2nd Declare (Sequel DOMW)

cover-108

Lenght: Oneshot

Cast: Nam Woohyun, You and, Kim Sunggyu.

Genre: sweet-romance

cover: say thanks to  hanhyema design art

Warning: Just a fiction, dont take it so serious^^ and, forgive me for miss editing/typo.

it’s my own fiction: AngelBesideMey (Mey)

2nd Declare Sequel Declaration of My W

I don’t need your answer.

Suara lantai kayu yang beradu dengan sepatu terdengar jelas mengiringi langkah kakimu yang kini bergerak cepat menyusuri lorong sekolah. Sebenarnya, jika saat ini kau sedang berada dalam batasan normal mungkin kau akan menyukai suara itu dan membuatnya  berirama lebih ceria dengan menghentakkan kaki. Tapi sayangnya—saat ini kau tengah diradang perasaan was-was. Kau rasa, tubuhmu tak dapat merasakan rileks barang sedetik dan tangan mungilmu terus saja mengeluarkan keringat.

Bahasa medisnya—ini menurutmu sendiri—gelisah.

Tentu saja, ini berawal ketika minggu lalu seorang lelaki bernama Nam Woohyun mendeklarasikan sesuatu padamu. Lelaki yang tidak pernah bertindak serius dan selalu bercanda atau sekedar hobi merayu wanita itu, mengatakan cintanya.

Sesuatu yang sangat pelik, karena kalian adalah sepasang sahabat.

Sahabat dari kecil yang telah hidup bertetangga dengan damai.

Itulah definisi yang tepat.

Dan bagimu, persahabatan kalian merupakan sesuatu yang sangat-sangat—sangat kau simpan sebagai harta karun sejak menapak masa remaja. Maksudnya, kau selalu menjaga hatimu agar tidak pernah menyukai Woohyun untuk menjaga persahabatan ini terus berlanjut hingga kalian tua, tidak merusak lingkaran yang ada, itu obsesimu. Dan sekarang, dalam hitungan detik lelaki itu merubah semuanya.

Segala jerih payahmu hancur—tapi, kau tetap tidak sanggup marah padanya.

Kenapa?

Kau sendiri ragu mengapa.

Yang jelas. Hal itu mengganggumu sejak seminggu terakhir ini, fikiranmu tidak fokus dan kau sering melamun sendiri. Untung saja pementasan dramamu tidak berakhir kacau balau seperti yang kau takutkan kala kau sadar.

Beruntung kau jenius.

Pikirmu.

Ngomong-ngomong, lebih baik kita mengakiri perbincangan tentang the precious of Nam Woohyun’s declaration and your feeling—ada hal yang lebih penting dari itu.

Benarkan?

Tanpa kau sadari, kau sudah berdiri didepan pintu aula. Tempat pementasan drama yang berakhir tiga puluh menit lalu. Yang artinya tempat perjanjian—sepihak—yang-Woohyun katakan padamu.

“Kutunggu jawabanmu setelah pementasan berakhir dari baris pertama.”

Lagi-lagi kepalamu seakan berputar hebat mengenang kembali kala itu. Kala pipi kalian sama-sama memanas dan deru nafas kalian beradu, sangat dekat dan Woohyun mengatakan saranghae padamu, kemudian diakhiri dengan perkataan.

Dia akan menunggumu disana, dibalik pintu itu.

Kau ingat lagi, tadi Woohyun memang berada disana. Berada dibaris paling depan bagian tengah, menjadi sosok yang bersorak paling kencang untukmu. Sosok yang berdiri dan bertepuk tangan paling riuh dalam pementasan pertamamu.

Mengingat itu tiba-tiba saja darahmu kembali berdesir. Disana seakan ada bahagia tak terhingga yang menyeruak hebat. Ditambah lagi, kau tidak bisa menemukan satupun teori yang mengatakan, kenapa hal itu bisa berhubungan dengan daya kerja jantung dan pipimu.

Asumsimu, mungkin saat ini kau sedang demam hingga rongga pipimu dipenuhi hangat tak biasa, hey, demam juga bisa merembet pada denyut jantung tak normal jugakan?

