I Want a Baby – Part 9 [End]

i-want-a-baby1

Author: Ulfah_Naziah

Title: I Want a Baby

Main Cast:

·         Lee Donghae (SJ)

·         Jane Han (OC)

Support Cast:

·         Find by yourself

Genre: Drama, family, marriage life

Rating: PG-16

Disclaimer: Cerita ini ngambil plot dari film india, kalau nggak salah judulnya ‘Chori-chori, cupke-cupke’. Yang diperankan salman sama Rani. Ketahuan ya, suka film indianya. Kekeke~ Habisnya aku suka banget, nget, nget~ sama film itu, ditambah dengan imajinasi liarku.

Credit poster: Mira~Hyuga, posternya keren~~^^

Warning: Typo, cerita gaje, alur lambat, PERPINDAHAN WAKTU SANGAT CEPAT dan kekurangan yang lainnya. .—.v

A/N: Part terakhir. Yeay!

|Part 1| Part 2| Part 3| Part 4| Part 5| Part 6| Part 7| Part 8|

Story 9

Satu bulan sudah nyonya Lee, tuan Han dan Donghwan tinggal di kediaman Donghae. Selama itu pula Jane berusaha keras untuk menjaga kerahasiaan ‘kandungannya’ tetap aman, bahkan ia rela meminum susu ibu hamil dan obat-obatan tradisional –yang rasanya tidak mampu Jane deskripsikan- yang disarankan ibu mertuanya agar menjaga ‘kandungannya’ untuk tetap sehat. Ia rela melakukan itu semua asalkan ia dan Donghae bisa membuat mereka semua tidak curiga dengan sandiwara yang diperankan olehnya.

Jane bahagia dengan perhatian yang diberikan oleh ibu mertuanya tapi disamping itu rasa bersalah perlahan mulai menggerogotinya. Ia bersalah karena telah membohongi mereka semua, tapi dirinya tidak mempunyai cara lain lagi. Ini adalah satu-satunya jalan yang terpikirkan oleh Jane.

Sampai tiba-tiba nyonya Lee memintanya dan Donghae untuk ikut pulang ke Mokpo bersama mereka sampai ia melahirkan bayinya –begitu yang beliau minta. Berulang kali Donghae berusaha untuk menolak permintaan ibunya dengan berbagai alasan yang ia punya, tapi tetap saja ibunya bersikeras dengan keinginannya.

Masalahnya, Jane dan Donghae tidak mungkin meninggalkan Seorim seorang diri di rumah sebesar ini, disamping itu juga akan jadi repot kalau tiba-tiba wanita itu melahirkan tanpa ada seorang pun disisinya. Ketika Donghae mengutarakan alasan itu, dengan santainya ibunya mengatakan kalau Seorim juga harus ikut ke Mokpo.

Dan, disinilah mereka sekarang, di Mokpo. Kembali kesini bersama dengan Seorim.

“Seorim~a, mulai sekarang kau akan tinggal di kamar ini. kau menyukainya?” Nyonya Lee membuka pintu kamar dan menunjuk ruangan kosong didalamnya yang diperuntukan untuk Seorim.

Seorim mengangguk dan tersenyum, “Ne, gomawo ahjummonim.”

Perlahan wanita itu mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar barunya. Nyonya Lee menutup pintu kamar itu perlahan, dan perhatiannya kemudian teralih pada kedua orang dihadapannya.

“Nah, sekarang kembali ke kamar kalian. Beristirahatlah, terutama kau Jane. Kau pasti kelelahan.” Ujar perempuan paruh baya itu lembut, mengusap pelan kepala menantunya, “Oemma akan memasakan makanan kesukaanmu.” Dan setelahnya nyonya Lee berlalu pergi.

Menyisakan sepasang suami istri itu. Tiba-tiba saja Donghae tersenyum –terlihat seperti sebuah seringaian- dan menatap istrinya itu dengan tatapan yang membuat Jane bergidik.

