I’m Sorry, Gege

I'm Sorry, GegeI’m Sorry, Gege

by

Zola Kharisa

Cast: Xi Luhan [EXO-M] & Oh Sehun [EXO-K]

Genre: AU, Friendship, Life || Length: Ficlet || Rating: General

.

Kali ini, Sehun tidak bisa menjanjikan apa pun pada Luhan kecuali permintaan maaf yang tulus.

—I’m Sorry, Gege—

Jengah. Itulah yang dirasakan Luhan sedari dua jam lalu. Tambahkan khawatir sebagai kata penutup, sebab kendati ia kesal setengah mati, tetap saja rasa cemas terselip di benaknya. Bagaimana jika atau mungkinkah ia mewarnai relung pikiran Luhan yang awalnya terlihat abu-abu bahkan hampir gelap.

Luhan melirik jam tangannya—hampir pukul lima sore dan ini sudah melebihi batas waktu yang ditentukan. Memang, belum menjelang malam sehingga pemuda itu tak ‘kan mungkin mendapat wawancara mendadak oleh ibunya yang superprotektif. Namun, kendati waktu masih bergulir di jam bebas Luhan, tetap saja jikalau orang yang dinantikan tak kunjung datang, maka tampak sia-sia, bukan?

Dan lelaki itu amat membenci sesuatu yang sia-sia. Menurut ayahnya, hidup harus diisi dengan segala sesuatu yang berguna, tidak membuat orang lain kesulitan, bahkan jika mampu kitalah yang mendorong seseorang untuk melakukan kebajikan tersebut, dan jangan lupa bagaimana kita melakoni itu karena Tuhan, bukan untuk kesenangan semata. Semenjak ayahnya menanamkan hal itu, Luhan mulai berpikir dan akhirnya berubah menjadi rasa tidak suka selama ia sendiri melakukan hal yang tak bermanfaat. Namun, terkadang hati manusia dapat lemah kapan saja, ‘kan? Tanpa memberi peringatan sebelumnya. Dan itulah yang dirasa Luhan.

Seperti sekarang.

Napas Luhan mengepul pada lapisan oksigen di sekeliling ia. Matanya bergerak nyaris tiap detik, memerhatikan kerumunan yang berlalu lalang dan mencoba mencari-cari satu sosok yang mungkin terhalang tubuh-tubuh di sana.

Tetapi, hingga duapuluh menit kemudian, Luhan memilih mengangkat kaki dan berjalan laiknya setengah sadar. Seoul sudah memasuki musim dingin, dan kini lelaki itu merasa sangat bodoh karena membiarkan tubuhnya yang hanya berbalut jaket kulit tanpa sarung tangan dan penghangat telinga, berkeluyuran di pusat kota yang ramai. Ah, satu lagi. Luhan tidak suka tempat bising. Dan kota metropolitan ini menjadi latar yang paling sering dihindari Luhan tatkala memiliki waktu senggang. Ia bahkan pernah menghabiskan dua minggu masa liburan sekolah dengan berkebun di rumah kakeknya di Busan daripada singgah ke kelab dan berpesta sampai pagi.

Luhan mendudukkan diri di atas kursi panjang di depan sebuah kedai kopi. Ia menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya sembari mengeluarkan napas di sela-sela jemari. Cukup membantu agaknya, karena setelah beberapa menit ia melakukan itu, wajah pucat Luhan sedikit merona dan ia merasa hangat tersendiri.

Luhan tak habis pikir. Berapa lama lagi ia harus menunggu? Oh, salahkan peruntungannya hari ini yang tak berpihak sama sekali. Ponsel Luhan mati sebelum ia sempat menelepon orang yang ditungguinya, sedang telepon umum dari tempat lelaki itu bernaung cukup jauh merta ia tak yakin akan sanggup menahan diri di cuaca sedingin ini.

Jadi, sembari merutuk kecil, Luhan beranjak dan melangkahkan kaki memasuki kedai kopi yang sebenarnya sudah membuat ia tertarik sejak kali pertama melihat. Suara gemerincing lonceng kala pintu terbuka dan aroma khas biji kopi menyambut Luhan, disertai seorang waitress yang tampak antusias akan kehadiran lelaki itu. Luhan hanya tersenyum, lalu membiarkan pelayan wanita tersebut menuntunnya pada meja kosong.

