Something You Don’t Understand [Part 4]

Luhan-crop

[A Fanfict From A Friend]

Author : @syadzadhanti

 Genre : Romance, action | Rating : PG-13

 Length  : Multi Chapter

 Main casts: Xi Lu Han, Park Yoora (OC)

Other casts :

Gong Ah Ri (OC), Kim Minseok (Xiumin), Wu Yi Fan (Kris)

 

[PART 1] | [PART 2] | [PART 3]

I also have my own wordpress, you can check it^^ ohyeolliepop.wordpress.com. Kamsahamnida^^

***

Something You Don’t Understand

“Pria tadi adalah Wu Yi Fan.”

 

Kalimat Ah Ri seperti mencekik Luhan. Nama yang disebutkan Ah Ri benar-benar di luar dugaannya. Bagaimana bisa pria tadi adalah Yi Fan?! Logika Luhan tidak dapat menerimanya.

“Kau bercanda, Nona Gong,” desis Luhan.

Ah Ri beranjak dari duduknya dan mendekati Luhan. Ia menatap lekat mata hazelnut milik namja itu. “Aku ini tidak buta. Pria tadi memang benar Wu Yi Fan.”

Luhan menatap balik mata Ah Ri –mencoba menemukan kebohongan disana, namun ia tidak berhasil menemukannya. Ah Ri memang tidak berbohong. Hati Luhan mencelos, ini gila. Benar-benar gila. Ia sangat mengenal Yi Fan. Pria yang biasa dipanggilnya gege itu adalah sosok yang sangat dikaguminya. Kehebatan Yi Fan dalam bela diri tidak perlu diragukan lagi, ia menguasai karate dan thai boxing sekaligus. Kepribadian kuat dan ketegasan Yi Fan juga sering membuat Luhan iri dan ingin menirunya –sayangnya Luhan tidak bisa. Ia masih saja menjadi pria muda yang manja dan egois.

“Aku tahu hal ini sangat sulit dipercaya,” kata Ah Ri. “Aku sendiri tidak tahu apa motivasi Yi Fan melakukan semua ini.”

Ah Ri melirik Luhan, tidak ada respon yang diberikan oleh namja itu. Kelihatannya Luhan masih sibuk dengan pemikirannya sendiri –itu terlihat jelas dari pandangan matanya yang kosong. Ah Ri menghela nafas. Detik kemudian ia terkejut, menyadari kalau dari tadi ikatan di tangan Luhan belum dilepas. Ah, bagaimana aku bisa lupa? batin Ah Ri. Ia lalu membuka ikatan di tangan Luhan sambil merutuki kebodohannya sendiri.

Mianhae, aku lupa membuka ikatan di tanganmu,” ucap Ah Ri. Luhan tidak bergeming. “Luhan, kau baik-baik saja kan?” tanya Ah Ri. Luhan masih tidak bergeming.

Alih-alih menjawab perkataan Ah Ri, Luhan justru menitikkan air matanya. Luhan menangis?

“Xi Lu Han, kau kenapa?” tanya Ah Ri kebingungan. Ia belum pernah berhadapan dengan namja yang menangis sebelumnya. Situasi ini jelas membuatnya panik.

“Untuk apa gege melakukannya? Untuk apa gege memasungku?” racau Luhan. Ah Ri menatap Luhan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Luhan.. Ia tidak menangis meraung-raung seperti bayi. Ia menangis dalam diam dan kelihatan sangat emosional. Kedua tangan Luhan mengepal kuat, menampakkan buku-buku jarinya. “Ia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Kau tahu? Aku sangat mengaguminya. Bahkan aku berharap, saat dewasa nanti aku bisa menjadi seperti Yi Fan gege.”

Ah Ri tidak menyangka, ternyata sebesar itulah arti Yi Fan di mata Luhan. Luhan tidak hanya menganggap Yi Fan sebagai orang kepercayaan keluarganya saja. Ia menganggap Yi Fan lebih dari itu. Sekarang Ah Ri mengerti, rasanya pasti sakit sekali. Orang yang benar-benar kau kagumi, bahkan kau jadikan contoh, memperlakukanmu secara tidak manusiawi.

Luhan menghentikan tangisnya. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat, memunculkan guratan-guratan kecil di sekitar matanya. Ia ingat, Yi Fan pernah bilang kalau pantang bagi seorang pria untuk menangis. Tapi Luhan baru saja melakukannya. Kalau tahu, Yi Fan pasti akan kecewa. Tunggu.. Luhan membuang jauh-jauh pikirannya. Ia ingat apa yang sudah dilakukan Yi Fan padanya. Kalau tahu Luhan menangis, bukannya kecewa, tapi Yi Fan mungkin akan melakukan hal yang lebih menyakitkan agar Luhan menangis lebih daripada yang sekarang ini.

