SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 10)

wild-orchid-for-kyuhyun_s-heart-by-kim-hye-ah

Flashback

“Namaku bukan Cho Young Hwan, nama asliku Lee Shi Hwa.” 

” Bukan kau yang sebenarnya diadopsi tapi akulah yang diadopsi olehmu untuk menjadi Appa-mu.”

Kini tinggal Kyuhyun duduk sendiri, terpekur melamun di atas meja panjang itu. Setiap hari terasa berat, setiap hari selalu menemukan kejutan dan jantungnya tidak pernah bisa berdetak tenang. Kejutan baginya kini bukan hal yang menyenangkan lagi. Dipandanginya sekali lagi foto dirinya bersama Yuri saat kecil dulu. Tanpa terasa air mata jatuh menetes membasahi lembaran foto-foto usang tersebut. Kyuhyun menangis terisak. Jika masalah terlalu berat, seorang namja tegar pun tidak mampu menahan dirinya untuk menangis. Dan akhirnya, ia menangis cukup lama.

 

Wild Orchid for Kyuhyun’s Heart

Author: Kim Hye Ah @KimHyeAh22

hyeahkim.wordpress.com/ ffindo.wordpress.com

Cast: Cho Kyuhyun (SUPER JUNIOR)

Kwon Yuri (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & Lee Rin Joo (OC), Danielle Kim/ Dainn (OC), Kyu-Line, Seok Hyun, Cho Ahra, Lee Shi Hwa (OC)

Rating: PG-17

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

Poster: missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com

PS: I apologize for typo. Please feel free to correct me

Prolog | Part 1  | Part 2 | Part 3  | Part 4| Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 |

Dalam ruang tunggu penjara yang pengap, Kyuhyun menangis terisak. Sambil menunduk dengan kedua kaki tertekuk menutupi muka, namja itu sesekali membersihkan wajahnya yang basah. Tidak dipedulikannya beberapa sipir yang lalu lalang dan beberapa pengunjung penjara yang berbisik-bisik sambil mencibir. Informasi mengenai ditahannya Menteri Pendidikan Republik Korea telah menyebar dalam hitungan sepersekian detik. Kabar burung yang simpang siur  bahwa anak lelaki Menteri Cho tengah berada dalam ruang tunggu ini telah memancing minat banyak orang untuk menerobos masuk penjara. Para wartawan tidak henti-hentinya menggedor-gedor pintu kaca kantor kepolisian, tidak peduli bahwa sewaktu-waktu polisi bisa saja menyalakan sensor listrik yang berada di area pintu tersebut. Mereka berteriak meminta Kyuhyun untuk keluar. Beberapa bahkan berlagak seperti intel dengan meloncat pagar kawat pembatas halaman penjara yang sangat tajam dan berbahaya. Kilatan kamera flash tak berhenti menyala. Sebegitu pentingnya dua sosok yang ada dalam ruang terasing itu membuat rumah prodeo yang biasanya sepi kini mendadak riuh. Para penjaga pun tampak kesulitan menghalau kerumunan  yang seperti kumpulan macan buas.

“Kyuhyun keluarlah!”

“Hadapilah kenyataan, mari kita bicara!”

“Jangan bersembunyi, kau harus mengatakan sesuatu pada kami!”

“Jika kau ingin membela Appa-mu, katakanlah sesuatu!”

Kyuhyun bukannya tidak tahu itu karena suara teriakan mereka begitu jelas terdengar sampai ke ruang tunggu penjara. Tapi pikirannya sendiri kosong, tanpa pikiran jernih mana bisa ia menghadapi para wartawan ganas itu. Tapi sebenarnya, ia tidak peduli. Persetan dengan keinginan untuk mengkonfirmasi, mengkonfrontir, berargumen, berkilah atau apapun untuk membela Appa. Faktanya memang orang tua itu bersalah. Walaupun Appa berkilah tidak melakukan korupsi tapi dia telah membiarkan tindakan tersebut terjadi persis di depan batang hidungnya. Bagi Kyuhyun, itu sama saja dengan korupsi. Korupsi bukan hanya perkara mencuri uang negara. Mendiamkan, melindungi pelaku sama dengan korupsi itu sendiri. Bahkan tanpa sengaja menerima uang atau barang hasil kejahatan itu masih dikategorikan sebagai korupsi. Orang mengenalnya dengan istilah pencucian uang atau money laundry, upaya untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang/ harta sehingga uang tersebut seolah-olah berasal dari kegiatan yang legal. Yang memberi dan yang menerima, kedua-duanya tetap dianggap bersalah dalam hukum Korea.

Itulah yang disesalkan Kyuhyun, Appa walaupun faktanya bukan koruptor, tapi membiarkan orang lain mencuri uang rakyat dan mengabaikan bagaimana rakyat yang membutuhkan menderita akibat hak mereka terampas, itu sama saja dengan kriminal. Seharusnya Appa melapor kepada pihak yang berwajib sehingga tidak semakin banyak rakyat yang menjadi korban. Tapi itu hanya dalam wacana tentang seharusnye, idealnya, baiknya… karena pada kenyataannya tidak semudah itu. Kyuhyun harus menerima fakta walau sakit hati mengetahui Appa dengan sengaja melakukannya karena semata-mata untuk melindungi dirinya, Cho Kyuhyun.

Yah, semua masalah ini terjadi karena dirinya. Dialah penyebab dari semua kesemrawutan hidup, kekacauan silsilah dan sejarah suatu klan paling terkemuka di negara ini. Ia ternyata bukan anak adopsi seperti yang dipikirkannya selama ini. Justru dialah anak kandung dari Cho Young Hwan, pemilik sah dari trah Cho yang terkenal itu. Lalu orang itu, Lee Shi Hwa yang mengaku-aku sebagai Appanya? Kyuhyun tersenyum getir. Namja itu tidak habis pikir, bagaimana bisa Lee Shi Hwa berpuluh-puluh tahun dapat menyamar tanpa ketahuan menjadi Cho Young Hwan dan hidup bergelimang harta serta kekuasaan karenanya. Hanya nasib sial saja yang membuat beberapa gelintir pihak akhirnya tahu akan rahasia ini. Begitu pintarnya Lee Shi Hwa berakting, sampai Kyuhyun masih tidak percaya bahwa fakta ini memang nyata.

Kyuhyun masih menimbang bagaimana seharusnya perasaannya ditempatkan untuk melihat sosok Lee Shi Hwa sekarang. Entahlah apa ia masih bisa memanggilnya Appa atau tidak. Dalam hati kecil Kyuhyun, bergumul antara perasaan sayang dan kecewa. Kebohongan yang telah diperbuat Appa begitu besar bahkan hampir berhasil membalik bumi menjadi langit, langit menjadi bumi. Berpura-pura menjadi orang lain hampir seumur hidupnya, berbohong menjadi Ayahnya, dan menikmati semua kenikmatan hidup karenanya. Ini gila! Tapi beginilah adanya. Siapa yang sanggup berakting seumur hidup tanpa jeda? Tidak seorangpun dapat berperan segemilang Appa. Memalsukan identitas sampai Kyuhyun merasa sangat berhutang budi pada kebaikan Appa karena telah memungutnya. Benar-benar akting yang brilian bahkan melebihi kaliber pemenang piala Cannes sekalipun.

Kyuhun tidak tahu alasan apa yang bisa dipijaknya sekarang. Apakah ia bisa percaya dengan mudah atas semua pernyataan Appa barusan? Apakah memang untuk melindungi Kyuhyun seperti yang dia katakan tadi atau mungkin karena ambisi untuk menjadi orang penting dan berkuasa? Terlalu banyak kebohongan sehingga ia sendiri tidak tahu mana yang harus dipercaya. Walaupun menyakitkan menjadi anak yatim piatu yang dibuang ke panti asuhan, tapi ia lebih memilih hidup dalam kenyataan itu daripada menerima nasib seperti yang dipikulnya kini.

Cho Kyuhyun, anak mantan penguasa negeri ini yang terbunuh karena kudeta politik dan diasuh oleh seseorang yang memakai nama Ayahnya untuk kepentingan tertentu. Jika ia boleh memilih, cukuplah takdirnya hanya sebagai anak adopsi. Ia tidak merasa bangga menjadi anak seseorang yang pernah menjadi penguasa negeri ini.

Kyuhyun masih terisak. Akhirnya ia mengerti apa makna dari “kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang”. Padahal, dulu, dulu sekali ketika ia masih kecil, ia selalu berdoa agar Tuhan mengubah takdirnya dari anak yatim piatu yang miskin menjadi orang berpunya yang memiliki orang tua.

Gara-gara statusnya dulu, Kyuhyun kecil sering merasa malu karena sering dihina. Saat itu hidup rasanya sangat berat memukul mentalnya. Saat ingin menangis karena dicaci orang, tidak ada Omma yang menghiburnya. Saat ingin berbicara dan bercanda, tidak ada Appa yang menanggapinya. Malam yang dingin dan sepi menjadi lebih kelam dalam batin Kyuhyun kecil. Ia membutuhkan Omma yang memeluknya atau Appa yang menutupkan selimut pada tubuhnya.

Sayangnya kenapa ketika Tuhan mengabulkan doa masa lalunya, Kyuhyun justru berteriak meminta takdir masa kecilnya kembali. Pada suatu titik, akhirnya namja itu menyadari, masa lalu sebagai anak yatim piatu miskin ternyata jauh lebih baik dari kondisinya sekarang. Untuk apa menjadi orang kaya tapi menderita. Mending miskin tapi bahagia.

Kepalanya tiba-tiba terasa nyeri, seperti beribu ton besi baja jatuh di atasnya. Kyuhyun mencoba berdiri dengan menopang pada dinding. Memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya membuatnya hilang arah dan kepercayaan. Mana yang salah dan benar menjadi sesuatu yang saru. Bahwa kejujuran adalah benar dan kebohongan adalah salah menjadi suatu dogma yang ambigu. Bagi Kyuhyun sekarang kebenaran bisa jadi sesuatu yang salah, sebaliknya kebohongan dapat menjadi sesuatu yang benar. Jadi mana yang seharusnya? Mana yang benar? Mana yang bisa ia pijak? Gila ini gila!

“Kumohon kembalikan takdirku.”

“Aku rindu masa lalu Tuhan.”

“Kembalikan aku ke Panti Asuhan saja.”

Kyuhyun tanpa sadar meninju dinding ruangan berkali-kali dengan sekuat tenaga. Tentu saja orang-orang dalam ruangan yang memang sedang memperhatikannya terkejut bukan main. Darah mengucur dari kepalan dan buku-buku tangannya. Beberapa sipir mencoba mendekati tapi Kyuhyun memberikan isyarat tidak perlu.

“Kalian pergilah! Jangan ganggu aku.”

Ia mencium baru darah segar dari tangannya. Berulangkali! Kyuhyun puas. Menghirup aroma darah membuatnya merasa waras sehingga menyadari bahwa apa yang didengarnya, apa yang dilaluinya selama ini adalah kebenaran. Mencium bau anyir seperti itu membuatnya berpikir bahwa ia masih hidup. Ia belum dihukum Tuhan dan dibuang ke neraka. Kyuhyun masih ada di bumi, tapi bumi yang seperti neraka.

“Oh Tuhan, lihatlah tangannya berdarah.”

“Apa dia sudah gila. Itu bisa membuatnya mati”

“Dia sudah stress. Kejadian ini menekannya.”

“Jangan-jangan dia menjilat darahnya sendiri.”

Beberapa pengunjung berteriak dan tidak berhenti berkomentar. Kyuhyun seperti badut sirkus yang menjadi tontonan mengasyikan banyak orang. Walaupun mereka tampak khawatir tapi sebenarnya mereka menikmati tontonan ini. Bayangkan seorang figur terkenal yang tengah menanjak karirnya tiba-tiba ditemukan di ruang tunggu penjara tengah menangis dan frustasi. Apa itu bukan pemandangan yang menyenangkan? Sudahlah, lepaskan kemunafikan bahwa pengunjung tersebut tampak bersimpati karena dalam hatinya, mereka menyukai apa yang dilihatnya. Bukankah ini akan menjadi berita yang menarik untuk diceritakan pada teman di kantor nanti? Bukankah mereka tiba-tiba bisa menjadi pusat perhatian karena menjadi saksi dari kejadian ini? Semua orang ingin tahu dan semua orang akan mencari tahu. Betapa menyenangkan untuk menjadi saksi dari keruntuhan seseorang bukan?

Beberapa malah mulai menghitung nominal karena berhasil merekam pemandangan ini melalui kamera HP-nya. Bayangkan media infotainment akan berlomba-lomba untuk mendapatkan rekaman ekslusif ini. Mereka hanya tinggal mencari penawar dengan harga tertinggi. Tidak ada video, foto pun jadi. Masih ada foto Kyuhyun dengan luka di tangannya, Kyuhyun yang sedang menangis dan sejumlah reaksi stres namja itu. Majalah dan koran nasional selalu siap menampung dokumentasi seperti ini.

Lalu bagaimana jika tidak ada foto? Tenang saja, mereka siap menjadi nara sumber untuk menceritakan kisah memilukan di ruang tunggu penjara.

Dan benar saja, dalam hitungan kurang dari semenit, berita tentang Kyuhyun sudah muncul di internet termasuk dengan aksinya saat menangis dan meninju dinding penjara.

KYUHYUN BERTINGKAH SEPERTI ORANG GILA DI PENJARA

AYAH DI PENJARA, ANAK MUNGKIN DI RS JIWA?

KYUHYUN SUPER JUNIOR MENCOBA BUNUH DIRI

SAKSI MATA AKSI BUNUH DIRI KYUHYUN ANGKAT BICARA

Tampaknya orang-orang itu memanfaatkan situasi sulit ini untuk kepentingan pribadi. Karena selepas keluar dari tuang  tunggu lapas tadi, para awak media sudah menyambut mereka dengan segudang pertanyaan dan sorotan kamera dari segala penjuru. Mereka tiba-tiba menjadi menjadi selebriti dadakan atas masalah yang menimpa Kyuhyun. Padahal yang menjadi tokoh utama adalah Kyuhyun dan Appa-nya. Kenapa mereka tiba-tiba jadi merasa berhak menganalisa dan menghakimi Kyuhyun, yang notabene tidak ada hubungan sama sekali. Tapi bagi para wartawan, tak apalah! Ucapan saksi mata saja sudah cukup menjadi berita utama.

