Parallel Body

parallel body PNG

AUTHOR: avyhehe / @a_vy

LENGTH: Ficlet

GENRE: Mistery, Fantasy

RATED: PG-13

CHARACTER: Kim Jongin (EXO)

Others: Chanyeol, Kris, and other exo members

Disclaimer: Me and other who inspired me

A/N:

mian ga sempet ngedit cover, piku nya asal nyomot di tumblr

Kritik dan saran dimari ~ :mrgreen:

DON’T BE A SILENT READER!

Jika kau terbangun pada suatu pagi,

dan melangkah ke cermin untuk mematut dirimu,

bagaimanakah responmu,

bila wujudmu telah berubah

…seutuhnya?

P.S. : all written in Jongin’s point of view

Aku tergeragap saat terbangun di suatu pagi, mendapati ranjangku berguncang hebat. Tak hanya ranjangku, ruang kamarku yang tak begitu besar dan lampu yang menggantung di langit-langit kamar pun juga ikut berguncang.

Aku segera bangkit, menyibak selimut yang menyelimutiku, mengulet sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Aku baru tersadar sebuah gempa berskala 3 skala ritcher mengguncang seisi kota bahkan satu negara, setelah mendengar sekilas berita dari sebuah televisi yang menyala di ruang tengah rumahku.

Menyadari gempa bisa saja bertambah hebat, aku berlari menuju ruang tamu dengan gerakan terhuyung karena belum sadar sepenuhnya.

“Jongin!! cepat keluar! gempanya mengerikan!”

Kudengar eomma berteriak dari luar rumah, membuatku bergegas menghampiri pintu depan. Namun saat jarakku tinggal semeter dari muka pintu, aku terpeleset sebuah bola tenis yang teronggok di depan pintu. Tak sanggup menyeimbangkan tubuhku, aku jatuh berdebam di atas lantai , mengerang keras. Seketika kepalaku terasa pening karena tengkukku menghantam permukaan lantai saat jatuh. Aku pun terjatuh pingsan dengan kondisi tubuh terlentang, tidak menghiraukan eomma yang terus berteriak dari luar, dengan suara yang lama kelamaan memudar dan akhirnya menghilang.

“Jongin! Jongin! cepat keluar!!”

Saat terbangun dari pingsanku, kurasakan pegal dan linu yang menjalari tengkuk hingga punggungku, membuatku teringat pada insiden terpeleset di depan pintu karena ulah bola tenis yang terkutuk itu.

Cahaya matahari yang menyeruak masuk dari jendela di sudut ruangan membuatku mengerang dan mengeratkan selimut yang membungkus tubuhku. Tunggu, selimut?

Aku membuka mata secara tiba-tiba, dan ledakan cahaya yang silau membuatku menyipitkan mata. Aku berusaha terbiasa dengan sinar matahari pagi, dan saat mataku telah berfungsi dengan benar, alangkah terkejutnya diriku saat mendapati tubuhku sudah berada di atas ranjang. Lengkap dengan bantal, guling, dan selimut. Padahal kemarin aku terkapar di depan pintu ruang tamu dengan kondisi rumah yang berguncang hebat. Namun yang benar-benar membuatku terkejut adalah… aku tidak mengenali kamar ini.

Kusapukan mataku ke seluruh bagian kamar, benar-benar syok saat menyadari kamar ini bukanlah kamar dimana aku biasa terbangun, yang bercatkan abu-abu muda. Alih-alih berwarna abu-abu muda, kamar ini  malah bercatkan putih polos dengan poster-poster band luar yang menempel di dindingnya. Bahkan perabotan yang mengisi kamarku kini bentuknya berbeda, juga tertata rapi, tidak seperti kamarku yang dulu sangat berantakan.

Agak malas, kulangkahkan kakiku menghampiri cermin setubuh di sudut ruangan. Aku sangat terkejut dan jantungku nyaris melompat keluar saat mendapati refleksi diriku yang begitu aneh, dan… sangat berbeda.

Tubuhku yang sekarang lebih tinggi beberapa senti, dengan model rambut yang lain. Mata, hidung, mulut, bahkan lingkar wajahku pun semuanya berubah. Mataku membelalak tak percaya dan mulutku menganga lebar. Aku lalu meraba sekujur wajah dan tubuhku dengan kedua tanganku.

