[Chapter 3] Love in Love

Title: [Chapter 3] Love in Love

Author: hyeri

Cast:

  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Lee Taemin as Kim Taemin (SHINee)
  • Choi Sin Ya (OC/You)
  • Krystal f(x) as Jung Soojung / Krystal

Genre: Romance, etc. (Spesifik: Genre yang cocok untuk remaja ._.)

Rating: T (PG15)

Length: Chapter 3/?

Disclaimer: Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

A/N: (drum roll) DOORR! Akhirnya Part 3 fanfic ‘Love in Love’ dipublish juga! Maaf telat beberapa minggu /? Soalnya 3 minggu terakhir lagi sibuk2nya sekolah T-T Sebagai gantinya, part ini saya lebihin beberapa halaman ._. Yang seharusnya masuk Part 4 jadi masuk Part 3. BERBAHAGIA-LAH KALIAN. Ok, happy reading dan semoga fanfic ini suka dan dicintai. So, enjoy this fanfiction and sorry for any typo there. Once again, enjoy!

Prolog | Chapter 1  | Chapter 2

***

He’s too complicated.

Itulah gambaran pas untuk seorang Taemin dengan perasaannya yang rumit. Perlu seseorang untuk mengartikan perasaannya. Terutama perasaannya kepada Sin Ya. Seorang gadis yang sejak 8 tahun lalu tinggal bersama di keluarganya, membawa suasana lebih ceria dan bewarna untuk hidupnya. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan lekuk wajah bak patung yang dipahat sempurna, membuat jantung Taemin merasa out of control ketika melihat si gadis tersenyum padanya. Selalu merasa bahagia yang campur aduk ketika ia bersama Sin Ya, selalu merasa ia akan menjaga gadis ini sepanjang waktu. Berawal dari umurnya 9 tahun—8 tahun lalu—sampai sekarang hingga ia berumur 17 tahun, rasa itu terus tumbuh dan tumbuh kian kuat.

Love at first sight.

Ungkapan Inggris ini sepertinya yang dirasakan oleh Taemin sejak 8 tahun lalu—ketika ia pertama kali bertemu dengan Sin Ya. Ia bahkan masih ingat bagaimana dirinya dulu menganggumi gadis pintar tersebut dan menceritakan semuanya kepada sang saudara kembarnya tanpa rasa ragu. Itulah Lee Taemin.

***

Kai yang sedari tadi berkutat dalam komiknya, kini menyadari sesuatu, bahwa ruang kamarnya begitu sepi, tidak seperti biasanya yang penuh dengan ocehan Taemin walaupun Kai sekalipun tidak meresponnya.

Kai menutup komiknya dan menoleh ke arah ranjang Taemin berada. Melirik si empu ranjang dengan matanya. Pemandangan asing terlihat dari mata Kai. Bagaimana tidak, Taemin yang biasanya sangat aktif atau malah mungkin bisa dikategorikan melebihi hiperaktif, kini ia hanya terlihat tengah terbaring sambil meletakkan tangan kanannya untuk menutupi matanya dalam diam. Taemin terlihat sangat lelah, entah mengapa. Mungkin hatinya kacau sekarang—sama seperti kasus anak muda lainnya, jika ‘start’-nya diambil.

Kai dapat menyimpulkan dari pemandangan yang dirinya lihat sekarang sebagai fenomena baru Taemin.

“Kau kenapa? Sakit?” Kai membuka mulutnya dan memecah keheningan yang ada.

Taemin diam—tetap pada posisinya, bahkan sekalipun tidak menoleh kepada Kai.

Kai sedikit berdecak dan melanjutkan perkataannya, “Apa kau ingin bercerita?”

Kurang baik apalagi Kai saat ini? Sedingin apapun manusia bernama Kim Jong In ini, ia tetaplah seorang saudara kembar Taemin yang harus mengerti keadaan kembarannya. Harusnya Kai selalu menunjukkan sisi care-nya di hadapan orang lain pula, tidak hanya dengan kembarannya. Apakah harus semua orang menjadi kembarannya terlebih dahulu? Konyol.

Taemin kini perlahan mengubah posisinya hingga ia terduduk sekarang. Menumpu dagunya di atas lutut sambil menunjukkan bibirnya yang mengerucut.

“Aku bingung, Kai ….” gumam Taemin dengan nada lemas.

Dengan gayanya yang cool, Kai kembali membuka komiknya dan membacanya dengan santai, namun tetap memasang telinganya untuk mendengar cerita Taemin.

“Hidupmu selalu penuh dengan kebingungan. Kau harus mengubah hidupmu dahulu.” lontar Kai seperti seorang psikolog saja.

Taemin terdiam sejenak dan pikirannya kini entah mengapa seperti mencerna baik-baik perkataan Kai. “Bagaimana caranya untuk mengubah hidupku ….”

“Itu urusanmu sendiri.” jawab Kai singkat. Taemin lagi-lagi merengut mendengar jawaban dari Kai yang menurutnya tidak membantu sama sekali. Well, Taemin harus tabah kali ini.

“Kau tahu? ….” Taemin membuka mulutnya untuk sekedar mengungkapkan kegundahan hatinya, namun ia menghentikan sejenak perkataannya dan mengambil napas dalam.

“… sepertinya aku harus menjelaskan perasaan ini kepada Sin Ya. Setidaknya, sebelum terlambat.”

Semuanya hening. Dua namja yang terikat darah sebagai saudara kembar ini hanya terdiam bisu dan berfokus dalam satu titik di pikiran mereka masing-masing. Taemin meraba dada kirinya, di mana jantungnya berada dan mencoba merasakan apa yang ia rasakan sekarang secara lebih jelas. Detak jantungnya berdetak dengan tempo cepat dan tidak terkendali. Bahkan dirinya sendiri dapat mendengar samar-samar degupan jantungnya.

Ketika ia memikirkan perasaannya yang rumit terhadap Sin Ya, tubuhnya seakan berubah menjadi gila. Mungkin ini kriteria orang yang sedang jatuh cinta. Diawali oleh kerumitan, dijalankan oleh kegilaan dan diakhiri oleh kepastian.

Kai yang sedari tadi diam membisu, kini membuka mulutnya dan berbicara, “Kapan kau akan menyatakan perasa─”

“HARI INI! Benar! Aku akan mengatakannya hari ini, sore ini!” Taemin memotong pertanyaan Kai dengan cepat dan tanpa terkesan ragu dari wajahnya. Mimiknya kini berubah drastis menjadi sumringah. Entah setan apalagi yang merasukinya setiap detik.