Asumsi bodoh–

Hanya saja kau belum menyadarinya.

Dan kau yang tidak ingin repot-repot mendalami lebih jauhpun, kemudian mendorong sang pintu dengan kedua tangan, membuat dua bagian itu terbuka lebar diringi bunyi derit yang menyeruak dari sana.

Kau menghela nafasmu dalam-dalam sebelum melangkah. Mencari dimana gerangan Woohyun sekarang. Sebagian besar pandanganmu tertutupi oleh pilar besar dalam ruangan itu hingga membuatmu sulit melihat tempat Woohyun berdiri tadi.

Sebagian kecil hatimu mulai gugup. Apa yang harus kau katakan padanya nanti? Akankah kau menolak dengan tegas seperti yang kau rencanakan?

Tapi—apa kau tega?

Kau mulai memikirkan hal yang mengganggumu selama satu minggu terakhir. Dan tiba-tiba saja menghentikan langkahmu.

Tidak—tidak mungkin kau bisa menemuinya saat ini.

Begitu pikirmu, seiring dengan hentakan kakimu yang mulai mundur. Kau takut—teramat sangat takut… tapi…

Kini kau berhenti lagi. Dan, dengan ragu-ragu mulai mengangkat kakimu kedepan. Jika kau kabur, sama artinya dengan menginjak rasa dan harga diri Woohyun. Dan hal itulah yang akan merusak persahabatan indah kalian, bukan rasa cintanya. Kau tahu, rasa cinta itu ada juga bukan kehendak Woohyun sendiri. Memang ini takdir kalian berdua. Dan hati kecilmu tahu betul itu cinta tak bisa di cegah, maka—kau memutuskan untuk maju. Membuat debar jantungmu semakin tak menentu, seiring bunyi langkah kaki pada ubin ruangan yang sunyi ini.

Dan, tap….

Kau berhenti.

Kali ini dengan pandangan matamu sudah dengan jelas dapat melihat tempat Woohyun berdiri tadi sewaktu pementasan berlangsung—baris pertama—hanya saja….

Kau mengerutkan dahimu. Menatap hamparan kursi kosong yang sudah tak berpenghuni… Nam Woohyun tidak berada disana. Tempat yang dia janjikan sendiri…

*

“Hey Kim Sunggyu.”

Kau memanggil nama seorang pria bermata sipit dihadapanmu dengan datar dan pelan. Terlihat pria itu mendongak, menanggalkan bacaannya, tergeletak pada meja perpustakaan, sedang kau sendiri, kedua tanganmu menyokong dagu. Membalas tatapannya.

Dia temanmu, dan kali ini kalian sedang belajar bersama di perpustakaan umum dalam rangka menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.

“Hm…”

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Eung? Apa? Pelajaran?”

Tanyanya. Kau menggeleng, “Ani.”

“Lalu?”

“Cinta.”

“….ppfffft….”

Dengan jelas kau melihat Sunggyu, menahan tawanya menggelegar memenuhi perpustakaan. Tentu saja, kau yakin Sunggyu masih ingin hidup, makanya menahan tawanya sebisa mungkin. Yang tak bisa kau mengerti—apa ada yang salah dengan kata-katamu?

Apakah cinta hal yang lucu?

Kau mulai memberengut, tak mengatakan apapun pada Sunggyu yang kini masih meredam tawanya. Membenamkan sang wajah pada meja perpustakaan dan bahkan pria itu memegangi perutnya yang mungkin sampai kaku karena tertawabegitu lepas.

Selucu itukah?

Jangan tertawa!

Kau mengirimkan sinyal itu dengan menendang tulang kering Sunggyu dibawah meja.

Tak berapa lama, Sunggyu menghentikan tawanya. Matanya memicing, menatapmu yang baru saja menendang tulang keringnya, miliknya yang berharga.

Sunggyu mengelus kakinya, “Sakit bodoh!”

Ujarnya, penuh penekanan namun lirih. Membuatmu hanya menjulurkan lidah menanggapinya. Kau kesal, tentu saja. Siapa tak kesal ditertawakan begitu. Beruntung kau tak melemparkan semua buku-buku yang ada didekatmu tepat kearah Sunggyu.

