Only You

onlyyou

ONLY YOU 

SHINee Taemin | Shin Rae Mi (OC/You) | A-PINK Naeun | SHINee Onew

Author : Dita Sartika ( @dhita921222 )

Genre : Romance,Life.

Rate : PG 15

Length : One Long Shoot (10000 Words)

Summary :

You are the only one for me.

Poster : Mizuky @ http://cafeposterart.wordpress.com/

Annyeonghaseyo,readers !!! Hari ini author bawa FF titipan lagi nih dari salah satu kakak kelas di kampus,kekeke. Dia katanya mo coba bikin FF dan titipin buat dipublish disini. Comment readers sangat berharga,SILENT READERS AND PLAGIATOR GO AWAY !!!


 

hati ini hanyalah milikmu… (Lee Taemin)

Shin Rae Mi

Ddrrrtt ! Ddrrrtt ! Aku terbangun kaget. Punggungku terasa begitu pegal.Entah berapa lama aku terlelap di atas meja kerjaku.

[Hari ini melelahkan, tapi seru!]

[Kau sedang apa?]

[Besok, episode pertama mulai ditayangkan ^^.]

[Bogo sipeoyo] -Taemin-

Deretan pesan singkat dari orang yang paling penting dalam hidupku, Lee Taemin, aku baca sekaligus.Ada perasaan menyesal dalam hatiku, kenapa setelah pesan yang kesekian kalinya aku baru terbangun.Huft.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam, tanpa menghiraukan apapun lagi aku langsung membalas pesan dari Taemin yang sudah menunggu balasan dari 2 jam yang lalu.

[Mianhae, jeongmal mianhae…aku ketiduran…^^’] -Rae Mi-

#Flashback

Dua bulan sebelumnya

Pagi itu, tepat pukul 8 pagi.Aku sedikit berlari menuju sebuah café. Teddy Café, itulah nama sebuah café yang memiliki suasana romance begitu kental, terletak di tengah kota Seoul. Seorang namja telah menungguku di sana. Ya, Lee Taemin, dia meneleponku setengah jam yang lalu dan ingin memberitahukan sesuatu padaku.

Setibanya di sana, aku langsung menghampiri Taemin. Dia menyambut kedatanganku dengan senyuman lembut, dan menghampiriku.

“Annyeong,” sapanya dengan lembut.

Saat itu ku rasakan lembutnya hembusan angin yang mengirimkan kehangatan ke dalam hatiku.

“Annyeong, apa yang ingin kau beritahu padaku?” tanyaku sedikit penasaran.

Dia menggiringku ke tempat dimana dia menungguku tadi, pojok luar cafe lantai 2 yang menyajikan indahnya pemandangan kota Seoul di pagi hari yang ceria, seceria wajah Taemin pagi itu.

“Tadi malam aku mendapat tawaran dari manajer, untuk ikut reality show,” Taemin mengawali cerita dengan mata yang berbinar.

Tampaknya dia sangat senang mendapat tawaran untuk bermain di sebuah reality show, yang nantinya dia akan dipertemukan dengan seorang yeoja yang akan menjadi pasangan hidupnya. Melihat antusiasnya, aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa memberinya dukungan.Walaupun sebenarnya dalam hatiku, aku sangat khawatir, jika nanti lawan mainnya itu jatuh hati padanya.

PLAKK!! Tanpa sadar aku memukul pipiku sendiri.

“E? gwaenchanha?” tanya Taemin sedikit khawatir melihat tingkahku.

“Ne, gwaenchanha.Aku hanya sedikit mengantuk, jadi aku memukul pipiku sendiri, hehe” aku tertawa malu sambil menahan sakit di pipiku.

Saat itu, Taemin belum mengetahui siapa lawan mainnya, dan sepertinya dia menyadari kalau aku cemburu, diapun berkata.

“Tak usah khawatir, apapun yang terjadi, hati ini hanyalah milikmu.Dan akan selalu menjadi milikmu.”

Tangan kanannya memegang dadanya, tangan kirinya memegang tanganku dengan erat, dan sorotan matanya yang lurus memandangku, membuatku yakin akan apa yang diucapkannya itu, diakhiri dengan senyuman lembutnya yang membuat rasa khawatirku luluh, menghilang dengan seketika. Ya, ini hanya pekerjaan.Pikirku.

#Flashback end

Tak lama setelah pesanku terkirim.

Sono ai de kanzen ni naru tameni

Umarete kitanda mirai o terashidashite

……

Potongan lagu Fire-SHINee terdengar dari handphoneku. Handphone ku berdering, dan ternyataTaemin meneleponku!

Yeoboseyo,”

Yeoboseyo, jinaeseyo?” suara lembut dari sebrang sana menyapaku.

Mataku terbuka lebar menandakan nyawaku sudah tekumpul semua, aku sudah bangun seutuhnya.Aku langsung meloncat ke atas tempat tidur lalu duduk sambil melipat kakiku kedepan.

Ne, aku baik-baik saja,” jawabku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, namun aku tak ingin berhenti mendengar suaranya, setelah hampir 2 bulan aku tak mendengar suaranya di telepon, aku sangat merindukannya.Beberapa kali dia menyuruhku untuk tidur, dan mengingatkanku pada pekerjaanku di hari esok, namun tetap saja aku tak ingin berhenti.

Hey girl kimi no perfume o oikakete

So jirasa rete

Boku ni datte chansu kurai arudarou

Juliette kono koigokoro o

Juliette kimi ni sasageyou

Juliette amaku kaoru koe de

Sasayaite serenade

……

(Juliette slow version-SHINee)

Ku dengar suara Taemin ditelingaku, akupun tertidur lelap malam itu.

“Wah, gawat!“ aku segera turun dari kamarku menuju pantry untuk membuat sarapan.

Baru kali ini aku terlambat bangun, tapi aku tidak bisa menyalahkan siapapun, karena aku sendiri yang tidak mau berhenti mengobrol tadi malam.

Hari ini sepertinya aku akan sibuk, karena harus menemani bosku bertemu dengan beberapa rekan bisnis penting untuk promo produk baru. Saat sedang membuatsarapan, aku teringat pesan singkat Taemin.

“Besok, episode pertama ditayangkan”.

Deg! Jantungku tersentak. Reality show itu mulai pukul 05.30 sore KST. Aduh, aku harus bagaimana, bertemu dengan rekan bisnis itu tidak cukup sampai sore hari, biasanya paling cepat itu jam 8 malam dan bisa juga sampai tengah malam. Bagaimana ini??

***

Sudah dua rekan bisnis yang kami temui hingga siang ini, tinggal 1 rekan bisnis lagi, dan ini adalah yang paling penting dan berharga bagi perusahaan kami.

Sebelum melanjutkan pekerjaan, Lee Jinki, bos yang terkenal suka bercanda dan tampan itu mengajakku untuk makan siang di sebuah restaurant khas masakan korea. Dia sangat suka bercanda apalagi jika sedang makan.Dia selalu mengekspresikan setiap makanan yang dimakannya, apalagi jika yang berada di depannya itu adalah aku.Aku selalu kena tipuannya dan dikagetkan dengan wajahnya yang tiba-tiba seperti ingin menangis karena pedas atau makanannya yang tidak enak, padahal sebaliknya, saat aku mencoba makanannya, dia tertawa sangat puas.

Namun, pikiranku sedang sibuk dengan acara reality show Taemin, jadi aku tidak begitu memperhatikannya. Aku hanya tersenyum tenang saat dia berekspresi aneh. Jelas saja dia tidak terima dan mencoba mengulik apa yang aku pikirkan.

Ya!Kenapa kau hanya tersenyum seperti itu?Aneh!”

Aku pun tersadar, dan segera minta maaf, dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Aa… itu sengaja!Sekarang aku tidak akan tertipu lagi, haha” aku tertawa puas.

“Sudahlah, kau tidak bisa berbohong padaku, ayo katakan apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?” dia memaksaku dengan wajahnya yang sok cool.

Aku pun menyerah, karena pikiran ku memang sudah dipenuhi oleh reality show Taemin. Aku pun menceritakan semuanya.Dan betapa kagetnya aku, saat dia berkata.

“Oh ya sudah pulang saja sana!” dengan dinginnya dia menyuruhku pulang.

“Eh? Tapi…”

“Sudahlah pergi saja, lagipula sebenarnya pekerjaan kita hari ini sudah selesai, aku hanya ingin lebih lama denganmu saja. Tapi kalau kau ada acara lain, ya silahkan saja, aku tak bisa melarangmu. Jadi pulanglah!” potongnya panjang lebar.

Dia tidak memberi kesempatan padaku untuk menyela lagi, dia segera memanggil taksi untuk mengantarkanku pulang.

Hhhmm… aku bingung apa yang aku rasakan, di satu sisi aku senang bisa melihat reality show Taemin tapi di sisi lain aku merasa tak enak telah meninggalkan Jinki di saat dia sedang ingin bersamaku. Di kantor, hubungan ku dengannya memang sebatas bos dan karyawan. Tapi di luar itu memang kami lumayan dekat, walaupun baru satu tahun aku berkerja dengannya tapi perlakuan dia dan keluarganya begitu baik padaku.

Ini adalah kenangan berharga kita… (Lee Taemin)

 

Lee Jinki

Ku melihat Rae Mi pergi.

“Sebenarnya aku masih ingin bersama mu Rae Mi-ya.Apakah kau tidak menyadari perhatianku selama ini kepadamu, itu karena…” aku segera menyadarkan diriku, entah berapa lama aku menatap kepergiannya.

Aku kembali ke kantor untuk mempersiapkan langkah selanjutnya dari produk baru kami. Ya, dua hari setelah ini, kami akan menemui beberapa konsumen untuk mensosialisasikan produk baru kami.

Di tengah perjalanan, aku tak bisa berhenti memikirkannya, Shin Rae Mi. Entah apa yang meracuni pikiran dan hatiku, setelah kurang lebih satu tahun aku bekerja dengannya, aku merasa ada sesuatu yang berbeda sekarang ini.

Aku mulai menyukainya. Ah, apakah itu benar? Benarkah aku menyukainya?? Tapi itu tidak mungkin! Mungkin bagiku untuk menyukainya, tapi apakah mungkin dia membalas perasaanku ini?Dia telah memiliki Taemin, dan dia sangat menyayanginya. Huft…apa yang sedang ku pikirkan ini. Aku mengacak rambutku.

 

Shin Rae Mi

Aku melihat jam di handphone ku, dan saat itu pula aku melihat fotoku bersama Taemin yang terpasang di wallpaper. Foto itu sangat berharga bagiku begitupun bagi Taemin.Foto yang mengambil gambar latar sebuah gedung yang bernama Tokyo Dome.

#Flash back

Tiga tahun sebelumnya

Kami adalah siswa tingkat tiga di SME Senior High School.Hari itu adalah hari terakhir perjalanan tour sekolah kami di Tokyo, tepatnya saat kami berjalan melewati Tokyo Dome.