“Aku tahu rasanya. Pasti sulit ada di posisimu saat ini,” cetus Ah Ri. Luhan segera menatap Ah Ri tajam. Kalau Ah Ri seekor tikus, ia pasti sudah mati karena melihat tatapan itu. Sorotnya begitu mengintimidasi. Ah Ri menunduk. Sial, ia hanya ingin mencoba mencairkan suasana dan membuat Luhan sedikit lebih tenang, tapi ternyata momennya tidak pas.

Luhan menarik nafasnya, kelihatannya akan mengatakan sesuatu. Dalam hati Ah Ri mencoba menebak-nebak apa yang akan dikatakan Luhan. Apakah “kau tidak tahu rasanya, jangan sok tahu”, “jangan sok baik padaku”, atau “diamlah, jangan sok kenal denganku”? Entahlah.

“Ya, memang sulit sekali,” kata Luhan pada akhirnya. Ah Ri menaikkan kepalanya dan menatap Luhan takut-takut. Hey, kemana perginya tatapan mengerikan tadi? Luhan justru memandang Ah Ri sayu sambil tersenyum getir. “Sudahlah, tidak usah dibahas. Bicarakan hal yang lain saja.”

Ah Ri mengangguk senang. Ia ingin sekali membantu Luhan melupakan masalah tentang Yi Fan ini. Entah kenapa ia tidak tega melihat melihat Luhan sedih seperti ini.

“Kau bersekolah dimana?” tanya Luhan.

Ah Ri memegang tengkuknya ragu-ragu. “Di rumah.”

“Kau tidak bersekolah?” tanya Luhan terkejut.

“Tidak, tapi bukan berarti aku tidak belajar. Setiap hari appa mengajariku banyak pelajaran. Matematika, sains, sampai bahasa asing.”

Luhan mengangguk paham. Dalam hati ia mengagumi kecerdasan Gong Ah Hwa. Ahjussi itu memang bukan orang sembarangan.

Appa tidak mengirimku ke sekolah karena appa ingin mendidikku dengan caranya sendiri. Ia tidak hanya mengajariku pelajaran, tapi ia juga mengajariku pendidikan karakter. Ia ingin membentukku menjadi seorang gadis yang mandiri dan sanggup berdiri sendiri.”

Luhan mengangguk sekali lagi. “Oh ya, tiba-tiba aku ingat.. Saat kabur dari tempat dimana aku pertama kali disekap, kau bilang padaku bahwa kau itu penculik. Kenapa?”

Tawa Ah Ri pecah seketika. “Kau memikirkannya? Omo, aku hanya bercanda! Lagipula mana mungkin ada penculik yang berwajah cantik seperti aku.”

Luhan mendelik. “Kau ini percaya diri sekali.”

“Tapi memang benar, kan?” balas Ah Ri sambil menjulurkan lidahnya.

Luhan tersenyum kecil. Diam-diam ia mengakuinya. Ya, Ah Ri memang cantik. Meskipun dalam kondisi terluka seperti ini, gadis itu sudah terlihat cantik. Luhan terhenyak dan cepat-cepat menyingkirkan pikiran konyolnya. Ia sedang dalam situasi genting, bukan saatnya untuk mengagumi kecantikan seorang gadis.

***

Park Yoora berjalan dengan sangat pelan. Ia memperhatikan setiap langkahnya dengan hati-hati, berusaha untuk tidak membuat keributan. Setelah menemukan ruangan yang ia cari, Yoora lantas menghentikan langkahnya. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu ruangan itu, tapi Yoora menurunkannya kembali. Ia merasa ragu. Yoora terdiam untuk beberapa saat, mengumpulkan seluruh keyakinannya. Setelah merasa cukup yakin, Yoora mengetuk pintu di depannya tersebut.

Seseorang membuka pintu itu. Minseok. “Yoora? Apa yang kau lakukan disini malam-malam?” tanya Minseok, setengah berbisik.  Tempat tinggal Minseok dan anak buah Ji Soo yang lain memang terpisah dari rumah Keluarga Park, namun letaknya sangat dekat. Hanya di belakang rumah Keluarga Park. Di tempat inilah dulu Luhan disekap.

“Boleh aku masuk?” pinta Yoora, tanpa menghiraukan pertanyaan Minseok.

