Smile

Smile

Smile

Main Cast : Park Chanyeol (EXO-K) &  Jung Yuhyeon/YOU || Other Cast : Other EXO members, Miss A’s Jia, etc. || Genre : Friendship, Romance, Comedy || Length : Oneshot (5384 words) || Rating : Teen || Author : Mira~Hyuga/MiraeLee (@cumiraw6)

…EatRestMoneyLeave Restaurant, Saturday, 9.00 PM…

Gelak tawa dan canda mewarnai seisi restoran khusus makanan Korea–yang selalu ramai pengunjung–itu. Sejak beberapa menit yang lalu, lebih dari dua puluh orang bergabung mengelilingi sebuah meja besar di bagian dalam restoran.

“Bersulang untuk sutradara kita yang…”

“Keren!” serobot Park Chanyeol lalu nyengir lebar ketika mendapat banyak protes dari berbagai arah.

Kim Joonmyeon menyuruh mereka untuk diam, kemudian mengambil alih keadaan lagi, “Bersulang untuk sutradara kita yang.. hebat!” serunya lalu mengangkat gelas sodanya tinggi-tinggi diikuti yang lain.

“Untuk kita semua, woooo!” sambung Chanyeol kencang di antara suara dentingan gelas-gelas yang saling beradu.

“Woo!” yang lain ikut bersorak dengan suka cita sebelum meneguk minuman di tangan mereka dalam waktu yang bersamaan.

Saat ini mereka sedang merayakan keberhasilan pertunjukan drama musical yang mereka tampilkan untuk mengisi acara showcase tahunan Universitas Myeongji yang baru saja selesai satu jam yang lalu.

Rasa lelah mereka dalam persiapan selama lebih dari satu bulan ini membuahkan hasil yang baik dan melegakan terutama bagi sang sutradara Park Chanyeol. Walaupun masih dalam skala kampus, Chanyeol merasa sangat senang telah berhasil mengatur suatu pertunjukan di tahun pertamanya sebagai mahasiswa di fakultas seni itu.

“Ayo pesan yang banyak!” seru Kim Jongin bersemangat. Oh, Chanyeol sangat berterimakasih pada laki-laki berkulit gelap yang memiliki banyak daya tarik itu. Jongin memerankan karakter pemeran utama pria dengan sangat baik hingga menjadi salah satu faktor kuat yang mendukung keberhasilan musicalnya.

Tiba-tiba, Byun Baekhyun yang duduk di samping Chanyeol, berdiri dan berseru juga, “Pak Sut yang traktir! Joonmyeon hyung juga!”

Chanyeol sempat tampak lemas selama sepersekian detik tapi kemudian menepuk tangannya keras-keras dan ikut berdiri saat mendengar nama Joonmyeon, “Call!

Ah, Baekhyun memang mengerti dirinya.

Bukan apa-apa, hanya saja.. mentraktir lebih dari dua puluh orang dengan selera makan yang tidak biasa itu benar-benar membutuhkan mental terlebih finansial yang double double triple combo (?). Kalau ada Kim Joonmyeon, sang senior yang biasa mentraktir teman-temannya, mungkin double double triple combo itu bisa jadi double combo saja.

*

[Bagaimana musicalmu, Tampan? Berhasil, bukan?

Sender : Eomma]

Chanyeol menghembuskan napas panjang namun tak urung tersenyum kecil membaca pesan itu.

Walaupun tahu ia sudah beranjak dewasa, ibunya masih selalu memperlakukan Chanyeol seperti anak bungsu laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP. Sering sekali Chanyeol merasa risih karena perlakuan itu, tapi.. entahlah, diberitahu bagaimanapun, ibunya tetap seperti itu. Apa boleh buat. Tidak ada salahnya menerima kasih sayang berlebih di umur yang bahkan belum mencapai 20 ini.

Setelah mengetikan balasan dan menyentuh tombol ‘Send’ di layar, Chanyeol mengembalikan ponselnya itu ke dalam saku celana dan kembali bergabung dengan teman-temannya yang sedang membicarakan hal-hal lucu dalam penampilan mereka tadi sambil menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja.

Chanyeol menyuapkan sepotong besar daging ke dalam mulutnya tepat ketika Baekhyun berseru, “Ayo voting! Siapa yang terlihat paling gugup di atas panggung?”

“Kau!” semua serempak menunjuk Baekhyun tanpa banyak berpikir. Chanyeol terbahak melihat ekspresi sahabatnya yang setengah tak percaya dan setengah melongo.

“Aku?! Kenapa aku? Aku biasa saja, tahu.” elak Baekhyun tak terima sekaligus malu.

“Eeiiyy..”

“Orang ini..”

Jinjja..”

Ani, aku tidak lebih–”

Ani..” Chanyeol memotong ucapan Baekhyun yang hendak mengelak lagi sambil refleks mengangkat tangannya untuk menarik perhatian, “Saat pemberian salam di panggung tadi, tangannya basah karena keringat dan sangat gemetar.”

“Eoh, benar.” ujar Do Kyungsoo seolah memberi kesaksian. Yang lain tertawa membayangkan itu.

Ya, ya, ya! Tapi kan wajar saja kalau aku gugup. Ini, kan pengalaman pertamaku.”

“Kau bahkan salah menyebut beberapa tokoh.” kekeh Chanyeol. Memang benar, tapi tadi penonton menganggap kesalahan itu sebagai bumbu humor.

Yaa! Kau kira tugas narator mudah?!”

Arasso, arasso.” seperti biasa, sebagai senior yang baik dan tampan, Joonmyeon menormalkan lagi suasana meski dengan suara geli, “Yo! Lanjutkan lagi votingnya, Baekhyun-ah!” katanya saat Chanyeol sedang memiting leher Baekhyun sambil tertawa.

“H–heek! Park Chanyeol!”

Sesaat kemudian Chanyeol melepaskan pitingan lengannya dan membiarkan Baekhyun kembali berkoar-koar, “Siapa yang berakting paaaaaliiing bagus?”

Kali ini tidak serempak. Ada yang menunjuk Jongin, termasuk Chanyeol, ada yang menunjuk si pemeran utama wanita, dan Baekhyun sendiri menunjuk seseorang yang berada tepat di samping kanan Chanyeol, membuat yang lain tak bisa menyembunyikan rasa heran, sekaligus mengingatkan Chanyeol bahwa sejak awal gadis itu berada tepat di sampingnya.