Menyadari teksturnya benar-benar berbeda dengan tekstur tubuhku yang sebelumnya, kali ini aku menampar pipi kiri dan kananku keras-keras.

“Dafuq!!!” umpatku saat menatap cermin kembali, mendapati refleksi diriku di pantulannya tetap tidak berubah.

Aku mengacak-acak rambutku frustasi, tidak mengerti apa yang tengah terjadi, berharap ini semua adalah mimpi atau efek error karena sebelumnya aku terjatuh pingsan dengan tengkuk menghantam lantai. Namun meski beranggapan begitu, keadaan di sekitarku bahkan diriku sendiri tidak kunjung kembali seperti keadaan asalnya. Kembali menjadi Kim Jongin yang dulu. Ditengah kesibukanku berpikir dan merenung, sebuah teriakan mampir di kedua daun telingaku.

“Chanyeol!! Chanyeol! bangun!!”

Disusul dengan suara gedoran pintu kamar di sampingku, akupun menghampiri pintu kamar dengan malas. Setibanya di depan pintu, alisku menyatu, dan aku benar-benar kebingungan. Siapakah yang menggedor-gedor pintu itu? dan siapa itu… Chanyeol?

Krieettt…

Saat pintu di hadapanku terbuka lebar, seorang wanita menghambur masuk dan menjitak kepalaku. Aku mengaduh, dan saat kutatap wanita itu aku benar-benar sangat bingung, karena aku tidak mengenali sosoknya.

Wanita itu mendecak sambil berkacak pinggang. “Ya!! kau pikir ini sudah jam berapa?! kau sudah telat berangkat ke sekolah, Park Chanyeol!”

Mataku membulat, bukan karena wanita itu mengomeliku, tapi karena wanita itu memanggilku dengan sebutan ‘Park Chanyeol’. Aku sudah ingin membuka mulutku dan hendak mengatakan namaku yang sebenarnya adalah Kim Jongin, namun wanita itu sudah menggenggam erat tanganku terlebih dahulu dan menyeretku menuju lantai bawah. Dia mendorong tubuhku masuk ke kamar mandi, dan saat menyadari aku hanya diam terpaku di depan pintu kamar mandi, dia menendang pantatku keras-keras sehingga tubuhku terlempar masuk dan nyaris saja menabrak kloset di dalam kamar mandi. Kekuatan wanita ini membuatku bergidik ngeri.

“Eomma sedang sebal hari ini, karena petugas penagih hutang baru datang tadi pagi. Jadi, jangan menambah rasa sebalku dengan bertingkah bodoh, Chanyeol!” wanita itu mulai mengomel lagi, dan kali ini dia menutup pintu kamar mandi yang kutempati dengan membantingnya, membiarkanku sendirian di ruangan lembab itu.

“…”

Tidak tahu apa yang harus kukatakan karena sangat syok. Setelah beberapa saat terdiam aku lalu menggerutu tidak jelas, menghampiri kloset di sudut ruangan, dan duduk diatas permukaannya yang tertutup sambil memangku wajahku dengan kedua tangan. Kali ini aku benar-benar butuh merenung, merenungkan kejadian aneh yang baru saja menimpaku. Kenapa aku terbangun dengan tubuh orang lain? Apakah rohku sedang berwisata dan memasuki tubuh orang lain? atau… apakah  ini hanya halusinasiku saja, mengingat kemarin aku jatuh pingsan setelah tersandung bola tenis?

Aku menggeleng keras saat mendapati jawaban-jawaban tak berdasar itu muncul di kepalaku, namun tiba-tiba aku membelalak.

mungkinkah… dunia  berubah seutuhnya setelah gempa mengguncang seisi negara, membuat penduduknya tidak stabil bahkan sampai bertukar tubuh?

“CHANYEOL!!!”

Teriakan cempreng wanita diluar kamar mandi menyadarkanku yang sudah tenggelam terlalu dalam dengan pikiranku. Wanita itu kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi sambil mengomel panjang lebar. “Cepat keluar!! kau ingin ketinggalan pelajaran di hari pertamamu kuliah, huh?!” teriaknya dari luar. “Pagi ini tidak ada sarapan untukmu, Chanyeol! Aku marah padamu! kau makan saja rerumputan yang kautemui di pinggir jalan!”