“…”

Degupan jantung Kai tiba-tiba berdetak sangat cepat. Seakan ia merasa sakit yang amat pilu dari dalam dada kirinya. Membuatnya tercekat untuk beberapa saat segera setelah Taemin mengungkapkan tekadnya di hadapan namja bernama Kim Jong In ini. Kai memang pintar dalam menyembunyikan perasaannya.

Dan kini ia tengah menyembunyikan perasaan sesungguhnya di hadapan si kembaran.

***

Sin Ya berbaring dengan santai sambil mengarah ke jendela kamarnya, menikmati pemandangan langit tentram Busan. Ini sudah kesekian kalinya dirinya membolak-balikkan tubuhnya untuk mencari posisi yang nyaman. Tapi sampai detik ini, ia belum bisa menghilangkan satu objek yang membuat kepalanya sakit hingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Satu objek yang tidak lain dan tidak bukan adalah seorang sosok dengan berwujud manusia bernama Kim Jong In atau kerap dipanggil Kai. Laki-laki yang di mata gadis ini adalah manusia terdingin atau cuek, mempunyai kulit gelap—berbeda dari orang Korea umumnya, mata sayu, rambut coklat-hitam yang berantakan, sedikit jakung, rahang sempurna, hidung mancung, senyum tipis yang misterius dan satu hal lagi yang menjadi pelengkap sosok namja ini di mata Sin Ya yaitu diam-diam menghayutkan. Well, poin terakhir hanya tambahan.

Benar. Kai, dia-lah manusia yang membuat pikiran Sin Ya bingung dan kepalanya pusing. Sesekali Sin Ya memijit pelipisnya pelan sekedar meringankan beban pikirannya sejenak.

Sin Ya menghelakan napasnya panjang dan memandang langit-langit kamarnya. Bergumam, “Ada apa denganku sebenarnya? Apakah aku sudah gila?”

Sin Ya merasakan setiap detik jantungnya berdetak lebih cepat saat memikirkan Kai. Dirinya pun masuk ke dalam pikirannya sendiri sambil menormalkan napasnya yang tidak beraturan.

“EUGGHHH! ADA APA DENGANKU!?” Gadis manis ini berteriak kencang sambil mengacak rambutnya. Bertingkah seperti anak kecil yang sedang kesal, ia melemparkan beberapa bantal dan gulingnya tanpa peduli apapun.

Brakk

Suara keras bantingan pintu kamar Sin Ya berhasil membuat pemilik si kamar terkaget dan terduduk di ujung ranjang.

Rupanya manusia yang baru saja mampir di pikirannya-lah yang membuat suara berisik tersebut. Dengan tatapan dingin dan tentu saja tajamnya, Kai mendekati Sin Ya dengan langkah besarnya. Mendekati gadis tersebut dengan cepat dan tergesa-gesa. Rahang Kai yang terlihat keras seolah menggambarkan bahwa namja itu datang dengan kesal.

Sin Ya yang sedari tadi mencoba menghapus Kai dalam pikirannya, tiba-tiba dikagetkan oleh kedatangan ‘tamu tidak diundang’ yang notebene adalah Kim Jong In. Membuat pikiran Sin Ya semakin kacau tanpa alasan. Kesimpulan untuk keadaan sekarang adalah, Sin Ya gagal menghapus Kai dalam pikirannya.

K-k-kenapa makhluk ini tiba-tiba masuk ke kamarku ketika aku… aku… mencoba untuk… argh! ─batin Sin Ya dalam diamnya.

Kai dengan lamban melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang berukuran sedang milik Sin Ya, di mana sang empu-nya sedikit menutupi wajahnya di balik jemari tangannya. Sin Ya memperhatikan gerak-gerik Kai dari atas kepala hingga ujung kaki. Dan hal pertama yang terbesit di kepalanya adalah cool guy.

Kai menaikkan kaki kanannya ke atas ranjang milik Sin Ya hingga membuat gadis cantik ini semakin merapatkan jemari tangannya dan membuat matanya tidak melihat apapun sekarang. Namun, beberapa detik setelah itu, Sin Ya dapat mendengar decitan ranjangnya pertanda makhluk yang berjarak sangat dekat dengannya kini mulai merangkak mendekatinya.

Kai dengan perlahan merangkak mendekati Sin Ya yang tengah terduduk sambil menutupi wajahnya dengan tangannya di ujung kasur. Kai mengernyit saat mendapati respon Sin Ya saat ini. Memangnya apa yang salah? Ok. Wajar saja Sin Ya merasa sedikit ‘ketakutan’ karena ada seorang namja masuk ke dalam kamarnya tanpa alasan dan tanpa ba-bi-bu langsung naik ke atas ranjangnya dan kini DIA MERANGKAK MENDEKATI DIRINYA?

Oh tidak! Apa yang dia lakukan!? Tuhan, selamat aku, batin Sin Ya.

Layaknya seorang tarzan di film-nya, Kai melihat ke sekitar Sin Ya. Memperhatikan setiap jari yang menutupi wajah Sin Ya dengan seksama. Bahkan Kai dapat merasakan ada sesuatu yang ingin mencuat keluar dari dada kirinya sekarang.

Dengan cepat Kai menepis semua itu. Dan kembali menjadi seorang Kai yang jutek, suram dan dingin. Namja tampan ini meraih tangan kiri Sin Ya dan sedikit memaksa menjauhkan tangan gadis itu dari wajah sempurnanya. Sin Ya sedikit bergidik ketika menyadari pergelangan tangannya digenggam erat oleh Kai. Sin Ya pun memberanikan diri untuk membuka matanya, dan sekujur tubuhnya merasa panas dengan alasan jarak Kai yang terbilang dekat dengan dirinya. Tatapan mereka bertemu cukup lama dan mengabaikan degupan jantung mereka masing-masing.

Sin Ya menelan ludahnya berat dalam keadaan matanya masih terperangkap di dalam mata seorang lelaki bernama Kim Jong In. Bahkan matanya kini terlihat kaku dan mungkin ia tidak berkedip dalam beberapa detik, hingga merasakan pedih. Tapi entah mengapa, mereka berdua masih saja mempertahankan tatapan lama ini walaupun merasakan pedih satu sama lain.

Dari kejauhan dan tanpa disadari oleh siapapun, Taemin masuk ke dalam kamar Sin Ya yang sedari tadi memang pintunya terbuka—membuat siapapun bisa masuk dan melihat apa yang dua orang ini lakukan sekarang.

