I Am Wolf [Chapter 2]

i-am-wolf 2PREVIOUS: [Chapter 1]

AUTHOR: avyhehe / @a_vy

LENGTH: Series / Chaptered

GENRE: Sci-fi / Action / Romance

RATED: PG-13

CHARACTERs:

  • Choi Minhee – OC
  • Kris Wu – EXO
  • Huang Zi Tao – EXO
  • Park Chanyeol – EXO
  • Byun Baekhyun – EXO
  • Xi Luhan – EXO
  • Oh Sehun – EXO

Others: The rest of exo members

Disclaimer: Me and other who inspired me

A/N: lama nggak apdet, mian ;___; covernya ganti, yg sbelomnya jelek banget

DON’T BE A SILENT READER

Enam pemuda, berandalan, dengan kemampuan berkelahi diatas rata-rata.

“The Wolves” adalah sebutan untuk mereka.

Sejauh ini hanyalah sebutan,

tapi bagaimana bila sebutan itu menjadi kenyataan?

Suara wanita yang telah terprogram menyeruak keluar dari sebuah intercom, menggema ke seluruh ruangan bernuansa putih yang dipenuhi peralatan aneh dan bahan-bahan kimia di dalamnya.

“Test subject, W188…”

“…test subject, W188…”

“Failure”

mobile_lab_interior

BANG!

Seorang lelaki berjas putih panjang menghantamkan kepalannya ke tembok ruangan, membuat lemari putih kecil yang menggantung tidak jauh di sebelahnya bergetar.

“Sial!”

Lelaki itu mengumpat sambil mengacak rambutnya yang mulai botak dan memutih di beberapa bagian. Dia membenarkan letak kacamata minusnya yang miring. Kemudian dengan tampang frustasi, dia berjalan gontai menuju deretan monitor di sisi lain ruangan.

Tatapannya terpaku pada monitor LED yang paling besar di antara monitor-monitor lainnya, berkonsentrasi pada sebuah objek yang terekam oleh kamera dan ditampilkan monitor itu. Terlihat seekor serigala berbulu hitam pekat, bertubuh besar, dan bermata merah yang terpampang di layar monitor–kira-kira seukuran tubuh manusia–mendekam di balik sebuah kandang besar berjeruji besi.

Awalnya serigala hitam itu hanya meringkuk dalam diam dan menatap nyalang ke luar kandang baja yang ditempatinya. Namun tak selang beberapa saat, tiba-tiba serigala itu mengerang hebat. Tubuhnya bergeliat di atas lantai, sedang tangan berbulunya yang ditumbuhi kuku-kuku tajam mencakar-cakar jeruji kandang, menimbulkan bunyi derit yang menyayat telinga. Hewan itu terlihat kesakitan karena ulah sesuatu yang tidak terlihat.

Waktu terus berlalu, sedangkan serigala itu masih menggeliat kesakitan, bahkan sekarang lebih hebat dari sebelumnya. Kedua bola matanya kini melotot keluar dan menampakkan urat-urat merah tipis di sekeliling bagian putihnya. Pupilnya mengecil, kemudian dari mulutnya yang membingkai taring-taring tajam mengeluarkan cairan busa putih.

Akhirnya setelah setengah jam yang terasa panjang dan begitu menyakitkan, serigala itu terkulai tak berdaya di dalam kandang, diam tidak bergerak dengan tubuh kaku. Seiring dengan tewasnya serigala itu, lidah api yang besar menyembur keluar dari tiga lubang yang menempel di dinding dan langit-langit kandang, membakar tubuh serigala itu dengan suhu yang sangat tinggi dan dalam hitungan detik bangkai serigala itu lenyap. Hanya menyisakan onggokan abu.

“Test subject, W188…has been exterminated…”

“Gomawo, oppa!” Minhee melambaikan tangannya pada mobil yang menurunkannya di depan sekolah. Lelaki yang berada di dalam mobil tersenyum dari balik kaca pengemudi, membalas lambaian adiknya, kemudian melajukan mobilnya pergi menjauhi sekolah itu.

Sepeninggal sang oppa, Minhee melangkahkan kakinya memasuki gerbang. Dia berhenti sejenak untuk menyapa Shindong ajusshi yang berjaga di posnya, kemudian melanjutkan langkahnya menyusuri halaman depan dan memasuki gedung sekolah. Keadaan sekolah saat itu sangatlah lengang karena belum banyak siswa yang berdatangan.

Setibanya di dalam gedung sekolah, gadis berambut panjang itu menghampiri deretan loker siswa. Hal ini merupakan rutinitasnya setiap pagi, mengingat dia menitipkan sebagian buku pelajarannya di dalam loker itu.

Baru beberapa langkah memasuki ruangan penuh loker, alangkah terkejutnya dia saat mendapati seorang pemuda tengah bersandar di depan loker 305— lokernya—sambil berpose melipat kedua tangan di atas dada. Dilihat dari pose dan ekspresi wajahnya yang terlihat bosan, orang itu pasti sudah menunggu seseorang di depan loker yang disandarinya sejak beberapa waktu yang lalu.

Minhee menghembuskan nafasnya berat dan membalikkan tubuhnya menuju kelasnya. Dia membatalkan rencananya untuk menghampiri lokernya dan berniat kembali ke loker itu setelah orang yang bersandar di depannya sudah pergi. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang dan membuatnya melonjak kaget.

Minhee berbalik cepat sambil memasang tampang mengerikan kebanggaannya. “YA!! siapa kau? beraninya mengagetkanku!” bentaknya pada orang yang menepuknya bahunya.

“Aisssh… Minhee-ya, hari masih pagi, tapi kenapa kau sudah sangat menyeramkan?!” tampaklah seorang gadis yang juga merupakan siswi di sekolah itu, berjingkat ngeri saat melihat respon Minhee. Padahal tadi dia hanya menepuk pundak temannya itu pelan dari belakang, tapi Minhee sudah marah-marah sendiri dan sekarang malah melempar tatapan tajam ke arahnya.

Minhee menepis tangan gadis itu–yang masih berada di pundaknya kemudian menghela nafas lega, menyadari orang yang mengagetkannya adalah teman sebangkunya sendiri yang bernama Joo Eunjoo.

“Kupikir siapa! Ternyata kau, Eunjoo?” Minhee mendecak kesal.

Eunjoo meringis tanpa dosa. Gadis itu lalu merangkul pundak Minhee dan menariknya menjauh dari deretan loker, menggiringnya menuju kelas mereka.

“Tumben kau datang pagi-pagi?” Minhee menatap Eunjoo heran. Teman sebangkunya itu memang biasa datang ke sekolah tepat saat bel masuk berbunyi, atau malah lima menit setelah bel masuk. Eunjoo adalah ratu telat, berbeda dengannya yang selalu datang paling pagi.

