Something You Don’t Understand [Part 6]

Luhan-crop

[A Fanfict From A Friend]

Author : @syadzadhanti

 Genre : Romance, action | Rating : PG-13

 Length  : Multi Chapter

 Main casts: Xi Lu Han, Park Yoora (OC)

Other casts :

Gong Ah Ri (OC), Kim Minseok (Xiumin), Wu Yi Fan (Kris),

Zhang Yixing (Lay), Kim Jongin (Kai), Gong Ah Hwa (OC)

 

[PART 1] | [PART 2] | [PART 3] | [PART 4] | [PART 5] | [PART 6] |

I also have my own wordpress, you can check it^^ ohyeolliepop.wordpress.com. Kamsahamnida^^

***

Something You Don’t Understand

Lutut Ah Ri terasa lemas sampai tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Dalam hitungan detik Ah Ri jatuh bersimpuh di dekat Yixing yang tergeletak tidak berdaya. “Yi.. Yixing..,” ucapnya terbata. Ia meraba punggung Yixing dengan tangan bergetar. Sebuah peluru telah bersarang disana. Ah Ri segera memeriksa urat nadi Yixing dan denyut nadi namja itu terasa lambat sekali.

 

Tiba-tiba seorang namja berwajah pucat masuk ke dalam ruangan. Dia adalah orang yang sudah menembak Yixing. Kim Minseok. Minseok segera menghampiri Luhan yang masih setengah sadar karena baru siuman dan dengan cepat melepas ikatan di tangannya. Minseok juga menggunakan peralatan yang dibawanya untuk merusak pasung di kaki Luhan. Ia lantas menggendong Luhan di punggungnya dan bergegas membawa Luhan keluar.

Bruk.

Ah Ri menyilangkan kakinya tepat saat Minseok berjalan di depannya dan sukses membuat Minseok terjatuh. Dengan cepat Ah Ri merebut pistol di tangan Minseok dan menempelkannya di pelipis kanan Minseok.

“Angkat tangan,” perintah Ah Ri. Minseok diam saja, ia tidak menyangka akan dipecundangi seperti ini oleh seorang gadis. “Angkat tangan!” perintah Ah Ri sekali lagi. Dengan terpaksa Minseok mengangkat kedua tangannya. Apa ia punya pilihan lain? Tidak. Minseok tidak mau mati konyol di tangan seorang gadis.

Ah Ri berjalan mundur beberapa langkah, namun masih mengarahkan pistolnya kepada Minseok. “Jangan bergerak atau aku akan menembakmu!” ancam Ah Ri. Ia lalu mendekati Luhan yang terkapar –saat Minseok jatuh, badan Luhan terpelanting ke belakang. “Luhan gwaenchana?” tanya Ah Ri. Luhan hanya meringis sedikit. Sebenarnya punggungnya terasa sangat sakit saat membentur lantai, tapi lebih baik ia tidak mengatakannya. Luhan rasa kondisi namja yang baru saja tertembak itu jauh lebih mengkhawatirkan. “Lebih baik kau periksa dulu keadaannya,” kata Luhan sambil menunjuk Yixing.

Ah Ri lalu mendekati Yixing dan menempelkan telinganya di dada bidang milik Yixing, bermaksud untuk memeriksa detak jantungnya. Tidak terdengar detakan apapun. Rasa panik langsung menjalari setiap sel dalam tubuh Ah Ri. Ia meraih pergelangan tangan Yixing dan memeriksa denyut nadinya lagi. Nihil. Ah Ri tidak merasakan apapun selain suhu badan Yixing yang sedingin es. Baru saja Ah Ri akan berteriak meminta bantuan..

“AH RI AWAS!” tiba-tiba ia mendengar suara teriakan Luhan. Terlambat, sebelum Ah Ri sempat membalikkan badan, ia merasakan sebuah hantaman yang keras mengenai bahunya. Ternyata Minseok memanfaatkan kelalaian Ah Ri yang sedang panik untuk balik menyerang gadis itu. Minseok menggunakan kayu pasung untuk memukul bahu Ah Ri. Minseok lantas menyeret Luhan namun sekarang Luhan jauh lebih sadar dari yang tadi. Luhan berusaha untuk memberontak, ia memukul perut Minseok dengan harapan Minseok akan tumbang.

