LIFE [END]

life

Author : Asuchi

Cast :

*) Yoo Nayeon [OC]

*) Ricky / Yoo Changhyun [Teen Top]

*) Kevin Woo [U Kiss]

*) Oh Sehun [Exo]

*) Kim Kibum [SHINee]

*) Yoo Ah In [Actor]

*) Lee Nayoung [Actress]

*) Nayeon’s Friends

Genre : AU, OOC, Family, Angst,

Rate : T

Credit Pic : Aishita World

Disclaim : Nayeon punya Ditjao, Nayeon’s friends punya aku, Cast lain punya agensi masing2. Khusus Lee Nayoung, dia punya Wonbin appa :p jalan cerita punya aku.

a/n : tamat? Akhirnya. Ini ff chap terpanjang dan terlama spanjang sjarah per’ff’an aku. Wkwk~ maaf mungkin buat yg ini ceritanya agak abu2, soal’a emang kudu abu2. Agak sedkit gak rela pake abang muda Ah In jd babe’a si kembar, tapi gak ada pilihan lain, wkwk. Semoga akhir’a bisa diterima oleh semua pembaca,  kalo mu protes silakan tinggalkan di halaman komentar /plak.

thanks to : Ditjao yg udah rela dinistain di ff ini, Para cast yang rela main 9 eps tapi kadang Cuma nampang dikit. Para pembaca yang udah sabar banget nunggu ff yg udah bulukan ini, udah ngikutin dari awal sampe akhir. Big thanks buat komentator yang mau luangin waktunya buat ketik komentarnya, saran kritik juga. Hontou Arigatou~

happy reading ^^

Previous Chap : LIFE [1] | LIFE [2] | LIFE [3] | LIFE [4] | LIFE [5] | LIFE [6] | LIFE [7] | LIFE [8] |

 “Jadi kau mau keluar dari sini?” Sehun bertanya pada Nayeon.

Nayeon mengangguk.

“Dan Kevin hyung akan mengantarmu pulang?” Sehun bertanya lagi.

Nayeon mengangguk.

“Kau yakin?”

Nayeon mengangguk.

Sehun menoleh pada Kevin yang duduk di samping Nayeon.

“Aku akan mengurus semuanya.” Kevin bicara.

“Baiklah. Silakan saja.” Kata Sehun kemudian dia pergi ke kamarnya.

Nayeon menoleh pada Kevin. “Sehun oppa kenapa? Apa dia marah?”

Kevin menggeleng. “Tidak. Kau pergilah ke kamarmu, bereskan barang-barangmu. Oppa sudah janji pada Kibum-ssi kalau oppa akan mengantarmu ke rumahnya.” Terangnya.

Nayeon mengangguk kemudian pergi ke kamar untuk membereskan barang-barangnya.

Kevin menghampiri pintu kamar Sehun dan mengetuknya sebelum membuka pintu yang memang tidak dikunci Sehun. “Kau marah?” Kevin bertanya.

“Aku tidak punya alasan untuk marah hyung.” Jawab Sehun. “Dia akan pulang kemana?” Sehun bertanya.

“Ke rumah suaminya, sementara sampai mereka resmi bercerai.” Jawab Kevin.

“Oh, baguslah. Berarti dia sudah bisa mengatasi satu masalahnya.” Kata Sehun.

“Kau lega?” Kevin bertanya lagi.

“Untuk?”

“Karena tak lama lagi dia akan resmi menjadi janda.” Jawab Kevin.

“Kenapa aku harus lega dengan statusnya nanti?”

Kevin tersenyum. “Kau sudah bisa berhadapan dengan Wonbin hyung. Kau sudah bisa bicara banyak lagi. Kau berubah sejak Nayeon datang. Kau sudah mulai bisa membuka hati. Meski awalnya karena kau kasihan padanya, siapa yang tahu nanti perasaanmu pada Nayeon akan seperti apa. Lagipula sepertinya Nayeon tidak punya lagi rahasia. Kau tahu lebih banyak dari orang terdekatnya sekalipun.” Kevin bicara panjang lebar. Dia menghampiri Sehun yang sedang duduk di sisi ranjang. “Sepupuku ini sepertinya bisa memulai lagi hidup barunya dan tidak terus terjebak dengan masa lalu. Aku rasa, Jaerin akan senang murid kesayangannya tidak lagi menangisi kepergian dia.” Ucap Kevin sambil menepuk pundak Sehun. Tak banyak yang tahu kalau Kevin dan Sehun sebenarnya sepupu jauh. Kevin memberikan senyuman terbaiknya saat Sehun mendongak menatapnya. “Tapi, aku juga tidak akan kalah darimu. Kita lihat siapa yang bisa menarik hati Nayeon.”

Mata Sehun membulat. “Hyung menyukainya?” Dia bertanya.

