[4 Season Series] Spring : Goodbye Days

Goodbye Days

Author :  Asuchi

Cast :

*) Choi Junhee / Juniel [Singer]

*) Kim Myungsoo / L [Infinite]

Other Cast :

*) Shida Mirai [Japanese Actress]

*) Lee Taeri [OC / imagine as Lee Taemin’s girl version]

*) #cumasebutnama Song Seunghyun & Choi Minhwan [FT Island], Kamiki Ryunosuke & Yamada Ryosuke [Japanese Actor]

Genre : AU, Songfic, General, Friendship, a bit Romance

Rate : SU alias Semua Umur boleh baca :p

Disclaim : gak ada cast yg aku pake di ff ini yg jadi punya aku. Aku cuma punya jalan cerita juga editan sederhana dari piku2 dapet nyolong dr om gugel

Length : >2800 words

a/n : hai~ halo, aku dateng lagi bawa ff baru. ini ff pertama aku yg maincast’a singer cewe fave aku, Juniel. Sedikit bawa misi kenalin lagu2 dia yg bahasa Jepang, kali ada beberapa yg gak tau, hehe. Dan fyi, yg aku pake di ff ini semuanya lagu bikinan dia sendiri. Pas bikin, keinget sama Goodbye Days punya YUI yg dicover sama Juniel makanya aku pake itu judul.

Fyi, o ada beberapa percakapan yg ceritanya pake bahasa Jepang. Aku tandain pake warna yang lain anggap aja pake bahasa Korea, maaf kalo misal salah kata. Maklum, aku cm kenalan bahasanya sekilas dr anime sama doramanya :p dan maaf juga itu lagunya bikin panjang :p

Previous Story :

Aishita Season : Autumn, The Last Petals |

HAPPY READING ^^

[JUNIE-L’S STORY] GOODBYE DAYS

Dream and Hope

Juniel – Dream and Hope

Junhee selesai menyanyikan satu lagu ciptaannya. Sebelumnya, dia menyanyi lagu yang lain, lagu milik Younha berjudul Omoide ni Dekinai. Dia meminggirkan gitarnya sebelum membungkuk. Suara tepuk tangan dari orang-orang terdengar begitu riuh.

Junhee tegak kembali, tepukan masih terdengar meski berangsur memelan. Beberapa orang menghampiri Junhee, melemparkan uang ke dalam tas gitarnya yang terbuka di dekat Junhee.

“Arigatou gozaimasu.” Junhee tersenyum sambil sedikit membungkuk pada orang-orang di depannya. “Arigatou gozaimasu.” Dia mengulang ucapannya sampai orang-orang yang tadi berkerumun di sekitarnya perlahan pergi. Dan hanya menyisakan satu orang.

Seorang laki-laki dengan ransel di punggung, kamera menggantung di leher dan gitar di pundaknya memandang Junhee sejak lama. Dia tersenyum saat Junhee melihatnya.

“Myungsoo oppa!” Junhee meneriaki nama laki-laki itu. “Oraemaneyo.”

Myungsoo mendekati Junhee, membantu gadis itu untuk membereskan uang yang didapat Junhee. “Wah, hari ini kau dapat banyak.” Puji Myungsoo. “Lagu barumu juga bagus.” Tambahnya.

Pipi Junhee sedikit memerah mendengar pujian dari Myungsoo. “Oppa kau bisa saja.” Dia bicara. “Oppa sudah jalan-jalan kemana saja?” Tanyanya. Junhee menyimpan gitarnya di dalam tas, dia kemudian menggendong gitarnya  di punggung.

“Oppa sudah sampai ke Hokkaido.” Jawab Myungsoo.

“Jinja? Daebak!” Puji Junhee. “Mau kutraktir ramen?’ Junhee bertanya.

Myungsoo hanya tersenyum. Dia tidak menolak.

Keduanya kemudian berjalan menuju kedai ramen terdekat.

Choi Junhee adalah seorang mahasiswa yang merantau dari negaranya, Korea Selatan. Junhee memutuskan untuk kuliah di Jepang karena itu memang cita-citanya sejak lama. Sejak enam bulan yang lalu dia menjadi seniman jalanan untuk menambah uang sakunya yang terbatas. Biaya hidup di Jepang jauh berbeda dengan negaranya dan dia tidak bisa menyusahkan orang tuanya lebih banyak. Suara Junhee yang cukup bagus, ditambah kemampuannya bermain alat musik sekaligus menciptakan lagu membuat dia bisa cukup mudah mendapatkan uang dari kegiatan menyanyinya itu.

