Declaration of My W

BOqaFrtCMAEJUGL

Lenght: Ficlet

Cast: Nam Woohyun and, You.

Genre: Secret

Warning: Just a fiction, dont take it so serious^^ and, forgive me for miss editing/typo.

it’s my own fiction: AngelBesideMey (Mey)

Declaration of My W

It’s already too late. Don’t fooling around and became my W!

Yes, this is order.

*

bola mata itu beradu dengan milikmu. Mendekatimu secara perlahan—kau  berusaha menahan deru nafasmu agar tidak terdengar pendek-pendek saat berada didekatnya. Tapi, kau juga tahu kalau semua itu gagal. Ini sia-sia, dalam jarak sedekat ini tentu dia akan tahu betapa kacaunya hati dan pikiranmu saat itu.

Walau semua itu yang kau harapkan—sebenarnya.

Perlahan kau mendongak.

Menatap manik hitam legam yang lekat pada hazel-mu.

Ini absurd!!

Kau terjerembab disana.

Tatapannya seakan membelenggumu dan kau tidak sanggup untuk sekedar berpaling atau mundur. Kau tetap disana berhadapan dengannya dari mata kemata.

Saling berkomunikasi hingga akhirnya semua selesai.

Kau terlebih dulu menunduk, menggelengkan kepalamu sekeras yang kau bisa.

“Jangan pergi.” Serakmu.

Dia—yang kau puja hanya tersenyum. Menyembunyikan duka, mata legamnya kini sedikit berair menampakkan kalau sebenarnya dia sama denganmu—tidak rela. Kau tahu dan terus berharap—dia mengubah rencana.

Tidak keluar dari sana—pintu terkutuk itu!

Tapi, seakan tidak mendengar harapanmu—kau lihat orang yang kau puja menggelengkan kepalanya. Rambutnya yang bewarna coklat kemerahan dan mulai sedikit panjang itu bergoyang seiring gelengan. Tanpa kau sadari, kau menahan nafasmu.

Inikah pilihannya?

Kau hanya bisa mendesah dan mulai tertawa keras. Sekeras suara hatimu yang kini berteriak meminta, siapa saja membantumu keluar dari rasa sakit yang perlahan menjalar.

Menusuki tulangmu.

“Maaf.”

Itukah sepatah kata yang dia ucapkan? Lebih tepatnya hanya itu?

Setelah rasanya seluruh tubuhmu tercabik-cabik hingga kau tidak bisa merasakan kulit dan tulangmu?

“Kubilang jangan pergi! Apa kau tuli?”

Jeritmu, tak kuasa menahan semua. Kau sudah menyiapkan berjuta frase untuk kau lontarkan padanya. Semata-mata agar dia merubah segala aspek yang baru saja dia putuskan.

Ya benar, kau tidak rela dan hanya ingin semua ini berakhir.

Kala kau mendengar satu kalimat lagi darinya, kau berharap itu kabar baik.

Bukan penolakan maupun gelengan.

Tidak seperti itu.

“Tapi, aku harus.”

Kau mulai memejamkan kelopak matamu erat-erat. Menutup kupingmu dan berusaha seakan jemari tanganmu bisa benar-benar menutupnya. Menulikanmu, melupakan jika ada celah disana dan kau tetap bisa mendengarnya. Memanggil namamu sambil menggoyahkan tubuhmu, agar matamu terbuka dan menatapnya lagi.

Mata kalian kembali bertemu. Kau bisa merasakan panas pada matamu, seiring dengan melubernya benda basah dipipimu.

Kau tersedu, tidak sanggup menelisik lebih jauh si mata legam.

Mungkin ini akan lebih jauh dan, lebih jauh jika suara itu tidak mengganggumu.

Orang yang sejak tadi berada didepanmu tergelak. Dapat kau rasakan tubuhnya bergetar menahan tawa semakin membahana. Dan didetik itu kau melemparkan benda yang sejak tadi kau genggam.

Buku—

“Aku hampir menghayatinya Nam Woohyun!!”

Kesalmu.

Buku naskah yang tadi kau lemparkan tergeletak begitu saja dilantai marmer rumahmu. Tapi, karena kesal kau membiarkannya teronggok disana, dan berfokus pada Woohyun yang kini berada dibawahmu. Entah sejak kapan dia sudah berguling-guling dilantai. Menertawakanmu—menertawakan actingmu.

