[One shoot] Angel Traitre

angelstraitre

[One shoot] Angel Traitre

Written By       : @angelabesidemey & @asitawidya

Main cast        : Park Cheonsa (OC)

Kim Jongin

Kim Myungsoo

Genre              : Romance, angst

Jika hati memang sudah ada yang menempati, kenapa kita masih mencoba untuk menyelipkannya di celah-celah sudut yang tersisa? Bukankah hal itu akan membuatnya semakin terasa sesak?

 

Menapaki beton dengan terburu, gadis itu, Cheonsa, sesekali menengok ke belakang. Berusaha meyakinkan tidak ada satupun yang mengikutinya. Entah apa yang dia takutkan, tapi terlihat jelas gadis itu sedikit tegang, dari gesture dan rahangnya yang sedikit mengeras dengan pandangan mata was-was.

Apa gadis itu adalah seorang teroris yang dikejar pihak berwajib?

Atau gadis itu adalah seorang artis yang dikejar netizen dan sasaeng fans?

Nyatanya bukan, Cheonsa hanya gadis biasa yang saat ini sedang serius menapaki jenjang pendidikannya di sebuah universitas di Korea, menyandang status sebagai mahasiswa semester enam fakultas Ekonomi.

Lalu kenapa gadis itu harus merasa sewas-was itu ketika berjalan ditempat umum?

Bahkan hingga dewasa dia tidak pernah melakukan tindakan kriminal apapun seperti mencuri sampai membunuh orang?

Apa yang dia takutkan?

Entahlah, hanya ia-dan seseorang yang akan ia temui saat ini yang bisa menjelaskannya.

Tak berapa lama berjalan dengan lugas, langkah Cheonsa mulai terlihat berhenti. Tangan putih pualamnya bergerak, membuka pintu kayu mahoni disana. Sekejap, suasana jalanan yang sedikit ramai oleh pejalan kaki berganti, menjadi suasana cafe hangat yang menentramkan jiwa. Cheonsa menghembuskan nafasnya dalam-dalam, lega bercampur senang menggelitik parunya.

Ngomong-ngomong, bukankah ada yang lebih penting dari sekedar merasa lega? Cheonsapun menggerakkan lehernya, mencari-cari sesuatu, mungkin lebih tepat disebut orang—seseorang yang menunggunya sejak lima belas menit yang lalu.

Cheonsa sedikit terlambat tadi, dan gadis itu sedikit takut, orang yang memiliki janji dengannya sudah pulang. Mengingat sejak tadi, gadis itu belum sekalipun mengecek ponsel.

Senyum itu mengambang, ketika di detik ketiga Cheonsa menemukan orang itu, sesosok lelaki bertubuh kurus namun, manly, berambut hitam yang tengah membelakangi Cheonsa, pada sudut tidak terlihat dimuka cafe. Tidak membuang beribu waktu Cheonsa mengendap tanpa suara, mendekati sosok lelaki itu, begitu sampai kira-kira sejangkah Cheonsa menelungkupkan tangannya dimata sang lelaki.

Berdehem sebentar untuk mengubah suaranya menjadi sedikit berat, Cheonsa mulai bersuara, “Coba tebak! Aku siapa?”

“Bolehkah aku menebakmu sebagai Suzy Miss A?” kikik lelaki itu.

Berani bertaruh, sang lelaki pasti sudah mengerti jika itu Cheonsa, terlihat pada senyum jenaka yang ia pampang sejak tangan mulus gadis itu menyentuh permukaan kulitnya, atau mungkin sejak pertama kali Cheonsa menapakkan kakinya di sana.

Terlihat jelas dua lipatan dibibir Cheonsa mengerucut, gadis itu menurunkan tangannya kasar dan menghentakkan kakinya lebar melewati sang lelaki bernama Kim Jongin itu.

“Jadi kau suka pada Suzy Miss A?” merajuk, Cheonsa duduk didepan Jongin dengan berkacak pinggang.

“Yang aku sukai bermarga Park.”

“Cih—tukang rayu!”

That’s all true Park Cheonsa!”

Mendengar gaya bicara Jongin, Cheonsa hanya memutar bola matanya, “How about someone called Jung Hyori?

Jongin berdeham, menurunkan kepala untuk meneguk es kopi yang tadi dipesannya.

Demi Tuhan, Jongin benci jika segala sesuatunya dikait-kaitkan dengan “Hyori”, padahal ada Cheonsa sendiri—yang saat ini, ditempat ini bersamanya.