Jung Yuhyeon, yang ditunjuk Baekhyun, juga mengangkat alisnya dengan heran, seolah bertanya ‘kenapa aku?’. Chanyeol yang memperhatikan tanpa sadar ikut mengangkat alisnya.

“Yuhyeonie..” Baekhyun mulai mengutarakan pendapatnya, “..aku tidak bisa membedakan aktingnya dengan sungguhannya. Hebat sekali, bukan?”

Sontak semua orang tertawa kecuali Yuhyeon sendiri yang hanya meringis sambil menggaruk pipinya.

Semua mengerti apa maksud Baekhyun. Jung Yuhyeon tidak begitu bisa berakting karena raut wajahnya yang selalu datar dan kurang ekspresif—mungkin tabiat keluarga. Karena itu Chanyeol memberikan peran antagonis yang berkarakter dingin, irit bicara dan jarang tersenyum–pada gadis itu. Itulah yang dimaksud Baekhyun dengan tidak bisa membedakan akting Yuhyeon dengan sungguhannya, karena Yuhyeon hanya perlu menambahkan karakter dingin saat di panggung. Selebihnya, sama persis dengan dirinya sendiri pada biasanya.

Chanyeol yang tertawa paling keras, segera menutup mulutnya ketika mendapat tatapan Yuhyeon yang cukup tajam. Ia berhenti tertawa dan berdeham, lalu meniru wajah datar gadis itu dan menyuruh yang lain segera diam juga, “Ya, ya! Jangan begitu, ck! Sudah, sudah.”

Sudah satu tahun Yuhyeon menjadi teman Chanyeol. Dan selama setahun ini, sampai saat ini, sebenarnya hanya Chanyeol yang mengakrabkan diri dengan Yuhyeon, sedangkan gadis itu bahkan masih memanggilnya dengan nama lengkap ditambah embel-embel -ssi dan terkadang masih terlihat segan. Hal itu membuat Chanyeol tertarik untuk menyelam lebih jauh ke dalam ‘dimensi’ Yuhyeon. Ia penasaran, harus menyelam hingga sedalam mana agar gadis itu bisa memanggil nama belakangnya saja? Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan agar Chanyeol bisa melihat gadis itu tertawa, atau setidaknya, sering tersenyum?

Ya, gadis itu memang benar-benar jarang tersenyum. Pernah sekali, dan itu beberapa bulan yang lalu, Chanyeol memuji Yuhyeon karena pengetahuannya yang banyak tentang musik. Ketika itu Yuhyeon mengucapkan terima kasih padanya, sambil tersenyum. Senyum simpul yang pertama kali dan hanya sekali itu pernah Chanyeol lihat. Senyum simpul yang sangat cantik, yang membuat Chanyeol sangat ingin melihatnya lagi. Senyum yang tanpa disadari telah membuatnya jatuh hati.

>>><<<

…Myeongji University, Wednesday three months later, 1.45 PM…

Yuhyeon menghela napas panjang dan menghempaskan diri di rumput hijau taman milik kampus, berselonjor kaki. Kedua telinganya tersumpal earphone putih yang terhubung ke ponsel dan tengah memperdengarkan suara Demi Lovato. Yuhyeon memangku tas selempangnya lalu membuka buku berwarna sampul abu-abu di tangannya, memutuskan untuk menghabiskan waktu kosongnya dengan membaca, seperti biasa.

Sepasang sepatu kets putih yang berhenti di sampingnya, membuat gadis itu menghentikan sejenak kegiatannya dan menoleh—setengah mendongak—ke arah itu, mendapati Chanyeol yang tengah mengambil posisi duduk di samping Yuhyeon. Ia sedang mengatakan sesuatu yang tak bisa Yuhyeon dengar dengan jelas karena suara laki-laki itu kalah keras dengan musik yang didengarnya. Sepertinya Chanyeol menanyakan sesuatu.

“Hm?” gumam Yuhyeon sambil mengangkat alis legamnya yang rapi, tanda ia meminta Chanyeol mengulang apa yang dikatakannya.

Chanyeol menggeleng seperti tak habis pikir dan tiba-tiba saja melepas sebelah earphone Yuhyeon untuk kemudian dipakainya di telinganya sendiri, “Lupakan saja. Sudah pasti kau di sini karena tidak ada kelas.” ia tersenyum lebar.

“Aah..” angguk Yuhyeon mengerti. Mungkin tadi Chanyeol bertanya tentang apa yang dilakukannya di sini, atau bertanya tentang, apakah ia ada kelas atau tidak. Setelahnya, gadis itu mengembalikan pusat perhatian pada bukunya, tidak berniat memulai topik pembicaraan lain.

“Buku tentang teater lagi?” tanya Chanyeol sambil berusaha melihat judul buku yang dibaca Yuhyeon dan mencoba membaca judul berbahasa inggris itu dengan logat yg payah.

“Begitulah.” jawab Yuhyeon tanpa merasa terganggu dengan tingkah pemuda di sampingnya.

“Daripada menjejali otakmu dengan teori-teori yang memusingkan, bukankah lebih baik kalau langsung praktik?”

Yuhyeon hampir mendengus untuk dirinya sendiri, “Aku payah dalam praktik. Kau kan, tahu sendiri.”

“Aigo.” Chanyeol mendorong pelan kening Yuhyeon, lalu terkekeh, “Kau pikir siapa yang ada di sampingmu sekarang? Sutradara Broadway masa depan ini bisa membantu kalau kau mau.” katanya dengan penuh percaya diri.

Yuhyeon meringis ketika dahinya didorong, kemudian memandangi Chanyeol yang sedang memasang tampang jenaka, selama beberapa saat, “Apa boleh?”

Chanyeol mengangguk beberapa kali dan tersenyum makin lebar, “Apa yang tidak boleh untuk seorang teman? Aku kan juga pernah menawarkan ini sebelumnya. Hubungi aku saja kalau mau. Hm, hm?”

Yuhyeon terdiam berpikir selama beberapa saat, “Akan kupikirkan.” katanya kemudian dengan nada bicara yang statis sebelum kembali menekuni bukunya.

