Baby, Don’t Cry ||Cerry Blossoms At Spring (Chapter 1)

the eye

*  Title          : Baby, Don’t Cry || The eye of the Cherry Blossoms (Spring)

*  Author      : GaemVye (@GaemVye)

*  Lenght       : chaptered (?)

*  Genre        : Family, Romance, Angst, and Hurt

*  Rating        : PG-13

*   Cast          :

  • Kwan Nara / OC
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jongin (EXO)

(ff ini titipan dari salah satu temen author, Happy Reading . . .)

PROLOG

 ~~~~~

-Musim semi tak selamanya menunjukkan warna cerahnya. Terkadang kita harus berkutat dengan kegelapan yang diam-diam merusak kecerahan musim semi tersebut. Namun percayalah, tak akan ada kata suram di musim semi. Sesuram apapun itu, kau akan menemukan kecerahan pada akhirnya-

seoul-park_副本

     Hari ini, awal dari musim semi yang merupan hari pertama sang sakura bekerja disalah satu toko bunga didaerah Gangnam, Seoul. walau dia hanya seorang remaja SMA angkatan pertama, tapi sang sakura nekat bekerja karena ekonomi keluarganya yang bisa dibilang hm. . . golongan tingkat bawah. Apalagi waktu kerjanya yang bisa dibilang sangat berbahaya bagi remaja seusianya. Bayangkan dia harus berjalan menelusuri gemerlapnya diskotik-discotik yang berderet rapi disepanjang jalanan gangnam tengah malam. Bisa saja sang sakura digoda, diculik atau bahkan diperkosa oleh beberapa pemabuk yang biasa keluar dari beberapa diskotik itu.

46289636

A,a. . .  namun kurasa tak kan berlaku untuk remaja satu ini. Bahkan menurutku pemabukpun tak akan mau mendekati atau bahkan menggodanya. Liat saja penampilannya, tak menarik, tak cukup cantik dan lebih tepatnya terlihat lusuh. Rambut kuncir kuda, dengan memakai dress biru tua selutut dan sepatu butut yang sedikit robek sana sini. Tak lupa sebuah masker gelap yang menutupi area hidung hingga mulutnya. Tak cocok sih, Namun itulah fashionnya. Fashion andalan dari sang sakura, Kwan Nara.

Nara -panggilan akrab remaja ini- hanya tinggal bersama ibunya. Tinggal berdua bukan berarti dia tak punya ayah atau saudara. Dulu dia mempunyai seorang ayah yang baik dan seorang kakak lelaki yang sangat menyayanginya. Bisa dibilang keluarga kecilnya merupakan keluarga yang sangat sempurna menurut sosok Kwan Nara. Namun semua itu berubah, saat sang ayah mengalami sebuah kecelakaan pesawat yang merengut nyawanya. Atau bisa dibilang juga merengut seluruh harta, rumah dan kebahagiannya. Ibunya yang tak dapat menerima semua ini, menyebabkannya menjadi seorang wanita malam, pemabuk atau lebih tepatnya wanita simpanan bagi pria-pria dewasa yang berdompet tebal.

Bisa dibilang ia –ibunya- melakukan pekerjaan itu demi Kwan nara dan anak lelakinya Kai. Namun pekerjaannya merupakan rahasia besar bagi sosok wanita parubaya itu. ia tak ingin kedua anaknya mengetauhi pekerjaan yang digeluti oleh ibunya. pekerjaan yang menurutnya lebih hina dari hewan sekalipun. Paras wanita beranak dua itupun tak bisa dibilang jelek, dia Cantik dan masih terlihat cukup muda-yang membuat dia menjadi nomer 1 di discotik tempatnya bekerja-

Namun sepertinya ia tak perlu repot-repot untuk menyimpan rahasia itu lagi. Malam itu disebuah pesta megah kai melihatnya, melihat sosok wanita parubaya yang fameliar didepan matanya menari-nari dengan seorang pria di pesta ulang tahun temannya. Tentu saja pria yang bisa dibilang seumuran dengan ibunya. Siapa pria itu ? ada hubungan apa dengan ibunya ? pertanyaan-pertanyaan itulah yang sedari tadi berputar diotaknya. Dengan gusar anak lelaki itu menarik lengan ibunya kasar dan meminta penjelasan dengan apa yang dilihatnya barusan.

Sedangkan yang ditanya hanya diam sambil menatap anak lelakinya yang mulai mengeluarkan buliran-buliran bening dari kelopak matanya. Sunyi hanya itulah yang terjadi diantara ibu dan anak ini, sampai akhirnya pria tinggi disamping ibunya angkat bicara “ dia wanita simpananku “ katanya bangga. Sakit, itu yang dirasakan kai. Ibunya yang dia kira akan setia pada mendiang ayahnya justru menjadi wanita yang lebih hina dari hewan menurutnya. Kai lari, berlari walau masih terdengar sayup-sayup wanita yang dipanggilnya ibu itu terus memanggil namanya. dia benci, kai membenci wanita yang telah melahirkannya. Dan sepulang dari pesta itu kai pergi, dengan meninggalkan sepucuk surat kecil dimeja kamar sang adik –Kwan Nara kecil-

Nara-ya mungkin aku tak kan tinggal bersamamu lagi. Aku tak sudih untuk tinggal bersama wanita itu. wanita yang kita banggakan, ternyata tak lebih dari seorang wanita simpanan. Namun hati kecilku masih menyayanginya, sungguh.  mungkin walau hanya sekecil debu. Namun kau harus berjanji pada oppamu ini, kau harus menjaganya. Harus tetap bersama eomma. Cukup aku saja yang membecinya. Kau maukan berjanji padaku ??? aku akan selalu menyayangi dan mengingatmu Kwan Nara –adik kecilku-

(Kwan Jong in )

     Sejak insiden itulah Keluarga kecilnya hancur. Dia menjadi sosok pendiam dan membenci lawan jenisnya –terkecuali kakaknya tentu saja- itulah yang menyebabkan seorang kwan nara tak pernah merasakan cinta. Menurutnya cinta hanya akan lebih memperburuk keadaannya saat ini. sedangkan sang ibu hanya berdiam diri dirumah. Dia sudah berhenti dengan pekerjaan hinanya sejak kepergian kai dari rumah. Sebenarnya nara sangat membenci ibunya, kalau bukan karena kai mungkin dia sudah mengikuti jejak kakak lelakinya itu untuk pergi dari rumah.

