Something You Don’t Understand [Part 7] – END

Luhan-crop

[A Fanfict From A Friend]

Author : @syadzadhanti

 Genre : Romance, action | Rating : PG-13

 Length  : Multi Chapter

 Main casts: Xi Lu Han, Park Yoora (OC)

Other casts :

Gong Ah Ri (OC), Kim Minseok (Xiumin), Wu Yi Fan (Kris), Zhang Yixing (Lay),

Kim Jongin (Kai), Park Chanyeol, Kim Jongdae (Chen), Byun Baekhyun

[PART 1] | [PART 2] | [PART 3] | [PART 4] | [PART 5] | [PART 6] | [PART 7-END]

“Kau tidak akan pernah tahu kemana takdir akan membawamu.”

***

Something You Don’t Understand

“Angkat tangan!”

Semua orang menjadi ricuh. Mereka semua menyadari siapa yang datang; polisi.

Minseok cepat mengamankan Luhan sementara anggota Black Eyes yang lain sibuk mengeluarkan pistol mereka. Polisi yang sudah memperkirakan adanya perlawanan segera mengambil posisi yang aman dan melepaskan tembakan. “Sebaiknya kalian menyerahkan diri saja!” perintah seorang polisi yang berbadan paling tinggi. Park Chanyeol.

Ji Soo membuang ludahnya. “Lebih baik aku mati daripada menyerahkan diri pada kalian!”

Yoora tercekat mendengar perkataan appanya. Mati? Tidak, appanya tidak boleh tewas. Meskipun sering merasa sakit hati dengan perlakuan Ji Soo terhadapnya, Yoora tetap menyayangi Ji Soo lebih dari apapun. Ji Soo tetaplah appanya.

Perkataan Ji Soo bagaikan cambuk bagi seluruh anggota Black Eyes. Itu tandanya mereka akan melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan. Setelah Luhan berhasil disembunyikan, Minseok muncul dan langsung mengambil posisi di sebelah Jongin. Ia heran melihat Jongin yang berdiam diri saja di situasi yang genting seperti ini, padahal di tangan kanannya sudah ada laras panjang yang menjadi andalannya. “Jongin, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau tidak menembak mereka?!” tanya Minseok.

Jongin menatap Minseok datar sebelum akhirnya mengangkat laras panjangnya sejajar dengan dada Minseok. “Karena targetku bukan mereka,” ucap Jongin dingin. Ia menarik pelatuk laras panjangnya dan kemudian tubuh Minseok jatuh ke tanah. Peluru tersebut sudah bersarang dalam dadanya. Melihat Jongin menembak Minseok, seluruh anggota Black Eyes tersulut emosi. Mereka menganggap Jongin adalah penghianat.

Tanpa dikomando Ji Soo bersiap untuk menembak Jongin dari belakang, namun sebelum ia sempat melakukannya seseorang telah menembaknya terlebih dahulu. “This is the end of your life, Ji Soo,” desis seorang polisi yang berhasil menembak Ji Soo. Chen.

Yoora merasa ia hampir gila saat ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana peluru itu menembus masuk ke leher Ji Soo. Ia segera melepaskan tembakan ke arah Chen. Tepat. Ia mendekati tubuh Chen yang tidak bernyawa di lantai. “Itu adalah balasan yang setimpal. Kau membunuh dan kau terbunuh.”

Situasi semakin kacau karena anggota Black Eyes tidak terima pimpinan mereka terbunuh. Incaran utama mereka sekarang adalah Jongin. Seseorang berusaha untuk memukul kepala Jongin dengan kursi, namun dengan cepat Jongin menghindar dan menggunakan laras panjangnya untuk memukul kepala orang itu. Yoora memandang Jongin dengan benci. Padahal ia menganggap Jongin adalah orang yang loyal, tapi ternyata ia salah. Jongin bahkan telah membunuh Minseok. Yoora mengangkat pistolnya dan mengarahkannya ke arah Jongin. “Terima ini, penghianat,” ucap Yoora pelan. Pelan tapi pasti ia menarik pelatuk pistolnya. Peluru panas itu melesat dengan kecepatan tinggi dan mengenai Jongin yang sedang bertengkar dengan dua orang anggota Black Eyes yang lain. Jongin tewas.