“Jadi? Kita mulai!”

Sunggyu menegakkan tubuhnya. Kedua tangan miliknya kini dengan manis berada diatas meja siap mendengarmu. Kau mulai memutar bola matamu.

Bercerita?

Apa dia gila?

Tidak, terima kasih. Kau sudah cukup kehilangan moodmu untuk bercerita karena tawa tanpa rasa sopan santun tadi.

“Kau masih berpikir aku akan dengan santai bercerita setelah kau menertawakanku? Oh baiklah, silahkan bermimpi!”

Sinismu, menyandarkan bahu pada sandaran kursi, kemudian tanganmu terlipat diatas dada, layaknya seseorang yang sedang mengintimidasi para penjahat—setidaknya pada film-film yang telah kau tonton.

“Eung? Kau marah?”

“Menurutmu?”

“Akukan hanya….bercanda?”

“Apa yang bisa kau tertawakan dari hal tadi?”

Sunggyu mengerjab bingung. Mata sipitnya menatapmu dengan tatapan yang, err—bodoh. Dan saat itu kau dapat dengan jelas, sekilas melihat senyum yang tulus memancar dari mata dan bibir tipis itu.

Kini gantian kau yang mengerjab.

Apa yang sedang Sunggyu pikirkan?

Jujur saja kau bingung dengan gesture Sunggyu sejak pertanyaanmu tadi. Rasamu pria ini bertindak misterius. Tapi—kau sendiri tidak tahu dalam hal mana. Kenapa dengan cinta yang kau tanyakan?

Apa disana terdapat sesuatu yang salah?

Eung—kini asumsimu sampai pada nama Woohyun, jangan bilang Sunggyu menebak ini berhubungan dengan Woohyun. Bisa sajakan? Kalian bertiga sangat dekat sejak memasuki jenjang SMP, mungkin Sunggyu sudah menebak rasa Woohyun untukmu.

“Sebenarnya tidak, hanya saja…”

“Hanya saja?”

“Bukankah kau selama ini tidak memperdulikan masalah cinta? Kurasa otakmu selalu penuh dengan akting dan menari?”

“….”

“Lagipula…”

“Apa?”

“Um–lupakan. Hey, apa kau menyadari rasa cintamu? Pada seseorang misalnya?”

Tanya Sunggyu. Mulutmu terkatub, hingga didetik berikutnya kau menunduk. Menatap jemari tanganmu yang saling terkait. Saling bermain. Sejujurnya, jika itu dalam tahap menyadari. Tentu saja kau belum merasakannya. Rasanya hatimu kini masih gamang. Kau ragu, apakah ini cinta untuk Woohyun? Atau ini hanya rasa simpati yang bercampur dengan sayang? Kau sendiri tidak tahu. Maka dari itu kau menggeleng.

“Lalu itu tadi soal apa?”

“Ada yang mengatakan cinta, padaku.”

“Apa aku boleh tahu orangnya?”

Tanya Sunggyu lagi, kali ini dengan hati-hati. Kau rasa Sunggyu tahu benar sifatmu, kau tidak akan mau dipaksa melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan.

Sifat egois yang memang kau akui sendiri. Kau kemudian menggigit bibirmu, mendongak lalu menggeleng pelan. Dan Sunggyu menyadari lalu mengangguk.

“Jadi yang ingin kau ceritakan?”

“Apa menurutmu… aku boleh menerima cinta yang belum kusadari Gyu-ya?”

Sunggyu terdiam seiring dengan pertanyaanmu. Atmosfir disekitar kalian kini menegang. Rasanya ingin sekali kau mengutuk dirimu sendiri sekarang. Kenapa kau bisa setakut ini? Untuk sebuah pertanyaan yang sebelumnya menurutmu jika dilontarkan, kau akan baik-baik saja.

Mengapa?

Bahkan kini bibir dan pangkal kakimu mulai sedikit berdebar.

“Kau benar-benar akan menolaknya dan kabur?”

Katanya kemudian.

Kau menganga, meminta penjelasan pada Sunggyu. Kata-kata Sunggyu barusan, seperti berbasis ketika dia tahu kenyataan yang ada padamu.