“Jangan mulai atau aku akan membawa namanya juga…” Jongin mendesis ketika merampungkan meneguk kopinya. Tak ada tatapan hangat di tatapan mata lelaki itu, yang ada hanya ke-dinginan dan sedikit sendu tersirat disana. Sudahlah, Cheonsa tidak ingin memperburuk semua. Gadis itu memejamkan matanya, menyesali dan menghakimi dirinya yang tadi bicara asal.

“Eh, kau mau pesan apa?” tiba-tiba suara Jongin menghangat.

Cheonsa membuka matanya, melihat betapa sekarang wajah Jongin kembali bersinar, memancarkan senyum kegemarannya. Entahlah itu karena Jongin memang benar-benar melupakan ketegangan mereka tadi atau hanya sekedar membuat agar semua kembali normal Cheonsa tidak peduli, yang penting suasana kembali baik-baik saja, itu sudah cukup.

Ice caramel machiato!”

Tanpa Cheonsa sadari dirinya sedikit memekik membuat Jongin yang sedang memegang menu tertawa, refleks Jongin memukul kepala Cheonsa pelan sebelum beranjak.

As your wish princess.”

Cheonsapun mengerucutkan bibirnya, tangannya bergerak, mengelus kepalanya yang baru dipukul oleh Jongin. Mata gadis itu tak henti-hentinya menelisik sosok Jongin yang sedang memesan minuman kegemarannya. Rasanya dua Minggu tidak melihat Jongin, Cheonsa sedikit asing. Gesture dan perawakan tubuh Jongin tetap sama hanya saja… rasanya Jongin terlihat lebih putih belakangan ini, berbanding terbalik saat terakhir mereka bertemu, di sini, ditempat ini—

“Kau lebih putihan ya?”

“Eh?”

“Kulitmu.”

“Ah—aku hanya dirumah akhir-akhir ini.” Ujar Jongin.

Cheonsa mengernyit, “Kenapa?”

“Apanya yang kenapa?”

“Tidak keluar? Bersamanya mungkin?” Serentetan kata-kata itu muncul kembali dari mulut Cheonsa, padahal semuanya baru membaik. Tapi—jika tidak diutarakan sekarang, gadis itu merasa sangat penasaran.

“Kau sendiri?” Jongin menatapnya sinis.

“Apa?”

“Aku sudah bilang kan, kalau kau membawa-bawa sesuatu yang harusnya tidak kau bawa, aku juga akan membawanya. Jadi, mau kita mulai saja? Bahkan disaat kita baru bertemu?” tiba-tiba suara Jongin menjadi lebih tajam, membuat Cheonsa merinding dan menunduk, memainkan whipped cream diatas caramel-nya.

Dengan pertimbangan yang muluk, Cheonsa kemudian menggeleng lemah.

“Maaf.” Bisik Jongin. “Aku hanya ingin kita melupakan status masing-masing—sejenak, hanya untuk sejenak Sa-ya.”

“Aku tahu,” didongakkan kepala Cheonsa oleh Jongin, terlihat bibir gadis itu melengkung indah, sangat indah, “tapi, sebagai manusia kita harus menghadapi kenyataan Jongin-ah. Meskipun itu pahit.”

Kini, ludah Jongin sendiri melolos ditenggorokannya.

Tuhan—jika kau ingin membunuh ku sekarang lakukan saja, biarkan aku tidak merasakan sakit dari-kenyataan-yang-begitu-pahit.

“Kalau begitu kau mau apa dariku?” Tanya Jongin lemah.

“Apakah cintamu benar-benar suci kepadaku?” Cheonsa balik bertanya dengan hati-hati.

“Menurutmu?”

”Sebuah hubungan yang berada diatas penderitaan dan kebohongan seperti kita itu  sama sekali tidak suci, Jongin-ah.

Jongin menarik nafas panjang, lalu mengucapkan tiga kata yang ia harap mampu meyakinkan gadisnya bahwa semua yang ia lakukan benar-benar tulus, benar-benar suci.

“Aku sangat mencintaimu.” Bisik Jongin tepat di telinga Cheonsa.

Cheonsa terdiam, matanya berkilat menahan sesal kala mengucapkan kata itu lirih—

“Aku juga, lalu kenapa kita tidak bisa mengambil keputusan yang lebih jauh?”

“Ssst—”

Bibir Cheonsa terasa hangat ketika jemari Jongin menyentuhnya. Memainkannya sedikit dengan pandangan sarat kesakitan. Entahlah—tiba-tiba semua menjadi sesak.