Kevin terkekeh. Dia tidak menjawab tapi langsung berjalan keluar.

“Sehun oppa tidak keluar? Aku mau pamitan padanya.” Nayeon bertanya pada Kevin yang baru saja menutup pintu kamar Sehun.

Kevin menggeleng. “Dia sedang tidak ingin diganggu. Ada hal yang membuatnya harus sendirian. “ jawab Kevin kemudian mengambil alih koper di tangan Nayeon. “Kajja. Kau tidak ingin kan kalau saudaramu lama-lama berdua dengan Kibum-ssi? Aku yakin mereka berdua akan kikuk karena masalah ini.” Ajaknya.

Nayeon menurut saja. Dia mengikuti Kevin yang berjalan di depannya.

LIFE 9

Nayeon memperhatikan isi apartemen tempat dia tinggal setelah statusnya berganti menjadi istri Kibum. Tidak ada yang berubah sejak dia dua kali kabur. Perasaannya selalu terasa hangat berada di sana. Karena orang yang Nayeon cintai tinggal di tempat itu.

Kevin dan Ricky sudah pulang ke rumah masing-masing. Mulanya Ricky memaksa untuk menginap, tapi dia kalah dengan Kevin yang menyuruhnya untuk pulang. Heran, Ricky selalu saja bisa dengan mudah ditaklukan oleh guru privat bahasa inggris gratisnya itu.

“Minggu depan oppa akan coba bicara dengan orangtuamu. Oppa akan mencoba mencari alasan yang tepat agar nanti kau tidak susah.” Kata Kibum ketika dia dan Nayeon makan malam.

Nayeon tersenyum lemah. Perasaannya belum benar-benar tertata rapi seperti seharusnya setelah semua kejadian hari ini. “Gomawo oppa.”

Kibum mengangguk sambil sesekali memperhatikan Nayeon yang terlihat tidak berselera dengan makan malamnya. “Makanlah yang banyak. Oppa tidak ingin kau sakit. Oppa sudah belikan kamu vitamin dan obat untuk kakimu. Nanti oppa ambil setelah kamu selesai makan.” Kibum bicara.

Rasa sesak mendominasi tubuh Nayeon. Andai dia dulu tidak memaksa untuk menikah dengan laki-laki di hadapannya, andai dia pelan-pelan berusaha agar Kibum mencintai dia dengan cara yang wajar, mungkin… dia bisa mendapatkan cinta Kibum yang tidak membuatnya tersiksa karena rasa bersalah seperti sekarang ini.

-o0o-

Plakkk…

Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Kibum.

“Appa?!”

Nayeon dan Kibum baru saja selesai dengan sarapan pagi mereka. Kibum sudah bersiap untuk mengantarkan Nayeon pergi ke sekolahnya saat suara bel rumah mereka berbunyi. Nayeon sedang berada di dapur untuk mencuci piring kotor, jadi Kibum yang membuka pintu.

Mengetahui Kibum yang membuka pintu, ayah Nayeon, Yoo Ah In, langsung melayangkan tamparannya.

Nayeon yang sudah selesai dengan mencuci piringnya ingin tahu siapa yang datang dan dia melihat adegan menampar itu dari jauh.

“Appa, kenapa appa menampar Kibum oppa?” Nayeon bertanya begitu dia sudah mendekati ayahnya.

Tapi Ah In seolah tidak peduli dengan pertanyaan putrinya. Dia menatap tajam ke arah Kibum. “Aku memang merasa sangat bersalah padamu karena harus membuatmu menikah dengan putriku dan merenggut kebebasan yang kamu punya. Dan aku sangat menyesal karena melakukannya.”

“Appa, apa maksudmu?” Nayeon bertanya lagi. Dia menuntut penjelasan.

Mata tajam sang ayah kini berpaling pada Nayeon. Dia memberikan beberapa tumpuk kertas. Beberapa foto dan sebuah surat. Ah In tidak bicara, tapi jelas dia menyuruh putrinya melihat apa yang dia berikan.

Nayeon mengambilnya dan membaca surat itu.

‘Annyeong haseyo Nayeon abonim,

Saya Park Haera. Anda mungkin tidak mengenal saya. Tapi saya sangat mengenal menantu anda. Saya di sini tidak berniat untuk menghancurkan keluarga putri anda. Saya hanya seorang perempuan yang ingin memberikan kebenaran kepada anda. Saya adalah kekasih Kibum. Saat ini saya sedang mengandung anaknya.

Saya mencari tahu keberadaan Kibum yang tiba-tiba menghilang, dan mengetahui fakta kalau dia sudah menikah dengan putri anda. Saat saya mencari tahu, ternyata bukan hanya saya yang sudah dipermainkan oleh Kibum. Saat sedang berhubungan dengan saya, dia juga menjalin hubungan dengan perempuan lain. Dia masih menjadi kekasih saya setelah dia menikah dengan putri anda. Kami hanya dipermainkan olehnya untuk kepuasannya sendiri. Anda pasti mengerti maksud saya.