“Uwa!keren! Bagus banget gedungnya!“ seru Taemin.

“Iya, pasti yang perform di gedung ini bintang hebat semua!” sahut ku.

“Ayo kita foto bersama!” ajak Taemin sambil menarik lenganku dan mendekatkan tubuhnya.

Ckrek! Sebuah foto yang menunjukkan keceriaan kami berdua di hari yang cerah, di depan Tokyo Dome telah tersimpan di handphone Taemin. Saat itu terlintas di pikiranku, kami layaknya sepasang kekasih yang sedang mengabadikan moment liburannya, hehe.Tapi dengan segera aku hapus pikiranku itu.

“Suatu hari nanti aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk orang yang paling penting dalam hidupku,” sambil senyum dan memandang ke arah gedung itu.

Aku pun menoleh, dan tersenyum ke arahnya, sebelum aku mengeluarkan kata dari mulutku, tiba-tiba Taemin melanjutkan pembicaraannya.

“Neol…” katanya lembut sambil memandang ke arahku.

“Ne?” aku tak mengerti.

“Aniyo, bukan apa-apa,” kulihat raut muka Taemin agak berubah.

Entah kenapa, aku merasa kalau dia baru saja menyatakan cintanya, tapikurasa itu hanya khayalanku saja.Sejak awal aku memang sudah tertarik padanya, namun aku tak mau merusak pertemanan ini, jadi aku hanya bisa menyukainya secara rahasia di dalam hatiku.

Di perjalanan pulang ke Seoul, Taemin duduk di sampingku.Teman-teman kami tertidur pulas mungkin karena kecapean.Dan hanya kami berdua serta kru pesawat yang masih terjaga.

Dan saat itu pula, Taemin meraih handphoneku, dan mengganti wallpapernya menjadi foto kami berdua di depan Tokyo Dome tadi. Dia juga melakukan hal yang sama pada wallpaper di handphonenya.

“Ini adalah kenangan berharga kita,” Taemin tersenyum sambil memegang erat tanganku.

Aku membalas senyumannya. Namun, sebenarnya aku tidak mengerti, apa maksud dari yang dia katakan itu. Tanpa sengaja kami pun tertidur, dan saat aku terbangun, posisi kepalaku sudah tersandar di bahunya, dan Taemin juga membalas sandaranku.Entah bagaimana awalnya, tapi yang pasti, saat itu kami seperti sepasang kekasih.

Dua tahun kemudian…

Taemin telah melakukan debut pertamanya sebagai penyanyi solo, tak lama setelah lulus Senior High School. Sedangkan aku melanjutkan study di Tokyo University, sesuai keinginan kakekku. Liburan musim dingin tiba, aku ingin sekali pulang ke Seoul.Dua tahun ini, sejujurnya aku selalu ingat Taemin.Aku selalu menanyakan kabarnya lewat Jonghyun oppa.

Saat itu, Jonghyun oppa sudah menjadi penyanyi solo terkenal baik itu di Korea maupun di Jepang. Dia juga merupakan salah satu member band SHINee, yang beranggotakan 3 orang, yakni Kibum oppa, Minho oppa dan Jonghyun oppa sendiri. Mereka adalah kakak kelas kami di SHS.Dan mereka sangat mendukung Taemin untuk bisa sukses di bidang entertainment.

Hari itu, aku berencana memesan tiket pesawat penerbangan Tokyo-Seoul. Namun, Jonghyun oppa meneleponku, dan dia memberi kabar bahwa dia akan melakukan comeback stage bersama band nya dan akan ada special guest di tengah konser mereka. Dan dia memintaku untuk datang.

Huft, aku ingin pulang, tapi akhirnya aku memutuskan untuk melihat konser mereka.Dan aku sangat bersyukur aku memilih untuk menonton konser dulu. Karena ternyata, yang jadi special guestnya itu Taemin!!!

“Terima kasih atas kedatangan kalian malam ini, aku akan menyanyikan sebuah lagu special untuk seseorang, dia adalah orang yang paling penting dalam hidupku… nae Ramyeon,” katanya dengan suara lembut dibarengi senyuman jahilnya.

Semua yang hadir di sana tertawa, termasuk members SHINee’s band. Tentu saja mereka tertawa, Ramyeon itu kan nama mie. Tapi tidak denganku. DEG!! Jantungku tersentak! Ramyeon??Itukan panggilan Taemin untuk mengejekku di sekolah.Rae Mi mirip Ramyeon, selain itu aku sangat menyukai Ramen, jadi karena itu dia memanggilku Ramyeon.

 

Eotteongeotdo neol daesinhal su eobseo

Cause i love you gidaryeojwo

Nae mam jeonhaejulkke

Naega neol chatgo isseotdan mallya

Naega neol gatgosipdaneun mallya

Nae soneul jaba nae soneul jaba

Irheobeorilkka duryeopjanha

Naega neol wonhago itdan mallya

Naega neol saranghandaneun mallya

Neol hyanghan nae mam deutgoinni

Baraman bwado apeujanha

Ireoke……

U-SHINee Taemin

(To The Beautiful You OST)

#Flashback end

…apa kau tak menyadarinya?… (Shin Rae Mi)

 

 Shin Rae Mi

Aku turun dari taksi, dan berlari menuju ruang keluarga.Aku langsung menyalakan televisi dan menunggu acara dimulai.

Waktu telah menunjukkan pukul 7 malam. Acara Reality show itu pun berakhir dan berganti menjadi acara music tv.

Entah apa yang terjadi padaku, tubuhku terasa kaku, membeku, tak percaya dengan apa yang tadi aku lihat. Apakah aku berlebihan?Tapi kenapa begitu Lee Taemin?Batinku bertanya.

Covering my ears to listen to you

Shutting my eyes to imagine you

You have slowly become blurred, you have slowly left me

In the unstoppable memories

I stop (stop) I stop (stop)

The memories of having once loved, control me so easily

Once again, One more time

How can it end like this I cannot believe

Those countless promises, what to do, what to do

(Daydream-Super Junior)

Terdengar lagu Daydream-Super Junior di televisi.

Aku mengambil handphone untuk melihat apakah ada pesan atau telepon masuk. Ternyata memang benar, ada limapanggilan tak terjawab dari Taemin. Mengapa aku tidak mendengarnya?Pikirku.

Saat aku masih melihat catatan panggilan, saat itu pula Taemin menelepon lagi, aku ragu untuk menjawabnya dan akhirnya satu panggilan lagi terlewatkan olehku.Namun, Taemin tak berhenti meneleponku, handphoneku berdering lagi dan kali ini aku memberanikan diri mengangkatnya.

Yeoboseyo,” dengan suara sedikit lirih aku mengangkat telepon.

“Rae Mi-ya, gwaenchanha?” suara lembut Taemin sedikit berubah.

“Kamu tak apa-apa kan?” Aku tak menjawab.

“Aku khawatir…” rajuk Taemin manja.

Gwaenchanha,” jawabku sedikit lambat.

“Kau sakit?Jeongmal gwaenchanha?” nada suara Taemin berubah khawatir.

“Iya, aku baik-baik saja.Tak usah khawatir,” jawabku dengan suara yang sudah lumayan pulih.

“Syukurlah, kalau begituaku jemput sekarang ya!Aku ingin makan malam bersama!” katanya dengan semangat.

Ne,” tanggapku lemas.

***

Aku dan Taemin tiba di café favorit kami, Teddy Café itu lho.Tak hanya suasana pagi hari yang menyejukkan, suasana malamnya pun menyenangkan dan menghangatkan, memberi kesan romance yang lebih bagi pengunjung.

Kami duduk di tempat yang sama setiap kali kami datang ke café itu. Saat itu, baru 10 menit kami duduk, tiba-tiba makanan telah datang ke meja kami.Rupanya Taemin yang telah memesan menu spesial untuk makan malam ini.Menu kesukaan kita berdua, steak daging.

Sepatah katapun tak keluar dari mulutku, aku hanya bisa memandang apa yang ada dihadapanku dengan tatapan tak menyangka, terharu, senang, campur aduk. Ditambah lagi, saat mataku dan matanya bertemu, rasanya darahku membeku dan hanya bisa tersenyum dan terharu merasakan semuanya, rasa rindu yang seolah-olah terbayar membuatku bisu seketika.Hingga tak kusadari, air mataku jatuh, dan saat itu pula Taemin mencairkan kebekuan suasana malam itu.

Ulijima…” Taemin tersenyum hangat sambil menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

“Kau kenapa?” dia melanjutkan.

Gwaenchanha,” jawabku damai.

“Acara yang bagus ya, aku melihatnya tadi,” aku mengawali pembicaraan, sambil memotong makanan.

“Eh?Maksudnya kau melihat reality show ku??” Taemin b2ertanya senang.

Ne,” jawabku.

“Bagaimana menurutmu??”

Aku diam sejenak, dan menahan nafas.

“Bagus!Hehe.Lawan mainmu juga cantik,” aku tertawa kecil, sambil berusaha menyembunyikan kecemburuan yang ada di hatiku.

Taemin tertawa kecil, entah apa yang membuatnya tertawa senang.

“Begitulah, dia yeoja yang cantik dan juga ramah, hehe” dia terlihat sangat senang.

“Baguslah kalau begitu,” kataku.

Aku senang, Taemin merasa nyaman dengan pekerjaannya, tapi apakah dia tidak menyadari bahwa aku cemburu.  Kau anggap apa aku ini Lee Taemin?

nae anae—My wife?Apa maksudnya?… (Shin Rae Mi)

 

Shin Rae Mi

“Begitulah, dia yeoja yang cantik dan juga ramah, hehe” dia terlihat sangat senang.

“Baguslah kalau begitu,” kataku.

Aku senang, Taemin merasa nyaman dengan pekerjaannya, tapi apakah dia tidak menyadari bahwa aku cemburu.  Kau anggap apa aku ini Lee Taemin?

Aku benar-benar tidak memiliki nafsu untuk makan, bahkan untuk minum pun rasanya tak tertarik.

“Kau kenapa?”Taemin bertanya untuk yang kesekian kalinya.

“Kenapa kau tidak makan?Apa kau sudah tidak menyukai makanan ini?” lanjutnya.

Aniyo… Aku hanya ingin melihat wajahmu saat makan, jadi kau makan duluan ya, hehe” aku menutupi perasaanku sebenarnya.

“Hahaha, dasar kau ini!”Taemin memukul halus kepalaku sambil tertawa.

Jamkkan man-yo,” Taemin berpamitan untuk pergi ke restroom.

Aku mengangguk dan hanya bisa menarik napas lalu menghembuskannya lagi melihat kepergiannya.

Ddrrrttttt….ddrrrrtttttt… Handphone Taemin bergetar.Ada panggilan masuk.Aku tak berani mengangkatnya. Tapi jarak handphone nya yang begitu dekat denganku, membuatku bisa melihat namapemanggilnya. Dan saat aku baca.

Nae anae—My wife” kataku perlahan.