Harapan Luhan tidak terkabul. Seharusnya Luhan ingat, ia tidak memiliki kemampuan bela diri sama sekali dan jelas ia bukan lawan yang sebanding untuk Minseok. Minseok balas memukul wajah Luhan dan meninggalkan bekas lebam disana. Ia lantas membawa Luhan keluar dari ruangan itu. Suasana benar-benar kacau. Suara tembakan terdengar sahut-menyahut di luar ruangan itu, menandakan sedang terjadinya baku tembak yang sengit.

Ah Ri, meskipun dengan menahan panik dan rasa sakit di bahunya, masih berusaha menggagalkan usaha Minseok untuk membawa Luhan pergi. Ia memegangi kedua kaki Minseok, menyulitkan namja itu untuk keluar.

“Sialan! Apa sih maumu?!” umpat Minseok. Ia menendang Ah Ri hingga badan gadis itu terhempas menatap tembok. Benturan yang cukup keras di kepalanya membuat Ah Ri jatuh pingsan. “Kau menyakiti seorang gadis! Kau gila?” maki Luhan. Minseok memukul wajah Luhan sekali lagi dan membuat sudut bibir Luhan berdarah. Ia menyeret Luhan yang tidak berdaya keluar dari ruangan itu. Dalam hati Minseok merasa sedikit was-was. Ia memang bisa menyingkirkan dua orang tadi, tapi rintangan terberat selanjutnya adalah Wu Yi Fan.

Rupanya seseorang telah ‘menyambut’ Minseok begitu ia keluar dari ruangan tadi. Wu Yi Fan. Sorot matanya begitu kejam, namun Minseok tidak mau kalah. Ia balas menatap Yi Fan dengan tajam, menunjukkan pada Yi Fan ia bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Minseok mengangkat pistolnya dan mengarahkannya kepada Yi Fan.

“Daridulu hal yang selalu ingin kulakukan adalah membunuhmu, Wu Yi Fan,” desis Minseok.

Yi Fan mendengus. “Menyingkirkanmu akan sama mudahnya dengan menyingkirkan dua temanmu yang bodoh itu,” ujarnya. Ia tersenyum penuh kemenangan. Ini adalah bagian dari taktiknya –menjatuhkan mental Minseok. Yi Fan yakin Minseok akan kehilangan konsentrasi dan pertahanannya jika menganggap kedua temannya sudah tewas.

Jantung Minseok seakan berhenti berdetak. Ia baru sadar, suara baku tembak itu tidak terdengar lagi. Apa itu tandanya.. Yoora dan Jongin tewas? Tangan Minseok bergetar. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyakiti Yoora, apalagi membunuhnya! Tanpa pikir panjang Minseok segera menarik pelatuk pistolnya. Yi Fan langsung menunduk dan dengan gerak cepat ia menendang tulang kering Minseok sehingga Minseok kehilangan keseimbangan dan jatuh. Yi Fan menginjak punggung Minseok dan menendang tubuhnya. Minseok cepat berbalik dan melepaskan tembakan sekali lagi, namun sayang Yi Fan berhasil menghindar. Minseok bangkit dan masih melepaskan tembakan ke arah Yi Fan. Yi Fan berkelit ke berbagai arah, menghindari peluru dari tembakan Minseok.

Setelah berada di posisi yang cukup strategis, Yi Fan merebut pistol dari tangan Minseok. Yi Fan mengangkat pistol itu dan mengarahkannya sejajar dengan kepala Minseok. “Berikan Luhan padaku,” kecam Yi Fan. Minseok menyembunyikan Luhan yang tidak berdaya di belakang badannya. “Tidak akan pernah,” desis Minseok. Yi Fan menaikkan alisnya, “Oh ya? Bahkan jika aku membunuhmu?” tanyanya.

Minseok terkesiap. Yi Fan tidak pernah main-main dengan ucapannya.

“HENTIKAN!” pekik seseorang. Orang itu datang dari belakang Yi Fan dan tanpa aba-aba ia merampas pistol dari tangan Yi Fan, mengarahkan pistol itu pada Yi Fan, kemudian menarik pelatuknya. Tubuh Yi Fan segera jatuh ke tanah. Kemeja yang dikenakannya terkoyak di bagian lengan, menandakan sebuah peluru telah menembus masuk ke dalam tubuhnya.