“Wae?” Sahut Jane hati-hati, Donghae menggeleng dan dengan cepat memeluk tubuh Jane dari belakang lalu mencium tengkuk istrinya.

“Ya~ Hae!” Sentak Jane, memukul lengan Donghae yang melingkari perutnya dengan keras karena membuatnya kegelian. Donghae terkekeh dan tanpa melepaskan pelukannya dari Jane, Ia mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya dan mau tak mau Jane berjalan karena dorongan dibelakangnya.

“Ayo, kita beristirahat istriku.” Seringai Donghae.

***

“Ya! Donghwan~a, jangan menggoda Jane terus. Makan makananmu!”

Donghwan mengerucutkan bibirnya mendengar bentakan dari ibunya, mau tak mau ia menghentikan kegiatannya mencubiti pipi Jane. Donghae mendengus, melirik kakaknya itu penuh dengan rasa puas dan dibalas Donghwan dengan delikan tajamnya.

“Makanya, kalau kau ingin menggoda perempuan, segeralah menikah. Jangan hanya menggoda istriku. Dasar tidak laku.” Cibir Donghae yang sukses mendapatkan deathglare mematikan dari sang kakak.

“Apa kau bilang?”

“Sudahlah, kalian berdua. Berhenti bertengkar dan segeralah makan makanan kalian!” Nyonya Lee menghela napas bosan menghadapi kedua putranya yang masih berprilaku seperti anak usia lima tahun.

“Seorim makanmu jadi terganggu, maafkan kedua putraku. Mereka memang masih seperti anak kecil.” Nyonya Lee tersenyum bersalah pada Seorim, yang dibalas wanita itu dengan gelengan kepala.

“Aniyo, aku sama sekali tidak terganggu.” Seorim tersenyum sopan pada perempuan paruh baya itu. Sungguh, ia tidak merasa terganggu malah justru sebaliknya. Ia menikmati semua kebersamaan dan kehangatan di keluarga ini.

Bagaimana Donghae dan Donghwan sama sekali tidak mau kalah satu sama lain, dan nyonya Lee hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua putranya. Sementara Jane, mencoba untuk melerai mereka berdua. Seorim mulai menikmati senyuman-senyuman bahagia yang selalu timbul di keluarga ini.

Ia merasa bahagia.

***

Setelah acara makan malam itu selesai, Seorim berinisiatif untuk menawarkan dirinya mencuci piring sisa makan malam tadi. Walau awalnya nyonya Lee tidak memperbolehkan dan menyuruhnya untuk segera beristirahat, tapi Seorim tetap bersikeras dan akhirnya perempuan paruh baya itu mengalah dan memperbolehkannya untuk mencuci.

“Kau belum tidur Seorim?”

Seorim menoleh, sedikit terkejut mendapati Donghae sudah berada disebelahnya membawa segelas air putih.

“Belum, aku sedang mencuci piring.” Seorim menjawab dengan sedikit mengangkat piring cuciannya, “Kau sendiri?”

“Ah, aku hanya merasa haus.” Kali ini giliran Donghae yang mengangkat air putih di tangannya. Seorim mengangguk dan kembali melanjutkan kegiatannya, sementara Donghae hanya terdiam dan menatap piring-piring kotor yang menunggu untuk di cuci oleh wanita itu.

Tiba-tiba saja ingatannya kembali melayang pada kejadian beberapa bulan yang lalu dimana ia memergoki Jane tengah terduduk memegangi kandungannya dengan suara rintihan yang sanggup membuat hatinya mencelos sakit.

Ia menatap Seorim sesaat lalu sedetik kemudian tatapannya turun ke perut buncit wanita itu. Pikirannya dengan cepat melayang pada wajah istrinya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungan itu, bayi yang selalu Jane tunggu-tunggu. Bayi mereka.

Seorim berjengit begitu merasakan Donghae sudah berada disampingnya, membantunya membersihkan piring-piring kotor yang sudah dibilasnya.