Kim Myungsoo, Junhee berkenalan dengan Myungsoo ketika dia masih di Korea Selatan. Myungsoo adalah teman dekat saudara sepupunya, Minhwan, yang saat SMA tinggal di rumahnya. Myungsoo beberapa kali datang ke rumah Junhee waktu itu. Dia bertemu dengan Junhee lagi di Jepang secara tidak sengaja ketika dia sedang memotret di taman di daerah Shinzuku. Dia cuti dari kuliahnya dan memilih untuk berpetualang sebagai seorang backpacker. Dan Jepang jadi tempat pertama yang dikunjunginya.

Junhee dan Myungsoo menjadi akrab karena mereka sama-sama sedang berada di negara lain. Padahal sebelumnya Junhee dan Myungsoo hanya sebatas tahu sama lain. Sejak awal pertemuan itu, mereka sering janjian untuk bertemu. Kadang mereka berduet menyanyi di jalanan saat bertemu dan ingin makan sesuatu yang agak mahal. Myungsoo memang kadang menjadi musisi jalanan untuk menambah dana selama di negara matahari terbit itu. Myungsoo berpisah dengan Junhee untuk melanjutkan perjalanannya seminggu setelah pertemuan mereka. Dia tidak pernah berjanji untuk bertemu lagi. Karena Myungsoo bisa pulang kapan saja.

Junhee senang karena dia mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Myungsoo lagi.

“Junhee-ya, ayo kita pergi ke taman besok. Lusa hari terakhir bunga Sakura mekar.” Myungsoo mengajak Junhee pergi hanami sesaat setelah pelayang memberikan dua mangkuk ramen dan sepiring gyoza pesanan mereka.

“Jinja? Aku tidak ingat kalau musim mekarnya sudah mau selesai. Kalau begitu besok pagi kita bertemu di gerbang taman. Aku akan membuat bento.” Kata Junhee sebelum menyumpit satu gyoza dan memakannya. “Oppa hari ini akan menginap dimana?” Junhee bertanya setelah makanan di mulutnya habis.

“Hari ini oppa mau menemui teman. Oppa berkenalan dengannya saat di Sapporo. Dia mengajak oppa mengunjunginya kalau mampir ke Shinzuku.” Terang Myungsoo.

Myungsoo kemudian menceritakan kisah perjalanannya selama tiga minggu sejak terakhir mereka berpisah. Myungsoo terlihat lapar, dia makan di sela ceritanya dan tidak sadar kalau ramen miliknya sudah habis.

“Mau aku pesankan lagi?” Junhee bertanya sambil terkikik.

“Tidak usah. Oppa mau pesan gyoza lagi saja.” Kata Myungsoo.

“Oppa! Kalau lapar jujur saja. Tidak perlu malu padaku.” Junhee bicara.

Myungsoo berdecak. “Kau ini.” Katanya sambil tersenyum. Dia kemudian memesan satu piring gyoza lagi dan melanjutkan ceritanya.

-o0o-

“Juni-chan, kau baru pulang? Bukannya kau bilang mau pulang sore?”

Junhee yang sedang membuka sepatunya mendongak. Dia melihat teman serumahnya, Shida Mirai, berdiri dengan sendok sup di tangan. “Gomen Shida-chan, aku lupa tidak menghubungimu. Tadi aku bertemu teman dan makan ramen. Aku lupa waktu.”

Shida menggembungkan pipinya. “Aku masak banyak hari ini, kau malah makan ramen.” Ucapnya dengan nada ngambek.

Junhee tersenyum. “Aku makan sedikit kok tadi.” Katanya kemudian mengambil sandal rumah dan berjalan ke dalam rumah.

Shida masih menggembungkan pipinya. “Kau bertemu siapa sih?” Tanyanya sambil mengikuti Junhee.

“Myungsoo niichan. Yang waktu itu aku ceritakan.” Jawab Junhee. Dia menyimpan gitarnya di pojok samping lemari.

 “Pemuda tampan yang pernah bernyanyi bersamamu? Yang pernah menumpang tidur di tempat Yamada?”

Junhee mengangguk.

 “Tadaima~” Penghuni rumah yang lain datang.