Eunjoo melirik Minhee sambil tersenyum penuh arti. “Aku datang pagi-pagi karena ingin melihat dia sebelum pelajaran dimulai. Hari ini aku butuh asupan vitamin mata agar semangat sekolah, hehe…”

“Dia? ‘dia’ siapa?” Minhee mengernyit tidak mengerti mendengar ucapan Eunjoo, membuat Eunjoo menjitaknya. “Appho!!” rintihnya kesakitan saat kepalan tangan Eunjoo mendarat di kepalanya.

“Aigoo, Choi Minhee… kita sudah tiga tahun sekelas dan berteman, tapi responmu tetap lambat saat aku membicarakan dia!”

“Dia siapa sih!” gerutu Minhee dengan wajah kesal, namun detik kemudian gadis itu memutar matanya ke atas saat menyadari siapa yang dimaksud temannya itu. “Oh, maksudmu Park Chanyeol?”

“Daebak! kau pintar sekali, Choi Minhee!” Eunjoo menjiwit kedua pipi Minhee dan menariknya gemas hingga melar. Minhee mengaduh lagi. Aiisssh, temannya yang satu ini memang benar-benar hobi menyakiti orang! sepertinya dia salah pilih teman.

BRUK!!

Karena terlalu sibuk berceloteh dengan Minhee, Eunjoo tidak memperhatikan jalan dan menubruk seseorang bertubuh jangkung di tikungan lorong, hingga tubuhnya yang kecil itu nyaris terpental kalau tidak ditahan oleh Minhee yang berada di sebelahnya.

“Aissshh… hati-hati dong!” rutuk Eunjoo berusaha bangkit kembali, kemudian membetulkan seragamnya yang berantakan setelah berhasil berdiri dengan sempurna.

“Mianhae, mianhae,” ucap si penubruk dengan nada penuh sesal sambil membungkuk berkali-kali pada kedua gadis di hadapannya. Saat Eunjoo mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menabraknya, matanya membulat lebar. Omo! itu kan…

“PARK CHANYEOL??” serunya keras tidak tahu malu. Minhee sampai membekap mulutnya agar tidak berteriak keras lagi, untung saja keadaan di sekitar mereka masih sepi.

Pemuda bernama Chanyeol itu berhenti membungkuk dan menatap kedua gadis di hadapannya. “Nde… Park Chanyeol imnida. Tunggu, bagaimana kau tahu namaku?” ucapnya sambil menatap Eunjoo aneh–yang kini tengah dibekap oleh Minhee.

“…mmmppfff… hmpphhh…” Eunjoo berusaha melepaskan bekapan Minhee, namun tenaga yang dimiliki Minhee luar biasa kuat sehingga gadis itu tidak bisa melepaskan diri. Akhirnya Minhee yang menyahut pertanyaan Chanyeol.

“Dia fans-mu, Chanyeol-ssi. Tolong maafkan dia karena tadi meneriakkan namamu dengan cara yang norak. Abaikan saja dia, anak ini memang agak… yah, begitulah…” kata Minhee dengan ekspresi sedatar papan. “Kalau begitu, kami permisi dulu.” pamitnya cepat-cepat sambil menarik lengan Eunjoo menjauh dari hadapan Chanyeol.

Chanyeol terdiam di tempatnya dengan ekspresi bengong, bahkan setelah kedua gadis itu berlalu dari hadapannya. Dia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Dua gadis dihadapannya tadi benar-benar aneh, yang satunya sangat heboh sedangkan yang satu lagi sangat dingin. Tiba-tiba mata Chanyeol membulat saat mengetahui siapakah gadis bersikap dingin itu.

“Tunggu… itu kan Choi Minhee, gadis yang ditaksir berat oleh Kris!” pekiknya, dan saat menyadari sedari tadi belum bertemu dengan Kris sama sekali, Chanyeol lantas berlarian tak tentu arah di sekitar lorong untuk mencari Duizhang-nya itu sambil menyeru-nyerukan nama Kris seperti mencari anak kecil yang hilang di dalam mall.

“Kris! Duizhang! Wu Yi Fan! Where are youuuuu…!!!”

PLETAK!!

“Kau berisik sekali!”

Kegiatan Chanyeol seketika terhenti saat sebuah jitakan menyakitkan mampir di atas kepalanya. Chanyeol menoleh dan mendapati Kris telah berdiri di sebelahnya, di dekat deretan loker sambil memasang ekspresi kesal.

“Kenapa memanggil-manggil namaku seperti itu? kau benar-benar memalukan, haisssh…” rutuk Kris sambil mengacak-acak rambut pirangnya yang aslinya sudah berantakan itu, membuatnya semakin tak berbentuk.

Chanyeol mengerutkan alisnya. “Habis kau yang biasanya datang paling pagi tidak ada di kelas, aku takut terjadi sesuatu denganmu. Dan… apa yang kau lakukan di deretan loker ini?!” pertanyaannya yang terdengar menyelidik itu membuat Kris menghembuskan nafasnya keras-keras.

You Know, Chanyeol…”

“Kau masih memikirkan taruhan Suho?” mata Chanyeol membulat, dia menatap Kris tidak percaya. “apa kau yakin bisa mendekati gadis seperti itu dalam waktu seminggu saja, Kris?” ucapnya tak yakin.

Kris hanya mengangkat bahunya dan memasang ekspresi tidak tahu setelah mendengar kalimat Chanyeol. “Mungkin, tak ada salahnya berusaha mendekatinya dan mengajaknya mengikuti pesta Suho.” dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, berbalik menuju kelas, kemudian melanjutkan perkataannya lagi di sela-sela langkahnya yang panjang. “Aku hanya harus mencobanya, Yeol. Harus, jika tidak keselamatannya terancam.”

Chanyeol hanya terdiam dan merenungi perkataan Kris. Beberapa saat kemudian dia menyadari sesuatu dan berlari mengejar Duizhang-nya itu. “Ya! Kris! tadi aku berpapasan dengan gadismu itu!” serunya sambil berusaha menjajari langkah Kris. Seketika Kris menolehkan kepalanya dan mendelik ke arahnya.

“Kenapa kau tidak bilang?! tahu begitu aku tak menunggunya terus di depan loker seperti orang bodoh!!”

“Aigoooo…!!! kenapa tadi kau membekapku!” omel Eunjoo setibanya mereka di dalam kelas. Dia menghempaskan dirinya di kursi sebelah Minhee dengan tampang sebal lalu menggerutu tidak jelas. Haaah… pupus sudah impiannya selama ini untuk berbicara langsung dengan Park Chanyeol, namja idamannya.