“Donghae~a, apa yang—“

“Aku membantumu supaya pekerjaanmu cepat selesai, dan kau bisa segera istirahat.” Potong Donghae, pria itu tidak sadar kalau perkataannya barusan mampu membuat pipi Seorim bersemu merah.

Seorim melirik pria disebelahnya sesaat, kemudian menganggukan kepalanya. Tanpa sadar seulas senyum hadir di bibirnya. Setelahnya mereka memfokuskan diri mereka pada pekerjaan masing-masing sampai lima menit kemudian piring-piring dan beberapa gelas telah selesai mereka cuci.

Donghae lalu mengantarkan wanita itu ke kamarnya.

“Gomawo.”

“Tidak masalah,” Donghae mengendikan bahunya santai, “Istirahatlah.”

Seorim tersenyum dan kemudian menganggukan kepalanya, perlahan wanita itu menutup pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian Donghae menghela napasnya dan kembali melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya dan Jane.

***

…Dua bulan kemudian…

Waktu memang benar-benar berlalu dengan cepat, sudah dua bulan berlalu sejak kedatangan Seorim ke rumah hangat dan nyaman ini. dan tidak terasa juga kalau sekarang kandungannya sudah memasuki usia sembilan bulan, dimana ia akan segera meninggalkan kenyamanan dan kehangatan yang ia rasakan dari keluarga ini.

Dan, mungkin juga ia akan segera memberikan bayinya pada Jane.

Ya, bayinya.

Tapi…

…kenapa ia merasa tidak rela?

“Seorim, bisa tolong panggilkan Jane? Ia ada di taman.”

Seorim menoleh dan menghentikan sejenak dari kegiatannya menyiram tanaman di halaman depan rumah mereka.

“Ne, ahjummonim.” Angguk Seorim, menyimpan kembali peralatan menyiramnya dan mulai melangkahkan kakinya menemui Jane.

Semakin hari, kenapa perasaan memiliki itu semakin tinggi?

Perasaan dimana ia ingin menggantikan posisi Jane, menggantikan posisi Jane yang selalu mendapat perhatian dari semua orang, menggantikan posisi Jane yang selalu mendapat kasih sayang yang tulus dari keluarganya, dan menggantikan posisi Jane yang selalu mendapatkan cinta…

…dari Donghae.

“Jane—“ Seorim menghentikan panggilan dan juga langkahnya ketika ia bisa melihat Donghae tengah berjalan mengendap-endap menghampiri Jane yang sedang berkonsentrasi membaca buku di ayunan duduknya.

Pria itu menghentikan langkahnya begitu ia sudah berada tepat dibelakang istrinya, dan dengan tiba-tiba mengalungkan lengannya di leher Jane, membuat wanita itu tersentak kaget. Seorim bisa melihat melalui kedua matanya begitu Donghae mulai mencium pipi Jane dalam, dan setelah itu dengan jahil meniup telinga Jane, membuat wanita cantik itu bergidik.

Jane lalu memukul ujung buku yang sedang di bacanya keatas kepala suaminya, dan Donghae hanya terkekeh sebagai reaksi. Pria itu kemudian duduk disebelah istrinya lalu tanpa ragu-ragu mulai menggelitiki tubuh Jane, membuat orang yang digelitiki menggelinjang kegelian.

Seorim melihat itu semua, Seorim bahkan bisa mendengar suara tawa Jane dari sini. Ia bisa merasakan betapa bahagianya wanita itu sekarang. Seorim memejamkan kedua matanya sesaat, entah kenapa hanya melihat itu semua bisa membuat hatinya terluka.

Perlahan, ia mulai membalikan tubuhnya dan berjalan kembali ke dalam rumah. Seorim menundukan kepalanya, menyembunyikan air matanya yang entah kenapa memaksa untuk keluar. Ia memaksakan kakinya untuk berjalan lebih cepat lagi, mengingat keadaannya yang sedang hamil besar sekarang.

Setelah sampai didalam kamarnya, Seorim mengunci pintu kamarnya dengan cepat dan membekap mulutnya menahan isakannya untuk keluar.

