LIFE [8]

life

Author :  Asuchi

Cast :

*) Yoo Nayeon [OC]

*) Ricky / Yoo Changhyun [Teen Top]

*) Oh Sehun [Exo]

*) Kevin / Woo Sunghyun [U Kiss]

*) Kim Kibum [SHINee]

Genre : AU, OOC, Angst

Rate : T

Credit Pic : Aishita World

Disclaim : selain jalan cerita semuanya bukan punya aku, eh tapi kalo kasih kepin gak bakal ditolak /ditimpukkiseop

a/n : maaf aku rada telat, kebanyakan utang jadinya bingung lanjutin yg mana dulu :p plus buat yg ini, aku rombak sampe 4 kali gegara gak pengen kelewat abuabu. kalo misal gak ada halangan dan gak ada kejadian macemmacem, mungkin chap depan bakal jadi yg terakhir. happy reading ^^

Previous Chap LIFE [1] | LIFE [2] | LIFE [3] | LIFE [4] | LIFE [5] | LIFE [6] | LIFE [7] |

Nayeon pulang ke rumah Sehun, tapi tidak menemukan Sehun di dalam rumah itu. Entah pergi kemana. Nayeon kemudian memutuskan untuk membuat makan malam untuk dia dan Sehun. Sebelum pulang tadi, dia sempat mampir ke supermarket terdekat. Nayeon mendapat tugas memasak dan bersih-bersih rumah Sehun sebagai ganti dia menumpang di rumah pemuda itu. Sehun tidak mau menerima uang sewa yang Nayeon tawarkan.

Sedang asik memasak, bel rumah Sehun berbunyi. Nayeon menunda kegiatan masaknya, dia mengecek siapa yang datang. Ternyata Ricky.

“Oh, Changhyun-a.” ucap Nayeon begitu membuka pintu.

Greppp….

Nayeon tersentak karena Ricky langsung memeluknya dan menangis. “Wae geurae?” Nayeon bertanya dengan bingung.

Tapi Ricky tidak menjawab, dia masih tetap menangis sambil memeluk Nayeon.

“Wae geurae?” Nayeon bertanya lagi.

“Siapa yang melakukannya eoh?” Ricky bertanya di sela tangisnya.

“Nugu mwo?” Nayeon masih bingung.

“Siapa yang sudah memperkosamu?”

LIFE 8

Ricky sedang berjalan hendak pulang, tadi dia pergi dulu ke ruang auditorium jadi dia pulang memutar. Saat melewati ruang kesehatan, Ricky menghentikan langkahnya karena merasa nama saudaranya disebut-sebut. Akhirnya Ricky memutuskan untuk mencuri dengar.

“… hyung tahu?” Ricky mendengar suara Sehun yang sepertinya sedang bertanya.

“Dari sikapnya. Kau menebak hal yang sama juga kan?” Kali ini suara Kevin yang terdengar oleh Ricky. “Kau bilang hari ini dia sudah masuk sekolah, apa dia sudah lebih baik?”

“Lebih dari itu. Dia bahkan terlihat sama sekali tidak mengingat kejadian itu. Tapi aku takut. Setiap melihat Nayeon aku selalu teringat pada Jaerin noona. Walaupun secara kasat mata terlihat Nayeon lebih tegar dan kuat, tetap saja kejadian waktu itu adalah bukti kalau dia tidak sekuat yang terlihat.” Sehun bicara lagi. Nadanya terdengar sedih bagi Ricky.

“Kenapa kau perhatian sekali pada Nayeon? Padahal yang aku tahu dia itu makhluk penganggu bagimu?” Kevin bertanya lagi.

“Entahlah. Sejak dia datang ke sekolah ini, dia memang sering membuatku terganggu. Tapi karena itu aku justru tidak bisa benar-benar mengacuhkannya. Dia satu-satunya orang yang tidak menjauh meski aku bersikap dingin padanya. Sekarang, mungkin karena aku melihat Jaerin noona pada dirinya, aku jadi ingin melindunginya. Tidak ingin dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jaerin noona.”