Aku tercengang, siapa yang dimaksud ‘Nae anae’ itu?Apakah lawan mainnya di reality show??Hatiku bertanya.Tapi apakah harus sampai segitunya? Hingga nama di handphone pun? Aish, rasa cemburuku makin menjadi!!

Taemin kembali dengan senyumannya tepat setelah handphone nya berhenti bergetar.

Aku benar-benar kaku, aku tidak bisa menutupi perasaanku.Apa kau menyadarinya Lee Taemin??Aku tak kuasa menahan tekanan api cemburu ini, tanpa berlama-lama lagi, aku melahap makanan yang ada di depanku dalam ukuran yang besar untuk menahan air mataku.

“Apakah kau baru menyadari steak daging itu ada di hadapanmu??Hehe” Taemin melihatku lucu.

“Pelan-pelan makannya…” dia melanjutkan.

Aku hanya tertawa kecil sambil terus memasukkan potongan-potongan steak ke mulutku.

Tak lama kemudian, handphone Taemin bergetar lagi.Aku tak begitu memperhatikan siapa yang meneleponnya kali ini.Yang pasti, setelah itu, dia berpamitan pergi menjauh untuk mengangkat teleponnya.

Aku curiga, dari siapa panggilan itu?Dan kenapa mesti menjauh untuk mengangkatnya??Gerutuku dalam hati.

“Wa! Pedasnya steak ini…”rengekku.

Air mataku keluar tak tertahankan, entah itu karena pedas atau karena apa, entahlah.

 

Lee Taemin

Yeoboseyo? Ada apa?” aku mengangkat telepon dari Son Naeun, lawan mainku di reality show terbaruku.

“Kau sedang apa?” terdengar suara murung di sebrang sana.

“Aku sedang makan malam, ada apa dengan suaramu?” aku sedikit khawatir, karena syuting di hari kemarin itu sangat melelahkan.

“Aku tidak apa-apa, aku hanya… ingin mendengar suaramu.Tadi kau dari mana?Kenapa baru mengangkat teleponku sekarang?” tanyanya.

Aku kaget, ternyata dia telah meneleponku sejak tadi. Tapi tadi kan aku sedang ke restroom. Tanpa sengaja, aku menoleh ke arah Rae Mi.

DEG!!Aku baru sadar, apakah tadi Rae Mi melihat panggilan di handphone ku?Aku baru menyadarinya kenapa dia tiba-tiba makan sesemangat itu.Apakah dia merasa cemburu?

“Hahaha, kau ini lucu sekali.Sudah istirahat sana, bukannya besok kau ada latihan?” kataku.

Aku segera mengakhiri pembicaraanku dengan Naeun.Dan kembali ke tempat dudukku.Entah kenapa, aku merasa bersalah pada Rae Mi. Tapi aku bingung harus berkata apa, untuk mengawali pembicaraan dengannya.

 

Son Naeun

Ne, jaljayo,” aku menutup teleponku dengan berat.

Hmm, sepertinya dia sedang makan dengan manajernya, karena itu dia terburu-buru.Pikirku.

Walaupun baru 1 episode reality show kami ditayangkan, tapi proses syuting sudah berjalan hingga 5 episode. Akhir-akhir ini, aku merasa ada yang berbeda saat berada didekatnya.Apa yang terjadi padaku, apakah aku mulai tertarik padanya? Lee Taemin…bogo sipeoyo, aku memeluk bantal gulingku.

 

Lee Taemin

Saat aku mendekat, aku melihat dia menangis.

“Kenapa kau menangis?…” aku bertanya hati-hati.

Aniyo, steak daging ini pedas…” dia menjawab sambil terisak.

Sepertinya dia mencoba menyembunyikan sesuatu dariku.Apa benar dia merasa cemburu??Entah kenapa aku berpikir seperti ini.

Setelah selesai makan malam, kami berjalan beriringan di trotoar yang sudah mulai sepi.Aku masih memikirkan hal yang tadi, apakah dia benar-benar merasa cemburu?Sampai detik ini tidak ada pembicaraan apapun darinya.Hanya jawaban singkat dan senyuman yang dia tunjukkan.

Aku menggenggam tangannya, tangannya begitu dingin, aku pun memasukkan tangannya ke saku jaketku.Dia tetap saja diam, dan hanya senyum lembut yang dia berikan padaku.

Aku ingin sekali menanyakan sesuatu padanya, tentang apa yang dia rasakan dan pikirkan sekarang ini, tapi sepertinya dia butuh istirahat.

Jaljayo,” kataku lembut, lalu ku berikan kecupan selamat malam di keningnya.

Ne,” jawabnya dalam senyuman lembutnya.Dia pun masuk ke rumahnya, tanpa berkata apapun lagi.

entah apa yang membuatku melakukan ini, aku benar-benar menyukainya… (Lee Jinki)

 

Shin Rae Mi

Yeoboseyo?Eodiseo?Aku tunggu di lobi ya,” suara bos terdengar tergesa-gesa di telepon.

Hari ini kami akan pergi ke daerah penghasil gamgyul—–jeruk terbesar di Korea yaitu provinsi Jeju. Dari sanalah kami mendapat pasokan jeruk untuk dijadikan susu. Ya, produk terbaru kami adalah susu kemasan yang terbuat dari jeruk asli dan diberi nama ‘GamMi’. Butuh waktu sekitar 1 jamuntuk sampai di sana dengan pesawat dari Gimpo Airport.

Kami akan berada di sana hingga 1 minggu. Kegiatan kami di sana, bukan hanya untuk mengunjungi pemilik kebun jeruk saja, tapi juga bertemu dengan penduduk disana untuk mengetahui bagaimana tanggapan mereka mengenai produk kami ini.

***

            Kami disambut dengan hangat oleh Park Jungsu, pemilik kebun jeruk, dan keluarganya.Kami beristirahat sejenak sambil mengobrol dan menyantap jamuan yang disediakan oleh mereka. Dan esok hari, kami akanmemulai kegiatan sebenarnya.

Keesokan harinya…

Hari ini, kami akan pergi ke kebun untuk melihat proses penanaman, perawatan sekaligus pemetikkan Jeruknya. Kami disambut ramah oleh para pekerja di kebun.Hebatnya, semua yang mengelola kebun ini adalah orang tua.Jadi, di sini kamilah yang paling muda, hehe.

Bentuk bulat buah jerukyang kecil dengan warnaoranye yang menggoda begitu menyejukkan, membuat lidah ini tergiur ingin mencobanya.Kami diberi kesempatan untuk memetiknya secara langsung dan memakannya.Aku dan ketiga rekan kerjaku sangat antusias, kecualiJinki, dia tidak begitu suka dengan jeruk, dia lebih menyukai apel.Aneh sekali, kalau tidak suka kenapa menciptakan produk berbahan dasar jeruk?Pikirku.

 

Lee Jinki

“Sudah kau saja yang memakannya.Aku tak mau.Kau kan tau aku tak suka jeruk,” kataku sedikit berbisik pada Rae Mi.

“Hmm, ini enak lho, sangat manis, kulitnya pun bisa dimakan,” goda Rae Mi.

Dia terus menyodorkan jeruk ke mulutku.Padahal aku benar-benar tidak menyukai Jeruk.Huft.Mungkin hampir semua karyawan yang tau bahwa aku tidak suka Jeruk, berpikir kenapa aku menciptakan produk yang aku sendiri tidak suka bahan dasarnya, tapi ya inilah aku.Aku memanfaatkan ketidaksukaanku pada sesuatu untuk menciptakan sesuatu yang baru yang bisa membuatku menyukai hal itu.Haha. Jenius kan? Benakku merasa bangga.

Aku melihat kearah Rae Mi, dia sangat bersemangat.Apa mungkin ini yang membuatku menyukaimu, Rae Mi? Keceriaan dan semangat yang selalu ada dalam dirimu terutama di tengah pekerjaan, benar-benar memberikan energi positif untuk setiap orang di sekitarmu.Tanpa ku sadari, aku tersenyum seorang diri.

“Hei!”Rae Mi mengagetkanku.

Ya!Kau mengagetkanku!” kataku, tapi dia hanya tertawa kecil dan mengajakku untuk pulang ke tempat tinggal sementara kami.

Hari sudah gelap, aku melihat pemandangan langit sangat indah, dihiasi bintang-bintang. Dan saat aku menoleh ke samping, ku lihat Rae Mi juga sedang melakukan hal yang sama denganku, melihat ke langit dengan piyama putih bercorak banana-banana kecil berwarna kuning membuat dia terlihat sangat lucu.

Setelah beberapa saat, dia baru menyadari keberadaanku, dia pun menghampiriku dan duduk di sampingku.

Ya!Kenapa kau malah duduk di sini, bukannya tidur,” kataku mencoba menutupi rasa gugupku.

“Aku hanya ingin menyapa saja, ya sudah kalau tidak mau disapa, aku tidur,” dia berdiri dan hendak pergi, tapi aku menarik lengannya, dan memeluknya.

Entah apa yang membuatku melakukan ini, aku benar-benar menyukainya.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya dengan polos, aku senang dia tidak memintaku untuk melepaskan pelukan ini.

Gwaenchanha,” jawabku sambil menutup mataku merasakan hangat tubuhnya.

Dia menepuk-nepuk punggungku, mungkin dia berpikir bahwa aku merasa lelah.Aku pun melepaskan tanganku dari tubuhnya.

Mianhae,” kataku.

Dia terlihat kebingungan, namun dia tidak memperdulikannya, dia segera menyuruhku duduk dan memijat bahuku.

Aku merasa bersalah telah memeluknya secara tiba-tiba, tapi aku sangat berterima kasih kepadanya karena dia bersikap biasa saja dan itu sedikit membuatku lega, tapi ada rasa sakit dalam dada ini, jika dia bersikap biasa saja berarti dia tidak mengerti perasaanku yang sebenarnya.

*** 

Shin Rae Mi

“Huuowa…” suara menguap sekaligus menggeliat Jinki terdengar sampai ke ruang makan.

Aku sedang menyiapkan sarapan ditemani satu rekan kerjaku, sedangkan dua rekan kerjaku lainnya menemani Jungsu-nim mengobrol.

Hari ini adalah hari terakhir kami di sini.Sebelum kembali ke Seoul, kami ingin menyantap sarapan bersama keluarga Park.Tapi, betapa malunya kami, saat keluarga Park sudah datang, kami belum menyiapkan apa-apa. Apalagi Jinki, saat makanan sudah siap disantap dia baru bangkit dari tempat tidurnya.

Kami kembali ke Seoul tanpa beban apapun, karena ternyata produk kami diterima dengan baik di sana. Satu lagi tugas kami, yaitu untuk memperkenalkannya di Seoul.Semoga saja mendapat tanggapan yang baik juga.

 

Lee Jinki

Sugohaessoyo, besok dan lusa kalian boleh istirahat dulu,” kataku dengan senang.

