THE SECOND LIFE [PART 13]

Image

THE SECOND LIFE [PART 13]

Author : Keyholic (@keyholic9193)

Main Cast : Byun Baekhyun,Shin Hyunchan

Minor Cast :

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Suho

Yoon Jisun

Lee JinKi as Baekhyun’s Father

Genre : Romance/fantasy

Rating:  PG 16

Poster by : Cute Pixie

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 |Part 7Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 | Part 12 |

***

Tidakkah kau fikir bahwa masa kecil itu sangat menyenangkan? Masa di mana para orang tua menutup rapat-rapat telinga dan mata kita dari apa yang mereka sebut ‘dunia nyata’.Masa di mana yang kita ketahui hanyalah bahwa hidup itu sebahagia  dongeng pengantar tidur yang kerap kali di dendangkan oleh mereka.Masa dimana bahwa setiap kisah cinta itu akan berakhir bahagia selamanya, seperti apa yang dialami para wanita di buku dongeng yang bertemu dengan pangerannya.

Bukannya itu semua indah untuk di bayangkan? Pada saaat itu tak seorangpun dari anak kecil itu tahu bahwa apa yang akan mereka hadapi di ‘dunia nyata’ tak seindah negri dongeng mereka.Tak akan ada ibu peri ataupun jin penunggu lampu ajaib yang akan menolong,mengabulkan segala permintaanmu.Semuanya harus kita hadapi sendiri,tanpa bantuan apapun bahkan tangan orang tua tak lak lagi menggenggam kita.Karena ketika kau telah dewasa maka kau siap berpegang hanya pada dirimu,tidak ada yang lain.Dan ketika kau tak siap menghadapi dunia semacam itu,maka mungkin beberapa di antaranya bernasib seperti Byun Jisun.

Jisun berada di sebua tempat tak jelas dengan banyak pintu berjejeran,ratusan— bukan bahkan ini bisa mencapai ribuan.Latar tempat itu berwarnah putih dengan jejeran pintu kayu coklat yang melayang, siap untuk di buka.Wajahnya tampak berseri-seri ketika ia baru saja menutup salah satu pintu yang ia kunjungi.Dress putih polos selutut membalut tubuh kurusnya.

Setiap pintu-pintu ini berisikan kenangan-kenangannya dari sejak ia mulai bisa mengingat hingga saat ini.Kakinya mulai melangkah memilah-milah pintu yang mana yang hendak ia masuki.Kalau bisa ia ingin melihat semua cerita di balik pintu-pintu itu.

Tangannya hendak bersiap-siap memutar gagang pintu yang berhasil dipilihnya,namun kepalanya menoleh memandangi sebuah pintu yang sangat besar dibanding dengan yang lain dan bercat putih.Meski pintu itu sempat menarik perhatiannya karena bentuknya yang unik,tapi ada perasaan yang melarang langkahnya untuk mendekat ke pintu itu.Ketakutan kadang muncul di benaknya bahwa ketika ia memilih memasuki pintu itu maka ia tak akan kembali lagi ke tempat ini,padahal ia masih penasaran dengan isi dari setiap pintu-pintu ini.

Dipalingkannya wajahnya dan menatap pintu dihadapannya dengan senyuman.Kira-kira kenangan seperti apakah yang berada di dalam pintu ini?

Cahaya putih menyilaukan langsung menyambut penglihatannya sesaat ia membuka pintunya.Telapak tangannya refleks menuju ke dekat matanya untuk mengahalaunya.Tak lama kemudian cahaya silau itu mulai redup seiring ia melangkah lebih jauh bergantikan sebuah bukit luas yang di hiasi rerumputan hijau dengan sebuah pohon kokoh tak jauh dari hadapannya.Angin sepoi-sepoi menyambutnya,menggoyangkan anak rambutnya hingga menutupi sebagian penglihatannya.

Matanya bisa menagkap seorang gadis kecil sedang bermain di bawah pohon rindang itu dengan beberapa peralatan mainan masak-masak lengkap dengan meja mini dan kursiya.Sebuah boneka beruang pink tampak menduduki kursi itu dan di hadapannya tersuguh cangkir pelastik beserta tekonya.

Gadis kecil itu tampak bercakap dengan boneka beruangnya tentang cuaca hari ini,bagaimana rasa teh -bohongan- yang ia sajikan,dan cerita mengenai keluarganya yang bahagia.

Sejuknya angin yang berhembus memainkan pita pink di kelapa anak kecil itu membuatnya melambai-lambai mengikuti gerakan sang angin.Pita pink itupun terlepas terbawa angin hingga mendarat di dekat Jisun berpijak.Kepalanya seketika tertunduk memperhatikan pita merah muda yang tergeletak di dekat jari-jari kakinya.

Gadis kecil yang menyadari pitanya terbang akhirnya menuju tempat pitanya itu mendarat dan memungutnya.Baru saja Jisun ingin ikut berjongkok dan menyapa gadis itu tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.

“Jisun-ah,wae?” Seorang wanita mendadak muncul di belakang gadis kecil bernama Jisun itu sambil mengusap rambutnya.

Jisun keci menoleh mengahadap ibunya.Ia meletakkan pita yang jatuh itu di telapak tangannya sembari berbalik dan menyodorkannya kepada ibunya dengan senyuman yang memperlihatkan giginya yang belum tumbuh sempurna.

“Pita ku terlepas,bu.” Cengirnya.

Wanita yang dipanggilnya ibu itu hanya tersenyum hangat mengambil pita kecil dari tangan anaknya lalu measangkannya kembali.

“mainnya sudah dulu,sebentar lagi malam tiba.”

“tapi aku masih mau main,bu.” Rengeknya.

“Penyihir jahat akan tiba ketika malam datang.Jisunnie tak takut?” Wanita itu berusaha membujuk anaknya dengan cara halus.

“Selama ada ibu aku tak takut karena aku tahu ibu akan selalu melindungi Jisunnie dari penyihir jahat itu, kan?”

“uhm.Ibu pasti akan selalu melindungimu dari penyihir jahat,tapi bagaimana jika ibu kalah terhadap mereka?”

Jisun kecil terdiam.Ia tak tahu harus menjawab apa.Ia dan ibunya hanya manusia biasa yang tak punya kekuatan apapun,bagaimana mungkin ia bisa melawan penyihir jahat yang punya kemampuan yang tinggi?

Byun Jisun  terdiam tak bergerak sambil terus memandangi Jisun kecil dan ibunya beranjak pergi dan sekejap mata menghilag.Ia tersenyum miris.Meski sedikit buram,tapi ia yakin dulu ia memiliki kenangan serti ini.Apa yang baru saja di pertontonkan adalah kenangan dirinya ketika kecil dahulu.

Kata ibunya kala itu ia akan selalu melindungi Jisun tapi sekarang,semua itu hanya tinggal ucapan tak bermakna saja.Kosong,sekosong hatinya.Kenyataannnya wanita itu justru pergi meninggalkan ia dan keluarganya.Ternyata memang benar,orang tua hanya akan mengatakan apa yang layak di dengar oleh anaknya,menebar janji yang hanya sebatas kata tanpa tahu bahwa setiap janji itu harus di tepati dan kelak akan di pertanyakan oleh anaknya sendiri ketika janji itu tak tertepati.

Jika kenyataan memang sepahit itu,haruskah Ia tetap berada di tempat ini dan hanya mengenang memory-memory yang indah-indah saja ? Haruskah ia tak usah kembali pada ‘dunia nyata’ yang sungguh menyayat hatinya? Jujur ia tak sanggup.Di saat rapuh seperti ini ia butuh pegangan,gengganman tangan dari seorang ibu.Dan ketika genggaman tangan itu tak kunjung menghampirinya,haruskah ia kembali ?

***

Wanita paruh baya dengan jaket dan rok lusuhnya sedang berdiri di tengah-tengah koridor rumah sakit memandang sebuah pintu coklat muda di hadapannya.Meski rambutnya disanggul,namun beberapa helaiannya yang tampak tak beraturan membuat wajahnya terlihat masih berantakan.Kerutan yang mulai menyerangnya dan warna kulit yang kusam membuatnya tampak lebih tua dari umurnya.Matanya memandang lurus ke depan,melihat papan nama pasien pemilik kamar tempat ia berdiri sekarang,’Byun Jisun’.Ia menarik nafas sebelum akhirnya memutuskan membuka pintu itu dan melangkahkan sepatunya yang ternodai oleh bekas salju yang di dapatnya dijalanan tadi,masuk ke dalam ruangan itu.Bau alcohol dan bau rumah sakit sejenisnya langsung menusuk penciumannya.Matanya di sambut oleh seorang dokter wanita dan dua orang perawatnya,sepertinya mereka baru saja memeriksa keadaan gadis yang tengah tertidur pulas di atas kasur putih itu.

Yeonhi tak perduli soal dokter ataupun orang lain di ruangan itu,fikirannya hanya terfokus pada gadis yang tengah terbaring tersebut.Jisun,gadis kecilnya kini sudah sangat besar.Rasa rindu yang amat besar seketika menyerangnya,matanya mulai berkaca-kaca.Tak pernah sekalipun ia mengira ia bisa serindu ini pada anaknya.Penyesalan muncul dalam benaknya.Kenapa ia tak mengunjungi anaknya dari dulu saja,ketika satu-satunya wanita pemisah antara ia dan keluarganya sudah tiada? Mengapa mata hatinya baru terbuka sekarang setelah sekian lama?

“Kami baru saja memberikan obat penenang padanya.Mungkin dia baru akan terbangun beberapa jam lagi.” Ucap sang dokter ramah menuju pintu keluar.

”Ne,gamsahamnida .”Balasnya tak kalah ramah.

“Tapi hari ini aku tak melihat bocah berambut keriting yang sering menjaganya,ah mungkin dia kelelahan juga.” Gumam sang dokter entah ia tujukan pada siapa ucapannya itu.

“Ne?”

“Ahahaha bukan.Bukan apa-apa.Saya permisi dulu.” Dokter itu membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan itu beserta kedua perawatnya.

Bunyi klik dari pintu yang tertutup rapat mengawali kesunyian ruangan itu.Pantulan derap sepatu Yeonhi menggema di ruangan itu.Matanya tak pernah lepas dari seonggok tubuh yang tengah berbaring di atas seprai putih itu.

Setiap tarikan dan hembusan nafas gadis itu yang begitu teratur menandakan ia tertidur begitu lelap.Ia tak menyangka anaknya bisa berubah seperti ini.Setiap ukiran sempurna di wajahnya membuatnya menjadi remaja yang cantik.Sepertinya ia lebih banyak mengikuti gen dari Jinki dibanding dirinya.Alisnya yang setebal milik Jinki,matanya yang sipit,kulitnya yang seputih Jinki,ia benar-benar seperti jelmaan Jinki dalam wujud wanita.Jemari Yeonhi bergerak menuju ke  arah rambut Jisun,hendak mengusapnya.Tangannya bergetar hingga ketika ia telah berhasil menyentuh rambut hitam gadis itu matanya mendadak memanas.Tak lama kemudian ia bisa merasakan cairan sedang mengalir di pipinya.

