Emulsifier

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Title : Emulsifier

Author : baeklashift

Length : Ficlet

Genre : Horror

Rating : PG-13 Parents Strongly Cautioned

Main Cast : Byun Baekhyun (EXO)

577180_364257046965222_361418490582411_1024967_911148750_n

“Aku sudah bilang berhenti berpencar” ujar seorang wanita paruh baya dengan mata memutar, kesal. Sebelah tangannya menggenggam sebuah pen dan sebelah lainnya meremas gulungan kertas kecil. “Ya Tuhan, aku tidak yakin sedang berhadapan dengan siswa teladan. Dan—-dimana Byun Baekhyun dari kelas ilmiah?”

“…..”

“Byun Baekhyun?” Wanita dengan name tag bertuliskan ‘Mrs. Lee’ itu kembali menyerukan nama yang sama sembari mengamati kerumunan kecil anak didiknya. Chungdam High School, salah satu dari sekian banyak sekolah di Seoul, sedang mengadakan Study Tour dengan siswa teladan tahunan di Edinburgh, Scotland. Scotland mempunyai sejarah panjang dan aneh. Salah satunya adalah tentang jembatan yang terkubur di bawah tanah. Mereka akan mempelajari sejarah Scotland dengan sebuah proposal lengkap diakhir minggu nanti.

“Disini,” teriak sesosok lelaki kecil dengan tangan yang melambai heboh dari kejauhan. Lelaki yang mengaku bernama Baekhyun itu berlari cepat berusaha mencapai barisan terdepan kelompok study tour-nya. “—baekhyun disini, Mrs.Lee” lanjutnya dengan nafas terputus-putus diselingi cengiran bersalahnya.

“Apa sudah terlalu penasaran dengan kota tua ini Byun Baekhyun?” Baekhyun mengangguk mengiyakan lalu mengulum senyum malu.

Tidak. Dia bohong.

 Baekhyun bermaksud mencari kamar kecil saat Mrs.Lee mulai mengabsen. Baekhyun tidak tahan sejak pertama kali menginjakkan kaki dihalaman bangunan tua-yang diperkenalkan Mrs.Lee sebagai hotel-tempat mereka berada sekarang. Seperti ada yang memperhatikan, tapi saat dia mulai mengamati sekeliling bangunan tua itu, tidak ada seorang pun yang bertemu pandang dengannya. Dia menggerutu pada dirinya sendiri ketika Mrs.Lee mulai membagikan kunci pada setiap orangnya dan memberi perintah untuk beristirahat hingga tour hari pertama dimulai.  Ada satu tempat yang luput dari pandangannya. Atap.

                                                                            ()()()()()()

Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali. Kakinya melangkah perlahan memasuki ruangan yang akan menjadi kamarnya selama tiga hari kedepan. Dia memang tidak berharap akan melihat ruangan mewah dengan segala fasilitas modern-mengingat bangunan luar hotel yang kuno-tapi juga tidak berpikir semuanya akan separah ini. Lemari kayu yang terlihat rapuh berdempetan dengan meja berukuran sedang dengan debu tebal pada permukaannya. Gorden usang terpajang menutup dua kaca jendela dibaliknya. Beberapa lukisan kuno menghias-sebenarnya tidak dapat dikatakan menghias sebab lukisan tersebut jauh dari kata indah-berderet teratur pada dinding kumuhnya. Dan terakhir, sebuah ranjang polos yang terlihat mengerikan. “Berdoa saja aku akan betah.”

                                                                           ()()()()()()

Baekhyun menghabiskan waktu dengan menekuni tahap awal pembuatan proposal study tour-nya saat matanya berhenti pada jam disebelah meja kayu tersebut.

1:23 AM

Dengan perlahan kakinya berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri diatasnya. Baekhyun menyandarkan kepala di atas bantal. Dia baru saja akan terlelap dalam mimpi indahnya saat telinganya mendengar teriakan hebat dari lantai paling atas hotel tersebut, atap. Sangat memekakan telinga karena jeritan kasarnya yang mengaung kesakitan. Baekhyun terduduk, mengucek matanya sekilas lalu berjingkat membuka gorden usang yang menutup jendela kamarnya.

“Oh, Ya Tuhan!!” pekiknya tertahan saat melihat seorang wanita tua yang melompat-terjun-terjatuh- entahlah, yang jelas, tubuh wanita itu melayang dari atas bangunan tempatnya berada. Sekilas, baekhyun seperti melihat darah segar yang mengalir deras dari sebelah mata wanita itu dan sebelah mata yang lain gelap, seperti rongga kosong. Dengan cepat kakinya berlari keluar kamar dan menyusuri tangga yang lagi-lagi tidak jauh dari kata tua dan kumuh. Jangan salahkan Baekhyun, karena tangga itu benar-benar kumuh dan menyeramkan. Dia bahkan tidak sampai hati untuk menambahkan nilai minus-yang entah sudah keberapa-untuk hotel ini. Tidak ada lift yang dapat menghubungkan setiap lantainya.