“Taeri-ah, kau telat.” Ucapku.

“Mian. Tadi aku bertemu Seunghyun oppa. Dia menjenguk sepupunya yang dirawat di sini dan mengajakku bertemu. Tidak mungkin aku mengacuhkannya.” Jawab Lee Taeri, satu penghuni rumah yang lain.

“Kalian jahat!” Shida menatap kedua homemate-nya. “Aku kan sudah bilang jangan bicara dengan bahasa korea kalau aku ada. Aku tidak mengerti.”

“Gomen nasai Shida-chan….” Junhee dan Taeri kompak meminta maaf.

Shida menggembungkan pipinya dan kembali melanjutkan kegiatan masaknya yang hampir selesai.

“Ya, kau tahu tidak kenapa Shida mendadak masak banyak?” Junhee berbisik pada Taeri dia menatap meja yang penuh dengan banyak makanan.

“Oh.. Kamiki kemarin menyatakan cinta pada Shida saat mereka berdua pergi hanami.” Jawab Taeri dengan suara normal.

“Jinja?” Mata Junhee membulat.

Shida berbalik setelah mematikan kompor yang dia pakai untuk memasak air. “Kalian bicara apa?” Tanyanya dengan wajah kesal, dia benar-benar tidak mengerti pembicaraan dua orang Korea Selatan di hadapannya.

Junhee tersenyum. “Kenapa tidak bilang kalau Kamiki bilang cinta?” Dia bertanya sambil menggoda Shida yang wajahnya langsung memerah.

Shida bukannya menjawab, wajahnya malah langsung bersemu merah. Dia buru-buru peegi ke kamarnya. Sepertinya malu.

“Ternyata makanan ini untuk pesta kebahagiaan dia. Kenapa tidak bilang jujur saja. Aku kan bisa belikan dia hadiah.” Junhee bicara.

“Kalau aku bilang aku pacaran dengan Seunghyun oppa, kau mau beri aku hadiah tidak?” Taeri bertanya dengan polosnya.

Mata Junhee membulat lagi. “Kau pacaran dengan Seunghyun oppa? Aigoo~ cinta teman-temanku sedang bersemi, mentang-mentang sekarang sedang musim semi.” Kata Junhee. Dia kemudian menggembungkan pipinya, memasang tampang iri sebelum pergi ke kamarnya dan bersiap mandi. Aku juga ingin. Batin Junhee. Dia terkejut saat itu terbayang wajah Myungsoo yang sedang tersenyum. “Kenapa malah Myungsoo oppa muncul sih? Aduh.” Junhee bicara sendiri dengan wajah berubah jadi tersipu.

-o0o-

Junhee begitu ceria hari ini. Dia sudah mengemas bento cukup banyak. Junhee mengenakan baju rajutan berwarna biru langit dengan rok panjang berwarna putih. Dia terlihat sangat manis dengan pipi berwarna pink.

“Kau mau kencan ya?” Taeri bertanya saat dia masuk ke kamar Junhee dan melihat Junhee selesai memoles lipbalm di bibirnya.

“Anniyo. Hanya menemani teman untuk pergi melihat bunga Sakura.” Jawab Junhee.

Taeri berdecak, memasang tampang tidak percaya. “Aku yakin dia namja. Kau berdandan terlalu cantik untuk teman yeoja. Dan terlalu cantik untuk menemani teman biasa.” Kata Taeri.

Junhee hanya diam. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dan sadar kalau dia memang sedikit berdandan lebih hanya untuk melihat bunga Sakura mekar. Tadi dia berpikir kalau dia memang ingin terlihat cantik di mata Myungsoo. Dia tidak tahu kenapa.

“Eh, apa yang kau lakukan?” Taeri menahan tangan Junhee yang memegang kapas dan terlihat mau menghapus make up di wajahnya.

“Kau bilang aku terlalu cantik. Aku tidak ingin dia salah paham.” Junhee menjawab.

Taeri buru-buru mengambil kapas di tangan Junhee. “Kau seperti baru pertama kali jatuh cinta saja.” Kata Taeri. “Kalau memang suka, terus terang saja. Tidak usah malu.”

“Tapi aku dekat dengannya belum lama Taeri-ah. Apa tidak aneh kalau aku langsung suka padanya?” Junhee berusaha berpikir logis. Dia tidak ingin mengiyakan perasaan sukanya.