Minhee mendengus dan melirik malas pada Eunjoo yang duduk di sebelahnya. “Itu karena aku tidak ingin melihatmu berbuat hal memalukan. Apa kau tidak sadar kalau teriakanmu tadi sangatlah keras?” sindirnya sambil mengeluarkan buku-buku pelajarannya dari dalam tas lalu menyusunnya di atas meja. “Lagipula… apa yang kau sukai dari namja seperti itu? menurutku orang-orang seperti mereka, Park Chanyeol dan teman-temannya hanya menjual muka saja.”

Eunjoo melongo mendengar perkataan Minhee. “Aissh, Choi Minhe! yang kusukai dari mereka… ya jelas mukanya lah!” dia lalu mengetuk-ngetukkan telunjuk di dagunya, terlihat memikirkan sesuatu. “tapi, ngg… selain muka yang tampan itu, mereka juga kuat dan pintar berkelahi kan? bukankah itu sebuah nilai plus?”

Minhee mendesah pelan mendengarnya. “Berkelahi…?” seketika air mukanya berubah murung dan muak, “Percayalah padaku, Eunjoo. Aku sudah kenyang dengan hal-hal seperti itu.”

Eunjoo langsung menutup mulutnya saat menyadari perubahan ekspresi Minhee. “Ah, mian, aku tak bermaksud–” kata-katanya itu terputus oleh kibasan tangan Minhee.

“Sudahlah, tidak usah diungkit-ungkit lagi. Kau belum mengerjakan PR kimia kan? ini, cepat salin!” mengalihkan topik pembicaraan, Minhe menarik keluar sebuah buku dari tumpukan buku di mejanya dan menyerahkannya pada Eunjoo untuk disalin. Eunjoo menerima uluran buku itu dengan ekspresi tidak enak, setelah sebelumnya berterimakasih dengan nada canggung yang terselip di sela perkataannya. Setelah menerima buku itu, Eunjoo melirik Minhee hati-hati, yang kini tengah menerawang keluar jendela kelas di sebelahnya dengan tatapan kosong namun menyiratkan kesedihan.

Eunjoo mendesah.

Ya, hanya dia yang tahu kehidupan seperti apa yang dijalani oleh Minhee sebelum gadis itu menginjak bangku SMA, saat oppanya yang nomor dua masih bersekolah di tempat ini. Meski kejadian itu sudah lama berlalu dan perlahan mulai terlupakan, namun dia yakin temannya yang bernama Minhee itu masih merasakan dampaknya hingga sekarang.

“MANA ORANG YANG BERNAMA KRIS WU?!!”

BLAK!!!

Suara teriakan menggema di ruang kelas 3-C, bersamaan dengan bunyi pintu kelas yang menjeblak terbuka disusul munculnya tiga siswa asing yang kini berdiri di ambang pintu.

“Kyaaaaaa….!!”

“Apa yang terjadi? siapa mereka?”

Teriakan-teriakan panik menghambur keluar dari para penghuni kelas yang tidak tahu apa-apa, mendapati ketiga siswa asing bertampang sangar telah berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah tongkat baseball di masing-masing tangan mereka.

“Aiishhh… hari masih pagi, tapi sudah ada yang membuat masalah…” rutuk Tao saat menyadari ketiga siswa lain sekolah itu mulai celingukan mencari sosok Kris. Tao melirik sekilas ke arah Baekhyun, Luhan, dan Sehun yang duduk tidak jauh di sebelahnya, dan meraih tongkat wushu-nya setelah mendapat anggukan persetujuan dari ketiga temannya itu.

Tao bangkit dari kursinya sambil menenteng nangun–tongkat wushu kesayangannya–menuju ambang pintu, menghampiri ketiga siswa lain sekolah berpenampilan urakan dan berwajah sangar yang masih bertengger disana. Penampakan ketiga siswa itu membuat para siswi di dalam kelas bergidik ngeri, bahkan ada yang sampai bersembunyi di bawah meja saking takutnya.

“Ada urusan apa?” tanya Tao malas setibanya di depan ketiga siswa itu.

Siswa yang berada di tengah-tengah meringsek maju hingga jaraknya hanya tinggal beberapa senti dari Tao. “Mana Kris?” tanyanya dengan nada emosi.

Tao memutar matanya keatas. “Duizhang tidak ada di kelas sekarang.” dia memutar-mutar nangun-nya sejenak dengan sebelah tangannya, kemudian kembali menatap lurus pada siswa di hadapannya. “Ya! jawab pertanyaanku, ada urusan apa mencari dia? sebentar lagi pelajaran akan dimulai, sebaiknya kalian segera kembali ke sekolah kalian.” ucapnya panjang lebar dengan nada mengusir, membuat tiga siswa di hadapannya menggeram penuh emosi. Siswa yang berada paling dekat dengannya mencengkram kerah seragamnya.

“Kurang ajar sekali kau! kami jauh-jauh kesini tidak ada urusan dengan anak buahnya, tapi dengan Kris! cepat bawa dia kesini!”

Emosi Tao kontan meledak saat siswa itu memanggilnya dengan sebutan ‘anak buah’. Tao menepis tangan orang yang mencengkram kerah seragamnya dan berteriak marah, “Ya! Asal kau tahu saja, aku bukan anak buah Kris! dan berani sekali kau memerintahku?” dengan perasaan yang masih diliputi emosi dia memutar-mutar nangunnya dengan kedua tangan, lalu memukulkannya keras-keras persis di ubun-ubun siswa di hadapannya, membuatnya terkulai lemas seketika di atas lantai dengan kondisi tak sadarkan diri.

“Jjang!! Jjang!” dua siswa lainnya kelabakan, berusaha menyadarkan kembali ketua mereka yang kini terkulai pingsan di atas lantai. Tao tersenyum penuh kemenangan melihatnya.

“Melawan orang yang kalian sebut ‘anak buah’-nya saja tidak sanggup, apalagi menantang Duizhang secara terang-terangan. Jangan pernah kembali lagi ke sekolah ini, apalagi mencari Kris!” bentak Tao kearah dua siswa plus seorang siswa yang sudah tergeletak tak berdaya di hadapannya. Kedua siswa itu menatap ngeri ke arah Tao, mengangguk cepat-cepat kemudian menggotong Jjang mereka yang masih pingsan menjauh hingga menghilang dari hadapan Tao.

“Pergi sana yang J A U H !!!” pekik Tao keras-keras sambil membentuk corong di mulutnya. Setelah puas berteriak dia berbalik masuk ke dalam kelas. Terdengarlah sorak-sorakan riuh yang berasal dari teman sekelasnya saat dia melangkah masuk, karena telah berhasil mengusir tiga siswa berandalan itu, namun Tao tidak menggubrisnya dan langsung menghempaskan diri ke atas kursinya.