“Jangan pernah mengatakan hal itu, kita hanya belum siap.”

Belum siap? Kenapa Jongin selalu mengatakan hal itu? Sampai kapan mereka siap? Cheonsa benar-benar kesal dengan lelaki di hadapannya ini. Kalau dia benar-benar mencintai Cheonsa, hal apa lagi yang perlu mereka takutkan jika orang lain mengetahui hubungan mereka?

Oh ya, kekasihku dan kekasihnya.

Cheonsa yang tadinya berpikir macam-macam kemudian mengangguk perlahan.

Apa mungkin separuh hati gadis itu memang benar-benar sudah di invasi oleh Jongin? Entahlah, Cheonsa tidak peduli.

Jongin tersenyum melihat Cheonsa yang tidak membicarakan hal “itu” lagi. Jemari Jongin bergerak ke atas, meraih juntaian rambut Cheonsa, memainkan dengan jemarinya.

“Mau kencan tidak? Kita ke taman bermain hari ini?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan Kim Jongin!”

“Jadi sekarang kau tidak mempan dengan rayuan taman bermain? Kalau Cotton candy?” kekeh Jongin, matanya menyipit memperlihatkan dengan jelas eye smile lelaki itu. Karena gemas tangan mungil Cheonsa menggeplak bahu Jongin, “Berhenti menawariku sesuatu yang tak mungkin kutolak!”

Jongin tertawa kecil, giginya yang putih dan rapih terpampang jelas dimata Cheonsa. Membuat gadis itu gemas sendiri. Cheonsa memang acap kali terperosok dalam cengiran polos Jongin, yah, siapa yang tahu kalau seorang Jongin yang memiliki tampang-bisa-dibilang tidak polos memiliki angel’s smile begitu menggoda.

Baiklah, karena Cheonsa sudah mulai terperosok, mungkin limabelas menit lagi mereka akan meninggalkan cafe dan berjalan-jalan dalam taman bermain.

*

Hujan di hari ini begitu deras, beberapa bulir air masuk melewati jendela kamar Cheonsa yang berdesain serba Pink.

Mungkin jika dalam keadaan normal Cheonsa sudah menutup rapat jendela kamarnya, agar buliran air itu tidak menggenang, tapi kali ini berbeda, gadis itu memilih berdiri didepan jendela, menjulurkan tangannya agar dibasahi air hujan.

Memikirkan percakapannya dengan Jongin tadi siang membuat hati Cheonsa tersayat, haru biru itu kembali menyeruak. Cheonsa tidak mampu menghalau segala rasa yang sudah menjadi plak itu, rasanya sangat getir melebihi pahit obat manapun.

Lagipula, Cheonsa sadar dia dan Jongin memang tidak akan pernah bersatu, jadi buat apa mereka terus berpura-pura?

Benarkan?

“Kenapa berdiri disana? Nanti kau sakit, airnya mengenai tubuhmu.” Sebuah suara menyentak Cheonsa, sebelum gadis itu mampu mengatasi kebingungan, jaket hitam sudah bertengger dikedua pundaknya.

Kim Myungsoo telah datang.

“Ditutup ya jendelanya?” kemudian tangan Myungsoo menyentuh permukaan besi jendela, menutup rapat jendela itu beserta tirainya.

“Kenapa di sini?” Tanya Cheonsa yang sedikit kaget dengan kehadiran Myungsoo tiba-tiba.

“Tidak suka kekasih mu datang?” Sindir Myungsoo.

“Kukira kau sibuk mengurusi bisnis di Jeonju.”

“Baru pulang, siang ini.”

“Kenapa tidak telepon?”

Surprise.” Myungsoo meletakan jemarinya ke kedua pipi Cheonsa sembari menatap gadis itu lekat-lekat. Sudah lama dia merindukan tatapan kedua mata gadisnya, mendengarkan tawanya yang riang, senyumnya yang hangat, dan sifatnya yang lembut namun kadang terkesan manja.

Myungsoo sangat merindukannya.

Senyum merekah di wajah Cheonsa, gadis itu menatap Myungsoo yang masih berdiri di hadapannya. Tatapan mata Myungsoo terlihat begitu lelah, ya-Cheonsa maklum dengan segala kegiatan bisnis yang bejibun ditanganinya. Sampai kadang Myungsoo lupa menghubungi Cheonsa, kekasihnya sendiri. Namun ketika waktu luang sudah ada, Myungsoo rela menghabiskan seluruh waktunya bersama Cheonsa. Cheonsa merekatkan jaketnya lekat-lekat, menutupi hawa dingin yang masuk ke dalam tubuhnya.