Terdiam. Itulah apa reaksi Taemin ketika mendapati Kai dengan posisi seperti … orang berciuman di matanya. Taemin merasakan panas di sekujur tubuhnya dan jantungnya tidak terkontrol lagi, siap meluncurkan amarah dari dalam dirinya. Namja dengan rambut blonde ini menggigit bibir bawahnya seakan menyalurkan segala amarahnya. Jika saja dirinya mempunyai sedikit cukup nyali yang lebih, mungkin pukulan dahsyat jatuh tepat di pipi saudara kembarnya.

Sin Ya menjauhkan sedikit tubuhnya ke belakang dan di saat itulah ia mendapati Taemin tengah memperhatikan dirinya dengan Kai.

Sin Ya mengedipkan matanya berulang kali dan bergumam, “Kim … Taemin,”

Bang! Kai sesegera mungkin menyadarkan pikirannya yang entah lari kemana tadi ketika mendengar nama Taemin diucapkan. Dan dengan cepat ia meraih tangan Sin Ya dan berkata, “Kajja (Ayo)!”

“Mwo?! Uriga eodi ganeungeoya? (Apa?! Kita mau kemana?)” tanya Sin Ya dengan bergetar.

“Pantai Haeundae.” jawab Kai singkat.

Sin Ya membelakkan matanya, “PAN-PANTAI?!”

Kai tidak menggubris pertanyaan Sin Ya dan langsung turun dari ranjang milik Sin Ya dan berjalan keluar. Namun ketika ia harus berpapasan dengan Taemin, ia hanya diam dan kembali menjadi Kai yang dingin dan mengabaikan sekitarnya.

Taemin tersenyum tipis sambil melirik Sin Ya yang masih belum bisa mengontrol perasaannya, hingga akhirnya namja pemilik senyum manis ini menutup pintu kamar Sin Ya dan perlahan menjauh.

***

Kai berjalan dengan santainya menuju dapur dan dengan kebiasaannya mengambil satu buah apel yang terletak di atas meja. Mengigitnya dengan ukuran besar dan mengunyahnya. Pikirannya kembali melayang dengan apa yang telah merasukinya hingga mendapati dirinya sedekat itu dengan Sin Ya. Kai menghembuskan napasnya berat sambil terus menggigit beberapa bagian apel merah segar tersebut.

Kau harus mengontrol dirimu, Kai. ─batin namja pencintai apel ini.

Beberapa saat kemudian, perempuan dengan nama Sin Ya datang ke arah dapur dan mengincar hal kesukaannya yaitu yogurth. Sin Ya meminumnya dengan sekali teguk dan menghapus sisa-sisa yogurth di mulutnya dengan kaos lengan panjangnya. Sin Ya langsung membulatkan matanya ketika mendapati Kai sekarang juga berada di dapur bersamanya. Poni yang sedikit panjang miliknya mungkin membuat pandangan matanya mengabur, bahkan tidak menyadari keberadaan Kai.

Sin Ya menunduk—tidak berani menatap mata Kai. Tidak dan tidak lagi. Dia takut kejadian beberapa menit lalu, kembali terulang atau mungkin akan lebih parah.

Gadis dengan mata indah itupun dengan pelan melewati Kai layaknya pelayan melewati rajanya. Ia bahkan sangat-sangat sopan dengan Jong In, hingga memperlihatkan bahwa gadis ini sedikit membungkuk hormat.

“Permisi ….”

Kai menyadari kelakukan Sin Ya yang menurutnya berlebihan ini, dengan style khasnya, Kai hanya diam dan melihat gadis ini dengan tatapan jijik. Ah, sepertinya Kai yang sebenarnya telah kembali.

Namun sebelum Sin Ya benar-benar meninggalkan dapur, Kai memotong langkah Sin Ya dengan berkata, “Bersiaplah. 30 menit lagi, kau akan pergi ke pantai.”

Sin Ya hanya berdehem merespon perkataan Kai, kemudian kembali ke kamarnya. Respon Sin Ya tidak seperti apa yang diharapkan oleh namja berkulit gelap ini. Membuat Kai kesal dan gelora rasa ingin memukul sesuatunya akhirnya datang.

Setelah Sin Ya bena-benar berada di kejauhan sana, Kai kembali meraba dada kirinya dan mendapati jantungnya berdetak 2x lebih cepat dari biasanya. Dirinya hanya bisa pasrah sambil menggigit apel merahnya dan mengunyahnya secara kasar.

“Jantung ini aneh!” decak Kai.

***

“Aku telah mengajak Sin Ya ke pantai. Apa kau tidak berterima kasih kepadaku?” Kai membuka lembaran demi lembaran komik favorite-nya.

Taemin hanya diam di balik punggungnya mendengarkan pertanyaan Jong In. Ia tidak berniat menjawabnya saat ini.

Kai menggigit apelnya dan bergumam di sela ia mengunyah, “Kau tidak bersiap-siap? Mungkin kau perlu secarik puisi untuknya.”

“…”

“Atau mungkin persiapkan mentalmu untuk mengungkapkan perasaanmu nanti. Jangan sampai kau tidak siap.”

“…”

“Perlukah aku membantumu unt─”

Taemin membalikkan tubuhnya dan menghadap Kai. “Jong In,” panggilnya.

“Mm?” gumam Kai sambil terus membaca komiknya.

“Apakah kau menyukai Sin Ya?”

Dor! Kai menurunkan tenaganya untuk menguyah apel di dalam mulutnya, seakan tengah memikirkan sesuatu. Pertanyaan simple dari Taemin namun rumit untuk Kai ini membuat dirinya mendadak dilanda dilema.

Dia pasti menyadari bagaimana perasaannya dengan Sin Ya. Dari bagaimana jantungnya berkontraksi, darahnya berdesir cepat, rasa marah ketika melihat Taemin dengan santai merangkul Sin Ya, bagaimana dia menutupi semuanya itu dengan tampang cuek, dingin dan juteknya. Tampang dingin dan cuek terhadap lingkungan adalah salah satu cara Kai menutupi semua perasaannya—sekalipun ia memang terlahir dengan itu.

Dan satu lagi yang terpenting sampai saat ini.

Bagaimana cara dia agar tidak menyakiti saudara kembarnya sendiri. Benar, jika ada question of life untuk memilih antara saudara kembarnya atau perempuan, Kai adalah tipe orang yang memilih jawaban saudara kembar.

Kai tidak bisa menutupinya lagi dan lagi, cepat atau lambat semuanya pasti terungkap.

“Aku tidak menyukainya.”

Taemin menoleh ke arah Kai dan seutas senyum ia perlihatkan atas jawaban Kai.

“Syukurlah.”

Kai langsung melanjutkan perkataan sebelumnya, “Lebih baik kau bersiap-siap, sebentar lagi kau akan pergi bersama Sin Ya ke pantai.”

“Kau harus ikut.”

