My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Last Clip

 

Main Cast(s) :

  • Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast(s) :

  • Kim Junsu (2PM Junsu)
  • Other SHINee members
  • Etc.

Genre  : Marriage Life, Family, Life, a bit Romance and Humor

Length : Continue

Rating  : Teen

Disclaimer : Only own the plot & Shin Jibyung.

>>> Previous <<<

Kumohon, apa yang sedang terjadi padamu?

“Nomor yang anda tuju sedang tidak—“

Pip!

“Nomor yang—”

Pip!

 “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi.”

Tidak.

Bagaimanapun, hal yang bernama ‘penyesalan’ itu memang selalu terlambat.

Tidak.

Dia percaya diri. Percaya bahwa dirinya bisa melewati semua ini, sebelum.. satu kenyataan menghantamnya dengan kencang. Kenyataan bahwa sejak tiga bulan yang lalu, satu jiwa sudah tertanam di dinding rahimnya.

“Lee Jinki, apa kau bersedia menerima Shin Jikyung sebagai istrimu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kalian?”

“Ya, aku bersedia.”

Wae, Hyung?” Minho dan Taemin memandang leader mereka dengan setengah panik sekaligus bingung.

Tanpa menjawab pertanyaan itu—atau memang karena tak mendengarnya—Onew berlari keluar ruangan, kemana Jibyung baru saja menghilang, “JIBYUNG-AH! SHIN JIBYUNG!!” dia berteriak-teriak seperti tak sadar suaranya bisa menarik banyak perhatian, “JIBYUNG-AH!!

Tapi tentu saja, sekeras apapun Onew berteriak, Jibyung sudah pergi dengan motornya. Dan sekeras apapun Jikyung berusaha menahan diri untuk tidak menangis, air matanya selalu merebak begitu saja, seolah tak bisa dicegah. Jikyung sendiri tak tahu apa yang menjadi alasan, dia hanya ingin menangis. Menangis begitu saja.

>>><<<

LAST CLIP

(Flashback)

Jibyung mengeratkan jaket yang dipakainya. Dahinya berkerut dan wajahnya tampak sedikit pucat. Sejak pulang dari pantai tadi malam, dia sudah merasa tidak enak badan dan beberapa hal membuatnya berniat untuk memeriksakan kesehatannya hari ini.

Wanita itu menutup pintu apartemen setelah berada di luar. Di saat itulah matanya menangkap benda mungil yang masih melingkar di jari manisnya. Jibyung terdiam sejenak, namun kemudian berbalik dan mulai melangkah pergi sambil menenteng helm di tangan kiri.

Sepertinya dia harus mampir sebentar di lantai tiga untuk ‘mengembalikan’ cincin itu.

**

“Kenapa? Bukankah anda sudah tidak menstruasi dua bulan ini?”

Jibyung bangkit menjadi duduk dengan cepat karena terkejut dan akibatnya kepalanya langsung terasa pening. Tapi dia tidak memedulikan hal itu dan tetap melontarkan protes pada dokter umum di hadapannya, “Tapi siklus menstruasiku memang sering tidak teratur.” Dia terkejut karena dokter perempuan itu baru saja mengatakan bahwa dirinya hamil karena tidak menstruasi pada dua bulan terakhir.

Geuraeyo?” dokter tersebut tersenyum kecil dan mengangguk saja, “Padahal saya yakin sekali. Tapi tidak ada salahnya kita buktikan dulu. Saya bisa saja salah.” sambungnya sambil menurunkan stetoskop ke leher, tanpa menghilangkan senyum yang membuatnya tampak lebih cantik.

Jibyung membuka mulut, hendak membantah lagi, tapi tak jadi. Jika dipikir lagi memang tidak ada salahnya mencoba. Tapi kalau benar dirinya…? Ah, tidak mungkin. Jibyung tidak merasa seperti itu. Tidak, tidak. Dia ingin dugaan dokter itu tidak benar.

Yeoja bermarga Shin itu kemudian kembali menjalani pemeriksaan selama beberapa menit dengan perasaan harap-harap cemas. Setelahnya, dokter yang ditaksir berumur kepala empat itu meminta Jibyung menunggu hasilnya di luar ruang pemeriksaan.

Ne, kamsahamnida.” ujar Jibyung sembari berdiri lalu membungkuk sopan. Dokter itu mengangguk sambil tersenyum, lantas Jibyung berbalik dan keluar ruangan dengan langkah-langkah agak ragu, bersamaan dengan ketika satu orang pasien lain yang menunggu di luar—berjalan masuk ke dalam ruangan yang sama.

Jibyung menghembuskan napas keras, menggeleng kecil tak kentara untuk membuyarkan lamunannya, lalu memandang jam di tangan kirinya dan pintu ruangan di belakangnya secara bergantian. Mungkin sembari menunggu dia bisa berbelanja sebentar sekaligus membeli hadiah untuk diberikannya pada Jikyung besok. Kebetulan letak supermarket tak jauh dari klinik ini. Jibyung tahu dia tak akan bisa tenang jika membiarkan dirinya menunggu di tempat ini tanpa melakukan apapun.

Setelah menghabiskan beberapa detik untuk berdiri diam di sana, Jibyung akhirnya berjalan pergi sambil berkali-kali menarik napas panjang dan dalam.

**

Sekitar lima belas menit kemudian, Jibyung tiba di supermarket yang dimaksud. Setelah memarkir dengan benar, dia turun dari motornya lalu melepas helm. Sedetik setelah yeoja berambut sepunggung itu meletakkan helmnya, suara yang sangat dikenalnya terdengar dari tempat yang tak jauh, “Jibyung-ah?!

Jibyung langsung menoleh ke arah yang tepat. Senyumnya mengembang setelah menemukan Minhyun yang tengah melangkah mendekat ke arahnya, “Eomma?” balasnya sambil ikut mendekatkan diri. Melihat senyum Minhyun membuat Jibyung lupa begitu saja dengan hal yang membuatnya cemas sejak tadi. Inilah yang memang dia butuhkan di saat-saat seperti ini.

Omo, aku tidak tahu kita akan bertemu di sini.” Minhyun memeluk puteri bungsunya beberapa saat sambil terus berbicara dan menepuk-nepuk punggung Jibyung, “Kemana saja kau? Kau baik-baik saja, kan? Eoh? Kapan kau kembali?”

Jibyung terkekeh mendengar pertanyaan terakhir Minhyun, “Jangan bilang eomma juga berpikir aku ada di tempat atau bahkan kota lain.”

Kening Minhyun berkerut dan ia berhenti menepuk-nepuk punggung Jibyung. Ia melepas pelukannya dan mendongak menatap wanita di hadapannya, “Apa maksudmu?”

Jibyung tersenyum kecil dan melihat berkeliling sejenak, “Eomma datang untuk berbelanja? Sendirian?”

“Iya, aku sendirian.” jawab Minhyun, kemudian kembali bertanya dengan nada agak mendesak, “Jadi kau tinggal dimana selama ini? Kenapa tak memberi kabar, eoh?”

“Kita bicara di dalam saja.” sahut Jibyung karena melihat beberapa orang yang memperhatikan mereka walaupun kemudian kembali pada urusan mereka masing-masing. Tanpa menunggu jawaban lagi, yeoja itu menggandeng sang ibu memasuki supermarket.

Namun sesampainya di dalam pun Jibyung tak langsung menceritakan semuanya pada Minhyun. Setelah didesak sekali lagi, barulah dia mau memberitahukan semua yang juga diceritakannya pada Taemin kemarin, sambil memilih-milih barang-barang keperluan mereka.

Di sela-sela waktu itu, pernah ada satu momen dimana Minhyun tak bisa melepas tatapannya sedikit pun dari Jibyung, sambil berpikir tentang betapa puterinya hebat dan bodoh di saat yang bersamaan. Dari sepasang mata itu, Minhyun bisa merasakan apa yang sebenarnya Jibyung rasakan, yang tentu saja berusaha yeoja itu tutupi. Minhyun ingin melakukan sesuatu untuknya, tapi ia merasa tak berhak lagi. Lagipula sejak dulu pun tak ada yang bisa mengalahkan kekeraskepalaan puterinya itu. Minhyun rasa, yang bisa dilakukannya saat ini hanya mendukung setiap keputusan yang diambil anak-anaknya.

“Kau akan pulang setelah ini?” tanya Minhyun saat mereka telah selesai berbelanja dan sedang menunggu belanjaan mereka dihitung di kasir.

Aniyo.” geleng Jibyung dan baru teringat bahwa dia harus kembali ke klinik untuk mengambil pemeriksaan yang menurutnya adalah hal yang besar, yang belum boleh Minhyun ketahui, “Maksudku, iya. Aku akan langsung pulang.” lanjutnya kemudian, mengganti jawabannya dengan kebohongan kecil.