Membuatmu mendengus dan mengumpulkan lipatan bibirmu menjadi satu. Menatapnya tajam.

So bothering!!

“I hate you!!”

Kau memekik lagi. Tapi tidak membuat Woohyun menghentikan tawanya. Kau jengkel dan pergi, menghentakkan kakimu menuju dapur, lebih spesifik ketempat bak cuci di pojok dapur. Kau menyalakan keran dan merasakan ratusan mili liter air membasahi telapakmu. Tanganmu melengkung kedalam meraup sejumlah air dan meneguknya, sekaligus membasuh mukamu sendiri.

Ini bagus, kesegaran air sedikit banyak mengubah moodmu yang rusak karena Woohyun.

Woohyun–

Woohyun–

Ya, Nam Woohyun–

Kau menggeram menyebut namanya. Sedikit–oh, bahkan sangat banyak–terbesit penyesalan diotakmu ketika kau memutuskan Nam Woohyun sebagai teman latihanmu untuk pementasan drama.

Ada begitu banyak lelaki yang lebih bisa serius dari Nam Woohyun, jadi, kenapa harus dia?

Kau memekik lagi dalam hati, menggerutu tanpa henti.

Tak sadar lelaki itu sudah ada didepanmu. Memasang tawa dengan gigi-gigi yang terlihat jelas.

Asumsimu, Woohyun benar-benar tidak menyesal sudah menghancurkan semua.

As expected–

“Apa kau?!!”

Kesalmu. Mencoba dengan segenap jiwa tidak melemparkan…… Hey, ada banyak benda berbahaya didapur… mungkin lebih lama lagi kau bisa melihat benda seperti gelas dan pisau melayangi Woohyun.

Tapi, kau menahan semua, menunggu kira-kira apa yang akan meluncur dari orang yag sudah sejak kecil kau kenal ini.

“Aku tidak suka adegannya.”

Pada akhirnya Woohyun menghentikan seringai tawanya. Bibir merahnya mengerucut senada dengan desahan kecil dari sana.

Jadi HANYA karena itu?

Dia menghancurkan actingmu yang nyaris sempurna HANYA karena itu??!

“Lalu kenapa kau tertawa?”

“Ekspresimu lucu.”

Dan– BUM…..

Seakan duniamu meledak kau ternganga. Bibirmu terbuka, siap berucap sumpah-serapah yang ada dimuka bumi ini.

Kalau Woohyun mengatakan kau lucu, bukankah itu artinya actingmu tidak maksimal?

Bagaimana bisa adegan seperti tadi ada kesan lucunya?

Did i failed?

Kau mulai berpikir, cukup sedih mengingat begitu banyak waktu yang kau korbankan hanya demi sedikit latihan. Melatih mimik wajah, emosi, serta gesture.

Bahkan kau sudah akan menumpahkan airmata tadi, catat, tanpa bantuan alat semacam obat tetes mata atau serbuk merica untuk adegan menangis.

NONSENSE!!

Ini benar-benar absurd!

“Lucu dimananya?”

Kau meledak lagi.

Dengan separuh muka tidak percaya menatap Woohyun. Jemari tangan pria itu terpaku pada dagu, menerawang jauh. Mengingat-ingat actingmu beberapa saat lalu.

Ini aneh, kau mulai menggigiti bibir bawahmu gelisah. Tanganmu mencengkeram erat sisi keran.

Takut yang  akan Woohyun ucapkan menusuk hatimu.

“Jangan salah paham, actingmu bagus. Sangat bagus malah, hanya saja… aku tidak pernah melihatmu seserius itu selama kita kenal.”

Hah—

Kau mendesah lega. Merasakan jantungmu hampir copot beberapa saat lalu membuatmu begitu tegang. Tak kau sangka ternyata itu yang Woohyun ucapkan.

Setidaknya kau tidak gagal, dan itu cukup membuatmu melemaskan otot-otot yang sempat kau buat tegang.

“Jadi kesimpulannya?”

“Carilah orang lain untuk adegan itu. Aku benci melihatmu bersikap seperti akan meninggalkanmu layaknya…. siapa tokoh pria utamanya? Namu? Whatever—kita berteman sudah sangat lama, aku tidak sanggup membayangkannya.”