Kai refleks menutup komiknya dengan satu hentakan dan berpikir sejenak. “Apa maksudmu? Bukankah aku akan mengganggu-mu nanti?”

Taemin menggeleng dan menjawab, “Kau harus ikut karena,”

Namja cantik ini kini berdiri dan berjalan menuju Kai yang terduduk di atas ranjangnya. Sambil memegang pundak saudara kembarnya, namja bernama Taemin ini berkata, “Kau harus menjadi orang pertama yang mendengarkan ceritaku nanti … setelah semuanya—mengungkapkan perasaan—selesai.”

***

Sin Ya merapatkan cardigan merah muda tipis miliknya sambil terus menatap pantulan bayangan tubuhnya dari cermin besar miliknya. Gadis manis—berambut panjang dengan poni rata yang sedikit memanjang—ini pun tak lupa mengolesi bibir mungilnya dengan lip gloss pink segar yang menjadi pelengkap dandanannya sore hari ini.

Sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, gadis ini sempat terdiam sejenak dan sekilas kejadian beberapa menit yang lalu kembali menghiasi kepalanya. Apalagi kalau bukan kejadian ‘Kai dan dirinya’. Bagaimana jarak di antara mereka begitu dekat dan tatapan mata mereka bertemu cukup lama. Ah, pikiran Sin Ya kali ini benar-benar penuh dengan kejadian tersebut. Jika ada orang yang melihatnya sekarang, mungkin Sin Ya disangka tengah dirasuki setan yang bersifat bengong, cengo dan suka melamun.

Kedua ujung bibir tipisnya ia tarik dan menimbulkan kuluman senyum manis miliknya terlihat. Sambil mengatur napasnya, ia membuka pintu kamarnya pelan dan wajahnya langsung bertemu dengan wajah seorang namja yang tidak asing lagi di kehidupannya.

“… Taemin?”

Taemin terlihat sangat senang dan tingkahnya seperti anak kecil. Dia menarik kedua tangan Sin Ya dan mengaitkan semua jarinya dengan jari Sin Ya sambil berkata dengan manisnya, “Kita akan pergi ke pantai!” bahkan Taemin sesekali melakukan loncatan kecil.

Sin Ya membalas dengan tawa kecilnya dan ikut-ikutan bertingkah seperti anak kecil dengan menyamakan loncatan kecilnya dengan Taemin. Hingga terlihat saat ini, mereka seperti bocah 5 tahun yang baru saja dibelikan mainan baru. Tidak terbayang senangnya.

“Kalau begitu, bolehkah aku mendorongmu ke lautan saat di pantai nanti!?” ceplos Taemin.

“Kau ingin aku mati, huh? Dasar!” jawab Sin Ya dengan sedikit tertawa.

Mereka semua tertawa bergembira namun mereda ketika mendengar suara pintu tertutup dari kamar saudara kembar keluarga Kim. Benar, ada seseorang yang baru saja keluar dari kamar yang notebene juga adalah kamarnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah Kim Jong In, seakan aura hitam dan suram Kai muncul, Sin Ya dan Taemin menghentikan tawanya dan terdiam memperhatikan Kai yang menyenderkan punggungnya ke dinding dan tak luput melipat kedua lengannya di depan dada. Dua makhluk yang baru saja tertawa bahagia layaknya anak kecil ini pun langsung menghampiri namja suram bernama Kai tersebut.

“Apa kau tidak senang, huh?” tanya Taemin kepada saudara kembarnya yang tak terlihat semangat seperti dirinya dengan Sin Ya.

Taemin melanjutkan dengan nada gembira, “KITA AKAN PERGI KE PANTAI! YEAY!”

“Cepatlah berangkat. Dasar heboh.” ucap Kai dingin dan berjalan menjauhi Sin Ya dan Taemin yang melihatnya dengan aneh.

“Apakah orang itu tidak punya rasa gembira dalam hidupnya? Miris sekali.” gumam Sin Ya sambil menggelengkan kepalanya dan langsung direspon Taemin dengan anggukan ‘iya’-nya.

Taemin kemudian ikut menggelengkan kepalanya dan dengan khasnya berbicara, “Dia hanya gembira ketika dibelikan sekantung penuh apel merah segar dan setumpuk komik Manga kesukaannya. Ah, dia itu makhluk apasih.”

“Entahlah. Kajja (Ayo)! Kita pergi!”

***

Hamparan luas pasir putih dan laut biru indah menjadi pemandangan yang menarik perhatian mata tiga manusia yang sedari tadi tidak mengedipkan matanya sekalipun. Pantai Haeundae adalah pantai yang terletak di kota kelahiran Kai dan Taemin yaitu Busan. Berjarak dekat dengan pusat kota Busan, menjadikannya objek wisata yang menarik minat para wisatawan termasuk juga anak-anak polos seperti Sin Ya, Taemin dan Kai. Tempat yang menarik dan cantik dengan pemandangan bangunan tinggi Busan di sekitarnya dan juga perpaduan dengan nilai khas asli pantai itu sendiri. Dan Pantai Haeundae juga menjadi tempat di mana Taemin akan mengungkapkan perasaan rumitnya yang telah dipendam selama kurang lebih 8 tahun terakhir ini.

“Cukup ramai ….” gumam Taemin di sela perhatian matanya tertuju kepada banyaknya manusia yang datang ke pantai sore ini.

Sin Ya mengangguk menyetujui. Sementara Kai seperti kembali lagi menjadi imej-nya yang ‘cool guy’.

Rasa semangat Sin Ya sedikit menciut ketika melihat banyak orang yang juga berkunjung ke pantai ini. Tentu saja Sin Ya merasa tidak nyaman.

“Sepertinya ak─”

Omongan Sin Ya terpotong karena ia merasakan ada sesuatu yang menggengam erat tangan kirinya. Dengan cepat ia menoleh ke samping kirinya dan mendapati tangan Taemin-lah yang memberikan sentuhan aneh yang tiba-tiba. Sin Ya terperangah dan menatap wajah Taemin dari samping. Ia pun terdiam.

Garis rahangnya hampir sama dengan milik Kai, batin Sin Ya.

Gadis ini tengah memperhatikan secara detail lekukan wajah Taemin dari samping, namun yang berada di pikirannya adalah Kai. Sama saja ketika ia mencoba melihat Taemin, yang ada dipikirannya adalah Kai. Namja yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya.

Sambil terus tersenyum dan menggenggam erat tangan gadis yang ia cintai, Taemin mengungkapkan perkataannya dengan sungguh-sungguh, seperti memiliki makna yang tidak diketahui Sin Ya.