“Rae Mi-ya, aku antar kau pulang ya,” aku menawarkan diri pada Rae Mi untuk mengantarnya pulang, karena malam sudah larut aku tak tega membiarkannya pulang sendiri.

Ne,” jawabnya sambil mengangguk untuk mengiyakan tawaranku.

Sebenarnya sepanjang perjalanan ini aku ingin sekali bercanda dengannya, tapi sepertinya dia kecapean, tak lama setelah mobil melaju, dia tertidur hingga mobilku sampai di depan rumahnya.

Bagaimana ini, aku tidak tega membangunkannya.Benakku berkata. Aku mencoba melihat ke sekitar rumahnya dari dalam mobil, danku dapati seseorang sedang duduk diteras depan rumahnya.

“Ha! Itu Taemin,” kataku pelan, karena aku takut Rae Mi terbangun.

Aku pun langsung keluar dari mobil dan menghampiri Taemin.Dia tampak kaget melihat kedatanganku.

Annyeong haseyo,” sapaku.

Annyeong haseyo,” jawabnya sambil sedikit membungkukkan badannya.

“Aku bersyukur kau ada di sini,” Taemin terlihat bingung, “Aku mengantarkan Rae Mi ke sini karena aku khawatir jika dia harus pulang sendirian. Tapi, dia tertidur dan aku tidak berani membangunkannya, maukah kau membantuku?” tanya ku.

Ne,” jawabnya ramah.

Aku membukakan pintu mobilku dan membiarkan Taemin masuk untuk menggendong Rae Mi. Aku merasa ada jarum yang menusuk hatiku, seandainya aku yang melakukan itu, Rae Mi. Benakku berkata.

 …apa yang harus aku lakukan? Kenapa ini terjadi?… (Shin Rae Mi)

 

Lee Taemin

“Aku bersyukur kau ada di sini, aku mengantarkan Rae Mi ke sini karena aku khawatir jika dia harus pulang sendirian.Tapi, dia tertidur dan aku tidak berani membangunkannya, maukah kau membantuku?”Jinki datang dengan membawa Rae Mi di mobilnya.

Aku masuk ke mobil dan mendapati Rae Mi yang tertidur pulas, sepertinya kau sangat kecapean nae Rae Mi, kataku dalam hati.Dengan segera aku menggendongnya dan membawanya masuk ke rumah.

Aku tidak perlu membangunkannya untuk menanyakan password pintu rumahnya, karena aku memang telah mengetahuinya sejak lama. Jinki membantuku membuka lebar pintu rumah, dan membawakan tasRae Mi, serta dua kantung plastik kecil yang aku tak tau apa isinya. Dan setelah itu dia berpamitan pulang.

Setelah aku menidurkan Rae Mi di tempat tidurnya, aku membuka kantung plastik tadi. Di dalamnya ada kotak berukuran sedang bergambar gamgyul dan segelas susu. Entah apa maksudnya, yang pasti itu adalah minuman, lalu aku menyimpannya di dalam lemari es.

Aku menghampiri Rae Mi yang terbaring di atas tempat tidurnya.Ku rapikan posisi selimutnya hingga menutupi bahunya.Aku mendekatkan wajahku.

“Sudah lama aku tak melihatmu sedekat ini, Rae Mi-ya, jeongmal yeppeuda,” aku tersenyum memandangnya.

Aku mendekatkan bibirku perlahan hingga menyentuh bibirnya.Dan berharap aku tak membangunkannya. Lee Taemin

Aku terbangun oleh aroma masakan omelet.Siapa yang masak omelet seharum ini, pikirku. Aku terperanjat dari sofa dan melihat ke sekelilingku, namun takada siapa-siapa di sana. Seketika ku ingat Rae Mi, apakah dia sedang memasak omelet?Tanya benakku.

Aku berjalan menuju pantry, dan ternyata benar Rae Mi yang sedang memasak omelet.Aku menghembuskan napas lega dan tersenyum, dengan perlahan aku menghampirinya, dan mendekapnya dari belakang.

“Aa!” Rae Mi sedikit berteriak, dia kaget mengetahui kedatanganku dengan cara seperti itu.

Ya! Lee Taemin! Kau membuatku kaget saja,” katanya sambil mengelus dada.

Dia berusaha melepaskan dekapanku, namun aku tak ingin melepaskannya.

Bogo sipeoyo, kemana saja kau seminggu ini?” rajukku manja.

Tapi dia hanya tersenyum, dan entah apa maksud senyumannya itu. Apapun itu aku tak peduli. Sepertinya dia tidak merasa terganggu dengan tanganku yang mendekaptubuhnya, dia pun meneruskan masak tanpa complain apapun.

Saat makanan sudah siap aku baru melepaskan dekapanku.Ku lihat dia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Aku tau kau pasti merasa capek karena masak dengan aku yang menempel dibelakangmu, hehe. Mianhae, Rae Mi –ya.Benakku berkata.

  ***

Malam ini aku akan tampil di salah satu acara stasiun tv Korea untuk comeback stage. Aku duduk di sofa ruangan make up artis, kebetulan aku mendapat ruangan yang sama dengan SHINee band. Sambil menunggu kedatangan Rae Mi, aku mendengarkan lelucon para hyung ku.

Selang beberapa menit, SHINee band bersiap untuk tampil, dan tinggal aku sendiri di ruangan ini.Rae Mi kau dimana?Aku ingin melihatmu sebelum tampil, benakku berkata.

 

Shin Rae Mi

Yeoboseyo?” aku mengangkat telepon sambil mengunci pintu rumahku.

Malam ini, dengan berpakaian kasual, jeans biru dan kaos hitam yang dibalut rompi putih berbahan sweater, aku pergi untuk melihat comeback stage nya Taemin.Tak lupa aku membawa satu kantung plastik yang berisi 2 kotak GamMi untuk Taemin. Kali ini aku akan menyuruh Taemin mencicipi gamgyul milk, setelah sekian lama dia menggemari banana milk, apakah dia akan suka dengan rasa baru ini. Pikirku.

***

“Rae Mi-ya Jinki kecelakaan,” ku dengar suara panik ibunya Jinki di sebrang sana.

Mwo?” aku terkejut, mataku membulat.Aku segera naik taksi untuk pergi ke rumah sakit.Apa yangharus aku lakukan? Kenapa ini terjadi?Aku panik.

Aku berlari melewati koridor rumah sakit yang sepi sore itu.Aku berhenti berlari saat melihat kedua orang tua Jinki terduduk lemah.Aku menghampiri mereka.

Eomma,” aku menghampiri mereka.Aku memanggil orang tua Jinki dengan sebutan eomma dan appa.Itu karena hubunganku dengan keluarga Jinki cukup dekat.Lagipula mereka yang menyuruhku menggunakan panggilan itu.

Ibu Jinki memelukku sambil menangis.Aku membalas pelukannya dan mencoba menenangkannya.

“Jinki ada di dalam sana,” katanya sambil menunjuk ke pintu ruangan ICU.

“Tenanglah, Jinki oppa pasti baik-baik saja,” kataku.

Aku juga memanggil Jinki dengan sebutan oppa di hadapan kedua orang tuanya, karena ibunya yang menyuruhku, katanya aku ini mirip dengan adik Jinki yang telah tiada karena kecelakaan beberapa waktu sebelum aku diterima di perusahaan setahun yang lalu.Karena itu, aku mengerti perasaan mereka saat ini yang tidak mau kehilangan Jinki, seperti mereka kehilangan adiknya Jinki dulu.

Pintu ruangan ICU terbuka, dan aku bernapas lega setelah mendengar kabar baik dari dokter bahwa Jinki baik-baik saja.Hanya saja, Jinki harus beristirahat beberapa waktu untuk memulihkan shock dalam pikirannya.Selain itu, Jinki juga mengalami shock pada otot tangan kanannya, walaupun tidak begitu parah tapi Jinki harus melakukan terapi untuk memulihkan gerakan tangannya.

#Flashback

Lee Jinki

Hari ini aku merasa kurang enak badan, karena tadi malam aku tidak bisa tidur. Kejadian kemarin di depan rumah Rae Mi sangat mengganggu pikiranku. Seandainya aku bisa menggantikan sosok Taemin di hatimu.Pikiranku mulai ngelantur.

Hari ini aku berencana pergi ke kantor, untuk apapun itu, pokoknya aku ingin keluar rumah, karena diam di rumah  hanya membuat kepalaku pusing. Pikirku.

 

Cause it’s love, To me, it’s true love

Even if I can’t have you to myself

Cause of the sad fate that block my yearning heart

I love you, even if I can only watch you from here

Because you’re my everything

I still lay awake for many nights

When the sky pours down rain like my never ending tears

Remember that I love you so much

Even if I can’t have you to myself

Cause of the sad fate that block my yearning heart

I love you, even if I can only watch you from here

Because you’re my everything

It’s not too hard, oh no~

Cause you’re mine, for who you are

Although it hurts

Although you make me cry

I love you

(Quasimodo-SHINee)

            Aku menyetir dengan santai seperti biasanya, diiringi alunan lagu yang terdengar dari mp3 player mobilku. Dan… BRAKK! aku merasa ada sesuatu yang menghantam mobilku.

#Flashback end

Rae Mi-ya, eodisseo?… (Lee Taemin)

 

 Shin Rae Mi

Aku melihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Bagaimana ini?Orang tua Jinki masih terlihat shock, aku tak tega jika harus meninggalkan mereka dalam situasi seperti ini.Tapi, aku juga tak ingin membuat Taemin kecewa.Apa yang harus aku lakukan? Jebal, benakku memohon.

“Rae Mi-ya,” ku dengar ayah Jinkimemanggilku.

“Sebaiknya kau pulang, nak.Hari sudah malam,” katanya.

Entah aku harus menjawab apa, tapi aku merasa lega karena akhirnya aku bisa pergi untuk menemui Taemin.

Ne, eomma dan appa juga jaga kesehatan ya, aku pamit,” aku pun pergi.

Mungkin aku egois telah merasa senang saat ini, tapi apa lagi yang bisa ku rasakan, karena inilah saat-saat yang aku tunggu sejak tadi pagi, yaitu untuk bertemu Taemin dan melihat penampilannya.

Aku tiba di lantai 2 gedung salah satu stasiun tv Korea, tepatnya di koridor ruang make up artis. Aku mencari-cari ruangan Taemin, aku melihat kearah monitor di pojok koridor, rupanya SHINee band sedang tampil, itu berarti sebentar lagi giliran Taemin. Aku mempercepat langkahku agar bisa bertemu dulu dengannya, dan akhirnya aku menemukan ruangannya.

Perlahan aku membuka pintu, dan aku tercengang. Aku tak percaya apa yang aku lihat, aku menutup kembali pintu, dan saat aku berbalik aku mendapati SHINee band telah selesai tampil, dan hendak masuk ruangan itu.

Annyeong haseyo,” sapa Jonghyun oppa.

Aku tidak menjawab, hanya senyuman tipis dan pandangan mata tak menentu yang aku tunjukkan, aku berlari menjauh dari mereka.Berharap aku menemukan tempat yang bisa membuatku tenang.