Ricky tidak melanjutkan kegiatan mengupingnya. Dia langsung berlari keluar area sekolah. Berusaha secepat mungkin menemui Nayeon. Pikirannya sangat kacau. Tapi yang paling dia menguasai pikirannya adalah Nayeon dan Jaerin, kesamaan keduanya.

Jaerin adalah guru seni di sekolah Ricky, guru yang sangat disukai oleh Sehun bahkan cinta. Dua tahun yang lalu Jaerin ditemukan bunuh diri di apartemennya karena dia frustasi. Dua hari sebelum kejadian itu Jaerin diperkosa oleh seseorang sepulang kencan buta yang direncanakan oleh Oh Wonbin, kakak Sehun. Alasan Sehun membenci kakaknya karena Sehun masih menganggap Wonbin lah penyebab kematian orang yang disukainya itu. Dan sikap Sehun mendingin sejak saat itu.

Tak perlu memeras otak lebih untuk menghubungkan keadaan Nayeon beberapa hari sebelumnya dengan apa yang terjadi pada Jaerin. Ketakutan Nayeon waktu itu, Ricky kini sangat paham kenapa.

Ricky berusaha menahan diri, tapi tetap saja tidak bisa. Dia menangis di dalam taksi yang mengantarnya menuju rumah Sehun. Mengingat betapa menderitanya saudaranya itu. Mengingat dia begitu bodoh tidak bisa menjadi saudara yang bisa diandalkan. Sampai Nayeon menyembunyikan semuanya sendiri selama ini.

-o0o-

Nayeon ingin sekali marah pada Ricky. Dia sudah berusaha untuk menjadi orang normal. Dia sudah berusaha meredam ketakutannya, menyembunyikannya dari orang lain. Tapi Ricky malah bicara dengan begitu jelasnya. Nayeon merasa seolah Ricky membuka pintu yang baru Nayeon kunci rapat.

Mereka berdua sudah duduk di sofa ruang tamu kediaman Sehun. Ricky tidak bicara, begitu juga Nayeon. Mereka diam cukup lama.

“Itu benar eoh?” Ricky bertanya dengan ragu. Menatap Nayeon dengan perasaan iba.

Nayeon mengangguk pelan. Tatapan matanya kosong. Dia diam. Masih berusaha mengendalikan emosinya. Masih berusaha untuk tidak mengingat lagi kejadian itu. Sulit, tapi Nayeon masih bisa berusaha.

Berbeda dengan Nayeon, Ricky malah tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia menggigit kepalan tangannya, meyalurkan kesedihan dan kemarahan lewat gigitannya.

“Nugu? Eonje?” Ricky bertanya lagi. Meski dia sadar itu akan membuat Nayeon susah, tapi dia harus tahu. Nayeonnya tidak bisa terus menderita sendirian.

“Tiga hari setelah Kibum oppa pergi ke Busan. Aku tidak tahu siapa.” Jawab Nayeon kemudian. “Tolong, jangan bahas ini lagi.” Mohon Nayeon masih dengan ekspresi datar.

Banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh Ricky, tapi dia memilih untuk menundanya. Nayeon memang dalam keadaan tidak bisa ditanya tentang hal itu saat ini. “Ayo kita pulang. Aku akan bicara pada appa dan eomma, bagaimanapun kau butuh mereka. Dan mereka tidak bisa tidak tahu hal ini.” Kata Ricky setelah dia sendiri bisa mengendalikan emosinya, lebih tenang dari sebelumnya.

Nayeon menggeleng. “Aku lebih nyaman berada di sini. Jangan bilang pada eomma dan appa. Aku tidak mau lebih membuat mereka susah. Menikah dengan Kibum oppa saja sudah membuat mereka sangat sedih, aku tidak mau menambahnya.” Nayeon menjawab.