Kenapa?

Ketika ia sudah mendapatkan kehangatan keluarga yang selama ini di inginkannya, kenapa ia harus serakah dengan menginginkan Donghae juga?

Seorim menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencengkram sisi bajunya dengan begitu kuat. Hatinya bergemuruh dengan hebat. Ini tidak benar, ini sama sekali tidak benar. Ia menghapus air matanya dengan kasar, perlahan tangannya mulai mengelus perut buncitnya.

Setetes cairan bening kembali jatuh, wanita itu pun menangis dalam diam.

***

“Seorim, waktunya kau meminum susu.” Seru Jane sedikit lebih keras, hanya karena tidak ingin membuat suaranya terlampau kecil dari suara hujan deras diluar sana. Ia berjengit, begitu suara petir terdengar.

Tapi walau pun begitu ia tetap melangkahkan kakinya dengan segelas susu putih di tangannya menuju ke kamar wanita itu.

Jane mengetuk pintu kamar Seorim, tapi begitu ia sudah beberapa kali mengetuk tapi tidak ada sahutan dari dalam. Perempuan itu memutuskan untuk membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci itu dan masuk kedalam.

“Seorim?” Kali ini Jane sedikit merendahkan suaranya, melongokan kepalanya kesana kemari mencari keberadaan wanita itu. Tapi hanya kekosonganlah yang ia dapati di kamar itu, bahkan ranjang yang berada dihadapannya masih rapi, sama sekali tidak terlihat habis di tiduri.

Jane menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan kalau perasaannya mulai tidak enak. Dan saat itu perhatiannya tidak sengaja teralih pada selembar kertas yang tergeletak begitu saja diatas meja rias. Dengan cepat Jane menyambar kertas itu.

Maaf, aku tidak bisa menyerahkan bayiku padamu. Maafkan aku dan terimakasih untuk segalanya.

-Seorim

Jane meremas kertas itu, dengan detak jantung yang berdegup kencang, Jane membuka lemari pakaian Seorim dan harus menerima kekecewaan ketika lemari itu sudah kosong. Tidak ada sehelai baju pun yang tertinggal disana.

Dengan terburu-buru Jane menuruni tangga rumahnya, membuka pintu rumah dan segera keluar untuk mengejar Seorim. Tidak memedulikan kalau malam ini hujan lebat membasahi tubuhnya, tanpa Jane ketahui Donghae melihatnya berlari keluar melalui jendela kamarnya.

***

Jane terus memacu kakinya untuk tetap berlari, mengedarkan pandangannya kesekeliling, mempertajam penglihatannya di tengah hujan deras seperti ini untuk menemukan sosok Seorim. Ia tidak tahu sudah berapa jauh ia berlari sekarang, yang jelas ia hanya ingin menemukan wanita itu.

Jane akhirnya mampu bernapas lega, begitu ia melihat sosok Seorim tengah berdiri di halte bus. Tidak membuang waktu, Jane segera mempercepat langkahnya menghampiri perempuan itu.

“Seorim!” Panggil Jane ketika ia sudah dekat dengannya, “mau kemana kau?” Ia harus mengerahkan suaranya agar mampu di dengar oleh Seorim.

Untuk sesaat Seorim terdiam mematung menatap Jane, tapi di empat detik berikutnya ia berjalan menghindari wanita itu. Seketika itu juga air hujan dengan cepat membasahi tubuhnya juga.

“Seorim, tunggu.” Jane kembali berlari dan akhirnya berhasil menangkap pergelangan tangan Seorim.

“Maaf, maafkan aku. aku tidak bisa memberikan anakku padamu. Maafkan aku.” Seorim menggeleng beberapa kali, mundur beberapa langkah sembari memegangi perutnya.

“Seorim, jangan begitu. Ada apa denganmu? Kau sudah bersedia memberikan bayimu padaku, kenapa kau berubah pikiran? Aku mohon jangan seperti itu.” Mohon Jane, mencoba mendekati Seorim. Tapi lagi-lagi wanita itu memundurkan langkahnya.