Minseok lantas mengangguk dan mempersilahkan Yoora masuk. “Ada yang ingin kau bicarakan denganku? Kenapa tidak menunggu besok pagi saja? Ini sudah larut malam,” kata Minseok. Ia melirik arlojinya yang sudah menjukkan pukul sebelas malam.

“Aku tidak bisa menunggu sampai besok, Minseok. Ini sangat penting,” sahut Yoora. “Maukah kau membantuku mencari Luhan?”

Minseok menatap Yoora bingung. “Mencari Luhan? Untuk apa? Dia sudah kabur.”

“Untuk harga diriku,” tegas Yoora. “Untuk harga diriku di depan appa.”

“Harga diri? Aku tidak mengerti apa maksudmu, Yoora.”

Yoora mendesah. “Semenjak Luhan kabur, appa semakin tidak menganggapku. Ia bahkan sering mengabaikan perkataanku. Jujur saja, aku sakit hati, Minseok. Aku ingin membuat appa menganggapku, bahkan bangga terhadapku.”

Minseok menaikkan satu alisnya, ia belum bisa menangkap apa maksud Yoora.

“Kalau aku berhasil menemukan Luhan dan menangkapnya kembali, appa pasti senang dan bangga padaku. Aku bisa membantu appa untuk mendekati mimpinya menjadi kaya raya,” jelas Yoora dengan kilatan licik di matanya.

Minseok tertegun. Gadis di depannya ini.. Seperti bukan Yoora. Yoora benar-benar sudah berubah. Minseok kenal benar siapa Yoora yang sebenarnya. Yoora memang tidak pernah bersikap ramah, tapi ia adalah gadis yang baik. Meskipun menguasai bela diri, Yoora tidak pernah sembarangan menunjukkan kemampuannya karena ia tidak ingin menyakiti siapapun. Bahkan pada awalnya Yoora tidak bermaksud untuk menjebak Luhan. Luhan memang mengikuti Yoora tanpa ada pancingan apapun. Baru setelah Luhan sampai di rumahnya, ia sadar siapa Luhan sebenarnya. Anak satu-satunya dari Keluarga Xi, pemilik perusahaan besar Altavasta Company. Ia juga teringat mimpi besar appanya menjadi orang kaya. Luhan pasti bisa membuat mimpi appanya menjadi kenyataan. Karena itu Yoora akhirnya menaruh bubuk penghilang kesadaran pada minuman Luhan. Setelah Luhan pingsan, Yoora mencari Minseok untuk membantunya menyekap Luhan. Saat itu Minseok memang bingung dengan apa yang dilakukan Yoora, tapi ia tetap saja membantu gadis yang dicintainya itu.

Yoora lantas memberitahu Ji Soo bahwa ia berhasil menangkap anak dari Kelurga Xi. Bisa kau tebak kan, bagaimana reaksi Ji Soo? Ya, tentu saja dia sangat senang. Luhan adalah kuncinya untuk menjadi kaya. Ji Soo menyanjung Yoora setinggi langit, membuat Yoora untuk sesaat tahu rasanya dihargai. Sayangnya, setelah Luhan kabur, Yoora seperti dihempaskan kembali. Ji Soo lagi-lagi tidak menganggap keberadaannya. Minseok sekarang paham, Yoora melakukan ini semua hanya untuk mencuri perhatian Ji Soo.

“Baiklah, aku akan membantumu,” kata Minseok pelan. Kalau ini bisa membuat Yoora bahagia, kenapa tidak?

“Benarkah?” tanya Yoora dengan mata berbinar. “Terimakasih, Kim Minseok. Kau memang temanku yang terbaik.”

Teman? Minseok tersenyum pahit. Setelah bertahun-tahun mereka bersama, Yoora masih saja menganggapnya teman. Tidak pernah ada kesempatan untuknya.

“Jadi, begini. Aku akan menceritakan padamu yang sebenarnya.”

Perkataan Yoora memecahkan lamunan Minseok. Untuk saat ini, Minseok berkonsentrasi penuh dan siap mendengarkan cerita Yoora.

“Sebenarnya Luhan memang tidak kabur, ia diselamatkan oleh seseorang. Maaf sudah membuatmu bohong kepada appa tempo hari dengan mengatakan aku menemuimu di ruang makan,” ujar Yoora.

Minseok mengangguk. “Bukan masalah,” ucapnya.