 

*********

 

TRAGEDI PERCOBAAN BUNUH DIRI SEORANG BINTANG

PSIKOLOG MENGATAKAN KYUHYUN DEPRESI

BERTAMBAH LAGI ARTIS YANG MENCOBA BUNUH DIRI

RUNTUHNYA KLAN CHO, PENGUASA NEGERI KOREA

DIDUGA CHO KYUHYUN HANYA ANAK ANGKAT MANTAN MENTERI

Beberapa minggu kemudian, berita terkait Kyuhyun semakin menggila. Setiap orang berhak untuk bicara apapun tentang Kyuhyun. Tidak ada yang salah dengan berbicara tentang seseorang tapi jika disebarkan dan menjadi kepercayaan publik, itu sudah fitnah dan masuk ke ranah pencorengan nama baik. Dan itu adalah kejahatan!

Begitulah buruknya sifat manusia. Setiap orang tiba-tiba merasa paling tahu masalah yang terjadi atas diri Kyuhyun dan keluarganya. Sok menganalisa, menghakimi dan memberikan nasihat. Bahkan yang tidak tahu sama sekali kejadian di penjara, kini ikut-ikutan memberikan opini. Kelompok masyarakat, tokoh agama, para ahli, semua merasa mengetahui skandal ini. Bodohnya, media tanpa klarifikasi menayangkan dan memuat pernyataan-pernyataan tersebut begitu saja. Dan sudah menjadi rahasia umum, para kuli tinta akan menambahi cerita yang tidak jelas juntrungannya itu dengan judul dan narasi yang bombastis. Kerjasama yang menguntungkan bukan? Oplah majalah dan koran meningkat, grafik penonton TV dan pengakses internet meloncat. Nara sumber dadakan itu juga tiba-tiba menjadi terkenal seantero Korea. Bayangkan betapa besar keuntungan yang diraup karena tiba-tiba para sponsor mengantri untuk bisa beriklan asal ada berita Kyuhyun terbaru di sana.

Padahal asal kau tahu ya, para nara sumber yang sok tahu tentang Kyuhyun, yang selalu berlindung di balik “kebebasan berekspresi” hanya membual dengan segudang berita buatan tentang namja itu. Tujuannya jelas, supaya mereka terus diekspos. Semakin besar ekspos media, semakin terkenal mereka dan semakin besar pula pundi-pundi uangnya.  Tanpa merasa bersalah mereka mengatakan bahwa Kyuhyun mencoba bunuh diri, atau Kyuhyun yang menjadi gila padahal kau bisa melihat sendiri bukan bahwa namja itu masih waras. Cerita akal-akalan malah menjadi fakta. Padahal itu hanya karangan yang hanya bersumber dari kemungkinan dan analisa yang tidak dapat dipercaya.

Bahkan kini bergulir isu Kyuhyun adalah anak angkat. Entah siapa yang membuat spekulasi karena Lee Shi Hwa dan keluarganya sangat berhati-hati menjaga rahasia ini. Tapi sayangnya berita seperti itu yang paling disukai masyarakat. Dan seperti bola api panas yang menjalar ke mana-mana. Seluruh media, TV, koran, majalah, tabloid dan internet berlomba-lomba memuat berita sampah tentang Kyuhyun dan keluarganya. Persetan dengan prosedur jurnalistik, yang penting berita Kyuhyun yang penuh intrik dan sensasi. Kata-kata bisa diotak-atik. Fakta bisa dimanipulasi. Masa bodoh dengan kejujuran. Jika harus sedikit berbohong tidak apalah yang penting oplah meningkat.

Lalu di saat genting seperti ini, kemanakah gerangan Kyuhyun? Ia tiba-tiba menghilang sehingga menjadi sosok paling dicari. Apakah Kyuhyun tidak mau ambil pusing dengan segala pemberitaan miring tentangnya atau pura-pura tidak tahu? Entahlah, karena ia lebih memilih mengabaikan opsi hak jawab dalam meng-counter media yang memberitakan hal-hal negatif tentangnya. Walaupun sesekali Kyuhyun terlihat, biasanya saat menengok Omma-nya yang sakit di rumah sakit atau mengunjungi Appa-nya di penjara, tapi keberadaannya sendiri sangat misterius. Di mana ia tinggal tidak ada seorangpun yang tahu, termasuk Super Junior dan sahabat-sahabatnya di kampus. Sosoknya seolah-olah hanya hidup dalam bayangan saja.

********

Di tempat lain, dalam sebuah gedung paling tinggi seantero Korea, SUJU TOWER, semua member Super Junior sedang berkumpul. Tentu saja dengan perkecualian Kyuhyun. Mereka memiliki banyak alasan untuk tidak melibatkan namja itu sekarang.

Siwon terlihat tengah berdiri termenung di dekat jendela. Member yang lain hanya bisa duduk terdiam, mereka tidak mampu berkata-kata. Sebagian berjalan mondar mandir tidak jelas. Skandal Appa Kyuhyun kini berefek bagai bola liar yang menjalar sesukanya. Semua yang terkait Kyuhyun terkena imbasnya, termasuk perusahaan mereka.

“Nilai saham Super Junior Entertainment dan semua anak perusahaan kita di China, Korea, Taiwan, dan Jepang merosot drastis dalam minggu ini, semuanya, kita hampir bangkrut.”

Siwon berbicara menghadap dinding, membelakangi rekan-rekannya yang hanya bisa terduduk lesu.

Namja itu kemudian berbalik mencoba tersenyum dan berpikir optimis, “Adakah yang bisa memberikan laporan yang sedikit menyenangkan untukku hari ini?”

Tidak ada jawaban. Siwon mendesah. Ia menatap Ryeewook yang seperti ingin bicara.

“Kau ingin mengatakan sesuatu? Katakanlah!”

Ryeewon menggelang,”Bukankah kau ingin mendapatkan berita baik. Aku tidak punya, mianhae.”

Siwon termenung, tapi ibarat padang pasir, ia membutuhkan oasis walau itu hanya fatamorgana.

Leeteuk berdiri, “Terlalu banyak mendengar kabar buruk akhir-akhir ini, jadi aku merasa kebal. Katakan saja apapun yang ingin kalian katakan. Keputusan baik dapat terjadi setelah mengalami banyak pengalaman buruk.”

Ia menepuk bahu Siwon. Posisi Siwon sebagai CEO sangat berbahaya sekarang. Salah membuat keputusan akan berakibat besar pada perusahaan dan member Super Junior yang lain. Gesture-nya menyiratkan beban yang amat berat.

Ryeewok angkat bicara walau agak ragu,” Aku hanya ingin melaporkan bahwa beberapa pertemuan bisnis kita dengan investor dari Amerika dan Australia dibatalkan sepihak. Berbagai ekspansi bisnis kita di kuartal ini terpaksa ditunda sampai kita bisa meyakinkan mereka bahwa kondisi perusahaan sehat.”

Berita buruk lagi. Siwon memejamkan mata. Baiklah, ia harus menerimanya,”Lalu bagaimana dengan pertemuanmu dengan beberapa bank di China dan Taiwan, Henry?”

“Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini Hyung. Tapi aku, Zhoumi Hyung harus pulang ke China. Hanggeng Hyung sudah menunggu kita di sana. Kami harus membereskan kekacauan akibat beberapa bank di China dan Taiwan mengancam menghentikan kredit kita.”

Heechul berdiri sambil mengepalkan tangannya karena emosi,”Tidak mungkin, mereka tidak boleh memutuskan kredit kita secara sepihak. Jika pembangunan Suju Tower di China gagal, kita bisa masuk penjara. Itu ancaman investor pada kita karena mereka telah mengeluarkan uang sangat banyak untuk proyek ini.”

Siwon terus memejamkan mata, mencoba mendengar semua keluhan dengan hati lapang,”Lalu bagaimana dengan proyek Suju Radio di Jepang , Kibum?”

“Bermasalah! Salah satu investor ingin mereview ulang penawarannya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi meyakinkan mereka. Leeteuk Hyung masih mau berusaha tapi aku tidak tahu sampai kapan,” lapor Kibum. Ia tidak pernah mengeluh sebelumnya tapi masalah ini terlalu berat .

Sungmin, Direktur HRD mengacungkan tangannya, “Kita mendapat tekanan dari bawah. Serikat buruh sudah mulai beraksi, mereka menuntut kenaikan gaji, tunjangan, dan sebagainya. Hal itu dipicu adanya kabar bahwa kita akan memecat mereka.”

“Katakan saja itu tidak benar Sungmin,” Kangin merespon dengan pandangan kaku.

Sungmin menoleh ke arah Kangin, “Tidak benar bagaimana? Apa kau tidak tahu bahwa Siwon akan melakukan perampingan karyawan sebentar lagi. Harga saham dan prospek laba turun. Apa lagi yang bisa kita berikan pada mereka. Jangankan kenaikan gaji, masih bertahan saja sudah untung.”

“Apa itu benar, Siwon?” tanya Kangin menyelidik. Jika benar ia merasa marah.

Yang ditanya hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah tegang,”Aku melakukan semampuku untuk mempertahankan mereka tapi tidak mudah, kau harus mengerti itu.”

“Kenapa tidak kau katakan padaku? Kau tidak mempercayaiku? Bukankah kau tunjuk aku untuk menjembatani manajemen dengan serikat pekerja?”

“Jika aku mengatakan padamu memang ada gunanya?” tanya Siwon balik.

“Maksudmu? Aish, kau meremehkanku. Padahal aku mungkin bisa membantu mencari solusi.”

“Aku tidak ingin menyebarkan keputusan yang  tidak aku yakini. Ini bukan soal meremehkanmu atau bukan.”

“Jika tidak yakin, jangan buat keputusan itu! Aku tidak akan biarkan kau memecat mereka. Cari cara lain!”

“Cara apa? Kau hanya bisa menuntut tanpa memberikan solusi. Aku sudah memikirkan semuanya. Tidak ada cara lain!”

Pertengkaran mulai tersulut. Akhir-akhir ini sesama member sering bertengkar hebat. Kemarin, Yesung dan Heechul, kemarinnya lagi Sungmin dan Shindong. Member Super Junior seperti mulai terpecah.

“Sudahlah kalian berdua. Siwon punya alasan dan apapun alasan itu tidak pernah bermaksud untuk meremehkanmu. Kebijakan ini belum diputuskan member. Jadi tenanglah, tolong berhentilah bertengkar. Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat,” sela Leeteuk menenangahi,”Pada saat seperti ini justru kita harus bersatu. Aku juga ingin marah tapi Siwon tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Kondisi yang membuatnya melakukan ini. Jadi berhentilah marah-marah Kangin! Kemarahanmu tidak menyelesaikan masalah sama sekali.”

Kangin tersadar, ia tadi terbawa emosi. Semua kejadian buruk ini menekannya. Ia berjalan menjauh, dan duduk di sofa dengan lesu.

Donghae mengerutkan keningnya menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Apakah perlu ia menyebutkan kegagalan beruntun bisnis mereka dalam beberapa minggu ini. Kunjungan member  Suju ke luar negeri terpaksa ditunda. Ia sendiri sebagai Direktur Marketing kesulitan untuk mencari klien baru. Beberapa siaran talkshow di televisi dan wawancara dengan media dibatalkan mendadak. Rapat selalu dalam suasana tegang dan ketidakpastian. Belum pernah mereka menerima tekanan keras seperti ini. Perusahaan terkena krisis serius! Namja itu mendesah pelan, sebenarnya semua masalah ini bisa terselesaikan asal….asalkan…Donghae menggelang kuat, ia tidak mau memikirkannya. Tidak boleh!

“Apakah solusinya kita harus mengeluarkan Kyuhyun dari members of board seperti yang mereka inginkan?” tanya Eunhyuk tiba-tiba, menyadarkan Donghae dari mimpi buruknya, “Investor loyal menekan kita untuk menolak Kyuhyun jika perusahaan masih ingin bertahan.”

Donghae berdiri menghadap Eunhyuk. Mukanya merah seperti kepiting rebus. Tadi Kangin yang emosi sekarang dirinya, ”Apa maksudmu berkata seperti itu. Kau ingin membuang Kyuhyun begitu?”

Eunhyuk mundur,”Tenang Donghae. Tapi inilah fakta yang harus kita hadapi. Kyuhyun adalah kuncinya. Skandalnya yang membuat mereka menjadi pesimis dengan perusahaan kita. Masyarakat menganggap perusahaan kita sebagai money laundry sehingga rekan bisnis kita menjauh. Ini benar-benar tuduhan jahat tapi itulah yang mereka percaya. Kita harus memastikan sikap, apakah Kyuhyun bertahan di sini atau tidak.”

“Tidak adakah cara lain selain mengeluarkan Kyuhyun?” tanya Zhoumi memelas,”Ini sangat kejam.”

“Aku tidak tahu. Investor sialan ini selalu menekanku. Aku harus memilih perusahaan ini atau Kyuhyun, selalu begitu ancaman mereka. Kita tidak boleh menunda ini, perusahaan kita mulai sekarat. Mereka akan melanjutkan investasi setelah nama Kyuhyun tidak ada dalam jajaran direktur. Aku membenci opsi ini tapi kita harus bagaimana lagi,” jawab Eunhyuk, mencoba menahan perasaannya yang sedih tapi Donghae tidak melihat itu karena ia terbakar emosi.

” Eunhyuk, sekali lagi kau mengatakan seperti itu, kau…”

Donghae benar-benar marah karena ucapan Eunhyuk melukainya, melukai nilai-nilai persahabatan mereka selama ini. Demi perusahaan, Kyuhyun disingkirkan? Apa maksudnya? Namja itu hampir mengacungkan tinjunya.

Eunhyuk menantang Donghae. Ia tidak suka dengan sikap namja itu yang terlalu hipokrit, “Kau mau apa memukulku? Meninjuku? Silahkan, tapi itu tidak memecahkan masalah!”

Baiklah, member Super Junior benar-benar mulai pecah. Keributan besar hari demi hari. Eunhyuk dan Donghae yang biasanya sangat dekat saja bisa bertengkar seperti ini.