Anggota kepolisian terkejut melihat tubuh Jongin yang ambruk. Mereka mengubah strategi mereka yang semula bertahan dan menyerang menjadi menyerang saja. Semua anggota polisi melepaskan tembakan ke arah target mereka dan mencoba untuk melumpuhkan kekuatan Black Eyes. Yoora melirik ke laras panjang yang masih ada dalam genggaman Jongin yang sudah tewas. Laras panjang itu pasti berguna, batin Yoora. Ia membungkuk dengan tujuan mengambil laras panjang itu, namun sayang Chanyeol memanfaatkan kesempatan itu untuk menembak Yoora. Jangankan mengambil laras panjang itu, untuk berdiri lagi pun Yoora sudah tidak bisa. Rasa sakit yang diakibatkan oleh peluru yang bersarang di pinggangnya tidak bisa ditahan lagi. Yoora menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kali.

Chanyeol menatap Yoora dengan nanar. Sebenarnya ia benci harus menembak seorang gadis, tapi ia tidak punya pilihan lain. Gadis itu telah menghilangkan nyawa orang yang sangat penting baginya, Kim Jongin. Sosok Jongin lebih dari rekan baginya. Chanyeol menganggap Jongin sebagai saudaranya sendiri. Jongin juga sosok pemberani yang selalu dijadikan panutan bagi Chanyeol. Jongin bahkan rela mempertaruhkan nyawanya sendiri demi misi kepolisian dengan cara menyamar sebagai anggota Black Eyes.

Suara tembakan sudah tidak terdengar lagi. Black Eyes telah berhasil dikalahkan. Hampir seluruh anggotanya tewas, namun masih ada beberapa orang yang hidup karena hanya mendapat luka pukulan –bukan tembakan. “Cepat cari Luhan,” perintah Chanyeol pada salah satu rekannya. Kyungsoo –polisi yang mendapat perintah, mengangguk dan segera menggeledah markas Black Eyes. Ia menemukan Luhan dalam kondisi terikat dan mulut yang  dibekap dengan perban di dalam sebuah ruangan kecil. Kyungsoo melepaskan ikatan Luhan dan membuka perban yang membekapnya, lalu menggoyang-goyang bahu Luhan. Luhan tidak bergerak. Kyungsoo memeriksa denyut nadi Luhan dan bernafas lega karena anak muda itu masih hidup. Kyungsoo lalu memapah tubuh Luhan dan membawanya keluar.

Setelah sampai di luar, Chanyeol membantu Kyungsoo membawa Luhan ke dalam mobil polisi. Sekarang tugas mereka adalah mengantar Luhan pulang.

***

Chanyeol mengemudikan mobil sementara Kyungsoo berusaha untuk menyadarkan Luhan. Ia membaui hidung Luhan dengan sekotak pengharum mobil. Usaha Kyungsoo tidak sia-sia, karena perlahan Luhan sudah mulai sadar.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyungsoo. Luhan yang masih setengah sadar menggelengkan kepalanya pelan. Mendadak Kyungsoo merasa kalau pertanyaannya tadi bodoh sekali. Luhan jelas tidak baik-baik saja. “Tenang saja, kau sudah aman. Kami akan mengantarkanmu pulang.”

Luhan melihat ke sekeliling dan menyadari kalau ia berada di dalam mobil polisi. Akhirnya setelah sekian banyak peristiwa mengerikan yang dialaminya, Luhan dapat menarik nafas lega.

Tidak berapa lama, akhirnya mobil polisi itu sampai di depan rumah Keluarga Xi. Rupanya kedatangan Luhan telah disambut oleh Tuan dan Nyonya Xi. Sebelumnya Kyungsoo memang sudah mengabari Keluarga Xi kalau mereka telah berhasil menyelamatkan Luhan.