~~~~~

Saat tengah asik menikmati perjalanannya menuju toko bunga tempatnya bekerja. Nara mendengar sayup-sayup dentuman musik jazz dari balik air mancur yang terletak di pusat kota.

“ penari jalanan “ gumamnya

Dia mengarahkan kedua matanya ke pergelangan tangannya. Lebih tepatnya ke jam yang bisa dibilang sedikit berkarat itu. jam masih menunjukkan pukul 7 malam, sedangkan dia mulai bekerja tepat jam 8 malam. Masih tersisa satu jam lagi. Apa salahnya untuk menikmati sedikit hiburan murah di malam pertama musim semi ini. toh jarak dirinya dan toko bunga tak begitu jauh.

beautiful-color-fountain-photography-rainbow-Favim

Langkahnya sedikit demi sedikit telah menghantarkannya sampai di sudut air mancur, dimana letak sang penari jalanan itu berada. Dilihatnya beberapa orang sudah berbaris rapi mengitari penari jalanan tersebut. Nara sedikit menjauh, ia benci keramaian. Di pilihnya tempat yang agak sepi, hanya beberapa orang berada disana. Tidak heran hanya sedikit orang yang berada disini, tempat ini membelakangi penari jalanan itu. lebih tepatnya berada dibalik air mancur yang menyemprotkan air berwarna-warni yang terjadi karena biasan lampu yang terletak di setiap titik kolam yang mengitarinya. Walaupun begitu, ia menyukainya dan dia masih bisa melihat penari itu dari sela-sela air yang sesekali menghempas kelangit.