“Tenang Hyung, kumohon jangan bertengkar. Kita bisa bicarakan ini dengan pikiran jernih. Eunhyuk memang benar. Walau rasanya sakit mendengar ini tapi itulah kenyataan yang harus kita hadapi. Skandalnya berakibat buruk pada perusahaan kita,” Siwon menengahi tapi ia tidak mau memungkiri penyebab krisis pada perusahaan mereka.

Semua member Super Junior sebenarnya tahu tapi lidah mereka terkunci untuk mengatakan bahwa Kyuhyun-lah penyebab dari problem yang terjadi.

“Masalahnya sampai kapan skandal ini akan berhenti. Kasus korupsi Menteri Cho sepertinya akan terus menjadi santapan media karena ada nama Kyuhyun dan Super Junior di dalamnya. Selama media masih menyukai berita ini, selamanya akan terus menjadi skandal,” seru Yesung. Ia dari tadi memilih diam tapi setelah nama Kyuhyun disebut, mau tidak mau ia harus bicara,”Kita harus melakukan sesuatu. Memecat Kyuhyun bukan jawaban. Tapi kita punya waktu yang sedikit untuk menyelamatkan perusahaan kita. Aku sudah kehabisan ide tapi kita harus berusaha. Tolonglah, lebih baik cari solusi bukan saling menyalahkan.”

“Kyuhyun sekarang tidak mau menemui kita dan menolak setiap bantuan yang kita tawarkan. Dia pasti sakit hati karena kita terus menerus membahas dia untuk keluar dari perusahaan ini. Mungkin dia pikir, kita teman macam apa, ketika sedang bermasalah kita malah membuangnya.”

Siwon memeluk Yesung yang hampir menangis. Ia tahu bahwa namja itu paling terpukul untuk kasus Kyuhyun. Bukan berarti member Super Junior lain tidak terluka, tapi karena Yesung mendapatkan tugas untuk melindungi Kyuhyun. Mau tidak mau ia merasa apa yang terjadi pada namja itu seolah-olah menjadi tanggungjawabnya. Penderitaan Kyuhyun sekarang menghantam kepercayaan dirinya. Yesung merasa gagal.

“Kita menghadapi dilemma. Menyelamatkan Kyuhyun berarti menghancurkan perusahaan dan sebaliknya, membela perusahaan berarti menghancurkan Kyuhyun. Pilihan yang sulit,” keluh Siwon.

“Aku lebih memilih Kyuhyun dari pada perusahaan,” jawab Kangin pendek.

Siwon mendesah kesal, “Kangin, ini bukan kuis memilih mana yang benar mana yang salah. Semua member Super Junior juga kuyakin akan memilih Kyuhyun. Tapi kita dihadapkan pada pilihan yang lebih besar. Menyelamatkan perusahaan ini bukan semata-mata karena ada uang dan investasi kita di dalamnya. Tapi tanggung jawab terhadap negara, terhadap masyarakat.”

“Jika kita tidak mampu mempertahankan perusahaan kita, berapa banyak pengangguran yang terjadi, berapa banyak keluarga yang terlunta-lunta karenanya. Berapa banyak kerugian ekonomi dan sosial yang mereka derita.  Perusahaan kita termasuk yang memberikan kontribusi besar terhadap pajak untuk negara. Terlalu banyak kepentingan rakyat yang dipikul perusahaan ini, akibatnya akan sangat buruk jika perusahaan kita hancur.”

Siwon berbicara dengan muka tertekan,”Tolong mengertilah posisiku. Aku CEO perusahaan dan bertanggung jawab atas efek buruk akibat krisis ini. Sikap kalian yang keras kepala kadang membuat aku ingin menyerah.”

Siwon rasanya ingin menangis seperti Yesung. Efek skandal ini begitu berat menghantam perusahaan yang telah susah payah mereka bangun. Apalagi beberapa member lebih senang menyalahkannya daripada memberi dukungan.

“Siwon, kau jangan patah semangat,” seru Leeteuk. Ia memandang ke arah member yang lain, ”Apa kalian masih ingat motivasi kita saat membangun perusahaan ini dulu?”

Member Super Junior terdiam, mencoba mengingat-ingat lagi.

“Bukan uang yang kita cari, bukan kekuasaan yang ingin kita raih. Kita hanya ingin selalu bersama. Sesederhana itu.”

Leeteuk membawa mereka ke memori masa lalu.

“Ingat saat agency memiliki rencana untuk memecah kita, kita memilih untuk hengkang walaupun beresiko nama Super Junior hancur. Saat itu tidak ada yang mau mendengarkan lagu kita, kehadiran Super Junior diboikot di mana-mana. Semua TV dan perusahaan rekaman menutup semua akses.  Setiap konser dijegal . Kalian ingat itu?”

Member Super Junior mengangguk lemah.

“Kita pernah bangkrut tapi kemudian bangkit lagi. Kita membangun bisnis ini dari awal dengan susah payah. Tidak ada yang membantu kita. Hanya ejekan dan cacian yang kita terima. Kita tidak bisa berharap orang lain mau menolong kita. Saat begitu berat, kita hanya bisa saling bergantung pada kita sendiri, semua member Super Junior, tidak ada yang lain.”

“Akhirnya kita berhasil. Dalam waktu lima tahun kita telah membangun perusahaan sebesar ini. Semua berlutut, semua menyanjung, semua mendukung. Itu karena kita sedang di atas, semua berlomba-lomba menjadi partner kita.”

“Tapi ketika bisnis ini terguncang dan terancam bangkrut. Kemana mereka? Mereka menjauh. Tapi kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan karena itulah bisnis. Pertemanannya tidak ada yang abadi. Semua dihitung berdasar prinsip ekonomi dan manfaat. Jika kita sudah tidak berguna, kita dibuang.”

Leeteuk kembali memandang tajam semua member Super Junior yang ada di ruangan itu.

“Lantas apakah persahabatan dalam Super Junior tumbuh karena alasan bisnis  seperti mereka? Ketika Kyuhyun terkena masalah, apakah lantas kita membuangnya? Tapi di lain pihak apakah kita rela kehilangan investor perusahaan ini dan berimbas pada kemungkinan perusahaan kita ambruk? Perusahaan yang telah susah payah kita bangun?”

Itulah inti masalahnya yang membuat pertengkaran internal tak berkesudahan di tubuh Super Junior.

“Tapi hal yang harus kalian pahami. Investor bukan satu-satunya penyelamat perusahaan ini. Masih ada cara lain untuk mengembalikan kepercayaan klien dan user kepada kita. Ini adalah masalah pencitraan perusahaan yang buruk akibat skandal Kyuhyun. Kuncinya memang pada dia, tapi bukan untuk dibuang. Tapi untuk dibantu dan dibersihkan nama baiknya. Namanya bersih maka nama perusahaan kita juga bersih.”

“Aku yakin Kyuhyun clean tapi karena kasus korupsinya Appa-nya, ia jadi terseret,” ujar Heechul putus asa.

“Memang. Yang harus kita lakukan adalah membuktikan bahwa Kyuhyun tidak pernah terlibat dalam kasus korupsi Menteri Cho. Jika memang Menteri Cho terbukti bersalah, mau bagaimana lagi, itu hukum yang bicara dan sudah di luar kuasa kita.”

“Jadi apa saranmu?” tanya Siwon.

“Menteri Cho bukan area kita, keterlibatannya dalam kasus korupsi sudah ada polisi yang melakukannya. Yang bisa kita lakukan adalah memutus informasi sampai di situ bahwa kasus ini tidak menyebar sampai Kyuhyun, kita, dan lain-lain.”

“Idemu Hyung?”

Leeteuk berbicara dengan semangat, “Kita sudah memiliki beberapa bukti keterlibatan pihak-pihak tertentu yang mencoba mencelakai Kyuhyun. Kita sudah dalam tahap kesimpulan bahwa percobaan pembunuhan yang dialaminya terkait dengan kasus korupsi Menteri Cho. Yang harus kita lakukan adalah kerahkan semua kekuatan kita untuk mencari tahu. Bongkar semua konspirasi ini. Kyuhyun bukan pelaku ia korban. Media dan masyarakat harus tahu itu. Setelah fakta terkumpul, kita kumpulkan semua asset untuk membersihkan nama Kyuhyun. Jika itu berhasil otomatis akan membersihkan nama baik perusahaan kita.”

“Sayangnya kita memiliki waktu sedikit. Mungkinkah?” jawab Yesung ragu.

“Memang karena itu kita harus mengerahkan semua kemampuan kita. Cari penjahat itu, tangkap dan seret dia ke penjara. Mereka harus membayar semua masalah ini. Kau cukup tahu banyak Yesung, pilih tim-mu untuk beraksi, sebagian tim yang lain untuk melindungi Kyuhyun, dan beberapa mengurusi masalah bisnis ini. Tapi ketika kita dalam bahaya, kau masih dalam pengawasan tim yang lain. Kita akan tetap aman. Terus berhubungan dan selalu menguatkan. Bagaimana? Kalian setuju dengan ideku?“

Tidak ada jawaban, Leeteuk mulai resah. Apakah ini berarti pertemanan Super Junior akan berakhir sampai di sini saja. Pertengkaran tadi sudah membuktikan bahwa mereka sudah terpecah belah.

Siwon berdiri, wajahnya yang suram kini berganti dengan senyum semangat, ”Leeteuk Hyung, tidak sia-sia kau pulang dari Jepang. Kau selalu mendapatkan jalan keluar saat kami hanya bisa menemukan jalan buntu. Aku mendukung idemu.”

“Lalu yang lain apakah kalian semua setuju?” Leeteuk memandang berkeliling, ”Yesung?”

Yesung tersenyum pendek, tadinya ia ragu tapi semangat Leeteuk telah menulari dirinya, “Aku tidak mau gagal lagi. Aku kemarin kehilangan kesempatan untuk mengejar pembunuh Kyuhyun. Tapi kini tidak lagi. Aku akan berjuang.”

“Aku mendukungmu,” Eunhyuk tiba-tiba memeluk Yesung,”Kita akan saling mendukung dan menguatkan bukan?”

“Aku ikut,” jawab Donghae. Ia melirik ke arah Eunhyuk,”Maafkan atas sikapku tadi.”

Eunhyuk tersenyum riang,”Justru kau mengingatkanku. Bisnis ini kadang membuatku lupa esensi persahabatan.”

“Aku juga ikut,” seru Kibum dan Sungmin bersamaan.

“Tidak ada pilihan terbaik lain selain ini. Aku siap berjuang,“ jawab Heechul.

“Aku juga. Aku akan mengumpulkan seluruh pengacara terbaik negara ini, kita harus buktikan bahwa perusahaan kita bukan bagian dari pencucian uang hasil korupsi,” seru Ryeewok bersemangat,”Bagaimana yang lain?”

Zhoumi dan Henry berdiri,”Tentu saja. Selamanya kita akan bersatu. Kita hanya ingin selalu bersama. Bukankah itu tujuan kita?”

”Aku juga ikut,” Kangin menyodorkan tangan kanannya pada Siwon, “Maafkan sikapku tadi.”

Siwon meraih tangan itu dan mereka berjabat tangan dengan erat, ”Aku juga.”

Kangin memandang berkeliling, ia melihat Shindong yang dari tadi hanya diam saja,”Bagaimana denganmu?”

“Yah aku sepakat. Lagian aku juga sudah kangen untuk bergaya seperti jagoan seperti saat kita menyelamatkan Kyuhyun dulu,” ujar Shindong memecah ketegangan yang terjadi di antara mereka,”Tapi mungkin untuk aksi penyelamatan selanjutnya, aku akan membawa kamera. Hasil foto kita mungkin jauh lebih komersil daripada foto saat Kyuhyun di kantor polisi. Uangnya bisa kita pakai untuk gaji karyawan sehingga tidak ada PHK.”

“Shindong!”

Semua member menatap namja itu tajam.

“Kenapa? Kalian tersingung? Aku hanya bercanda. Aku bosan dengan sikap serius kalian akhir-akhir ini. Kadang aku merasa persahabatan ini akan berakhir saja. Selalu yang kalian pikirkan bisnis dan bisnis saja. Itu bukan Super Junior yang kukenal. Kita professional tapi tetap memiliki ruang untuk persahabatan kita.”

Sungmin memeluk Shindong, “Aku kadang memang merasa seperti itu. Tapi sekarang tidak lagi, kita akan terus bersatu, dan bersahabat.”

“Selamanya?” tanya Shindong berbunga-bunga.

“Tentu, selamanya,” jawab semua member serempak. Mereka saling berangkulan. Hampir saja mereka terseret dalam jurang perpisahan dan adu debat tak berkesudahan.

“Aku harap Kyuhyun ada di sini sekarang. Dia pasti sangat kesepian dan aku sangat merindukannya” desis Donghae pendek.

“Ya, kami semua merindukannya. Super Junior  tidak akan pernah sama tanpa Kyuhyun,” terang Siwon.

Leeteuk mengangguk, “Kyuhyun adalah bagian tak terpisahkan dari Super Junior, dan selamanya akan selalu begitu. Jadi kumohon jangan ada lagi istilah memecat Kyuhyun.”

Begitulah, Setelah melewati berbagai rintangan, jatuh bangun, dan bangkrut sekalipun, Super Junior akan selamanya bersama. Dalam hati masing-masing, mereka berjanji, entah itu dalam suka atau duka, Super Junior tak terpisahkan. Tidak boleh lagi mudah diadu domba, saling mencaci dan membenci. Kebersamaan seperti ini menguatkan mereka. Badai dan batu terjal masih di depan mata, tapi keyakinan bahwa mereka akan saling mendukung dan membantu telah mengokohkan semangat Super Junior untuk terus bertahan dan berjuang.

*********

Bukan sok menggurui, tapi banyak sekali makna implisit dari kisah hidup Kyuhyun. Dulu dipuja sekarang dihina. Dulu dipuji sekarang dicibir. Dari terkenal dan dihormati, menjadi dibenci dan dicaci. Satu tayangan terbaru bahkan menunjukan Kyuhyun dilempar kaleng soft drink kosong oleh orang tak dikenal yang mengerumuninya. Kejadian tersebut terjadi sesaat setelah namja itu membesuk Ibu-nya di rumah sakit. Tidak terlihat bagaimana ekspresi Kyuhyun karena ia langsung diamankan oleh security rumah sakit itu.