“Satu Espresso Macchiato,” putus Luhan setelah membolak-balik menu.

Selesai mencatat pesanan Luhan, sang waitress berlalu. Meninggalkan pemuda itu dengan tangan kanan menopang dagu, pandangannya kosong; lurus menatap ukiran timbul pada pelipir meja di hadapan ia.

Luhan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya—pun orang itu. Mereka masih menjalin pertemanan dengan baik, tak ada perubahan. Sesatunya mungkin karena satu di antara mereka sudah…

“Luhan?”

Luhan enggan berpikir dua kali untuk menoleh, dan menemukan Oh Sehun, berdiri satu meter di belakangnya dan menatap ia polos.

Ini tidak benar.

“Apa yang kaulakukan di sini?” Sehun menghampiri Luhan yang mematung.

Kemarin, Luhan ingat bagaimana Sehun berkata padanya—atau bisa dikatakan secara tak langsung, karena itu berupa pesan singkat—bahwa ia ingin bertemu. Tentu saja Luhan menyanggupi, karena pada dasarnya intensitas pertemuan mereka memang berkurang akhir-akhir ini. Luhan sudah akan menghadapi skripsi akhirnya, dan ia harus memfokuskan diri agar tak menyesal. Terkadang, Sehun akan mampir ke rumahnya sekadar memberi dukungan atau bertemu ibunya dan mereka akan menghabiskan waktu di dapur hampir seharian. Keluarga dari keduanya memang dekat, jadi tak salah bila putra di dua belah pihak pun menjalin pertemanan serupa.

Luhan masih diam, enggan menjawab. Dia hanya meniti Sehun dengan pandangan yang sulit diartikan.

Sehun berdeham, memecah kesunyian. Entah kenapa, ia merasa ada yang tidak beres dan bisa jadi merupakan sebuah masalah yang coba disembunyikan hyung-nya itu. Namun, Sehun tidak tahu.

Tidak tahu betapa kecewanya Luhan kini.

Sehun mengangkat alis tinggi kala Luhan bangkit dan berbalik, berjalan tanpa menghiraukan pemuda itu. Ia masih tak bergeming, sampai tiba-tiba Luhan sudah mendorong pintu dan Su-Jin, kekasihnya menepuk pundak ia seakan memberi isyarat agar segera mengejar.

Seolah tersadar, Sehun pun mencoba menyusul.

***

Luhan enggan peduli kala segelintir orang memakinya karena menabrak tanpa sengaja. Ini sudah biasa, agaknya. Luhan pernah seperti ini juga sebelumnya. Ketika itu adalah musim panas dan tepat di mana hari ayahnya meninggal. Ia ingat bagaimana batinnya terpukul, orang yang sudah memberinya marga Xi tersebut sudah tiada. Luhan berpikir apa yang akan dilakukannya tanpa orang yang telah terbiasa memberinya dorongan—apa aku bisa hidup dengan baik?

Begitu tersadar, Luhan memutar pandangan dan meyakini bahwa kini dirinya berada di depan sebuah gereja tua. Seulas senyum hambar terukir. Dengan langkah mantap, ia memasuki bangunan gereja tersebut.

Gereja tua itu dulu sering dikunjungi banyak orang. Saat itu Luhan masih berusia sepuluh tahun. Ayah sering membawanya ke sini dan mengucap doa bersama. Luhan juga ingat kalimat doanya yang pertama kali.

Semoga Engkau memberiku hidup yang indah.

Kemudian, segalanya berubah seperti yang ia mau.

Luhan menjejakkan kaki di antara deretan kursi yang berjajar rapi. Fokus matanya tertuju pada sebuah altar, bilamana ia tak ingat lagi pernah berdoa secara khusyu di sana. Lantas, seakan gravitasi sekonyong-konyong meningkat, lutut Luhan jatuh bersimpuh dan tangannya otomatis tertarik, membentuk sebuah kepalan yang erat. Ia menundukkan kepala dan bibirnya bergeming pelan.

Luhan dapat merasakan aliran darahnya berdesir halus, rasa nyaman menyelimutinya, dan udara di sekitar ia terasa menyejukkan kala bersentuhan dengan kulit pucatnya. Pemuda itu seolah-olah mendapat energi baru, kecewa yang sempat memeranginya tiba-tiba lenyap begitu saja. Luhan rileks.