Minhyun tak sempat menanggapi karena penjaga kasir di hadapan mereka telah selesai menghitung semua belanjaan. Obrolan mereka akhirnya terpaksa harus terhenti hingga keduanya berada di luar supermarket.

Karena sempat menangkap helaan napas Jibyung sesaat yang lalu dan ia tahu helaan napas kali ini bukan karena ‘Onew’, Minhyun bertanya, “Ada apa? Kau terlihat mencemaskan sesuatu.”

Jibyung tampak terperangah sejenak lalu membuka mulut untuk menjawab, “O-oh, tidak. Aku hanya…” tapi karena tak menemukan alasan yang tepat akhirnya dia hanya mengangkat bahu tanpa meneruskan ucapannya, lalu terkekeh pelan dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, “Sampai jumpa besok, Eomma. Jangan katakan pada siapapun kau bertemu denganku hari ini, ya?”

“Baiklah, Anak Bodoh.” sahut Minhyun agak bergurau sambil menepuk pundak Jibyung yang terkekeh mendengarnya.

“Aku tidak bodoh.” bantah yeoja itu sambil lalu. Dia mengecup pipi Minhyun sekilas lalu melambai kecil, “Sampai nanti.”

“Hm.. Hati-hati, jangan ngebut!” Minhyun memperingatkan.

Tanpa menoleh, Jibyung menjawab, “Eomma juga hati-hati!”—sambil berjalan ke tempat motornya diparkir. Jibyung meletakkan belanjaannya di atas badan motor dan beberapa saat kemudian berlalu pergi dari supermarket tersebut dengan pikiran melayang.

>>><<<

Selama sepuluh menit penuh, sejak duduk di atas sofa ruang tengah apartemennya, Jibyung hanya memandangi amplop bercap klinik tadi yang diletakkannya begitu saja di atas meja. Tangannya yang memegang kertas dan foto hasil USG yang tadinya di dalam amplop itu, bergetar pelan di atas pangkuannya.

Jibyung sudah cukup terkejut dengan hanya mendengar berita ini dari dokter. Hasil pemeriksaan itu, yang Jibyung kira bisa membuktikan ketidakyakinannya, ternyata juga menyatakan hal yang sama. Rasa takut dan cemasnya terbukti sudah.

Berapa kali pun Jibyung melihat kesimpulan dari kertas di genggamannya, kata ‘positif’ itu tak akan berubah. Sebesar apapun Jibyung berharap, ini tetap kenyataannya dan dia tak bisa menghindar. Setiap dia memperhatikan foto hasil USG itu, ada perasaan lain yang meletup-letup dalam hatinya.

Padahal ini seharusnya tidak terjadi, dia hanya terus menyuarakan kalimat itu di dalam pikirannya. Kepalanya kini terdongak menyandar ke kepala sofa, sehingga cairan bening yang sudah menggenang itu tidak menetes dengan mudah. Namun tetap saja, sedetik, dua detik kemudian air mata meluncur turun membentuk sungai kecil di pelipisnya.

Apa yang harus kulakukan? Bagaimana ini?

Dalam sekejap saja, dia merasa menjadi wanita paling menyedihkan di dunia ini.

(Flashback Ended)

>>><<<

“…Sebuah taksi ringsek setelah terlibat dalam kecelakaan maut dengan sebuah motor sport yang terjadi di Gyeonggi-do, Seoul, pada 3 Maret 2013 kemarin. Kecelakaan diduga terjadi karena pengendara motor menghindari penyeberang jalan dan tidak menyadari taksi yang menyambut dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, pengendara motor tersebut, yang adalah wanita berusia dua puluh lima tahun meninggal dunia di tempat kejadian, sementara supir taksi, pria berusia lima puluh tahun, mengalami luka parah dan telah mendapat perawatan di ICU.”

*

“Aku sungguh…”

“Jibyung-ah.

.

.

“Shin Jibyung.”

.

.

*

Sosok yang terbaring di atas tempat tidur itu mengerutkan kening lalu membuka kedua matanya dengan tiba-tiba. Dia merasa paru-parunya kembali terisi penuh oleh udara dan di detik selanjutnya dia bisa merasakan jantungnya yang berdetak dengan keras serta kepalanya yang terasa pening.

Apa?

Sekali, matanya mengerjap dengan bingung.

Apa barusan?

Dua kali, Jibyung kembali mengerjap dan pada akhirnya merasa sudah terbiasa dengan kegelapan di sekitarnya. Dia menyadari tempat dimana dirinya berada saat ini adalah kamarnya sendiri.

Mimpi?

Jibyung tertegun. Kembali matanya mengerjap-ngerjap pelan dan sebelah tangannya naik untuk memijat keningnya yang terasa agak sakit.

Mimpi. Mimpi yang terasa seperti benar-benar terjadi. Lalu apa itu tadi? Dirinya.. kecelakaan dan meninggal?

Seribu lima ratus mililiter oksigen kembali memenuhi paru-parunya dan keluar lagi di detik berikutnya. Jibyung memiringkan tubuh menghadap meja kecil di samping ranjang dan mengulurkan tangan untuk menyalakan lampu tidur. Dia terdiam sejenak sebelum beranjak duduk hanya untuk terdiam lagi. Banyak hal ‘menyerang’ ingatannya hingga Jibyung tak bisa berpikir dengan baik selama beberapa saat.

Mimpi itu… Jibyung sudah tidak bisa ingat sebagian besarnya. Yang masih menempel di kepalanya hanya.. ikrar pernikahan itu.. dan kecelakaan yang dialaminya.

Bagaimana bisa mimpi ini… sangat sesuai dengan apa yang akan dihadapinya? Apa ini semacam pertanda atau.. semacam itu?

Perlahan Jibyung menggeleng kecil, lalu meringis karena merasa terlalu banyak berpikir di tengah keadaan tubuhnya yang terasa tidak terlalu baik. Dia mengalihkan pandangan pada jam digital di atas meja untuk mengetahui hari sudah berganti dan matahari baru akan terbit sekitar lebih dari satu jam lagi. Jibyung tertegun, kemudian menghela napas. Lagi.

Selama sesaat, dia sempat berpikir bahwa akan lebih baik jika tidak terbangun, karena setidaknya, dia sudah melewati semua—yang sebenarnya baru akan terjadi hari ini—di dalam mimpi itu. Dia benar-benar sudah melewati semuanya di sana, termasuk melewati seluruh jalan hidupnya.

Sekali lagi Jibyung menggelengkan kepala, kali ini untuk menepis pikiran-pikiran tanda keputusasaan itu sekaligus meyakinkan diri kalau itu hanya bunga tidur biasa karena dia terlalu memikirkannya sebelum jatuh tertidur.

Aish, aku bahkan tidak ingat bagaimana aku sampai di kamar ini.

>>><<<

Setelah terbiasa menggunakan motor kemanapun dia pergi, rasanya ada yang hilang jika Jibyung terpaksa pergi dengan taksi seperti ini. Ya, Jibyung harus meninggalkan motor karena yeoja itu tak bisa menemukan kunci kendaraan kesayangannya dimanapun meski sudah mengacak-acak apartemennya sebelum berangkat.

Kedua tangan Jibyung berada di atas pangkuan, tepatnya di atas tas tangan berwarna abu miliknya. Pandangannya mengarah keluar kaca mobil. Jalanan Seoul tampak tak terlalu padat, seperti biasa. Langit tampak cerah menaungi ibukota Korea Selatan itu. Cahaya matahari tampak hangat di luar sana. Hal itu membuatnya menyesal pernah berpikir lebih baik tak terbangun karena dirinya sudah mati. Seharusnya Jibyung bersyukur karena masih diizinkan melihat hari secarah ini.

Jarum pendek jam tangan bermerk yang dipakainya menunjuk tepat pada angka 11 ketika Jibyung sampai di tempat tujuan. Dia menyerahkan beberapa lembar uang pada supir taksi sambil mengucapkan terimakasih lalu menoleh hendak membuka pintu di sebelahnya, namun urung karena pintu itu sudah terbuka. Jibyung mendongak dengan tampang heran, mencoba tersenyum selebar mungkin mengetahui Junsu tepat berada di samping badan taksi dan sudah pasti lelaki itu yang membukakan pintu untuknya.

Gomawoyo.” Jibyung menjulurkan sebelah kakinya yang beralas high heels berwarna putih yang senada dengan dressnya (sebenarnya Jibyung tidak berencana memakai dress sebelum dia tidak bisa menemukan kunci motornya), kemudian menyembulkan badan keluar dan berdiri tegak di samping Junsu yang kembali menutup pintu taksi.