Seorang yeoja cantik dengan mata nanar menatap kejadian itu dari salah satu layar televisi di sebuah toko elektronik di dekat rumahnya. Dia adalah Kwon Yuri.

Kebetulan yeoja itu ingin membeli televisi baru setelah bertahun-tahun tidak pernah merasakan memiliki TV, tapi yang dilihatnya sekarang menghantam sensitivitasnya. Hampir semua televisi yang ada di toko itu memutar berbagai saluran yang menayangkan segala hal tentang Kyuhyun. Kyuhyun adalah namja yang terbiasa mendapatkan keistimewaan dan perlakuan khusus. Tapi melihat apa yang dialami Kyuhyun sekarang, semua keistimewaan itu sontak menghilang. Justru penghinaan yang kini diterimanya. Yuri tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan namja itu. Ia bisa merasakan perihnya.

“Kyuhyun aku harap kau tetap kuat. Ini sangat berat,” desis Yuri.

Ada setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Melihat bagaimana orang-orang meneriaki Kyuhyun dalam tayangan itu membuat  rasa kecewanya pada namja itu menguap begitu saja. Sekarang ia paham kenapa Kyuhyun mengusirnya, kenapa Kyuhyun bersikap dingin padanya. Sebagai seorang bangsawan yang tengah naik daun, sudah sepantasnya Kyuhyun menjaga rahasianya dengan baik. Namja itu tentu tidak mau orang mengetahuinya bahwa dia adalah anak pungut. Jika tersebar, keistimewaan yang biasa didapatnya akan hilang, nama baik klan Cho juga tercemar. Kyuhyun harus bersikap selayaknya anak pejabat dan menjaga darah Cho yang ada dalam namanya. Yuri adalah masa lalu yang harus dilupakan. Kehadiran Wild Orchid hanya akan merusak kemapanan hidup yang sudah ada.

“Aku mengerti,” desis yeoja itu. Matanya tidak bisa lepas memandang sosok menyedihkan Kyuhyun dalam berbagai tayangan televisi.

Memang menyakitkan mengetahui bahwa ia harus dilupakan bahkan dianggap tidak ada. Sedangkan Yuri menganggap Kyuhyun sebaliknya. Tidak adil sebenarnya bagi yeoja itu. Tapi rasa pengertian Yuri lebih besar daripada egonya sendiri.

“Aku tidak tahu jika aku dalam posisimu, apakah aku sanggup bertahan.”

Yuri menyadari betapa banyak pihak yang harus Kyuhyun jaga. Keluarganya, silsilah hidupnya, semua yang terkait dengannya demi mempertahankan status bahwa Kyuhyun adalah anak sah Menteri Cho. Mengorbankan Yuri seorang menjadi sesuatu yang wajar. Dan anehnya Yuri sangat memahami walaupun hati yeoja itu terluka karenanya.

“Asalkan masalahmu selesai, aku berjanji tidak akan marah lagi padamu,” ucap Yuri. Ia berjalan mundur menjauhi toko itu karena tidak tahan melihat bagaimana nasib Kyuhyun kini.

Sambil menyusuri jalan dengan sepedanya, pikiran Yuri menerawang ke mana-mana. Ia percaya bahwa takdir manusia itu seperti tangga. Jika bekerja keras, kita akan bisa terus naik. Sebaliknya bila lalai, kita akan terjungkal jatuh. Begitulah yang terjadi pada dirinya dan Kyuhyun. Namja itu pernah ada di bawah ketika menjadi anak yatim piatu di panti asuhan. Kemudian naik menjadi seorang pewaris klan Cho, artis dan pengusaha terkenal yang dihormati banyak orang. Tapi ketika sudah mencapai puncak, takdirnya tergelincir jatuh ke dasar, menjadi sosok hina karena memiliki Ayah seorang koruptor.

Sedangkan hidup Yuri sudah mulai membaik sekarang. Appa sudah sembuh dan kembali bekerja di tempat yang jauh lebih nyaman. Bukan lagi sebagai sopir atau tukan bangunan, tapi asisten seorang pedagang mebel dengan gaji yang lumayan. Omma-pun sama, ia kini memiliki toko kelontong di pasar dekat rumah yang selalu ramai dikunjungi pembeli. Yuri juga bisa berkuliah dengan baik tanpa diganggu oleh kehadiran Dainn yang raib entah ke mana. Ia masih bekerja di Suju Radio walau ada desas desus bahwa akan ada pemecatan massal. Tapi ia tidak terlalu khawatir karena kondisi keuangannya sudah stabil. Walaupun tidak banyak, tapi cukuplah untuk kebutuhan sehari-hari. Semua keajaiban ini merupakan berkah Tuhan yang selalu disyukurinya.

“Tuhan selalu melindungimu percayalah.”

Yuri tersenyum getir. Padahal beberapa hari lalu Kyuhyun masih mengecap sanjungan dan perlakuan istimewa. Tapi selang satu hari, kehidupan Kyuhyun berubah drastis. Kasus korupsi Appa telah membuat masyarakat melihat Kyuhyun berbeda. Sekarang semua kekayaan Kyuhyun pasti akan dikait-kaitkan dengan hasil korupsi yang dilakukan Appa. Padahal Yuri yakin, namja itu bekerja mati-matian untuk membuktikan bahwa ia bisa lepas dari bayang-bayang Ayahnya.

Yuri tahu, Kyuhyun memulai karirnya dari bawah sampai akhirnya bersama member Super Junior, namja itu bisa membuat banyak perusahaan dengan nilai saham dan investasi yang menggiurkan. Di usia muda, ia telah menjadi namja dengan penghasilan tertinggi. Tetapi semua prestasi itu lenyap seketika. Kasus korupsi Appa telah mencoreng nama baik yang diperjuangkannya selama ini. Orang menuduh Kyuhyun juga ikut merasakan hasil korupsi. Kekayaan yang dimiliki namja itu pasti uang rakyat yang dicuri Appa.

“Oppa tidak seperti itu! Oppa tidak bersalah!” Yuri berteriak sendiri. Ia kini sering menyebut Kyuhyun dengan panggilan Oppa, sebutannya saat kecil dulu.

Suara nyaring Yuri membuat pejalan kaki di sekitarnya berbalik menatap yeoja berkuncir itu dengan pandangan aneh. Saat tersadar, sontak yeoja itu merasa malu. Ia menunduk sambil mengayuh sepeda cepat-cepat. Tapi itu malah membuatnya kehilangan keseimbangan karena sepedanya tiba-tiba oleng dan hampir menabrak seseorang. Yuri  mencoba mengelak dengan membanting sepedanya ke sisi kiri tapi itu malah membuatnya terjungkal jatuh begitu juga dengan orang yang ditabraknya. Pejalan kaki itu terduduk tapi kemudian berdiri lagi.

Orang itu mengulurkan tangannya membantu yeoja itu berdiri.

Yuri mendongak sambil mengaduh kesakitan. Untunglah ia jatuh di area rerumputan sehingga tidak terluka parah, hanya linu di beberapa bagian tertentu saja dan ia bisa berdiri tanpa bantuan siapapun.

Namja itu tersenyum manis. Yuri merasa pernah melihatnya tapi ia lupa.

“Kau Yuri bukan? Kau tidak apa-apa?”

“Tidak apa, aku baik-baik saja. Maaf, kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya yeoja itu hati-hati.

Namja itu membantu mengambil sepeda Yuri.

“Pernah, kau dulu datang ke apartemenku bersama Kyuhyun. Kita berdiskusi tentang kebudayaan Korea. Kau masih ingat bukan?”

Yuri tersenyum sumringah. Akhirnya memorinya kembali.

“Ya, ya aku ingat. Mianhae, aku kadang pelupa. Kau pasti Minho?”

Namja itu mengangguk. Melihat Yuri, ia sedikit termenung dan sesekali matanya mengarah ke suatu café di sudut taman. Kehadiran Yuri mengubah sedikit rencananya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Yuri?” tanyanya basa basi.

“Aku? Di sini?” Yuri menunjuk dirinya bingung, “Hanya kebetulan lewat saja.”

Padahal sebenarnya tadi ia berniat membeli TV namun batal .

Minho menggaruk-garuk kepalanya. “Ehmm, kau haus tidak?”

Pertanyaan yang aneh tapi dengan sopan Yuri menjawabnya. “Iya cukup haus, udara musim panas membuat kita tidak bisa berhenti minum.”

“Bagus,” namja itu kini mengusap-usap telapak tangannya,”Maukah kau minum bersamaku?”

“Maksudmu?”

Yuri mulai berpikir macam-macam.

“Rasanya tidak karena aku harus pulang.”

Minho masih berusaha,“Ehmm, kau masih ingat teman-temanku, Victoria, Jonghyun, dan Changmin”

“Iya, lantas?”

“Mereka ada di café ujung taman sana. Kau mau bergabung dengan kami? Kita bisa minum dan makan bersama. Sudah lama bukan kita tidak bertemu. Tenang ini bukan ajakan kencan kok.”

Ups muka Yuri memerah ternyata Minho dapat membaca pikirannya. Dia sedikit malu. Walaupun begitu rasanya tidak nyaman bertemu dengan teman-teman Kyuhyun tanpa kehadiran namja itu di dalamnya.

“Tapi…hmmm, aku…”

“Ayolah, kita bisa duduk sambil mengobrol. Café itu memiliki pemandangan yang menarik dan racikan minumannya sangat segar. Kau harus mencobanya.”

“Aku sebetulnya harus pulang ke rumah.”

“Rumahmu tidak jauh dari sini kan? Kita tidak akan lama. Kebetulan Jonghyun membawa mobil, kau akan kami antar ke rumah. Bagaimana? Mau ya?”

Yuri terdiam ragu. Sepertinya Minho memiliki suatu rencana karena ia sedikit memaksa. Yuri sempat berpikir tawaran minum bersama tadi hanya basa basi, ternyata serius.

“Tapi….”

Namja itu sangat berusaha membujuk Yuri,“Itu café milik Victoria. Karena baru dibuka jadi ada potongan harga besar-besaran untuk minuman tertentu. Kau akan menyesal jika tidak memanfaatkannya. Khusus minggu ini, Victoria akan memberikan member card untuk satu tahun masa keanggotaan. Setiap kau order apapun, pasti akan ada diskon 5%.”

Minho seperti marketing café yang handal dan dia berhasil. Yuri tersenyum.

“Baiklah, tapi kau tidak bohong soal diskon dan member card itu ya.”

Yeoja itu memang selalu tertarik dengan barang gratis atau diskon. Minho tersenyum sumringah,”Kau tidak akan menyesal. Sini, aku bawakan sepedamu.”

Spontan ia menarik sepeda dari tangan Yuri kemudian menuntunnya. Yeoja itu berjalan di samping Minho mengarah ke sebuah café mungil dekat taman kota. Di selasar café,  tampak Victoria, Jonghyun, dan Changmin sedang duduk dengan serius menghadap laptop dan tablet masing-masing. Minho berdehem sehingga mereka menyadari kehadiran Yuri. Dan tampaknya tanpa Minho harus bercerita, mereka mengerti kenapa namja itu membawanya ke sini.

“Yuri, bagaimana kabarmu?” tanya mereka serempak.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” jawab Yuri sopan.

Victoria menyimpan I-pad-nya, “Ini café baruku, silahkan kau pesan apa saja. Selalu gratis untuk teman baik Kyuhyun,” Victoria mengedipkan matanya pada Minho penuh arti,”Kau juga akan mendapatkan kartu anggotanya.  Jadi sering-seringlah ke mari, Yuri.”

“Terima kasih.”

Yuri tersenyum riang, ia merasa lebih nyaman dengan penerimaan Victoria. Suasana yang canggung kini berubah lebih akrab. Sampai akhirnya obrolan mengarah pada Kyuhyun, pembicaraan menjadi agak serius.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun, apakah kalian masih pacaran?” Jonghyun tiba-tiba bertanya tanpa basa basi. Yuri yang sedang menyeruput minumannya tiba-tiba tersedak. Dia dan Kyuhyun pacaran?

“Kami tidak pacaran, hanya teman biasa.”

Teman-teman sekampus Kyuhyun hanya bisa saling memandang tidak percaya.

“Jinja? Jika mendengar bagaimana Kyuhyun selalu bercerita tentangmu, kami pikir kalian memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman,” seloroh Changmin.

Yeoja itu hanya tersenyum pendek. Ia sendiri susah menjelaskan bagaimana hubungan mereka. Tapi yang pasti Kyuhyun tidak pernah menyatakan cinta padanya walau entah sudah keberapa kali mereka berciuman. Yuri menyadari, ia tak lebih seperti yeoja murahan.

“Kadang-kadang kami dekat, kadang-kadang jauh, ya begitulah hubungan kami.”

“Tapi setelah skandal Appa Kyuhyun, kalian masih saling berkomunikasi bukan?”  tanya Changmin antusias.

Yuri tersenyum sambil menggelangkan kepalanya.

“Kami tidak pernah bicara sejak beberapa minggu lalu. Sehari sebelum Appa-nya ditangkap.”

“Tapi kau tahu dia dimana?” tanya Minho.

Yuri menggelang,”Beberapa kali aku ke rumahnya dan Kyuhyun sudah tidak tinggal di sana lagi.”

“Hmmm kau ingin bertemu dengannya?”

“Untuk apa? Aku tidak yakin Kyuhyun mau menemuiku.”

“Kau pasti merindukannya,” tebak Jonghyun yang membuat hati Yuri sesak. Benar, ia memang merindukan Kyuhyun amat-amat sangat.

“Atau mungkin kau ingin membantunya, membuatnya bersemangat?” ungkap Victoria.

Sepertinya Yuri tidak bisa lagi berbohong tentang perasaannya,”Tentu saja aku ingin menemuinya. Aku ingin membantunya jika dia mengijinkanku. Tapi apakah Kyuhyun mau menerima keberadaanku? Terakhir bertemu, ia memintaku untuk tidak menemuinya lagi. Ia saja menolak bertemu member Super Junior , apalagi denganku.”