Terbangun dengan mata mengerjap-ngerjap, menatap langit-langit kamar yang selalu berbeda pada pergantian hari yang baru sudah menjadi makananku sehari-hari. Lama-kelamaan aku terbiasa dengan perubahan aneh ini. Terbiasa, walaupun aku sendiri tidak bisa menerimanya.

Aku selalu saja terbangun dengan tubuh yang berbeda, sosok yang berbeda, pada tempat yang berbeda setiap harinya–Namun pada waktu yang sama; yaitu keesokan harinya setelah aku tertidur lelap di malam hari. Setiap harinya aku harus bisa beradaptasi dengan lingkunganku yang baru, dengan orang-orang yang tidak kukenal tapi mereka mengenalku. Mengenalku? hmm… aku juga tidak yakin, karena mereka mengenalku sebagai sosok yang selalu ‘lain’, bahkan mereka memanggilku dengan nama yang selalu terdengar asing di telingaku, bukan dengan nama ‘Kim Jongin’ yang selalu melekat padaku selama beberapa tahun terakhir.

Aku bangkit, menyibakkan selimut dengan corak dan warna yang sama sekali berbeda dengan selimutku yang kemarin, berjalan gontai mengitari seluruh sudut kamar untuk mengenalinya. Aku memang harus mengenali keadaan sekitarku setiap harinya, agar bisa bersikap wajar dan tidak membuat curiga orang-orang yang ‘mengenalku’ dengan tubuh ini, bahkan aku bisa mengakses secuil memori dari tubuh orang yang kutempati sekarang. Mengakses tentang masa lalunya, orang yang dicintainya, bahkan warna celana dalam kesukaannya jika aku mau.

Nafasku berhembus keras saat menyadari tak ada sebuah cermin pun di kamar ini, mungkin si pemilik kamar–atau orang dengan tubuh yang kutempati saat ini–tidak suka berkaca. Padahal setiap harinya aku selalu berkaca sesaat setelah terbangun, merasa memiliki keharusan untuk mengenali tubuh seperti apa yang kutempati setiap terbangun di pagi hari, mengingat setiap harinya tubuhku selalu berganti dengan yang baru.

Aku merasa sangat kesal saat tak mendapati satupun cermin, namun ada hal lain yang menarik perhatianku, yaitu sebuah pintu lain di sudut kamar dengan keset yang tergelar di depannya. Aku membuka pintu itu perlahan, membuatnya berderit pelan, dan ternyata pintu itu menghubungkanku dengan kamar mandi mewah lengkap dengan bathtub-nya. Aku berdecak kagum, karena ini kali pertamanya aku terbangun di dalam kamar yang begitu mewah, bahkan memiliki kamar mandi sendiri. Dengan semangat membara, aku langsung melangkah masuk ke kamar mandi dan menjelajahi setiap sudutnya.

Alangkah bahagianya diriku, saat mendapati kamar mandi itu memiliki sebuah cermin lebar yang menempel di salah satu dinding. Aku langsung mendekatinya, berdiri di hadapannya untuk mengetahui refleksi tubuhku.

Senyum lebar tersungging di wajahku, mendapati wujudku yang hari ini begitu tampan, dengan tubuh tinggi dan atletis. Tapi tunggu… kenapa rambutku berwarna pirang menyala? eww… hidungku mengkerut jijik menyadari warna rambutku yang terasa begitu norak.

Tapi setidaknya aku harus bersyukur, karena selama berpindah-pindah tubuh tidak sekalipun tubuh yang kutempati berwajah jelek. Saat pertama kalinya aku terbangun, aku mendapati diriku terbungkus sebuah tubuh yang bernama Park Chanyeol, seorang mahasiswa baru di sebuah universitas ternama Seoul. Esoknya aku terbangun dengan tubuh Do Kyungsoo, seorang mahasiswa baru juga. Besoknya tubuhku berganti lagi menjadi Oh Sehun, besoknya lagi menjadi Xi Luhan. Besoknya lagi, menjadi seorang Byun Baekhyun. Oh Sehun, Xi Luhan, dan Byun Baekhyun juga seorang mahasiswa baru. Tunggu! Ada sebuah kesamaan dari segelintir orang-orang itu. Kenapa mereka semua berstatus ‘mahasiswa baru’? bahkan diriku yang lama pun, yang tak lain adalah Kim Jongin, besok akan menyandang status itu karena aku telah diterima di sebuah universitas ternama di Seoul.