Chanyeol terkekeh, menopang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang, “Hmm.. cuacanya cerah sekali. Tidak heran kau suka musim semi.” katanya sambil melirik Yuhyeon yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menanggapi. Pemuda itu tidak berniat mendesaknya untuk bicara dan selama beberapa detik hanya menggumamkan bagian rap dalam lagu Love Light milik CN Blue yang kini sedang mereka dengarkan.

Tapi tidak lama setelah itu Chanyeol mulai bosan, “Yu.”

Ne?” Yuhyeon menoleh.

“Tidak, aku masih penasaran, bagaimana kalau kau bicara lebih dari sepuluh atau bahkan dua puluh kata?” kekeh Chanyeol. Atau tertawa? Atau menangis?

“Hm..”

“Err.. di antara kau dan temanmu Jia, aku merasa seperti penyiar radio profesional, ckck.” ujar Chanyeol lagi sambil mengingat gadis bernama Jia yang setabiat dengan Yuhyeon tapi tidak ‘separah’ orang yang sekarang berada di sampingnya.

“Hm, geurae?

Chanyeol tidak tahu harus bicara apa lagi. -_-

“Emm.. Yu, sudah makan siang?” akhirnya hanya itu yang terpikirkan.

Yuhyeon menggeleng tak kentara, masih membagi fokus dengan bukunya, “Belum lapar.”

Chanyeol mengangguk berkali-berkali sembari melepaskan earphone di telinganya dan meletakkannya begitu saja di atas pangkuan Yuhyeon, “Aku lapar.” gumam namja itu, padahal ia baru saja makan siang bersama teman-temannya sebelum kemari, “Temani aku ke cafetaria, ya.”

Yuhyeon menoleh dengan dahi berkerut, tapi kemudian mengangguk sambil menutup bukunya dan melepaskan earphone.

“Ah, kau memang teman yang baik.” Chanyeol nyengir lebar lalu berdiri dan menepuk sekilas bagian belakang celananya sambil menunggu Yuhyeon berdiri, “Kajja!” pria itu melingkarkan lengannya ke sekitar bahu Yuhyeon dan mereka bersama berjalan menuju cafetaria.

*

Mereka sedang berdiri di hadapan konter cafetaria. Chanyeol semakin menenggelamkan kedua tangan ke dalam saku celana, sedang memikirkan apa yang harus dibelinya, karena sebenarnya makanan itu nanti bukan untuk dirinya, “Menurutmu, apa yang harus kumakan, Yu?”

“Hm?” Yuhyeon mendongak untuk melihat Chanyeol yang segera mengerti apa yang gadis itu pikirkan.

Namja itu mengangkat bahu sambil mencebikkan bibir bawah sejenak, “Aku terlalu bingung, jadi tanya pendapatmu. Apapun yang kau sarankan akan aku turuti. Ayo, ayoo!”

Yuhyeon berpikir sejenak, tidak menyadari Chanyeol yang memerhatikannya di saat yang sama, “Kurasa.. omelette? Atau mungkin kepiting pedas.”

Arasso.” Chanyeol langsung memesan makanan yang baru saja disebutkan Yuhyeon, “Kau yakin belum lapar?”

“Ya.”

Chanyeol berdecak pelan beberapa kali. Begitu pesanan siap, ia segera mengambil nampan makanan yang disodorkan si penjaga cafetaria, “Pegang dulu.” ia menyerahkan nampan makanan itu pada Yuhyeon karena kesulitan mengambil uang di dalam dompetnya untuk membayar, “Kamsahamnida.”

Setelah membayar, Chanyeol berbalik dan tiba-tiba saja nyengir lebar, “Sana, cari tempat duduk! Selamat makan.” ditepuknya pelan puncak kepala Yuhyeon lalu berjalan cepat keluar cafetaria begitu saja, meninggalkan Yuhyeon yang melongo dengan wajah datarnya.

“Apa-apaan..” gadis itu melihat makanan di tangannya dengan bingung, “Park Chanyeol-ssi!

Dari kejauhan, Chanyeol berbalik dan tertawa sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi, “Itu untukmu, aku sudah makan!” serunya keras, “See you! Jangan lupa hubungi aku kalau mau!”

Yuhyeon menghembuskan napas dari mulut ketika Chanyeol berlari semakin menjauh. Ia lalu melirik penjaga cafetaria dengan bingung, tapi pada akhirnya memutuskan untuk menuruti apa yang dikatakan laki-laki itu.

Ia berhutang satu kebaikan lagi pada Park Chanyeol.

>>><<<

…Myeongji’s Practice Room, Next Friday, 6.40 PM…

Chanyeol mengakhiri aktingnya—untuk memberi contoh pada Yuhyeon—dengan menepuk telapak tangannya sekali, “Kurang lebih seperti itu.” katanya sabar.

Hembusan napas putus asa meninggalkan mulut Yuhyeon bersamaan dengan kepalanya yang sengaja ia antukkan ke dinding di sebelahnya. Ini adalah ketiga jam mereka berada di sini, berusaha meningkatkan kemampuan Yuhyeon yang hasilnya nihil sama sekali—begitu menurut Yuhyeon sendiri.

Yaa, kita memang tidak akan berhasil di kali pertama.” suara baritone Chanyeol yang ceria terdengar menggema di ruangan besar itu. Dari posisinya yang cukup jauh dengan Yuhyeon, pemuda tinggi itu melompat dengan konyol hingga sampai di hadapan Yuhyeon dan duduk bersila di sana dengan cengiran khas yang terukir di bibirnya. Ia maklum ketika tak ada balasan senyuman setipis apapun dari perempuan berparas cantik itu.

Jika bukan ekspresi wajah, gadis itu pasti bermasalah di intonasi suara. Memang begitu sejak awal, dan Chanyeol harus tega mengatakan—setidaknya hanya dalam hati—kalau Yuhyeon memang ‘hampir’ tidak berkembang sama sekali. Tapi sisi lain darinya memberikan pembelaan bahwa ‘hampir’ berarti masih ada 0,001 persen. Baiklah, sepertinya ‘pembelaan’ itu bahkan lebih menusuk.

“Sering saja berlatih.”