Orang itu –Yoora, menjatuhkan pistolnya. Giginya bergetar. “A.. Aku.. Ba.. Baru s-saja.. M-membunuh s-seo-o-rang..,” kata Yoora dengan terbata. Perasaan bersalah dan ketakutan menyeruak dari dalam batinnya. Minseok memandangi Yoora dan tubuh Yi Fan yang tidak bergerak tanpa bisa mengucapkan apapun. “A.. Aku a-adalah seorang p-pembunuh..,” lanjut Yoora lagi.

Minseok bergerak mendekati Yoora dan berusaha menenangkan gadis itu. Ia ingat, ia juga baru saja membunuh seseorang di ruangan tempat Luhan disekap. “JANGAN MENDEKAT!” pekik Yoora histeris saat Minseok akan memeluknya. “Aku adalah seorang pembunuh..,” sesalnya.

“Aku juga baru saja menembak seseorang dan kelihatannya ia tewas. Yoora, apa yang kita lakukan, itu benar-benar di luar kendali kita. Kita tidak punya pilihan lain,” ucap Minseok. Yoora menatap Minseok dengan mata berkaca-kaca. Apa yang dikatakan Minseok memang benar. Ia tidak punya pilihan lain –menembak Yi Fan atau Yi Fan lah yang akan menembak Minseok dan mengakhiri hidup namja itu. “Aku sudah mendapatkan Luhan. Ayo kita pergi dari sini,” ajak Minseok. Ia menyeret Luhandengan  dibantu oleh Yoora. Sementara itu di depan Jongin sedang terlibat perkelahian dengan seorang anak buah Broken Wings yang tersisa. Yang lain bergeletakan di tanah, entah masih hidup atau tidak.

Melihat Minseok dan Yoora keluar dengan membawa Luhan, Jongin rasa ia tidak perlu membuang-buang waktu lagi dengan lawannya ini. Ia segera mengeluarkan jurus andalannya, menghantam bagian belakang kepala lawannya itu, lalu kabur bersama dengan Minseok dan Yoora.

***

Sinar matahari yang menerobos masuk dari tirai jendela membuat Ah Ri pelan-pelan menggeliatkan badannya. Rasa sakit terasa hampir di seluruh tubuhnya, tapi yang paling terasa adalah rasa sakit di bahunya. Ah Ri menerawang ke sekitar dan menyadari bahwa dirinya sekarang ada di rumah sakit.

“Gong Ah Ri..,” panggil seseorang. Ah Ri menoleh dan mendapati appanya, Gong Ah Hwa, sudah berdiri di samping ranjangnya. “Appa senang sekali kau sudah siuman.”

Ah Hwa mendekati putri kesayangannya itu dan memeluknya pelan. Namun Ah Ri berjingkat sedikit dan meringis, pelukan appanya membuat bahunya terasa lebih sakit. Ah Hwa menyadari itu dan segera melepaskan pelukannya.

Mianhaeyo, appa.. Aku tidak bisa menjalankan tugasku dengan baik,” ucap Ah Ri dengan nada menyesal. Bulir-bulir air mata turun dari pelupuk matanya. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri.

“Tidak apa-apa, Ah Ri. Kau sudah berusaha sekuat yang kamu bisa. Seharusnya appa yang minta maaf karena sudah membuatmu berada dalam kondisi yang sulit seperti ini..,” ujar Ah Hwa. Ia membelai rambut Ah Ri pelan. Ah Ri menggeleng cepat. “Ini semua bukan salah appa,” sahutnya.

Tiba-tiba Ah Ri teringat pada dua hal yang sangat penting. “Bagaimana dengan Luhan, appa? Sekarang Luhan dimana? Dan, Yixing.. Astaga, bagaimana keadaan Yixing? Dia selamat, kan?” tanya Ah Ri terburu-buru.

“Luhan dibawa kabur oleh sindikat yang sudah menyerang Broken Wings.. Mereka adalah Black Eyes. Tapi kau tenang saja, karena mereka sudah terlacak, polisi sudah mengambil alih misi penyelamatan Luhan ini. Kau tidak perlu khawatir,” jelas Ah Hwa.

“Lalu bagaimana dengan Yixing?” tanya Ah Ri lagi.

Ah Hwa meneguk ludahnya pahit. Ia tidak tahu bagaimana cara mengatakan yang sebenarnya pada Ah Ri.

Appa tolong katakan padaku.. Bagaimana kondisi Yixing? Dia pasti baik-baik saja, kan?” kali ini Ah Ri bertanya dengan frustasi. Ia tidak siap dengan semua kemungkinan buruk yang berkelebat dalam benaknya.