Saya tidak ingin putri terus dibohongi dengan sikap manis Kibum. Karena itu hanya sikap palsu.

Jika anda memang percaya pada saya, saya dapat menjelaskan kepada anda secara langsung. Anda dapat menghubungi saya di alamat pos yang saya kirimkan.

Sekali lagi saya meminta maaf. Tapi semoga putri anda tidak lebih tersakiti lagi setelah ini.

 

Salam,

Park Haera.’

Mata Nayeon mengerjap beberapa kali. Mencoba untuk mengerti isi dari surat yang dibacanya. Pikirnya, mungkin ini cara yang Kibum ucapkan semalam. Tapi saat Nayeon melihat kumpulan foto yang ada di bawah surat itu, Nayeon merasa ragu. Itu adalah foto Kibum dengan perempuan yang berbeda-beda tiap foto. Pose yang terlihat di foto itu terlalu mesra untuk hanya sebagai teman. Nayeon sempat berpikir positif, mungkin itu foto-foto dari masa lalu Kibum sebelum menikah dengannya. Tapi ada beberapa foto dengan Kibum memakai pakaian yang Nayeon belikan setelah menikah, dan potongan rambut Kibum yang tidak jauh beda dengan sekarang, ragu Nayeon semakin kuat.

“Oppa, ini benar?” Tanya Nayeon masih berusaha untuk berpikir positif. Nayeon berpikir, ini mungkin cara yang Kibum bilang semalam. Tapi, Nayeon ragu. Ini terlalu mendadak, persiapan Kibum terlalu cepat menurutnya.

Kibum diam tidak menjawab, tapi dari wajahnya tidak terlihat rasa bersalah. Tak ada niat untuk menjawab juga. Seolah mengiyakan pertanyaan Nayeon.

“Appa kemarin sudah menemui Park Haera. Bertemu orang tuanya. Dia tidak bohong.” Kata Ah In menegaskan. “Ayo pergi, kita urus perceraian kalian secepatnya. Appa tidak pernah rela kamu diperlakukan seperti itu.” Ah In menarik lengan Nayeon. Mengajak putrinya untuk pergi.

“Tidak perlu abonim. Surat cerainya sudah ada. Saya juga sudah menandatangani suratnya, begitu juga Nayeon. Hanya tinggal mendapatkan pengesahan dari pengadilan dan kami bisa bercerai.” Kibum bicara. Nadanya terdengar sangat tenang.

“Apa maksudmu?” Ah In menatap calon mantan menantunya itu heran.

“Kami memang sudah memutuskan untuk bercerai. Tapi saya tidak menyangka akan secepat ini.” Kata Kibum sambil terkekeh. Tak ada tatapan lembut yang biasa Nayeon lihat. Kibum terlihat licik sekarang. “Silakan bawa putri anda pulang. Saya sudah sangat bosan terus bermain dengan nona manja.” Ucap Kibum.

Ayah dan anak di depan Kibum terlihat syok mendengar ucapan Kibum.

“Oppa, kau bercanda kan?” Tanya Nayeon masih terlihat syok.

“Tidak.” Jawab Kibum dingin. “Aku sadar lambat laun salah satu dari perempuan-perempuan sial itu pasti akan mengatakannya padamu. Lagipula, label suami tidak cocok denganku dan kau menginginkan perceraian kan? Kau mendapatkannya. Chukkae!”

Ah In sudah dalam posisi untuk menampar pipi Kibum lagi, tapi Nayeon mencegahnya. “Sudah appa. Lebih baik kita pergi.” Ucap Nayeon.

Sang ayah masih terlihat geram dan marah. Tapi melihat putrinya, Ah In berusaha menahan emosinya.

Nayeon pergi ke kamarnya sambil menarik tangan Ah In. tidak ingin ada pertengkaran lagi dengan Kibum. Nayeon membereskan pakaian yang dia punya, beruntung dia belum membongkar kopernya semalam. Dia hanya memasukkan pakaian tidur kotor juga pakaian yang dia pakai kemarin.

Nayeon terisak. Dia tidak mempercayai fakta yang baru saja dia dengar dari mulut orang yang dia cintai.

“Appa harus menghajarnya.”

“Tidak appa.” Cegah Nayeon. “Biarkan saja. Itu semua salahku. Aku mohon, kita pergi saja sekarang.” Kata Nayeon yang sudah selesai dengan kopernya. Nayeon berusaha mengusap air matanya, tapi tetap saja air matanya keluar dan keluar.

Ah In memeluk putrinya. Dia sangat menyayangi Nayeon. Meski Nayeon sudah berbuat hal yang sangat mengecewakannya, tetap saja sayang itu tidak pernah hilang. “Mianhae.”