“Memang harus butuh waktu yang lama ya untuk suka pada orang lain?” Taeri bertanya.

Junhee tidak menjawab, dia merenungkan pertanyaan Taeri. Seingat Junhee, dulu saat Minhwan mengenalkan Myungsoo padanya dia memang merasa kalau Myungsoo orang baik. Beberapa kali mereka bertemu, Myungsoo memang tidak terlalu akrab dengannya tapi dia bukan orang yang sombong. Sejak mereka bertemu di Jepang pertama kali, mereka jadi lebih dekat. Bahkan akrab seperti teman lama. Dan lama-lama Junhee jadi tertarik pada Myungsoo.

“Sudah. Tetap seperti ini saja. Kau dandan cantik anggap saja sebagai sinyal untuknya. Kalau dia memang suka juga padamu, dia pasti sadar. Sekarang pergilah.” Taeri menarik tangan Junhee agar Junhee bangun. Dia kemudian mendorong pundak temannya itu agar keluar dari kamar. “Pulang nanti kau cerita padaku dia siapa. Walaupun aku punya satu kandidat.” Kata Taeri.

“Doakan aku. Hwaiting!” Junhee menyemangati dirinya sendiri.

“Ne. Hwaiting!”

-o0o-

Junhee menunggu Myungsoo dengan cemas. Gugup tepatnya. Beberapa kali dia memperhatikan penampilannya.

“Menunggu lama?” Myungsoo bertanya. Dia datang beberapa menit setelah Junhee.

Junhee menggeleng. Dia memberikan senyuman yang masih menyisakan rasa gugup. Aigoo~ kenapa denganku? Kemarin kan aku bertemu dengan Myungsoo oppa dan biasa saja. Kenapa aku jadi gugup begini?  Junhee membatin.

“… ik.”

“Ne?” Junhee bertanya. Barusan dia mendengar Myungsoo bicara. Tapi tidak jelas.

Myungsoo tersenyum dan menggeleng. “Biar aku yang bawa.” Myungsoo menawarkan diri untuk membawa barang yang dibawa Junhee. Kotak bento yang tidak terlalu besar, terbungkus kain dan kantong plastik putih berisi air mineral dan minuman soda.

“Tidak apa, biar aku saja yang bawa oppa.” Junghee menolak. Dia hanya membawa tas kecil yang digantungkan di pundaknya selain bento dan kantong plastik. Myungsoo, dia membawa gitar dan kameranya. Ranselnya dia titip di rumah temannya.

“Salah satu saja. Tangan oppa kosong.” Myungsoo bicara dan Junhee kemudian memberikan kantong plastiknya pada Myungsoo.

Mereka kemudian mencari tempat untuk menggelar tikar kain yang Junhee simpan di bawah kotak bento. Mereka berdua beruntung, menemukan satu tempat kosong di dekat pohon Sakura yang cukup besar.

“Oppa, Sakuranya indah.” Junhee mendongak, melihat bunga dari pohon yang berada di dekatnya. Dia tersenyum, mengagumi keindahan yang terlihat retina matanya.

Flash…

Junhee menoleh ke arah Myungsoo dan mendapati Myungsoo sedang mengarahkan kameranya pada Junhee. “Oppa, kau mencuri.” Kata Junhee.

Myungsoo tidak menanggapi. Setelah melihat hasil potretannya, dia kembali memotret Junhee.

Junhee buru-buru berbalik. Dia tidak ingin terlihat jelek. Tapi dia juga tidak mau dianggap narsis kalau tersenyum di depan kamera Myungsoo.

“Kemarin oppa menghubungi Minhwan dan dia minta fotomu.” Terang Myungsoo.

Ada perasaan tidak menyenangkan pada Junhee setelah Myungsoo bicara. Myungsoo memotretnya karena orang lain. Bukan karena dia ingin memotret Junhee. Junhee menghirup nafas panjang dan menghembuskannya cepat sebelum berbalik.

“Minhwan oppa sudah lama tidak menghubungiku. Dia apa kabar?” Junhee bertanya.

“Dia bilang sekarang dia sudah sangat jago dalam beberapa trik sulap. Dia titip salam padamu dan kalau kau pulang, dia akan dengan senang hati pamer kemampuannya padamu.” Kata Myungsoo. Dia menghampiri Junhee, membantu Junhee yang hendak menggelar kainnya. “Kau buat apa saja?” Myungsoo bertanya.

