Love Hate Relationship – Chapter 2

Love Hate Relationship – Chapter 2

 aiko-1311

Author  : Kaito

Beta Reader  : Harumi Aiko

The Cast  :

Oh Sehun – Park Eun Kyo

Kim Junmyeon / Suho – Oh Sena

Xi Luhan – Kim Hajin

Park Chanyeol – Byun Hyori

Wu Yi Fan / Kris – Kang Ji Byung

Byun Baek Hyun – Han Hye Jae

Huang Zi Tao – Han Hye Kyung

Genre  : Comedy Romance

Rating  : PG-13

Lenght  : Chaptered

Poster by  : Fearimaway

Previous :

Chapter 1

DON’T BE PLAGIATOR AND SILENT READERS !!!

 

***

 

Klining!

 

Bel yang disimpan diatas pintu berbunyi, tanda kedatangan pengunjung ke toko bunga yang memang sedang sepi itu. Seorang  penjaga wanita yang sedang sibuk di balik meja kasir segera menyimpan seluruh uang di tangannya kedalam mesin kasir. Ia pun menyapa pengunjung tadi yang ternyata seorang pria jangkung berambut pirang.

 

“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?”

Mahluk pirang itu mengedarkan pandangannya ke penjuru toko. Sepertinya ia sedang mencari-cari apa yang ia cari (?).

 

“Lily putih-nya, tuan?” penjaga tadi berinsiatif menawarkan. Tampak ekspresi terkejut terlukis di wajah pria itu.

 

“Bagaimana kau tahu?”

 

“Hahaha, pekerjaan sampingan saya menjadi peramal, Tuan” Si penjaga menjawab asal lalu melangkah menuju pojok ruangan. Disana mereka menyimpan persediaan bunga lily putih. Sedangkan pria tadi hanya mengekorinya.

 

“Ini tuan. White lily yang anda cari, bukan? “

 

Pria itu tersenyum diujung bibirnya. Ia terlihat sedikit dingin dan tak suka sok ramah dihadapan orang lain, “bisakah kau memberikanku chamomile?”

 

O.O

 

Kira-kira beginilah ekspresi penjaga toko tadi. Baiklah, ia hanya seorang kasir dan bukan pelayan sebenarnya. Beberapa menit yang lalu, Hye Jae, florist sesungguhnya sedang ijin keluar untuk mengantarkan neneknya ke rumah sakit. Dan otomatis tugas ini diserahkan pada dirinya yang notabene buta soal bunga-membunga.

 

hell, apa itu chamomile? Bunga apa itu? Huwaaaaaaaaaaaaaa…

 

“Hm..kurasa, toko ini tidak menjualnya, tuan” Jawab  kasir bername tag Kim Hajin itu seenaknya.

 

“Anda sedang bergurau, kah? Benarkah kau seorang florist ?

 

Sejujurnya aku bukan florist disini  Hajin memaki dalam hatinya. Namun rupanya dewi fortuna sedang berpihak padanya. Suara bel pintu dan seorang gadis yang memanggil namanya menyelamatkan ia dari keadaan terjepit ini.

 

“Ha Jin !!! Apakah kau baik-baik saja?

 

Hye Jae benar-benar menyelamatkan Ha Jin yang baru saja akan menelpon ambulance karena serangan jantung mendadak. Gadis tembam itu membungkuk pada pelanggan berambut pirang tadi dan langsung melayaninya. Kesempatan ini dimanfaatkan Ha Jin untuk kabur ke meja kasir.

 

“hiyah!!!!! Untung saja. Heart attack!!! Heart attack!!

 

Pletak!

 

“Auch !!!” Ha Jin merasa kepalanya berdenyut setelah seseorang memukulnya tadi. Ia mengangkat wajahny dan langsung berhadapan dengan wajah angkuh Xi Luhan, bosnya.

 

Gege !!! Kenapa memukulku??” protes Hajin tak terima kepalanya dipukul kamus setebal itu.

 

“Kau mau kupecat, hah? Kenapa berteriak seperti tadi? Pantas toko selalu sepi jika pegawaiku ada yang tidak waras seperti kau ini..” mulut bawelnya kembali berkoar-koar seperti gas bocor. Ha Jin merasa ia harus mulai berlangganan dokter THT karena gendang telinganya sudah mulai retak.

 

Gege juga suka berteriak. Huh!”

 

“Ya! KAU-“

 

Sementara kedua mahluk bermulut besar itu beradu argumen, Hye Jae dan pria pirang tadi memandangi mereka berdua dalam diam. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka.

 

“KUSUMPAL MULUTMU DENGAN KAUS KAKI, KIM HAJIN!”

 

“GEGE TIDAK ADIL! KENAPA GEGE SENANG SEKALI MARAH PADAKU!”

 

“KARENA KAU ITU BERMULUT BESAR DAN SANGAT TIDAK SOPAN!”

 

Kedua mata bundar milik Hye Jae terus berputar-putar dari Ha Jin kembali ke Luhan lalu ke Ha Jin lalu kembali ke Luhan dan begitu seterusnya. Lama-lama ia pusing sendiri dan ambruk namun pria berambut pirang yang jadi pelanggn mereka hari itu dengan sigap menopang tubuhnya.

 

“YA!” pekik pria itu. Ha Jin dan Luhan menoleh ke arah suara. Mereka sama-sama membelalak kaget melihat Hye Jae hampir pingsan.

 

“ya ampun, Jae-ah! Apa yang kau lakukan pada temanku, hah ?!” Ha Jin marah-marah tidak jelas pada si mahluk pirang. Begitu pun Luhan dan akhirnya mereka lagi-lagi terlibat adu mulut.

 

“KALIAN BISA DIAM DAN URUS TEMAN KALIAN INI!”

 

Hajin dan Luhan terlonjak kaget setengah mati. Suara si pirang ini seperti singa lapar dan itu benar-benar menakutkan. Hajin pun segera menegakkan tubuh sahabatnya dan mendudukkannya di sebuah sofa. Sedangkan Luhan yang menggantikan tugas kasir.

 

Dilihat dari ekspresinya, si pirang sepertinya sudah keburu bad mood  tapi dia tetap jadi membeli bunga lily putih-nya.

 

“Maafkan atas kejadian tadi, Tuan. Kembali berkunjung, ya!”