“Aku melihatmu di depan gedung Apartemen Xxxx. Tadinya aku akan mengajakmu pergi bersama, tapi kau lebih dulu naik taksi.” tutur Junsu dengan senyum lebar yang tak hilang dari wajahnya. Untuk menanggapi itu, Jibyung hanya terkekeh dan mengajak namja yang lebih tua darinya itu untuk segera masuk dengan alasan sebelum seorang Hottest lewat dan melihat Junsu. Junsu pun tak berniat bertanya ataupun bicara lebih banyak, karena dia orang yang cukup peka terhadap keadaan.

Keduanya sama-sama memantapkan hati dalam setiap langkah dengan susah payah, meski di mata mereka pintu masuk gereja tampak terlalu dekat dan seolah sedang mengejek kedatangan mereka.

Tak banyak orang yang Jibyung lihat. Sama seperti pernikahannya dulu, yang diundang hanya orang-orang tertentu saja. Jibyung melangkah masuk dengan tenang diiringi beberapa pasang mata yang menatapnya, yang hanya dibalasnya dengan senyuman simpul atau sesekali sapaan pelan. Junsu di belakangnya melakukan hal yang sama, kemudian duduk bergabung dengan member SHINee yang sedang sibuk melambai-lambai pada Jibyung—di deretan kursi sebelah kanan, tepat di belakang baris kursi tempat Jibyung.

Minhyun yang memang sudah menunggu Jibyung sejak awal segera menyambut dengan senyuman lega ketika puterinya itu tiba di hadapannya.

“Aku terlambat, ya?” Jibyung berseloroh sedikit.

Wanita dengan wajah tampak lebih muda dari umurnya itu tersenyum hangat dan menggeleng, “Tidak, tapi hampir.”

Sedetik, dua detik, Jibyung mematung sejenak sambil memandangi Minhyun, lalu mengedarkan pandangan dengan bingung. Deja vu, pikirnya tepat ketika melihat nyonya dan tuan Lee menyapanya dengan senyum. Bahkan perasaannya ketika melihat senyum itu.. Jibyung merasa pernah mengalami ini sebelumnya.

Pura-pura tak melihat gelagat aneh Jibyung, Minhyun mengambil sebelah tangan Jibyung yang terasa dingin dan membawanya ke atas pangkuannya. Ketika itu suasana tiba-tiba berubah sunyi dan semua pandangan mengarah pada Onew yang sedang melangkah ke atas altar dengan kepala setengah tertunduk.

Sekelebat bayangan tentang mimpinya melintas di benak Jibyung yang tanpa sadar menegakkan punggung dan menahan napasnya. Tenggorokannya terasa sakit dan tercekat, matanya perih. Bukan karena bunga tidurnya akan jadi kenyataan, tapi karena melihat sosok itu membuatnya memaksa diri agar tidak bertingkah bodoh semacam berderai air mata.

Onew berdiri menghadap pastur. Jibyung bisa melihat kedua bahunya naik sesaat kemudian kembali turun di balik tuxedo hitamnya, seperti sedang menurunkan rasa gugup. Jibyung memejamkan mata sesaat dan melepas napasnya yang ditahan bersamaan dengan ketika Minhyun mengusap tangannya dengan lembut.

“Mempelai wanita telah tiba.”

Suara itu menembus otaknya, membuat Jibyung menunduk karena sejak awal inilah yang membuatnya takut. Lebih dari Onew, mengingat Jikyung selalu membuatnya kacau, namun anehnya di satu sisi juga membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Dari ekor matanya, Jibyung bisa melihat gaun putih yang menjuntai hingga ke lantai perlahan bergerak hingga akhirnya berada di atas altar. Saat itulah Jibyung bisa mengangkat wajahnya dan memerhatikan bagaimana gaun rancangannya itu terpasang dengan indah di tubuh Jikyung, meski dia melihatnya dari belakang, dengan air mata yang menggenang.

Yeoja itu segera menunduk lagi dan bisa melihat sendiri cairan yang menjatuhi tangannya beberapa detik kemudian.

Payah, ternyata aku memang tidak sekuat itu.

Suasana yang sunyi dan khidmat membuat Jibyung menahan napas kembali karena tak ingin orang lain mengetahui kesedihannya. Minhyun semakin menggenggam erat tangan puterinya dengan kedua tangannya.

*

“Lee Jinki, apa kau bersedia menerima Shin Jikyung sebagai istrimu dan bersumpah untuk selalu berada di sisinya dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kalian?”

.

.

Deja vu lagi.

Ah, bukan. Suasana ini memang ada di dalam mimpinya semalam. Jibyung masih ingat dengan jelas bagaimana dirinya tengah memandangi kedua mempelai dari belakang dan suasana berubah canggung selama pastur itu menunggu jawaban Onew. Semuanya benar-benar sama persis, seolah memang pernah terjadi.

Onew tampak gelisah. Jibyung melihat tangannya mengepal di samping tubuh. Wanita itu menghitung mundur dalam hati karena dia berpikir setelah itu Onew akan bersuara.

Tiga… dua… satu…

.

.

Masih sangat sunyi hingga udara yang berhembus dapat membuat telinga Minhyun berdenging tak nyaman. Kedua alis perempuan itu menyatu pertanda merasa sangat heran. Apa sebenarnya yang sedang ada dalam pikiran pria itu?

Tampak ragu, Onew memutar kepalanya empat puluh lima derajat. Pandangannya sempat bersirobok dengan milik Jibyung namun wanita itu segera menunduk untuk menghindar. Detik selanjutnya, Onew mengembalikan pandangannya lurus ke depan, dengan napas berat yang tertahan di tenggorokannya.

Satu pergerakan gelisah lainnya tampak di belakang Jibyung. Junsu berkali-kali menarik napas dalam sejak tadi dan kini tak bisa menahan diri untuk menghindarkan tatapannya dari altar. Kesepuluh jemarinya saling bertaut di antara kedua kakinya yang bergerak-gerak tak tenang. Gelagat Onew membuatnya semakin tak nyaman.

.

.

Kemudian dengusan kecil lolos dari bibir Junsu, bersamaan dengan dengungan kaget yang lain ketika pada akhirnya sang pemeran utama pria dengan pelan namun jelas mengucapkan, “Jweseonghamnida.

Dia lantas berjalan turun begitu saja dari altar dan menghampiri Jibyung untuk kemudian menariknya keluar dari gereja, diikuti pandangan-pandangan terkejut dari semua orang kecuali Junsu yang berusaha menelan emosinya dan Jikyung yang masih diam mematung di tempatnya berdiri.

*

Setelah berhasil mencerna apa yang terjadi, Jibyung mendapati dirinya sedang berusaha menyesuaikan langkah dengan langkah panjang Onew yang menariknya keluar. Wanita itu segera menoleh ke dalam gereja di belakangnya, merasa mencelos melihat figur belakang Jikyung yang tak bergerak sedikitpun, kemudian hilang dalam pandangannya karena Onew membawanya semakin jauh.

“Kau gila?! Kaupikir apa yang sedang kaulakukan sekarang?! Lee Jinki! Lee Jinki lepaskan aku!” Jibyung berseru sepanjang Onew menariknya hingga ke lapang parkir, memaksanya berjalan cepat di atas high heelsnya. Tangan Onew mencengkram pergelangan tangan Jibyung begitu kuat dan sialnya Jibyung tak bisa menahan langkahnya dengan sepatu seperti ini.

Ada apa dengan pria ini? Pikirannya benar-benar bermasalah!

“Kau meninggalkan Jikyung di sana, br*ngsek!! Lepaskan! Ya!!” amarah wanita itu sudah hampir memuncak hingga tak sadar kata-kata kasar terucap dari mulutnya sendiri. Sedangkan Onew tampak sama sekali tak terganggu dengan setiap seruan marah Jibyung yang tertuju padanya. Mulutnya bungkam, tak ada sepatah katapun yang keluar.

Pria itu membuka kunci mobilnya ketika mereka sampai di hadapan kendaraan itu. Onew mendorong Jibyung duduk di kursi samping pengemudi. Yeoja yang membiarkan rambut kecokelatannya terurai itu berontak ketika Onew memasangkan seatbeltnya, namun sekejap terdiam karena tiba-tiba saja namja itu menatapnya tajam dengan kedua mata yang memerah dan menyiratkan banyak emosi. Napasnya terdengar berat, jelas sekali Onew sendiri tampak berusaha mengendalikan dirinya.

Ada apa denganmu?

Masih tanpa mengatakan apapun, Onew membanting pintu di samping Jibyung dan berjalan memutar hingga duduk di belakang steer dan mulai menyalakan mesin. Apa yang dilakukannya membuat Jibyung seolah tersadar kembali.