Ck… Kris dan Chanyeol… kemana perginya dua orang itu? batinnya sambil mendengus kesal.

Sudah genap dua hari berlalu sejak taruhan yang diberikan Suho kepada Kris, tapi Kris belum bisa ‘menjinakkan’ Minhee sampai sekarang. Gadis itu memang gigih dan patut diacungi jempol. Dia selalu menghindari Kris tiap kali mereka berpapasan di lorong, bahkan gadis itu tidak pernah mengunjungi lokernya lagi saat menyadari Kris selalu bersandar di depannya tiap pagi dan setelah pelajaran berakhir. Hal itu membuat Kris frustasi. Dia takut tidak bisa memenuhi taruhan Suho, dan itu akan membuat segalanya berubah kacau.

Pada pergantian hari ketiga, Chanyeol yang selalu dipenuhi ide-ide aneh itu menjentikkan jarinya di dalam kelas, membuat Baekhyun yang duduk di sebelahnya menatapnya heran.

“Aha!” pekik Chanyeol dengan sebuah lampu bohlam tak terlihat di kepalanya.

“Wae?” Baekhyun mengernyit, “Ide gila apalagi yang merasukimu?”

Chanyeol tidak menggubris komentar Baekhyun dan segera beranjak dari bangkunya, menghampiri meja Kris. “Minggir, Tao!” perintahnya pada manusia yang duduk bersebelahan dengan Kris.

“YA! kau pikir ini persewaan kursi?!” respon Tao emosi saat menyadari Chanyeol berusaha menggesernya dari kursinya sendiri, mencoba mengambil alih tempat duduk. Chanyeol merengut ke arahnya. “Minggir! kali ini aku memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengan Kris!”

“Aissshhh… kali ini saja!” Tao menyerah dan bangkit dari kursinya dengan kesal, beralih menduduki kursi Chanyeol yang bersebelahan dengan Baekhyun. Luhan dan Sehun yang duduk di belakang Baekhyun tertawa, namun tak selang beberapa saat mereka menghentikan tawa mereka dan menatap penasaran pada Chanyeol yang mulai membisiki sesuatu di telinga Kris.

“Kris,” bisik Chanyeol, membuat Kris menoleh dan menaikkan alisnya. “Wae?” tanyanya.

“Aku ada ide brilian!” Chanyeol tersenyum yakin, menampakkan giginya yang besar-besar. Dia lalu cepat-cepat menambahkan saat Kris menatapnya dengan tatapan tak yakin, “Oh, tenang saja! bukan ide bodoh lagi, percayalah padaku!”

Kris mengangguk pelan. “Lanjutkan.” katanya memberi instruksi. Chanyeol tersenyum lebar.

“Begini, bagaimana kalau kau… mengikutinya sampai rumah?” kata-kata Chanyeol itu membuat Kris tersedak ludahnya sendiri. “Kau gila? aku bukan penguntit!” bisiknya dengan suara yang keras saking syok-nya.

“Yaahhh… ini bukan menguntit, ini pendekatan! begini, pertama kau ajak dia pulang bersama, tapi aku yakin dia pasti menolaknya. Maka dari itu kau harus terus mengikutinya dan tetap memintanya untuk mengantarnya pulang, lalu… was wes wos…”

Kalau saja bukan karena ide bodoh Chanyeol, dan Chanyeol bukanlah temannya, Kris tak akan pernah melakukan hal senista ini.

Ditengah-tengah teriknya cahaya matahari sore hari yang menyeruak masuk menembus kaca depan, dia menjalankan mobil Lamborghini silver-nya lambat-lambat menyusuri jalan perumahan yang agak sempit. Matanya menyipit mengawasi sesosok gadis di depannya yang saat ini tengah berjalan dengan langkah-langkah cepat. Gadis itu, gadis yang tak lain bernama Choi Minhee.

Minhee yang mulai menyadarinya dan merasa risih segera menoleh ke belakang, wajahnya merengut saat mendapati mobil silver berpintu dua itu masih terus mengikutinya. “Ya!! berhentilah mengikutiku, atau kutimpuk kau dengan sepatuku!” serunya sambil berpura-pura melepas sepatunya dan mengarahkannya ke arah Kris, namun mengurungkan niatnya dan kembali berjalan lurus saat mendapati Kris sama sekali tidak menangggapi ancamannya.

Kris menahan tawanya melihat tingkah gadis itu. Dia lalu menurunkan persneling dan mengganti gigi, melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan pelan hingga posisinya sejajar dengan Minhee.

“Kalau kau tetap menolak untuk kuantar pulang, akan kuikuti terus sampai ke rumah.” ucapnya sambil melempar senyum lebar ke arah gadis itu.

Minhee tersentak, dia menoleh dengan gerakan cepat dan melotot ke arah Kris. “Kau gila?! aku akan melaporkanmu ke polisi!” ancamnya lagi, kali ini mengacungkan tas selempangnya pada Kris.

“Silahkan,” tanggap Kris yakin disela-sela tawanya yang mulai meledak. Memang menyenangkan sekali menggoda gadis ini. Minhee mendengus, kembali melanjutkan langkahnya menuju rumahnya–yang notabene memang tidak begitu jauh dari sekolah–dan detik itu juga dia memutuskan untuk tidak menghiraukan Kris lagi.

Tiba-tiba dari balik gang sempit di sisi jalan, muncul empat orang pria berpenampilan urakan mengenakan seragam sekolah, menghadang Minhee dan Kris di tengah-tengah jalan. Kris kontan membelalak dan mematikan mesin mobilnya, cepat-cepat keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Minhee. Namun terlambat, karena salah seorang bertubuh paling tinggi sudah menyandera Minhee terlebih dahulu dan mengarahkan pisau lipat ke leher gadis itu.

“Lepaskan dia!” perintah Kris pada orang itu, namun orang itu malah tertawa. Ketiga temannya yang lain juga ikut tertawa saat menyadari Kris yang terlihat panik.

“Wah wah, baru kali ini aku melihatnya memiliki hubungan dengan seorang gadis,” kata salah seorang yang berwajah seperti anak kecil.

“Ya, apalagi mengikutinya seperti orang bodoh.” sahut lainnya yang terlihat paling tua. “Whoaaa… sepertinya Jjang EXO-M High sedang jatuh cinta.” perkataannya itu membuat tawa teman-temannya meledak kembali. Kris menggeram dan menggertakkan giginya, namun dia tetap berdiri diam di tempatnya. Jika dia bergerak, mungkin saja orang itu benar-benar menorehkan pisaunya di leher Minhee.