Nayeon menggeleng di pelukan ayahnya. “Aku yang salah appa.” Kata Nayeon lirih.

Nayeon dan Ah In keluar dari kamar dan tidak melihat Kibum di manapun. Tapi keduanya tidak peduli. Ah in segera membawa Nayeon pulang ke rumah mereka secepatnya.

-o0o-

Nayeon mengurung diri di kamarnya seharian. Dia tidak percaya kalau hukuman baginya masih belum juga selesai. Belum lama sejak Nayeon berpikir mungkin nanti dia bisa memperbaiki hubungannya dengan Kibum. Membuat hubungan yang lebih terlihat normal. Belum lama sejak Nayeon berpikir kalau Kibum juga mulai jatuh cinta padanya. Belum lama Nayeon berpikir, dia akan tetap mencintai Kibum. Tapi hatinya sekarang terasa sangat sakit. Sisi lain Kibum yang tidak pernah dia tahu, kebaikan Kibum yang hanya kamuflase, Nayeon merasa itu terlalu menyakitkan.

Kedua orang tua Nayeon hanya bisa membiarkan putri mereka sendirian. Mereka sebenarnya tidak ingin Nayeon sendirian. Takut Nayeon melakukan hal yang nekat. Tapi sendiri adalah hal yang paling dibutuhkan oleh Nayeon saat ini.

Nayeon menangis, kemudian berhenti, mentertawakan diri sendiri, menangis lagi dan berhenti lagi. Begitu terus sampai dia merasa lelah dan tertidur.

Ah In membuka pelan kamar Nayeon saat tidak mendengar suara apapun dari dalam sana. Dia merasa lega karena putrinya masih bernafas meski tergeletak di lantai. Nafas Nayeon terlihat teratur. Dengan sangat hati-hati, Ah In membopong tubuh ringkih putrinya ke atas tempat tidur. Dia menangis.

“Mianhae.”

Ah In melihat bulir air mata menetes dari pelupuk mata Nayeon yang tertutup. Dia menghapusnya lembut. Mencium kening Nayeon sebelum meninggalkan kamar putrinya itu.

-o0o-

“Aku pulang.” Ricky baru saja masuk ke dalam rumah. Dia menemukan ayahnya sedang duduk bersama ibunya. Ricky melihat wajah suram dari kedua orang tuanya. “Appa, apa yang terjadi? Eomma?” Ricky bertanya lagi. Dia bingung.

“Nayeon….” Nayoung, ibu Ricky, menyebut nanma putrinya.

“Wae? Apa terjadi sesuatu padanya? Dia di sini?” Tanya Ricky lagi. Dia duduk di sofa di depan kedua orang tuanya. “Jelaskan padaku. Aku berhak tahu.” Tuntutnya.

“Mereka akan bercerai.” Kata Ah In.

Ricky tidak terlalu kaget dengan berita yang disampaikan Ah In. Tapi dia masih merasa ada sesuatu yang mengganjal. “Appa, kau tidak marah eoh? Nayeon akan bercerai dengan Kibum hyung. Appa kan…”

“Jangan sebut nama orang itu! Appa tidak mau mendengarnya.”

Ricky tersentak. Ayahnya benar-benar geram terlihat geram. “Ada apa dengan mereka? Jelaskan padaku.” Ricky menuntut lagi.

“Menantu ternyata bukan orang baik. Dia sudah menghamili perempuan lain.” Jawab Nayoung kemudian menangis.

“Jangan sebut dia menantu. Dia bukan siapa-siapa.” Kata Ah In sambil menepuk pundak Nayoung untuk menenangkan istrinya itu.

Mata dan mulut Ricky terbuka. Tidak butuh waktu lama warna putih di matanya berubah jadi merah. “Ya Tuhan, baru saja traumanya sembuh, sekarang dia harus mengalami hal seperti ini.” Monolog Ricky. Dia berusaha untuk tidak menangis, tapi tidak terlalu berhasil.

“Trauma apa?”Ah In menantap putranya.

Ricky terjebak. Dia keceplosan. Tapi kemudian, Ricky menceritakan apa yang terjadi pada Nayeon.

-o0o-

“Nayeon-ah, ayo makan.” Nayoung membangunkan Nayeon pelan.

Perlahan Nayeon membuka kedua matanya, berusaha mengembalikan kesadarannya. “Eomma.”

“Kau mau turun atau eomma bawa makanannya kemari?” Nayoung bertanya. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya di depan Nayeon. Nayeonnya yang terus menderita sendirian selama ini.

Nayeon duduk di tempat tidurnya, kepalanya terasa pening. Tapi dia kemudian bicara, “aku akan makan di bawah saja.”

Nayoung mengangguk. “Kajja. Appa dan Changhyun sudah menunggu kita di bawah.” Ajaknya.