“Apa yang sedang coba kaulakukan? Jangan bodoh! Ya!

Seperti seruan-seruan sebelumnya, Onew tak menggubris sama sekali dan justru segera melajukan mobilnya keluar dari daerah itu dengan kecepatan tinggi. Jibyung tak berkutik dan hanya memandangi kedua tangan Onew yang mencengkeram steer hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri.

>>><<<

Kedua ujung bibirnya terangkat kecil. Pergerakan udara yang terasa di punggungnya—ketika sosok itu berjalan turun dari altar—masih berbekas dengan jelas, menambah perih yang mulai menjalar ke sekujur tubuhnya dengan cepat, walaupun dugaan akan terjadi hal seperti ini memang sempat terpikir olehnya.

Seharusnya dia memang tidak berharap sejak awal. Pada akhirnya, hanya mendalami luka lama.

“Gwaenchana.”

Jikyung mengangkat kepalanya yang semula menunduk dalam. Pria dengan rambut yang sudah mulai beruban di hadapannya memberikan senyum simpul. Jikyung membalas senyum itu lalu mengangkat sebelah tangan untuk mengusap pipinya yang entah sudah basah sejak kapan.

Setelah tangannya kembali ke samping tubuh, bibirnya terbuka bermaksud mengatakan sesuatu pada sang pastur, “Jweseong…” suaranya bergetar dan air matanya bergulir lagi tanpa dia kehendaki,“..hamnida.

Setelah tersenyum sekali lagi, dengan perlahan gadis itu memutar tumit, berusaha tak menunduk dan memberanikan diri menyambut tatapan-tatapan kasihan yang saat ini dirasakannya sedang menghujam tepat ke arahnya.

Namun yang pertama kali tertangkap penglihatannya detik itu, membuat matanya melebar terkejut.

“Jikyung-ah..” Minhyun berdiri tepat di depan altar, tersenyum hangat pada Jikyung, dengan Kim Junsu berada di sampingnya. Hal seperti itu menyentuh sudut hati Jikyung dan meruntuhkan pertahanannya lagi.

Junsu melangkah maju hingga berada tepat di hadapan Jikyung. Pria itu harus mendongak untuk menatap sang pengantin yang posisinya lebih tinggi darinya, lalu dengan perlahan menjulurkan sebelah tangan pada yeoja yang masih disayanginya itu, tak peduli dengan dengungan-dengungan heran di belakangnya.

Gwaenchana, uljima.

Jikyung memandangi tangan itu cukup lama, kemudian beralih menatap kedua mata pemiliknya. Melihat wajah Jikyung yang terbasahi lagi, Junsu menelan ludah sejenak, menyunggingkan senyum simpul kemudian menggerakkan tangannya yang terulur, seolah menegaskan bahwa dia sedang melakukan itu, “Kaja.

Akhirnya Jikyung mengangguk tak kentara, membiarkan bulir air mata lagi-lagi jatuh bergulir, sementara tangan kanannya dia letakkan di atas telapak tangan Junsu.

>>><<<

Sisa-sisa sinar matahari yang telah berada di atas kepala, menelusup dari celah di antara dedaunan, menyorot lurus pada jalanan sunyi di bawahnya. Kelopak bunga sakura berjatuhan dan melayang tertiup angin musim semi sebelum mendarat ringan di atas tanah. Ketenangan itu seolah tak terusik ketika sebuah mobil berhenti di tempat yang sama secara tiba-tiba, menjadi satu-satunya kendaraan yang berada di sana.

Spontan Jibyung memegang erat seatbelt dan menahan sebelah tangannya di atas dashboard mobil ketika tubuhnya harus terdorong ke depan karena perhentian mendadak mereka setelah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Karena baru mengalami hal seperti ini pertama kali saat bersama Onew, Jibyung tak bisa melakukan apapun. Dia bahkan tak berani memeriksa lagi raut wajah Onew setelah melihatnya untuk yang terakhir kali ketika di perjalanan ke tempat yang entah dimana ini. Jantung Jibyung berdetak kencang. Dapat didengarnya dengan jelas napas kasar pria di sampingnya, yang kini menjadi satu-satunya pemecah keheningan di antara mereka.

Lama kemudian, Jibyung merasakan pergerakan kecil di sampingnya. Dia menunduk, menelan ludah dan memejamkan mata sejenak lalu melepas seatbeltnya dengan sikap seolah tak sempat merasa gentar atas sikap Onew, “Apa maksud semua ini? Kau sedang bermain-main sekarang?” dia memberanikan diri bertanya dengan sengit, tanpa menoleh, sama sekali tak mengizinkan getaran hadir dalam suaranya.

Sejak awal Jibyung sudah tahu pria ini serius dengan perbuatan keterlaluan yang dilakukannya ini. Hanya saja dia tak mengerti apa yang membuat Onew berani melakukannya hingga terkesan sedang main-main. Jika membayangkan bagaimana Jikyung sekarang, Jibyung tak tahu apakah mereka masih pantas muncul di hadapan Jikyung.

Namja yang masih mengenakan tuxedo itu tak mengalihkan tatapannya sedikit pun dari Jibyung. Dia melepas satu hembusan napas panjang untuk yang kesekian kali. Kata-kata yang dia pikirkan sudah merangkak naik ke tenggorokan, namun tercekat di sana. Amarah yang masih tersisa mendidih di ubun-ubun dan rasa perih, membuatnya sesak dan akhirnya tak mampu bersuara.

Merasa yakin tak mendengar sahutan apapun dari Onew, Jibyung mendesis pelan sambil memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan dimana Onew berada.

Tetapi, tak lama setelah itu Jibyung bisa merasakan sebuah gerakan yang menarik pergelangan tangannya dalam satu sentakan, memaksanya menoleh dan harus kehilangan kata-kata ketika mendapati kedua mata itu tengah menatapnya dengan emosi yang tercampur aduk. Sekejap, Jibyung bisa merasakan perih di tenggorokannya, naik ke hidung dan matanya yang mulai berkabut.

Jibyung berusaha terlepas dari tangan Onew namun lelaki itu mengetatkan pegangannya, hampir mencengkram pergelangan tangan Jibyung yang hanya setigaperempat genggamannya, namun dia melihat pandangan itu perlahan melembut.

Onew menyadari rasanya sudah lama sekali tak melihat tatapan mata itu. Onew merindukannya lagi… dan rasa rindu itu mendesak dari dalam, menguasainya dalam sekejap hingga pria itu menarik Jibyung ke dalam dekapannya, bahkan tanpa sempat berpikir untuk melakukan itu.

.

Hingga suara isakan mencapai indra pendengaran, Jibyung masih tak mampu memikirkan reaksi apapun karena tanda tanya masih meliputinya, berjejal memenuhi benaknya. Sesuatu yang basah dan hangat mulai merembesi pakaiannya dengan cepat di bagian bahu, tempat dimana Onew menenggelamkan wajah.

“Onew-ya..” gumam Jibyung lalu menelan ludah dengan perih dan tak melakukan gerakan apapun sementara pelukan itu mengerat.

Meotthae..” suara Onew sedikit teredam karena pria itu masih menekankan wajahnya di bahu Jibyung, membiarkan air matanya terus lepas begitu saja, “..nan meotthaesso, Jibyung-ah..

Mendengar itu Jibyung menghembuskan sisa napasnya dengan sangat perlahan dan penglihatannya jadi berbayang karena cairan yang menggenang. Apa lagi sekarang? Apa lagi yang sedang pria ini coba lakukan? Melemahkan lagi pertahanan Jibyung yang baru saja berhasil dibangunnya? Lalu apa lagi yang akan dilakukannya setelah itu? Melukainya lagi?

“Sampai kapan kau akan membuat semuanya lebih kacau?” Jibyung berujar pelan namun tajam, walaupun masih membiarkan dirinya berada di dalam lingkaran lengan Onew. Akhirnya kristal bening itu jatuh tanpa perlawanan namun dia berusaha tak menunjukkannya.

Ucapan Jibyung membuat Onew mematung sejenak lalu melepas pelukannya, membawa wajahnya ke hadapan Jibyung dan mencari tatapan wanita itu dengan matanya yang basah, “Jibyung-ah..”

Jibyung memberanikan diri membalas tatapan Onew walaupun dengan begitu dia sedikit banyak jadi ingin menghapus jejak-jejak air mata Onew, merasa terenyuh karena baru kali ini pria itu menangis di hadapannya, karena dirinya. Namun ego, rasa takutnya mengalahkan semua itu.

Ara,” Onew mengatupkan rahang dengan erat, meremas kecil bahu Jibyung dan melanjutkan ucapannya, “aku tahu Jikyung terluka lagi karena apa yang kulakukan sekarang. Aku selalu terlambat mengenali perasaanku sendiri hingga membuat semuanya lebih kacau. Aku tahu itu, Jibyung.”