Ia tak pernah membayangkan ia akan beraksi seperti ini ketika akhirnya bertemu dengan mantan gadis kecilnya.Andai Hyunchan tak menyambangi kediamannya kala itu ,andai gadis itu tak memaksanya untuk berpikir sekali lagi agar ia mau menemui Jisun,mungkin ia akan menyesal hingga di akhir hidupnya kelak tak bisa melihat anak-anaknya.

Tak apa jika keluarga ini tak ingin menerimanya lagi,ia hanya ingin menemui Jisun paling tidak hingga ia sembuh. Tak masalah,sungguh dia tahu ia pantas menerima itu atas kesalahannya di masa lalu.Setelah itu ia akan benar-benar tak menampakkan dirinya lagi pada keluarga ini.

Tanpa ia sadari desahan mulai keluar dari mulutnya.Ia menangis tersedu-sedu menggenggam erat tangan Jisun.Hidup masih juga begitu kejam hingga kini padanya.Mungkinkah jika saja ia tak berhubungan dengan Seorang Byun Jinki,ia tak harus menderita seperti ini.Mungkin ia akan bahagia seperti wanita berkeluarga lainnya,hidup bahagia bersama keluarganya tanpa perlu berurai air mata.Sementara wanita itu larut dalam tangisnya,tiba-tiba saja jemari yang sedari tadi ia genggam membalas genggamannya tak kalah eratnya meski tampaknya ia masih berada di alam mimpinya.

“Jisun-ah.” Suaranya bergetar melihat respon Jisun.

“Park  Chan—“

Perhatian wnaita itu teralihkan kearah pintu yang sedang di buka dengan tampilan seorang pemuda yang tak jauh bedanya dengan Jisun sedang berdiri di ambang pintu dengan teriakannya yang tak terselesaikan.

Ia dapat melihat jelas ekspresi pemuda itu berubah drastis ketika bertatapan mata dengannya.Yeonhi berusaha memperjelas penglihatannya larena terhalau cahaya dari arah pintu tersebut.Nafasnya seolah tercekat ketika ia menyadari siapa pemuda itu.9 bulan mengandungnya dan 7 tahun membesarkannya tak mungkin membuatnya lupa pada postur wajah darah dagingnya sendiri,Byun Baekhyun.Sungguhkah keinginannya untuk bertemu Baekhyun tecapai?

Untuk beberapa saat itu keduanya terdiam,saling menatap satu sama lainnya.Tak ia bayangkan Baekhyun kecil bisa setampan ini.Berbeda dengan Jisun yang begitu mirip dengan Jinki,Baekhyun adalah dirinya versi lelaki.Mulai dari bibirnya,bulu matanya,alis,hidung,semuanya menyerupai dirinya.

“Baekhyun-ah..” Ia sungguh tak percaya ini,rasanya ia ingi segera berlari kesanan dan memeluk anak lelakinya itu.

Tapi ada yang aneh dengan Baekhyun dari tatapannya. Seolah ia sedang tidak berada di tempatnya dan berkelana ke dunia lain.Tak lama kemudian ia melihat tubuh anak itu bergetar hebat hingga hampir merobohkannya jika ia tak berpegangan pada dinding pintu.

“Baekhun-ah kau kah itu?” suaranya seperti terdengar berbisik menanhan tangis,padahal sisa air matanya yang tadi belum mengering.

Yeonhi perlahan mendekat dan ketika ia bisa menatap wajah anakna dengan sempurna ada tatapan kebencian yang terpancar dari bola mata anak itu yang membuat ulu hatinya seperti terhunus ribuan pedang.Mata yang kerap kali memberikannya tatapan bak anak anjing yang memelas ketika ia menginginkan sesuatu kini sirnah berganti tatapan kebencian,amarah,kekecewaan yang begitu dalam.Jika tatapan itu bisa membunuh,mungkin ia telah terbunuh saat ini.

“Untuk apa kau kembali?” Suara itu begitu dingin dan menusuk hingga membuat Yeonhi tak melanjutkan langkahnya lebih dekat lagi.

“Untuk apa kau kembali setelah apa yang kau perbuat pada kami?!” nada suaranya naik beberapa otaf.

“Baekhyun-ah..” Yeonhi tak bisa menjawab.Wajar jika reaksi Baekhyun seperti ini,bahkan kalau ia ingin menendnagnya dengan sangat tidak manusiawi sekarang ini,ia bisa terima itu.

“Siapa yang menyuruh mu kembali,huh?!”

“Baek—“

“Berhenti memanggil namaku dengan mulut mu itu.” Ia menggertakkan giginya.

“malam itu,di tengah kondisi ku yang sedang sakit aku berusaha untuk menahan mu pergi.Berkali-kali kuraih kain bajumu agar tidak meninggalkan kami.Tapi yang kau lakukan malah mendorong hingga tersungkur.Oh betapa malangnya nasib Baekhyun kecil,di saat ia tengah dalam keadaan sulit wanita yang dianggapnya sebagai malaikatnya yang akan selalu menjaganya,justru tak lebih dari seorang iblis yang meninggalkan keluarganya tanpa alasan yang jelas.” Baekhyun tertawa sarkastik.

“Sejak saat itu,bagi ku ibu telah tiada.”

Ia bisa melihat mata anaknya berkaca-kaca meceritakan kembali kejadian memilikuan itu.

“jadi untuk apa kau kembali sekarang? Aku, ayah, dan Jisun sudah bisa hidup bahagia tanpa mu.Tak ada yang bisa kau perbaiki dari kesalahan mu di masa lalu.Kami sungguh tak mengharapkan kau kembali,bahkan diri ku tak pernah berharap bisa bertemu dengan mu lagi.”

Mendengar kata-kata sekasar itu dari mulut anaknya sendiri sunggu membuatnya sakit meski ia sudah menduga ini akan terjadi.Namun apa yang kau bayangkan dengan kenyataan sungguh tak sama.Kenyataan jauh lebih sakit dari apa yang pernah ia bayangkan.

Baekhyun berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.”Kuharap untuk seterusnya kau tak muncul di sini lagi.Aku akan menyuruh beberapa penjaga agar tak membiarkan orang asing masuk ke ruangan ini.”

Bantingan keras dari suara pintu yang tetutup meninggalkan Yeonhi dalam kesedihannya.Kakinya seketika tak mampu lagi menopang tubuhnya hingga ia terjatuh kelantai sambil menangis sesenggukan.Tak ada yang lebih menyakitkan selain di hardik oleh anak yang telah kau kandung selama 9 bulan.Tapi ini adalah konsekuensi dari pilihan yang ia ambil 11 tahun yang lalu.

***

 Hyunchan sekali lagi merapatkan jaketnya dan memperbaiki syal yang melilit di lehernya.Pukul 9 malam dengan kondisi angin musim dingin yang tak bersahabat,di saat yang lain sedang meringkuk di balik selimut ataupun sedang menghangatkan diri dari cuaca yang menyerikan tulang ini,ia sendiri sedang berdiri tidak jelas di sebuah taman mencari sosok yang menghubunginya hampir 15 kali dengan 10 kiriman  pesan yang sama menyuruhnya untuk menemuinya di taman tak jauh dari apartemen si pengirim.

Hyunchan sudah berusaha mengangabaikan panggilan dari lelaki bernama Byun Baekhyun itu dan sejak kejadian dua hari yang lalu ia memang berniat untuk mengabaikan Baekhyun hingga misinya selesai.Oke,dia cukup berhasil hingga 10 menit yang lalu namja itu menghubunginya.Ia sudah berusaha untuk tetap bersembunyi dari udara dingin di balik selimutnya dan memutuskan untuk tidur lebih awal,tapi ponselnya tak kunjung juga berhenti berdering.

Ia melangkah menghampiri sosok satu satunya penghuni taman ini.Ia tak perlu menghapal postur tubuh Baekhyun hanya untuk menemukan anak itu karena tak ada orang gila lain yang mau berdiam diri di cuaca ekstrim seperti ini layaknya Baekhyun.

“kalau tidak datang dalam keadaan mabuk ke apartemen ku,kau menelpon  hingga berkali-kali.Apakah kau tidak bisa hidup tenang tanpa merepotkan ku?” ucap Hyunchan mengawali pembicaraan sekaligus sebagai sapaan ‘hai’ secara tidak langsung.

Baekhyun sedang tertunduk menatap tanah.Badannya bungkuk.Kedua sikunya bertumpu pada pahanya.Kepala itu menoleh sejenak,menatap sepatu wanita yang ia kenal betul suaranya.Ia hanya tersenyum,senyuman yang terpancar ketika kau terjebak dalam gua dan seseorang baru saja datang menolong mu.

“Sudah ku katakan,belajarlah menyapa orang dengan kata ‘hai’. Apa kau sungguh tak tahu tata krama menyapa seseorang?” Baekhyun hanya menoleh menatap kaki Hyunchan tanpa memperlihatkan wajahnya.

“Lihat siapa yang berbicara.Jangan coba-coba berbicara tata karma ketika kau sendiri tidak tahu bagaimana tata krama menelpon seseorang.” Hyunchan balik menyindir sambil mendudukkan dirinya di sebelah Baekhyun.

Baekhyun hanya terkekeh mendengar ledekan Hyunchan.”kau lebih resposif sekarang dibanding pertama kali kita bertemu.”

Hyunchan tak menjawab.Yah dia memang jauh berubah dibanding dirinya ketika pertamakali bertemu dengan Baekhyun,oh bukan— bahkan dikehidupannya terdahulu.

“Kenapa kau tak mengangkat telpon ku?”

“Aku sedang tidur.Lagi pula aku tak wajib mengangkat setiap kali kau menghubungi ku,kan?”

“Heh,kalimat dingin mu itu tak pernah berubah.” Hyunchan bisa menangkap tawa merdu milik Baekhyun dan jantungnyapun kembali berdetak tak normal.Ia bisa merasakan wajahnya memanas.

“jangan bertele-tele lagi.Ku harap aku mendapat alasan yang layak tentang kenapa kau menghubungi ku 10 kali dan menyuruhku datang menemui mu di tengah cuaca sepert ini?” gadis itu berusaha membuat suaranya senetral mungkin.

Baekhyun nampak menegakkan badannya.Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya beranjak dari posisi duduknya.

“Akan ku jelaskan,tapi tidak di tempat ini.”Tangan panjangnya seketika menggenggam tangan Hyunchan dan menarik gadis itu hingga mengikuti langkahnya dari arah belakang.

Hyunchan berjalan terseok-seok karena tarikan Baekhyun yang mendadak dan hampir saja membuat keseimbangan tubuhnya menghilang.

“Hey,apa-apaan ini? Aku tak punya banyak waktu untuk mengikuti permainan—“

“Pssstt.” Kaki lelaki itu berhenti mendadak dan langsung berbalik menutup mulut Hyunya dengan telapak tangannya.