“Kajja,” ucap Taemin lembut dan diiringi oleh anggukan pelan Sin Ya sambil membalas genggaman Taemin yang memang sering dilakukan lelaki itu kepadanya hampir setiap hari di sekolah.

Taemin dan Sin Ya akhirnya melangkahkan kakinya menuju hamparan pasir putih di hadapan mereka. Mereka terus-menerus berdecak kagum melihat pemandangan matahari yang sudah setengah perjalanan menuju terbenamnya. Sungguh indah.

Lagi-lagi, apa yang mereka berdua rasakan berbanding terbalik dengan manusia di belakang mereka bernama Kai. Entah apa ini sengaja atau tidak, Kai mengenakan kaos hitam yang ‘mungkin’ sesuai dengan perasaannya sekarang. Tidak perlu diucapkan berkali-kali bahwa lelaki ini suram, hitam, bla bla. Perasaannya sore hari ini melebihi itu semua.

Sin Ya menyadari sesuatu bahwa Kai tidak ikut bersama mereka, “Ah, chamkanmanyo (tunggu sebentar),” katanya sambil berbalik mendapati Kai yang tengah berdiri sendirian di belakang mereka.

“Apakah kau tidak ikut?” tanya Sin Ya kepada Kai.

Taemin menatap kedua mata kembarannya hingga seperti memberikan suatu pesan lewat tatapan mereka. Kai yang menyadari bahwa matanya kini bertemu dengan tatapan Taemin dan seakan mengerti dengan pesan ‘telepati’ saudaranya, Kai menjawab dengan dingin pertanyaan Sin Ya, “Pergilah kalian berdua. Biarkan aku sendirian di sini.”

Sin Ya merasakan ada yang aneh dari jawaban Kai dan hal itu diperkuat ketika ia melihat senyum tipis Taemin.

Kemudian, Taemin mempererat genggaman tangannya sambil berkata, “Ayo. Apakah kau ingin pergi ke ujung sana?”

“Mm? Ujung?” gumam Sin Ya sambil melirik ujung pantai yang memang tidak terlalu ramai di sana.

“Kajja (Ayo)!” lanjut gadis itu.

***

Kai, seorang lelaki tampan dengan perawakan hampir sempurna ini hanya duduk di pinggir pantai sambil menebar pandangannya ke lautan lepas di hadapannya sekarang. Sekalipun dirinya tidak berniat untuk berjalan-jalan atau bermain di sekitar pantai layaknya orang-orang di depannya sekarang. Ia hanya diam dan berusaha tenang.

Namun ketenangannya terganggu oleh suara rengekkan anak kecil yang tak jauh darinya. Kai selalu berdecak kesal setiap kali anak kecil tersebut sesekali berteriak ataupun menangis.

“Huh!”

Satu hal lagi yang membuatnya terganggu karena anak kecil itu terdengar seperti merengek dengan bahasa asing. Oh─ya ampun.

“Tidak bisakah wisatawan asing menjaga anaknya untuk diam ketika pergi ke tempat seperti ini!” ucap Kai dengan kesal sambil berusaha menutupi telinganya.

“I want my candy!”

“No! Mom told me to not give these candies to you! Got it?”

“I WANT MY CANDYYYY!”

Itulah kalimat yang bisa Kai tangkap dari rengekan anak kecil yang sepertinya berada di belakangnya kini. Namun rengekan atau tangisan dari anak kecil asing itu tidak terdengar lagi dan Kai merasa hidupnya damai sekarang. Ia pun kembali bersantai dan mencoba menjernihkan pikirannya.

“Excuse me…”

Kai terkejut ketika mendapati anak kecil bermata sipit layaknya orang Korea tengah menarik baju sebelah kanannya.

Kai terlihat kikuk dengan apa yang harus ia lakukan.

“Do you want?” kata anak kecil lelaki ini sambil mengarahkan permen lollipop-nya kepada Kai.

“N-n-no,” gagap Kai sambil mencoba menolaknya dengan sopan.

“Omo! Haish, anak ini memang! Jae Sung! Come here!” Sementara itu, seorang perempuan cantik dengan rambut lurusnya berteriak kepada anak kecil imut itu menggunakan campuran bahasa Korea-Inggris.

Anak kecil dengan wajah bulat dan imut ini kemudian langsung berlari dengan lincahnya ke arah belakang Kai dan dengan penasaran Kai pun mengikuti arah anak kecil tersebut. Belum sepenuhnya sampai ke tujuan—di mana gadis cantik berdiri—Jae Sung, si bocah kecil yang lincah ini terjatuh dengan tiba-tiba dan memberikan goresan kecil di lutut kananya. Hingga membuat keributan yang lain, yaitu anak ini menangis.

Dengan refleks, dua orang dewasa yang berada di sekitar anak kecil tersebut langsung membantunya berdiri dan mencoba menenangkannya.

“I told you before to not leave me. Don’t cry… It’s ok. Just a small scratches. Don’t cry.” ucap gadis cantik itu sembari mengelus lembut puncak kepala Jae Sung.

Kai hanya diam menyimak percakapan bahasa Inggris yang dilakukan gadis berambut lurus di hadapannya sekarang. Satu hal yang terlintas di pikirannya saat melihat secara jelas wajah gadis itu adalah dia cantik.

Kai pun menyadari sesuatu dan mengambil plester yang ia beli tadi siang di supermarket dan memberikannya kepada gadis cantik yang ia belum tahu namanya tersebut.

“Jeogiyo, ah… i mean… this errr─”

Gadis berambut lurus itupun sepertinya baru saja menyadari jika ada orang lain di depannya sekarang sambil menawarkan plester.

“Ah, aku bisa berbahasa Korea. Maaf sebelumnya.”

Bang! Kai terpaksa menutupi rasa malunya. Ah, ternyata gadis itu bisa berbahasa Korea. Syukurlah, kalau begitu Kai tidak perlu lagi sok berbicara bahasa Inggris yang rumit menurutnya.

“Ini … aku punya plester. Mungkin …. errr, anakmu bisa memakainya.” kata Kai pelan.

“Aniya (tidak). Dia bukan anakku. Dia adalah adikku. Ah─terima kasih plesternya.” jawab gadis itu.

Gadis cantik yang ternyata adalah kakak dari Jae Sung ini langsung menerima dengan sunkan plester Kai dan memakaikannya di atas lutut kanan adiknya dengan pelan.

“Done! You’ll feel better after this. Just eat your candy, but don’t eat it too much! I’m gonna telling Mom, understand?” tanya gadis cantik itu kepada adiknya menggunakan bahasa Inggris yang kembali lagi Kai hanya bisa menyimaknya.