Nyonya Xi segera menghambur ke arah Luhan begitu anak satu-satunya itu turun dari mobil. Ia memeluk Luhan sambil menangis. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat melihat Luhan kembali pulang dengan selamat. Meskipun di wajahnya terdapat beberapa bekas luka, setidaknya Luhan masih hidup.

Tuan Xi ikut memeluk Luhan dan istrinya. Meskipun tidak seekspresif istrinya, terlihat bahwa Tuan Xi juga sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Luhan kembali. Chanyeol dan Kyungsoo memperhatikan mereka dalam diam. Kedua polisi itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Kasus ini belum sepenuhnya selesai.

***

Ah Ri memainkan ujung rambutnya dengan bosan. Ini adalah hari keduanya di rumah sakit dan tidak ada yang bisa ia lakukan. Kemarin ia sudah menghabiskan waktunya untuk menangisi kematian Yixing. Meskipun masih sedih, hari ini Ah Ri sudah tidak memiliki sisa energi untuk kembali menangis.

Kriet.

Pintu kamar inapnya dibuka. Ah Ri menebak-nebak siapa yang datang. Ternyata appanya dan Luhan. Ah Ri butuh beberapa detik untuk memastikan orang itu adalah Luhan, karena ia tidak terlihat seperti Luhan. Wajah Luhan yang dihiasi beberapa luka terlihat pucat dan bahunya melengkung ke bawah. Luhan terlihat seperti seseorang yang depresi berat dan tidak memiliki semangat hidup.

“Hari ini Luhan datang untuk menjengukmu,” ucap Ah Hwa sambil tersenyum. “Padahal dokter keluarganya melarang Luhan untuk pergi kemana-mana, tapi Luhan bersikukuh ingin menjengukmu saat ia tahu kau dirawat di rumah sakit.”

Ah Ri melirik Luhan dan namja itu tersenyum kikuk padanya. Ah Ri tersenyum hangat. “Terima kasih sudah datang menjengukku.”

“Baiklah, kalian mengobrol saja dulu. Appa masih ada urusan dengan bagian administrasi rumah sakit,” kata Ah Hwa. Ia lalu meninggalkan Luhan dan Ah Ri berdua dalam kejanggalan.

“Err.. Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ucap Luhan, berusaha untuk mengawali pembicaraan.

Ah Ri tertawa pelan. “Aku tidak berhasil menyelamatkanmu, Luhan. Polisi yang sudah menyelamatkanmu.”

“Setidaknya kau sudah berusaha,” sahut Luhan.

“Kau terdengar seperti appaku,” celoteh Ah Ri.

Luhan tertawa. “Dan kau juga pernah terdengar seperti si pria pendek pemabuk.”

Kedua alis Ah Ri bertaut. “Siapa itu?”

“Park Ji Soo,” jawab Luhan. “Orang yang sudah menyekapku.”

“Oh, aku tahu Park Ji Soo. Aku hanya tidak tahu sebutan ‘pria pendek pemabuk’ yang kau berikan padanya,” kata Ah Ri. “Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi mereka?”

“Mereka siapa?” tanya Luhan.

“Orang-orang Black Eyes. Anak buah Ji Soo.”

“Ah Hwa ahjussi belum menceritakannya padamu?”

Ah Ri menggeleng. “Belum.”

Luhan terdiam sebentar, lalu bercerita, “Hampir semua anggota Black Eyes tewas, termasuk pimpinan mereka Park Ji Soo dan teman sekolahku yang bernama Yoora. Tapi kau tahu apa yang mengejutkan? Satu dari dua teman Yoora yang mengambilku dari sindikat milik Yi Fan gege ternyata adalah anggota polisi yang menyamar. Sayangnya ia tewas dan aku tidak tahu kenapa, saat polisi datang seseorang menyembunyikanku di ruangan kecil yang pengap sehingga aku pingsan.”

Mulut Ah Ri membulat seperti huruf O.

“Ah Ri.. Apakah Yi Fan gege masih hidup?” tanya Luhan dengan hati-hati.

“Masih.”

