[Ficlet] Baby Don’t Cry

Baby don't cry

 

Cast:

Suho| Kim Jinhee

Recommended song: EXO K/M – Baby Don’t Cry

***

Di malam hari dengan pantulan sinar bulan yang menimpa wajahmu dua bulan yang lalu adalah pertama kalinya aku bertemu denganmu. Wajahmu yang sedang menatap kosong ke atas, kearah sinar bulan dari balkon kamarmu membuatku terpesona. Wajah cantikmu yang di baluti dengan sinar bulan membuatku untuk sesaat tidak bisa bernapas, tanpa sadar tatapan kosong itu menjeratku ke dalam kehampaan tak berdasar milikmu.

Tanpa kusadari saat itu juga aku mengucapkan sebuah janji untuk selalu melindungimu, dan tidak akan pernah membuatmu menangis.

.

.

Entah ini takdir atau hanya sebuah kebetulan tak terduga. Ke esokan harinya aku ditugaskan untuk melindungi dan menjagamu dari segala macam bahaya. Dan, dengan semangat aku langsung mengiyakan perintah itu.

.

.

Kau, sekarang aku tahu namamu. Kim Jinhee. Nama yang sangat indah seperti wajahmu. Entah kenapa nama itu terasa sangat pas di lidahku ketika aku menggumamkannya, dan terasa sangat nyaman di telingaku ketika orang-orang memanggil namamu.

Dan, pada saat itu juga aku berharap bisa memanggil namamu seperti orang-orang memanggilmu.

Dengan bebas.

.

.

Selama ini aku hanya bisa mengawasimu, tanpa berusaha untuk menyentuhmu. Apakah kau tahu? Seberapa keras aku menekan keinginanku untuk bisa berjumpa denganmu, berdiri di hadapanmu dan menyentuhmu. Aku harus mengerahkan segenap kemampuanku untuk tidak berdiri di hadapanmu lalu menghapus air mata di wajah cantikmu ketika kau menangis.

Kau tahu, setiap hari keinginanku untuk bisa menyentuhmu semakin bertambah besar dan sebesar itu pula aku harus menahannya.

Kau terlarang untukku dan sialnya aku jatuh cinta padamu.

.

.

Entah sejak kapan kau mulai menyadari keberadaanku, eksistensiku. Kau selalu mengawasi sudut kamarmu dimana aku selalu berdiri disitu, memperhatikanmu. Kau mulai menyadari bahwa tidak hanya kau seorang yang ada di kamarmu tapi ada aku.

Seharusnya itu menjadi sebuah peringatan tak tertulis untukku, peringatan bahwa aku tidak boleh mengeluarkan auraku sehingga membuatmu merasakan kehadiranku. Karena tugas seorang malaikat sepertiku hanyalah untuk melindungi manusia yang di jaganya.

Bukan untuk menampakan wujudnya.

.

.

Aku melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar untuk pertama kalinya sejak eksistensiku ada di dunia, di malam hari di tengah sinar bulan yang sama satu bulan yang lalu, aku menampakan diriku di hadapanmu.

Aku menduga kau akan berteriak histeris dan berlari menjauhiku ketika aku mengatakan bahwa aku adalah seorang malaikat yang bertugas untuk melindungimu. Tapi tidak, kau tidak melakukan apapun yang kupikirkan. Kau hanya terdiam selama beberapa saat menatapku dan mengatakan sebuah kalimat yang membuatku semakin berani untuk mencintaimu.

“Terimakasih karena sudah menjadi malaikat pelindungku, Suho.”

.

.

Aku bersumpah, aku mencintainya.

Senyumannya itu membuatku merasa hidup. Sentuhannya di wajahku membuatku terbuai dan pelukannya pada tubuhku membuatku melayang.

Seharusnya aku tidak bertindak sejauh ini, seharusnya aku tidak melakukan semua ini. seharusnya aku menghentikan kekacauan yang telah kuperbuat. Tapi nyatanya aku tidak melakukan apa-apa dan malah membiarkan diriku terjerumus semakin dalam pada pesona manusia rapuh ini.

“Aku mencintaimu, Suho.”