“Bisakah kau diam saja? Ini sudah malam,suara mu itu sangat mengganggu.”

Hyunchan segera memalingkan wajahnya ketika ia sadar jaraknya dan Baekhyun terlalu dekat.Tangannya memaksa telapak tangan yang membekap mulunya agar segera terlepas.

“Tenang saja,aku tak akan menculikmu Shin Hyunchan.”

Sebenarnya Hyunchan ingin protes  dan tak ingin mengikuti Baekhyun.Jika namja itu hanya bermain-main dengannya saja,lebih baik ia pulang ke apartemennya dan menghangatkan dirinya di sana.Tapi wajahnya yang tengah memanas dan suasana hatinya yang tak jelas,membuatnya enggan untuk mengeluarkan suaranya.

Tak melihat resopn yang lain dari Hyunchan Baekhyun memutuskan untuk kembali menarik lengan gadis itu menuju mobilnya.Hyunchan menatap punggung yang terus bergerak di hadapannya dan kehangatan yang bersumber dari tangan yang tengah di genggam oleh satu-satunya orang yang membuat jantungnya berdetak tak karuan.

Dalam perjalan mereka entah menuju ke mana,keheningan menyelimuti.Yang bisa Hyunchan tangkap hanyalah deru mesin dan suara dalam hatinya yang perlahan terdengar seperti remaja yang mengalami first love. Tapi bukankah Hyunchan memang sedang mengalami first love?  Baekhyun adalah orang pertama yang bisa membuatnya seperti ini.Baekhyun adalah first lovenya.

Lantunan lagu baby don’t cry milik Exo seketika memenuhi telinganya dan membuatnya tersadar dari lamunannya.Baekhyun baru saja mengisi keheningan diantara mereka dengan memutar lagu tersebut.Dan mungkin karena efek lagu ballad tersebut,Hyunchan seolah terbawah ke dalam pemikiran yang begitu dalam terhadap Baekhyun.Tanpa gadis itu sadari sepanjang perjalanan dia terus menatap sosok pengemudi di sebelahnya.Khayalan tentang bagaimana nasib mereka ke depannya tiba-tiba merasukinya dan membuat tatapannya begitu sedih.Tak lagi banyak waktu yang tersisa untuk menatap wajah itu.Tak lama lagi ia akan melupakan bagaimana setiap ukiran sang pencipta terhadap wajah Byun Baekhyun.Olehsebabnya,selagi masih ada waktu ia akan berusaha sesering mungkin melihat wajah itu,meski kelak otaknya tak akan mengingatnya.

Mereka tiba di sebuat dataran tinggi yang cukup untuk melihat setengah dari pemandangan Seoul di malam hari.Meski dingin yang menusuk tapi suasana langit malam ini tampak bersinar seperti pada malam-malam musim panas.Bulan tampak bulat dan begitu besar jika dilihat dari sini.Bintang-bintang tak henti-hentinya berkelap-kelip seperti blitz paparazzi.Sungguh panorama yang indah.Jika tahu Baekhyun akan membawanya ke tempat seperti ini,dia tak akan protes.Masa bodoh dengan alasan yang akan dijelaskan oleh Baekhyun,ia tak perduli itu lagi.Yang ia perdulikan adalah kekagumannya terhadap apa yang dilihatnya sekarang.

“Pemandangan yang indah,bukan?” Ucap Baekhyun menyadarkan Hyunchan dari keadaan syoknya.

Namja itu sudah mengambil posisi duduk di atas rerumputan yang sedikit bersalju.Ia membuka lapisan jaketnya yang tipis sebagai alas Hyunchan untuk duduk di tanah ini.Kakinya selonjoran kedepan,kedua tangannya menopang di belakang badannya.Hyunchan akhirnya duduk dan cukup tersentuh dengan perilaku Baekhyun padanya.

“Gomawo.” Ucapnya hampir berbisik.Ia ingin berterimah kasih atas perlakuan Baekhyun yang baik padanya dan juga telah membawanya ke tempat seindah ini.

“ne?”

“Bukan.Bukan apa-apa.Ini tempat yang bagus.” Hyunchan menengok ke atas langit berusaha mengisi setiap pandangannya dengan taburan bintang di langit tersebut.

Baekhyun menatap gadis itu cukup lama sebelum akhirnya dia tersenyum simpul.”sama-sama.” Bisiknya pelan.Ia masih bisa menangkap ucapan terima kasih Hyunchan sebelumnya dan ia tak tahu kenapa gadis itu tak ingin mengulangi ucapannya.

Baekhyun menatap ke langit,ketenangan langsung menghampirinya ketika Hyunchan berada di sisinya.Ia bersyukur gadis itu mau menemuinya.Kejadian di rumah sakit tadi masih begitu membekas di otaknya dan membuatnya ingin gila dengan kenangan menyakitkan yang kembali terkuak itu.Seharusnya ibunya tak perlu kembali.Seharusnya kenangan tentang ibunya hilang selamanya dari otaknya.

“jadi,bisa kau katakan alasan mu sekarang?” Hyunchan kembali mengungkit pertanyaannya.

Baekhyun hanya terkekeh pelan.”bagaimana kalau kita minum dulu?” Ia mengeluarkan beberapa kaleng minuman beralkohol dari kantongan yang membuat Hyunchan bingung dari mana asalnya.

“Kau saja.Aku tidak minum.Terakhir kali aku mengkonsumsi minuman seperti itu,isi perut ku serasa ingin keluar dan itu cukup sekali seumur hidup aku rasakan.”tolaknya.

Suara minuman kaleng yang terbuka  mengisi kesunyian dianatara mereka.Baekhyun meneguk minumannya sambil memikirkan haruskah ia menceritakan masalahnya atau tidak.Karena dia bukan type orang yang mudah untuk berbagi masalahnya dengan orang lain apalagi ini menyangkut sesuatu yang begitu emosional.Ia terbiasa menyelesaikan masalah-masalah seperti ini tanpa berpegang pada orang lain.

Hyunchan menatap lelaki itu,menunggu sebuah penjelasan keluar dari mulutnya di setiap tegukan minumannya,namun kata yang ia nanti tak kunjung keluar.Dari posisinya ia bisa menatap jelas raut wajah Baekhyunyang hanya di terangi oleh cahaya bulan.Dan entah kenapa hal itu membuatnya terlihat makin tampan.Tapi ada hal lain yang menarik perhatiannya.Mata Baekhyun.Dari jarak yang dekat seperti ini dengan pencahayaan yang cukup ia yakin mata Baekhyun terlihat mirip dengan mata seorang gadis yang tengah menangis ketika diputuskan oleh pacarnya.

Hyunchan merutuki kekurang pekaannya terhadap orang yang ia sayangi.Di situlah kelemahan dia.Seharusnya dia menyadari ada yang tak beres dengan Byun Baekhyun ketika ia sampai menghubunginya 10 kali dan menyuruhnya untuk datang ke taman,membuat segalanya menjadi bertele-tele ketika ia meminta penjelasan lelaki itu yang bisa saja ia jelaskan di taman tadi,semuanya jelas sekarang.

“Baekhyun-ah,apa terjadi sesuatu?” tanyanya pelan dan lembut.

“Kenapa kau fikir sesuatu sedang terjadi?” jawabnya ,meskipun ada sedikit jeda yang agak lama antara pertanyaan dan jawaban.

“Byun Baekhyun..” Hyunchan menegaskan,menandakan ia sedang tak ingin bermain kata-kata.

Lagi-lagi ia menghela nafas berat.Rasaya sulit sekali untuk mengatakan apa yang hendak ia ceritakan.Ia takut suaranya akan bergetar dan dia akan tampak lemah dihadpan gadis yang disayanginya.

“Hyunchan-ah,kau bilang dulu ibu mu membuang mu ke panti.Aku punya pertanyaan..” Baekhyun tampak berpikir.”Kalau misalnya besok ibumu kembali menghampiri mu dan berniat mengambil kembali posisinya sebagai seorang ibu,bertingkah layaknya segala kesalahannya di masa lalu akan dengan begitu muda termaafkan,apa yang akan kau lakukan? “

Hyunchan mengerutkan alisnya,tak mengerti mengapa tiba-tiba Baekhyun membahas tentang dirinya.Tapi pada akhirnya dia tetap saja menanggapi pertanyaan itu.

“Entahlah,aku tak pernah memikirkan hal seperti itu bisa terjadi.Tapi jikapun ia kembali,aku tak masalah.Kesalahannya di masa lalu mungkin fatal dan tak termaafkan,tapi bagaimanapun juga dia tetap ibu ku.Paling tidak aku telah merepotkannya selama 9  bulan dikandungan,dan ia harus terus membawa tubuh ku yang berat ini di dalam perutnya.Paling tidak ia sudah merawatku selama 9 bulan itu.Aku tak boleh melupakan jasanya yang itu.Dan ketika ia kembali,berarti ia telah menyadari kesalahannya di masa lalu,meski lukanya tak akan terobati.Tapi bagaimanapun juga dia tetap ibuku dan akau adalah anaknya.Tak ada yang bisa memutuskan ikatan darah seoarang anak dan ibunya.Jadi tak ada alasan lain yang harus membuatku menolaknya.”

“tapi bagaimana jika darahnya kukeluarkan dari dalam tubuh ku?”

“Jangan gila,itu tidak mungkin.Itu sama artinya kau membu—“Ucapan Hyunchan terhenti.Kepalanya seketika berbalik menatap Baekhyun.Mata namja itu menatap lurus kearah hamparan lampu-lampu gedung yang bertebaran bak kunang-kunang.Pada akhirnya diapun sadar kemana arah pembicaraan Baekhyun ini.Akhirnya Kwon Yeonhi menemui anaknya juga.

“Ibu..waktu kecil,kufikir dia adalah malaikat yang akan selalu mejaga dan melindungi kami,keluarganya.Bagaimana ia memberikan kasih sayang pada aku,ayah dan Jisun,bagaimana ia menjadi figure wanita idaman ku ketika besar nanti.Bagiku dia adalah wanita paling baik di dunia ini.Aku bersyukur memiliki ibu seperti dia.Aku sangat menyayanginya bahkan sedikit lebih dari rasa sayangku ke ayah.Hingga suatu ketika pandangan ku berubah. Ia meninggalkan keluarga kami tanpa alasan yang jelas.“

Hyunchan bisa melihat Baekhyun sedang meremas jemarinya membentuk sebuah kepalan.