“Lalu, bagaimana dengan namja anak buah Yi Fan yang tertembak kemarin? Kelihatannya kau mengenalnya. Dia siapa? Apakah dia masih hidup?”

Ah Ri baru sadar, Luhan memang tidak mengenal Yixing. Itu karena Yixing jarang sekali datang ke rumah Keluarga Xi. “Ya, aku mengenalnya. Dia adalah Yixing, salah satu orang kepercayaan keluargamu sekaligus teman baikku. Dia meninggal..”

Luhan terdiam. “A-aku tidak tahu, appa tidak pernah bercerita ataupun mengenalkanku pada Yixing.”

“Sudah kutebak. Tuan Xi tidak pernah menceritakan Yixing padamu karena Yixing belum sehebat Yi Fan. Ia masih..,” Ah Ri kelihatan berpikir untuk menemukan kata-kata yang tepat.

“Trainee?” tebak Luhan.

“Semacam itu. Tapi dia sudah diangkat menjadi orang kepercayaan keluargamu.”

Luhan mengangguk. “Kau kelihatan sangat sedih saat membahas Yixing. Mianhae, aku turut berduka cita.”

Seulas senyum yang dipaksakan menghiasi wajah Ah Ri. “Terima kasih.”

Tiba-tiba handphone Luhan bergetar. Luhan segera mengeluarkan handphonenya, ternyata ada sebuah panggilan masuk dari eommanya. Luhan memencet tombol berwarna hijau dan mendekatkan handphone tersebut ke telinganya. “Ne, eomma.. MWO?! Appa ditangkap polisi?! Bagaimana bisa?!”

Luhan memberikan Ah Ri tatapan aku-pulang-dulu dengan panik. Ah Ri mengangguk. Tanpa membuang banyak waktu, Luhan berlari keluar dari kamar inap Ah Ri. Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Kebosanan kembali menyergap Ah Ri setelah Luhan pergi. Ah Ri kembali memainkan ujung rambutnya, namun kali ini dengan ribuan pertanyaan dalam benaknya.

Kriet.

Appanya datang lagi. “Appa, kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu dua jam lebih,” protes Ah Ri. Bibirnya mengerucut lucu. Ah Hwa mendekati Ah Ri dan mengusap kepala putrinya itu lembut. “Tadi setelah menyelesaikan keperluan administrasimu, appa mendapat telepon dari Keluarga Xi. Appa jadi terburu-buru datang kesana dulu. Tadinya appa mau menjemput Luhan lagi disini tapi Nyonya Xi bilang Luhan sudah dalam perjalanan pulang.”

Ne, tadi Luhan memang mendapat telepon dari eommanya lalu ia pulang dengan terburu-buru. Ada apa, appa?” tanya Ah Ri.

“Tuan Xi ditangkap polisi,” jawab Ah Hwa.

“Memangnya ada masalah apa?”

“Setelah melakukan pemeriksaan terhadap anggota Black Eyes yang selamat, polisi mendapatkan fakta bahwa ternyata Black Eyes tidak menculik Luhan untuk mendapatkan tebusan.”

“Lalu untuk apa?”

“Untuk mengancam Tuan Xi agar mau bekerja sama dengan mereka.”

“Kerjasama? Kerjasama apa?”

Ah Hwa menarik nafasnya dalam-dalam. Ini akan menjadi cerita yang panjang.

“Sebenarnya, diam-diam Tuan Xi memiliki perusahaan soju. Tuan Xi tidak memberitahukan perusahaan ini kepada keluarganya karena pasti akan mendapat tentangan. Tuan Xi menjual sojunya secara ilegal ke luar Korea dengan cara menyelundupkannya. Tuan Xi dapat melakukan itu semua karena kehebatannya, ia punya anak buah dimana-mana, bahkan di bea cukai sekalipun. Karena itu Tuan Xi dapat memperbesar keuntungan karena tidak perlu membayar biaya tambahan untuk bea cukai pengiriman barang.”