 

Tak ada respon. Luhan menghela nafas, menyadari kebodohannya yang seharusnya bisa menahan emosi. Ia pun menghampiri Ha Jin dan Hye Jae lalu duduk disamping Hye Jae yang masih tampak pucat.

 

“Ha Jin, maafkan aku.” Gumamnya pelan. Hajin jadi merasa tidak enak dan sama-sama meminta maaf.

“Kalian ini setiap hari unjuk gigi di depan pelanggan, apa tidak malu? Atau sudah tak ada malu?” sindir Hye Jae menengahi. Bos dan sahabatnya hanya menundukkan kepala. Sebenarnya bukan keinginan mereka untuk bertengkar, tapi mungkin karena didikan militer (?) sejak kecil oleh orang tua mereka membuat mereka punya insting perang. Yah, begitulah.

 

***

 

“Ini sudah jam pulang tapi aku belum melihatmu, kau dimana?”

 

“Aku masih ada pelajaran tambahan, oppa. Kau pulang duluan saja”

 

“Pelajaran tambahan dimana?”

 

Byun Hyori, si gadis berjas laboratorium itu mendesah keras, kesal karena oppa-nya bawel sekali.  “Aku di lab, oppa. Kau ini kecil-kecil banyak tanya !!! Sudah ya, nanti Kris Sonsaengnim marah padaku”

 

Pipp…

 

Ponsel pun mati sekaligus dicabut baterai-nya agar tak ada yang mengganggu Hyori lagi. Gadis itu memang paling tidak suka ada yang mengusik kegiatannya di laboratorium sekalipun itu kakaknya sendiri.

 

Tap tap tap..

 

Suara langkah kaki memecah keheningan laboratorium, namun tak cukup untuk membuat Hyori bergeming. Lebih asyik meneliti mahluk kecil lewat mikroskop menurutnya. Merasa diacuhkan, namja berjas putih yang baru masuk lab berencana mengerjai sahabatnya. Ia berjinjit agar tak menimbulkan suara dan saat jarak mereka hanya tinggal beberapa meter, ia pun berteriak

 

“KEBAKARAAAAAAAANNNNN!! KEBAKARAAAAAAAAAANNNNN!!”

 

“Huaaaaa! Huaaaaa! Dimana??????????????? Dimana??????????”

 

“HAHAHAHAHAAAAAAAAAAAAA”

 

Melihat Hyori sangat terkaget, membuat oknum yang tadi berteriak kini hanya tertawa puas karena misinya berhasil. Ia sampai memegangi perutnya karena tak kuat lagi tertawa. Hyori akhirnya berhenti meloncat-loncat dan membalikkan badan. Ia melihat seorang pemuda jangkung berambut keriting sedang terbahak-bahak sampai roll like a buffalo di lantai (berguling seperti kebo-red).

 

“Yeollie!”

 

“Hahaha… Kau berlebihan sekali, Hyo-ah. Tolong aku, perutku sangat sakit karena puas menertawaimu”

 

Namja Pabo !!! Huft.. sampai kapan kau mau berguling-guling di lantai seperti itu? Ayo cepat bangun! “

 

Akhirnya Chanyeol pun berdiri meski sesekali meringis kecil karena menahan tawa. Walaupun berkali-kali pula Hyori mencubiti lengannya, Chanyeol seperti tidak merasa sakit mungkin karena kulitnya sudah setebal buffalo.

 

“Hahaha.. Hyo-ah, kau masih betah meneliti mahluk gaib itu?”

 

Hyori mengangkat sebelah alis, “Mahluk gaib?”

 

“Mereka itu tak kasat mata, apa bedanya dengan mahluk gaib?”

 

Chanyeol tersenyum sangat lebar membuat Hyori gemas sekaligus kesal. Bagaimana bisa partnernya sebodoh ini? Ah! Sepertinya Hyori harus memberi vaksin untuk si Happy Virus ini sebelum penyakit ‘Chanyeol Gila’ nya menyebar ke seantero sekolah.

 

BRUK!

 

Tiba-tiba sebuah patung rangka tubuh manusia terjatuh dan itu membuat Chanyeol terlonjak kaget. Matanya yang sebesar kelereng hampir mau keluar saking kagetnya.

 

“Sebaiknya kau pulang saja, Yeol. Hantu-hantu disini takut padamu” canda Hyori dibalas toyoran keras di kepalanya.

 

“Kau gila! Jangan bicara sembarangan di tempat seperti ini tahu! Lebih baik kita pulang, Hyori”

 

“Tidak. Aku lebih suka disini daripada dirumah” Hyori menolak dan kembali dengan mikroskop-nya. Chanyeol menarik sebuah kursi lalu duduk di depan meja Hyori dan menatap gadis itu penasaran.

 

“Lebih suka disini? Hey, kamarmu seribu kali lipat lebih nyaman !!!” Chanyeol mengeluarkan pendapatnya meskipun terkesan sok tahu.

 

“Darimana kau tahu kamarku nyaman? Kau penguntit, hah?”

 

“Aku hanya berpikir bahwa setiap kamar pribadi pasti menyenangkan dan nyaman. Bukan berarti aku menstalkermu, bodoh !!!”

 

Hyori menegakkan tubuhnya dan menghembuskan napas frustasi. Matanya menatap kosong ke depan lalu beralih pada sosok pemuda keriting di hadapannya. Chanyeol bisa menangkap ada yang ganjil disana. Tidak seperti Hyori yang ia kenal. Bukan sorot mata kesal dan merajuk.

 

Chanyeol mengerti bahwa Hyori sedih karena pertanyaannya barusan.

 

“Pulanglah, Chanyeol-ah! Aku masih betah disini”, Hyori mengukir senyum manis di wajahnya kemudian duduk di depan Chanyeol. Ia mengambil sebuah catatan kecil dari dalam tasnya dan sebuah bolpoint.

 

“Kau sudah bukan penakut lagi, eoh? Ayo pulang”

 

Dalam gerakan lambat, Chanyeol menyentuh pergelangan tangan Hyori. Bersikeras mengajak gadis itu untuk segera pulang. Bagi Hyori, tak ada yang lebih mendebarkan selain ini. Ketika seorang pria yang ia suka begitu peduli padanya.