“waktu itu aku sakit,kondisi keluarga ku sangat memprihatinkan.Dan pada saat-saat genting seperti itu dia memutuskan untuk meninggalkan kami.Sepertinya dia ingin melarikan diri dari masalah keluarga itu.Sungguh egois.Ternyata wajud malaikatnya selama ini hanyalah kedok dari keiblisannya yang tertutupi.Tapi aku bersyukur,setelah kepergiannya otak ku mendadak seperti lupa ingatan akan dia.Aku bahagia dengan bantuan itu,tapi…”

Hyunchan bisa merasakan disetiap lontaran kata-kata itu ada kebencian yang terselip.Ia sungguh tak tahu Baekhyun sebenci itu pada ibunya,hingga dia harus menggunakan kata yang tak sepntasnya dikatakan seorang anak pada ibunya.Hyunchan takut,aura Baekhyun terlalu gelap.Refleks,jemarinya pun mengenggam kepalan tangan yang mulai bergetar itu.Ia menggenggam  lalu mengusap-ngusapnya hingga tangan itu perlahan melunak.

“Tapi kebahagiaan ku itu hancur ketika pagi tadi setelah sekian lama menghilang,ia muncul dihadapan ku seolah kemunculannya itu bukan kesalahan melainkan hal yang lumrah.Ia memanggil nama ku seolah ia sudah sangat terbiasa memanggil ku.Dia pikir siapa dirinya bisa pergi dan kembali seenaknya? Dia pikir dirinya pantas memanggil namaku layaknya seorang ibu memanggil anaknya setelah apa yang ia lakukan? Dia pikir dia bisa termaafkan begitu saja ?”Suara Baekhyun bergetar dan ia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Baekhyun.

“Tidak Hyunchan-ah.Tidak.Dia tak akan semudah itu mendapatkannya.”Hyunchan sedikit terkejut ketika tiba-tiba Baekhyun menoleh padanya membuatnya bisa menatap jelas kepedihan dalam jiwa lelaki itu dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

“Dia tidak tahu apa yang kurasakan kala itu.Dia tidak tahu betapa kecewanya aku ketika wanita yang kuanggap paling sempurnah ternyata tak lebih dari seonggok bunga bangkai.Dia tidak tahu bagaimana terpuruknya ayah dan Jisun mengahadapi kenyataan itu.Dia tidak tahu penderitaan batin apa yang keluarga kami alami ketika ia pergi tanpa alasan jelas.Dia—“ Hyunchan tak lagi sanggup melihat Baekhyun yang seperti ini.Melihatnya begitu menyedihkan membuatnya juga ikut merasa sakit.

Diraihnya kepala Baekhyun lalu dipeluknya begitu erat.Ia bisa merasakan tubuh lelaki itu bergetar hebat dalam pelukannya.Isakan tangis meski pelan bisa ia tangkap dengan jelas.Ia tak tahu,dari sudut pandang Baekhyun kelakuan ibunya sebegitu menayakitkan baginya.Tapi ia tahu Kwon Yeonhi tak akan sebejat seperti apa yang ada di dalam pendeskripsian Baekhyun.Baekhyun hanya melihat dari sudut padang dirinya saja dan bukan dari sudut pandang ibunya.

“Dia tidak memahaminya,Hyunchan-ah.Dia tidak paham itu semua.” Hyunchan mencoba menenangkan lelaki itu dengan mengusap-usap punggungnya.Tak ada lagi ucapan yang keluar dari mulut Baekhyun selain isakan tangisnya.Jadi inilah sebab Baekhyun memanggilnya.Jika ia tahu lebih awal,mungkin ia tak akan menunggu hingga panggilan ke 10 dan 15 pesan terkirim ke ponselnya.

Baekhyun menggenggam erat kain baju Hyunchan.Dadanya sungguh sesak,seolah ia membutuhkan alat bantu pernafasan.Jika saja Hyunchan tak datang hari ini,ia tak tahu dirinya akan berakhir dimana malam ini sebagai pelampiasan stressnya.Ia senang bisa berada dipelukan gadis ini dibanding bersenang-senang dengan gadis-gadis diskotik untuk menenangkan pikirannya.

“menangislah,hinggga beban didadamu habis tak tersisa.” Bisik Hyunchan.

Malam itu langit mendadak mendung menutupi sebagian sang primadona malam.Botol-botol minuman yang di beli Baekhyun masih tetap di tempatnya tak tersentuh lagi.Kesunyian mendadak dipenuhi isakan tangis seorang anak yang luka lamanya kembali terbuka ketika sang ibu yang menelantarkannya tiba-tiba saja kembali.

***

Kwon Yeonhi terkejut ketika keesokan harinya ia memasuki ruangan yang sama dan si penghuni ruangan itu sedang dalam kondisi terbangun.Gadis itu bersandar di tempat tidurnya dengan mata yang tak pernah luput dari jendela dekat ranjangnya.Ia menatap pohon besar yang tergambar begitu jelas dari balik jendela ruangannya seolah itu adalah hal yang paling menarik yang pernah ia lihat.

“Senang bisa menemuimu dalam kondisi sadar Jisunnie?” Ucap sang ibu menyapa anaknya dengan panggilan kesayanagnnya.

Jisun bergeming meski hanya menoleh sekilas dan tak sampai menatap wajah orang yang memanggilnya Jisunnie.Itu hanya gerak refleks saja yang ia lakukakn ketika mendengar suara yang begitu ia rindukan memanggil nama kecilnya.Sayangnya itu belum cukup untuk membuatnya sadar bahwa ibu yang telah lama di carinya kini beada di hadapannya.

“Kau tampak baik hari ini.” Puji sang ibu membelai rambut hitam panjangnya meski itu hanya sebuah pujian kosong.Tak ada yang bisa menjadi patokan apakah Jisun tampak baik hari ini atau tidak karena setiap hari kondisinya begitu –begitu saja.Wajah lusuh berbalut kulit pucat dengan tatapan kosong.

Tak ada suara lagi yang keluar dari mulut Yeonhi setelah pujian itu,ia terlalu terhanyut atas kerinduannya memandang wajah anak gadis satu satunya itu.Baekhyun mungkin telah melarangnya untuk menginjakkan kakinya di tempat ini.Maunya ia juga tak datang ke sini lagi,tapi semalam setelah ia menjenguk Jisun ia tak bisa tidur dengan tenang dan terus memikirkan Jisun.Hidupnya tak akan lagi tenang setelah bertemu dengan anak yang 11 tahun tak bertemu dengannya dan ia harus meninggalkannya lagi.Paling tidak beri ia waktu hanya sekedar melepas rasa rindu.

Hari-hari selanjutnya Yeonhi rutin mengunjungi Jisun dan untungnya ia tak pernah bertabrakan dengan jadwal kunjungan Baekhyun.Ia mulai mengenal orang-orang di sekitar Jisun,selain Hyunchan.Ada namja yang bernama Park Chanyeol.Pertamakali ia melihat namja itu ia cukup terkejut dengan matanya yang besar dan juga senyumnya yang lebar hingga hampir memperlihatkan keseluruhan giginya, padahal itu baru senyuman.Ia mendapati suara anak itu berbanding terbalik dengan wajahnya.Suara bass yang ketika tertawa terdengar menggelegar.Tubuhnya yang terlalu jangkung untuk anak muda seusianya membuatnya tampak seperti peraga busana yang biasa berjalan di catwalk.Ia sekelas dengan Baekhyun,lebih tepatnya sahabat karib.Dirinya yang sepertinya begitu intens menjaga Jisun bahkan sampai perawat dan dokter yang menangani Jisun mengenalnya membuat Yeonhi yakin Jisun adalah sosok yang special bagi anak itu begitu pula sebaliknya.

“Kami sempat bertunangan dulu,tapi itu semua hanya cerita masa lalu.”Ungkapan Chanyeol inilah yang meyakinkan segala spekulasi di otaknya.Kesedihan tergambar jelas di wajah remaja 18 tahun itu dan Yeonhi mengetahui kesedihan semacam itu.Itulah sebabnya ia tak mau menggali lebih dalam mengenai permasalahan itu.

Selain Chanyeol,ia juga mengetahui lelaki lain bernama Do Kyungsoo.Ia bertemu dengan anak itu di hari ke empat ia menjenguk Jisun.Mata bulat dengan tubuh pendeknya membuatnya tampak imut dan lebih pantas di sebut anak SMP dibanding siswa yang sebentar lagi menjadi mahasiswa.Anak itu sering datang bersama dengan Hyunchan dan kadang Yeonhi mencurigai ada hubungan lebih dari sekedar teman di antara keduanya.Ia tak berani mepertanyakan itu pada Hyunchan ,melihat bagaimana watak gadis itu.Namun sekali ia pernah bertanya pada Kyungsoo mengenai dugaannya tapi bocah itu hanya tersenyum simpul menjelaskan tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.

Hingga terakhir kali ia ketempat ini,ia masih belum pernah melihat Jinki.Sepertinya lelaki itu sedang sibuk berpindah dari satu benua ke benua lainnya mengurusi bisnisnya.Meski Jisun sedang sakit tapi ia mengerti Jinki tak akan meninggalkan Jisun begitu saja jika tak ada kerjaan yang mendesak.

Semuanya berjalan dengan baik,ucapan Baekhyun untuk menyewa bodyguard sepertinya hanya gertakan semata.Meskipun ia kerap kali main kucing-kucingan dengan Baekhyun tapi pada akhirnya ia tertangkap juga.

Hari itu Baekhyun datang lebih cepat dari jadwal biasanya dan di saat itulah ia amarahnya kembali mencuat tatkala menemukan wanita yang dulu diusirnya masih berani menginjakkan kakinya di tempat ini.Ruangan yang tadinya dipenuhi gelak tawa Chanyeol dan Ibu Jisun seketika sunyi senyap.

“Seingatku aku sudah melarangmu untuk menginjakkan kaki mu di tempat ini.Apa kau belum mengerti juga ketika ku katakan keluarga ini tak lagi menerimamu dan aku tak ingin melihatmu ada di sini lagi?”tatapan kebencian Baekhyun seolah mampu menembus kepala ibunya.Bahkan Chanyeol pun ikut merasakan aura kemarahan Baekhyun hinga ia harus mengusap tengkuknya.

“Baekhyun-ah..”

“Pergi dari sini!” Ucapnya pelan menahan suaranya yang sebentar lagi akan meninggi beberapa oktaf.

“Baekhyun-ah.” Chanyeol mencoba menyadarkan temannya yang seperti bukan dirinya yang asli.

“Kau tahu di mana pintu keluarkan?” tatapan Baekhyun tertuju pada pintu putih tak jauh dari hadapannya.Kedua tangannya yang berada di saku jaketnya tergenggam kuat.

Yeonhi tak ingin Baekhyun membuat kegaduhan di sini,apalagi Jisun sedang tertidur.Sepertinya ia memang sudah harus menyingkir sekarang.waktu beberapa hari yang telah diberikan padanya untuk melepas rindu sepertinya sudah cukup.

“Baiklah aku pergi.” Ujarnya pelan,menambil tasnya dan berjalan menuju pintu keluar.

“Seharusnya kau tahu mana tamu yang pantas untuk menjenguk Jisun dan mana yang tidak pantas.” Ucap Baekhyun masih dingin kepada Chanyeol sesaat setelah ibunya pergi beranjak dari ruangan Jisun.