Yoora melanjutkan ceritanya. “Tepat seperti analisamu. Saat aku sedang membaca buku di depan, aku mendengar keributan kecil dari ruangan tempat Luhan disekap. Aku langsung memerika ruangannya dan aku melihat seorang gadis melompat keluar. Luhan sudah tidak ada, dia pasti sudah keluar lebih dulu. Lalu aku mengejar mereka, sialnya mereka berlari cepat sekali sampai aku kehilangan jejak. Tapi akhirnya aku menemukan mereka berdua sedang mengobrol. Saat aku ingin menangkap Luhan, tiba-tiba segerombolan orang datang dari belakang Luhan dan gadis itu lalu menangkap mereka berdua duluan.”

Kedua alis Minseok bertaut bingung. “Luhan diselamatkan oleh seorang gadis? Kau bercanda?”

“Tentu saja tidak,” decak Yoora kesal.

 “Lalu katamu ada segerombolan orang yang datang dan menangkap mereka duluan, apakah kau tahu mereka siapa? Pasti sekarang Luhan ada bersama mereka.”

“Karena mereka semua memakai pakaian berwarna hitam yang serba tertutup, awalnya aku tidak dapat mengenali siapa mereka. Tapi satu di antara mereka cukup bodoh untuk mengenakan gelang dengan gambar elang yang besar, aku jadi bisa mengenali mereka.”

“Broken wings..,” desis Yoora dan Minseok bersamaan.

“Gambar elang memang ciri khas Broken Wings,” gumam Minseok. “Tapi apakah kau benar-benar yakin itu mereka?”

“Sangat yakin.”

“Tunggu dulu, Yoora. Jangan terlalu yakin. Broken Wings adalah sindikat awam, mereka baru dibentuk sekitar tiga bulan yang lalu. Menculik anak dari Keluarga Xi adalah langkah yang cukup berani dan kurasa mereka tidak akan berani melakukannya.”

Yoora memutar matanya, “Sindikat awam? Kau tidak tahu kalau pimpinan mereka adalah Wu Yi Fan?”

“MWO?!” Minseok berteriak saking terkejutnya.

Yoora cepat membekap mulut Minseok sebelum namja itu kembali berteriak dan membuat keributan. “Beberapa minggu yang lalu aku membaca data di kamar appa, pimpinan dari Broken Wings memang Wu Yi Fan. Tapi appa tidak begitu mempersoalkan keberadaan mereka karena katanya tujuan mereka berbeda dengan kita. Aku juga tidak tahu apa tujuan mereka.”

“Aku masih tidak bisa percaya,” desah Minseok. “Wu Yi Fan adalah musuh kita selama ini, iya kan? Dia orang kepercayaan Keluarga Xi yang paling diandalkan saat menghadapi musuh, termasuk kita. Lalu kenapa ia bisa jadi pemimpin Broken Wings?”

Yoora mengendikkan bahunya.

Minseok masih penasaran sehingga ia bertanya lebih lanjut. “Untuk apa Broken Wings menculik Luhan?”

“Seharusnya aku yang bertanya padamu, Minseok. Kau ini kan yang pintar menganalisa sesuatu,” gerutu Yoora. “Sudahlah, kita bicarakan ini lain kali saja. Yang penting, sekarang kita harus bisa mendapatkan Luhan kembali.”

“Dan berhadapan dengan Wu Yi Fan lagi..,” keluh Minseok. Ia punya rekor yang bisa dibilang tidak bagus saat berhadapan dengan Wu Yi Fan. Pria itu cerdas dan juga hebat, tidak mudah untuk mengalahkannya.

“Kau takut?” tuding Yoora.

Minseok cepat-cepat menyahut. “Tidak!”

“Kalau begitu, persiapkan dirimu. Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat ke markas Broken Wings. Ini rencananya,” kata Yoora sambil menyerahkan selembar kertas. “Sebaiknya kau mempelajarinya dulu malam ini. Jika ada sesuatu yang kau rasa tidak tepat, katakan saja padaku. Aku akan memperbaikinya. Kita harus membuat rencana ini sesempurna mungkin.”

“Baiklah.”

“Jadi, kau siap, Kim Minseok?” Yoora bertanya untuk memastikan.

“Aku siap,” jawab Minseok dengan yakin. Apapun kulakukan untukmu, Yoora. Apapun.

 

 To Be Continued

Author’s note : Gimanaaa? Terjawab sudah kan kemarin yang bertanya-tanya, “Yoora jahat apa ga sih thor?” :3 ditunggu commentnyaa yaa, karena comment kalian yang bikin aku semangat dan aku jadi tahu, aku nulis itu udah sampe mana. Thanks for reading 😀

Advertisements

61 responses to “Something You Don’t Understand [Part 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s