 

Lee Jonghyun

Akhirnya comeback stage kami selesai, aku dan member yang lain hendak kembali ke ruangan untuk beristirahat.

Hyung, bukannya itu Rae Mi?”Kibum memberi tau ku.

“Oh iya, itu Rae Mi, hyung. Tapi, kenapa dia diam di sana?” Minho menambahkan.

Kalau Rae Mi datang ke sini pasti untuk menemui Taemin, tapi kenapa dia hanya diam di luar?Benakku bertanya.Kami pun menghampirinya.

Annyeong haseyo,” sapaku.

Tapi aku heran, kenapa dia hanya tersenyum tipis dan langsung pergi. Aku merasa ada yang tak beres, sebenarnya apa yang terjadi. Aku membalikkan badan hendak mengejarnya, tapi Minho menghentikan niatku.

Hyung,” Minho menarik tanganku.

Aku pun berbalik dan Ha! Betapa kagetnya aku ketika melihat Taemin sedang berciuman dengan Naeun.

Ya!Lee Taemin!” dengan refleks aku membentaknya.

Mereka pun menghentikan apa yang sedang mereka lakukan. Mereka terlihat kaget, apalagi Taemin, dia segera bangkit dari tempat duduknya dan melihat kearah kami.

Hyung,” dia terlihat kebingungan.“Ada apa hyung?” tanyanya.

“Apa kau melihat Rae Mi?”Tanya Kibum dengan nada sedikit tinggi.

Raut muka Taemin semakin kebingungan.

“Kami melihatnya di depan pintu tadi,” tambah Minho.

“Apa kau tidak melihatnya?”, “Tapi sekarang dia sudah pergi,”Kibum dan Minho saling menambahkan.

Mwo?” wajah Taemin berubah menjadi sangat terkejut dan khawatir, dia langsung berlari keluar ruangan dan meninggalkan kami, termasuk Naeun, dia tidak memperdulikannya sama sekali.

 

Lee Taemin

“Rae Mi-ya, eodisseo?” aku bergumam sambil berlari mencarinya.Tapi seseorang menghentikan langkahku.

“Taemin, kau mau kemana?Sebentar lagi kau akan tampil, ayo bersiap!”Kim Heechul, manajerku menarik lenganku menuju ke belakang stage.

Aku hanya bisa terdiam, dan berjalan mengikuti Heechul hyung.Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan ‘Rae Mi, kau di mana?’ yang terus terngiang di telingaku.

#Flashback

Setelah kepergian SHINee band untuk bersiap di belakang panggung, ada seseorang yang masuk ke ruangan, awalnya aku mengira Rae Mi yang datang, tapi ternyata Naeun.Kenapa dia ada di sini, bukannya hari ini tidak ada jadwal syuting, pikirku.

“Annyeong haseyo,” sapanya.

“Annyeong haseyo,” aku membalas sapaannya, lalu kembali ke tempat dudukku untuk mengecek handphone yang ku simpan tepat di depan cermin tadi.

Aku tidak begitu memperhatikan Naeun saat itu, karena aku sedang sibuk memikirkan Rae Mi, aku khawatir kenapa dia belum datang juga.

“Taemin,” Naeun memanggilku.

“Ne?” aku refleks melihat ke arahnya.

Aku belum tepat melihat ke arahnya, tapi aku benar-benar tidak menyangka dia mengecup bibirku. Aku bingung apa yang harus ku lakukan. Aku hanya terdiam.

Aku merasa ada yang melihat kami saat itu, tapi entah siapa.Tak lama kemudian aku mendengar Jonghyun hyung dan yang lainnya datang.

#Flasback End

 

Lee Jonghyun

Hyung, itu dia!” Kibum menunjuk ke taman depan gedung ini.

Saat aku melihatnya, ternyata memang benar Rae Mi sedang duduk sambil menundukkan kepala di sana. Aku, Kibum, dan Minho menghampirinya.

“Rae Mi-ya,” aku duduk di sampingnya, sedangkan Kibum dan Minho berdiri tak jauh di depannya.

Dia menoleh, dan ternyata dia sedang menangis.Aku pun memeluknya dan mencoba untuk menenangkannya.

Oppa,” katanya sambil terisak.

Ulijima,” aku memeluknya dan mengelus rambutnya.“Arasseo,” aku melanjutkan.

Dia melepaskan pelukanku.

“Aku berusaha untuk bersikap profesioanl, tapi… tapi kali ini aku melihatnya secara langsung, dan disitu tidak ada kamera kan oppa?” dia mulai bercerita dan kembali menangis.

“Apa maksudmu?” tanya Minho.

“Aku melihat episode pertama mereka, aku melihat tatapan Taemin berbeda saat itu, sepertinya dia sangat menyukainya, sejak awal dia sangat antusias mengikuti reality show ini, baru kali ini dia bercerita padaku dengan mata yang berbinar. Selain itu banyak fans yang mendukung keserasian mereka,” dengan panjang lebar dia menerangkan.

Sepertinya dia mengeluarkan semua emosi dan kejanggalan yang ada dibenaknya selama ini, pikirku.

“Sudahlah, itu mungkin hanya perasaanmu saja, bukankah kau mempercayainya?” aku menenangkannya sambil mengelus bahunya.

“Aku memang mempercayainya, berkali-kali aku menepis pikiran jelekku. Tapi, yang tadi itu apa, oppa?” dia mencoba menghapus air matanya, namun air matanya tak berhenti keluar.

Memang benar, apa yang sedang mereka lakukan tadi, bukankah Taemin bilang hari ini tidak ada jadwal syuting reality shownya? Aku mencoba mengingat-ingat.

Aku, Kibum dan Minho saling bertatapan, berpikir bagaimana mencairkan suasana yang mendadak sepi.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?Apa kau akan terus menangis hingga air matamu membeku? Apakah kau tidak merasakan betapa dinginnya diam di sini?”Kibum berkata panjang lebar dengan mulutnya yang mulai mengeluarkan uap karena kedinginan.

“Kibum,” Minho berbisik dan mengingatkan Kibum untuk tidak terbawa emosi.

Mianhae,” Rae Mi menunduk.

“Ya sudah, lebih baik kita kembali ke dalam, kita bisa membeku kalau terlalu lama di sini,” ajakku.

Aku menggiringnya untuk kembali ke dalam, diikuti Kibum juga Minho.Memang malam itu tiupan angin sangat dingin menusuk kulit ini.

 

Lee Taemin

Malam itu pekerjaan ku telah selesai, dan aku masih memikirkan Rae Mi, dimana dia sekarang. Aku berniat untuk pergi ke rumahnya, dan saat pintu lift terbuka aku melihat sosok Naeun, kenapa dia belum pulang? Tanya batinku.

Aku merasa bersalah karena telah mengacuhkannya, tapi yang sangat ingin aku temui saat ini adalah Rae Mi. Aku melewatinya tanpa membiarkan dia melihatku.

“Taemin,” dia memanggilku.Ternyata dia melihatku.

Ne?” aku berbalik.

Tampaknya ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi aku tak ingin menunggu lama lagi untuk bertemu Rae Mi, aku pun berpamitan padanya.

“Aku duluan ya, annyeong,” aku pun meninggalkannya.

 

Son Naeun

Sebenarnya aku ingin meminta maaf padamu Taemin, maaf aku telah lancang. Tapi kenapa ekspresi dia dan SHINee members itu sangat aneh tadi, terus Rae Mi, siapa dia? Kenapa saat mereka menyebut nama Rae Mi, raut wajahnya berubah menjadi sangat kaget dan khawatir? Dalam benakku penuh dengan hal-hal yang tak ku mengerti.

 

Shin Rae Mi

Tubuhku terlentang di atas sofa, aku menatap langit-langit ruang keluarga, aku baru menyadari rumah ini terasa sangat sepi.Tiba-tiba saja aku merindukan kedua orang tuaku.

Eomma, appa, apakah kalian baik-baik saja di sana? Ya, pasti kalian baik-baik saja di sana,” aku tersenyum dan air mata jatuh di pipiku.

Aku terlahir sebagai anak tunggal di keluarga Shin, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan yang menimpa mereka setelah kembali dari Eropa untuk perjalanan bisnisnya selama tiga hari.Aku sangat terpukul saat itu dan setelah kepergian mereka aku tinggal bersama kakekku.

Saat itu aku belum terlalu dekat dengan Taemin, karena aku selalu diantar jemput oleh appa. Namun, saat mereka tiada, tidak ada lagi yang mengantar jemputku ke sekolah, karena itu aku selalu naik bus, dan sudah menjadi kebiasaan Taemin naik bus untuk sekolah, jadi aku membuntutinya dengan maksud agar tidak sendirian di bus, apalagi aku sering pulang malam karena memang banyak sekali pelajaran tambahan di tahun terakhir SHS itu. Hari demi hari aku jalani dengan membuntutinya, dan akhirnya hubungan kami pun jadi dekat.

Sejak akuditerima untuk bekerjadi Lee Cooperation, kakek pulang ke kampung halamannya, Mokpo untuk berkebun di sana. Jadinya aku tinggal sendirian selama ini.

Jaljayo,” aku memejamkan mata. 

arayo, tapi aku selalu merasa cemburu Lee Taemin… (Shin Rae Mi)

Shin Rae Mi

Jaljayo,” aku memejamkan mata.Dan saat itu pula aku mendengar bel rumahku berbunyi.

TING!TONG!  aku terperanjat kaget mendengarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam.Aneh, siapa yang datang ke rumahku selarut ini? Aku membuka pintu dan ternyata itu Taemin!

Tak satupun kata keluar dari mulut kami.Suasana begitu hening. Hanya dua pasang mata yang saling bertatapan, seolah-olah mengerti apa yang sedang di rasakan oleh masing-masing.

“Taemin, kenapa kau datang ke sini?Mianhae, aku tidak datang melihat penampilanmu, tadi ada…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Taemin menarik lenganku dan memelukku.

Dia memelukku erat sekali, hingga aku sulit bernapas.

Wae geurae?” aku melepaskan pelukannya.“Kau kenapa?” aku menutupi perasaanku yang masih terpengaruhkarena melihat kejadian tadi.

Aku mengajak Taemin masuk ke rumah, Taemin masih terdiam. Kini aku dan Taemin duduk bersebelahan di sofa depan televisi. Suasana kikuk melanda ku, apa yang harus ku lakukan?Pikirku.Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Oh iya, GamMi, aku belum sempat memberikannya pada Taemin. Aku segera pergi ke pantry untuk mengambil dua kotak Gamgyul milk yang sempat aku bawa saat pergi tadi.

 

Lee Taemin

Entah dari mana aku harus memulai, aku ingin memastikan apa benar tadi dia melihatku dengan Naeun. Walaupun tadi dia bilang tidak datang, tapi aku tak percaya.Jonghyun hyung tak mungkin bohong.Pikirku.