“Kau pasti lelah, kopi atau teh?”

Can you give me herbal tea? I’m so tired.” Myungsoo melepaskan usapan tangannya di pipi Cheonsa.

Cheonsa mengangguk. Menatap senyuman dibibir Myungsoo. Gigi putih dan rapi Myungsoo terpampang jelas, membuat kesan dingin lelaki itu luntur tak berbekas. Singkat mengamati Myungsoo, Cheonsa sudah menangkap lagi pergerakan pada kaki Myungsoo, kini lelaki itu tengah duduk pada sofa ruang tengah, menyalakan televisi.

Berani bertaruh lelaki itu pasti akan menengok bursa saham.

Sungguh lelaki yang sangat ambisius dan telaten, beruntung Cheonsa dapat memiliki Myungsoo, si lelaki tampan dan mapan. Itu kalau dilihat pada permukaan orang awam. Nyatanya, jika dilihat dari diri Cheonsa sendiri, semua itu bukan segalanya.

“Teh mu.”

Secangkir teh herbal bertengger didepan Myungsoo, dengan lincah tangan Myungsoo meraihnya, mendekatkan teh tersebut dan meniupnya sedikit. Tidak mau panas mengenai bibirnya secara langsung. Tidak dipungkiri, satu tegukan dapat lagi mengisi tenaga Myungsoo yang sangat capai kala itu, belum lagi dingin yang mencekam.

“Terima kasih.” Myungsoo meletakkan herbal teanya, “bagaimana kabarmu? Kau baik-baik sajakan selama aku di Jeonju?”

Anggukan itu terlihat, Cheonsa tersenyum lembut pada Myungsoo. Membuat sang lelaki tidak kuasa menahan pergelangan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala Cheonsa. Myungsoo sangat menyayangi gadis itu, pria itu bahkan memberikan segalanya untuk Cheonsa. Tapi entahlah, akhir-akhir ini dia sedikit gelisah tidak tahu kenapa.

“Mungkin cepat atau lambat kita akan menikah.”

Cheonsa tersentak. Matanya membulat tak percaya. Apa barusan gadis itu tidak salah dengar?

“Eh?”

“Aku ingin segera menikahimu.”

Tak kuasa berucap, kini Cheonsa merasakannya. Rahangnya mengeras dan lidahnya terasa kaku. Tidak tahu kenapa cairan bening itu melesak begitu saja. Apa yang harus gadis itu lakukan?

Ada rasa haru dan sedih yang berkecamuk liar di dada Cheonsa dan gadis itu tidak sanggup me-netralisir semuanya saat ini.

“Ya! Kenapa menangis?” Myungsoo mengusap pelan airmata Cheonsa. Lelaki yang biasanya pendiam itu terlihat kelabakan sendiri.

“Aku h-hanya terharu.”

“Syukurlah, aku pikir kau tidak mau.”

Cheonsa mengatupkan bibirnya mendengar perkataan Myungsoo. Cheonsa bukannya tidak mau. Menikah? Satu kata yang membuat jantungnya berdesir hebat. Dia memang baru semester enam, tetapi menjalin hubungan dengan seorang Kim Myungsoo? Oh tentu saja itu tidak masalah jika kau harus menikah keesokan harinya. Dia memiliki segalanya.

Namun hati Cheonsa sedikit bimbang, jika ia menikah … tentu saja hubungannya dengan Jongin harus berakhir. Begitu bukan? Seharusnya memang sudah berakhir dari dulu, bahkan mungkin tidak perlu dilakukan sebelumnya. Tapi …

Kim Jongin, bisakah kau saja yang melakukan semua ini?

*

Selesai mengikuti kelas, Jongin berlari menuju lift untuk segera keluar dari kampus. Dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu gadis yang menjadi pujaan hatinya diam-diam. Ya, hari ini Cheonsa mengajaknya bertemu, padahal baru kemarin mereka berkencan. Apakah berarti gadis itu merindukannya?

You’re lucky, Kim Jongin.

“Yak! Pelan-pelan!” Jongin memamerkan giginya, menatap temannya—Sehun yang membentak dirinya karena dia baru saja menyerobot keluar dari dalam lift dengan kasar.

Jongin terlihat terburu-buru?

“Kau mau ke mana?”

“Pergi.” Jawab Jongin singkat. Sehun masih menatapnya dengan tatapan kesal.

“Bertemu malaikat.” Lanjut Jongin.