 

Memang begitulah adanya. Hyori menyukai Chanyeol semenjak pria itu masuk klub kimia praktis dan menaruh banyak perhatian padanya. Meskipun beberapa orang tidak menyukai sifatnya yang suka cengengesan dan gaje, tapi setiap orang punya penilaian masing-masing, bukan?

 

Chanyeol sempat melihat ada ketidaksetujuan tergambar di wajah Hyori dan ia pun tersenyum jahil, “Tidak ada penolakan.  Orangtuamu pasti cemas jika anak gadisnya belum juga pulang ke rumah”, Hyori hanya diam ketika Chanyeol melepas jas laboratoriumnya kemudian memakaikannya ransel. Pemuda keriting itu pun menarik tangan Hyori keluar lab lalu mengunci pintunya.

 

Hufft.. dia tidak tahu. Tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya Hyori rasakan setiap mendengar kata ‘pulang’ dan ‘rumah’. Tidak ada yang benar-benar mengharapkannya pulang selain Baekhyun, kakaknya. Lagipula setelah menjemput Hyori, Baekhyun akan kembali bekerja paruh waktu jadi tidak ada yang menemani Hyori di rumah.

 

Pikiran Hyori masih melayang jauh hingga ia tak sadar sekarang ada dimana. Tiba-tiba saja sebuah helm terulur padanya, “Mau melamun sampai kapan, hah? Ayo naik!”

Hyori sedikit terkejut mendengar suara nge-bass milik Chanyeol menegurnya. Ternyata pemuda itu sudah siap diatas motor bebeknya.

 

“Aku bisa naik bus”, Tolak Hyori. Tapi Chanyeol adalah pria keras kepala yang tak akan membiarkan seorang gadis pulang sendiri naik kendaraan umum. Sekalipun gadis itu jago bela diri seperti Hyori. Maka ia pun memakaikan helm tadi secara paksa ke kepala sahabatnya yang hanya bisa meronta.

 

“Banyak omong kau! Dasar happy virus”, ejek Chanyeol seraya menstarter motornya. Hyori merengut, “Kau kan yang happy virus? Kenapa aku?”

“Kalau begitu kau antivirus.. Sudah cepat naik sebelum satpam memergoki kita berduaan disini!”

 

“YA!!!”

 

Chanyeol hanya tertawa sementara Hyori sudah siap di belakangnya. Tapi gadis itu masih ragu untuk berpegangan pada Chanyeol dan hanya memegang sisi motor.

 

“Sudahlah, peluk saja aku. Kau pikir aku ini yadong seperti Kim Jong In itu, ha? “

 

“Tidak, bukan begitu”

 

“Kalau aku ngebut, jangan marahi aku”

 

Belum sempat Hyori menjawab, motor itu sudah melaju dengan kecepatan tinggi membuat Hyori hampir terjungkal kebelakang. Ia menatap horor pada kaca spion yang menampakan wajah si Happy Virus. Chanyeol terbahak di balik helm-nya. Salah siapa tidak percaya padaku, batinnya.

Akhirnya, karena belum mau mati muda, Hyori pun memegang ujung jaket Chanyeol dengan kuat. Ingat, hanya ujung jaket, lho =.=

 

***

 

Langit sudah mulai jingga dan mentari sedikit demi sedikit menghilang di sebelah barat. Keadaan sore itu benar-benar memungkinkan untuk sedikit bersantai di sebuah taman. Angin sejuk yang berhembus bisa membawa ketenangan bagi siapa saja yang merasa harinya melelahkan.

 

Begitu pula dengan pria bertuxedo yang baru keluar dari ferrari-nya. Setangkai chamomile menghiasi tangannya yang dibalut perban. Harumnya semerbak membawa kedamaian sekaligus ingatan masa lalu yang menyakitkan. Seperih lukanya.

 

Langkah kecil membawanya semakin masuk kedalam taman kota nan asri itu. Raut mukanya sulit digambarkan dalam jarak sepersekian meter. Tapi pada kenyataannya ia gamang. Ia sendiri tak memiliki tujuan ktika melangkahkan kakinya keluar dari mobil.

 

Buk!

 

Pria itu sedikit terkejut. Ia melihat seorang anak laki-laki menabrak kakinya yang panjang lalu memeluknya.

 

“Appa!”

 

Mendengar suara yang begitu cempreng, pria tadi berjongkok didepan si anak kecil. Ia tersenyum, “Appa?”

 

“Maaf ajusshi. Aku sedang bermain dengan appa-ku dan tidak sengaja menabrakmu!”, Ujar anak itu dengan aksen china yang kental meski ia fasih berbahasa korea.

 

“Siapa namamu, anak manis?”

 

“Kevin Huang. Tapi eomma memanggilku Kevin Li.”

 

“Namaku Kris Wu. Jangan panggil aku ajusshi, ya?” pria bernama Kris itu mengusak rambut bocah dihadapannya. Lihatlah! Ia sungguh menggemaskan. Alis tebal dan tatapan mata yang tajam mengingatkan Kris pada dirinya sendiri ketika masih 8 tahun.

 

“Sekarang appa-mu dimana, Tuan Li?”

 

Kevin mempoutkan bibirnya dan matanya diedarkan ke segala arah mencari appa-nya yang tiba-tiba menghilang, “kemana ya, appa? Tadi bermain disini denganku”, gumamnya kebingungan. Kris tertawa gemas dan menyodorkan setangkai chamomile ditangannya. Kevin membulatkan mulutnya,

 

For you, little prince.. Let’s find your dad and go home soon. It might be rain

 

Ajusshi..mm, i mean Kris . would you bring me on your back? I’m so tired

 

Kris melihat wajah Kevin begitu memelas dan tampaknya ia benar-benar lelah. Dengan senyum merekah di wajahnya, ia pun memutar tubuhnya membelakangi Kevin.

 

come on, captain! Don’t waste our time

 

Segera saja Kevin meloncat ke punggung Kris membuat pria jangkung itu sedikit oleng. Tapi dengan cepat ia menemukan keseimbangannya kembali dan mulai berdiri. Entah kenapa, meskipun luka di tangan kanannya sedikit berdenyut tapi Kris seolah menyimpan kekuatan lain untuk menggendong bocah asing tadi. Ada perasaan bahagia saat Kevin memeluk tubuhnya dan menyandarkan kepalanya yang mungil di punggungnya.