Appa sangat menyesal mengatakannya padamu, tapi malang Yixing tidak bisa diselamatkan..,” lirih Ah Hwa.

Deg. Dunia berhenti berotasi. Ya, dunia Ah Ri. Tidak ada oksigen untuk bernafas, tidak ada harapan untuk hidup. Semuanya benar-benar berhenti bagi Ah Ri. Yixing.. Namja itu sangat dicintainya. Selama ini Ah Ri hanya bisa memendam perasaannya tanpa mampu mengatakannya kepada Yixing karena ia takut perasaannya tidak terbalas. Tapi mengingat kemarin Yixing membalas pelukannya.. Bukankah itu berarti Yixing juga mencintainya? Kenapa ia harus kehilangan Yixing di saat seperti ini?

“Tolong tinggalkan aku sendiri, appa,” pinta Ah Ri. Ah Hwa masih belum beranjak dari tempatnya, ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya. “Kumohon. Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya ingin sendiri.”

Ah Hwa mengerti. Akhirnya ia meninggalkan Ah Ri dalam ruang perawatannya sendirian.

***

Seseorang berjalan dengan terburu-buru masuk ke dalam sebuah rumah. “Tuan Park! Tuan Park!” panggilnya tergesa.

Park Ji Soo keluar dari dalam kamarnya, bersiap untuk menerima kejutan yang lain. Tadi pagi Ji Soo benar-benar terkejut saat Yoora, Minseok, dan Jongin mengetuk pintu kamarnya dengan penampilan yang berantakan. Baju mereka robek di beberapa bagian dan luka lebam menghiasi wajah mereka. Namun yang membuat Ji Soo lebih terkejut adalah orang yang mereka bawa. Luhan. Ternyata Yoora, Minseok, dan Jongin menyerang markas Broken Wings untuk merebut Luhan kembali. Ji Soo lantas memerintahkan anak buahnya yang lain untuk memeriksa kondisi markas Broken Wings –memastikan kondisi mereka.

“Saya sudah mendatangi markas Broken Wings, tapi saya tidak bisa memeriksa kondisi di dalamnya karena ada banyak orang yang berkerumun di sekitarnya. Markas itu juga diberi police line. Saya lalu bertanya kepada salah satu orang disana, orang itu bilang semua orang di markas itu dibawa ke rumah sakit terdekat karena semuanya dalam kondisi terluka,” kata orang itu dengan nafas memburu.

Ji Soo mengerutkan keningnya. “Police line? Sial, itu tandanya polisi sudah campur tangan dalam masalah ini.”

“Benar, Tuan Park.”

“Lalu bagaimana keadaan orang-orang Broken Wings? Apakah mereka semua tewas?”

Aniya, Tuan. Hanya ada satu korban tewas yang bernama Zhang Yixing. Yang lainnya selamat, termasuk seorang gadis dan pimpinan mereka sendiri, Wu Yi Fan.”

Kepala Ji Soo seakan ingin meledak. “Panggil semua orang.”

Orang itu mematuhi perintah Ji Soo. Ia memanggil semua orang, termasuk Yoora, Minseok, dan Jongin. Minseok membawa Luhan saat menghadap Ji Soo, takut kalau-kalau kejadian dulu saat Luhan diselamatkan terulang lagi.

“Kondisi kita terancam. Polisi sudah turun tangan dalam masalah ini. Itu tandanya kita harus bergerak dan pindah dari kota ini,” kata Ji Soo.

Orang-orang langsung sibuk berbisik-bisik, semuanya panik.

“Apakah mereka semua selamat?” tanya Yoora takut-takut.

“Ya, kecuali satu orang. Satu-satunya korban tewas bernama Zhang Yixing,” sahut Ji Soo.

Yoora lega, Yi Fan masih hidup. Itu tandanya ia bukan seorang pembunuh. Ia segera melirik Minseok yang tetap memasang wajah datarnya.

Brak!

Tiba-tiba pintu rumah itu didobrak oleh beberapa orang.

“Angkat tangan!”

To Be Continued

Advertisements

72 responses to “Something You Don’t Understand [Part 6]

  1. Angkat tangan! Pasti polisi wkwk
    aaa ketinggalan dan ternyata udh ada ending nya…
    Hii nasib luhan bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s