“Dia ibumu Baek,dia bukan orang asing.”Chanyeol tak mengerti dengan pola pikir Baekhyun.

“Kenapa kau sekasar itu pada—“

“Cukup.Aku tak ingin membahas tentang dia.” Baekhyun keluar dari ruangan itu dengan emosinya yang masih belum stabil.Padahal tadinya ia berniat untuk mengajak Chanyeol bermain game untuk menghilangkan rasa suntuknya beberapa hari ini hanya berdiam diri di rumah dengan Hyunchan yang kembali mengabaikannya setelah malam itu.

Ia menghembuskan karbon dioksidanya dengan berat seolah itu adalah hal terberat yang pernah ia lakukan.Badannya tak terduduk dengan tegap mengikuti pola bangku taman rumah sakit itu.Kakinya selonjoran ke depan saling bersilang.Tangannya terentang dan bersadar pada sandaran bangku taman.Manik hitamnya sibuk memandangi anak anak awan yang bergerak perlahan-lahan.Dulu ketika di sekolah dasar ia sering memberhentikan sepedanya sejenak hanya untuk memandangi awan ketika pulang sekolah.Sepertinya itu terakhir kali ia  memandang awan karena selebihnya yang ia pandangi hanyalah langit malam,jika sedang beruntung ia akan menemukan taburan bintang disana jika tidak sepertinya ia harus puas memandang kegelapan yang kosong itu membuatnya semakin pekat sepekat hidupnya.

Diletakkan jemari telapak tangan kanannya tepat di depan wajahya bermain dengan cahaya matahari itu hingga tiba-tiba sebuah sosok menghalanginya.Ia menyingkirkan tangannya dan mencoba melihat jelas siapa sosok tersebut.Ketika semuanya perlahan jelas Byun Baekhyunpun menyadari bahwa itu adalah wanita yang baru saja diterjanginya makian kasar beberapa saat yang lalu,Kwon Yeonhi atau lebih tepatnya ibu yang telah mengandungnya.

“Ibu ingin berbicara dengan mu.” Ucap wanita itu langsung menjurus ke tujuannya.

“tak ada yang perlu di bicarakan.” Baekhyun berdiri dari posisinya dan berniat meninggalkan perempuan itu sebelum suara wanita itu kembali menahan langkahnya.

“Ibu mohon.Setelah itu, ibu tak akan muncul di hadapan mu.”

***

Baekhyun tiba-tiba meminggirkan mobilnya yang melaju dengan kecepatan tinggi itu ke tepi jalan.Jika ia terus melanjutnya mengemudi dengan kondisi seperti ini dia bisa celaka.Tarikan oksigen dan hembusan karbon dioksida terdengar begitu tak beraturan.Dadanya naik turun seperti nafasnya yang kacau.Ia meremas kemudi mobilnya sekeras mungkin hingga telapak tangannya mulai memutih.Kepalanya ia tumbukkan ke stir coklat tua itu.Rasa nyeri di jidatnya tak ia hiraukan lagi.Otaknya terlalu pusing memikirkan percakapannya dengan ibunya ketimbang harus merespon rasa sakit di jidatnya.

Di taman itu ibunya menjelaskan semuanya.Tentang dirinya yang harus mengorbankan keluarganya demi mendapat uang pinjaman dari nenek Baekhyun karena kondisi gawat Baekhyun malam itu tak memberikannya pilihan lain.Ia menceritkan bagaiman neneknya yang menentang ia dan ayah Baekhyun sejak awal pernikan dan terus mencoba merusak keluarganya hingga akhirnya ia berhasil, ia juga bercerita bahwa dia juga merasa tersiksa di sini dan bukan cuma Baekhyun saja.Tapi semua penjelasan itu bagi Baekhyun sudah terlalu terlambat.Mengapa ibunya baru datang sekarang  dan menjelaskan kejadian sebenarnya ketika rasa bencinya sudah sebesar ini? mengapa ibunya tak datang dan kembali pada mereka ketika neneknya,orang yang menjadi satu-satunya penghalang keluarga bahagia mereka meninggal dunia 5 tahun silam ?

“Setidaknya kau bisa kembali ketika nenek wafat dan memperbaiki semuanya sebelum menjadi sekacau ini.”

Itu ucapan terakhir Baekhyun sebelum ia meninggalkan ibunya yang menangis karena ia tak tahu menahu soal wafatnya ibu mertuanya itu.Tapi semuanya sudah terlanjur dan pepatah mengatakan waktu tak akan pernah terulang.

Seharian itu Baekhyun hanya merenung di dalam kamarnya,membiarkan ruangan itu perlahan menjadi gelap akibat mentari yag tak bersinar lagi.Ia masih terduduk di sofa ruang tengahnya di baluti melodi sendu dari suara saxophone yang bersumber dari pemutar music di ruangan itu.Jiwanya berkecamuk.Di satu sisi ia ingin memaafkan ibunya dan memulai semuanya dari awal karena  pada kenyataannya  dirinyalah penyebab ibunya bisa bertindak sebodoh itu demi menyelamatkan anak yang di masa depan akan sangat membencinya.Namun sisi lainnya tak ingin menerima fakta-fakta itu dan terus bersikukuh bahwa apapun alsannya seorang ibu tak seharusnya menelantarkan keluarganya.

Tak lama setelahnya, suara teriakan disertai beberapa bunyi benda-benda yang berbenturan dengan keramik lantai memenuhi ruangan itu.Dibalik popularitas,kesenangan,kebahagiaan yang membuat iri orang kebanyakan,inilah potret sesunggguhnya dari kehidupan Byun Baekhyun.Di dalam,ia tak lebih dari seorang anak yang kesepian dengan segudang masalah,yang butuh sandaran dan penuntun untuk menuntunnya hingga tak salah arah.Sosok ibu.

***

Jisun perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat.Ia tahu ini bukan kali pertamanya ia membuka matanya tapi entah mengapa ia merasa ia baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.Mungkin seperti inilah yang dirasakan sang Putri tidur ketika ia harus menunggu seorang pangeran datang untuk menciumnya.Terakhir dia ingat ia berda di tempat yang penuh banyak pintu dan perlahan kakinya menuju kea rah pintu yang paling besar di antara pintu-pintu itu.Suara panggilan dari seseorang yang mirip bayangan ibunyalah yang menuntunnya ke pintu yang sebenarnya tak pernah ingin ia masuki.

Bau alcohol yang menyengat penciumannya, membuatnya sedikit mengerutkan hidungnya dan membuatnya tersadar bahwa ia tidak sedang di kamarnya melainkan di rumah sakit.Apa yang tengah terjadi padanya?

Otaknya berusaha kembali mengumpulkan puing-puing ingatannya.Ia mengingat kondisinya yang sangat menyedihkan malam itu hingga dia mabuk dan setelah itu ia tak mengingat apapun.Selanjutnya ia dapat melihat dari keping-keping ingatan itu tentang ruangan ini.Sepertinya ia sudah lama berada di tempat ini tapi mengapa ia tak mengingat apa saja yang terjadi di tempat ini.Sisa terakhir dari ingatannya hanyalah kemunculan ibunya.Ia tak tahu itu merupakan salah satu mimpi penghias tidurnya yang biasa terjadi atau itu sungguh kenyataan?

Ia tersadarkan dari pikiran-pikarannya ketika mendengar suara mengerang dari sampingnya.Ia hapal betul jenis suara  itu.Matanya tak perlu melirik untuk mengetahui  siapa pemilinya.Dia pasti Park Chanyeol.Sepertinya dia baru saja terbangun dari tidurnya.Menyebut nama itu sungguh membuat dadanya sakit.

“Pagi ,Yoon Jisun .“ suara berat itu memenuhi telinga Jisun belum lagi senyuman yang dilemparkan namja itu yang masih membuat jantungnya berdetak ketika pertamakali ia bertemu dulu.Tapi ia tak hidup di masa lalu yang penuh dengan kepalsuan.Ia hidup di masa sekarang di mana Park Chanyeol tak lebih dari seorang pria jahat yang telah memporak-porandakan hatinya.Ia tak akan tertipu oleh senyum manis itu lagi.

“Untuk apa kau di sini?” Tanyanya dingin.

Senyum Chanyeol berangsur-angsur lenyap.”Yoon Jisun?” Kejutnya.

Jisun merespon ucapannya.Ia tak tahu apa ia harus senang mendengar Jisun meresponnya dan itu berarti Yoon Jisun telah kembali ataukah ia harus bersedih karena kembalinya Jisun mengartikan ia tak bisa lagi berada di sekitar Jisun,memberinya perhatian yang lebih ,karena yeoja itu pasti tak ingin lagi berda di dekatnya setelah kesalahan tolol yang ia lakukan.Tapi Park Chanyeol memilih pilihan pertama.Tak apa jika ia tak bisa berada di dekat Jisun lagi asal wanita yang disayanginya itu berangsur membaik sekarang ini.Hal itu ia buktikan dengan jerit kesenangan sambil memeluk erat tubuh ringkih gadis itu.

“Jisun-ah,syukurlah.”

“Lepaskan!” Jisun mendorong sekeras tubuh itu menjauh darinya dan hatinya mendadak sakit melakukan tindakan itu.Jujur ia rindu memeluk namja ini.Tapi keegoisannya mengalahkan kata hatinya.

Chanyeol cukup terkejut dengan reaksi Jisun,tapi ia kembali tertawa pelan.”Aku akan panggil dokter.”

Dokter dan 2 orang perawat segera memasuki  ruangannya tak lama setelah Chanyeol berlari keluar dari ruangannya.Dokter itu memeriksa keadaan Jisun,mulai dari tekanan darahnya,suhu badannya,detak jantungnya dan mengajukan beberapa pertanyaan kecil bagi pasien sejenis Jisun yang baru sembuh.Dokter menjelaskan semuanya mengenai kondisi Jisun dan ia cukup terkejut ia  sudah seminggu lebih di rumah sakit ini padahal tak sedikitpun ia mengingat tempat ini.

“tak kusangka kau secepat ini keluar dari dunia persembunyian mu.Tapi syukurlah.”Dokter itu tersenyum melihat hasil tes Jisun.

“Mungkin ini ada pengaruhnya dengan wanita yang belakangan ini menjenguk mu.”

“Wanita?” Alis Jisun hampir menyatu mendengar sebutan wanita dari sang dokter di hadapannya.

“Aku tak tahu pasti dia siapa mu,tapi saat kutanyakan namanya dia bilang namanya Kwon Yeonhi.Kupikir dia ibu mu tapi bukannya istri dari ayahmu sudah lama tiada?” Meski dokter itu bukan wanita penikmat gossip tapi ia cukup tahu mengenai kisah istri pengusaha sukses Korea itu.Kabarnya sempat gembar beberapa tahun silam.Sudah sangat lama.