“Tapi…”

“Aku mohon Changhyun-a. Yang aku butuhkan hanya ini. Berada di tempat yang bisa membuatku tidak mengingat kesalahanku, tidak mengingat karma yang menimpaku karena kesalahan itu.” Nayeon menatap Ricky tajam. Matanya sayu kemudian. Jelas banyak kepedihan yang dia pendam, terlihat dari sorot matanya.

“Tapi tidak bisa begini saja kan?” Ricky balas menatap Nayeon. “Kau tidak bisa terus menderita sendirian. Appa selalu bersikap tidak menerima. Kibum hyung juga, dia sedih karena sikapmu. Dan kau menanggung semua ini sendirian selama ini. Aku mohon, kita pulang. Jelaskan pada appa, agar kau tidak seperti ini terus.” Ricky mengambil tangan Nayeon, menggenggamnya dan memohon.

Nayeon hanya diam. Dia merasa gagal karena kenyataannya dia tidak bisa menyembunyikan fakta yang selama ini selalu dia tutupi. Dia sudah bersikap sangat egois selama ini. Membuat ayahnya kecewa, merenggut kebebasan Kibum dengan terpaksa menikahinya. Nayeon menganggap kejadian yang menimpanya adalah karma karena semua itu.

Sangat menyakitkan mengingat sentuhan yang tidak Nayeon inginkan. Melihat Kibum terasa lebih menyakitkan lagi. Dia bahkan tidak pernah disentuh Kibum meski mereka saling berbagi ranjang dan memiliki status yang jelas di mata hukum dan Tuhan. Kibum selalu berusaha menjaga Nayeon. Dia merawat Nayeon dengan penuh sabar dan cinta. Nayeon tahu Kibum sudah mulai mencintainya. Tapi dia gagal, setidaknya menjaga dirinya sendiri. Nayeon merasa memang perceraian adalah jalan terbaik. Agar Kibum tidak semakin terbebani olehnya.

Nayeon memang merasa tenang berada di dalam rumahnya, meski diperlakukan dingin oleh sang ayah. Hanya saja, tidak untuk kali ini. “Beri aku waktu. Aku akan menjelaskannya sendiri pada eomma dan appa nanti. Tidak sekarang.” Nayeon bicara kemudian.

Ricky sangat ingin menyela, tapi dia menahannya melihat Nayeon begitu susah. “Katakan apapun yang kau butuhkan. Panggil aku kapanpun kau butuh, aku akan selalu bersamamu.” Ricky bicara.

Nayeon mengangguk pelan. Ricky memandang Nayeon dengan penuh rasa bersalah, dia menangis lagi tapi dalam hatinya. Nayeon akan semakin susah jika dia terus memperlihatkan kesedihannya.

-o0o-

Ricky sudah pulang, namun Nayeon masih diam di tempat yang sama ketika dia bicara dengan Ricky. Dia diam. Otaknya terlalu banyak memutar kisah masa lalunya.

Dia merasa berada di masa lalu, ketika dia terpesona dengan senyuman yang diperlihatkan Kibum saat pertama kali bertemu. Nayeon terpesona, dan kemudian jatuh cinta pada guru privat semasa SMPnya itu. Kemudian otak Nayeon memutar kejadian saat dia menangis meraung memaksa ayahnya untuk menikahkan dia dengan Kibum saat kelas 2 SMA. Ayah, ibu, Ricky bahkan Kibum kaget dengan permintaan Nayeon. Ayah Nayeon marah, memberikan tamparan untuk pertama kali dalam hidup Nayeon. Kemudian Nayeon berlari ke jalan raya, menabrakkan diri dan terbaring di rumah sakit dengan kondisi parah. Kaki kirinya patah. Kesempatan itu Nayeon manfaatkan untuk memaksa keluarganya dan Kibum. Dan Nayeon merasa sangat bahagia saat dia berjalan di atas kursi roda di dalam gereja, mengucapkan janji setia. Usianya masih sangat belia, tapi Nayeon merasa hidupnya saat itu sudah lengkap. Dia tidak peduli dengan ibunya yang sering menangis karena perbuatannya, dia tidak peduli dengan murka sang ayah, dia tidak peduli dengan perasaan Kibum. Nayeon juga tidak peduli meski Kibum tidak mau menyentuhnya selayaknya suami terhadap istri. Yang penting baginya saat itu, dia bahagia.