Yuhyeon merasa hanya menghabiskan waktu saja kuliah di fakultas showbiz ini. Toh, setelah satu tahun berlalu, ia masih selalu geli mendengar dan melihat aktingnya sendiri. Bukan tidak bisa sama sekali, hanya saja ia butuh dorongan yang lebih besar untuk mengekspresikan perasaannya lewat raut wajah, dan itu sangat sulit. Entahlah apa yang bermasalah dari dirinya. Sepertinya itu memang diturunkan dari sang ayah. Satu-satunya alasan ia memilih fakultas ini adalah karena kecintaannya pada musik.

Sebelumnya ia mengira ia akan mampu menguasai seni peran semudah menguasai chord-chord gitar atau piano. Ternyata perkiraannya salah.

Term lalu berhasil ia lalui karena di showcase kemarin Chanyeol memberinya peran yang ‘sesuai’ sehingga kecacatan kemampuannya tidak terlihat; kebaikan lain yang dilakukan laki-laki itu.

“Halo? Yuuuhuu?”

Yuhyeon menghentikan lamunannya dan menegakkan kepala kembali untuk melihat ke arah Chanyeol.

“Kau melamun, ya? Aku bicara tidak didengar.” Chanyeol menggembungkan pipi.

“Oh, maaf.”

Segera saja pemuda itu kembali ke mode semula. Ia memeriksa jam tangan lalu tersenyum sangat lebar dan mengangkat alis ke arah Yuhyeon, “Bagaimana kalau kita makan dulu?”

>>><<<

… Min Pojangmacha, Seoul, near Myeongji, the next week..

Seperti minggu sebelumnya, Yuhyeon berlatih lagi bersama Chanyeol dan berhenti sampai tiba waktu makan malam. Kali ini keduanya mampir di sebuah pojangmacha yang tidak begitu jauh dari wilayah kapus dan makanan yang dijual cukup terkenal kelezatannya di kalangan mahasiswa Myeongji.

Ahjussi, dua tteokbokki. Yang satu harus pedas sekali.” Chanyeol menyebutkan pesanan mereka pada si penjaga pojangmacha sambil tersenyum lebar. Ia menarik kursi plastik di sebuah meja dan duduk.

Yuhyeon melakukan hal yang sama di hadapannya sambil mengangkat tangan, bersiap menambahkan pesanan Chanyeol namun laki-laki itu menyela, “Yang pedas itu untukmu. Jia bilang kau suka makanan pedas.”–tentu saja disertai cengiran khas yang akhir-akhir ini sering menjadi pemandangan Yuhyeon.

Karena itu Yuhyeon kembali menurunkan tangannya dan menatap Chanyeol, “Ah, geurae? Meong Jia?” tanyanya untuk memastikan.

“Hm.” angguk pria itu semangat, tidak berniat menceritakan usahanya kemarin untuk mengetahui apa-apa tentang Yuhyeon melalui Jia.

“Selain itu, ada lagi yang aku tahu tentangmu.” ucap Chanyeol tepat saat makanan pesanan mereka diantarkan ke meja, “Pokoknya tahu saja.” katanya lagi sambil tertawa kecil ketika mendapat tatapan tanda tanya dari perempuan di hadapannya.

Yuhyeon tidak berkomentar, namun ia tampak mengembuskan napas panjang lewat mulut sementara tangannya meraih tteokbokki jatahnya sendiri. Warnanya yang sangat merah karena banyak bumbu cabai, membuat Chanyeol mengernyit dan refleks memegangi rahangnya yang sakit ketika membayangkan dirinya yang memakan makanan itu.

*

“Jadi kau akan bicara banyak kalau sedang memarahi orang? Suaramu mahal sekali, ya. Ckck..” celetuk Chanyeol tiba-tiba, saat tteokbokkinya sudah habis duluan. Ia memandangi Yuhyeon yang masih serius dengan makanan di hadapannya.

Karena terlalu serius dan tak tahu apa yang harus ia katakan, Yuhyeon akhirnya hanya menanggapi selorohan Chanyeol dengan anggukan kecil.

“Aku harus membuatmu marah kalau begitu?”

Mwoya.” Yuhyeon terkekeh, Chanyeol nyengir lebar sambil bersiap meneguk minum namun tiba-tiba tangannya terhenti di udara dan ia terpana sejenak.

Yuhyeon baru saja terkekeh, demi beef steak yang membahana! (?)

“Yuhyeon-ah.” kedua mata Chanyeol melebar tanpa disadarinya. Bisa dirasakannya sesuatu menghantam dadanya dari dalam ketika mengingat ekspresi Yuhyeon. Suara tawa Yuhyeon yang hanya sebentar itu benar-benar seolah berantai menggetarkan gendang telinganya.

“Hm?”

“Kau… baru saja…”

“…” Wajah Yuhyeon kembali datar dengan cepat dan ia mengerjap pelan menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Ia lalu kembali melanjutkan makannya, membuat Chanyeol juga mengerjap berkali-kali entah dengan alasan apa.

Barusan, apa yang membuat Yuhyeon tertawa? Kau harus mengingat-ingat itu, Park Chanyeol!

>>><<<

…Myeongji University, 4.oo pm…

Waktu berjalan cukup cepat, empat bulan berlalu, dan selama dua bulan terakhir mereka tidak lagi sering berlatih bersama karena cukup sibuk dengan tugas-tugas dan urusan lain, namun tetap sering sekali saling bertemu di tengah-tengah jam kuliah. Kini Chanyeol mulai menyadari perasaannya, dan karena itu ia semakin ingin menyelami lebih dalam dunia Yuhyeon.

Ia bahkan rela bertingkah konyol setiap saat hanya untuk melihat senyum Jung Yuhyeon. Walau itu masih jarang sekali berhasil, tapi sekali dua kali ia bisa melihat senyum itu dan itu saja sudah cukup membuatnya puas.

Sungguh. Harus dengan kata apa ia menjelaskan senyuman Yuhyeon? Cantik, sudah tentu. Manis, big yes. Mempesona? Mungkin, karena pada kenyataannya Chanyeol selalu terpana setiap kali bibir itu membentuk lengkungan manis. Ya, agak berlebihan tapi itu yang Chanyeol rasakan. Ia sangat menyukai senyum Yuhyeon dan sangat berharap bisa melihat Yuhyeon sering melakukan itu, karena semakin sering Chanyeol melihat senyum itu, ia selalu berpikir kalau dirinya sudah jauh lebih dekat dengan Yuhyeon.