Kris tak banyak bicara sepanjang pencarian, begitu pula Kevin. Seolah dibekukan oleh angin yang semakin dingin dan rasa kantuk yang menyerang Kevin. Bocah itu hampir saja terlelap di punggung Kris. Setiap akan jatuh tidur, ia buru-buru mengucek mata karena ia sadar ia masih harus mencari appa-nya.

 

“Kevin…. Kevin kau dimana, sayang ?”

 

Kris mendengar suara itu. Suara berat yang ia yakini milik suara appa-nya Kevin. Ia memutuskan diam di tempatnya hingga suara itu semakin dekat dan nampaklah seorang pria berkulit gelap yang sepertinya sedang kebingungan mencari sesuatu. Kris mendekati orang itu.

 

“Appa !!!”

 

Kevin berteriak dan sedetik kemudian pria tadi menoleh ke asal suara.

 

“Kevin?” pekiknya kaget sekaligus lega. Ternyata Kevin baik-baik saja, tapi siapa pria yang sedang menggendongnya sekarang?

 

Kris pun segera menurunkan bocah blasteran itu yang langsung berlari memeluk appa-nya.

 

“Kevin! Sudah appa bilang jangan terlalu jauh kan mainnya ?”

 

“Tadi Kevin pikir appa juga ada disana. Tapi tadi Kevin bertemu paman yang baik hati”

 

Kris hanya diam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan ketika appa-nya Kevin menatapnya. Dia pikir orang itu akan langsung berterimakasih karena sudah mengantarkan Kevin, tapi..

 

Sepertinya ada yang ganjil dari tatapan pria itu.

 

“Kris gege ?”

 

Apa lagi ini? Setelah tadi anak kecil memanggilnya appa, sekarng ada pria tak dikenal memanggilnya Gege? Seberapa banyak orang di dunia ini yang memiliki urusan dengan Kris?

 

“Kris gege.. Aku Huang Zi Tao. Kau tak mengenaliku ?” seru pria itu mencoba mengingatkan Kris. Ia mendekati Kris yang diam mematung bersama Kevin yang mengekor di belakangnya.

 

“Sepertinya gege sudah lupa padaku rupanya. Kasihan sekali kau, Ge. Masih muda sudah pikun begini.” Tao tersenyum geli.

 

Ah, Kris mana mungkin lupa dengan senyum itu. Senyum yang manis sekaligus merebut kebahagiaannya. Jadi Tao tinggal di Korea sekarang? Apakah bersama…

 

Kris sakit mengingatnya.

 

“Anakmu, Tao-er?” Kris bertanya pelan seraya menunjuk Kevin. Tao mengangguk, “Iya. Dia Kevin Huang, anakku. Oiya, gege tidak ingin bertemu Hye Kyung?”

Jantung Kris berdenyut nyeri. Nama itu.. harusnya Kris sudah menyadari sejak awal tentang Kevin dan rasa bahagianya menyentuh anak itu. Mungkinkah karena darah wanita yang ia cintai mengalir di nadi seorang Kevin? Apakah karena degup jantung mereka sama?

 

Kevin Li.

 

Li Jia Heng.

 

Hee Kyung mengenal Kris sebagai seorang Li Jia Heng dan soal anak itu..

 

Besar kemungkinan jika Hye Kyung yang memberinya panggilan seperti itu. Apa wanita berdarah Taiwan itu masih berusaha mengingat kisah cintanya bersama Kris? Entahlah.

 

Kris..could we play together now ?”

 

Suara Kevin memecah lamunan Kris. Bocah itu.. kenapa begitu mirip dengannya?

 

Sorry. I have to go now. Maybe next time?

 

Kevin mengangguk-anggukkan kepalanya dibalas usakan kecil oleh Kris di puncak kepalanya.

 

“Ah, kalian mudah sekali dekat. Apa Kevin melakukan aegyo-nya didepanmu, ge?” Tao kembali tertawa geli. Kris tersenyum tanpa melepas pandangannya pada sosok Kevin yang sekali lagi mirip sekali dengannya. Refleksi.

 

“Dia anak yang menyenangkan dan hangat,”

 

“…seperti Hye Kyung,”

 

Kris menatap Tao yang lagi-lagi menyebut nama wanita yang hidup di masa lalunya itu. Kali ini ada sedikit kebencian tersirat disana sekaligus rasa sakit dan lega. Meskipun Hye Kyung tak lagi di sisinya, tapi setidaknya ia mendapatkan seorang pria yang tampan dan baik hati seperti Tao.

 

“kalau begitu, aku pamit dulu, Tao-er..”

 

“salam untuk Hye Kyung?”

 

Kris diam sejenak lalu menjawab, “ya. Salamku untuknya. Semoga ia merawat Kevin dengan baik,”

Tao tersenyum, “akan kusampaikan, ge.. sampai jumpa.”

 

Sampai jumpa, balas Kris dalam hatinya. Ia sudah tak sanggup berkata apapun lagi. Otaknya berputar ke waktu beberapa jam yang lalu. Tiba-tiba saja ia ingin membeli chamomile –bunga kesukaan Hye Kyung dan datang ke taman ini. Memang rencana tuhan tak ada satupun yang bisa menebaknya.

 

Siapa yang menyangka ia akan bertemu anak dari wanita pujaannya disini?

 

Pusaran waktu membawanya kembali pada kesalahan yang jadi penyesalannya hingga hari ini. Dosa yang menarik Hye Kyung pergi selamanya dari kehidupan rumah tangga mereka.

 

***

 BLAM!

 

“Keviiiiiiiiinnnnnn…”

 

“bibi!”

 

Kevin dan Hye Jae, sang bibi, berpelukan di ruang tamu. Tadi begitu mendengar suara pintu, Hye Jae yang sedang ada di dapur bergegas menuju ruang tamu. Ternyata disana sudah ada keponakannya bersama Tao.

 

“Ya ampun. Kalian seperti dua tahun tidak bertemu membuatku iri saja !”  Tao mempoutkan bibirnya kesal sambil bersidekap. Hye Jae tersenyum geli. Ia pun berdiri lalu memeluk Tao yang balas memeluknya.