Kemudian, ingatannya berpindah ke stiga hari setelah Kibum pergi ke Busan untuk sebuah urusan. Saat itu Nayeon baru pulang dari supermarket. Dia merasa ingin makan makanan buatannya sendiri. Kibum tidak pernah membiarkannya memasak, kalaupun Nayeon lapar, biasanya dia memesan makanan. Nayeon tidak bisa terlalu banyak beraktifitas dengan kakinya yang masih belum sembuh total. Saat itu, Nayeon melewati sebuah gang. Seseorang yang entah siapa menariknya ke belakang gedung yang gelap sambil membungkam mulutnya. Nayeon tidak punya tenaga lebih untuk lari. Dia berusaha berteriak, namun tidak ada satupun orang yang menolongnya.

Nayeon pulang ke apartemen dalam kondisi setengah sadar. Dia menangis terus-menerus di dalam kamar mandi. Dia bukan benci pada orang yang telah melakukan hal bejat itu. Dia memaki dirinya sendiri. Nayeon menyadari semua kesalahannya, dia merasa dia memang pantas mendapatkan hukuman. Sangat menyakitkan, terlalu menyakitkan. Tapi Nayeon selalu berusaha berpikir kalau dia sendiri yang menyebabkan semuanya terjadi.

Surat perceraian itu, Nayeon tidak benar-benar menginginkannya. Tapi dia sudah bertekad, dia harus menata hidupnya dari awal. Dan dimulai dengan melepaskan Kibum.

“Kau sedang apa?”

Nayeon kembali ke masa sekarang begitu dia mendengar sebuah suara, dia menoleh sambil sedikit mendongak. “Sehun oppa, kau sudah pulang?” Dia bertanya pada Sehun.

“Gwenchana?”

Nayeon menatap Sehun bingung dan kemudian dia sadar kalau ada bulir air yang mengalir di pipinya. Nayeon menangis tanpa dia sadar. “Oh.” Dia mengusap sisa air matanya. “Sepertinya aku kelilipan.” Bohongnya.

“Sabtu lusa, Kevin hyung bilang dia mau mengajakmu ke taman ria. Kau hubungi dia, dia menunggu jawabanmu.” Sehun bicara kemudian berjalan menuju kamarnya.

“Sehun oppa!” Nayeon memanggil Sehun, menghentikan langkah pemuda itu. “Sebenarnya, kenapa oppa mau menampungku di sini? Yang aku tahu, oppa tidak suka padaku.” Dia bertanya.

Sehun menoleh dan tersenyum, tapi dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Nayeon.

-o0o-

“Oppa! Kau bilang kita akan ke taman ria, tapi kenapa malah kemari? Aigoo~ padahal aku sudah semangat sejak pagi.” Nayeon bertanya pada Kevin, menatap kesal. Nayeon dan Kevin sekarang berada di arena bermain sebuah mall.

Kevin tertawa. “Aku kemarin lupa kalau kakimu itu masih tidak bisa dipakai jalan-jalan jauh. Jadi lebih baik di sini saja.” Dia menjawab dengan wajah polosnya.

Kalau saja wajah Kevin itu tidak terlihat seperti malaikat di mata Nayeon, dia mungkin sudah mendapatkan omelan panjang dari Nayeon. Nayeon tidak bisa marah pada Kevin. “Ya sudahlah.” Kata Nayeon pasrah.

“Yoo Nayeon.”

Merasa namanya dipanggil, Nayeon berbalik ke belakang. Dia melihat Kibum di hadapannya. Mata Nayeon membulat kaget, tidak menyangka Kibum akan menemukannya di tempat itu.