“Hah?”

Jongin hanya menampakan cengiran khasnya melihat ekspresi Sehun yang kebingungan kemudian segera berlalu. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ke taman belakang kampus. Ya, taman itu sudah menjadi tempat di mana ia dan Cheonsa biasa bertemu, selain di Cafe favorit mereka.

Cheonsa sudah duduk di bangku taman, menunggunya.

Jongin menutup mata Cheonsa dengan kedua telapak tangannya, meniru tingkah  Cheonsa siang kemarin saat pertemuan di cafe.

“Coba tebak! Aku siapa?” Bisik Jongin di telinga Cheonsa.

“Bolehkah aku menebakmu sebagai Jung Il Woo?” Tanya Cheonsa mencoba meledek.

“Jadi kau suka pada Jung Il Woo?” Jongin terlihat kesal, kemudian melepaskan telapak tangannya dari wajah Cheonsa.

“Yang aku sukai bermarga Kim.” Hening.

Cheonsa memikirkan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Yang ia sukai bermarga Kim. Kim … Kim Jongin? Lelaki yang sedang ada di hadapannya saat ini, ataukah Kim Myungsoo? Lelaki yang baru saja melamarnya.

Cheonsa menelan ludah. Tenggorokannya seperti tercekat. Tujuannya bertemu Jongin kali ini adalah untuk membicarakan hubungan di antara mereka berdua, hubungan yang gelap, hubungan yang rumit.

“Jongin-ah..” Panggil Cheonsa lemah.

“Wae?” Jongin merasa was-was, ia tahu Cheonsa pasti akan membicarakan hal itu lagi.

“Kau tidak ingin menikah denganku?” Tanya Cheonsa. Jongin membelalakan matanya, kaget dengan pertanyaan gadisnya.

I want, babe. Sure, I want.”

“Lalu?”

“Kita masih semester enam, perjalanan kita masih panjang dan seperti yang kau tahu, kita harus mengakhiri hubungan kita dengan mereka. You dont want it, right?”

“Aku? Kenapa tidak kau dulu saja yang mengakhirinya dengan Jung Hyori?”

“Ssst—Kenapa kita selalu membicarakan hal seperti ini? Kau benar-benar ingin menikah denganku, hmm?” Jongin mencolek dagu kekasihnya. Cheonsa tidak bereaksi apapun.

“Sepertinya aku harus berpikir ulang.” Ucap Cheonsa kemudian berlalu meninggalkan Jongin yang mematung mendengarkan perkataan kekasihnya.

Berpikir ulang?

Cheonsa terus berjalan, pikirannya benar-benar kacau dan kesal. Sebenarnya ia sudah bisa menebak jawaban Jongin. Jongin pernah berkata bahwa baginya, komitmen tidak terlalu penting, yang jelas mereka berdua sama-sama menikmatinya.

Tapi kali ini Cheonsa sangat berharap jawaban yang berbeda dari Jongin.

Aku sangat ingin menikah denganmu, Kim Jongin. Tapi apa jadinya jika kau sendiri saja tidak mau berkomitmen dengan hubungan kita sendiri?

Kim Myungsoo? Jung Hyori?

Kenapa kau selalu merasa lebih baik menjalaninya di belakang mereka?

Apa cintamu bisa disebut cinta yang suci?

*

 “Chogi, apa kau baik-baik saja?”

Wanita itu menatap sesosok anak muda yang barusaja menabrak sebuah pohon. Kelihatannya anak muda yang tidak lain adalah Jongin itu tengah mabuk saat ini.

Hey—siapa manusia sadar yang berjalan lurus saja mampu menabrak pohon?

“Aku baik-baik saja Ahjumma.” Jawab Jongin, bahkan kepalanya sangat sakit saat ini.

“Kau yakin? Kau terlihat sangat… menyedihkan.”

Lagi-lagi Jongin mengangguk, dengan sekali gerakan dia sudah berdiri kembali. Yah, walau sempoyongan.

Satu botol ukuran besar vibe benar-benar menguras kesadarannya. Walau sebenarnya jenis minuman itu—vibe—terasa enak dan manis, tapi tetap saja tersimpan kadar alkohol yang tinggi disana, dan dengan meminumnya terus-menerus (karena rasanya yang enak), ketika sadar kau sudah tidak dapat berdiri dengan benar.

Itu yang baru saja dilalui Jongin.

Ini sama sekali bukan gayanya meminum vibe tanpa aturan.