 

Gege.. kau ini tidak berubah, ya? Masih manja dan suka berebut dengan Kevin! Dia kan masih kecil!”

Ditengah kehangatan keluarga itu, seorang wanita berpiyama putih berjalan menuruni tangga. Ia memperhatikan adik dan sahabatnya sedang bercanda.

 

“ekhm.”

Tao melongokkan kepalanya ke belakang tubuh Hye Jae.

 

“ah, Kyungie.. baru bangun tidur?”

 

Umma !!!”

 

Hye Kyung memeluk erat anak semata wayangnya. Diciuminya setiap bagian dari wajah mungil Kevin, menghirup aroma chamomile yang berasal dari bedak dan..

 

Captain Li? Apa itu ditanganmu?”

 

Kevin memberikan bunga itu pada ibunya. Setangkai chamomile pemberian paman baik hati yang ia temui di taman tadi.

 

“Ini bunga apa ya? Tadi seorang paman yang tampan memberiku ini.”

 

Hye kyung memiringkan kepalanya, “Paman yang tampan?”

 

“Iya.. tadi Kevin sempat tersesat. Untunglah ada paman yang tampan menemukan Kevin dan membantu Kevin mencari papa Tao”, Suara cempreng Kevin menuturkan cerita dengan begitu menggemaskan. Hye Kyung mencubit pipi tembam Kevin karena tak tahan dengan kelucuan bocah bule itu.

 

Umma sudah bilang, jangan bicara pada orang asing, Captain Li.

 

“Tapi dia baik, umma.. Nama paman itu Kris. Keren, kan? Kris Wu”

 

Deg!

 

Kris Wu.

 

Hye Kyung berusaha menepis pikirannya yang melayang kemana-mana. Kris yang ditemui Kevin mungkin orang lain. Di dunia ini ada jutaan orang bernama Kris dan belum tentu ia mengenalnya.

 

Hye Kyung membelai pipi Kevin sambil tersenyum lembut, “Lain kali, Kevin jangan bicara pada orang asing, ya? Dan jangan jauh-jauh dari Papa Tao. Pasti tadi Papa Tao khawatir sekali saat Kevin hilang. Do you understand, Captain Li?”

 

Kevin mengangkat tangannya dan membuat gerakan hormat kepada ibunya.

 

Yes, I do

 

Good boy

 

Kevin menatap mamanya yang baru saja mengusak pelan ubun-ubunnya, “Umma !!! Paman Kris juga mengusap kepalaku seperti umma

 

Kris.

 

Siapa sebenarnya Kris yang dimaksud Kevin? Kenapa jantung Hye Kyung sedikit berdenyut saat anaknya menyebutkan nama tabu itu? Apa karena..

 

Ah.. sadarlah Han Hye Kyung. Ini sudah 8 tahun berlalu. Tidak etis jika kau masih mengharapkan sesuatu yang telah kau lepaskan itu untuk kembali padamu. Bisa saja dia sudah dimiliki orang lain. Bisa saja waktu dan jarak menghapus ingatan orang itu tentang Hye Kyung. Bisa saja. Yah, itu semua bisa saja terjadi.

Termasuk kembalinya mereka seperti dulu lagi. Tidak termasuk ke dalam pengecualian, kan?

 

“Cuci kakimu, gosok gigi, setelah itu lalu Kevin tidur, ok? Sebelum lewat jam sepuluh Kevin sudah harus masuk ke dunia mimpi”, Hye Jae mengalihkan perhatian Kevin begitu menyadari kakaknya larut dalam lamunan. Ia menggiring Kevin masuk ke dalam kamarnya di lantai dua.

 

Tao menatap iba pada sosok Hye Kyung yang masih diam mematung di tempatnya. Ia mengusap pelan kedua pundak sahabat kecilnya itu.

 

“Apa dia benar Kris?” tanya Hye Kyung parau. Kentara sekali ia menahan tangis.

 

“Dia titip salam padamu. Katanya dia ingin kau merawat Kevin dengan baik,”

 

Hye Kyung terkejut dan matanya membelalak, “Bagaimana dia….”

 

“Aku tidak bilang apa-apa padanya. Dia sendiri yang bicara begitu. Sepertinya mereka dekat dalam waktu yg sangat singkat. Dan itu sangat mungkin terjadi..”

Tao membelai lembut rambut panjang Hye Kyung lalu memeluknya, mencoba menyalurkan ketenangan agar sahabatnya tidak terlalu larut dalam konflik perasaannya. Bisa ia rasakan jemari wanita itu mencengkram sisi kemejanya dengan kuat. Tao amat sangat tahu bagaimana rasanya memendam rindu dan cinta.

 

Sakit dan sesak.

 

***

 

Jam pelajaran akan dimulai 20 menit lagi. Beruntung kali ini Eun Kyo tidak terlambat sekolah karena kereta bawah tanah sedang sepi, jadi dia bisa memanfaatkan transportasi cepat itu. Eun Kyo melihat arlojinya. Jarum panjang masih menunjuk pada angka 8. Baguslah, masih ada waktu baginya untuk melakukan misi harian. Segera ia menyiapkan sehelai kertas yang dia ambil dari buku diarinya dan sebuah bolpoin biru.

 

Ia tampak menyalin sesuatu dari buku catatannya. Meskipun gerakan tangannya sangat lincah, tulisannya masih tetap rapi dan bisa terbaca. Selesai sudah tugasnya kemudian kertas tadi ia lipat dan dimasukkan ke dalam sebuah amplop biru.

 

Senyum Eun Kyo mengembang ketika Sena memasuki kelas. Raut wajah gadis itu tampak kusut, sama seperti hari-hari sebelumnya. Pasti karena ulah fans Oh Sehun. Eun Kyo terkikik geli.

 

“Sena..”

 

Sena menatap malas pada Eun Kyo yang sudah berdiri manis di depan mejanya. Gadis kuncir kuda itu memang pandai ber-aegyo. Ayolah, pasti ia lagi-lagi tak bisa menolak dititipi surat.

 

“Eunnie..eunnie.. lebih baik kau jadi pujangga saja daripada repot-repot mengejar Sehun. Dia itu tidak tertarik pada perempuan”, Sena tersenyum jahil. Diambilnya amplop biru dari tangan Eun Kyo, “Gwenchana.. lagipula itu hanya titipan biasa, kok. Tidak ada yang spesial”

 

“Benarkah?”