*

Meong Jia membenarkan posisi tali tas slempang di bahu kirinya sembari berjalan keluar dari ruang latihan. Sebelah tangannya memegang iPhone kesayangannya, dan selama beberapa saat ia berjalan menyusuri koridor sambil membalas pesan.

“Jia!”

Gadis berambut lurus sebahu dan berwarna kelam itu menghentikan langkah dengan terkejut dan memandang Chanyeol yang sudah menghadangnya di depan entah sejak kapan, karena hidung Jia hampir saja menabrak bahu lelaki itu.

Eomma.” keluh Jia sambil mundur selangkah dan memejamkan mata berusaha tak langsung kesal, “Sedang apa kau?” tanyanya hampir seperti pernyataan.

Nyengir lebar seperti biasa, Chanyeol berdiri di samping Jia dan merangkul bahunya begitu saja sambil berjalan bersama perempuan itu, “Kenapa? Sedang PMS ya?”

“Sembarangan.” desis Jia galak, tapi tak berusaha menghindar ketika lengan Chanyeol di bahunya.

Chanyeol terbahak lalu berhenti beberapa detik kemudian, menyisakan kekehan pelan yang langsung disambung pertanyaan, “Sendirian saja hari ini?”

“Hm.” angguk Jia. Mengerti maksud Chanyeol—karena ia sering menghadapi laki-laki ini—Jia mengambil napas dalam dan mengabaikan sejenak dering ponselnya yang menandakan ada lagi pesan masuk, “Yuhyeon di perpustakaan.” katanya tanpa ditanya.

“Kau memang mengerti aku, hahahaha.”

“…”

“Sebagai gantinya, aku akan mengantarmu sampai gerbang. Call?

“Ck, tidak usah.” delik Jia, seolah mengatakan ‘aku bukan anak kecil yang bisa tersesat di tempat ini, dasar Belo Jangkung’—dengan wajah datarnya. Dan entah bagaimana caranya ‘pesan’ itu sampai ke benak Chanyeol hingga pria itu meringis canggung.

“Err.. ya sudah, sana! Aku ke perpustakaan sekarang.” ujar pria itu pada akhirnya. Lengannya meninggalkan bahu Jia, menepuk sekilas puncak kepala gadis itu dan melambai sekali sambil tersenyum lebar menampakkan gusi, “Sampai nanti, Ji.” pamitnya sebelum berlari kecil mendahului Jia dan berbelok di ujung koridor di antara mahasiswa-mahasiswa lain.

“Hn.” Jia memertahankan raut wajah datarnya dan mulai membalas SMS yang tadi masuk ke ponselnya karena sekarang tak ada lagi yang akan mengganggunya.

>>><<<

…Myeongji’s Library, 4.10 pm…

“Hap!”

“Ah!” ringisan pelan meninggalkan mulut Yuhyeon saat dahinya harus terbentur rak buku di hadapannya karena kepalanya terdorong dari belakang. Tangannya yang menjulur ke atas untuk meraih sebuah buku di bagian rak yang paling tinggi, berpindah ke dahinya sementara ia menoleh, “Park Chanyeol-ssi.” desisnya setengah protes, namun masih dengan nada datar.

“Oh, maaf!” seru Chanyeol refleks—otomatis melupakan tempatnya berada sekarang—ketika menyadari apa yang sudah diperbuatnya. Ia ingat barusan bahunya tak sengaja membentur bagian belakang kepala Yuhyeon.

“Kau tidak apa-apa? Aku hanya mau membantumu mengambil buku ini, sungguh.” sambil mensejajarkan wajahnya dengan Yuhyeon, Chanyeol berkata dengan nada menyesal. Tangannya bergerak hendak menyentuh dahi Yuhyeon namun urung karena suatu alasan.

“Hm, gwaenchana.” gadis itu mengangguk kecil tanpa menatap Chanyeol dan bergeser ke samping ketika menyadari jarak mereka terlalu dekat. Gerakan kecilnya membuat Chanyeol mengerjap cepat dan bergegas mundur dua langkah.

Pria itu menggaruk bagian belakang kepalanya dengan tangan yang memegang buku, “Err.. mian.”—kemudian menyerahkan buku itu pada Yuhyeon

“Hm.” Dengan kepala yang tertunduk Yuhyeon mengambil alih buku itu ke tangannya dan berjalan ke salah satu meja yang sepertinya sudah sejak tadi ia tempati.

Untuk beberapa saat Chanyeol hanya berdiri di tempatnya, pura-pura membuka-buka sebuah buku sambil diam-diam meringis kecil. Setelah merasa kembali menjadi ‘happyvirus’, ia mengembalikan buku itu ke tempatnya semula kemudian berjalan menghampiri Yuhyeon, menggeser kursi di hadapan gadis itu hingga menimbulkan suara yang cukup membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung perpustakaan yang lain.

Tanpa menampakkan rasa bersalah di wajahnya, Chanyeol duduk di kursi tersebut, membalas tatapan mereka sambil tersenyum lebar dan malah berseru, “Jweseonghamnida! Silahkan lanjutkan kegiatan kalian!”

“Astaga.”

Kekehan pelan yang singkat tertangkap telinga Chanyeol, namun ketika pria itu menoleh ke hadapannya (tentu saja dengan segera), ia hanya bisa melihat sisa senyum yang hampir hilang di wajah cantik itu.

“Aku heran sendiri, kenapa di perpustakaan harus selalu sepi? Ckck.”

Yuhyeon hanya menggeleng-geleng kecil tanpa berniat menanggapi. Ia kembali fokus pada bukunya dan berusaha tidak memedulikan Chanyeol.

“Kau akan di sini sampai kapan?”

Yuhyeon mengamati jam tangannya sebentar, “Mungkin.. empat puluh lima menit lagi.”

“Hm..”

Saat Chanyeol hendak bertanya hal lain, tiba-tiba Yuhyeon bergerak merogoh saku celananya dan menarik keluar ponselnya, membuat Chanyeol tersenyum maklum dan menyilahkannya mengangkat telpon ketika gadis itu meminta izin.

Yeoboseyo?ne… aku masih di kampus…”

Chanyeol menunggu sambil bersiul tak tahu malu dan mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari tangannya. Ia melihat Yuhyeon meliriknya sejenak dari sudut mata, lalu kembali bicara di telpon, “Bukan siapa-siapa.”