Nayeon mengangguk dan turun dari tempat tidur dengan sedikit sempoyongan. Dia terlalu tidak bertenaga untuk berjalan.

Nayoung dengan sigap menangkap kedua lengan Nayeon. Dia kemudian memapah Nayeon ke bawah. Wajahnya sudah memerah, tapi Nayoung menggigit bibirnya agar tidak menangis.

“Oh, Nayeon-ah. Eomma sudah memasak makanan kesukaanmu.” Kata Ricky sambil pura-pura ceria.

Hanya dalam satu hari, wajah Nayeon berubah jadi pucat. “Jeongmal? Aku tidak sabar.” Kata Nayeon. Dia mendekati meja makan, tapi belum sampai dia duduk, Nayeon terjatuh tidak sadarkan diri.

Keluarga Yoo langsung panik. Ah In membopong tubuh putrinya. Nayoung berlari ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Ricky mengikuti Ah In ke garasi. Mereka membawa Nayeon ke rumah sakit. Semuanya berusaha tenang. Semuanya berusaha untuk tidak menangis. Tapi Nayoung tidak berhasil. Dia menangis sepanjang jalan menuju rumah sakit.

“Putri anda mengalami kelelahan juga dehidrasi. Dan sepertinya putri anda juga mengalami stress yang cukup berat. Apa ada masalah yang cukup besar yang sedang ditanggungnya saat ini?” Dokter Lee bertanya pada Ah In. Keduanya berada di depan pintu UGD. Nayoung dan Ricky berada di dalam menemani Nayeon.

Ah In mengangguk dengan lemah.

“Untuk pemulihan fisiknya, dia harus di opname. Sekarang anda silakan temui dulu bagian administrasi untuk pemindahan Nayeon ke ruangan. Untuk pemeriksaan kondisi mentalnya, akan dilakukan besok pagi karena Nayeon harus istirahat malam ini.”

Ah In mengangguk lemah. “Terima kasih dokter.” Ucapnya sebelum masuk melihat kondisi putrinya.

Nayeon sedang tertidur. Nayoung masih saja menangis meski hanya tinggal sisa isakan. Ricky diam sambil menggenggam jari-jari Nayeon.

“Appa akan mengurus kepindahan Nayeon ke ruangan. Dia akan diopname sementara waktu. Kalian pulang saja. Malam ini biar appa yang jaga.” Ah In bicara. Baik Ricky maupun Nayoung, keduanya terlihat tidak setuju. “Kalian belum makan malam. Kau harus istirahat, yeobo. Kau juga Changhyun-a, besok kau harus pergi ke sekolah. Ujian tinggal sebentar lagi. Tolong bilang pada wali kelas Nayeon kalau adikmu tidak bisa masuk sekolah. Surat sakit nanti appa akan urus.” Kata Ah In lagi. “Pulanglah. Appa akan panggilkan taksi untuk kalian.”

“Ne appa.” Ricky menjawab masih dengan perasaan tidak rela.

-o0o-

“Jadi, Kibum-ssi seorang pembohong?” Kevin tercengang mendengar curhatan Ricky. Mereka berdua sedang berada di kantin sekolah untuk makan siang.

Sudah jadi kebiasaan Ricky untuk cerita pada Kevin. Selain salah satu penjaga Ruang Kesehatan dan guru les gratis bahasa inggris Ricky, Kevin juga memang satu-satunya orang yang jadi tempat untuk Ricky bercerita problema hidupnya.

“Ne hyung. Sekarang Nayeon syok berat. Dia dirawat di rumah sakit. Dehidrasi, kelelahan, stress. Kasihan sekali saudaraku itu.” Ricky bicara sambil menunduk.

Kevin menepuk-nepuk punggung Ricky. “Dia anak yang tegar. Kau harus berusaha untuk membuatnya ceria. Kau selalu berhasil kan?” Hibur Kevin.

Ricky mengangguk lemah.

Mata Kevin tidak terfokus pada Ricky, tapi pada seseorang yang sedang duduk di meja lain tak jauh dari mejanya. Sehun berada di sana.

Sehun duduk cukup dekat untuk bisa mendengar apa yang Ricky katakan. Mulanya Sehun pikir kemarin Nayeon tidak masuk sekolah karena ingin membereskan masalah pribadi. Nyatanya, ada masalah baru yang didapat Nayeon. Sehun bangun dari tempatnya duduk, dia pergi.

Mata Kevin mengekor kepergian Sehun sampai tidak terlihat oleh matanya.

-o0o-

Sehun berjalan di lorong rumah sakit, mencari ruangan tempat Nayeon dirawat. Dia tidak punya niatan untuk ikut kelas. Jadi dia melewatkan sisa kelasnya dan memilih pergi ke rumah sakit. Mata Sehun dengan cepat melihat Nayeon di depannya. Dia sudah berniat memanggil Nayeon tapi Nayeon malah pergi. Sehun mengikuti Nayeon yang masuk melewati pintu tangga darurat. Sehun terus mengikuti Nayeon yang berjalan naik di atas tangga, menyelaraskan langkahnya agar tidak menimbulkan suara yang membuat Nayeon menyadari keberadaannya.