“Maaf, tapi saya harus membawa istri saya pulang.” Kibum bicara tanpa basa-basi pada Kevin yang berdiri di samping Nayeon, memberi penegasan pada kata ‘istri’. Kibum meraih lengan Nayeon, sedikit menariknya agar posisi Nayeon berpindah ke sisinya. “Saya tahu anda bukan pacar Nayeon. Dan saya tegaskan, anda jangan mendekati dia lagi karena dia sudah menikah.” Kibum bicara dengan mata berkilat. Dia kemudian menarik Nayeon, membawanya pergi dari arena bermain yang bahkan belum satupun dicoba oleh Nayeon.

Andai saja posisi Nayeon tidak seperti sekarang, dia pasti akan teriak kegirangan. Memamerkan pada semua orang kalau Kibum mengakuinya sebagai istri. Tapi Nayeon yang sekarang tidak bisa bersikap seperti itu.

“Hyung.”

Kibum dan Nayeon menghentikan langkahnya. Di hadapan Kibum sekarang sudah ada Ricky.

“Mianhae hyung. Tapi Nayeon harus pergi denganku.” Kata Ricky sambil menarik lengan Nayeon yang tidak dipegang oleh Kibum.

“Yoo Changhyun! Nayeon ini istriku dan aku lebih punya hak dari siapapun atas Nayeon.” Kata Kibum. Sikap lembut yang dia punya menguap entah kemana. Kibum merasa menjadi orang bodoh karena dia terus dipermainkan oleh Nayeon.

Setelah meminta sebuah perceraian hanya bermodalkan surat dan kabur ke rumah orang tuanya. Kemudian kabur lagi dari apartemen Kibum dan pergi entah kemana, sekarang Kibum bahkan tidak bisa bicara berdua dengan Nayeon untuk membahas semuanya.

“Nan arayo hyung. Tapi Nayeon belum bisa kembali sekarang. Dia masih butuh waktu. Aku mohon hyung jangan mempersulit Nayeon. Biarkan dia pergi denganku, ne?” Ricky berusaha membujuk Kibum yang tidak mau melepaskan tangannya dari lengan Nayeon.

“Sebaiknya kalian bertiga mencari tempat untuk bicara. Apa kalian tidak sadar banyak orang yang memperhatikan eoh?” Kevin yang tadi menyusul bicara di antara mereka.

Ricky dan Kibum mengerti setelah mereka melihat di sekitar mereka.

“Aku juga terlibat dalam hal ini. Jadi aku rasa, aku punya hak untuk bicara.”Kevin bicara lagi. Dia menarik lengan Nayeon yang dipegang oleh Ricky.

Baik Kibum ataupun Ricky, membiarkan Nayeon berjalan bersama Kevin dan pergi ke tempat yang lebih privat untuk bicara.

“Oppa minta maaf sudah membuatmu susah.” Bisik Kevin.

Nayeon terlihat pucat dan dia sama sekali tidak bicara sepatahkatapun hanya menggeleng sebentar dan berjalan bersama Kevin diikuti Kibum dan Ricky.

Keempat orang itu kemudian pergi menuju sebuah restoran di dalam mall dan memilih tempat yang tertutup. Setelah pintu ditutup oleh pelayan yang mengantarkan makanan, semuanya masih bungkam. Nayeon duduk di samping Ricky, dia terus memegang tangan Ricky, berusaha untuk tetap tenang.

“Saya meminta maaf sebelumnya Kibum-ssi. Saya terlibat dengan masalah anda dan istri anda.” Kevin memulai pembicaraan.

Kibum menatap tajam laki-laki yang duduk di sampingnya. Ada rasa tidak suka yang terpancar dengan jelas dari tatapannya itu. Kibum kemudian beralih menatap ke arah Nayeon yang diam sambil menunduk. “Jelaskan semuanya Yoo Nayeon. Kenapa kau harus pergi dari rumah dan berbohong.” Dia bicara dengan nada dingin. Kibum berusaha menekan nada bicaranya agar emosinya tertahan, tapi ternyata tidak terlalu berhasil.