 

Pipi Eun Kyo bersemu merah. Senang sekali sih Sena menjahilinya? Apa dia tidak hapal kalau Eun Kyo itu mudah malu.

 

Tiba-tiba..”Hoaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhmmmmmmmmmmm….”

 

Sena dan Eun Kyo sedikit dibuat kaget oleh suara menguap barusan. Tapi mereka tahu kok kalau itu pasti suara teman mereka yang sleepaholic. Siapa lagi kalau bukan tablemate Sena, si Kang Ji Byung yang super kuat itu. Lihat saja menguapnya seperti kuda nil. Hahahaha 😀

 

Ji Byung mengucek kedua matanya yang masih beradaptasi dengan cahaya lampu kelas. Sesekali menguap kecil.

 

“Eh, ada Eunnie.. Love Letter lagi, ya?” ia tersenyum pada Eun Kyo.

“Hm, kalian.. Ini bukan surat cinta, tahu…”

 

“Masa sih ??? Kok keliatan ada lope-lopenya gitu hehehe”

 

“apa sihhhh…”

 

Mereka pun terlibat obrolan ringan sebelum bel masuk benar-benar berbunyi. Kemudian beberapa jam di sekolah berlalu dengan sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak? Hari ini full ulangan dan mereka tidak diberi waktu istirahat dengan alasan terlalu menghabiskan waktu. Huffttt… Yonsei memang keterlaluan. Siapa sih yang punya? *digetok sena dan sehun*

 

“Eunnie.. kau mau pulang bersama kami ?” tanya Ji Byung disertai anggukkan Sena. Eun Kyo memakai ranselnya lalu mendekati mereka, “Ayo.. memang Sena hari ini tidak dijemput?”

 

“Supirku harus mengantar ayah ke bandara”

 

“Ooohhh…”

Mereka bertiga pun keluar kelas bersama belasan siswa lainnya. Suasana mendadak ramai karena ternyata banyak siswa sedang mengerubungi mading didepan kelas. Eun Kyo menarik Sena dan Jibyung untuk bergabung,

 

“Hey..akan diadakan prom night?”

Sena tampak antusias dengan pengumuman dari OSIS itu. Sama dengan kedua temannya. Jibyung dan Eun Kyo berebut dengan siswa lain untuk melihat jelas isi pengumuman itu.

“Prom night? Kelulusan kelas 3? Mmm…” Gaya sok mikir si Jibyung. Eun Kyo ikut-ikutan sedangkan Sena hanya memutar kedua bola matanya. Tiba-tiba suasana menjadi sedikit ricuh, rupanya ada Gang Tiga lewat di koridor.

“Hey.. hey.. Beri jalan !!!” Salah satu siswi memberi komando. Akhirnya semua menyingkir seolah ada artis yang akan menginjak red carpet.

Siapa mereka? Mmm.. tiga cowok populer di sekolah yang diberi julukan Gang Tiga. Karena selain jumlah mereka yang ada tiga, ketiga pria itu pun sekarang sudah duduk di kelas tiga. Kekayaan mereka juga yang tidak akan habis tujuh turunan (?) *nyambung? Gaaaaakkk*

Sena mencibir. Ia tidak begitu peduli dengan kelompok itu meskipun Sehun adalah bagian dari mereka. Bagusnya, meskipun dicap nakal, Sehun tetap tidak pernah melanggar peraturan sekolah.

“Sehun sunbae.” Bisik Eun Kyo sedikit tercekat. Penampilan Sehun kali ini begitu berbeda. Rambutnya sudah berganti warna lagi menjadi blonde dan semakin bertambah pula presentase ketampanannya di mata Eun Kyo. Tapi Sehun memang tak pernah berubah sekalipun ia berbeda. Sehun tetap memiliki tatapan tajam yang terlihat polos. Apa mungkin karena dia maknae?

Melirik Eun Kyo yang berbinar, Sena menghela napas. Tanpa disangka, ia berteriak memanggil kakaknya.

“Sehun!”

Rombongan Gang Tiga berhenti tepat didepan Sena, Jibyung, dan juga Eun Kyo yang tampak limbung. Ia tak habis pikir kenapa Sena senekat itu? Memanggil Sehun saat ada dia disana. Aish!

Sena mendekati Sehun yang memasang tampang malas. Tapi ekspresi Sehun hanya itu saja sih, ga ada persediaan.

“Ini surat dari temanku. Biasa lah~” Sena tersenyum jahil plus mengedipkan sebelah matanya.

“Uwooooo~ uri sehunnie jadi kolektor surat cinta. Hahahaha. Nggak liat apa yak gorang cadel begitu disukain?” Kata yang paling pendek badannya diantara mereka *ganyante + nyolot*

Eun Kyo sudah dag dig dug tak karuan lihat ekspresi Sehun yang sebenarnya nggak ada bedanya dengan yang tadi. Tapi namanya juga orang yang dia suka buka surat cinta yang kita kasih didepan mata kita gimana rasanyaaa? #ribetbahasanyahadeuhh

“Cuma segini?” tanya Sehun woles.

“Halah, bahasa lu bang! Maunya berape ???. Ntar juga wassalam di tong sampah. Dah ye.. pergi dulu ni udah ga kuat katanya mau buang angin liat muka abang. Samlekum !!!”

 

Tunggu.

 

Lah.

 

Kenape jadi betawian gini?

 

Ganti!

 

Gang Tiga kembali dalam mode keren mereka setelah tadi memasang tampang bodoh. Padahal setau mereka Sehun gak keren sama sekali tapi kenapa dapat banyak surat cinta?

 

Buta tuh yang ngomong!

 

“Kyo Mi?” Sehun berbisik pada dirinya sendiri. Ia menghela napas panjang. Jika tidak salah, ini sudah surat ke dua puluh satu yang ia terima dari gadis dengan nickname Kyo Mi. Sehun memijat pangkal hidungnya. Pening. Selalu seperti ini.

 

“Sehunnie.. gwenchanayo?”

 

“Gwenchana, Dio hyung… Kai, apa hari ini kau sibuk?”

 

Seorang pria jangkung berkulit coklat yang dipanggil Kai hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak bertanya karena Sehun pasti hanya minta ditemani ke suatu tempat.