Ucapan bernada datar itu dengan otomatis membuat Chanyeol menghentikan gerakan-gerakan tangannya yang mengetuk meja.

Apanya yang bukan siapa-siapa?

Beberapa saat kemudian Yuhyeon mengembalikan gadgetnya itu ke tempat semula. Ia menatap Chanyeol sejenak lalu membaca kembali tanpa mengatakan apapun.

“Siapa?” tanya Chanyeol dengan nada penasaran namun tak sesemangat nada bicaranya sebelumnya. Yuhyeon menjawab hanya dengan gelengan.

Bahkan siapa yang menelpon pun—yang kuyakin itu orang terdekatnya—Yuhyeon tak mau memberitahukan. Geurae, aku tahu kau sangat tertutup, Jung Yuhyeon.

Beberapa detik berlalu dalam hening, hingga Yuhyeon bertanya tanpa bisa menyembunyikan rasa heran, “Ngomong-ngomong, sedang apa kau di sini, Park Chanyeol-ssi?”

“Hm?” Chanyeol mengerjap dan mengembalikan binar matanya, namun tidak seratus persen di mode happyvirus lagi, “Hanya..” ia tak melanjutkan, dan Yuhyeon tak berniat mendesak.

Pria itu tampak berpikir selama beberapa saat sambil memandangi Yuhyeon yang sedang serius lagi membaca. Sesekali ia menjulurkan lidah untuk membasahi pinggiran bibirnya.

“Yuhyeon-ah.” panggil Chanyeol ragu-ragu setelah merasa berhasil menemukan satu kesimpulan yang sukses membuat suasana hatinya cukup buruk. Bahkan senyuman sudah benar-benar hilang dari wajahnya.

“Ya?”

“Berapa lama kita berteman? Kenapa kau masih memanggilku ‘Park Chanyeol-ssi’?” Chanyeol bertanya penuh selidik, nada yang baru pertama kali Yuhyeon dengar dari lelaki itu. Hal itulah yang membuat Yuhyeon mendongak dan mengerutkan kening dengan heran seolah bertanya ‘maksudmu apa?’.

“Dan.. apa?” Chanyeol menumpukan kedua sikunya lebih ke tengah meja lalu mencondongkan tubuh ke depan, “’Bukan siapa-siapa’ katamu? Aku?”

“Eh?” akhirnya Yuhyeon menyadari maksud dan arah pembicaraan Chanyeol, “N-ne, maksudku..”

“Tidak bisakah kau katakan saja kalau aku temanmu?” Chanyeol menyela lawan bicaranya yang berusaha menjelaskan. Ia hampir tak memedulikan sekitar maupun reaksi perempuan di hadapannya saat ini. Suatu hal mendesak untuk dikeluarkan dari pikirannya. Suatu hal yang sebenarnya sudah bercokol di sana sejak lama.

“…”

“Ternyata aku memang seasing itu di matamu, padahal sejak awal aku sudah berusaha menjadi temanmu.”

Tubuh Yuhyeon tampak menegang, namun raut wajahnya tak berubah. Suara Chanyeol tak mengandung nada mengintimidasi sama sekali, tapi entah kenapa kata perkata itu membuat Yuhyeon tak nyaman.

“Aku sudah lama ingin menanyakan ini, tapi sepertinya sekarang tidak perlu lagi.”

“Aku.. hanya..”

“Jadi ini, ya, alasanmu sangat tertutup padaku?” lagi-lagi Chanyeol menyela. Ia benar-benar sudah berusaha dekat dengan Yuhyeon, ia bahkan sudah sempat merasakan kedekatan itu namun sepertinya itu hanya halusinasinya saja, “Karena kau bahkan tak menganggap aku sebagai temanmu?”

“Park, maksudku..”

Suara gesekan kaki kursi dengan lantai kembali terdengar karena Chanyeol beranjak dari posisinya. Ia menarik napas dalam dan kembali bicara ketika yakin Yuhyeon tak bisa melanjutkan kalimatnya, “Aku duluan.”

Jung Yuhyeon hanya membiarkan lelaki itu mulai melangkah menjauhi tempatnya. Yeoja berambut sepunggung itu menghitung, di langkah kelima Chanyeol berhenti dan berbalik lagi, “Pulanglah sebelum gelap.” katanya sebelum benar-benar pergi dari perpustakaan itu.

Tubuh Yuhyeon masih terasa kaku selama beberapa saat. Bahkan matanya terpaku di satu titik dan tak bergerak sama sekali hingga seseorang menepuk bahunya dan memanggilnya, “Yuhyeon-ah?”

Tanpa merasa perlu mengatakan apapun, Yuhyeon mendongak perlahan dan mendapati Baekhyun berdiri di samping mejanya, “Chanyeol baru saja dari sini? Apa yang terjadi padanya? Wajah seriusnya menyeramkan sekali.”

Hari itu Yuhyeon berniat pulang dan keluar dari gedung kampus lima belas menit setelah bertemu dengan Baekhyun, dengan pikiran yang dipenuhi tanda tanya serta keraguan yang entah kenapa tak bisa diungkapkannya keluar.

Ini kali pertama seseorang marah padanya hanya karena ia tak benar-benar menganggap orang itu sebagai temannya.

>>><<<

…CoffeeLab, 2 weeks later, 3.15 pm…

Hujan turun tanpa peringatan ketika Chanyeol dan beberapa temannya berjalan-jalan di sekitar Hongdae untuk sekadar melepas penat. Jongin mengajak mereka mengunjungi coffee shop baru milik keluarganya di sana, dan mereka terguyur hujan sesaat sebelum tiba di tempat tujuan.

“Aish, seharusnya aku melihat laporan cuaca sebelum keluar.” keluh Baekhyun setelah mereka memasuki coffee shop yang dimaksud, membuat yang lain terkekeh dan Chanyeol menggeplak pelan kepalanya dengan telapak tangan.

Mereka mengusak rambut dan pakaian masing-masing yang dipenuhi titik-titik air hujan sambil memilih tempat duduk di dekat jendela dan menikmati suasana tempat tersebut.

“Satu coffee latte dan dua cappuccino.” Joonmyeon memesan pada Jongin yang langsung melesat memesankan minuman-minuman tersebut pada barista di bagian belakang.