Mata Jisun seketika membulat begitu mendengar nama Kwon Yeonhi.Itu adalah nama ibunya sebelum menyatu dengan marga ayahnya.Meski ia tahu Kwon Yeonhi ada banyak di Korea Selatan ini,tapi Kwon Yeonhi yang mana lagi yang mau menjenguknya padahal mereka tidak memiliki hubungan darah, kalau bukan Kwon Yeonhi ibunya.

“Tapi kurasa yang jauh berperan banyak di sini,lelaki yang sedang menunggu di luar itu.Chanyeol kan namanya?” Lanjutan ucapan sang dokter wanita itu menginterupsi pikiran Jisun.

“Selama kau sakit  hampir setiap saat ia berada di sini bahkan ketika anak SMA sedang dalam masa-masa ujian akhir.Dia sungguh namja yang baik.Suamiku saja tak menunggui ku seketat dia ketika aku sakit.Kau pasti sangat berarti untuknya.”

Ucapan si dokter membuat Jisun terhenyak beberapa saat.Benarkah dirinya seberarti itu bagi Chanyeol? Atau mungkin hanya sekedar rasa iba dan perasaan bersalah?

“Kami sempat bertunangan,tapi semuanya sudah berakhir.” Balas Jisun pelan,ia sendiri tak sadar mengucapkan kata-kata itu.

Dokter itu memberikan tatapan prihatin pada Jisun.Ia menepuk pundak pasiennya itu sambil tersenyum.Ia tak sia-sisa mengambil studi psikologinya karena sekarang ilmu kejiwaan itu sedang bermanfaat baginya untuk mengetahui hal apa yang harus ia lakukan terhadap pasiennya yang satu ini.

“Aku tak tahu apa yang membuat kalian tak lagi bersama dan aku tak berniat ikut campur dalam masalah kalian.Tapi melihat dari bagaimana dia memperhatikan mu selama kau disini,bisa kujanjikan dia tulus melakukannya.Bukan karena iba atau apapun melainkan karena kau sungguh berarti baginya.Ia menyayangimu.Sangat.Aku mempelajari psikologi tidak dalam waktu yang singkat.Aku tahu bagaiman perilaku mereka yang tulus menyayangi dan mereka yang hanya memberi simpati saja.”

“Jam 1 nanti kau harus mengalami pemeriksaan untuk seluruh tubuh mu.Kuharap hasilnya sesuai harapan.” Itu kata terakhir dari sang dokter sebelum ia melangkah keluar dari ruangan itu bersama dua perawat lainnya.

Jisun tak berkata apapun karena otaknya sedang memikirkan ucapan-ucapan dokter itu.

“Hey,apa kata dokter?” Chanyeol masuk ke dalam selang bebera saat dokter itu meninggalkan ruangan ini.

Lama Jisun terdiam sebelum akhirnya ia merespon ucapan Chanyeol namun bukan dengan jawaban yang diinginkan anak itu.

“Selama aku sakit,apa ibuku datang menjengukku?”

Chanyeol terdiam,ia masih ingat bagaimana Baekhyun memperingatinya untuk mengunci mulutnya rapat-rapat soal kedatangan ibu Jisun.

“Dokter itu mengatakan seorang wanita paruh bayah sering menjengukku belakangan ini.Katakan,dia ibu kan?”

Tak ada respon dari Chanyeol,ia mematung di tempatnya.

“Kenapa diam? Jawab aku park Chanyeol!” Jisun tampak tak sabaran. Ia yakin Chanyeol pasti mengetahuinya.Jika Chanyeol terus menjaga dirinya di sini tentu ia hapal siapa yang keluar masuk kamarnya.

Chanyeol menghela nafas berat.Ia tahu betul bagaiman Jisun berharap bisabertemu ibunya dan dia tak ingin membuat anak ini jauh menderita lagi dengan ikut menutup-nutupi kebenaran yang ada.

“uhm.”Chanyeol mengangguk pelan.”Tapi—“

“Tapi aku menyuruhnya untuk tahu diri dan tidak pernah menampakkan dirinya di hadapan keluarga ini.” Suara Baekhyun menggema dan tau-tau saja sudah ikut berada di ruangan itu memutus omongan Chanyeol.

Beberapa saat yang lalu Chanyeol menghubunginya bahwa Jisun sudah kembali normal dan untungnya ia sedang berada tak jauh dengan posisi rumah sakit Jisun,lebih tepatnya ia sedang berada di apartemen Kim Jonghyun untuk mempelajari sedikit tentang filosofi cinta.

“Apa maksud—“Jisun melemparkan tatapan tak mengerti terhadap oppanya yang baru datang itu tanpa member salam.Oh,sungguh ia merindukan kakanya dan ingin memeluknya tapi suasan yang terjadi sekarang membuat perasaan itu hilang perlahan.

“Maksudku jelas.Wanita itu tak pantas berada di tengah-tengah keluarga ini lagi setelah apa yang dia perbuat.Aku hanya membuatnya menyadari itu.” Jawab Baekhyun tenang dan anggun.

Tubuh Jisun gemetar,pandangannya mulai buram karena genagan air mata.Oh ini tidak mungkin terjadi padanya.Di saat kesempatan untuk bertemu ibunya sudah jelas di depan mata,kini Baekhyun melenyapkan impiannya hanya karena permasalah keluarga yang konyol itu.Sungguh ia tak perduli kesalahan ibunya di masa lalau.Dia memang sempat sakit hati saat itu tapi kerinduannya terhadap sosok ibu telah melenyapkan kebencian itu.Lagi-lagi Byun Baekhyun berniat menjauhkannya dari ibunya.Setelah ia merobek foto ibunya sekarang kakaknya itu ingin menghalangi jalannya untuk bertemu dengan ibunya?

“Bagaimana bisa kau melakukan itu?! Kenapa kau melakukannya?! Bagaimanapun juga dia tetap ibu—“

“Dia bukan ibu! Kita tak punya ibu lagi sejak ia menelantarkan kita!”

“Mwo?”Alisnya terangkat sebelah.”Kau gila oppa! Kau sudah tak waras!kau tak punya hati nurani! ” Caci Jisun.

“Kewarasanku sudah tiada,nuraniku sudah lenyap ketika ia meninggalkan keluarga ini.”jawab lelaki itu masih dengan kesantaiannya.Sorot matanya menggambarkan jelas kebencian yang menggunung.

“Mestinya kau pertanyakan pertanyaan mu itu padanya.Tanyakan dimana kewarasannya  ketika ia memutuskan untuk meninggalkan keluarganya dengan anaknya yang tengah sakit parah? Dimana nuraninya ketika anaknya memelas agar ia tak pergi tapi dengan cueknya ia tetap melaksanakan niatnya? Lemparkan pertanyaan itu padanya !”

“Kau tak mengerti oppa! Kau sama sekali tak mengerti ibu. Aku yakin ada alasan yang tepat dibalik keputusannya itu.Aku—“

“tak ada alasanyang tepat yang membuatmu harus meninggalkan keluargamu.Tidak ada.” Kepala Baekhyun menggeleng.Jisun benar,ibunya memang punya alasan yang logis dibalik itu semua,tapi tetap saja ia tak bisa menerimanya.

“Kau tahu oppa,sepertinya cuma kau yang tak bisa menerima ibu.Jika mendengar kabar ini ayah pasti bahagia dan berusaha untuk membawa ibu kembali ke keluarga kita.Hanya kau yang bermasalah disini ! Kau yang selalu membuat segalanya runyam!”

Mata Baekhyun membulat mendengar ucapan Jisun.Tangannya bergetar karena mengenggam terlalu kuat.Sementara Chhanyeol,emosinya juga mulai menaik melihat perilaku Baekhyun ini.Bagaimana mungkin seorang kakak berusaha menjauhkan adiknya dari ibu kandungnya sendiri?

“Kau pindah ke apartemen karena kepalamu selau pusing ketika berada di sekitar hal-hal yang berbau ibu.Kau merobek foto ibu agar aku tak bisa mengenangnya.Dan sekarang kau berusaha untuk menghapus jejaknya ketika aku hampir saja bertemu? Oh ! kau sungguh gila Byun Baekhyun!”

“Byun Jisun!—“

“hentikan!” Chanyeol menarik tubuh Baekhyun segera keluar ruangan membuat ucapan namja itu tak terselesaikan.Jika Baekhyun masih dibiarkan terus berada di dalam ia tak tahu apa yang akan terjadi di antara kedua kakak-beradik itu.

“Cukup Byun Baekhyun ! Hentikan!” Suara bass milik park Chanyeol menggema di koridor rumah sakit yang sunyi itu ketika Baekhyun bersikeras ingin masuk kembali dan melanjutkan percakapannya dengan Jisun,membuat adiknya sadar bahwa mereka tak butuh ibu.Jadi biarkanlah wanita itu tetap menghilang seperti sebelumya.Dari luar erangan Jisun yang tengah menangis frustasi terdengar begitu keras.Ia berteriak dan Chanyeol menjadi sangat khawatir  lebih lama berdebat di dalam,Baekhyun bisa membuat Jisun kembali kepenyakitnya sebelumya bahkan lebih parah.

Baekhyun menghempaskan kedua tangan Chanyeol yang membelenggunya.Nafasnya tak beraturan,begitu pula dengan Chanyeol.Ia menatap Chanyeol dengan tatapan apa-yang-sedang-kau-perbuat-park Chanyeol?

“Aku kecewa pada mu.Dia itu adik mu.”

Tak ada suara yang keluar dari mulut Baekhyun selain deru nafasnya.

“Kau lebih tahu dari siapa pun seberapa besar keinginannya bertemu dengan ibu mu. Lantas kenapa kau lakukan ini padanya? Kenapa kau menutup jalan untuk ia bertemu dengan ib—“

“Ini bukan urusan mu Park Chanyeol.” Ujar Baekhyun dingin.Emosinya belum juga meredah.

“heh,bagaimana mungkin ini bukan urusan ku? Kau menyakitinya dan ketika Jisun tersakiti itu menjadi urusan ku.” Ia melemparkan tatapan dinginnya ke Baekhyun.

“Coba lihat siapa yang berbicara menyakiti disini.” Baekhyun tersenyum sarkastik.”Jika berbicara orang yang menyakiti kaulah orangnya, bukan aku.” Baekhyun menekankan pada ucapan terakhirnya.Tanpa namja itu sadari,Baekhyun telah menekan tombol kemarahan Park Chanyeol.Baekhyun memang tak sadar atas setiap omongan tajam yang keluar dari mulutnya.Amarah sedang mengendalikan dirinya.

“Kaulah yang paling menyakitinya hingga ia seperti—“ Ucapan Baehyun tak terselesaikan ketika ia merasakan hantaman hebat di pinggir bibirnya hingga ia terhuyung kebelakang beberapa langkah.Rasa panas menyerangnya dan tak lama keudian nyeri itupun menghampirinya.Ia meringis perih sambil memegang rahangnya.Rasa asin dan bau amis darah seketika itu ia rasakan.Park Chanyeol baru saja melayangkan tinju padanya.