“Aku… ingin bercerai dengan oppa.” Nayeon bicara kemudian. Genggaman tangan pada Ricky semakin menguat saat dia bicara. “Aku tidak suka dengan pernikahan kita. Aku tahu oppa menerima pernikahan kita karena oppa terpaksa, karena rasa kasihan dan takut aku bunuh diri lagi. Aku… tidak ingin melanjutkan pernikahan tidak sehat kita.” Nayeon berhasil menyelesaikan ucapannya.

Kibum terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh Nayeon. Tidak menyangka kalau pemikiran Nayeon masih sedengkal dulu. Kibum memang memperlakukan Nayeon dengan baik karena kasihan, tapi itu hanya awalnya.

“Ricky-ya, sepertinya kita harus memberikan waktu pada mereka berdua untuk bicara.” Kevin bicara lagi. Dia melihat ke arah Ricky yang matanya membulat.

“Tapi hyung….”

Kevin mengangguk, mengatakan ‘tidak apa-apa’ tanpa bicara. Kevin menoleh pada Nayeon yang juga menatapnya. Dan mengangguk untuk menyatakan hal yang sama. Kevin tersenyum pada Nayeon sebelum dia berdiri. “Kibum-ssi, tolong bicaralah baik-baik dengan Nayeon. Jujur, dia sedang dalam kondisi yang baik sekarang ini.” Kata Kevin kemudian berjalan keluar diikuti oleh Ricky yang masih tidak rela meninggalkan Nayeon.

“Hyung.” Ricky langsung menahan langkah Kevin begitu mereka sudah di luar ruangan. Kevin menoleh. “Aku sudah tahu apa yang terjadi pada Nayeon. Aku mendengar apa yang hyung bicarakan dengan Sehun sunbae.” Ricky bicara.

Kevin tersenyum mendengar penuturan Ricky. Dia tahu, cepat atau lambat dia pasti bicara tentang hal itu pada Ricky. Dan Ricky tahu dengan sendirinya, itu lebih baik menurutnya. Kevin berjalan lagi menuju tempat di restoran yang sama namun terbuka, dia duduk di tempat tak jauh dari ruangan tempat Nayeon dan Kibum bicara. Ricky mengikuti Kevin.

“Saudarimu itu, dia menanggung begitu banyak beban. Aku sudah tahu sejak bertemu dengannya kalau bebannya itu sangat besar, terlalu besar sehingga dia memilih untuk menyembunyikannya.” Kevin bicara. “Sekarang aku tahu kenapa dia menyembunyikannya bahkan darimu.”

“Kenapa?” Ricky bertanya karena dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Kevin

“Dia merasa bersalah. Kejadian yang membuatnya trauma itu, membuat dia merasa bersalah atas apa yang dia lakukan sebelumnya.” Terang Kevin. “Dia bisa kembali seperti dulu hanya jika dia memaafkan dirinya sendiri.” Lanjutnya.

Ricky hanya menuduk lesu. Dia tahu, apa yang diucapkan oleh Kevin adalah benar. Dia tahu, keegoisan Nayeon yang dulu memang keterlaluan. Dia juga ada andil dengan semua itu. Ricky selalu berada di belakang Nayeon meski tahu saudarinya itu berbuat salah. Ricky memandang pintu tempat Nayeon dan Kibum sedang bicara, berharap Nayeon bisa terbuka pada Kibum sekarang.

Di tempat lain, Nayeon kembali menunduk setelah melihat kepergian saudaranya dan Kevin.

“Bicaralah. Oppa mohon kau jangan menutupi apa-apa lagi sekarang ini.” Kata Kibum.