Kenyataan kau berniat kabur tapi, tidak mampu alias bimbang.

Sunggyu mengangguk, “Katakanlah aku sudah menebak siapa dia.”

Kau kemudian mengerang ternyata benar, Sunggyu sudah mampu menebaknya. Kaupun menutup mukamu dengan kedua tangan. Merasa malu pada Sunggyu—rasanya sangat konyol jika kau, yang notabene selalu bersama Woohyun tidak menyadari hati pria itu selama ini. Terbersit beberapa adegan saat kau begitu membutuhkan Woohyun, kemudian pria itu hadir dalam hitungan detik. Merampas asamu dan membuangnya.

Kau bodoh. Tidak peka. Lamban.

Kau mencela dirimu sendiri dalam kepalamu.

Harusnya kau sadar jika yang Woohyun berikan padamu bukanlah berbasis ikatan persahabatan.

“Aku benar-benar tidak tahu bila Woohyun menyukaiku. Bodohnya aku!”

Erangmu, masih menenggelamkan kepala dalam kepalan tangan.

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau hanya terbuai dengan kenyamanan selama ini.”

Suara itu membuatmu mendongak. Sunggyu berbicara, tapi sedetik kemudian pria itu bangkit, merapikan segala barangnya yang berserakan.

“Mau kemana?”

“Kau bodoh atau memang tidak peka? Puluhan orang sudah memandang benci kearah kita! Sejak tadi!”

Ahh—dan kau baru menyadari tempat kalian duduk sekarang. Dengan segera kau rapikan barangmu dan menyusul Sunggyu yang tengah menuju tempat penitipan barang, mengambil jaket dan tasnya.

“Jadi jelaskan padaku, maksud kenyamanan tadi…”

Ujarmu begitu kalian berjalan diatas trotoar, entah setelah ini kalian akan kemana, kau hanya mengikuti jalan Sunggyu karena memang kau masih memiliki kepentingan dengannya.

“Kau sudah berumur, tapi awam sekali ya soal cinta.”

Decih Sunggyu.

Kau memberengut. Kalau memang kau bukan orang awam tentu kau sudah melewatinya sendiri, tak usah repot meminta bantuan Sunggyu. Memalukan!

“Maksudku, kalian sudah sangat dekat satu sama lain hingga bertahun-tahun. Banyak orang yang menjalani masa itu (seperti kalian) dan tidak merasakan apapun, tapi sebagian ada dan—sebagian lagi tidak bisa membedakan antara rasa cinta atau sayang yang sudah terbangun bagai dinding kokoh dalam ikatan ini. Kau—salah satu yang tidak bisa membedakan rasa itu karena terlalu berleha-leha pada hubungan tanpa namamu dengan Nam Woohyun.”

“Apa maksudmu hubungan tanpa nama? Ini persahabatan!”

Bagimu, sampai detik sekarang. Woohyun tetaplah sahabat, dan kau sama sekali tidak merasa Woohyun telah merusak ikatan itu—baiklah hanya sedikit. Tapi—jika ada yang mengatakan bahwa hubungan kalian merupakan sebuah hubungan tanpa nama kau kurang setuju dan merasa sakit. Entah bagian yang mananya hanya saja, bagimu hubungan dengan Nam Woohyun sangat berarti.

Itulah mengapa dengan cepat kau mengoreksi Sunggyu. Pria itu tak bereaksi berlebihan, hanya mengernyit dan melirih. Parahnya kau kemudian langsung terkatub, tak sanggup berbicara lagi.

“Bahkan setelah perasaan cinta hadir?”

Rasanya kau ingin berteriak. Apa salahnya persahabatan menimbulkan cinta? Atau mungkin, bukan aku, tapi Woohyun!

Tapi kemudian kau bimbang.

Apa iya tak masalah jika ikatan ini dinodai oleh cinta? Kau bahkan terus membenci Woohyun sejak kemarin dia tidak muncul dalam menepati janjinya dibaris pertama.

Atau—jika kau berkata bahwa itu salah Woohyun, mengapa kau tidak sanggup marah dan memblacklist dia dari daftar sahabatmu?