“Abaikan saja perkataannya. Kyuhyun juga tidak mau menemui kami. Apa yang keluar dari mulutnya belum tentu apa yang ada di hatinya. Untuk beberapa hal Kyuhyun cenderung misterius. Tapi kami cukup mengenalnya jadi kupastikan bahwa dalam hatinya ia pasti senang bertemu denganmu,” ujar Minho sambil melirik Jonghyun untuk segera bergerak.

Jonghyun paham dengan sinyal itu karena dengan sigap ia berdiri mengambi kunci mobilnya,”Kau mau ikut kami Yuri?”

Victoria, Changmin, dan Minho juga ikut berdiri. Yuri kebingungan.

“Kalian mau mengajakku ke mana?”

“Tentu saja bertemu Kyuhyun,” jawab Jonghyun enteng.

“Tapi…” Yuri ragu, ia mempertanyakan kesiapan mentalnya bertemu Kyuhyun,”Aku pikir ia tidak suka melihatku.”

Victoria tampaknya tidak mendengarkan protes Yuri karena yeoja berkacamata itu langsung menarik tangan Yuri ke tempat parkir dan membawanya masuk ke dalam mobil Jonghyun.

“Kau tidak usah takut, kami tidak akan melakukan apa-apa padamu. Kami hanya ingin membawamu bertemu Kyuhyun. Dan kupastikan ia sangat menyukai kedatanganmu. Kami hanya minta satu hal saja padamu, mau kan?”

Suara Victoria lambat laun hilang akibat suara mobil Jonghyun. Tidak tertangkap dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Hanya terlihat Yuri sedang tersenyum dan mengangguk-angguk. Keempat orang itu seperti sedang memberikan instruksi tapi entahlah, yang pasti Yuri bersama sahabat-sahabat Kyuhyun pergi walaupun Yuri tidak tahu kemana mereka akan membawanya.

*********

Di saat yang sama, di tempat yang cukup jauh dari posisi Yuri berada. Seorang namja kurus tengah membersihkan badannya di WC umum. Ia membersihkan air soda yang tadi dilemparkan seorang Ahjumma di rumah sakit. Sambil mengguyur badannya dengan air, namja itu teringat bahwa bukan kali pertama seseorang melempar kaleng soda kepadanya. Dulu, pernah ada seorang yeoja yang melemparnya. Tapi kejadian itu justru selalu ingin diingatnya karena pada saat itulah ia bisa bertemu kembali dengan Wild Orchid setelah sekian lama.

“Bagaimana kabarmu Yuri? Apakah kau masih marah padaku? Apakah kau merindukanku?”

Kyuhyun berbicara pelan seolah-olah ada Yuri di dekatnya.

“Aku selalu mengingatmu tapi mungkin kau kini membenciku. Aku mengerti.”

Ia membersihkan rambutnya.

“Setelah apa yang kulakukan padamu mungkin kau puas dengan nasibku sekarang.”

“Aku tidak pernah mau kehilanganmu tapi takdirku membuat aku harus melepasmu. Ini yang terbaik.”

Tok Tok Tok

Suara pintu kamar mandi diketuk dengan sangat keras sehingga mengejutkan Kyuhyun.

“Hey, kau yang ada di dalam sana. Keluarlah! Kau pikir ini kamar mandi pribadi!”

Namja itu tersadar, bergegas ia memakai baju dan keluar diiringi tatapan marah dari beberapa orang yang sedang mengantri di depan WC umum. Kyuhyun menunduk, ia tidak mau orang-orang mengenalinya. Sudah beberapa hari ini ia hidup seperti orang tunawisma yang tidak punya tempat tinggal. Kyuhyun terpaksa melakukannya untuk menghindari kejaran media dan orang-orang yang penasaran dengan dirinya. Ia juga merasa tidak aman, komplotan penjahat itu masih selalu muncul dalam mimpinya. Nalurinya berkata balas dendam ini belum usai walaupun Appa sudah ditahan.

Kyuhyun melihat pantulan dirinya di kaca etalase sebuah toko. Seorang pemuda yang mengkhawatirkan dengan wajah kuyu tak terurus. Kyuhyun tersenyum getir, itulah penampilannya sekarang.  Sambil menenteng tas ranselnya, ia kemudian duduk di bawah sebuah pohon rindang dekat penjara di mana Appa ditahan. Sesekali mencoba bersenandung untuk memanipulasi perutnya yang belum terisi sejak pagi. Uangnya tinggal sedikit lagi, sehingga ia harus berhati-hati membelanjakannya. Sebenarnya ia masih memiliki banyak uang tapi semuanya tersimpan di bank. Tapi Kyuhyun tidak mau gegabah menariknya karena itu sama saja dengan mengundang bahaya. Para pembunuh itu bisa saja melacak keberadaannya dari transaksi keuangan yang dia lakukan. Tapi perut memang tidak bisa kompromi, Kyuhyun kelaparan. Dicarinya kemungkinan ada makanan dalam tas ranselnya. Untunglah ada setangkup roti di dalamnya, sisa sarapan saat menjenguk Omma di rumah sakit tadi.

Sambil mengunyah roti keras itu pelan-pelan, ia teringat kejadian beberapa minggu lalu saat pertama kali bertemu Ahra Eonnie dan juga Omma yang masih tak sadarkan diri. Saat itu hati Kyuhyun sebetulnya belum siap untuk menerima bahwa selain Appa, Omma dan Ahra juga telah membohonginya.

Awalnya Ahra Noona melihatnya dengan takut-takut. Ia dan kakaknya tampak seperti orang asing yang tak saling kenal. Tapi ikatan kasih sayang jauh lebih kuat dari pertalian darah. Itulah yang membuat hatinya luluh ketika tiba-tiba Ahra memeluknya.

“Kyuhyun maafkan aku.”

Saat itu, mereka tidak saling bicara, hanya saling menatap.

“Berpura-pura tidak tahu adalah hal yang sangat berat Kyuhyun, dan aku harus melakukannya sepanjang waktu. Aku harus menganggap diriku adalah anak Cho Young Hwan dan bersikap selayaknya anak bangsawan. Aku juga harus melupakan identitas dan akarku. Aku, Omma, kami sama-sama terluka. Setiap waktu kami harus menjadi orang lain dan itu menyakitkan. Tapi Appa terus berkata, berakting seperti itu tidak seberapa daripada harus jatuh miskin jika aku tetap menjadi Lee Ahra.”

Kyuhyun mendesah kecewa, “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku? Padahal aku sangat mempercayaimu. Tidak ada rahasiaku yang kau tidak tahu dan inikah balasannya?”

“Aku tidak mau membela diri dengan menyalahkan Appa. Kuakui aku hidup jauh lebih baik setelah menjadi Cho Ahra. Aku dihargai, aku dihormati, hal-hal yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Tapi aku telah berjanji pada Appa dengan segenap jiwaku bahwa fakta ini akan terus menjadi rahasia. Jika kau tahu semuanya tidak akan sama lagi,” jelas Ahra.

Ia memandang Omma yang masih terbaring dengan selang infus. Semua kebohongan ini akhirnya menuntut bayarannya. Omma tidak kuat memikul dua masalah sekaligus, Appa yang dipenjara dan rahasia Kyuhyun yang terkuak.

“Maksudmu kau takut jatuh miskin lagi jika aku mengetahui kau ini siapa? Berarti kau melihatku tidak lebih dari sekedar sumber kekayaanmu. Kau berpura-pura baik kepadaku supaya aku mau berbagi harta denganmu?” dengus Kyuhyun. Ada nada jengkel dalam suaranya.

“Kyuhyun, jangan berkata seperti itu. Aku selalu mencintaimu melebihi diriku sendiri. Aku menganggapmu benar-benar sebagai adikku. Aku tidak melihatmu sebagai seseorang yang harus kujaga karena hartanya.”

“Jangan-jangan kau berkata seperti ini juga karena akting. Aku tidak tahu mana yang bisa kupercaya.”

“Kau berhak marah padaku Kyuhyun. Kau mau memarahiku, menamparku, silahkan. Aku sadar aku telah melakukan kesalahan. Begitu juga Omma dan Appa. Tapi kau harus tahu kenapa aku pergi ke Austria bersama keluargaku,” mata Ahra sudah mulai berair. Ia mencoba menyembunyikannya karena ada suaminya dan Seok Hyun dalam ruang rawat Omma di rumah sakit itu.

Kyuhyun diam. Hatinya sendiri bergulat antara ingin percaya dan tidak.

Ahra menyentuh tangan Kyuhyun kemudian menggenggamnya, “Karena aku ingin mandiri dan lepas dari harta dan kekuasaan Cho Young Hwan. Karena aku ingin berhenti membohongi diriku sendiri. Aku lelah untuk berakting dan berpura-pura menjadi Cho Ahra. Jika aku tetap di Korea, aku akan terus mendapatkan keistimewaan itu dan aku tersiksa karenanya. Karena hati kecilku selalu berteriak aku tidak berhak atas kenyamanan ini. Aku tidak berhak atas itu semua.”

“Keistimewaanku semuanya milikmu yang telah kuambil tanpa meminta ijin dahulu darimu. Aku merasa tidak lebih dari pencuri. Bertahun-tahun aku frustasi sampai akhirnya aku memilih pergi untuk memulai hidupku yang baru. Untung suamiku mendukungku. Di Austria, kami benar-benar memulai karir dari nol, tanpa bantuan siapa-siapa. Kami hidup sederhana di sana. Setelah Seok Hyun pindah ke sana, ia juga belajar untuk lebih mandiri. Tapi aku lebih bahagia, aku merasa bebas menjadi diri sendiri, menjadi Lee Ahra dengan kepribadiannya. Bukan Cho Ahra, putri bangsawan yang anggun dan tanpa cela.”

Kyuhyun melihat Ahra menangis tersedu-sedu. Mungkin kebohongan ini begitu memberatkannya. Ia ingat beberapa tahun terakhir sebelum Noona pindah ke Austria, yeoja itu sering sekali bertengkar dengan Appa. Tak jarang Kyuhyun melihat mata Noona yang merah karena menangis. Appa dan Ahra selalu merahasiakan masalah yang terjadi di antara mereka karena Appa hanya berkata bahwa Noona kini mulai membangkang dan tidak mau mengikuti aturannya. Mungkin itu maksudnya. Ahra hanya mencoba untuk jujur.

“Berpuluh-puluh tahun menjaga rahasiamu, itu sangat berat Kyuhyun. Aku selalu memaksa Appa untuk membuka rahasia ini tapi tidak berhasil dan ujung-ujungnya kami akan selalu bertengkar tak berkesudahan.”

“Satu-satunya cara aku harus pergi. Meninggalkan semua fasilitas keluarga Cho. Walaupun itu tidak mengurangi rasa bersalahku padamu tapi setidaknya aku bebas dari kewajiban untuk menjadi orang lain.”

“Tolong maafkan aku, Kyuhyun. Aku tidak memintamu untuk mengakuiku sebagai Noona-mu. Mengetahui kau memaafkanku saja sudah membuat hatiku lebih tenang.”

Seok Hyun, bocah berusia  6 tahun yang dari tadi hanya memandang mereka dari kejauhan, berjalan mendekat. Ia berjalan sambil dituntun Appa-nya.

“Omma jangan menangis, aku sedih jadinya.”

Ahra tersenyum, ia membersihkan sisa air mata dengan punggung  tangannya.

Kyuhyun menatap keponakan yang paling disayanginya. Apakah karena kejadian ini ia tega menghapus statusnya sebagai paman anak itu. Tidak, ia sangat mencintai Seok Hyun.

“Tidak, justru Omma bahagia. Dengan menangis, Omma seperti sedang mengeluarkan racun dalam tubuh Omma,” ujar Ahra sambil mengelus rambut keriting anaknya.

“Racun?” tanya Seok Hyun antusias.

“Iya racun, sesuatu yang membuat tubuh kita jadi sakit.”

“Jadi menangis itu membuang racun. Apa itu betul Samchon?” Seok Hyun memandang Kyuhyun. Melihat mata bulat anak kecil itu membuat hati Kyuhyun merasa teduh dan tersentuh.

Kyuhyun tersenyum,”Untuk beberapa kasus, menangis bisa membuatmu merasa lebih baik.”

“Tapi kita ini namja Samchon. Kita dilarang untuk menangis karena menunjukan bahwa kita lemah. Kita tidak boleh cengeng. Laki-laki itu harus kuat.”

Kyuhyun tersenyum, “Kata siapa laki-laki tidak boleh menangis. Samchon juga kadang-kadang menangis. Cengeng itu menangis terlalu sering, tapi jika sesekali menangis itu tidak apa-apa.”

“Betulkah? Kapan Samchon menangis? Aku tidak pernah melihatnya.”

Kyuhyun mengangguk, ia berjongkok memeluk keponakan kesayangannya sambil berbisik.

“Akhir-akhir ini Samchon sering menangis dan itu membuat perasaan Samchon jadi lebih lega.”

“Jadi racunnya pergi ya Samchon,” Seok Hyun balas memeluk Kyuhyun.

“Begitulah.”

“Kalau begitu aku akan minta Halmeoni untuk menangis, supaya racunnya keluar dan cepat sembuh. Aku kangen Halmeoni, Samchon,” Seok Hyun masih memeluknya erat. Ia terus bicara.

“Aku juga kangen Harabeoji. Biasanya Harabeoji akan bermain denganku tapi sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengannya.”

Kyuhyun ingin menangis mendengarnya. Ia terus memeluk Seok Hyun, mengelus rambut kriwil keponakannya dengan rasa sayang sambil mendengarkan kepolosan anak itu saat bicara. Tanpa disadari air matanya yang ditahannya jatuh. Ia kembali menangis. Seok Hyun rupanya bisa merasakan itu.

“Samchon menangis lagi ya?”

“Iya, kok tahu?”

“Bajuku basah.”

“Oh,” Kyuhyun melepaskan dirinya malu-malu tapi Seok Hyun menariknya. Kali ini anak itu yang memeluknya.

“Tapi tak apa-apa. Menangis saja Samchon. Buang racun dalam tubuh Samchon. Setelah itu pasti Samchon akan merasa lebih baik. Aku masih punya banyak persediaan baju.”

Kyuhyun menepuk-nepuk punggung Seok Hyun lembut. Air matanya masih mengucur walaupun tidak sederas tangisan Ahra.