Jae Sung pun mengangguk dengan polosnya dan menimbulkan efek gemas kepada setiap orang yang melihatnya. Bocah kecil ini akhirnya bisa menikmati lollipop kesukaannya. Sementara itu, rasa canggung mulai dirasakan oleh dua orang dewasa di sekitar Jae Sung. Siapa lagi kalau bukan Kai dan kakak Jae Sung.

“Hm, maaf sebelumnya telah merepotkan.” Gadis itu akhirnya memulai pembicaraannya.

“Tidak apa-apa. Ah, ireumi mwoyeyo (siapa namamu)? Aku Kim Jong In.”

“Aku Jung Soojung. Senang bertemu denganmu,” jawab gadis itu sambil menyalami Kai. Suasana canggung masih dapat dirasakan oleh keduanya.

“Soojung? Panggil aku Kai atau Jong In. Jadi, apa kau tinggal di Busan? Tapi mengapa adikmu berbahasa─” lanjut Kai.

“Aku sekarang tinggal di Busan. 5 hari yang lalu aku baru pindah dari Amerika karena ayahku sedang melakukan bisnis di Busan, jadi kami semua pindah ke Busan,” jawab Soojung sambil sesekali melirik ke Jae Sung, ia takut jika nanti adiknya jatuh lagi.

“Aku lahir di California dan sempat dibesarkan di Korea namun pindah lagi ke Amerika. Dan akhirnya sekarang aku kembali ke Korea lagi dan lagi.” lanjutnya.

Kai menyimak penjelasan Soojung dan berkomentar, “Jadi, kau orang Korea. Lalu, adikmu? Biar ku tebak. Dia lahir di Amerika? Jadi dia berbahasa Inggris? Ahh… aku mengerti sekarang.”

Soojung mengangguk.

Pembicaraan mereka menjadi luas dan lambat laun, rasa canggung di antara mereka sudah tidak ada. Kai pun terlihat lebih santai, bahkan mereka sesekali tertawa ketika melihat tingkah lucu Jae Sung.

Kehadiran Soojung yang tak terduga di sore hari ini membuat perasaan Kai menjadi lebih baik. Dirinya seperti melupakan perasaan cuek dan dinginnya kepada orang asing. Ia merasa pikirannya dengan Soojung adalah sama, itulah yang membuatnya cepat akrab dan bahkan tampaknya Kai tidak menunjukkan sikap ‘cool guy’-nya di mata Soojung—seorang yeoja asing yang baru dikenalnya.

***

“Kau tahu? Aku senang bisa bersamamu sore ini.”

Sin Ya hanya tersenyum mendengar pernyataan Taemin. Tidak ada jawaban dan respon lainnya. Pikirannya masih penuh dengan Kai. Inilah sebabnya sepanjang perjalanan mereka sedari tadi, Sin Ya hanya tersenyum, mengangguk, ataupun menjawab secara singkat omongan Taemin.

Pikirannya gelisah dan seperti ingin cepat kembali—pulang ke rumah. Alasannya hanya satu, yaitu ingin cepat-cepat bertemu dengan Kai. Ia sendiri tidak tahu apa maksud dari pikirannya. Rumit.

“Mm,” Sin Ya tidak tahan lagi untuk sekedar melihat Kai. Ia pun membalikkan badannya dan mencoba mencari sosok Kai di tengah ramainya orang-orang di pantai. Ia mengedarkan pandangannya ke tempat Kai berdiri tadi dan ia menyipitkan kedua matanya, karena jika matanya tidak salah lihat, ia melihat Kai bersama … yeoja?

“Ada apa?” tanya Taemin yang menyadari Sin Ya bertingkah gelisah saat ini.

“Ta-tadi, aku melihat Kai bersama dengan perempuan!” ucap Sin Ya dengan yakin kepada Taemin.

“Kau bercanda? Tidak mungkin. Makhluk seperti dia, adalah makhluk yang tidak bisa akrab dengan perempuan! Apalagi ini di pantai. Banyak orang asing, ia pasti tidak suka!” sergah Taemin yang tidak kalah yakinnya.

Sin Ya berdecak kesal dan sambil menunjuk ke arah Kai berada. “ITU! ITU! LIHATLAH!”

Pandangan Taemin pun mengikuti arah tangan Sin Ya yang menunjuk ke sisi lain Pantai. Namun yang Taemin dapati adalah orang-orang yang menutupi penglihatannya.

“ITU! AISH! CEPATLAH LIHAT!”

“Aku tidak bisa! Ada banyak orang di sana! Aku tidak bisa menemukan Kai!” protes Taemin sambil terus mencari keberadaan Kai dari balik sekumpulan orang-orang di sana.

Akhirnya Taemin menemukan sosok Kai yang masih terduduk santai di ujung sana dan tidak mendapati keberadaan yeoja yang dikatakan oleh Sin Ya.

“Aku tidak melihat siapa-siapa, selain Kai terduduk sendirian. Apa kau … mencoba menipuku? Ya!” tanya Taemin sambil memicingkan matanya ke arah Sin Ya.

“Benarkah?! Tapi tadi aku… a-aku, melihatnya. Kenapa sekarang tidak ada!?” Sin Ya kembali melihat Kai dan bingung karena yeoja yang ia lihat sebelumnya sudah tidak ada. Apakah dia salah melihat?

“Sepertinya kau salah lihat. Mungkin itu bukan Kai. Apakah kau tidak apa-apa? … Sin Ya? Kau tidak apa-apa?” tanya Taemin dengan sedikit menggoncangkan tubuh Sin Ya. Sin Ya masih tidak percaya, ia yakin seyakinnya dengan apa yang ia lihat. Kai bersama yeoja lain dan mereka terlihat akrab.

“Hm? Apa? Kau tadi bilang apa?” tanya Sin Ya sekali lagi, karena pikirannya tidak fokus.

“Lupakan.” jawab Taemin dengan singkat dan terlihat sedikit kesal.

“Taemin… ayo kita pulang.”

“APA?! PULANG? TA-TA-TAPI─”

“Aku ingin segera pulang. Ayo kita pulang dan istirahat. Aku lelah.” ucap Sin Ya dengan lemas.

“Kau yakin? Errr, kau tidak ingin melihat matahari terbenam atau─” sergah Taemin mencoba membujuk Sin Ya untuk lebih lama di pantai.

“Aku ingin pulang saja.”

Seperti ada hujan, petir dan gemuruh badai di pikiran Taemin saat ini. Rencananya tidak berjalan sesuai pikirannya. Benar, rencana untuk mengungkapkan perasaannya gagal. Ia ingin marah, namun ia tidak bisa seenaknya marah tanpa alasan. Ia ingin menahan Sin Ya untuk lebih lama di pantai dan mengungkapkan perasaannya ketika matahari terbenam, namun ia tidak bisa. Oh Tuhan, tolong selamatkan Taemin.