“Kau masih mengingatku, Kris?” seru orang bertubuh paling tinggi yang menyandera Minhee, sedangkan gadis itu masih meronta-ronta dan berusaha membebaskan diri darinya. “Apa kau masih ingat terakhir kali kita bertarung, dan kau membuat sekujur tubuhku memar?” seringai lebar terpasang di wajahnya. “Apa kau tahu? selama bertahun-tahun ini aku selalu menginginkan gelar Jjang terkuat di Seoul, tapi aku tak pernah bisa merebutnya darimu. Tapi kali ini aku akan mendapatkannya! hahaha…” tawanya membahana lagi, dia mengeratkan tangannya yang mengunci tubuh Minhee.

Kris tidak mempedulikan celotehannya. “Lepaskan dia, Son Dongwoon!” sentaknya lagi, kali ini tidak yakin bisa menahan emosinya, matanya menatap orang itu tajam. “Beraninya kau menggunakan seorang gadis yang tidak ada hubungannya dengan kita untuk merebut gelar jjang terkuat, kelakuanmu itu benar-benar licik!” Kris meringsek maju ke arah Dongwoon sambil menyingsingkan lengannya.

“Kalau berani, lepaskan dia dan kita akan bertarung sekali lagi untuk menentukan pemenangnya, atau kau tidak pantas menyandang gelar Jjang karena kelakuan licikmu itu!”

Dongwoon tersenyum licik dan semakin mendekatkan pisaunya ke leher Minhee saat jarak Kris dengan dirinya semakin menipis. “Tidak perlu bertarung, karena aku yakin akan menang tanpa perlu bertarung denganmu. Gadis ini akan kulepaskan, tapi dengan syarat kau harus berlutut di depanku.” katanya dengan ekspresi penuh kemenangan, membuat ketiga temannya terkekeh pelan.

Mata Kris membulat mendengar perkataan itu. Berlutut di hadapan Dongwoon? Ani. Selama ini dia tidak pernah berlutut untuk siapapun, apalagi dengan lawannya sendiri. Karena otomatis dia harus melepaskan gelarnya sebagai Jjang terkuat di Seoul dan memindahkan gelar itu pada Dongwoon setelah dia berlutut di hadapannya. Bagi mereka, berlutut adalah tanda menyerah.

“Kau ingin dia terluka?” Tidak sabar menunggu respon Kris, Dongwoon berpura-pura menggores leher Minhee dengan pisaunya, membuat Kris tersadar dan seketika urat-urat di tubuhnya langsung menegang.

“Hentikan!!” serunya, “Baiklah, aku akan menurutimu.” Kris sudah ingin mengambil posisi untuk berlutut, namun tiba-tiba Dongwoon menghentikan perbuatannya dan hal itu membuatnya heran.

Dongwoon melirik temannya yang berdiri di sebelahnya yang berwajah paling imut, kemudian menyeringai licik.  “Yoseob, apa yang kau tunggu? keluarkan ponselmu dan foto dia saat berlutut di hadapanku!” perintahnya.

“Ah, aye, bos!” Yoseob tiba-tiba tersentak. Dia merogoh saku celananya dengan tergopoh, mengeluarkan sebuah ponsel touch hitam lalu mengulurkannya ke hadapan Kris, bersiap untuk memotretnya.

Dongwoon tersenyum kembali. “Sekarang, lakukan!” perintahnya pada Kris, musuh bebuyutannya itu.

Dengan separuh hati, Kris mulai merendahkan tubuhnya untuk berlutut. Namun sebelum dia sempat berlutut dengan sempurna, sebuah teriakan kesakitan mengusik gendang telinganya.

“Aaaaww!!” rintih Dongwoon saat menyadari Minhee menggigit lengannya dengan keras. Ditengah keadaan Dongwoon yang masih merintih kesakitan, gadis itu segera bertindak. Dia mendorong lengan Dongwoon yang menodongkan pisau lipat di lehernya, membuat tubuhnya terlepas dari dekapan pemuda itu. Setelah itu Minhee mengangkat kakinya tinggi-tinggi, melayangkan sebuah tendangan keras yang tepat menghantam puncak kepala Dongwoon, membuatnya seketika terkapar pingsan di atas aspal.

“YA!!” seru Yoseob saat menyadari Jjang-nya diserang, dan langsung K.O. Dia menatap kedua temannya yang lain dan berteriak, “Gikwang! Doo-joon! urus gadis itu!” perintahnya dengan telunjuk yang mengarah mengarah pada Minhee yang kini telah berhasil melepaskan diri.

Doo-Joon, yang paling tua diantara mereka, berlari menerjang Minhee dan melayangkan pukulan ke arah gadis itu, namun Minhee secara reflek menangkisnya dengan kedua lengannya yang disilangkan di depan wajah. Setelah berhasil menangkis pukulan itu, dengan cepat Minhee menurunkan kedua tangannya yang digunakan untuk menangkis tadi, lalu dengan gerakan tiba-tiba dia menghantamkan kepalanya keras-keras pada dahi Doo-Joon yang berada di hadapannya.

DUAG!!

Hantaman yang keras itu mampu membuat Doo-Joon kehilangan keseimbangan. Setelah beberapa saat berputar-putar sambil memegangi kepalanya yang terasa pening, Doo-joon jatuh terkulai di atas aspal menyusul Dongwoon dengan kondisi tidak sadarkan diri.

Kris menganga lebar menatap perkelahian di hadapannya. Perkelahian antara seorang yang gadis dengan nekatnya melawan empat orang lelaki yang terkenal sebagai gang berandalan di sekolah mereka. Dan yang membuatnya makin terheran-heran adalah teknik bertarung yang dimiliki Minhee, seolah gadis itu telah lama terlatih meskipun cara bertarungnya agak berantakan. Ya, berantakan dan brutal. Apalagi barusan gadis itu menghantamkan kepalanya ke wajah Doo-Joon tanpa berpikir dua kali, sebuah cara yang menurut Kris sangat bodoh dan berbahaya. Untung saja kepala Minhee sekeras batu.

“Ya! kenapa malah pingsan!” Yoseob meneriaki Doo-Joon yang terkapar di atas aspal dengan panik, “Jangan mempermalukan kita! mengurus perempuan seperti dia saja tidak becus!”

“Biar aku saja yang menghadapinya,” sahut Gikwang yang sejak tadi berdiri di sebelah Yoseob. Gikwang merogoh blazer seragamnya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil berwarna perak, berlari menerjang Minhee sambil mengarahkan pisaunya ke tubuh gadis itu.

