rimbun, berjalan menghampiri tubuh Kris dan berdiri tepat di belakangnya.

“Jadi kau orang yang bernama Kris itu, huh. Seorang Nobile?” kata sosok itu sambil  tertawa meremehkan. “Kau membuatku kecewa, Kris. Karena kau tidak terlihat hebat seperti yang dibicarakan…”

Kris berbalik dan menatap lurus pada lawan bicaranya. “Mau mencobanya?” ucapnya tanpa ekpresi.

Sosok dengan tubuh bertelanjang dada di hadapannya itu menyeringai. Dia mengangkat telapak tangan kanannya. Sedetik kemudian, sebuah bola api kecil yang berpendar muncul di atas telapak tangannya.

“Boleh.” katanya singkat.

______________

To be Continued

______________

Part ini lebih panjang dari biasanya, sbg permintaan maaf soalnya lama banget ga saya apdet hahaha *ktawa garing*

eniwey, bentuk gelang berbandulnya si Kristina kira2 kyk gini:

il_340x270.416681649_326v

/abaikan/

cukup sekian dan jangan lupa komen ya demi kelangsungan FF geje ini, hahaha :mrgreen:

Advertisements

38 responses to “Two Sides [part 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s