Ia menyelesaikan kalimat terakhir doanya dengan sebuah simpul senyum menenangkan.

“Kau pasti lelaki yang bernama Luhan itu, ya?”

Merasa diajak bicara, Luhan menolehkan kepala dan mendapati seorang pria berumur kira-kira limapuluh tahun berdiri tak jauh di sampingnya. Ia meliukkan alis, merasa asing dengan pria itu. Namun, karena ia tahu etika dan orang tersebut tampak ramah, Luhan memilih berdiri dan menganggukkan kepalanya, “Iya, benar.” Disertai senyum canggung.

“Tenanglah, anak muda. Aku hanya seorang pengurus di gereja ini,” ujar pria yang kini berjalan mendekat.

Luhan tidak merasa terancam, lantaran pria itu tidak memiliki sesuatu yang patut dicurigai. Lalu, ia mengembuskan napas yang sempat ditahannya, “Bagaimana Anda bisa tahu nama saya?”

Tepat setelah pertanyaan itu meluncur, pria di depan Luhan sesegera mungkin mengendikkan kepalanya ke pintu gereja, seolah memberi kode. Luhan mengernyit, namun beberapa detik kemudian, alis matanya mengerling ke arah lain.

Dan, menemukan sosok Sehun berdiri di ujung titik gelap matanya.

***

Sehun merutuk diri sepanjang kakinya melangkah, diiringi jemari yang berlarian di sekitar rambut pirangnya. Dua menit lalu kiranya, kala Luhan mendapat pesan dari Su-Jin yang bilang akan bertemu dengan Sehun besok—secara tak langsung menyatakan bahwa gadis itu memilih pulang dibanding menunggunya di kedai kopi—ia baru sadar bahwa ada pesan balasan dari Luhan, di bawah notif beberapa pesan Su-Jin yang masuk, seketika membuat tubuhnya lemas.

Bodoh! Sehun tahu ini tidak akan baik-baik saja. Mengingat belakangan ini ia dan Luhan jarang bertemu, bahkan di akhir pekan sekali pun. Keduanya sibuk dalam dunianya masing-masing—atau bisa dikatakan hanya Sehun yang sibuk? Sebenarnya mereka masih sering berkomunikasi atau sekadar makan bersama di kantin jika tak sengaja bertemu. Namun, bukan itu. Kekurangannya adalah mereka tidak berada di belahan gedung kampus yang sama, pun Sehun yang harus membagi waktu.

Karena ia mempunyai kekasih, sekarang.

Sehun kehilangan jejak Luhan. Ia mengamati sekelilingnya, dan langsung tertuju pada sebuah gereja tua bernuansa putih sebagai pelapis luar. Pemuda itu tidak tahu bagaimana ia bisa sampai ke sini. Namun jikalau ingat gereja ini memang tak jauh dari kedai kopi yang disinggahinya tadi, maka ini bukan perkara yang harus diperdebatkan.

Sehun baru saja hendak memasuki bangunan itu saat seseorang terdengar memanggilnya.

“Bisa bantu aku sebentar, anak muda?”

Sehun segera melesatkan kaki tatkala melihat pria paruh baya yang baru saja memanggilnya itu tampak kesulitan membawa beberapa kantung. Ia segera mengambil alih dengan cepat. “Mau ditaruh di mana?”

“Di belakang gereja,” jawab orang itu sembari berjalan terlebih dulu.

Sehun meregangkan otot lengannya sebentar. Ia merasa sedikit kaku. Di benaknya, tumpah bermili-mili salut melihat pria itu—baru diketahui Sehun bernama Jun—tampak gigih. Padahal di umurnya yang sudah tua, seharusnya Jun sedang menikmati hangatnya pancake anggur sembari bersantai di teras rumah dengan secangkir teh di tangan. Namun, Sehun memaklumi saat pria itu bercerita tentang anak dan istrinya yang meninggal secara bersamaan pada sebuah kecelakaan mobil. Pasti tidak mudah jika ia terus berada di rumah. Sama saja dengan membuka boks berisi berbagai macam kenangan pahit yang lamat-lamat berubah menjadi rasa sakit.