Ya, kau membuat semuanya lebih kacau. Sekali lagi, kau berubah pikiran saat kami sedang mencoba memperkuat sebuah keputusan.

“Kali ini, aku terlambat menyadari bahwa aku lebih sakit melihatmu terluka walaupun itu karena aku… dan aku tidak bisa..” sungai kecil di pipi pria itu terbentuk lagi, menampakkan sorot luka yang dapat Jibyung lihat di matanya, “..aku tidak bisa meninggalkanmu.”

Air mata juga mengucur deras dari kelopak mata Jibyung dan dia mencoba menahan isakannya.

“Aku menyesal, aku siap menerima hukuman apapun untuk kesalahanku terhadap kalian. Karena itu..” jeda sejenak, kerutan samar tampak di antara kedua alis namja itu dan tatapannya semakin serius, “Shin Jibyung, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Sekali saja.”

Meski kata-kata Onew menyentuh perasaannya, Jibyung tak ingin luluh dengan mudah karena trauma masih menguasainya. Bagaimana jika ini hanya emosi sesaat pria itu? Bagaimana jika hal seperti sebelumnya terjadi lagi?

Maka wanita itu menggeleng pelan, menurunkan tangan Onew yang berada di bahunya, “Kita sudah berhenti.”

“Jibyung-ah.” setengah memelas dan panik, Onew menarik kedua tangan Jibyung ke dalam genggamannya dan tak membiarkannya lepas.

Menyerah untuk menarik kembali tangannya, Jibyung menunduk dan menggeleng lagi, “Aku tidak bisa. Kau terlambat.”

.

.

Keringat sudah meleleh di dahi Onew namun lelaki itu tak memedulikannya. Dia menarik napas sangat dalam lalu menunduk hingga kepalanya hampir menyentuh puncak kepala Jibyung. Kemudian bicara dengan suara yang lebih rendah dan perlahan, setelah beberapa lama hanya terdiam mendengarkan getaran di napas yeoja itu, “Aku tak tahu akan berujung seperti ini.

“Aku setuju untuk segera menikah denganmu karena saat itu aku mulai tertarik pada Jikyung, bukan karena desakan orang tua kita ataupun murni keinginanku sendiri. Itu juga alasanku ketika memintamu melakukan sesuatu untuk membuatku lebih mencintaimu.”

Jibyung menahan napas tanpa sadar mendengar kenyataan yang baru diketahuinya ini. Di sisi lain, Onew memejamkan mata, seolah menyelami kembali ingatannya.

“Kau benar, aku memang berengsek. Dengan mudahnya aku kalah oleh rasa tertarik sekecil itu dan masih bisa berpaling darimu walaupun kau sudah menjadi istriku. Aku bodoh karena membiarkan perasaan itu terus tumbuh, padahal aku tahu kau mempercayaiku dan berusaha mewujudkan permintaanku agar lebih mencintaimu.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku ketika aku memintanya bersamaku, bahkan menciumnya saat musim dingin yang lalu, padahal kita sudah…” Onew menghembuskan napas gusar, “Kupikir aku sudah gila saat itu.”

“…”

“Aku menyayangi Jikyung, aku merasa nyaman setiap bersamanya, semuanya persis seperti apa yang kurasakan padamu, dan perasaan itu semakin kuat. Kau sama sekali tidak tahu hal itu dan aku mengerti kau sangat kecewa.” suara lelaki itu semakin memelan, “Baru aku sadari sekarang, bahwa aku tidak pernah benar-benar bahagia karena itu. Aku ingin membantah saat kau berkata bahwa kau menginginkan perpisahan kita. Walaupun aku membencinya, kata ‘ingin’mu itu terus diam di pikiranku, menyiksaku dengan menciptakan banyak perdebatan batin.

“Dan kurasa aku terlalu kekanakan karena terlalu cepat mengambil keputusan untuk menyerah. Kupikir, apa lagi yang bisa kulakukan jika kau memang menginginkan perpisahan ini?”

Jibyung menyerah dan melepas pertahanannya saat melihat tetes demi tetes air matanya menjatuhi tangan Onew, begitupun lelaki itu. Jibyung memejamkan mata dan terisak hingga kesulitan bernapas. Kalimat demi kalimat yang baru saja Onew ucapkan entah kenapa seolah merobek-robek kembali luka Jibyung, namun setelah itu langsung tak terasa sakit lagi.

Yeoja itu tidak benar-benar menginginkan perceraian. Tentu saja tidak. Dia masih ingin memelihara rasa cintanya pada Onew. Namun rasa cinta itu ternyata tak cukup besar untuk bertahan jika dibandingkan dengan rasa sayangnya pada Jikyung. Dibandingkan apapun, dia akan selalu lebih memilih kakaknya.

Kini Jibyung bisa merasakan sebelah tangan Onew yang hangat di sisi wajahnya, mengangkatnya perlahan hingga pandangan mereka bertemu.

Onew berujar dengan lebih lembut, seolah jika suaranya lebih keras sedikit saja bisa mengacaukan semuanya, “Aku sangat menyesal, Byung-ah. Meski aku tak pantas berharap lebih karena aku tahu apapun tak akan cukup untuk membuatmu kembali percaya padaku, tak akan cukup mengobatimu, tapi aku berjanji, aku tak akan menyerah lagi.” dihapusnya bekas air mata Jibyung, yang segera saja digantikan dengan yang baru saja meluncur turun, “Aku sungguh… menyesal karena berani mencoba melepasmu, padahal sejak awal kaulah sumber kebahagiaanku.”

“Kau… dan ‘dia’.”

.

Onew merasa hatinya dicubit namun mencoba tersenyum samar melihat raut tak mengerti yang perlahan muncul di wajah Jibyung, “Aku mau anakku laki-laki.” katanya dengan nada bicara yang sama, “Kau?”

>>><<<

Last night…

Sudah empat kali Onew menekan bel namun tak ada tanda-tanda pintu apartemen itu akan terbuka. Pria itu mengatupkan rahangnya sejenak lalu kembali menekan bel dan menunggu untuk hasil yang sama dengan sebelumnya; tak ada yang terjadi dari apartemen dengan nomor 614 menempel di depan pintunya ini.

Onew menyadari sesuatu yang membuatnya pada akhirnya tahu tempat dimana Jibyung berada. Keberadaan cincin itu di apartemen mereka membuat Onew berpikir bahwa Jibyung meninggalkan benda itu seolah dia bisa pulang-pergi dengan mudah dari tempatnya ke apartemen mereka. Saat itulah pria itu menyadari ada yang belum diperiksanya; gedung apartemen ini.

Berbekal sedikit kenekatan dan rasa penasaran yang besar, Onew membuat seseorang di belakang meja resepsionist mengatakan nomor apartemen Jibyung, sehingga di sinilah Onew sejak beberapa belas menit yang lalu, berdiri dengan rasa lega dan gusar sekaligus, di depan pintu. Dia ingin membuktikan sendiri jika memang Jibyung-lah yang berada di dalam sana. Namun hingga sekarang pintu itu belum terbuka, membuatnya banyak menduga-duga.

Onew memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menunduk selama beberapa saat. Mungkin benar, memang Shin Jibyung yang dia maksud yang menyewa tempat ini. Tapi entah apa yang membuat Onew tetap begitu penasaran hingga tangannya kini menekan-nekan tombol di samping pintu dan memasukkan serangkaian nomor yang sering digunakan Jibyung untuk password. Entah itu tanggal lahir wanita itu, tanggal lahir Minhyun, dirinya. Namun tak ada satupun yang benar.

Jibyung cukup pelupa. Dia pasti tak menggunakan password yang jauh tidak berhubungan dengan dirinya sendiri, pikir Onew sembari memasukkan empat digit belakang nomor ponsel Jibyung, yang juga tidak tepat.

Sekilas, diliriknya intercom di dekat pintu yang seolah mengejeknya. Apa Jibyung sengaja tak membukakan pintu untuknya? Begitu?

Helaan napasnya terdengar lebih gusar. Ragu-ragu pria itu kembali memasukkan serangkaian nomor yang tampaknya tak terlalu diingat. Dia nyaris terperanjat karena sepersekian detik setelahnya terdengar suara pintu ter-unlock secara otomatis. Ternyata tanggal lahir tuan Shin. Itu membuat Onew lebih yakin bahwa ini memang tempat Jibyung.

Tak ingin membuang lebih banyak waktu, namja itu menarik knop pintu lalu melangkah masuk.