Suara alunan musik jazz itu kembali berdentum. Sang penari mulai meliuk-liuk tubuhnya lentur. Tangannya merabah-rabah sekitar puncak kepalanya, mengambil topi yang terpasang rapi disana dan mulai memainkan benda bulat itu. Kwan Nara tertarik, dia suka melihat orang menari. Seperti yang biasa kai –kakak laki-lakinya- lakukan. Dia rindu, dia rindu gerakan lincah dan decitan sepatu yang bertemu dengan lantai saat kakak laki-lakinya itu mulai menari. Dimana dia ? dimana kakak laki-lakinya sekarang berada ? sudah setahun ini kai pergi dan tak pernah sekalipun menunjukkan batang hidungnya. Hanya beberapa foto kai yang tergantung rapi ditembok kamar nara yang dapat melepas kerinduan gadis itu pada kakak satu-satunya –walau hanya sedikit-

20120207_exo_sehun

Nara akui penari jalanan dihadapannya ini hebat. Bukan hanya hebat, ia seperti seorang model papan atas. Jas putih yang membalut tubuh kurusnya terlihat begitu elegant. Dengan sepatu cats hitam dan topi yang sangat pas dipuncak kepalanya. Nara akui dia bukanlah pakar dalam hal bermode. Dalam hal berpakaian pun dia asal-asalan. Tapi apa salahnya dia berpendapat, bukan begitu ? penari itupun menutup aksinya dengan memutar-mutar tubuhnya lincah. Sekarang Nara dapat melihat wajah sang penari itu. dia masih muda, penari itu seumuran dengannya. Dia seorang pemuda jenjang yang dilapisi kulit putih pucat. Penari jalanan itu melirik sedikit kearah kwan nara
disela-sela putarannya.

thehun

Dia melihatnya, walau hanya 0,5 detik. Singkat, tapi berhasil membuat kwan nara beranjak dari tempatnya. Pemuda itu, dia menyadari keberadaannya. Bahkan beberapa orang disekitar nara pun seakan tak pernah  menyadari keberadaan gadis itu disana. Itu sih hal biasa buatnya. Tapi lelaki itu, si penari jalanan melihatnya. Walau dia tertutupi oleh air mancur yang menjulang kelangit, tapi pemuda itu melihatnya.

Pikirannya ingin pergi dari tempat ini, namun kakinya seakan-akan tak berkenan untuk menjauh dari tempatnya berdiri. Hingga akhirnya dia berhasil mengendalikan kakinya kembali saat menyadari jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 8.30 malam “ gawat “ desahnya. Dia terlambat dihari pertama bekerja. Dia berlari disaat penari jalanan itu mengakhiri aksinya dan memberi hormat kepenonton yang berada di depannya. Kwan Nara, gadis ini berlari secepat yang dia bisa. Namun dia menghentikan kegiatan berlarinya saat melewati penari jalanan tersebut. Jarak mereka sangatlah dekat, Lebih dekat dari tempatnya berdiri tadi.

Penari jalanan yang seperti menyadari sosok gadis berdiri tidak jauh darinya pun menolehkan wajah pucatnya ke gadis tersebut. Mata mereka bertemu. Biarpun Kwan nara tak cantik, tpi dia memiliki manik mata kecoklatan yang begitu indah. Sehun sempat tertegun melihat pemilik manik kecoklatan tersebut. Dia ingat, gadis itu yang melihatnya dari balik air mancur tadi. ya penari jalanan tersebut bernama sehun, Oh sehun. Sehun bukanlah tipikal orang yang mudah tersenyum, jika melihat orang yang tidak ia kenal. Dia terkesan dingin dan tak suka jika melihat orang yang tidak ia kenal melihatnya. Namun sifatnya berbanding terbalik saat melihat gadis yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri itu.

Sehun tersenyum . . .