Baekhyun melewati penjaga lobi begitu saja dan terus berlari menuju bagian samping bangunan tersebut, tempat terjun, jatuh, melompat, dan melayangnya si wanita tua.Baekhyun menyipitkan mata menatap bangunan kuno dihadapannya dengan nafas tersengal. Dia baru saja akan berlari mendekat untuk menolong wanita tua yang terjatuh itu, tapi nyatanya tidak ada siapa siapa disana.

Kakinya membatu ditempat.

Matanya berkedut memperhatikan keadaan sekitar, namun nihil. Tidak ada wanita tua yang terjatuh dari atas bangunan itu. Tidak ada orang-orang yang berkerumun untuk menolong. Tidak ada mobil polisi yang berpatroli. Tidak ada siapa-siapa. Yang menyambutnya hanya kegelapan yang luar biasa mencekam. Apa semuanya hanya halusinasi?

Sembari menghela napas panjang, Baekhyun lantas mulai melangkah kembali menuju kamarnya, sekali lagi, melewati penjaga lobi yang menatapnya prihatin dan merebah diatas ranjangnya.  Karena terlalu lelah, Baekhyun kemudian tertidur tanpa sadar.

                                                                     ()()()()()()()

Baekhyun bangun siang keesokan harinya dengan lingkaran hitam di bawah mata. Kakinya melangkah ringan menuju coffe shop yang berada tepat diseberang jalan. Dia bahkan tidak terlalu peduli dengan kelompok study tour-nya lagi.

pasta dan berry blunch” Baekhyun memesan pada seorang lelaki tinggi berambut pirang dibalik konter, lalu memainkan ponsel sampai pesanannya terhidang. Saat tangannya akan bergerak memegang kedua sisi nampan, pandangannya bertemu dengan sosok wanita dibalik konter. Matanya menyipit dan tubuhnya melompat mundur dengan cepat. Suara jeritannya tercekat di tenggorokan. Si pirang menghilang. Refleks, si penjaga konter menunjuk ke sisi lain coffe shop sembari mengulum senyum. Baekhyun menoleh mengikuti arah pandangan penjaga konter dan mendapati si pirang yang dicarinya tengah menunduk, memakai sepatu kets putih. “Syukurlah. Kukira hantu.” gumamnya bodoh.

“Hantu? Apa kau menginap diseberang?” tanya si penjaga konter kemudian.

Sebuah anggukan pelan. “Apa kau melihat seseorang?”

“ng—tentu. Aku bahkan melihat lebih dari satu orang di dalam sana. Teman-temanku, Mrs.Lee, penjaga lobi dan yang lain—-“ Baekhyun mengusap dagu seolah tengah memikirkan sesuatu dan dia teringat kejadian tadi malam. Dia mengedikkan pundak sambil tertawa kaku, “—-seseorang seperti apa yang kau maksud?”

“Silahkan duduk. Akan kuceritakan” Baekhyun mengangguk singkat dan mengangkat nampannya kesebuah meja dipojok ruangan yang dipilihkan oleh si penjaga konter.

“Sesosok wanita tua dengan senyum yang mengerikan pada wajahnya. Tidak ada yang mengenalnya dekat, tidak ada yang berani. Sampai suatu malam terdengar teriakan hebat dari atap hotel tersebut. Sangat memekakan telinga karena jeritan kasarnya yang mengaung kesakitan. Wanita itu dibunuh—-” si penjaga konter berhenti, menganggukkan kepalanya singkat sembari melambai kecil pada si pirang tinggi yang baru selesai memakai sepatunya dan melangkah keluar dari coffe shop. Matanya kembali beralih pada Baekhyun yang tengah melirik ke arah jendela, lalu melanjutkan, “—tungkai kakinya terbalik, sebelah matanya bolong sedangkan sebelah lain tidak berhenti mengeluarkan darah. Menjijikkan. Setelah dibunuh, wanita itu dijatuhkan dari atap hotel yang menyebabkan tubuhnya dingin dan kaku meskipun dalam wujud roh. Tidak ada yang tahu siapa pembunuhnya, sampai seluruh kasus ditutup”

“Kau tahu? Saat seseorang mati karena sebuah kecelakaan, mereka akan selalu mengulang kejadian yang sama setiap tahunnya. Rutinitas,” si penjaga konter menjelaskan. Baekhyun sontak menghentikan sarapannya. Matanya membulat tidak percaya sedangkan tangannya sibuk mencengkeram ujung sendok aluminium dalam genggamannya. Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia tidak berani mendengar apa yang akan dikatakan si penjaga konter selanjutnya.

“dan kemarin adalah hari kematiannya”

                                                                          -END-

41 responses to “Emulsifier

  1. Waaa… ending-nya berasa menggantung, chingu .___.
    berarti apa yg dilihat baek malam itu gak bisa jg dibilang halusinasi dong ya. trs trs, wanita tua itu udh dibunuh dulu2 banget dong ya? waaaa :O
    aku ngeri ngebayangin mata bolong satu ><

    keren chinguuu~! keep writing! ^^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s