Semua lampu di dalam tampak menyala terang, membuat Onew tak yakin si pemilik apartemen ini sudah tertidur. Untuk beberapa detik Onew tak melakukan gerakan apapun hingga bisa mendengar detak jantungnya sendiri dengan jelas. Terlalu sunyi. Apa Jibyung memang sedang tidak di sini?

Lantas pria pemilik mata sipit itu mengamati sekitarnya sekali lagi dengan sebelah tangan yang masih tenggelam di saku celana denimnya, sambil melangkah lebih dalam dan berusaha tanpa menimbulkan suara sekecil apapun. Bagus. Sudah dua kali dia bertingkah layaknya penguntit, semalam ini.

Sejenak, Onew bisa bernapas lega—entah karena apa—ketika tidak melihat siapapun di ruang tengah. Kosong sama sekali. Yang membuatnya percaya bahwa apartemen itu berpenghuni adalah letak bantal sofa yang agak tidak rapi dan benda-benda di atas meja yang cukup menarik perhatian hingga Onew memutuskan untuk melihatnya di jarak yang lebih dekat.

Satu, dua, tiga detik pertama, tak ada yang terjadi. Detik berikutnya barulah pria itu bisa merasakan darahnya berdesir, terpompa dengan sangat cepat ke sekujur tubuh. Pancaran keterkejutan itu tampak dengan jelas di ekspresi wajah dan sorot matanya yang melebar.

Hasil pemeriksaan dan foto hasil USG atas nama pasien Shin Jibyung, hari ini. Ini artinya…

“Ya Tuhan..” sekelebat bayangan melintas di dalam pikiran Onew, berputar-putar mengelilingi seolah tak akan kunjung berhenti. Kedua kakinya bergetar, memaksa Onew menghempaskan diri di atas sofa dengan linglung.

Lebih dari tiga bulan. Tentu saja itu.. saat itu dia dan Jibyung.. Ya Tuhan… Ya Tuhan, dia akan menjadi seorang ayah. Lalu kenapa dia justru.. besok..

Putaran-putaran itu tak berhenti, membuatnya pening. Semakin pening ketika bercampur dengan suasana hatinya yang semakin buruk. Onew menunduk dan memijat pangkal hidungnya sejenak.

Jadi Jibyung baru mengetahuinya hari ini? Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Bagaimana nanti?

Pertanyaan yang dia pikirkan sendiri justru membuat dirinya merasa tersudut, merasa bersalah, marah dan sakit secara bersamaan.

[“Kau benar-benar menginginkan ini?”

“Ya, aku benar-benar menginginkan perceraian ini terjadi. Tidak ada apapun lagi yang bisa kuharapkan darimu. Bukankah itu juga yang kau rasakan terhadapku?”]

Onew mengerang pelan lalu berdiri dengan satu sentakan. Dia menyapukan kembali pandangannya, memastikan tak ada satupun yang lolos dari perhatiannya. Kakinya lantas melangkah mendekati salah satu pintu ruangan yang adalah kamar Jibyung, langsung membukanya namun tak menemukan apapun setelah mengamatinya beberapa kali. Tanpa ragu Onew juga membuka pintu satu ruangan lainnya.

Keadaan ruangan yang kacau membuat Onew terdiam kaget selama beberapa detik, bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi di sana. Ketika satu sosok yang dia cari tertangkap pandangannya dengan kondisi berbaring menyamping di lantai, wajahnya tampak lebih tegang dan perlahan-lahan berangsur terganti oleh ekspresi sendu.

“Shin Jibyung.” panggil Onew hampir tak bersuara, begitu telah memosisikan diri setengah berlutut di samping Jibyung. Tangannya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi setengah wajahnya, mengamati sekujur tubuh wanita itu untuk memastikan tak ada yang terluka,“Jibyung-ah..

Di saat itulah Onew menyadari Jibyung tidak tertidur.

Walaupun lengannya gemetar karena masih terkejut, lelaki itu masih bisa dengan ringan mengangkat tubuh pingsan Jibyung untuk memindahkannya ke tempat yang lebih hangat. Lelaki itu melangkahkan kakinya dengan berat, berjalan perlahan memasuki kamar Jibyung. Membaringkan wanita itu di atas ranjang dengan hati-hati, menyelimutinya, dan memandanginya cukup lama tanpa beranjak sedikit pun.

Kini Onew sadar sosok inilah yang membuatnya merasa kehilangan dan melupakan sesuatu yang penting. Ternyata dia merindukan Jibyung… dan perasaan itulah yang menariknya kemari. Namun disaat sudah bisa memandangi sosok itu dengan leluasa tepat di hadapan matanya, Onew harus rela rasa rindunya terkikis begitu saja dengan rasa perih, apalagi karena dia menemukan Jibyung dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja dan itu karena dirinya.

*

Waktu sudah menunjukkan tiga jam lebih dari tengah malam, yang berarti Onew sudah menghabiskan hampir satu jam untuk berpikir.

Sedikit pun, matanya tak lepas dari Jibyung. Napas yeoja itu kini sudah tampak teratur dan halus. Cukup menenangkan dan membuat miris di saat yang bersamaan. Kenangan seperti ini kini sudah tersimpan di memorinya.

Tak ada alasan bagi Onew untuk menganggap simpel masalah ini. Jibyung bisa saja menempuh saat-saat sulit seorang diri nanti, jika memang pernikahan besok tetap dilaksanakan. Terlebih itu karena dirinya.

Onew bisa merasakan napas hangat Jibyung menerpa ujung jarinya yang tengah bergerak mendekati wajah wanita itu.

[Ya, aku benar-benar menginginkan perceraian ini terjadi.]

Lalu apa yang bisa dilakukanya?

Tangannya terkepal setelah urung menyentuh pipi Jibyung saat sudah hanya menyisakan sedikit jarak. Dia membawa tangannya kembali ke sisi tubuh dan berbalik, berjalan dengan berat menuju pintu kamar. Dia berhenti sejenak di ambang pintu, memegang knop pintu dengan sangat erat. Onew bahkan belum meninggalkan tempat ini dan tiba-tiba saja rasa rindu itu hadir lagi.

Tapi… apa yang bisa dilakukannya?

Andai mereka bisa memutar balikkan waktu, Onew bersumpah akan menerima apapun syaratnya.

Andai Jibyung tak menginginkan perceraian ini, Onew bersedia mempertaruhkan segalanya.

.

.

Pada akhirnya, beberapa menit kemudian pintu masuk apartemen itu telah tertutup dari luar dan memperdengarkan suara kunci otomatis.

>>><<<

Sejak semua orang menyadari bagaimana akhir dari pemberkatan pernikahan ini, sejak Jikyung meninggalkan altar dan berpindah ke bagian lain gedung, Junsu tak pernah meninggalkan Jikyung. Dia bahkan rela menunggu Jikyung cukup lama di luar toilet wanita, hanya untuk memastikan tak terjadi apapun pada perempuan itu. Memang tak terjadi hal yang buruk, tapi sebagai gantinya Junsu harus menemukan Jikyung keluar dengan kedua mata yang merah dan tentu saja, sembab.

Saat ini mereka sedang berada di sebuah ruangan cukup besar dan terang yang dijadikan ruang rias. Terdapat satu meja dengan cermin yang besar serta tiga buah single sofa di sana. Beberapa pakaian dan barang-barang lain terletak sembarangan di dua sofa yang tidak diduduki Jikyung.

Wanita itu masih mengenakan gaunnya, duduk tertunduk dengan tatapan mata melamun dan bibir rapat. Tepat di belakangnya, Junsu memperhatikan dengan diam-diam sambil menyandarkan punggung di daun pintu yang tertutup. Ini adalah menit ke sekian mereka berada di posisi itu. Tidak saling mengatakan apapun apalagi membahas apa yang baru saja terjadi. Mereka sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri sejak semua yang terjadi.

Bayangan tentang detik-detik kejadian tadi terus menerus terulang memenuhi benak Jikyung hingga membuatnya lelah. Lelah menangis untuk rasa sakit yang datang dan datang lagi.

Junsu sibuk memikirkan bagaimana dia harus memberi pelajaran untuk seorang Lee Jinki yang sekarang entah berada dimana. Dia sudah hampir merelakan dan mempercayakan Jikyung, namun apa yang justru dilakukan Onew benar-benar membuatnya geram.

Waktu terasa berjalan lambat. Pikiran Junsu sudah melayang kemana-mana ketika suara Jikyung yang sengau membuyarkan semuanya dalam hitungan sepersekian detik.

“Ini.. rasa malu terbesar yang pernah kualami…”

Lelaki dengan nama lahir Kim Junsu itu menghela napas dalam namun sangat pelan dan hanya menunggu kalimat lainnya. Dia bisa melihat punggung Jikyung berguncang pelan karena kekehan singkat dan hambar yang disuarakannya kemudian.