“Aku tidak bisa, aku tidak bisa. Ini anakku, aku yang akan merawatnya.”

“Tapi itu anak Donghae juga, aku mohon Seorim jangan seperti itu. Aku akan merawat bayi itu dengan baik, aku akan mendidik dan menganggapnya seperti anakku sendiri.” Jane sudah benar-benar kehilangan pertahanannya, ia sudah menanti-nanti bayi itu dari dulu. Tapi kenapa disaat bayi itu akan lahir, Seorim malah tidak ingin memberikan padanya.

“Tidak, Jane…”

“Aku mohon Seorim, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan asalkan kau mau memberikan bayi itu padaku.”

“Baik, akan kuberikan bayiku padamu. Asalkan kau berikan Donghae padaku.”

Plak!

Jane menampar pipi Seorim keras setelah wanita itu menyelesaikan kalimatnya, ia tatap Seorim dengan ekspresi kemarahannya. Sementara Seorim hanya bisa memegangi pipinya yang terasa panas.

“Selama ini aku selalu beranggapan bahwa pelacur masih memiliki hati nurani dan kebaikan seperti orang normal lainnya, tapi sekarang aku tahu seorang pelacur seperti dirimu tetaplah rendah.” Desis Jane marah, ia tidak menyangka, benar-benar tidak pernah menyangka wanita itu akan mengucapkan hal seperti itu.

Apa yang kurang dari dirinya, ia sudah memberikan semua perhatian yang ia miliki untuk Seorim, ia dengan tulus menyayangi Seorim dan menganggap wanita itu sebagai saudaranya sendiri. Tapi kenapa Seorim ingin mengambil sesuatu yang sangat berharga darinya?

Ia tidak akan pernah bisa memberikan Donghae, tidak pada Seorim, tidak pada siapapun.

“Akh—“

Jane terkesiap kaget mendengar rintihan Seorim, ia segera menghampiri wanita itu dan memegangi lengannya.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Jane panik.

“Aku tidak tahu, akh- perutku sakit.” Rintih Seorim, memegangi perutnya dengan kuat.

“Spertinya kau akan melahirkan, bagaimana ini?” Jane mengedarkan pandangannya kesekitar, siapa tahu saja ada seseorang di tengah malam dan hujan lebat seperti ini.

“Sakit Jane, perutku sakit.”

Jane hanya bisa meringis menggigiti bibir bawahnya. Ia berharap ada siapa saja yang akan menolong mereka sekarang.

“Jane, apa yang terjadi?”

Jane menoleh begitu mendengar suara Donghae, perlahan sosok suaminya terlihat semakin jelas dan segera menghampirinya.

“Aku tidak tahu, perutnya sakit. Sepertinya ia akan melahirkan. Otteokhae?” Donghae mengelus pelan pipi Jane yang basah dan memberikannya senyuman lembut, setelah itu ia mengangkat tubuh Seorim dan membawanya masuk kedalam mobilnya di ikuti Jane dibelakangnya.

***

“Dokter Kim!” Panggil Donghae, berjalan dengan cepat memasuki rumah sakit yang lumayan besar itu dengan Seorim yang terus merintih didalam gendongannya.

Dengan segera, beberapa suster berdatangan mendorong brankar dan menyuruh Donghae untuk meletakan Seorim di atas brankar. Tak lama setelah itu dokter Kim datang dengan terburu-buru.

“Ada apa?” Tanya pria teman ayahnya tersebut, memperhatikan penampilan Donghae dan Jane yang basah kuyup.

“Sepertinya Seorim akan melahirkan, aku mohon tolong dia dokter Kim.” Ucap Jane, memegang lengan dokter kepercayaan keluarga Lee itu.

“Aku akan berusaha menolongnya semampuku.” Dokter Kim mengangguk, dan menepuk tangan Jane yang ada di lengannya dengan tepukan menenangkan.