Entah kenapa, Sehun tidak ingin Nayeon tahu dia ada di belakangnya.

Jarak Sehun dan Nayeon memang cukup jauh, jadi Nayeon tidak sadar kalau dia diikuti. Dan lagi, Nayeon sepertinya tidak peduli meski dia diikuti. Dia terus saja melangkahkan kakinya naik ke atas.

Udara kota Seoul menerpanya cukup kencang karena Nayeon berada di atap gedung rumah sakit berlantai empat belas. Nayeon merasa angin berhembus berlawanan arah dengannya. Seolah mengisyaratkan dirinya untuk mundur. Tapi bahkan Nayeon tidak punya keinginan untuk mundur. Dia terus melangkahkan kakinya dengan mantap menuju pagar pembatas.

“Aku mendengar kau masuk rumah sakit. Wae? Kau merasa tidak kuat eoh? Kukira gadis egois sepertimu akan cukup kuat dengan semuanya. Aku datang kemari untuk pamitan. Aku akan pergi ke Jepang. Dan aku berharap kita tidak akan bertemu lagi. Kau tahu?  Tidur seranjang denganmu dan aku tidak bisa melakukan apapun padamu karena aku berusaha tidak menghancurkan image baikku di depanmu itu benar-benar menyiksa. Sama sekali bukan tipeku. Tapi setidaknya, aku sudah mencicipimu sekali. Walaupun sepertinya kau tidak tahu. Haha. Selamat tinggal Yoo Nayeon.”

Nayoung sedang pergi saat Kibum datang ke kamar tempat Nayeon dirawat. Hanya Nayeon yang mendengar apa yang diucapkan Kibum. Hanya dia yang tahu fakta tentang seseorang yang sudah menghancurkan harga dirinya. Dari awal Nayeon selalu berusaha berpikir kalau dia pantas mendapatkan hukuman itu. Tapi Nayeon tidak pernah menyangka kalau Kibumlah yang mengotori dirinya. Busan menjadi alasan bohong agar Kibum bisa tidur di tempat perempuan lain. Kibum, saat Nayeon berpikir kalah Kibum jahat, dia malah membuat dirinya makin jahat di mata Nayeon.

Nayeon terus berjalan. Dia terkekeh. Mentertawakan dirinya sendiri. Dia merasa sangat bodoh dan naif. “Jadi apa lagi Yoo Nayeon?” Nayeon bicara sendiri. “Hidupmu sudah dihancurkan oleh dirimu sendiri. Suamimu menodaimu dengan cara yang sangat biadab. Dia menyakitimu tidak hanya di satu sisi, tapi semuanya. Kau hancur. Tak ada yang tersisa padamu. Tak ada gunanya lagi kau hidup.” Kata Nayeon lagi. Dia terus berjalan, tangannya memegang pagar. Dia memandang ke bawah gedung. Orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana terlihat begitu kecil di matanya. “Sampah, sebaiknya dibuang.” Nayeon menaikkan satu kakinya ke pagar.

Brukkk…

Nayeon terjatuh tepat di atas tubuh Sehun yang menariknya sepersekian detik sebelum Nayeon melewati pagar.

“KAU GILA???” Sehun membentak Nayeon tanpa berani melepaskan cengkraman kedua tangannya di pinggang Nayeon.

Nayeon melihat wajah Sehun yang memerah karena marah. “Sehun oppa?” Nayeon bertanya dengan senyuman frustasi di bibirnya.

Sehun berusaha untuk bangun dengan kedua sebelah tangan, sebelah tangannya lagi masih dia gunakan untuk menahan Nayeon. Keduanya sekarang berada dalam posisi duduk.

“Setelah semua yang sudah kau lalui, kau mau menyerah begitu saja?” Sehun bertanya, tidak semarah sebelumnya.

Nayeon tersenyum tapi kemudian senyuman itu perlahan menghilang. “Tidak ada yang tersisa dariku. Semuanya sudah hancur. Tak ada gunanya lagi aku hidup.” Kata Nayeon. Dia mulai menangis. Nayeon berusaha untuk setegar mungkin, tapi dia tidak bisa. Nayeon tidak bisa lagi memberikan sugesti positif pada dirinya sendiri. Bayangan seseorang di dalam gelap saat itu, sekarang terlihat jelas. Kim Kibum, Nayeon melihat sosok Kibum tertawa puas. Dia terlalu hancur.