“Bagaimana? Samchon merasa lebih baik.”

“Iya, menangis sambil memelukmu membuat perasaan Samchon jadi lebih lega. Rasanya racun dalam tubuh Samchon menghilang. Terima kasih Seok Hyun.”

Ahra menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan tidak menentu. Ia menatap suaminya yang tertegun menyaksikan kejadian ini. Ternyata, selalu ada hal baik yang terjadi walau dalam kondisi yang paling buruk sekalipun. Ia ikut berjongkok memeluk Kyuhyun dan Seok Hyun. Suami Ahra menatap ketiga orang yang disayanginya ini dengan rasa haru.

Bagi Kyuhyun, walaupun hanya saling menatap dan tidak ada kata yang terucap , tapi kata hati terus bicara bahwa mereka saling menyayangi. Tanpa pertalian darah sekalipun, kasih sayang  akan selalu menjadi pelekat di antara mereka. Kyuhyun tahu, Ahra menyayanginya. Begitupun Omma kepadanya. Walaupun Omma sedang dalam kondisi pingsan tapi dalam alam bawah sadarnya ia pasti akan mengatakan hal yang sama. Kyuhyun menyadari, ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ia hanya punya Appa, Omma, dan Ahra. Dan ia tidak mau kehilangan keluarga untuk kedua kalinya.

Kyuhyun bangkit dari duduk dan lamunannya. Sekarang sudah pukul 2 siang, berarti ini waktunya untuk menjenguk Appa di penjara. Perutnya masih terasa lapar, belum lagi udara di musim panas ini membuat dirinya sering kehausan. Dirogohnya beberapa koin logam dalam saku celananya. Kyuhyun tersenyum senang, lumayan ia masih punya cukup uang recehan untuk membeli air mineral dan setangkup roti lagi. Ia mendekati sebuah vending machine di trotoar dekat halaman penjara.

“Kyuhyun Oppa?”

Tiba-tiba seseorang memanggilnya. Ia mengenal suara itu dan berharap bahwa yang didengarnya hanya mimpi. Karena jika benar, Kyuhyun tidak sanggup.

“Kyuhyun Oppa?”

Dan yeoja itu memanggilnya Oppa? Ada rasa hangat menjalari tubuhnya.

Kyuhyun berbalik, dilihatnya Yuri berdiri beberapa meter menghadapnya.

“Kyuhyun Oppa.”

Yuri tersenyum menatapnya, senyuman yang membuat kesadarannya berhenti. Rasanya ia ingin memeluk yeoja itu tapi badan Kyuhyun terlanjur kaku. Ia tidak bisa bergerak, bahkan sulit sekali untuk menyungging senyum terbaiknya. Alih-alih Kyuhyun hanya bisa menatap Yuri dingin dan beku.

Yuri tidak memperhatikan sikap tubuh Kyuhyun. Ia terlalu gembira dapat bertemu kembali dengan namja itu. Yuri berlari kecil ke arahnya. Kyuhyun tersentak. Tidak, tidak boleh. Yuri tidak boleh mendekatinya, hidupnya akan dalam bahaya.  Sudah beberapa minggu ini ia juga menghindar dari Super Junior dan teman-temannya di Kyu Line. Sudah cukup akibat buruk yang terjadi akibat kasus dirinya. Member Super Junior bahkan sudah menanggung kerugian yang amat banyak akibat hal ini. Kyuhyun mencoba berbalik. Sial, dinding penjara menghadangnya, tidak ada cara lagi untuk menghindar.

Yuri kini berdiri hanya setengah meter dari tempatnya berdiri. Ia tersenyum sangat manis.

“Kyuhyun Oppa.”

Apa ketakutan ini berlebihan? Tapi ia sudah cukup trauma melihat apa yang terjadi pada member Super Junior dan perusahaan yang mereka miliki. Jadi tolong menjauh Yuri.

“Kau tidak senang melihatku?” Yuri mulai menangkap respon Kyuhyun yang tampak bersahabat. Kekecewaannya tiba-tiba muncul.

Kyuhyun terdiam.

“Aku ke sini bersama teman-temanmu. Mereka masih di mobil dan memberiku kesempatan untuk bisa bertemu denganmu lebih dahulu.”

“Kyu Line?” sebelah alis mata Kyuhyun terangkat.

Yuri mengangguk. “Kau selalu menghindari mereka. Padahal mereka ingin membantumu. Mereka tahu kau tidak terkait dengan masalah Appa-mu. Jadi tolong jangan menjauh.“

“Jadi kau datang sebagai jubir. Supaya aku mau menemui mereka?”

Yuri menggelengkan kepala, “Kumohon tolong berhenti untuk bersikap sinis. Kami semua mencemaskanmu Oppa. Jangan lihat yang menemuimu ini aku. Aku tahu kau membenciku tapi setidaknya kau harus tahu, Minho dan teman-temannya sangat merindukanmu.  Jadi ijinkanlah mereka bertemu denganmu. Tolong jangan menghindar.”

‘Aku mencoba menyelamatkan kalian. Aku seperti penyakit menular. Orang-orang di sekelilingku akan menderita jika dekat denganku,’ Kyuhyun menjerit dalam hatinya. Tapi kata yang terucap malah seperti ini.

“Bukankah sudah kukatakan, jangan mendekatiku! Urusanku dengan mereka bukanlah urusanmu!”

“Oppa, kau?” Yuri menatap Kyuhyun tak percaya.

“Apa kau sudah lupa dengan janjimu sendiri untuk menjauh dariku. Tolong patuhi janjimu.”

“Aku berjanji karena kau paksa. Tidakkah kau mengerti?” Yuri mulai putus asa

“Pergilah Yuri.” ada tekanan kuat dalam suara berat Kyuhyun.

“Kyuhyun kau…,” Yuri menggelangkan kepalanya. Ia sudah tidak lagi memanggilnya Oppa,” Kau adalah namja paling egois yang kukenal. Kau hanya mementingkan dirimu sendiri. Kau tidak tahu berapa banyak orang-orang yang mengkhawatirkanmu dan begini sikapmu pada mereka. Kalau memang kau tidak mau bertemu denganku, baiklah. Tapi bukan berarti kau harus menolak bertemu sahabatmu.”

“Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentangku. Aku tidak pernah meminta untuk dikhawatirkan. Jika aku terlalu mengganggu, lupakanlah aku. Beres,” Kyuhyun melempar minumannya ke tempat sampah dan melangkah masuk ke kantor polisi.

Yuri berlari menyusulnya dan tanpa diduga menarik tangan Kyuhyun sehingga badan namja itu tertarik ke belakang.

“Kau keterlaluan!”

“Pergilah Yuri,“ namja itu mencoba menghempasnya tapi  kedua tangan Yuri memegang tangan kirinya begitu erat.

“Tidak.”

“Pergi dan katakan pada mereka, jangan temui aku.”

“Tidak, sampai kau bertemu mereka.”

“Kau! Aish, kenapa kau begitu keras kepala!”

“Jika aku menginginkannya, aku akan begitu sangat keras kepala”

“Kenapa kau tidak membenciku saja. Itu lebih mudah.”

Yuri semakin menarik tangan Kyuhyun menjauh dari area penjara,“Aku membencimu Kyuhyun, aku sangat-sangat membencimu. Tapi sayangnya aku tidak bisa benar-benar membencimu. “

“Apa?”Kyuhyun terkejut. Yuri tidak pernah bisa membencinya? Setelah semua perlakuan buruknya kepada Yuri selama ini?

Yeoja itu berujar pelan,“Setiap aku ingin membencimu, setiap aku menyadari mengapa kau bersikap buruk padaku. Aku selalu mendapatkan  alasan untuk bisa memaafkanmu.”

Namja itu terhenyak, sebegitu besarkah pintu maaf  yeoja itu kepadanya? Pegangan tangan Yuri mulai melemah.

“Aku pikir aku gila karena terus memikirkanmu, mengkhawatirkanmu. Memang benar katamu, membencimu akan jauh lebih mudah tapi aku tidak bisa.”

Akhirnya pegangan tangan itu benar-benar terlepas.

“Melihatmu sekarang, aku merasa sakit. Kadang aku ingin menangis karena aku ingin menolongmu tapi aku tidak tahu bagaimana.“

Dengan terbata-bata akhirnya Yuri berkata lirih,”Mungkin, mungkin karena aku menyukaimu….”

Kyuhyun terpana. Mendengarnya seperti siraman air madu saat kehausan. Tapi daripada berkata jujur, Kyuhyun malah merespon dengan sangat dingin.

“Jadi apa yang kau inginkan?”

Mata Yuri terbelalak geram, “Apa yang kuinginkan? Tidak bisakah kau mencari kata yang jauh lebih baik untuk menghargai keberanianku untuk bicara seperti ini. Tapi baiklah, jika itu maumu. Katakan kau akan mengikuti apa yang kuinginkan dan aku akan katakan apa yang aku inginkan.”

“Ya, ya, katakanlah apa maumu? Setelah itu selesai, jangan kembali lagi,” tukas Kyuhyun ketus.

“Temui mereka, teman-temanmu itu. Kudengar kau juga menghindar dari Super Junior.  Temuilah mereka juga.”

“Itu saja?”

“Ya, itu saja. Aku pergi. Semoga kau puas.”

Sejujurnya, Kyuhyun mengharapkan Yuri berbicara lebih banyak. Tentang perasaannya pada namja itu, tentang masa kecilnya dulu, tentang simpatinya pada kehidupan Kyuhyun yang sekarang. Bukankah tadi Yuri berkata sangat mengkhawatirkannya.

“Yuri…” Kyuhyun mencoba memanggil nama itu.

Tapi yeoja itu terlanjur kecewa. Penerimaan Kyuhyun yang buruk membuatnya lagi lagi harus berhenti berharap. Dan Yuri benar-benar pergi.

Ia meninggalkan Kyuhyun yang berdiri termenung dengan membawa segudang kekecewaan. Tapi seperti yang dikatakannya pada Kyuhyun, bagaimanapun buruknya perlakuan namja itu padanya, ia tidak akan bisa benar-benar membenci Kyuhyun. Rasa cintanya mengalahkan segalanya. Itulah kenapa orang menyebutnya cinta buta karena akal dan logika tidak bisa lagi bekerja dan Yuri menderita karenanya.

Yuri berlari cepat meninggalkan Kyuhyun dan menghindari mobil yang ditumpangi Kyu Line. Ia tidak mau teman-teman Kyuhyun melihatnya menangis. Badannya begitu sesak karena menahan rasa sakit hati. Yuri mengarahkan kakinya menuju sebuah gang yang lebih sepi. Terdengar langkah kaki ikut berlari di belakangnya. Belum sempat Yuri menoleh, tiba-tiba lengannya ditarik kuat ke belakang. Yuri mencoba menolak tapi dorongan itu begitu cepat menarik seluruh badannya untuk berbalik. Gerakan itu begitu cepat tapi samar-samar dilihatnya raut wajah Kyuhyun. Ia tidak tahu apa yang terjadi karena dalam waktu sekejap, ia sudah berada dalam pelukan namja itu.

“Maafkan aku. Jangan pergi Yuri, kumohon.”

Kyuhyun berbisik di telinganya. Kepalanya kini bersandar pada dada namja itu. Ada rasa hangat dalam pelukannya. Ada banyak kerinduan terasa dalam dekapan itu. Ia tidak dapat menggambarkan perasaan campur aduk yang ada dalam hatinya. Antara marah, kecewa tapi juga rindu dan sayang. Yuri tidak percaya Kyuhyun berani menyusulnya. Bukankah baru saja namja itu menolaknya.

“Jangan pergi.”

Kyuhyun terus membisikkan dua kata itu ketika dirasakannya badan Yuri mulai menegang dan berusaha melepaskan diri. Ia telah mempertaruhkan ketakutannya dengan mengejar yeoja yang dicintainya. Ia tahu beberapa orang akan melihat kejadian ini dan mungkin menjadikannya sebagai gosip atau target kejahatan baru. Tapi ia ingin, satu kali saja bisa memeluk Yuri, Wild Orchid pujaannya, sedekat dan selama ini.

“Maafkan aku. Jangan pergi. Jangan menyerah denganku.”

“Kyuhyun…”

Jantung Yuri berdegup kencang mendengarnya, betapa ia merindukan kata-kata dan pelukan seperti ini. Permohonan Kyuhyun bagaikan alunan musik mengalun di telinganya. Alih-alih menahan tangis, justru air matanya semakin deras mengucur sehingga membasahi kemeja Kyuhyun. Ia membiarkan namja itu terus memeluknya.

Dengan kedua tangannya, Kyuhyun menangkup kedua pipi Yuri untuk menghadapnya. Yeoja itu menengadah. Mata itu, mata Yuri tidak pernah berubah. Kenapa setelah sekian bersama Kyuhyun tidak mengenali kemiripan ini. Mungkin jika ia tahu dari awal, keadaan tidak akan serumit ini. Tapi itulah hidup, Tuhan selalu punya rencana yang tidak dapat ditebak. Kyuhyun membersihkan pipi Yuri yang basah dengan punggung tangannya.

“Aku selalu yakin Wild Orchid-ku akan kembali. Aku selalu menunggu kesempatan itu. Tapi bodohnya, setelah kutemukan, aku malah mengabaikannya dan membuatnya terluka,” ucap Kyuhyun lirih.

“Setiap aku bersedih, yang kulihat adalah foto kita saat kecil dulu. Melihatmu tersenyum memberiku kekuatan. Tapi ketika bertemu denganmu, aku tidak siap. Aku bukan Kyuhyun yang dulu Yuri, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku kini.”

Namja itu menyunggingkan senyum sekilas, “Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Semua kulakukan untuk melindungimu. Mungkin kau tidak mengerti tapi aku berpikir ini semua demi kebaikanmu. Aku mengambil resiko dengan mengejarmu ke sini. Ini mungkin membahayakanmu tapi aku tidak mau kau sakit lagi karena aku.”

“Aku mengerti,” desis Yuri pelan.

“Kau mengerti?”

Yeoja itu mengangguk, “Anehnya memang seperti itu.”

“Termasuk hidupmu mungkin menderita bersamaku?”