Lupakan! Kau tidak akan mampu!

“Tapi dia tidak menepati janjinya.”

“Janji apa?”

“Sewaktu dia mengutarakan padaku, dia berjanji akan menunggu di deretan baris pertama dan meminta jawaban. Nyatanya? Dia mangkir pada janjinya sendiri!”

“Dan kau marah?”

“Menurutmu?”

“Kelihatannya iya.”

Kau mendecih, stilletto mu baru saja menginjak sebuah batu ukuran sedang yang membuat langkah kakimu sedikit oleng, beruntung kau tidak terjerembab.

Hati-hati.

Lirih Sunggyu, kau mengangguk.

“Sebenarnya aku tidak marah.”

Ujarmu, memulai lagi….

“Lalu?”

“Aku kecewa.”

“Sama saja asal kau tahu.”

“Kecewa dan marah berbeda!”

“Tipis.”

Kau memberengut kembali, menghentakkan langkah kakimu yang kecil. Ingin rasanya kau mendebat Sunggyu. Tapi urung ketika langkah kaki pria itu berbelok, memasuki sebuah cafe. Bukannya tadi kalian telah makan siang sebelum memasuki perpustakaan?

Kenapa Sunggyu membelok kemari?

Jangan bilang pria itu sudah lapar—lagi?

Kenapa? Kau bertanya dengan matamu. Tapi, Sunggyu tak bergeming. Pria itu mengeraskan rahangnya tepat pada satu arah, membuat keningmu terus berkerut dan akhirnya kau memutuskan mengubah arah pandangmu pada adegan disana…

Deg—deg—deg.

Kau memegangi dadamu yang mulai terasa hampir kehilangan jantung.

Dia disana—ditempat itu tertawa dan beradegan lumayan intim…

Woohyun dan salah satu orang yang kau tengarai sudah diincar Sunggyu sejak menginjak masa SMA.

“A-apa yang s-sebenarnya terjadi?”

Gagapmu. Seakan tenggorokanmu dicekal. Dapat kau lihat Sunggyu sudah mencengkeram buku-buku jarinya sendiri. Dia shock… tentu. Gadis yang bersama Woohyun sekarang, kau sudah mendengarnya berkali-kali jika Sunggyu sangat menyukainya.

Dan sekarang—Woohyun berhianat? Pada sahabatnya sendiri? Sebenarnya sahabat itu apa?  Kau mulai geram, seakan ada beberapa titik api yang membakar hatimu. Dan dengan satu gerakan kau sudah menepikan Sunggyu yang berada tepat didepanmu, berniat menghampiri mereka… jika saja, Sunggyu tidak menahanmu.

“Kau mau apa?”

Tanya Sunggyu, kau mendongak. Menampakkan kilat pada matamu, aku tidak nyaman dengan perasaan ini.

“Kurasa ini waktumu untuk menegaskannya.”

Sambung Sunggyu, matanya mengarah ke bagian belakangmu, tempat Woohyun dan gadis itu. Kini kau dapat melihat Woohyun menatap padamu dan Sunggyu. Nampaknya dia telah menyadari kehadiranmu.

Kau mengeluarkan nafasmu dalam-dalam, kemudian menatap Sunggyu lagi. Yang kau tahu, mata kalian kini memancarkan hal yang sama…

Luka…

“Baiklah.”

*

Kau tidak ingat, bagaimana caramu kesini. Ketempat yang dikelilingi hamparan padang ilalang dan yang paling kau suka ada sebuah parit kecil jernih mengalir sekitar tiga meter dari tempatmu duduk. Sudah berapa lama kau tidak kemari? Ketempat kegemaranmu dengan Woohyun sejak kalian menemukannya ketika bersepeda membabi buta dimasa SMP.

Terakhir kau ingat mengunjunginya bersama Woohyun ketika lelaki itu patah hati dengan sang kekasih lima bulan yang lalu. Katanya, Woohyun yang memutuskan gadis itu, tapi—entah kenapa Woohyun terlihat begitu terluka dan sangat-sangat terpukul kemudian terus menatap jernihnya air dalam diam. Bukankah gara-gara semua itu ulahnya sendiri? Belakangan kau baru tahu, ternyata gadis itu menolak putus dari Woohyun dan mengancam untuk bunuh diri. Begitu menyedihkan bukan? Dan saat ini kau mulai menyadari, semua yang terjadi terfokus pada dirimu.