“Kalau kau mati, kau selesai! Tapi keluargamu tidak akan pernah bisa lepas darimu bahkan sampai mereka juga mati. Kau mau mereka tersiksa seperti itu eoh? Kau mau menyiksa keluargamu juga?”  Tanya Sehun. Dia mengguncangkan kedua pundak Nayeon yang terus saja menangis.

“Aku benci pada diriku sendiri.” Kata Nayeon.

“Bencilah orang yang sudah menghancurkan hidupmu itu. Tapi kau jangan terus memikirkan kebencian itu. Kau terus saja pikirkan orang-orang yang menyayangimu. Mereka lebih pantas untuk kau pikirkan daripada orang itu.”

Nayeon tidak bicara lagi. Dia hanya menangis dan menangis.

Sehun merasa ada perasaan bersalah saat dia melihat Nayeon. Sehun kemudian menarik Nayeon ke dalam pelukannya. ‘Mianhae noona.’  Batin Sehun. Sehun tidak melihat Nayeon seperti Jaerin. Sehun tidak menganggap Nayeon seperti Jaerin, seperti saat dulu dia pertama kali memeluk Nayeon di kamarnya.

-o0o-

6 month later…

“Ahh.. ujian, aku tidak pernah suka dengan yang namanya ujian.” Nayeon melemparkan kepalanya ke atas meja tepat setelah wali kelasnya keluar dari dalam kelas. Hanya tinggal beberapa minggu sebelum ujian kenaikan kelas berlangsung.

“Oppa sudah ikut ujian kelas dua tiga kali. Apa kau mau tahu apa saja yang akan keluar di ujian eoh?” Sehun yang duduk di samping Nayeon bertanya.

Nayeon membalikkan kepalanya tapi masih tetap dalam posisi menempel ke meja. “Memang oppa saat ikut ujian mengisi semua lembar jawaban?” Nayeon bertanya.

“Oppa hanya tidak pernah ikut ujian olahraga. Sisanya nilainya memuaskan kok.” Jawab Sehun.

“Jeongmal?” Nayeon mengangkat kepalanya. “Tskk, sayang sekali. Menghabiskan waktu tiga tahun di kelas dua. Apa tahun ini oppa berniat untuk tidak ikut lagi ujian olahraga?” Tanya Nayeon.

Sehun terlihat pura-pura berpikir. “Tergantung. Kau mau oppa naik kelas atau tidak.” Jawab Sehun.

“Loh kok aku?” Nayeon terlihat bingung.

“Sunbae, mianhae. Tapi kami mau pinjam Nayeon.” Jihyun dan teman-teman datang ke meja Nayeon. Dan sebelum Nayeon ataupun Sehun bicara apa-apa, Jihyun dan teman-teman sudah menarik Nayeon keluar kelas. Mereka menggiring Nayeon pergi ke kantin sekolah.

“Sudah pacaran belum?” Jihyun bertanya langsung.

Nayeon terkekeh. “Dengan siapa?”

“Ya Sehun sunbae lah. Siapa lagi? Kan sejak kau jadi teman sebangku Sehun sunbae, Sehun sunbae sifatnya jadi berubah baik begitu.” Ahra kali ini bicara.

“Tunggu. Kevin oppa juga bukannya suka pada Nayeon ya?” Hyera bertanya.

“Eh iya benar. Beruntung sekali kau disukai dua namja tampan itu. Jadi, kau pilih siapa?” Kali ini Jihyun lagi yang bertanya. “Eh tapi, apa Ricky oppa sudah mulai suka padaku tidak ya?”

“Mwo? Ya! Ricky oppa itu akan jatuh cinta padaku! Bukan padamu.” Ahra menjitak kepala Jihyun.

“Anniyo~ kami sudah cukup dekat tahu!” Kilah Jihyun.

Nayeon tertawa melihat teman-temannya. “Kajja! Aku sudah lapar.” Ajak Nayeon sambil menarik pundak temannya.

“Eh tapi kau belum bilang kau pilih siapa.”

“Kevin oppa saja. Dia kan baik.”

“Sehun oppa lebih keren Nayeon-ah.”

“Kevin oppa lebih kaya.”

“Sok tahu. Sehun sunbae itu anak direktur sekolah ini tahu.”

“Tapi Kevin sunbae katanya punya istana di Inggris.”

“Kau ini ngaco, berita dari mana itu.”

“Kevin oppa itu dekat dengan Ricky oppa. Jadi peluangnya lebih besar.”

“Nayeon lebih sering bersama Sehun sunbae daripada Kevin oppa. Mereka kan satu bangku.”

“Sudahlah. Ayo makan.”