Minhee berkelit sehingga pisau itu tidak mengenainya, namun kali ini Gikwang tidak sebodoh Doo-joon. Dengan cekatan dia mencengkram sebelah lengan Minhee dan menarik tubuh Minhee mendekat ke arahnya, lalu sebelah tangannya yang lain menorehkan pisaunya di lengan kiri gadis itu, membuat goresan luka dangkal namun cukup untuk membuat lengan itu mengeluarkan darah.

Minhee beringsut mundur dari hadapan Gikwang sambil mengerang kesakitan. Gadis itu memegangi lengan kirinya yang terluka dengan nafas terengah. Dia berusaha menahan aliran darahnya yang mulai menetes keluar.

Kris yang sejak tadi hanya menatap takjub langsung tersadar saat melihat darah Minhee yang sedikit demi sedikit menitik ke atas aspal. Dia menggertakkan giginya dan mengeratkan kepalan tangannya.

“Sial!!” Kris berlari menuju Gikwang tanpa banyak berpikir dengan emosi yang membakar kepalanya. Dengan gerakan cepat, dia melayangkan kakinya ke tubuh Gikwang, sehingga Gikwang tidak sempat menghindarinya. Kakinya yang panjang itu menghantam tubuh Gikwang tepat di perut, membuat Gikwang terlempar beberapa meter ke belakang dan jatuh berdebam di atas jalan raya dengan punggung dan tengkuk yang menghantam aspal terlebih tadulu. Gikwang memekik kesakitan, dan langsung tidak sadarkan diri karena tengkuknya menghantam permukaan jalan.

Dengan panik, Kris berlari menghampiri Minhee yang masih memegangi lengan kirinya yang mengeluarkan banyak darah. Tanpa berpikir panjang Kris berlutut di hadapan gadis itu, melepas blazer seragamnya yang berwarna biru tua dan merobeknya menjadi dua, lalu dengan cekatan membebatkan salah satu robekan pada luka gores Minhee untuk menghentikan pendarahan. Minhee meringis saat Kris menyeka sisa-sisa darah yang merembes keluar dengan robekan blazernya yang lain.

“Sakit?” Kris mengangkat wajahnya untuk menatap Minhee sambil merapikan bebatan itu, membuat mata mereka bertemu. Minhee bisa merasakan nafasnya seolah berhenti saat mata coklat-kehitaman yang indah itu menatapnya khawatir.

“Ani, gwenchana.” jawab Minhee sambil mengalihkan pandangannya dari Kris. Kris menghembuskan nafas lega dan berdiri kembali. Setelah mengecek kondisi Minhee yang sepertinya tidak apa-apa, dia merangkul pundak gadis itu dan menggiringnya perlahan menuju mobil silvernya.

Yoseob berjingkat takut saat Kris dan Minhee berjalan melewatinya, namun Kris tidak menggubrisnya dan lebih mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Yoseob berdecak kesal karena kedua orang itu melewatinya begitu saja seolah dia tidak terlihat, namun tidak berbuat apa-apa mengingat dia tidak mungkin melawan Jjang EXO-M High sendirian tanpa bantuan teman-temannya. Bahkan, meskipun dia dan ketiga temannya menyerang Kris bersamaan sekaligus, Yoseob tetap tidak yakin bisa mengalahkan Kris dengan mudah. Apalagi di dekat Kris terdapat gadis yang ternyata bisa berkelahi, meskipun gadis itu terlihat sangat lemah.

Yoseob berniat kabur dari hadapan mereka karena takut terluka namun tidak tega meninggalkan ketiga temannya yang kini terkapar tak berdaya di tengah jalan.

Setelah membukakan pintu penumpang dan membantu Minhee masuk ke dalam mobil, Kris tiba-tiba teringat akan keberadaan Yoseob dan langsung menatapnya tajam, tentu saja masih dengan perasaan emosi karena Minhee baru saja dilukai oleh salah satu di antara mereka. Dia sudah ingin menghampiri Yoseob dan berniat menghajarnya habis-habisan, namun Minhee menahan lengannya dari dalam mobil.

“Biarkan saja dia. Lagipula dia tidak mungkin menang melawanmu.” kata Minhee lemas, dan Kris tidak bisa menolak permintaannya. Akhirnya dia mengurungkan niatnya, lalu berseru pada Yoseob.

“Beritahu teman-temanmu, Yang Yoseob! jangan pernah mengganggu gadis ini lagi, atau kalian akan mati!” seruan keras yang terlontar dari mulut Kris itu membuat Yoseob melonjak kaget. Dia mengangguk cepat-cepat, kemudian berlari menjauh dari hadapan Kris dan Minhee meninggalkan teman-temannya yang masih masih terkapar tak berdaya di atas jalan.

Kris menghembuskan nafasnya dengan separuh hati, belum lega karena tidak sempat melampiaskan kemarahannya pada Yoseob. Dia lantas berjalan memutar menuju pintu pengemudi, masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang setir.

Kris melirik Minhee yang masih terduduk diam di sebelahnya, di jok penumpang.

“Perlu kuantar ke rumah sakit?” tanya Kris dengan nada cemas.

Minhee menoleh ke arahnya kemudian menggeleng. “Tidak perlu.” jawabnya dengan intonasi datar.

Respon Minhee yang kembali dingin padanya itu membuat Kris ingin menggodanya lagi. Namun niat itu diurungkannya mengingat kondisi Minhee yang sudah kehilangan banyak darah. Dia memutar kunci mobilnya untuk menyalakan mesin, namun sebelum kakinya sempat menginjak pedal gas tiba-tiba sebuah perasaan bersalah merasuki rongga dadanya. Kris menoleh kembali pada Minhee yang kini tengah memain-memainkan bebatan kain yang membalut lengan kirinya.

“Choi Minhe.” panggilnya.

Minhee mendongak dan menatapnya.

“Wae?” tanya gadis itu sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Mianhae…” kata Kris dengan perasaan bersalah yang memancar dari kedua bola matanya.

“Untuk?” Minhee menatapnya heran.

“Untuk melibatkanmu. Kalau saja hari ini aku tidak mengikutimu pulang, empat orang brengsek itu pasti tidak akan melukaimu.” Dia menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. “Mereka sudah lama mencariku, dan mencari-cari kesempatan untuk menghajarku beramai-ramai saat aku sendirian. Saat melihatmu bersamaku, mereka langsung menyanderamu karena menganggapmu sasaran yang empuk.”

Minhee mengibaskan tangannya yang tidak terluka. “Tidak apa-apa. Tidak perlu merasa bersalah. Aku sudah terbiasa terlibat hal-hal seperti ini.”

Perkataannya membuat mata Kris membulat.

“Terbiasa… maksudmu?”

Minhee tidak menjawabnya, dia hanya terdiam sambil melemparkan senyum kecut.

“Kris, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Minhee mengubah arah pembicaraan, “apa kau pernah merasa tertekan, sebagai seorang Jjang?