Woohyun tidak pernah mencintai orang lain selain kau.

“Kenapa waktu itu kau tidak datang?”

Kau mulai meretas sebuah suara. Woohyun hanya diam, bahkan lelaki itu tidak sepenuhnya melihat padamu. Sejujurnya, batinmu sedikit sakit kala ini, belum genap satu bulan Woohyun mengatakan menyukaimu tapi—kau sudah menemukannya mesra dengan wanita lain dan hal itu membuatmu ingin menanyai Woohyun.

Apa dia main-main terhadapmu?

“….”

“Kau tidak benar-benar menyukaiku bukan?”

“….”

Woohyun masih diam, kepalanya kini melihat keatas, awan terlihat begitu jernih hari ini—sayang kau tidak terlalu mood untuk menatapnya sekarang.

“Aku takut…”

Sesaat kemudian Woohyun menoleh padamu. Menampakkan senyum simpul yang kau tengarai penuh dengan luka tak berujung. Baiklah, kau merasa sok tahu sekarang.

“Kenapa?”

“Kejadian seperti ini terjadi, ternyata memang benar…” Kau mengernyit, masih menatapnya dalam, “Aku minta maaf sudah membuatmu kurang nyaman. Tapi—kita masih tetap sahabat bukan? Aku, kau, Sunggyu.”

Begitu nama Sunggyu di sebut, kau mulai merasakan denyut jantungmu tak normal kembali. Kali ini sama saat kau memergoki Woohyun berapa jam yang lalu, membuatmu tidak nyaman dan sangat ingin menjerit.

Dadamu sakit—

“Jadi benar? Kau dan gadis tadi? Jadi kau hanya mempermainkanku begitu?” sinismu.

“Uh?”

Woohyun kini menatapmu, menanggalkan sang awan berarak.

Apa maksudmu?

Kau bisa merasakan tatapan Woohyun seperti bertanya padamu. Dan rasanya kau benar-benar ingin meledak. Melampiaskan segalanya.

“Kau, kau hanya mempermainkanku kan hari itu? Bahkan setelahnya kau tidak menemuiku, kau pasti senang sudah bisa tertawa dibalik punggungku ketika aku dengan bodohnya terus memikirkanmu—memikirkan persahabatan kita… oh ya, kemudian soal tadi, kau tahu bukan gadis itu siapa? Baiklah kalau kau ingin mempermainkanku, tapi—kenapa Sunggyu juga? Apa kau tolol? Atau kau tidak punya hati Nam Woohyun?”

Ledakmu.

Masa bodoh kata-kata Sunggyu yang menyuruhmu untuk sabar dan menelisik isi hatimu dulu. Yang kau tahu kini kau marah, kecewa dan kacau. Bahkan kau tidak sanggup mengetahui asal-usul letak amarahmu dimana.

Mungkinkah karena adegan singkat Woohyun melap bibir gadis yang disukai Sunggyu tadi dengan tisu?

Entahlah—mengingatnya saja seakan ada sebuah jarum yang menusukmu. Sakit—perih—Itulah jawabannya… kau seperti orang bodoh yang mengkambing-hitamkan perasaan Sunggyu sekarang.

“Bukan begitu,” sanggah Woohyun “Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu sampai mati, tapi…”

Jeda—Woohyun terlihat membasahi bibirnya sedikit. Sedang kau, mendengar kata ‘mati’ tubuhmu langsung menegang dan dengan indahnya ludahmu menggelinciri sang tenggorok.

Oh Tuhan, apa tiba-tiba aku kehilangan pendengaran?