“Bawa pasien ke UGD.” Perintah dokter bermarga Kim itu, beberapa suster mengangguk patuh dan segera mendorong brankar itu masuk kedalam ruangan, di ikuti dokter Kim dibelakangnya.

“Semua akan baik-baik saja, Jane.” Donghae mendekap lembut tubuh Jane, dan mendudukan tubuh mereka di kursi tunggu. Jane mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya, ia tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka berdua. Sungguh.

.

Selama beberapa saat menunggu, pintu ruangan itu akhirnya terbuka dan dengan itu pula baik Jane maupun Donghae segera bangkit berdiri dan berjalan mendekat kearah dokter Kim dengan ekspresi penasaran.

Dokter Kim melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya, menatap sepasang suami istri dihadapannya selama beberapa saat dan kemudian mendesah pelan.

“Waeyo?” Tanya Jane langsung, tidak sabar.

Dokter Kim meneguk ludah sekali, inilah kenyataan pahit yang harus seorang dokter katakan tentang keadaan sebenarnya pasiennya.

“Aku sudah berusaha keras, tapi aku hanya mampu menyelamatkan salah satu dari mereka. Ibu atau anaknya, itu tergantung pada keputusan kalian.”

Lutut Jane terasa lemas seketika mendengar penuturan dokter Kim, memilih salah satu diantara mereka? Siapa yang harus ia pilih?

Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Jane menerobos masuk kedalam ruangan itu. Seketika bau khas rumah sakit menusuk hidungnya, ia bisa melihat Seorim terbaring lemah dengan rintihan yang terus ia keluarkan.

Perlahan Jane mendekat dan menggenggam tangan wanita itu lembut, Seorim menoleh dan menatap Jane dengan keringat dingin diseluruh wajahnya. Hati Jane mencelos sakit, ia pernah merasakan rasa sakit itu dulu. Rasa sakit ketika bayinya direnggut dengan paksa dari dalam perutnya.

Menghembuskan napas pelan, Jane mengeratkan genggamannya di tangan Seorim. Ia sudah mengambil keputusan.

“Dokter Kim, tolong selamatkanlah nyawa ibunya. Tolong selamatkan nyawa Seorim.”

Jane telah memilih.

Di tengah ambang kesadarannya Seorim menatap Jane, menatap wanita itu ketika ia berbicara dengan penuh keseriusan pada dokter itu. Dan sebelum kesadarannya benar-benar habis, ia bisa melihat dokter Kim mengangguk.

***

Jane benar-benar tidak bisa duduk dengan tenang di tempatnya. Dari tadi ia berjalan mondar-mandir, sesekali menggigiti kuku-kuku jarinya. Hanya untuk menghilangkan kegelisahan dan kekhawatiran yang melanda dirinya –menunggu tidak sabar hasil operasi yang sedang dilakukan dokter Kim di ruangan itu.

“Jane, tenanglah.” Ujar Donghae, memperhatikan sedari tadi gerak-gerik yang dilakukan istrinya.

“Aku tidak bisa, Seorim ada didalam. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya, bagaimana kalau—“ Jane menelan kembali perkataannya, melihat pintu UGD tiba-tiba terbuka. Akhirnya, orang yang sedari tadi di tunggu-tunggu Jane muncul.

“Bagaimana, operasinya berhasil? Seorim baik-baik saja kan?” Tanya Jane beruntun.

Dokter Kim mengangguk dan memberikan senyuman hangat untuknya, “Operasinya berjalan dengan lancar, dan sebuah keajaiban terjadi. Kami berhasil menyelamatkan keduanya, ibu dan anaknya.”

Tidak ada yang lebih melegakan selain mendengar pernyataan dokter Kim barusan. Jane menghembuskan napas lega, Ia hampir tidak bisa menahan air matanya keluar. Wanita itu memeluk Donghae erat, membagi kebahagiaan yang ia rasakan sekarang dengan suaminya.

“Boleh aku menemui Seorim?” Tanya Jane, dan setelah mendapat anggukan dari dokter Kim ia segera berjalan cepat memasuki ruangan itu.