Kris terhenyak mendengar pertanyaan Minhee. “Tertekan?” tanyanya balik.

“Ya, tertekan. Tertekan karena takut orang-orang terdekatmu dilukai. Sebagai Jjang, kau pasti memiliki banyak musuh, karena orang lain juga menginginkan posisi Jjang sepertimu. Tapi banyak yang melakukannya dengan cara yang kotor, salah satunya adalah dengan melukai orang-orang terdekatmu karena mereka terlalu pengecut untuk berhadapan denganmu.” Minhee mendesah, “kau pasti tidak memiliki banyak teman selain kelima temanmu itu, meskipun sebenarnya kau ingin.”

Kris merasa tersengat mendengar pernyataan Minhee. Semua yang dikatakan gadis itu memang benar adanya. Kenapa gadis itu begitu mengerti perasaannya?

“Rumahku tidak jauh dari sini, di tikungan depan itu. Kau langsung belok saja.” Minhee menunjuk tikungan di depan mereka dengan telunjuk kanannya. “rumah itu tidak begitu besar, dan catnya berwarna hijau muda.”

Kris menatapnya gadis itu sejenak kemudian mengangguk. Dia menaikkan persneling mobil dan menginjak pedal gasnya, membuat mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan perumahan yang sepi. Mereka berdua duduk diliputi keheningan, hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah rumah bercatkan hijau muda.

Kris mengernyit saat melihat penampakan rumah itu. Dia merasa mengenalinya. “Kau yakin ini rumahmu?” tanyanya pada gadis di sebelahnya.

“Tentu saja aku yakin!” Minhee menatapnya tak percaya, “bagaimana bisa aku tak mengenali rumahku sendiri?” gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, membuka pintu di sebelahnya kemudian keluar dari dalam mobil. Dia berlari menghampiri gerbang rumahnya.

“Oppa! kau ada dirumah? bukakan pintunya!” seru Minhee setibanya di depan gerbang sambil mengguncang-guncang jerujinya. “Oppa! apa kau mendengarku?”

“Ya! bersabarlah sedikit, Choi Minhee!” balas seseorang dari dalam sambil berteriak.

Kris masih terdiam di dalam mobilnya, dengan punggung tersandar di jok pengemudi. Matanya terpekur pada rumah Minhee, sedangkan otaknya bekerja keras untuk mengakses memori tentang rumah itu. Dia sangat yakin mengenali rumah ini, karena pernah mengunjungi rumah ini sekali, tapi sudah lupa karena kejadiannya sudah lama sekali.

Selang beberapa saat seorang lelaki bertubuh jangkung keluar dari pintu depan, dan menghampiri gerbang rumah untuk membuka gemboknya. Minhee mengomelinya karena membuatnya menunggu lama.

Mata Kris membulat menyadari siapa lelaki itu. Cepat-cepat dia membuka pintu mobil dan berlari keluar menghampiri Minhee dan lelaki itu.

“Minho hyung?!” teriaknya ke arah lelaki itu. Lelaki yang dipanggil Minho itu mendongakkan kepalanya untuk melihatnya, dan reaksi yang diberikannya sama seperti reaksi Kris saat Kris melihatnya.

“Kris?”

Minhee menatap Oppanya dan Kris bergantian, setelah itu menghembuskan nafasnya sambil memutar matanya. Dia pun cepat-cepat melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah katapun setelah Minho berhasil membuka gembok.

“Aissshhh, aku tidak menyangka kau adalah oppa Minhe, pantas saja Minhee bisa berkelahi.” kata Kris sambil mengacak-acak rambutnya, mengingat-ngingat perkelahian yang baru saja dialaminya dengan gadis itu.

Minho terlihat heran karena tidak mengerti maksud pembicaraan Kris, namun detik kemudian dia terkekeh. “Aku juga tak menyangka kau berteman dengan Minhee, bahkan mengantarnya pulang. Ayo masuk dulu dan berbicara di dalam, mumpung kita dipertemukan.”

Kris tersenyum mendengar perkataannya. Diam-diam dia memperhatikan Minho dari atas ke bawah. Sebenarnya Kris agak terkejut melihat penampilan Minho yang begitu berbeda dari penampilannya dua tahun yang lalu, karena sekarang Minho mengenakan celana kain hitam yang dipadukan hem putih polos dan tersetrika rapi. Rambutnya yang berwarna hitam legam juga dipotong cepak dan tersisir rapi. Padahal dua tahun yang lalu penampilan Minho sangat urakan, rambutnya acak-acakan dan kaos bergambar band rock serta celana jeans belel selalu melekat di tubuhnya.

Choi Minho, lelaki di hadapannya ini dulunya adalah seorang Jjang EXO-M, dua tahun yang lalu, saat Kris masih duduk di kelas satu. Minho adalah senior yang sangat dihormati dan dikaguminya karena sifatnya yang sangat loyal pada teman-temannya dan juga sangat pintar berkelahi, sehingga tak ada seorang pun yang berani membuat masalah dengannya.

“Apa yang kau pikirkan? cepat masuk! sebelum aku menendangmu ke dalam rumah!” perkataan Minho itu membuat lamunan Kris buyar. Minho menatapnya heran. “Kau kenapa? Sejak tadi terus memperhatikanku. Oh, aku tahu! kau pasti terheran-heran dengan transformasiku ini ya?” Minho tertawa bangga sambil berkacak pinggang. “lupakan penampilan urakanku yang dulu, Kris. Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswa dan penampilan urakan seperti dulu tidak cocok dengan image-ku.”

Kris berdecak kagum. “Kau kuliah dimana, hyung?” tanyanya penasaran.

Minho tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. “Hanyang University, jurusan Biologi–” kata-kata itu terputus saat tiba-tiba seorang lelaki berpenampilan casual keluar dari rumah Minho, dengan kedua kedua tangan yang menenteng sebuah laptop hitam.

“Ya!! Minho! aku berhasil menembus pertahanan mereka!” teriak lelaki itu semangat saat ia tiba di hadapan Minho. Namun saat dia menyadari sosok Kris yang berada tak jauh darinya, dia melonjak kaget. “Kris?” serunya dengan mata mengerjap-ngerjap.

Kris juga tak kalah kaget melihat penampakannya. “Key-hyung?”

“Aiiissshhh… nanti saja kangen-kangenannya! sebaiknya kita masuk rumah dulu!” Minho menginterupsi, dan sebelum mereka sempat berkata-kata dia segera meraih lengan Kris dan juga lengan Key, menggiring kedua orang itu masuk ke dalam rumahnya. Setibanya di dalam rumah dia mendudukkan kedua orang itu di sofa ruang tamu.