Kau mengucap itu dalam kepalamu. Tak sepenuhnya salah, karena memang kau sudah meninggalkan dunia nyata sekarang ada berjuta rasa lega yang tiba-tiba menghempasmu…

“Aku takut, ketika kita tidak bisa duduk seperti ini atau mungkin kau menjauhiku ketika kau menolakku nanti. Aku tidak sekuat itu untuk melihatmu menampakkan punggungmu padaku, hingga aku memilih menutup mata dan berbalik tidak menemuimu. Kau tahu? Sebenarnya aku berencana untuk mengatakan, bahwa kemarin aku hanya bermain-main—nyatanya, aku terlalu takut…”

Woohyun menghela nafasnya lagi, menatapmu dalam. Kali ini ingin sekali kau membalas ucapan Woohyun, tapi—entah mengapa kau seperti kehilangan suara. Kau hanya bisa menggerakkan mulutmu sebelum Woohyun meletakkan jari telunjuknya pada bibirmu.

“Kau tidak perlu menjawabnya, setialah disisiku. Hanya itu, dan….”

Cup…

Satu kecupan mendarat di keningmu. Tentu kau shock. Langsung saja kau mengarahkan matamu ke arah atas, menatap tepat pada Woohyun yang mencium dahimu tanpa izin.

“Maaf sudah melakukan hal ini pada persahabatan kita. Mau memaafkanku?”

Tanyanya dengan muka memelas.

Sial!! Apa-apaan ini?

Kemapa jemari tanganmu bisa bergetar hebat begini? Dan lagi—jantungmu kenapa sejak tadi belum stabil juga?

Kau mulai merutuki gerak tubuhnya yang tidak seimbang, membuatmu kaku dan hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh.

Aku memaafkanmu…

Faktanya memang kau tidak akan bisa marah pada Woohyun.

Setelahnya kau langsung menunduk. Kalian terdiam cukup lama, Woohyun memandang kedepan, sedangkan kau entah sejak kapan mulai bermain dengan batu dan kerikil, membentuk sesuatu.

“Kau mau bermain? Sepertinya kita harus menghilangkan kecanggungan haha.”

“Ungg?”

Dan didetik selanjutnya kau merasakan keningmu terdorong kebelakang. Woohyun mendorongnya dengan jemari telunjuk kemudian berlari, meninggalkanmu sembari tertawa lebar.

“Kau jadi! Kejar aku bodoh!”

“Ya Nam Woohyun!!”

Kau berteriak sembari beranjak, melemparkan kerikil yang kau mainkan sejak tadi, mengejar Woohyun yang sudah berada didekat parit, mencipratkan air padamu. Kau menjerit dan menerjang pria itu layaknya bayi—kalian berdua saling menangkap satu sama lain di dalam air jernih disana. Saling berteriak hingga kau berhenti, menatap Woohyun dengan senyum.

“Nam Woohyun!”

“Heung?”

“Temukan sebuah pesan yang telah kutinggalkan untukmu.”

‘Aku juga mencintaimu Pabo Tree.’

FIN

NB: Nam Woohyun = NamWoo (Namu) = Pohon ((Pabo)Tree)

Ini  sekuel pertama dan terakhir. Maaf kalau feelnya berkurang ^^ but mind to give me feedback? Ah, im sorry for typo and miss editing, super lazy to review back.

Advertisements

23 responses to “2nd Declare (Sequel DOMW)

  1. aku baru tau ini >>> NB: Nam Woohyun = NamWoo (Namu) = Pohon ((Pabo)Tree)
    thanks ya author aku jd tau asal nya woohyun dpggil namu gara2 baca ff ini ^^ kkk~
    aaaaaah author, gk kuat nh jd tokoh ‘kau’ d ff ini, gara2 tingkah namu. rrrr
    /pasang muka kepiting rebus/
    pkoknya feel nya dapeeett bgt, walaupun ada typo tp aku ttp bs bacanya kok
    fighting!!!

    • hha, iya, karna emang jarang yang tau asal muasal namu itu aku tambahin^^ namu sndiri artinya pohon.
      haha makasih ya xD maaf juga kalau typo an, murni human error.

  2. Salam kenal thor, nae reader baru.. ^^ Author daebak bnget.. Fanfictionsnya sllu buat aku kbwa suasana.. Pkoknya 1000 jempol deh buat author.. 😀 #i’m_your_fans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s