Kulihat Rae Mi kembali dari pantry dan duduk di sampingku dengan membawa dua kotak minuman.Aku tidak begitu memperhatikan kotak itu, aku hanya ingin melihat raut wajahnya.

“Ini,” dia memberikan satu kotak untukku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Itu GamMi,gamgyul milk, produk baru perusahaan kami.” Aku melihat kotak itu, oh ini kotak yang aku simpan di lemari es malam itu, pikirku.

“Aku tau, kau sangat suka banana milk.Tapi takada salahnya kan mencoba susu yang terbuat dari gamgyul ini,” katanya sambil tertawa, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku.

Ne,” rasa bersalahku padanya membuatku tak ingin mengelaknya, aku pun mencobanya seteguk.

Masisseo, joh-ahaeyo,” kataku.

“Taemin babo,” dia berkata sambil menertawakanku. Aku tak mengerti, apa yang membuat dia tertawa.

Rae Mi mendekatkan tangannya ke bibirku. “Kau ini, tak berubah ya, xixi,” dia mengusap sisa susu yang tertinggal di atas bibirku dengan ibu jarinya.

Pipiku memerah, aku benar-benar malu, selalu saja meninggalkan jejak minuman di atas bibirku, terutama saat minum susu di depan Rae Mi.Setelah itu, suasana berubah menjadi kikuk lagi. Aku memberanikan diri.

Mianhae, jeongmal mianhae,” kataku.

Dia menoleh padaku, “Wae?Kenapa kau minta maaf?” tanyanya.

“Aku dan Naeun…” Rae Mi memotong pembicaraanku.

“Oh, arasseo, mianhae, tadi aku bilang kalau aku tak datang,” aku kaget dia berkata seperti itu, berarti benar tadi dia melihatku dengan Naeun.

Mianhae, aku tak tau dia akan melakukan itu…” dia memotong pembicaraanku lagi.

Gwaenchanha yo, itu bukan apa-apa,” dia tersenyum sambil memalingkan pandangan ke arah lain, tapi raut wajahnya berubah.

“Dia pasti menyukaimu,” lanjutnya.

Aku kaget mendengar dia berkata seperti itu. “Rae Mi-ya,” kataku.

“Tapi itu wajar, siapa yang tak kan menyukai Lee Taemin, sang romeo,” dia senyum sendiri.

Aku hanya bisa tersenyum tak mengerti.

“Apa kau memaafkanku?” tanyaku serius.

“Tak ada yang perlu dimaafkan Lee Taemin, lagi pula dia yang menyentuhmu kan? Bukan kau?” tanyanya dengan mata yang membulat mengarah padaku, dan dia tertawa lagi.

Ne,” aku hanya tersenyum tipis.Aku merangkulnya dan mengecup keningnya.Gomawo Rae Mi-ya, benakku berkata.

 

Shin Rae Mi

Huft.Aku sedikit merasa lega karena dia datang malam ini.Tapi, masih ada yang mengganjal di benakku.Sempat terpikir olehku sesuatu yang entah itu baik atau tidak, tapi itu mungkin yang terbaik bagiku, terutama bagi Taemin.

Kami menonton acara komedi tv, Saturday Night Life. Aku sangat menyukai acara ini, karena lumayan sering menghadirkan guest star Super Junior, boyband favoritku. Biasanya Taemin merasa bosan jika menonton acara ini bersamaku, karena pasti aku tidak memperdulikannya.Tapi, kali ini dia ikut tertawa dan tidak sekalipun melepas rangkulannya di bahuku.

“Taemin,” panggilku.

Ne?” dia menoleh ke arahku.

“Apa kau merasa enjoy dengan reality show mu?” tanyaku mendadak.

Ne, kenapa?” dia balik bertanya sambil mengerutkan dahi.

“Aku juga senang kalau kau enjoy, aku tak ingin mengganggu pekerjaanmu. Jadi…” aku menggantung perkataanku.

“Jadi?”Taemin tak mengerti kemana arah pembicaraanku.

“Jadi, sebaiknya kita putus saja…” aku belum selesai, tapi Taemin langsung menyelaku.

“Apa maksudmu?” raut wajahnya berubah.

“Aku tak bermaksud apa-apa, tapi aku hanya tak ingin mengganggu konsentrasimu saja,”

“Sejak kapan aku merasa terganggu?Aku tak pernah merasa terganggu,” nada bicaranya sedikit menaik.

Arayo, tapi aku selalu merasa cemburu Lee Taemin,” aku memalingkan muka darinya.

Mwo?Apa kau tak mempercayaiku Rae Mi? Kenapa kau seperti ini Shin Rae Mi?” tanyanya tak percaya.

“Bukan aku tak percaya, tapi mungkin lebih baik jika kita jaga jarak dulu sementara ini, lagi pula aku akan sibuk dengan pekerjaanku setelah ini,” kataku mencoba menutupi kerapuhanku.

Kekecewaan terlukis di wajahnya.

… Apa keputusanku ini salah?… (Shin Rae Mi)

 

Lee Taemin

“Bukan aku tak percaya, tapi mungkin lebih baik jika kita jaga jarak dulu sementara ini, lagi pula aku akan sibuk dengan pekerjaanku setelah ini,” Rae Mi berkata sambil memalingkan wajahnya.

DEG! Aku sangat kaget, detak  jantungku terasa berhenti mendadak.

“Baiklah, jika memang ini maumu, tapi jangan pernah menjadikan perkerjaanmu sebagai alasan Shin Rae Mi,” aku hendak pulang, tapi Rae Mi menahanku.

“Jangan pergi, hari sudah malam, besok pagi saja,” air matanya jatuh membasahi pipinya. Aku ingin sekali mengusapnya, tapi ku urungkan niatku.Aku masih tak percaya kenapa Rae Mi melakukan itu.

Aku pun tak bisa membendung air mataku, kami berdua menangis dalam kesunyian, komedi tv yang membuat kami tertawa tadi, kini tak terasa lagi kelucuannya.

Keesokan harinya…

Aku pergi ke sebuah radio untuk menjadi guest star di sana, dan kebetulan SHINee band juga menjadi guest star di sana. Setelah acara selesai, Jonghyun hyung memanggilku.

Ya, Taemin, gwaenchanha?Kenapa kau terlihat murung?” tanyanya.

Gwaenchanha, aku hanya kurang tidur, hyung” jawabku sambil tersenyum..

“Ini pasti ada hubungannya dengan Rae Mi kan?”Kibumhyung tiba-tiba ikut masuk dalam pembicaraan kami.

Aku hanya menunduk terdiam.

Ya!Taemin, bicaralah!”Minho hyung sedikit menyentak.

“Hubungan kami sudah berakhir,”

MWO??!!!” secara bersamaan mereka bertanya, dan setelah itu banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan padaku.Aku pun menceritakan semuanya.

 

Lee Jonghyun

Aku kaget mendengar pernyataan Taemin.Malam ini, aku dan dua member lainnya berencana untuk menemui Rae Mi di rumahnya.Bukannya berlebihan, tapi mereka berdua itu inspirator lagu-lagu band kami.Sejak SHS dulu mereka yang selalu mensupport kami, jadi kami tak bisa membiarkan mereka berpisah.Lagi pula mereka adalah pasangan yang serasi menurutku.

TING!TONG! ku tekan bel rumah Rae Mi. Kami bertiga sempat ragu akan keberadaan Rae Mi di rumahnya. Karena cukup lama dia tidak membukakan pintu.Tapi saat kami hendak pergi.KREK!Ada yang membuka pintu.

Nugu-ibnikka?” tanyanya dalam bahasa formal namun dengan nada bicara yang malas.Dia terlihat sangat lucu dengan piyama biru langit bermotif pisang-pisang kecil berwarna kuning.

“Hahaha!” kami bertiga tertawa bersamaan.

Bukannya kaget dia malah terlihat sangat kebingungan, mungkin menurutnya dia sedang bermimpi.Dia mempersilahkan kami masuk dan mengambil beberapa kotak minuman.

“Kenapa oppa kesini?Apakah ada sesuatu yang terjadi?” dia bertanya masih dengan nada lambat, sepertinya nyawanya belum terkumpul seutuhnya.

Ne, sesuatu yang besar terjadi!”Kibum berkata dengan suara yang lumayan keras.

Mwo?Apa itu?” dia terperanjat.

“Hahaha,” kami bertiga tertawa.Dia hanya menggaruk kepalanya.

Ya! Oppa!Ada apa sebenarnya kalian datang selarut ini?” dia terlihat sedikit kesal karena tidurnya diganggu.

Mianhae, kita hanya ingin mendengar konfirmasi darimu.Apa maksud dari hubungan kami sudah berakhir?”Minho langsung bertanya.

“Maksudnya?”

“Taemin, dia bilang begitu!”Kibum menjawab.

“Taemin?” tanyanya lagi.

“Hubungan kau dan Taemin!” aku tak sabar.

“Oh, itu…mungkin itu yang terbaik oppa,” nada suaranya melemah.

Babo! Shin Rae Mi Babo!” aku menatap Rae Mi tajam.

Dia hanya bengong, tak mengerti.

“Kalau kau tak mau kehilangan Taemin seharusnya kau lebih sering berada di dekatnya bukan malah mundur seperti ini!”Minho terbawa emosi.

Dia tetap bengong, tak mengeluarkan sepatah katapun.

“Satu lagi, kami oppa mu bukan Taemin, tapi kenapa kau memberi kami banana milk??”Kibum menambahkan.

“Huft…” dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya. “Apa aku salah?” tanyanya.

Ne!” kami bertiga kompak.

“Tapi bukannya kalian juga suka banana milk?Atau…ah iya, aku ada produk baru GamMi, gamgyul milk, kalian mau coba?” tanyanya polos.

Ya! Shin Rae Mi! apa kau masih belum mengerti maksud kedatangan kami ke sini?” Minho bangkit dari tempat duduknya.

“Arasseo yo,” dia bangkit juga dari duduknya.“Tapi ini tidak adil!Kenapa aku yang kalian salahkan?Aku hanya tidak ingin mengganggu Taemin dengan kecemburuanku, itu saja!” lanjutnya emosi.

“Apa sebenarnya yang kau pikirkan Shin Rae Mi?Coba kau pikir ulang!”Kibum menimpalnya.

“Sudahlah lebih baik sekarang kalian pulang, aku mau istirahat!” dia mendorong kami keluar dan BRAK! Dia menutup pintu cukup keras.

“Huft, bagaimana ini?”Minho bergumam.

 

Shin Rae Mi

Waeyo?Kenapa aku yang disalahkan?Apa keputusanku ini salah?” aku menangis di atas tempat tidurku sambil memeluk boneka pisang pemberian Taemin di hari ulang tahunku satu tahun yang lalu.