“…terlebih padamu.”

Kedua alis Junsu terangkat naik. Beberapa detik kemudian di bertanya, “Kenapa?”

“Karena pada akhirnya kau bisa melihat sendiri… peristiwa ini.” Jikyung tak ingin menjelaskan secara gamblang. Dia tahu Junsu akan mengerti apa maksudnya. Sebelumnya mereka—dirinya dan Onew—terkesan menegaskan pada semua orang—termasuk Junsu—untuk memercayai keputusan mereka untuk menikah. Tapi malah mereka sendiri yang mengacaukan semuanya. Itulah yang membuatnya merasa tak punya muka di hadapan Junsu.

“Kau benar-benar tak perlu merasa malu.” hampir saja Junsu mendengus. Kakinya melangkah membawanya ke hadapan Jikyung, menatap puncak kepala perempuan itu lama-lama sebelum setengah berlutut di hadapannya agar bisa melihat wajah Jikyung, “Memangnya siapa yang membatalkan semua ini, hah? Apa yang membuatmu harus merasa malu di tengah…” suara pria itu memelan dan dia mengamati Jikyung dengan protektif, “…shock dan tersakiti seperti ini?”

Jikyung semakin menunduk, memandangi rok gaun yang mengembang menutupi kaki bahkan sofa yang didudukinya. Dia tak berniat menanggapi ucapan Junsu dan itu membuat sang pria lebih khawatir sekaligus takut. Pandangan mata wanita itu berkabut. Apa yang ditatapnya tak terpantul di bola matanya. Dia tampak terlalu tenggelem dalam gelombang pikirannya sendiri.

.

Setelah beberapa menit berlalu.

Oppa.” Tiba-tiba saja Jikyung mengangkat wajah dan bertemu pandang dengan Junsu, “Mau bertaruh?” lanjutnya, berusaha menarik otot-otot bibirnya melebar walaupun hanya sedikit.

“Hm?” dahi Junsu berkerut, baru bisa mencerna ucapan Jikyung setelah beberapa detik berlalu.

“Kupikir.. Onew tidak akan kembali kali ini.”

Dalam-dalam Junsu menatap lawan bicaranya. Walaupun nada bicara wanita itu terdengar baik-baik saja, Junsu tahu apa yang sedang bercokol di hatinya.

“Jika dia berani kembali, aku akan menghajarnya duluan.” tanggap Junsu serius. Benar-benar serius.

“Kuharap Jibyung tidak akan keras kepala lagi.”

Mendengar kalimat itu, Junsu bisa mengetahui keputusan Jikyung yang tersirat di dalamnya. Meski berat, meski berarti Jikyung harus menata kembali hatinya dan itu tentu membutuhkan banyak waktu, meski sangat sakit, wanita itu berbesar hati merelakan semuanya. Dia tak akan menghakimi ataupun meminta pertanggungjawaban pada orang yang telah membantingnya begitu saja, apalagi kembali berharap. Dan itu karena rasa sayangnya pada Jibyung.

“Ini harga yang pantas aku terima untuk apa yang sudah kulakukan pada Jibyung. Bahkan mungkin masih kurang setimpal.”

Yang menjadi pertimbangannya saat ini hanya Jibyung.

“Aku sadar aku sempat melupakan Jibyung yang begitu menyayangiku, untuk rasa cinta dan keinginan yang sudah lama kusimpan. Onew…” mendadak Jikyung menghentikan suaranya dan menghembusakan napas panjang.

Onew hanya terlambat menemukan alasan yang lebih kuat.

Tidak perlu dikatakan keluar, tidak jika Jikyung tidak ingin melihat pria di hadapannya tersulut.

“Kau membenci Onew sekarang?” terka Junsu hati-hati.

“Haruskah?” Jikyung kembali menunduk, membuat helaian rambutnya jatuh dari bahu, “Tentu perasaan itu ada. Tapi bagaimanapun… dia iparku sendiri.”

Junsu merengkuh tangan kanan Jikyung yang berada di atas pangkuan wanita itu, menggunakan sebelah tangan. Lalu tersenyum dan mengangguk seolah meyakinkan itu tindakan yang benar yang harus Jikyung lakukan. Senyumnya menular hingga yeoja di hadapannya pun ikut tersenyum meski hanya sebentar.

Geurae. Anggap semua ini liku tajam untuk memperkuat dan membuatmu selalu mengingat kasih sayang di antara kau dan Jibyung. Sementara itu, biarkan waktu mengobati lukamu hingga hilang tak berbekas. Tuhan memberkatimu, Jikyung-ah.

Gomawo, Oppa.

Lagi, Jikyung mengangkat wajah sedikit dan melihat wajah Junsu yang posisinya sedikit lebih rendah. Rasa bersalah itu datang lagi, setelah dua hari yang lalu. Junsu selalu ada saat Jikyung berada di posisi yang sempit. Menyingkirkan semua penghalang hingga setidaknya Jikyung dapat bernapas dengan lebih bebas, meski untuk menyingkirkan penghalang itu Junsu harus terluka.

Yeoja itu berujar sekali lagi, kali ini dengan menyunggingkan senyum tulus lainnya, “Gomawo.

“Hm..” gumam Junsu pelan, tak bisa menahan diri untuk melarikan tangannya yang lain untuk membelai pipi Jikyung yang halus. Tatapannya menyorotkan harapan dengan sangat kentara, tepat menuju sepasang iris cokelat di hadapannya, hingga tak menyadari hembusan napas yang sudah terasa menerpa lembut wajahnya.

Untuk selanjutnya Junsu tak bisa menahan diri untuk mengecup Jikyung tepat di bibirnya.

 

====

 

EPILOG

Angin berhembus hangat, menerbangkan beberapa helai rambut Onew yang sedang mendudukkan diri di atas kap mobil sambil memerhatikan kelopak bunga yang berjatuhan. Dia sudah menanggalkan tuxedo-nya dan kini hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya dia lipat hingga siku serta dua kancing teratas yang dibuka.

Sekali, dua kali, pria itu memejamkan mata untuk sekadar mengosongkan pikiran dan menenangkan perasaannya sendiri, atau melirik ke bagian dalam mobil dimana Jibyung duduk dan kini tengah bicara di telfon dengan kembarannya.

“A-aku harus bicara dengan Jikyung.”

Itu yang Jibyung katakan sebelum Onew menyerahkan ponselnya yang ditaruh di dashboard mobil sejak semalam. Akhirnya Jibyung sepakat untuk mengulang semuanya dari awal. Ya, Onew yakin dia mendengar kata ‘ya’ dengan telinganya sendiri. Tetapi tetap saja ada setitik kekhawatiran yang Onew rasakan di tengah menunggu percakapan antar saudara itu. Onew tahu, Jibyung bisa saja tiba-tiba mengubah keputusannya jika terjadi sesuatu pada Jikyung, meski Onew berencana untuk tetap egois jika seandainya keputusan Jibyung memang berubah.

Dia harus egois, sekali lagi saja, karena—sudah dia katakan—sejak awal Jibyung adalah sumber kebahagiaannya.

“Onew-ya.

Hampir saja Onew terperanjat kaget karena suara yang tiba-tiba terdengar tepat di sampingnya itu, “Oh,” gumamnya pelan setelah menoleh dan mendapati Jibyung sedang menyodorkan ponselnya.

“Junsu-ssi mau bicara denganmu.”

Onew mengambil benda tipis itu dari tangan Jibyung dengan pikiran yang sudah dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi padanya. Dia kemudian menempelkan speaker ponsel itu di telingnya sebelum mulai bicara, “Ne?

“Jinki­-ya, temui aku setelah selesai dengan urusanmu. Empat mata.”

Kemudian sambungan terputus.

Dari nada bicaranya saja Onew tahu salah satu dari kemungkinan-kemungkinan buruk itu akan terjadi padanya. Ya, apa boleh buat. Kalau itu bisa menebus kesalahannya, tak masalah.

“Apa?”

“Bukan apa-apa.” Onew tersenyum simpul lalu menarik Jibyung perlahan untuk duduk di sampingnya, “Kau tahu ini dimana?” gumamnya sambil melihat sekitar.

“Kuharap masih di Seoul.” dengan pelan Jibyung menjawab, setengah takjub karena baru sekarang menyadari bahwa tempat ini begitu indah. Cherry blossom berjejer lurus di sepanjang jalan, kelopaknya berjatuhan dengan elegan. Cantik.

“Byung,” suara Onew mengalihkan kembali perhatian Jibyung, “apa ada kriteria khusus untuk sebuah cinta agar bisa dikatakan sejati?”

Jibyung sengaja tak menjawab.

“Apakah itu cinta terakhir, atau mungkin cinta pertama?