“Oppa lihat sendiri saja.” Junhee bicara. Dia membuka penutup kotak bentonya juga memisahkan kotak-kotak bento empat tingkat itu. Junhee membuat onigiri, chicken karaage yang diletakkan dengan tamagoyaki, lalu ada apel yang sudah Junhee potong kelinci dan beberapa buah-buahan lain. Di kotak paling bawah ada sakura dango yang dibeli Junhee semalam.

“Sepertinya enak.” Myungsoo berkomentar lengkap dengan wajah senangnya.

Junhee ingin tertawa melihat tampang Myungsoo. Jelas sekali kalau Myungsoo ingin segera makan salah satu makanan bawaannya itu. “Oppa makan saja. Tidak perlu sungkan. Aku sengaja buat banyak kok.” Ucapnya. Junhee melihat wajah Myungsoo memerah sebentar. Junhee menyerahkan sepasang sumpit pada Myungsoo.

Myungsoo mengambil satu tamagoyaki dengan sumpitnya dan langsung melahapnya.

Junhee terkikik melihat Myungsoo. “Oppa, apa teman oppa tidak memberi makan eoh?” Dia bertanya berniat bercanda.

“Oppa sengaja tidak makan malam karena ingin makan makanan buatanmu.” Kata Myungsoo yang kemudian meletakkan sumpitnya dan mengambil satu onigiri. Myungsoo terlalu asik dengan makanan sampai tidak lihat kalau wajah Junhee pipi Junhee memerah sampai ke hidung. Junhee kemudian mengambil satu apel dan memakannya sambil berusaha menghilang rona di pipinya.

“Junhee-ya, oppa lusa akan pulang.” Ucap Myungsoo.

Junhee menghentikan kunyahan di mulutnya, menatap Myungsoo sebentar dan buru-buru menghabiskan sisa makanan di mulutnya. “Oh.” Dia tidak bisa berkata apa-apa.

Myungsoo tersenyum sangat manis dan menepuk sebentar kepala Junhee. “Kau terlihat seperti merasa kehilangan.” Ucapnya.

Junhee diam, menatap Myungsoo yang kembali sibuk dengan makanannya.

“Liburan musim panas kau akan pulang kan? Kita bisa bertemu nanti.” Myungsoo bertanya dengan sumpit dimulutnya.

“Ne oppa.” Kata Junhee. Dia melihat Myungsoo tersenyum lagi.

“Setelah makan kau tidak boleh menolak untuk difoto. Sayang kan sudah di sini dan tidak berfoto?” Myungsoo bicara lagi.

Junhee menggembungkan pipinya. Tidak bisa menolak.

Setelah menghabiskan setengah dari bento yang Junhee bawa, mereka berdua lebih menikmati pemandangan yang ada. Myungsoo sibuk memotret dan kesana kemari untuk bisa mendapatkan objek yang pas. Myungsoo melihat Junhee yang sedang mengulurkan tangannya, menangkap beberapa kelopak bunga sakura yang jatuh dari pohon. Dia tidak melewatkan kesempatan itu dan memotret Junhee beberapa kali.

“Junhee-ya. Ayo menyanyi.” Ajak Myungsoo. Dia mengambil gitarnya, duduk di atas tikar dan mulai memetik senar gitarnya.

Nareta nichijou nareta kyori to Baby, I say good-bye for a while

Daisuki data ichou no ki mo shibaraku aenaku narune

Hajimete deta hitori dake no tabi choppiri sabishikatta

 

 [Pada hari-hari yang dikenal, jarak yang dikenal, Baby, I say good-bye for a while

Pohon gingko kesukaanku juga, Aku tidak akan lagi bisa melihatmu sebentar

Pertama kalinya aku berkeliling sendiri. Aku merasa kesepian.]…

::Juniel – Travel::

“Oppa, itu….” Junhee memotong nyanyian Myungsoo.

Myungsoo menghentikan petikan gitarnya dan tersenyum pada Junhee. “Oppa menghafalnya.” Terang Myungsoo.

Junhee tidak menyangka kalau Myungsoo menghafalkan lagu buatannya. Dia terlihat senang. Junhee kemudian duduk di tikar sambil ikut bernyanyi bersama Myungsoo.