Yang disenyumi hanya menatap sehun tajam dan berlari begitu saja tanpa membalas senyumannya. “ sial “ umpat sehun. Baru kali ini ia melihat wanita yang menatapnya tajam seperti itu. biasanya para wanita akan girang atau bahkan pingsan bila melihat senyuman maut milik pemudah bermarga Oh itu. namun dia berbeda, gadis itu berbeda dengan gadis yang selama ini ia temui. Sehun memang tak begitu jelas melihat wajahnya, karena gadis itu memakai masker gelap. Tapi matanya jelas terlihat, gadis itu memiliki manik mata kecoklatan yang indah. Terindah menurutnya. . . .

~~~~~

“ bisa-bisanya kau terlambat dihari pertama-mu bekerja ? mungkin ini hanya peringatan jadi jangan kau ulangi lagi, oke nara-ya ? “

“ baik eonnie, mian “ Kwan nara hanya menunduk saat pemilik toko bunga tempatnya bekerja memarahinya. Tidak, dia tidak memarahinya hanya sekedar memberi peringatan saja. pemilik toko bunga ini masih saudara jauh Kwan Nara. Dia anak dari saudara mendiang ayahnya. Gadis yang 3 tahun lebih tua darinya itu bernama Nam Hyesun.

Oke berhenti membahas tentang gadis pemilik toko bunga ini. nara, Kwan nara dia masih memikirkan penari jalanan tadi. kenapa dia tersenyum padanya. senyuman yang bisa dibilang

“ Mm. . . indah “ aish, apa yang ada dipikirannya. Kenapa di terus terusan memikirkan pemuda itu. dia tak pernah memikirkan lelaki terkecuali oppanya. “ tetap tenang kwan Nara “ dia memang menyukainya. Bukan penari jalanan itu tentunya. Tapi dengan cara menarinya. Saat dia melihatnya, dia melihat seakan-akan kai berada disana. Ditempat itu dia merasa tenang, damai dan nyaman. Kwan nara, gadis ini selalu merasa kesepian walau dirinya tengah berada ditempat yang ramai. Namun tempat tadi, tepat dipusat kota yang terkenal ramai itu, dia menemukan kedamaian. Ia ingin kembali kesana. Mungkin hanya sekedar untuk menghibur dirinya. Oke, dia akan kembali ke sana. Hanya sekedar melihat tariannya, bukan melihat si penari jalanan itu.

~~~~~

Keesokan harinya. . .

Sepulang sekolah kwan nara berlari menuju kamarnya. Membuang tasnya kesembarang arah. Ya dia memang masih sekolah. walaupun terlihat seperti gadis yang ‘ tak berpendindikan ‘ tapi nara merupakan siswi berprestasi disekolahnya. Mengesankan bukan, dengan waktu yang hampir tak pernah habis untuk menyempatkan dirinya beristirahat atau sekedar membuka beberapa lembar buku,  Kwan nara selalu berhasil mempertahankan gelar sebagai siswa berprestasi di sekolahnya dlu. Mulai dari SD, SMP Dan dia akan mempertahankan gelar itu di SMAnya sekarang. Dan berkat otaknya yang cerdas itu, dia tak perlu repot-repot untuk membayar uang sekolah. yap, gadis itu mendapat beasiswa di SMA yang bisa dibilang merupakan SMA terpopuler di daerahnya. SMA yang hanya dipenuhi oleh anak-anak dari golongan atas tentu saja.

Ketukan beberapa kali dari luar kamarnyapun tak pernah ia tanggapi. Ya ketukan itu berasal dari tangan putih wanita parubaya yang sering ia panggil eomma. Itulah sifatnya, kwan nara selalu mengabaikan panggilan ibunya. Dia masih membenci wanita itu. kau taukan wanita itu yang menyebabkan perginya kai dari rumah.

“ berisik “ gumamnya saat suara ketukan itu tak juga berhenti. Walaupun nara membencinya tapi wanita yang sering dipanggilnya eomma itu selalu memperhatikannya.

“ nara-ya, apa kau tak lapar ? makanlah ? “

Diam, tak ada sahutan dari gadis yang masih berada didalam kamarnya

“ nara-ya ? “ lirinya

Masih diam. . .

“ nara, jawablah saat eomma sedang bicara denganmu ? “ wanita parubaya ini sedikit mengeraskan suaranya. Yang membuat gadis bernama kwan nara itu marah. Kwan nara lari, membuka pintu kasar dan menatap wanita dihadapannya ini tajam.

“ bisakah kau diam eomma, kau berisik “ ucap nara dengan penekanan diakhir kalimatnya.

“ nara-ya “ hanya nama anak gadisnya yang dapat ia ucapkan. Air mata wanita parubaya ini sudah diujung. Sekali mengedipkan mata, buliran bening itu akan jatuh. Sedangakan anak gadisnya bernama kwan nara hanya diam. Sunyi. . . . itu yang menyelimuti keduanya. Tak berapa lama narapun membuka mulutnya dan menatap wanita dihadapannya ini penuh amarah.