“Maumu?“

“Adegan enam puluh delapan. Saat Namu dan kau menyadari perasaannya.”

“Kali ini sungguh-sungguh?”

Sure.

Woohyun mengangguk, dan kau segera mengamit lengannya. Membawanya keruang tengah.

Adegannya simple, kalian hanya perlu berakting seakan baru menyadari perasaan cinta kalian yang sudah lama terpendam sejak pertemuan pertama.

Bersetingkan perpustakaan yang kala itu sepi. Dan– ada sedikit adegan romantis.

Kiss scene.

Tapi kau percaya, jika itu Woohyun mungkin bisa kita katakan sebagai–IMPOSIBLE.

Big imposible.

Karena kau tahu. Woohyun tidak akan serius menjalani ini semua.

Begitu pikirmu.

Tentu saja, melihat senyum lebar Woohyun saat membaca ulang naskah. Tidak berat bagimu untuk menelisik jauh dalam pikirannya.

Lelaki itu sedang menertawakan naskahmu.

Cerita yang akan kau perankan.

Seharusnya kau tahu, walau Woohyun itu romantis pada perempuan. Kalian sangat dekat tapi tetap saja akan, canggung dan—lucu ketika dalam suasana begini. Harusnya kau mengajak Myungsoo adikmu untuk berlatih. Rasanya itu lebih briliant.

Rasanya.

Ah—lagi-lagi kau merutukinya.

Coba saja dulu, kali ini kesempatan terakhir. Anggap saja begitu.

And—everything start…

“Kau tahu? Kau seperti lautan bintang diatas langit.”

“Eung?”

“Dari kecil bintang nampak dilangit sana. Tapi, aku tak pernah tahu ada berapa jumlahnya. Tahu-tahu mereka tengah menerangi tiap malamku dan menghibur setiap aku menengok kesana.”

“Lalu apa hubungannya denganku?”

“Kau dan bintang sama. Aku sama-sama bersamamu sejak kecil. Tapi, aku tidak pernah menyadari perasaanku padamu. Tahu-tahu  kau sudah menjadi yang paling berharga disisiku.”

“Maksudmu?”

Woohyun tersenyum sejenak. Kau mengernyit, seakan segalanya samar bagimu. Tubuh Woohyun condong, terarah padamu.

Wajahnya tepat berada disamping wajahmu hingga kau dapat merasakan nafasnya berhembus sempurna di area tengkuk.

Saranghae.

Bisiknya.

Sukses membuatmu tersenyum lebar, kau menoleh menatapnya. Jarak kalian hanya sejengkal—tapi, itu tak berarti apa-apa karena misi telah usai. Dan kau terlampau senang melihat Woohyun sungguh-sungguh membantumu. Tinggal sejenak lagi sebelum adegan inti… kau mulai gugup. Jantungmu terus berpacu dan tangannmu yang memegang buku naskah terasa lebih erat mencengkeram.

Ini hanya Woohyun, tidak apakan hanya satu kecupan?

Mungkin harus dihentikan–

Awalnya itu pikirmu, kalau Woohyun tidak berucap kembali sebelum tersenyum.

“Aku tidak akan menciummu seperti disakah. Sebenarnya, tadi itu bukan acting. Aku serius, ketika berkata tentang bintang dan, saranghae.”

Seketika kau membeku. Tak sanggup berkata apa-apa ketika Woohyun memundurkan wajahnya dan berbalik, menjauhimu.

Hampir saja kau melemparkan buku naskahmu sekali lagi, jika—

Jika kau tidak melihat telinga Woohyun bewarna seperti tomat.

Sama denganmu—

Jadi intinya… ini serius?

“Kutunggu jawabanmu setelah pementasan berakhir di baris pertama.”

Finish

RCL, please xD

Advertisements

63 responses to “Declaration of My W

  1. annyeong~
    aku seorang yeoja bodoh yang baru mengenal sosok namu dan mulai mencintai namja gombal, bodoh tapi lucu dan manis itu >.<
    aku suka ceritamu thor ^^
    membuat aku tersenyum sekali lagi karena menyebut nama nam woohyun 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s