 

cause you’re still in my room

Wandering the sea of life, all the lost dreams

are in the corners of my desk drawers

you were hidden within them

A picture of you I found in a box, under a layer of dust

A love letter filled with my young heart

and everything of you

 (In My Room-SHINee)

…entahlah hyung, aku lelah… (Lee Taemin)

Shin Rae Mi

Tiga bulan kemudian…

Aku lebih banyak menghabiskan waktu di kantor, Jinki telah keluar dari rumah sakit, namun karena kondisinya yang masih lemah, dia belum bisa banyak bergerak. Setiap hari setelah pulang dari kantor, aku sempatkan mampir ke rumahnya untuk melaporkan keadaan di kantor, huft, cukup melelahkan bagiku.

Hubunganku dengan keluarga Jinki semakin membaik.Orang tua Jinki tidak mau lagi mendengarku memanggil Jinki dengan sebutan bos, tapi harus oppa.Jadi aku punya keluarga baru sekarang hehe, pikirku.Tapi sebenarnya sampai sekarang pun terkadang aku masih menyebutnya bos.

Hari demi hari ku jalani tanpa kontak sekalipun dengan Taemin.Aku kira itu bisa membantuku melupakannya.Tapi, semua itu percuma, saat aku datang ke rumah, semuanya kembali menggangguku, sosok Taemin selalu terlihat di rumahku.Apalagi saat aku masuk ke kamarku, barang pemberian Taemin tetap terpajang di situ.Sempat aku berpikir untuk membuangnya, tapi aku tak tega, aku tak bisa.

 

Lee Jinki

Aku senang, bisa keluar dari rumah sakit.Walaupun dalam waktu tiga bulan ini aku masih harus mejalani terapi, karena tangan kanan ku masih belum bisa di gerakkan secara sempurna. Walaupun aku belum bisa stand by di kantor, tapi Rae Mi selalu datang untuk memberi laporan, dia memang asisten terbaikku.

Tapi, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Jika aku mendengar setiap laporannya, begitu detail dan sempat aku berpikir kalau dia tidak pernah beranjak dari sana. Belum lagi kunjungan-kunjungan lainnya.Ditambah lagi dia harus datang ke rumahku untuk memberikan laporan.Lalu bagaimana dengan Taemin?Terlintas dipikiranku.Aku berniat untuk menanyakan hal ini pada Rae Mi saat dia datang ke rumahku nanti.

Annyeong haseyo,” aku mendengar seseorang masuk ke kamarku, itu suara Rae Mi, tebakku.

Dan ternyata memang benar.Aku membiarkan dia masuk ke kamar dan sekarang kami duduk di balkon.Mungkin jika dilihat sekarang ini hubunganku dengannya sudah tidak seperti bos dengan anak buahnya, tapi lebih seperti saudara.Apalagi sejak dia sering datang ke rumahku, eomma dan appa sangat senang melihatnya dan sempat menyuruh Rae Mi tinggal di sini, hmm.

Satu jam berlalu, Rae Mi telah selesai melaporkan situasi kantor hari ini. Dia meminum susu coklat hangat yang aku sediakan. Tampaknya dia sangat kehausan setelah bicara panjang lebar.

Mianhae, di rumahku tidak tersedia banana milk,” aku mulai memancingnya.

Dia mengerutkan dahi tampak terkejut.

“Kenapa tiba-tiba menyinggung banana milk?Bukannya setiap aku ke sini kau selalu memberikan susu coklat hangat untukku?” katanya.

“Iya sih, tapi bukannya kau sangat suka banana milk?Sama seperti Taemin,” aku mulai menyinggung Taemin.

“Haha, kau ini bicara apa oppa?Aku tidak sefanatik itu,” dia mencoba menghindar.

“Oh iya, besok oppa ke kantor kan?” dia mengganti topik.

Ne, besok aku akan ke kantor, jadi kau boleh libur,” aku ingin tau jawabannya. Biasanya kalau aku memberi dia libur dia sangat senang karena itu adalah kesempatan untuk bisa bersama Taemin.

Mwo?Kalau begitu lebih baik kau di rumah saja, aku tak mau libur!” jawabnya ketus.

Aku terkejut, kenapa dia bicara seperti itu.

“Aneh, biasanya kau senang aku beri libur, bukannya itu kesempatanmu untuk bersama Taemin? Sudahlah kau libur saja, aku ingin melihatmu segar di hari berikutnya!” kataku sedikit berteriak.

Sirheoyo! Sudah ku bilang, aku ingin ke kantor! Aku pulang!” dia berdiri dan berlalu.

Ya!Aku belum selesai bicara!” aku menghentikannya.“Kau ini kenapa?Apa ada masalah dengan Taemin?” bicaraku berubah halus.

Dia terdiam sejenak.

“Aku pulang,” dia tidak menjawab pertanyaanku.

Aneh, apa sebenarnya yang terjadi? Benakku bertanya.

 

Shin Rae Mi

Aish! Kenapa kau terus bertanya tentang Taemin, Lee Jinki! Aku menggerutu dalam hati.Sekarang aku berada di sebuah bus yang lumayan sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Tiba-tiba aku melihat showbiz di tv yang terpasang di dekat sopir.

“Lee Taemin,” kataku pelan.

Aku melihat berita bahwa Taemin akan melakukan showcase di Jepang bersama SHINee band. Tepatnya di Tokyo Dome. Satu minggu lagi. DEG! Jantungku berdegup kencang.Mendengar kata Tokyo Dome mengingatkan ku pada masa lalu. Ah sudahlah itu hanya masa lalu! Lagi pula sekarang aku sudah tak punya hubungan apa-apa lagi dengannya.Aku mengacak rambutku.

 

Lee Taemin

Ya, Taemin, apa kau tak ingin memberitahunya?” suara Kibumhyung membangunkanku yang sedang terkantuk di depan laptopku.

Akhir-akhir ini aku sering menginap di dorm SHINee band, untuk persiapan showcase kami.Sementara reality show ku, telah berakhirsejak satu bulan yang lalu.Aku lega reality showku berakhir, tapi hatiku tidak selega itu.

“Entahlah hyung, aku lelah, jaljayo,” aku meninggalkan laptopku dan pergi ke kamarku.

Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur, tapi rasa kantukku hilang.Seketika aku mengingat seseorang, Shin Rae Mi, bagaimana kabarmu sekarang?benakku berkata.

Aku sangat merindukannya, ku lihat handphone ku, tak ada pesan ataupun panggilan yang masuk.Biasanya Rae Mi yang selalu meramaikan handphoneku.

Ddrrrt…Dddrrrrrttt…! aku sedikit kaget handphone ku bergetar saat ku menyimpannya tepat di dadaku.

Yeoboseyo?” kataku pelan.

“Taemin-ssi? Aku Jinki,” Deg! Jinki? Lee Jinki, bosnya Rae Mi? aku terkejut ada apa dia meneleponku malam-malam.

Ne, ada apa?” tanyaku.

“Apa hubunganmu dengan Rae Mi baik-baik saja?…” Jinki bertanya panjang lebar tentang hubunganku dengan Rae Mi.

“Itu sudah berakhir Jinki-ssi, maaf aku harus istirahat,” aku menutup telepon.

Entah kenapa aku merasa terganggu jika seseorang menanyakan soal hubunganku dengan Rae Mi, ku akui aku sangat merindukannya.

Aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.Dan aku pun terlelap.

 

…seandainya kau ada di sini… (Lee Taemin)

 

Lee Taemin

Saat ini pun datang, aku menginjakkan kaki di bandara Haneda sekarang ini. Aku dan SHINee band bersiap untuk melakukan gladi resik di Tokyo Dome.

“Ayo semangat!”Jonghyun hyung menepuk pundakku.Dia terlihat sangat ceria hari ini. Ya, akupun harus ceria! Ini showcase pertamaku di Jepang.Aku mengepalkan tangan.

 

Shin Rae Mi

Aku berguling di atas tempat tidurku. Aku kesal! Jinki melarangku datang ke kantor lagi hari ini. Huft sungguh menyiksa. Sudah tiga kali aku dilarang security untuk masuk kantor. Apakah aku dipecat?Pikirku. Tapi bukan itu alasannya, Jinki menyuruhku untuk istirahat dulu dari urusan kantor, dan menyuruhku jalan-jalan, apa maksudnya? Benakku menggerutu.

TING! Ada email masuk. Aneh tidakbiasanya ada orang yang mengirimku email.

[Bangun! Jangan bermalas-malasan di tempat tidur seperti itu! Kau harus ikut aku menemui klien hari ini! Aku tunggu kau di bandara sekarang juga!]~Lee Jinki~

Mataku terbelalak.Apa maksudnya? Kenapa mendadak seperti ini?Aku tak henti-hentinya menggerutu hingga sampai di bandara.

Ya!Lee Jinki!” aku memanggil seseorang yang berada dihadapanku sekarang.Tapi betapa malunya aku, ternyata aku salah orang, itu bukan Jinki tapi sopirnya.

“Mohon maaf pak, aku kira bos Jinki,” tapi dia hanya tersenyum tenang.

“Ini, titipan dari tuan Jinki,” dia langsung pergi. Aku memanggilnya tapi dia tidak mendengarkanku.

Ada secarik kertas dan satu tiket menuju Haneda Airport yang telah bertuliskan namaku.

[Kau ini lama sekali! Dasar Rae Mi babo! Sejak kapan cara kerjamu lambat seperti ini?? Aku berangkat duluan, ku tunggu kau di bandara Haneda, klien kita sudah menunggu di sana] ~Lee Jinki~

Mwo?Haneda? Itu kan… aku baru menyadari, Haneda Airport itu di Tokyo. Belum selesai aku berpikir, tiba-tiba ku dengar pengumuman bahwa pesawat tujuan Hanedaakan segera berangkat, dengan segera aku berjalan cepat menuju pesawat yang akan aku tumpangi.

Yokoso Japan, Rae Mi-ssi” seorang guide menghampiriku dengan mengucapkan selamat datang dalam bahasa Jepang.Aku bengong, karena aku tak mengenalnya.Kenapa dia bisa tau namaku?Banyak pertanyaan di benakku.

“Selamat datang, Rae Mi-ssi, saya diutus tuan Jinki untuk mengantar anda ke suatu tempat, silahkan,” dia mempersilahkan ku masuk ke sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam. Aku kira dia tak bisa bahasa korea, ternyata dia orang korea juga, hehe.

“Jinki yang menyuruh anda melakukan ini untukku?” tanyaku di tengah perjalanan.

“Iya,” jawabnya dengan ramah.

“Memangnya dia sekarang dimana?” tanyaku heran, kenapa Jinki bermain petak umpet seperti ini, pikirku.

“Tuan Jinki harus menjalani terapi lagi hari ini, jadi dia kembali ke Seoul dan mengandalkan anda untuk bertemu klien nya sendirian,” jawabnya sambil tersenyum tenang.

MWO?” aku tersentak kaget.Apa maksudnya ini, dasar Lee Jinki, babo!Gerutu ku lagi untuk yang kesekian kalinya.

 

Lee Taemin

Ne, gamsahamnida,” ku dengar Jonghyun hyung tengah mengobrol dengan seseorang di ponselnya.Entah itu telepon dari siapa yang pasti wajahnya sangat berseri-seri.