“ bisakah kau tak mengangguku eomma, aku lelah terus-terusan mendengar ketukan pintu yang memuakkan itu. masih pantaskah aku harus memanggilmu dengan sebutan eomma. Hahaha menurutku julukan ibu sangat tak pantas diperuntukkan untuk wanita simpanan sepertimu “ ucap nara meremehkan ibunya.emosi nara sudah memuncak. Selama ini ia masih sanggup untuk tak mengatakan eommanya dengan sebutan ‘ wanita simpanan ‘ tapi eommanya yang memaksa dirinya untuk membuka kembali masa lalu eommanya yang kelam. Dia –ibunya- yang memulainya.

Wajah putih ibunya mengeras tangannya mengepal. Tanpa ia sadari ia telah menampar anak gadisnya itu. Kwan nara yang merasa pipi sebelah kanannya memanas itupun segera menyambar tas kecilnya yang tergantung dibelakang pintu. ia menutup pintu kasar dan meninggalkan ibunya yang menangis tanpa sepatah katapun. Tanpa ibunya sadari, dalam bisu Kwan Nara juga menangis. . .

~~~~~

     Kwan nara berlari, ia terus berlari tanpa memperdulikan tatapan-tapapan aneh pejalan kaki yang melihat ia –lebih tepatnya gadis sekolah yang masih menggunakan seragam lengkapnya itu menangis. Dia terlalu jauh berlari, namun anehnya Nara tersenyum di sela-sela tangisannya. Dia kembali, kembali lagi ketempat ini. ketempat yang satu-satunya menjadi tempat terdamai baginya, lebih tepatnya tempat si penari jalanan itu berada. Si penari itu, dia disana seperti biasa sedang meleok-leokkan tubuh indahnya. Sepertinya malam ini kwan nara harus berterima  kasih pada sepasang kakinya. Kakinya yang telah membawahnya kembali ke tempat ini. dia berjalan, mendekati penari itu beraksi. Menyandarkan tubuhnya disalah satu bangku taman yang nampak sepi.

“ aroma ini, aroma musim semi “ ucapnya sambil menerawang kelangit malam. Malam ini bintang sepertinya tak menampakkan dirinya. Apakah dihari kedua musim semi akan turun hujan ??? nara hanya tersenyum kecil dengan pikirannya. Dan tanpa sepengetahuan nara, dari balik air mancur sosok pemuda pucat itu memperhatikannya “ dia tersenyum “ gumam pemudah congkak bernama sehun itu. meski sehun tak pernah melihat wajah gadis itu, namun dia dapat mengenalinya. Tentu saja dari manik mata kecoklatan yang dimiliki gadis yang tengah terduduk disana. menurut sehun, hanya gadis itu yang memilikinya-manik mata kecoklatan yang indah. Sehunpun menikmati kesempatan ini disela-sela istirahatnya. Namun kegiatannya harus berhenti begitu saja saat tetesan air dari angkasa berjatuhan ke bumi. ya tepat perkiraan Kwan Nara. Malam ini hujan, tepat dihari ke dua musim semi.

Sehunpun bergegas lari dan berteduh disalah satu halte bus terdekat yang berada disekitar pusat kota tersebut. Dia melihatnya, gadis itu masih disana . tak bergerak secenti pun dari tempatnya berada. Sehun tak tau apa yang merasukinya, pria jangkung itu berlari, menghampiri gadis yang bahkan sehunpun tak tau namanya “ ini aneh “

Kwan nara merasakan dingin yang menjalar ditubuhnya. Ia bahagia, akhirnya hujan turun dan dia dapat menyembunyikan tangisannya yang senada dengan air hujan. Namun bukan hanya itu alasannya, dia memang menyukai hujan. Apalagi hujan yang turun ditengah malam. Menurutnya suara hujan itu indah. Tak ada yang dapat mengalahkan suara alami itu. ia ingin waktu berhenti saat ini juga. namun itu mustahil terjadi.

Selang beberapa menit Kwan Nara merasa tetesan itu berhenti mengenai tubuhnya. Dilihatnya pemuda pemilik nama oh sehun itu sudah berada disampingnya dan memayungi tubuh mungil gadis itu. Diam. . .  mereka berdua hanya diam dalam hujan. Sehun menatap manik mata kecoklatan gadis itu tajam. Dia berbeda, mata itu berbeda dari malam sebelumnya. Sembab dan sedikit memerah. Gadis ini, ia menangis. . .