Nayeon mulai berani mengangkat kepalanya, dia menatap ke arah Kibum. Hatinya terasa sakit melihat suaminya itu. “Aku… tidak bisa jujur sepenuhnya pada oppa sekarang ini. Bolehkah kalau aku mengatakan ini?” Nayeon bertanya. “Aku sadar aku sangat egois selama ini oppa. Dan Tuhan sudah menghukumku, meski mungkin hukumannya tidak cukup. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Aku ingin hidup sebagai orang normal. Aku mencintai oppa, masih sangat mencintai oppa. Tapi, aku tidak bisa melanjutkan semuanya oppa. Aku tidak ingin rasa bersalah ini terus menghantuiku. Aku ingin hidup tenang. Dan kalau kita memang berjodoh, aku yakin nanti kita akan bersama. Tapi tidak sekarang. Aku tersiksa setiap melihat oppa, aku dihantui rasa bersalah. Aku dikejar oleh bayangan hukuman Tuhan padaku. Aku harap oppa bisa mengerti, meski aku tidak bisa jujur pada oppa semuanya.” Kata Nayeon. Dia merasa lega, meski hanya bicara, Nayeon lega bisa mengatakan apa yang dia ingin katakan selama ini. “Oppa mianhae, jeongmal mianhae.” Nayeon bicara lagi. Dia menangis.

Kibum masih tidak bisa mengerti. Dia masih belum mendapat kejelasan. Tapi Kibum tahu, Nayeon memang bicara yang sebenarnya. Dia tidak berbohong seperti yang dilakukan sebelumnya. Kibum tahu, air mata Nayeon adalah wakil dari sedikit rasa bersalah yang ingin ditunjukannya.

“Oppa tidak bisa bercerai denganmu sebelum kita bicara dengan orangtuamu. Oppa harus mengembalikanmu dengan cara yang sopan dan baik.”

Nayeon tersentak. Dia mengusap air matanya dan menatap Kibum. Merasa dia salah mendengar, Kibum setuju? “Oppa….”

Kibum mendesah. “Oppa sudah berpikir, kau memang tidak pernah mau melanjutkan pernikahan kita. Bagaimanapun oppa berusaha untuk memperbaikinya, kau sudah tidak bisa dibujuk. Tidak untuk saat ini. Oppa setuju dengan perceraian kita. Tapi oppa mohon, kau mau pulang ke rumah kita. Kau masih jadi tanggung jawab oppa, dan oppa tidak bisa membiarkanmu berada di tempat yang oppa tidak tahu. Itu menyiksa. Mempertanyakan keadaanmu setiap hari tanpa ada orang yang menjawabnya…. Kau tahu.”

Nayeon menangis lagi, dia mengangguk kemudian menunduk. “Mianhae oppa, nan jeongmal mianhae.” Hanya itu yang bisa Nayeon katakan pada Kibum.

-o0o-

“Jadi kau mau keluar dari sini?” Sehun bertanya pada Nayeon.

Nayeon mengangguk.

“Dan Kevin hyung akan mengantarmu pulang?” Sehun bertanya lagi.

Nayeon mengangguk.

“Kau yakin?”

Nayeon mengangguk.

Sehun menoleh pada Kevin yang duduk di samping Nayeon.

“Aku akan mengurus semuanya.” Kevin bicara.

“Baiklah. Silakan saja.” Kata Sehun kemudian dia pergi ke kamarnya.

Nayeon menoleh pada Kevin. “Sehun oppa kenapa? Apa dia marah?”

Kevin menggeleng. “Tidak. Kau pergilah ke kamarmu, bereskan barang-barangmu. Oppa sudah janji pada Kibum-ssi kalau oppa akan mengantarmu ke rumahnya.” Terangnya.

Nayeon mengangguk kemudian pergi ke kamar untuk membereskan barang-barangnya.

Kevin menghampiri pintu kamar Sehun dan mengetuknya sebelum membuka pintu yang memang tidak dikunci Sehun. “Kau marah?” Kevin bertanya.

“Aku tidak punya alasan untuk marah hyung.” Jawab Sehun. “Dia akan pulang kemana?” Sehun bertanya.

“Ke rumah suaminya, sementara sampai mereka resmi bercerai.” Jawab Kevin.

“Oh, baguslah. Berarti dia sudah bisa mengatasi satu masalahnya.” Kata Sehun.

“Kau lega?” Kevin bertanya lagi.

“Untuk?”

“Karena tak lama lagi dia akan resmi menjadi janda.” Jawab Kevin.

“Kenapa aku harus lega dengan statusnya nanti?”