“Lee Taemin, tunjukkan yang terbaik dari hatimu! Minho, Kibum, ayo kita kumpul dulu,” ajak Jonghyun hyung.

Sudah menjadi kebiasaan kami sesaat sebelum tampil, berkumpul membentuk lingkaran kecil untuk berdo’a dan berharap semoga bisa mempersembahkan yang terbaik di setiap penampilan kami.

Sebentar lagi acara dimulai.Aku sedikit nervous. Seandainya kau berada di sini untuk menenangkan hatiku Rae Mi, DEG! Kenapa tiba-tiba aku teringat padanya.Aku memukul kepalaku beberapa kali untuk mengusir sosok Rae Mi dipikiranku.Aku tak bisa berbohong, bahwa aku masih mengharapkannya.

 

Shin Rae Mi

Mobil yang aku tumpangi terhenti di depan sebuah gedung yang bertuliskan TOKYO DOME.

“Apa ini?” aku tak percaya.

Mobil melaju lagi menuju ke basement gedung itu.Mataku tak berpaling dari tulisan tadi, sampai akhirnya aku tak bisa melihatnya karena mobil yang aku tumpangi telah masuk ke bagian dalam basement.Pikiranku kacau saat ini, aku tak bisa memprediksi apapun.

GREK! Seseorang membuka pintu mobil dan menggiringku keluar, aku hanya bisa mengikuti apa yang dia arahkan. Hingga aku sampai di sebuah tangga yang terhubung entah dengan ruangan apa, yang pasti ruangan itu sangat ramai.

Seorang kru memberi isyarat padaku untuk menaiki tangga dan masuk ke ruangan itu.Aku seperti terhipnotis, hanya bisa bengong lalu berjalan selangkah demi selangkah menaiki tangga itu.Ku buka tirai yang menyerupai pintu, ku buka mata lebar-lebar dan akhirnya aku tau dimana aku berada.

“Ini…” aku tak melanjutkan perkataanku.

Aku berada di kursi merah VIP tingkat dua di Tokyo dome.Ku lihat ke sekelilingku, telah dipenuhi oleh banyak orang yang membawa lightstick berwarna biru aqua, tak salah lagi mereka adalah penggemar SHINee band.

I wanna know you nuyeh gyute

We got the flow it’s break your naughty

I wanna show it daboyuhjoolgeh

You got the flow it’s through my body

We are living in the SM Town

Yeah! Welcome to the SHINee World

Come on! Ya’ll!

Get the beat down

(Doo Bop-SHINee)

Konser telah dibuka dengan lagu Doo Bop-SHINee, diikuti dengan kemunculan member SHINee band di panggung.

Ini bukan pertama kalinya aku melihat penampilan para oppa ku, tapi kali ini hatiku benar-benar bergetar, tampilan mereka sangat keren! Jauh lebih keren dari yang sebelumnya!

“Woo!” aku berteriak sambil tepuk tangan. Seketika aku lupa terhadap apa yang membuatku ada di sini.

Lima belas menit telah berlalu, sudah dua lagu yang dibawakan oleh SHINee band.

Yeoreobun, terima kasih atas kedatangan kalian, sekarang kita lihat siapa yang akan tampil,” Jonghyun oppa berkata dengan semangat.

“Lee Taemin! Lee Taemin! Lee Taemin!” ku dengar sorak sorai penonton, aku terpaku mendengar kata Lee Taemin.Apakah setelah ini adalah penampilan Taemin?Tanya benakku.

“Kita sambut… Lee Taemin!” Jonghyun oppa beserta ketiga temannya serempak memanggil Taemin.

“Ayo Taemin sapa dulu penonton di sini,” perintah Kibumoppa.

Annyeong haseyo, Taemin imnida,” ku dengar suara lembut Taemin.Suara ini, benar-benar aku rindukan.

“Aaaaaa!” jeritan penonton mengusik keterpakuanku.

Taemin dengan setelan jas putihnya membuat dia terlihat sangat bersinar.Dia mulai memainkan jemarinya di atas piano dan bernyanyi.

In the hard and tiring night, I’m always next to you.

After I kiss you as you sleep, yes you baby.

Nobody in the world can own my happiness,

You’re the one and only angel of mine, yeah.

You’ll never cry anymore in the bumpy road, don’t cry

I’ll shine for you~~

 

 (Only One For Me-Soulstar)

—————————–

…You are the only one for me… (Lee Taemin)

 

Shin Rae Mi

So baby you don’t have to let me go

Nae modeungeol nege bachyeol

eonjena neol jikkyeoljuneun gisaga dwieo

yeongwontorok dan han saramman saranghagil wonhae

I can do all for you

Cause you’re the only one for me

(Only One For Me-Soulstar)

Hatiku bergetar mendengar Taemin menyanyikan lagu itu, air mataku mengalir begitu saja di pipiku.Apakah lagu itu untukku Taemin?Benakku berkata.

 

Lee Taemin

“Huft, akhirnya selesai juga,” aku menghembuskan napas panjang.Showcase ku bersama SHINee band telah berjalan dengan lancar.

Beberapa kru dan staf memberikan selamat kepadaku juga pada SHINee band.Kami tertawa dan saling menceritakan kesan kami dengan keringat yang masih mengguyur tubuh.

Tawaku terhenti saat ku lihat Jonghyun hyung mengisyaratkan sesuatu padaku.Jonghyun hyung mengangkat dagunya untuk menunjukkan sesuatu di belakangku dengan refleks aku berbalik danaku tercengang melihat siapa yang ada di hadapanku sekarang ini.Rae Mi, ya Shin Rae Mi, dia berdiri di depan pintu.

“Rae Mi-ya,” kataku pelan.

Dia tersenyum dengan air mata yang menggenangi pipinya, dia menghampiriku dan memelukku erat, erat sekali. Hingga membuatku sulit bernapas, tapi aku tidak keberatan akan hal itu. Aku membalas pelukannya.Aku memejamkan mataku untuk merasakan hangat tubuhnya, ini yang aku rindukan selama ini.

Mianhae yo, jeongmal mianhae,” dia menangis tersedu.

“Kau datang,” kataku masih memejamkan mata.

Ne,” jawabnya dengan suara bergetar.Aku merasakan air matanya membasahi bajuku yang kini telah berganti menjadi t-shirt hitam.

Gomawo,” aku semakin mengeratkan pelukanku.

Baru kali ini aku memperlihatkan kedekatanku dengan yeoja di depan orang lain selain SHINee band.Aku tak memperdulikan itu.Yang ada dipikiranku saat ini hanyalah Rae Mi, Rae Mi yang datang padaku dan berada dipelukanku sekarang ini.

 

Shin Rae Mi

Malam ini aku ikut ke hotel dimana Taemin dan SHINee band menetap di Jepang.Jonghyun oppa yang menyuruhku.Aku merasa malu karena harus ikut rombongan mereka, tapi saat kami tiba di hotel semuanya terungkap.

Malamini kami tak langsung tidur.Ya, tidur hanyalah mengurangi moment indah, pikirku. Sekarang aku, Taemin, member SHINee band dan manajernya berada di ruang santai yang dilengkapi tv 32 inci dan sofa panjang yang sangat empuk juga lembut. Taemin duduk di samping kananku, sedangkan Jonghyun oppa di samping kiriku.

TING!TONG! terdengar bel pintu kamar kami berbunyi. Minho oppa membukakan pintu.

“Selamat datang,” katanya. Eh? Siapa yang datang?pikirku.

Annyeong haseyo,” aku benar-benar kaget saat melihat sosok Jinki masuk.

“Lee Jinki?” kedekatanku dengannya membuatku jadi sedikit merasa bebas untuk memanggilnya dengan sebutan apapun.

Ya!Aku ini bosmu, Shin Rae Mi!” dia membentak dilanjutkan dengan tawa.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku heran.

“Hmm…” dia melirik ke arah Jonghyun oppadan tersenyum licik.

“Apa maksudnya?Ya! Oppa, Jonghyun oppa! Cepat katakan sesuatu!” aku sedikit membentak.

Taemin hanya tersenyum seolah-olah mengerti apa yang terjadi. Akhirnya aku tau, yang meyusun semua ini adalah Jinki. Dia bekerja sama dengan member SHINee band terutama Jonghyun oppa. Huft, aku kesal.

Ya!Lee Jinki kenapa kau tidak memberitahuku soal ini?” aku marah tapi dalam hatiku, aku sangat berterimakasih, kalau bukan karenanya aku tak bisa berada si samping Taemin sekarang.

Ya!Shin Rae Mi kalau aku memberitahumu dari awal, kau pasti akan menolaknya,” dia membalasku.

Aku dan Jinki tak ada hentinya saling menyalahkan, sampai akhirnya Kibumoppa membawa soda untuk diminum bersama.

Saat yang lain sedang asik meminum soda, Taemin menarik lenganku dan mengajakku ke balkon.

“Lihat itu, indah kan?” dia menunjuk langit malam Tokyo yang di hiasi bintang.

Ne, areumgun-yo,” kataku sambil melihat ke langit.

Taemin memelukku dari belakang, dia menyimpan dagunya di bahuku.

Gomawo,” dia berbisik di telingaku.

Aku menggelengkan kepala, “Harusnya aku yang berterima kasih padamu, karena kau masih mau menerimaku,”.

Dia melepaskan pelukannya, dan menghadapkan tubuhku ke arahnya.Dia mendekatkan wajahnya.Kini wajahku sangat dekat dengan wajahnya.

“Rae Mi-ya,” Taemin menatapku dalam.

Ne?”

“You are the only one for me,” tak lama setelah dia mengucapkan itu, kurasakan sesuatu menyentuh bibirku, sentuhan hangat dan penuh kasih sayang. Cukup lama kami melakukan itu, hingga Jonghyun oppa tak sengaja memergoki kami.

“Ups!Mianhae,” dia pun berlalu sambil cekikikan.

Pipiku dan pipi Taemin memerah, menandakan malu yang luar biasa pada Jonghyun oppa.

Kami kembali memandang langit dengan tangan Taemin yang melingkar ditubuhku, mendekapku dari belakang.Gomawo, Taemin, saranghaeyo, benakku berkata.

~THE END~

__________________________________________________________________________________________________

Naaaaah…segini ajaaaa !!! Maaf kalau ceritanya panjaaaaang…sekali 😀 semoga menarik n pada suka yaa. Comment readers sangat berharga,gomawo ^^

Advertisements

32 responses to “Only You

  1. woah~ daebak 😮
    aku kasian sama jinki. dia rela raemi buat taem :’)
    tapi si taem napa harus ciuman ama naeun? saya envy bgt T.T
    tapi keren kok~ keep writing ^^9

  2. Author, tokyo dome kan stadion model gbk? Tapi 1/3 lebih kecil sih katanya
    Tapi ceritanya keren u.u demen banget cerita model gini hihi kasian ya onyu kenapa merana gitu kayaknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s