“Interiornya bagus.” komentar Chanyeol sambil memerhatikan setiap sudut coffee shop itu. Cukup cozy, hangat dan nyaman. Disediakan meja-meja dan sofa yang rendah dan nyaman, hingga para pengunjung benar-benar dapat merasakan kesantaian yang mereka inginkan, ditemani musik jazz lembut yang mengalun memenuhi seluruh ruangan.

“Karena ini kunjungan kalian yang pertama, dan karena kalian temanku, kuberikan gratis.” Jongin berkoar sambil berjalan mendekat membawa nampan berisi pesanan-pesanan mereka. Mendengar kata gratis, Baekhyun dan Chanyeol heboh duluan, tentu saja. Mereka langsung berdiri dan menyambut Jongin, masing-masing mengambil satu gelas cappuccino dan mencicipinya saat itu juga.

“Tapi kalian harus membantu mempromosikan coffee shop ini sampai pelanggannya membludak dan ayahku merekrut kalian bekerja di sini.”

Yaaa!

WAE?!

“Itu ide bagus!” Baekhyun meninju lengan Jongin yang baru saja membentaknya, “Aku kan belum selesai bicara, sensitif sekali.” lanjutnya, disambut kekehan Joonmyeon dan tawa renyah Chanyeol yang sudah kembali bersantai di tempat duduknya.

“Serahkan itu pada kami, Pak Hitam!” hormat Chanyeol setengah meledek. Tak terima dikatai hitam, dengan sengaja Jongin menginjak kaki pria jangkung itu hingga Chanyeol memukul-mukul meja karenanya, “Ayayayay! Ara, ara, Kim Jongin. Ara!

Jongin mengangkat salah satu sudut bibirnya dan melepas kaki Chanyeol, “Makanya jangan main-main denganku.” katanya sambil mengambil posisi di dekat si ganteng-kalem(?) Joonmyeon yang sedang menikmati latte-nya. Chanyeol hanya mendengus pelan dan berpura-pura mengadu pada Baekhyun.

Ya, ya. Menjijikan.” sungut Baekhyun tanpa ekspresi apapun di wajahnya, membuat kepalanya lagi-lagi menjadi sasaran geplakan Chanyeol.

Satu topik dimulai. Tidak terlalu penting karena memang itulah yang sedang mereka butuhkan. Chanyeol menyesap cappuccinonya perlahan dan merasakan hangat minuman itu mengalir di tenggorokannya. Sekilas, ia mengalihkan pandangan keluar. Hujan turun semakin deras dan ia melihat beberapa orang berlari kecil memasuki cafe lain di seberang. Aneh sekali, padahal sebelumnya cuaca cukup bagus.

Begitu hendak mengembalikan pandangan pada teman-temannya, kedua mata Chanyeol menangkap sosok yang sedang duduk menghadap jendela di cafe bernama “Luna Smoothie” itu. Tak perlu diperhatikan lebih detail untuk mengetahui itu Jung Yuhyeon.

Selama dua minggu ini, Chanyeol dan Yuhyeon tak pernah saling menghubungi lagi. Jujur saja, Chanyeol masih kecewa. Ia menunggu Yuhyeon menghubunginya duluan untuk membuktikan kalau gadis itu peduli padanya dan ingin berteman dengan Chanyeol, atau setidaknya berniat mengembalikan interaksi mereka seperti sebelumnya. Tapi tidak. Misscall dari nomor Yuhyeon pun tidak pernah Chanyeol temukan di ponselnya. Itu membuatnya semakin kecewa.

Ternyata usahanya ‘menyelam lebih dalam’ itu sia-sia saja. Mungkin sama sekali tidak berhasil dan ia justru hanya berlari di tempat. Ck, lagipula kenapa ada perempuan semacam Yuhyeon di dunia ini?

Yuhyeon tampak sedang melamun dengan tangan yang bergerak memainkan minuman di hadapannya. Ia duduk sendirian saja. Dan seperti biasanya, ketika ia tampak sedang santai, sebuah buku selalu turut menemani, terbuka di samping gelas minumannya di atas meja.

Tinjuan yang cukup keras di lengannya membuat Chanyeol mengerjap dan langsung menoleh ke arah Baekhyun, “Wae?

“Apa aku tak salah lihat? Kau melamun dengan tampang cemberut? Seperti ini?” Jongin menggembungkan pipi dan memajukan bibirnya sedikit seolah menunjukkan apa yang baru saja dilakukan Chanyeol. Yang lain tergelak beberapa saat, termasuk Chanyeol sendiri. Bukan menertawakan Chanyeol, tapi menertawakan Jongin yang menirukannya.

“Kau memerhatikan Yuhyeon di sana?” Joonmyeon menunjuk keluar jendela, tepat ke arah Yuhyeon, setelah mereka berhenti tertawa. Yang lain mengikuti arah tunjukannya dan ber‘huuu’ cukup keras. Chanyeol jadi gelagapan sendiri.

Geurae, kau pasti melihatnya.” Baekhyun menimpali dengan nada sedih yang dibuat-buat,  “Ckck, aku kecewa padamu. Kkeuman haja (kita berhenti saja).

Chanyeol terbahak dan menanggapi candaan Baekhyun, “Baeeek~ aku tak bisa hidup tanpamu. Ireojimaaa.. (jangan seperti ini)”

Ya, yaa! Kalian bisa membuat pelanggan kami kabur! Aish, berhenti, apa yang kau lakukan, Byun Baekhyun! Jangan berbuat tidak seronok(?) di tempat ini! Yaaa!” Jongin hampir saja stress.

“Astaga.” Joonmyeon memegangi perutnya yang serasa dikocok hingga drama komedi di hadapannya berhenti dan mereka kelelahan sendiri.

Ketika topik pembicaraan mereka berganti menjadi gosip hangat tentang artis ataupun model yang bunuh diri tidak lama ini, Chanyeol kembali mengarahkan tatapannya ke Luna Smoothie. Yuhyeon masih di sana, dan Chanyeol refleks mengerjap cepat karena tatapan mereka langsung bersirobok. Lelaki itu tak berniat mengalihkan lagi pandangannya hingga Yuhyeon dengan tampak ragu-ragu mengangkat sebelah tangannya. Dan tersenyum.

Benar-benar tersenyum ke arahnya, what is life!

Kedua telinga Chanyeol memerah dan matanya sedikit melebar. Tidak lama setelah itu ia segera memalingkan wajahnya yang juga merah padam.