“Kalian tunggu disini dulu, aku ingin membuatkan minum.” ucap Minho pada kedua orang di sofa ruang tamunya sebelum berlalu masuk menuju dapur.

Sepeninggal Minho, Kris menggeser duduknya mendekati Key yang masih terlihat asyik berkutat dengan laptopnya. “Sedang apa hyung?” Key menghentikan kegiatannya sejenak, mendongakkan kepalanya dari layar untuk untuk menatap Kris. “Hacking.” jawabnya singkat sambil menyeringai sekilas, lalu kembali menekuri layar laptopnya.

“Biar kutebak, kau pasti mahasiswa jurusan IT?” tanyanya lagi, membuat Key mengangguk.”Nde, Kau benar. Aku jurusan IT dan satu universitas dengan Minho.”

Kris menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya karena jawaban itu. Minho dan Key, kedua seniornya ini dulunya adalah siswa paling berandalan di sekolah mereka, sangat ditakuti oleh murid-murid seisi sekolah bahkan murid-murid sekolah lainnya, Namun kini mereka berdua telah bertransformasi menjadi seorang mahasiswa biologi dan mahasiswa TI yang terlihat normal.

Minho kembali ke ruang tamu dengan dua gelas sirup di kedua tangannya. Dia meletakkan sirup itu di meja tamu kecil di hadapan Key dan Kris, lalu menghempaskan tubuhnya di samping mereka.

“Jadi… apa dulu yang harus kita bicarakan?” Minho membuka topik pembicaraan sambil melirik ke arah Kris. “Bagaimana keadaan sekolah, Kris? apa kau terlibat masalah? aku sudah lama tak berkunjung ke sekolah lamaku itu.”

Kris terlihat ragu. Sebenarnya dia ingin membicarakan taruhannya dengan Suho yang melibatkan Minhee tapi hal itu diurungkannya. Agak tidak enak karena ternyata Minho adalah kakak Minhee.

“Katakan saja, aku tahu masalah ini melibatkan adikku.” lanjut Minho saat menyadari perubahan ekspresi di wajah Kris.

Kris terhenyak. Dia membetulkan posisi duduknya sebentar. Hening menyelimuti mereka bertiga hingga akhirnya Kris berinisiatif membuka mulutnya.

“Suho,” katanya dengan suara yang sedikit menyiratkan emosi, “Suho mengajakku bertaruh, dan taruhannya adalah Minhee.”

Minho memutar bola matanya mendengar nama Suho. “Suho? anak itu berbuat ulah lagi, huh?” ucapnya sambil meraih gelas sirup milik Key dan menenggak separuh isinya. Dia lalu kembali menatap Kris lekat-lekat. “Aku ingin tahu apa urusannya dengan Minhee. Ceritakan selengkap-lengkapnya padaku, Kris.”

D.O. melirik jam tangan hitam yang melingkari pergelangan kirinya berkali-kali, raut cemas tampak terlihat di wajahnya.

“Lama sekali!” Suho yang duduk di sebelahnya, di sebuah sofa merah tak henti-hentinya menggerutu.

“Apa kau tidak salah mengirim orang? Dongwoon dan teman-temannya itu sangat lemah,” sahut Kai yang kini berjalan menghampiri mereka, dengan Lay, Chen dan Xiumin yang mengikuti di belakangnya.

Suho mendecak. “Tapi kupikir orang-orang seperti itu sudah cukup untuk melawan seorang gadis,” dia mengetuk-ngetuk lengan sofa dengan telunjuknya. Beberapa saat kemudian dahinya mengkerut. “Appa benar-benar banyak maunya, untuk apa dia menyuruhku mengetes kemampuan gadis itu?”

Chen mengangkat bahunya, “mungkin saja gadis itu juga dibutuhkan untuk eksperimen?”

Suho sudah ingin membuka mulutnya untuk menjawab perkataan Chen, namun sebuah suara jeblakan pintu terdengar dari arah ruang tamu.

“Suho!” panggil seseorang dari ruang tamu, membuat Suho bangkit dari sofa yang didudukinya dan berjalan menghampiri asal suara. Dia mendecak saat menyadari orang yang baru saja membuka pintu rumahnya adalah Yoseob, anak buah Son Dongwoon.

“Mana Dongwoon?” tanya Suho, yang dijawab gelengan Yoseob.

“Jjang masih pingsan, dan aku datang kesini untuk menggantikannya.” katanya dengan wajah sebal. “semua ini karena ulah perempuan itu!”

“Perempuan? maksudmu ‘perempuan’ yang dimaksud appa-ku?” tanya Suho tidak percaya.

“Ya, perempuan itu sangat berbahaya. Kukira dia hanyalah seorang gadis lemah, tapi kenyataannya dia berhasil menghabisi Dongwoon dan Doo-Joon.”

Suho menyeringai mendengar hal itu. Dia lantas berbalik, memberi isyarat pada Lay dengan lambaian tangannya, dan beberapa saat kemudian Lay datang menghampirinya sambil menyodorkan sebuah ponsel berwarna hitam. Suho menerimanya, kemudian terlihat sibuk memencet-mencet layar ponsel lalu menempelkannya di telinganya.

Jeda sesaat, kemudian Suho mulai berbicara di telepon. “Halo, ajusshi?” sapanya. “nde, siapkan sebuah kapal Feri untuk membawa kami ke Pulau Jukdo, karena tiga hari lagi kami akan berangkat kesana.” setelah itu Suho memutus sambungan teleponnya dan menatap lurus ke arah Yoseob.

“Kerja bagus, kau berhasil mengetes kemampuan gadis itu, dan tugasmu sudah selesai.” dia melempar sebuah bungkusan coklat ke arah Yoseob, yang dengan cekatan menangkapnya. “Itu hadiahnya, dan jika aku membutuhkan bantuan kalian lagi aku akan segera menghubungi kalian.”

Aye!” seru Yoseob dengan seringai terpasang di wajahnya. Setelah itu dia melangkah menuju pintu depan dengan membawa bungkusan besar itu dan menghilang dari hadapan Suho.

______________

To be Continued

______________

Mian kalo ceritanya tambah aneh, awalnya emang udah aneh, malah rencananya bakal discontinued T.T sekali lagi miannn otak saya lagi buntu gatau harus gimana lagi ;____; mana ngapdetnya lama pula, juga belum sempat di proofread jadi ngga tau ada typo ato nggak.

numpang promosiin blog: lazywonderland.wordpress.com /kabur/

32 responses to “I Am Wolf [Chapter 2]

  1. yaaaaah kok malah discontinued bagus hlo thoor ff.y dilanjutin ne pleaseeeee lanjut ya

    oh ya nae reader baru , revand imnida bangapta ne thor *bow90。

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s