Dua orang itu terlihat begitu menikmati lagu yang mereka nyanyikan.

Keduanya pulang setelah bento yang dibawa Junhee sudah habis. Hari juga semakin siang. Junhee ada kelas sore. Jadi mereka memang tidak bisa berlama-lama.

“Lusa boleh aku antar oppa ke bandara?” Junhee bertanya saat mereka sedang berjalan menuju halte bis.

“Oppa mau mengambil pesawat siang. Kau memang tidak ada kelas?” Myungsoo bertanya.

Junhee berusaha mengingat-ingat jadwalnya. Bibirnya mengerucut begitu dia ingat kalau dia ada kelas yang tidak bisa ditinggal bolos.

Myungsoo mengelus puncak kepala Junhee. “Kau jangan sedih begitu, kita bisa bertemu nanti kalau kau pulang.” Ucapnya seolah tahu jawaban Junhee.

-o0o-

“Bagaimana? Apa hari ini menyenangkan?” Taeri yang sedang duduk di tempatnya langsung bertanya saat Junhee menghampirinya. Ada waktu beberapa menit sebelum kelas dimulai.

Junhee menggeleng lemah. “Lusa dia pulang ke Korea Selatan.” Jawabnya tidak terlalu tepat.

“Jadi benar-benar Myungsoo oppa ya?”

Junhee hanya merengut tanpa menjawab pertanyaan Taeri. Dia mengangguk lemah kemudian.

“Kau ini. Libur musim panas nanti juga kan kita pulang. Kau bisa bertemu dengannya.” Taeri memukul Junhee dengan bukunya yang tebal.

“Aww….” Junhee mengelus tempat bekas pukulan buku Taeri.

“Semangatlah. Jatuh cinta itu harus ceria, bukannya sedih.” Kata Taeri.

“Kau sih enak sudah resmi jadi pacar Seunghyun oppa.” Keluh Junhee.

“Siapa bilang?”

“Loh kemarin.”

“Aku kan bilang misalnya. Seunghyun oppa, aku tidak bisa mengharapkan dia terlalu banyak. Rencananya nanti pas pulang aku akan bilang cinta pada dia. Menunggu dia bilang cinta dulu itu hanya buang-buang emosi. Kami saling menyukai tapi Seunghyun oppa tidak pernah membuat jelas hubungan kami.” Taeri bicara panjang lebar lengkap dengan ekspresi kesal dia.

Buggg…

Junhee memukul Taeri dengan bukunya. “Jatuh cinta tuh harus ceria, bukan kesal.” Kata Junhee begitu melihat tatapan marah Taeri. Dia tertawa karena Taeri terlihat makin kesal karena kata-katanya sekarang berbalik padanya.

“Tskk.. menyebalkan.”

Junhee makin senang melihat Taeri.

Tak lama kelas dimulai. Junhee, bukannya memperhatikan kelasnya dengan serius, dia malah membuat catatan di bukunya. Dia mulai menuliskan lirik lagu. Dan pikirannya mulai melayang ingin segera pulang agar bisa membuat nada-nada untuk lagu barunya. Dia berencana memberikan lagu itu pada Myungsoo. Junhee berharap dia bisa menyelesaikan lagunya dengan cepat.

-o0o-

Sejak pagi-pagi Junhee sudah membuat berisik satu rumahnya karena petikan gitar miliknya. Padahal semalam dia juga berisik sampai hampir tengah malam. Taeri sih maklum, dia tahu Junhee sedang dikejar waktu. Tapi Shida tidak. Kemarin dia pulang tengah malam karena harus mengerjakan tugasnya. Jadilah Shida langsung berhambur ke kamar Junhee.

“Juni-chan, kau berisik sekali.” Kata Shida dengan rambut acak-acakan dan mata masih mengantuk.

“Gomen Shida-chan. Aku mengganggumu ya?” Junhee menghentikan petikan gitarnya.

“Kau lanjutkan saja.” Taeri tiba-tiba datang dan menyeret Shida menjauh dari kamar Junhee. Dia membawa Shida ke kamarnya dan menceritakan kenapa Junhee sudah berisik pagi-pagi.

Junhee melanjutkan kegiatannya. Dia tidak punya waktu banyak karena dia sendiri masih ada kelas nanti siang sampai sore. Dia sempat janjian dengan Myungsoo di kampusnya besok pagi sebelum Myungsoo pergi ke bandara. Itu artinya, waktunya untuk menyelesaikan lagunya sangat sempit.