“Gege!!” teriak sebuah suara kecil dari luar kamarku, membuatku terkesiap. Aku melangkah keluar kamar mandi dan menghampiri pintu kamar. Dahiku mengernyit saat mendapati panggilan yang aneh itu. Gege? kenapa hari ini namaku aneh sekali?

Aku membuka pintu dan mendapati seorang gadis kecil lucu dengan rambut dicepol dua di kiri dan kanan, seperti boneka China. Gadis itu tersenyum ke arahku sambil menyodorkan sebuah baki berisi susu dan roti keju.

“Kris gege, makanlah! mama dan baba sudah berangkat kerja tadi pagi. Aku membawakan roti ini khusus untukmu dari meja makan!” Gadis itu tersenyum lebar, sambil tetap menyodorkan baki berisi sarapan itu ke arahku.

Oh, ternyata hari ini namaku adalah Kris. Lalu ‘gege’ itu apa? nama lengkapku? tidak, mungkin itu adalah panggilan semacam ‘oppa’ atau sejenisnya. Pandanganku lalu terpaku pada plat nama elegan yang tertempel di depan pintu kamar ini, bertuliskan ‘Kris Wu’. Nah, mungkin itu adalah nama lengkap asliku hari ini.

“Gege!” gadis kecil itu menarik ujung T-shirtku, membuatku menghentikan kesibukanku menerka-nerka identitas diriku dan memalingkan mukaku ke arahnya. Aku melempar senyummu yang paling manis ke arahnya, lalu meraih baki yang dipegang kedua tangan kecilnya itu dengan satu tanganku. Kutepuk-nepuk kepala gadis itu dengan sebelah tanganku yang bebas.

“Terimakasih…” ucapku pada gadis itu, dan seketika kata-kataku terhenti saat menyadari aku tidak mengenalnya, bahkan tidak mengerti namanya. Kupejamkan kedua mataku, berusaha mengakses potongan memori dari tubuh yang kuhuni ini. “… Yi Wen?” kataku kemudian pada gadis itu, sesaat setelah kembali membuka mataku.

Gadis itu menggembungkan pipinya sebal. “Tidak biasanya gege memanggilku dengan nama asliku, biasanya kau memanggilku dengan sebutan meimei.” katanya sebal, lalu mengibaskan sebelah tangannya. “Sudahlah, cepatlah berganti baju, gege. Mama bilang hari ini gege sudah menjadi… apa ya itu namanya… engg, mahasiswa baru?”

Mataku sontak membulat saat gadis kecil itu mengucapkan kata ‘mahasiswa baru’. Ok, entah ini suatu kebetulan atau apa, tapi hari ini aku menyandang status itu lagi. Itu artinya saat aku melangkah memasuki kampusku, lagi-lagi aku harus menyapa semua orang yang kutemui dan mengajaknya  berkenalan. Karena ini hari pertamaku kuliah, tentu saja.

“Gendong!!” gadis itu berteriak lagi, mengangkat kedua tangan kecilnya ke atas dan mengarahkannya padaku. Matanya yang bulat dan pipinya yang chubby membuatku gemas dan mendecak kesal.

“Aissshh…manja sekali…” aku pun meletakkan baki yang kupegang dengan sembarangan di atas lantai, meraih tubuh kecil gadis itu lalu mengangkatnya. Gadis kecil itu tertawa dan memukul-mukul pundakku saat aku memanggulnya seperti memanggul sebuah karung beras.