“Baiklah. Ayo.” kata Taemin dengan tidak semangat.

Aku yakin, Kai bersama seorang gadis tadi. Penglihatanku tidak pernah salah dan keliru, batin Sin Ya dalam hati.

***

Malam hari akhirnya datang. Keluarga Kim tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Bibi Ga In tengah menonton televisi, Paman Tae Woo tengah berkutat dengan buku tebalnya, Sin Ya hanya termenung di dalam kamarnya dan saudara kembar keluarga Kim berada di dalam kamarnya.

Taemin sedari tadi tidak bisa menutup matanya hanya sekedar untuk tertidur. Ia terus-menerus membuka matanya dan tidak bisa rileks. Sementara Kai … sudah bisa ditebak, apa yang ia lakukan. Kai, seorang maniak apel dan pembaca setia komik.

“AARRGHH!” risau Taemin sambil menutupi wajahnya dengan bantal.

Kai berpura-pura untuk tidak mendengarnya dan terus melanjutkan aktifitasnya. Akhirnya Taemin menyerah dan langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Kai pun menutup komiknya dan menguyah gigitan terakhir apelnya sebelum habis.

Taemin memperhatikan setiap gerak-gerik Kai. Dari Kai merapikan rak komiknya, membuang sisa apelnya, hingga Kai terbaring di atas ranjangnya.

“Kai….” panggil Taemin pelan sambil memperlihatkan puppy eyes-nya, walaupun Kai bahkan tidak memperhatikannya.

Kai menutup matanya dan mencoba mengabaikan Taemin.

“Ya! Aku ingin bercerita ….”

“…”

“Tentang Sin Ya saat di pantai tadi!”

Sambil terus menutup matanya, Kai menjawab, “Lain kali saja. Aku mengantuk.”

“Hey! Sialan!” geram Taemin yang merasa dirinya diabaikan oleh saudara kembarnya sendiri.

“Aku ‘kan sudah berjanji untuk menceritakan semuanya kepadamu malam ini. Karena aku ingin kau menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Tapi… ah, sudahlah!” lanjut Taemin beroceh.

Kai tidak menjawabnya. Ia mencoba untuk tidur sekarang.

Ding!

Kai seketika langsung membuka matanya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil miliknya. Kai membuka pesan masuk dan membacanya. Ia bahkan sesekali tertawa kecil saat menatap layar ponselnya, membuat Taemin penasaran. Jelas, karena dirinya jarang sekali melihat Kai tertawa seperti ini.

“Pesan dari siapa? Kau kan jarang mengirim pesan.” tanya Taemin penasaran.

“Bukan urusanmu.” jawab Kai singkat dan kembali terlihat ia tertawa kecil.

“Apa isi pesannya?” Kembali, Taemin bertanya namun tidak digubris oleh Kai.

Kai yang sepertinya telah selesai membalas pesan masuk tersebut, akhirnya kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan memejamkan matanya untuk tidur.

Taemin yang penasaran dengan apa isi pesan tersebut, akhirnya secara diam-diam mengendap-endap ke arah meja kecil Kai untuk sekedar ‘meminjam’ ponsel Jong In. Ia pun berhasil mendapatkannya tanpa disadari oleh Kai.

Taemin pun mengotak-atik ponsel Kai, namun semburat rasa kesal muncul di wajahnya.

“Kau tidak bisa membukanya. Karena kau tidak tahu password-nya. Letakkan kembali ponselnya dan tidurlah.” kata Kai dengan santai yang masih memejamkan matanya.

Taemin pun berdecak karena ternyata Kai telah memikirkan hal sejauh ini. Tapi Taemin tidak dengan mudah melakukan apa yang saudara kembarnya katakan. Ia mencoba menebak-nebak password ponsel Kai, namun setelah beberapa kali mencoba, tidak satupun yang berhasil.

Kai kembali berucap dengan santainya, “Jika ponselku rusak karena ulahmu. Ku pastikan kau tidak akan melihat matahari terbit besok.”

Taemin terdiam dan dengan cepat meletakkan ponsel milik Kai, kemudian kembali ke ranjangnya. Jika Kai sudah mengancam seperti ini, satu-satunya hal yang bisa Taemin lakukan adalah tidak berulah.

***

“Selamat pagi! Hey! Pagi yang cerah ya! Jonghyun, selamat pagi! Kris dan Key, what’s up! Selamat pagi ya! ” sapa Taemin kepada semua teman-temannya yang ia temui di sekolah pagi hari ini.

Sambil terus menyapa semua teman-temannya, ia akhirnya memasuki kelas dengan khas-nya. “SELAMAT PAGGGIII!” teriaknya dari pintu masuk kelasnya. Semua orang memperhatikannya dan tak lama setelah itu, mereka kembali melakukan rutinitasnya.

“Haish, tidak ada yang menjawabnya?!” kata Taemin sambil berjalan menuju tempat duduknya.

“Selamat pagi, Sin Ya~” sapa Taemin kepada Sin Ya yang sedari tadi fokus dengan bukunya.

“Pagi.” balas Sin Ya dengan singkat yang masih berkutat dengan bukunya.

Taemin pun berbalik ke belakang dan mendapati saudara kembarnya tengah memperhatikan sinar matahari pagi dari jendela sambil terus memakan buah apelnya.

“Pagi, Kai!” sapa Taemin yang dengan girangnya.

Namun tak ada jawaban dari Kai. Sungguh seperti yang dipikirkan Taemin sebelumnya, sepertinya Taemin salah menyapa orang.

“Aish,” decak Taemin dan berbalik ke posisinya semula untuk mencari beberapa buku untuk pelajaran pertamanya.

“ADA MURID BARU! SEMUANYA! ADA MURID BARU!” teriak Chanyeol ketika ia masuk ke dalam kelasnya, dan berhasil membuat kelasnya riuh termasuk Sin Ya dan Taemin, namun tidak dengan Kai yang terlihat tidak tertarik dengan berita mendadak Chanyeol.

“Murid baru? Kau yakin?!” sahut Minho dari ujung kelas.

“Benar! Aku melihatnya masuk ke ruang kepala sekolah tadi!” jawab Chanyeol sambil menyakinkan semua teman kelasnya.

Baekhyun yang sedari tadi mengobrol dengan temannya, akhirnya angkat bicara, “Apakah dia perempuan? Apa dia cantik?!”