Biasanya dia akan mengatur berapa yang harus diminum, tapi, kali ini berbeda. Pikirannya seakan tidak sinkron.

Mungkin karena malam ini malam spesial?

“Kau benar-benar tak apa?” ibu tadi bersuara lagi, masih memandang nanar Jogin yang berdiri dengan sempoyongan.

Jongin mengangguk, matanya memancarkan eyesmile.

“Aku tak pernah merasa sebaik ini.”

Ibu itu sedikit tersentak, tapi kemudian dia mengangguk dan tersenyum, menepuk pelan pundak Jongin sebelum melangkah pergi.

Sebenarnya, jauh dilubuk hati ibu itu dia tahu, Jongin rapuh, Jongin tidak baik-baik saja.

Namun dia tahu, ketika kau mencoba tersenyum untuk kebahagiaan orang yang kau cintai. Apapun yang membuatmu tidak baik-baik saja akan lenyap entah ke mana. Ibu itu tahu, dengan sekali lirik  apa yang saat itu digenggam Jongin, bukan hal yang sulit untuk menebak apa yang membuat Jongin terlihat begitu menyedihkan selain—

WEDDING INVITATION yang sejak tadi digenggam erat oleh Jongin.

Akhirnya ibu itu melangkah, namun kemudian dia kembali melirik Jongin yang kini bersandar pada sebuah pohon, menatap lekat-lekat undangan kumal ditangannya.

Dan satu yang ibu itu dapat dari sekali lihat.

Cinta Jongin suci,  diukur dengan ketabahan pria itu menghadapi semua.

Ya, cinta yang suci terkadang memang sulit dibuktikan.

Siapa yang tahu?

FINISH

 

Epilog

Seminggu semenjak pertemuannya dengan Cheonsa di taman belakang kampus, Jongin tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Cheonsa tidak bisa ditemui, dia seolah-olah menjauh dan menghilang dari hadapan Jongin.

Hingga sore ini, Cheonsa menghubunginya.

“Aku telah membuat keputusan…”

Jongin mendongak, bolehkah dia berharap? Pikirnya.

Air mukanya dengan Cheonsa mulai berubah, bahkan ruangan yang tadinya terasa luas itu menjadi sesak.

“Apapun pilihanmu aku menghargainya.” Lirih Jongin, matanya tertutup. Menahan semua gejolak dalam hatinya.

“Maafkan aku Kim Jongin.”

Sakit—

Jongin tahu Cheonsapun merasakan hal yang sama, namun—dia juga menyadari kalau Cheonsa memilih jalan yang tepat.

Bukan karena gadis itu tidak mencintainya—

Dari awal, semua sudah salah dan tentu mereka berdua menyadari…

Dari awal, mungkin lebih baik jika Cheonsa dan Jongin tidak menjadi kekasih gelap.

Dari awal, mungkin lebih baik jika Cheonsa dan Jongin tidak saling mengenal.

“Aku tahu, jadilah milik Kim Myungsoo seutuhnya…”

Asita note     : Ini apaa? .-. Wkwk.. Berani-beraninya nyelesein FF Mey Eonni padahal Heart Beat masih terbengkalai (,–)/ Maafin aku…

Advertisements

91 responses to “[One shoot] Angel Traitre

  1. wuih.. ceritanya secret relationship..
    tapi pas bagian kai mabuk kurang jelas ya.
    latarnya kalau lebih mendetil lagi lebih bagus
    jadi lebih jelas gitu..
    feelnya kurang dapet, kurang nyesss gitu.
    tapi bagus kok ceritanya

  2. DAEBAK, THOR!!!
    Bias ku JongIn jadi kasian deh liat nya 😥
    Tapi keren bgtbgtbgt thor FF nya!!

  3. thorrrrrr sedih bacanya
    lagian kenapa harus pacaran diem diem coba. kenapa ga putusin pacar masing masing ajaa???
    yang tabah ya jongin
    heart beatnya ditunggu thor yaaa semangat nulisnyaa

  4. oh man. this is a nyesek-est(?) story eva
    temenku juga ada yg main belakang gitu, tapi akhirnya putus dan balik ke pacar masing-masing.

    overall FF kece banget. big thumbs for ya’ gurl!

  5. weeeeeh
    nyesek nyesek nyesek amat ff ini :/ /puk puk kai/
    emg bener dr awal memang udah salah mereka :”

  6. jongin beneran punya pacar??? klo suka sama cheonsa kenapa punya cwwk lain haedehhhhh ,greget thor suer ,ahhh tapi ceritanya kren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s