“Apakah cinta yang setia sampai mati?

“Atau cinta yang tak terganti, tetap menunggu meski tak bisa memiliki?”

“Semua itu mungkin saja cinta sejati, bukan?” Jibyung memandangi kelopak bunga yang jatuh ke atas telapak tangannya yang menengadah.

“Kau benar. Tapi ‘mungkin’ itu berarti tidak pasti. Kriteria-kriteria itu relatif.” pria bermata sipit itu mengambil kelopak bunga yang jatuh di kepala Jibyung, “Kau tahu apa yang pasti?”

“…”

“Aku baru menemukannya. Kurasa yang pasti… cinta sejati tidak mengenal kata terlambat.”

Tak urung senyum tipis terukir di bibir Jibyung. Beberapa detik setelahnya wanita itu bisa merasakan kehangatan menyelimutinya.

>>><<<

“Goresan demi goresan luka bergantian tertoreh seiring berjalannya masa. Meski perih, itu adalah tanda kedewasaan. Satu luka untuk satu tahap. Semakin banyak luka yang kita dapat, semakin jauh tahap yang sudah kita lalui, dan semakin mantap langkah yang kita ambil dalam mengarungi jalan kehidupan yang masih panjang.

Sementara itu, biarkan waktu, cinta dan kasih sayang mengobati setiap luka kita.

– Shin Twins –

 

FIN

 

 

a/n :

naaah, jadiii… dari Jibyung’s POV di previous clip sampai yang kecelakaan itu sebenarnya cuma mimpi sodara2.. sebenernya sih udah keliatan ngaconya. Di situ umur Jibyung 25, padahal kan dia baru 23. Tanggal kecelakaannya juga sebenarnya ngaco loh :3 mehehe.. ini nih kemaren Icha yg sempet protes soal ini *colek2* Kenapa aku bikin ngaco? Karena itu ciri khas mimpi .______. *plakplakplakplakplaaaak!!*

soo.. how’s the last clip? ._. good enough ending, atau malah aneh dan ga memuaskan sama sekali? TT___TT *sob*

sebelumnya, kalau emang ga memuaskan, aku minta maaf banget ya.. tapi sueerrr, kok.. aku bikin ini bener-bener dengan hasrat(?) pengen membahagiakan readers TT___TT *sungkem sampe lebaran*

dan aku berterimakasih banget buat semuanya yang ga bisa kusebutin satu-satu karena ini udah tengah malem #dzing! –yang udah ngikutin cerita ini sampai habis, good ataupun silent readers, yang rela nunggu aku update yang kadang sampe berbulan-bulan huweeeh :”)

eonni-eonni, temen-temen semua yang udah ngasih komen, koreksi dan bahkan semangat lewat komen-komen cetar (?) yang sangat sangat sangat sangat sangat aku hargai. Makasih banget, ya T_T fanfic ini ga bakalan lanjut tanpa kalian *hugbear*

ya.. pokoknya berakhir sudah kisah mellow cinta segiempat miring-miring plinplan (?) ini. Semoga pada suka sama endingnya Ya Allah *doa khusyuk di pojokan*

kritik dan sarannya ditunggu banget, ya, untuk last clip ini.. *ppoppo* kalau ada yang masih dibingungkan, langsung tanyakan aja di comment box. :3

Sekali lagi, makasih yaaa :’) *lambai2 bareng Onew & anaknya* *tendang Jibyung* #eeehhh

Ngomong-ngomong, selamat menjalankan ibadah puasa :3 *telaaaaat braaaay!* *dilemparin panci bekas kolek*

35 responses to “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Last Clip

  1. Wheeeeiii author onni~ aku baru nemu ffmu pas dikau ngepos final clip iniiiii, jd di sebelum2nya ga ksh komen, komennya disini ajaaaaa

    Ya ampuuun aku jd ga bs nge-bedain, onew yg asli ama gambaran author itu beneran ga yaaa? Jd khawatir, kalo onew bakal kayak gitu *hope not*

    Tp aku ngerasa ada yg janggal, ah iya yg bagian ketahuan selingkuhnyaaa, kayaknya kurang bagian siii jikyung ama onew kontak2an buat ngerencanain mau memberi tahu si jibyung nyaaa, aku sempet bingung tau2 si onew ngomong gt di lift ato it mmg tujuanmukah? Wahahahaha aku br sadaaaarrr
    Suka bgt bagian minho bentak2 wahaahah berasa nyata

    Aduuh lagi2 dongsaeng taemin pacaran lagi, biar membuktikan dia manly ya? Wakakakak

    (‘⌣’)(y) onni saya puas (?) Dg ceritamu wehehehehe

    Harusnya ada ending onew ketakutan gendong anaknya sendiri (¬.¬”) hahaha

    • aduh jangan sampe dong Onew asli kayak di ff ini ;A; jangaaaan~ *heboh sendiri*

      ehehe.. kalau kontak2 itu aku emang sengaja ga dijelasin. xD *digamparin bareng2* maaf deh kalau bikin bingung ;A; *sungkem*

      makasih udah ngga males buat komen >< maaf banget aku baru bales sekarang *big hug*

  2. Thor, mian bgt aq br komen. kiraen jinki bakalan sm jikyung. ga rela bgt dah pastix. tp finally, happy ending. ceritax daebak bgt. dtungg ff yg laenx thor, fighting!!! 🙂

  3. akhirnya setelah berbulan bulan ngikutin sampe lumutan akhirnya ff ini kelar juga -_- huaaaa seruu thorr~~ itu junsunya mau ngapain ke onew?? kerenn akhirnya onew sama jibyung :3

    • wkwkwk.. maaf yah, kelamaan xD
      junsu mau ngapain ke onew? silahkan dibayangkan sendiri, yg jelas ga mungkin junsu beneran bunuh onew wakakak *plak*

      makasih ya, btw ^^

  4. Yaaa lope lope deh author nyaaa~ uuuuh cium nih ><
    Aku bacanya disini ya gak di wp kmu wehehe
    Ah gak perlu ditanyaa aku sukaaaaaaa banget sama ending nyaa sesuai sama yang aku mau hihi
    Tuhkaan tebakan aku nyerempet bener wkwk si Onew nyamperin ke apartemen Jibyung trus tau kalo Jibyung hamilnya disitu hihi
    Aigoo aku seneng bgt nih, kirain aku bakalan sad ending soalnya aku gak seberapa meratiin masalah umur sama tanggal wkwk
    Bikin lagi yaa ff yang keren2 lagii hihi ^^

    • sini ciuuuum, eonn #eh

      selamat dong, tebakannya bener xD *kasih bunga bangkai* #plak

      hehehe.. insyaallah, doain aja aku punya banyak waktu buat nulis ._. ehehehe makasih btw >< *peluk*

  5. akhirnya berakhir bahagia juga..walau jikyung harus mengalami sakit hati lagi setidaknya dy ga bakal nyakitin jibyung dan juga masih ada junK yg selalu setia berada di sampingnya. dan onewww~~ pengen getok deh, nyadarnya lama bener klo perasaan kmu itu lbh besar ke jibyung dibanding jikyung..tapi ya setidaknya ga terlalu telat2 amitlah ya..
    duhh, gatau harus ngomong apalgi yg pasti ini daebak abiss…like this ^^b

  6. Waaaaaaah sukses bikin banjir,mata merah huaaa daebak deh,akhirnya onew sama jibyung lagii~ aduh thor,ngebayanginnya aku diposisi jibyung aaaaa daebak!the real happy ending,mnurutku sih aaaaa ditunggu cerita2 lainnya,bikin season 2nya thor,penasaran sama anaknya ><

  7. maaf klo komen yg sangat terlambat ini mengganggu, bru bca soalnyah, ff mu kerenn bgt thorrr, emosiku campur adukk mnjadi stuu, bias ku emg jinki, tp ini prtama kalinya aku kesell bgt sm jinkii *dzigg* pengenn nyekek pgnn mukulinn arrgh. tp endingnya ttep sesuai dgn yg d harepinnn, mskipunn pgn lbh banyak lg bgyan ending jinki and jibyung.

    and klo bleh nnya nihh, ada gag asal muasalnya kenapa dahulu kala onew milih pcrannya sm jibyung dan bkannya sm jikyung gtcuhhh *aisshh, banyak maunya* thanks udh bkinn ff yg bgtu kerenn, mskpun d sini krkter jinki bikinn aq gedekk stgh pingsan hohoho

    • kkk.. iya gapapa, kok ^^ makasih banget udah ngga males buat ngasih komen, hahaha..

      asal muasal kenapa Onew milih Jibyung? itu masalah hatinya xD *plak* hehe.. sama2, makasih juga yaaah >< *peluk*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s