Baekhyun menegakkan dirinya sambil menunjukkan cengirannya yang seolah berkata apa-kau-baru-saja-memukulku?! Ia berjalan perlahan menuju Chanyeol dan ketika ia mencapai namja yang begitu kontras dengan ketinggiannya itu,ia mencengkram kerah bajunya.Sementara Chanyel terdiam tak merespon.Apa yang baru saja ia lakukan benar-benar tanpa ia sadari.Ia tak bermaksud seperti itu.Tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menghantam wajah sahabatnya.

“Baek—“ baru saja ia ingin meminta maaf atas kekhilafannya tapi tinjuan balik Baekhyun sudah terlanjur menghantam wajahnya dan mulutnya tak bisa berkata apa-apa lagi.Meski tubuh itu kurus dan terlihat lemah tak bertenaga namun pukulannya tak bisa diremehkan.Pukulan namja kurus itu sanggup membuat tubuh seraksasa Chanyeol terhuyung kebelakang dan membuat luka yang sama pada daerah sudut bibir dan rahang lelaki itu.

Baekhyun menghampiri tubuh Chanyeol.”Kita impas.” Ucapnya datar.Untuk sepersekian detik itu mereka saling melemparkan tatapan kebencian yang dikelolah oleh amarah mereka.Hingga suara dari belakang Chanyeol menginterupsi keduanya.

“Hey kalian— Astaga apa yang kalian berdua lakukan?!” nada sapaan di awal berubah dalam satu detik menjadi kekhawatiran ketika si penyapa menyadari apa yang terjadi pada kedua sahabatnya itu.

Baekhyun mengalihkan pandangannya dari mata Chaneyol dan melihat orang yang berada di belakang Chanyeol.Lagi-lagi Do Kyungsoo dan Shin Hyunchan.Untuk pertamakalinya ia merasa tak ingin bertemu dengan Kyungsoo ataupun Hyunchan saat ini.Padahal jika saja susasan hatinya tak secarut-marut mungkin dia akan segera memeluk gadis itu mengatakan bahwa dia merindukannya dan mencari penjelasan mengapa ia menjauhi dirinya.Namun yang ada sekarang hanyalah rasa benci,kesal,cemburu,dan entah hal buruk apalagi yang ia rasakan.

Matanya melirik ke keranjang buah yang ada di tangan Hyunchan. Sepertinya ia dan Kyungsoo baru saja berbelanja buah-buahan untuk Jisun.Ia bisa melihat bayangan bagaimana keduanya bersenang –senang,berbelanja berdua layaknya orang berpacaran,saling bercanda sambil memilih buah-buahan—oh,hentikan Byun Baekhyun! 

Ia bisa merasakan kepalan tangannya mengencang.Seharusnya ia tak berfikir yang macam-macam karena hal itu justru membuat segalanya semakin runyam.

Sapaan Hyunchan untuk Baekhyun sudah berada di ujung lidahnya tapi tak jadi ia keluarkan ketika lelaki itu melemparkannya tatapan seorang pembunuh berdarah dingin.Ini pertamakalinya ia melihat Baekhyun penuh tatapan amarah ditambah lagi  bercak darah di sudut bibirnya.Pemandangan itu membuat Hyunchan menjadi takut dan memutuskan untuk tidak menatap Baekhyun.

“Apa kalian baru saja berkelahi?”Nafas Kyungsoo belum terhembus. “astaga!” Keluhnya sambil mengeluarkan hembusan nafasnya.Kyungsoo memijit kepalanya sambil mendesah tak mengerti dengan hal kekanak-kanakan apa yang baru saja dilakukan oleh teman-temannya ini. “Kuharap kalian bisa menjelaskan—“

Baekhyun menerobos orang-orang itu dan berjalan pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun,membuat ketiga orang yang berada di situ terheran-heran.

“Jisun mencari ibunya dan Baekhyun sudah mengusir wanita itu.Aku hanya memberinya pelajaran bahwa ia tak boleh mementingkan keegoisannya.” Chanyeol menyandarkan dirinya di tembok sambil meringisi lukanya.Punggung Baekhyun perlahan menjauh dan Hyunchan terus menatapnya hingga sosoknya menghilang dari koridor rumah sakit.

”Sekarang aku tak tahu bagaimana menemukan wanita itu.” Ujar Chanyeol putus asa.Matanya terpejam,lelah yang teramat sangat menghampirinya.

Hyunchan yang sedari tadi terdiam,akhirnya angkat bicara.“Aku tahu dimana dia tinggal.”

***

“kau tak perlu lagi datang kesini.Terima kasih sebelumnya,tapi sekarang aku sudah bisa mengurus diriku sendiri.” Itulah ucapan yang di dapat Chanyeol ketika keesokan harinya ia menjenguk Jisun.Tak sedikitpun wanita itu menatapnya dan itu membuatnya sakit.

“Sekarang bukan saatnya membahas itu.Cepat ganti bajumu,kita akan ke suatu tempat.” Ujar Chanyeol tidak menghiraukan perkataan Jisun sebelumnya.

“Mwo?”Ia bisa melihat jelas wanita itu melemparkannya tatapan membigungkan.”Aku tak mau kemana-mana,apalagi bersamamu.Dokter saja belum memperbolehkan ku untuk beranjak dari tempat ini—“

“Kita akan pergi ke rumah ibumu.” Jisun sukses di kejutkan dengan ucapan itu.Semuanya terlihat jelas pada matanya yang membesar.

“Kau masih mau menolak?” Ada senyum kemenangan terpancar di wajah lelaki  yang baru saja merubah gaya rambutnya menjadi spike yang membuatnya terlihat makin keren.”Dan soal izin,dokter Cho sudah memberikan aku izin hingga malam nanti.Jadi tak ada alasan lain,kan?”

Kondisi Jisun memang sudah membaik.Selang infuse sudah tercabut dari tangannya.Hasil pemeriksaan kesehatan pun menunjukkan progress yang semakin baik.Jisun tak banyak bicara lagi setelah mendengar tentang ia yang akan segera bertemu dengan ibunya.Entah orang yang mengajaknya adalah Park Chanyeol,ia tak perduli.Ia hanya perduli soal ibunya,ibunya,dan ibunya.

Pukul dua siang hari itu mereka berangkat menuju kawasan pinggir kota yang merupakan kawasan padat penduduk.Sepanjang perjalanan Jisun hanya terdiam menikmati alunan lagu Don’t go milik Exo yang merupakan salah satu lagu nostalgia ia dan Chanyeol.Ia tak berusaha mematikan lagu itu,padahal ia tahu betul lagu itu mengingatkannya pada masa lalu mereka.

Keduanya  terjebak dalam kediaman.Kediaman yang malah membuatnya merasa nyaman.Tak ada satupun yang berniat bersuara.Mereka takut suara sedikit saja dapat menghancurkan momen ini.

Untuk usaha Chanyeol yang telah berhasil menemukan tempat ibunya dan berkat itu sebentar lagi ia akan bertemu dengan wanita yang begitu ia rindukan,hati Jisun sempat tersentuh.Tapi hatinya belum bisa menerima ketulusan anak itu setelah luka menganga yang ia tumbulkan.

Mereka perlu berjalan sekitar 1 km untuk mencapai tempat yang mereka tuju dengan kondisi jalanan menanjak.Chanyeol  berjalan di samping Jisun,sengaja agar sinar matahari dari arah samping tak menerpa Jisun karena terhalangi oleh tubuh jangkungnya.Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah sederhana masih dengan sedikit nuansa ketradisionalan.Chanyeol memastikan nomor rumah itu sesuai dengan nomor yang di sebutkan oleh Hyunchan padanya.

Tangannya mengetuk pagar besi yang nampak dipenuhi oleh karatan itu.Tepat di ketukan ketiganya sebuah suara si yang punya rumah terdengar menyahut,menyuruh agar si tamu untuk bersabar.

Wanita hampir setengah abad dengan pakaian lusuhnya dan bau minyak urut yang biasanya digunakan para wanita tua untuk nyeri tulang menyambut mereka ketika pintu pagar itu itu terbuka.Si tuan tumah butuh mengusap  peluh di dahinya sebelum ia menyadari siapa kedua tamu yang mendatangi rumahnya.

Waktu seolah terhenti sejenak ketika ibu dan anak itu saling bertatapan.Ada begitu banyak kata yang ingin terucap namun lidah mereka terlalu kelu bahkan hanya untuk sekedar memberi salam.Mereka berdua seolah dihempas ke masa lalu.Dimana semuanya masih baik-baik saja.Seorang ibu yang begitu menyayangi anak perempuannya dan anak perempuan yang begitu menyayangi ibunya.

“Akhirnya aku menemukan mu,bu.” Isakan mengahru biru mewarnai   sore cerah itu.Keduanya berpelukan sangat erat,takut ini hanya mimpi dan salah satunya akan menghilang ketika mereka terbangun.Akhirnya anak dan ibu ini bertemu setelah sekian tahun lamanya.

Tak ingin mengganggu keadaan sekitar dengan reunian mereka dan ingin mengadakan pembicaraan pribadi,akhirnya kedua wanita itu masuk ke dalam rumah.Chanyeol memutuskan untuk menunggu di teras rumah saja,memberi ruang keduanya untuk saling mengungkapkan kata.Entah mengapa ia seolah kehilangan satu beban berat lagi melihat Jisun akhirnya dapat bertemu dengan ibunya.

“Terima kasih Shin Hyunchan.” Ujarnya seketika menghubungi yeoja yang telah memberinya bantuan yang cukup besar.

“sama-sama.” Chanyeol sempat mendengar embel-embel lain setelah kata ‘sama-sama’ itu seperti ucapan ‘paling tidak ini hal terakhir yang bisa kulakukan untuknya.’ Tapi ia tak mendengarnya dengan baik  jadi jadi ia putuskan saja untuk mengabaikannya.

Ia mengirup udara dingin Seoul sambil meregangkan otot-ototnya.Untuk pertamakalinya ia merasakan udara dingin ini sehangat udara di musim panas.Merasakan dadanya tak terlau sesak.Semoga ini menjadi awal yang baik,harapnya dalam hati.

***

“wow bagaimana bisa kau mengetahui keberadaan ibu Jisun dengan mudah yang bahkan untuk seorang Byun Jinki saja butuh bertahun-tahun untuk mencarinya?” Kyungsoo terlihat antusias dengan Shin Hyunchan ini.

Mereka baru saja kembali dari rumah sakit yang awalnya berniat untuk menjenguk Jisun tapi si pasien sedang tidak ada di kamarnya sejak pagi tadi.Menurut seorang perawat,ia sedang keluar bersama seorang nama jangkung yang pastinya dia adalah Park Chanyeol.Oleh sebabnya mereka keluar dari rumah sakit lebih cepat dari yang dijadwalkan dan itu berarti masa-masa bersama dengan Hyunchan harus berakhir lebih cepat .Buktinya sekarang Kyungsoo sedang mengendarai mobilnya menuju apartemen Hyunchan hendak mengantar gadis itu ke kediamannya. Meski sebelumnya mereka sempat pergi makan malam dulu dan soal menjenguk Jisun itu hanyalah modus Kyungsoo agar bisa sedikit menghabiskan waktu dengan Hyunchan.