Kevin tersenyum. “Kau sudah bisa berhadapan dengan Wonbin hyung. Kau tidak sedingin dulu. Kau berubah sejak Nayeon datang. Kau sudah mulai bisa membuka hati. Meski awalnya karena kau kasihan padanya, siapa yang tahu nanti perasaanmu pada Nayeon akan seperti apa. Lagipula, sepertinya Nayeon tidak punya lagi rahasia. Kau tahu lebih banyak dari orang terdekatnya sekalipun.” Kevin bicara panjang lebar. Dia menghampiri Sehun yang sedang duduk di sisi ranjang. “Sepupuku ini sepertinya bisa memulai lagi hidup barunya dan tidak terus terjebak dengan masa lalu. Aku rasa, Jaerin akan senang murid kesayangannya tidak lagi menangisi kepergian dia.” Ucap Kevin sambil menepuk pundak Sehun. Tak banyak yang tahu kalau Kevin dan Sehun sebenarnya sepupu jauh. Kevin memberikan senyuman terbaiknya saat Sehun mendongak menatapnya. “Tapi, aku juga tidak akan kalah darimu. Kita lihat siapa yang bisa menarik hati Nayeon.”

Mata Sehun membulat. “Hyung menyukainya?” Dia bertanya.

Kevin terkekeh. Dia tidak menjawab tapi langsung berjalan keluar.

“Sehun oppa tidak keluar? Aku mau pamitan padanya.” Nayeon bertanya pada Kevin yang baru saja menutup pintu kamar Sehun.

Kevin menggeleng. “Dia sedang tidak ingin diganggu. Ada hal yang membuatnya harus sendirian. “ jawab Kevin kemudian mengambil alih koper di tangan Nayeon. “Kajja. Kau tidak ingin kan kalau saudaramu lama-lama berdua dengan Kibum-ssi? Aku yakin mereka berdua akan kikuk karena masalah ini.” Ajaknya.

Nayeon menurut saja. Dia mengikuti Kevin yang berjalan di depannya.

-to be continued-

Advertisements

31 responses to “LIFE [8]

  1. singkat bgt thor . next part nya jangan ending dong . masih pengen liat romance nayeon dgn sehun

    • ini pendek? o.O ?
      padahal aku mikir ini cukup panjang. haha~ sayang’a aku udah gak sabar pengen tamatin.. soal’a udah ada project lain 🙂

      mungkin nayeon sehun’a nampang di lain waktu

      gomawo

  2. ricky emosi?(elusdada.aricky#sabaratuhbg//plakk)
    duh thor jgn end(eh–kalo nggak end nanti jdi drama indonesiadong) :’)
    thor panjangin?npa ini pendek buat scene.a nayeon-sehun thor
    lanjut thor^^
    cemugguth

    • udah aku tamatin, walopun tamatnya agak maksa sama dibikin cepet. gegara ada project baru dan aku gak pengen lama2 punya utang.. haha
      mungkin kapan2 bkin ff nayeon-sehun-(kepin) lagi…

      sehun-nayeon pendek soal’a aku pgn’a fokus ke kibum. sumber masalah nayeon kan bareng dia.. plus lebih nonjolin ricky sih 🙂

      gomawo~

  3. Mian, thor. Aku baru baca+comment part ini sekarang._.

    Aigoo.. Jadi gitu alasannya.. Ya ampun, Nayeon Eonni ? Miris banget hidupnya T.T

  4. ahhh, ga nyangka klo kevin itu sepupu jauh sehun bahkan keduanya itu memiliki perasaan yg sama ke nayeon..oke, beruntung sekali kau nak walau kisahmu itu menyedihkan /miris/

    • haha.. aku kepikiran abisan scene cuap2 mereka di ruang kesehatan sih. rada aneh juga sehun yg diem tiba2 ngobrol sama kepin
      makanya aku maksa mereka ganti status jadi sepupuan /plak
      nayeon disayang liki juga. tapi idupnya miris pake banget

      gomawo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s