 

“Sepertinya aku harus merilekskan pikiranku.,” begitulah kata Sehun. Dio menatapnya cemas, “Kepalamu sakit lagi?”

 

Sehun mengangguk. Ia masih memegang surat beramplop biru itu. Sama seperti surat-surat KyoMi sebelumnya. Isinya pasti selalu membuat Sehun sakit kepala tanpa sebab.

 

***

 

“sampai..”

 

Hufttt… Hyori patut bersyukur karena akhirnya ia tiba dirumah, bersama Chanyeol tentunya. Turun dari motor, Hyori merasa masih perlu berpegangan. Ia sedikit limbung.

 

“Hyo-ie.. Kau mabuk, ya? Aduh. Pasti gara-gara aku ngebut? Gak apa-apa? Gak apa-apa kan? Hyo.. aduh jangan pingsan donk.”

 

Hyori sweatdrop, menatap Chanyeol yang heboh seperti ini =,,=

 

“Yeollie. Awas si Komo lewat!”

 

“apa deh kamu lawak..” Sekarang giliran Chanyeol yang begini =,,=

 

Hyori memukul bahu Chanyeol sambil tertawa. Setiap hari ada-ada saja tingkah orang abnormal ini. Kenapa bisa ia suka pada orang konyol seperti Chanyeol ya? =.=

 

Gomawo Chanyeol atas tumpangannya. Lain kali jangan pake ngagetin, jangan pake maksa, jangan pake tampang kayak Kwangsoo gitu, aduh aku gak kuat. HAHAHAHA”, Semakin keras Hyori menertawai Chanyeol padahal pemuda itu sudah memasang tampang ‘senggol bacok’ (sangar maksudnya).

 

What??? You same-same I  with kwangsoo? Hellow! Jauh kali ya exoplanet ke bumi! Idiiiihhhhh …”

 

“Hahaha. Udah ah. Ngga sopan ngomongin guru. Udah jelek diomongin lagi! Ntar jeleknya pindah ke kamu. Ih amin amin..”

 

“AMIT AMIT WOY! Cipok juga ah” Ucap Chanyeol sambil tersenyum jahil pada Hyori.

 

Hyori sudah tidak kuat lagi tertawa. Ternyata memang benar apa kata anak-anak klub kalau Chanyeol itu gaje-nya gak ketulungan. Untung cakep, ah!

 

“Ya sudah. Sekarang kamu masuk sana. Nanti keburu malam. Orangtuamu dirumah, kan?”

 

Hyori terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya dengan sedikit keraguan. Ia ragu untuk masuk ke rumahnya sendiri. Sejujurnya, ia ingin Chanyeol membawanya kemanapun asal bukan ke rumah. Tapi itu sangat tidak mungkin. Chanyeol tidak tahu apa-apa.

 

“Aku masuk dulu. Sampai jumpa”

 

Deru motor memecah keheningan petang. Lenyap sudah seseorang yang bisa membuat Hyori tersenyum. Ia kembali harus menghadapi rumahnya yang tak pernah bersahabat.

 

Dibukanya pintu rumah dengan sangat perlahan. Hening menyapanya. Syukurlah. Mungkin ia bisa sedikit bernafas malam ini. Tapi hal itu tak berlangsung lama.

 

PRANGGGG

 

Sebuah gelas kaca melayang ke dinding di belakang Hyori. Gadis itu hampir jatuh saking takutnya. Jemarinya mencengkram erat tas ransel yang baru saja dilepasnya.

 

“Aku muak !!! Setiap hari kau menemui wanita itu, apa kau tak pernah memikirkan perasaanku, ha? Bagaimana dengan anak gadismu?? Apa kau tidak malu????”

 

“KAU YANG EGOIS! HARUSNYA SEJAK DULU KUBIARKAN ANAK ITU!”

 

“apa katamu? Dia anakmu!”

 

Setelahnya, Hyori tak mendengar apapun lagi. Bukan karena mereka berhenti. Tidak. Itu karena Hyori ingin berusaha menulikan telinganya sendiri. Ia ingin perasaannya mati barang sejenak. Tubuhnya yang rapuh semakin merosot ke lantai.

 

“Baekhyun oppa. Tolong aku. “

 

Sudah berkali-kali, selalu seperti ini. Bagaimana bisa tak ada sedikitpun perdamaian dirumahnya? Ia ingin sedikit kehangatan. Ia bosan dengan suara tangisan ibunya.

 

“Hyori..” sang ibu melihat Hyori sedang diam terduduk di lantai. Mata wanita tua itu sudah semakin berkantung-kantung. Hyori melihat semuanya, namun bibirnya kelu untuk mengatakan sesuatu. Ia juga sudah tak mampu menangis.

 

“Maafkan ayahmu. Maafkan ibu juga.”

 

Masih diam. Hanya kedua mata gerlian itu yang bergerak gelisah, seolah mencari barangkali ada luka tergambar di wajah ibunya.

 

“Kita pergi” Dua kata yang membuat Hyori tercekat. Kemudian seorang pria paruh baya dengan tubuh menjulang keluar dari dapur. Sorot matanya yang berapi-api sedikit mereda begitu melihat Hyori. Terbalik dengan Hyori yang melihatnya penuh kebencian.

 

“Anakku..”

 

“Aku bukan anakmu.” Tukas Hyori penuh kilatan benci di matanya. Pria tua itu tidak begitu terkejut. Mungkin Hyori mendengar pertengkarannya dengan sang istri barusan.

 

“Hyori akan ikut denganku. Kau..jika kau masih mencintai Nera, kembalilah padanya. Dia memang kaya, tidak sepertiku. Maafkan, hiks, aku bukan istri yang baik. Setiap hari kerjaku hanya memarahimu. Aku minta maaf..”

 

Hyori melihat ayahnya hanya diam. Pria itu tak sedikitpun menahan langkah ibunya yang juga menyeretnya untuk ikut. Didalam kamar, mereka merapikan pakaian kedalam koper. Seluruhnya. Dan Hyori lagi-lagi hanya mampu diam. Suaranya seolah hanya sampai di tenggorokkan dan mulutnya tak mampu terbuka.

 

“Kita pergi kemana saja! Atau kalau perlu, kita ke rumah nenek di Busan!”