Tidak hanya Sehun, kwan nara gadis itu rindu akan pemilik mata berwarna hitam pekat ini. ia sadar bahwa yang ia rindukan dari tempat ini bukanlah tariannya-Sehun-, tapi seorang pemuda yang kini berada dihadapannya. Kwan nara menunduk seketika saat menyadari bahwa pemuda dihadapannya ini berusaha lebih dalam untuk melihat manik matanya. Seketika itu kwan nara berusaha menahan tangisnya, agar tak terlihat seperti gadis lemah didepan pemuda yang bahkan tak dikenalnya.

43drxg_exo-se-hun-2.boleh-_480x320_副本

Sehun tau dia lancang, tapi perlahan tangan putih miliknya seakan terhipnotis untuk menyentuh dagu gadis ini. Kwan nara yang merasakan hal itu, langsung menepis tangan pemuda itu kasar. Mendongakkan kepalanya untuk menatap tajam mata pemuda itu. namun sehun hanya menatap gadis dihadapnnya ini senduh.

1

Masih sepi tak ada yang berbicara sampai sehun memberanikan  tangannya untuk menghapus lembut buliran bening yang sedari tadi mengalir dari mata gadis itu. Sontak Kwan Nara melebarkan matanya. Ia tak tahu mengapa pemuda itu dapat menyadarinya. Menyadari bahwa dirinya tengah menangis. Namun dia tak menempisnya. Dia membiarkan tangan putih sehun menghapus air matanya.

Sehun mengalihkan pandangannya dari mata gadis itu menuju saku baju yang gadis itu kenakan. Atau lebih tepatnya ke nametag yang ter pasang rapi disana. Dan dengan suara khasnya sehunpun berkata “ Uljima Kwan Nara “

Bisa dibilang kebahagianku layaknya bunga sakura yang mulai bermekaran saat musim semi datang. Ya. . . musim itu, saat seekor lebah nan menawan mendekatiku, mencuri sedikit nektar yang tersimpan tepat dihatiku. Meski pada awalnya aku sangat  membencinya(cinta), namun tanpa sang  lebah sadari, ia telah berhasil membuat sakura kecil ini jatuh cinta. –Kwan Nara

To Be Continue . . . 

 

Wuah. . .  author minta maaf banget buat para readers. Mungkin udah 1 bulan lebih author sibuk jadi ff ini terabaikan begitu aja. namun author tak ingin mengecewakan readers semua, jadi author baru sempat buat nih ff kemarin. Jadi mungkin di part ini ceritanya terlalu pendek dan masih banyak typo yang melayang-layang disana 😀

Author juga masih bingung sih nih ff kelanjutannya gimana. Maksudnya apa season 2 yang lbh tepatnya musim panas author buat kelanjutannya ff ini, atau di season kedua dengan berbeda cerita dan juga berbeda cast tentunya.

Author minta pendapat dari readers sekalian, enaknya gimana ? karena menurut author hanya readers sekalian yang dapat memecahkan kebingungan author ini.

Tpi tenang jika kalian memilih cerita dalam satu season berbeda-beda, insyaallah author sempetin untuk buat sidestorynya. G.g enak kan baca ff yang ending.nya gantung kyak diatas itu.

Jadi ditunggu loh RCL ( Read, Coment and like ) dari readers sekalian *tebar bias atu-atu ^^~

Karena coment kalianlah yang menentukan ff ini lanjut apa nga’ *ngancem bare Kyu 😀

jangan jadi silent readers oke, bulan puasa jangan cari dosa. . .  😀

 

NB: oh ya terima kasih buat ShawolMinji sama Fai yang telah menyarankan namkor untuk nimprung di ff ini ^^~ 

Advertisements

88 responses to “Baby, Don’t Cry ||Cerry Blossoms At Spring (Chapter 1)

  1. Pingback: (SideStory) Baby, Don’t Cry || Snowflake At Winter | FFindo·

  2. Pingback: (SideStory) Baby, Don’t Cry || Rain At Autumn | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s