Seorim tengah terbaring lemah dengan seorang bayi yang berada disampingnya.

“Seorim…” Jane berjalan mendekat, tersenyum.

“Jane…,” Ucap Seorim pelan, “bayinya laki-laki.”

Jane mengangguk, “Aku tahu, sangat tampan.” Ia memandang bayi mungil yang sedang tertidur itu dengan damai disamping ibunya. Seorim menatap Jane, melihat bagaimana wanita itu memandang bayinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Hati Seorim tiba-tiba terenyuh.

Mengangkat pelan tubuhnya, Ia berusaha menggendong bayinya dan mengulurkannya pada Jane.

“Aku memberikan bayiku padamu, tolong rawat dia dengan baik. Anggaplah, ia sebagai anak kandungmu sendiri. Sayangilah dia.” Seorim meneteskan air matanya, mengendikan kepalanya menyuruh Jane untuk segera menggendongnya.

“Ambilah, sebelum aku berubah pikiran.”

Perlahan Jane mengambil bayi itu dari Seorim dan menggendongnya dengan hati-hati, lalu ia alihkan lagi perhatiannya pada Seorim.

“Kenapa?”

Seorim tersenyum tulus, “Karena kau memilihku, lebih memilih menyelamatkan nyawaku dibandingkan dengan bayi yang selama ini kau nanti-nantikan. Tidak pernah ada orang yang mementingkan hidupku selain dirimu, Jane.”

Seorim mengutarakan alasannya, alasan kenapa ia mau memberikan bayi itu pada Jane.

“Terimakasih Seorim, terimakasih banyak.”

***

“Aaa~ cucuku laku-laki. Aigoo~ tampannya. Mirip sekali denganmu, Donghae~a.” Seru nyonya Lee antusias, mengelus pelan pipi bayi yang terbaring disebelah Jane di ranjang rumah sakit.

Donghae memandang Jane sekilas, kemudian tersenyum menanggapi seruan bahagia ibunya. Setelah Seorim memberikan bayinya pada Jane, Donghae segera mengabari keluarganya bahwa Jane sudah melahirkan. Segera setelah itu, Jane segera mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah sakit dan membuat dirinya terlihat seperti wanita yang sudah melahirkan.

“Jagoan kecilku.” Seru tuan Han tak kalah antusias, memandangi lekat-lekat bayi yang sekarang ada dalam dekapan Jane. Seorim yang berada di ranjang disebelah Jane yang tertutupi tirai –berhubung kerena mereka sudah di pindahkan ke ruang inap- hanya bisa tersenyum kecut, menghapus bulir-bulir air matanya yang terus membasahi pipinya mendengar keantusiasan menyambut cucu pertama mereka.

“Oh, Hae. Kau bilang Seorim juga melahirkan, bagaimana dengannya? Dimana dia sekarang?” Tanya nyonya Lee, teringat akan perkataan Donghae di telfon.

Donghae melirik Jane dan dokter Kim selama beberapa saat, kemudian ia berdehem pelan.

“Seorim harus kehilangan bayinya, bayinya meninggal.” Entah untuk keberapa kalinya Donghae harus membohongi keluarganya. Katakan ia jahat, atau apapun itu, tapi ia tidak tahu harus melakukan apalagi selain berbohong untuk menutupi kenyataannya.

“ya Tuhan, ada dimana dia sekarang?” Nyonya Lee menutup mulutnya terkejut, dokter Kim maju dan membuka tirai disamping ranjang Jane. Memperlihatkan Seorim yang tengah terbaring, nyonya Lee dengan segera menghampiri wanita itu dan tanpa kata langsung memeluk tubuh Seorim.

“Kau wanita yang kuat, Seorim~a.” Bisik perempuan paruh baya itu mengelus punggung Seorim pelan, Seorim mengangguk dan menutup kedua matanya merasakan kehangatan pelukan seorang ibu.