“Sementara itu, Park Ji Soo dan sindikatnya Black Eyes juga memiliki perusahaan soju. Tapi perusahaan mereka tentu saja tidak sebesar perusahaan milik Tuan Xi. Black Eyes juga ingin menjual soju mereka ke luar Korea, tapi mereka tidak sanggup membayar biaya bea cukai yang sangat mahal. Ternyata sebuah insiden yang tidak disengaja mengakibatkan Luhan ada di markas Black Eyes. Mereka tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan dan menculik Luhan. Mereka baru akan mengembalikan Luhan jika Tuan Xi mau membantu mereka menyelundupkan soju mereka di bea cukai. Tapi Tuan Xi menolak dan menyuruh appa untuk menemukan Luhan, sayangnya appa tidak mampu lagi. Karena itu appa meminta bantuanmu, Ah Ri.”

Jadi karena itu, appa sudah tahu dimana tempat Luhan diculik. Ternyata Black Eyes sudah memberitahu Tuan Xi kalau mereka menculik Luhan, batin Ah Ri. Ia memandang appanya. “Jadi appa bekerja pada Tuan Xi sebagai orang kepercayaannya untuk menyelesaikan masalah dari bisnis terlarangnya itu?” tanya Ah Ri dengan nada kecewa.

“Maafkan appa, Ah Ri,” sesal Ah Hwa. Sebenarnya Ah Ri tidak terima, tapi seharusnya ia sadar. Appanya terpaksa melakukan semua ini demi dirinya. Seharusnya ia memahami bagaimana posisi appanya saat ini.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Appa tidak salah sama sekali. Aku sayang appa,” lirih Ah Ri sambil memeluk appanya. “Tapi kumohon, mulai sekarang berhentilah dari pekerjaan itu.”

Ah Hwa mengangguk. “Pasti.”

Ah Ri memeluk appanya semakin erat, tapi tiba-tiba ia teringat akan seseorang. Luhan. Bagaimana kondisinya sekarang? Ah Ri tidak tahu, sejak kapan dirinya mengkhawatirkan Luhan seperti ini.

***

5 years later. After everything has passed.

Gong Ah Ri’s side

 

Ah Ri membalik teflon yang digunakannya untuk memasak wafel. Sebentar lagi sarapan sudah siap dihidangkan, tapi pria pemalas itu belum bangun juga. Ah Ri baru saja akan membuka celemeknya dan memanggil pria itu saat seseorang meniup lehernya dari belakang.

“Kejutan,” kata orang itu. Si pria pemalas. Suami Ah Ri. Dan jika kau ingin tahu namanya.. Xi Lu Han.

“Yaa! Kau ini mengangetkanku saja,” omel Ah Ri. Luhan tertawa dan mencium pipi Ah Ri sekilas. “Cepat mandi,” perintah Ah Ri.

Luhan semakin tertawa. “Kau ini tidak berubah sama sekali, yeobo. Nada suaramu itu selalu terdengar seperti perintah.”

“Itu memang perintah,” sahut Ah Ri kesal. “Lagipula bukan hanya aku yang tidak berubah. Kau juga. Kau masih saja pemalas. Bagimana jika Baekhyun mengikuti kebiasaan malasmu?”

“Tidak akan. Aku akan mendidik Baekhyun agar menjadi anak yang baik,” seloroh Luhan sambil mencomot sebuah wafel yang sudah matang. “Ngomong-ngomong soal Baekhyun, dia sedang apa ya?” tanya Luhan dengan mulut yang dipenuhi wafel.

Ah Ri mengendikkan bahunya. “Tidak tahu. Yang jelas dia sedang bersenang-senang dengan temannya di tempat wisata dan dia pasti sudah mandi, tidak sepertimu.”

“Baiklah. Aku mandi, aku mandi,” Luhan menyerah. Akhirnya ia menelan sisa wafel di mulutnya, menyambar handuk, dan masuk ke kamar mandi. Ah Ri tersenyum.