Lagi-lagi Yuri mengangguk,“Walaupun aku tidak tahu bahaya apa yang bisa mengancamku. Tapi selama ada kau, aku akan merasa aman.”

“Yuri,” Kyuhyun kembali mendekap tubuh ramping yeoja itu, sebelah tangannya membawa kepala Yuri ke arah dadanya. Ia menghirup wangi harum dari rambut yeoja itu,” Terima kasih, terima kasih. Aku tidak tahu apa lagi yang bisa kukatakan. Terima kasih.”

Yuri tersenyum, kedua tangannya kini membalas pelukan Kyuhyun. Hatinya masih campur aduk. Kemarahan dan sikap buruk Kyuhyun masih terngiang-ngiang di benaknya tapi di saat yang sama perasaan kecewa dan luka sontak luluh karena kehangatan pelukan ini. Mereka tidak banyak bicara, hanya sesekali menatap dan tersenyum. Kyuhyun sudah sangat lelah. Memeluk Yuri seolah menopang badannya yang mulai lemah. Masalah ini memang belum terselesaikan, tapi hatinya merasa jauh lebih damai.

“Yuri-ya?”

“Hmmm…”

“Benarkah dengan yang kau katakan tadi?”

“Aku berkata apa?”

“Bahwa kau menyukaiku?”

“Aku mengatakannya?”

Yuri menengadahkan muka tak percaya, namja itu mengangguk-angguk dengan senyum jahilnya yang telah lama hilang.

“Jinja?” mata Yuri membelalak sambil menutup mulutnya seolah-olah terkejut, tapi kemudian bersandar kembali di pelukan Kyuhyun, “Rasanya aku lupa pernah mengatakan itu.”

“Mwo?”Kyuhyun menjewer telinga Yuri spontan sehingga yeoja itu menjerit.

Ia melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun sambil meraba-raba telinganya.

“Sakit?” tanya Kyuhyun. Ia mengacak-acak rambut Yuri. Yeoja itu mengangguk. Sebenarnya tidak sakit tapi ia ingin membuat Kyuhyun merasa bersalah. Bolehlah sekali-sekali mengolok-olok namja itu.

“Tapi aku lebih sakit. Ini sakit sekali ketika kau mengatakan hal tadi,” Kyuhyun meraih tangan Yuri dan menempelkan ke arah dadanya.

“Tapi kau juga tidak mengatakan apapun,” Yuri berkelit.

“Tadi aku ingin mengatakan sesuatu tapi kau merusaknya.”

“Memang kau ingin mengatakan apa?”

Namja itu menyeringai, ia meraih Yuri ke pelukannya lagi. Alih-alih mengatakan sesuatu, ia tiba-tiba mencium singkat yeoja itu.

Yuri terbelalak,”Lain kali kau harus minta ijin dahulu padaku.”

Namja itu tersenyum, ia menahan badan Yuri yang seperti ingin melepaskan diri,”Jika aku minta ijin, memang kau ijinkan?”

“Mungkin aku akan pikir-pikir dahulu.”

“Lama ah, aku bukan tipe orang yang sabar.”

“Jadi maumu apa?”

“Mauku? Hehehehe,” seperti sudah direncanakan Kyuhyun menarik badan yeoja itu kembali dalam pelukannya, menciumnya, kali ini lebih lembut dan lama.

“Aku akan memasang plester di mulutku jika kau melakukannya lagi tanpa ijin,” Yuri terdiam sejenak,”Katanya kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Yuri ketika mereka sudah saling melepaskan diri.

“Jinja?” tanya namja itu,”Rasanya aku lupa.”

“Kau?” Yuri melotot tapi dibalas dengan senyuman nakal namja itu. Kyuhyun berlari menghindar ketika dilihatnya yeoja itu seolah-olah akan memukulnya.

Tapi Yuri kalah cepat karena ia tidak berhasil mendapatkan Kyuhyun. Namja itu tertawa melihat  mimik Yuri yang mulai kesal. Yuri terpana, akhirnya ia bisa mendengarkan tawa renyah Kyuhyun setelah sekian lamanya menghilang. Kyuhyun yang ia kenal telah kembali.

Sayangnya, tidak jauh dari tempat di mana Kyuhyun dan Yuri berada, beberapa orang dalam sebuah mobil pick up tengah menyaksikan kejadian ini dengan rasa malu.

“Aaaaaaakh, apa yang sedang kita lakukan? Mengintai orang yang sedang bermesraan?” Jonghyun berteriak tapi tetap setia memasang teleskop masih di depan matanya,”Kyuhyun sialan kau!”

Changmin melepaskan teleskopnya,”Siapa yang tadi menyuruhku mengintai Kyuhyun? Ini sih bukan mengintai tapi seperti sedang menonton film romantis. Aish, malas aku melihatnya!”

Minho tersenyum masam, wajahnya seperti ingin muntah,”Perutku mual. Ketika stetoskup kupegang, aku langsung disuguhi adegan ciuman, cih! Apa Kyuhyun tidak bisa mencari tempat yang jauh lebih baik? Siapa tadi yang memberiku teleskop ini?”

Victoria mengacungkan tangannya merasa bersalah,”Mianhae, aku yang menyuruh tadi dan aku yang memberikan teleskop itu pada kalian. Aku tadi khawatir dengan Yuri. Aku takut Kyuhyun melakukan sesuatu yang buruk padanya. Tapi kalian menutup mata pas adegan ciumannya bukan?”

Ketiga namja itu memandang Victoria dengan perasaan kesal. Yeoja itu menutup mulutnya karena terkejut,”Kalian tidak….maksudku kalian benar-benar melihatnya? Aku saja tadi menutup mata.”

“Kami tidak. Aish, awas kau Vicky,” ancam Changmin. Ia mendekatkan badannya ke arah Victoria tentu saja nyali yeoja itu jadi menciut. Victoria mencoba mundur tapi tidak bisa karena mereka ada di mobil. Minho dan Jonghyun juga menatapnya dengan aneh. Bertiga mereka semakin mendekati Victoria.

“Kau mau apa? Jangan, tolong, kita kan berteman,” teriak yeoja itu. Ia menutup bagian dada dengan kedua belah tangannya. Victoria sangat ketakutan.

“Seraaaaaang!!!”

Tanpa diduga bantal-bantal dan isinya berhamburan menyelimuti tubuh Victoria. Rupanya ketiga namja itu melempar dan membentur-benturkan bantal ke setiap area dalam mobil sehingga bulu-bulu angsa putih di dalamnya bertaburan ke luar. Victoria menjerit-jerit karena ia alergi dengan bulu-bulu halus seperti itu.

“Rasakan kau!” seru Jonghyun tertawa senang diikuti tawa terbahak-bahak dari Changmin dan Minho. Namja itu memang menyimpan beberapa bantal tidur di mobilnya.

“Kalian…Awas kau ya!!!” teriak Victoria marah. Ia sampai bersin beberapa kali, hidungnya merah dan berair.

Mobil Jonghyun ikut bergoyang akibat kehebohan ini. Orang tidak bisa melihat apa yang terjadi karena seluruh jendela hampir tertutupi bulu angsa. Yang bisa mereka dengar hanyalah suara cekikikan yeoja dan beberapa namja. Jika kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam mobil itu, pasti kalian akan berpikir lain, mobil bergoyang, seluruh jendela tertutup, dan beberapa manusia berlawanan jenis yang tengah tertawa.

Benar saja, tiba-tiba body mobil van Jonghyun digedor dengan sangat keras.

“Hey kalian yang di dalam, apa yang kalian lakukan di sana? Kami polisi keluarlah!”

Victoria, Changmin, Jonghyun, dan Minho terkejut setengah mati. Mereka tidak mengerti kenapa polisi tiba-tiba memukul-mukul mobil mereka.

“Kita salah apa?” tanya Minho sambil berbisik ketakutan dibalas gelengan kepala teman-temannya yang lain.

“Ayo keluarlah, jangan berbuat mesum di sini! Ini bukan area pelacuran!”

“Mwo?????”

Mereka saling berpandangan, jadi kehebohan yang terjadi di dalam mobil ini karena disangka melakukan ‘sesuatu’?

“Aku takut keluar, nanti aku masuk penjara, aku bisa dikeluarkan dari kampus,” Victoria berucap tersendat-sendat,”Mau ditaruh ke mana muka cantikku ini, hik.”

Teman-temannya tidak merespon, mereka sibuk dengan nasib masing-masing.

“Aduh bagaimana ini? Apakah mereka percaya jika kita jelaskan bahwa kita tidak melakukan perbuatan senonoh di sini?” badan Changmin menggigil.

“Ya ampun pacaran saja belum pernah, sudah dituduh berbuat mesum. Nasib, nasib,” sesal Jonghyun sambil meratap.

Suara gedoran mobil semakin keras, kali ini terdengar suara polisi wanita.

“Kalian di dalam, cepat keluar, dengan kedua tangan di belakang kepala. Ayo cepat!!!!”

Keempat orang itu saling berpandangan, mereka bingung. Seperti buah simalakama, keluar dan tidak keluar mobil, efeknya sama saja. Sama-sama akan dibawa ke kantor polisi. Bedanya hanya masalah waktu saja.

Dor Dor Dor, suara gedoran itu semakin keras saja. Akhirnya mereka mengalah, dimulai dari Minho, kemudian, Changmin, Jonghyun dan Victoria,  mereka keluar dari mobil dengan kedua tangan disimpan di belakang kepala. Persis seperti pencuri yang baru tertangkap polisi. Wajah mereka pucat pasi.

Setelah berada di luar, keempat orang  itu menunduk sambil menutup mata, tidak berani melihat ke depan. Pasti banyak orang yang akan melihat wajah mereka. Benar-benar apes. Kyuhyun dan Yuri yang bermesraan malah mereka yang kena masalah. Sedetik, dua detik, mereka menunggu suara cemoohan dan teriakan massa. Jangan-jangan segala macam barang juga akan dilempar ke mereka. Suasana hening. Tapi kenapa tidak ada suara? Serempak mereka menengadah dengan takut-takut. Apakah orang-orang itu bersembunyi. Mereka membuka mata serempak.

“Kau?” Victoria, Jonghyun, Minho, dan Changmin berteriak  karena terkejut,”Kyuhyun!”

“Hahahaha, aku tidak menyangka kalian sudah sangat dewasa,” Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. Di belakangnya berdiri Yuri sambil tersenyum kikuk.

“Sialan kau!” teriak keempat orang itu, dongkol setengah mati. Jadi polisi tadi Kyuhyun dan Yuri.

Jonghyun berteriak sambil mengelus dadanya,”Aku hampir mati tadi.”

“Aku malah sudah memikirkan untuk membuat surat warisan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keluargaku bisa menghadapi skandal ini,” Minho benar-benar menangis. Yuri jadi merasa bersalah. Ini semua gara-gara Kyuhyun.

Si biang usil Kyuhyun hanya menyeringai sambil berkacak pinggang,”Lagian, siapa suruh kalian memata-matai kami?”

Yuri menatap keempat orang itu malu. Jadi mereka melihatnya?

Keempat sahabatnya menyeringai sambil terkekeh,”Lain kali carilah tempat lain, Kyuhyun. Bukan di tengah jalan, di gang lagi.”

“Jadi kalian benar-benar melihat?” tanya Yuri dengan muka pucat pasi. Rasanya ia ingin memukul Kyuhyun karena bertindak sembarangan.

Victoria tersenyum,”Tenanglah Yuri untuk scene privasi kami menutup mata hehehe.”

Mereka tertawa terbahak-bahak kecuali Kyuhyun dan Yuri yang tersenyum masam.

“Sudah-sudah kawan, jangan meledek mereka terus,”Minho menengahi sambil terkikik. Ia langsung merangkul Kyuhyun,”Yang terpenting Kyuhyun sudah kembali pada kita. Bukan begitu?”

Minho menatap sahabatnya itu, meminta kepastian. Kyuhyun mengangguk dan tersenyum cerah,”Ya ya ya, aku pulang. Kemarin aku membutuhkan waktu sendiri dan sekarang aku siap menatap dunia. Ada kalian, ada member Super Junior , kalian tidak meninggalkan aku walau aku bermasalah. Aku merasa kuat …”

“Maaf, tampaknya kau melupakan yeoja chingumu dalam kata sambutanmu barusan,” potong Changmin.

Yuri terperangah, melihat ke kanan dan ke kiri dengan perasaan tak menentu,”Yeoja chingu? Kyuhyun memiliki yeoja chingu? ”

Muka Kyuhyun memerah,”Baiklah, aku juga ingin berterima kasih untuk yeoja chinguku atas kesabarannya dalam menghadapiku. Dari dulu hingga kini dia selalu menjadi malaikat pelindungku. Aku akui, aku bukan namja yang tahu bagaimana menghadapi yeoja, tapi dia tidak pernah menyerah dengan namja sulit sepertiku. Dia selalu mendukungku. Darinya aku belajar banyak, tentang keyakinan dan ketegaran.”

Namja itu menoleh ke arah Yuri yang masih tak yakin siapa yang sedang dibicarakannya,”Terima kasih dari hatiku yang paling dalam untuk Kwon Yuri, Anggrek Liarku.”

Terdengar suara orang bersuit dan bersorak, rupanya keempat sahabat Kyuhyun yang membuat suasana hening menjadi heboh seperti itu. Dan Yuri masih tidak percaya dengan pendengarannya. Jadi yeoja yang dimaksud Kyuhyun adalah dirinya? Jadi dia yeoja chingu Kyuhyun?

“Cium cium cium cium!” teriak teman-temannya.

Sepertinya Kyuhyun menuruti permintaan konyol itu, karena ia langsung meraih tubuh Yuri dan menggenggam tangannya. Tentu saja yeoja itu malu, dia menarik tangannya.

”Apa yang kau lakukan?” tanya Yuri dengan mata melotot.

Kyuhyun tersenyum dengan percaya diri, “Menciummu lagi? Boleh?”

“Tidak kuijinkan. Memang aku yeoja chingu-mu?”

Kyuhyun mengangguk,”Tentu saja.”

“Sejak kapan?”

“Sejak namamu masih Wild Orchid, Anggrek Liar, kira-kira 15 tahun lalu?”

Yeoja itu terpana,“Bagaimana bisa?”