 

“Sekolahku?”

 

“Kau bisa pindah, Hyo-ah! Umma masih sanggup membiayaimu dari pekerjaanku menjadi buruh pabrik. Kau tak perlu khawatir.”

 

Tanpa aba-aba, setitik air menetes dari pelupuk mata Hyori. Satu raut wajah melintas di benaknya. Wajah Baekhyun, kakaknya.

 

“Kita harus mengajak oppa ?”

 

Sang ibu tersentak lalu menatap Hyori resah, “Kakakmu masih harus bekerja disini. Urusan nanti jika kita bertemu dengannya !!! Ayo jangan buang-buang waktu”.

 

Mereka berdua keluar dari rumah tanpa mengatakan apa-apa lagi pada tuan Byun. Pria itu sekarang entah kemana. Mungkin pergi mabuk-mabukkan atau mengunjungi wanita selingkuhannya.

 

Malam semakin dingin. Pekarangan rumah mengingatkan Hyori pada Chanyeol yang belum beberapa jam mengantarkannya pulang. Jika ia sudah meninggalkan Seoul, apa masih bisa melihat senyum lebar itu? Bagaimana caranya tertawa sepuas tadi? Hyori tak sanggup membayangkan karena itu terlalu menyakitkan. Ia hanya tertundu sambil mengikuti kemana ibunya melangkah.

 

Tiba-tiba, sebuah suara menghentikan perjalanan mereka.

 

“Hyori !!! Umma !!!”

 

Hyori mengangkat wajahnya. Ia melihat seorang pria bertubuh mungil menggendong ransel dan brjalan kearahnya.

 

“Kalian mau kemana?”

“Umma dan Hyori akan ke Busan! Kau tahu sendiri bagaimana ayahmu membenci kami! Maafkan ibu, Baekhyun..”

 

Baekhyun beralih pada Hyori dan tanpa bertanya banyak, ia langsung merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukan hangatnya. Selain ibu, memang hanya Baekhyun yang bisa menenangkan Hyori.

 

“Oppa…”

 

“Hyori.. jangan pergi, adikku. Nanti oppa sama siapa?”

 

Hyori menangis tanpa memeluk balik kakaknya. Ia tak sanggup. Kenapa mereka begitu berhubungan batin jika ayahnya menganggap Hyori bukan anak kandung? Semua ini sungguh rumit.

 

Uljima..oppa akan sering menjengukmu. Kau baik-baik disana, ya? Oppa menyayangimu~”

 

Kedua kakak beradik itu sama-sama melepas kesedihan mereka sebelum benar-benar berpisah. Membayangkan mereka akan sangat jarang begini lagi adalah hal yang paling menyakitkan dibanding tertusuk pecahan kaca.

 

Disisi lain, Chanyeol yang saat itu sedang rebahan diatas tempat tidurnya mendengar suara suara ringtone handphone yang sangat berisik. Diliriknya ponsel yang ia simpan di bawah bantal. Layarnya mati dan tak ada panggilan masuk.

 

Ah, ia baru ingat kalau tadi jas milik Hyori belum ia kembalikan karena disimpan dibalik jok motor. Ia mengambil jas yang digantung di capstok pintu. Ternyata bunyi ringtone itu berasal dari ponsel yang ada disaku jas Hyori. Ragu-ragu ia mengambilnya dan mengangkat telepon yang masuk.

 

“Yob-“

 

“Hyori. Ayahmu, nak.. dia terkena serangan jantung!”

 

DEG

 

Chanyeol membelalak. Suara ini! Ia seperti mengenal suara ini! Lalu apa hubungannya dengan ayah Hyori? Bagaimana mereka saling mengenal?

TBC

Aiko Notes :

 

Mianhae, chapter 2-nya baru dipublish sekarang. Kaito udah bikin chapter 2-nya dari jauh-jauh hari, tapi aku baru bisa ngedit dan ngirim chapter ini ke Kak Mey sekarang. Jeongmal mianhaeyo, readers ^_^

 

Chapter 2 ini sebenernya gabungan part 2 dan part 3. Karena menurutku ending part 2 sedikit mengantung, jadi aku satuin aja 2 part itu jadi 1 chapter. Dan Kaito setuju kalau part 2 dan part 3 disatuin 😀

 

Untuk terusan chapter ini, aku juga sama seperti kalian menunggu kelanjutannya hehehe.. Aku berharap semoga Hyori ketemu Jung Daehyun di Busan. Gak ada Chanyeol, Daehyun pun jadi *digetok Kaito*

 

Hyori itu sebenernya aku.. Dan Ha Jin adalah Kaito.. Jadi aku dan Kaito jadi cast juga di fanfic ini dengan nama korea kita hehehe XD

 

Karena aku yang bertugas mengirim fanfic Kaito ke kak Mey, kalian bisa nanya-nanya dan menagih kelanjutan chapter fanfic ini dengan mention ke twitter aku @harumi_aiko, sekalian di follow juga yaa *promosee mode on*

 

Oh iyaa, tinggalkan jejak komentar dan sarannya juga yaa..

 

Maaf yaa kalau masih ada typo bertebaran.. Kalau masih ada typo, berarti aiko gak teliti ngedit-nya hehe..

 

Cukup sekian aiko bercuap-cuap dan Pai Pai *Aiko menghilang*

 

 

 

Advertisements

9 responses to “Love Hate Relationship – Chapter 2

  1. ceileh makin penasaran siapakah yang nelpon chanyeol? trus tao sama siapa namanya itu kyungie, hubungannya apa?
    mari kita tunggu di chapter 3#heh-_-

  2. Eonni mian telat bca n comment 😦
    Kyaaaaa makin keren makin seru!! 😀
    Comedynya dpt, romance nya jg dpt sih, tp lebih bnyk ke sad yaa eonn? Tp sekalipun ada comedy, sya langsung ngakak bnran deh eonn XD
    Penasaran sm kisah nya bakhyun n sehun 🙂 d chap ini kisah nya sehun ma baekhyun blm terlalu jeliatan eonn, tp keren eonn, alurnya jg pas ga kecepetan mnrt sya 🙂
    Next chap di gabungin lgi aja chapnya eonn ._.
    D tunggu yaa eonn next chapnya! 🙂

    Hwaiting!!! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s