“DAFUQ!!” umpatku sekali lagi, saat mendapati diriku berdiri di depan sebuah gedung fakultas yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Fakultas ini adalah fakultas seni, di dalam kampus yang sama, dengan jurusan yang sama pula seperti yang ku datangi pada hari-hari sebelumnya. Aku berjalan memasuki halaman gedung itu  sambil menampar-nampar pipiku, merasa heran dengan semua kebetulan ini. Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Xi Luhan, Byun Baekhyun… orang-orang dengan tubuh yang sebelumnya kuhuni, juga seorang mahasiswa baru di tempat ini. Apakah semua ini hanyalah kebetulan? Apakah nasib mempermainkanku? pertanyaan-pertanyaan itu terus berdesing di benakku seakan meminta jawaban, membuatku pusing.

Saat kakiku menyusuri taman di depan gedung fakultas, kudapati beberapa orang gadis berteriak heboh saat melihatku, terpesona oleh penampilanku. Ani, lebih tepatnya penampilan pemuda bernama Kris Wu ini. Aku menyibakkan poni pirang yang menutupi sebelah mataku, dan hal yang kulakukan itu malah membuat teriakan di sekelilingku semakin histeris. Hidungku mengeluarkan dengusan keras, merasa terganggu, tapi aku tetap berjalan dengan pandangan lurus ke ke depan, ke sebuah pintu masuk gedung yang terbuat dari kaca. Aku terus berjalan lurus… sampai tiba-tiba tanah tempatku berpijak berguncang hebat.

“Kenapa ini?!”

“Tidak tahu!”

“KYAAAA… Gempa!!!”

Teriakan-teriakan orang di sekitarku membuatku tersadar akan apa yang tengah terjadi. Beberapa gadis dan lelaki yang sama-sama mahasiswa baru sepertiku berlarian tak tentu arah di halaman depan fakultas, berlari menjauh dari gedung-gedung di sekeliling mereka, berjaga-jaga agar tidak tertimpa gedung-gedung itu bila gempa bertambah hebat. Lalu dari pintu masuk gedung di hadapanku yang terbuat dari kaca, kulihat segerombolan orang menyeruak keluar saat gedung itu mulai berguncang hebat dan beberapa retakan mulai terlihat di permukaan dindingnya. Gerombolan orang itu berlari ke arahku, menghambur keluar dari gedung, tidak memperdulikan tubuhku yang masih berdiam terpaku di tempatku berdiri saat ini. Orang-orang itu dengan kalap menyenggolku dan menabrak-nabrak tubuhku seperti sedang kerasukan setan.

Tiba-tiba seseorang bertubuh besar menabrakku, membuat tubuhku terpental keras ke belakang dan kehilangan keseimbangan. Saat tubuhku terjatuh ke tanah akibat tabrakan itu, kurasakan tengkukku menghantam sebuah batu besar yang berfungsi sebagai penghias taman, membuatku memekik keras.

Aku merasakan kepalaku terasa berat dan pandanganku mengabur. Setelah itu, yang bisa kulihat hanyalah kegelapan yang mulai menyelimutiku.

“KIM JONGIN!!!” sebuah tamparan keras mendarat di pipiku, membuatku terbangun seketika.

“KIM JONGIN!! bangun! ini hari pertamamu kuliah!”

Mataku membulat, saat mendapati sosok yang berteriak di hadapanku adalah orang yang sangat kukenal. Sosok itu terus menampari kedua pipiku meski mataku telah terbuka dengan sempurna, membuatku berteriak kesal dan menepis tangannya.

“Eomma! hentikan! tamparanmu itu bisa membunuhku!” teriakku.

“Haishhh, tidak berterimakasih setelah dibangunkan, malah marah-marah sendiri.” gerutu wanita di hadapanku itu sambil mendecak kesal. Dia lalu melemparkan handuk berwarna putih ke wajahku, mendorongku keluar kamar dan memasukkanku secara paksa ke dalam kamar mandi yang terletak tidak jauh dari kamarku.

Aku terhenyak, saat menyadari kini aku berada di dalam kamar mandi yang sangat kukenal, dan… tunggu! kalau aku tidak salah dengar, wanita tadi memanggilku dengan nama Kim Jongin?!!

Aku menghampiri sebuah cermin yang tergantung di atas wastafel di sudut lain ruangan dan memekik kaget saat mendapati wajahku sudah kembali seperti semula, kembali menjadi diriku yang seharusnya. Seorang Kim Jongin. Bukan dengan wajah Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Xi Luhan, ataupun Kris Wu.