“Atau jangan-jangan kau yang menyuruhnya untuk menemui Jisun?” Kyungsoo masih terlihat antusias.Namun senyuman lebarnya perlahan menghilang ketika yang diajak bicara tak merespon ucapannya sama sekali.Ia justru terlihat sedang melamun menatap lampu-lampu pertokoan dari balik kaca jendela mobil Kyungsoo.

“Hyunchan-ah,kau mendengar ku?” tanyanya, sesekali menoleh dari pandangannya ke jalan di depannya.Masih belum ada respon.Gadis itu terlalu sibuk bergelayut dengan pikirannya menyoal Byun Baekhyun.Tatapan tajam lelaki itu masih belum juga menghilang dari benaknya.Tak adalagi pesan basa-basi sepert ‘pagi’,’apa kau sudah makan?’ ‘apa yang sedang kau lakukan?’ dan pesan sejenisnya yang mengampiri ponsel Hyunchan sejak kemarin.Meskipun ia mengabaikan pesan-pesan itu dan tak membalasnya tapi ia membacanya dan itu cukup menghiburnya.Seharusnya ia senang pesan-pesan itu tak lagi membuat ponselnya berdering dan mengganggu telinganya,tapi jauh dilubuk hatinya ia merindukan pesan singkat itu.Singkat tapi bermakna baginya.

“Shin Hyunchan?!” Kyungsoo menaikkan nada suaranya sedikit agar gadis disebelahnya lebih bisa mendengarnya.Dan itu sukses membuat membuat Hyunchan  tersadar dari lamunannya dan menoleh ke Kyungsoo.

“Umh? “Ia menoleh dengan wajah terkejut sekaligus bingung.”Kau bilang apa tadi?”

“Susuatu apa yang sedang kau fikirkan?” Kyungsoo tak menjawab malah balik bertanya.Ia tak berniat lagi mengulang ucapannya sebelumnya.Antusiasmenya sudah terbunuh ketika ia sadar Hyunchan tak mendengarnya dan memikirkan hal lain.

“Aku tak memikirkan apapun.Hanya saja aku merasa mengantuk karena perut yang kekenyangan.”Bohong gadis itu.Ia memperbaiki posisinya dan mencari posisi yang enak agar ia bisa pura-pura tidur di mobil ini.Ia sedang tak berniat menjawab pertanyaan Kyungsoo.Ingat,Hyunchan bukan type orang yang terbuka dengan perasaannya.

“Baekhyun.Yang kau pikirkan soal Baekhyun,kan?” tebakannya tepat sasaran.Kyungsoo bukan pembaca pikiran,dia tak punya kemapuan seperti itu.Hanya saja itu semua tergambar jelas di wajah Hyunchan.Ia menoleh karena Hyunchan tak meresponnya dan gadis itu sudah menutup matanya dengan tangan yang ia sandarkan ke kaca jendela sebagai alas kepalanya.Ia tahu gadis itu hanya berpura-pura.Ia bisa saja memaksa Hyunchan tidak lari dari percakapan ini.Tapi jika sudah bertingkah seperti itu,sepertinya gadis itu memang tak ingin bicara banyak malam ini.

Suara Justin bieber dengan lagunya catching feeling mengisi keheningan mobil itu.Hingga lagu itu selesai keheningan itu masih tetap menyelimuti.Sesekali Kyungsoo akan melirik menatap wajah Hyunchan.Dan dia akan berhenti ketika detakan jantungnya tak normal lagi.Lagu ini seperti menunjukkan bagaimana perasaannya.

Ditepuk-tepuknya wajahnya yang memanas itu kemudian memilih untuk lebih berkonstrasi pada jalanan di depan.

“Gomawo,Kyungsoo-ya.Lain kali biar aku saja yang mentraktir mu.”Ucap Hyunchan membungkukkan wajanhnya setara dengan jendela mobil Kyungsoo,ketika ia telah sampai di depan pintu masuk apartemennya.Ia tersenyum,senyum yang akhir-akhir ini sering menghiasi wajah gadis itu ketika berinteraksi dengannya.

“Annyeong.” Baru saja ia ingin pergi tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara pintu mobil terbuka dan menutup.Ia menoleh dan didapatinya Do Kyungsoo tengah berdiri di belakangnya.

“Ada sesuatu yang ingin kuberitahu.” Hyunchan menunggu kata selanjutnya yang keluar dari mulut namaj itu.

“Minggu malam datanglah ke atap gedung sekolah.Pukul 8.” Lelaki itu tersenyum sedikit malu-malu.

“Mwo? Maksud mu?”

“Ingat aku pernah menjanjikanmu untu pergi ke suatu tempat jika masa-masa ujian telah usai? Aku sedang menepati janjiku. “

Ingatannya kembali pada bagian ketika mereka berada di atap sekolah dan Kyungsoo mengumbar janjinya.Ia senang,tapi kenapa ia harus ke atap gedung sekolah malam-malam? Bukankah itu akan menyeramkan? Tapi ia hanya menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.Ia tak ingin menghancurkan senyuman yang terkembang di wajah Do Kyungsoo,seseorang yang sudah di anggapnya teman terbaiknya.

“Karena ini sesuatu yang khusus,datanglah dengan penampilan terbaik mu,ok?”  Kyungsoo bisa merasa darahnya berkumpul di wajahnya seperti ketika ia melakukan handstand.’Dasar payah! baru begini saja kau sudah seperti ini.’ rutukan itu muncul di dalam otaknya.

Anggukan pelan dari Hyunchan membuat senyuman itu semakin melebar dan membuat Kyungsoo terlihat imut.”Ok.Sampai ketemu.Annyeong.” Kyungsoo mengacak pelan rambut Hyunchan dan segera masuk ke mobilnya.Ia  yakin wajahnya sudah semerah topi santa. Dilihatnya pantulan wajahnya pada kaca spion mobil dan betul saja semburat merah sudah memenuhi pipinya yang agak tembem itu.Seharusnya bukan dia yang bersemu merah,tapi Hyunchan.

Ia menjalankan mobil itu secara perlahan,siap-siap keluar dari basement apartemen Hyunchan.Matanya masih tak terlepas dari kaca spion sebelah kirinya.Bola mata bulat itu memperhatikan bagaimana Hyunchan yang memutar badannya bersiap-siap  masuk ke apartemennya.Ia ingin memastikan yeoja itu masuk dengan selamat.

Kakinya mendadak menginjak pedal rem tepat sebelum tikungan keluar menuju jalan raya,ketika Hyunchan tak jadi melanjutkan langkahnya. Kyungsoo mencari tahu alasan di balik mengapa gadis itu tak jadi masuk.Ia terlihat menghampiri seorang pria,atau mungkin lebih tepatnya pria itu yang menghampirinya.

Kyungsoo tak tahu perasaan apa yang menyerangnya.Yang ia tahu ada rasa sakit yang menyerbunya ketika ia melihat lelaki itu memeluk Hyunchan beberapa detik kemudian.Ia tahu siapa lelaki itu meski ia memandang dari jarak jauh dan penerangan yang redup.Ia bahkan tahu siapa lelaki itu hanya melihat dari bayangannya saja. Byun Baekhyun.

***

TBC

ANNYEONGGGGG !!!

KALI INI  UPDATENYA GA LAMA KAYAK KEMARIN HAHAHA

POKONYA SELAMA LIBURAN INI SAYA USAHAIN CEPET CEPET PUBLISH FFNYA BIAR BISA SELESAI SEBELUM AKTIF KULIAH LAGI *AUTHOR CURCOL*

Yang minta dibuatin adegan Hyunchan-Kyungsoo udah saya bikinin,tapi yang ini belum semuanya kok,masih ada lanjutannya entar hahaha.

Jisun udah sadar dan itu artinya bentar lagi bakal ada momen momennya Jisun-chanyeol.Jadi yang suka sama ini cast berdua sabar dikit lagi ye 😀

BUAT READERS YANG MASIH SETIA ,MAKASIHH BANYAK SEMUANYA !!  *LEMPAR BIAS SATU SATU*

KOMEN-KOMEN KALIAN SEBELUMNYA UDAH SAYA BALAS SATU SATU HOHOHO

MAKASIH BANGET UDAH MAU NINGGALIN JEJAKNYA,SAYA BACA SATU SATU DAN KOMENNYA LUCU LUCU hehehehe

SOAL TYPO MAAF YAH KALO ADA BANYAK.SAYA GA SEMPAT NGEDIT LAGI SOALNYA KALO PUASA ITU BAWAANNYA MALAS CUY WKWKWK #PLAK

TRUS YANG BARU BACA SEKARANG GAK USAH REPOT REPOT KOMEN DI PART SBELUMNYA LANGSUNG KOMEN DI PART INI AJA HOHOHO

Ok,Next chaptnya secepatnya bakal saya usahain 😀

Annyeong~ *kabur bareng key*

110 responses to “THE SECOND LIFE [PART 13]

  1. ksian baekhyun,,,mgkn emg sdkt ssh bwt maafin ibuny,tp mdh2n dy bkal bs maafin…
    n mdh2n chanyeol jg cpt baikan ma jisun..
    enk bgt dah jd hyunchan drebutin 2 cow keren…bacon bwt aq aja dh,,#mimpi!hehe

  2. Baekhyun masih merasa kalo semuanya itu ga adil dan rasa sakitnya masih belum terobati, makannya dia masih belum bisa menerima baik kehadiran ibunya. Tapi untuk perkelahian baekhyun sama chanyeol ko aku rada sedih ya, apalagi pas baekhyun sama jisun sempet adu mulut :v
    Alhamdulillah, jisun bisa ketemu sama ibunya. Dan kayanya hubungan jisun sama chanyeol ga renggang kek dlu, soalnya interaksi mereka rada membaik.
    Aku sempet dibikin seneng sama moment kyungsoo sama hyunchan, tapi pas liat kyungsoo cemburu sama baekhyun aku kasian bayanginnya. Belum lagi baekhyun sempet buat dia seneng karena baekhyun bilang ga suka sma hyunchan, dan dia dibuat kecewa.
    Oh ya, kenapa si baekhyun dateng ke si hyunchan? Ada apa lagi tuh?
    Ya allah, sumpahnya si baekhyun kalo cemburu bikin senham senyum sendiri. Walaupun dia cemburu pas abis berantem sama chanyeol apalagi pas wktu itu suasananya tegang, tapi beneran, menurut aku cute😂
    Maafkan ka, selain aku selalu menghayati, *mungkin* aku juga terlalu lebay :v

    Semoga komentar saya yang selalu panjang, bertele-tele dan ga jelas ini menjadi kenangan bagi kaka😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s