“Selesaaiiii..!!!!!” Junhee berteriak senang saat dia sudah menyelesaikan lagunya. Dia teriak cukup kencang sampai dua homemate-nya langsung masuk ke dalam kamarnya.

“Selesai?” Taeri bertanya penasaran.

“Kalian…”

“Maksudku lagunya sudah selesai.” Junhee buru-buru menjelaskan pada Shida yang terlihat mulai kesal karena Junhee dan Taeri bicara bahasa korea.

“Heran, kau sudah tinggal dengan kami sudah cukup lama tapi masih juga tidak mengerti bahasa kami sedikitpun.” Kata Taeri yang langsung mendapatkan pukulan dari Shida di kepalanya.

“Kalian coba dengarkan laguku. Aku butuh pendapat sebelum merekamnya nanti sepulang kuliah.” Kata Junhee yang diangguki kedua temannya.

-o0o-

“Juni-chan, kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?” Shida yang tahu Junhee baru pulang dari kuliahnya langsung menghampiri dan bertanya.

“Sepertinya baterainya habis, nande?”

“Tadi Myungsoo-san datang kesini. Dia bilang dia harus pulang hari ini dan berniat pamitan padamu. Tapi kamu sama sekali tidak bisa dihubungi.” Terang Shida.

“Eeehh? Myungsoo niichan pulang?” Junhee terlihat kaget. Tapi ekspresinya kemudian berubah kecewa. “Aku belum memberikan laguku.” Katanya.

Shida mengerti, dia menepuk pundak Junhee beberapa kali. “Musim panas nanti kalian bisa bertemu. Bersemangatlah.” Hibur Shida.

Mau tidak mau, Junhee harus menunda pesannya pada Myungsoo. Junhee melihat keluar jendela rumahnya, ke atas sana. Dia berharap musim panas akan segera tiba.

-say goodbye to Spring-

 

Huwee~ makasih buat yg udah nyempetin buat baca, many many many thanks buat yg mau kasih komen. Maaf kalo misal ffnya bikin ngantuk.

-EmakJino-

43 responses to “[4 Season Series] Spring : Goodbye Days

  1. haha. kayanya aku salah urutan deh nih. aku malah baca yg summer dulu baru yg ini ㅡ ㅡ dodolnya aku. untung penggunaan kata²nya ga ribet. jd otakku yg masih pentium ini masih bisa nerima dgn baik ㅎㅎ baca ini aku jd bayangin jd seorang juniel yg hrs pny kesabaran extra gara² si myung yg gapeka itu. huaaa….Kaka sukses banget ngegambarinnya. oia mau komen dikit soal apel yg udh dipotong kelinci yg dibawa di bento sama si Juniel. setau aku nih ya, apel yg udh dipotong itu kalo didiemin dia bakal menghitam kak. bkn hitam warna hitam. kecoklatan kali ya lebih tepatnya (mending dicoba aja biar komenku ga makin panjang x lebar. hehehe). segini aja komenku -pdhl ini panjang banget-
    karena summernya aku udh baca, winter sama autumnya asap ya kak ‘-‘)b

    • oh iya.. baru ngeh, ini si apel’a juga disimpen di kotak bento yaa… gak kedap udara -_-
      duh.. pas bikin pas makan apel, haha /plak/ makasih udah ngingetin :p
      sebenernya gak sabar ekstra sih.. soal’a juni jg gak liatin bgt dia punya rasa.. cm kadang slah tingkah aja.. tp myung emang sama sekali gak merhatiin juga si,
      aku usahain asap.. hehe~ tp nunggu 4s punya temen dulu eh sblm pajang punyaku :p

      makasih banget loh udah baca sma komen ff ini 🙂

  2. Uuuuu keren. Kenapa baru nemu ya. Aku pikir bakal garing karena aku nggak biasa baca ff myungsoo-juniel taunya. . . . . .
    NGGAK SAMA SEKALI!!! Penasaran pengen ke part berikutnya

    • hehehe, aku seneng pake banget loh ep2 aku bisa diterima
      cuma dikit bgt org org yg pairingin mereka, mungkin gegara emang gak pernah keliatan dipair kali, aku juga ngepair mereka gegara nama mereka -_- /curhat

      makasih udah bca sama komen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s