Sehun atau Kevin? Nayeon sama sekali tidak memikirkannya. Setidaknya untuk sekarang ini. Dia sudah mendapatkan hidupnya yang damai. Trauma karena mencintai Kibum memang sudah mulai menghilang. Dia bahkan sudah mulai lupa seperti apa wajah Kibum. Cinta? Nayeon akan memikirkannya lagi nanti. Sekarang dia hanya ingin menikmati masa remajanya yang sudah satu kali dia sia-siakan. Walaupun sepertinya, masa depannya memang di antara dua orang itu. Orang yang tahu masa lalunya yang kelam dan bisa menerima dia apa adanya. Kevin ataupun Sehun pastinya tidak akan berbuat hal yang menyakitkan seperti yang Kibum lakukan padanya dulu.

-end-

Yosh! Akhirnya selesai juga. Buat yg kesel Kibum tenryata dapet peran jahat, maaf ya. Gara2 aku nonton drakor dan lagi adaaaa aja satu pemain yg mendadak jadi penghianat di akhir, akhirnya Kibum aku bikin gini. Padahal konsep awal Nayeon mu dbikin balik ma Kibum. Haha -_-

Sampai ketemu di ff yg lain

-EmakJino-

Advertisements

29 responses to “LIFE [END]

  1. Kyaaa eonn keren bgt!!! ><
    pokoknya suka bgt!!! 🙂 mian yaa eonn, comment nya telat ._.
    suka bgt pas moment sehun-nayeon di atap rumah sakit!! kyanya so sweet gmn gt.. wkwk
    msh ada typo2 sih eonn, tp kalo misalnya bca keseluruhan nya typonya berasa gada heheh 😀
    ga kerasa yaa udh end lgi nih ff ._. kirain msh panjang bgt nih lanjutan ff nya ._.
    tp emg ff nya ga berbelit2 sih mnrt sya 🙂 konfliknya beda dri ff2 yg pernah sya bca 🙂
    d tunggu ff2 keren eonni yg lainnya!! 😀

    Hwaiting!! 🙂

    • iyak typo, tapi udah kadung pusing makanya gak diteliti
      haha~ ah kamu mah lucu, tiap komen ffku pasti deh minta maap. kenapa gak minta duit sekalikali? gak bakal aku kasih /plak
      konflik’a… pas ada yg dipikir, dibikin konflik deh

      gomawo

  2. Kyaaaaaa~ ><
    Gak nyangka Kibum sejahat itu?! -_-
    jadi, maksud kibum yg katanya udah pernah "mencicipi" (?) Nayeon itu apa?? Apa mungkin, yg merkosa Nayeon dulu, sampe Nayeon trauma itu Kibum?? ._.
    Aku kira itu Kibum cuma pura" jahat loh, thor. Makin baca ke bawah, ternyata Kibum jahat beneran -_-
    tapi syukurlah, Nayeon udah cerai sama Kibum..

    Ini terlalu mendadak, thor ? Trus *maap ya* kok menurutku alurnya agak kecepetan ya? .-.
    Terlalu maksa gitu-_-V
    Tapi bahasanya enak dibaca kok, jadinya aku ngerti. ^^

    bikin sequel dong, thor~
    Kayaknya masih gantung nih ? -,-
    tadinya aku kira di ending Nayeon bakalan sama Sehun. Ternyata malah tetep jadi janda (?) ._.

    • iyak.. dia yg lakuin. dia pura2 pergi ke luar padahal mah maen di tempat cewek dan mangsa(?) nayeon.
      sampe ep8, aku sama sekali gak mikirin kejahatan kibum. dia mendadak jahat gitu
      iyak lagi. endingnya aku emang bikin rada maksa, haha~ maklum lah. udah kelamaan bgt ini ff, plus aku gak pengen ceritanya nambah panjang soalnya udah nambah utang2 yg laen /plak

      aku lebih suka bikin gantungan(?)
      haha~ nayeon’a juga udah bilang iyak gp. dia bisa kadang ke kepin kalo bosen bisa maen ke sehun /kemudian nayeon dikejar fans sehun kepin/

      gomawooo~

  3. astaga, ga nyangka klo tnyata sikap kibum selama ini cuma pura2 bhkan topeng~
    duhduhduh, rasanya tetiba pengen ikutan nampar..jgn2 trauma nayeon itu jg awalny gara2 si kibum lagi..grrrr
    untung juga si sehun bolos ya akhirnya bisa nyelametin nayeon dr tindakan bodoh dan berhasil melaluinya stelah sekian lama..siapa yg bakal dipilih, berharap sih itu sehun..kkk~

    • haha… aku aja gak nyangka bisa bikin scene kek gtu. padahal nayeon cinta pake banget sama kibum
      tapi dibikin sakit plus plus

      bener banget.. berasa sinetron yaa waktunya dibikin pas kayak gitu. wkwk~
      sehun udah punya feeling gitu kali yaa..
      nayeon pilih dua2nya sementara ini /plak
      dia prefer ke sehun sih, tapi katanya kepin juga gabisa dilepas, haha
      gomawo

Leave a Reply to chii_binusKDJ Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s