Lagi-lagi Chanyeol merasa lebih dekat. Dentuman-dentuman keras dan cepat di bagian dalam tubuhnya membuatnya ingat bahwa ada perasaan lain selain rasa ingin dekat dan berteman dengan Jung Yuhyeon. Dan senyuman itulah awal dari semuanya.

Aish..

“Chanyeol-ah!”

Yaa!

Tanpa memedulikan panggilan teman-temannya, Chanyeol berjalan cepat keluar dari CoffeeLab dan menembus hujan, menyebrangi jalan untuk sampai di Luna Smoothie. Jongin, Baekhyun dan Joonmyeon hanya bisa melongo karena tahu-tahu saja Chanyeol sudah berdiri di hadapan Yuhyeon yang tampak sama terkejutnya.

“Chanyeoool~” mereka meradang menggemparkan bumi(?).

>>><<<

…Luna Smoothie..

Yuhyeon mendongak dan mengerjap berkali-kali melihat Chanyeol berjalan cepat mendekatinya. Hingga laki-laki itu sampai di depan mejanya, Yuhyeon masih tidak bereaksi apa-apa selain hanya menatapnya dengan mata melebar terkejut.

“Park.”

Ketika suara itu sampai di telinganya, Chanyeol mengerjap seolah baru tersadar dari lamunan. Ia menggaruk tengkuk dan diam-diam merutuki tindakan nekatnya sendiri yang cukup memalukan. Tapi akan sungguh lebih memalukan lagi kalau sekarang ia justru kembali lagi ke CoffeeLab tanpa melakukan hal yang jelas di sini. Karena itu Chanyeol menarik kursi di hadapan Yuhyeon meski itu berarti ia harus menahan malu di hadapan gadis itu.

.

.

.

Hening.

“Err.. haruskah aku memesan sesuatu di sini?” gumam Chanyeol agak keras namun dengan nada lebih pada dirinya sendiri, sekedar untuk memecah sunyi.

Yuhyeon mengembalikan sikap tenangnya dan selama beberapa saat seperti mempersiapkan diri. Hujan sudah mulai reda, dan beberapa pengunjung Luna Smoothie sedang kembali bersiap-siap untuk melanjutkan aktivitas mereka di luar. Yuhyeon menarik napas pelan dan mengeluarkannya melalui mulut disertai ucapan pelan bernada datar namun tulus, “Hm, soal hari itu.. aku minta maaf.”

“…”

“Aku memang tidak terbiasa.. terbuka pada orang lain.”

“Bukan soal terbuka atau tidak.” Chanyeol buka mulut setelah menghembuskan napasnya dengan agak keras, “Aku bisa maklum kalau kau tak mau menceritakan apapun tentangmu, padaku. Aku tidak akan mempermasalahkan itu. Yang membuatku tak nyaman dan kecewa, hanya.. bagaimana kau membuatku benar-benar asing di matamu, padahal selama ini aku berusaha jadi teman dekatmu. Itu saja.”

Yuhyeon menunduk, “Aku mengerti.” Ya, Yuhyeon sadar ia cukup keterlaluan. Di saat Chanyeol sudah banyak berbuat baik padanya, ia justru tak benar-benar menganggap penting Chanyeol, sama seperti ia tak menganggap penting apa yang disebut teman.

Namja itu berdeham pelan, “Sebenarnya aku tidak marah padamu selama ini. Maaf kalau aku membuatmu bingung.”

Yuhyeon memang merasa bingung selama dua minggu ini. Ia bukan tipe orang yang mudah menyempatkan diri menghampiri seseorang untuk mengatakan maaf, ia justru cenderung keras kepala. Jadi Yuhyeon tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk meminta maaf, padahal di saat yang sama ia juga tak ingin membiarkan hal ini terus berlanjut.

Jika saja Chanyeol tidak menyeberang kemari, mungkin mereka masih belum saling mengobrol hingga saat ini atau bahkan beberapa hari ke depan.

“Aku mengerti.” gadis itu mengangguk, “Hm, terima kasih.”

Guratan-guratan rasa lega sekaligus senang sudah tampak di wajah Chanyeol, walau sedikit tertutupi rasa heran karena ucapan terima kasih Yuhyeon, “Err.. terima kasih?”

“Karena ini, sekarang aku mengerti pentingnya seorang teman.”

“Oh,” Chanyeol tak yakin ia masih bisa tersenyum lebih lebar dari saat ini, “terima kasih kembali.” katanya sambil terkekeh. Walaupun Yuhyeon tak menjelaskan secara detail—dan Chanyeol yakin gadis itu tak akan melakukannya—Chanyeol mengerti Jung Yuhyeon adalah seseorang yang memang sangat introvert, atau.. semacam itu.

Yuhyeon tersenyum singkat dan mencoba mengalihkan perhatiannya dengan meminum smoothienya. Tiba-tiba saja Chanyeol tertawa kecil dan mengusak pelan rambut Yuhyeon, “Buihnya menempel di bibirmu.”

“Oh?” Yuhyeon menjulurkan lidah dan menjilati bibirnya di bagian yang salah. Tanpa mengatakan apapun, Chanyeol mengusapkan ibu jarinya di atas bibir Yuhyeon untuk membersihkan buih itu.

“Yu.”

“…”

“Seringlah tersenyum.” Chanyeol tersenyum lebar dan menunjuk dirinya sendiri, “Sepertiku.”

Yuhyeon terkekeh samar.

END

 

a/n : FF pertama yg castnya member EXO ._. Terinspirasi dari keaddict-an(?) aku sama lagu Smile’nya B1A4 dan sebagian scene dari plot roleplay V(.__.)V *peace* ehehe..

Btw, biarpun telat, minal aidzin walfaidzin ya, seluruh warga FFi ^^ mohon maaf lahir & batin. Sekalian maafin kesalahan-kesalahan dan kekurangan di FF ini, ya! mehehehe xD *lempar gope’*

50 responses to “Smile

  1. Pingback: That Poor Barista | FFindo·

  2. Pingback: The Girl Belongs to The Man | FFindo·

  3. Aq mampir thor bca stlh The girl belongs to the man aq jdi pernasaran ma awal critanya gimana ternyata alurnya gula banget (?) alias so sweett. Apalagi castnya my happy virus jadi semangat bacanya.. lanjut yah ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s