“Kau sudah lupa ya? Bukankah kau yang membuatku harus berjanji untuk menjadi suamimu kelak. Sejak hari itu kita sudah sah pacaran.”

Yuri masih terbelalak,“Itu hanya ocehan anak kecil. Kau tidak menganggapnya serius bukan?”

“Aku selalu serius dengan janjiku,” namja itu mengacungkan dua jari tangannya membentuk huruf  ‘V’,”Bahkan kau berjanji akan menjadi istri yang baik untukku dengan banyak anak kembar.”

“Apa? Aku dulu berkata seperti itu? Tidak mungkin! Jika iya itu hanya khayalan karena terlalu sering mendengar cerita Cinderella,” Yuri tidak percaya dirinya bisa berimajinasi aneh saat kecil dulu.

“Aish, apa maksudmu? Jadi kau yang tidak serius denganku?” dalam hati kecil Kyuhyun tertawa tapi juga sedikit jengkel. Yuri entah sedang mengujinya atau pura-pura bodoh. Tapi pertengkaran kecil itu terus berlanjut. Kyuhyun yang terus menggoda dan Yuri yang selalu terpancing.

“Jadi kita pacaran?”

“Iyalah. Kau ini pintar, tapi urusan seperti ini kenapa kau jadi berlagak bodoh. Kita tentu pacaran titik.”

“Tapi aku tidak pernah mendengar kau menyatakan cinta padaku.”

“Memang harus. Baiklah, hmm… ah tidak, aish aku tidak bisa. Aku bukan namja romantis seperti itu.”

“Kalau begitu kita tidak pacaran sampai kau mengatakannya”

“Yuriiiiii!!!!! Aish, kau ini.”

Baiklah, kita baru saja menyaksikan adegan romansa Kyuhyun dan Yuri yang akhirnya diakhiri dengan kepastian status. Walaupun Kyuhyun belum mengatakan rasa cintanya tapi semua sepakat mereka telah menjadi sepasang kekasih. Kalian bahagia? Tentu saja. Setelah kerumitan dan lika liku perjalanan cinta mereka, kedua orang itu berhak untuk bahagia. Mereka berhak bersatu. Tapi sayangnya hidup kedua orang itu tidak bisa layaknya dongeng-dongeng para puteri dan pangeran ala Grimms bersaudara. Mereka tahu bahwa kisah yang baru terajut ini tidak bisa otomatis akan menjadi “happy ever after” atau “bahagia untuk selamanya”. Penulis cinta manapun tidak akan serta merta membuat kisah kasih bahagia tiba-tiba. Jika ingin mencapainya, mereka harus berjuang.

Mengukur kadar cinta adalah dari seberapa besar perjuangan dan pengorbanan masing-masing. Sehingga terlalu dini jika mereka mendapatkan takdir “happy ending”sebelum perjuangan itu dilakukan. Dan mari kita lihat, apakah mereka mampu mempertahankan cinta itu? Atau jangan-jangan yang terjadi selama ini hanya karena kobaran nafsu. Waktu yang akan membuktikan karena perjalanan masih panjang.

Tapi kalian jangan kecewa dahulu. Setidaknya Kyuhyun dan Yuri sudah dibekali dengan berbagai terpaan hidup. Itu yang membuat cinta mereka akan kuat. Kekuatan lain adalah karena dalam hubungan seperti ini, masing-masing bisa saling mengandalkan dan mengisi satu sama lain. Yuri dengan ketegarannya dan Kyuhyun dengan otak dan kemampuan istimewanya. Dan tugas penulis, adalah merangkai semua perjuangan cinta itu dalam sebuah catatan yang dapat terbaca semua orang. Memberi inspirasi bahwa cinta bukan hanya menerima tapi justru memberi.

Mari kita tengok lagi pasangan ini, Kyuhyun dan Yuri masih saling berbicara, seolah lama sekali mereka tidak berjumpa. Mereka tidak sadar keempat sahabatnya sudah meninggalkan tempat itu diam-diam. Hanya terdengar obrolan dalam mobil van Jonghyun. Walau siapa yang bicara ini dan siapa yang bicara itu tidak bisa diidentifikasi, tapi setidaknya kau bisa tahu bahwa pilihannya hanya  antara empat: Minho, Jonghyun, Changmin atau Victoria.

“Melihat mereka rasanya aku ingin muntah lagi.”

“Sabar, nanti setelah kita masuk ke jalan sepi. Kau bisa muntah sepuasnya.”

“Kau tidak sedang menggunakan teleskop untuk mengintai mereka bukan?

“Eh tidak, ehm tidak jadi. Scene-nya tidak menarik.”

“Memang kau mengharapkan adegan romantis yang seperti apa? Dasar Penguntit Maniak!”

“Penguntit maniak? Julukan apa itu? Jelek sekali tidak sepadan dengan mukaku.”

“Ceritanya semakin seru sebenarnya. Sayang kita harus pergi.”

“Seru bagaimana, belum apa-apa sudah bertengkar.”

“Woek! Woek!”

“Kau benar-benar muntah?”

“Iya, Woek! Tolong carikan plastik!”

“Baunya. Kau habis makan apa? Aduh tolong ada yang muntah di mobilkuuuuu!”

 

*********

 

Tapi tampaknya kebahagiaan itu harus berbenturan dengan fakta baru. Sesuatu yang menakutkan tengah terjadi. Entah kenapa Tuhan senang memberikan keseimbangan dalam artian akronim bagi pasangan ini seperti kaya versus miskin, baik versus jahat. Karena di saat bahagia seperti sekarang ini, ada sisi suram yang sedang terjadi. Kyuhyun tidak mengetahui ini. Tapi sebenarnya mimpi buruknya telah menunjukkan pertanda. Orang-orang jahat itu ternyata tidak puas hanya telah memasukkan Lee Shi Hwa ke penjara. Balas dendam itu belum usai.

Di tempat lain, di sebuah negara asing yang beribu-ribu mil jauhnya dari  tempat dimana Kyuhyun dan Yuri berada sekarang. Seseorang bermantel dan bertopi tengah melawan derasnya hujan dan berlari-lari mencari sesuatu. Asalnya ia menelepon seseorang tapi entah mengapa tiba-tiba ia melemparkan handphone-nya ke jalan dan langsung menginjaknya, sepertinya ada sesuatu masalah yang membuatnya harus rela kehilangan ponsel mahal tersebut. Orang itu melirik ke sana ke mari, berlari-lari lagi, mungkin mencari tempat berteduh? Ternyata tidak, tujuannya adalah telepon umum di ujung jalan sempit itu. Orang itu masuk, menyambar gagang telepon dan kemudian memencet beberapa nomor. Suara Hallo dalam aksen Korea terdengar dari seberang sana. Tidak ada hal yang menarik dari pemandangan itu. Tapi mendengar, ia terus menyebutkan nama Cho Kyuhyun dan Lee Shi Hwa, rasanya wajar jika kita curiga.

“Mereka berhasil melacakku. Mereka telah mengidentifikasi sinyal dari HP-ku.”

“Lantas apa yang kau lakukan?” suara yang familiar tampak terdengar dari seberang telepon.

“Aku membuangnya.”

“Bodoh, tetap saja dapat terlacak. Segera menghilang.”

“Ke Korea?”

“Bodoh, kau tidak memiliki visa masuk ke sini. Namamu sudah di blokir. Super Junior sialan itu sudah mengetahui identitasmu sebelum kau berhasil kabur. Anak buahnya sudah memasang pengintai di sepanjang semenanjung Korea untuk menangkapmu.”

“Jadi aku harus pergi ke mana?”

“Ke mana saja dulu, pakai kapal laut milik nelayan di area perbatasan. Tim ku akan menjemputmu. Kode akan berubah.”

“Apakah Super Junior dapat mengintaiku sampai perbatasan?”

“Mungkin saja, mereka dapat melacak sandi kita. Tapi aku akan melindungimu.”

“Kau harus melindungiku. Aku telah berjuang untukmu.”

“Tentu, perjuangan ini hampir berhasil. Kebenaran sebentar lagi akan ditegakkan, Lee Shi Hwa akan merasakan kebodohannya. Kyuhyun akan bertekuk lutut di ujung kakiku. Aku tidak sabar menanti kesempatan itu,” terdengar suara tawa dari orang yang sedang ditelepon namja bermantel itu.

“Aku sudah membaca beritanya, kau brilian, Menteri Cho akhirnya ditangkap, Kyuhyun sebentar lagi gila. Balas dendam kita akan segera tuntas.”

“Jangan senang dulu, aku tidak akan membuat mereka mati mudah. Mereka harus merasakan apa yang kita rasakan dulu. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Kyuhyun melihat seluruh keluarganya dibantai di depan matanya. Dan aku akan melindungimu. Karena hanya kita yang tersisa.”

“Aku percaya padamu. Tapi para pemimpin tidak melihatku begitu. Jika aku tertangkap mereka tidak akan bertanggung jawab. ”

“Para Pemimpin itu urusanku, mereka hanya mengatur ini itu tapi sebenarnya aku yang di bawah yang mengendalikan. Mereka hanya ingin harta dan kekuasaan. Aku bisa memberikannya asal aku bisa membuat keluarga Kyuhyun menderita. Sekarang lekas pergi dan jangan tinggalkan jejak lagi. Super Junior semakin kuat. Ancaman investor tidak mampu membuat mereka mundur.”

“Mungkin para pemimpin akan turun tangan? Perusahaan itu bisa saja diakuisisi atau dinyatakan pailit sehingga mereka tidak memiliki kekuatan”

“Mungkin saja, tapi itu bukan urusanku. Aku hanya menunggu saat di mana semua lengah dan akan ku hancurkan klan itu, seperti mereka menghancurkan klan kita hingga punah.”

“Hati-hati mereka bisa menangkapmu. Terutama Super Junior, mereka sangat berbahaya.”

“Menangkapku? Setelah sedekat ini. Tidak mungkin, percaya saja padaku.”

“Kau yakin masih bisa menjaga penyamara…”

Klik!

Telepon diputus sepihak, orang bermantel itu bergegas pergi. Mungkin ke perbatasan seperti yang diinstruksikan atau tempat lain, entahlah! Apapun yang sedang direncanakan, pastilah amat menakutkan. Nyawa Kyuhyun masih terancam bahaya, begitu juga dengan keselamatan keluarganya. Ternyata permasalahannya terkait masalah politik di masa lalu dan balas dendam yang dilatar belakangi pembantaian suatu klan atau atau keluarga. Jika benar, ini sangat sangat sangat serius. Kebahagiaan Kyuhyun bersama Yuri ternyata awal dari untaian masalah yang jauh lebih kompleks dari sekedar kasus korupsi Appa dan kebohongannya.

Pada waktu yang bersamaan, tiga cerita memang tengah terjadi. Yang pertama, Kyuhyun yang masih menikmati kebersamaannya dengan Yuri, seolah-olah dunia hanya milik berdua saja. Hal yang diwajarkan mengingat bagaimana penantian dan pengorbanan sepasang ini. Yang kedua, penjahat di negara antah berantah yang tengah menyusun strategi entah dengan siapa. Siapapun, mereka adalah tokoh utama dibalik tergulingnya Menteri Cho dan kejatuhan Kyuhyun.

Dan satu lagi. Di sebuah gedung pencakar langit yang paling tinggi seantero Korea, Suju Tower. Dari balik kaca menaranya, di sebuah ruang oval yang amat rahasia, seluruh member Super Junior sedang berkumpul. Sebuah televisi LED sebesar layar bioskop dengan imej peta dunia dan pancaran lampu berkedip-kedip di setiap titik didalamnya membentang dengan sangat megah. Apapun yang mereka katakan pasti berhubungan dengan komunikasi yang dilakukan kedua penjahat itu. Sayangnya kita tidak bisa mendengar apa yang dibicarakannya karena akses untuk ruang oval benar-benar tertutup bagi orang umum. Hanya sesekali terlihat Yesung menunjuk-nunjuk garis merah yang melintang melintasi setiap negara dalam peta LED itu. Disusul Siwon yang sedang bermain dengan pemancar mini dalam genggamannya. Donghae yang menyentuh televisi bagai layar sentuh tablet ke sana ke mari. Henry dan Zhoumy yang sedang berkomunikasi dengan bahasa China bersama Hanggeng dalam layar kaca yang lain. Mereka terus berinteraksi dengan menggunakan kecanggihan teknologi. Tapi di sudut lain terlihat Ryeewok dan Sungmin yang sedang memakai baju rompi anti peluru dan Kangin yang sedang memeriksa peluru pistol satu persatu.

Apapun itu, keseriusan masalah ini tampaknya sudah terbaca oleh Super Junior. Tidak ada waktu lagi rehat, tidak ada waktu lagi untuk bicara. Sekarang saatnya bergerak. Apa yang akan mereka lakukan sekarang ini mungkin akan merubah sejarah Korea entah untuk menjadi lebih terang atau sebaliknya.

TO BE CONTINUED

I’m very happy to announce WO 10. It has been 2-3 months since WO 9. I hope you like it. Nothing can say just please read it, give me LIKE and COMMENT. I need both of them to support me in writing. People said writing is just a piece of cake. For who? Me? Nope. It’s very hard especially for working girl like me. So, please show your support by these things. And one more, if you don’t mind, I’m very glad if you can be my follower in my wordpress.

Deeugh so B. Inggris, g pa2 deh, kali2 ya. Y pokoke selamat menikmati aja. Keep in touch ya, walaupun aku jarang nongol tapi sebetulnya aku selalu mengintaimu hihihihihi (efek abis nulis WO jadi agak2 gimana gitu otaknya)

Pengen ngucapin happy fasting in Ramadhan. Maaf kalo ada tulisan yang mengganggu ibadah, tapi aku udah usahakan berkurang banyak banget dari yang tadinya mau ditulis makanya memen Kyuri kupotong dulu demi kemaslahatan bersama. Tapi kalo keberatan aku bisa mengerti. nanti kalo sempet aku edit lagi.

Oh ya aku pengen banget nambah follower di blog ini, submit ya hehehe, seneng aja kan kalo tau temennya banyak. Kutunggu yaaa

Segitu ajah, mo pulang bukber dulu yaaaa, daaag

Miss u, need ur support nowadays 🙂

 

Advertisements

176 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s