“Pemuda itu khusyu sekali saat berdoa.”

Sehun tersentak, ia menghela napas sejenak. Tak lama, ia mulai penasaran pada siapa gerangan yang tengah menarik perhatian Jun.

Dan, lingkar arus sipitnya membesar.

“Luhan?”

***

Maka di sinilah keduanya sekarang. Saling bersisian di halaman belakang gereja, yang baru mereka ketahui bahwa ada beragam jenis tanaman yang tumbuh segar di balik bangunan tua yang mungkin nyaris tak memiliki pengunjung.

“Apa pria bernama Jun itu yang merawatnya?”

Sehun terkesiap, “Ah, mungkin saja.”

Lalu, hening menelusup kembali.

Sehun hampir mengumpat, atau setidaknya sudah di dalam hati. Beribu kata yang sempat berseliweran di kepalanya kala mencari Luhan tiba-tiba saja hilang. Ia tidak mengerti kenapa Luhan tampak tenang saat ini, ketika lelaki itu baru saja berbuat salah. Fatal, bisa jadi. Karena sepanjang keduanya mengenal, ini kali pertama Sehun melakukan hal bodoh itu; melupakan janji yang ia buat sendiri.

Hyung, kau tidak marah padaku?”

Desau angin sedikit membuat Sehun bergidik, antara menambah cemas atau meredakan gugup yang menguar di kulitnya.

Luhan mendengus panjang, “Kecewa, lebih tepatnya.”

Ah, rasanya Sehun ingin meneggelamkan diri saja.

“Sudah lama kita tidak saling mengobrol seperti ini, bukan?” Luhan sekonyong-konyong membuka mulut, “Dan aku rasa ini bukan momen yang baik untuk bertengkar denganmu.”

Sehun semakin merasa bersalah. Di satu sisi, ia tak tahu harus mengucapkan apa selain…

“Maaf, Gege…”

Luhan lantas menoleh, bisa dibilang terlalu cepat. Sudah lama sekali sejak pemuda berumur sedikit lebih muda darinya itu memanggil namanya dengan embel-embel ‘Gege’. Ini sedikit aneh, sebenarnya.

Namun sensasinya tetap menggelitik, sekaligus menyenangkan.

Luhan menepuk bahu Sehun, lalu tersenyum. “Sudahlah, tak apa. Wajar jika seseorang melupakan sesuatu.”

“Tapi—“

Ya! Kaumau kumaafkan atau tidak?”

A-ah, t-tentu saja!”

“Baiklah,” Luhan merangkul pundak Sehun, senyum tiga jari miliknya tersemat secara defensif. “Jadi, bagaimana kalau mulai sekarang kita menghabiskan waktu lebih banyak lagi? Kau bisa mengajak Su-Jin jika mau. Jadi, kita bertiga.”

Sehun menunduk kecil. “Maafkan aku, Gege. Kurasa pertemanan kita sempat renggang akhir-akhir ini. Kuharap ke depannya, kau dan aku bisa lebih sering bertemu. Soal Su-Jin, aku mencintainya dan—OUW!” Sehun mendelik kesal, “Kenapa mencubitku, Xia Lu?!”

“Ke mana sopan santunmu, bocah?” Luhan tidak terima. “Dan juga, aku tahu pasti kau mencintai kekasihmu itu. Tapi kau tak perlu mengatakannya, bukan?”

“Memang kenapa, hah?”

Luhan memutar bola matanya, mencari jawaban paling masuk akal. “K-karena… itu terdengar seolah aku gay!” dan wajah lelaki itu menghangat.

“Hahahahaha, kau bodoh sekali, Ge! Mana mungkin aku berpikir seperti itu? Aku tahu kau sedang mengincar adik kelas kita. Ah, siapa namanya? Lee Ha—“

“Berhenti atau kusumpal mulutmu sekarang,” ancam Luhan dengan sisa-sisa rona merah yang menjalar di pipi.