Sambil mengacak rambutku frustasi, aku berteriak lantang memanggil eomma dari kamar mandi. “Eomma!!” panggilku.

“Waeyo?” respon suara wanita dari arah luar.

“Apa kemarin pagi ada gempa??” tanyaku memastikan.

“Yang benar saja!! tidak ada gempa kemarin pagi, mungkin kau hanya bermimpi. Salahkan dirimu sendiri karena kau tertidur seperti orang mati, membuatmu bermimpi buruk seperti itu!”

Aku terhenyak mendengar jawaban itu. Tidak ada gempa? lalu bagaimana… bagaimana aku bisa menjelajahi tubuh orang lain dan terbangun di tempat yang berbeda-beda? Ah, sudahlah! tepisku dalam hati. Mungkin benar kata eomma, aku hanya bermimpi, dan saat aku berkelana memasuki tubuh orang lain pun, hal itu juga hanya sekedar mimpi.

Tapi kenapa mimpi itu terasa begitu… nyata?

Sinar matahari bersinar cerah, menerpa seluruh permukaan di bumi dan memberikan warna pada benda-benda yang terkena sapuannya. Aku melangkahkan kakiku memasuki kampusku yang baru, menyapa setiap orang yang lewat di hadapanku. Ya, hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah, karena aku adalah seorang mahasiswa baru.

Tiba-tiba pandanganku tertumbuk pada segerombolan lelaki yang sedang berbincang-bincang seru di depan pintu masuk gedung fakultas. Aku pun menghampiri mereka, berniat menyapa orang-orang itu dan hendak mengajak mereka berkenalan, mengingat mereka semua adalah sesama mahasiswa baru sepertiku.

Namun belum sempat aku menyapa mereka, aku langsung berteriak keras saat kudapati segerombolan lelaki itu adalah orang-orang yang sangat kukenal dengan jelas.

“Chanyeol?! Kyungsoo?! Luhan?! Sehun?! Baekhyun?! Kris?!!”  teriakku sambil menuding mereka satu-persatu dengan telunjukku. Setelah meneriakkan nama-nama itu, tubuhku terasa limbung. Beruntung, sebuah tangan yang besar menahan tubuhku sebelum aku sempat terjatuh.

Teriakanku itu sukses membuat kelima lelaki di hadapanku, ditambah seorang lelaki yang kini menahan tubuhku agar tidak limbung, membelalak kaget karena aku menyebutkan nama-nama mereka dengan benar.

“Siapa kau?? Bagaimana kau mengenali kami??”

______________

The End

______________

Gaje dan membingungkan yakk? hahahaha… as always:mrgreen: namanya juga FF mistery

idenya muncul gara-gara seminggu yang lalu ada gempa di kota saya, tapi kayaknya satu pulau jawa kena gempa juga , yg kena gempa tunjuk tangan dong ~ O.O

Pertamanya bingung mau dikasih judul apa, ujung2nya FF ini saya kasih judul ‘Parallel Body’, soalnya Kai disini seakan2 punya banyak tubuh, atau lebih tepatnya berpindah-pindah tubuh, ya begitulah… /PLAK/ (bingung sendiri ngejelasinnya ^_^;)

butuh kritik dan saran, jadi dimohon komennya :)

komen?

84 responses to “Parallel Body

  1. Kyaaaaaa!! Kok bisa gitu?? >.<
    selama arwah Kai ada ditubuh ChanSooHunHanBaeKris, arwah mereka ber-6 pada kemana??

    Ya ampun!! Keren! Keren! '-')d
    tapi masih agak bingung, kok ada ya kejadian kayak gitu? –"

  2. hmm ff ny msh gantung :” /author aku msih butuh penjelasan/
    knapa bgini,knapa bgtu si kai nyaaa…..
    tp over all, idenya unik + fresh. like it !!!

  3. pertama bca ff ini aq msh bingung,, tpi stlah hmpir akhir aq bru mundeng,, hehehe ^^v tpi itu Kai knp ? mati suri ? mimpi ? hehe ^^v btw ff ini daebak !! q tunggu ff slanjut’a ^^ semangat thor (9^o^)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s