Appa, kalau kau masih hidup, kau pasti ikut bahagia melihat kehidupanku saat ini. Aku sudah memiliki keluarga yang sempurna. Suami yang mencintaiku, anak yang baik, tidak ada lagi yang kurang. Aku menyayangi mereka seperti aku menyayangimu, appa. Semoga kau mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Luhan’s side

Luhan menyalakan shower dan membiarkan air hangat itu turun dan membasahi badannya. Ia sangat bersyukur mendapatkan istri yang perhatian seperti Ah Ri, meski terkadang Ah Ri menunjukkan perhatian lewat omelannya. Tapi Luhan tidak peduli, yang jelas ia sangat menyayangi Ah Ri.

Hidupnya saat ini terasa sangat menyenangkan. Mungkin ini adalah keadilan Tuhan. Masa lalu Luhan terbilang tidak baik. Ia mengalami peristiwa penculikan dan penyiksaan yang mengerikan saat ia berusia tujuh belas tahun. Ia lalu mengetahui semua rahasia kelam appanya; pembunuhan keluarga Huang dan perusahaan soju ilegal. Kemudian appanya bunuh diri di dalam sel penjara karena merasa frustasi. Semua itu memang berat dan andai saja tidak ada Ah Ri, Luhan tidak akan sanggup melaluinya sendirian. Tapi untung Luhan memiliki Ah Ri yang selalu setia mendampinginya setiap waktu.

Saranghae, Gong Ah Ri.

Kris’ side

Wu Yi Fan –atau sekarang kembali dipanggil Kris, melangkahkan kakinya dengan ringan di keramaian kawasan Myeongdong. Setelah menghabiskan lima tahun waktunya di penjara, Kris merasa hidupnya sudah berubah. Dendam yang dulu dipeliharanya sejak kecil sudah musnah. Sekarang ia ingin menata kehidupannya kembali dari awal.

Setelah mengunjungi makam saudaranya, Zhang Yixing, Kris pergi ke Myeongdong. Rasanya sudah berabad-abad lidah Kris tidak mencicipi lezatnya masakan khas Korea. Pandangan Kris tertumbuk pada sebuah restoran yang kelihatannya cukup bersih. Restoran itu menjual ramen. Kris segera masuk ke dalam restoran itu dan duduk di sebuah bangku. Seorang pelayan menghampirinya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan itu ramah sambil menaruh buku menu di meja Kris. Sementara itu Kris hanya diam dan memandangi pelayan itu. Tatapannya terkunci. Kris merasa ada sesuatu yang aneh dari dalam dirinya.

“Saya pesan semangkuk ramen,” ucap Kris pelan. “Dan juga cinta.”

Kris menyesali perkataannya dua detik kemudian. Apa yang sudah ia katakan? Cinta? Aish, bodoh sekali. Tapi sekarang Kris menyadari apakah perasaan aneh itu.Cinta. Ya, perasaan itu pasti adalah perasaan saat orang sedang jatuh cinta.

Mungkin terdengar aneh dan menggelikan saat seorang Kris jatuh cinta, tapi memang begitu adanya.

Because love is something you don’t understand.

End.

Author’s note : Kyaaa, akhirnya selesai juga deh fanfic Something You Don’t Understand ini 😀 gimana commentnya chingudeul? Mianhae kalo ceritanya aneh dan abal-abal. Endingnya juga maksa. Aku Cuma pengen mereka semua bahagia :’) Oh yaa kalian boleh banget lho main ke wpku di ohyeolliepop.wordpress.com atau mention aku di @syadzadhanti. Let’s talk about how do you think about Something You Don’t Understand. Makasih yaa udah baca 😀

81 responses to “Something You Don’t Understand [Part 7] – END

  1. Yeee happy end ^^
    yahh walaupun gk sama yoora gapapa deh !!!

    Ciee kriss palling in lope 😛
    ama sapa bang ???

    Ddaebak deh buat ni cerita ! Sekuel ya ,, klo sempet ^^

  2. wah~ keren banget rndingnya melenceng banget dari yg aku kira cozt maib cast ceweknya yoora jadi endingnya pasti sama yoora si lulu eh ternyata sama ah ra tapi…aku juga mikir endingnya pasti juga sama ah ra cozt luhan keliatan suka sama ah ra waktu mreka disekap bareng kekeke

    keep writing thor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s