Satu kalimat yang meluncur darinya membuat pertahanan terakhirku hancur. Tanpa bisa berpikir apa-apa lagi, aku mencium bibir tipisnya di tengah sinar bulan yang menyinari kami.

“Setan di neraka juga tahu kalau aku jauh lebih mencintaimu, Jinhee.”

.

.

Hubungan terlarang kami semakin membuatku gila, karena entah bagaimana dirinya bagaikan sebuah heroin untukku. Candu yang semakin membuatku sakit ketika aku tidak bisa melihatnya, melihat kehadirannya di kedua bola mataku.

Seperti malam-malam yang lainnya yang sering kami habiskan, aku memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalaku di bahunya lalu mencium wangi yang menguar dari tubuhnya, yang entah sejak kapan menjadi wangi favorite-ku.

Dan, seperti biasanya, ia selalu memandang kearah bulan yang menggantung di atas sana sambil memegang kedua tanganku yang melingkari pinggangya.

“Thank you.” Ucapnya pelan di tengah kesunyian malam yang kami ciptakan.

“For what?”

“Everything.” Ia menoleh dan memandangku dengan kedua bola matanya yang hitam. Lagi-lagi ia mampu membuatku masuk ke dalam tatapan kosongnya itu. Aku tersenyum dan melingkarkan pelukanku di pinggangnya semakin erat. Tidak ada yang mampu mendeskripsikan kebahagianku sekarang.

Di tengah rasa nyaman yang menghinggapi kami, tiba-tiba saja mucul sahabat lamaku –Chen- dia juga malaikat, sama sepertiku. Ia mendarat dengan sempurna di hadapan kami dan setelahnya kembali menyembunyikan sayap di belakang punggungnya.

“Suho.”

Suara serius yang jarang sekali dikeluarkannya membuat perasaanku takut. Menyampingkan perasaan panik yang dengan cepat menghinggapiku, aku balas menatapnya. Mengabaikan Jinhee yang menatap Chen dengan bingung.

“Ada apa?”

“Kau dipanggil untuk kembali ke Dunia Atas. Sekarang!”

Dan aku tahu, hal buruk pasti akan terjadi.

.

.

Hal yang paling aku benci adalah ketika melihat Jinhee menangis, melihat buliran-buliran air matanya jatuh membasahi pipi putihnya.

Dan, akulah orang yang membuatnya menangis.

“Sayang, jangan menangis.” Lirihku, memegang kedua bahunya untuk menatapku. Dan ia menurutinya, Jinhee menatapku dengan mata merah dan sembabnya.

“Jangan pergi.” Ia memegang tanganku erat dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Mereka mengetahui semuanya, Mereka mengetahui aku telah jatuh cinta pada seorang manusia. Mereka mengetahui hubungan terlarangku dan Mereka menghukumku atas pelanggaran berat yang telah kulanggar. Itulah alasan mengapa Mereka memanggilku.

“Maafkan aku.” Aku menghapus air matanya menggunakan ibu jariku, setelah itu mengecup kedua kelopak matanya lembut. Aku menatap wajahnya untuk terakhir kali, mencoba untuk merekam wajahnya di ingatanku dan menyimpannya disana.

Aku selalu ingin mengingat wajah itu meskipun setelah ini aku sudah tidak ada dimanapun di belahan bumi ini. aku hanya ingin mengingatnya.

Sebelumnya aku tidak pernah percaya kalau seorang malaikat akan mengalami rasa sakit, dan selalu bertanya-tanya seperti apakah rasa sakit itu. Kini aku merasakannya.

Rasanya…

…menyakitkan.

Dia menahanku, Jinhee memegang tanganku ketika aku akan pergi. Ia menatapku dengan kedua matanya yang basah. Dan aku tidak bisa melakukan apapun selain menyakitinya.

Aku mengingkari janjiku sendiri, aku telah membuatnya menangis. Akulah orang yang membuatnya menangis.

“Selamat tinggal, Jinhee.”

Dan aku benar-benar pergi dari rumahnya, dari kamarnya, dari dirinya, dan dari hidupnya. Di tengah sinar bulan yang menggantung di atas langit.

-FIN-

35 responses to “[Ficlet] Baby Don’t Cry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s