Sehun mengangkat tangannya, tanda menyerah. Ia merasa seperti kembali pada masa-masa SMA mereka. Saat itu keduanya belum benar-benar sibuk pada dunia yang baru dan lagi, tidak ada penghalang bertemu karena keduanya selalu duduk di kelas yang sama–kendati berujung dengan Luhan memilih akselerasi di beberapa semester terakhir. Sehun jadi merindukan momen itu. Namun, ia sadar bahwa hal tersebut sudah tersimpan sebagai kotak kenangan, selamanya. Mereka hanya perlu membukanya suatu saat, kemudian menciptakannya kembali dengan lebih manis. Sehun tiba-tiba ingin menangis saja.

“Maaf sekali lagi, Gege…” pemuda itu berucap tulus.

Luhan menoleh, lalu menampilkan dua sudut bibirnya yang terangkat. Tak lama, ia mendongak, menatapi langit yang kini berawan. Di atas sana, seolah-olah tampak bait doa yang Luhan panjatkan tadi. Ia menggumamkan kata terima kasih sebelum kemudian meraih pundak Sehun dan mengajaknya pulang.

“Tuhan, aku mensyukuri indahnya hidup yang Kauberikan. Maafkan aku yang terlalu kekanakkan, semoga aku tidak kehilangan sahabatku hanya karena sifat pelupanya yang terkadang kambuh,” Luhan mengeratkan pejaman kelopak matanya, “Dan tolong sampaikan salamku pada ayah di surga…”

Luhan tahu, selalu ada pintu maaf bagi setiap orang yang tulus mengetuknya.

Fin.

Notes :

Sebelumnya mau ngucapin, “Selamat Berpuasa Bagi yang Menjalankan!” yah, memang sih ini telat banget, tapi semoga masih bisa diterima ya.

Oke oke, ini sebenernya fic friendship pertamaku! Atau bisa dibilang brothership ya? Pokoknya sih begitu… sekaligus ini HunHan pertamaku juga! Astaga, rasanya pengin lompat-lompat karena akhirnya bisa buat fic dengan cast utama mereka. Ini berawal dari acara menjelajah youtube yang awalnya cari Bom tapi malah ketemunya skinship HunHan yang bikin iri… *gigit jari* dan serius, aku jadi mulai terpengaruh sama virus kedua makhluk ini. Benar-benar nyita waktuku selama menjelang MOS.

Ada yang mau ngusulin couple siapa lagi yang seru di genre friendship? BaekYeol? KaiSoo? Atau KyuLa… Kyuhyun-Zola? Ah, tapi itu sih mending di genre romance, ya. *dilempar ke jurang*

Kalau punya usul silakan tulis di kotak komentar! Oh ya, buat yang nunggu Cappuccino harap sabar ya, ada kendala banget tentang itu. Dan soal Serendipity juga bakal aku pending dulu, nanti sekiranya saat di-post lagi, maka udah langsung mendekati chapter akhir. Soalnya aku nulis gak bisa setiap hari bahkan kadang di akhir pekan sekali pun. Tapi aku usahain liburan kali ini bakal aku lunasin, doakan!

Merta anggap fic ini sebagai comeback-ku di ffindo sebelum update fic lainnya. Ah, ya sekadar informasi juga, last update dari Cappuccino bakal aku posting di blog pribadi, tapi tenang kok… gak diproteksi. Nanti bakal aku kabarin lagi kapan update-nya. Oke? Jangan lupa review-nya setelah ini ya, hihihi.

Also published on my blog: zolakharisa.wordpress.com

Advertisements

17 responses to “I’m Sorry, Gege

  1. manis banget deh persahabatan hunhan hehe 😀 dan mengakui kl nulis brothership itu lebih sulit daripada romance :p #curcol nice ff keep writing !!! ^^

  2. seru banget.. itu pemikiran luhan olos banget yah… friendshipnya bagus bget feelnya..
    next KyuLa ya.. 🙂 soalnya jarang ada ff yg KyuLa.. secara beda group 🙂

  3. Wihiiii Zola comeback dengan HunHan 😀
    Kisahnya mereka unik bgt apalagi sifatnya Sehun yg pelupa wkwk. Friendshipnya dapat bgt, dan pesan moralnya jg tersampaikan 🙂
    Pokoknya ini Hunhan emg sweet bgt lah ;3
    Soal diksi, dan tata bahasa semuanya rapi dan aku suka pendeskripsiannya 🙂
    Keep writting Zola! 😀 Semangat Cappuccino sm Serendipity-nya ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s