“Ne…”

***

“Ini tiket penerbanganmu. Kau benar-benar tidak akan tinggal bersama kami?” Tanya Donghae, memberikan selembar tiket penerbangan kelas pertama untuk Seorim.

Seorim menggelengkan kepalanya sekali, kemudian menerima tiket itu dari tangan Donghae.

“Tidak, aku akan memulai kehidupan baruku. Aku tidak akan menjadi seorang pelacur lagi, aku ingin memulai kehidupan yang selama ini aku inginkan.” Jelas Seorim, ia mengukir sebuah senyuman lembut untuk pria itu.

“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Ini adalah uang yang kujanjikan untukmu.” Donghae menyerahkan tas yang sudah dapat dipastikan kalau didalamnya berisi uang ratusan juta won.

Seorim menggeleng, “Tidak, sungguh, aku tidak memerlukan uang sebanyak itu. Aku sudah mendapatkan hadiah yang jauh lebih besar.” Seorim memperlihatkan sebuah foto dimana keluarganya dan juga dirinya bersama Jane ada disana, tersenyum bersama. Donghae ingat foto itu, ketika Seorim meminta mereka untuk berfoto bersama.

“Sebuah kehangatan keluarga yang aku rasakan selama sembilan bulan.” Wanita itu mendekat dan kemudian mengangkat tangannya untuk membetulkan simpul dasi Donghae.

“Yang aku inginkan adalah, kalian menjaga bayiku dengan baik. Sayangi dia, sayangi anak kalian. Arra?” Seorim menepuk pelan jas yang dikenakan Donghae, setelahnya menatap pria itu.

Donghae tersenyum lembut, kemudian mencium kening Seorim, “Itu pasti, terimakasih untuk segalanya, Jung Seorim.”

Untuk sesaat jantung Seorim terasa berhenti berdetak, merasakan bibir Donghae menempel di keningnya tapi kemudian wanita itu tersenyum kecil.

“Sama-sama, kalau begitu aku pergi. Terimakasih karena berhasil merubahku menjadi manusia yang lebih baik.” Seorim membungkuk dan setelah itu melambaikan tangannya pada laki-laki itu.

Terimakasih…

-END-

 

Huwaa~ finally, selesai. *nangis bahagia* gimana? Hasilnya? Memuaskan rasa penasaran kalian? Aku yakin kalau udah nonton film ini, familiar banget sama endingnya. Kkk~ sengaja sih dibikin sama, cuman beda dikit. .__.v

Thanks karena udah nunggu+support ff abal ini terus buat para readers. Meskipun aku selalu updatenya lamanya pake banget. u,u

Big thanks buat para readers yang selalu setia komen di ff ini, dan terimakasih juga buat silent readers yang udah nyempetin buat baca ff abal ini. thank you, I love u all.

p.s: sampai ketemu di ff aku yang lainnya. *flying kiss*

kunjungi wp aku: ulfahnaziah.wordpress.com

20 responses to “I Want a Baby – Part 9 [End]

  1. karna aku pro banget sama seorim. aku ngerasa ini sad ending ㅠ.ㅠ
    kasian seorim nya hiks

  2. Aku udah lama nunggu ff ini thor..
    Nice job.. (y)
    prnah 1 kali ngunjungi page ini..
    Tapi aku lupa apa nama page nya..
    Berkat nyasar ke page2 org..
    Akhir nya bisa ktemu lagi sama page ini.. *hug hae*
    Akhr nya ending juga.. 🙂
    geregetann bnget ama jlan crita nya..

  3. Huaaaa T.T nangis baca endingnya.. Kalo dibikin sequel bisa apa gk thor?? Aku pengen tau after story nya.
    Aku tunggu ff lainya ya thor… 😀 keep writing and fighting^^

  4. Bacanya ngerasain jd Jane pasti sakit bgt. Gitu jg sama seorim hrs ngerelain bayinya . Jane, seorim , kaum wanita fighting!!!

  5. Aku cuma baca part 8 sm 9 dan itu mengharuuuukaaaan,hiks apalagi yg part ini seorim-ah kau sangat baik!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s