Semua mata tertuju kepada Baekhyun dan tertawa kecil karena sifat ‘playboy’ Baekhyun tidak pernah berubah.

“Bunuh aku jika dia tidak cantik! Oh Tuhan, wajahnya cantik sekali!” jawab Chanyeol sambil mengingat kembali ketika ia melihat secara sekilas murid baru itu.

Bel pertanda masuk kelas telah terdengar, seketika itu pula kelas menjadi riuh dan terdengar omongan dari beberapa murid perempuan tentang berita yang dikatakan Chanyeol tadi.

“Bagaimana jika murid itu ternyata masuk kelas kita?”

“Ah, benar. Sebulan yang lalu Moonkyu baru saja pindah.”

“Mungkin sebentar lagi Guru Park akan mengumumkan murid baru ini.”

“…”

Semua murid di dalam kelas tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak luput juga Sin Ya dan Taemin yang membicarakan mengenai murid baru, dan Kai asyik membaca komiknya. Namun semuanya terdiam, ketika wali kelas mereka—Guru Park—memasuki kelas bersama seseorang yeoja berambut lurus, perawakan tinggi dan lekukkan wajah yang sempurna.

Kai memicingkan matanya ke arah yeoja yang sepertinya adalah manusia yang menjadi bintang utama berita Chanyeol di pagi hari tadi. Dia adalah murid baru.

Kyrstal? ─batin Kai ketika melihat yeoja yang sudah tidak asing baginya kini.

“Selamat pagi dan bersenang-lah kalian. Karena hari ini, ada siswa baru yang juga akan belajar di kelas yang sama dengan kalian.” kata Guru Park sebagai wali kelas.

Gadis bernama Krystal ini pun mengedarkan penglihatannya ke setiap penjuru kelas dan wajah-wajah yang akan menjadi temannya nanti. Ia dapat melihat rasa antusias dari semua siswa dan tak luput juga, ia melihat seorang murid dengan wajah puppy sekaligus tampan yang tampaknya yang paling senang ketika ia masuk ke dalam kelas. Jika matanya tidak minus, name-tag murid itu bertuliskan Byun Baek Hyun.

Namun satu hal yang membuatnya senang dapat masuk ke dalam kelas baru ini adalah, ia mendapati seorang namja yang baru saja dikenalnya kemarin ternyata berada di kelas yang sama dengannya! Dia pun sedikit mengangkat tangannya dan menggerakkannya seolah tengah menyapa namja itu sambil tersenyum.

Sin Ya yang sedari tadi memperhatikan murid baru ini pun mengikuti arah mata gadis itu yang tengah tersenyum kepada seseorang di belakangnya.

KAI!? ─batin Sin Ya sesaat ketika ia menoleh ke belakang dan mendapati Kai juga membalas sapaan Krystal dengan senyuman tipisnya dan sedikit melambaikan tangannya.

Jelas saja Sin Ya terkejut dan membuat kepalanya sedikit cenat-cenut, karena seorang Kim Jong In yang ia tahu adalah orang yang tidak menyukai orang asing. Dan mengapa sekarang ia terlihat … tersenyum ke arah murid baru tersebut? Hal itu masih menjadi teka-teki di pikiran Sin Ya.

“Dia cantik.” Taemin tiba-tiba membuyarkan lamunan Sin Ya dengan pujiannya kepada si murid baru.

“Hey, apakah Kai pernah mengenalnya?” ceplos Sin Ya yang langsung mendapatkan jitakan kecil dari Taemin.

“Kau bercanda? Tidak mungkin! Dia jarang bertemu dengan orang asing, terutama perempuan. Jika benar, Kai sangat beruntung karena telah berkenalan dengan gadis secantik dia,” jawab Taemin santai. Namun tidak dengan Sin Ya, rasanya ia ingin mengomeli Taemin atas jawaban entengnya.

Krystal pun memulai perkenalannya dengan membungkuk yang menjadi hal wajib setiap orang Korea.

“Annyeong haseyo (apa kabar)? Nama saya Jung Soojung.”

-To be continued.

Cuap-cuap Author: Akhirnya selesai juga Part 3 ini ;~; Fiuh, akhirnya beban pikiran saya menghilang sebanyak 10% lol. Terima kasih kepada semua readers yang saya kenal maupun tidak kenal /? (Ayo kenalan *coret*) karena telah menunggu fanfic ini. Semoga di setiap part nantinya tidak bosan dan semoga lagi di SMA ini, saya bisa mendapatkan banyak inspirasi HAHA *pamer baju putih abu-abu*. Saya sih berharap part selanjut dan selanjutnya bisa dapat feel-nya dan berjalan sesuai rencana ;_; So, doain dan ditunggu aja ya Chapter-Chapter selanjutnya ^^)/ Part 4 masih on going dan semoga dipublish secepatnya!
Silahkan RCL ^o^)/ Saya menerima kritik dan saran, asalkan bukang nge-bash aja -.-
Sampai jumpa di Part selanjutnya!

70 responses to “[Chapter 3] Love in Love

  1. Seenggaknya untuk sementara udah seimbang (?). Ada Kai, Taemin, Krystal, sama Sin Ya (2 cowok, 2 cewek). ^^
    Masalah pairingnya, aku gak masalah sih, siapa sama siapa.. Yg penting author updatenya jangan kelamaan ya.. -_-
    wkwkwk~ *peace._.V*

    • Hehe, ditunggu Chapter 4 dan selanjutnya sampai the end (?) ya. Maaf, kemungkinan bisa update Selasa/Rabu/Kamis/Jumat/Sabtu depan … #eh. Masih on going kok hehe.
      Thanks komentarnya!

  2. Keren,,,,
    ad krystal,,,, dn eonni~„aq hnya bisa brharap taemin tdk tersakiti,,,,^^
    author jjang,,, keep write ¡¡¡¡

  3. Pingback: [Chapter 4] Love in Love | FFindo·

  4. Ya Allah thor, nae bacanya sampe gigitin selimut -___- ah! kenapa mesti Krystal! awas dah thor kalo misalkan Kai sama Krystal nae males bacanya x__x
    pas baca Kai yang bales sapaan Krystal tiba-tiba ada gledek thor wkwkww pas banget! nae bacanya aja kretek TT___TT

  5. Pingback: [Chapter 5] Love in Love | FFindo·

  6. Pingback: [Chapter 6] Love in Love | FFindo·

  7. hyeri eonn, ffnya as usual, keren (y) Jjang;; tapi kaistal moment nya jgn di banyakin yaa, Jebal:( tapi kalo ngga ada kaistal moment, ngga ada konfliknya, nanti jadinya ngga seru:( kalo gitu terserah eonn aja deh, pasrah :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s